Anda di halaman 1dari 13

I.

PENDAHULUAN

Sejak dua puluh tahun terakhir gangguan pemusatan perhatian atau ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders) menjadi masalah bagi kalangan medis dan orang tua yang memiliki anak penyandang ADHD. Gangguan ini ditandai dengan adanya ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga rentang perhatiannya sangat singkat waktunya dibandingkan anak lain yang seusia. Bisaanya disertai dengan gejala hiperaktif dan tingkah laku yang impulsif. Kelainan ini dapat mengganggu perkembangan anak dalam hal kognitif, perilaku, sosialisasi maupun komunikasi. Gangguan hiperaktif sering dijumpai pada gangguan perilaku pada anak. Deteksi dini gangguan ini sangat penting dilakukan untuk meminimalkan gejala dan akibat yang ditimbulkannya dikemudian hari. Hal ini harus melibatkan beberapa lapisan masyarakat. Baik dikalangan medis maupun nonmedis. Dokter umum, dokter spesialis anak dan klinisi lainnya yang berkaitan dengan kesehatn anak harus bisa mendeteksi sejak dini faktor resiko dan gejala yang terjadi. Manifestasi klinis yang terjadi dapat timbul pada usia dini namun gejalanya akan tampak nyata pada saat mulai sekolah melakukan anamnesa terhadap orang tua dan guru, guna mengevaluasi perkembangan dan mengarahkan pola pendidikan dan pengasuhan anak dengan hiperaktif bila dapat dilakukan deteksi dini dan penatalaksanaan pada tahap awal.

II.

PEMBAHASAN A. Definisi ADHD ADHD berawal dari hasil penelitian Prof. George F. Still, seorang dokter Inggris pada tahun 1902. Penelitian terhadap sekelompok anak yang menunjukkan suatu ketidakmampuan abnormal untuk memusatkan perhatian yang disertai dengan rasa gelisah dan resah. Anak-anak itu mengalami kekurangan yang serius dalam hal kemauan yang berasal dari bawaan biologis. Gangguan tersebut diakibatkan oleh sesuatu di dalam diri si anak dan bukan karena faktor-faktor lingkungan. Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) adalah suatu gangguan yang sebagian besar sering terjadi pada masa kanak-kanak. Menurut DSM-IV, ciri-ciri dari gangguan ini adalah sebuah pola hiperaktivitas-impulsivitas dan/ atau inatensi yang tidak sesuai dengan perkembangan anak (Parker dkk, 2004). Secara umum ada tiga bentuk perilaku yang bisa dihubungkan dengan gangguan ADHD, yaitu: 1. Inatentif (tidak memperhatikan) atau distraktif (mudah terusik) 2. Impulsif (semaunya sendiri) 3. Hiperaktif (Fanu, 2006) Asosiasi Psikiater Amerika (APA, 2000) mengidentifikasi tiga jenis ADHD dan kategori ketiganya digunakan secara meluas di banyak negara. Ketiga jenis ADHD tersebut adalah: 1. ADHD dengan ketiga cirri-ciri, yaitu inatentif, impulsive dan hiperaktif 2. ADHD dengan ciri-ciri paling dominan adalah inatentif 3. ADHD dengan ciri-ciri paling dominan adalah impulsif dan hiperaktif Pada seorang individu, gangguan-gangguan tersebut bisa terjadi secara terpisah misalnya seseorang menderita inatensif atau impulsif saja tanpa mengalami gangguan lainnya. Akan tetapi, seorang individu dapat mengalami secara bersamaan ketiga gangguan tersebut yaitu mengalami inatensif, impulsif dan hiperaktif. ADHD di Indonesia diartikan sebagai gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif. ADHD adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki masalah perhatian dan pemusatan terhadap kegiatan. Berawal dari masa kanak-kanak dan dapat berlanjut ke masa dewasa. Tanpa perawatan, ADHD dapat menyebabkan permasalahan serius di rumah, sekolah, pekerjaan, dan interaksi sosial di

