Anda di halaman 1dari 23

Nurmahmudi Terancam PTUN Kasus Penipuan CPNS

DEPOK - Kasus 22 calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang ditipu panitia penerimaan pegawai negeri sipil Bagian Kepegawaian Kota Depok berbuntut. Sejumlah fraksi di DPRD Kota Depok serius menyoroti masalah ini. Wakil rakyat itu mengusulkan pengusutan tuntas kasus tersebut dengan menyusun gugatan PTUN terhadap Walikota Depok. Anggota Fraksi Partai Demokrat (F-PD), Karno menegaskan perkara 22 CPNS yang terlantar disebabkan SK CPNS nya tidak terbit itu telah dibahas lengkap di lingkungan F-PD. Dengan kesimpulan kasus tersebut murni terjadi atas kesengajaan panitia seleksi untuk melawan hukum. Akibat tindakan itu, lanjut dia para CPNS yang dinyatakan lolos tidak dapat diterima Badan Administrasi Kepegawaian Nasional (BAKN). Alasannya persyaratan yang dikantongi para CPNS itu tidak sesuai. Hingga tak layak mendapatkan SK. "Kenyataan itu berarti 22 CPNS sudah ditipu oleh panitia. Keterangan panitia pun mengakui hal tersebut," ungkap Karno, kemarin. Fakta-fakta lain, tegas Karno, tindakan yang merugikan 22 CPNS itu dilakukan secara sengaja oleh panitia. Dengan meloloskan persyaratan administrasi yang tidak sesuai. Tindakan tersebut jelas melanggar aturan seleksi yang ditetapkan pemerintah pusat. Lebih lanjut dia menegaskan berdasarkan fakta-fakta itulah F-PD lebih mendukungupaya hukum. Dengan menempuh jalur Pengadilan Tata Urusan Negara (PTUN). Karena kebijakan yang dilakukan panitia merupakan tindakan atas nama pemerintah daerah. "Jadi saya rasa wajar kalau jalur PTUN ini perlu dilakukan. Dan selayaknya harus segera ditempuh," ucapnya. Melalui jalur PTUN itu, dia memastikan ada pejabat yang pasti terkena sanksi. Setidaknya panitia seleksi dan Kepala Bagian Kepegawaian Kota Depok. Sebab keputusan meloloskan tes administrasi itu berdasarkan ketetapan kelua panitia seleksi CPNS. Anggota Fraksi Partai Gerindra (F-Gerindru Bangsa), Yetti Wulandari memberikan dukungan penuh terhadap tindakan PTUN itu. Sebagai upaya mencari keadilan dan memberikan sanksibagi yang bertanggung jawab. Menurutnya kesalahan mutlak herail.i ill pundak bagian kepegawaian. Dalam aturan rekrutmen lchih ditetapkan Menpan formas itu hanya untuk guru PGSD. Namun 22 CPNS itu diluluskan padahal tidak sesuai formasi. "Orang yang dapat mengikuti seleksi ujian tertulis adalah peserta yang sudah lulus tahap sebelumnya, yaitu seleksi berkas. Yang menjadi pertanyaan kenapa badan kepegawaian dup.it meloloskan ke-22 CPNS tersebut dalam seleksi awal. Padahal, formasinya sama sekali tidak memperbolehkan." katanya.

Kasus Silet Tak Perlu Berlanjut ke PTUN

"Kalau masalah itu selesai di KPI atau di Dewan Pers, selesailah di situ. Tak usah melibatkan institusi lain misalnya membawa ke PTUN. Tak usah juga melibatkan kepolisian. Tidak akan selesai masalah ini kalau cara yang ditempuh seperti ini," pinta Roy kepada wartawan di Gedung DPR RI, Rabu (23/3/2011). Sebaliknya, Roy juga menyarankan agar pihak MNC selaku perusahaan televisi yang menayangkan program Silet tak perlu memperpanjang putusan PTUN. "MNC juga tak perlu memperpanjang putusan PTUN-nya. Itu clear Mas," tandasnya. Politikus Partai Demokrat ini menyatakan prihatin atas penyelesaian sengketa penyiaran antara KPI dan Silet. "Saya prihatin. Pada saat terjadinya kasus Silet, masyarakat Yogja sempat marah. KPI sudah berani dan saya angkat topi untuk KPI. Tapi, saya tidak hanya angkat topi untuk KPI, angkat topi juga kepada Silet. Karena Silet mematuhi ketentuan bahkan hukuman yang diberikan kepadanya. Silet juga tidak siaran untuk beberapa waktu lamanya," papar Roy. Roy juga menyarankan agar pihak KPI mematuhi putusan PTUN yang membatalkan keputusan sanksi KPI terhadap program Silet. "Keputusan PTUN itu sudah sepatutnya dihormati dan dipatuhi semua pihak. KPI sebaiknya menerima putusan tersebut," harapnya.

Gara-gara Sampah, Wali Kota Depok Dilaporkan ke PTUN


DEPOK, SELASA Warga Perumahan Taman Cipayung RW 27, Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat, melaporkan Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait masalah penempatan Unit Pengolahan Sampah (UPS) di permukiman warga. "Hari ini kami melaporkan Wali Kota Depok Nur Mahmudi ke PTUN Bandung," kata Kuasa hukum warga Perumahan Taman Cipayung, Iskandar, di Depok, Selasa (13/1). Menurut dia, laporan ke PTUN tersebut hanya berisi permintaan warga agar Pemkot Depok memindahkan lokasi UPS dari permukiman warga. Nur Mahmudi dianggap melanggar UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Persampahan karena warga tidak dilibatkan dalam sosialisasi. "Jaraknya sangat dekat dengan rumah hanya sekitar enam meter," jelasnya. Menurut undang-undang tersebut, jarak antara permukiman dan tempat pengolahan sampah seperti UPS adalah 500 meter hingga 1 kilometer, sedangkan untuk TPA sampah 1-2 kilometer. Lebih lanjut ia mengatakan, Wali Kota Depok telah mengeluarkan surat keputusan yang hanya bisa dicabut dan dibatalkan oleh putusan PTUN. Sebenarnya, menurut Iskandar, warga telah berusaha berdialog dengan Wali Kota, tetapi selalu ditolak. "Surat telah kami masukkan ke Pemkot Depok tapi tidak pernah ada tanggapan," jelasnya. Selain itu, warga Perumahan Taman Cipayung juga telah melaporkan Proyek UPS tersebut ke Polsek Sukmajaya, tetapi hingga kini belum juga mendapat tanggapan. Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) DKI Jakarta Slamet Daroyni menilai, pelaksanaan pembangunan proyek UPS oleh Pemkot Depok di Taman Cipayung, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat, melanggar UU Lingkungan Hidup. "Setelah saya pelajari proyek pembangunan UPS melanggar UU Lingkungan Hidup," katanya. Slamet mengatakan, fakta-fakta di lapangan memperlihatkan proyek UPS melanggar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam pembangunan UPS tersebut tidak ada ruang bagi partisipasi masyarakat sehingga mendapat penolakan dari warga setempat.

