Tugas Mata Kuliah Pengembangan Wilayah

Medan, Januari 2012

POTENSI DAN KARAKTERISTIK PROVINSI SUMATERA UTARA

Dosen Pembimbing : Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si Oleh: Vicky Fadliansah S 091201115 Kehutanan 5-C

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul ³POTENSI DAN KARAKTERISTIK PROVINSI SUMATERA UTARA´ ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Wilayah di Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yaitu Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulis mengikuti mata kuliah Pengembangan Wilayah. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Januari 2012

Penulis

2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................... i DAFTAR ISI ............................................................................................. ii PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
Latar Belakang .............................................................................................. 1 Geografis ...................................................................................................... 2 Batas Wilayah ............................................................................................... 2

POTENSI DAN KARAKTERISTIK PROVINSI SUMATERA UTARA
Komodita Unggulan ...................................................................................... 4 Prasarana Dan Infrastruktur ........................................................................... 4 Administrasi ................................................................................................. 5 Topografi ...................................................................................................... 5 Pemerintahan ................................................................................................ 6 Penduduk ...................................................................................................... 8 Sosial Kemasyarakatan ................................................................................. 9 Perekonomian .............................................................................................. 12 Seni Dan Budaya .........................................................................................16 Sumber Daya Alam ...................................................................................... 19

REFERENSI ...................................................................................................... 37

3

PENDAHULUAN

Latar Belakang Pada jaman pemerintahan Belanda, Sumatera Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernement Van Sumatera yang meliputi seluruh Sumatera yang di kepalai oleh seorang Gubernur berkedudukan di Medan. Sumatera Utara terdiri dari daerah-daerah administratif yang dinamakan keresidenan. Pada Sidang I Komite Nasional Daerah (KND) Provinsi Sumatera diputuskan untuk dibagi menjadi 3 sub Provinsi yaitu sub Provinsi Sumatera Utara (yang terdiri dari Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur dan Keresidenan Tapanuli), sub Provinsi Sumatera Tengah dan sub Provinsi Sumatera Selatan. Melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1948 tanggal 15 April 1948 pemerintah menetapkan Sumatera menjadi 3 Provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Provinsi Sumatera Selatan dan pada tanggal 15 selanjutnya ditetapkan menjadi hari jadi Provinsi Sumatera Utara. Awal tahun 1949 diadakan reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Dengan keputusan Pemerintah Darurat RI tanggal 17 Mei 1949 Nomor 22/Pem/PDRI jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan, selanjutnya dengan ketetapan Pemerintah Darurat RI tanggal 17 Desember 1949 dibentuk Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur yang kemudian dengan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, ketetapan ini dicabut dan kembali dibentuk Provinsi Sumatera Utara. Tanggal 7 Desember 1956 diundangkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Provinsi Aceh dan perubahan peraturan pembentukan Provinsi Sumatera Utara yang intinya Provinsi Sumatera Utara wilayahnya dikurangi dengan bagian-bagian yang terbentuk sebagai Daerah Otonomi Provinsi Aceh.

4

Geografis Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1° - 4° Lintang Utara dan 98° - 100° Bujur Timur, Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 71.680 km². Sumatra Utara pada dasarnya dapat dibagi atas: Pesisir Timur, Pegunungan Bukit Barisan, Pesisir Barat, Kepulauan Nias. Pesisir timur merupakan wilayah di dalam provinsi yang paling pesat perkembangannya karena persyaratan infrastruktur yang relatif lebih lengkap daripada wilayah lainnya. Wilayah pesisir timur juga merupakan wilayah yang relatif padat konsentrasi penduduknya dibandingkan wilayah lainnya. Di daerah tengah provinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan. Di pegunungan ini ada beberapa dataran tinggi yang merupakan kantong-kantong konsentrasi penduduk. Tetapi jumlah hunian penduduk paling padat berada di daerah Timur provinsi ini. Daerah di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir juga menjadi tempat tinggal penduduk yang menggantungkan hidupnya kepada danau ini. Pesisir barat biasa dikenal sebagai daerah Tapanuli.

Batas wilayah Utara Provinsi Aceh dan Selat Malaka

Selatan Provinsi Riau, Provinsi Sumatera Barat, dan Samudera Indonesia Barat Provinsi Aceh dan Samudera Indonesia

Timur Selat Malaka

Terdapat 419 pulau di propisi Sumatera Utara. Pulau-pulau terluar adalah pulau Simuk (kepulauan Nias), dan pulau Berhala di selat Sumatera (Malaka). Kepulauan Nias terdiri dari pulau Nias sebagai pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Kepulauan Nias terletak di lepas pantai pesisir barat di Samudera Hindia. Pusat pemerintahan terletak di Gunung Sitoli. Kepulauan Batu terdiri dari 51 pulau dengan 4 pulau besar: Sibuasi, Pini, Tanahbala, Tanahmasa. Pusat pemerintahan di Pulautelo di pulau Sibuasi. Kepulauan Batu terletak di tenggara kepulauan Nias.

5

Pulau-pulau lain di Sumatera Utara: Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaia, Batumakalele, Lego, Masa, Bau, Simaleh, Makole, Jake, dan Sigata, Wunga. Di Sumatera Utara saat ini terdapat dua taman nasional, yakni Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Batang Gadis. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan, Nomor 44 Tahun 2005, luas hutan di Sumatera Utara saat ini 3.742.120 hektare (ha). Yang terdiri dari Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam seluas 477.070 ha, Hutan Lindung 1.297.330 ha, Hutan Produksi Terbatas 879.270 ha, Hutan Produksi Tetap 1.035.690 ha dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi seluas 52.760 ha. Namun angka ini sifatnya secara de jure saja. Sebab secara de facto, hutan yang ada tidak seluas itu lagi. Terjadi banyak kerusakan akibat perambahan dan pembalakan liar. Sejauh ini, sudah 206.000 ha lebih hutan di Sumut telah mengalami perubahan fungsi. Telah berubah menjadi lahan perkebunan, transmigrasi. Dari luas tersebut, sebanyak 163.000 ha untuk areal perkebunan dan 42.900 ha untuk areal transmigrasi.

Gambar 1. Peta Sumatera Utara

6

POTENSI DAN KARAKTERISTIK SUMATERA UTARA
Komoditas Unggulan Sumatera Utara menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan. Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara dan memberikan sumbangan devisa yang sangat besar bagi Indonesia. Selain komoditas perkebunan, Sumatera Utara juga dikenal sebagai penghasil komoditas holtikultura (sayur-mayur dan buah-buahan); misalnya Jeruk Medan, Jambu Deli, Sayur Kol, Tomat, Kentang, dan Wortel yang dihasilkan oleh Kabupaten Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara. Produk holtikultura tersebut telah diekspor ke Malaysia dan Singapura.

Prasarana dan Infrastruktur Pemerintah Propinsi (Pemprop) Sumatera Utara juga sudah membangun berbagai prasarana dan infrastruktur untuk memperlancar perdagangan baik antar kabupaten di Sumatera Utara maupun antara Sumatera Utara dengan provinsi lainnya. Sektor swasta juga terlibat dengan mendirikan berbagai properti untuk perdagangan, perkantoran, hotel dan lain-lain. Tentu saja sektor lain, seperti koperasi, pertambangan dan energi, industri, pariwisata, pos dan telekomunikasi, transmigrasi, dan sektor sosial kemasyarakatan juga ikut dikembangkan. Untuk memudahkan koordinasi pembangunan, maka Sumatera Utara dibagi kedalam empat wilayah Pembangunan. Sumatera Utara merupakan propinsi yang keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990 penduduk Sumatera Utara pada tanggal 31 Oktober 1990 (hari sensus) berjumlah 10,81 juta jiwa, dan pada tahun 2002, jumlah penduduk Sumatera Utara diperkirakan sebesar 11,85 juta jiwa. Kepadatan penduduk Sumatera Utara tahun 1990 adalah 143 jiwa per km 2 dan tahun 2002 meningkat menjadi 165 jiwa per km 2 , sedangkan laju pertumbuhan penduduk Sumatera Utara selama kurun waktu tahun 1990-2000

7

adalah 1,20 persen per tahun. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sumatera Utara setiap tahunnya tampak berfluktuasi. Pada tahun 2000. TPAK di daerah ini sebesar 57, 34 persen, tahun 2001 naik menjadi 57, 70 persen, tahun 2002 naik lagi menjadi 69, 45 persen.

Administrasi Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara dibagi atas 4 Wilayah Pembangunan, 19 Daerah Tingkat II yang meliputi 13 Kabupaten dan 6 Kotamadya, 3 Kota Administratif, 38 Wilayah Pembantu Kabupaten/Kotamadya, 252 Kecamatan, 37 Kecamatan Pembantu, dan 473 Kelurahan dan 4.762 Desa.

