Anda di halaman 1dari 19

Nurulitha Andini dan Kota

Perencanaan Wilayah naikan Tarif Jalan Tol dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) J

2011

Analisis Kenaikan Tarif Jalan Tol dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Jalan Tol

Daftar Isi

Daftar Isi..................................................................................................1 Daftar Tabel.............................................................................................2 Daftar Gambar..........................................................................................2 I. II. III. IV. V. VI. VII. Pendahuluan...................................................................................3 Rumusan Persoalan..........................................................................6 Tujuan Penelitian............................................................................7 Analisis Kelayakan Kenaikan Tarif Tol dengan Standar Pelayanan Penutup.......................................................................................16 Referensi.....................................................................................17 Lampiran......................................................................................18

Minimum Jalan Tol....................................................................................7

VII. Lampiran

Daftar Tabel
Tabel 1 Tabel Presentase Pertumbuhan Pengguna Beberapa Ruas Jalan Tol di Indonesia 2008 - 2010.......................................................................3 Tabel 2 Tabel Komponen Standar Pelayanan Minimum Jalan Tol..................8 Tabel 2 Tabel Komponen Standar Pelayanan Minimum Jalan Tol

Daftar Gambar
Gambar 1 Grafik Pertumbuhan Volume Lalu Lintas Pengguna Jalan Tol 2007 2011........................................................................................................4 Gambar 2 Peta Jaringan Jalan Tol di Pulau Jawa..........................................6 Gambar 3 Antrian dan Kemacetan yang Terjadi di Jalan Tol........................14 Gambar 4 Kondisi Jalan Tol yang Cukup Rusak...........................................14 Gambar 5 Kondisi Jalan Tol yang Tergenang Banjir.....................................15 Gambar 6 Jalan Tol yang Tidak Memiliki Penerangan yang Memadai..............15 Gambar 6 Jalan Tol yang Tidak Memiliki Penerangan yang Memadai

Analisis Kenaikan Tarif Jalan Tol dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Jalan Tol
I. Pendahuluan
Jalan tol merupakan salah satu infrastruktur pendukung keberjalanan mobilitas barang dan orang. Menurut PP 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol, jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol. Tol adalah sejumlah uang tertentu yang dibayarkan untuk penggunaan jalan tol. Penyelenggaraan jalan tol dimaksudkan untuk mewujudkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya serta keseimbangan dalam pengembangan wilayah dengan memperhatikan keadilan, yang dapat dicapai dengan membina jaringan jalan yang dananya berasal dari pengguna jalan. Penyelenggaraan jalan tol bertujuan meningkatkan efisiensi pelayanan jasa distribusi guna menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi terutama di wilayah yang sudah tinggi tingkat perkembangannya. Kebijakan pembangunan jalan tol bertujuan untuk mendukung pusat pertumbuhan ekonomi, menghubungkan antar kawasan, dan mengatasi kemacetan di daerah perkotaan. Kebutuhan masyarakat akan jalan tol terus meningkat. Hal ini disebabkan oleh volume kendaraan, terutama jumlah sepeda motor, yang terus meningkat, tetapi tidak diimbangi dengan kapasitas jalan umum. Hal ini mendorong terjadinya kompetisi penggunaan jalan umum antar sesama pengguna jalan. Di jalan tol, dimana hanya kendaraan roda empat atau lebih yang boleh masuk, tingkat kompetisi tersebut sedikit berkurang. Pengguna jalan tol dari tahun ke tahun memiliki kecenderungan untuk meningkat. Berikut adalah rekapitulasi data pengguna jalan tol di beberapa ruas di Indonesia. Gambar 1 Grafik Pertumbuhan Volume Lalu Lintas Pengguna Jalan Tol 2007 - 2011

Sumber: Diolah dari situs resmi PT. Jasa Marga (www.jasamarga.com), 2011

Tabel 1 Tabel Presentase Pertumbuhan Pengguna Beberapa Ruas Jalan Tol di Indonesia 2008 - 2010

Ruas Jalan Tol


Jakarta - Cikampek Jagorawi CTC dan Sedyatmo (Tol Dalam Kota Jakarta) Jakarta - Tangerang

