Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Salah satu kegiatan pemboran adalah operasi pemancingan. Operasi pemancingan adalah kegiatan memancing (fishing) barang-barang yang terlepas dan tertinggal didalam lubang. Peralatan yang tertinggal didalam lubang bor disebut fish. Fish yang tertinggal atau jatuh dalam lubang bor harus diambil karena kalau tidak diambil akan mengganggu kelancaran operasi pemboran selanjutnya. Jenis-jenis ikan secara umum dapat dikelompokkan seperti pipa bor atau pahat yang terjepit, pipa bor yang lepas atau patah, bit yang terlepas seluruhnya atau sebagian jatuh kedalam lubang bor, casing yang terjepit, pecah atau lepas, kabel REDA atau kabel logging yang putus, serta hand-tools lainnya yang terjatuh kedalam lubang bor. Pada proses fishing tersebut, jenis, ukuran, bentuk ikan, situasi dan kondisi lubang bor akan banyak menentukan cara pemancingan serta alat yang diperlukan. Sebelum operasi pemancingan dimulai, kita harus menentukan dulu perincian serta ciri-ciri dari ikan tersebut serta kajian kenapa fish tersebut bisa sampai mengalami kejadian tersebut. Fishing job terjadi akibat beberapa faktor, diantaranya karena faktor manusia, open hole testing, faktor formasi, faktor deviation, dogleg, crooked hole dan faktor kegagalan mekanis. Faktor kegagalan

mekanis dapat berupa kegagalan pompa, kegagalan peralatan pengangkat, kegagalan peralatan bawah permukaan. Untuk operasi pemancingan, peralatan yang digunakan disebut fishing tools. Fishing tool secara keseluruhan terbagi atas alat pancing itu sendiri dan alat-alat pembantu untuk melaksanakan operasi pemancingan, termasuk alat safetynya agar rangkaian pancing tersebut tidak stuck dengan sendirinya. Fishing tool berdasarkan cara pengambilan fishnya ada yang mengambil, dari dalam dan dari luar fish. Alat pancing dari dalam dan luar fish ada yang bersifat mati dan hidup. Fishing tools berdasarkan cara kerjanya dapat mengeluarkan fish tanpa rusak berantakan dan ada yang mengeluarkan alat fish tetapi setelah dihancurkan sepotong demi sepotong. Berdasarkan fungsinya fishing tools terdiri atas catch tools, wash over tools, force multiplier tools, disengement tools, catch dan retrieving tools, dan fish destruction tools. Jenis operasi fishing terbagi atas open hole fishing dan cased hole fishing. Beberapa contoh prosedur fishing diantaranya adalah prosedur memancing junk, prosedur outside casing tool, drill out tools dan pipe cutter, prosedur pemancingan drill pipe dan pemancingan drill collar. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam fishing operation adalah tentang pertimbangan keekonomisan fishing. Mengingat setiap operasi fishing tidak selalu akan berhasil maka hal-hal mengenai perbandingan biaya operasi fishing dengan biaya sewa rig harus dipertimbangkan untuk menentukan keekonomisan operasi fishing tersebut.

1.2.

Tema Laporan Tema yang akan diambil dalam kerja praktek ini adalah tentang Fishing

Operation pada sumur X LAPANGAN Y. Untuk tema yang lebih spesifik dapat disesuaikan dengan yang ada dilapangan.

1.3.

Tujuan Pembuatan laporan Adapun tujuan yang hendak dicapai sehubungan dengan pelaksanaan kerja

praktek ini adalah sebagai berikut : 1.3.1. Tujuan Yang Bersifat Umum Untuk Memenuhi Salah salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia 1.3.2. Tujuan Yang Bersifat Khusus 1. 2. 3. Mengetahui proses operasi fishing dilapangan. Mengetahui jenis-jenis fishing tools. Mengetahui prinsip kerja dari kegiatan fishing dan fishing tools.