masyarakat. Anak laki-laki dengan ADHD menunjukkan tingkat yang besar pada aktivitas motorik, agresif dan perilaku antisosial, sedangkan anak perempuan dengan ADHD menunjukkan pelemahan kognitif dan disfungsi bahasa. Perempuan dengan ADHD juga menunjukkan abnormalitas metabolisme otak dibandingkan laki-laki (Young, 2002). Anak-anak dengan ADHD juga berisiko dan sering didiagnosis dengan gangguan kejiwaan komorbid seperti gangguan perilaku, gangguan oposisi menentang, depresi dan gangguan belajar (Parker dkk, 2004). Anak-anak perempuan dengan ADHD tipe kombinasi lebih mungkin mendapatkan diagnosis komorbid, yaitu gangguan tingkah laku atau gangguan sikap menentang daripada anak-anak yang tidak mengalami ADHD (Davison, 2006). Anak perempuan dengan ADHD lebih mungkin mengalami gangguan perhatian, perasan dan kecemasan, sedangkan anak laki-laki dengan ADHD lebih mungkin mengalami gangguan menentang (Waschbusch & King, 2006). B. Sebab-sebab Terjadinya ADHD 1. Dimensi Biologi a. Faktor Genetik Penelitian menunjukkan bahwa predisposisi genetic terhadap ADHD kemungkinan berperan. Menurut Biederman dkk (1995, dalam Davison dkk, 2006), bila orang tua mengalami ADHD, sebagian anak mereka memiliki kemungkinan mengalami gangguan tersebut. Berbagai studi adopsi dan sejumlah studi orang kembar berskala besar sebesar .70 hingga .80 (Davison dkk, 2006). b. Kerusakan Otak Kerusakan otak bisa mengakibatkan gejala hiperaktivitas, ketiadaan perhatian, dan impulsivitas. Hanya 5-10% anak-anak ADHD yang diakibatkan karena kerusakan otak (Martin, 2008). Beberapa studi mendokumentasikan bahwa frontal lobe pada anak-anak dengan ADHD kurang responsif terhadap stimulasi (Rubia dkk, 1999; Tannock, 1998; dalam Davison dkk, 2006), dan aliran darah serebal berkurang (Sieg dkk, mengindikasikan adanya komponen genetik dalam ADHD, dengan tingkat kesesuaian kembar MZ

1995, dalam Davison, 2006). Pada anak ADHD, ukuran frontal lobe, nukleus kaudat, globus pallidus lebih kecil dibandingkan ukuran normal (Davison dkk, 2006). c. Merokok Riset menunjukkan bahwa risiko ADHD lebih tinggi pada bayi yang ibunya merokok selama masa kehamilan. Asap rokok mempunyai hubungan erat dengan ADHD, beberapa penelitian menunjukkan anak yang mengidap ADHD berhubungan erat dengan ibu yang merokok selama masa kehamilan, diduga nikotin dapat mengakibatkan hypoxia (kekurangan oksigen) pada janin yang pada akhirnya dapat membuat bayi kekurangan suplai oksigen ke otak dan menimbulkan kerusakan. Penelitian ini berlanjut pada lingkungan sekitarnya yang dipenuhi dengan asap rokok atau ibu yang merokok pada masa sesudah melahirkan mempunyai hubungan erat dengan kemunculan ADHD pada anaknya. Penelitian (2006) yang dilakukan oleh Environmental Health Perspectives menemukan bahwa 4.704 anak-anak (usia 4-45 tahun) atau sekitar 4,2% penderita ADHD memiliki ibu yang merokok selama kehamilan mempunyai potensi berkembangnya ADHD yang lebih parah 2,5 kalinya dibandingkan dengan ibu yang tidak merokok semasa kehamilan (Martin, 2008). d. Keracunan Timah Hitam (Timbal) Timah hitam adalah racun saraf yang kuat yang terkandung pada catcat rumah yang terkelupas, bensin, dan lain-lain. Beberapa penelitian telah mengukur jumlah timah hitam di dalam darah, rambut, atau gigi anak-anak. Dan ketika para guru diminta untuk mengukur tingkat hiperaktivitas dan ketiadaan perhatian pada anak-anak tersebut. Hasil penelitiannya ada hubungan antara timah hitam dan ketiadaan perhatian. Namun, penelitian yang mengatakan bahwa hampir tidak ada hubungan antara tingkat timah hitam pada darah dan hiperaktivitas. Timah hitam bukan penyebab utama ADHD (Martin, 2008).