2008
1,82576 3 -0,80905 -3,57695 0,13695 8 3,44267 2 6,38931 7 4,28731 7 5,36330 3

2009
1,78233 6 4,47954 7 3,60065

2010
5,99385 6 4,09178 8 4,16047 4 7,05914 8 6,59369 5 0,44176 3 12,2195 1 4,82527 2

Ratarata
3,200652 2,58743 1,394723

4,78858 3,994896 3 20,1619 Purwakarta - Bandung - Cileunyi 10,0661 4 5,27052 Palimanan - Kanci 4,033869 7 6,62481 Semarang 7,710548 6 6,60101 Surabaya - Gempol 5,596529 3 Pelabuhan Belawan - Medan 1,63920 -0,23363 6,61694 2,674174 Tanjung Morawa 9 Sumber : Diolah dari situs resmi PT. Jasa Marga (www.jasamarga.com), 2011 Berdasarkan kedua data tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa demand akan jalan tol semakin besar. Pertumbuhan kendaraan yang menggunakan jalan tol rata-rata berkisar antara 1,3% hingga 7,7%. Berdasarkan data tersebut, pertumbuhan kendaraan yang paling pesat berada di ruas jalan tol Semarang. Jalan tol yang memiliki jumlah rata-rata volume lalu lintas yang terbesar adalah ruas jalan tol CTC dan Sedyatmo atau ruas jalan tol dalam kota Jakarta. Hal ini tak lepas dari fungsi kota Jakarta sebagai salah satu daya tarik investasi, lapangan pekerjaan, dan kelengkapan infrastruktur yang ada, sehingga mendorong terjadinya arus ke dalam dan keluar kota Jakarta. Pertumbuhan volume lalu lintas di jalan tol yang cukup pesat tidak hanya ditunjukkan oleh ruas jalan tol di Pulau Jawa. Keberadaan jalan tol di Pulau Sumatera dan Sulawesi juga mengalami peningkatan volume kendaraan dari tahun ke tahun, meski belum sepadat dengan volume kendaraan di ruas jalan tol di Pulau Jawa terutama Jabodetabek. Pertumbuhan kendaraan yang pesat tersebut tidak diimbangi dengan kapasitas jalan tol yang peningkatan jumlahnya tidak terlalu signifikan. Berikut adalah peta jaringan jalan tol di Pulau Jawa.

Gambar 2 Peta Jaringan Jalan Tol di Pulau Jawa

Sumber: http://civilhighway.wordpress.com/2011/06/25/peta-jaringan-jalantol-di-pulau-jawa/, 2011 Banyak rencana pembangunan jalan tol oleh pemerintah yang terbengkalai. Hal ini dapat diakibatkan oleh beberapa sebab, misalnya adalah faktor pembebasan lahan yang sering menjadi sengketa antara masyarakat dan pemerintah, keterbatasan dana pembangunan jalan tol, AMDAL yang tidak layak, dan sebagainya. Hal ini turut berpengaruh terhadap kapasitas jalan tol yang pertumbuhannya lambat, sedangkan pertumbuhan volume kendaraan sulit untuk dikendalikan.

Pertumbuhan kendaraan yang cukup signifikan tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan pelayanan. Selain itu, pemerintah mengeluarkan keputusan untuk menaikkan tarif tol di beberapa ruas jalan dengan alasan penyesuaian dengan inflasi. Hal ini menjadi tanda tanya besar bagi pengguna jalan tol. Dengan tarif tol sebelum dinaikkan saja, masih dirasa bahwa pelayanan jalan tol masih dibawah standar yang telah ditetapkan. Terlebih jika tarif tol tersebut dinaikkan, maka perlu ada suatu mekanisme evaluasi kebijakan kenaikan tarif dengan tidak hanya berdasarkan kepada inflasi.

II.

