Anda di halaman 1dari 4

Saraswati adalah dewi yang dipuja dalam agama weda.

Nama Saraswati tercantum dalam Regweda dan juga dalam sastra Purana (kumpulan ajaran dan mitologi Hindu). Ia adalah dewi ilmu pengetahuan dan seni. Saraswati juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan. Dalam aliran Wedanta, Saraswati di gambarkan sebagai kekuatan feminin dan aspek pengetahuan sakti dari Brahman. Sebagaimana pada zaman lampau, ia adalah dewi yang menguasai ilmu pengetahuan dan seni. Para penganut ajaran Wedanta meyakini, dengan menguasai ilmu pengetahuan dan seni, adalah salah satu jalan untuk mencapai moksa, pembebasan dari kelahiran kembali.

[sunting] Penggambaran
Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih, merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Ia tampak berpakaian dengan dominasi warna putih, terkesan sopan, menunjukan bahwa pengetahuan suci akan membawa para pelajar pada kesahajaan. Saraswati dapat digambarkan duduk atau berdiri diatas bunga teratai, dan juga terdapat angsa yang merupakan wahana atau kendaraan suci darinya, yang mana semua itu merupakan simbol dari kebenaran sejati. Selain itu, dalam penggambaran sering juga terlukis burung merak. Dewi Saraswati digambarkan memiliki empat lengan yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran, intelektual, waspada (mawas diri) dan ego. Di masing-masing lengan tergenggam empat benda yang berbeda, yaitu:

Lontar (buku), adalah kitab suci Weda, yang melambangkan pengetahuan universal, abadi, dan ilmu sejati. Genitri (tasbih, rosario), melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual. Wina (kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan. Damaru (kendang kecil).

Angsa merupakan semacam simbol yang sangat populer yang berkaitan erat dengan Saraswati sebagai wahana (kendaraan suci). Angsa juga melambangkan penguasaan atas Wiweka (daya nalar) dan Wairagya yang sempurna, memiliki kemampuan memilah susu di antara lumpur, memilah antara yang baik dan yang buruk. Angsa berenang di air tanpa membasahi bulubulunya, yang memiliki makna filosofi, bahwa seseorang yang bijaksana dalam menjalani kehidupan layaknya orang biasa tanpa terbawa arus keduniawian. Selain angsa, juga sering terdapat merak dalam penggambaran Dewi Saraswati, yang mana adalah simbol dari kesombongan, kebanggaan semu, sebab merak sesekali waktu mengembangkan bulu-bulunya yang indah namun bukan keindahan yang abadi.

[sunting] Hari Raya


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Hari Raya Saraswati Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni, dirayakan oleh umat Hindu di Bali]], yang jatuh pada hari Saniscara (Sabtu) Umanis (Legi), wuku Watugunung. Perayaan ini dilaksanakan setiap 210 hari (atau 7 bulan menurut kalender Bali), sebagai penghormatan kepada dewi ilmu pengetahuan dan seni

Hari Raya Saraswati yaitu hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, jatuh pada tiap-tiap hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada hari itu kita umat Hindu merayakan hari yang penting itu. Terutama para pamong dan siswa-siswa khususnya, serta pengabdi-pengabdi ilmu pengetahuan pada umumnya. Dalam legenda digambarkan bahwa Saraswati adalah Dewi/ lstri Brahma. Saraswati adalah Dewi pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat, biasanya tangantangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Yang lain memegang Wina (alat musik / rebab) dan sekuntum bunga teratai. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan (swan), yaitu burung besar serupa angsa (goose), tetapi dapat terbang tinggi . Upacara pada hari Saraswati, pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai Widhi widhana (bebanten = sesajen) terdiri dari peras daksina, bebanten dan sesayut Saraswati, rayunan putih kuning serta canang-canang, pasepan, tepung tawar, bunga, sesangku (samba = gelas), air suci bersih dan bija (beras) kuning. Pemujaan / permohonan Tirtha Saraswati dilakukan mempergunakan bahan-bahan: air, bija, menyan astanggi dan bunga.

Ambil setangkai bunga, pujakan mantra: Om, puspa danta ya namah. Sesudahnya dimasukkan kedalam sangku. Ambil menyan astanggi, dengan mantram "Om, agnir, jyotir, Om, dupam samar payami". Kemudian masukkan ke dalam pedupaan (pasepan). Ambil beras kuning dengan mantram : "Om, kung kumara wijaya Om phat". Masukkan kedalam sesangku. Setangkai bunga dipegang, memusti dengan anggaranasika, dengan mantram: Mantra

Artinya Om, Dewi Saraswati yang mulia dan maha Om, Saraswati namostu bhyam Warade kama indah,cantik dan maha mulia. Semoga kami rupini Siddha rastu karaksami Siddhi dilindungi dengan sesempurna-sempurnanya. bhawantu sadam. Semoga kami selalu dilimpahi kekuatan. Om, kami selalu bersedia menerima restuMu ya Om, Pranamya sarwa dewanca para Dewa dan Hyang Widhi, yang mempunyai para matma nama wanca. tangan kuat. Saraswati yang berbadan suci rupa siddhi myaham. mulia. Om Padma patra wimalaksi Om, teratai yang tak ternoda, Padma yang indah padma kesala warni bercahaya. Dewi yang selalu indah bercahaya, nityam nama Saraswat. kami selalu menjungjungMu Saraswati.

Sesudahnya bunga itu dimasukkan kedalam sangku. Sekian mantram permohonan tirta Saraswati. Kalau dengan mantram itu belum mungkin, maka dengan bahasa sendiripun tirta itu dapat dimohon, terutama dengan tujuan mohon kekuatan dan kebijaksanaan, kemampuan intelek, intuisi dan lain-lainnya. Setangkai bunga diambil untuk memercikkan tirtha ke pustaka-pustaka dan bantenbanten sebanyak 5 kali masing-masing dengan mantram: Om, Saraswati sweta warna ya namah. Om, Saraswati nila warna ya namah. Om, Saraswati pita warna ya namah. Om, Saraswati rakta warna ya namah. Om, Saraswati wisma warna ya namah.

Kemudain dilakukan penghaturan (ngayaban) banten-banten kehadapan Sang Hyang Aji Saraswati Selanjutnya melakukan persembahyangan 3 kali ditujukan ke hadapan :

Sang Hyang Widhi (dalam maniftestasinya sebagai iwa Raditya). Sang Hyang Widhi (dalam manifestasinya sebagai Tri Purusa)

Dewi Saraswati. Ucapkan mantra berikut: Artinya Om, Tuhan Hyang Surya maha bersinar-sinar merah yang utama. Putih Iaksana tunjung di tengah air, iwa Raditya yang mulia. Om, Tuhan yang pada awal, tengah dan akhir selalu dipuja. Om, Pancaksara Iaksana tirtha yang suci. Jernih pelebur mala, beribu mala manusia olehnya. Hanyut olehnya ke laut lepas. Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi sesempurnasempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan. Mantramnya Om, adityo sya parajyote rakte tejo namastute sweta pangkaja madyaste Baskara ya namo namah. Om, rang ring sah Parama iwa Dityo ya nama swaha. Om, Pancaksaram maha tirtham, Papakoti saha sranam Agadam bhawa sagare. Om, nama iwaya. Om, Saraswati namostu bhyam, Warade kama rupini, Siddha rastu karaksami, Siddhi bhawantume sadam.

Sesudah sembahyang dilakukan metirtha dengan cara-cara dan mantram-mantram sebagai berikut :

Meketis 3 kali dengan mantram: Om, Budha maha pawitra ya namah. Om, Dharma maha tirtha ya namah. Om, Sanghyang maha toya ya namah.

Minum 3 kali dengan mantram: Om, Brahma pawaka. Om, Wisnu mrtta.

Om, Iwara Jnana.

Meraup 3 kali dengan mantram : Om, iwa sampurna ya namah. Om, iwa paripurna ya namah.

Om, Parama iwa suksma ya namah.

Terakhir melabahan Saraswati yaitu makan surudan Saraswati sekedarnya, dengan tujuan memohan agar diresapi oleh wiguna Saraswati

Setelah Saraswati puja selesai, biasanya dilakukan mesarnbang semadhi, yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontar-lontar semalam suntuk dengan tujuan menernukan pencerahan Ida Hyang Saraswati Puja astawa yang disiapkan ialah : Sesayut yoga sidhi beralas taledan dan alasnya daun sokasi berupa nasi putih daging guling, itik, raka-raka sampian kernbang payasan. Sesayut ini dihaturkan di atas tempat tidur, dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati. Keesokan harinya dilaksanakan Banyu Pinaruh, yakni asuci laksana dipagi buta berkeramas dengan air kumkuman. Ke hadapan Hyang Saraswati dihaturkan ajuman kuning dan tamba inum. Tamba inum ini terdiri dari air cendana, beras putih dan bawang lalu diminum, sesudahnya bersantap nasi kuning garam, telur, disertai dengan puja mantram:

Om, Ang arira sampurna ya namah swaha.

Semua ini mengandung maksud, mengambil air yang berkhasiat pengetahuan.