Anda di halaman 1dari 15

PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE PENEMUAN (DISCOVERY)

Tedy Machmud *) Abstract: To obtain the result of teaching mathematics which emphasize in mathematical reasoning, be needed teach method which effective and efficient. The reasoning aspect of mathematics teaching become main focus because mathematical reasoning constitute a red thread which basis and inspire the whole mathematics. Among others, teach mathematics method which be suggestion is discovery method. This method needed to devolop because it is a method which be oriented to intellectual activity and of student. This method is very support in teaching mathematics activity which emphasize in think mathematics model and mathematics exploration. What and how this discovery method in teaching mathematics context is very important to be understand by mathematics teacher, to produce the high teachnig quality Kata Kunci: Metode Penemuan (Discovery), Inquiry, Problem Solving Kenyataan yang dihadapi dewasa ini ialah pembelajaran matematika selalu merupakan permasalahan yang sepertinya tidak kunjung terpecahkan. Pemahaman matematika senantiasa dipandang atau dirasakan sukar, baik oleh yang belajar dan tidak jarang juga oleh pengajarnya. Ini terjadi disetiap jenjang pendidikan di Indonesia. Dosen atau guru mengeluhkan bahwa anak didik tidak bersemangat bahkan kadang-kadang cenderung takut menghadapi pelajaran matematika, mereka tidak mampu mencerna konsep yang diajarkan, tidak terampil dalam proses, lemah dalam pengusaan teknik, apalagi dalam segala sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan bernalar. Peserta didik juga banyak yang mengeluhkan bahwa matematika yang diajarkan terlalu sukar, dan peserta didik yang bukan jurusan matematika merasa tidak ada kaitan bidang studi matematika dengan bidang studinya, dan karena itu mereka lebih senang meninggalkan kuliah untuk pelajaran lain atau setidaknya lebih mengutamakan pelajaran lain. Memang bila ditelusuri lebih lanjut, penggarapan dalam rangka perbaikan mutu pendidikan matematika sangatlah kompeks. Salah satu aspek yang perlu ditelusuri dalam proses pengajaran matematika tersebut adalah aspek komponen pengajaran. Menurut Hudoyo (2003:9-13) dalam model pengembangan kurikulum matematika ada empat komponen pokok dalam pengembangan kurikulum matematika. Komponen yang dimaksud adalah komponen tujuan, isi/organisasi, metode dan penilaian.

*) Dosen Pendidikan Matematika FMIPA UNG

Dari keempat komponen tersebut di atas penulis akan lebih menitikberatkan pada komponen metode. Untuk mendapatkan hasil pengajaran matematika yang menitikberatkan pada penalaran matematika (mathematical reasoning ), diperlukan metode mengajar yang efektif dan efisien. Metode mengajar yang diterapkan dalam suatu pengajaran menurut Simanjuntak (1993:80) dikatakan efektif bila menghasilkan sesuatu sesuai yang diharapkan atau dengan kata lain tujuan yang tercapai, bila makin tinggi kekuatannya untuk menghasilkan sesuatu makin efektif metode tersebut. Sedangkan metode mengajar dikatakan efisien jika penerapannya dalam menghasilkan sesuatu yang diharapkan itu relatif menggunakan tenaga, usaha, biaya dan waktu yang dikeluarkan semakin kecil maka akan semakin efisien metode tersebut. Dalam pengajaran matematika aspek penalaran matematika menjadi fokus utama karena penalaran matematika ini merupakan semacam benang merah yang mendasari dan menjiwai seluruh matematika. Oleh karena mengingat harapan tersebut maka jelaslah bahwa untuk melaksankan suatu proses belajar yang efektif dan efisien sesuai dengan tutunan kemajuan iptek, yang kadar CBSA-nya tinggi diperlukan metode mengajar yang lebih berorientasi kepada falsafah pendidikan dengan titik berat pada aktifitas intelektual peserta didik yang sangat tinggi. Menurut Hudoyo (2003:10-11) metode mengajar ditinjau dari segi psikologi erat hubungannya dengan jawaban pertanyaan kurikulum kepada siapa matematika itu diajarkan. Karena itu pengajar matematika dalam menyampaikan materi matematika harus mempertimbangkan perkembangan intelektual peserta didik serta kemampuan dan kesiapan peserta didik. Terdapat beberapa macam metode mengajar yang dapat digunakan oleh pengajar matematika tergantung kepada siapa yang belajar matematika, mengapa diajarkan dan apa yang diajarkan, antara lain metode mengajar matematika yang disarankan adalah metode penemuan (discovery). Metode ini perlu dikembangkan karena merupakan salah satu metode yang berorientasi kepada aktifitas intelektual dan aktifitas mental peserta didik. Metode ini sangat menunjang pada model berpikir matematika dan eksplorasi matematika. Berdasarkan pertimbangan di atas, maka tulisan ini akan mengungkap mengenai metode penemuan, yang dirangkum dalam kajian apa dan bagaimana pembelajaran matematika dengan metode penemuan. METODE PENEMUAN (DISCOVERY) Istilah discovery telah sering dikemukakan orang, baik secara lisan maupun tulisan. Beberapa ahli memberikan pengertian dan penjelasan yang agak berbeda terhadap istilah discovery. Dalam penggunannya pengertian discovery sering dipersepsikan dengan istilah lain yaitu inquiry dan problem solving. Beberapa ahli mengatakan discovery sebagai sub ordinat dari inquiry dan beberapa ahli yang lain mengatakan sebaliknya, inquiry sebagai sub ordinat dari discovery, dan sebagian lagi mengatakan heuristic modes tercakup di dalam discovery dan inquiry. (Sumarjo:1990;1).