Topografi Ibukota Propinsi Sumatera Utara, Medan, jumlah penduduknya sebanyak 2 juta jiwa dan dapat dicapai dalam 1 jam dengan pesawat terbang dari Singapura atau sekitar 45 menit dari Kuala Lumpur. Pelabuhan utama Belawan terletak di Pantai Timur yang secara langsung berhubungan dengan rute pelayaran internasional di Selat malaka sebagai pintu gerbang masuk pariwisata ketiga setelah Bali dan Jakarta, Medan melayani penerbangan langsung ke Amsterdam, Munich, Quangzhou, Singapura, Kuala Lumpur. Pembagian Topografi Sumatera Utara dibagi dalam 3 daerah yaitu berdasarkan daerah datar di Pantai Timur, daerah yang tidak rata dan berbukit di Dataran Tinggi, dan daerah yang curam sekali sepanjang Pegunungan Bukit Barisan di Pantai Barat. Datar Tidak Rata Berbukit Curam Curam Sekali

38.29 % 17.70 %

7.80 %

14.35 %

23.84 %

Iklim Propinsi Sumatera Utara mempunyai iklim dingin/panas, tergantung wilayah. Temperatur rata-rata selama beberapa tahun ini sekitar 23 derajat Celcius.

8

Berdasarkan situasi ini di garis Ekuator Utara, mengakibatkan bertiupnya angin Monsoon. Angin Monsoon Barat : Nopember - April Angin Monsoon Timur : Mei - Oktober Sebagian dari kota-kota di pesisir pantai setiap hari kondisinya dipengaruhi angin laut yang bertiup dari Utara ke Selatan. Rata-rata curah hujan per tahun adalah 2.000 mm, dan mencapai batas maksimum pada bulan Januari. Temperatur bervariasi antara 16,42 derajat Celcius (minimum) - 28.76 derajat Celcius (maksimum), kelembaban (relatif) 77,

Pemerintahan Daftar kabupaten/kota di Sumatera Utara No. Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten Asahan Kabupaten Batubara Kabupaten Dairi Kabupaten Deli Serdang Ibu kota Kisaran Limapuluh Sidikalang Lubuk Pakam

Kabupaten Humbang Hasundutan Dolok Sanggul Kabupaten Karo Kabupaten Labuhanbatu Kabanjahe Rantau Prapat

Kabupaten Labuhanbatu Selatan Kota Pinang Kabupaten Labuhanbatu Utara Aek Kanopan Stabat Panyabungan Gunung Sitoli Lahomi Teluk Dalam

10 Kabupaten Langkat 11 Kabupaten Mandailing Natal 12 Kabupaten Nias 13 Kabupaten Nias Barat 14 Kabupaten Nias Selatan

9

15 Kabupaten Nias Utara 16 Kabupaten Padang Lawas 17 Kabupaten Padang Lawas Utara 18 Kabupaten Pakpak Bharat 19 Kabupaten Samosir 20 Kabupaten Serdang Bedagai 21 Kabupaten Simalungun 22 Kabupaten Tapanuli Selatan 23 Kabupaten Tapanuli Tengah 24 Kabupaten Tapanuli Utara 25 Kabupaten Toba Samosir 26 Kota Binjai 27 Kota Gunungsitoli 28 Kota Medan 29 Kota Padangsidempuan 30 Kota Pematangsiantar 31 Kota Sibolga 32 Kota Tanjungbalai 33 Kota Tebing Tinggi

Lotu Sibuhuan Gunung Tua Salak Pangururan Sei Rampah Raya Sipirok Pandan Tarutung Balige Binjai Kota -

Pusat pemerintahan Sumatera Utara terletak di kota Medan. Sebelumnya, Sumatera Utara termasuk ke dalam Provinsi Sumatera sesaat Indonesia merdeka pada tahun 1945. Tahun 1950. Provinsi Sumatera Utara dibentuk meliputi sebagian Aceh. Tahun 1956, Aceh dipisahkan menjadi Daerah Otonom dari Provinsi Sumatera Utara. Sumatera Utara dibagi kepada 25 kabupaten, 8 kota (dahulu kotamadya), 325 kecamatan, dan 5.456 kelurahan/desa

10

Gambar 2. Kantor Gubernur Sumatera Utara

Dengan dimekarkannya kembali Kabupaten Tapanuli Selatan, maka provinsi ini memiliki kabupaten baru, yaitu Kabupaten Padang Lawas yang beribukota di Sibuhuan dengan dasar hukum UURI No. 38/2007 dan Kabupaten Padang Lawas Utara yang beribukota di Gunung Tua dengan dasar hukum UURI No. 37/2007. Pulau Nias diwacanakan akan dimekarkan kembali, yaitu dengan membentuk Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat, dan Kota Gunung Sitoli.

Penduduk Sumatera Utara merupakan provinsi yang keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990 penduduk Sumatera Utara pada tanggal 31 Oktober 1990 (hari sensus) berjumlah 10,81 juta jiwa, dan pada tahun 2002, jumlah penduduk Sumatera Utara adalah seramai 11,85 juta jiwa. Kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 1990 adalah 143 jiwa per km² dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 165 jiwa per km², sedangkan kadar peningkatan pertumbuhan penduduk Sumatera Utara selama kurun waktu tahun 1990-2000 adalah 1,20 persen per tahun. Kadar Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sumatera Utara setiap tahunnya tidak tetap. Pada tahun 2000 TPAK di daerah ini sebesar 57,34 persen, tahun 2001 naik menjadi 57,70 persen, tahun 2002 naik lagi menjadi 69,45 persen.

11

Sosial kemasyarakatan Suku bangsa Sumatera Utara merupakan provinsi multietnis dengan Batak, Nias, dan Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatera Utara, pada umumnya dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besarnya beragama Kristen. Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di Sumatera Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak yang dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal dari etnis Jawa dan Tionghoa. Pusat penyebaran suku-suku di Sumatra Utara, sebagai berikut : 1. Suku Melayu Deli : Pesisir Timur, terutama di kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Langkat 2. Suku Batak Karo : Kabupaten Karo 3. Suku Batak Toba : Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir 4. Suku Batak Mandailing : Mandailing Natal 5. Suku Batak Angkola : Kabupaten Tapanuli Selatan dan Padang Lawas 6. Suku Batak Simalungun : Kabupaten Simalungun 7. Suku Batak Pakpak : Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat 8. Suku Nias : Pulau Nias 9. Suku Minangkabau : Kota Medan, Kabupaten Batubara, Pesisir Barat 10. Suku Aceh : Kota Medan 11. Suku Jawa : Pesisir Timur & Barat 12. Suku Tionghoa : Perkotaan pesisir Timur & Barat.

Bahasa Pada dasarnya, bahasa yang dipergunakan secara luas adalah bahasa Indonesia. Suku Melayu Deli mayoritas menuturkan bahasa Indonesia karena kedekatan bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia. Pesisir timur seperi wilayah Serdang Bedagai, Pangkalan Dodek, Batubara, Asahan, dan Tanjung Balai, memakai Bahasa Melayu Dialek "O" begitu juga di Labuhan Batu dengan sedikit

12

perbedaan ragam. Di kabupaten Langkat masih menggunakan bahasa Melayu Dialek "E" yang sering juga disebut bahasa Maya-maya. Masih banyak keturunan Jawa Kontrak (Jadel - Jawa Deli) yang menuturkan bahasa Jawa. Di kawasan perkotaan, suku Tionghoa lazim menuturkan bahasa Hokkian selain bahasa Indonesia. Di pegunungan, suku Batak menuturkan bahasa Batak yang terbagi atas empat logat (Silindung-Samosir-Humbang-Toba). Bahasa Nias dituturkan di Kepulauan Nias oleh suku Nias. Sedangkan orang-orang Pesisir Barat, seperti Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Mandailing Natal menggunakan Bahasa Minangkabau.

Agama Agama utama di Sumatra Utara adalah: 

Islam: terutama dipeluk oleh suku Melayu, Pesisir, Minangkabau,Jawa, Aceh, suku Batak Mandailing, sebagian Batak Karo, Simalungun dan Pakpak 

Kristen (Protestan dan Katolik): terutama dipeluk oleh suku Batak Karo, Toba, Simalungun, Pakpak, Mandailing dan Nias 

   

Hindu: terutama dipeluk oleh suku Tamil di perkotaan Buddha: terutama dipeluk oleh suku Peranakan di perkotaan Konghucu : terutama dipeluk oleh suku Peranakan di perkotaan Parmalim: dipeluk oleh sebagian suku Batak yang berpusat di Huta Tinggi Animisme: masih ada dipeluk oleh suku Batak, yaitu Pelebegu Parhabonaron dan kepercayaan sejenisnya.

Pendidikan Pada tahun 2005 jumlah anak yang putus sekolah di Sumut mencapai 1.238.437 orang, sementara jumlah siswa miskin mencapai 8.452.054 orang. Dari total APBD 2006 yang berjumlah Rp 2.204.084.729.000, untuk pendidikan sebesar Rp 139.744.257.000, termasuk dalam pos ini anggaran untuk bidang kebudayaan. Jumlah total kelulusan siswa yang ikut Ujian Nasional pada tahun 2005 mencapai 87,65 persen atau 335.342 siswa dari 382.587 siswa tingkat

13

SMP/SMA/SMK sederajat peserta UN . Sedangkan 12,35 persen siswa yang tidak lulus itu berjumlah 47.245 siswa.

