Anda di halaman 1dari 26

SOAL MATA KULIAH AGAMA ISLAM Uraikan dan jelaskan soal-soal di bawah ini. 1.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan konsep Ketuhanan dalam Islam? Aspek keimanan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah aspek kejiwaan dan nilai. Aspek ini belum mendapat perhatian seperti perhatian terhadap aspek lainnya. Kecintaan kepada Allah, ikhlas beramal hanya karena Allah, serta mengabdikan diridan tawakal sepenuhnya kepada-Nya, merupakan nilai keutamaan yang perlu diperhatikan dan diutamakandalam menyempurnakan cabang-cabang keimanan. Pendidikan modern telah mempengaruhi peserta didik dari berbagai arah dan pengaruhnya telah sedemikian rupa merasuki jiwa generasi penerus. Jika tidak pandai membina jiwa generasi mendatang, dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dalam nalar, pikir dan akal budi mereka , maka mereka tidak akan selamat dari pengaruh negatif pendidikan modern. Mungkin mereka merasa ada yang kurang dalam sisi spiritualitasnya dan berusaha menyempurnakan dari sumbersumber lain. Bila ini terjadi, maka perlu segera diambil tindakan, agar pintu spiritualitas yang terbuka tidak diisi oleh ajaran lain yang bukan berasal dari ajaran spiritualitas Islam. Seorang muslim yang paripurna adalah yang nalar dan hatinya bersinar, pandangan akal dan hatinya tajam, akal pikir dan nuraninya berpadu dalam berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia, sehingga sulit diterka mana yang lebih dahulu berperan kejujuran jiwanya atau kebenaran akalnya. Sifat kesempurnaan ini merupakan karakter Islam, yaitu agama yang membangun kemurnian akidah atas dasar kejernihan akal dan membentuk pola pikir teologis yang menyerupai bidang-bidang ilmu eksakta, karena dalam segi akidah, Islam hanya menerima hal-hal yang menurut ukuran akal sehat dapat diterima sebagai ajaran akidah yang benar dan lurus. Pilar akal dan rasionalitas dalam akidah Islam tecermin dalam aturan muamalat dan dalam memberikan solusi serta terapi bagi persoalan yang dihadapi. Selain itu Islam adalah agama ibadah. Ajaran tentang ibadah didasarkan atas kesucian hati yang dipenuhi dengan keikhlasan, cinta, serta dibersihkan dari dorongan hawa nafsu, egoisme, dan sikap ingin menang sendiri. Agama seseorang tidak sempurna, jika kehangatan spiritualitas yang dimiliki tidak disertai dengan pengalaman ilmiah dan ketajaman nalar. Pentingnya akal bagi iman ibarat pentingnya mata bagi orang yang sedang berjalan. Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan 1. Pemikiran Barat Yang dimaksud konsep Ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah konsep yang didasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahiriah maupun batiniah, baik yang bersifat penelitian rasional maupun pengalaman batin. Dalam literatur sejarah agama, dikenal teori evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan adanya proses dari kepercayaan yang amat sederhana, lama kelamaan meningkat menjadi sempurna. Teori tersebut mula-mula dikemukakan oleh Max Muller, kemudian dikemukakan oleh EB Taylor, Robertson Smith, Lubbock dan Javens. Proses perkembangan pemikiran tentang Tuhan menurut teori evolusionisme adalah sebagai berikut:
y

Dinamisme

Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif telah mengakui adanya kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh tersebut ditujukan pada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia, ada yang berpengaruh positif dan ada pula yang berpengaruh negatif. Kekuatan yang ada pada benda disebut dengan nama yang berbeda-

beda, seperti mana (Melanesia), tuah (Melayu), dan syakti (India). Mana adalah kekuatan gaib yang tidak dapat dilihat atau diindera dengan pancaindera. Oleh karena itu dianggap sebagai sesuatu yang misterius. Meskipun nama tidak dapat diindera, tetapi ia dapat dirasakan pengaruhnya.
y

Animisme

Masyarakat primitif pun mempercayai adanya peran roh dalam hidupnya. Setiap benda yang dianggap benda baik, mempunyai roh. Oleh masyarakat primitif, roh dipercayai sebagai sesuatu yang aktif sekalipun bendanya telah mati. Oleh karena itu, roh dianggap sebagai sesuatu yang selalu hidup, mempunyai rasa senang, rasa tidak senang apabila kebutuhannya dipenuhi. Menurut kepercayaan ini, agar manusia tidak terkena efek negatif dari roh-roh tersebut, manusia harus menyediakan kebutuhan roh. Saji-sajian yang sesuai dengan saran dukun adalah salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan roh.
y

Politeisme

Kepercayaan dinamisme dan animisme lama-lama tidak memberikan kepuasan, karena terlalu banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari yang lain kemudian disebut dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai dengan bidangnya. Ada dewa yang bertanggung jawab terhadap cahaya, ada yangmembidangi masalah air, ada yang membidangi angin dan lain sebagainya.
y

Henoteisme

Politeisme tidak memberikan kepuasan terutama terhadap kaum cendekiawan. Oleh karena itu dari dewa-dewa yang diakui diadakan seleksi, karena tidak mungkin mempunyai kekuatan yang sama. Lama-kelamaan kepercayaan manusia meningkat menjadi lebih definitif (tertentu). Satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan (Ilah) bangsa lain. Kepercayaan satu Tuhan untuk satu bangsa disebut dengan henoteisme (Tuhan Tingkat Nasional).
y

Monoteisme

Kepercayaan dalam bentuk henoteisme melangkah menjadi monoteisme. Dalam monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat internasional. Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam tiga paham, yaitu: deisme, panteisme, dan teisme. Evolusionisme dalam kepercayaan terhadap Tuhan sebagaimana dinyatakan oleh Max Muller dan EB. Taylor (1877), ditentang oleh Andrew Lang (1898) yang menekankan adanya monoteisme dalam masyarakat primitif. Dia mengemukakan bahwa orang-orang yang berbudaya rendah juga sama monoteismenya dengan orang-orang Kristen. Mereka mempunyai kepercayaan pada wujud yang Agung dan sifat-sifat yang khas terhadap Tuhan mereka, yang tidak mereka berikan kepada wujud yang lain. Dengan lahirnya pendapat Andrew Lang, maka berangsur-angsur golongan evolusionisme menjadi reda dan sebaliknya sarjana-sarjana agama terutama di Eropa Barat mulai menantang evolusionisme dan memperkenalkan teori baru untuk memahami sejarah agama. Mereka menyatakan bahwa ide tentang Tuhan tidak datang secara evolusi, tetapi dengan relevansi atau wahyu. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan pada penyelidikan bermacam-macam kepercayaan yang dimiliki oleh kebanyakan masyarakat primitif. Dalam penyelidikan didapatkan bukti-bukti bahwa asal-usul

kepercayaan masyarakat primitif adalah monoteisme dan monoteisme adalah berasal dari ajaran wahyu Tuhan (Zaglul Yusuf, 1993:26-27). 2. Pemikiran Umat Islam Pemikiran terhadap Tuhan yang melahirkan Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, atau Ilmu Ushuluddin di kalangan umat Islam, timbul sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW. Secara garis besar, ada aliran yang bersifat liberal, tradisional, dan ada pula yang bersifat di antara keduanya. Sebab timbulnya aliran tersebut adalah karena adanya perbedaan metodologi dalam memahami Al-Quran dan Hadis dengan pendekatan kontekstual sehingga lahir aliran yang bersifat tradisional. Sedang sebagian umat Islam yang lain memahami dengan pendekatan antara kontektual dengan tektual sehingga lahir aliran yang bersifat antara liberal dengan tradisional. Ketiga corak pemikiran ini telah mewarnai sejarah pemikiran ilmu ketuhanan dalam Islam. Aliran tersebut yaitu: a. Mu tazilah yang merupakan kaum rasionalis di kalangan muslim, serta menekankan pemakaian akal pikiran dalam memahami semua ajaran dan keimanan dalam Islam. Orang islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mukmin. Ia berada di antara posisi mukmin dan kafir (manzilah bainal manzilatain). Dalam menganalisis ketuhanan, mereka memakai bantuan ilmu logika Yunani, satu sistem teologi untuk mempertahankan kedudukan keimanan. Hasil dari paham Mu tazilah yang bercorak rasional ialah muncul abad kemajuan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun kemajuan ilmu pengetahuan akhirnya menurun dengan kalahnya mereka dalam perselisihan dengan kaum Islam ortodoks. Mu tazilah lahir sebagai pecahan dari kelompok Qadariah, sedang Qadariah adalah pecahan dari Khawarij. b. Qodariah yang berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Manusia sendiri yang menghendaki apakah ia akan kafir atau mukmin dan hal itu yang menyebabkan manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. c. Jabariah yang merupakan pecahan dari Murji ah berteori bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam berkehendak dan berbuat. Semua tingkah laku manusia ditentukan dan dipaksa oleh Tuhan. d. Asy ariyah dan Maturidiyah yang pendapatnya berada di antara Qadariah dan Jabariah Semua aliran itu mewarnai kehidupan pemikiran ketuhanan dalam kalangan umat islam periode masa lalu. Pada prinsipnya aliran-aliran tersebut di atas tidak bertentangan dengan ajaran dasar Islam. Oleh karena itu umat Islam yang memilih aliran mana saja diantara aliran-aliran tersebut sebagai teologi mana yang dianutnya, tidak menyebabkan ia keluar dari islam. Menghadapi situasi dan perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, umat Islam perlu mengadakan koreksi ilmu berlandaskan al-Quran dan Sunnah Rasul, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu. Di antara aliran tersebut yang nampaknya lebih dapat menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan meningkatkan etos kerja adalah aliran Mu tazilah dan Qadariah. Tuhan Menurut Agama-agama Wahyu Pengkajian manusia tentang Tuhan, yang hanya didasarkan atas pengamatan dan pengalaman serta pemikiran manusia, tidak akan pernah benar. Sebab Tuhan merupakan sesuatu yang ghaib, sehingga informasi tentang Tuhan yang hanya berasal dari manusia biarpun dinyatakan sebagai hasil renungan maupun pemikiran rasional, tidak akan benar.

Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap Tuhan antara lain tertera dalam: 1. QS 21 (Al-Anbiya): 92, Sesungguhnya agama yang diturunkan Allah adalah satu, yaitu agama Tauhid. Oleh karena itu seharusnya manusia menganut satu agama, tetapi mereka telah berpecah belah. Mereka akan kembali kepada Allah dan Allah akan menghakimi mereka. Ayat tersebut di atas memberi petunjuk kepada manusia bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan konsep tentang ajaran ketuhanan sejak zaman dahulu hingga sekarang. Melalui Rasul-rasul-Nya, Allah memperkenalkan dirinya melalui ajaran-Nya, yang dibawa para Rasul, Adam sebagai Rasul pertama dan Muhammad sebagai terakhir. Jika terjadi perbedaan-perbedaan ajaran tentang ketuhanan di antara agama-agama adalah karena perbuatan manusia. Ajaran yang tidak sama dengan konsep ajaran aslinya, merupakan manipulasi dan kebohongan manusia yang teramat besar. 2. QS 5 (Al-Maidah):72, Al-Masih berkata: Hai Bani Israil sembahlah Allah Tuhaku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti mengharamkan kepadanya syurga, dan tempat mereka adalah neraka. 3. QS 112 (Al-Ikhlas): 1-4, Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Dari ungkapan ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Tuhan adalah Allah. Kata Allah adalah nama isim jumid atau personal name. Merupakan suatu pendapat yang keliru, jika nama Allah diterjemahkan dengan kata Tuhan , karena dianggap sebagai isim musytaq. Tuhan yang haq dalam konsep al-Quran adalah Allah. Hal ini dinyatakan antara lain dalam surat Ali Imran ayat 62, surat Shad 35 dan 65, surat Muhammad ayat 19. Dalam al-quran diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan yang diberikan kepada Nabi sebelum Muhammad adalah Tuhan Allah juga. Perhatikan antara lain surat Hud ayat 84 dan surat al-Maidah ayat 72. Tuhan Allah adalah esa sebagaimana dinyatakan dalam surat al-Ankabut ayat 46, Thaha ayat 98, dan Shad ayat 4. Dengan mengemukakan alasan-alasan tersebut di atas, maka menurut informasi al-Quran, sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan adalah sebutan Allah , dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui wahyu yang datang dari Allah. Hal ini berarti konsep tauhid telah ada sejak datangnya Rasul Adam di muka bumi. Esa menurut al-Quran adalah esa yang sebenar-benarnya esa, yang tidak berasal dari bagian-bagiandan tidak pula dapat dibagi menjadi bagian-bagian. Keesaan Allah adalah mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau disejajarkan dengan yang lain. Sebagai umat Islam, yang mengikrarkan kalimat syahadat La ilaaha illa Allah harus menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan dan ucapannya. Konsepsi kalimat La ilaaha illa Allah yang bersumber dari al-quran memberi petunjuk bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari Tuhan yang lain selain Allah dan hal itu akan kelihatan dalam sikap dan praktik menjalani kehidupan.

2. Uraikan beberapa dalil atau cara pembuktian eksistensi Tuhan? Untuk membuktikan keberadaan Allah swt, paling tidak digunakan tiga dalil (bukti) yang bisa mendukung dan menguatkan bahwa Allah swt itu ada. Dalil itu adalah dalil Naqli, Aqli dan Fitrah. Ini juga sebagaimana penegasan Allah di dalam al-Qur an sendiri:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS. Fushilat (41): 53) 1. Dalil Fitrah

Manusia sejak masih berada dalam alam ruh (arwah) telah ditanamkan benih iman, kepercayaan dan penyaksian (syahadah) terhadap keberadaan Allah swt. Dalam QS al-A raf (7): 172 Allah menegaskan:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orangorang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (QS al-A raf: 172) Benih keyakinan terhadap eksistensi Allah merupakan fitrah atau sesuatu yang bersifat kodrati. Dan karena bertuhan itu merupakan fitrah manusia, maka tepatlah kiranya kalau Mircea Eliade mensifatinya sebagai homo religious atau naturalier religiosa. Fitrah inilah yang menjadi daya pendorong pertama untuk mengenal dan mendapatkan Allah swt. Adapun yang dimaksud dengan fitrah Allah adalah ciptaan Allah. Allah menciptakan manusia disertai dengan berbagai macam naluri, termasuk di dalamnya naluri bertuhan, naluri beragama, yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid karena pengaruh lingkungan (Depag RI, al-Quran dan terjemahnya: 645). Ali Issa Othman menjelaskan bahwa arti fitrah tidak lain adalah inti dari sifat alami manusia, yang secara alami pula ingin mengetahui dan mengenal Allah swt (Ali Issa Othman, Manusia Menurut al-Ghazali: 28). Sementara Yasien Muhammad menerangkan bahwa, karena fitrah allah dimasukan dalam jiwa manusia maka manusia terlahir dalam keadaan dimana tauhid menyatu dengan fitrah. Karena tauhid menyatu dengan fitrah manusia maka para nabi datang untuk mengingatkan manusia pada fitrahnya dan untuk membimbingnya kepada tauhid yang menyatu dengan sifat dasarnya (Yasien Muhammad: 21). Ali bin Abi Thalib ra menyatakan bahwa para nabiyullah diutus untuk mengingatkan manusia kepada perjanjian yang telah diikat oleh fitrah mereka, yang kelak mereka akan dituntut untuk memenuhi perjanjian tersebut. Perjanjian itu tidak tercatat di atas kertas, tidak pula diucapkan oleh lidah, melainkan terukir dengan pena allah dipermukaan kalbu dan lubuk fitrah manusia, di atas permukaan hati nurani serta di kedalaman perasaan batiniah.

Fitrah bertuhan inilah yang oleh Danah Zohar dan Ian Marshall dinamakan God Spot atau titik Tuhan (Danah Zohar & Ian Marshall, SQ: Spiritual Intelegence The Ultimate Intelegence, 2000: 79). Fitrah ini gejalanya secara universal dapat diamati cukup signifikan di sepanjang sejarah perjalanan hidup manusia. Dan fitrah bertuhan ini akan semakin bertambah jelas bila dikaji lewat kajian filsafat, suatu kajian yang didasarkan pada pemikiran yang kritis, radikal, koheren, spekulatif, rasional lagi konprehensif untuk mendapatkan apa yang disebut hakekat.

2. Dalil Aqli Fitrah bertuhan dalam arti keinginan untuk mengetahui dan mengenal Allah, yang kemudian didukung oleh akal fikiran yang kritis dan radikal akan melahirkan kegairahan yang luar biasa untuk menatap dan menguak ayat-ayat Allah yang tergelar dalam jagad raya. (QS Fushilat (41): 53, alGhasyiah (88): 17-22, al-Waqi ah (56): 63-65, 68-72, al-Mulk (67): 30, al-Anbiya (21): 30-33). Renungan manusia dengan menggunakan akal fikiran yang kritis disertai dengan pengamatan intuisi yang halus dan tajam pasti akan membuahkan hasil semakin bertambah kuat keyakinannya (belief) bahwa sesunggunya jagat raya beserta seluruh isinya ini adalah makhluk Allah, yang diciptakan oleh sang Maha Pencipta dengan penuh perencanaan dan bertujuan (QS al-Mukminun (23): 115 dan Ali Imron (3): 191). Mengikuti apa yang diperintahkan Allah dalam QS Muhammad (47): 19 agar menggunakan segala potensi yang dimilikinya untuk membaca ayat-ayat Allah yang berupa ayat kauniyah guna memperoleh belief , keyakinan yang sudah tertanam dalam lubuk hati manusia, para filosof mengemukakan ada enam argumentasi pembuktian terhadap eksistensi Allah, yaitu:

a. Dalil Kosmologis Dalil kosmologis adalah suatu pembuktian yang berhubungan dengan ide tentang kausalitas, sebab musabab (causality). Plato dalam bukunya Timaeus mengatakan bahwa tiap-tiap benda yang terjadi pasti dikarenakan dan didahului oleh suatu sebab. Kalau ada dua batang pohon yang berdiri berdampingan , dan salah satunya ada yang mati,orang akan beranggapan bahwa tentu ada sebab-sebab yang mengakibatkan adanya kejadian yang berlainan. Pohon yang mati pasti disebabkan oleh adanya penyakit, dan penyakit itu sendiri juga mempunyai sebab, dan begitulah seterusnya. Theo Huibers menyatakan bahwa tidak mungkin adanya suatu rangkaian sebab yang tak terhingga, oleh karena jika demikian halnya, memang tidak terdapat sebab yang pertama. Jika tidak terdapat sebab yang pertama, maka sebab yang kedua tidak terdapat juga, oleh karena seluruhnya tergantung dari sebab yang pertama. Jika tidak terdapat sebab yang kedua, maka tidak terdapat sebab yang ketiga, dan seterusnya, sehingga akhirnya harus dikatakan : tidak terdapat sebab yang pertama sama sekali. Dan ucapan ini memang salah (Theo Huibers, II: 84) Jadi benda-benda yang terbatas (finite) rangkaian sebab-musabab akan berjalan secara terus menerus. Akan tetapi dalam logika rangkaian yang terus menerus seperti itu mustahil. Jadi dibelakang sebab-sebab yang merupakan rangkaian yang sangat komplek tentu ada sebab yang pertama, yang tidak disebabkan oleh sebab lain. Sebab yang pertama inilah yang dinamakan Tuhan. (M Rasyidi, Filsafat Agama, 1970: 54-55). Bandingkan dengan firman Allah dalam QS. At-Thur (52): 35, al-Waqiah (56): 58-59, 64-65, 68-69, dan 71-72, An-Nahl (16): 70-75, ar-rum (30): 20-25.

