Anda di halaman 1dari 219

9.

INVENTORY
9.1. PENGERTIAN Persediaan barang: - barang dagangan - bahan baku - bahan pembantu - barang setengah jadi - barang jadi Jumlah yg dicari: yg ideal (optimal) Kalau kurang: - menghambat kelancaran proses - menurunkan penjualan dan laba - memberi kesempatan kepada pesaing Kalau terlalu banyak: - terlalu banyak modal menganggur di persediaan - biaya pemeliharaan di gudang terlalu mahal - resiko hilang dan kerusakan tinggi

Kenyataannya sekarang:

- banyak perusahaan yg cenderung tidak memiliki, atau meminimumkan inventory - karena mencari barang sangat mudah - kerugian membeli ekstra lebih murah daripada biaya/ kerugian menyimpan barang - persediaan adalah pemborosan - persediaan hanya langkah taktis, yang mengatasi masalah sementara, tidak menghapus masalah. Fungsi inventory antara lain sbb: i. The decoupling function ii. Storing resources iii. Irregular supply and demand iv. Quantity discounts v. Avoiding stockout and shortages Biaya-biaya yang relevan dalam model inventory adalah: - Cost of the item - Cost of ordering - Cost of carrying, or holdeng, inventoriy - Costt of stockouts

9.2. MODEL-MODEL INVENTORY Model 9.2.1.: MODEL INVENTORY SEDERHANA (dan bersifat static) Menggunakan beberapa asumsi: 1) Biaya relevan ada dua macam: biaya set up yg setiap pembelian sama, tidak tergantung jumlah pembelian tetapi tergantung frekuensi pembelian biaya pemeliharaan (carrying cost), besarnya tergantung jumlah barang dan lama penyimpanan, dgn kata lain biaya per unit per tahun sama 2) Harga barang relatif stabil 3) Barang selalu tersedia di pasar 4) Barang tahan lama 5) Kebutuhan sepanjang tahun relatif stabil dan dapat diprediksi Simbol yg digunakan: R = kebutuhan barang selama setahun Cs = biaya set up setiap kali membeli
3

Ci = biaya pemeliharaan barang di gudang, per unit/th. Q = jumlah setiap kali membeli Q* = Berapa kali membeli selama setahun = R/Q kali Biaya set up selama setahun = (R/Q)Cs Biaya pemeliharaan selama setahun = (Q/2)Ci
Q Q/2

t 1 th = T

TEC = (R/Q)Cs + (Q/2)Ci

Rp `` TEC = (R/Q)Ci + (Q/2)Ci

Carryng cost (Q/2)Ci Setup cost (R/Q)Ci Q Jml tiap pesan

0 EOQ = Q*

Jumlah pemesanan yang optimal dicari dengan : 1. Dengan diferensial: - mencari turunan pertama persamaan itu, disamakan dengan 0, dan - turunan kedua positif, maka diperoleh rumus untuk mencari jumlah setiap pemesanan yang optimal.

2.

Menyamakan ordering cost dengan carring cost, atau: (R/Q)Ci + (Q/2)Ci

Ditemukan rumus:
2R. Cs Q* = Ci

Jangka waktu antar pemesanan:


Q* t* = R = R.Ci 2.Cs =

Contoh 1: Seorang pedagang setiap tahun harus memenuhi permintaan pembeli sebanyak 24 000 kg barang. Biaya pemesanan setiap kali pesan = Rp 3 500,-. Biaya pemeliharaan barang di gudang Rp 10 setiap tahun setiap kg barang. Jangka waktu antara pemesanan sampai dengan barang datang = 15 hari.

Berarti: R = 24 000, Cs = Rp 3 500,- dan Ci = Rp 10,-. Jmlah pembelian yan optimal:


2(24 000)(3 500) Q* = EOQ = 10 = 4 098,78 unit

Jangka waktu antar pemesanan:


2(3 500) t* = (24 000) (10) = 0,171 tahun = 62 hari

Reorder point: - Jumlah barang yang ada di gudang, - yang mana pada jumlah itu harus segera dilakukan pemesanan, - agar pada saat barang yang di gudang habis barang yg dipesan sudah datang - besarnya = kebuthan selama jangka waktu pemesanan = procurement lead time (hari) x kebutuhan barang per hari. Misal pada contoh 1, andaikata setahun dianggap memiliki 360 hari kerja, maka:
7

- kebutuhan barang setiap hari = 24 000 unit/360 = 66,67 buah barang - procurement lead time = 15 hari - reorder point = 15 x 66,67 unit = 1 000 unit. - Berarti setiap barang di gudang tinggal 10 000 unit sudah harus dilakukan pemesanan.

Contoh 2: Suatu perusahaan setiap tahun memerlukan bahan baku sebanyak 4 000 unit. Biaya setiap pemesanan Rp 90 000,-. Biaya pemeliharaan didalam gudang setiap unit setiap tahun sebesar Rp 2 000,-. Jangka waktu sejak pemesanan sampai dengan barang datang = 18 hari. Satu tahun dianggap memiliki 360 hari kerja. Jawaban: R = 4 000, Cs = Rp 90 000,- Ci = 2 000,2(4 000)90 000 a) EOQ = 2 000 b) TEC optimal = Rp 1 200 000,= 600 unit

2(90 000) c) Jangka waktu antar pemesanan = (4 000)(2 000) = 0,15 thn = 54 hari. d) Reorder point = 18x (4 000/360) = 200 unit barang.

Model 9.2.2.: MODEL INVENTORY DGN KEMUNGKINAN BACKORDERING (static) Dimungkinkan terjadi keterlambatan didalam memenuhi kebutuhan barang - Disertai dengan biaya/ kerugian/ denda karena keterlambatan - Biasanya biaya keterlambatan digunakan simbol Ct
-

S Q 0
S/R

(Q-S) t (Q-S) R

TEC terdiri dari: Setup cost + carrying cost + backordering cost Setup cost = (R/Q)Cs Carrying cost selama 1 siklus (t) = [{(S/R)(S)}/2]Ci Carrying cost selama setahun = [{(S/R)(S)}/2]Ci (R/Q) = S2Ci/2Q Backordering cost setiap siklus (t) = [{(Q-S)/R)(Q-S)}/2]Ct Backordering cost setahun = [{((S/R)(Q-S)}/2]Ct(R/Q) = {(Q-S)2/2Q}Ct TEC = (R/Q)Cs + S2Ci/2Q + {(Q-S)2/2Q}Ct
Kemudian dicari jumlah yang meminimumkan cost, dengan diferensial, sengan syarat: - turunan pertama = 0 - turunan kedua positif

Kalau diturunkan berdasar nilai Q akan diperoleh jumlah barang setiap order yang optimal:
Q* = 2R.Cs Ci Ct+Ci Ct

S* =

2R.Cs Ci

Ct Ct+Ci

Contoh: Suatu perusahaan menjual suatu macam barang, dengan permintaan setiap tahun 1 000 buah. Biaya penyimpanan barang setiap tahun = 20% dari harga barang. Harga barang Rp 20 setiap buah. Setiap pemesanan barang memerlukn biaya Rp 100,-. Kalau terjadi keterlambatan pengiriman barang kepada konsumen masih diterima, tetapi dengan biaya/ kerugian = Rp 3,65 per tahun keterlambatan untuk setiap barang.
Q* = {2(1 000)(100)}/4 S* = {2(1 000)(100)}/4 (3,65+4)/3,65 = 324 3,65/(3,65+4) = 154

TEC = {(1 000/324)100 + (4x1542)/(2x324) + (3,651702)/(2x324) = 617,82


1

Model 9.2.3.: INVENTORY DENGAN QUANTITY DISCOUNT (static) Berlaku dalam keadaan: - quantity discount - semakin banyak membeli harga per barang semakin murah Misalnya berlaku harga sebagai berikut: Jumlah yg Harga per Simbol dibeli unit 0 sd 499 Rp 20 000,P1 500 atau lebih Rp 18 500,P2 Batas harga hanya 1, simbolnya b = 500 buah barang Prosedur didalam mencari jumlah pembelian yang optimal: - Hitung dulu EOQ, kalau EOQ ada pada harga terrendah maka pilihlah EOQ itu sebagai jumlah pembelian yg optimal - Kalau EOQ tidak pada harga terrendah, maka hitung TEC ditambah harga barang pada EOQ dan pada batas perubahan harga
1

- Bandingkan TEC + harga beli, pilih diantara EOQ dan batas harga (b) yang TEC+harga belinya terrendah Alternatif-alternatif keadaan yang terjadi sbb: Alternatif 1: EOQ pada harga termurah
Biaya Rp

TEC+harga 1 TEC+harga 2

Q 0 b EOQ

Pilih EOQ sebagai jumlah pembelian yg optimal, karena: - pada harga yg murah - pada EOQ Contoh 1:
1

Kebutuhan barang selama setahun 24 000 buah (=R), setup cost Rp 3 500 (=Cs) tiap pesan, carrying cost Rp 400 tiap barang setahun (=Ci), bila pembelian kurang dari 500 (b) buah harga per unit Rp 20 000,- (=P1) tetapi kalau pembelian 500 buah atau lebih harganya Rp 19 800,- (=P2). Jawab: EOQ =

{(2x24000x3500)/400} = 648,07 unit

Jumlah pemesanan optimal = 648,07 unit, sebab EOQ berada pada harga kedua (termurah). Alternatif 2:
Biaya Rp TEC+harga 1 TEC+harga 2

Q 0 EOQ b

Contoh 2 :
1

Suatu perusahaan memerlukan barang setiap tahun 2 400 buah. Biaya setup setiap pemesanan Rp 10 000,-. Biaya pemeliharan setiap buah barang selama setahun Rp 400,-. Bila pembelian kurang dari 500 buah barang, harga setiap buar Rp 20 000-, tetai kalau pembeliannya minimum 500 buah harganya Rp 18 500,-. Hitunglah jumlah pembelian yang optimal! EOQ = {2(2 400)(10 000)}/400 = 346,41 buah.

Jumlah ini dibawah batas harga (b), sehingga harus kita pilih jumlah pembelian optimalnya antara - EOQ atau - batas harga (b) sebagai kita pili yang jumlahTEC + harganya termurah. TEC (EOQ) + HB1 = 2 400(20 000) + (2 400/346,41)10 000 + (346,41/2)400 = 48 138 564,06 TEC(b) + HB2 = 2 400(18 500) + (2 400/500)10 000 + (500/2)400 = 44 548 000,-

Pilih b (batas harga 500 buah barang) sebagai jumlahpembelian optimal, karena TEC + harga barangnya lebih murah (Rp 44 548 000,-). Sehingga jumlah setiap kali pembelian yang optimal sebanyak 500 buah barang.

Alternatif 3: EOQ pada harga pertama, TEC+harga 1 pada EOQ lebih kecil dari TEC+harga2 pada b
Biaya Rp TEC+harga 1 TEC+harga 2

b EOQ

Contoh 3:
1

Suatu perusahaan memerlukan barang setiap tahun 2 400 buah. Biaya setup setiap pemesanan Rp 10 000,-. Biaya pemeliharan setiap buah barang selama setahun Rp 400,-. Bila pembelian kurang dari 500 buah barang, harga setiap buar Rp 20 000-, tetai kalau pembeliannya minimum 500 buah harganya Rp 19 800,-. Hitunglah jumlah pembelian yang optimal!

EOQ =

{2(2 400)(10 000)}/400 = 346,41 buah.

Jumlah ini dibawah batas harga (b), sehingga harus juga kita pilih jumlah pembelian optimal yang jumlahTEC + harga barangnya termurah diantara: EOQ atau batas harga. TEC (EOQ) + HB1 = 2 400(20 000) + (2 400/346,41)10 000 + (346,41/2)400 = 48 138 564,06 TEC(b) + HB2 = 2 400(19 800) + (2 400/500)10 000 + (500/2)400 = 48 539 200,-

Pilih EOQ sebagai jumlah pembelian optimal, karena TEC + harga barangnya lebih murah (Rp 48 138 564,06).

Contoh 4: Suatu perusahaan memerlukan bahan baku AEX setiap tahun sebanyak 936 buah. Biaya pemesanan setiap kali membeli sama, yaitu Rp 45 000,-. Biaya pemeliharaan barang di gudang setiap tahun 10% dari harga barang. Kalau jumlah setiap pemesanan semakin banyak harga per barangnya semakin murah, sesuai dengan ketentuan sbb.: Jumlah Harga per pembelian buah 0 sd 299 Rp 60 000,300 sd 499 Rp 58 000,500 atau lebih Rp 57 000,Hitunglah jumlah setiap pembelian yang optimal! Jawab: R = 936 000, set up cost = Cs = Rp 45 000, carrying cost = 25% dari harga barang, sedang harga barabg sesuai dengan jumlah yang dibeli. Batas harga 1 (b1) = 300, b2 = 500.

Carrying cost (Cs)dan EOQ: Jumlah per Harga/ pembelian unit (Rp) Dibawah 300 60 000 300 sd 499 58 800 diatas 500 57 000

Ci (Rp) 6 000 5 800 5 700

EOQ 118,49 120,52 121,57

EOQ yang layak adalah 118,49, sebeb berada dibawah 300 unit. Yang 120,52 dan 121,57 tidak layak. Kita bandibgkan harga barang dan biaya inventory pada EOQ dan pada b1 TEC + HB EOQ = 936(Rp 60 000) + (936/118,49)Rp 45 000 + (118,49/2)Rp 6 000 = Rp 56 871 703 TEC + HB b1 = 936(Rp 58 000) + (936/300)Rp 45 000 + (300/2)Rp 5 800 = Rp 54 987 740,TEC + HB b2 = 936(Rp 57 000) + (936/500)Rp 45 000 + (500/2)Rp 5 700 = Rp 54 045 682,-

TEC + HB yang termurah adalah di b2, maka sebaiknya jumlah setiap pembelian 500 unit. Akan meminimumkab biaya (hanya Rp 54 045 682).
Rp TEC + HB1 TEC + HB2 TEC + HB3

0 b1 b2

Model 9.2.4.: INVENTORY UNTUK BARANG YANG DIBUAT SENDIRI (static) Kalau barang yg dibutuhkan dibuat sendiri, maka: - barang yg dipesan tersedia secara berangsurangsur - sesuai dgn rata-rata kapasitas produksi (P) setiap tahun Pemakaian barang sesuai dengan kebutuhan ( R) setiap tahun Slope garis persdiaan = (P-R) , sebab kapasitas penambahan barang yg disimpan di gudang = kapasitas produksi - pemakaian
Q Slope = P Slope = (P-R) Slope = - R S= Q{(P-R)/P}

t1 t

t2

Biaya setup = (RQ)Cs Biaya pemeliharaan: [Luas segitiga pertama + luas segitiga kedua] x Ci Luas segitiga pertama = 1/2(t1)Q{(P-R)/P} Luas segitiga kedua = (t2)Q{(P-R)/P} Biaya pemeliharaan selama 1 siklus = [1/2(t1)Q{(P-R)/P} + (t2)Q{(P-R)/P}]Ci disederhanakan menjadi = [(Q2/2R){(P-R)/P}]Ci Biaya pe,eliharaan setahun = (R/Q) [(Q2/2R){(PR)/P}]Ci Disederhanakan menjadi = Q/2{(P-R)/P}Ci TEC = (R/Q)Cs + [Q/2{(P-R)/P}Ci]Ci Dengan deferensial dicari nilai Q dan S yang meminimumkan biaya sebagai berikut:
2RCs Q* = Ci P-R
2

2RCs S* = Ci

P-R P

Asumsi: P > R

Contoh 1: Suatu perusahaan memerlukan suklu cadang untuk membuat suatu barang. Suku cadang itu dibuat sendiri oleh pabrik, dengan kemampuan produksi 200 000 buah barang apabila selama setahun bekerja terus menerus. Kebutuhan suku cadang setiap tahun 100 000 buah. Setiap memulai berproduksi, berapapun jumlah produksinya, biaya setup-nya selalu sama, yaitu Rp 5 000,-. Biaya pembuatan suku cadang setiap buah Rp 10,-. Biaya pemeliharaan barang di gudang setiap tahun sebesar 20% dari harga (nilai) barang.