Kesehatan Secara umum, angka penemuan kasus baru tuberculosis (TBC) di Sumatra Utara mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 kasus TBC diperkirakan berkisar 160/100.000 penduduk. Jika jumlah penduduk Sumatra Utara tercatat 12 juta jiwa, maka penderita TBC di daerah ini sebanyak 19.000. Jumlah penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara hingga Oktober 2005 tercatat 301 orang, yakni 26 orang asing dan 276 warga negara Indonesia. Sementara jumlah korban yang HIV/AIDS yang meninggal dunia hingga Agustus 2005 berjumlah 34 orang.

Tenaga kerja Pada tahun 2002 angkatan kerja di Sumut mencapai 5.276.102 orang. Jumlah itu naik 4,72% dari tahun sebelumnya. Kondisi angkatan kerja itu juga diikuti dengan naiknya orang yang mencari pekerjaan. Jumlah pencari kerja pada 2002 mencapai 355.467 orang. Mengalami kenaikan 57,82% dari tahun sebelumnya. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Jumlah TPT di Sumut naik dari 4,47% pada 2001 menjadi 6,74% pada 2002. TPT tertinggi terjadi di Kota Medan mencapai 13,28%, diikuti Kota Sibolga (11,71%), Kabupaten Langkat (11,06%), dan Kodya Tebing Tinggi (10,91%). Angkatan Kerja. Penduduk yang tergolong angkatan kerja berjumlah 5,1 juta jiwa. Sekitar 34% berstatus sebagai majikan, bekerja sendiri (20%), dan pekerja keluarga (23%). Skala usaha tergambar pada komposisi yang didominasi oleh usaha kecil sekitar 99,8% dan hanya sekitar 0,2% yang tergolong usaha besar. Pendidikan Pekerja. Tingkat pendidikan sebagian besar tenaga kerja. Pekerja yang berpendidikan tidak tamat sekolah dasar (SD) atau sampai tamat SD mencapai 48,96%. Lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) mencapai 23%. Sedangkan lulusan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) mencapai 24,08%. Sementara itu, lulusan perguruan tinggi hanya 3,95%.

14

Perekonomian Energi Sumatera Utara kaya akan sumber daya alam berupa gas alam di daerah Tandam, Binjai dan minyak bumi di Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat yang telah dieksplorasi sejak zaman Hindia Belanda. Selain itu di Kuala Tanjung, Kabupaten Asahan juga terdapat PT Inalum yang bergerak di bidang penambangan bijih dan peleburan aluminium yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara. Sungai-sungai yang berhulu di pegunungan sekitar Danau Toba juga merupakan sumber daya alam yang cukup berpotensi untuk dieksploitasi menjadi sumber daya pembangkit listrik tenaga air. PLTA Asahan yang merupakan PLTA terbesar di Sumatra terdapat di Kabupaten Toba Samosir. Selain itu, di kawasan pegunungan terdapat banyak sekali titik-titik panas geotermal yang sangat berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi panas maupun uap yang selanjutnya dapat ditransformasikan menjadi energi listrik.

Pertanian dan perkebunan Provinsi ini tersohor karena luas perkebunannya, hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. BUMN Perkebunan yang arealnya terdapat di Sumatera Utara, antara lain PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II), PTPN III dan PTPN IV. Selain itu Sumatera Utara juga tersohor karena luas perkebunannya. Hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. Sumatera Utara menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, dan Tapanuli Selatan. Luas pertanian padi. Pada tahun 2005 luas areal panen tinggal 807.302 hektare, atau turun sekitar 16.906 hektare dibanding luas tahun 2004 yang mencapai 824.208 hektare. Produktivitas tanaman padi tahun 2005 sudah bisa ditingkatkan menjadi berkisar 43,49 kwintal perhektar dari tahun 2004 yang

15

masih 43,13 kwintal per hektare, dan tanaman padi ladang menjadi 26,26 kwintal dari 24,73 kwintal per hektare. Tahun 2005, surplus beras di Sumatera Utara mencapai 429 ton dari sekitar 2.1.27 juta ton total produksi beras di daerah ini. Luas perkebunan karet. Tahun 2002 luas areal tanaman karet di Sumut 489.491 hektare dengan produksi 443.743 ton. Sementara tahun 2005, luas areal karet menurun atau tinggal 477.000 hektare dengan produksi yang juga anjlok menjadi hanya 392.000 ton. Irigasi. Luas irigasi teknis seluruhnya di Sumatera Utara seluas 132.254 ha meliputi 174 Daerah Irigasi. Sebanyak 96.823 ha pada 7 Daerah Irigasi mengalami kerusakan sangat kritis. Produk Pertanian. Sumatra Utara menghasilkan karet, cokelat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, dan Tapanuli Selatan. Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara dan memberikan sumbangan devisa yang sangat besar bagi Indonesia. Selain komoditas perkebunan, Sumatra Utara juga dikenal sebagai penghasil komoditas holtikultura (sayur-mayur dan buah-buahan); misalnya Jeruk Medan, Jambu Deli, Sayur Kol, Tomat, Kentang, dan Wortel yang dihasilkan oleh Kabupaten Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara. Produk holtikultura tersebut telah diekspor ke Malaysia dan Singapura.

Perbankan Selain bank umum nasional, bank pemerintah serta bank internasional, saat ini di Sumut terdapat 61 unit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan 7 Bank Perkreditan Rakyat Syariaf (BPRS) di Sumatera Utara. Data dari Bank Indonesia menunjukkan, Pada Januari 2006, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diserap BPR mencapai Rp 253.366.627.000 dan kredit mencapai Rp 260.152.445.000. Sedangkan aktiva (aset) menapai Rp 340.880.837.000.

16

Sarana dan prasarana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Utara juga sudah membangun berbagai prasarana dan infrastruktur untuk memperlancar perdagangan baik antarkabupaten maupun antarprovinsi. Sektor swasta juga terlibat dengan mendirikan berbagai properti untuk perdagangan, perkantoran, hotel dan lain-lain. Tentu saja sektor lain, seperti koperasi, pertambangan dan energi, industri, pariwisata, pos dan telekomunikasi, transmigrasi, dan sektor sosial kemasyarakatan juga ikut dikembangkan. Untuk memudahkan koordinasi pembangunan, pembangunan. maka Sumatra Utara dibagi ke dalam empat wilayah

Pertambangan Ada tiga perusahaan tambang terkemuka di Sumatra Utara: Sorikmas Mining (SMM), Newmont Horas Nauli (PTNHN), Dairi Prima Mineral.

Transportasi Di Sumatera Utara terdapat 2.098,05 kilometer jalan negara, yang tergolong mantap hanya 1.095,70 kilometer atau 52,22 persen dan 418,60 kilometer atau 19,95 persen dalam keadaan sedang, selebihnya dalam keadaan rusak. Sementara dari 2.752,41 kilometer jalan propinsi, yang dalam keadaan mantap panjangnya 1.237,60 kilometer atau 44,96 persen, sementara yang dalam keadaan sedang 558,46 kilometer atau 20,29 persen. Halnya jalan rusak panjangnya 410,40 kilometer atau 14,91 persen dan yang rusak berat panjangnya 545,95 kilometer atau 19,84 persen. Dari sisi kendaraan, terdapat lebih 1,38 juta kendaraan roda dua dan empat di Sumatera Utara. Dari jumlah itu, sebanyak 873 ribu lebih berada di Kota Medan.

Ekspor & impor Kinerja ekspor Sumatera Utara cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 tercatat perolehan devisa mencapai US$4,24 milyar atau naik 57,72% dari tahun sebelumnya dari sektor ini. Ekspor kopi dari Sumatera Utara mencapai rekor tertinggi 46.290 ton dengan negara tujuan ekspor utama Jepang

17

selama lima tahun terakhir. Ekspor kopi Sumut juga tercatat sebagai 10 besar produk ekspor tertinggi dengan nilai US$3,25 juta atau 47.200,8 ton periode Januari hingga Oktober 2005. Dari sektor garmen, ekspor garmen cenderung turun pada Januari 2006. Hasil industri khusus pakaian jadi turun 42,59 persen dari US$ 1.066.124 pada tahun 2005, menjadi US$ 2.053 pada tahun 2006 pada bulan yang sama. Kinerja ekspor impor beberapa hasil industri menunjukkan penurunan. Yakni furniture turun 22,83 persen dari US$ 558.363 (2005) menjadi US$ 202.630 (2006), plywood turun 24,07 persen dari US$ 19.771 menjadi US$ 8.237, misteric acid turun 27,89 persen yakni dari US$ 115.362 menjadi US$ 291.201, stearic acid turun 27,04 persen dari US$ 792.910 menjadi US$ 308.020, dan sabun noodles turun 26 persen dari AS.689.025 menjadi US$ 248.053. Kinerja ekspor impor hasil pertanian juga mengalami penurunan yakni minyak atsiri turun 18 persen dari US$ 162.234 menjadi US$ 773.023, hasil laut/udang, minyak kelapa dan kopi robusta juga mengalami penurunan cukup drastis hingga mencapai 97 persen. Beberapa komoditi yang mengalami kenaikan (nilai di atas US$ Juta) adalah biji kakao, hortikultura, kopi arabica, CPO, karet alam, hasil laut (non udang). Untuk hasil industri yakni moulding, ban kendaraan dan sarung tangan karet.