2. Dimensi Sosial

The World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa diagnosis ADHD dapat mewakili disfungsi keluarga atau kekurangan dalam sistem pendidikan bukannya psikopatologi individu itu sendiri. Russell Barkley namun tidak sependapat dan tidak menemukan bukti kuat bahwa faktor-faktor sosial sendiri dapat menyebabkan ADHD. Para peneliti lain percaya bahwa hubungan dengan pengasuh mempunyai efek yang besar pada diri attentional dan kemampuan regulator. Lebih jauh lagi, Complex Post Traumatic Stress gangguan perhatian dapat mengakibatkan masalah yang dapat terlihat seperti ADHD. ADHD juga dianggap berkaitan dengan disfungsi integrasi sensorik (Baihaqi & Sugiarman, 2008). C. Gejala Anak Penderita ADHD Di antara gejala-gejala ADHD yaitu: 1. Kurang perhatian a. Sering gagal untuk member perhatian pada detail atau membuat kekeliruan yang tidak hati-hati dalam pekerjaan sekolah, pekerjaan atau aktivitas lain. b. Sering mengalami kesulitan mempertahankan perhatian pada aktivitas tugas atau permainan. c. Sering terlihat tidak mendengarkan ketika diajak berbicara langsung. d. Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah, tugas atau kewajiban di tempat kerja (tidak disebabkan perilaku menentang atau tidak mengerti instruksi) e. Sering mengalami kesulitan mengatur tugas dan aktivitas. f. Sering menghindari, tidak menyukai, atau enggan terlibat tugas yang membutuhkan upaya mental yang terus menerus (seperti pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah) g. Sering kehilangan barang-barang yang dibutuhkan untuk tugas atau aktivitas (misalnya mainan, tugas sekolah, pensil, buku, atau peralatan) h. Sering dengan mudah dialihkan perhatiannya oleh stimulus ekternal.

i. Sering lupa pada aktivitas sehari-hari.

2. Hiperaktivitas a. Sering gelisah dengan tangan atau kaki atau menggeliat di tempat duduk. b. Sering meninggalkan tempat duduk di ruang kelas atau pada situasi laon di mana diharapkan untuk tetap duduk. c. Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada situasi yang tidak tepat (pada remaja atau orang dewasa, dapat terbatas pada perasaan gelisah subyektif) d. Sering mengalami kesulitan bermain atau meikmati aktivitas di waktu luang dengan tenang. e. Sering sibuk atau sering bertindak seakan-akan dikendalikan oleh sebuah mesin. f. Sering bicara secara berlebihan. 3. Impulsivitas a. Sering menjawab tanpa berpikir sebelum pertanyaan selesai. b. Sering kesulitan menunggu giliran. c. Sering menyela atau menggangu orang lain (misalnya, memotong pembicaraan atau permainan. D. Penangan terhadap ADHD A. Medikasi Jenis stimulan berupa Ritalin (methylphenidate) atau Adderall, Dexedrine (sejenis amphetamine), jenis stimulan ini dianggap lebih baik dan memberi pengaruh positif pada anak dengan gangguan atensi, disamping itu efek dari obat tidak begitu buruk pada anak-anak. Penggunaan obat-obatan medikasi untuk ADHD harus mempertimbangkan berbagai resiko, ingatlah setiap obat-obat mempunyai pengaruh terhadap fungsi organ tubuh lainnya. Kebanyakan pengunaan obat-obatan tanpa pengawasan dokter secara ketat ditemukan pada remaja yang teradiktif dengan obat-obatan selama terapi, efek ini merupakan penggunaan obat untuk jangka panjang.

