Anda di halaman 1dari 34

Early Exposure Tutorial 1 DM Terkontrol Tipe II

Pembimbing: dr. Junaidi, Sp.Pd

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang


1

Anggota
Anggrian Iba Githa Novita Heni Ayu Purnama Inggar Prasasti M. Ragil Pamungkas W Mesfa Juniny Meitriana Putri MJ Nilam Prariani Rachmad Abrar Ramona Fitri

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di Negara berkembang, Diabetes Mellitus sampai saat ini masih merupakan faktor yang terkait sebagai penyebab kematian sebanyak 4- 5 kali lebih besar. Menurut estimasi data WHO maupun IDF, prevalensi Diabetes di Indonesia pada tahun 2000 adalah sebesar 5,6 juta penduduk, tetapi pada kenyataannya ternyata didapatkan sebesar 8,2 juta. Diabetes Mellitus penyakit kronis yang akan diderita seumur hidup sehingga progresifitas penyakit akan terus berjalan, pada suatu saat dapat menimbulkan komplikasi. Terdapat beberapa tipe DM, pada kesempatan ini kami selaku anggota tutorial 2 akan melakukan observasi terhadap penderita DM terkontrol tipe 2. Diabetes Melitus tipe 2 merupakan bentuk DM paling umum diseluruh dunia. Prevalensi DM terus bertambah secara global.
4

1.2 Rumusan Masalah


1. 2. 3. 4. 5. Bagaimana gejala DM tipe 2? Apa saja penyebab terjadinya DM tipe 2? Apa saja jenis terapi yang dilakukan terhadap DM tipe 2? Bagaimana cara mencegah DM tipe 2? Bagaimana cara memberikan edukasi kepada penderita ataupun keluarga mengenai DM yang dialami?

1.3 Tujuan Penelitian


1. 2. 3. 4. 5. Mengetahui gejala yang disandang pasien DM tipe 2 Mengetahui penyebab terjadinya DM tipe 2 Mengetahui jenis terapi yang dilakukan terhadap DM tipe 2 Mengetahui cara pencegahan DM tipe 2 Mengetahui cara pemberian edukasi kepada penderita ataupun keluarga mengenai DM yang dialami

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Etiologi DM


Menurut ADA 2002, DM merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh darah Etiologi DM bisa bermacam-macam, tetapi pada akhirnya mengarah kepada 2 hal berikut ini 1. Insufisiensi dan resistensi insulin. 2. Determinan genetik.

Cont..
Penyebab resistensi insulin pada diabetes melitus tipe 2 sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi faktor-faktor di bawah ini banyak berperan: 1. Obesitas terutama yang bersifat sentral (bentuk apel) 2. Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat 3. Kurang gerak badan 4. Faktor keturunan (herediter)

Cont..
Penyebab resistensi insulin pada diabetes melitus tipe 2 sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi faktor-faktor di bawah ini banyak berperan: 1. Obesitas terutama yang bersifat sentral (bentuk apel) 2. Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat 3. Kurang gerak badan 4. Faktor keturunan (herediter)

10

2.2 Klasifikasi DM
PERKENI (2006):
a. DM tipe 1 Destruksi sel beta, umumnya menjerumus ke defisiensi insulin absolut karena autoimun atau idiopatik. b. DM tipe 2 Bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin. c. Tipe lain Defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang, sindrom genetik lain yang berkaitan dengan diabetes melitus. d. Diabetes kehamilan
11

2.2 Klasifikasi DM
PERKENI (2006):
a. DM tipe 1 Destruksi sel beta, umumnya menjerumus ke defisiensi insulin absolut karena autoimun atau idiopatik. b. DM tipe 2 Bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin. c. Tipe lain Defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang, sindrom genetik lain yang berkaitan dengan diabetes melitus. d. Diabetes kehamilan
12

2.3 Patogenesis DM Tipe 2

13

2.4 Gejala Klinik DM


Keluhan Klasik 1. Penurunan berat badan (BB) dan rasa lemah tanpa sebab yang jelas (fatigue) 2. Banyak kencing (poliuria) 3. Banyak minum (polidipsia) 4. Banyak makan (polifagia) Keluhan Lain 1. Gangguan saraf tepi / kesemutan 2. Gangguan penglihatan (kabur) 3. Gatal / bisul yang hilang timbul 4. Gangguan Ereksi 5. Keputihan 6. Gatal daerah genital 7. Infeksi sulit sembuh 8. Cepat Lelah 9. Mudah mengantuk