Rumusan Persoalan
Kebijakan kenaikan tarif tol oleh pemerintah dinilai beberapa pihak

terburu-buru. Kebijakan kenaikan tarif tol oleh pemerintah ini memperoleh reaksi penolakan dari masyarakat. Selain karena minimnya sosialisasi tarif tol yang baru, hal ini disebabkan pula oleh tidak adanya peningkatan pemenuhan Standar Pelayanan Minimum jalan tol. Padahal ketentuan mengenai adanya SPM jalan tol ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 15 tahun 2005 tentang jalan tol dan Permen PU nomor 392/PRT/M/2005 tentang SPM jalan tol. Dilatarbelakangi hal tersebut, maka rumusan persoalan dalam laporan penelitian kali ini adalah Bagaimanakah kelayakan kenaikan tarif tol dengan Standar Pelayanan Minimum (SPM) jalan tol yang diberikan?

III.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang penelitian dan rumusan persoalan yang

muncul, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian kali ini adalah untuk menganalisis kelayakan kenaikan tarif tol pada Oktober 2011 dengan Standar Pelayanan Minimum jalan tol yang diberikan. Dari tujuan tersebut diturunkan menjadi beberapa sasaran penelitian. Adapun sasaran penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian kali ini yaitu: 1. Mengidentifikasi penyebab-penyebab kenaikan tarif tol 2. Mengidentifikasi kondisi eksisting dari tingkat pelayanan jalan tol

IV.

Analisis

Kelayakan

Kenaikan

Tarif

Tol

dengan

Standar

Pelayanan Minimum Jalan Tol


Perkembangan demand akan jalan tol semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini perlu diimbangi dengan peningkatan pelayanan jalan tol itu sendiri. Pelayanan jalan tol meliputi Standar Pelayanan Minimal jalan tol yang diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 392/PRT/M/2005 tentang Standar Pelayanan Minimal Jalan Tol. Penentuan SPM ini diperlukan untuk memastikan bahwa masyarakat mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan tarif tol yang dibayarkan. Pada bulan Oktober yang lalu, pemerintah mengeluarkan keputusan melalui Keputusan Menteri PU No 277/KPTS/M/2011 tanggal 27 September 2011 dan akan berlaku pada 7 Oktober 2011. Berikut adalah daftar ruas jalan tol yang mengalami kenaikan tarif tol (semua untuk golongan I). 1. Tol Jagorawi naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 7.000.

2. Tol Jakarta-Tangerang naik dari Rp 4.000 menjadi Rp 4.500.


3. Tol Dalam Kota Jakarta naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 7.000.

4. Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 7.500.
5. Tol Padalarang-Cileunyi naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 7.000. 6. Tol Surabaya-Gempol naik dari Rp 3.000 menjadi Rp 3.500. 7. Tol Palimanan-Kanci naik dari Rp 8.500 menjadi Rp 9.000. 8. Tol Cikampek-Padalarang naik dari Rp 27.500 menjadi Rp 29.500. 9. Tol Belawan-Tj Morawa naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 5.500.

10. Tol Serpong-Pondok Aren naik dari Rp 4.000 menjadi Rp 4.500. 11. Tol Ulujami-Pondok Aren naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.500. 12. Tol Tangerang-Merak naik dari Rp 28.500 menjadi Rp 31.000.
Kenaikan tarif 12 ruas tol berkisar antara 5-25%, dengan yang tertinggi terdapat di ruas jalan tol Tangerang - Merak dan Cikampek Padalarang. Perhitungan kenaikan tarif tol berdasarkan data dari BPS dan berdasarkan kemampuan bayar pengguna jalan, besar keuntungan biaya operasi kendaraan, dan kelayakan investasi. Kenaikan tarif tol ini dianggap wajar, karena pada dasarnya kenaikan tarif tol telah diatur dalam Undang-undang Nomor 38 tahun 2004 tentang jalan dan dapat dilakukan secara periodik (2 tahun sekali). Kenaikan tarif tol disambut dengan penolakan oleh berbagai pihak, terutama bagi para pengguna jalan tol. Kenaikan tersebut dianggap kurang

tepat, mengingat tidak adanya peningkatan SPM jalan tol. Sebagian besar pengguna jalan tol mengeluhkan bahwa tarif yang diberikan sekarang tidak sesuai dengan SPM yang diberikan. Jika berbicara mengenai SPM, maka terdapat enam komponen dasar yang menjadi indikator Standar Pelayanan Minimal dari jalan tol. Keenam komponen tersebut antara lain:

