Anda di halaman 1dari 32

PENDAHULUAN

Latar Belakang Di Indonesia dikenal beberapa tipe ekosistem hutan. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Iklim : Hutan Hujan Tropika, adalah hutan yang terdapat didaerah tropis dengan curah hujan sangat tinggi. Hutan jenis ini sangat kaya akan flora dan fauna. Di kawasan ini keanekaragaman tumbuh-tumbuhan sangat tinggi. Luas hutan hujan tropika di Indonesia lebih kurang 66 juta hektar Hutan hujan tropika berfungsi sebagai paru-paru dunia. Hutan hujan tropika terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Dan hutan Monsun, disebut juga hutan musim. Hutan monsun tumbuh didaerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi, tetapi mempunyai musim kemarau yang panjang. Pada musim kemarau, tumbuhan di hutan monsun biasanya menggugurkan daunnya. Hutan monsun biasanya mempunyai tumbuhan sejenis, misalnya hutan jati, hutan bambu, dan hutan kapuk. Hutan monsun banyak terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Idriyanto, 2008). Hutan sebagai bagian dari sumber daya alam nasional memiliki arti dan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, pembangunan dan lingkungan hidup. Telah diterima sebagai kesepakatan internasional, bahwa hutan yang berfungsi penting bagi kehidupan dunia, harus dibina dan dilindungi dari berbagai tindakan yang berakibat rusaknya ekosistem dunia serta hutan memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan yaitu: berupa manfaat langsung yang dirasakan dan manfaat yang tidak langsung. Manfaat hutan tersebut diperoleh apabila hutan terjamin eksistensinya sehingga dapat berfungsi secara optimal. Fungsi-fungsi

ekologi, ekonomi dan sosial dari hutan akan memberikan peranan nyata apabila pengelolaan sumber daya ala m berupa hutan seiring dengan upaya pelestarian guna mewujudkan pembangunan nasional berkelanjutan (Zain, 1998). Hutan Pendidikan Gunung Barus yang dimanfaatkan mahasiswa untuk kegiatan P2EH berada pada kawasan hutan konservasi Tahura Bukit Barisan. Hutan Pendidikan Gunung Barus merupakan hutan tropika dataran rendah. Hutan ini berupa hutan alam yang heterogen yang merupakan hutan milik negara. Hutan memiliki memiliki kekayaan alam berupa kelimpahan tumbuhan dan juga satwa. Untuk itu perlu diadakan analisis vegetasi pohon pada Hutan Pendidikan Gunung Barus USU agar dapat diketahui jenis vegetasi yang ada pada kawaan tersebut, kekayaan jenisnya atau analisis data lain yang menunjukkan nilai keberadaan vegetasi tersebut. Selain itu juga perlu diketahui jenis-jenis satwa yang ada pada kawasan tersebut agar hutan dapat dikelola secara lestari. Selain pepohonan dan satwa, hasil hutan lain yaitu jasa lingkungan dan potensi wisata(daerah ekowisata) serta hasil hutan bukan kayu. Untuk pengelolaan hutan secara berkelanjutandiperlukan strategi khusus untuk mengelolanya. Hutan bukan hanya berbicara mengenai pohon, tapi sejauh mana hutan tersebut dapat berguna bagi kehidupan masyarakat. Peran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan sangat dibutuhkan. Hutan lindung juga harus dikelola dengan baik agar bukan hanya memberimanfaat ekologi tapi juga manfaat ekonomi. Keberadaan hutan bukan hanya dipandang sebagai kayu,banyak potensi lain yang dimiliki seperti potensi ekowisata dan jasa

lingkungan.keberadaan hutan juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Dengan menggali potensi ekowisata suatu hutan

diharapkan dapat memenuhi tujuan keberadaan hutan dlam memberi manfat ekologi maupun ekonomi.daerah ekowisata dapat memberi kesempatan

padamasyarakat untuk menambah penghasilan dengan membuat usaha dan tidak lagi merusak hutan. Untuk itu pada daerah hutan ini perlu diteliti potensi ekowisatanya agar pengelolaan hutan secara berkelanjutan dapat terlaksana (Arief, 20010 )

Tujuan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) ini bertujuan untuk : 1. Mengenal potensi ekowisata sebagai bagian dari ekosistem hutan beserta komponen-komponen penyusun ekosistem hutan tersebut, baik ekosistem hutan alam maupun buatan. Komponen penyusun ekosistem hutan antara lain flora, fauna, tempat tumbuh dan faktor fisik lainnya 2. Memahami perilaku, interaksi, proses-proses dan peranan masing-masing ekosistem hutan bagi kehidupan. 3. Mengetahui ekosistem hutan berdasarkan status, kepemilikan dan

pengelolaannya. 4. 5. Memahami aspek-aspek pengelolaan hutan beserta manfaatnya Mengenal potensi jasa Lingkungan khususnya ekowisata (baik berupa jasa penyediaan/provisioning services, pengaturan/ regulating services, maupun budaya/ cultural services) yang diberikanoleh fungsi ekosistem hutan 6. Memahami interaksi sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan dengan kawasan hutan

KONDISI UMUM KAWASAN TAHURA BUKIT BARISAN KABUPATEN KARO

Tahura bukit barisan yang terletak di kawasan gunung berapi sinabung dan sibayak ini, dibangun dalam satu unit pengelolaan yang berintikan kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi. Keadaan lapangan tahura bukit barisan ini pada umumnya terjal hingga puncak gunung berapi sinabung yang tingginya 2451 meter dan sibayak setinggi 2211 meter, dan sebagian kecil bergelombang dan landai. di kaki perbukitan bukit barisan merupakan berupa tanah datar, curam dan berbukit-bukit

Flora dan Fauna Tipe habitat utama adalah hutan pegunungan bawah yang menutupi sebagian besar lereng gunung. Kawasan hutan ini didominasi oleh jenis-jenis pohon pegunungan baik jenis lokal maupun yang berasal dari luar. Jenis pohonnya antara lain Pinus merkusii, Altingia exelsa, Schima walichii, Pinus caribae, Pinus insularis, Eucaliptus sp, Alseodaphne sp, Podocarpus sp, Toona surei, Pinus akasia, Agathis sp dan jenis yg lain seperti durian, dadap, rambutan, pulai, aren, rotan dan lain-lain. Beberapa fauna yang hidup di kawasan ini antara lain monyet, harimau, siamang, babi hutan, ular, elang, burung hantu, kancil, katak, kalong, mawas, anjing, dan lain-lain. Selain itu jenis-jenis burung yang dijumpai

Arborophila orientalis, Arborophila rubriostris,

Polyplectron chalcurum,

Otus brooki, Batrachostomus poliolophus, Caprimulgus pulchelus, Pitta venusta, Cochoa beccari dan Zosterops atricapilla, Niltava sumatrana,

Pericrocotus miniatus.