Walhi & Pemda Sumbawa Barat Gugat KLH ke PTUN Terkait Newmont
Jakarta - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat (Pemda KSB) menggugat Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Gugatan tersebut terkait perpanjangan izin pembuangan tailing (limbah sisa pengolahan tambang) milik PT Newmont Nusa Tenggara yang dibuang ke Teluk Senunu, Sumbawa Barat. Gugatan dengan nomor perkara 145 ini disidangkan di Pengadilan Negeri Tata Usaha Negara (PTUN), Jl Sentra Primer, Jakarta Timur, Selasa (26/9/2011). Hadir dalam sidang tersebut Walhi sebagai penggugat dan KLH sebagai tergugat. "Kita menggugat ke PTUN untuk membatalkan perpanjangan izin tersebut," ujar Manager Advokasi Hukum dan Kebijakan Walhi, Jumi Rahayu usai sidang. Jumi mengatakan pihaknya menolak izin perpanjangan pembuangan limbah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 92 tahun 2011 tentang izin Dumping Tailing di dasar laut oleh PT Newmont Nusa Tenggara. Walhi sudah sejak lama menolak pembuangan limbah sisa pengolahan tambang yang berbahaya (Tailing) ke Teluk Senunu, KSB. "Kita mau mengkampanyekan bahwa tidak boleh ada pembuangan Tailing ke laut, Teluk Senunu. Akibatnya hasil ikan menurun dan nelayan harus mencari ikan di laut lebih jauh," jelasnya. Sementara itu Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik Pemda Sumbawa Barat Burhanuddin Jebang mengatakan pihaknya meminta izin tersebut dibatalkan sebab belum ada rekomendasi dari Bupati Sumbawa Barat untuk melanjutkan izin tersebut. "Kita minta izin itu batal. Izin itu setiap dua tahun ada perpanjangan. Sebelumnya ada rekomendasi dari Bupati, tapi yang kali ini tidak, (perpanjangan izin) sejak Mei 2011," paparnya. Pemda Sumbawa Barat, lanjut Burhanuddin, meminta kerjasama dari berbagai pihak dalam hal ini. Pemerintah pusat diminta untuk menghargai hak pemerintah daerah. "Bukan izinnya, tapi harus ada rekomendasi bupati. Kami keberatan ada perpanjangan izin itu tanpa rekomendasi kita," jelasnya. Burhanuddin mengaku memiliki bukti berupa hasil penelitian bahwa pembuangan Tailing di Teluk Senunu itu berdampak negatif pada lingkungan. "Sidang berikutnya saya akan bawa bukti-bukti itu. Populasi ikan di sekitar situ mati, terutama cumi-cumi sudah hilang, ini sejak beroperasinya PT Newmont." ungkapnya. Kuasa hukum KLH Patra M Zen membantah jika dikatakan ada pencemaran lingkungan di Teluk Senunu akibat dari pembuangan Tailing tersebut. Menurutnya tailing tersebut sudah mengalami detoksifikasi sehingga hilang unsur kimia yang

membahayakan. Selain itu limbah tersebut diletakkan di dasar laut yang dalam di mana tidak ada hewan laut yang hidup disana. "Tidak satupun bukti ilmiah yang diklaim mengakibatkan pencemaran lingkungan," jelasnya. Selain itu, Patra juga mempermasalahkan pihak Pemda Sumbawa Barat yang turut serta menjadi penggugat intervensi dalam kasus ini. Menurutnya dalam Pasal 83 UU PTUN, menyatakan hanya ada 2 entitas yang menjadi pemohon intervensi. Yang pertama adalah orang (individu), kedua badan hukum perdata. "Pemda ini tidak termasuk klasifikasi Pasal 83. Selagi ada pasal itu, tidak bisa pemda menjadi pemohon intervensi karena pemda ini mau minta sebagai penggugat," paparnya. Patra juga membantah jika dikatakan Pemda tidak dilibatkan dalam proses perpanjangan izin tersebut. Pemda menurutnya telah diundang namun tidak pernah bisa hadir dalam proses perizinan itu. "Kami memiliki bukti bahwa pihak pemda diundang tapi tidak hadir. DPRD saja datang menyampaikan masukannya," tegasnya. Majelis hakim dalam sidang hari ini menolak pengajuan gugatan yang dilakukan oleh Pemda Sumbawa Barat. Sebab seharusnya Pemda mengajukan permohonan intervensi sebagai penggugat. Sidang ditunda hingga Selasa 4 Oktober 2011 pukul 09.00 WIB. "Acara selanjutnya mendengarkan sikap majelis hakim terhadap permohonan intervensi dari Pemkab Sumbawa Barat," ujar Ketua Majelis Hakim Bambang Heriyanto.

Pemkot Bandung Kalah di PTUN


BANDUNG, RABU - Pengadilan Tata Usaha Negara atau PTUN Bandung menyatakan surat perintah Pemerintah Kota Bandung untuk membongkar lantai lima dan enam Vue Palace Hotel atau VPH harus dicabut. Surat perintah pembongkaran ini dinilai majelis hakim tidak mencerminkan keadilan. Demikian amar putusan majelis hakim PTUN Bandung yang diketuai Bambang Priyambodo dalam sidang putusan kasus VPH, Rabu (5/3). Bambang menilai, keputusan membongkar lantai lima dan enam VPH itu tidak memperimbangkan kerugian pemilik hotel. Kasus ini bermula dari terbitnya surat Wali Kota Bandung Nomor 640/2523-disbang tertanggal 10 Oktober 2007 perihal Pembongkaran Lantai Lima dan Enam V PH karena tidak sesuai surat izin mendirikan bangunan (IMB). Ketika pembongkaran berlangsung, Pihak HPV menggugat Pemkot Bandung mengenai surat tersebut ke PTUN. HPV juga meminta agar pembongkaran dihentikan karena proses hukum sedang berjalan. Dalam purtusan sela kasus ini, PTUN mengabulkan permohonan HPV. Dalam amar putusannya, mejelis hakim mengatakan, pembangunan VPH telah dilengkapi dengan berbagai izin seperti izin peruntukan penggunaan tanah (IPPT), IMB, izin gangguan (HO), dan izin operasional lainnya. Selain itu, pembongkaran lantai lima dan enam hotel di jalan Otto Iskandardinata itu membutuhkan waktu 9 bulan sampai 1,5 tahun. Bambang menilai surat Nomor 640/2523-disbang perihal Pembongkaran Lantai Lima dan Enam Vue Place Hotel itu tidak mencerminkan keadilan. Sebab, masih banyak bangunan di Kota Bandung yang ketinggiannya melampui VPH. Banguan tersebut antara lain gedung Pasar Baru, Hotel Grand Aquila, Hyatt Regency, dan Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI). "Oleh karena itu, majelis hakim menolak semua eksepsi Pemkot Bandung sebagai tergugat dan mengabulkan gugatan VPH. Majelis hakim juga menyatakan surat Nomor 640/2523disbang tertanggal 10 Oktober 2007 perihal Pembongkaran Lantai Lima dan Enam HPV batal, serta meminta pejabat negara mencabutnya. Menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara Rp 1.529.000," kata Bambang. Menanggapi hal ini, kuasa hukum Pemkot Bandung Asep Mulyana menyatakan akan berkonsultasi dengan Bagian Hak Asasi Manusia dan Hukum Kota Bandung. Kami belum bisa menyatakan banding. "Kami harus melapor dulu ke tim, apakah banding atau tidak. Tapi, saya yakin pasti akan banding. Ada waktu 14 hari untuk menyatakan banding," ujarnya.

