Anda di halaman 1dari 7

TUGAS BOTANI EKONOMI

Pemanfaatan Bambusa sp.

Disusun oleh :

Mursyidah Amniati (140410090052)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2011

Pemanfaatan Bambusa sp.


Bambu merupakan jenis rumput-rumputan yang beruas. Bambu termasuk anggota famili Poaceae yang terdiri atas 70 genus. Bambu mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi. Beberapa jenis bambu mampu tumbuh hingga sepanjang 60 cm dalam sehari. Dari sekitar 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis atau 11%nya adalah spesies asli Indonesia. Orang Indonesia sudah lama memanfaatkan bambu untuk bangunan rumah, perabotan, alat pertanian, kerajinan, alat musik, dan makanan. Namun, bambu belum menjadi prioritas pengembangan dan masih dilihat sebagai "bahan milik kaum miskin yang cepat rusak". Jenis bambu yang mendominasi di Pulau Jawa, antara lain: Bambu Ori (Bambusa bambos); Bambu Gesing (B. spinosa); Bambu Ampel (B. vulgaris); Bambu Cendani (B. multiplex); Petung (Dendrocalamus asper); Bambu Buluh kecil (Schizostachys aurea); Bambu Buluh besar (S. brachicladium); Bambu Lampar (S. zollingen); Gombong (Gigantochloa verticilata) ; Bambu Apus (G. apus); Bambu Bubat (G. nigrociliata); Bambu Legi (G. atter), dan Bambu Cina (Phyllostachys aurea).

G. atter Klasifikasi Ilmiah Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Species Plantae Magnoliophyta Liliopsida Poales Poaceae Bambusa Bambusa sp.

G. apus

Berkreasi dengan bahan kulit dan bambu ternyata bisa mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Salah satu produk tas kulit bambu yang bisa mendatangkan rupiah hingga puluhan juta ini adalah produk buatan perajin tas asal Tanggulangin.

Bambu dipilih karena mudah diperoleh dan harganya yang murah, dibandingkan jika memakai serat kayu, meskipun kuat tetapi agak mahal. Selain itu, bambu, khususnya Gigantochloa apus memiliki keunggulan, yaitu serat yang lembut dan relatif lentur sehingga mudah dibentuk. Di tangan seorang perajin di Solo, Jawa Tengah, limbah bambu bekas proyek pembangunan rumah yang biasanya hanya dibuang, ternyata juga bisa menjadi bahan pembuatan kerajinan yang bernilai ekonomis tinggi. Limbah bambu tersebut dibuat kerajinan autodrama atau miniatur kehidupan, yang diminati tak hanya warga di wilayah tersebut, namun, juga dari berbagai kota di Indonesia.

Inilah suasana warung angkringan atau Hik, yang digambarkan secara detail oleh seorang perajin di Banyuanyar, Solo, dalam sebuah karya kerajinan miniatur bambunya. Tak hanya interaksi pembeli dan penjual, bagian-bagian dari warung angkringan juga digambarkan dengan cermat, seperti ceret atau tempat pembuatan minuman maupun beraneka macam makanan yang dijual di warung angkringan tersebut.

Tak hanya suasana warung angkringan, sejumlah aktivitas warga lainnya, terutama pada masa lampau, juga ditampilkan dalam berbagai karya kerajinan miniatur bambu, yang disebutnya sebagai kerajinan autodrama. Seperti penjual es, gotong royong membangun pos ronda, wedangan, gerobak sapi, dan sebagainya.

Kerajinan miniatur bambu atau autodrama yang sangat indah ini ternyata hanya dibuat dari limbah bambu. Dibanding menggunakan kayu, pembuatan miniatur dari bambu ternyata lebih mudah dan sederhana. Pertama, bambu dibersihkan dan dipotong sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Potongan-potongan bambu inilah yang dirangkai menjadi miniatur dengan menggunakan lem. Agar terlihat lebih indah, biasanya dipadu dengan karung goni

dan daun pisang kering. Dibanding kayu, bahan bambu bisa lebih menampilkan detil miniatur yang ingin dibuat. Jawa Barat merupakan daerah yang paling kaya memiliki ragam jenis bambu. Budayanya sendiri lekat dengan pemanfaatan bambu, mulai dari alat keseharian, kerajinan, hingga alat musik seperti angklung. Selain itu, bambu juga dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Contohnya dapat kita lihat di Desa Jayapura, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya yang resmi memiliki beberapa bangunan ramah gempa yang terbuat dari bambu. Bangunan-bangunan tersebut adalah Bale Pinter, Bale Desa, dan SD Singajaya. Untuk menyokong ketiga bangunan tersebut dibuat pula Bengkel Bambu sebagai pusat pengembangan dan pemanfaatan bambu oleh masyarakat setempat. Ketiga bangunan itu menggunakan pasak bambu komposit sebagai bahannya yang dipadukan dengan konsep kreativitas dan kearifan budaya lokal dari Kampung Naga. Bangunannya terlihat begitu cantik dimana mirip seperti resort mahal yang dibangun di Bali atau resort bernuasa ecotourism di tempat lain. Bahan bangunan dari bambu dan kayu sebenarnya merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara. Bambu digunakan sebagai bahan dasar konstruksi karena multifungsi dan bersifat lentur sehingga kekuatannya dapat disetarakan dengan baja. Harga pembangunannya pun setengah dari biaya konstruksi bangunan modern per meter perseginya. Untuk pembangunan satu meter persegi membutuhkan Rp 500.000, sedangkan bangunan konvensional sekitar Rp 1,5 juta. Kecamatan Cigalontang sendiri tahun 2009 lalu luluh lantak diguncang gempa. Desa Jayapura terpilih karena mengalami kerusakan terparah saat gempa terjadi dan pembangunannya terhambat oleh dana. Saat itu tercatat 119 rumah rusak berat, 240 rumah rusak sedang, dan 77 rumah rusak ringan. Kerusakan cukup parah justu dialami oleh bangunan yang berbahan konvensional (batu bata, pasir, semen, dan genteng). Oleh karena itu, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) menggagas bangunan ramah gempa sekaligus mangangkat bambu sebagai bahan alternatif bangunannya. Peresmian bangunan ramah gempa tersebut merupakan upaya mengembangkan model pusat pertumbuhan regional desa berbasiskan kearifan lokal. Lebih murah dan telah teruji selama ratusan tahun.

Bangunan SD Singajaya yang dibangun kembali dengan material bambu tampak mewah dan cantik. Atapnya berbahan ijuk, dinding gedek, dan tiang bambunya terlihat menyatu dengan alam. Dibandingkan dengan bangunan kelas lainnya yang terbuat dari bata dan semen, ruang kelas bambu ini diharapkan ramah gempa. Apabila ada kerusakan maka tidak akan separah yang menimpa bangunan berbahan konvensional (batu bata, pasir, semen, dan genteng). Sekolah berbahan bambu ini juga sekaligus bukti bahwa untuk membangun sekolah tidak perlu mahal, tetapi dapat memanfaatkan bambu yang lebih ekonomis dan ramah gempa. Bale Pinter sendiri yang dibangun di tengah-tengah Desa Jayapura berfungsi sebagai pusat informasi dan pengetahuan bagi masyarakat. Warga desa dapat mendapatkan beragam sumber keilmuan seperti teknologi (ICT), pertanian, perkebunan, pembibitan, pengolahan bambu serta kearifan lokal.

Referensi

http://alamendah.wordpress.com/2011/01/28/jenis-jenis-bambu-di-indonesia/ http://artikeldatabase.blogspot.com/2011/09/inilah-kreasi-unik-tas-kulit-bambu.html http://astrycraft.wordpress.com/2011/04/22/kerajinan-miniatur-bambu-kreasi-dari-limbahbangunan/ http://www.dephut.go.id/INFORMASI/Web%20HHBK/Bambu1.htmlhttp://www.indonesia.t ravel/id/news/detail/529/bangunan-bambu-komposit-adalah-kreativitas-dan-kearifan-lokalyang-ramah-gempa-dan-ekonomis http://www.sahabatbambu.com/