1.4.

Manfaat

1.4.1. Bagi Program D3 Jurusan Teknik Perminyakan Akamigas Balongan 1. Sebagai sarana pemantapan keilmuan bagi mahasiswa dengan

mempraktekkan didunia kerja. 2. Sebagai sarana untuk membina network dan kerjasama dengan perusahaan di bidang perminyakan.

1.4.2. Bagi Mahasiswa Dapat mengaplikasikan keilmuan mengenai teknik perminyakan yang diperoleh dibangku kuliah.

BAB II DASAR TEORI


2.1. Jenis Fish Ada bermacam-macam jenis ikan (fish) yang terdapat didalam lubang bor. Jenis, ukuran, kekuatan atau compression stress dan tension failure alat-alat yang akan dipancing tersebut serta bentuknya dapat bermacam-macam bergantung dari situasi serta penyebab dari adanya ikan tersebut : 1. Pipa bor (DP) atau pahat (Bit) terjepit 2. Pipa bor (DP) lepas atau patah 3. Pahat terlepas seluruhnya atau sebagian terjatuh kedalam lubang bor 4. Pipa selubung (casing) terjepit, pecah atau lepas 5. Kabel swab, kabel logging atau kabel REDA yang putus 6. Peralatan atau benda-benda lainnya yang terjatuh kedalam lubang bor Jenis, ukuran, bentuk ikan, situasi dan kondisi lubang bor. Pada proses fishing tersebut, akan banyak menentukan cara pemancingan serta alat yang diperlukan.

2.2.

Identifikasi Permasalahan Pemboran Sebelum kita mulai operasi pembersihan lubang bor dari ikan atau fish

yang tertinggal maka kita harus menentukan dulu perincian serta cirri-ciri dari ikan `tersebut serta kajian kenapa fish tersebut bisa terjadi kejadian seperti itu. Sebagai contoh, pipa bor terjepit sebelum atau dalam pembebasan, perlu diketahui ukuran pipa, ukuran lubang bor, tempat jepitan, sebab pipa bisa terjepit

dan seterusnya. Contoh lain, pipa bor patah dan tertinggal dalam lubang bor maka perlu diketahui ukuran pipa, ukuran lubang bor, serta berapa yang tertinggal, bagaimana bentuk patahan, lokasi terjadinya patahan, apakah lubang bor miring dan lain sebagainya.

2.3.

Penyebab terjadinya Fishing Job : 1. Faktor Manusia (Human Error). 2. Open Hole Testing. 3. Kegagalan Mekanis (Mechanical Failures). a. Kegagalan pompa (pump failures). b. Kegagalan peralatan pengangkat. c. Kegagalan peralatan bawah permukaan. 4. Faktor Formasi. 5. Faktor Deviation, Dogleg dan Crooked hole.

2.3.1. Faktor Manusia ( Human Error) Contoh yang umum dari kesalahan manusia adalah menjatuhkan hammer, crowbar, tong jar, petol wrench atau beberapa peralatan-peralatan kecil lainnya kedalam lubang sumur. Hal ini jelas menjadi penyebab pekerjaan memancing (fishing job).

2.3.2. Open Hole Testing Open Hole Testing mempunyai resiko terbesar dari terjepitnya pipa dan berakhir dengan pekerjaan memancing (fishing job) selama dilakukan pengujian sumur lubang terbuka (open hole testing). Di tempat itu, dimana pengetesan alatalat dapat / bisa tertinggal dan pada formasi yang sedang dilakukan pengujian untuk waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan peralatan-peralatan pemboran menjadi terjepit.

2.3.3. Mechanical Failures (kegagalan mekanis) 2.3.3.1. Pump Failures (kegagalan pompa) Pada umumnya masalah mekanis yang banyak terjadi adalah kegagalan pompa. Hal ini banyak menimbulkan masalah dalam proses operasi pemboran sehingga kemungkinan untuk dilakukannya fishing job besar sekali.