Jawab: a) Jumlah setiap pemesanan yg optimum:


Q* = = 2(100 000)5000 2 31 623 200 000 200 000 100 000

b) Inventory maximum:
S* = 2(100 000)5000 2 200 000 - 100 000 200 000

= 15 811,50

Contoh 2: Sebuah pabrik pembuat obat-obatan akan menentukan jumlah order produksi WXX, bahan baku pembuatan obat, yang dihasilkan sendiri didalam pabrik. Kapasitas produksi pabrik menghasilkan WXX = 190 liter sehari. Kebutuhan bahan WXX setiap tahun 10 500 liter. Biaya setup setiap memulai produksi Rp 200 000,-. Biaya pemeliharaan barang di gudang = Rp 210 setiap liter setiap tahun. Hari kerja perusahaan dalam setahun 350 hari kerja.
2

Model 9.2.5.: INVENTORY, MODEL ABC - barang dikelompokkan dalam 3 kelompok kelompopk A: mahal, jarang dipakai kelompok B: agak mahal, kadang-kadang dipakai kelompok C: harga murah, banyak kebutuhannya - masing-masing diatur tersendiri A secara teliti, memakai rumus-rumus, B agak teliti, C secara kasar, misalnya: 1) memakai persediaan maksimum minimum 2) cara visual

Menurut Barry Render dkk.: KeNilai Macam Sifat lompok (%) (%) perencanaan A 70 10 Teliti, dengan pendekatan kuantitatif B 20 20 Agak teliti, sebagian pendekatan kuantitatif C 10 70 Tidak teliti, tanpa pendekatan kuantitatif Menurut Taylor dkk.: KeNilai semua lompok inventory/ kelompok (%) A 70-80 B Kurang llebih 15% C Kurang llebih 5-10

Julah barang/ kelompok (%) 5-15 Kurang llebih 30 Kurang llebih 5060

Sifat perencanaan Teliti Agak teliti Tidak teliti

Model 9.2.6.: MULTIPLE-ITEM DGN KENDALA KAPASITAS GUDANG

- Terjadi bila barang bermacam-macam( lebih dari 1 macam) - Kapasitas gudang terbatas, sebesar A - Jumlah order setiap macam barang = yi. - Kebutuhan ruangan setiap buah barang setiap macam = ai - termasuk static model Tujuannya: meminimumkan TEC = [(R/Q)Cs + (Q/2)Ci] St. constraints: Aiyi < A yi > 0 untuk semua i

2.7. SENSITIVITY ANALYSIS PADA MODEL EOQ - dapat dihitung berdasar perubahan yg terjadi - kalau pembilan yang berubah, maka perubahan EOQ = akar ( ) dari perubahan data itu. Misalkan jumlah kebutuhan dari 24 000 unit menadi 36 000 unit, data lainnya sama. (cs = p 3 500, Ci = Rp 10), EOQ sebelumnya 4 098,78, kemudian menjadi 5 019,96. Kebutuhan per tahun naik menjadi 1,5 kali, EOQ naik menjadi 1,2297 . . . kali, atau sebesar akar ( ) kenaikannya itu = 1,5 = 1,2297 - Kalau penyebut yang diganti, nilai EOQ dibagi dengan akar dari perubahan itu. Kalau carrying cost menjadi Rp 20 per unit per tahun (Ci menjadi 20), demand (R tetap 24 000) dan data lain tetap, Kenaikan Ci 2 kali, kenaikan Q* menjadi 2 898,27 , Q* turun menjadi hanya 1/1,4142 semula, atau menjadi 1/akar perubahannya. Soal-soal:

1.

Perusahaan KITA, supplier barang-barang elektronika, berupa komponen-koponen / alatalat listrik untuk membuat almari es dan sebangsanya. Kebutuhan komponen-komponen itu setiap hari relatif stabil, dengan jumlah setiap tahun 250 buah. Biaya pemeliharaannya setiap buah setiap tahun Rp 1 200,- dan biaya penesanan setiap melakukan pembelian selalu sama, sebesar Rp 20 000,-. Berapakah jumla pembelian yang dapat memnimumkan biayanya!

2. Kebiasaan perusahaan KITA, sesuai dengan data pada soal nomer 1 setiap melakukan pembelian sebanyak 150 buah barang. Dengan jumlah setiap pembelian ini, dengan biaya pemeliharaan tidak berubah, agar biaya-biaya persediaannya dapat diminimumkan, maka berapakah sebaiknya biaya setiap pemesanan? Catatan biaya lain kecuali biaya pemesanan menggunakan data pada soal nome 1.
3.

Perusahaan ANDA menjual barang-barang elektronik, yaitu barang B, dengan permintaan sebanyak 1 400 buah setiap tahun. Barang B dibeli di perusahaan lain. Harga 1 buah barang
3

itu sebesar Rp 400 000,-. Biaya pemeliharaan barang itu dalam persediaan sebesar 20% dari harga barang. Biaya set up setiap kali pemesanan barang = Rp 24 000,-. Apabila setiap pembelian minimum sebanyak 300 buah atau leih, maka harganya akan dikurangi dengan 5%. Berapakah sebaiknya jumlah setiap pembelian agar dapat meminimumkan biaya inventory!
4.

Perusahaan SUKAKU menghasilkan barang antik berupa kipas tradisional dari kayu cendana. Kebutuhan pasar atas kipas itu setiap tahun 6 750 buah. Kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan = 250 buah setiap hari. Biaya set up setiap melakukan pemesanan selalu sama, Rp 150 000,-. Carring cost setiap kipas selama setahun Rp 1 000,-. Berapakah jumlah setiap pemesanan pembuatan yang optimal?

5. Dengan data pada soal nomer 4, hitnglah jumlah maksimum persediaan yang optimal!

Jawaban: 1. Kebutuhan selama 1 tahun = R = 250 buah, biaya pemeliharaan/ huah/ tahun = Ci = Rp 1 000,-, biaya setup /pesan = Cs = Rp 20 000,-. Q* = 2(250)20 000 = 100 buah 1 0000 Jumlah setiap pemesanan pembuatan kmponen listrik = 100 bu1h. 2. Bila setiap pembelian optimal = Q* = 150 buah. Q* = 2(250)X = 1 0000

0,5 X = 1502 = 225 Maka X = 45 000 berarti setup cost Rp 45 000,3. Kebutuhan setiap tahun = R = 1 400 buah,, Harga barang (P) = Rp 400 000,-, Ci = 20% x P . Bila P = Rp 400000, maka Ci = Rp 25 000,-, kalau pembelian minimum 300 buah , harga/ buah Rp 380 000,-, berarti Ci Rp 380 000,-.

9.3. SAFETY STOCK, Br,Str Safety stock: - untuk menghindari stockout - karena demand tidak tentu Reorder point: - jumlah dimana pada saat itu harus dilakukan pemesanan = kebutuhan/hari (r) x lead time (l) - bisa tanpa safety stock, bisa juga dengan safety stock = SS + (r x l)

9.3.1. BILA STOCKOUT COSTS DIKETAHUI Misalnya suatu perusahaan memerlukan suatu barang, dengan : - carrying cost Rp 5 per unit per tahun - biaya keterlambatan (stockout cost) Rp 40,- Setahun ada 6 siklus - distribusi probabilitas demand selama lead time: DEMAND PROBASLM. LT. BILITY 30 0,2 40 0,2 50 0,3 60 0,2 70 0,1 Jumlah 1,0

TOTAL STOCKOUT COST: Bila ROP = 30 unit DeStock- Stockout Inven- Inv. Mand out Cost tory Cost 30 0 0 0 0 40 10 10x40x6 = 2 400 0 0 50 20 20x40x6 = 4 800 0 0 60 30 30x40x6 = 7 200 0 0 70 40 40x40x6 = 9 600 0 0

Total cost 0 2 400 4 800 7 200 9 600

Total stockout cost dan carrying cost, bila ROP = 40 Demand Stock- Stockout Inven- Carrying Out cost tory Cost 30 0 0 10 50 40 0 0 0 0 50 10 2 400 0 0 60 20 4 800 0 0 70 30 7 200 0 0

Total cost 50 0 2 400 4 800 7 200

Total stockout cost dan carrying cost, bila ROP = 50 Demand Stock- Stockout Inven- Carrying Total out cost Tory Cost cost 30 0 0 20 100 100 40 0 0 10 50 50 50 0 0 0 0 0 60 10 2 400 0 0 2 400 70 20 4 800 0 0 4 800

Total stockout cost dan carrying cost, bila ROP = 60 Demand Stock- Stockout Inven- Carrying Total out cost Tory Cost Cost 30 0 0 30 150 150 40 0 0 20 100 100 50 0 0 10 50 50 60 0 0 0 0 0 70 10 2 400 0 0 2 400
TOTAL CARRYING COST: Bila ROP = 70

Demand Stock- Stock- Inven- Carrying out out cot tory cost 30 0 0 40 40x5 = 200 40 0 0 30 30x5 = 150 50 0 0 20 20x5 = 100 60 0 0 10 10x5 = 50 70 0 0 0 0

Total cost 200 150 100 50 0

Disusun didalam tabel, memasukkan probabilitasnya: Realisasi demand Exp. Alternatif ROP cost 30 40 50 60 70 30 0 2 400 4 800 7 200 9 600 4 320 40 50 0 2 400 4 800 7 200 2 410 50 100 50 0 2 400 4 800 990 60 150 100 50 0 2 400 293 70 200 150 100 50 0 110 Prob. 0,2 0,2 0,3 0,2 0,1 ROP optimal = 70, sebab EMV nya terkecil (Rp 110)

9.3.2. BILA SATOCKOUT COST TIDAK DIKETAHUI - Gunakan pendekatan kurva normal Contoh: Demand produk rata-rata 350 unit Deviasi standar = 10 unit Toleransi terjadi stockout = PS = 5% Gunakan kurva normal, dengan service level (1 PS) = 1 5% = 95% Di kurva normal terjadi pada nilai Z = 1,65
0,50 0,45 0,05

350

1,65

Z=

X- X - 350

1,65 = 10

X 350 = 1,65(10) X = 350 + 16,5 = 366,5 Safety stock = 366,5 350 = 16,5 Bisa juga Safety stock = Z( ) = 1,65 (10) = 16,5 Safety stock untuk setiap sevice level berbeda, demikian juga inventory cost-nya. Misal carrying cost/unit/th = Rp 50 Service Nilai Safety Inventory Level(%) Z Stock Cost(Rp) 90 1,28 12,8 640 91 1,34 13,4 670 92 1,41 14,1 705 93 1,48 14,8 740 94 1,55 15,5 775 95 1,65 16,5 825 96 1,75 17,5 875 97 1,88 18,8 940 98 2,05 20,5 1025 99 2,32 23,2 1160 99,99 3,72 37,2 1860 Pada service level 98% carrying cost meningkat tajam.

9.4.

MATERIALS REQUIREMENT PLANNING (MRP)

- digunakan untuk dependent demand - harus menentukan berapa dan kapan dilakukan order Manfaat MRP: - Menngkatkan pelayanan dan kepuasan konsumen - Mengurangi inventory cost - Perencanaan kebutuhan dan penjadwalan material dapat dilakukan dengan lebih baik - Menaikkan volume penjualan - Lebih cepat menanggapi perbahan - Dapat mengurangi jumlah persediaan dengan tidak mengurangi pelayanan kepada konsumen Materia structure trees - bill of materials (BOM) - tingkatan dari structure tree

B(2)

C(3)

D(2)

E(3)

E(1)

F(2)

Kebutuhan produknA = 50 buah barang Part B C D E F Kebutuhan part 2 X kebutuhan A 3 X kebutuhan A 2 X kebutuhan B 3 X kebutuhan B + 1Xkebutuhan C 2 X kebutuhan C

2 X 50 = 100 3 X 50 = 150 2 X 100 = 200 3 x 100 + 1 X 150 = 450 2 x 150 = 300

Persediaan awal barang: A = 10, B = 15, C = 20, D = 10, E = 10, F = 5.

` 1 A Required Orde Release 2 3 4 5 50 6 50 Lead time = 1 mg

1 B Required Orde Release

3 100

5 6 100

Lead time = 2 mg

1 C Required Orde Release

4 150

5 6 150

Lead time = 1 mg

1 D Required Orde Release

2 200

3 4 200

6 Lead time = 1 mg

1 E Required Orde Release

3 4 5 300 150

6 Lead time = 2 mg

300 150

1 F Required Orde Release 300

4 5 300

6 Lead time = 3 mg

Net Materials Requirement Planning: Item A Gross On-Hand 10 Net Order Receipt Order Released B Gross On-Hand 10 Net Order Receipt Order Released 1 2 Minggu ke 3 4 5 6 50 10 40 40 Lead Time 1

40 80A 15 65 65 65

Gross On-Hand 10 Net Order Receipt Order Released Gross On-Hand 10 Net Order Receipt Order Released

120A 10 100 100 100 130B 10 120 120 120

Gross On-Hand 10 Net Order Receipt Order Released Gross On-Hand 10 Net Order Receipt Order Released

195B 10 185 185 185 100

100C 0 100 100 200C 5 195 195

195

Kalau produk akhirnya tidak satu macam

9.5. SOAL-SOAL LATIHAN 1.Toko jam TEPAT menjual jam tangan merk PAS. Permintaan konsumen akan jam itu setiap tahun sebanyak 5 400 buah. Jam yang dijual itu dibeli dari perusahaan lain, dengan biaya pesan untuk setiap pembelian sama, sebesar Rp 195 000,-. Biaya permeliharaan setiap arloji sela-ma setahun Rp 650,-. a. Hitunglah jumlah pemesanan yang optimal setiap pembelian! b. Hitung jumlah biaya persediaan yang optimal!
2.