Wisata Tahura bukit barisan di tongkoh memiliki oyek wisata berupa kawasan hutan seluas lebih kurang 7 hektar yang ditemui berbagai jenis kayu-kayuan hutan tropis berusia diatas 60 tahun dan didalamnya berkembang berbagai jenis kupukupu langka taman itu pnya koleksi binatang jalan setapak menuju hutan untuk pengunjung yang ingin meneliti ataupun sekedar melihat tumbuhan hutan, angrekangrek liar, pakis-pakis besar, berbagai tumbuhan kayu liar berselimut lumut dan jamur, burung-burung, monyet, kera dan flora-flora lainnya. Dahulu di objek wisata ini dipelihara kuda dan gajah yang dapat dimanfaatkan sebagai transportasi wisatawan mengelilingi hutan. Bagi yang berminat di dunia penelitian (riset), tahura bukit barisan juga dapat dijadikan gudang ilmu pengetahuan. Penelitian tidak terbatas pada bidang flora dan fauna saja tetapi juga mencakup hidrologis serta sosial budaya. Sejak tahun 1920 pada masa penjajahan belanda,sebangian dari kawasan ini,terutama sekitar Tongkoh dan Brastagi,telah berkembang menjadi salah satu tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara yang vital dan ramaidikunjungi wisatawan. Sebagian dari kawasan tahura, terutama sekitar tongkoh dan berastagi telah berkembang menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang penting di sumatera utara.

PENGENALAN EKOSISTEM HUTAN DI TAHURA BUKIT BARISAN DAN HUTAN PENDIDIKAN USU
A. Pengenalan Ekosistem Hutan dan Analisis Vegetasi Hutan Pegunungan Analisis vegetasi Hutan Pegunungan pada kegiatan PEH dilakukan di dua tempat, yaitu di kawasan Gunung Barus dan di kawasan Air Terjun. Hasil analisis dari kedua tempat tersebut masing-masing akan disajikan sebagai berikut. a. Analisis Vegetasi Hutan di Kawasan Hutan Gunung Barus Nama Kegiatan Hari/Tanggal Waktu Lokasi Kegiatan Alat : Analisis Vegetasi : Selasa/28 Juni 2011 : 08.30-14.00 Wib : Gunung Barus : Meteran, pita ukur, tali plastik, christeen meter, kompas, parang, plastik 20 kg, kamera digital, tali tambang. Bahan Metode Kegiatan : Hutan Gunung Barus : Petak berjalur dengan line transect Tingkat semai ukuran plot 2 x 2 m Tingkat pancang ukuran plot 5 x 5 m Tingkat tiang ukuran plot 10 x 10 m Tingkat pohon ukuran plot 20 x 20 m Hasil dan Pembahasan Analisis Vegetasi dilakukan pada tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon, hasil analisis pada tiap tingkatan hidup pohon dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Indeks Nilai Penting Tingkat Semai di Kawasan Hutan Barus Jumlah K Nama No. Nama Latin Lokal Individu (ind/ha) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Meranti Waru Keruing Shorea spp. Hibiscus tiliaceus Polyathia rumphie Dipterocarpus retusus Endandra kingiana Peterardia anisophilia Arytera littoralis Altingia excelsa Abangium javanicum Kinema perserices Endospermum diadenum Total () 7 4 3 2 6 3 7 5 2 2 1 6 48 583.33 333.33 250.00 183.33 500.00 250.00 583.33 416.67 166.67 166.67 83.33 500.00 5,183.32

KR (%) 13.20 7.54 5.66 13.22 11.32 5.66 13.22 9.44 3.77 3.77 1.88 11.32 100.00

F (ind/ha) 0.10 0.13 0.10 0.17 0.13 0.07 0.17 0.10 0.07 0.03 0.03 0.10 1.20

FR (%) 8.33 11.08 8.33 13.89 11.08 5.55 13.89 8.33 5.56 2.75 2.75 8.33 100.00

INP (%) 21.53 18.62 14.00 27.10 22.40 11.21 27.10 17.76 9.33 6.52 4.63 19.66 200.00

H'

RI

Rasamala Wuru

2.38

2.84

0.96

Berdasarkan hasil analisis vegetasi di kawasan Hutan Gunung Barus, jumlah petak yang di analisis adalah 30 petak seluas 1,2 Ha. Pada tingkat semai ditemukan 12 jenis dengan nilai INP tertinggi pada jenis Keruing

(Dipterocarpus retusus ) yaitu sebesar 27,10 % dan nilai INP terendah adalah Kinema perserices yang nilai INP-nya sebesar 4,63 %. Nilai keanekaragaman untuk tingkat semai adalah sebesar 2,38 dan indeks kemerataannya adalah sebesar 0,96. Indeks keanekaragaman tingkat semai tergolong sedang, untuk menambah keanekaragaman jenis dan jika lokasinya memungkinkan perlu dilakukan upaya penanaman berbagai jenis pohon.
Tabel 2. Indeks Nilai Penting Tingkat Pancang di Kawasan Hutan Barus
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Tada tada Kecing Meranti Kedep kedep Total () Shorea sp. Nama Lokal Gajah lawang Nama Latin Cinnamomum iners Lithocarpus meijeri Polyalthi rumphii Alstonia macrophylla Jumlah Individu 25 17 15 18 9 9 6 13 112 K (ind)/ha 333.30 226.70 200.00 240.00 120.00 120.00 80.00 173.30 1493.00 KR (%) 22.36 15.20 13.40 16.07 8.00 8.00 5.36 11.60 100.00 F (ind/ha) 0.63 0.37 0.30 0.43 0.13 0.13 0.20 0.23 2.41 FR (%) 26.06 15.18 12.41 17.79 5.37 5.37 8.27 9.50 100.00 INP (%) 48.42 30.38 25.81 33.86 13.37 13.72 13.63 21.10 200.00 1.98 H