KPK Periksa Adner dalam Kasus Suap Hakim Ibrahim


JAKARTA, KOMPAS.com Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (13/4/2010), memeriksa seorang pengacara, Adner Sirait (AS), dalam kasus dugaan suap Rp 300 juta kepada hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (TUN) Jakarta, Ibrahim. Adner menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, sejak pukul 11.00 WIB dan baru selesai delapan jam kemudian. Ketika meninggalkan KPK pada pukul 19.00 WIB, Adner tidak mau menjawab pertanyaan wartawan. Dia hanya diam sambil bergegas menuju mobil tahanan KPK ketika para wartawan menanyakan materi pemeriksaan yang dia jalani. Juru Bicara KPK Johan Budi membenarkan bahwa Adner diperiksa untuk memperdalam penyidikan kasus dugaan suap terhadap hakim Ibrahim. KPK menduga Adner menyuap Ibrahim untuk memenangkan perkara yang sedang bergulir di Pengadilan Tinggi TUN Jakarta. "Yang bersangkutan dimintai keterangan untuk mengetahui apakah dugaan suap hanya melibatkan keduanya, atau ada pihak lain yang terlibat," kata Johan. KPK resmi menetapkan Ibrahim dan Adner Sirait sebagai tersangka kasus dugaan suap. KPK menjerat Ibrahim dengan Pasal 6 ayat (2) dan atau Pasal 12 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sedangkan Adner dijerat Pasal 6 ayat (1) dan atau Pasal 15 UndangUndang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Suap itu diduga untuk memenangkan PT Sabar Ganda dalam sengketa tanah dengan Pemprov DKI Jakarta yang disidangkan di Pengadilan Tinggi TUN Jakarta. Perkara Nomor 36/B/2010/PTUN JKT itu ditangani oleh majelis hakim yang terdiri dari Ibrahim (ketua), Arifin Marpaung, dan Santer Sitorus. Setelah penangkapan, pengadilan mengganti susunan majelis hakim sehingga perkara itu ditangani oleh HR Suhardoto (ketua), Bambang Edy Sutanto, dan Sulistyo. Dalam kasus itu, KPK telah melakukan penggeledahan di sejumlah tempat, antara lain di Pengadilan Tinggi TUN Jakarta, kantor, dan rumah Adner Sirait. Saat menggeledah rumah Adner, KPK juga menemukan uang sebanyak Rp 80 juta. Johan Budi menjelaskan, uang itu ditemukan di ruang kerja. Namun, KPK belum menyatakan uang itu terkait dengan suap yang menjerat Adner dan Ibrahim. "Kami masih meneliti apakah uang ada kaitan dengan dugaan suap," kata Johan.

Mutasi Massal Diprotes


Pekanbaru, Kompas - Tidak terima dimutasi, mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Akmal JS melaporkan Gubernur Riau kepada Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Presiden. Akmal adalah salah satu dari 13 pejabat eselon II di jajaran Pemprov Riau yang dimutasi tanpa mendapat jabatan lagi. Beberapa pejabat yang mendapat meja kosong itu, oleh media Pekanbaru, diberitakan bakal melakukan gugatan ke PTUN Pekanbaru menyangkut mutasi yang merugikan pihaknya sebagai pegawai negeri sipil. Namun, kemarin, Akmal menyatakan tidak akan menggugat. Saya tidak ada rencana melakukan gugatan ke PTUN. Saya hanya menyampaikan keberatan kepada Mendagri, ujar Akmal pada acara serah terima jabatan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Riau dari Humizri Husin kepada Wan Syamsir Yunus di Pekanbaru, Rabu (3/9). Dalam suratnya, Akmal menyatakan keberatan dimutasi karena baru menjabat dua bulan sebagai Kepala Dinas Perkebunan. Kedua, dia merasa tidak melakukan kesalahan selama menjabat dan ketiga, semestinya evaluasi terhadap pejabat baru bisa dilakukan minimal setelah bertugas enam bulan. Pada saat ini, Akmal menjadi staf biasa pada Dinas Pendidikan Riau. Hal itu dapat dikategorikan sebagai penurunan pangkat atau hukuman. Humizri yang digantikan Wan Syamsir Yunus juga merupakan salah seorang dari 13 pejabat eselon II di Pemprov Riau yang tidak mendapat jabatan struktural lagi seperti Akmal meski dia baru saja menduduki kursi Kepala Balitbang Riau selama dua bulan. Selain kedua pejabat itu, masih ada pejabat lain senasib, seperti Tezzy D Dahlan (Kepala Badan Informasi Komunikasi dan Kesatuan Bangsa), Lukman Abbas (Kepala Badan Pengendali Dampak Lingkungan Hidup Riau), dan Auni M Noor (Kepala Badan Administrasi Pendidikan dan Latihan Pegawai Riau). Humizri yang sempat mengumumkan menunjuk pengacara Suhendro untuk menggugat Gubernur Riau ke PTUN, kemarin mendadak lebih banyak diam. Saya no comment sekarang, kita lihat saja nanti, ujarnya. Tezzy yang sampai kemarin masih belum melakukan serah terima jabatan dengan penggantinya sempat mengundang wartawan ke ruang kerjanya dan menyatakan akan melakukan gugatan ke PTUN Pekanbaru. Namun, Rabu kemarin, Tezzy memilih bungkam ketika ditanya. No comment, katanya sambil berlalu. Ke-13 pejabat di Pemprov Riau tersebut dimutasi bersama 78 pejabat eselon II dan III secara bersamaan pada 25 Agustus lalu. Ketika itu, Gubernur Wan mengatakan, mutasi adalah hal biasa dan rutin dilakukan untuk penyegaran. Namun, rumor yang berkembang di Pekanbaru menyebutkan, ke-13 pejabat itu adalah orang yang selama ini dikenal dekat dengan Rusli Zainal, Gubernur Riau yang mengundurkan diri untuk maju kembali dalam pemilihan kepala daerah 22 September nanti. (SAH).

Layakkah Nenek Soetarti dan Roesmini Dihukum?