APBD Dari tahun ke tahun, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumatera Utara terus meningkat. Tahun Besaran APBD 2004 2005 2006 Rp 1.440.238.069.000,00 Rp 1.645.876.354.000,00 Rp 2.204.084.729.000,00

APBD 2006 memberikan alokasi Belanja publik Rp 1.577.946.416.580 (71,59%), sedangkan belanja aparatur Rp 626.138.312.420 (28,41%). Pos anggarannya antara lain:

18

Bidang Pertanian Kesehatan

Nilai Rp 54.544.588.580,00 Rp 131.338.927.000,00

Pendidikan dan Kebudayaan Rp 139.744.257.000,00

Pada tahun 2006 ditargetkan Rp2,087 triliun. Angka tersebut diperoleh dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp1,354 triliun, dana perimbangan Rp723,65 miliar, dan Lain-lain. Pendapatan yang sah sebesar Rp23,915 miliar. Khusus sektor PAD terdiri dari pajak daerah Rp 1,270 triliun, retribusi daerah Rp 10,431 miliar, laba BUMD sebesar Rp 48,075 miliar, dan lain-lain pendapatan Rp 25,963 miliar. Perolehan dari dana perimbangan meliputi Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebesar Rp 183,935 miliar dan Dana Alokasi Umum Rp 539,718 miliar. Sedangkan perolehan dari Lain-lain Pendapatan yang Sah diperoleh dari Iuran Jasa Air Rp 8,917 miliar.

Seni dan budaya Musik Musik yang biasa dimainkan,cenderung tergantung dengan upacaraupacara adat yang diadakan, tetapi lebih dominan dengan genderangnya. Seperti pada Etnis Pesisir terdapat serangkaian alat musik yang dinamakan Sikambang.

Arsitektur Dalam bidang seni rupa yang menonjol adalah arsitektur rumah adat yang merupakan perpaduan dari hasil seni pahat dan seni ukir serta hasil seni kerajinan. Arsitektur rumah adat terdapat dalam berbagai bentuk ornamen.Pada umumnya bentuk bangunan rumah adat pada kelompok adat batak melambangkan "kerbau berdiri tegak". Hal ini lebih jelas lagi dengan menghias pucuk atap dengan kepala kerbau. Rumah adat suku bangsa Batak bernama Ruma Batak. Berdiri kokoh dan megah dan masih banyak ditemui di Samosir. Rumah adat Karo kelihatan besar dan lebih tinggi dibandingkan dengan rumah adat lainnya. Atapnya terbuat dari ijuk dan biasanya ditambah dengan atap-

19

atap yang lebih kecil berbentuk segitiga yang disebut "ayo-ayo rumah" dan "tersek". Dengan atap menjulang berlapis-lapis itu rumah Karo memiliki bentuk khas dibanding dengan rumah tradisional lainnya yang hanya memiliki satu lapis atap di Sumatera Utara. Bentuk rumah adat di daerah Simalungun cukup memikat. Kompleks rumah adat di desa Pematang Purba terdiri dari beberapa bangunan yaitu rumah bolon,balai bolon,jemur,pantangan balai butuh dan lesung. Bangunan khas Mandailing yang menonjol adalah yang disebut "Bagas Gadang" (rumah Namora Natoras) dan "Sopo Godang" (balai musyawarah adat). Rumah adat Pesisir Sibolga kelihatan lebih megah dan lebih indah dibandingkan dengan rumah adat lainnya. Rumah adat ini masih berdiri kokoh di halaman Gedung Nasional Sibolga.

Gambar 3. Rumah Adat Jabu Bolon

Tarian Perbendaharaan seni tari tradisional meliputi berbagai jenis. Ada yang bersifat magis, berupa tarian sakral, dan ada yang bersifat hiburan saja yang berupa tari profan. Di samping tari adat yang merupakan bagian dari upacara adat, tari sakral biasanya ditarikan oleh dayu-datu. Termasuk jenis tari ini adalah tari guru dan tari tungkat. Datu menarikannya sambil mengayunkan tongkat sakti yang disebut Tunggal Panaluan. Tari profan biasanya ialah tari pergaulan muda-mudi yang ditarikan pada pesta gembira. Tortor ada yang ditarikan saat acara perkawinan. Biasanya ditarikan oleh para hadirin termasuk pengantin dan juga para muda-mudi. Tari muda-mudi ini, misalnya morah-morah, parakut, sipajok, patam-patam sering dan

20

kebangkiung. Tari magis misalnya tari tortor nasiaran, tortor tunggal panaluan. Tarian magis ini biasanya dilakukan dengan penuh kekhusukan. Selain tarian Batak terdapat pula tarian Melayu seperti Serampang XII.

Kerajinan Selain arsitektur,tenunan merupakan seni kerajinan yang menarik dari suku Batak. Contoh tenunan ini adalah kain ulos dan kain songket. Ulos merupakan kain adat Batak yang digunakan dalam upacara-upacara perkawinan, kematian, mendirikan rumah, kesenian,dsb. Bahan kain ulos terbuat dari benang kapas atau rami. Warna ulos biasanya adalah hitam, putih, dan merah yang mempunyai makna tertentu. Sedangkan warna lain merupakan lambang dari variasi kehidupan. Pada suku Pakpak ada tenunan yang dikenal dengan nama oles. Bisanya warna dasar oles adalah hitam kecokelatan atau putih. Pada suku Karo ada tenunan yang dikenal dengan nama uis. Bisanya warna dasar uis adalah biru tua dan kemerahan. Pada suku Pesisir ada tenunan yang dikenal dengan nama Songket Barus. Biasanya warna dasar kerajinan ini adalah Merah Tua atau Kuning Emas.

Makanan khas Makanan Khas di Sumatera Utara sangat bervariasi, tergantung dari daerah tersebut. Saksang dan Babi panggang sangat familiar untuk mereka yang melaksanakan pesta maupun masakan rumah. Misalkan seperti didaerah Pakpak Dairi, Pelleng adalah makanan khas dengan bumbu yang sangat pedas. Di tanah Batak sendiri adalah dengke naniarsik yang merupakan ikan yang digulai tanpa menggunakan kelapa. Untuk cita rasa, tanah Batak adalah surga bagi pecinta makanan santan dan pedas juga panas. PASITUAK NATONGGI atau uang beli nira yang manis adalah istilah yang sangat akrab disana, menggambarkan betapa dekatnya Tuak atau nira dengan kehidupan mereka.

21

Sumber Daya Alam Sumatera Utara Provinsi Sumatera Utara memiliki keunikan tersendiri dalam kerangka perekonomian nasional. Provinsi ini adalah daerah agraris yang menjadi pusat pengembangan perkebunan dan hortikultura di satu sisi, sekaligus merupakan salah satu pusat perkembangan industri dan pintu gerbang pariwisata di Indonesia di sisi lain. Ini terjadi karena potensi sumber daya alam dan karakteristik ekosistem yang memang sangat kondusif bagi pembangunan ekonomi daerah dan nasional. Kini tersedia potensi pertanian yang cukup melimpah. Sebagian besar produksinya, sayur-mayur dan jeruk malah telah dipasarkan ke provinsi lain bahkan ke luar negeri. Karena itu, tidak mengherankan jika sektor ini menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah. Luas areal pertanian meliputi lahan sawah irigasi teknis seluas 135.872 ha, sawah non irigasi teknis seluas 141.383 ha, dengan saluran irigasi primer, sekunder dan tersier sepanjang 820.462 meter. Pada 2005, sawah-sawah ini menghasilkan 3.447.784 ton padi, sedangkan di tahun 2006 hanya memproduksi 3.030.784 ton padi. Bukan hanya padi yang dihasilkan, tetapi juga 1.298.230 ton palawija, hortikultura dan sayur-sayuran. Beberapa jenis tanaman yang dikembangkan antara lain 218.375 ha lahan jagung dengan hasil produksi 739.067 ton; 13.142 ha tanaman kedelai dengan hasil produksi 15.295 ton; 155.436 ha lahan singkong dan umbi-umbian dengan hasil produksi 655.070 ton. Pada 2004, luas hutan mangrove mencapai 103.372 ha dengan kondisi 60% baik. Hal ini sangat mempengaruhi perubahan ekosistem pantai dan kehidupan masyarakat nelayan. Kualitas air sungai yang di pantai hasilnya masih berfluktuasi terutama untuk parameter BOD, COD, TSS, Do dan PH. Fluktuasi kualitas air sungai ini terkait dengan ketaatan perusahaan terhadap baku mutu limbah cair dan besarnya beban limbah domestik yang dibuang langsung ke badan air. Sungai ini terkait dengan ketaatan perusahaan terhadap baku mutu limbah cair dan besarnya beban limbah domestik yang dibuang langsung ke badan air. Kualitas udara dengan indicator konsentrasi ambien polutan udara (Sox, Nox, debu, kebisingan) dan jumlah titik api (hotspot). Tahun 2004 jumlah titik api berkurang dari 219 titik api (2003) menjadi 164 titik api. Indikator ini