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan mengetahui inti persamaan dan ciri perbedaan pengertian ketiga istilah tersebut di atas, maka terlebih dahulu akan diuraikan pengertian metode inquiry dan problem solving. Metode inquiry adalah merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar di depan kelas. Dalam Roestiyah (1991:76) disebutkan metode inquiry merupakan metode belajar yang melibatkan proses mental tinggi tingkatnya. Metode ini dimulai dengan kegiatan perumusan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data dan menarik kesimpulan Sudjana (1991:551) antara lain menulis ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pendekatan inquiry yakni: 1. perumusan masalah untuk dipecahkan siswa, 2. menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis, 3. siswa mencari informasi,dat fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan /hipotesis, 4. menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi, 5. mengaplikasikan kesimpulan/generalisasi dalam situasi baru. Langkah pelaksanaan inquiry dimulai dari kegiatan guru membagi tugas meneliti sesuatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan. Kemudian mereka mempelajari, meneliti atau membahas tugas tertentu yang harus dikerjakan. Setelah hasil kerja mereka dalam kelompok didiskusikan, kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik. Akhirnya hasil laporan kerja kelompok dilaporkan ke sidang pleno, dan terjadilah diskusi secara luas. Dari sidang plenolah kesimpulan akan dirumuskan sebagai kelanjutan hasil kerja kelompok. Dan kalau masih ada tindak lanjut yang harus dilakukan maka diadakan penyusunan kesimpulan akhir. Sedangkan metode problem solving (pemecahan masalah ) dalam Sudjana (1991:85) adalah bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai menarik kesimpulan. Langkah langkah pelaksanaan metode problem solving, diuraikan sebagai berikut: 1. adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuanya. 2. mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut, misalnya dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya berdiskusi dan lain-lain. 3. menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh pada langkah kedua. 4. menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut cocok, apakah sesuai dengan jawaban sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untuk