JAKARTA, KOMPAS.com Terkait kasus persengketaan rumah dinas milik Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Kementerian Keuangan yang membawa dua nama janda veteran sekaligus pensiunan PNS Perum Pegadaian Soetarti dan Roesmini, banyak pihak bertanyatanya. Benarkah kedua nenek renta tersebut bersalah melanggar hukum hingga harus diseret ke meja hijau dan didakwa dengan ancaman hukuman hingga 2 tahun 9 bulan penjara. Berbagai spekulasi pun bermunculan. Ada yang merasa iba dan menganggap kasus tersebut merupakan upaya kriminalisasi pihak pemilik modal terhadap masyarakat kecil seperti Soetarti dan Roesmini. Ada pula yang melihat kasus ini sebagai kasus pelanggaran hukum murni yang harus ditangani sesuai prosedur hukum yang berlaku. Terlepas dari kontroversi tersebut, jaksa penuntut umum dalam sidang Soetarti dan Roesmini di Pengadilan Negeri Jakarta Timur Ibnu Suud berpendapat bahwa keduanya, Soetarti dan Roesmini, memang terbukti telah melakukan pelanggaran hukum. "Siapa saja yang menempati rumah tanpa izin pemiliknya, dalam konteks UU Perumahan ya, tentu tidak boleh dan telah melanggar hukum," kata Ibnu Suud saat ditemui seusai sidang Soetarti dan Roesmini, Rabu (17/3/2010) di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim). Ia mengatakan hal yang sama juga dengan kasus Ibu Soetarti dan Roesmini ini. Mereka menempati rumah tanpa izin dari pemiliknya, yang dalam hal ini adalah Perum Pegadaian. Dalam konteks ini, itu menjadi hak penuh Perum Pegadaian, mau menuntut atau tidak karena rumah itu memang miliknya. "Kalau untuk masalah hak kepemilikan atau hak beli yang diajukan terdakwa ke PTUN atas dasar PP No 40 itu sudah menjadi masalah lain lagi di luar konteks ini," paparnya. Soetarti dan Roesmini telah menempati rumah dinas Perum Pegadaian lebih dari 25 tahun karena almarhum suaminya yang seorang PNS Perum Pegadaian. Pada akhir tahun 1990-an, sejak sang suami pensiun dan meninggal dunia, Perum Pegadaian telah memberikan surat peringatan dan meminta kedua janda veteran tersebut beserta keluarganya untuk mengosongkan rumah dinas mereka yang terletak di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Namun, kabarnya surat peringatan dari Perum Pegadaian itu tak digubris oleh pihak keluarga Soetarti dan Roesmini. Pengabaian pun terjadi beberapa kali hingga tahun 2008 lalu. Pada tahun 2008, pihak Perum Pegadaian sempat memberikan somasi kepada keluarga kedua terdakwa untuk meninggalkan rumah, tetapi pihak keluarga secara gamblang tetap menolak. Tak tahan dengan tindakan pihak Soetarti dan Roesmini, pada Januari 2009 lalu akhirnya Perum Pegadaian melaporkan kedua nenek itu kepada pihak berwenang. Alhasil, kasus ini pun sampai ke PN Jaktim.

Tiga Pihak Bicarakan Sengketa Tanah Sriwedari


SOLO, RABU- Pemerintah Kota Solo berencana menggelar paparan publik tentang sengketa tanah Sriwedari. Pemkot mengajak ahli waris KRMT Wirjodiningrat dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Solo untuk memaparkan kronologi versi masing-masing soal kepemilikan tanah Sriwedari. Wali Kota Solo Joko Widodo mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan tim untuk menyampaikan kronologi kasus sengketa tanah Sriwedari. Menurut dia, paparan publik yang akan digelar akhir Nopember ini diharapkan dapat memberi penjelasan setransparan mungkin kepada masyarakat tentang sengketa tanah Sriwedari. Ahli waris KRMT Wirjodiningrat mengklaim memiliki bukti kepemilikan tanah Sriwedari seluas 10 hektar. Di atas tanah ini berdiri Taman Sriwedari, Museum Radya Pustaka, Stadion Sriwedari, Gedung Wayang Orang, Segaran, Pujasera, Restoran Boga, dan bekas gedung bioskop Solo Theatre. Taman Sriwedari dan segaran dibangun oleh Paku Buwono X yang merupakan adik ipar Wirjodiningrat. Salah satu ahli waris KRMT Wirjodiningrat, HRM Gunadi HS Gunadi mengisahkan, KRMT Wirjodiningrat yang merupakan kakek orang tuanya, membeli tanah Sriwedari dari seorang Belanda bernama Johannes Buselar pada tahun 1877 dengan status tanah RVE (hak milik). Setelah keluar Undang-undang Pokok Agraria tanggal 24 September tahun 1960, status kepemilikan tanah didaftarkan kembali namun hanya mendapat status hak guna bangunan (HGB) 22 karena baru didaftarkan tahun 1965. Ini digugat ahli waris melalui Pengadilan Negeri Surakarta tahun 1970. Tahun 1980, keputusan kasasi di tingkat Mahkamah Agung menyatakan, ahli waris berhak atas HGB 22 sampai tahun 1980, Pemkot Solo membayar ganti rugi uang sewa persil dan gedung, sementarar gugatan agar pemkot mengosongkan dan menyerahkan persil dan gedung kepada ahli waris tidak dapat diterima. Tahun 1980, ahli waris memperpanjang hak kepada BPN Solo namun tidak diterima. Tahun 1987 dan 1991, BPN menerbitkan Hak Pakai (HP) 11 dan HP 15 tanah Sriwedari atas nama Pemkot Solo. Ahli waris melalui Pengadilan Tata Usaha Negara menuntut pembatalan HP 11 dan HP 15. Di PTUN Semarang, BPN kalah, tetapi di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya BPN menang. Di tingkat kasasi BPN kalah. Saat ini sedang berlangsung proses pengajuan peninjauan kembali.