22

menunjukkan kebakaran hutan masih relatif tinggi dan salah satu sumber polusi udara yang menyebabkan tingginya kadar debu di udara. Di sektor perkebunan, menunjukkan progress menggembirakan. Pada 2005, misalnya, luas areal perkebunan 1.746.340 ha, lalu bertambah menjadi 1.788.943 ha pada 2006, terdiri atas 1.008.525 ha perkebunan rakyat, 363.106 ha perkebunan pemerintah, dan 365.992 ha perkebunan swasta dengan total hasil produksi 4.199.834 ton. Total produksi perkebunan pada 2006 mencapai 1.788.943 ton, meningkat dibandingkan total produksi 2005 sebesar 4.048.411 ton. Komoditas unggulan sektor perkebunan antara lain karet. Dengan luas areal 479.174 ha, berhasil diproduksi 367.113 ton karet setiap tahunnya. Perkebunan sawit juga cukup luas, mencakup areal 908.080 ha dengan hasil produksi 13.830 ton. Luas perkebunan kelapa 125.969 ha dengan hasil produksi 99.529 ton. Perkebunan kopi mencapai 78.119 ha dengan hasil produksi 55.597 ton, sementara perkebunan kakao terhampar seluas 3.259 ha dengan hasil produksi 59.229 ton. Meski potensi perikanan laut di pantai timur atau Selat Malaka hanya 239 ribu ton per tahun, Sumatera Utara memiliki potensi perikanan yang sangat besar di Pantai Barat atau Samudera Hindia yang mencapai 917.000 ton per tahun. Kendati demikian, produksi ikan secara keseluruhan masih relative kecil dibanding potensi yang ada, yakni 10,53% per tahun. Produksi perikanan tidak hanya dari laut, tapi juga dari produksi perairan rawa, danau dan sungai yang mencapai 11.669,90 ton dengan hasil produksi perikanan laut yang mencapai 330.579,60 ton, dengan jumlah kapal 22.457 unit. Untuk hasil perikanan budidaya dan perikanan tangkap untuk tahun 2006 sebesar 388.559 ton. Di bidang kehutanan, Sumatera Utara juga menyediakan sumber daya alam yang melimpah. Pada 2005, total luas wilayah hutan mencapai 2.386.960 ha, terdiri atas 1.297.330 ha hutan lindung dan 1.035.690 ha hutan produksi terbatas. Dari seluruh potensi kehutanan yang ada, hutan yang dapat dikonversi mencapai 879.270 ha dan hutan bakau seluas 477.070 ha. Produksi kehutanan di luar kawasan Hak Pengelolaan Hutan (HPH) sebanyak 112.459,79 meter kubik kayu bulat, 34.082,12 meter kubik kayu gergajian dan 187.128,74 meter kubi kayu

23

olahan. Sedangkan hasil hutan ikutannya terdiri atas 600 ton rotan dan 654,37 meter kubik Gondorukem. Di sektor peternakan, komoditas utama yang dihasilkan adalah sapi, kambing, domba, babi, dan unggas. Jumlah populasi sapi potong pada 2006 mencapai 25.465 ekor dengan jumlah pemotongan per tahun sebanyak 53.207 ekor. Populasi sapi perah 6.521 ekor, memproduksi 4.561 ribu liter susu per tahun. Di sana juga tersedia 721.858 ekor kambing bersama 268.500 ekor domba, 809.705 ekor babi, 21.280.380 ekor ayam buras, 6.190.175 ekor ayam petelur dengan hasil produksi 123.95,36 ton telur per tahun, 51.219.491 ekor ayam pedaging dengan hasil produksi 44.687,58 ton daging ayam per bulan, serta 2.291.472 ekor itik dengan hasil produksi 10.919,80 butir telur per tahun. Total produksi peternakan tahun 2006 mencapai 216,05 ton, meningkat dibanding produksi 2005 yang hanya mencapai 213,25 ton. Sumatera Utara juga memiliki kekayaan tambang. Survey 2006 mencatat bahwa terdapat 27 jenis barang tambang nonlogam (golongan C), 15 jenis barang tambang logam dan enam jenis minyak, gas (migas) dan energi. Barang tambang nonlogam antara lain batu gamping, dolomite, pasir kuarsa, belerang, kaolin, diatomea dan bentonit. Sedangkan barang tambang logam mencakup emas, perak, tembaga dan timah hitam. Sementara potensi migas dan energi antara lain minyak bumi, gas alam dan panas bumi. Saat ini telah dilakukan eksploitasi terhadap minyak bumi di Sumatera Utara, dengan hasil produksi pada 2006 mencapai 21.000 barel minyak bumi.

Lokasi-lokasi Komoditas Strategis Nias Tapanuli Selatan Perikanan Laut, Jagung, Nilam Ikan Sale, Meubel Kayu / Rotan, Padi, Salak, Manggis, Mangga Golek, Pisang Kepok, Karet, Sapi, Bentoit, Batu Kapur. Mandailing Natal Tapanuli Tengah Kopi, Kakau, Kelapa Sawit. Jagung, Nilam, Play Wood

24

Tapanuli Utara

Nenas, Jeruk, Pisang Barangan, Goba, Kentang, Cabe, Bawang Merah, Babi, Kerbau Ayang Buras, Ikan Mas, Lele Dumbo, Gurami, Bawang Putih, Grass Carp,Kopi, Kemenyan, Kakau, Karet, Kacang Garing, Tenun Adat, Gula Semut, Kapur Tohor.

Toba Samusir Pelabuhan Batu

Nilam, Jagung,Pakan Ternak, Kelapa, Kakao, Kemenyan, Pengolahan Kayu, Industri Kain Ulos Batak, Kacang-kacangan.

Asahan Simalungun Dairi Karo

Kelapa Sawit, Karet, Kakao. Udang , Ikan , Jagung , Furniture . Kol , Cabe , Bawang merah , tomat , pisang . Kentang , Jagung , Durian , Jeruk , Kopi , Keniri , Kulit manis , gambir , kemenyan .

Deli Serdang

Jagung , Jeruk , markisa , Kol / kubis , Petai , Wortel , Kentang , Cabe , Tomat .

Langkat Sibolga Tanjung Balai Pematang Siantar Medan

Karet , Kakao , Kelapa sawit , Pisang , Jagung . Kakao , Kelapa sawit , Nila merah , Kerapuh , Rambutan , Domba , Karet . Kerang , udang Galah ,Itik , Jagung , Kedelai. Teh hijau , Rokok Putih , Tepung Tapioka , kacang tumbuk , Ulos .Furniture , Bika Ambon . Anyam anyaman.Bengkoang , Rambutan , Bunga Potong ( sedap malam , galadiol , angrek ) , Konfeksi , Tekstil , Barang - barang dari rotan , Anyaman / Meubel dari bambu .

25

Komoditas Perkebunan Di Sumatera Utara terdapat berbagai komoditi hasil-hasil perkebunan, seperti: karet, sawit, kopi nilam, jahe, kemiri, aren, pinang, coklat, kelapa, panili, kemenyan, kulit manis, dan cengkeh yang memberi peluang untuk mendirikan industri pengolahan hasil perkebunan. Luas areal perkebunan adalah 1.629.156 Ha atau 22,73% dari Luas Sumatera Utara, dengan produksi sebesar 12.225.234 ton untuk 23 komoditi diantaranya sawit, karet, kopi, teh, kakao dan kelapa. Menurut pengusahaannya areal perkebunan dibagi menjadi:

1. Perkebunan rakyat seluas 815.071 Ha dengan produksi 2.829.280 ton. 2. Perkebunan Swasta (PBS) seluas 425.551 Ha dengan produksi 4.934.556 ton 3. PTPN seluas 388.534 Ha dengan produksi 4.461.398 ton Rata-rata pertambahan luas lahan perkebunan sebesar 0,72% pertahun dan pertumbuhan produksi sebesar 2,74% pertahun.