menguji kebenaran jawaban ini tentu saja diperlukan metode-metode lainya seperti demonstrasi, tugas diskusi, dan lain-lain. 5. menarik kesimpulan artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tersebut. Dari uraian di atas nampak kedua metode ini di dalam langkah-langkah proses pelaksanaanya mempunyai ciri karekteristik yang hampir sama, karena sama-sama dimulai dari adanya masalah, masalah dipecahkan secara bersama dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Untuk membandingkan dengan metode discovery berikut akan diuraikan secara gamblang metode discovery. Menurut Sund (dalam Roestiyah, 1991:20) metode discovery adalah suatu metode yang melibatkan proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental tersebut antara lain ialah mengamati, mencerna, mengerti, mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya, Dalam tehnik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberi intruksi. Robert L.Gistrap dan William R. Martin (dalam Sumarjo, 1988:8) menjelaskan istilah discovery sebagai suatu prosedur mengajar yang lebih mengutamakan studi individual, memanipulasi objek, dan berpusat pada siswa dengan cara melibatkan siswa dalam pemahaman konsep melalui eksperimen yang dilakukan atau melalui pertanyaanpertanyaan yang diajukan. Metode discovery merupakan suatu komponen dari praktek pendidikan yang dinamakan heuristic teaching yaitu sejenis mengajar yang membangkitkan aktifitas siswa berpusat pada proses bersifat self directed, selalu ingin mencari dan membangkitkan belajar secara reflektif. Metode discovery dibedakan atas dua hal, yaitu: discovery terbimbing dan discovery tidak terbimbing (bebas). Kedua model ini didasarkan pada banyaknya bimbingan guru yang diberikan kepada siswa, jika bimbingan itu tidak diberikan atau sangat minim sekali, berarti siswa mempunyai kebebasan sepenuhnya untuk menentukan kegiatannya sehingga dikatakan discovery bebas (free discovery). Dan dalam hal sebaliknya yaitu dalam hal bimbingan dan pengarahan guru diberikan banyak dan bertahap dikatakan discovery terbimbing (guided discovery). Pada umumnya discovery learning sering dijumpai pada belajar tentang pembentukan konsep dan belajar melalui induktif. Dalam discovery learning situasi belajar berpindah dari situasi belajar mengajar yang didominasi oleh guru menjadi situasi belajar yang didominasi siswa . Cara mengajar yang dikembangkan adalah cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri. Penggunaan teknik discovery ini berusaha meningkatkan aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar. Dibandingkan dengan problem solving dan kreatifitas, belajar melalui discovery merupakan kegiatan yang lebih dulu dilakukan. Problem solving merupakan jenis belajar melalui discovery yang lebih kompleks yang mengandung proses psikologi lebih tinggi dari

aplikasi rutin dan lebih rendah dari kreatifitas. Problem solving memuat suatu jurang pemisah (gap) antara apa yang diketahui siswa pada suatu saat dan apa yang ingin ditemukannya melalui manipulasi atau strategi atau set hukum-hukum. Robert B.Sund (dalam Sumarjo,1988:9) menjelaskan tentang discovery inquiry sebagai berikut: jika seorang siswa melakukan discovery, maka ia melakukan proses kognitif: mengasimilasikan konsep dan prinsip dan pikiranya, dalam bentuk mengamati, mengklasifikasi,mengukur, menduga, melukiskan dan menalar. Jika proses ini dikembangkan lebih lanjut, maka proses ini dinakan inquiry. Jadi dalam pengertian ini metode discovery adalah sub ordinat dari metode inquiry. Dalam inquiry selain proses discovery termuat pula proses mental yang lain yaitu merumuskan masalah, memuat hipotesis, merancang eksperimen, memuat sintesis, menunjukkan sikap objektif, selalu ingin tahu, terbuka dan tertarik pada model teoritik. Dari pengertian ketiga metode di atas nampak adanya kesamaan ciri karakteristik, perbedaanya hanya terletak pada luas cakupan masing-masing metode, dimana metode discovery adalah sub ordinat metode inquiry dan problem solving adalah metode discovery yang lebih kompleks. Kegiatan inquiry dan problem solving juga memuat kegiatan discovery. Discovery merupakan suatu strategi yang unik yang disusun guru dalam beberapa cara termasuk didalamya mengajarkan keterampilan inquiry dan problem solving sebagai alat untuk siswa dalam mencapai tujuan pendidikan. Dalam pengertian di atas Muhamad Amin (dalam Surjo,1988:10) mengemukakan beberapa ciri metode discovery-inquiry sebagai berikut : 1. bertanya, tidak semata-mata melihat dan mendengarkan dan menghapal. 2. bertindak, tidak semata-mata melihat dan mendengarkan, 3. mencari penyelesain/pemecahan, tidak semata-mata mendapat, 4. menemukan masalah tidak semata-mata mempelajari fakta, 5. menganalisa, tidak semata-mata mendapatkan, 6. membuat sintesa, tidak semata-mata mengamati, 7. berpikir tidak semata-mata melamun atau membayangkan, 8. menghasilkan tidak semata-mata menggunakan, 9. menyusun, tidak semata-mata mengumpulkan, 10. menciptakan, tidak semata-mata memproduksi kembali, 11. menetrapkan, tidak semata-mata mengingat-gingat, 12. meneliti, tidak semata-mata membenarkan, 13. mengkritik yang konstruktif, tidak semata-mata menerima, 14. merancang, tidak semata-mata melaksanakan, 15. mengevaluasi dan menghubungkan tidak semata-mata mengulangi, Selain itu Paeru (1987:19) menjelaskan ciri-ciri metode penemuan adalah sebagai berikut: 1. mengutamakan aktifitas siswa untuk belajar sendiri, 2. berorientasi kepada proses, 3. siswa mangarahkan/memimpin diri sendiri untuk memecahkan masalah.