Diusir TNI AU, Ratusan Warga Lapor ke Komnas HAM


/

JAKARTA, RABU -- Ratusan penghuni rumah negara Departemen Pertahanan/ TNI- Polri siang ini (Rabu, 16/7) melapor ke Komnas HAM. Hal ini berkaitan dengan pengusiran paksa oleh TNI AU, yang terjadi di komplek TNI AU Tangerang beberapa waktu lalu. Rombongan yang diterima oleh Anggota Komnas HAM Nur Kholis dan Syafruddin Simeleu memohon perlindungan Komnas HAM, karena TNI AU melakukan pengusiran tanpa dasar hukum yang jelas. Ketua Forum Koordinasi Penghuni Rumah Negara Dephan/ TNI-Polri seluruh Indonesia, Soemarto mengatakan rumah-rumah tersebut sudah ditempati lebih dari 30 tahun. Sementara, berdasarkan PP Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah Negara disebutkan, jika sudah lebih dari 10 tahun bekerja sebagai pegawai negeri maka rumah dinas tersebut dapat dibeli. "Kami ingin membeli sesuai dengan ketentuan PP itu, yaitu sebesar 50 persen dari harga jual rumah. Tapi kami tidak diperbolehkan," katanya. Pemerintah, menurut Soemarto, mengusir mereka dengan alasan kekurangan dana dalam membangun rumah negara bagi pegawai TNI yang baru. Pada tanggal 9 Juli 2008 dari 70 rumah yang ada di Tangerang, 38 di antaranya, dipaksa dikosongkan oleh Lanud Halim Perdanakusuma. Padahal, rumah-rumah tersebut masih dihuni oleh purnawirawan/warakawuri. "Kami tidak diberikan penggantian sepeser pun," katanya. Soemarto memandang, tindakan itu sangat tidak menusiawi dan tidak menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Sebab saat ini, tanah dan rumah negara di Tangerang dan Cilangkap, Depok sedang dalam sengketa dan sedang dalam tingkat banding di PTUN Bandung dan persidangan di PN Tangerang dan Depok. Warga yang berada di Cilangkap, Depok, telah diultimatum untuk meninggalkan rumah sebelum tanggal 31 Juli. Padahal, rumah-rumah dalam komplek itu masih dihuni oleh 90 pensiunan TNI dan 24 TNI aktif. Ketua RW komplek TNI AU Cilangkap, Sarwi mengatakan tidak akan mengosongkan rumah-rumah itu, sebab belum ada putusan yang sah dari pengadilan tentang siapa yang memenangkan kasus ini. Ia juga mengaku terpaksa menempuh jalur hukum karena tidak ada komunikasi dari pejabat TNI tentang alasan pasti mengapa mereka harus meninggalkan rumah dinas tersebut. Menanggapi laporan tersebut, pihak Komnas HAM mengatakan akan mempelajari laporan tersebut selama tiga hari. Menurutnya, Pemerintah harus memenuhi hak-hak warga atas rumah tersebut, dan laporan tersebut akan dipelajari Komnas HAM dalam waktu tiga hari. "Hak atas rumah dijamin oleh konstitusi dan oleh UU HAM Nomor 39 Tahun 1999," ujar Nur Kholis. (M12-08)

Kasus Pangandaran Waterpark, Pemda Kabupaten Ciamis Siap Ke PTUN


Pemerintah Kabupaten Ciamis siap menghadapi gugatan PTUN yang dilakukan oleh LSM Merah Putih yang terus mempersoalkan ijin gangguan atau HO Wahana Wisata Water Park Pangandaran (WPP) di Desa Putrapinggan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis.Asisten Daerah (Asda) 1 Pmeda Ciamis Mahmud menegaskan siap menghadapi gugatan PTUN yang dilakukan oleh LSM Laskar Merah Putih. Bahkan dia juga menegaskan dengan ditempuhnya jalur hukum, akan semakin memperjelas dan mempertegas yang yang sebenarnya terjadi. Silakan gugat ke PTUN, kami siap menghadapinya. Kami tidak melihat adanya persoalan internal mereka, sepanjang diajukan sesuai dengan persyaratan dan tidak ada aturan yang dilanggar, maka pengurusan perijinan harus tetap dilaksanakan, ujarnya. Sementara itu PT Mutiara Sabda Alam selaku pemiliki wahana wisata tersebut telah secara resmi mengantongi HO.Kepastian pengelola WPP telah mengantongi HO dikatakan oleh Direktur Pemasaran Mutiara Sabda Alam, Erik Anwar yang didampingi kuasa hukumnya dari Jiwan dan Rekan, Jiwan Suwarya, kepada wartawan, Jumat (11/2) di Ciamis. Dengan menunjukkan bukti otentik HO yang selama ini diperjuangkan, lanjutnya, tidak ada alasan lagi bagi pihak lain untuk mempermasalahkan ijin tersebut.Secara prinsip sudah tidak ada lagi persoalan dengan HO. Dokumen tersebut merupakan bukti otentik bagi kami untuk terus mengelola wahana wisata air tersebut. Yang pasti secara legal tidak ada lagi permasalahan, tutur Erik sembari menunjukkan dokumen HO. Dia mengatakan bahwa sebelumnya sempat mengalami keterlambatan pengurusan ijin HO. Namun demikian dengan menunjukkan alat bukti yang sah serta memiliki kekuatan hukum, akhirnya HO diterbitkan. Erik mengakui meskipun HO sudah keluar, namun masih ada persoalan internal yang harus secepatnya diselesaikan. Kami sudah dua kali mengurus HO. Baru sekarang ini selesai. Jika ada pemahaman lain menyangkut ijin, dapat dimusyawarahkan. Bagaimanapun juga kami juga membutuhkan kepastian, ujarnya.(PikiranRakyat)

PTUN Tak Berwenang Adili Kasus Perburuhan


TANGERANG, GARDABERITA - Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang memenangkan gugatan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Tangerang, terkait SK Revisi UMK Kota/Kabupaten, dinilai menyalahi prosedur. Pasalnya, PTUN tidak berhak mengadili perkara sengketa perburuhan dengan pengusaha. Demikian dikatakan Ketua Dewan Penasehat Kongres Advokat Indonesia Cabang Provinsi Banten, Ebrown Lubuk SH. Menurut Ebrown, sejak awal seharusnya hakim PTUN Bandung tidak menerima perkara tersebut. "Hakim PTUN tidak mempunyai kewenangan mengadili perkara perselisihan buruh dengan pengusaha, seharusnya perkara itu dibawa ke Penagdilan Hubungan Industrial,"tegasnya. Yang digugat Apindo, dikatakan Ebrown, memang SK Gubernur, namun substansi dari SK itu terkait sengketa upah buruh. "Jadi sejatinya SK Gubernur terbit untuk mengatur besaran upah buruh, dan dan otomatis untuk kepentingan buruh juga pengusaha. Ini artinya terjadi sengketa antara buruh dengan pengusaha," papar praktisi hukum ini. Kendati demikian, Ebrown mengakui, siapapun tak bisa mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan di PTUN. Namun ia berharap, pendapatnya ini bisa menjadi salah satu dasar pertimbangan hakim dalam proses banding nanti. "Hakim juga harus mempertimbangkan nasib puluhan ribu buruh yang bebannya bisa sedikit berkurang dengan kenaikan upah sesuai yang diputuskan Gubernur Atut Chosiyah," tutur Ebrown.(sdh/Reo)