RI

1.48

0.95

Pada tingkat pancang, jumlah yang ditemukan sebanyak 8 jenis dengan nilai INP tertinggi untuk jenis Gajah Lawang ( Cinnamomum iners ) yakni sebesar 48,42 % dan nilai INP paling rendah adalah jenis tada-tada yaitu sebesar 13,37 %. Nilai keanekaragaman untuk tingkat pancang adalah 1,98 dan indeks kemerataannya sebesar 0,95. Indeks keanekaragaman jenis pada tingkat pancang tergolong sedang.
Tabel 3. Indeks Nilai Penting Tingkat Tiang di Kawasan Hutan Barus
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rasamala Waru Meranti Nama Lokal Medang Nama Latin Endiandra kingiana Anytera littolaris Porterandia anisophylla Alangium javanicum Altingia excelsa Hibiscus tiliaceus Jumlah Individu 4 4 2 1 6 4 12 5 3 5 46 K (ind/ha) 13.30 13.30 6.60 3.30 20.00 13.30 40.00 16.60 10.00 16.60 153.00 KR (%) 8.69 8.69 4.31 2.16 13.07 8.69 26.14 10.85 6.54 10.85 100.00 D (%) 2765.82 2467.52 1559.53 669.86 2854.78 2075.02 8564.38 3558.66 3483.22 3032.72 31031.51 DR (%) 9.21 8.22 5.20 2.23 9.51 6.91 28.52 11.84 8.27 10.09 100.00 F (ind/ha) 0.13 0.13 0.06 0.03 0.16 0.10 0.30 0.13 0.10 0.13 1.27 FR (%) 10.24 10.24 4.72 2.36 12.60 7.87 23.62 10.24 7.87 10.24 100.00 INP (%) 28.14 27.15 14.24 6.75 35.18 23.48 78.29 32.93 22.68 31.18 300.00 H'

RI

Shorea sp. Dipterocarpus Keruing retusus Cinnamomum Tejalawang iners Alstonia macrophylla Pulai Total ()

2.11

2.35

0.92

Pada tingkat tiang, jumlah yang ditemukan sebanyak 10 jenis dengan nilai INP tertinggi untuk jenis Meranti ( Shorea sp ) yakni sebesar 78,24 % dan nilai INP paling rendah adalah jenis Alangium javanicum yaitu sebesar 6,75 %. Nilai keanekaragaman untuk tingkat tiang adalah 2,11 dan indeks kemerataannya sebesar 0,92. Indeks keanekaragaman jenis pada tingkat tiang tergolong sedang. untuk menambah keanekaragaman jenis dan jika lokasinya memungkinkan perlu dilakukan upaya penanaman berbagai jenis pohon.

Tabel 4. Indeks Nilai Penting Tingkat Pohon di Kawasan Hutan Barus


N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Rasamala Total () Waru Wuru Keruing Medang

Nama Lokal
Meranti

Nama Latin Shorea spp. Polyathia rumphie Dipterocarpus retusus Endondra kingiana Portetardia anisophilla Arytera littolaris Endospermum diadenum Hibiscus tiliaceus Knema percerisces Alangium javanicum Altingea exelsa

Jumlah Individ u 14 14 10 33 19 15 11 8 8 13 16 10 183

K (ind/ha ) 11.67 11.67 8.33 26.67 15.83 12.5 9.17 6.67 6.67 10.83 13.33 8.33 141.67

KR (%) 8.24 8.24 5.88 18.83 11.17 8.82 6.47 4.71 4.71 7.64 9.41 5.88 100.

F (ind/ha) 0.37 0.37 0.33 0.60 0.40 0.47 0.30 0.30 0.20 0.37 0.47 0.27 4.45

FR (%) 8.31 8.31 7.42 13.48 8.99 10.56 6.74 6.74 4.49 8.31 10.56 6.07 100

D (%) 0.98 1.02 0.70 3.25 1.52 1.45 0.82 0.44 0.36 0.77 1.60 0.83 13.7 3

DR (%) 7.13 7.41 5.06 23.69 11.04 10.58 5.99 3.20 2.59 5.62 11.65 6.02 100

INP (%) 23.68 23.96 18.36 56.00 31.20 29.97 19.20 14.65 11.80 21.58 31.62 17.97 300

H'

RI

2.4

2.11

0.96

Pada tingkat pohon, jumlah yang ditemukan sebanyak 12 jenis dengan nilai INP tertinggi untuk jenis Edondra kingiana yakni sebesar 56,00 % dan nilai INP paling rendah adalah jenis Wuru yaitu sebesar 11,80 %. Nilai keanekaragaman untuk tingkat pohon adalah 2,4 dan indeks kemerataannya sebesar 0,96. Indeks keanekaragaman jenis pada tingkat pohon tergolong sedang. Untuk menambah keanekaragaman jenis di lokasi Hutan Gunung Barus dan jika lokasinya memungkinkan perlu dilakukan upaya penanaman berbagai jenis pohon.

Permasalahan 1. Lokasi lapangan yang cukup curam membuat pengambilan data sulit dilakukan

2. Waktu yang disediakan tidak sebanding dengan pencapaian plot yang telah ditetapkan 3. Indeks keanekaragaman jenis pohon tergolong sedang

Pemecahan Masalah

1. Penetapan lokasi yang akan diamati hendaknya dipilih yang tidak begitu curam sehingga dalam menganalisis tidak begitu sulit dan hasilnya pun maksimal 2. Waktu hendaknya disesuaikan dengan plot yang telah ditentukan 3. Perlu dilakukan upaya untuk menambah keanekaragaman jenis seperti penanaman pohon.