14

2.5 Diagnosis DM
Terdapat keluhan khas diabetes (poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya) disertai dengan satu nilai pemeriksaan glukosa darah tidak normal (glukosa darah sewaktu 200 mg/dl atau glukosa darah puasa 126 mg/dl) Terdapat keluhan khas yang tidak lengkap atau terdapat keluhan tidak khas (lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi, pruritus vulvae)

15

2.6 Terapi DM
Insulin

-Merubah glukosa menjadi glikogen (glikogenesis)


-Mencegah perubahan glikogen (hati) menjadi glukosa (glikogenolisis) -Hambatan perubahan protein dan lemak menjadi glukosa (glukoneogenesis) Farmakokinetik : -Absorpsi parenteral : subkutan daerah abdominal (paling baik puasa) -Distribusi ke seluruh jaringan tubuh -Waktu paruh : 6 8 menit -Ekskresi melalui ginjal

16

Cont...
Obat Anti Hiperglikemik Oral/ Obat Hipoglikemik Oral (OHO) GOLONGAN INSULIN SENSITIZISER
kerja insulin pada tingkat selular, glikogenolisis, serta menghambat absorbsi glukosa diusus postpandrial -Biguanid -Glitazone

GOLONGAN SEKRETAGOK INSULIN


stimulasi sekresi insulin oleh sel beta pancreas -Sulfonylurea -Glinid

PENGHAMBAT ALFA GLIKOSIDASE


menghambat kerja enzim alfa glukosidase didalam saluran cerna sehingga dapat menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia postprandial - Acarbose

17

2.7 Komplikasi DM
a. Komplikasi metabolik akut
Ketoasidosis dan hipoglikemia.

b. Komplikasi-komplikasi vaskular jangka panjang


1. Mikroangiopati 2. Makroangiopati :retinopati, nefropati, neuropati :klaudikasio intermitten, gangren, infark miokardium dan angina

18

BAB III METODE PELAKSANAAN

19

3.1 Tempat Pelaksanaan


Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang (RSMP)

3.2 Waktu Pelaksanaan


Hari dan Tanggal : Senin, 28 November 2011 Jam : 10.00-12.00 WIB

3.3 Subjek Tugas Mandiri


Mengobservasi penderita DM terkontrol (tipe 2) di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang (RSMP)

3.4 Langkah Kerja


Membuat proposal Melakukan konsultasi kepada pembimbing Early Exposure Meminta izin kepada petugas Puskesmas untuk melakukan Early Exposure secara administratif Mengobservasi penderita DM terkontrol (tipe 2) di RSMP Mengumpulkan hasil kerja lapangan untuk mendapatkan suatu kesimpulan Membuat laporan hasil Early Exposure dari data yang sudah didapat Melakukan observasi langsung terhadap penderita DM terkontrol (tipe 2) di RSMP

3.5 Pengumpulan data 3.6 Pengolahan data


Analisis deskriptif yaitu pengolahan data yang dilakukan dengan cara membandingkan teori dan data di lapangan

20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

21

4.1 Hasil Anamnesis


Nama : M. Thalib (57 tahun) Tanggal lahir : 30 Desember 1953 Jenis Kelamin : Laki-laki Pekerjaan : Cleaning Service Gejala : Susah tidur BAK > 4x dalam semalam Mudah Lemas Nafsu makan meningkat Tajam penglihatan menurun Sakit pada abdomen sinistra Kaki dan tangan sering kesemutan, nyeri dan gatal-gatal Riwayat Penyakit : DM diderita sejak 4 tahun yang lalu Riwayat DM pada Keluarga : Orang Tua laki-laki dan saudara kandung Riwayat Penyakit lain : Hipertensi Terapi : Diet Tidak mengatur pola makan Control Kembali ke RS jika obat habis Obat-obatan yang dikonsumsi : Natrium diklofenak 50mg Omeprazole 20mg Ranitidine 150mg Metformin 500mg Glimepiride 2mg

22

Cont...
Dari anamnesis ditemukan gejala klasik yang sering dialami para penyandang DM yaitu sering BAK (poliuri), sering merasakan haus (polidipsi) dan nafsu makan meningkat (polifagi). Tetapi dalam melakukan anamnesis jarang sekali pasien mengeluhkan 3 gejala klasik ini, biasanya pasien lebih dulu mengeluhkan penyakit lain seperti gangguan pada penglihatan, memiliki luka yang sukar/ lama sembuh. Pasien juga menyandang hipertensi sejak 2 tahun belakangan.Dari keluhan utama inilah kita bisa mendapatkan gejala-gejala lainnya yang dapat mendukung diagnosis penyakit DM tersebut. Bpk. Tholib memiliki riwayat keluarga yang menyandang DM yaitu ayah dan saudara laki-lakinya. Secara teori 80% kasus DM merupakan bawaan genetik atau penyakit yang dapat diturunkan oleh pihak keluarga.