Komoditi   Kelapa Sawit      Karet   

Lokasi Labuhan Batu Simalungun TapanuliSelatan Langkat Asahan Labuhan Batu Tapanuli Selatan Mandailing Natal Langkat Tapanuli Tangah

Luas/ha 79.000 25.610 21.170 19.626 17.080 84.176 60.674 43.044 36.720 29.474 

 Kopi   

Dairi Tapanuli Selatan Tapanuli Utara Mandailing Natal Simalungun

18.449 -

26 

 Kelapa      Nilam      Jahe      Kemiri      Pinang      Cokelat   

Nias Asahan Deli Serdang Labuhan Batu Tapanuli Tangah Nias Toba Samosir Tapanuli Selatan Tapanuli Tangah Dairi Simalungun Toba Samosir Dairi Tapanuli Utara Deli Serdang Karo Dairi Toba Samosir Deli Serdang Tapanuli Utara Deli Serdang Langkat Asahan Simalungun Nias Asahan Simalungun Deli Serdang Tapanuli Selatan Nias

48.478 43.654 12.191 11.525 6.871 1.147 137 125 69 59 816 627 234 92 60 5.493 4.253 2.485 1.067 656 1.369 349 328 314 156 7.807 3.134 3.509 2.982 2.851

27 

 Panili     Kemenyan      Kulit Manis      Cengkeh    

Dairi Karo Deli Serdang Simalungun Langkat Tapanuli Utara Toba Samosir Dairi Tapanuli Selatan Tapahuli Selatan Mandailing Natal Tapanuli Utara Karo Dairi Nias Toba Samosir Mandailing Natal Karo Tapanuli Selatan Dairi

159 130 71 25 5 159 130 71 25 1.874 1.183 1.014 849 703 1.891 635 566 530 263 185

Provinsi ini tersohor karena luas perkebunannya, hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. BUMN Perkebunan yang arealnya terdapat di Sumatera Utara, antara lain PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II), PTPN III dan PTPN IV. Selain itu Sumatera Utara juga tersohor karena luas perkebunannya. Hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. Sumatera Utara menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, dan Tapanuli Selatan.

28 

Luas pertanian padi. Pada tahun 2005 luas areal panen tinggal 807.302 hektar, atau turun sekitar 16.906 hektar dibanding luas tahun 2004 yang mencapai 824.208 hektar. Produktivitas tanaman padi tahun 2005 sudah bisa ditingkatkan menjadi berkisar 43,49 kwintal perhektar dari tahun 2004 yang masih 43,13 kwintal per hektar, dan tanaman padi ladang menjadi 26,26 kwintal dari 24,73 kwintal per hektar. Tahun 2005, surplus beras di Sumatera Utara mencapai 429 ton dari sekitar 2.1.27 juta ton total produksi beras di daerah ini.  Luas perkebunan karet. Tahun 2002 luas areal tanaman karet di Sumut 489.491 hektar dengan produksi 443.743 ton. Sementara tahun 2005, luas areal karet menurun atau tinggal 477.000 hektar dengan produksi yang juga anjlok menjadi hanya 392.000 ton.  Irigasi. Luas irigasi teknis seluruhnya di Sumatera Utara seluas 132.254 ha meliputi 174 Daerah Irigasi. Sebanyak 96.823 ha pada 7 Daerah Irigasi mengalami kerusakan sangat kritis.  Produk Pertanian. Sumatra Utara menghasilkan karet, cokelat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, dan Tapanuli Selatan. Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara dan memberikan sumbangan devisa yang sangat besar bagi Indonesia. Selain komoditas perkebunan, Sumatra Utara juga dikenal sebagai penghasil komoditas holtikultura (sayur-mayur dan buah-buahan); misalnya Jeruk Medan, Jambu Deli, Sayur Kol, Tomat, Kentang, dan Wortel yang dihasilkan oleh Kabupaten Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara. Produk holtikultura tersebut telah diekspor ke Malaysia dan Singapura.Rujukan:http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Utara

Komoditas Pertanian Di antara hasil pertanian yang berpotensi di kembangkan di Sumatera Utara, adalah padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang kedelai, kacang hijau, kacang tanah dan beberapa sayur-sayuran, seperti uraian di bawah ini:

29

Komoditi

Lokasi  Deli Serdang  Simalungun  Labuhan Batu  Tapanuli Selatan  Langkat  Tapanuli Utara  Karo  Simalungun  Dairi  Deli Serdang  Langkat  Asahan  Deli Serdang  Simalungun  Nias  Toba Samosir  Tapanuli Utara  Tapanuli Selatan  Nias  Deli Serdang

Luas/ha 133.190 111.201 96.287 66.417 71.903 64.458 66.801 47.877 34.187 20.976 10.669 5.273 14.950 7.217 2.535 1.860 1.074 669 3.284 2.678 2.413 1.166 1.099 8.685 3.872 2.127 1.766 1.026 3.481 2.727 1.135 784 474

Padi

Jagung

Ubi Kayu

Ubi Jalar 

Simalungun  Toba Samosir  Tapanuli Utara  Simalungun  Deli Serdang

Kacang Tanah 

Tapanuli Utara  Dairi  Langkat  Deli Serdang  Langkat

Kacang Kedelai 

MandailingNatal  Tapanuli Selatan  Asahan

30 

Deli Serdang  Simalungun Kacang Hijau  Langkat  Toba Samosir  Tapanuli Selatan

3.952 1.586 1.534 361 357

Industri dan Pertambangan Di Indonesia, sektor industri dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yakni industri besar, industri sedang serta industri kecil dan rumah tangga. Pembagian itu lebih didasarkan pada jumlah tenaga kerja yang bekerja pada industri yang bersangkutan. Jumlah industri besar yang ada di Sumut tahun 1998 mencapai 1.025 perusahaan. Jumlah itu mengalami penurunan sekitar 7,32% jika dibandingkan tahun 1997, yang berjumlah 1.106 unit. Nilai output industri besar pada tahun 1997 mencapai lebih dari Rp 23 ribu milyar dengan nilai tambah sebesar Rp 3.563,65 milyar. Nilai tambah terbesar tahun 1998 pada industri makanan, minuman, dan tembakau, yaitu sebesar Rp 3.456,06 milyar, kemudian diikuti industri kimia sebesar Rp 1.643,73 milyar dan industri pengolahan lain sebesar Rp 2,96 milyar. Jumlah aneka industri di Sumut sekitar 1.106 perusahaan dengan total tenaga kerja 180.803 jiwa. Hasil industri utama di Sumut berupa makanan dan minuman, tekstil, pakaian jadi dan kulit, perabot rumah tangga, kertas, kimia, barang dari bahan kimia, barang galian bukan logam dan logam dasar, barang dari logam, dan mesin. Hasil industri kecil berupa tenunan, sulaman, pakaian jadi, konveksi (garmen); makanan, alat pertanian, tas, dan sepatu. Potensi industri pengolahan hasil pertanian, perkebunan dan hasil hutan, seperti minyak kelapa sawit (CPO); rotan, kayu lapis, cramb rubber, dan sebagainya sangat potensial untuk dikembangkan lebih Ianjut. Selain itu, industri manufaktur dan elektronik juga akan menjadi potensi andalan Sumut jika ia dapat dikembangkan secara lebih modern dengan peralatan canggih. Di sektor pertambangan, Sumut memiliki beberapa bahan tambang, seperti minyak dan gas bumi di daerah lepas pantai Selat Malaka, Pulau Nias, dan daerah perbatasan Sumatra Utara dengan Riau. Hasil tambang batu bara banyak terdapat di Kabupaten Langkat, Tapanuli Tengah, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan,
31

Labuhan Batu, Nias, dan dataran tinggi Karo. Sementara emas, perak, tembaga, dan seng banyak terdapat di Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Asahan, Langkat, dan tanah Karo. Selain itu, Sumut memiliki bahan galian seperti andesit, pasir kuarsa, batu kali/koral, batu apung, pasir bangunan, granit, obsidin, koalin, marmer, dan batu kapur yang juga cukup potensial untuk dikembangkan Dalam dunia perdagangan, Sumut pada tahun 1997 telah mengimpor mesin, peralatan listrik, besi dan baja, bahan bakar mineral dan minyak, bahan kimia organik, dan barang-barang senyawa senilai US$ 977.292.752. Nilai ekspornya (1997) dengan komoditas utama berupa, lemak, minyak, malam, karet dan barang dari karet, kayu, aluminium, dan ikan seluruhnya berjumlah sekitar US$ 3.443.555.312. Pada tahun 1998 volume ekspor Sumut mencapai 4.401.819 ton dan volume impor sebesar 958.374 ton. Ini berarti masing-masing mengalami penurunan sebesar 9,92% dan 55,2%. Nilai ekspor Sumut pada tahun yang sama mencapai US$ 2.713,61 juta dan nilai impornya sebesar US$ 408,4 juta, sehingga surplus perdagangan Sumut tahun 1998 mencapai US$ 2.308,2 juta. Komoditas andalan ekspor Sumut terutama berasal dari perikanan, industri hasil perkebunan, seperti minyak nabati dan pertanian hasil tanaman pangan. Yang telah disebutkan itu menjadi potensi ekonomi yang andal di Sumatra Utara. Kendala yang dihadapi sampai sekarang antara lain menyangkut investasi. Masalah investasi ini menjadi kendala yang sulit untuk dipecahkan apalagi dalam situasi krisis seperti yang masih dialami Indonesia saat ini. Persoalan investasi modal menjadi kendala yang cukup serius saat ini, termasuk dalam menarik investor asing. Ada tiga perusahaan pertambangan terkemuka di Sumatera Utara: 1. Sorikmas Mining (SMM) Adalah sebuah perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang bergerak di bidang usaha pertambangan emas dan mineral pengikut lainnya. Sebanyak 25 persen sahamnya dimiliki PT Aneka Tambang, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang pertambangan. Sedangkan 75 persen lagi dimiliki Aberfoyle Pungkut Investment Pte Ltd. Perusahaan ini berada di Singapura, namun