2.3.3.2.

Kegagalan Peralatan Pengangkatan (Hoisting Equipment Failures) Salah satu masalah mekanis serius yang banyak terjadi adalah

kegagalan peralatan pengangkat. Salah satu contoh dari masalah-masalah tersebut adalah putusnya drilling line, gagalnya crown block atau traveling block, sistem pengereman dari drum draw works. Hal-hal tersebut sangat membahayakan, karena dapat mengakibatkan jatuhnya peralatan pemboran ke dalam sumur yang dapat berakhir dengan pekerjaan memancing (fishing job) dan menimbulkan resiko yang sangat besar bagi para pekerja. There is no excuse for dropping the blocks.

2.3.3.3.

Kegagalan Bawah Permukaan ( Down Hole Failures) Kegagalan bawah permukaan mencangkup hilangnya cone dari bit,

putusnya pipa pemboran, kegagalan pipa mekanis peralatan-peralatan bawah permukaan, washed out tools joints, cracked pins dan split boxes. Semua perlengkapan rig seharusnya diberikan perawatan dengan hati-hati sekali, kekurangan-kekurangannya harus di inspeksi dan dilengkapi dan mengoperasikan perlengkapan-perlengkapan rig harus pada batas design yang telah dianjurkan. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya fishing job karena disebabkan oleh kondisi di bawah permukaan. Cara-cara pengoperasian peralatan bawah permukaan perlu diperhatikan ketika melakukan pemboran pada formasi yang bermasalah.

2.3.4. Formation Factor Shale sangat penting dan special karena lebih dari 50% pemboran berada di lapisan shale ini. Kemungkinan persentase terbesar penyebab hole problem dan fishing jobs biasanya terjadi karena formasi ini. Seperti masalah sloughing shale dan swelling clay.

2.3.5. Deviation, Dogleg dan Crooked Masalah yang paling sulit biasanya disebabkan oleh pembelokan lubang, dogleg, dan kondisi lubang yang berbelok-belok (crooked hole) selama pemboran. Masalah yang terjadinya biasanya key seats, wall sticking, meningkatnya drag dan torque, accidental side tracking, pembersihan lubang,

stabilitas lubang, kesulitan pada saat running drill string dan cementing casing dan pengunaan casing ketika pemboran dalam. Masalah juga bisa terjadi selama proses produksi sumur, termasuk casing, tubing dan penggunaan rod pada peralatan pengangkatan buatan (artificial lift).

BAB III FISHING TOOLS

Alat pancing

secara keseluruhan dapat dikelompokkan

dalam alat

pancing itu sendiri dan alat-alat pembantu untuk melaksanakan operasi pemancingan, termasuk juga alat keselamatan agar rangkaian pemancing tersebut tidak terjepit dengan sendirinya. 1. Alat pancing pipa seperti overshoot, taper tap. 2. Alat pancing benda-benda kecil seperti junk basket, fishing magnet. 3. Alat pancing kabel (cable spear). 4. Alat pemukul seperti : bumper sub, bumber jar dan rotary jar. 5. Alat pemotong seperti : inside / internal cutter dan outside / external cutter. 6. Alat pancing (safety joint).

3.1. 1.

Alat pancing (fishing tools)

Alat pancing pipa, seperti : Drill pipe, casing, tubing dan Drill collar. 2. Alat pancing barang jatuhan (junk). 3. Wire rope atau kabel.