b. Dalil Ontologis

Argumen ontologis adalah pembuktian akan keberadaan Tuhan didasarkan pada hakekat yang ada. Argumen ini dipelopori oleh Plato (428-348 SM) dengan teori idenya, St. Agustinus (354-430 M), alFarabi (872-950), St. Anselm (1033-1109). Menurut Anselm, manusia dapat memikirkan sesuatu yang kebesaranya tidak dapat melebihi dan diatasi oleh segala yang ada, konsep sesuatu yang maha besar, maha sempurna, sesuatu yang tidak terbatas. Zat yang serupa ini mesti mempunyai wujud dalamj hakekat, sebab kalau tidak memiliki wujud dalam hakekat dan hanya mempunyai wujud dalam fikiran, zat itu tidak mempunyai sifat yang lebih besar dan sempurna dari pada mempunyai wujud. Mempunyai wujud dalam alam hakekat lebih besar dan sempurna dari pada mempunyai wujud dalam alam fikiran saja. Sesuatu yang maha besar dan maha sempurna itu ialah Tuhan dan karena sesuatu yang terbesar dan paling sempurna tidak boleh tidak pasti mesti mempunyai wujud, maka Tuhan mesti mempunyai wujud. Dengan demikian, Tuhan pasti ada.

c. Dalil Teleologis Dalil teleologis yaitu pembuktian tentang adanya Tuhan dengan berpedoman pada konsep keterpolaan (desain) di dalam alam semesta yang membutuhkan desainer . William Paley menyatakan bahwa di dalam dunia yang konkrit kita melihat kompleksnya unsure-unsur dunia ini, akan tetapi terlihat sangat teratur sekali. Alam semesta menunjukan bentuk keteraturan itu, dimana planet-planet yang bertaburan namun tidak saling berbenturan satu sama lainya. Hal ini menunjukan adanya kekuatan maha Dahsyat yang menciptakan dan mengendalikannya. Alam semesta merupakan karya seni terbesar yang menunjukan adanya A Greater Intellegent Desaigner , yaitu Tuhan. Tegasnya langit menceritakan kemulian Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya . Perhatikan firman Allah dalam QS as-Shaffat (37): 6 dan Qaf (50): 6.

d.Dalil Fenomenologis Dalil fenomenologis yaitu pembuktian tentang keberadaan Tuhan dengan mengacu pada rahasiarahasia fenomena yang terjadi di alam semesta. Fenomena yang terjadi di alam semesta ini dari makhluk yang terkecil sampai alam yang membentang luas, semuanya menyngkapkan rahasia akan keberadaan Tuhan. Argumen ini dikemukakan oleh Sa id Hawwa dalam bukunya Allah Jalla wa Jalaluhu. 1) Fenomena terjadinya Alam. Setiap sesuatu yang ada pasti ada yang mengadakan, begitu alam semesta ini, tentu ada yang menciptakan. Lihatlah gunung hijau yang kokoh bediri, aliran sungai yang kesemuanya bermuara ke laut, langit yang tegak tanpa tiang, planet beredar penuh keteraturan, mungkinkah kesemunya ada dengan sendirinya? Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi itu . (QS at-Thur: 35-36)

2) Fenomena Kehendak yang tinggi. Jika saja presentase oksigen 5% lebih dari udara, bukan 21 %, maka semua materi yang bisa terbakar yang ada di bumi ini, segera saja terbakar. Karena andaikan bunga api pertama yang ada pada kilat itu menimpa pohon niscaya segera menghapus seluruh hutan. Andaikan persentase oksigen 10%, sulit untuk dibayangkan peradaban manusia bisa seperti ini. Apakah persentase oksigen suatu kebetulan? Renungkanlah, siapa yang mengatur dan memformulasaikan agar kadar oksigen di udara 21 % sehingga ada kehidupan di bumi ini. Bukankah hal ini menunjukan adanya kehendak yang agung yang bersumber dar Zat Mahapintar dan Maha bijaksana, bahwa dia berkehnadak menentukan segala sesuatu sebagai ketetapan yang terbaik.(QS Ali Imron (3): 190).

3) Fenomena Kehidupan. Kehidupan berbagai makhluk di atas bumi ini menunjukan bahwa ada Zat yang menciptakan, membentuk, menentukan rizkinya dan meniup ruh kehidupan pada dirinya (QS Al-Ankabut: 20, Al-anbiya: 30). Bagaimanapun pintarnya manusia, ia tak akan sanggup menciptakan seekor lalat pun (QS al-hajj: 73-74). 4) Fenomen Petunjuk dan Ilham. Hal apakah yang mendorong seekor ayam betina membolak-balikan telur yang sedang dieraminya, agar anak-anak ayam yang sedang mengalami proses di dalam telur tidak mengalami pengendapan? Dengan cara itulah generasi ayam tetap lestari sampai saat ini. Siapa yang mengajarinya untuk melakukan hal itu? Bukankah di sana ada hidayah yang sempurna untuk mempertahankan kelangsungan jenis dari Zat Yang Maha Mengetahui ciptaan-Nya. Musa berkata: tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadianya, kemudian memberinya petunjuk . (QS Thaha: 50).

5) Fenomena Hikmah. Mengapa bibir-bibir unta terbelah? Banyak hikmah di balik ini, di antaranya adalah untuk membantunya memakan tumbuh-tumbuhan padang pasir yang berduri dan keras. Kakinya pun sesuai dengan daerah berpasir, sehingga ia tak mengalami kesulitan. Bulu matanya yang panjang bagaikan jaring, bisa melindungi kedua matanya dari debu-debu yang bertebaran. Ponggoknya berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan karena harus mengarungi padang pasir. Berjuta penciptaan segala sesuatu di bumi ini menunjukan adanya Allah Yang Maha hikmah. Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya? (QS Yusuf: 105) 6) Fenomena Pengabulan Do a. Manusia yang penuh kelemahan akan menemui saat-saat di mana ia tidak mungkin bergantung pada siapa pun kecuali Allah. Baik muslim mapun kafir, ketika menghadapi hal-hal yang membahayakan, pasti akan berdoa. Saat doa dikabulkan, adalah saat seharusnya manusia merenung tentang siapa yang mendengar doa dan mengabulkanya (QS. (17): 67, (10): 22-23)

e. Dalil Historis Dalil histories (sejarah) adalah pembuktian tentang keberadaan Tuhan dengan berpegang pada sejarah perjalanan hidup manusia dari dahulu hingga sampai saat ini yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan keagamaan. Hubungan manusia dengan Tuhan dapat dilihat dari kehidupan keberagamaan yang paling sederhana hingga kehidupan keberagamaan yang paling komplek sekalipun, walaupun dalam perjalanannya banyak terjadi penyimpangan, ini membuktikan bahwa peran Tuhan dalam kehidupan manusia sangat dominan. Penelusuran tentang sejarah pengembaraan manusia dalam pencarianya menggapai Tuhan, dapat ditemukan dalam bukunya Karen Amstrong A History Of God: 4000 Year Quest of Judaism, Christianity, and Islam (Sejarah Tuhan: 4000 Tahun Pengembaraan Manusia Menuju Tuhan).

f. Dalil Moral Dalil moral yaitu pembuktian adanya Tuhan dengan berpegang pada pengandaian adanya hukum moral umum yang memperlihatkan adanya Penjamin Moral (Law Giver). J.H. Newman menyatakan bahwa adanya kesadaran manusia untuk melakukan perbuatan yang utama semata-mata didorong oleh suara hati (kata hati, hati nurani, hati kecil, insane kamil), atau menurut istilah Immanuel Kant disebutnya kategoris imperatif . Tiap-tiap orang pasti mengalami pada dirinya sendiri, bahwa terdapat perbuatan-perbuatan yang tidak diperbolehkan. Berkat suara hati manusia merasa sungguh-sungguh bertanggung jawab atas tindakanya, dan lagi pula mempunyai kesadaran bahwa ia tidak boleh bertindak melawan keyakinan moralnya. Menurut Newman, dalam hati senantiasa terdengar suara Allah secara eksistensial, yang tak masuk akal adanya perintah moril ini, kalau tidak

terdapat Hakim yang Tertinggi, yang mengesahkan perintah moral tersebut (Huijbers: 97-98). Inilah alasanya mengapa suara batin rakyat disebutnya sebagai suara Tuhan, Vox Populi Vox Dei . Bandingkan dengan firman Allah QS as-Syams (91): 8.

3. Dalil Naqli, Dalil naqli adalah dalil pembuktian akan keberadaan dengan merujuk petunjuk kitab suci. Dengan fitrah, manusia bisa mengakui adanya Tuhan, dan dengan akal pikiran bisa membuktikannya, namun manusia tetap memerlukan dalil naqli (al-Qur an dan as-Sunnah) untuk membimbing manusia mengenal Tuhan yang sebenarnya dengan segala asma dan sifat-Nya. Sebab fitrah dan akal tidak bisa menjelaskan siapa Tuhan sebenarnya itu. Cukup banyak pembahasan tentang Allah swt di dalam al-Qur an dan as-Sunnah, hanya saja di sini dikemukakan beberapa point penting saja, yaitu: a. Allah adalah al-Awwal, yaitu tidak ada permulaan bagi wujud-Nya dan juga al-Akhir, yaitu tidak ada akhir dari wujud-Nya. ` Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS al-Hadid [57]: 3) ` ` Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS ar-Rahman [55]: 26-27)

b. Tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya. ` Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS as-Syura [42]: 11) c. Allah swt adalah Maha Esa. ` ` ` ` Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (QS al-Ikhlas [112]: 1-4) Selain ayat di atas, di dalam al-Qur an dinyatakan dalam banyak ayat antara lain: QS al-baqarah [2]: 133, 163, An-Nisa [4]: 171, al-Maidah [5]: 73, al-An am [6]: 19, al-A raf [7]: 70, at-Taubah [9]: 31, Yusuf [12]: 39, ar-Ra d [13]: 16, Ibrahim [14]: 48, 52, An-nahl [16]: 22, 51, Al-Isra [17]: 46, al-Kahfi [18]: 110, al-Anbiya [25]: 108, al-hajj [22]: 34, al-Ankabut [29]: 46, as-Shaffat [37]: 4, shad [38]: 5, 65, az-Zumar [39]: 4, 45, Ghafir [40]: 12, 16, 84, Fushilat [41]: 6, al-Mumtahanah [60]: 4, al-Ikhlas [114]: 1. d. Allah mempunyai al-Asma wa shiffat (nama-nama dan sifat-safat) yang disebutkan untuk diri-Nya di dalam al-Qur an serta semua nama dan sifat yang dituturkan untuk-Nya oleh rasulullah saw dalam sunnahnya. ` Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-

nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS alA raf [7]: 180). 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tauhid, menurut bahasa dan istilah? Secara bahasa: Tauhid merupakan masdar/kata benda dari kata wahhada yuwahhidu, yang artinya menunggalkan sesuatu. Secara istilah syar i: Mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah dan asma wa shifat

4. Jelaskan pembagian tauhid berikut ini: a. Tauhid teoritis yang terbagi menjadi (1) tauhid rububiyah; (2) tauhid uluhiyah dan (3) tauhid sifat dan asma. 1. Tauhid Rububiyah Maknanya adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta ala (beriman bahwa Ia adalah Dzat Yang Esa) dalam perbuatan-perbuatan-Nya (penciptaan, perintah, pemberian rizki, pengatur urusan atas hamba-hamba-Nya) dengan kehendak-Nya, berdasarkan ilmu dan kekuasaan-Nya. Dan sungguh, jika Kamu bertanya hepada mereka, Siapakah yang menciptakan mereka , niscaya mereka menjawab, Allah . (Az-Zukhruf: 87) 2. Tauhid Uluhiyah ialah mengimani bahwa Allah, Dialah yang berhak untuk disembah dengan haq, tidak ada sekutu bagiNya dalam hal tersebut. Tidak ada yang pantas disembah dengan haq kecuali Allah. Maka, segala bentuk ibadah seperti shalat, puasa dan yang lainnya, wajib dilaksanakan hanya untuk Allah semata. Tidak boleh ada satu bentuk ibadah pun yang ditujukan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta ala. Hanya Kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan. (Al-Fatihah: 5) 3. Tauhid Asma wa Shifat ialah mengimani semua apa yang disebutkan dalam Al-Qur anul Karim dan Hadits-hadits shahih tentang nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Lalu menetapkan itu semua untuk Allah tanpa mengubah (tahrif), tanpa meniadakan (ta thil), tanpa menanyakan bagaimana caranya (takyif), dan tanpa penyerupaan (tamstil), sesuai firman Allah: Katakan, Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah tempat bergan-tung. Tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada yang sebanding denganNya seorang pun. (Al-Ikhlas: 1-4). Tidak ada yang seperti Dia sesuatu pun dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy-Syura: 11).

b. Tauhid praktis yakni tauhid ibadah. Setelah kita membahas mengenai makna dari tauhid praktis, termasuk memperh atik an keluasan dan keragamannya terhadap p erila ku-perilak u internald a n e k s t e r n a l m a n u s i a , d a n a k a n t e r l i h a t d e n g a n j e l a s b a h w a t a u h i d p r a k t i s memiliki wila yah yang cukup luas. Walaupun d emikian adanya, b iasa nya dala mpembahasan kalam dan teologi, hanya mencukupkan membahas hal-hal yang paling penting saja berkenaan dengan tauhid praktis. Ya ng paling penting da n funda mental dalam tau hid pr ak tis adalah tauhid dalamibadah. Apabila bagian-bagian tauhid teoritis kita letakkan dalam wilayah mo noteism e, mak a tauhid ibad ah adalah mo noteisme itu send iri.

Men yembahs ebuah eks i stens i Yan g Maha Esa di man a hanya Dia l ah yang l a y a k d i s e m b a h Adalah bukan sesuatu yang berlebihan jika dikatakan bahwa tujuan akhir para Nabiadalah tauhid dalam ibadah, monoteisme atau menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini seba gaimana firman Alla h Swt, Dan sesungguhnya Kami telah mengu tusr a s u l p a d a t i a p - t i a p u m a t ( u n t u k m e n y e r u k a n ) , S e m b a h l a h A l l a h ( s a j a ) , d a n jauhilah taghut. (Qs. An-nahl: 36) Dengan memperhatikan kecendrungan fitrah manusia untuk menyembah eksistensi yang lebih mulia da n sempu rn a, maka salah satu tujuan yang paling pentin g danmerupakan rencana agung agama Ilahi adalah menggiring manusia dalammend apa tka n tempat bergan tung yang ha kiki dan menemukan suatu eksistensiyang layak disembah, dan juga mencegah manusia pada sesuatu dapat menjauhkandirin ya da ri suatu hakik at sejati a tau yang dapa t mengo tori k ecendrungan tauhid dari fitrah sucinya.T a u h i d a d a l a h m e n g i t i k a d k a n b a h w a A l l a h i t u E s a , t i d a k a d a s e k u t u b a g i - N y a . Tauhid mencakup sikap, yaitu : 1. Tauhid Dzat Yang dimaksud dengan zat adalah mengetahui bahwa Allah adalah Esa dalam zat-N y a . D i a adal ah Wujud Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan dat t i d a k bergan tung k epa da apapu n d an sia pa pu n. Seperti ditegaskan dalam Fa tir/35: 15: Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah, Dialah yang Maha Kaya(Tidak memerlukan sesuatu ) lagi Maha Terpuji. Dia adalah zat Tunggal. Diala hPencipta dan Sumber segala sesuatu dan segala sesuatu akan kembali pula kepada-N y a . D i a l a h R e a l i t a s y a n g m e n o l a k d u a l i t a s d a n p l u r a l i t a s d a n t i d a k a d a y a n g menyerupai-Nya. 2. Tauhid sifat Ta uhid sifat bera rti mengetah ui bahwa zat-Nya a dal ah sifa t-sifat-Nya itu sendiri.Artinya berbagai sifat-Nya tidak terpisah satu sama lain. Dengan demikian, tauhidsifat adalah menafikan adanya pluralitas atau kemajemukan pada zat itu sendiri. 3. Tauhid perbuatan Tauhid perbuatan adalah meyakini bahwa alam raya dan segala sistemnyam erupakan p erbuatan da n karya -Nya, timbul dari kehendakn ya. Oleh ka ren a itu,segala yang ada pada alam raya ini pada hakekatnya tidak mandiri dan semuanyatergantung pada-Nya sebagai sebab pertama. 4. Tauhid ibadah Ta uhid ibadah adalah ketaa tan han ya ditujuk an kepada Allah semata. Hidup da n mati, setiap gerak dan diam atau semua aktifitas hanya ditujukan kepada Allah.Uraian tentang tauhid teoritis dan praktis akan lebih jelas dan rinci, jika kita uraikanbagaimana Allah memperkenalkan diriNya kepada manusia, seperti yang dipahamidari Al-Qur an? Tampaknya dalam Al-Qur an dapat dipahami bahwa yang pertama-tama Allah perkenalkan kepada manusia adalah perbuatan dan sifatNya. Kata yangperta ma ia gunakan un tuk memperkenalkan dirinya a dalah ka ta Rabb bu ka n kataAllah

c. Jelaskan hubungan teoritis (tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma dan sifat) dengan tauhid praktis seperti yang tergambar dalam struktur kalimat azan (falsafah kalimat azan). d. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tauhid zat, tauhid perbuatan dan asma dan sifat? 1) Tauhid Zat Yaitu bahwa zat Allah itu esa. Tidak ada yang serupa dengan-Nya. Tidak ada tandingan dan tidak ada yang menyamai-Nya. 2) Tauhid Sifat Yaitu bahwa sifat-sifat seperti ilmu, kuasa, keabadian dan sebagainya menyatu dalam zat-Nya, bahkan adalah zat-Nya sendiri. Sifat-sifat itu tidak sama dengan sifat-sifat makhluk, yang masingmasing berdiri sendiri dan terpisah dari yang lainnya. Hanya saja, untuk menyelami hakikat kesatuan zat dan sifat-sifat-Nya ini menuntut kejelian dan kedalaman berpikir. 3) Tauhid Af'al atau Perbuatan Yaitu bahwa segala perbuatan, gerak, dan wujud apapun pada alam semesta ini bersumber dari keinginan dan kehendak-Nya. Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu (Q. S. al-Zumar: 62) Dia memiliki kunci-kunci langit dan bumi (Q. S. al-syura: 12) Memang, tidak ada yang menentukan dalam wujud, alam semesta ini, kecuali Allah. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa manusia terpaksa dalam perbuatan-perbuatannya, diterminisme. Sama sekali tidak. Manusia justeru bebas memilih dan mengambil keputusan-keputusan. Sesungguhnya Kami telah memberikan petunjuk kepada manusia. Ada yang bersyukur dan ada pula yang ingkar. (Q. S. al-Insan: 30) Sesungguhnya manusia tidak mendapatkan apa-apa kecuali apa yang telah diusahakannya." (Q. S. alNajm : 35) Kedua ayat di atas dengan tegas menjelaskan bahwa manusia bebas dalam kehendaknya, free will. Akan tetapi karena kebebasan dan kemampuan manusia untuk mengerjakan sesuatu datangnya dari Allah, maka perbuatan-perbuatan manusia disandarkan kepada Allah, namun tanpa sedikitpnu mengurangi tanggungjawab manusia terhadapnya. Memang Tuhan yang telah menghendaki manusia bebas dalam perbuatan-perbuatannya, karena Ia ingin menguji dan membawa manusia ke jalan kesempurnaan. Sebab manusia tidak akan mencapai kesempurnaan kecuali dengan kebebasan berkehendak, free will, dan mengikuti jalan kebenaran melalui pilihannya sendiri; itu karena perbuatan yang dipaksakan dan diluar kemauan seseorang tidak menggambarkan apakah ia baik atau buruk.

Jika manusia terpaksa dalam perbuatan-perbuatannya, maka tidak ada artinya pengutusan para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, ajaran agama, pengajaran, pendidikan, dan sebagainya. Demikian pula tidak ada artinya pahala dan azab Tuhan. Inilah yang diajarkan madrasah Ahlubait bahwa tidak jabr, mutlak terpaksa, dan tidak pula tafwidh, bebas mutlak, tapi di antara keduanya. 4) Tauhid Ibadah Yaitu bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah swt semata dan tidak ada yang patut disembah kecuali Allah swt. Sub Tauhid Ibadah ini adalah sub tauhid yang paling utama dan yang paling mendapat perhatian para nabi. Sesungguhnya mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah, semata-mata taat kepada-Nya, hanif, lurus dan bersih, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus. (Q. S. al-Bayyinah: 5) Dalam pada itu, tauhid seseorang akan semakin dalam jika ia menempuh tahapan-tahapan perjalanan kesempurnaan akhlak dan irfan sehingga akan mencapai suatu kedudukan atau maqam, dimana hatinya hanya terpaut pada Allah swt, selalu mencari-Nya kapan dan dimana pun, tidak memikirkan apa-apa kecuali Dia, dan selalu sibuk dengan-Nya Dalam hal ini tauhid tidak hanya terbatas pada empat macam yang kami sebutkan di atas, tapi masih ada yang lainnya, seperti tauhid kepemilikan, tauhid milkiyyah, Apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah.( Q. S. al-Baqarah: 284) 5) tauhid keputusan, tauhid hakimiyyah, Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara dengan apa yang telah diturunkan Allah maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir. (S. Q. al-Maidah: 44)

5. Uraikan implementasi tauhid dalam kehidupan anda (sesuai dengan pengalaman anda). Kenapa kita diperintahkan untuk selalu meng esakan Allah, dengan mengatakan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah . Perkataan ini menegaskan dan mempertanyakan kembali komitmen hamba untuk mengikuti perintahnya dan menerima pesan-pesan yang Allah beriikan kepadanya untuk hidup dengannya.Kesaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah juga menunjukkan sebagai rasa bagaimana kisa sebagai sesama mu min untuk saling menyayangi. Inilah yang sebenarnya tujuan kita bertauhid kepada ke-esaan Allah Swt. Contoh : Hari Raya Kurban akan kembali menghampiri kita. Setiap tahun (barangkali) kita menunaikan ibadah kurban, menyembelih seekor domba, sapi, atau unta. Daging-dagingnya kita sebarkan untuk bisa dirasakan oleh fakir miskin. Aktivitas seperti ini rutin terjadi dalam siklus hidup kita. Bahkan, mungkin, telah menjadi rutinitas! Seperti mesin, rutinitas adalah proses yang berulang-ulang.

Memang banyak ibadah mengharuskan dilakukan secara rutin. Shalat misalnya, sehari kita lakukan lima kali. Puasa Ramadhan kita lakukan satu bulan dalam setiap tahun. Persoalannya adalah, apakah ibadah-ibadah seperti itu bisa dilakukan sekedar sebagai rutinitas; sesuatu yang mekanis? Pertanyaan seperti ini penting kita kemukakan saat-saat kita sedang diliputi suasana kurban. Sebab jika kita tengok sejarahnya, ternyata kurban membawa muatan makna yang cukup dalam, jauh dari sekedar sebuah simbol penyembelihan dan pembagian daging kurban. Adalah nabiyullah Ibrahim dan Ismail yang telah mendemontrasikan betapa ibadah kurban adalah pertaruhan antara tauhid dan syirik. Pertarungan antara Allah dan selain Allah. Dan mereka lulus dalam ujian pertaruhan ini. Bahwa Ibrahim dan Ismail lebih mementingkan Allah telah dibuktikan dengan kesanggupan mereka untuk menyembelih dan disembelih, karena memang itu perintah Allah. Kecintaan Ibrahim kepada anaknya tetap diletakkan di bawah kecintaannya kepada Allah. Ibrahim memang cinta, dan bahkan sangat cinta, kepada putranya, Ismail. Akan tetapi perintah Allah lebih dari segala kecintaan duniawi. Inilah implementasi tauhid yang benar. Bahwa tauhid bukan sekedar basa-basi percaya akan keesaan Allah. Tauhid bukan sekedar penolakan secara lisan terhadap tuhan-tuhan dan penunggalan Allah. Tauhid adalah jiwa kehidupan. Tauhid menuntut pendemonstrasian sikap secara nyata dalam kehidupan seharihari. Sebagai bapak monotheisme , Ibrahim sangat paham terhadap sikap-sikap tauhid yang harus dilakukan. Dia sangat paham bahwa jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istriistri kamu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya (AtTaubah/9:24). Bercermin dari sejarah kurban Ibrahim, maka ibadah kurban yang kita lakukan mestinya kita jadikan ajang pengasahan sikap tauhid.

6. Uraikan kandungan ayat-ayat dalam surah al-ikhlas (surah ke 112 dalam al-Quran). Surah Al-Ikhlas yang menggambarkan aqidah umat Islam tentang Tauhid mengisyaratkan kepada kedua-dua bahagian tersebut : Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahad/Tiada sesuatu yang setara bagiNya merujuk kepada bahagian pertama Tauhid. Qul Huwallahu Ahad/Katakanlah Dia lah Allah yang Maha Esa merujuk kepada bahagian kedua Tauhid. Soalan : Berhadapan dengan Tauhid Zat adalah Syirik berkenaan dengan Zat.Cuba anda terangkan aqidah yang syirik berkenaan dengan zat Tuhan dalam kedua-dua konteks tadi.Wassalam dan Solawat. Petua : Zikir ''Al-Barru'' 202 kali setelah salah satu dari solat-solat wajib untuk bebas dari kesakitan,kepayahan dan mendapat taufik amal soleh. Diantara Keutamaan Surat Al-Ikhlas: Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Demi Dzat Yang jiwaku ada

ditanganNya, sesungguhnya dia (surat Al-Ikhlas) sebanding sepertiga Al-Qur?an. (HR. Bukhari dll). Dikatakan sebanding dengan sepertiga Al-Quran karena kandungan Al-Quran ada tiga macam: Tauhid, kisah-kisah dan hukum-hukum. Dan dalam surat ini terkandung sifat-sifat Allah yang merupakan tauhid sehingga surat ini sebanding atau sama dengan sepertiga Al-Quran. Dinamakan surat Al-Ikhlash karena dan dikarenakan-didalamnya terkandung keikhlasan (tauhid) kepada Allah membebaskan pembacanya dari syirik (menyekutukan Allah ).

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tauhid Uluhiyyah dan Larangan Menyekutukan Allah Ta?ala: Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, (1) Katakanlah -wahai Muhammad Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam:?Dia-lah Allah Yang Maha Esa dalam uluhiyyah (ketuhanan) Yang tiada satupun bersekutu denganNya di dalamnya. Kita Butuh Allah Ta?ala Sedangkan Allah Tidak Membutuhkan Kita: Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. (2) Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata: Ash-Shomad adalah yang bergantung kepadaNya semua makhluk untuk mendapatkan hajat-hajat dan permintaan-permintaan mereka. Beliau berkata pula tentang makna Ash-Shomad : Dia adalah As-Sayyid (Maha Pemimpin) Yang Maha sempurna dalam kepemimpinanNya, Asy-Syariif (Maha Mulia) Yang Maha sempurna dalam kemuliaanNya, Al-Adhiim (Maha Agung) Yang Maha sempurna dalam keagunganNya, Al-Haliim (Maha Penyantun) Yang Maha sempurna dalam kesantunanNya, Al-Aliim (Maha Mengetahui) Yang Maha sempurna dalam pengetahuanNya dan Al-Hakiim (Maha Bijaksana) Yang Maha sempurna dalam kebijaksaanNya. Dialah Yang Maha Sempurna dalam kemuliaan dan kepemimpinan dan Dia adalah Allah, inilah sifatNya yang tidak sepatutnya kecuali untuk Dia. Tidak ada yang setara denganNya dan tidak ada pula sesuatu yang seperti Dia. Maha Suci Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan (musuh-musuhNya). Allah Ta?ala Tidak Mempunyai Anak dan Tidak Pula Mempunyai Bapak-Ibu: Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, (3) Firman Allah: Dia tidak beranak adalah merupakan bantahan terhadap tiga kelompok yang menyimpang lagi tersesat, yaitu: Orang-orang musyrik, yahudi dan nasrani. Orang-orang musyrik mengatakan bahwa malaikat adalah puteri-puteri Allah, orang-orang yahudi mengatakan bahwa ?Uzair anak Allah dan orang-orang nasrani mengatakan bahwa ?Isa adalah anak Allah. Allah membantah dan mendustakan mereka dengan firmanNya: Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Allah adalah Al-Awwal, yang sudah ada sebelum adanya segala sesuatu bagaimana mungkin Dia menjadi anak . Allah Ta?ala Tidak Beristeri dan Dia Maha Esa Dalam Segala-galanya: Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (4)

Dan tidak ada satupun yang setara dengan Dia dalam nama-nama dan sifat-sifatNya dan tidak pula dalam semua perbuatanNya, Dia Maha Berkah, Maha Suci lagi Maha Tinggi. Mujahid ?rahimahullah berkata: ?Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia?, yakni tidak ada isteri bagiNya. 7. Jelaskan apa yang dengan syirik menurut bahasa dan istilah? Menurut bahasa: Syirik adalah sebuah kata yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang terjadi antara dua orang atau lebih. Menurut istilah syar i: Syirik kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa maksudnya menjadikan sekutu bagi Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, baik dalam rububiyahnya ataupun uluhiyahnya, tetapi istilah syirik lebih sering digunakan untuk syirik dalam uluhiyahnya. 8. Jelaskan pembagian syirik berikut ini: a) Syirik zati; b) Syirik perbuatan dan c) syirik asma dan sifat? Syirik dibagi menjadi tiga bagian: 1. Syirik Akbar (Besar). 2. Syirik Ashghar (Kecil). 3. Syirik Khofi (Samar). SYIRIK AKBAR (BESAR) Syirik akbar akan menghapuskan pahala amal dan akan me-ngekalkan pelakunya di dalam Neraka. Seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta ala: Dan kalau mereka melakukan syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu), pasti akan gugur dari mereka (pahala) apa yang mereka lakukan. (An-An am: 88). Allah Subhanahu wa Ta ala berfirman: Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam Neraka. (At-Taubah: 17). Dan barangsiapa yang mati dalam keadaan melakukan syirik akbar, maka dia tidak akan diampuni, dan Surga diharamkan baginya. Allah Subhanahu wa Ta ala berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. (An-Nisa : 48). Di dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta ala juga berfirman: Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, dan tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun. (Al-Maidah: 72).

Yang termasuk syirik akbar, di antaranya adalah berdo a (meminta) kepada orang mati dan patung (berhala), mohon perlindungan kepada mereka, juga bernadzar dan berkorban (menyembelih binatang) untuk mereka dan lain sebagainya. SYIRIK ASHGHAR (KECIL) Syirik kecil ialah beberapa tindakan yang sudah jelas disebut-kan dalam nash-nash Al-Qur an dan Sunnah sebagai syirik, tetapi tidak termasuk jenis syirik besar. Contohnya adalah riya (ingin dilihat orang) dalam beramal, bersumpah tidak dengan nama Allah dan mengatakan (Sesuatu yang dikehen-daki oleh Allah dan dikehendaki oleh fulan) dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesuatu yang paling aku takuti terhadap kalian adalah syirik kecil. Lalu beliau ditanya syirik kecil itu. Beliau men-jawab: riya . (HR. Imam Ahmad, Ath-Thabrany, Al-Baihaqi dari Mahmud bin Labid AlAnshari radhiallahu anhu dengan sebuah sanad yang baik, dan diriwayatkan oleh Ath-Thabrany dengan beberapa sanad yang baik dari Mahmud bin Labid dari Rafi bin Khudaij dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda: Barangsiapa yang bersumpah dengan sesuatu -selain Allah- maka dia telah menyekutukan (Allah). (HR. Ahmad dengan sanad yang shahih). Hadits Umar bin Khaththab radhiallahu anhu dan diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi dengan sanad yang shahih dan hadits Ibnu Umar radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: Barangsiapa yang bersumpah dengan (menyebut nama) selain Allah, maka dia telah kafir atau syirik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian mengatakan: ( Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan ), tapi katakanlah: ( Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak si fulan ). (HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhi-allahu anhu). Syirik kecil ini tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam serta tidak memastikan kekalnya seseorang di dalam Neraka, tetapi menghilangkan kesempurnaan tauhid yang semestinya. Syirik KHOFI (Samar) Syirik khofi ini didasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang mana beliau bertanya kepada para sahabat: Bagaimana sekiranya aku beritahu kalian tentang sesuatu yang lebih aku takuti (terjadi) pada kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal? Mereka menjawab: Ya, wahai Rasulullah! Rasulullah bersabda: Syirik yang samar (contohnya), sese-orang berdiri lalu dia melakukan shalat maka dia perbagus shalatnya karena dia melihat ada orang lain yang memperhati-kan kepadanya. (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abi Said Al-Khudri radhiallahu anhu).

Bisa juga syirik itu dibagi menjadi dua bagian saja. Syirik besar dan syirik kecil. Adapun syirik khofi, bisa masuk dalam dua jenis syirik tadi. Bisa terjadi pada syirik besar, seperti syiriknya orang-orang munafik. Karena mereka itu menyembunyikan keyakinan sesat mereka dan berpura-pura masuk Islam dengan dasar riya dan khawatir akan keselamatan diri mereka. Bisa juga terjadi pada syirik kecil seperti yang disebutkan dalam hadits Mahmud bin Labid Al-Anshari yang terdahulu dan hadits Abu Said yang tersebut di atas.

9. Jelaskan karakteristik orang-orang musyrik? y Memandang indah kehidupan dunia, dan memandang hina kepada orang yang beriman

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia dari pada mereka di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. 2:212) y Suka menyebut-nyebut pemberian dengan menyakiti si penerima Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu denga menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir itu. (QS. 2:264) y Memakan riba

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS. 2:276) y Tidak taat kepada Allah dan Rasul-rasulNya

Katakanlah:"Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. 3:32) y Membuat tipu daya

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS. 3:54) y Menyuruh menganggap Nabi dan Malaikat sebagai Tuhan

Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam" (QS. 3:80) y Diliputi rasa ketakutan

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim". (QS. 3:151) y Menyangka pemberian tangguh atas siksa Allah adalah baik

Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS. 3:178) y Kikir

(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. (QS. 4:37) y Mendengar ayat Allah tetapi tidak mentaatinya (mungkin tidak mengerti)

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merobah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata:"Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya". Dan (mereka mengatakan pula):"Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan):"Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan:"Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS. 4:46) y Orang beriman berjuang di jalan Allah, orang kafir berjuang di jalan thagut (duniawi, selain dari Allah) Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. 4:76) 10. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah-istilah berikut ini: a. Iman menurut bahasa dan istilah; rukun-rukun iman dan implikasinya dalam pembentukan karakter kepribadiaan anda; ciri-ciri atau karakteristik orang yang beriman dan Kemukakan ayat-ayat yang relevan. Pengertian iman secara bahasa menurut Syaikh Ibnu Utsaimin adalah pengakuan yang melahirkan sikap menerima dan tunduk. Kata beliau makna ini cocok dengan makna iman dalam istilah syari at. Dan beliau mengkritik orang yang memaknai iman secara bahasa hanya sekedar pembenaran hati (tashdiq) saja tanpa ada unsur menerima dan tunduk. Kata iman adalah fi il lazim (kata kerja yang tidak butuh objek), sedangkan tashdiq adalah fi il muta addi (butuh objek) (Lihat Syarh Arba in, hal. 34)

Adapun secara istilah, dalam mendefinisikan iman manusia terbagi menjadi beragam pendapat [dikutip dari Al Minhah Al Ilahiyah, hal. 131-132 dengan sedikit perubahan redaksional] Rukun rukun iman dan implikasinya : Banyak orang menjadikan enam rukun iman sebagai salah satu kriteria pembeda antara mukmin dan sesat. Benarkah itu sudah final? Bila tidak alergi terhadap kristisisme, mari mengamati substansi dan sistematika enam rukun tersebut. Pertama, lima rukun iman mazhab ini didasarkan pada al-Qur an. Yang perlu diketahui ialah perbedaan antara percaya kepada dan kepada bahwa . Sejauh pengetahuan saya, semua item dalam rukun iman itu lebih difaokuskan pada kepercayaan kepada , bukan kepercayaan tentang . Padahal kepercayaan kepada Allah, malaikat dan lainnya adalah buah dari kepada tentang wujud Allah, malaikat dan lainnya. Inilah paradoks yang terlewat oleh banyak orang. Kedua, dasar pembentukan rukun iman dalam mazhab Asy ariah adalah teks suci. Padahal menjadikan teks sebagai dasar kepercayaan yang merupakan produk spekulasi rasional kurang bisa dipertanggugjawabkan. Tapi apabila al-Qur an dijadikan sebagai dasar keimanan kepada Allah, yang merupakan sila pertama dalam rukun iman, maka konsekuensi logisnya, kepercayaan kepada alQuran mendahului kepercayaan kepada Allah. Bukankah al-Qur an diyakini sebagai wahyu Allah setelah meyakini keberadaan Allah dan setelah mengimani orang yang menerimanya (nabi)? Kepercayaan akan keberadaan Allah mesti diperoleh dengan akal fitri sebelum mempercayai alQuran. Al-Quran adalah petunjuk bagi yang telah beriman, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat suci di dalamnya. Al-Quran adalah pedoman bagi yang mengimani Allah dan nabinya. Artinya, alQuran dijadikan sebagai dasar setelah memastikan wujud Allah dan kemestian kenabian Muhammad. Ketiga, rukun pertama adalah keimanan kepada Allah. Apa maksud dari kalimat ini? Apakah meyakini keberadanNya saja ataukah keesaannya? Sekadar kata kepada Allah masih menyimbang banyak pertanyaan.2) Apakah iman ini berhubungan dengan iman kepada ataukah iman tentang ketuhanan ? persoalan teologi tidak sesederhana yang dibayangkan oleh sebagian orang. Pernahkah kita mendengar ayat yang terjemahannya (kurang lebih), Dan apabila kau (Muhammad) tanya mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka berkata, Allah . Bukankah ini sudah memenuhi standar keimanan kepada Allah?

Keempat, rukun kedua adalah iman kepada malaikat. Mestinya bukan iman kepada para malaikat, tapi iman tentang malaikat. Iman kepada mestinya muncul setelah iman tentang . Selain itu, iman kepada malaikat semestinya tidak muncul setelah iman kepada Allah (iman akan wujud Allah). Bagaimana mungkin bisa meyakini wujud para malaikat lengkap dengan departemendepartemannya sebelum mempercayai al-Quran yang mewartakannya? Kemudian, alasan yang mungkin dikemukakan oleh pendukung ialah bahwa iman kepada para malaikat itu tercantum sebagai salah satu sifat mukmin dalam al-Quran. Memang benar. Tapi, bila kepercayaan kepada atau tentang wujud para malaikat dianggap sebagai rukun (keyakinan fundamental) karena tertera dalam al-Quran, maka bukankah seluruh yang diberitakan dalam al-Quran juga mesti dijadikan rukun pula. Bayangkan berapa banyak yang mesti dicantumkan dalam list rukun itu! Bukankah semua yang ada dalam al-Quran mesti diimani (dipastikan adanya)? Kalaupun keimanan kepada (tentang) para malaikat memang sebuah keharusan, tapi mestikah dijadikan rukun? Apa alasan rasional dan implikasi teologis dari keimanan kepada malaikat sehingga layak menempati urutan kedua dalam rukun iman, apalagi rukun yang mendahului iman kepada kenabian?

Kelima, rukun ketiga adalah iman kepada (tentang) kitab-kitab suci.1) Apa yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab suci? Apakah kita mesti beriman kepada Injil, Taurat dan zabur sebagai kitab Allah? Ataukah kita mesti meyakini bahwa Injil, Taurat dan Zabur pernah menjadi kitab-kitab suci? Apakah al-Quran juga termasuk di dalamnya? Bila al-Quran juga termasuk di dalamnya? Mana mungkin kita mengimani al-Quran dari teks al-Quran? Logiskah meyakini al-Quran sebagai wahyu karena al-Quran menetapkannya demikian di dalamnya? Selain itu, mestinya keimanan tentang Injil, Taurat dan Zabur sebagai kitab suci bersumber dari al-Quran, tapi meyakini al-Quran sebagai wahyu Allah bersumber dari kenabian Muhammad saw. Padahal keimanan kepada para nabi muncul setelah keimanan kepada kitab-kitab suci. Ini benar-benar membingungkan. Lagi pula, apa urgensi keimanan kepada (tentang) kitab-kitab itu sebagai rukun? Mengimaninya memang keharusan, tapi mengapa dijadikan sebagai rukun? Lagi-lagi, bila alasannya dicantumkan dalam list rukun iman karena tertera dalam al-Quran, maka mestinya banyak hal lain dalam al-Quran yang bisa dimasukkan dalam rukun-rukun iman.

Keenam, rukun keempat adalah iman kepada (tentang) para rasul. Apakah yang dimaksud dengan para rasul itu semua utusan minus Nabi Muhammad? Bila ya, mestinya hal itu diyakini setelah meyakini kenabian Muhammad saw. Padahal keyakinan akan kenabian Muhammad mesti tidak didasarkan pada al-Quran, karena keyakinan akan kebenaran al-Quran bersumber dari keyakinan akan kebenaran klaim Muhammad saw sebagai nabi. Keimanan kepada kebenaran al-Quran sebagai wahyu adalah konsekuensi dari keyakinan akan kebenaran Muhammad sebagai nabi. Bila tidak, artinya keimanan kepada para rasul plus Muhammad, maka hal itu menimbulkan kontradiksi. Bagaimana mungkin meyakini nabi Muhammad dan para nabi yang tercantum dalam al-Quran, padahal keyakinan akan al-Quran sebagai kitab wahyu muncul setelah keyakinan akan kebenaran klaim kenabian Muhammad saw sebagai nabi.

Ketujuh, rukun kelima adalah iman tentang ketentuan Allah, baik dan buruk. Ini salah satu paradoks teologi yang paling membingungkan. Poin kelima ini telah dikritik oleh para teolog Sunni kontemporer karena dianggap sebagai sumber fatalisme.

Kedelapan, rukun keenam adalah iman kepada (tentang) hari akhir. Inilah poin keimanan yang letaknya paling sistematis. Ia memang pantas berada di urutan terakhir. Hanya saja, perlu diperjelas, apakah hari akhir itu hari kiamat (di dunia) atau hari setelah kebangkitan (pasca dunia).

Kesembilan, yang mengejutkan ialah, bahwa manusia yang mengimani enam rukun diatas, meski tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, bisa dianggap mukmin.

ada empat Kriteria orang ber -IMAN : 1. Ibadah Orang ber IMAN akan selalu disibukkan dengan ibadah, seperti sholat berjemaah di mesjid 5 waktu, sholat sunnat di rumah nya, sibuk berdzikir dan ber Tilawat Al-Quran.

2. Muamalah Orang Ber IMAn akan ber Muamalah, berniaga, berusaha mencari nafkah, bekerja dengan cara cara yang diridhoi oleh ALLAH, dan niat usahanya ini adalah untuk mendukung dirinya agar senantiasa taat kepada perintah ALLAH. 3. Muasyaroh Orang ber IMAN akan ber Muasyaroh, bergaul dengan saudara nya atau temannya dengan lemah lembut (mahabbah), memperlakukan semua makhluk ciptaan ALLAH dengan kasih sayang. 4. Akhlaq Puncak orang ber IMAN adalah Akhlaq nya, tingkah lakunya, dia akan menjadi orang yang menyenangkan, diterima dalam pergaulan dimana pun baik sesama Muslim mau pun dengan sesama ummat lainnya.
QS.17/36 : jangan kamu mengikuti segala sesuatu tanpa mengetahui ilmunya. Sesungguhnya fikiran, penglihatan dan pendengaranmu akan diminta tanggung jawabnya.

b. Islam menurut bahasa dan istilah; rukun-rukun Islam dan implikasinya dalam kehidupan pribadi dan sosial anda; ciri-ciri seorang muslim dan Kemukakan ayat-ayat yang relevan.. Pengertian agama Islam bisa kita bedah dari dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek peristilahan. Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah swt. disebut sebagai orang Muslim. Pengertian agama Islam secara bahasa berarti tunduk, patuh, dan damai. Sedangkan menurut istilah, Islam adalah nama agama yang diturunkan Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar dan sesuai fitrah kemanusiaan. Islam diturunkan bukan kepada Nabi Muhammad saja, tapi diturunkan pula kepada seluruh nabi dan rasul. Sesungguhnya seluruh nabi dan rasul mengajarkan Islam kepada umatnya. Wallahu A lam. Ciri ciri seorang muslim

1. Memberi Makan. Makan dan minum merupakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi oleh masing-masing orang, namun karena berbagai persoalan dalam kehidupan manusia, maka banyak orang yang tidak bisa memenuhinya atau bisa memenuhi tapi tidak sesuai dengan standar kesehatan, karena itu, bila kita ingin mendapat jaminan masuk surga, salah satu yang harus kita lakukan dalam hidup ini adalah memberi makan kepada orang yang membutuhkannya. Rasulullah saw bersabda: Sembahlah Allah Yang Maha Rahman, berikanlah makan, tebarkanlah salam, niscaya kamu masuk surga dengan selamat (HR. Tirmidzi) 2. Menyambung Silaturrahim. Hubungan antar sesama manusia harus dijalin dengan sebaik-baiknya, antara sesama saudara

dalam iman, terutama yang berasal dari rahim ibu yang sama yang kemudian disebut dengan saudara dalam nasab. Bila ini selalu kita perkokoh, maka di dalam hadits di atas, kita mendapatkan jaminan surga dari Rasulullah saw, sedangkan bila kita memutuskannya, maka kitapun terancam tidak masuk surga. Rasulullah saw bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang suka memutuskan, Sufyan berkata dalam riwayatnya: yakni memutuskan tali persaudaraan (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika Rasulullah saw bertanya kepada pada sahabat tentang maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang akan menjadi penghuni surga? diantaranya beliau menjawab: Seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di penjuru kota dengan ikhlas karena Allah (HR. Ibnu Asakir, Abu Naim dan Nasai). 3. Shalat Malam Tempat terpuji di sisi Allah swt adalah surga yang penuh dengan kenikmatan yang tiada terkira, karenanya salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk bisa diberi tempat yang terpuji itu adalah dengan melaksanakan shalat tahajjud saat banyak manusia yang tertidur lelap, Allah swt berfirman: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji (QS Al Isra [17]:79). Manakala seseorang sudah rajin melaksanakan shalat tahajjud, ia merasa menjadi seorang yang begitu dekat dengan Allah swt dan bukti kedekatannya itu adalah dengan tidak melakukan penyimpangan dari ketentuan Allah swt meskipun peluang untuk menyimpang sangat besar dan bisa jadi ia mendapatkan keuntungan duniawi yang banyak. 4. Memudahkan Orang Lain. Dalam hidupnya, ada saat manusia mengalami kesenangan hidup dengan segala kemudahannya, namun pada saat lain bisa jadi ia mengalami kesulitan dan kesengsaraan. Karena itu, sesama manusia idealnya bisa saling memudahkan, termasuk dalam jual beli. Manakala kita sudah bisa memudahkan orang lain, maka salah satu faktor yang membuat manusia mendapat jaminan surga telah diraihnya. Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, Allah memudahkannya di dunia dan akhirat (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah). 5. Berjihad. Islam merupakan agama yang harus disebarkan dan ditegakkan dalam kehidupan di dunia ini, bahkan ketika dengan sebab disebarkan dan ditegakkan itu ada pihak-pihak yang tidak menyukainya, lalu mereka memerangi kaum muslimin, maka setiap umat Islam harus memiliki semangat dan tanggungjawab untuk berjihad dengan pengorbanan harta dan jiwa sekalipun. 6. Tidak Sombong. Takabbur atau sombong adalah menganggap dirinya lebih dengan meremehkan orang lain, karenanya orang yang takabbur itu seringkali menolak kebenaran, apalagi bila kebenaran itu datang dari orang yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya.

Oleh karena itu, bila kita mati dalam keadaan terbebas dari kesombongan amat mendapatkan jaminan masuk surga, Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang mati dan ia terbebas dari tiga hal, yakni sombong, fanatisme dan utang, maka ia akan masuk surga (HR. Tirmidzi). 7. Tidak Memiliki Fanatisme Yang Berlebihan. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia termasuk kaum muslimin hidup dengan latar belakang yang berbeda-beda, termasuk latar belakang kelompok, baik karena kesukuan, kebangsaan maupun golongan-golongan ber-dasarkan organisasi maupun paham keagamaan dan partai politik, hal ini disebut dengan ashabiyah. 8. Terbebas Dari Utang. Dalam hidup ini, manusia seringkali melakukan hubungan muamalah dengan sesamanya, salah satunya adalah transaksi jual beli. Namun dalam proses jual beli tidak selalu hal itu dilakukan secara tunai atau seseorang tidak punya uang padahal ia sangat membutuhkannya, maka iapun meminjam uang untuk bisa memenuhi kebutuhannya, inilah yang kemudian disebut dengan utang. Rasulullah saw bersabda: Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari (HR. Baihaki) 9. Peka Terhadap Peringatan. Peka terhadap peringatan membuat seseorang mudah menerima segala peringatan dan nasihat dari siapapun agar waspada terhadap segala bahaya dalam kehidupan di dunia dan akhirat, sikap ini merupakan sesuatu yang amat penting karena setiap manusia amat membutuhkan peringatan dari orang lain, karenanya orang seperti itu akan mudah menempuh jalan hidup yang benar sehingga mendapat jaminan akan masuk ke dalam surga. 10. Menahan Amarah Al ghadhab atau marah merupakan salah satu sifat yang sangat berbahaya sehingga ia telah menghancurkan manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Ada beberapa bahaya dari sifat marah yang harus diwaspadai.
c. Ihsan menurut bahasa dan istilah serta uraikan karakteristik seorang muhsin (yang bersifat ihsan) dan Kemukakan ayat-ayat yang relevan. Ihsan menurut bahasa artinya berbuat baik, berasal dari bahasa arab: Ahsana-Yuhsinu-Ihsaanan. Sedangkan menurut istilah, ihsan adalah berbakti dan mengabdikan diri kepada Allah SWT dengan dilandasi kesadaran dan keikhlasan. Berbakti kepada Allah berarti berbuat sesuatu yang bermanfaat baik untuk diri sendiri, sesama manusia, maupun untuk makhluk lainnya. Semua perbuatan tersebut dilakukan semata-mata karena Allah, seolah-olah orang tersebut sedang berhadapan dengan Allah.

d. Takwa menurut bahasa dan istilah serta karakteristik orang yang bertakwa dan implikasi sosialnya dan Kemukakan ayat-ayat yang relevan. 11. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah-istilah berikut ini: a. Nifak (kemunafikan) menurut bahasa dan istilah serta karakteristiknya. Kemukakan ayat-ayat yang relevan. b. Zulmun (Kezaliman) menurut bahasa dan istilah serta karakteristiknya dan Kemukakan ayat-ayat

yang relevan. c. Fiskun (kefasikan) menurut bahasa dan istilah serta karakteristiknya dan Kemukakan ayat-ayat yang relevan. d. Kufrun (kekafiran) menurut bahasa dan istilah serta karakteristiknya dan Kemukakan ayat-ayat yang relevan. 12. Jelaskan bagaimana proses penciptaan manusia dan dari unsur apa manusia diciptakan? 13. Jelaskan apa yang dimaksud dengan fitrah (penciptaan manusia)? 14. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kodrat manusia dan uraikan pembagian kondrat di bawah ini: a. Manusia memiliki kodrat ketergantungan kepada Allah. b. Manusia memiliki kodrat berupa sifat keutamaan. c. Manusia memiliki kodrat menjadi hamba Allah. 15. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah khalifah menurut bahasa dan istilah serta kemukakan tugas dan tanggungjawab seorang khalifah di muka bumi menurut Islam? 16. Jelaskan dimensi-dimensi manusia berikut ini: (a) dimensi biologis-reproduksi; (b) dimensi intelektual-budaya dan peradaban; (c) dimensi sosial masyarakat dan (d) dimensi religius-spiritual dan kemukakan ayat-ayat yang relevan dengan dimensi-dimensi tersebut. 17. Jelaskan apa yang dimaksud dengan manusia sempura dan kemukakan karakteristiknya? 18. Jelaskan dan uraikan pada yang dimaksud dengan al-Quran, al-hadis dan ijtihad sebagai sumber ajaran Islam dan kemukakan hubungan ketiganya. 19. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kemu'jizatan menumu'jizatan menurut bahasa dan istilah? 20. Uraikan kemu'jizatan al-Quran dari segi (a) kebahasaan; (b) isyarat-isyarat ilmiah dan (c) segi kesejarahan dan informasi ghaib? 21. Q.S. al-Furqan (25): 30-31 menyatakan: tA$s%ur Aq9$# b>tt b) Gqs% (#rsB$# #xyd tb#u)9$# #YqfgtB y79xx.ur $uZ=yy_ e@39 @c<tR #xrt z`iB tBfJ9$# 3 4s"x.ur y7n/t/ $Z$yd #ZtRur Artinya: Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan". 31. Dan seperti itulah, Telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. Kandungan kedua ayat di atas berisi pengaduan Rasulullah saw kepada Allah. Pertayaannya adalah: Bagaimana anda menyikapi kandungan ayat di atas, Adahkah anda selama ini (hingga kini) termasuk kelompok orang mengabaikan al-Quran (al-mahjur)? Uraikan suatu kasus dalam bidang ilmu anda yang dapat menyakinkan anda untuk lebih bersikap positif terhadap al-Quran dan ingin berinteraksi dengan penuh cinta dengan al-Quran? 22. Jelaskan apa yang dimaksud dengan hadis dan fungsi-fungsinya terhadap al-Quran? 23. Jelaskan metode-metode ijtihad? 24. Jelaskan konsep ilmu menurut Islam dan uraikan bagaimana tanggungjawab ilmuan menurut Islam? 25. Jelaskan apa yang dimaksud dengan ulul al-Bab sebagai prototype intelektual muslim 26. Jelaskan karakteristik ulul albab dan ayat-ayat yang relevan? 27. Jelaskan hubungan iman, ilmu dan amal? 28. Jelaskan 5 tujuan syariat Islam diturunkan dan hubungkan dengan wujud hak azazi manusia? 29. Jelaskan pandangan Islam tentang HAM? 30. Jelaskan pandangan Barat Tentang HAM dan Bandingkan dengan pandangan Islam (Persamaan dan perbedaannya)? 31. Jelaskan apa yang dimaksud pluralisme agama? 32. Uraikan pandangan Islam sebagai agama ditengah wacana pluralisme? 33. Jelaskan apa yang dimaksud dengan masyarakat madani dan civil society?

34. Uraikan persamaan dan perbedaan masyarakat madani dan civil society berdasarkan aspek kesejarahannya dan karakteristiknya? 35. Uraikan pandangan Islam tentang demokrasi? 36. Uraikan nilai-nilai Islam yang relevan dengan demokrasi? 37. Jelaskan apa yang dimaksud kebudayaan Barat dan kebudayaan Islam? 38. Uraikan prinsip-prinsip dasar kebudayaan Barat dan Kebudayaan Islam? Jelaskan karakteristik kebudayaan Barat dan kebudayaan Islam? 39. ,Kemukakan persamaan dan perbedaan antara kebudayaan Barat dengan kebudayaan Islam?

Anda mungkin juga menyukai