Untuk keperluan jam yang ia jual itu (dalam soal nomer 1), harus dileng-kapi dengan gelang jam, yang dibuat oleh perusahaan lain lagi. Biaya pemesanan setiap kali pesan sama, sebesar Rp 78 371,-, sedang biaya pe-meliharaan didalam gudang setiap gelang jam setiap tahun Rp 1 000,-. Harga pembelian setiap gelang jam akan semakin murah apabila jumlah setiap kali pemesanan semakin banyak, sesuai dengan ketentuan sebagai berikut:

Jumlah per order Kurang dari 500 buah 500 sd 999 buah 1 000 buah atau lebih

Harga per buah Rp 60 000,Rp 55 000,Rp 50 000,-

Hitunglah jumlah barang setiap order yang optimal! 3. Toko TEPAT baru saja melakukan penelitian tentang besarnya biaya-biaya yang berkaitan dengan persediaan barang. Hasil penelitian itu ternyata menunjukkan bahwa besar biaya pemeliharaan setiap barang di gudang dalam setahun adalah 5% dari harga barang. Biaya set up tetap seperti semula. Dengan berdasarkan data pada soal nomer 1 dan nomer 2, (kecuali biaya pemeliharaannya), maka hitunglah: a. jumlah setiap pembelian gelang jam yang paling optimal! b. Jumlah biaya persediaan yang optimal! 4. Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa gelang jam itu sebenarnya dapat dibuat sendii oleh pabrik yang dimiliki oleh toko TEPAT. Kapasitas
5

produksi setiap minggu sebanyak 200 buah. Dalam setahun ada 50 ming-gu kerja efektif. Biaya set up setiap memulai produksi Rp 90 000,- dan biaya pemeliharaan setiap gelang jam di gudang dalam setahun Rp 10 000,-. a. Hitunglah jumlah setiap order produksi yang optimal! b. Berapakah pabrik bekerja untuk menyelesaikan setiap terjadi order? c. Dalam setahun dilakukan order berapa kali? d. Berapakah jumlah persediaan gelang jam maksimum? e. Barapakah jumlah biaya persediaan dalam setahun yang optimal? 5. Suatu perusahaan setiap tahun harus melayani kebutuhan pelanggan sebanyak 4 000 buah barang setiap tahun.. Setiap melakukan pembelian diperlukan biaya sebesar Rp 100 000,-.Biaya pemeliharaan setiap buah barang selama setahun Rp 5 000,- Kalau terjadi keterlambatan penyediaan barang akan menimbulkan keru-gian sebesar Rp 4 000,- setiap barang untuk keterlambatan selama seta-hun. Jangka waktu
5

pemesanan barang sampai barang datang 9 hari, reorder point sebanyak 100 buah barang. Dalam setahun ada 360 hari kerja. a. hitunglah jumlah barang yang optimal untuk setiap pemesanan! b. Hitung jumlah persediaan maksimum setiap siklus pembelian yang optimal! 6. Suatu perusahaan merencanakan pembelian barang untuk kegiatan produksinya. Pemasok menawarkan beberapa macam harga, tergantung dari jumlah barang yang dibelinya. Interval berlakunya harga itu sebagai berikut: Jumlah pembelian ( unit) 0 sd 1 499 1 500 sd 2 999 3 000 atau lebih Harga/unit (Rp)

Kebutuhan barang 1 250 setiap 1 150 tahun 10 1 040 000 buah barang. Biaya penyimpanan barang 2% dari harga barang yang disimpan. Biaya pemesanan sekali pesan Rp 5 000,-. Berdasarkan data itu hitunglah

jumlah pembelian yang dapat meminimumkan biaya! 7. Perusahaan YUDHA memerlukan bahan bahan bahan baku XY untuk melaksanakan proses produksi, dengan kebuuhan setiap tahun seanyak 27 000 unit. Biaya setiap kali melakukan pemesananan bahan baku sebesa Rp 54000,-. Biaya pemeliharaan bahan baku setiap unit selama setahun sebesar 5% dari harga barang. Kalau bahan baku ini dibeli dari supplier A, harga setiap unit = Rp 8 000,-. a) Hitunglah jumlah setiap pembelian yang optimal! b) Hitunglah biayta inventory yang relevan setiap tahun (TEC)! c) Berapa kalikah pemesanan yang optimal yang optimal dilakukan? 8. Perusahaan YUDHA (dalam soal sebelumnya) mendapatkan tawaran bahan baku dari supplier lain, yaitu supplier B. Biaya setiap melakukan pemesanan dan biaya pemeliharaannya 9dalam %) sama dengan data pada soal sebelumnya (no 7). Perbedaannya pada harga barang. Kalau
5

pembelian kurang dari Rp 3 000 buah maka harga setiap unit Rp 8 000,-. Kalau jumlah pembelian antara 3 000 unit tetapi kurang dari 6 000 unit harga/ unitnya Rp 7 600,-. Sedang kalau pembelianya 6 000 unit atau lebih, maka harga per unit hanya Rp 7 200,-. Hitunglah: a) Jumlah setiap pembelian yang optimal! b) Berapa kalikah pemesanan yang optimal sebaiknya dilakukan selama setahun? 9. Perusahaan An Nur merencanakan pembelian barang untuk kegiatan produksinya. Pemasok menawarkan beberapa macam harga, tergantung dari jumlah barang yang dibelinya. Interval berlakunya harga harga itu sebagai berikut: Jumlah tiap Harga/ unit Pembelian (unit) (Rp) 0 sd 1 499 1 500 1 500 sd 2 999 1 400 3 000 atau lebih 1 250 Kebutuhan barang setiap tahun 10 000 unit barang. Biaya penyimpana setiap tahun 2% dari nila barang yabg disimpan. Biaya pemesanan setiap pesan Rp 6 000,-.

a) Hitunglang jumlah setiap pembelian yang ekonomis! b)Jangka waktu antara pemesanan sampai dengan datangnya barang 24 hari. Setiap tahun dianggap nasda 365 hari. Hitunglah reorder point-nya! 10. Perusaan Kebangsaan menerima pesanan pembuatan sepeda antik. Pesanan itu harus sudah jadi dan akan diambil pada tanggal 28 Juni 2008. Pembuatan sepeda itu dengan assembling bagian roda depan, bagian roda belakang dan bagian body.Untuk melakukan assembling bagian-bagian tadi menjadi sepeda diperlukan waktu 1 hari. Untuk merakit bagian body diperlukan waktu 4 hari, untuk merakit bagian roda depan memerlukan waktu 1 hari dan untuk merakit bagian roda belakang diperlukan waktu 2 hari. Buatlah MRP untuk pembuatan sepeda yang dipesa itu! 11. Suatu perusahaan menghasilkan sepatu, yang dibuat di pabriknya sendiri. Untuk membuat sepatu itu diperlukan kulit sapi yang sudah disamak. Kulit tersamak itu dibeli dari para
5

supplier. Semakin banyak jumah yang dibeli, harga beli kulit ini semakin murah, dengan ketentuan sebagai berikut: JUMLH PEMBELIAN HARGA PER LEMBAR DLM LEMBAR KULIT 1 sampai 199 200 sampai 599 600 atau lebih DLM RUPIAH Rp 650 000,Rp 590 000,Rp 560 000,-

Kebutuhan kulit setiap tahun sebanyak 700 lembar. Biaya pemeliharaan setiap lembar kulit setiap tahun Rp 1 400,-. Ordering cost setiap kali membeli Rp 27 500,-. Hitunglah jumlah pembelian yang palig optimal !
12.

Untuk membuat barang A, diperlukan lead time selama 2 minggu, jumlah pemesanan setiap pembuatan barang harus dengan elipatan 50 ( setiap order haris sebanyak 50, atau 100, atau 150 dst.). Jumlah persediaan barang minimum 1 buah. Lengkapilah table MRP untuk produksi barang A berikut ini: Periode (minggu) ke:
5

Kebutuhan barang A seluruhanya setiap minggu Jumlah persediaan akhir 30 periode Kebutuhan neto (yang akan dipesan) Order produksi barang A dikirim (dipesan) Order selesai, barang sudah siap/ diterima 13. 10 30 50 50 60 90 40 60

9.6. Penggunaan QM for Windows 9.6.1. EOQ model sederhana

9.5.2. Model kuqntitas dengan quantity discount a) Bila EOQ pada harga trerrendah

b) Bila EOQ dibawah batas harga

10. METODA TRANSPORTASI 10.1. PENGERTIAN - Cara alkasi barang - Dari beberapa sumber ke beberapa tujuan - Secara optimal Contoh: - Supply dari A dan B, Kapasitas penyediaan A = B = 250 ton - Biaya pengangkutan per unit dari A ke M = Rp 10, ke N Rp 5, dari B ke M = Rp 4 dan ke N = Rp 12 10 A 250 4 5 B 250 12 Gambar 10.1. Alokasi pengiriman barang
6

M 200

N 300

Table 10.1. Biaya pengiriman dariA, B ke M dan N

Biaya: Alternatif 1: A ke M = 200 ton A ke N = 50 ton B ke N = 250 ton Alternatif 2: A ke N = 250 ton B ke N = 50 ton B ke M = 200 ton 200(Rp 10) = Rp 2 000 50(Rp 5) = Rp 250 250(Rp 12) = Rp 3 000 Rp 5 250

250(Rp 5) = Rp 1 250 50(Rp 12) = Rp 600 200(Rp 4) = Rp 800 Rp 2 650 Ternyata alternatif alokasi kedua lebih murah. Kalau banyaknya sumber dan tujuan lebih dari 2 maka lebih sulit, maka digunakan beberapa metoda, antara sbb:

10.2. METODA-METODA ALOKASI Mula-mula digunakan contoh dgn demand = supply Contoh: pengiriman barang dari W, H, P ke A, B, C
6

Tabel 10.2. Sumber dan tujuan pengiriman barang.


Ke Dari W H P Demand 50 A 20 15 25 110 B 5 20 10 40 C 8 90 10 60 19 50 200 Supply

VOGELS APPROXIMATION METHOD - penemunya bernama Vogel - dikatakan approximation sebab jwabannya kadang-kadang baru mendekti optimal - cara mengerjakannya mudah dan cepat
10.2.1.

Langkah-langkah menyelesaikannya: - Carilah index setiap baris dan setiap kolom, dengan: selisih cost terrendah pada suatu baris dengan cost terrendah kedua. Misalnya baris W = 8 5 = 3, baris H = 15 10 = 5 dan baris P = 19 10 = 9. Kolom A = 20 15 = 5, kolom B = 10 - 5 = 5, kolom C = 10 - 8 = 2. Taruhlah

disamping kanan, dan untuk kolom taruh dibawah. Tabel 10.3. VAM 1
Ke Dari W H P Demand Index A 20 15 25 50 110 5 B 5 20 10 40 C 8 90 10 60 19 50 200 Supply

Ind 3 5 9

- Pilihlah diantara baris atau kolom (salah satu) yang indeksnya tertinggi, pada kolom/ baris itu pilih sel yg costnya terrendah, isilah sesuai dgn demand dan supply yang ada. Misalnya pada Tabel VAM 1, pilihlah baris P, dan sel B. Supply P = 50 dan demand B = 110, sehinga isi sel itu dengan 50. Supply di P sudah terambil semua, tidak dapat diambil lagi, untuk memudahkan diberi simbol silang. Abaikan baris P, karena sel-selnya sudah tidak dapat diisi lagi.

Kita tingal memiliki 2 baris dan masih 3 kolom, ulangi lagi prosedur (langkah) 2 dan 3 pada baris/ kolom yg tersisa (lihat Tabel VAM 2), demikian seterusnya, sehingga sel yg ada sampai Tabel 10.4, 10.5, 10.6, 10.7 dan 10.8. Pada Tabel 10.6. tinggal 2 sel yg belum isi, maka isilah kedua sel itu dengan berdasarkan sisa supply dan demand yg masih ada.
Ind 3 5 9x

Tabel 10.4. VAM 2 Ke A Dari 20


W

B 5 20 10 50 110 5 x

C 8

Supply

90 H P X 15 25 10 60 19 40 50 200

Demand 50 Index 5

Tabel 10.5. VAM 3 Ke A Dari 20


W

B 5 20 10 50 110 5 15 x

C 8

Supply Ind

90 H P X 15 25 10 60 19 40 22 50 200

33 55 9x

Demand 50 Index 55

Tabel 10.6. VAM 4 Ke A Dari 20


W

B 5 60 20 x 10 50 110 5 15 x x

C 8

Supply Ind

90 10 60 19 40 22 50 200

33 55 9x

H P X

15 25

Demand 50 Index 55

Tabel 10.7. VAM 5 Ke Supply Ind A B C Dari 20 5 8 33 W X 60 30 90 12 15 20 10 55 H x 60 5 25 10 19 9x P X 50 x 50 Demand 50 110 40 200 Index 55 5 5 15 x 222 Tabel 10.8. VAM 6 Ke Supply Ind A B C Dari 20 5 8 33 W X 60 30 90 12 15 20 10 55 H 50 x 10 60 5 25 10 19 9x P X 50 x 50 Demand 50 110 40 200 Index 55 5 5 15 x 222

Biaya alokasi optimal = 60(5) + 30(8) + 50(15) + 10(10) + 50(10) = 1 890

METODA SEPPING STONE - Metoda ini dimulai dengan mengisi abel alokasi dari sudut kiri atas (northwest corner) ke kanan bawah, tanpa memperhatikan biayanya. Lihat Tabel Stepping stone 1 - Dilakukan dgn sangat sederhana, hanya menggeser isian dari suatu sel ke sel yg lain, agar diperoleh penghematan biaya alokasi. - Dasar pemilihan sel yg akan diisi tidak jelas, dipilih yg kira-kira akan menurunkan biaya.
10.2.2.

Tabel 10.9. Stepping stone 1.


Ke Dari W H P Demand 50 50 15 60 25 10 110 10 40 40 19 50 200 A 20 40 20 10 60 B 5 C 8 90 Supply

Biaya alokasi I = 50(20) + 40(5) + 60(20) + 10(10) + 40(19) = 3 260

- Pilih sel HC cost-nya rendah dan belum diisi (memilihnya bebas, WC juga boleh), maka akan kita isi dengan menggeser isian sel yg lain. Sel itu (HC) diberi tanda +. Pemindahan melibatkan 3 sel lain, kalau dapat pilih yg terdekat, yaitu sel-sel PC, PB HC. - Karena sel HC diberi tanda + (akan ditambah), maka sel PC diberi tanda (akan dikurangi), sel PB diberi tanda + (akan ditambah) dan sel HB diberi tanda (akan dikurangi). - Cek dulu, kalau pemindahan 1 unit, akan menambah biaya alokasi di HC dengan 10, mengurangi PC dengan 19, menambah PB dengan 10 dan mengurangi HB dengan 20. - Perubahan biaya bila dipindahkan 1 unit = +10 19 + 10 20 = -19. Artinya kalau isiannya digeser 1 unit saja maka biaya alokasi akan turun dengan Rp 19. - Pindahkan alokasi sel-sel itu sebesar isian terkecil dari sel yg bertanda negatif, dlm contoh ini sebesar 40. Isian pada PC dipindah ke PB sebesar 40, HB dipindah ke HC sebesar 40. Hasilnya sbb:

Tabel 10.10. Stepping stone 1.


Ke Dari
W

A 20 50 40 15

B 5 20 60 20 25 10 10 50 110 40 40

C 8

Supply

90 10 60 19 40 50 200

H P Demand 50

Biaya alokasi = 50(20) + 40(5) + 20(20) + 40(10) + 50(10) = 2 500 Demikian seterusnya: - Aloksi ini harus diperbaiki lagi, sampai optimal. - Alokasi dgn cara ini mudah dan sederhana. - Kelemahan metoda ini adalah pedoman langkah metoda ini tidak jelas dasarnya, dan sulit diketahui optimal atau tidaknya. - Sehingga metoda ini jarang dipakai, dan disempurnakan.

10.2.3.

METODA MODI (Modified Distribution)

Langkah-langkah perbaikan alokasi: 1. Langkah pertama mengisi tabel dari sudut kiri atas (Tabel Modi 1). Tabel 10.11. Modi 1.
Ke Dari
W

A 20 50 15 60 25 50 40

B 5 20 10 10 110 40

C 8

Supply

90 10 60 19 40 50 200

H P Demand

Biaya alokasi I = 50(20) + 40(5) + 60(20) + 10(10) + 40(19) = 3 260 2. Mencari nilai baris (Ri) dan nilai kolom (Kj), dengan menggunakan 3. Baris pertama selalu bernilai = 0

4.

5.

Kolom atau baris yang lain, yg dihubungkan dgn sel isi, dapat dicari dengan menggunakan rumus: Ri + Kj = Cij. Mencari indeks perbaikan untu sel kosong, dengan rumus: I = Cij Ri Kj.