Obat yang digunakan untuk gangguan ADHD pada anak-anak, antara lain: Nama Obat Adderall Adderall XR Concerta Cylert Daytrana Dexedrine Dextrostat Focalin Metadate ER Nama Generik Amphetamine Methylphenidate Pemoline Methylphenidate Dextroamphetamine Dexmethylphenidate Usia 3 > Tahun 6 > tahun 6 > tahun 6 > tahun 3 > Tahun 6 > tahun

Methylphenidate 6 > tahun Metadate CD Ritalin Methylphenidate 6 > tahun Strattera Atomextine 6 > tahun Vyvanse Lisdexamfetamine 6 > tahun Beberapa dampak dari penggunaan obat-obatan ADHD : 1. Kehilangan gairah dan semangat
2. Insomnia

3. Meningkatkan kegelisahan dan kecemasan 4. Sakit kepala ringan (Nevid, 2003) B. Terapi Okupasi Anak ADHD mempunyai perkembangan motorik kurang baik. Gerakgeriknya kasar dan kurang luwes bila dibandingkan anak normal seusianya. Pada anak ADHD, terapi okupasi untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan kemampuan ototnya. Otot jari tangan misalnya, sangt penting dikuatkan dan dilatih supaya anak bisa menulis dan melakukan semua hal yang membutuhkan keterampilan otot jari tangan. Seperti juga menunjuk, bersalaman, memegang raket, memetik gitar, main piano dan lain-lain (Monika & Waruwu, 2006). C. Token Economy Token economy adalah sebuah program dimana sekelompok individu bisa mendapatkan token untuk beberapa perilaku yang diharapkan muncul, dan token yang dihasilkan bisa ditukar dengan back up reinforcer. Token ekonomi dibuat berdasarkan prinsip conditioning reinforcement. Conditioning reinforcement adalah stimulus yang tidak secara langsung menguatkan perilaku, namun stimulus tersebut bisa menjadi penguat jika dipasangkan dengan reinforcer lain. Tujuan dari token ekonomi adalah untuk menguatkan perilaku

yang diinginkan terhadap klien. Hal itu digunakan sebagai program untuk mengurangi perilaku mereka yang tidak menyenangkan melalui sebuah struktur lingkungan treatment pada setting yang mendidik. Setiap poin diterima oleh klien untuk perilaku yang diinginkan dengan token. Token diberikan segera setelah perilaku yang diinginkan dan kemudian dipertukarkan dengan reinforcer cadangan. Karena token dipasangkan dengan reinforcer lainnya, ini akan menjadi sebuah pengkondisian reinforcer yang dapat memperkuat perilaku yang diinginkan. Reinforcer cadangan dapat diperoleh hanya dengan membayar dengan token. Dan token hanya dapat diperoleh melalui kemunculan perilaku yang diinginkan. Reinforcer cadangan dipilih karena mereka mengetahui kekuatan reinforcer untuk klien dalam lingkungan treatment. Oleh karena itu, klien dimotivasi untuk memunculkan perilaku yang diinginkan dan menghindari perilaku yang tidak diinginkan (Jenson dkk, 1988). D. Remedial Teaching Setelah anak lebih bisa memusatkan perhatian, maka diharapkan adanya remedial teaching. Program ini melibatkan pihak sekolah untuk mengejar ketertinggalan 24 Mei 2010) E. Reward dan Punishment Terapi perilaku dengan pemberian reward dan punishment pada anak ADHD bertujuan untuk meningkatkan kemampuannya untuk memusatkan perhatian dan perilaku kooperatif. Terapi ini membutuhkan waktu relatif lama dan membutuhkan perencanaan, kesabaran, dan ketelatenan sebelum mendapatkan perubahan perilaku pada anak dengan ADHD. anak pada pelajaran yang diberikan.
(http://kerriemearns.blogspot.com/2010/03/tipe-tipe-adhd. html. diakses tanggal