Kesimpulan 1. Jenis dominan pada tingkat semai yaitu Shorea sp. 2. Jenis dominan pada tingkat pancang yaitu Endondra kingiana, pada tingkat tiang yaitu Altingia exelsa , dan pada tingkat pohon yaitu Endondra kingiana. 3. Tingkat permudaan pohon dominan kurang

10

b. Analisis Vegetasi Hutan di Sekitar Kawasan Gunung Barus : Air Terjun Hutan Pendidikan USU Nama Kegiatan : Analisis Vegetasi Hari/Tanggal Waktu Lokasi Kegiatan Alat : Rabu/29 Juni 2011 : 08.30-14.00 Wib : Air Terjun Hutan Pendidikan USU : Meteran, pita ukur, tali plastik, christeen meter, kompas, parang, plastik 20 kg, kamera digital, tali tambang. Bahan : Air Terjun Hutan Pendidikan USU, buku pengenalan jenis pohon, tally sheet tingkat semai, pancang, tiang dan pohon Metode Kegiatan : Petak berjalur dengan line transect Tingkat semai ukuran plot 2 x 2 m Tingkat pancang ukuran plot 5 x 5 m Tingkat tiang ukuran plot 10 x 10 m Tingkat pohon ukuran plot 20 x 20 m

Hasil dan Pembahasan Analisis Vegetasi dilakukan pada tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon, hasil analisis pada tiap tingkatan hidup pohon dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

11

Tabel 5. Indeks Nilai Penting Tingkat Semai di Kawasan Air Terjun Jumlah K No Nama Lokal Nama Latin Individu (ind/ha) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Rasamala Kacihe Citonella suaveolens Altingia exelsa Endospermum diadenum Captanonsis motleyana Captanonsis fruits Mbacang Dacroides rugosa Mali-mali Nyatoh Ober Meranti 4 7 2 4 2 3 1 3 2 2 3 1 34 217.39 380.40 108.69 217.37 108.69 163.04 54.34 163.04 108.69 108.69 163.04 59.78 1853.16

KR (%) 11.73 20.53 5.87 11.73 5.87 8.80 2.93 8.80 5.87 5.87 8.80 3.23 100.00

F (ind/ha) 0.04 0.08 0.04 0.06 0.04 0.04 0.02 0.04 0.04 0.04 0.04 0.13 0.61

FR (%) 6.56 13.11 6.56 9.84 6.56 6.56 3.28 6.56 6.56 6.56 6.56 21.31 100.00

INP 18.29 33.64 12.42 21.57 12.42 15.36 6.21 15.36 12.42 12.42 15.36 24.54 200.00

H'

RI

Shorea sp. Total ()

2.41

3.12

0.97

Berdasarkan hasil analisis vegetasi di kawasan Air Terjun , jumlah petak yang di analisis adalah 46 petak seluas 1,84 Ha. Pada tingkat semai ditemukan 12 jenis dengan nilai INP tertinggi pada jenis Rasamal (Altingia excelsa ) yaitu sebesar 33,64 % dan nilai INP terendah adalah Mbacang yang nilai INP-nya sebesar 6,21 %. Nilai keanekaragaman untuk tingkat semai adalah sebesar 2,41

dan indeks kemerataannya adalah sebesar 0,97. Indeks keanekaragaman tingkat semai tergolong sedang, untuk menambah keanekaragaman jenis dan jika lokasinya memungkinkan perlu dilakukan upaya penanaman berbagai jenis pohon
Tabel 6. Indeks Nilai Penting Tingkat Pancang di Kawasan Air Terjun
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Lokal Medang Nama Latin Endiandra kingiana Arytera littolaris Porterardia anisophilla Alangium javanicum Altingia excelsa Hibiscus tiliaceus Shorea sp. Dipterocarpus retusus Cinnamomum iners Alstonia macrophylla Total () Jumlah Individu 4 4 2 1 6 4 12 5 3 5 46 K (ind/ha) 13.30 13.30 6.60 3.30 20.00 13.30 40.00 16.60 10.00 16.60 153.00 KR (%) 8.69 8.69 4.31 2.16 13.07 8.69 26.14 10.85 6.54 10.85 100.00 F (ind/ha) 0.13 0.13 0.06 0.03 0.16 0.10 0.30 0.13 0.10 0.13 1.27 FR (%) 10.24 10.24 4.72 2.36 12.60 7.87 23.62 10.24 7.87 10.24 100.00 INP (%) 18.93 18.93 9.04 4.52 25.67 16.57 49.77 21.09 14.41 21.09 200.00

H'

RI

Waru Meranti Keruing

1.70

2.35

0.74

12

Pada tingkat pancang, jumlah yang ditemukan sebanyak 10 jenis dengan nilai INP tertinggi untuk jenis Meranti ( Shorea sp ) yakni sebesar 49,77 % dan nilai INP paling rendah adalah jenis Alangium javanicum yaitu sebesar 4,52 %. Nilai keanekaragaman untuk tingkat pancang adalah 1,70 dan indeks kemerataannya sebesar 0,74. Indeks keanekaragaman jenis pada tingkat pancang tergolong sedang.
Tabel 7. Indeks Nilai Penting Tingkat Tiang di Kawasan Air Terjun
No Nama lokal Meranti Rasamala Keruing Waru Total () Jumlah

Nama Latin
Individu Shorea sp Altingia exelsa Dipterocarpus retusus Hibiscus tiliaceus 33 10 2 2 47

K (ind/ha) 71.74 21.40 4.34 4.34 101.82

KR (%) 70.46 21.02 4.26 4.26 100.00

D (%) 2919.05 2059.77 989.78 622.88 6591.48

DR (%) 44.29 31.25 15.02 9.45 100.00

F (ind?ha) 0.31 0.06 0.02 0.02 0.41

FR (%) 75.61 14.63 4.88 4.88 100.00

INP (%) 190.35 66.90 24.16 18.59 300.00

H'

RI

1 2 3 4

0.85

0.78

0.61

Pada tingkat tiang, jumlah yang ditemukan sebanyak 4 jenis dengan nilai INP tertinggi untuk jenis Meranti ( Shorea sp ) yakni sebesar 190,35 % dan nilai INP paling rendah adalah jenis Waru ( Hibiscus tilliaceus ) yaitu sebesar 18,59 %. Nilai keanekaragaman untuk tingkat tiang adalah 0,85 dan indeks kemerataannya sebesar 0,61. Indeks keanekaragaman jenis pada tingkat tiang tergolong rendah. untuk menambah keanekaragaman jenis dan jika lokasinya memungkinkan perlu dilakukan upaya penanaman berbagai jenis pohon.