Nilai baris W = RW = 0 Yg dihubungkan dgn sel isi adalah kolom A. Maka nilai kolom A (KA) dapat dicari sbb: RW + KA = CWA. Berarti 0 + KW = 20. KW = 20. Tabel.10.12. Baris dan kolom yg lain sbb:
Baris/ kolom Kolom B Baris H Baris P Kolom C Nilai RH + KC = CHC, 0 + KC = 5, RH + KB = CHB, RH + 5 = 20, RP + KB = CPB, RP + 5 = 10, RP + KC = CPC, 5 + KP = 19, KC = 5 RH = 16 RP = 5 KP = 14

6. Pilihlah sel kosong yg indeksnya paling negatif, sebab kalau perbaikan dimulai dari sel itu, maka penurunan biayanya terbesar.

Tabel 10.13. Tabel Modi 1.b.


Ke Dari
W 0

A 20 20 50 15 60 25 50 40

B5 5 20 10 10 110 40

C 14 8

Supply

90 10 60 19 40 50 200

H 15 P 5 Demand

7. Mencari indeks perbaikan. Sel yg kosong dicari indeka perbaikannya, dengan rumus: Cij Ri Kj. Tabel 10.14. Indeks perbaikan.
Sel kosong WC HA HC PA Indeks perbaikan CWC RW KC = 8 0 14 = -6 CHA RH KA = 15 15 20 = -20 * CHC RH KC = 10 15 14 = -19 CPA RP KA = 25 5 20 = 0

Pilih sel HA sebagai titik tolk perbaikan, sebab indeksnya paling negatif.

Tabel 10.15. Modi 1.c.


Ke Dari W 0 H 15 P 5 Demand 50 + 50 A 20 20 + B5 5 C 14 8 90 60 50 200 Supply

40 90 15 20 10 60 10 25 10 19 10 40 50 110 40

Biaya alokasi 2 (setelah perbaikan) = 90(5) + 50(15) + 10(20) + 10(10) + 40(19) = 2 260 8. Pindahkanlah isi Tabel Modi 1.c. ke Tabel Modi 2 (dibersihkan), agar bersih dam mudah dikerjakan.

Tabel 10.16. Modi 1.d.


Ke Dari W H P Demand 50 50 25 10 110 A 20 90 15 10 10 40 40 19 50 200 20 10 60 B 5 C 8 90 Supply

9. Ulangi prosedur perbaikan 1 sampai dengan 7, baru enemukan alokasi optimal apabila indeks perbaikannya sudah tidaka da yg negatif. Tabel 10.17. Modi 2
Ke Dari W H P Demand 50 50 25 20 110 10 30 40 A 20 90 15 20 10 19 50 200 10 60 B 5 C 8 90 Supply

Biaya alokasi 3 = 90(5)+ 50(15) + 10(10) + 20(10) + 30(19)= 2 070


7

Tabel 10.18. Modi 3


Ke Dari W H P Demand 50 50 25 50 110 10 40 A 20 60 15 20 10 19 50 200 B 5 30 10 60 C 8 90 Supply

Biaya alokasi 4 = 60(5)+ 30(8) + 50(15) + 10(10) + 50(10)= 1 890 Table 10.19. Indeks perbaikan: Segi 4 Indeks kosong perbaikan WA 20 0 13 = 3 HB 20 2 5 = 13 PA 25 5 13 = 7 PC 19 5 8 = 6 Semua indeks perbaikan sudah positif, maka alokasi ini sudah optimal.

10.2.4.KALAU DEMAND TIDAK SAMA DENGAN SUPPLY - Jumlah demand harus disamakan dengan supply, dengan dummy collumn atau dummy row. - Dummy collumn atau dummy row untuk menampung perbedaan itu. - Biaya alokasi pada dummy collumn atau dummy row = 0 - Kemudian dikerjakan dengan metoda MODI.

Contoh: Bila demand melebihi supply. Tabel 10.19. Modi 4. Bila demand melebihi supply
Ke Dari W H P Demand 50 A 20 15 25 110 B 5 20 10 50 C 8 90 10 60 19 50 200 210 Supply

Dirubah menjadi

Tabel 10.20. Tabel dengan tambahan dummy row.


Ke Dari W H P Dummy Demand 50 A 20 15 25 0 110 B 5 20 10 0 50 C 8 90 10 60 19 50 0 10 210 Supply

Baru tabel ini dikerjakan dengan metoda Modi. Bila supply melebihi demand, maka yang ditambahkan adalah dummy collumn (kolom dummy).

10.2.5. -

METODA LINEAR PROGRAMMING. Isian setiap sel digunakan simbol Xij, misal sel WA isinya XWA, bisa juga X11, X12 dst.Hasilnya seperti pada Tabel transportasi 6.

a) Bila supply = demand

Tabel 10.21. Table transportasi, bila supply sama dengan demand.


Ke Dari W H P Demand XWA 15 XHA 25 XPA 50 XPB 110 XHB 10 XPC 40 A 20 XWB 20 XHC 19 50 200 B 5 XWC 10 60 C 8 90 Supply

Formulasi masalah sbb: Fungsi tujuan: Minimum Z = 20 XWA + 5 XWB + 8 XWC + 15 XHA + 20 XHB + 10 XHC + 25 XPA + 10 XPB + 19 XPC Kendala-kendala: (1) XWA + XWB + XWC = 90 (2) XHA + XHB + XHC = 60 (3) XPA + XPB + XPC = 50 (4) XWA + XHA + XPA = 50 (5) XWB + XHB + XPB = 110
(6) (7)

XWC + XPHC + XPC = 40

XWA, XWB, XWC, XHA, XHB, XHC, XPA, XPB, XPC > 0

Kerjakan dengan metoda Simplex!

b) Kalau supply lebih dari demand. - Tidak usah menggunakan dummy collumn atau dummy row. - Perubahannya pada tanda persamaan diganti kurang atau sama dengan ( < ) pada kendala yang lebih. Tabel 10.22. Tabel transportasi, demand melebihi supply.
Ke Dari
W

A 20 XWA XWB 15 XHA 25 XPA 50 XHB

B 5 XWC 20 XHC 10 XPB 110 XPC

C 8

Supply

90 10 60 19 50 200 210

H P Demand

50

Formulasi masalah sbb: Fungsi tujuan: Minimum Z = 20 XWA + 5 XWB + 8 XWC + 15 XHA +
8

20 XHB + 10 XHC + 25 XPA + 10 XPB + 19 XPC Kendala-kendala: (1) XWA + XWB + XWC = 90 (2) XHA + XHB + XHC = 60 (3) XPA + XPB + XPC = 50 (4) XWA + XHA + XPA < 50 (5) XWB + XHB + XPB < 110 (6) XWC + XPHC + XPC < 50 (7) XWA, XWB, XWC, XHA, XHB, XHC, XPA, XPB, XPC > 0 Kerjakan dengan metoda Simplex!

c) Kalau demand kurang dari supply: Tabel 10.23. Tabel transportasi, supply melebihi
8

demand.
Ke Dari
W

A 20 XWA XWB 15 XHA 25 XPA 50 XHB

B 5 XWC 20 XHC 10 XPB 110 XPC

C 8

Supply

90 10 60 19 70 220 200

H P Demand

40

Formulasi masalah sbb: Fungsi tujuan: Minimum Z = 20 XWA + 5 XWB + 8 XWC + 15 XHA + 20XHB + 10 XHC + 25 XPA + 10 XPB + 19 XPC Kendala-kendala: (1) XWA + XWB + XWC < 90 (2) XHA + XHB + XHC < 60 (3) XPA + XPB + XPC < 70 (4) XWA + XHA + XPA = 50 (5) XWB + XHB + XPB = 110 (6) XWC + XPHC + XPC = 40 (7) XWA, XWB, XWC, XHA, XHB, XHC, XPA, XPB, XPC > 0

Kerjakan dengan metoda Simplex!

10.2.6. Penerapan model transportasi: 1. Suatu perusahaan menghasilkan barang XX, dengan prakiraan demand setiap kuartal pada tahun 2009 adalah: Kuartal I = 350 dosin, kuartal II = 450 dosin, kuartal III = 600 dan kuartal IV = 500 dosin. Biaya produksi setiap dosin barang XX antara kuartal satu dengan kuartal yang lain berbeda-beda, kuartal I = Rp 300 000, kuartal II = Rp 325 000, kuartal III = Rp 360 000 dan kuatal IV = Rp 350 . Kapasitas produksi normal tahun 2009 setiap kuartal adalah: Kuartal I = 480 000 dosin, kuartal II = 470 dosin, kuartal III = 460 dosin dan kuartal IV = 450 dosin. Kalau terjadi kekurangan barang dapat diatasi dengan kerja lembur, dengan tambahan biaya produksi 20% dari biaya normal. Biaya kerja lembur lebih mahal 10% dari kerja biasa. Bila jumlah produksi suatu kuarta melebihi permintaan pada kuartal itu, sisanya dapat disimpan dulu

didalam gudang, dengan biaya penyimpanan barang jadi setiap dosen Rp 5 000. a) Buatlah tabel alokasi (transportasi) dari masalah ini! Catatan: tidak usah dicari jawaban optimalnya, buatlah tabel alokasi awalnya saja. b) Buatlah formulasi masalah ini (yang terdiri dari persamaan fungsi tujuan dan fungsifungsi kendala) sehingga dapat dikerjakan dengan linear programming! Catatan: tidak usah dicari jawaban optimalnya, buatlah formulasi masalahnya saja. c) Apabila keterlambatan pemenuhan kebutuhan perusahaan masih dimungkinkan, tetapi perusahaan harus menanggung biaya kelambatan, per unit per kuartal Rp 10 000,-, maka buatlah schedule produksi perusahaan.

10.3.

TRANSHIPMENT - Terjadi apabila dari sumber (asal) barang tidak langsung ke tujuan, tetapi melalui transient (penampung sementara). - Dari tranient baru dikirim ke tempat-tempat tujuan akhir.

Sumber

Transient

Tujuan akhir

O
8

Alokasi yang mungkin dilakukan: pada sel kosong. Ke H I M N O Dari A X X X B X X X H X X I X X Buatlah tabel dengan transportasi berdasar tabel ini.

Bentuk lain transhipment: Sumber Transient

Tujuan akhir

Alokasi yang mungkin dilakukan: pada sel kosong. Ke H I M N O Dari A X X X B X X X H X I X X Buatlah tabelnya, alokasikan dengan model transportasi! 10.4. SOAL-SOAL 1. Suatu perusahaan akan mengirimkan barang yang sama dari 3 pabrik ke 3 gudang pemasaran. Supply di pabrik-pabrik yang ada sebagai berikut: A = 50 ton, B = 90 ton dan C = 70 ton. Kebutuhan di gudang-gudang pemasaran sebagai berikut: K = 60, L = 75 dan N = 85. Biaya pengangkutan per ton barang dari pabrik ke gudang sebagai berikut: Ke K L M Dari A 25 21 34 B 43 48 35 C 32 34 28 Carilah alokasi optimal dengan metoda MODI!

2. Suatu perusahaan akan melakukan alokasi suatu barang dari 3 sumber (A,B,C) ke 4 tujuan, dengan data sebagai berikut: Cost angkut/unit ke: Sumber Kapasitas H I J K A 8 6 3 12 60 B 5 11 9 8 40 C 11 5 11 7 100 Kebutuhan 40 50 40 70 200 Carilah alokasi optimalnya dengan metoda MODI! 3. Diketahui, suatu perusahaan akan melakukan alokasi barang dari kota-kota A, B dan c ke kotakota H, I dan J. Kapasitas penyediaan di A = 1 000 unit, B = 1 900 unit dan C = 1 600 unit. Kebutuhan di H = 700 unit, I = 2 000 unit dan di J = 1 800 unit. Biaya alokasi dari setiap kota asal ke kota-kota tujuan (dalam Rp 1 000) sebagai berikut: Dari Kota tujuan H I J A 90 80 100 B 20 40 50 C 40 90 60 a) Carilah alokasi optimal dengan metoda Vogel
9

(VAM) b) Dengan ketentuan didalam metoda MODI, ujilah alokasi diatas apakah sudah optimal, kalau belum maka lanjutkanlah pencarian alokasi itu dengan metoda MODI! 4. Suatu perusahaan akan mengirimkan barang dari pabrik-pabrik di kota H, I dan J ke gudanggudang pemasaran di P, Q dan R. Kebutuhan barang di P = 400 ton, di Q = 350 ton dan di R = 250 ton. Kapasitas penyediaan di pabrik H = 300 ton, pabrik I = 400 ton dan pabrik J = 600 ton. Biaya pengangkutan setiap ton dari suatu pabrik ke suatu gudang pemasaran, dalam ribuan Rp., masing masing sebagai berikut: Ke P Q R Dari H 15 20 23 I 22 18 27 J 10 25 20 a) Carilah alokasi optimal dengan metoda Vogel! b) Ujilah apakah alokasi optimal yang saudara temukan dengan metoda Vogel (sesuai jawaban a) itu sudah optimal. Catatan: Gunakan
9

ketentuan-ketentuan didalam metoda Modi untuk menguji optimalitas suatu tabel alokasi! 5. Suatu perusahaan menghasilkan barang XX, dengan prakiraan demand setiap kuartal pada tahun 2009 adalah: Kuartal I = 350 dosin, kuartal II = 450 dosin, kuartal III = 600 dan kuartal IV = 500 dosin. Biaya produksi setiap dosin barang XX antara kuartal satu dengan kuartal yang lain berbeda-beda, kuartal I = Rp 300 000, kuartal II = Rp 325 000, kuartal III = Rp 360 000 dan kuatal IV = Rp 350 . Kapasitas produksi normal tahun 2009 setiap kuartal adalah: Kuartal I = 480 000 dosin, kuartal II = 470 dosin, kuartal III = 460 dosin dan kuartal IV = 450 dosin. Kalau terjadi kekurangan barang dapat diatasi dengan kerja lembur, dengan tambahan biaya produksi 20% dari biaya normal. Bila jumlah produksi suatu kuarta melebihi permintaan pada kuartal itu, sisanya dapat disimpan dulu didalam gudang, dengan biaya penyimpanan barang jadi setiap dosen Rp 5 000. a) Buatlah tabel alokasi (transportasi) dari masalah ini! Catatan: tidak usah dicari jawaban optimalnya, buatlah tabel alokasi awalnya saja.
9

b)

Buatlah formulasi masalah ini (yang terdiri dari persamaan fungsi tujuan dan fungsifungsi kendala) sehingga dapat dikerjakan dengan linear programming! Catatan: tidak usah dicari jawaban optimalnya, buatlah formulasi masalahnya saja.

6.

Pedagang beras NGUDIWAREG memiliki daerah pemasok di Arsorejo (A) dengan kapasitas supp setiap bulan 300 ton dan Bangunsari (B) 400 ton. Daerah pemasarannya di Yogyakarta (Y) dengan kebutuhan setiap bulan = 350 ton, Muntilan (M) = 250 ton dan Wates (W) = 100 ton. Beras dari kedua pemasok harus dikirim di tempat transit Sleman (S) dan Pakem (P), baru dikirim ke daerah-daerah pemasarannya. Pengiriman ke daerah pemasaran hanya boleh dilakukan melalui tempat-tempat transit yang ada. Kapasitas setiap tempa transit untuk menampung masing-masing 350 ton. Buatlah formulasi masalah ini, menjadi tabel alokasi awal, yang dapat dikerjakan dengan metoda transportasi atau transhipment. Biaya

pengangkutan dari wilayah satu ke wilayah yang lain sebagai berikut, dalam ribuan Rp. Ke A B S P Y M W Dari A - 1 3 2 6 16 7 B 1 - 2 2 7 17 8 S - - - - 5 10 7 P - - 6 14 8 Y - - 11 9 M - - 11 15 W - - 9 15 7.

Berdasarkan data pada nomer 6, buatlah formulasi masalah, dengan kata lain buatlah fungsi tujuan dan kendala-kendala, sehingga andaikata dikehendaki dapat dikerjakan dengan linear programming. Catatan: Tidak usah dicari hasil optimalnya, cukup formulasikan saja. Suatu perusahaan akan melakukan pengiriman barang yang sama dari pabrik-pabrik di kota A, B dan C, ke gudang-gudang permasaran di kota G, H dan I. Jumlah persediaan barang yang ada di gudang-gudang produksi adalah: di A = 10

8.

000 kg, di B = 35 000 kg dan di C = 30 000 kg. Sedangkan permintaan di gudang-gudang pemasaran: di G = 30 000 kg, di H = 25 000 kg dan di I = 30 000 kg. Biaya pengangkutan setiap kilogram dari kota asal ke kota tujua, dalam ribuan Rp, terlihat pada table berikut:

DARI PABRIK A B C G 6 9

KE GUDANG H 5 5 8 I 4 4 6

10

Butlah formulasi masalah dari alokasi barang ini dalam persamaan-persaaan linier, baik fungsi tujuannya maupun fungsi-fungsi kendalanya, sehingga andaikata diperlukan dapat dikerjakan dengan linear programming. Tidak usah dihitung/dicari alokasi optimalnya,

cukup dibuat formulasi masalahnya kedalam persamaan-persamaan linier saja.


9.

Perusahaan Kinasih akan mengirimkan barang yang sama dari beberapa sumber, yaitu M, N dan O ke beberapa tujuan, yaitu P, Q dan R. Supply di A = M = 12 000 ton, di N = 10 000 ton dan di O = 18 000 ton. Kebutuhan di P = 6 000 ton, di Q = 22 000 ton dan di R = 12 000 ton. Biaya agkut dari setiap sumber ke beberapa tujua, dalam Rp deperti terlihat pada tabel berikut. Carilah alokasi yang optimal! Asal Tujuan barang P Q R M 437 425 489 N 400 500 527 O 413 450 375

Kunci jawaban: Soal no. 9. Aloasi optimal: JUMLAH PENGIRIMAN M Q 12 000 N P 6 000 N Q 4 000 O Q 6 000 O R 12 000 Biaya alokasi optimal, dalam kasus ini minimum = Rp 16 700 000,DARI KE

11. MODEL PENUGASAN

(ASSIGNMENT)
11.1. PENGERTIAN: - Membahas penugasan dari - beberapa karyawan atau mesin, alat atau sarana lain, yang memiliki: kemampuan, keahlian, kekuatan ketelitian kelebihan, kekurangan, sifat dan ciri-ciri khas lain, yang berbedabeda, - untuk melaksanakan beberapa tugas atau pekerjaan yang memerlukan karyawan, mein atau sarana lain yang: memiliki sifat tertentu, dan memerlukan ketrampilan, keuletan, kemampuan sifat-sifat lain yang berbeda-beda.

Harus dipilih alokasi yang optimal, sehingga dapat memiliki tujuan: - Meminimumkan - Memaksimumkan.

11.2. ALGORITMA MEMINIMUMKAN Algoritma yang bertujuan minimumkan biasanya digunakan untuk kegiatan yang berkaitan dengan: - biaya, - waktu kerja, - waktu tunggu atau - pengorbanan yang lain. Contoh: Suatu perusahaan akan melaksanakan 4 pekerjaan/ tugas, dan terdapat 4 karyawan untuk mengerjakan tugas itu. Namun kebutuhan keahlian dan sifat karyawan dari ke 4 tugas itu masing-masing berbeda. Sedang karyawan yang ada memiliki perbedaan keahlian dan sifat yang lain. Kalau suatu tugas dikerjakan oleh suatu karyawan akan memerlukan biaya yang berbeda bila dikerjakan oleh karyawan yang lain. Biaya produksi, dalam ribuan Rp, kalau setiap tugas dikerjakan oleh
9

karyawan yang berbeda terlihat didalam tabel berikut: KarTugas yawan 1 2 3 4 A 20 16 19 31 B 21 18 20 28 C 17 30 17 25 D 24 27 21 22 Untuk melakukan alokasi diperlukan langkahlangkah sebagai berikut: 1) Carilah opportunity matrix, dengan jalan: nilai setiap baris dikurangi dengan nilai terkecil dari baris itu. Hasilnya seperti pada bagian ke 2 dari tabel berikut. 2) Pada tabel ke 2, kolom yang belum memiliki angka 0 dijadikan memiliki angka 0, dengan jalan nilai kolom itu dikurangi dengan angka terkecil dari kolom itu. Hasilnya tampak pada tabel ke 3. 3) Pada tabel ke 3, semua baris dan semua kolom sudah memiliki 0, maka buatlah garis minimum ( sesedikit mungkin garis) yang melalui 0: kalau mungkin setiap garis dapat melalui beberapa 0
1

4)

5)

setiap 0 cukup hanya dilalui oleh satu garis saja, tetapi andaikata dilaui oleh 2 garis atau lebih juga boleh, misalnya karena ada garis lain yang diperlukan kolom atau baris lain Pada tabel 3 ini berlaku ketentuan sebagai berikut: Kalau banyaknya garis minimum sudah sama dengan banyaknya baris atau kolom, maka alokasi sudah dapat dilakukan. Kalau banyaknya garis masih kurang dari banyaknya baris atau kolom, maka langkah ke 3 diulangi lagi, sampai banyaknya garis setidak-tidaknya sama dengan banyaknya baris/ kolom, memenuhi syarat untuk alokasi. Alokasikan karyawan pada tugas-tugas yang ada, dengan ketentuan sbb: dimulai dari karyawan yang 0 nya paling sedikit, karyawan itu ditugaskan pada pekerjaan yang dihubungkan dengan 0. Kemudian berturut-turut karyawan lain yang memiliki 0 lebih banyak, dengan mengalokasikan karyawan itu pada tugas yg

dihubungkan oleh 0, yang tugas itu belum dikerjakan oleeh karyawan lain. Setelah alokasi selesai, hitunglah biaya (atau pengorbanan lain) yang dihasilkan, berarti minimumnya.

Karyawan A B C D A B C
D

A B C D A B C
D

1 20 21 17 24 4 3 0 3 4 3 0 3 2 1 0 3

Tugas: 2 3 16 19 18 20 30 17 27 21 0 3 0 2 13 0 6 0 0 3 0 2 13 0 6 0 0 1 0 0 15 0 8 0

4 31 28 25 22 15 10 8 1 14 9 7 0 12 7 7 0

Alokasi karyawan: Kar- Tugas yawan A 2 B 3 C 1 D 4 Biaya minimum

Biaya

16 20 17 22 75

11.3. ALGORITMA MAKSIMUMKAN: - Langkah pertama (merubah tabel awal) berbeda, carilah opportunity loss matrix, dengan cara: mencari perbedaan antara nilai setiap baris (manfaat atau keuntungan) dengan nilai terbesar baris itu - Langkah pada tabel berikutnya sama seperti algoritma meminimumkan (yg. berbeda hanya langkah pertama). Contoh:
Kita akan melakukan alokasi 4 orang karyawan yang memiliki keahlian berbeda, untuk mengerjakan 4 ttugas yang berbeda. Keuntungan apabila setiap tugas dikerjakan oleh salah satu dari karyawan itu sebagai berikut:

KarYawan A B C D

1 40 42 34 48

Tugas: 2 32 36 60 54

3 38 40 36 42

4 62 56 50 44

Jawab: Algoritma maksimumkan: KarTugas: Yawan 1 2 3 A 40 32 38 B 42 36 40 C 34 60 36 D 48 54 42 A 22 30 24 B 14 20 16 C 26 0 24 D 6 0 12 A 16 30 12 B 8 20 4 C 20 0 12 D 0 0 0 A 12 30 8 B 4 20 0 C 16 0 8 D 0 4 0

4 62 56 50 44 0 0 10 10 0 0 10 10 0 0 10 14

Alokasi: Karyawan A B C D Tugas 4 3 2 1 Laba 62 40 60 48 210

11.4. APABILA BANYAKNYA KARYAWAN TIDAK SAMA DENGAN BANYAK TUGAS - Tambahkan baris dummy bila banyak baris lebih sedikit dari banyak kolom, dan tambahkan kolom dummy bila banyak baris lebih banyak dari banaknya kolom - Biaya atau manfaat setiap sel pada baris atau kolom dummy sebesar 0

11.5. SOAL-SOAL 1. Ada 4 tugas yang memiliki kebutuhan skill dan kemampuan karyawan yang berbeda-beda dan ada 4 karyawan yang memiliki skill dan kemampuan yang berbeda pula. Kalau setiap karyawan diminta untuk mengerjakan suatu tugas maka biayanya dalam juta Rp seperti didalam tabel berikut. Tugas Tugas Tugas Tugas I II III IV A 36 24 42 33 B 41 45 40 36 C 45 37 41 40 D 40 42 44 48 Carilah alokasi optimal dengan menggunakan algoritma assignment! 2. Ada 4 tugas yang memerlukan spesifikasi mecam keahlian karyawan yang berbeda-beda. Untuk mengerjakannya ada 4 karyawan yang pendidikan, skill dan kemampuannya berbeda-beda pula. Kalau tugas itu dikerjakan oleh setiap karyawan, biaya yang dikeluarkan seperti terlihat didalam tabel berikut: Karya-wan

Karyawan Tugas Tugas Tugas Tugas II III IV A 21 24 16 23 B 18 20 21 15 C 19 22 17 24 D 23 19 24 16 Carilah alokasi karyawan yang optimal untuk mengerjakan tugas-tugas itu !

12. NETWORK PLANNING 12.1. PENGERTIAN: - Analisis dengan jaringan kerja - Untuk merencanakan pelaksanaan proyek - Ciri-ciri proyek: waktu mulai dan selesainya telah direncanakan satu kesatuan pekerjaan, terpisah dgn yg lain kegiatannya banyak, hubungannya kompleks, sulit diingat-ingat Sejarah: - Dikembangkan/ ditemukan oleh 2 lembaga yg tidak saling bekerjasama, menghasilkan konsep yg hampir sama: Program Evaluation and Review Technique (PERT), oleh konsultan manajemen: Boaz, Allen dan Hamilton untuk perusahaan pesawat terbang Lockheed. Ciri khasnya mencari probabilitas selesainya proyek. Critical Path Method (CPM) oleh Du Pont Company. Ciri khasnya menghitung waktu dan biaya percepatan proyek

Pembuatan network: - Dibuat jaringan, menghubungkan kegiatan satu dengan yang lain - Kegiatan atau activity (aktivitas): perlu proses, perlu waktu, diberi simbol anak panah - Event diberi simbol lingkaran (node), merupakan simbol dari awal atau akhir suatu kegiatan - Dirangkai menjadi suatu network (jaringan kerja) Kegiatan (activity) Event atau node

Dummy activity
Kalau dirangkai: kegiatan A dilanjutkan dgn kegiatan B A 1 2 B 3 3

Contoh 1: Garis besar kegiatan untuk membangun rumah sebagai berikut:


KEGIATAN A B C D E NODE 1-2 1-3 2-3 2-4 3-4 KETERANGAN Membuat fondasi Membuat atap
Membangun tembok
Meratakan tanah Finishing

PRASYARAT A A B, C

WAKTU 2 mg 4 mg 3 mg 5 mg 5 mg

2 A 1 B
4 2

D C 3 E 3
5

Beberapa hal yg perlu diperhatikan didalam membuat network: a) Sebelum suatu kegiatan dimulai, kegiatan pendahulunya harus sudah selesai sepenuhnya
1

b)

c)

d)

e)
f)

Gambar anak panah hanya sekedar menunjukkan urutan pekerjaan saja, tidak menunjukkan waktu dan tempat Kalau ada kesulitan didalam menggambar dapat digunakan dummy activities Nomer node dibuat sedemikian rupa untuk menghindari circularity: Nomer node tidak ada yang sama Nomer node akhir lebih besar d/p node awal Dua events hanya dapat dihubungkan dengan satu anak panah Hanya dimulai dengan 1 event (initial event) dan diakhiri dengan 1 event (terminal event)

12.2. JALUR KRITIS: - jalur yang menentukan waktu selesainya proyek - tidak menunggu jalur lain, dgn kata lain tidak ada pengangguran - paling cepat proyek selesai sesuai dengan waktu dlm jalur kritis Menentukan jalur kritis: Ada beberapa cara untuk menentukan jalur kritis, sebagai berikut: cara sederhana, dengan algoritma,
1

dengan integer programming dengan complementary slackness. Contoh 1: 1) Dengan cara sederhana: jumlahkanlah waktu setiap jalur, kemudian pilihlah jalur yang memiliki waktu terpanjang, itulah jalur kritis. Jalur AD ACE BE 2) Waktu 2+5 = 7 2+3+5 = 10 4+5 = 9

Terpanjang, jalur kritis.

Dengan algoritma ES, EF, LS, LF: - Earliest start time (ESi) adalah waktu yang tercepat dimulainya kegiatan i. Misal ESA = 0, karena dimulai setelah waitu ke 0. ESC =2. - Earliest finish time (EFi) adalah waktu yang tercepat atau secepat cepatnya diselesaikannya kegiatan i. Misal EFA = 2, karena dapat diselesaikan setelah waitu ke 2. EF =5 - Latest start time - Latest finish time - Total float: TFi = LFi- ESi - ti
1

Free float: TFi = ESj- ESi - ti

Keg. A B C D E

Ti 2 4 3 5 5

ES 0 0 2 2 5

EF 2 4 5 7 10

LS 0 1 2 5 5

LF 2 5 5 10 10

TF 0 1 0 3 0

FF 0 1 0 3 0

Jalur kritis adalah jalur yang nilai TF dan FF nya = 0, yaitu jalur A-C-E.

Contoh 2: suatu proyek pembuatan mesin memiliki data sebagai berikut:


Kegiatan A B C D E F G Keterangan Merencanakan Memesan mesin Menyesuaikan mesin Pesan material rangka Membuat rangka Finishing rangka Asembling dan stel Prasyarat A B A D B, E
C, F

Waktu (minggu) 10 2 8 4 3 1 5

Network-nya sbb:

3 C 8 G 5 6 7

B 2 A 10 1 2 D 4 E 3 4

F 1 5

1) Dengan cara sederhana: JALUR WAKTU KETERANGA N ABCG 25 mg Kritis ABFG 18 mg ADEFG 23 mg Jalur kritis diberi garis berbeda: tebal, dua garis dll
3 B 2 A 10 1 2 D 4 E 3 4 5 6 F 1 C 8 G 5 7

- Proyek selesai dalam 25 minggu, sesuai dengan jalur kritis (ABCG). - Jalur ADEF sampai dengan kugiatan F hanya memerlukan waktu 18 minggusehingga menunggu jalur ABC selama 2 minggu, yg baru

selesai minggu ke 20. Demikian pula jalur ABFG. Waktu menungu ini biasanya disebut slack atau float. Dengan algoritma, yaitu dengan menghitung ES, EF serta LS, LF.
3 B 2
12,12

3)

C
20,20

8 G 5 6 F 1 5
25,25

0,0

A 10 1 2

10,10 10,12

D 4 4

14,16

E 3

17,19

Penjelasan: - Pada setiap node dicantumkan waktu selesai paling cepat = earliest start time (ES) dan waktu selesai paling cepat = earliest finish time (EF), yaitu angka yg depan

- Dihitung dgn waktu mulai palng cepat ditambah waktu kegiatan - Dicantumkan pula waktu mulai paling lambat = latest start time (LS) dan waktu selesai paling lambat = latest finish time (LF), yaitu angka yg belakang - Dihitung mulai dari belakang, dengan waktu selesai paling lambat setiap kegiatan dikurangi waktu kegiatannya - Pada jalur kritis ES selalu = LS dan EF selalu = LF - Diluar jalur kritis ES berbeda dgn LS, EF berbeda dgn LF. - Jalur kritis: ABCG

3 B 2
0,0

12,12

C
20,20

8 G 5 6 F 1 5
25,25

A 10 1 2

10,10 10,12

D 4 4

14,16

E 3

17,19
1

Float atau slack: - Pengangguran atau waktu tunggu suatu kegiatan - Ada 2 macam float, yaitu: total float (TF), merupakan float yg dapat terjadi karena aktuvitas itu sendiri atau aktuvitas yg lain free float(FF), yaitu float yg dapat terjadi pada suatu aktivitas akibat perbedaan waktu dari aktivitas itu sendiri ES, EF, LS dan LF setiap kegiatan dapat dilihat bada tabel berikut:
Kegiatan A B C D E F G ti 10 2 8 4 3 1 5 ES 0 10 12 10 14 17 20 EF 10 12 20 14 17 18 25 LS 0 10 12 12 16 19 20 LF 10 12 20 16 19 20 25 TF 0 0 0 2 2 2 0 FF 0 0 0 0 0 2 0

12.3. SOAL-SOAL I: 1. Suatu proyek memiliki data sebagai berikut: KEGIATAN A B C D E F G H


a) b)

PRAWAKTU SYARAT (minggu) 6 4 5 A 6 A, B 5 C 7 C, D, E 4 F, G 5 Gambarkan network-nya dan jalur kritisnya! Hitung ES, EF, LS, LF, total float dan free foat-nya!