F. Cognitive-Behavioral Therapy Penanganan cognitive-behavioral terhadap ADHD yag menggabungkan modifikasi perilaku, umumnya didasarkan pada penggunaan reinforcement (contohnya, seorang guru memuji anak penderita ADHD yang duduk tenang) dan modifikasi kognitif (contohnya, melatih anak untuk berbicara dalam hati melalui tahapan pemecahan masalah akademik) (Braswell & Kendall, 2001 ;

Hinshaw, Klein & Abikoff, 1998, dalam Nevid, 2003). G. Talk therapy Talk therapy akan membuat anak ADHD merasa menjadi lebih baik, mereka belajar mengungkapkan pikiran-pikiran yang mengganggu dan belajar mengendalikan emosi. Terapis akan berusaha membantu mengorganisir perubahan dan jadwal pekerjaan yang harus dilakukan oleh anak melalui pembicaraan kedua belah pihak. H. Social skills training Dalam pelatihan ini anak belajar cara-cara menghargai dan menempatkan dirinya bersama dengan kelompok bermainnya. Pelatihan ini juga anak diajarkan kecakapan bahasa nonverbal melalui insyarat wajah, ekspresi roman, intonasi suara sehingga anak cepat tanggap dalam pelbagai situasi sosial. I. Family support groups Anggota keluarga memainkan peran dalam pengobatan dan pengelolaan anak ADHD. Perkembangan ADHD pada tahun pertama dapat dipengaruhi peran pengasuhan (Jones, et al. 2006). Terapi yang digunakan memfokuskan pada pengurangan ketegangan dalam keluarga melalui penetapan tujuan, pemecahan masalah dan manajemen stress serta peningkatan komunikasi antar anggota keluarga (Ford et al. 2007). Merupakan kelompok orangtua yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan ADHD untuk berbagi pengalaman. Kelompok ini juga saling menyediakan informasi bagi sesama anggotanya, mengundang pembicara profesional untuk berbagi pengetahuan dalam menghadapi dan membesarkan anak-anak mereka. Peranan pengasuhan (keluarga) lebih memfokuskan pada bagaimana anak dapat mengendalikan emosi dan perilakunya. Peranan pengasuhan adalah mengarahkan perilaku dan perasaan marah, ketakutan, rasa bersalah dan kesedihan pada hal-hal yang lebih positif (Concannon & Tang, 2005 ; Bull & Whelan, 2006). J. Terapi Modifikasi Perilaku Menurut Ross & Ross (1982) terapi modivikasi perilaku dapat membantu mengatasi problem ADHD pada anak. Beberapa hasil penting dalam fungsi sehari-hari pada anak-anak ADHD yang dapat dicapai dalam modivikasi perilaku adalah : kepatuhan mengikuti perintah, pengendalian perilaku

hiperkatifitas, peningkatan disiplin, kemandirian dan tanggung jawab, perbaikan prestasi akademik, perbaikan hubungan dengan anggota keluarga dan relasi sosial. Salah satu bentuk modivikasi perilaku yang umumnya dilakukan oleh terapis anak ADHD adalah time out. Time out merupakan suatu cara menghilangkan situasi negatif pada anak dengan memberikan waktu kepadanya agar bisa berfikir lebih tenang mengenai apa yang telah dilakukannya. Pendekatan ini merupakan alat yang tepat untuk anak-anak berusia 18 bulan sampai 10 tahun. Cara ini bisa digunakan untuk mengendalikan perilaku-perilaku seperti marah yang meledak-ledak, menggigit, memukul atau melempar barang-barang (Martin, 2008). Suatu penelitian time out telah dilakukan oleh Fabiano (2003) untuk menangani kebiasaan menggigit pada anak. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa time out yang diterapkan di tempat penitipan anak menunjukkan penurunan frekuensi menggigit yaitu menjadi 6 kali minggu pertama, 4 kali minggu kedua, dan 0 kali pada minggu ketujuh. Selanjutnya saat time out diberlakukan di rumah, frekuensi menggigit mengalami penurunan secara drastis didukung dengan terlibatnya ibu dalam pelaksanaan metode tersebut. Setelah di follow up, kebiasaan menggigit hilang pada minggu ke 9 dan 10. Selain hal tersebut di atas, upaya langsung dari diri orang tua yang harus dilakukan di antaranya adalah: 1. Menjaga kesehatan diri, hal ini sangat penting karena anda membutuhkan energi yang cukup untuk menangani anak ADHD. 2. Banyaklah belajar tentang ADHD, karena anda akan lebih mampu untuk membantu anak ADHD jika telah memahaminya. 3. Belajarlah ketrampilan tentang perilaku anak-anak. Mereka memerlukan bantuan bagaimana caranya berkomunikasi dengan orang lain secara normal. 4. Bantulah anak ADHD agar mampu menjaga diri mereka sendiri. 5. Bantulah anak ADHD supaya dapat bersekolah dengan baik. Hal ini karena ADHD menghambat kemampuan anak untuk bisa berhasil dalam sekolahnya. Dampingi mereka agar akademis,