13

Tabel 8. Indeks Nilai Penting Tingkat Pohon di Kawasan Air Terjun


No.

Nama Lokal

Nama Latin Citronella suaveolens Altingea exelsa

Jumlah Individu

K (ind/ha) 12.50 8.15 3.26 3.26 1.63 5.43 1.63 4.89 3.26 3.26 6.52 19.02 1.63 74.44

KR
(%) 16.79 10.95 4.38 4.38 2.19 7.29 2.19 6.57 4.38 4.38 8.76 25.55 2.19 100.00

F (ind/ha) 0.33 0.24 0.13 0.11 0.07 0.13 0.07 0.17 0.11 0.15 0.22 0.20 0.07 1.98

FR
(%) 16.48 12.09 6.59 5.49 3.30 6.59 3.30 8.79 5.49 7.69 10.99 9.89 3.30 100.00

D (%) 1.12 1.36 0.42 0.33

DR (%) 13.88

INP (%) 47.16 39.87 16.22 14.01 11.70 21.66 6.84 19.04 13.20 16.87 30.38 55.55 7.50 300.00

H'

RI

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Kecihe
Endospermum diadenum Captanopsis fruits Dacroydes rugosa

23 15 8 8 3 10 3 9 8 8 12 35 3 145

16.84 5.25 4.14 6.22

0.50 7.77 0.63 0.11 0.30 0.27 0.39 0.86 1.62 0.16 8.06 1.36 3.68 3.32 4.79 10.63 20.10 2.02 100.00

Mbacang
Captanopsis motleyana

Mali-mali Nyatoh Ober Pinus Meranti


Total ()

Pinus merkusi Shorea sp.

2.15

2.41

0.84

Pada tingkat pohon, jumlah yang ditemukan sebanyak 13 jenis dengan nilai INP tertinggi untuk jenis Pinus ( Pinus merkusii ) yakni sebesar 55,55 % dan nilai INP paling rendah adalah jenis Mbacang yaitu sebesar 6,54 %. Nilai keanekaragaman untuk tingkat pohon adalah 2,15 dan indeks kemerataannya sebesar 0,84. Indeks keanekaragaman jenis pada tingkat pohon tergolong sedang. Untuk menambah keanekaragaman jenis di lokasi Hutan Air Terjun dan jika lokasinya memungkinkan perlu dilakukan upaya penanaman berbagai jenis pohon

Permasalahan 1. Lokasi lapangan yang cukup terjal dan licin membuat pengambilan data sulit dilakukan 2. Hampir seluruh petak didominasi oleh tumbuhan perdu dan semak belukar 3. Keanekaragaman tergolong sedang

14

Pemecahan Masalah

1. Penetapan lokasi yang akan diamati hendaknya dipilih yang tidak begitu curam sehingga dalam menganalisis tidak begitu sulit dan hasilnya pun maksimal 2. Kurangnya keanekaragaman jenis dapat diatasi dengan penanaman berbagai jenis pohon 3. Azimuth berubah karena daerahnya tidak dapat dilalui, tapi perubahan azimuth segera dikembalikan setelah daerahnya datar. 4. Kesimpulan 1. Pohon yang paling dominan adalah Pinus merkusii 2. jenis semai dan pancang yang dominan adalah meranti 3. Pada plot-plot terakhir pepohonan tidak dijumpai, areal dipenuhi semak belukar dan tumbuhan perdu.

15

B. Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu dan Kegiatan Ekowisata Hutan Pegunungan a. Potensi dan Kegiatan Ekowisata di Kawasan Gunung Barus Nama Kegiatan : Potensi dan Kegiatan Ekowisata Gunung Barus Hari/Tanggal Waktu Lokasi Kegiatan Alat : Kamis/30 Juni 2011 : 08.00-16.00 Wib : Gunung Barus : Tali pandu, kompas, parang, teropong, kamera digital Bahan : Hutan Gunung Barus

Hasil

1. Didapatkan 4 shelter untuk tempat istirahat dan untuk melihat view yang cukup bagus dan berpotensi sebagai objek wisata
Gambar 1. ekowisata di Gunung Barus

Pembahasan Tracking yang diadakan dalam berekowisata ke Gunung Barus memperoleh hasil 4 shelter. Namun, pada batas tracking yang dilalui para praktikan hanya
16

terdapat 3 shelter. Hal ini disebabkan karena proses tracking tidak mencapai puncak kedua Gunung barus. Selain itu pada shelter yang telah ditentukan view yang ingin dilihat tidak begitu nampak karena kondisi tajuk pohon yang tidak memungkinkan untuk melihat view. Pada beberepa area terdapat view yang cukup bagus, namun berada pada daerah curam sehingga sangat berbahaya jika dijadikan shelter. Permasalahan 1. Area dalam mencapai tempat ekowisata cukup curam dan terjal 2. Kondisi lantai hutan ditutupi oleh serasah sehingga mengakibatkan tanah menjadi rawan longsor 3. Tutupan tajuk pohon terlalu rapat sehingga view yang ingin dilihat jadi kurang menarik Pemecahan Masalah 1. Harus dibuat jalan tracking baru yang lebih aman dan nyaman 2. Kondisi lantai hutan yang ditutupi oleh serasah dapat diatasi dengan perakaran pohon yang membantu sehingga lantai hutan tidak mudah anjlok 3. Tutupan pohon dapat diatasi dengan dilakukan pemangkasan tajuk-tajuk pohon sehingga view dapat dilihat Kesimpulan Pencapaian ekowisata pada daerah Gunung Barus tidak mendapatkan view yang maksimal