2. Suatu proyek memiliki aktivitas dan waktunya (dalam minggu) seperti terlihat dalam tabel berikut ini: Keg A B C Waktu 6 6 4 Prasyarat B
1

c) d)

D 13 A E 6 C, D F 8 B G 5 E, F Gambarkan network-nya dan jalur kritisnya! Hitung ES, EF, LS, LF, total float dan free foat-nya!

12.4. MEMPERPENDEK WAKTU SELESAINYA PROYEK - Perpendekan waktu memerlukan tambahan biaya - Ada batas maksimumnya. Meskipun biaya ditambah, kegiatan belum tentu dapat diperpendek Manfaat perpendekan proyek: - Menghemat biaya tetap - Menghindari denda - Mendapat premi Pola kenaikan biaya: a) Linear: tambahan biaya selalu sama, continuous
Rp. Juta

24 15

waktu (minggu)
1

Perubahan biaya linier: - Normal dikerjakan dlm 8 jam, biaya Rp 15 juta - Diperpendek menjadi 5 minggu, atau diperpendek 3 hari, biaya naik menjadi Rp 24 juta. - Berarti kenaikan biaya penyelesaoan (kerja) 3 hari = Rp 9 juta, kalau pola kalau pola perbahan linier, maka rata-rata kenaikan per minggu perpendekan = Rp 3 juta b)progresif: tambahan biaya semakin naik, continuous
Rp. Juta 30 24 15

waktu (minggu)

Kenaikan biaya progresif, semakin diperpendek marginal cost nya semakin naik.
1

- Diselesaikan 8 minggu, biayanya Rp 15 juta - Diselesaikan 7 minggu, biayanya Rp Rp 16,5 juta. Berarti biaya perpenrekan 1 minggu Rp 1,5 juta. - Diselesaikan 6 minggu, jumlah biaya Rp 21 juta. Berarti kenaikan seminggu ke 2 = Rp 4,5 juta. Yaitu Rp 21 juta Rp 16,5 juta = Rp 4,5 juta. - Diselesaikan 5 minggu biayanya Rp 30 juta. Kenaikan biaya pada minggu perpendekan ke 3 = Rp 9 juta. Yaitu Rp 30 jura Rp 21 juta. - Jelas terlihat, semakin diperpendek menambah marginal cost-nya. c) degresif: tambahan biaya semakin turun, continuous
Rp. Juta 30 22,5 15

waktu (minggu)

Waktu Biaya Biaya perpenpenyelesaian mengerjakan dekan/ minggu 8 15 7 22,5 7,5 6 27 4,5 5 30 3 Marginal cosr-nya semakin tyurun, berarti degresif.

d)discrete: hanya beberapa alternatif perpendekan


Rp. Juta

300

pesawat terbang kereta api

15 bus malam 0 1 7 12 jam

Waktu kegiatan yang bersifat discrete adalah yang hanya dapat dipilih satu diantara yang ada.
1

Tidak dapat diperpendek. Misal untuk pergi dari Yogyakarta ke Jakarta ada 3 alternatif perjalanan, yaitu: Kendaraan yang digunakan Bis malam Kereta api Pesawat terbang Lama (jam) perjalanan 12 7 1 Biaya Juta Rp 60 180 300

Hanya dapat memilih naik bis malam, biayanya paling murah tetai lama, 12 jam. Atau memilih kereta api lebih cepat, 7 jam sampai dengan biaya yang mahal, Rp 180 000. Atau dapat pula naik pesawat terbang, cepat, 1 jam sampai, tetapi paling maha, Rp 300 000,-. Tidak dapat memilih yang 5 jam, sebab discrete, hanya dapat memilih satu macam saja.

Pedoman perpendekan: a) Pilih di jalur kritis, sebab diluar jalur kritis hanya menambah float, tidak mempercepat b)Pilih yg biayanya terrendah

Contoh: Pada proyek dlm contoh 2, kegiatan dapat diperpendek dengan waktu dan biaya setelah diperpendek (crash) sbb:
Kegi- Waktu (minggu) atan Normal Crash A 10 10 B 2 1 C 8 4 D 4 2 E 3 2 F 1 1 G 5 4 Biaya (Rp 1 000) Normal Crash 500 500 5 000 6 000 4 000 5 500 700 1 500 2 000 2 500 1 000 1 000 500 600

Dengan network sebagai berikut:


3 B 2
0 12

C
20

8 G 5 6 F 1 5 7
25

A 10 1 2

10

D 4 4
14

E 3

17

Maksimum waktu dan rata-rata biaya perpendekan sbb:


Kegiatan A (1-2) B(2-3) C(3-6) D(2-4) E(4-5) F(5-6) G(6-7) Maksimum perpendekan 0 1 4 2 1 0 1 Rata-rata Ketebiaya / mg Rangan J Kritis 1 000 J Kritis J Kritis 375 400 500 J Kritis 100

Perpendekan yg seharusnya dilakukan sbb: - Diperpendek kegiatan G, sebab di jalur kritis dan paling murah - Kalau diperpendek 2 minggu diperpendek kegiatan C, dengan alasan yg sama - Kalau diperpendek 3 minggu diperpendek C lagi, dgn alasan yg sama

Perpdk

Yg diprpendek

Biaya
1

proyek Keg. 1 mg G (6-7) 2 mg G (6-7) C (3-6) 3 mg G (6-7) C(3-6)

Waktu 1 mg 1 mg 1 mg 1 mg 2 mg

1 x 100 = 100 1 x 100 = 100 1 x375 = 375 475 1 x 100 = 100 2 x 375 = 750 850

Kalau perpendekan proyek 4 minggu, maka ada masalah: - karena kegiatan C pada jalur ABC diperpendek 2 minggu, maka kegiatan ABC selesai dalam waktu 18 minggu, waktunya sama dengan jalur ADEF - sehingga jalur kritisnya menjadi 2, yaitu ABCG dan ADEFG. - Kalau mau memperpendek waktu penyelesaian proyek dengan 1 minggu lagi, maka pada jalur ABC diperpendek 1 minggu, dan jalur ADEF juga diperpendek 1 minggu. (hanya untuk memperpendek 1 minggu saja). - Yang dipilih kegiatan C dan kegiatan D, karena yang masih dapat diperpendek dan dengan biaya termurah.

Perpdk

Yg diprpendek

Biaya
1

proyek Keg. 1 mg G (6-7) 2 mg G (6-7) C (3-6) 3 mg G (6-7) C(3-6) G (6-7) C(3-6) D(3-5)

Waktu 1 mg 1 mg 1 mg 1 mg 2 mg 1 mg 3 mg 1 mg

4 mg

1 x 100 = 100 1 x 100 = 100 1 x375 = 375 475 1 x 100 = 100 2 x 375 = 750 850 1 x 100 = 100 3 x 375 = 1 125 1 x 400 = 400 1 625

Diperpendek 1 minggu:
3 B 2
0

12

C
20

8 6 F 1 5

A 10 1 2

10

4 G 5 7

24 25

D 4 4
14

E 3

17

Diperpendek 2 minggu:
3 B 2
0 12

C
19 20

7 8 G 5 6 F 1 5

23

4 7

24 25

A 10 1 2

10

D 4 4
14

E 3

17

Diperpendek 3 minggu:
1

3 B
0

12 6 22 23

C
18 19 20

7 8 6 F 1 5

A 10 1 2

10

4 G 5 7

24 25

D 4 4
14

E 3

17

Diperpendek 4 minggu:
12 5 6 21 22 23

3 B 2
0

C
18 17 19 20

7 8 6 F 1 5

A 10 1 2

10

4 G 5 7

24 25

D 4 3 4
14

E 3

17

Memilih waktu penyelesaian termurah:


1

Kalau diketahui ada tambahan data sbb: Perjanjian penyelesaian proyek 21 minggu, kalau terlambat maka dengan denda sbb: Terlambat 1 mg 2 mg 3 mg 4 mg Denda (Rp juta) 200 350 450 600 Biaya tetap setiap minggu Rp 200 000 000,Dengan memperhatikan biayana saja, maka berapa minggkah sebaiknya proyek diselesaikan? Kita buat tabel yg menunjukkan beban neto kita, juta Rp.
Waktu Selesai (1) 25 24 23 22 21 Biaya Perpendekan (2) 0 100 475 850 1625 Denda (3) Pngmt Biaya Tetap (4) 0 200 400 600 800 Beban neto: 2+3 -4 600 350 425 450 825

600 450 350 200 0

Pada penyelesaian proyek 24 minggu kita peroleh beban neto terkecil, sehingga sebaiknya proyek diselesaikan dalam waktu 24 minggu. Kelemahan cara ini adalah:

- mengabaikan nama baik perusahaan - mengecewakan konsumen

12.5. MEMBUAT JADWAL KEGIATAN - Biasanya disajikan didalam Gantt chart - Dimulai dari kegiatan di jalur kritis dulu - Baru kegiatan yang diluar jalur kritis Pedoman pembuatan jadwal: - Kegiatan pada jalur kritis dijadwal sesuai dgn ES dan EF atau LS dan LF (sama saja) - Kegiatan diluar jalur kritis, bila TF sama dengan FF, dapat dimulai paling awal sesuai ES dan selesainya paling akhir sesuai LF. - Kegiatan diluar jalur kritis tetapi FF lebih kecil dari TF, mulainya dapat ditunda, paling banyak penundaan = FF.

Contoh 3: Suatu proyek memiliki data sebagai berikut: KEGIATAN A B C D E F G H 2 PRASYARAT A A, B C C, D, E F, G WAKTU (minggu) 6 4 5 6 5 7 4 5

A 6

D B4

6 E5

1
C 5

5
7

G4

H5

4
1

Jalur kritis: 2
6, 6

A 6
0, 0

D 6, 7 B4

6 12, 12 E5 16, 16 G4 21, 21 H5

1
C 5

5
7

4
5, 9

Jalur kritis: A D G H, dengan waktu dalam jalur kritis = 21 minggu

Menghitung ES, Keg. ti ES A 6 0 B 4 0 C 5 0 D 6 6 E 5 6 F 7 5 G 4 12 H 5 16

EF, LS, LF, TF dan FF EF LS LF TF FF 6 0 6 0 0 4 3 7 3 2 5 4 9 4 0 12 6 12 0 0 11 7 12 1 1 12 9 16 4 4 16 12 16 0 0 21 16 21 0 0

Pangestu Subagyo, 2010

Gantt chart:
Tgl

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

A B C D E F G H

- Pada awal kegiatan D maupun E memerlukan truck yg sama, maka kegiatan E ditunda seminggu - Kegiatan F dimulai seawal mungkin - Kegiatan B mestinya dapat ditunda 2 minggu sesuai dgn FF, tetapi dijadual sesuai dgn ES dan EF

Pangestu Subagyo, 2010

- Kegiatan C meskipun LS nya minggu ke 4 dan LF nya minggu ke 9, tetapi sebaiknya dimulai minggu ke 0 dan selesai minggu ke 5, sebab FF nya = 0 Gantt chart:
Tgl

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

A B C D E F G H

Pangestu Subagyo, 2010

12.6. MENGHITUNG WAKTU SETIAP KEGIATAN Berdasarkan penelitian, biasanya orang bekerja: - Dapat bekerja lancar, tanpa hambatan, segalanya mendukung, waktunya dapat lebih pendek: waktunya disebut waktu optimistic (O) probabilitas terjadinya = 1/6 - Bekerja dengan lamban, banyak hambatan, memerlukan waktu lebih lama: waktunya disebut waktu pesimistik (P) probabilitas terjadinya = 1/6 - Bekerja dengan wajar: disebut waktu most likely atau waktu realistik (M) probabilitas terjadinya = 4/6 Maka waktu yang diperlukan untuk setiap kegiatan (berdasarkan penelitian), dapat dihitung dgn rumus: O + 4M + P E(ti) = 6

Pangestu Subagyo, 2010

PO Variance ti = 6 Contoh 4: Suatu proyek memiliki KegiPraAtan Syarat A B C A D B E C F C G D, E H F, G data sebagai berikut: Waktu O M P 1 2 3 2 3 4 1 2 3 2 4 6 1 4 7 1 2 9 3 4 11 1 2 3

Kalau dibuat network-nya sebagai berikut:


1

Pangestu Subagyo, 2010

C 2 A E 1 B 3 D 5 G 6 H 7 4 F

Perhitungan waktu: KegiWaktu Atan O M P A B C D E F G H 1 2 1 2 1 1 3 1 2 3 2 4 4 2 4 2 3 4 3 6 7 9 11 3

ti 2 3 2 4 4 3 5 2

Var ti 4/36 4/36 4/36 16/36 36/36 64/36 64/36 4/36

C2
1

Pangestu Subagyo, 2010

2 A 1 B 3 3 D 4 2

4 F 3 E 4 6 H2 G 5 5 7

Jalur kritis ACEGH, dgn waktu = 15 minggu 12.7. MENCARI PROBABILITAS SELESAINYA PROYEK - Dgn menghitung excpected time atau perkiraan waktu selesainya proyek = kumulatif E(ti) pada jalur kritis - Mencari deviasi standar waktu selesainya proyek, dihitung dgn: kumulatifkan varians pada jalur kritis diakar, ketemu deviasi standar wakti selesainya proyek - Gunakah kurva normal: Gambarkan kurva normal supaya mudah

Pangestu Subagyo, 2010

Gunakan rumus kurva normal untuk mencari Z Cari luas dengan bantuan tabel kurva normal, lalu carilah luas yang merupakan probabilitas waktu selesainya proyek

Misalnya kalau kita akan mencari probabilitas proyek sudah selesai dalam 14 minggu. Kumulatif dari E(ti) atau E(W) dan kumulatif Variance ti atau variance W Keg. E(ti) Kumul. Var ti Kumul Kritis (mg) E(ti) Var. ti A 2 2 4/36 4/36 C 2 4 4/36 8/36 E 4 8 36/36 44/36 G 5 13 64/36 108/36 H 2 15 4/36 112/36 Prakiraan waktu selesainya proyek = 15 minggu, merupakan didalam kurva normal Kumulatif varians = 112/36 = 3,11 Deviasi standar waktu selesainya proyek = 3,11 = 1,76
1

Pangestu Subagyo, 2010

0,2157

14 15

Probabilitas proyek sudah selesai dalam 14 minggu = 0,2843 Z = (14 15)/1,76 = -0,56818. = -0,57 Luas Z = -0,57 sd Z = 0 = 0,2157 Probabilitas proyek selesai dlm 14 minggu = 0,5 0,2157 = 0,2843 Berapa probabilitas proyek sudah selesai dalam 17 minggu?
Z = 1,14, Prob. = 0,8729

Pangestu Subagyo, 2010

12.8. SOAL-SOAL LATIHAN: 1. Suatu proyek memiliki data sebagai berikut: Keg- Pra- Waktu Atan syarat (mg) A 9 B 7 C 8 D A, B 6 E C 6 F D, E 11 G D, E 9 H F 5 I G 4 J H, I 3
a)

b)
c)

Buatlah network-nya! Tentukan jalur kritis-nya dan tentukan waktu penyelesaian proyek itu! Hitung ES, EF, LS, LF, total float dan free float-nya!