23

Cont...
Natrium diklofenak 50mg
Pengobatan akut dan kronis gejala-gejala reumatoid artritis, osteoartritis dan ankilosing spondilitis

Omeprazole 20mg
Pengobatan jangka pendek pada tukak usus 12 jari, tukak lambung dan refluks esofagitis erosiva.

Ranitidine 150mg
Tukak lambung dan usus 12 jari dan Hipersekresi patologik

Metformin 500mg dan Glimepiride 2mg


Obat penurunan kadar glukosa dalam darah

24

4.2 Hasil Laboratorium

Interpretasi fungsi ginjal Bpk. Thalib normal, belum terjadi nefropati diabetik yang merupakan komplikasi kronis mikroangiopati dari DMTipe 2. Pemeriksaan HbA1c, gula darah yang berikatan dengan hemoglobin (terglikasi) 2-3 bulan sebelum pemeriksaan dalam batas normal. Namun, kadar glukosa dalam darah telah terjadi hiperglikemia
25

4.3 Pembahasan

26

Cont...
Ditinjau dari hasil anamnesis dan lab, DM tipe 2 yang disandang Bpk.Thalib selama 4 tahun mulai mengalami komplikasi kronis makrovaskuler (hipertensi) maupun mikrovaskuler (retinopati diabetik) secara progresif

27

Cont...
Ditinjau dari hasil anamnesis dan lab, DM tipe 2 yang disandang Bpk.Thalib selama 4 tahun mulai mengalami komplikasi kronis makrovaskuler (hipertensi) maupun mikrovaskuler (retinopati diabetik) secara progresif

28

Cont...
Ditinjau dari hasil anamnesis dan lab, DM tipe 2 yang disandang Bpk.Thalib selama 4 tahun mulai mengalami komplikasi kronis makrovaskuler (hipertensi) maupun mikrovaskuler (retinopati diabetik) secara progresif

29

Preventif
WHO (1994), upaya pencegahan diabetes ada tiga jenis yaitu :

Pencegahan Primer Pencegahan Sekunder Pencegahan Tersier

30

BAB V PENUTUP

31

5.1 Kesimpulan
Pada penderita DM sering ditemukan gejala klasik yaitu polidipsi, poliuri dan polifagi. Serta dapat ditemukan gejala lain seperti fatigue, penglihatan kabur, nyeri pada abdomen, serta parestesia ekstremitas dan gatal-gatal. Pada kasus DM yang disandang bpk.Tholib bisa dikatakan faktor genetik adalah salah satu penyebabnya, karena diketahui orang tua laki-laki dan saudara lakilakinya juga mengalami penyakit yang serupa. Bapak Tholib mendapatkan terapi oral seperti Natrium diklofenak 50mg, Omeprazole 20mg, Ranitidine 150mg, Metformin 500mg, Glimepiride 2mg untuk mengurangi keluhan bapak Tholib yaitu, nyeri abdomen, kaki-tangan sering gatal-gatal, dan yang paling penting mengontrol kadar gula darahnya. Sehubungan bpk.Tholib sudah dinyatakan menyandang DM tipe 2 maka pencegahan mungkin lebih digantikan dengan edukasi dalam mengontrol gula darahnya, yaitu dengan cara diet rendah karbohidrat, melakukan olahraga yang tidak bersifat kompetitif, serta mengkonsumsi buah-buahan.
32

5.2 Saran
1. Upaya pencegahan adalah paling tepat pada DM.
Primer, sekunder dan tersier Keterlibatan masyarakat (LSM) dan pemerintah di samping profesi

2. Dalam Islam, konsumsi makanan serta pola aktivitas yang baik akan berdampak sesuatu yang baik pada tubuh.
Manusia dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib {QS An-Nahl (16): 114} Dianjurkan agar tidak boleh makan berlebihan { QS Al-A,Araf (7): 31} Hendaklah manusia memperhatikan makanannya {QS Abasa (80): 24 }

33

Terima kasih

34