Anda di halaman 1dari 5

Penyebab kerusakan hutan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut : 1.

Hak Penguasaan Hutan Banyak perusahaan HPH yang melanggar pola-pola tradisional hak kepemilikan atau hak penggunaan lahan. Kurangnya pengawasan dan akuntabilitas perusahaan berarti pengawasan terhadap pengelolaan hutan sangat lemah dan, lama kelamaan, banyak hutan produksi yang telah dieksploitasi secara berlebihan. Menurut klasifikasi pemerintah, pada saat ini hampir 30 persen dari konsesi HPH yang telah disurvei, masuk dalam kategori sudah terdegradasi. 2. Hutan tanaman industri Hutan tanaman industri telah dipromosikan secara besar-besaran dan diberi subsidi sebagai suatu cara untuk menyediakan pasokan kayu bagi industri pulp yang berkembang pesat di Indonesia, tetapi cara ini mendatangkan tekanan terhadap hutan alam. 3. Perkebunan Lonjakan pembangunan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit, merupakan penyebab lain dari deforestasi. 4. Ilegal logging (Pembalakan Liar)

Pembalakan liar atau penebangan liar (bahasa Inggris: illegal logging) adalah kegiatan penebangan, pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak sah atau tidak memiliki izin dari otoritas setempat. Walaupun angka penebangan liar yang pasti sulit didapatkan karena aktivitasnya yang tidak sah, beberapa sumber terpercaya mengindikasikan bahwa lebih dari setengah semua kegiatan penebangan liar di dunia terjadi di wilayah-wilayah daerah aliran sungai Amazon, Afrika Tengah, Asia Tenggara, Rusia dan beberapa negara-negara Balkan. Sebuah studi kerjasama antara Britania Raya dengan Indonesia pada 1998 mengindikasikan bahwa sekitar 40% dari seluruh kegiatan penebangan adalah liar, dengan nilai mencapai 365 juta dolar AS. Studi yang lebih baru membandingkan penebangan sah dengan konsumsi domestik ditambah dengan ekspor mengindikasikan bahwa 88% dari seluruh kegiatan penebangan adalah merupakan penebangan liar. Malaysia merupakan tempat transit utama dari produk kayu ilegal dari Indonesia. Source : http://id.wikipedia.org 5. Program Transmigrasi

Tujuan resmi program ini adalah untuk mengurangi kemiskinan dan kepadatan penduduk di pulau Jawa [1], memberikan kesempatan bagi orang yang mau bekerja, dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk mengolah sumber daya di pulau-pulau lain seperti Papua, Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi. Kritik mengatakan bahwa pemerintah Indonesia berupaya memanfaatkan para transmigran untuk menggantikan populasi lokal, dan untuk melemahkan gerakan separatis lokal. Program ini beberapa kali menyebabkan persengketaan dan percekcokan, termasuk juga bentrokan antara pendatang dan penduduk asli setempat.

Seiring dengan perubahan lingkungan strategis di Indonesia, transmigrasi dilaksanakan dengan paradigma baru sebagai berikut: 1. Mendukung ketahanan pangan dan penyediaan papan 2. Mendukung kebijakan energi alternatip (bio-fuel) 3. Mendukung pemerataan investasi ke seluruh wilayah Indonesia 4. Mendukung ketahanan nasional pulau terluar dan wilayah perbatasan 5. Menyumbang bagi penyelesaian masalah pengangguran dan kemiskinan Transmigrasi tidak lagi merupakan program pemindahan penduduk, melainkan upaya untuk pengembangan wilayah. Metodenya tidak lagi bersifat sentralistik dan top down dari Jakarta, melainkan berdasarkan Kerjasama Antar Daerah pengirim transmigran dengan daerah tujuan transmigrasi. Penduduk setempat semakin diberi kesempatan besar untuk menjadi transmigran penduduk setempat (TPS), proporsinya hingga mencapai 50:50 dengan transmigran Penduduk Asal (TPA). Dasar hukum yang digunakan untuk program ini adalah Undang-Undang Republik Indonesia]] Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian (sebelumnya UU Nomor 3 Tahun 1972)dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi (Sebelumnya PP Nomor 42 Tahun 1973), ditambah beberapa Keppres dan Inpres pendukung Source : http://id.wikipedia.org 6. Kebakaran Hutan Akibat dari itu semua memberi dampak buruk pada kita sendiri dan orang lain yang mana kita tahu hutan dapat menyerap polusi, erosi dan juga dapat mencegah terjadinya banjir, tetapi tidak dapat memberikan kita kehidupan yang lebih mengarah ke tingkat kesehatan yang lebih baik, sehingga banyak nya wabah penyakit yang terjangkit disekitar kita, Hutan merupakan paru-paru dunia yang fungsinya sangat banyak sekali manfaatnya bagi mahkluk hidup di dunia ini, salah satu nya yang sangat tergantung oleh hutan yaitu kehidupan fauna,hutan merupakan tempat tinggal, tempat mencari makan, berkembang biak, berinteraksi satu dengan yang lainnya. Kalau setiap hari hutan ditebang dan diberantas apa jadinya kehidupan fauna disekitar kita,karena hidup mereka sangat tergantung dengan hutan. Tidak hanya fauna yang hidupnya tergantung pada hutan seluruh kehidupan yang ada didunia ini hidupnya akan tergantung dengan hutan bagi manusia hutan sangat diperlukan untuk berlangsungnya kehidupan, misalnya bagi yang hidup di daerah pelosok pelosok sana mereka hanya hidup tergantung dengan hutan, tempat mencari makan, berladang, dan lainlain. Sebelum hutan habis ditebang, hutan biasa menjadi sahabat bagi kita tetapi setelah hutan banyak ditebang dimana-mana,hutan menjadi musuh terbesar bagi kita,m karena hutan akan menjadi sebuah bencana yang tidak dapat kati duga kapan datang. Seperti binatang yang hidup dihutan, mereka tidak punya tempat tinggal lagi untuk bernaung, sekian banyak dari mereka banyak yang hampir punah, dan kalau tempat tinggal mereka tidak ada lagi dimana mereka tinggal, dan bencana itu sendiri akan datang atas amukan dari binatang buas yang marah,ini akan menjadi masalah baru.