Pendukung Syinar Protes ke PTUN


/

BANDUNG, SELASA - Sekitar 300 orang pendukung pasangan perseorangan Syinar Budhi Arta dan Arry Akhmad Arman mendatangi gedung PTN Bandung, Selasa (15/7). Mereka menuntut ketegangan sikap PTUN terhadap gugatan pasangan ini. Demonstran datang dengan menggunakan sepeda motor dan mobil pikap. Mereka tiba sekitar pukul 09.30, lalu berorasi dan menggelar berbagai poster di depan halaman Gedung PTUN. Massa yang terdiri atas laki-laki, perempuan dan anak-anak memaksa masuk halaman gedung, tetapi dicegah aparat. Dalam orasinya, koordinator pendukung Syinar, M Sidarta mengatakan, KPU berbuat tidak adil. "Sebab menghilangkan sejumlah dukungan Syinar, sehingga tidak bisa menjadi peserta pemilihan wali kota Bandung," kata Sidarta. Menururtnya, dukungan Synar yang sah mencapai 67.000 atau melampau batas minimal tiga persen penduduk Kota Bandung, yakni 66.717. Namun KPU mengatakan dukungan sinar yang sah hanya sekitar 54.000 sehingga tidak bisa mengikut pemilihan wali kota. Ketua PTUN Bandung, Boy Mirwadi mengatakan saat ini PTUN belum bisa memutuskan apakah gugatan ini bisa diteruskan atau tidak, sebab PTUN masih akan memeriksa berkas gugatan dan keterangan KPU Kota Bandung mengenai proses penjaringan dukungan. "Hari Kamis depan akan kami putuskan apakah kasus ini bisa disidangkan atau tidak," kata Boy. Setelah mendengan jawaban itu, para demonstran meninggalkan tempat. Sesuai jadwal yang ditetapkan KPU Kota Bandung, proses pemilihan wali kota Bandung sekarang sampai pada tahap pemeriksaan persyaratan para bakal calon. Pada 18 Juli diadakan penetapan nomor urut. Pada 23 Juli dimulai kampanye dan 10 Agustus pemungutan suara.

Pemkot Bandung Kalah di PTUN


BANDUNG, RABU - Pengadilan Tata Usaha Negara atau PTUN Bandung menyatakan surat perintah Pemerintah Kota Bandung untuk membongkar lantai lima dan enam Vue Palace Hotel atau VPH harus dicabut. Surat perintah pembongkaran ini dinilai majelis hakim tidak mencerminkan keadilan. Demikian amar putusan majelis hakim PTUN Bandung yang diketuai Bambang Priyambodo dalam sidang putusan kasus VPH, Rabu (5/3). Bambang menilai, keputusan membongkar lantai lima dan enam VPH itu tidak memperimbangkan kerugian pemilik hotel. Kasus ini bermula dari terbitnya surat Wali Kota Bandung Nomor 640/2523-disbang tertanggal 10 Oktober 2007 perihal Pembongkaran Lantai Lima dan Enam V PH karena tidak sesuai surat izin mendirikan bangunan (IMB). Ketika pembongkaran berlangsung, Pihak HPV menggugat Pemkot Bandung mengenai surat tersebut ke PTUN. HPV juga meminta agar pembongkaran dihentikan karena proses hukum sedang berjalan. Dalam purtusan sela kasus ini, PTUN mengabulkan permohonan HPV. Dalam amar putusannya, mejelis hakim mengatakan, pembangunan VPH telah dilengkapi dengan berbagai izin seperti izin peruntukan penggunaan tanah (IPPT), IMB, izin gangguan (HO), dan izin operasional lainnya. Selain itu, pembongkaran lantai lima dan enam hotel di jalan Otto Iskandardinata itu membutuhkan waktu 9 bulan sampai 1,5 tahun. Bambang menilai surat Nomor 640/2523-disbang perihal Pembongkaran Lantai Lima dan Enam Vue Place Hotel itu tidak mencerminkan keadilan. Sebab, masih banyak bangunan di Kota Bandung yang ketinggiannya melampui VPH. Banguan tersebut antara lain gedung Pasar Baru, Hotel Grand Aquila, Hyatt Regency, dan Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI). "Oleh karena itu, majelis hakim menolak semua eksepsi Pemkot Bandung sebagai tergugat dan mengabulkan gugatan VPH. Majelis hakim juga menyatakan surat Nomor 640/2523disbang tertanggal 10 Oktober 2007 perihal Pembongkaran Lantai Lima dan Enam HPV batal, serta meminta pejabat nega ra mencabutnya. Menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara Rp 1.529.000," kata Bambang. Menanggapi hal ini, kuasa hukum Pemkot Bandung Asep Mulyana menyatakan akan berkonsultasi dengan Bagian Hak Asasi Manusia dan Hukum Kota Bandung. Kami belum bisa menyatakan banding. "Kami harus melapor dulu ke tim, apakah banding atau tidak. Tapi, saya yakin pasti akan banding. Ada waktu 14 hari untuk menyatakan banding," ujarnya.

KPK Periksa Adner dalam Kasus Suap Hakim Ibrahim


JAKARTA, KOMPAS.com Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (13/4/2010), memeriksa seorang pengacara, Adner Sirait (AS), dalam kasus dugaan suap Rp 300 juta kepada hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (TUN) Jakarta, Ibrahim. Adner menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, sejak pukul 11.00 WIB dan baru selesai delapan jam kemudian. Ketika meninggalkan KPK pada pukul 19.00 WIB, Adner tidak mau menjawab pertanyaan wartawan. Dia hanya diam sambil bergegas menuju mobil tahanan KPK ketika para wartawan menanyakan materi pemeriksaan yang dia jalani. Juru Bicara KPK Johan Budi membenarkan bahwa Adner diperiksa untuk memperdalam penyidikan kasus dugaan suap terhadap hakim Ibrahim. KPK menduga Adner menyuap Ibrahim untuk memenangkan perkara yang sedang bergulir di Pengadilan Tinggi TUN Jakarta. "Yang bersangkutan dimintai keterangan untuk mengetahui apakah dugaan suap hanya melibatkan keduanya, atau ada pihak lain yang terlibat," kata Johan. KPK resmi menetapkan Ibrahim dan Adner Sirait sebagai tersangka kasus dugaan suap. KPK menjerat Ibrahim dengan Pasal 6 ayat (2) dan atau Pasal 12 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sedangkan Adner dijerat Pasal 6 ayat (1) dan atau Pasal 15 UndangUndang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Suap itu diduga untuk memenangkan PT Sabar Ganda dalam sengketa tanah dengan Pemprov DKI Jakarta yang disidangkan di Pengadilan Tinggi TUN Jakarta. Perkara Nomor 36/B/2010/PTUN JKT itu ditangani oleh majelis hakim yang terdiri dari Ibrahim (ketua), Arifin Marpaung, dan Santer Sitorus. Setelah penangkapan, pengadilan mengganti susunan majelis hakim sehingga perkara itu ditangani oleh HR Suhardoto (ketua), Bambang Edy Sutanto, dan Sulistyo. Dalam kasus itu, KPK telah melakukan penggeledahan di sejumlah tempat, antara lain di Pengadilan Tinggi TUN Jakarta, kantor, dan rumah Adner Sirait. Saat menggeledah rumah Adner, KPK juga menemukan uang sebanyak Rp 80 juta. Johan Budi menjelaskan, uang itu ditemukan di ruang kerja. Namun, KPK belum menyatakan uang itu terkait dengan suap yang menjerat Adner dan Ibrahim. "Kami masih meneliti apakah uang itu ada kaitan dengan dugaan suap," kata Johan.