sosial, dan psikisnya tetap terkontrol. 6. Berikan dan bantu anak ADHD untuk melakukan tugas di rumah. Dibanding dengan anak-anak yang lain, mereka mengalami kesulitan berkomunikasi. Seringnya menghiraukan instruksi menyebabkan kekacauan dalam melakukan tugasnya sehingga menyebabkan ketidakselesaian tugas tersebut. 7. Sangat diperlukan, kepekaan, kesabaran, keikhlasan, ketekunan, dan ide kreatif agar dapat membantu anak ADHD dalam belajar, berketrampilan, dan memenuhi tugas di rumah dan sekolah. 8. Aktifkan diri anda. Banyak media yang tersedia, seperti: majalah, koran, CD interaktif, perpustakaan, internet, dan sebagainya.

11

III.

KESIMPULAN

ADHD merupakan gangguan yang paling sering ditemukan pada anak. ADHD dapat berlanjut sampai masa remaja, bahkan dewasa. Pada anak usia sekolah, ADHD berupa gangguan akademik dan interaksi sosial dengan teman. Sementara pada anak dan remaja dan dewasa juga menimbulkan masalah yang serius. ADHD muncul pada usia 3 tahun dan berkembang sebelum usia 5 tahun ditunjukkan dengan tingkat aktivitas tinggi, impulsivitas, toleransi terbatas pada keputusasaan, dan atensi singkat. Diagnosis sering tertunda sampai sekolah dasar (Wiener, 2003). ADHD semakin kuat jika ibu-anak terjebak dalam pola anak yang melakukan perilaku negativism dan ibu selalu memerintah anak untuk berbuat baik secara langsung. Pada masa kanakkanak tengah, permasalahan yang sangat nampak pada masa ini adalah inattention, sedang hiperactivity-impulsivity menurun. Pada masa remaja, inattention dan hiperactivityimpulsivity menurun, perasaan gelisah, sering mengalami kecelakaan motor, dan muncul masalah dalam perilaku remaja dengan ADHD. Pada masa dewasa, penyandang ADHD mengalami substance abuse dan perilaku kriminal (Biederman et al. 1997, dalam Wiener, 2003). Ketidakhadiran masalah perilaku menentang, perilaku agresif dan gangguan kepribadian antisosial saat dewasa menunjukkan prognosis yang lebih baik untuk ADHD (Wiener, 2003) Faktor keturunan adalah faktor tunggal yang dipercaya sebagai dominator umum pada anak-anak ADHD. Terapi yang umum digunakan adalah terapi medikasi atau obatobatan.

DAFTAR BACAAN

(http://kerriemearns.blogspot.com/2010/03/tipe-tipe-adhd. html. diakses tanggal 24 Mei

2010) (http://www.kabarindonesia.com/berita.php? pil=13&jd=Mengapa+Anakku+Tak+Bisa+Konsentrasi %3F&dn=20080717231207,diakses tanggal 08 Maret 2010). (http://uyokuyo.ngeblogs.com/2010/02/28/ contoh-kasus-anak-adhd/, diakses tanggal 08 Maret 2010).

13