Contoh Kasus ancaman kerusakan lingkungan akibat eksploitasi yang sembrono di daerah pinggiran pantai Bengkulu
Ancaman Abrasi di Garis Pantai Bengkulu Itu Makin Menakutkan Semarak Bengkulu,Jumat, 4 September 2009

(Berita Daerah - Sumatra) - Gelombang dan gemuruh ombak dari laut lepas Samudra Indonesia yang tiada henti dengan rata-rata ketinggian dua sampai empat meter yang terus menghantam sepanjang garis pantai barat wilayah Provinsi Bengkulu, semakin menakutkan. Ancaman gelombang dari lautan bebas ke pantai dan daratan Bengkulu semakin terlihat terus menerpa sejumlah titik di jalur lintas barat (Jalinbar) Kabupaten Mukomuko, dan terancan putus akibat pengikisan (abrasi). Mukomuko, merupakan kabupaten yang dimekarkan dari Bengkulu Utara yang memiliki potensi perkebunan kelapa sawit, coklat, dan karet terbesar di Provinsi Bengkulu setidaknya harus diselamatkan dari ancaman abrasi. Kabupaten Mukomuko berjarak sekitar 300 Km dari Kota Bengkulu atau berada paling ujung utara yang berbatasan dengan Provinsi Sumatra Barat dan Jambi (Kabupaten Kerinci). "Ada tiga titik yang rawan putus dan butuh penanganan secepatnya, namun karena statusnya jalan negara, menjadi tanggung jawab Departemen PU," kata Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Provinsi Bengkulu, Ali Berti. Tiga titik jalan yang menghubungkan Bengkulu-Sumbar terancam putus terdapat di Desa Urai dan Serangai, Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, dan di Desa Air Punggur, Kecamatan Mukomuko Utara, Kabupaten Mukomuko. Keganasan ombak pantai barat membuat badan jalan yang memanjang di pinggir pantai tergerus hingga nyaris putus. Dua titik yaitu Serangai dan Urai sebagian badan jalannya sudah amblas, tinggal menunggu waktu putus. Kerawanan terhadap kecelakaan lalulintas pun terus mengintai. Bahkan minggu lalu satu unit truk kendaraan pengangkut minyak sawit mentah (CPO) terguling ke pantai.