Untuk meningkatkan teknik discovery-inquiry dapat ditimbulkan dengan kegiatankegiatan sebagai berikut: 1. guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk di ajukan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa/problematik) dan sesuai dengan daya nalar siswa, 2. guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, 3. adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup, 4. adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya, berdiskusi. 5. partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar. 6. guru tidak banyak campur tangan dan berintevensi terhadap kegiatan siswa. Sedangkan halhal yang perlu distimulir dalam proses belajar melalui pendekatan ini adalah: otonomi siswa, kebebasan dan dukungan pada siswa, sikap keterbukaan, percaya kepada diri sendiri dan kesadaran akan harga diri, self concept, dan pengalaman untuk menyelidiki serta terlibat dalam pemecahan masalah. Salah seorang penganjur dilaksanakannya belajar melalui discovery adalah Jerome Bruner, seorang ahli psikiologi dari Harvard. Pendapatnya itu dilandasi oleh pahamnya bahwa proses menemukan fakta adalah tujuan belajar sesuatu fakta, dan ini distimulasi oleh John Dewey bahwa dalam pengajaran belajar yang berorientasi pada guru hendaknya dibatasi dan bahwa belajar bukan hanya tranmisi dari informasi, tetapi lebih bersifat berpusat pada siswa. Metode discovery khususnya discovery terbimbing telah menjadi salah satu metoda yang dipakai dalam program kurikulum terutama dalam pengajaran IPA dan Matematika. Gilstrap dan Martin (Sumarjo, 1990:12) mengemukakan beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan guru dalam strategi discovery terbimbing yang di antaranya adalah : 1. memperhatikan kebutuhan dan minat siswa sebagai dasar memilih topik, 2. mengadakan seleksi yang berdasarkan kebutuhan dan minat siswa terhadap prinsip utama generalisasi, konsep atau hubungan yang akan dipelajari, 3. menciptakan suasana kelas yang mendorong untuk berlangsungnya discovery learning, 4. kalau memungkinkan melengkapi pelajaran dengan alatalat yang diperlukan, 5. beri kesempatan pada siswa untuk aktif bekerja, mengemukakan pendapatnya dan memberi respons yang sportif, positif untuk membangkitkan kreatifitas siswa, 6. ciptakan interaksi antar siswa misalnya dengan mengajukan pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh siswa, 7. membantu siswa dalam merumuskan secara verbal hukum hukum, prinsip, generalisasi atau konsep yang ditemukan dalam metode discovery, 8. meneliti kembali apakah siswa dapat menerapkan apa yang telah ditemukannya dalam masalah lain yang serupa. Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa metode penemuan ini secara garis besarnya dibagi atas dua bagian yaitu metoda penemuan terbimbing dan metoda penemuan

tidak terbimbing (bebas). Kedua metoda ini dicirikan oleh besar kecilnya intervensi guru terhadap jalannya proses penemuan itu sendiri. Hal yang perlu ditekankan pada discovery ini adalah bukan hasil penemuan itu, tetapi adalah proses menemukannya. Keterlibatan guru dalam proses menemukan inilah yang akan menentukan keberhasilan siswa dalam proses belajar discovery. Seperti yang dikemukakan oleh Davis (Sumarjo, 1990:2 ) yang memperkenalkan masalah kepada siswa yang dikenal dengan krisis dilemma. Contoh krisis dilemma: Pertama-tama siswa ditanyakan tentang matriks 2 x 2 yang analog dengan 0 dalam 0 0 bilangan rasional. Kebanyakan siswa langsung mengajukan matriks . Kemudian 0 0 ditanyakan matriks 2 x 2 yang analog dengan 1 dalam bilangan rasional ini salah. Jadi siswa harus dibimbing untuk mendapatkannya. 1 1 1 1 . Tentu

STRATEGI UMUM PENGAJARAN DENGAN METODA DISCOVERY Dalam merancang atau menyusun metoda mengajar atau strategi mengajar, beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya adalah: 1. tujuan yang hendak dicapai termasuk didalamnya aspek kognitif, afektif, dan psikomotor (kalau ada) yang ingin diutamakan, 2. siapa anak yang belajar, 3. bidang studi dan topik yang akan diajarkan, 4. keterbatasan yang ada misalnya peralatan, waktu, kondisi kelas, jumlah siswa, dan lainlain. Membahas mengenai tujuan metoda discovery dalam pengajaran matematika diharapkan dapat mencakup ketiga domain kognitif tercermin dalam kegiatan dan proses belajar siswa dalam menyusun generalisasi berdasarkan data atau informasi yang diperlukan olehnya. Tujuan yang menyangkut domain afektif tercermin dari sikap baik terhadap bidang studi, sesama siswa, guru atau lingkungan belajarnya. Dan dalam tujuan psikomotor pada umumnya hanya menyangkut ketrampilan siswa dalam memanipulasi alat peraga atau perlengkapan lain. Dalam hal pengajaran yang tidak menggunakan alat peraga khusus, kegiatan dalam domain psikomotor tidak tampak. Dalam menyusun metoda mengajar yang dihubungkan dengan siapa anak yang belajar, hal-hal yang perlu diperhatikan di antaranya adalah : 1. tingkat perkembangan siswa, 2. hal-hal yg telah diketahui sebelum topik baru diajarkan, 3. lingkungan siswa, 4. kegunaan bahan yang akan diajarkan yang dapat dimanfaatkan siswa. Pertimbangan-pertimbangan di atas akan memberikan saran pengajaran topik mana yang mungkin akan memerlukan pendekatan mengajar yang berbeda untuk berbagai lingkungan sekolah. Pada dasarnya inti dari penerapan metoda pengajaran dengan metoda penemuan (discovery) adalah suatu pola perubahan situasi dari situasi guru mengajar kepada situasi siswa belajar. Dimana guru bertindak sebagai pengayom, tempat bertanya, memberikan kesempatan yang cukup kepada anak didik untuk belajar berbuat sendiri, mencari aturanaturan disiplin matematika, pola-pola dan struktur matematika, ekstrakorelasi, dengan bidang studi lain, serta masyarakat dan alam sekelilingnya, juga latihan-latihan ketrampilan yang diperlukannya. Metoda pengajaran ini merupakan metoda mengajar yang relevan dengan cara belajar siswa aktif (CBSA), yaitu cara belajar yang melibatkan keterlibatan intelektual emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan, asimilasi dan akomodasi kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan serta pengalaman langsung terhadap balikan (feed back) dalam pembentukan keterampilan, dan penghayatan serta internalisasi nilai-nilai. Metoda penemuan lebih sesuai dengan proses belajar mengajar yang dikehendaki secara umum seperti yang dikemukakan oleh Umar Hamalik:

pelajar mempunyai motivasi dan melihat suatu tujuan, mengarahkan perhatian dan kegiatan kepada pencapaian tujuan, melakukan usaha percobaan permulaan, menggunakan pengalamanpengalaman masa lampau terhadap tugas, mengadakan diferensiasi dan integrasi, 5. mengambil jawabanjawaban yang benar dan menghilangkan jawabanjawaban yang salah, 6. mencapai tujuan jawaban yang baik, terbaru digunakan dalam situasi lain. Thomson dan Voelker (dalam Paeru, 1987:38) menyatakan: bahwa belajar discovery inquiry- dapat dilaksanakan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan langsung dan pendekatan tak langsung. Pada pendekatan tidak langsung, siswa tidak berhubungan langsung dengan matematika yang dipelajarinya, melainkan melalui perantara yaitu guru. Guru bercerita dan siswa mendengarkan atau mencatat ucapan guru, sedangkan untuk menilai keberhasilan siswa diukur dengan kemampuan mendapatkan kembali faktafakta melalui ulangan atau tugas. Pada pendekatan langsung, siswa berkomunikasi dengan bahan pelajaran, guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pengawas sedangkan evaluasi dilakukan bersama dan menyeluruh. Kedua pendekatan ini dapat dilihat pada bagan 1. Strategi penemuan terbimbing didefinisikan sebagai sederetan langkahlangkah yang mana langkah pernyataan kunci jika akan dimunculkan, munculnya belakang. Artinya: bila siswa mengalami ketidakmampuan untuk melihat generalisasi, maka guru diharapkan untuk memberikan pernyataan pengarah/ kunci diberikan untuk mempercepat dan pembenaran respons dari siswa. Dengan deretan pernyataan yang tepat dari guru membimbing siswa mengabstraksi suatu generalisasi yang sifat umum dari semua contoh yang diberikan. Dengan kata lain dengan kemampuan bertanya yang bagus dari seorang guru dapat membimbing siswa melakukan generalisasi. Ada dua strategi umum penemuan terbimbing yang sering dipakai oleh guru matematika, yaitu: (1) strategi penemuan induktif dan (2) strategi penemuan deduktif. Suatu argumen induktif terdiri dari dua bagian yaitu: yang memuat faktafakta dalam pengambilan kesimpulan; dan kongklusi/kesimpulan. Dalam strategi penemuan dedukatif, guru memperkenalkan suatu premis kepada siswa. Kemudian menanyakan implikasi dari premis tersebut. Esensi dari penemuan dedukatif adalah memperkenalkan konsep/prinsip matematika kepada siswa, kemudian didorong/dituntun untuk menemukan pengetahuan dari konsep/prinsip tersebut (Sumarjo: 1990:6).

1. 2. 3. 4.

Mengajar diidentifikasikan sebagai bercakap, yakni guru bercerita

Belajar didefinisikan sebagai mendengarkan dan atau mencatat

Evaluasi didefinisikan sebagai mendapatkan fakta fakta lewat ulangan atau tugas

Siswa

Siswa

Guru

Penemu komunikator Evaluator Sinteser

Katalisator Pembimbing Pengamat evaluator

Program Siswa Diri sendiri Bagan 1. Pendekatan Tak Langsung dan Pendekatan Langsung

Dalam penemuan induktif siswa melakukannya dari contoh-contoh dengan dugaan pada sifat umum, sedangkan dalam penemuan deduktif siswa membuat logika deduktif dari pengetahuan yang sudah diterima sebelumnya. Dalam strategi induktif, guru memperkenalkan contoh-contoh yang telah dipilih sehingga urutan abstraksinya jelas. Guru bisa saja mengatakan langsung kepada siswa tentang variabel-variabel yang relevan dan hubunganhubungan yang mungkin. Dalam strategi deduktif guru cenderung menanyakan sederetan pertanyaan untuk membimbing siswa memikirkan penyusunan / pembuatan generalisasi. Kunci sukses dalam strategi penemuan deduktif adalah terletak pada kemampuan guru menyusun dan menanyakan sederetan pertanyaan pengarah yang akan membimbing siswa menyimpulkan atau membuat suatu generalisasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penemuan induktif atau deduktif atau keduanya. Sering suatu generalisasi dapat diajarkan dengan efektif melalui suatu penemuan induktif atau penemuan deduktif atau bahkan dengan kombinasi induktif dan deduktif. Jika seseorang guru memutuskan mengajar dengan penemuan, maka beberapa faktor harus ditinjau dalam pemilihan dan penyusunan program. Salah satu adalah kemampuan matematika dan intelektual dari siswa. Penemuan deduktif memerlukan kemampuan logika dasar deduktif yang sudah harus dipelajari oleh siswa sebelumnya. Penemuan induktif memerlukan kemampuan menginduksi suatu pola. Dan yang tidak kalah pentingnya ditinjau oleh seorang guru adalah strategi yang mana yang cocok. MERENCANAKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE PENEMUAN (DISCOVERY). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan dan pembelajaran dengan menggunakan metode discovery (Sumarjo:1990:10): 1. Generalisasi yang akan ditemukan harus jelas. Menyusun generalisasi yang akan ditemukan dengan jelas akan membantu dan mengarahkan guru dalam menyeleksi contoh-contoh dan pertanyaan yang akan diberikan kepada siswa. Jika guru kurang jelas menerangkan apa yang akan ditemukan, maka siswa akan jadi binggung dan tidak dapat berbuat apa-apa. 2. Mempertimbangkan faktor-faktor yang akan relevan sebelum memutuskan, apakah memakai penemuan induktif atau deduktif dan kombinasi keduanya. Dengan mengambil keputusan, maka kita sudah memperjelas faktor-faktor yang relevan, kemudian sifat-sifat dari generalisasi yang sangat kompleks tidak akan efisien dan efektif bila diajarkan dengan strategi penemuan. Contoh:Untuk menerangkan teorema De Moivres Dalam bilangan kompelks z = r (cos + i sin )n Untuk r = 1, maka diperoleh (cos + i sin )n = cos n + i sin n Ini lebih efektif bila diterangkan dengan metode ekspository (menerangkan dengan sedetaildetailnya).

3. Jika penemuan induktif dipakai, pilihlah contoh yang representatif. Contoh: mencari hubungan antara jumlah dan hasil kali dari akar-akar persamaan kuadrat. Contoh yang akan dipilih adalah a = 1 maka r1 + r2 = -b dan r1 . r2 = c. Tentu ini akan salah untuk a 1. Jadi perlu diambil contoh yang a = 1 dan sebagainya. 4. Susun sederatan contoh yang akan diperlukan dalam penemuan. Untuk suatu generalisasi, deretan contoh yang diperkenakan adalah merupakan faktor penentu dalam membantu siswa membuat penemuan. Misalkan seorang guru akan mengajar hubungan di antara nilai m, m> 0, dalam y = mx + b dengan kemiringan dari grafik persamaan tersebut. Deretan contohnya, baca dari kiri kekanan: y=2 ; y = x + 2 ; y = x + 2 ; y = 1/3 x +2 y = 2x + 2 ; y = 5x + 2 ; y = 9x + 2 ; y = 15x + 2 Dengan contoh ini memudahkan siswa melihat hubugan nilai m dengan kemiringan garfik dari pada contohnya dibuat acak. 5. Penemuan siswa harus diuji. Membuktikan suatu generalisasi adalah melakukan deduksi derajat kekerasan argument deduktif biasanya bervariasi sesuai denagn kematangan matematika dari siswa. Jadi guru perlu memberikan beberapa contoh untuk menguji penemuan, atau barangkali memberikan contoh kontra. 6. Menguatkan penemuan dengan aplikasi. Dua keuntungan yang diklaim dari pengajaran dengan penemuan adalah: potensial dalam mentransfer, ingatan lebih lama. Untuk hal inilah maka bila siswa menemukan satu generalisasi perlu diaplikasikan. Sebagai contoh: misalkan siswa telah menemukan : Log a. b = log a + log b ; a, b > 0 Bagaimana denfan log an = ? ; a > 0 ; n di N. Salah satu ciri khas dari penagajaran dengan penemuan yang sedang dibahas ini adalah menyangkut interaksi seorang guru dan siswa didalam kelas. Interaksi dapat berupa diskusi tentang contoh atau implikasi yang dapat diturunkan dari generalisasi dan informasi lain yang relevan dengan discovery learning. Biasanya guru berinteraksi dengan 20 atau 30 orang siswa dalam satu kelas. Suatu alternatif pendekatan interaksi dianjurkan oleh Davidson (Sumarjo, 1999:13) yaitu dengan membagi siswa dalam beberapa grup dengan maksud siswa tersebut mempelajari secara langsung pokok permasalahan untuk ditemukan dan dibimbing oleh guru. Dalam metode ini dituntut kerja sama antara siswa dengan siswa yang lain. Peran guru dalam metode ini hanya bersifat membimbing. Pada umumnya ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pendekatan inquiry /discovery yakni, ( Sudjana,1991:155): 1. perumusan masalah untuk dipecahkan siswa, 2. menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal istilah hipotesis, 3. siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan/ hipotesis, 4. menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi,

5. mengaplikasikan kesimpulan/ generalisasi dalam situasi baru. KEBAIKAN DAN KELEMAHAN METODE PENEMUAN (DISCOVERY) Dalam proses belajar mengajar tak dapat ditetapkan suatu metoda mengajar terbaik bagi semua situasi dan kondisi kelas. Setiap metoda yang dipilih, tentu akan mempunyai kebaikan dan kelemahannya. Dengan mengetahui kebaikan dan kelemahan ini, maka guru dapat mempertimbangkan metoda mana yang akan diterapkannya sesuai dengan kebutuhan anak, perkembangan anak, bidang studi yang diajarkan, ke dalam kelas dengan segala keterbatasannya. Dengan kata lain suatu metoda yang sangat baik dan cocok untuk topik tertentu, mungkin menjadi kurang sesuai jika diterapkan kepada kelompok lain, topik lain atau pada waktu berlainan, sehingga mungkin metoda yang lain akan memberi hasil yang lebih baik. Sehubungan dengan hal ini, kebaikan dan kelemahan metoda discovery berikut ini, dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menerapkan metoda discovery. Sumarjo (1990 : 15) menyebutkan beberapa kebaikan metoda discovery di antaranya: 1. membantu siswa mengembangkan dan meningkatkan belajar dan mengontrol keterampilan kognitif dan proses belajar, sehingga mereka belajar bagaimana belajar, 2. pengetahuan yang diperoleh melalui Discovery, mempunyai kekuatan dalam pendalaman pengertian, resensi dan transfer, 3. dapat menimbulkan rasa puas dalam dirisiswa, 4. memungkinkan siswa menempuh cara terbaik sesuai dengan kemampuannya, 5. menyebabkan siswa terarah dalam belajarnya, terlihat dalam kegiatan sehingga mereka termotivasi, 6. membantu siswa dalam mencapai konsep diri dan percaya akan kemampuan dirinya, 7. memberikan kesempatan siswa dan guru berpartisipasi aktif, 8. membantu perkembangan skeptisme yang sehat tentang kebenaran yang final dan ultimate, 9. siswa berpartisipasi aktif dalam pelajaran yang disajikan, 10. siswa berkemampuan untuk menstransfer pengetahuannya dalam berbagai konteks, 11. materi yang dipelajari lebih lama terkesan dan bila lupa dapat ditemukan / diangkat kembali, 12. menimbulkan interaksi antar siswa. Dengan demikian siswa terlatih menggunakan bahasa yang baik dan benar, 13. siswa berkemampuan melihat dan memecahkan permasalahan, 14. siswa termotivasi dan bersikap ingin tahu, Sedangkan dalam Roestiyah (1991:21) disebutkan pula beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan dalam menerapkan metode discovery yaitu: 1. pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara belajar ini siswa harus berani dan berkeinginan dan mengetahui keadaan sekitar dengan baik, 2. bila kelas terlalu besar penggunaan tehnik ini akan kurang berhasil,

3. bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan teknik penemuan, 4. dengan teknik ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingka proes pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa, 5. tehnik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berfikir kreatif. SIMPULAN 1. Dalam pengajaran matematika aspek penalaran menjadi fokus utama, hal ini seirama dengan pendekatan discovery yang lebih berorientasi kepada aktifitas intelektual dan mental dengan titik berat pada penalaran matematika. 2. Metoda discovery ialah suatu metoda yang melibatkan proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. 3. Disamping memiliki kelebihan, metoda discovery juga memiliki kelemahan yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaannya. SARAN 1. Untuk lebih meningkatkan bobot penalaran matematika dikalangan siswa, perlu diterapkan metoda penemuan (discovery) pada pengajaran matematika, dengan mempertimbangkan kapabilitas intelektual siswa, materi dan waktu. 2. Mengingat adanya perbedaan individual dan kematangan intelektual serta emosional siswa, metoda penemuan hendaknya dilaksanakan secara penemuan terbimbing (guided discovery). 3. Perlu penelitian yang lebih komperehensif untuk melihat dampak pendekatan discovery ini pada pengajaran matematika di depan kelas. RUJUKAN Ansar, M. 1996. Pendidik dan Pengajar MIPA di Indonesia Menghadapi Globalisasi. Ceramah wawasan Bid. MIPA di ITB: Bandung Dahlan, M.D. (editor). 1990. Model model Belajar. Bandung : Diponegoro E. Bell Gredler, Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta : Rajawali Hudoyo, Herman. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika (edisi revisi). IMSTEP Malang: FMIPA Univ. Negeri Malang Nasution, S. 1991. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara N.K., Roestiyah. 1991. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta Paeru A. Daud. 1990. Studi Eksperimen Tentang Metoda Penemuan dan Metoda Ekspositori dalam Mengajarkan KomposisiTtransformasi Di kelas II Ilmu Fisik SMA. IKIP Malang. Simanjuntak, Lisnawaty. 1992. Metoda mengajar matematika, Jilid I, Jakarta: Rineka Cipta Sudjana, Nana. 1991. Dasar dasar proses belajar mengajar, Bandung: Sinar Baru

Sumarjo. 1990. Pendekatan discovery dalam mengajar, Makalah: ITB Bandung