1. Kondisi jalan tol 2. Kecepatan tempuh rata-rata 3. Aksesibilitas 4. Mobilitas 5. Keselamatan


6. Unit pertolongan / penyelamatan dan bantuan pelayanan Berikut adalah penjabaran mengenai keenam komponen SPM jalan tol tersebut

Tabel 2 Tabel Komponen Standar Pelayanan Minimum Jalan Tol

No
1

Substansi Pelayanan
Kondisi jalan tol

Indikator
Kekesatan Ketidakrataan Tidak ada lubang

Standar Pelayanan Minimum Cakupan / Lingkup


Seluruh ruas jalan tol

Tolok Ukur
> 0,33 m IRI 4 m/km 100% 1,6 kali kecepatan tempuh rata-rata jalan non tol 1,8 kali kecepatan tempuh rata-rata jalan non tol 8 detik setiap kendaraan

Jalan tol dalam kota 2 Kecepatan tempuh rata-rata Kecepatan tempuh ratarata Jalan tol luar kota

Gerbang tol sistem terbuka Kecepatan transaksi ratarata Gerbang tol sistem tertutup - Gardu masuk - Gardu keluar Kapasitas sistem terbuka Kapasitas sistem tertutup Jumlah gardu tol - Gardu masuk - Gardu keluar

7 detik setiap kendaraan 11 detik setiap kendaraan 450 kendaraan per jam per gardu

Aksesibilitas

500 kendaraan per jam 300 kendaraan per jam

No

Substansi Pelayanan

Indikator

Standar Pelayanan Minimum Cakupan / Lingkup


Wilayah pengamatan/observasi patroli Mulai informasi diterima sampai ke tempat kejadian

Tolok Ukur
30 menit per siklus pengamatan

30 menit

Mobilitas

Kecepatan penanganan hambatan lalu lintas Penanganan akibat kendaraan mogok

Melakukan penderekan ke pintu gerbang tol terdekat/bengkel terdekat dengan menggunakan derek resmi (gratis) 30 menit per siklus pengamatan

Patroli kendaraan derek 5 Keselamatan Sarana pengaturan lalu lintas - Perambuan Kelengkapan dan kejelasan perintah dan larangan serta petunjuk Fungsi dan manfaat

100% Jumlah 100% dan reflektivitas 80% Jumlah 100% dan reflektivitas 80% 100%

- Marka jalan - Guide post / Reflektor - Patok kilometer setiap 1 km

No

Substansi Pelayanan

Indikator
Penerangan Jalan Umum (PJU) wilayah perkotaan Pagar Rumija

Standar Pelayanan Minimum Cakupan / Lingkup

Tolok Ukur
Lampu menyala 100% Keberadaan 100%

Korban Kecelakaan

Dievakuasi gratis ke rumah sakit rujukan Melakukan penderekan gratis sampai ke pool derek (masih di dalam jalan tol)

Penanganan kecelakaan Kendaraan kecelakaan

Pengamanan dan penegakan hukum 6 Unit pertolongan / penyelamatan dan bantuan pelayanan

Ruas jalan tol

Keberadaan Polisi Patroli Jalan Raya (PJR) yang siap panggil 24 jam 1 unit per 25 km atau minimum 1 unit (dilengkapi standar P3K dan paramedis)

Ambulans

Ruas jalan tol

Ruas jalan tol Kendaraan derek - LHR > 100.000 kendaraan/hari - LHR 100.000 kendaraan/hari Polisi Patroli Jalan Raya (PJR) Ruas jalan tol 1 unit per 5 km atau minimum 1 unit 1 unit per 10 km atau minimum 1 unit

No

Substansi Pelayanan

Indikator

Standar Pelayanan Minimum Cakupan / Lingkup


- LHR > 100.000 kendaraan/hari - LHR 100.000 kendaraan/hari

Tolok Ukur
1 unit per 15 km atau minimum 1 unit 1 unit per 20 km atau minimum 1 unit 1 unit per 15 km atau minimum 2 unit 1 unit per ruas jalan tol (dilengkapi dengan peralatan penyelamatan) Setiap gerbang masuk