Dampak Eksploitasi Sumber Air Oleh Perusahaan Pengguna Air Di Desa Caringin, Kabupaten Sukabumi
Berdasarkan data BPS, pada tahun 2000 sebagian besar penduduk Indonesia bertempat tinggal di kawasan permukiman perdesaan. Dari kondisi ini, masalah yang dihadapi adalah ketertinggalan tingkat produktivitas masyarakat perdesaan. Dengan rendahnya tingkat produktivitas, wilayah perdesaan selama ini bercirikan kemiskinan. Menurut data BPS, persentase masyarakat miskin yang hidup di wilayah perdesaan lebih tinggi dari pada di wilayah perkotaan. Pada tahun 2004, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 36,1 juta jiwa atau 16,7 persen dari total penduduk Indonesia. Dari persentase tersebut, penduduk miskin yang berada di wilayah perdesaan ternyata mencapai 20,1 persen atau 8 persen lebih tinggi dari persentase penduduk miskin di wilayah perkotaan. Berdasarkan hasil evaluasi total pelaksanaan RPJMN tahap pertama, dari segi wilayah, total desa yang ada di Indonesia sebanyak 40 persen desa diantaranya masih berpredikat desa tertinggal. Kondisi tertinggal ini bercirikan dengan kondisi fasilitas perdesaan yang serba terbatas, baik dari segi sarana prasarana berbagai bidang, seperti transportasi, irigasi pertanian, sanitasi permukiman, juga fasilitas kesehatan dan pendidikan serta fasilitas perdagangan seperti pasar yang masih terbatas di wilayah perdesaan. Ternyata kondisi fasilitas telekomunikasi dan energi kelistrikan diwilayah perdesaan seluruh Nusantara juga masih rendah. Selain itu, sejak dahulu diwilayah perdesaan sering terjadi sistem pengolahan sumber daya alam yang terlalu eksploitative maupun tidak relevan dengan potensi sumber daya alamnya. Kebiasaan tersebut berdampak mengakibatkan degradasi sumber daya alam dan lingkungan hidup di perdesaan. Selain itu juga berdampak menurunkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perdesaan. Kondisi tersebut, misalnya terjadi di Desa Caringin, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, dimana pada desa ini terdapat 5 perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Perusahaan-perusahaan air minum tersebut menggunakan potensi SDA di Desa Caringin dengan mengeksploitasi banyaknya titikmata air di wilayah perdesaan ini. Karena total eksploitasi sumber air di Desa Caringin sangat tinggi, telah berdampak negatif yang diderita warga masyarakat setempat. Selain terjadinya masalah berkurangnya ketersediaan air bersih untuk rumah tangga warga, juga terjadi perubahan pola kekeringan pada lahan pertanian di wilayah perdesaan tersebut. Kekeringan lahan pertanian yang terjadi akibat eksploitasi sumber air oleh seluruh perusahaan air minum di wilayah perdesaan Caringin, berpotensi mengakibatkan pengangguran tenaga kerja pada sektor pertanian.

Eksploitasi Tambang Cemari Enam DAS di Kaltim


BALIKPAPAN-: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (walhi) Kalimantan Timur mengemukakan, kerusakan lingkungan di Kalimantan Timur lebih diakibatkan eksploitasi tambang dan pembukaan kebun kelapa sawit skala besar. Setidaknya hingga kini ada sekitar 200 ribu hektare kawasan hutan di Kaltim yang digunakan

untuk pertambangan dari kurang lebih 3,2 juta hektare izin tambang di kaltim. "Tambang merupakan salah satu penyumbang deforestrasi di kaltim yang setiap tahunnya 350 ribu hektare," kata Ketua Walhi Kaltim Isal Wardhana, Selasa, (26/4). Dia mengungkapkan, akibat eksploitasi tambang dan pembukaan kebun kelapa sawit skala besar, setidaknya terdapat ada 6 daerah aliran sungai (DAS) di Kaltim yang sudah tercemar di antaranya Sungai Mahakam, Sungai Kendilo, Sungai Segah, Sungai Sangatta, Sungai Kuaro, dan Sungai Rico, dan beserta anak DAS yang menjadi bagian yang utuh dari DAS tersebut. Penyebab utamanya adalah Kabupaten dan Kota di Kaltim yang berlomba-lomba dalam mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) yang tidak dibarengi oleh analisis dampak dan kajian lingkungan hidup strategis. "Di samping itu, pengawasan yang kurang maksimal dilakukan pemerintah daerah terhadap operasional perusahaan industri ekstraktif. Lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggar lingkungan atau penyalahgunaan ijin yang non prosedural," tegasnya. Untuk itu, kata dia, Kaltim butuh assessment dan evaluasi izin-izin eksploitasi sumber daya alam (SDA), moratorium (jeda) konversi hutan, dan moratorium penebangan untuk penyelamatan hutan alam yangg tersisa. Dengan melakukan rehabilitasi DAS kritis dan kawasan hutan yang telah rusak. Proteksi kawasan ekologi penting dan kawasan kelola dan produksi rakyat. "Seperti kawasan pertanian, perladangan serta kawasan kelola rakyat lainnya termasuk hutan, pesisir dan pantai," tandasnya. (OL-12) Sumber : MediaIndonesia.com