Massa Partai Republiku Kembali Demo KPU


JAKARTA, SABTU-Puluhan simpatisan Partai Republiku mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, Sabtu (6/9). Mereka menuntut KPU segera menetapkan Partai Republiku menjadi peserta Pemilu 2009. Ketua Umum Partai Republiku Ramses Daud Simanjuntak menginginkan partainya menjadi peserta pemilu 2009. Sebab, sudah dua kali Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) memenangkan gugatan Partai Republiku."Dua kali kita menang apalagi yang diminta mereka," katanya. Tanggal 15 Agustus lalu, PTUN memerintahkan KPU untuk membatalkan SK Nomor 244/15/VII/08 tanggal 28 Juni 2008 tentang hasil verifikasi faktual yang menolak Partai Republiku sebagai partai peserta Pemilu 2009. Putusan kedua dikeluarkan PTUN dikeluarkan tanggal 4 September. Namun begitu, KPU tetap pada putusannya menolak Partai Republiku menjadi peserta Pemilu 2009. KPU mengajukan banding terhadap putusan PTUN tersebut.(C13-08)

Walhi Apresiasi Putusan Menolak Semen Gresik / JAKARTA, KOMPAS.com Jaringan Nasional Advokasi Tolak Semen Gresik mengapresiasi putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang Jawa Tengah yang mengabulkan gugatan mereka, yang diwakilkan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). "Walhi menggugat izin operasi pertambangan PT Semen Gresik di Kabupaten Pati. Dan dinyatakan diterima seluruhnya oleh PTUN Semarang," kata Direktur Walhi Berry Nahdian Furqon. Menurut Berry, obyek sengketa Walhi dan PT Semen Gresik adalah Keputusan Tata Usaha Negara yang berwujud Surat Keputusan tentang Izin Penambangan Daerah (SIPD) No 540/052/2008 yang dikeluarkan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati kepada PT Semen Gresik tertanggal 5 November 2008. "Isi pokoknya adalah mengenai izin melakukan penambangan batu kapur seluas 700 hektar, yang terletak di Desa Gadudero, Desa Kedumulyo, Desa Sukolilo, Desa Tompegunung, dan Desa Sumbersoko yang berada di wilayah kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati," ungkap Berry. Lebih lanjut, ia menuturkan ada 4 alasan PTUN akhirnya memutus SIPD PT. Semen Gresik cacat hukum. Pertama, SIPD PT Semen Gresik tidak memiliki Amdal sehingga bertentangan dengan beberapa peraturan. Kedua, mengancam pelestarian lingkungan hidup, mengingat wilayah yang akan ditambang adalah daerah karst. Ketiga, obyek sengketa memengaruhi lingkungan sosial dan budaya berupa konflik sosial antarmasyarakat, budaya rukun, guyub hilang karena adanya konflik. Keempat, melanggar azas umum pemerintahan yang baik karena pemerintah tidak menerapkan prinsip keterbukaan dan kebijakan dalam pengambilan keputusan. "Putusan ini juga sangat penting dalam melindungi kepentingan lingkungann hidup. Dan tentunya menjadi preseden hukum bagi kasus-kasus lingkungan hidup yang lain yang kita tahu arahnya sudah skeptis," tandas Berry.

PTUN Bali Minta Tunda Pemilihan Ulang Rektor


ENPASAR, JUMAT - Pengadilan Tata Usaha Negara Bali meminta pemilihan ulang rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada 25 Agustus mendatang ditunda. Penundaan ini tidak ada batas waktu sampai proses hukum kisruh soal senat ISI selesai di PTUN. Keputusan ini diambil PTUN, menurut Hakim Ketua Undang Undang Saefudin, berawal adanya gugatan dari I Nyoman Catra kepada tergugat pejabat rektor I Wayan Rai. Catra merasa tidak terima terhadap keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) yang menolak kemenangannya pada pemilihan rektor 5 Maret 2008 dan meminta penjadwalan ulang pemilihan rektor. Pengulangan ini menurut surat keputusan tersebut disebabkan senat ISI dianggap ilegal dan cacat hukum. Padahal menurut Catra, senat sudah terbentuk sekitar lima tahun lalu dan memiliki SK dari Rektor ISI yang dianggapnya sah. Sementara pejabat rektor Wayan Rai mengatakan pihaknya hanya melakukan perintah Mendiknas. "Memang saya tanda tangan dan mengesahkan senat pada saat itu. Tetapi, menurut Mendiknas, berkas pengangkatan itu tidak lengkap dan tidak sah sebagai senat maka harus dibentuk ulang," katanya. Namun, ia membantah jika segala keputusan sebelum adanya penilaian Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) bahwa senat tidak sah itu juga menjadi tidak sah. Ia mengatakan ketidaksahan ini hanya berlaku pada pemilihan rektor saja. "Keputusan sebelumnya tetap sah. Ini tidak berlaku surut. Menurut saya tidak aneh kok," ujarnya. Kekacauan pemilihan rektor pun merambat kepada mahasiswa ISI Denpasar. Mereka pun menggelar aksi seni agar rektor berlapang dada dan menuding rektor tidak adil. Bahkan mahasiswa juga menuding rektor koruptor dan tidak memiliki track record baik selama menjabat.

KPU Tak Gubris Putusan PTUN


JAKARTA, SELASA - Hasil sidang putusan sela di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terhadap gugatan Gus Dur perihal Kesekretariatan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dimentahkan Komisi Pemilihan Umum. Anggota KPU I Gusti Putu Artha mengatakan KPU tetap berpatokan pada SK Menkumham bernomor M.HH-67.AH.11.01 Tahun 2008 tentang Pengesahan Ketua Umum dan Sekjen DPP PKB sesuai hasil Muktamar Semarang. "KPU berpatokan pada SK Menkumham yang isinya pengurus PKB yang sah Muhaimin dan Lukmas Edy dengan alamat di Sukabumi," kata Artha, di gedung KPU, Jakarta, Selasa (9/9). Menurut Artha, KPU tidak berwenang untuk menentukan pengesahan atas pendirian partai politik (parpol) dan yang berhak menentukan adalah Depkumham. Sedang wewenang KPU hanya sebatas untuk melakukan verifikasi partai. Putusan PTUN tersebut tidak akan mempengaruhi proses pencalegan dari PKB. Pasalnya, kata Artha, putusan PTUN tersebut hanya berdampak pada Ketua Umum dan Sekretaris Jendral serta masalah Kesekretariatan. "Untuk kepengurusan ganda di daerah, KPUD dapat bertanya langsung ke pengurus DPP yang sah," ujar Artha.