17

b. Potensi dan Kegiatan Ekowisata di Air Terjun Hutan Pendidikan USU Nama Kegiatan : Potensi dan Kegiatan Ekowisata Gunung Barus Hari/Tanggal Waktu Lokasi Kegiatan Alat : Sabtu/ 2 Juli 2011 : 06.00-07.30 Wib : Gunung Barus : Tali pandu, kompas, parang, teropong, kamera digital Bahan : Hutan Pendidikan USU: Gunung Barus

Hasil dan Pembahasan


Gambar 2. Air terjun

Pembahasan Potensi wisata di hutan tongkoh (menuju air terjun) cukup baik karena air terjun yang ditemukan belum dijamah oleh masyarakat selain itu air terjun yang ditemukan tersebut dapat dijadikan objek wisata sehingga mendapatkan devisa bagi masyarakat lokal. Lokasi ekowisata Air Terjun berlokasi tidak jauh dari jalan raya Tepat di Depan Balai Tahura. Medan menuju Air Terjun berkondisi curam, menelusuri lereng untuk menuju lokasi dan mendaki untuk keluar lokasi. Kondisi ini memberi tantangan tersendiri bagi para penikmat alam.Lokasi di Air terjun

18

dalam kondisi kurang teratur, banyak pohon-pohon mati yang berserakan di daerah aliran sungai, dan banyak tumbuhan bawah yang menutupi tepian aliran. Permasalahan Jalan menuju objek wisata air terjun cukup curam sehingga menyulitkan bagi wisatawan yang akan melakukan tracking menuju air terjun. Selain itu kondisi aliran air terjun yang belum terjamah mengakibatkan air terjun belum tertata rapi. Pemecahan Masalah Harus dibuat jalan tracking yang baru sehingga memudahkan wisatawan yang akan melakukan perjalanan ke objek wisata dan untuk masalah tata air terjun yang belum rapi sebaiknya air terjun tersebut dikelola sehingga lebih menarik dan sesuai dengan kriteria ekowisata. Kesimpulan Objek wisata air terjun masih harus ditata sehingga lebih baik lagi sesuai dengan kriteria ekowisata, sehingga menarik minat wisatawan.

c.

Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu Nama Kegiatan Hari/Tanggal Waktu Lokasi Kegiatan Alat : Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu : Jumat/ 1 Juli 2011 : 08.00-12.00 Wib : Tahura Bukit Barisan : Tali tambang, kompas, parang, kamera digital, Tally sheet Bahan : Tahura Bukit Barisan

19

Hasil dan Pembahasan


Tabel 5.1 Hasil Hutan Bukan Kayu Hewani Tanaman hias Pacar hutan Talas-talasan Keladikeladian Jamur abadi Anggrek Nabati Tanaman Penghasil obat getah Senduduk Lengkuas Pinus Tanaman konsumsi Daun singkut Arbey Keladikeladian Pandan berduri Pandan Bento Jasa lingkungan Landscape Tata air Stok karbon Siklus hara ekowisata

Burung

Pembahasan Inventarisasi hasil hutan nonkayu yang telah dilakukan mendapatkan hasil bahwa pada hutan Tongkoh terdapat jenis hasil hutan non kayu berupa Tanaman obat, tanaman buah, tanaman hias dan resin. Hasil hutan bukan kayu dapat meningkatkan penghasilan masyarakat sekitar hutan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi penambahan devisa negara. Tahura Bukit Barisan merupakan salah satu hutan dengan potensi HHBK yang beragam Permasalahan 1. Banyak jenis tanaman hasil hutan non kayu yang tidak teridentifikasi sehingga hasil hutan non kayu yang didapatkan sedikit. 2. Banyak jenis tanaman hasil hutan non kayu yang tidak diketahui namanya, tapi diketahui fungsinya.

Pemecahan Masalah 1. Menanyakan hal tersebut kepada asisten lapangan 2. Membuat nama hasil hutan non kayu tersebut berdasarkan nama local

20

Kesimpulan 1. Jenis yang paling dominan adalah pinus (resin), pacar air, pakis, harimonting, arbei dan keladi-keladian 2. Ditemukan lontar dan singkut pada daerah yang diamati tapi jumlahnya sedikit.
Gambar 3. Hasil hutan non kayu yang ditemukan di hutan tongkoh

C. INVENTARISASI DAN PENGAMATAN SATWA LIAR

Nama Kegiatan Hari/Tanggal Waktu

: Inventarisasi dan Pengamatan Satwa Liar : Sabtu/ 2 Juli 2011 : 06.00-07.30 Wib (Pagi hari); 17.30-18.30 Wib (Petang hari)

Lokasi Kegiatan Alat

: Tahura Bukit Barisan : Tali pandu, kompas, parang, teropong, kamera digital

Bahan

: Tally sheet satwa liar dan Tahura Bukit Barisan

21

Hasil dan Pembahasan Pengamatan Satwa Liar pada pagi hari


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Nama Jenis Burung Walet Burung Burung Burung Wau-wau Wau-wau Beruk Walet Burung Elang hutan Burung Jumlah Individu 5 2 3 2 4 1 1 1 4 3 1 1 D 7 8 10 7 12 15 11 14 9 4 14 12 Y 5 6 8 3 10 10 9 11 7 2 10 9

Dari hasil pengamatan yang dilakukan dengan metode langsung pada pagi hari di daerah Taman Hutan Raya pada pukul 06.00 banyak ditemui berbagai macam burung namun yang hanya dapat dilihat atau diidentifikasi hanya burung walet dan elang hutan sedangkan banyak macam burung yang mengeluarkan suara namun keterbatasan cahaya sehingga sulit untuk dapat dilihat dengan teropong. Dan untuk dapat mengidentifikasinya juga sulit karena pohon yang cukup tinggi sehingga sulit untuk memotret burung tersebut burung yang paling mendominasi adalah burung walet. Sedang dari jenis primata yang didapat adalah beruk dan wau-wau, tapi dapat diidentifikasi hanya lewat suaranya saja ini disebabakan banyak primata yang pergi kedepan kantor balai Tahura Bukit Barisan untuk mencari pakan.

22

Pengamatan Satwa Liar pada sore hari


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama Jenis Burung Burung Burung Burung Ayam Hutan Burung elang Burung Jumlah Inividu 4 2 1 3 2 1 9 D 4 12 14 1 12 8 6 Y 4 10 7 9 8 6 4

Dari pengamatan yang dilakukan secara langsung pada sore hari pada pukul 18.00 di kawasan Taman Hutan Raya bukit barisan. Pada pengamatan sore ini banyak ditemukan jenis dari aves seperti elang hutan, ayam hutan, burung walet, dan berbagai jenis burung lainnya ini disebabkan banyaknya burung yang kembali kesarangnya setelah beraktivitas seharian. Sulitnya mencari jejak, feses, maupun sisa pakan ini disebabkan karena jenis satwa yang diinventarisasi sedikit. sebaiknya inventarisasi dilakukan lebih sore lagi agar dapat melihat satwa lainnya.

Permasalahan Sulit mengidentifikasi jenis satwa yang ada lewat suara Pemecahan Masalah Menanyakan jenis satwa yang ada kepada asisten Kesimpulan 1. Jenis satwa liar di Tahuta BB didominansi oleh jenis burung dan primata 2. Dibutuhkan banyak alat bantu seperti teropong, perekam suara, dan lain sebagainya untuk pengamatan yang lebih akurat.

23

D. SOSIALISASI DAN PENYULUHAN MASYARAKAT DI DESA TONGKOH

Nama Kegiatan

Sosialisasi Masyarakat

dan

Penyuluhan

terhadap

Hari/Tanggal Waktu Lokasi Kegiatan Alat Bahan

: : :

Minggu/ 3 Juli 2011 09.30-17.00 Wib Dusun di Kecamatan Dolat Rayat

: Alat tulis :

masyarakat Kecamatan Dolat Rayat

Hasil dan Pembahasan Hasil


Tabel Jati Diri Responden di Dolat Rakyat, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Marto Ginting Hendri Peranginangin Rolis Br Karo Mery Br Karo Monalisa Simson Tarigan Ngasup Sinuhaji Erna Br Ginting Pali Ginting Mariana Br Karo Sekali Jenis Kelamin L L P P P L L P P P Islam Protestan Protestan Protestan Protestan Protestan Islam Protestan Protestan Katolik 30 31 38 34 42 42 43 34 49 46 Agama Umur Desa Dolat Raya Dolat Raya Dolat Raya Dolat Raya Namorambe Dolat Raya Berastagi Dolat Raya Dolat Raya Dolat Raya Tempat Kelahiran Kecamatan Tiga Panah Tiga Panah Tiga Panah Tiga Panah Namorambe Tiga Panah Tiga Panah Tiga Panah Tiga Panah Tiga Panah Kabupaten Karo Karo Karo Karo Deli Serdang Karo Karo Karo Karo Karo SLTA Sarjana SLTP SLTA SLTP SMA SLTA Kawin Kawin Kawin Kawin Kawin Kawin Kawin Belum Kawin Kawin Kawin 4 4 Pendidikan Jumlah Pekerjaan Anggota Keluarga Utama Sampingan Status 4 6 3 7 4 6 5 Petani Petani Petani Petani petani Petani Petani Petani Petani Petani Buruh Tani Buruh Tani Musisi Beternak Buruh Tani Buruh Tani Buruh Tani Beternak Pedagang

uisioner

dan

responden

10

KK

24

Pembahasan Dari sepuluh responden yang ditemukan, tidak semua penduduk yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada hutan. Selain itu sebagian besar responden yang dipilih merupakan masyarakat pendatang sehingga tidak begitu tahu atau tidak begitu memahami keadaan atau kondisi daerah tersebut Dari sosialisasi masyarakat sekitar hutan di Desa Dolat Rakyat, Tongkoh dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk bekerja sebagai petani. Mereka pada saat ini tidak lagi mengambil hutan secara sembarangan karena telah mendapatkan penyuluhan dari Dinas Kehutanan di Balai Tahura Bukit Barisan. Masyarakat sebagian besar sudah memehami fungsi lingkungan hutan sehingga mereka tidak lagi mengambil kayu dan mengambil hutan, tidak seperti dulu sebelum dilakukan penyuluhan masyarakat mau mengambil humus dari hutan.

Gambar 4.1 Kebun Masyarakat

Gambar 4.2 Masyarakat Desa Dolat Rakyat

Permasalahan 1. Sebagian besar masyarakat tersebut pendatang sehingga tidak mengetahui kondisi daerah tersebut 2. Sebagian masyarakat tidak begitu bergantung ada hutan sehingga masyarakat tersebut tidak begitu memahami tentang pengelolaan hutan

25

Pemecahan Masalah 1. Mencoba mencari tahu tentang kondisi daerah tersebut kepada responden yang mengetahui tentang daerah tersebut 2. Mencoba menjelaskan tentang pentingnya pengelolaan hutan kepada masyarakat (responden) sehingga mereka memahami pentingnya hutan itu. Kesimpulan 1. Masyarakat memanfaatkan hasil hutan berupa hasil hutan bukan kayu seperti tanaman obat dan tata air. 2. Mayoritas penduduk bermatapencaharian sebagai petani. 3. Mayoritas penduduk beragama Kristiani dan Bersuku Karo 4. Sebagian masyarakat tidak memahami tentang pengelolaan hutan sehingga perlu sosialisasi kepada masyarakat lokal tersebut.