3.1.1. Alat pancing pipa Alat pancing pipa berdasarkan cara mengambilnya, juga terbagi atas dua cara yaitu : 1. Dari luar 2. Dari dalam

3.1.1.1. Alat pancing pipa dari luar 1. Mati, seperti Die collar 2. Hidup, seperti Releasable overshot 3.1.1.1.1. Die Collar Merupakan alat pancing mati, alat pancing jenis ini apabila telah dipasang pada ikan (pipa yang dipancing) maka alat tersebut tidak dapat dilepas lagi. Jika memancing dengan alat jenis ini harus dilengkapi dengan alat bantu yang disebut safety joint. 3.1.1.1.2. Releasable Overshot Merupakan alat pancing luar yang hidup. Alat pancing jenis ini apabila telah dipasang pada fish (pipa yang dipancing) dan usaha melepaskan dari ikan yang terjepit tidak berhasil maka alat pancing dapat dilepas lagi untuk kemudian pemancingan bisa dimulai lagi. Releasable Overshot mempunyai dua jenis grapple, yaitu : 1. Spiral grapple atau single bowl 2. Basket grapple atau double bowl Mempunyai dua grapple dipasang susun, grapple yang dibawah untuk menangkap safety joint dan yang diatas untuk drill pipe.

3.1.1.2.

Alat pancing pipa dari dalam 1. Mati, seperti taper tap 2. Hidup, seperti releasable spears

3.1.1.2.1. Taper Tap Merupakan alat pancing dari dalam mati. Alat pancing jenis apabila telah dipasang pada fish, maka alat ini tidak dapat dilepas lagi. Jika memancing dengan alat pancing jenis ini harus dilengkapi dengan alat bantu yang disebut safety joint.

3.1.1.2.2. Releasable Spears


Merupakan alat pancing dari dalam hidup, yang dimaksud dari dalam adalah cara menangkap ikan dari bagian dalam pipa. Dapat dilepas apabila gagal mencabut pipa yang dipancing.

3.1.2. Alat pancing barang jatuhan ( junk) Alat pancing jatuhan terdiri dari : 1. Junk basket 2. Full circle releasing spear 3. Junk Basket Sub 4. Fishing Magnet

3.2.

Alat pancing ( fishing tools) Berdasarkan Cara Kerjanya Fishing tools berdasarkan cara kerjanya dibagi dua, yaitu :

1.

Alat untuk mengeluarkan tubing, packer dan alat-alat lain dengan tanpa rusak berantakan.

2.

Untuk mengeluarkan alat tetapi setelah dihancurkan sepotong demi sepotong.

3.3.

Alat pancing (fishing tools) Berdasarkan Fungsinya Fishing tools berdasarkan fungsinya, yaitu : 1. Catch tool 2. Washover tool 3. Force multiplier tool 4. Disengagement tool 5. Catch dan Retrieving tool 6. Fish destruction tool

3.4.

Jenis-Jenis Operasi Fishing Jenis operasi fishing bermacam-macam, pada umumnya operasi

fishing terbagi atas beberapa bagian.

Open Hole Fishing Operasi memperbaiki kondisi pemancingan berfungsi untuk mengembalikan atau

lubang ke keadaan normal sehingga operasi pemboran

dapat di mulai lagi. Operasi pemancingan pada open hole umumnya terbagi dalam beberapa kelompok. 1. Pemancingan fish yang kecil seperti bits, cone bits, tong dies dan hand tools. 2. 3. 4. Pemancingan rangkaian pemboran bawah permukaan dan lainnya. Pemancingan alat-alat packer dan alat-alat penyumbat (plug). Pemancingan wireline.

5. 6. 7.

Pemancingan tubular dengan diameter kecil. Rangkaian bengkok atau patah karena perputaran yang tinggi. Dan lain-lain.

Cased Hole Fishing Pemancingan didalam cased hole sama dengan pemancingan pada lubang open hole, dan peralatan memancing yang digunakan juga sama dengan peralatan memancing yang dipakai untuk open hole. Tetapi biasanya masalah formasi yang dihadapi lebih sedikit dibanding open hole.

3.5.