Tiga Pihak Bicarakan Sengketa Tanah Sriwedari


SOLO, RABU- Pemerintah Kota Solo berencana menggelar paparan publik tentang sengketa tanah Sriwedari. Pemkot mengajak ahli waris KRMT Wirjodiningrat dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Solo untuk memaparkan kronologi versi masing-masing soal kepemilikan tanah Sriwedari. Wali Kota Solo Joko Widodo mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan tim untuk menyampaikan kronologi kasus sengketa tanah Sriwedari. Menurut dia, paparan publik yang akan digelar akhir Nopember ini diharapkan dapat memberi penjelasan setransparan mungkin kepada masyarakat tentang sengketa tanah Sriwedari. Ahli waris KRMT Wirjodiningrat mengklaim memiliki bukti kepemilikan tanah Sriwedari seluas 10 hektar. Di atas tanah ini berdiri Taman Sriwedari, Museum Radya Pustaka, Stadion Sriwedari, Gedung Wayang Orang, Segaran, Pujasera, Restoran Boga, dan bekas gedung bioskop Solo Theatre. Taman Sriwedari dan segaran dibangun oleh Paku Buwono X yang merupakan adik ipar Wirjodiningrat. Salah satu ahli waris KRMT Wirjodiningrat, HRM Gunadi HS Gunadi mengisahkan, KRMT Wirjodiningrat yang merupakan kakek orang tuanya, membeli tanah Sriwedari dari seorang Belanda bernama Johannes Buselar pada tahun 1877 dengan status tanah RVE (hak milik). Setelah keluar Undang-undang Pokok Agraria tanggal 24 September tahun 1960, status kepemilikan tanah didaftarkan kembali namun hanya mendapat status hak guna bangunan (HGB) 22 karena baru didaftarkan tahun 1965. Ini digugat ahli waris melalui Pengadilan Negeri Surakarta tahun 1970. Tahun 1980, keputusan kasasi di tingkat Mahkamah Agung menyatakan, ahli waris berhak atas HGB 22 sampai tahun 1980, Pemkot Solo membayar ganti rugi uang sewa persil dan gedung, sementarar gugatan agar pemkot mengosongkan dan menyerahkan persil dan gedung kepada ahli waris tidak dapat diterima. Tahun 1980, ahli waris memperpanjang hak kepada BPN Solo namun tidak diterima. Tahun 1987 dan 1991, BPN menerbitkan Hak Pakai (HP) 11 dan HP 15 tanah Sriwedari atas nama Pemkot Solo. Ahli waris melalui Pengadilan Tata Usaha Negara menuntut pembatalan HP 11 dan HP 15. Di PTUN Semarang, BPN kalah, tetapi di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya BPN menang. Di tingkat kasasi BPN kalah. Saat ini sedang berlangsung proses pengajuan peninjauan kembali.

20 Mantan Pejabat Lampung akan Gugat Gubernur


BANDARLAMPUNG, SENIN - Sebanyak 20 mantan pejabat yang diberhentikan Gubernur Lampung, Syamsurya Ryacudu, mengajukan banding administrasi kepada Menteri Dalam Negeri dan akan menggugat Gubernur Lampung. Mereka menilai, pemberhentian itu melanggar Peraturan Pemerintah No.49 Tahun 2008 dan cacat hukum. Kuasa Hukum 20 mantan pejabat Pemprov Lampung era kepemimpinan Sjachroedin ZP itu, Susi Tur Andayani, Senin (4/8) mengatakan, pengaduan tersebut disampaikan menyusul penegasan yang disampaikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto saat melantik Wakil Gubernur Riau Wan Abubakar sebagai gubernur, menggantikan Gubernur Rusli Zainal yang mundur dari jabatannya guna mengikuti Pemilihan Gubernur Riau, Kamis (31/7). Mendagri saat itu menegaskan, sesuai Pasal 132A PP No.49 Tahun 2008 yang diterbitkan tanggal 4 Juli 2008 gubernur atau kepala daerah pengganti dibatasi kewenangannya. Di antaranya tidak melakukan mutasi PNS , membatalkan perizinan yang telah dikeluarkan pejabat sebelumnya, dan atau mengeluarkan perizinan yang bertentangan dengan yang dikeluarkan pejabat sebelumnya, kecuali dengan izin Mendagri. Menurut Susi, berdasarkan ketentuan tersebut, Gubernur Lampung pengganti Gubernur sebelumnya Sjachroedin ZP, yaitu Gubernur Syamsurya Ryacudu sudah melakukan pelanggaran. Gubernur Syamsurya Ryacudu sudah melakukan tiga kali mutasi setelah PP itu diterbitkan. Mutasi pertama tercatat dilakukan pada 7 Juli 2008, mutasi kedua pada 17 Juli 2008, dan mutasi ketiga 1 Agustus 2008. Mutasi-mutasi pejabat tersebut menghasilkan banyak pejabat di lingkungan Pemprov Lampung yang tiba-tiba berhenti dari jabatannya. "Secara hukum, pemberhentian pejabat itu dilakukan karena pejabat yang bersangkutan bersalah, sehingga pemberhentian jabatan bisa dikatakan sebagai sanksi. Mereka ini tidak bersalah, tiba-tiba diberhentikan," ujar Susi. Selain pemberhentian tanpa alasan jelas, lanjut Susi, surat keputusan mutasi tersebut juga cacat hukum. Itu karena dalam konsideran surat keputusan tersebut memakai pertimbangan hukum yang salah. Yaitu memakai PP No.13 Tahun 2000. PP tersebut mengatur Perubahan atas PP No.58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang tidak memiliki relevansi hukum dengan bidang kepegawaian. "Berdasarkan pertimbangan tersebut, lanjut Susi, ke-20 mantan pejabat tersebut mengajukan keberatan kepada Gubernur Lampung sebagai pembuat keputusan dan mengirim banding administrasi kepada Mendagri selaku atasan gubernur. Pekan depan kami akan mengajukan gugatan tersebut ke PTUN Bandar Lampung," ujar Susi. Secara terpisah, Asisten I Bidang Pemerintahan Sekdaprov Lampung Akmal Jahidi yang dikonfirmasi mengenai pelanggaran Gubernur Syamsurya Ryacudu tersebut menegaskan, sebagai pejabat di bidang pemerintahan, ia belum menerima PP No.49 Tahun 2008 sejak diterbitkan pada 4 Juli 2008. Dengan demikian, ia belum bisa memberi masukan kepada gubernur pengganti mengenai kewenangan yang boleh dan tidak boleh. "Sekarang saya mendapatkan salinan PP tersebut dari internet, sementara salinan resmi dari Depdagri saya belum menerima, " ujarnya.

Dengan demikian, ia tidak melihat tindakan mutasi yang sudah dilakukan Gubernur Syamsurya Ryacudu salah. Namun demikian, Biro Pemerintahan Pemprov Lampung akan segera menyerahkan salinan PP tersebut kepada gubernur sebagai pengingat dan mengkonsultasikan mutasi-mutasi tersebut kepada Mendagri.