Pangestu Subagyo, 2010

2. Suatu proyek memiliki kegiatan-kegiatan sebagai berikut: KegiPraWaktu atan syarat (mg) A 11 B 7 C A 6 D A 9 E B 8 F C, D, E 5 Buatlah network-nya! b)Tentukan jalur kritis-nya dan tentukan waktu penyelesaian proyek itu! c) Hitung ES, EF, LS, LF, total float dan free float-nya!
a)

Pangestu Subagyo, 2010

3. Suatu proyek memiliki aktivitas dan waktunya (dalam minggu) seperti terlihat dalam tabel berikut ini: KegiWaktu Prasya atan Optimi Most rat Pesimi A 3 6 9 B 2 6 7 C 3 4 6 B D 6 13 14 A E 3 6 12 C, D F 6 8 16 B G 1 5 6 E, F a) Gambarkan network-nya dan hitung pula expected time dan variance dari setiap kegiatan yang ada! b) Hitung ES, EF, LS, LF, total float dan free foat-nya! c) Hitunglah probabilitas proyek itu dapat selesai dalam waktu 25 minggu!

Pangestu Subagyo, 2010

4. Proyek pembuatan suatu rumah memiliki kegiatan, prasyarat dan waktu kerja (ti) dlm minggu seperti tercantum pada tabel berikut. KEGIATAN Membuat design dan mencari dana Membuat fonasi Mencari material Memilih dan membeli cat Membangun rumah Memilih dan membeli karpet Finishing Buatlah atau hitunglah:
a) b)

SIMBOL A B C D E F G

PRASYARAT A A B, C B, C D E, F

WAKTU KERJA 12 8 4 4 12 4 4

Diagram network dari proyek itu.

ES, EF, LS, LF, total float dan free floatnya.

c) Jalur kritis dan kebutuhan waktu kerjanya dalam jalur kritis.

Pangestu Subagyo, 2010

5. Diketahui, suatu pekerjaan perbaikan mesin dilakukan dengan data-data sebagai berikut: Kegiat Prasya Kebuth Waktu kerja an rat sdm (orang) (hari) A 2 3 B A 3 4 C A 3 4 D C 6 2 E B, D 5 2 Banyaknya karyawan yang ada = 7 orang, yang memiliki kemampuan fleksibel, sehingga mereka dapat dipindahkan dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lain dengan mudah. a) Tentukanlah jalur kritisnya! b)Buatlah schedule pelaksanaan proyek itu! 6. renovasi gedungnya. Data untuk renovasi itu terlihat pada tabel berikut. Menurut kepala daerah setempat gedung itu harus segera selesai, sebab menjelang pelaksanaan PEMILU. Bantulah pimpinan lembaga itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: a) Berapa lamakah waktu selesainya proyek itu? b) Berapakah probabilitas proyek itu selesai dlm 15 minggu?
1

Pangestu Subagyo, 2010

KegiAtan A B C D E F G H

PraWkt opSyarat timistik 3 6 8 A 2 B 3 C 3 D 2 E, F, G 3

Wkt most likely 5 9 10 3 5 5 3 5

Waktu pesimistik 7 12 18 4 13 7 4 7

6. Diketahui, suatu proye memiliki data-data sebagai berikut: Waktu Biaya (minggu) (juta Rp) A 8 8 000 B 4 12 000 C A 3 6 000 D B 5 15 000 E C, D 6 9 000 F C, D 5 10 000 G F 3 6 000 a. Buatlah network dari proyek ini! b. Carilah jalur kritisnya dan tentukanlah wakti penyelesaian proyek itu!
1

Aktivitas Prasyarat

Pangestu Subagyo, 2010

c.

d.

Buatlah jadwal pembayaran beserta jumlahnya setiap aktivitas apabila kita gunakan earliest start time! Buatlah jadwal pembayaran setiap aktivitas beserta jumlahnya apabila kita gunakan latest start time!

7. Suatu proyek memiliki data-data pada table berikut. Waktu penyelesain (miggu) Kegiatan Optimistic Realistic Pessimistic A 1 2 3 B 2 3 4 C 4 5 6 D 8 9 10 E 2 5 8 F 4 5 6 G 1 2 3 Network proyek itu sebagai berikut:

Pangestu Subagyo, 2010

C 2 A 1 B 3 D 4

E 5 G 7 F

a. Hitunglah expected time dan deviasi standarnya setiap kegiatan! b. Hitunglah probabilitas proyek sudah dapat selesai dalam 20 minggu!

10. Suatu proyek memiliki kegiatan A sampai dengan G. Waktu setiap kegiatan ditentukan dalam optimistic time, most likely maupun pessimistic time, kegiatan prasyarat, dan informasi lainnya terlihat pada table berikut.Buatlah network-nya!

Pangestu Subagyo, 2010

WAKTU DLM MINGGU PESSIMISS KEGIATAN KEGI- OPTIMIS- MOST PRASYARAT TIC LIKELY TIC A 2 3 4 B 1 2 3 C 4 5 6 A D 8 9 10 B E 2 5 8 C, D F 4 5 6 B G 1 2 3 E.F 11. Berdasarkan data pada soal nomer 8, hitunglah: a) expected time dan variance waktu kerja setiap kegiatan, b) expected time selesainya proyek dan deviasi standarnya! 12. Berdasarkan data pada soal nomer 8, hitunglah probabilitas proyek itu sudah selesai dalam 17 minggu.

Pangestu Subagyo, 2010

13. QUEUING/

WAITING LiNES THEORY

13.1. Pendahuluan 13.1.1. Pengertian - Teori yg membahas antrian yg dilakukan customer/ order/ obyek yg memerlukan pelayanan, yg dilayani oleh seseorang/ suatu perusahaan/ lembaga. - Antri: menunggu pelayanan 13.1.2. Masalah yg dihadapi: - harus memberikan service yg ideal kepada pelanggan - dgn biaya murah - Contoh: supermarket: berapa counter yg ideal SPBU: berapa counter yg ideal Bank: berapa teller yg ideal Biaya-biaya dlm antrian: Ada 2 alternatif ekstrem dlm memberikan service: (1) Kapasitas pelayanan banyak: pelayanan bagus tidak ada atau sangat sedikit antrian pelanggan puas biaya tunggu (waiting cost) rendah/ murah biaya pelayanan (service cost) mahal
13.2.

Pangestu Subagyo, 2010

(2) Kapasitas pelayanan sedikit: konsumen banyak yg kecewa/ tidak puas antrian panjang banyak peluang mendapat laba yg hilang goodwill perusahaan turun waiting cost tinggi service cost rendah
(3)

Harus ada trade off antara keduanya: 1) untuk mendapatkan pelayanan 2) meminimumkan TEC = service cost + waiting cost

Cost

TEC

service cost

waiting cost
0 service level optimal service

Pangestu Subagyo, 2010

Misal suatu perusahaan melaksanakan pengangkutan barang, dari tempat asal ke tempat tujuan. Alternatif biaya-biaya bongkar muatnya sebagai berikut: ALTERNATIF A Jumlah karyawan B Banyak kapal/ pengiriman C Rata-rata waktu tunggu bongkar muat D Waktu tunggu E Biaya pngangguran /jam (ribuan) F Kerugian atas waktu tunggu (DxE, ribuan) G Gaji karyawan bongkar muat (ribuan/orang) H Gaji semuanya (AxG, ribuan) I Total cost (F+H, ribuan) I 1 5 II 2 5 III 3 5 IV 4 5

7 35 Rp 1

4 20 Rp 1

3 15 Rp 1

2 10 Rp 1

Rp 35

Rp 20

Rp 15

Rp 10

Rp 6

Rp 6

Rp 6

Rp 6

Rp 6 Rp 12 Rp 18 Rp 24 Rp 41 Rp 32 Rp 33 Rp 34

Pangestu Subagyo, 2010

pilih 13.3. CHARACTERSTIC OF QUEUING SYSTEM 1)Arrival (input)= calling population: 1. Size of the calling population: 13.3. unlimited (mobil yg lewat di jalan raya) dan 13.4. limited (pabrik yg memiliki 5 mesin yg perlu pemeliharaan) 2. Pattern of arraival Pola kedatangan customer dapat bersifat: 1) random, 2) berdistribusi Poisson eP(X) =

X !

P(X) = probabilitas terdapat X buah customer/ order datang X = jumlah kedatangan customer/ order per unit waktu (missal jam) = rata-rata tingkat kedatangan e = 2,7183 Misalnya kedatangan order rata-raa 2 buah setiap jam, misalnya probabilitas probabilitas mobil yg lewat = 0,,002 dan mobil yg lewar setiap jam = 1 000 buah. Maka rata-rata kedatangan = = 0,002 x 1 000 = 2.
1

Pangestu Subagyo, 2010

X 0

Hitungan 2,7183-2 20 = 0! 1 (0,1353)1

P(x)

0,1353

2,7183-2 21 = 1!

(0,1353)2 0,2706 1

2,7183-2 22 = 2!

(0,1353)4 0,2706 2

2,7183-2 23 = 3!

(0,1353)8 0,1804 6

2,7183-2 24 = 4!

(0,1353)16 0,0902 24

Pangestu Subagyo, 2010

2,7183-2 25 = 5!

(0,1353)32 0,0360 120

2,7183-2 26 = 6!

(0,1353)64 0,0120 720

2,7183-2 27 = 7!

(0,1353)128 0,0034 5040

2,7183-2 28 = 8!

(0,1353)256 0,0009 4032

2,7183-2 29 = 9!

(0,1353)512 0,0002 362880

Pangestu Subagyo, 2010

Probability

0,25

0,20

0,15

0,10 0,05

0 1 2 3 4 5 6 7 Kedatangan order, berdistribusi Poisson

Pangestu Subagyo, 2010

Behaviour of the arraival: 1) patient, mau menerima antrian, menunggu dgn sabar sampai dilayani, atau 2) tidak sabar, tidak sabar menunggu, atau tidak bersedia pindah ke antrian lain, ribut. Biasanya banyak yg pergi, tidak sanggup masuk kedalam sistem.
2)Waiting Line (queuing) Characteristic: - Panjangnya dapat bersifat: 1) Limited, misal rumah makan hanya punya 10 kursi makan dan hanya menyediakan makanan 50 porsi saja. 2) Unlimited: misal pelayanan bea cukai di pelabuhan atau airport, kapan saja dan berapapun akan dilayani

- Queue discipline: 1) Umumnya FIFO atau FIFC 2) Dapat juga diberi prioritas pada kelompok tertentu, contoh: (a) rumah sakit mendahulukan pasien yg berresiko tinggi dari yg biasa, (b) supermarket: menyediakan counter tersendiri bagi pelanggan yg pembeliannya sedikit.

Pangestu Subagyo, 2010

3) Service facilities: - Configuration (bentuk/ susunan): (a) Channels: ada berapa jalur (b) Phase: ada berapa tahap didalam melayani
- Distribusi service time: 1) Constant: setiap obyek dilayani dgn waktu sama. Misal: cuci mobil secara otomatis, 2) Random: waktu pelayanan bisa pendek, bisa panjang. Berdistribusi: negative exponential probability distribution.

f(x) f(x) = e x

Rata rata waku pelayanan 20 menit

Rata-rata waktu pelayanan 1 jam

Pangestu Subagyo, 2010

30

60

90

120

150 180

service

Distribusi waktu pelayanan yg exponential, 20 menit dan 1 jam, f(x) = e- x, X > 0, > 0

Pangestu Subagyo, 2010

Queue

Kedatangan

Service Facilities

Keluar setelah proses

Single-Channel, Single-Phase

Kedatangan

Type 1 Service Facilities

Type 2 Service Facilities

Keluar, seteah diproses

Single-Channel, Multiphase System

Pangestu Subagyo, 2010

Service Facility 1

Keluar

Kedatangan

Service Facility 2 Service Facility 3

setelah

diproses

Multichannel, Single-Phase

Pangestu Subagyo, 2010

Type 1 Service Facility 1 Kedatangan Type 1 Service Facility 2

Type 2 Service Facility 1

Keluar setelah diproses

Type 2 Service Facility 2

Multichannel, Multphase System

Pangestu Subagyo, 2010

Menentukan model-model antrian menurut Kendall.


Ada beberapa model yang digunakan dalam queueing, perbedaan diantara satu dgn yg lain terletak pada: - pola kedatangan (arrival pattern) - destribusi waktu pelayanan (service time distribution) - banyaknya jalur (number of channels)

Bentuk mdel ditunjukkan dengan simbol: Pola kedatangan/ distribusi waktu layana/ banyak jalur

Distribusi probabilitas yg digunakan ada 3 macam: M : distribusi kedatangan secara Poisson atau exponential D : konstan G : general distribution, dgn memiliki mean dan deviasi standar.

Pangestu Subagyo, 2010

Contoh: penggunaan symbol dlm model.: Simbol Keterangan M/M/1 Frekuensi kedatangan (obyek yg harus dikerjakan) Poisson, distribusi waktu layanan exponential, dengan 1 channel M/M/2 Frekuensi kedatangan (obyek yg harus dikerjakan) Poisson, distribusi waktu layanan exponential, dengan 2 channel M/M/m Frekuensi kedatangan (obyek yg harus dikerjakan) Poisson, distribusi waktu layanan exponential, dengan m channel Frekuensi kedatangan (obyek yg harus M/D/3 dikerjakan) Poisson, distribusi waktu layanan bersitat konstan, dengan 3 channel M/G/4 Frekuensi kedatangan (obyek yg harus dikerjakan) Poisson, distribusi waktu layanan bersitat normal, dengan 4 channel

Pangestu Subagyo, 2010

13.4. MODEL-MODEL TEORI ANTRIAN 13.4.1. Single-channel queuing model with Poisson arrivals and exponential service times (M/M/1). Asumsi-asumsi yang digunakan: Pelayanan berbasis FIFO Setiap kedatanga selalu dilayani, tidak pernah ditolak Order/ pelanggan (arrivals) satu dengan yang lain bersifat independent, dengan rata-rata kedatangan selalu sama Distribusi kedatangan bersifat Poisson dan jumlah populasinya banyak. Waktu palayananan berbeda-beda, bersifat independent, dan rata-ratanya diketahui. Waktu pelayanannya berdistribusi negative exponential. Rata-rata kapasitas pelayanannya lebih besar daripada rata-rata kedatangan order.