32

sahamnya dimiliki Aberfoyle Resources Limited/Western Metal Copper Limited dari Australia. SMM merupakan perusahaan pemegang kontrak karya generasi VII tertanggal 19 Februari 1998. Awalnya, wilayah kontrak karya SMM di Kabupaten Madina seluas 201.600 ha. Namun setelah dua kali diciutkan, luas konsesinya kini menjadi 66.200 ha, atau tinggal 32,82 persen saja. Proses eksplorasi dimulai sejak 19 Februari 1999. Dari luas total saat ini, ternyata sebagian besar justru tumpang tindih dengan kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Ini terjadi karena pada 29 April 2004 Menteri Kehutanan, saat dijabat Muhammad Prakosa, menetapkan pembentukan TNBG dengan luas 108 ribu ha melalui putusan SK No 126/Menhut-II/2004. Batas tetapnya akan ditentukan setelah diadakan penetapan batas di lapangan. 2. Newmont Horas Nauli(PTNHN) Adalah perusahaan patungan yang dimiliki oleh Newmont (90%) dan PT Austindo Nusantara Jaya (10%) dan didirikan untuk kegiatan eksplorasi dan operasi tambang yang terletak di Wilayah Kontrak Karya Martabe, Sumatera Utara. Pelaksanaan proyek Martabe dilandasi Kontrak Karya antara Pemerintah Indonesia dan PT Danau Toba Mining (Normandy) yang ditandatangani pada 28 April 1997. Lokasi wilayah Kontrak Karya terletak di kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Dengan diakuisisinya Normandy oleh Newmont pada Februari 2002, maka pengelolaan proyek ini dilakukan oleh PTNHN. Normandy menemukan Martabe pada 1997 melalui kegiatan tindak lanjut atas anomali endapan aliran emas dengan menggunakan teknologi geokimia BLEG. Martabe memiliki beberapa sasaran eksplorasi termasuk yang paling potensial seperti prospek Tor Sipalpal (Purnama) dan prospek yang lain meliputi Gunung Barani (Pelangi), Ramba Joring (Baskara) dan Tor Uluala (Kejora). Prospek-prospek ini membentang dengan jarak lebih dari 6 km. Mineralisasi emas di Martabe mempunyai kesamaan jenis dengan di Yanacocha, Peru, karena emas berasosiasi dengan tubuh bijih silika terlindih dan mengandung breccia yang berukuran besar yang berinduk pada daerah alterasi lempung. Saat ini Martabe sedang menjalani studi pra-kelayakan termasuk studi rona awal dampak lingkungan. Proyek Martabe sedang dalam tahap eksplorasi akhir dan apabila

33

program eksplorasi lanjutan berhasil maka akan segera masuk ke tahap studi kelayakan. Pada 2003, program eksplorasi akan difokuskan di Purnama. Kegiatan pemboran saat ini juga memperluas daerah mineralisasi Purnama ke arah utara, pengujian daerah yang belum banyak diselidiki antara Purnama dan Baskara serta beberapa lubang penelitian di Baskara. Sampai Oktober 2003, sekitar 262 lubang bor telah diselesaikan pada proyek Martabe. Program pemboran akan diselesaikan pada November 2003, meskipun eksplorasi akan berlanjut sampai awal 2004 dan dijadwalkan selesai pada Mei 2004. 3. Dairi Prima Mineral Adalah sebuah perusahaan pertambangan di Sumatra Utara. Sebagian konsesinya berada pada kawasan hutan lindung seluas kurang lebih 18.170 hektar dari luas total konsesi seluas 22.030 hektar. Perusahaan ini akan segera melakukan eksplorasi bahan galian Pb (timah hitam) dan Zn (seng) di Batang Toru, Tapanuli Selatan. Sahamnya dimiliki oleh Herald Resources Ltd. (Australia) 30%, dan International Annax Ventures, (Kanada) 70%. Ekspor dan Impor Kinerja ekspor Sumatera Utara cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 tercatat perolehan devisa mencapai US$4,24 milyar atau naik 57,72% dari tahun sebelumnya dari sektor ini. Ekspor kopi dari Sumatera Utara mencapai rekor tertinggi 46.290 ton dengan negara tujuan ekspor utama Jepang selama lima tahun terakhir. Ekspor kopi Sumut juga tercatat sebagai 10 besar produk ekspor tertinggi dengan nilai US$3,25 juta atau 47.200,8 ton periode Januari hingga Oktober 2005. Dari sektor garmen, ekspor garmen cenderung turun pada Januari 2006. Hasil industri khusus pakaian jadi turun 42,59 persen dari US$ 1.066.124 pada tahun 2005, menjadi US$ 2.053 pada tahun 2006 pada bulan yang sama. Kinerja ekspor impor beberapa hasil industri menunjukkan penurunan. Yakni furniture turun 22,83 persen dari US$ 558.363 (2005) menjadi US$ 202.630 (2006), plywood turun 24,07 persen dari US$ 19.771 menjadi US$ 8.237, misteric acid turun 27,89 persen yakni dari US$ 115.362 menjadi US$ 291.201, stearic acid turun 27,04 persen dari US$ 792.910 menjadi US$ 308.020, dan sabun noodles turun 26 persen dari AS.689.025 menjadi US$ 248.053.

34

Kinerja ekspor impor hasil pertanian juga mengalami penurunan yakni minyak atsiri turun 18 persen dari US$ 162.234 menjadi US$ 773.023, hasil laut/udang, minyak kelapa dan kopi robusta juga mengalami penurunan cukup drastis hingga mencapai 97 persen. Beberapa komoditi yang mengalami kenaikan (nilai di atas US$ Juta) adalah biji kakao, hortikultura, kopi arabica, CPO, karet alam, hasil laut (non udang). Untuk hasil industri yakni moulding, ban kendaraan dan sarung tangan karet.

Peternakan Hasil populasi ternak di Sumatra Utara tahun 1997 adalah sebagai berikut: jumlah sapi 268.364 ekor, kerbau 265.053 ekor, kuda 9.937 ekor, sapi perah 8.811 ekor, kambing 785.229 ekor, domba 154.027 ekor, babi 976.277 ekor, ayam ras 6.266.676 ekor, ayam Broiler 72,510.000 ekor, ayam kampung 21.160.000 ekor, dan itik 2.265.317 ekor. Sementara hasil populasi ternak tahun 1998 mengalami penurunan sebagai berikut: sapi 246.279 ekor; kerbau 264.152 ekor; kuda 5.601 ekor; sapi perah 6.386 ekor; kambing 691.228 ekor; domba 159.491 ekor; babi 765.652 ekor, ayam ras 3.763.760 ekor; ayam daging 5.729.010 ekor; ayam kampung 19.574.500 ekor; dan itik 2.192.490 ekor. Krisis moneter yang dilanjutkan dengan krisis eko-nomi yang melanda Indonesia sejak Juli 1997 sangat berpengaruh terhadap populasi hasil ternak utama di Sumatra Utara. Makanan ternak yang harganya melambung tinggi dan semakin mahal menjadi salah satu pemicunya. Bahkan banyak perusahaan yang mem-produksi makanaan ternak gulung tikar akibat mero-sotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, padahal sebagian besar bahan utama makanan ternak masih banyak diimpor dari negara lain. Itulah beberapa kendala yang dialami oleh peternak Indonesia umumnya, dan peternak di Sumatra Utara khususnya.

Perikanan Timpang, Pemanfaatan Potensi Perikanan Sumatera Utara

SEKTOR perikanan merupakan salah satu sektor yang menjadi tumpuan kehidupan banyak orang setelah sektor pertanian. Barangkali karena itu pula

35

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menempatkannya sebagai sektor strategis, terutama dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat ke depan. Kebijakan ini tidak terlepas dari kondisi geografis Sumatera Utara (Sumut) sebagai daerah yang memiliki pantai dan pulau. Panjang garis pantai di provinsi ini tercatat 545 kilometer di wilayah pantai timur, yakni dari batas Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) di utara hingga ke batas Riau di selatan yang terhampar persis dekat Selat Malaka. Di wilayah pantai barat, panjang garis pantainya tercatat 375 kilometer, sedangkan sekitar 380 kilometer lagi merupakan garis pantai di pulaupulau Nias. "Bagi Provinsi Sumut, sektor perikanan tetap menjadi andalan guna memacu pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat daerah ini. Karena itulah, kebijakan pembangunan sektor ini ke depan didasarkan pada pendekatan pembagian tiga wilayah pengembangan," papar Ridwan Batubara, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumut. Tiga wilayah pengembangan tersebut masing-masing, wilayah

pengembangan perikanan dan kelautan I. Daerah yang masuk wilayah ini, antara lain, Mandailing Natal, Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Nias. Potensi unggulan wilayah itu adalah penangkapan ikan lepas pantai dan perairan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif). Wilayah pengembangan II yang merupakan bagian tengah Sumut hanya bisa dikembangkan sebagai pusat perikanan budidaya. Misalnya, di sekitar Toba Samosir, Simalungun, Dairi, dan Tapanuli Utara. Sama dengan wilayah I, pembangunan perikanan di wilayah III, yakni di bagian timur Sumut, tetap akan menjadi fokus pengembangan perikanan tangkap. Daerahnya terletak persis di sekitar perairan Selat Malaka, yaitu mulai dari Langkat di perbatasan NAD, hingga ke Medan, Deli Serdang, Tanjung Balai, Asahan, hingga Labuhan Batu dekat perbatasan Riau. Pengembangan perikanan di wilayah II Sumut seyogianya tidak menemukan banyak masalah karena lebih pada budidaya darat yang sudah mengakar dari dulu di masyarakat. Persoalan paling besar di wilayah pengembangan I dan III Sumut, sebab sebagai andalan dan pusat aktivitas perikanan tangkap, maka ini terkait langsung dengan potensi alami di sana.