Patroli jalan tol (operator)

Ruas jalan tol

Kendaraan rescue

Ruas jalan tol

Sistem informasi

Informasi dan komunikasi kondisi lalu lintas

Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no 392/PRT/M2005

SPM jalan tol disusun dengan tujuan standardisasi pelayanan di setiap ruas jalan tol dan sebagai panduan dalam meningkatkan kualitas pelayanan jalan tol. Namun demikian, dari keenam komponen di atas, banyak pengguna jalan tol yang masih merasa bahwa pelayanan yang ada masih belum memenuhi standar. Hal ini dapat terlihat dari indikator kemacetan yang terjadi di jalan tol, rusaknya beberapa bagian jalan tol, ketidaklengkapan infrastruktur pendukung jalan tol, dan sebagainya. Berikut adalah beberapa contoh mengenai kondisi pelayanan jalan tol saat ini. Gambar 3 Antrian dan Kemacetan yang Terjadi di Jalan Tol

Sumber: www.ticmetro.com, 2011 Gambar 4 Kondisi Jalan Tol yang Cukup Rusak

Sumber: http://www.bisnis-jateng.com/index.php/2011/03/page/44/, 2011

Gambar 5 Kondisi Jalan Tol yang Tergenang Banjir

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/foto/4480/Tol-Bintaro-Banjir, 2011 Gambar 6 Jalan Tol yang Tidak Memiliki Penerangan yang Memadai

Sumber: http://kebebasan.wordpress.com/2007/08/19/kenaikan-tarif-tol2007/, 2011 Berdasarkan dari kondisi nyata di lapangan, maka memang sebaiknya diperlukan evaluasi yang mendalam mengenai kondisi pelayanan jalan tol saat ini. Yang terjadi di lapangan adalah pelayanan jalan tol belum maksimal, tetapi kebijakan kenaikan tarif tol sudah diterapkan. Dasar pertimbangan kebijakan kenaikan tarif tol adalah inflasi. Masalah inflasi ini tidak bisa jadi tolok ukur utama, karena UU no 38 tahun 2004 ini juga mensyaratkan adanya evaluasi setiap dua tahun sebelum melakukan penyesuaian tarif. Dengan demikian, dasar pertimbangannya perlu ditambahkan dengan evaluasi penerapan SPM di setiap ruas jalan tol. Pemerintah dinilai terburu-buru dalam mengeluarkan kebijakan kenaikan ruas tol.

Evaluasi dan penyesuaian tarif tol harus mempertimbangkan kemampuan bayar, kelayakan investasi dan pemenuhan kewajiban oleh badan usaha. Perjanjian kenaikan tarif tol sebaiknya disepakati sejak awal kontrak investasi berjalan sehingga diketahui semua pihak sejak awal dan tidak menimbulkan keresahan setiap menjelang rencana kenaikan tarif. Peran penyesuaian tarif secara berkala sangat penting untuk memastikan badan usaha tetap dapat menjaga kualitas layanan. Di sisi lain, beban kendaraan yang melintasi jalur tol lingkar kota cukup berat. Ini menjadikan daya rusak relatif tinggi terhadap prasarana jalan tol. Pemerintah meminta agar semua operator jalan tol melakukan pemenuhan SPM di setiap ruas jalan tol terlebih dahulu, baru kemudian tarif jalan tol yang menyesuaikan. Variasi kenaikan tarif tol yang sebesar 5% dan 25% sebaiknya memiliki standar tertentu terkait dengan kualitas pelayanan bagi masyarakat pengguna jalan tol. Ketercapaian indikator yang tercantum dalam komponen SPM dinilai belum merata dan maksimal. Yang paling terasa adalah kemacetan yang terjadi di jalan tol dan antrian di gerbang tol. Lalu lintas harian yang begitu padat belum dapat diakomodasi dengan kapasitas jalan tol dan pelayanan yang efisien. Contoh kasus yang menarik untuk dibahas adalah ruas tol dalam kota Jakarta. Setiap harinya, ruas jalan tol ini dipadati oleh ribuan kendaraan keluar dan masuk ke Jakarta. Kemacetan di jalan tol ini merupakan suatu pemandangan yang biasa bagi setiap pengguna jalan tol. Antrian di setiap gerbang tol pun tidak terelakkan. Namun demikian pada bulan Oktober lalu, pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif tol dalam kota Jakarta sebesar Rp 1.500,00 atau sebesar 25% bagi kendaraan golongan 1. Kenaikan tarif 25% tersebut tergolong cukup tinggi pada periode Oktober dan jika dibandingkan dengan kenaikan tarif tol yang lain yang berkisar 5 hingga 20%. Kenaikan tarif tersebut justru tidak membuat keadaan kemacetan yang semakin mencair atau pelayanan di gerbang tol yang semakin efisien.

V.

Penutup
Kebijakan pemerintah menaikkan tarif tol yang berkisar 5 hingga 25%

pada Oktober 2011 yang lalu dirasa belum sesuai dengan Standar Pelayanan Minimum (SPM) jalan tol yang diberikan. Kenaikan tarif tol tersebut tidak didasari oleh evaluasi SPM jalan tol. Untuk beberapa ruas jalan tol yang memiiki lalu lintas harian yang padat seperti tol dalam kota Jakarta, tol Cikampek Jakarta, dan tol Padalarang Cileunyi, ketidaksesuaian antara tarif

dan SPM jalan tol yang diberikan semakin terasa. Antrian panjang kendaraan, kondisi jalan tol yang rusak, transaksi di gerbang tol yang kurang efisien, standar keselamatan yang kurang diperhatikan seperti marka jalan, lampu penerangan, dan signage. Mekanisme penyesuaian tarif tol tersebut tidak hanya berdasarkan kepada inflasi. Sebaiknya, kenaikan tarif tol itu sudah direncanakan pada awal masa investasi dengan mempertimbangkan inflasi, SPM, dan kemampuan bayar. Hal ini dilakukan untuk menuntut operator jalan tol memberikan pelayanan yang maksimal kepada setiap pengguna jalan tol dan tarif jalan tol yang dikenakan pun sesuai.

VI.

Referensi

Internet Situs 2011. Situs resmi berita Detikcom. 2010. resmi Harian Seputar Indonesia. 2011. http://www.seputarindonesia.com/edisicetak/content/view/433242, akses terakhir 9 Desember

http://us.finance.detik.com/read/2010/03/12/122117/1317047/4/pemerintah -evaluasi-kenaikan-tarif-4-ruas-tol-di-2010, akses terakhir 9 Desember 2011. Situs resmi Metro TV News. 2011.

http://metrotvnews.com/read/news/2011/10/13/68055/Kebijakan-NaikkanTarif-Tol-Dinilai-Salah, akses terakhir 9 Desember 2011. Situs resmi Panin Sekuritas. 2011. http://www.pans.co.id/? akses terakhir 9

page=berita&id=SU5GLTIwMTExMDEzMDk1NjAyLnhtbA==, Desember 2011. Situs resmi Koran Jakarta. 2011.

http://koran-

jakarta.com/index.php/detail/view01/72312, akses terakhir 9 Desember 2011. Situs resmi Jasa Marga. 2011. www.jasamarga.com, akses terakhir 9 Desember 2011.

Situs resmi Badan Pengelola Jalan Tol. 2011. www.bpjt.net, akses terakhir 9 Desember 2011 Peraturan Perundang-undangan PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 392/PRT/M/2005 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL JALAN TOL Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 392/PRT/M/2005 STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) JALAN TOL PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2005 TENTANG JALAN TOL KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH NOMOR

354/KPTS/M/2001 TENTANG KEGIATAN OPERASI JALAN TOL KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH NOMOR

353/KPTS/M/2001 TENTANG KETENTUAN TEKNIK, TATA CARA PEMBANGUNAN DAN PEMELIHARAAN JALAN TOL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN

VII.

Lampiran

1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 392/PRT/M/2005 Tentang Standar Pelayanan Minimal Jalan Tol 2. REKAPITULASI SPM Semester I-2011 3. REKAPITULASI SPM Semester II 2010-2011