26

PENANAMAN POHON

Nama Kegiatan Hari/Tanggal Waktu Lokasi Kegiatan Alat

: : : :

Penanaman Pohon Senin/ 4 Juli 2011 11.00-13.00 Wib Hutan Pendidikan USU

: Cangkul, tali plastik, ember, parang, ajir (pacak)

Bahan

: Bibit pohon manggis, pohon durian, dan mangga.

Hasil dan Pembahasan Hasil

Gambar 5.1 Pohon Manggis

Gambar 5.2 Penanaman pohon

Penanaman pohon dimaksudkan sebagai bentuk pengabdian rimbawan kehutanan terhadap masyarakat. Rimbawan melakukan penanaman tanaman MPTS di sekitah hutan tidak jauh dari lahan pemukiman masyarakat. Memilih tanaman MPTS untuk ditanam adalah untuk mendapatkan fungsi ganda dari

27

tanaman tersebut. Yaitu selain untuk mendapatkan fungsi ekologis dan juga daat dimanfaatkan buahnya oleh masyarakat sekitar. Agar masyarakat turut menjaga kelestarian pohon tersebut dikarenakan mereka dapat merasakan manfaat secara langsung berupa buah-uahan. Jenis tanaman yang ditanam yaitu pohon manggis, mangga, nangka dan durian. Bibit yang ditanam merupakan bibit yang fast growing agar pertumbuhannya lebih cepat sehingga manfaatnya lebih cepat juga dirasakan. Selain itu bibit tanaman dipilih yang merupakan bibit tanaman buah sehingga kalau sudah berbuah hasilnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan Permasalahan Banyak ilalang atau tumbuhan bawah sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu, agar tidak mengganggu pertumbuhan bibit. Pemecahan Masalah Ilalang dan semak belukar harus dibersihkan terlebih dahulu sehingga dalam proses penanaman lebih mudah dan bibit akan tumbuh dengan baik. Kesimpulan 1. Penanaman bibit MPTS dimaksudkan agar merasakan manfaat secara langsung yaitu buahnya. 2. Bibit yang digunakan harus bibit yang berkualitas sehingga bisa memberikan manfaat kepada masyarakat dan lingkungan. masyarakat dapat

28

PENDIDIKAN LINGKUNGAN

Nama Kegiatan Hari/Tanggal Waktu Lokasi Kegiatan Alat Bahan

: Pendidikan Lingkungan : : : Selasa/ 5 Juli 2011 09.00-14.30 Wib Hutan Pendidikan USU

: Korek api, parang, pisau, tali pandu : Kawasan Air Terjun Hutan Pendidikan USU

Hasil dan Pembahasan Hasil Pendidikan lingkungan dilakukan agar membentuk karakter rimbawan yang memiliki korsa, memiliki kekuatan fisik dan mental, kekuatan jasmanai dan spritual agar menjadi rimbawan jaya di hutan dan bijaksana di kota. Rimbawan merupakan profesi yang tidak dapat dijalani secara sendiri, saling membutuhkan antar rimbawan. Pendidikan lingkungan yang dijalani peserta dengan melewati empat pos yang dibuat oleh panitia. Yaitu pos pendidikan lingkungan, teknik survival, korsa rimbawan, dan pembinaan fisik mental. Kondisi saat mengikuti pendidikan lingkungan dapat dilihat pada gambar di bawah ini. y y y Pos I : Pada pos 1 diuji pengetahuan tentang pendidikan lingkungan. Pos II : Pada Pos II diberi pengetahuan tentang Survival. Pos III : Pada pos III diuji fisik dan mental para praktikan serta menguji kejujuran.

29

Pos IV : Pada pos IV diperoleh kegembiraan, pada pos ini dilatih kekompakan dalam mengambil mitela di bawah tantangan air terjun

Gambar 6.1 Pendidikan lingkungan

Gambar 6.2 Rimbawan setelah pelantikan

Permasalahan y Jalur tracking yang dilalui sangat terjal.

PemecahanMasalah Dalam menjalan tantangan yang ada disetiap pos dan sepanjang jalur menuju air terjun dibutuhkan kekompakan serta kerjasama tim yang baik agar semua dapat dilalui dengan baik dan terhindar dari kecelakaan. Kesimpulan Dari perjalanan mulai dari pos 1 hingga pos 4 jiwa rimbawan itu terbuka sehingga lebih peduli dengan sesama dan lingkungan hutan.

30

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan 1. Jenis dominan di hutan pada kawasan Gunung Barus pada tingkat pohon yaitu Medang ( Endondra kingiana ) 2. Jenis dominan di hutan pada kawasan Air Terjun adalah Pinus merkusi 3. Hutan pendidikan Gunung Barus sangat berpotensi untuk dijadikan kawasan okowisata karena didukung oleh keberadaan objek wisata Gunung Barus dan keberadaan Air Terjun. 4. Diperlukan strategi pengolahan dan pengelolaan untuk menjadikan Hutan Pendidikan USU sebagai kawasan ekowisata dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitah kawaan. 5. Tahura BB memiliki potensi hasil hutan bukan kayu yang tinggi. 6. Satwa liar yang mendominasi di kawasan Tahura BB adalah jenis burung dan primata. 7. Mayoritas masyarakat sekitar Tahura BB bermatapencaharian sebagai petani 8. Pemilihan bibit MPTS sebagai jenis tanaman yang ditanam adalah untuk memperoleh manfaat ganda yaitu manfaat lingkungan dan manfaat berupa bahan konsumsi berupa buah. Saran Perlu dilakukan beberapa pengembangan dan strategi pengolahan Hutan Pendidikan USU agar potensinya sebagai daerah ekowisata dapat dimanfaatkan bagi kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan.

31

DAFTAR PUSTAKA

Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta. Nurrochmat, D. R. 2005. Strategi Pengelolaan Hutan. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Weber, H. F. dan J. Damanik. 2006. Perencanaan Ekowisata dari Teori ke Aplikasi. Penerbit Andi. Yogyakarta. Zain A. S. 1998. Aspek Pembinaan Kawasan Hutan dan Stratifikasi Hutan Rakyat. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

32