Prosedur Fishing

3.5.1. Memancing Junk Junk adalah potongan-potongan atau bagian-bagian peralatan yang ukurannya kecil-kecil yang harus diambil dari dalam lubang. Junk harus diambil karena akan menggangu operasi pemboran. Junk dapat berupa : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Cone bit yang lepas Gigi-gigi bit yang lepas Peralatan atau perkakas yang jatuh kedalam lubang Bagian dari reamer Patahan-patahan slip Potongan-potongan hasil milling (gerinda)

3.5.1.1.

Alat Pancing Junk Alat pancing junk adalah sebagai berikut :

1. Finger Type Junk Basket. 2. Boot Sub. 3. Core Type Junk Basket. 4. Reverse Circulation retrievers. 5. Fishing Magnet. 6. Jet Bottom Hole Cutter.

3.6.

Pertimbangan Keekonomisan Fishing Bila ikan tidak dapat dipancing pada usaha-usahanya yang pertama,

timbul pertanyaan sampai kapankah pemancingan akan diteruskan mengingat bahwa tidak selalu pemancingan akan berhasil. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemancingan dan jika akan melakukan side tracking antara lain : 1. Harga / nilai drill collar atau ikan. 2. Biaya penyumbatan (cement plug) yang menyangkut waktu dan material. 3. Biaya side tracking, menyangkut waktu, jasa pembelokkan dari biaya pemboran kembali. 4. Ditambah nilai kerugian karena sumur tidak vertikal lagi. Harga dari nilai seluruh kerugian tadi diperhitungkan sebagai nilai X hari sewa rig., bila ikan akan dipancing maka biaya pemancingan terutama akan menyangkut waktu ( sewa atau atau penyusutan harga rig ) serta sewa alat

pancing. Dalam hal ini perlu dipelajari dan diperbandingkan angka keberhasilan pemancingan yang pernah ada. Biasanya pemancingan akan dimulai dengan cara serta alat yang paling baik atau memungkinkan keberhasilan yang paling tinggi. Operasi ini bisanya akan memakan waktu paling banyak 1-2 hari yang pertama. Bila usaha ini belum berhasil kemungkinan akan berhasil pada hari-hari yang berikutnya makin mengecil berarti biaya pemancingan akan dapat lebih besar dari nilai sewa rig ( X hari sewa rig) bila dilakukan side tracking.

BAB III METODELOGI PENELITIAN Dalam melaksanakan kerja praktek, mahasiswa diharapkan mampu melakukan studi kasus, yaitu mengangkat suatu kasus yang dijumpai ditempat kerja praktek menjai suatu kajian sesuai dengan bidang keahlian yang ada, ataupun melakukan pngamatan terhadap kerja suatu proses atau alat untuk kemudian dikaji sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. Untuk mendukung kerja praktek dan kajian yang akan dilakukan , maka dapat dilakukan bbeberapa metode pelaksanaan, antara lain : 1. Metode Interview Dengan cara memberikan pertanyaan kepada pembimbing atau petugas yang berwenang, untuk mendapatkan data yang tidak diperoleh dilapangan. 2. Metode Observasi Dengan cara melakukan pengamatan secara sistematis mengenai hal-hal yang terjadi dilapangan. 3. Study Literature Menambah wawasan / pengetahuan mengenai tema kerja praktek dengan menelaah literatur-literatur yang berhubungan dan bersesuaian, baik literatur dari perusahaan maupun dari luar.

DAFTAR PUSTAKA

1. 2.

Kaswir Badu, Ir. FISHING . Jilid I, PPT. MIGAS, Cepu, 2002. Prasetia, Andi Eka, ST. PIPE STICKING AND FISHING Modul Kuliah Tekbor Lanjut, AKAMIGAS BALONGAN, Indramayu, 2004.

3.

Short, James A, PREVENTION, FISHING AND CASING REPAIR . Penn Well Publishing Books, Tulsa, Oklahoma , USA, 1995.

4. 2003. 5

Tjondro, Bambang, Ir. FISHING TOOLS . Training Book, Bandung,

Aggressive

Agile

Accomplished

PHILIPS

PETROLEUM COMPANY.