36

Pengurasan potensi perikanan laut yang tidak terkendali, apalagi dibarengi dengan cara-cara penangkapan di luar batas, misalnya bom ikan, jelas akan menjadi bumerang di belakang hari. Isyarat betapa potensi perikanan laut daerah ini sudah mulai tahap ³lampu kuning" bisa dilihat dari ketimpangan potensi alami antara perairan pantai timur dan pantai barat Sumut. Ini mengkhawatirkan karena akan mengancam keberadaan dua "gudang" ikan terbesar Sumut. Sudah sejak lama pantai timur dan barat Sumut menjadi ujung tombak perikanan tangkap, baik untuk pasar lokal, ekspor, maupun industri perikanan. Siapa pun tahu, Belawan dan Sibolga merupakan pelabuhan perikanan terbesar Sumut yang produksi ikan tangkapnya dikirim ke mana-mana. Badan Riset Kelautan dan Perikanan tahun 2001 mencatat, potensi perikanan di perairan pantai timur Sumut (sekitar Selat Malaka) tercatat sekitar 276.030 ton per tahun. Sedangkan pemanfaatan per tahun 2003 tercatat sekitar 255.499,2 ton. "Angka ini memang mengejutkan karena, dengan data-data di atas, tergambar jelas kondisi perairan pantai timur Sumut sudah mendekati over fishing atau padat tangkap. Keadaan demikian menunjukkan betapa potensi perairan pantai timur sekitar Selat Malaka sudah sulit dioptimalkan karena tingkat pemanfaatannya mencapai 92 persen," kata Ridwan Batubara. Data Badan Riset Kelautan tersebut setidaknya memberi gambaran bahwa eksploitasi potensi perikanan tangkap di daerah ini tampaknya mulai timpang. Bandingkan dengan potensi perikanan di pantai barat Sumut (sekitar Samudra Hindia). Potensi perairan ini tercatat 1.076.960 ton per tahun, dengan tingkat pemanfaatan pada tahun 2003 baru mencapai 96.597,1 ton (8,96 persen). "Tingkat pemanfaatan potensi sumber daya perikanan yang belum merata di Sumut, khususnya perikanan tangkap, jelas berpengaruh serius. Salah satunya berdampak terhadap hasil tangkapan yang tidak berimbang karena

penangkapannya yang tidak rasional," ujar Ridwan Batubara. Agar ketimpangan tersebut tidak berlanjut, sudah selayaknya Dinas Perikanan dan Kelautan Sumut berupaya melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap sumber daya perikanan tangkap. Caranya, bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota yang menjadi penanggung jawab teritorial

37

setempat. Selain itu, untuk pengendalian pemanfaatan sumber daya perikanan di Sumut, diharapkan pula adanya patroli pengawasan pantai maupun samudra secara berkesinambungan. Langkah-langkah di atas memang harus dilakukan untuk menjamin produksi perikanan di Sumut. Apalagi, lonjakan produksi penangkapan ikan daerah ini tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan potensi yang ada. Tahun 2002, misalnya, produksi penangkapan ikan di laut tercatat 345.192,4 ton, sedangkan tahun 2003 tercatat 352.096,2 ton atau hanya naik sekitar 1,9 persen. Sektor perikanan tampaknya memang tidak semata menjaring ikan, memancing, atau sekadar membuat keramba. Penggarapan potensi perikanan laut yang timpang pasti akan mengancam kelangsungan hidup nelayan ke depan.... (ahmad zulkani) (Selasa, 03 Februari 2004 Copyright © 2002 Harian KOMPAS)

Danau Toba

Gambar 4. Danau Toba

Danau Toba terletak di Propinsi Sumatera Utara dengan luas permukaan perairan 110.620 ha. Di tengah Danau Toba terletak sebuah pulau yaitu pulau Samosir dengan luas 69.280 ha.Rata-rata kedalaman Danau Toba 218m dengan kedalaman maksimum 529m. Indikator kondisi lingkungan yang masih baik adalah dari penggunaan air danau untuk pengembangan perikanan, sumber air minum dan pariwisata. Danau Toba termasuk perairan yang miskin yang ditunjukkan oleh penampakan perairan yang jernih dan tidak tingginya kelimpahan populasi hewan air(termasuk ikan) yang hidup didalamnya.

38

Jenis-jenis Tieneman),ikan

ikan

yang

meliputi (Puntius

jenis

ikan

batak

(Lissochillus

pora-pora

Pinotatus,ikan

nilem(Oseochellus

Haselti),ikan mas (Cyprinus Carpio),ikan tawes (Punctius Javanicus),ikan mujair (Oreochromics Mossambicus),ikan gabus(Ophiocephalus sp),ikan lele(Clarias Batracus),ikan sepat(Trichogaster Trichopterus), dan ikan gurame(Ospronemus Gouramy). Budidaya ikan yang berkembang di perairan Danau Toba adalah dengan sistem budidaya diKeramba Jaring Apung(KJA). Jenis ikan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat adalah ikan mas dan nila. Di danau Toba juga terdapat KJA milik swasta yaitu PT. Aqua Farm Nusantara merupakan PMA yang berdiri tahun 1988 berdasarkan Surat Persetujuan Presiden RI No.B32/Pres/03/1988. Usaha budidaya yang dikembangkan PT. Aqua Farm Nusantara di Propinsi Sumatera Utara merupakan budidaya ikan nila terpadu (integrated) yang meliputi unit usaha pembenihan (hatchery), unit usaha pembesaran (growout),unit usaha pengolahan (processing plant), dan unit pabrik pakan ikan (masih proses perintisan ditahun 2008). Unit usaha pembesaran dilakukan di Danau Toba yang melibatkan tenaga kerja sekitar 2.400 orang tenaga kerja lokal dengan jumlaj KJA sebanyak 1.380 unit yang tersebar di 6 lokasi KJA (Kab. Samosir 4 lokasi,Kab. Simalungun 1 lokasi, Kab. Toba Samosir 1 lokasi) dan 1 lokasi Landing Site di Kab. Toba Samosir. Jumlah KJA disetiap lokasi kurang lebih 250 unit. Sebagian besar KJA yang dikembangkan sudah menggunakan KJA bulat. KJA segiempat yang terbuat dari besi galvanis disinyalir cukup rentan terhadap benturan kapal yang merapat ataupun lewat. Sementara KJA bulat yang menggunakan bahan rangka meupun pelampung, dari bahan pipa paralon PVC tampak lebih kokoh, lebih indah dan relati lebih hydrodynamic sehingga ada kecenderungan kedepan pengembangan KJA bulat secara berangsur-angsur akan menggantikan seluruh KJA segiempat.

39

REFERENSI
BPTP Sumatera Utara. 2011. Pengembangan Teknologi Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Sumatera Utara. http://sumut.litbang.deptan.go.id Akses Tanggal 11 Januari 2012. Badan Pusat Statistik Sumut. 2011. Profil Tingkat Pendidikan dan Kemiskinan
Sumatera Utara Tahun 2009. http://sumut.bps.go.id Akses Tanggal 11

Januari 2012. Dinas Pertambangan Dan Energi Pemprovsu. 2011. Profil Pertambangan Dan Energi Provinsi Sumatera Utara http://distamben.sumutprov.go.id Akses Tanggal 11 Janurai 2012. DISKOMINFO SUMUT. 2011. Gambaran Umum Provinsi Sumatera /utara. http://diskominfo.sumutprov.go.id Akses Tanggal 11 Januari 2012. DISNAKERTRANS Pemprovsu. 2011. Angakatan Kerja Sumatera Utara.

http://disnakertrans.sumutprov.go.id Akses Tanggal 11 Januari 2012. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. 2011. Daftar Nama Kabupaten Di Sumatera Utara.http://www.sumutprov.go.id/ Akses Tanggan 11 Januari 2012. Portal Nasional Indonesia. 2011.Profil Sumatera Utara.

http://www.indonesia.go.id/in Akses Tangaal 11 Januari 2012.

40

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful