Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur selayaknya saya panjatkan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan taufiq dan hidayahnya sehingga makalah yang berjudul Praktur dapat di selesaikan sebagaimana dengan waktu yang di tentukan. Tidak lupa pula saya ucapkan terima kasih kepada dosen yang telah memberikan tugas. Makalah ini membahas tantang peran dan fungsi perawat.Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu,kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Atas perhatian kakak pembimbing dan para pembaca. Kami ucapkan terima kasih.

Makassar,11 november 2011

TIM PENYUSUN

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................... DAFTAR ISI .................................................................. BAB I PENDAHULUAN ...........................................
1. Latar belakang ............................................................... 2. Rumusan Masalah ......................................................... 3. Manfaat penulisan ......................................................... 4. Tujuan ................................................................

i ii
1 2 2

2
3

BAB II PEMBAHASAN ..........................................


A. Konsep medis
1. 2. 3. 4. 5. 6.

............................................

3
3 3 4 5 6

Pengertian ..................................................................... Etiologi ......................................................................... Patofisiologi .................................................................. Tanda dan Gejala........................................................... Komplikasi .................................................................... Penatalaksanaan ....................................................

7
8 8 9 9 15 16 16 17 18

B. Konsep Keperawatan .............................................


a. Pengkajian..................................................................... b. Diagnosa keperawatan ................................................... c. Evaluasi ........................................................................

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ....................... A.Kesimpulan ...........................................................


B.Saran .....................................................................

BAB IV PENUTUP....................................................... DAFTAR PUSTAKA.....................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Hiperbilirubinemia merupakan suatu keadaan dimana kadar bilirubin serum total yang lebih dari 10 mg% pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus pada kulit, sclera dan organ lain. Keadaan ini mempunyai potensi meningkatkan kern ikterus yaitu keadaan kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar bilirubin pada otak. (Ni Luh Gede, 1995) Hiperbilirubin merupakan gejala fisiologis (terdapat pada 25 50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi pada neonatus kurang bulan) (IKA II, 2002). Hiperbilirubin adalah meningginya kadar bilirubin pada jaringan ekstravaskuler sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning. (Ngastiyah, 1997) Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari normal (Suriadi, 2001). Nilai normal : bilirubin indirek 0,3 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 0,4 mg/dl.

B. RUMUSAN MASALAH
Hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin serum total yang lebih dari 10 mg% pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus pada kulit, sclera dan organ lain yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar bilirubin pada otak.

C. MANFAAT PENULISAN
Di harapkan kepada pembaca untuk mengerti dan mngetahui tentang hiperbilirubinemia untuk dapat mencegah terjadinya kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar bilirubin pada otak.

D. TUJUAN
1. Untuk mengetahui defenisi Hiperbilirubinemia 2. Untuk mengetahui etiologi Hiperbilirubinemia 3. Untuk mengetahui tanda dan gejala Hiperbilirubinemia

4. Untuk mengetahui diagnosa Hiperbilirubinemia dan intervensinya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP MEDIS 1. Pengertian


Hiperbilirubinemia merupakan suatu keadaan dimana kadar bilirubin serum total yang lebih dari 10 mg% pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus pada kulit, sclera dan organ lain. Keadaan ini mempunyai potensi meningkatkan kern ikterus yaitu keadaan kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar bilirubin pada otak. (Ni Luh Gede, 1995) Hiperbilirubin merupakan gejala fisiologis (terdapat pada 25 50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi pada neonatus kurang bulan) (IKA II, 2002).Hiperbilirubin adalah meningginya kadar bilirubin pada jaringan ekstravaskuler sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning. (Ngastiyah, 1997) Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari normal (Suriadi, 2001). Nilai normal : bilirubin indirek 0,3 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 0,4 mg/dl.

Macam-macam ikterus a. Ikterus Fisiologis  Timbul pada hari ke dua dan ketiga.  Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg% untuk neonatus lebih bulan.  Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% perhari.  Ikterus menghilang pada 10 hari pertama.  Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik. b. Ikterus Patologik  Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama.  Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan.  Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari.  Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama.  Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%.  Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik. (Ni Luh Gede Y, 1995).

2. Etiologi
a. Peningkatan produksi : Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO. Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran. Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolikyang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis . Defisiensi G6PD ( Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase ).

b. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine. c. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti infeksi,Toksoplasmosis, Siphilis. d. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik.

e. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstrukti.

3. Patofisiologi
Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit, Polisitemia. Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia, Asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu. Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus.

Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl. Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia ( Markum, 1991).

4. Tanda dan Gejala


a. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar b. Letargik (lemas) c. Kejang d. Tidak mau menghisap e. Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental f. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot, epistotonus, kejang, stenosis yang disertai ketegangan otot (Ngastiyah, 1997) g. Perut membuncit h. Pembesaran pada hati i. Feses berwarna seperti dempul (Ni Luh Gede Y, 1995) j. Tampak ikterus; sklera, kuku, kulit dan membran mukosa. Joundice pada 24 jam pertama yang disebabkan oleh penyakit hemolitik waktu lahir, sepsis, atau ibu dengan diabetik/infeksi. k. Muntah, anoreksia, fatigue, warna urin gelap, warna tinja gelap. (Suriadi, 2001)

5. Komplikasi
a. Terjadi kernikterus, yaitu kerusakan pada otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak terutama pada korpus striatum, thalamus, nucleus subtalamus hipokampus, nucleus merah didasar ventrikel IV. b. Kernikterus; kerusakan neurologis, cerebral palsy, RM, hyperaktif, bicara lambat, tidak ada koordinasi otot, dan tangisan yang melengking. (Ngastiyah, 1997)(Suriadi,2001)

6. Penatalaksanaan a. Pengawasan antenatal yang baik. b. Menghindari obat yang meningkatakan ikterus pada masa kematian dan kelahiran seperti sulfa furokolin. c. Pencegahan dan pengobatan hipoksin pada neonatus dan janin. d. Penggunaan fenobarbital pada ibu 1 2 hari sebelum partus. e. Pemberian makanan sejak dini (pemberian ASI). f. Pencegahan infeksi. g. Melakukan dekompensasi dengan foto terapi. h. Tranfusi tukar darah. (Abdul bari S, 2000)(Ni Luh Gede Y, 1995.

B. KONSEP KEPERAWATAN 1. Pengkajian


a. Riwayat orang tua : Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh, ABO, Polisitemia, Infeksi, Hematoma, Obstruksi Pencernaan dan ASI. b. Pemeriksaan Fisik : Kuning, Pallor Konvulsi, Letargi, Hipotonik, menangis melengking, refleks menyusui yang lemah, Iritabilitas. c. Pengkajian Psikososial : Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua, apakah orang tua merasa bersalah, masalah Bonding, perpisahan dengan anak.
d. Pengetahuan Keluarga meliputi :

Penyebab penyakit dan pengobatan, perawatan lebih lanjut, apakah mengenal keluarga lain yang memiliki yang sama, tingkat pendidikan, kemampuan mempelajari Hiperbilirubinemia (Cindy Smith Greenberg. 1988).

2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pengkajian di atas dapat diidentifikasikan masalah yang memberi gambaran keadaan kesehatan klien dan memungkinkan menyusun perencanaan asuhan keperawatan. Masalah yang diidentifikasi ditetapkan sebagai diagnosa keperawatan melalui analisa dan interpretasi data yang diperoleh. a. Diagnosa Keperawatan : Kurangnya volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, fototherapi, dan diare.  Tujuan : Cairan tubuh neonatus adekuat.  Intervensi : Catat jumlah dan kualitas feses, pantau turgor kulit, pantau intake output, beri air diantara menyusui atau memberi botol.

b. Diagnosa Keperawatan : Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan efek fototerapi.  Tujuan : Kestabilan suhu tubuh bayi dapat dipertahankanr37r.  Intervensi : Beri suhu lingkungan yang netral, pertahankan suhu antara 35,5 C, cek tanda-tanda vital tiap 2 jam. c. Diagnosa Keperawatan : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan hiperbilirubinemia dan diare.  Tujuan : Keutuhan kulit bayi dapat dipertahankan.  Intervensi : Kaji warna kulit tiap 8 jam, pantau bilirubin direk dan indirek , rubah posisi setiap 2 jam, masase daerah yang menonjol, jaga kebersihan kulit dan kelembabannya. d. Diagnosa Keperawatan : Gangguan parenting berhubungan dengan pemisahan.  Tujuan : Orang tua dan bayi menunjukan tingkah laku Attachment , orang tua dapat mengekspresikan ketidak mengertian proses Bounding.  Intervensi : Bawa bayi ke ibu untuk disusui, buka tutup mata saat disusui, untuk stimulasi sosial dengan ibu, anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya, libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkinkan, dorong orang tua mengekspresikan perasaannya. e. Diagnosa Keperawatan : Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi.  Tujuan : Orang tua mengerti tentang perawatan, dapat mengidentifikasi gejalagejala untuk menyampaikan pada tim kesehatan.  Intervensi :Kaji pengetahuan keluarga klien, beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning, proses terapi dan

perawatannya. Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah. f. Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi trauma berhubungan dengan efek fototherapi.  Tujuan : Neonatus akan berkembang tanpa disertai tandatanda gangguan akibat fototherapi.  Intervensi :Tempatkan neonatus pada jarak 45 cm dari sumber cahaya, biarkan neonatus dalam keadaan telanjang kecuali mata dan daerah genetal serta bokong ditutup dengan kain yang dapat memantulkan cahaya; usahakan agar penutup mata tidak menutupi hidung dan bibir; matikan lampu, buka penutup mata untuk mengkaji adanya konjungtivitis tiap 8 jam; buka penutup mata setiap akan disusukan; ajak bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan.

3. Evaluasi
a. Kebutuhan Cairan terpenuhi b. Suhu tubuh stabil atau normal c. Integritas kulit bagus d. Pengetahuan orang tua tentang perawatan pada bayi bagus e. Tidak terjadi komplikasi

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Hiperbilirubinemia merupakan suatu keadaan dimana kadar bilirubin serum total yang lebih dari 10 mg% pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus pada kulit, sclera dan organ lain. Keadaan ini mempunyai potensi meningkatkan kern ikterus yaitu keadaan kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar bilirubin pada otak. (Ni Luh Gede, 1995) Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari normal (Suriadi, 2001). Nilai normal : bilirubin indirek 0,3 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 0,4 mg/dl.

B. SARAN
Mungkin dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak kekurangan atau jauh dari sempurna, oleh karena itu di harapkan kritik dan saran para pembaca yang bersifat membangun. Atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bobak, J. (1985). Materity and Gynecologic Care. Precenton. 2. Cloherty, P. John (1981). Manual of Neonatal Care. USA. 3. Harper. (1994). Biokimia. EGC, Jakarta. 4. Hazinki, M.F. (1984). Nursing Care of Critically Ill Child. , The Mosby Compani CV,Toronto. 5. Markum, H. (1991). Ilmu Kesehatan Anak. Buku I. FKUI, Jakarta. 6. Mayers, M. et. al. ( 1995). Clinical Care Plans Pediatric Nursing. Mc.Graw-Hill. Inc.,New York. 7. Pritchard, J. A. et. al. (1991). Obstetri Williams. Edisi XVII. Airlangga University Press,Surabaya. 8. Susan, R. J. et. al. (1988). Child Health Nursing. Californi