Simbol untuk satuan kedatangan dan pelayanan: = rata-rata kedatangan customer/ order yg datang per periode waktu tertentu (missal per jam). = rata-rata banyaknya customer/ order/ oran yg dilayani setiap waktu tertentu (missal per jam).
1

Pangestu Subagyo, 2010

Rumus-rumus yg digubakan: a. Rata-rata jumlah pelanggan atau obyek yang ada dalam system, L, = order dalam atrian ditambah order yg sedang dikerjakan. -

L=

b. Rata-rat waktu setiap obyek/ order berada dlm system, W : 1 W= -

c. Rata-rata banyaknya customer/ order berada dlm antrian, Lq :


2

Lq =

= ( - )

Pangestu Subagyo, 2010

d. Rata-rata waktu setiap customer/ order berada dalam antrian, Wq : ( - )

Wq =

e. Utilization factor dari system, beraarti probabilitay service factor dakam keadaan dipakai.

f. Prsentase idle time, atau probabilitas tidak ada satupun customer/ order ada dalam system, atau P0:

P0 = 1 -

Pangestu Subagyo, 2010

g. Probabilitas terdapat customer/ order didalam system lebih dari k, yaitu P(n > k).
k+1

Pn > k =

Contoh: Perusahaan Harahap Mekaniknya bernama Sabar, mampu merakit muffler: - Kapasitas per jam = 3 per jam, dengan kata lain setiap 20 menit menyelesaikan. - Rata-rata setiap jam ada 2 customer yang dating untuk dilayani. = 2 mobil yg minta dipasang setiap jam = 3 mobil yg yang dikerjakan setiap jam.

Pangestu Subagyo, 2010

Hasil-hasil yg diperoleh: Simbo No Rumus dan hitungan l - 2 = 3-2

Hasil

Penjelasan Rata-rata jumlah pelanggan/ order/ obyek yang berada dalam system = 2 buah Rata-rat waktu setiap obyek/ order berada dlm system

1 b W - =

1 1 3-2

Lq

= ( - )

22 3(3 - 2) 1,33

Rata-rata banyaknya customer/ order berada dlm antrian,

Pangestu Subagyo, 2010

Wq

= ( - )

2 2/3 jam 3(3 2) 0,67 = persentase mekasis sibuk

Rata-rata waktu setiap customer/ order berada dalam antrian

2 = 3

P0

1-

2 = 1 3 0,33

Utilization factor dari system, beraarti probabilitay service factor dakam keadaan dipakai Prsentase idle time, atau probabilitas tidak ada satupun customer/ order ada dalam system

Pangestu Subagyo, 2010

k+1

2 = 3

k+1

Probabilitas terdapat customer/ order didalam system lebih dari k Pn > k :

Bila k: g Pn > k

0 0,667 * 1 0,444 2 0,296 3 0,198** 4 0,132 5 0,088 6 0,058 7 0,039 * Sama dengan 1-P0 = 1-0,33 = 0,007 ** Juga menunjukkan: lebih dari 3 mobil dalam syst

Pangestu Subagyo, 2010

MENGHITUNG BIAYA Perlu analisis ekonois atas hasil-hasil queuing, kita manfaatkan: - Dapat memprakiraan panjang antrian, waktu idle, dll - Namun belum dapat menentukan keputusan yg optimal - Harus menentukan trade off antara: memberikan layanan atau service yang semakin baik tetapi dengan biaya yang semakin mahal dan menekankan biaya tunggu.

Biaya pelayanan: Jumlah biaya pelayanan (service) = = (banyaknya)(biaya per channel) = M Cs m = banyaknya channel Cs = service cost (labor cost) setiap channel

Biaya menunggu (witing cost):

Waiting cost bila didasarkan pada waktu order berada pada system = (waktu tunggu yg dialami semua customer)(biaya tnggu)
1

Pangestu Subagyo, 2010

= (jumlah kedatangan)(rata-rata per customer menunggu) Cw = ( W)CW

Waiting cost bila didasarkan pada waktu customer berada dalam antrian: Total waiting cost = ( Wq)CW

Biaya keseluruhan = total service cost + total waiting cost Biaya keseluruhan waktu order berada pada system = m Cs + W CW Biaya keseluruhan waktu customer berada dlm antrian = m Cs + Wq CW

Biaya menunggu = Rp 10 per jam, Mobil mennggu = 2/3 jam,


1

Pangestu Subagyo, 2010

T Rata-rata terdapat 16 mobil yg diservis setiap hari ( 2 mobil per jam dan sehari ada 8 jam) Lama waktu customer menunggu muffler sampai selesai memasang = 2/3 x 16 jam = 32/3 jam = 10,67 jam

Total waiting cost = (8 jam/ hari) Wq CW = = 8(2)(2/3)(Rp 10) = Rp 106,67 Total daily service cost = (8 jam/ hari) m CS = 8(1)(Rp 7) = Rp 56,Sehingga total daily cost = Rp 106,- + Rp 56,= Rp 162,67

Informasi tambahan: Ternyata ada perusahaan muffler lain, PT. Murah, dgn mekanis bernama Tigor, yg dapat berproduksi lebih efisien. Kapasitasnya per jam = 4 buah. Harapan membujuk Tigor untuk pindah ke perusahaannya, dan akan mengganti Sabar. Tigor bersedia kalau gajinya per jam sebesar Rp 9. Sebagai bahan pertimbangan Harahap memanfaatkan teori queuing.
1

Pangestu Subagyo, 2010

= 2 mobil yg minta dipasang setiap jam = 4 mobil yg yang dikerjakan setiap jam.

Masalahnya hamper sama,perbedaannya hanyalah pada: kapasitas pelayanannya 3 mufler per jam, sedang kasus terakhir 4 buah setiap jam.

Pangestu Subagyo, 2010

Hasil-hasil yg diperoleh: Simbo No Rumus dan hitungan l - 2 = 4-2

Hasil

Penjelasan Rata-rata jumlah pelanggan/ order/ obyek yang berada dalam system = 2 buah Rata-rat waktu setiap obyek/ order berada dlm system

1 b W - =

1 4-2

Lq

= ( - )

22 4(4 - 2)

Rata-rata banyaknya customer/ order berada dlm antrian,

Pangestu Subagyo, 2010

Wq

= ( - )

2 15 menit 4(4 2) 0,50 = persentase mekasis sibuk

Rata-rata waktu setiap customer/ order berada dalam antrian

2 = 4

P0

1-

2 = 1 4 0,50

Utilization factor dari system, beraarti probabilitay service factor dakam keadaan dipakai Prsentase idle time, atau probabilitas tidak ada satupun customer/ order ada dalam system

Pangestu Subagyo, 2010

k+1

2 = 4

k+1

Probabilitas terdapat customer/ order didalam system lebih dari k Pn > k : 0,500 0,250 0,125 0,062 0,031 0,016 0,008 0,004

Bila k: G Pn > k 0 1 2 3 4 5 6 7

Pangestu Subagyo, 2010

Analisis ekonomisnya: Customer selama jam berada dalam system, menunggu dalam antrian. Total waiting cost = (8 jam/ hari) Wq CW = = 8(2)(1/4)(Rp 10) = Rp 40,Total daily service cost = (8 jam/ hari) m CS = 8(1)(Rp 9) = Rp 72,Sehingga total daily cost = Rp 40,- + Rp 72,= Rp 112,Ternyata mula-mula kalau dikerjakan oleh Sabar memerlukan total expected cost = Rp 162,67 sedang kalaudikerjakan oleh Tigor Rp 112,-. Oleh karena kita pilih mempekerjakan Tigor saja, sebab lebih hemat sebanyak Rp 162,67 Rp 112,00 = Rp 50,00.

Pangestu Subagyo, 2010

Memperbaiki lingkungan kerja untuk mengurangi waiting cost. Waiting cost ditentukan oleh 2 faktor, yaitu: - Waktu tunggu dan biaya tunggu setiap jam(CW). - Untu menurunkan biaa tunggu dapat diberi majalah yang dapat dibaca konsumen, diberi kesibukan, diberi musik, atau hibuan lain yang menarik. - Dengan demikian maka didalam menunggu tidak/ kurang membosankan, waktu tungu terasa pendek.

13.4.2. MULTIPLE-CHANNEL QUEUING MODEL WITH POISSON ARRIVALS AND EXPONENTIAL SERVICE TIMES (M/M/m)

Queuing dengan beberapa jalur, kedatangan order berdistribusi Poisson, dan distribusi probabilits waktu pelayanannya bersiat exponential.
m = jumlah jaur (channel) = arraival rate = averae service rate di setiap channel

Pangestu Subagyo, 2010

Rumus-rumusnya: NO SIMBOL & NAMA A P0 = Probabilitas tidak ada order yg dlm system =

RUMUS 1
n=m-1

n=0

1 n!

1 + m!

m m -

berlaku bila m > B L = Rata-rata jumlah customer berada dlm system: ( / )m (m-1)(! (m - )2

P0 +

Pangestu Subagyo, 2010

W = Rata-rata lama setiap order berada dalam ystem (menunggu atau dlm pelayanan) Lq = Rata-rata jumlah pelanggan menunggu dilayani Wq = Rata-rata lama setiap order menunggu dilayani

( / )m (m-1)(! (m - )2

1 P0 + =

1 W =

Lq

Pangestu Subagyo, 2010

= Utilization rate m

Contoh: Harahap punya 2 pilihan: Mempertahankan menugaskan Sabar dengan biaya Rp 162,67 atau Tigor yang setiap hari haya menanggung biaya Rp 112,-. Ada alternatif baru, yaitu membuka tambahan satu bengkrl lagi. Kapasitas karyawan baru ini sama dengan Blank, yaitu mampu melayani 3 mobil setiap jam. Kedatang setiap jam sama seperti semula, yaitu 2 mobil setiap jam. Oleh karena itu dengan tambahan pada bengkel lama itu menjadi 2 channel (n=2).

Pangestu Subagyo, 2010

NO SYMBOL A P0 =

HITUNGAN 1
n=m-1

1 n!

2 3

1 + 2!

2 3

2(3) 2(3) - 2

n=0

1 = 2 1+ 3 + 2 9 6-2 1 4 6 1+ 3 = 2 +

1 = = 0,50 1 3

Probabilitas tidak ada mobil yg berada dalam system.

Pangestu Subagyo, 2010

L= B

(2)(3)(2/3)2 1![2(3) 2]
2

1 + 2

2 = 3

8/3 1 + 16 2

2 = = 0,75 3

Rata-rata lama waktu berada dlm system. C W= L = 2 3/2 = 3/8 jam = 22 menit

= rata-rata setiap mobil berada dlm system D Lq = L = 4 3 3 2 = 12 1 = 0,083

Rata-rata banyaknya mobil dalam antrian

Pangestu Subagyo, 2010

Wq =

Lq

0,083 = 2 = 0,0415 jam = 2 menit

Rata-rata setiap mobil menunggu dalam antrian.

Ketiga alternatif yg ada sebaknya dibandingkan. TINGKAT PELAYANAN Sabar 2 operator Tigor =3 masing2 = =4 3 0,33 0,50 0,50 2 mobil 0,75 mobil 1 mobil 60 menit 22,5 menit 30 menit 1,33 mobil 0,08 mobil 0,50 mobil 40 menit 2,5 menit 15 menit

MACAM-MACAM UKURAN PENILAIAN Probability system kosong (P0) Rata2 jml mobil dlm system (L) Rata2 lama brada dlm system (W) Rata-rt jml mobil antri (Lq) Lama didalam system (Wq)

Pangestu Subagyo, 2010

Berdasar rekapitulasi hasil pada table diatas, dapat disimpulkan: - Lama seiap mobil dlm system paling cepat alternative 2 (2,5 menit), kedua atternatif 3 (15 menit) dan paling lama alternative 1 (40 menit). - Jumlah mobil yg antri palin sedikit alternative 2 (0,083 buah), kedua alternative 3 (0,50 buah) dan paling banyak pada alterhatif 3 (1,33 buah). - Dari hasil/ nilai-nilai itu secara teknis, paling baik adalah alternative 2. waktu tunggunya paling pendek dan banyaknya mobil paling sedokot. Namun kalau dilakukan analisis ekonomis, ternyata: biaya tunggu = (8 iam/hr)(2)(0,0415)(Rp 10) = Rp 6,64 total daily service = (8)2p 7 = Rp 112. Total cost = Rp 6,64 + Rp 112 = Rp 118,64. - Kalau berdasar biaya dalam queuing, sebaiknya dipilih alternative 3 (mengganti operator dengan yg baru dan lebih cepat). Karena biayanya paling murah (Rp 112,-). 13.4.3. CONSTANT SERVICE TIME MODEL (M/D/1) - Waktu pelayanannya dapat bersifat constant, tidak selalu exponential.

Pangestu Subagyo, 2010

- Missal cuci mobil otomats, dll

Pangestu Subagyo, 2010

Persamaan-persamaan/ rumus-rumusnya: NO SIMBOL & NAMA RUMUS 1 Lq = 2 Rata-rata panjang antrian 2 ( - ) 2 Wq = Rata-rata lama antri 2 ( - ) 3 L= Rata banyak customer yg ada dlm system W= Rata-rata lama customer dlm system 1 Wq +

Lq +

Pangestu Subagyo, 2010

Contoh: - Mengangkut kaleng bekas dan botol bekas, yg akan diproses kembali. - Tiap truck rata-rata menunggu selama 15 menit utuk dibongkar. - Biaya/ kerugian setiap truck menunggu dlm setiap jam Rp 60,-. - Dapat membeli mesin baru, dapat melayani 12 truck setiap jam = 5 menit per truck). - Probabilitas truch datang untuk dilayani berdistrbusi Poisson, rata-rata selama 8 jam. - Bila container baru digunajan, biayanya per truck = Rp 3,-. Biaya tunggu/ trip = (1/4 jam tunggu sekarang)(Rp 60) = Rp 15,Untuk system baru: = 8 kedatangan truck per jam = 12 service per truck per jam

Pangestu Subagyo, 2010

NO SIMBOL & NAMA 1 Lq = Rata-rata panjang antrian ) 2 Wq = Rata-rata lama antri

RUMUS
2

HASIL 82 = 2(12)(12-8 ) 96 64 = 3 2 = 0,67

2 ( -

2 ( )

8 = 2(12)(12-8 )

8 = 96

1 = 0,083 12

L= Rata banyak customer yg ada dlm system W= Rata-rata lama customer dlm

Lq +

1 2/3 +

8 = 4/3 = 1,33 12 1 1/12 + = 1/6 = 0,0167

Wq +

Pangestu Subagyo, 2010

system

12

Analisis Ekonomis: Waiting cost/ trip = ( jam)(Rp 60 pr jam) = Rp 15 Berdasar data baru: = 8 truck yg dating = 12 truck/ jam yg dilayani (data bar) 8 = 2(12)912-8) = 1/12 jam

Rata-ata lama menunggu du antrian = Wq = 2 ( - )

Biaya tunggu/ trip = (1/12 jam tunggu)(Rp 60/jam) = Rp 5 per trip. Penghematan biaya tunggu = Rp 15 Rp 5 = Rp 10 / trip

Pangestu Subagyo, 2010

Biaya mesin baru (amortisasi) Rp 3. Net saving = Rp 10 Rp 3 = Rp 7. Jelas system yang baru lebih hemat Rp 7, maka dipilih.

13.4.4. FINITE POPULATION MODEL (M/M/1 WITH FINITE SOURCE) - Terjadi bila obyek yg dilayani berjumlah terbatas. - Misal reparasi/ pemeliharaan mesin suatu pabrik saja, membersihkan tempat tidur suatu rumah sakit, pemeliharaan bis. - Berbeda dgn model-model sebelumnya, sebab ada hubungan antara panjang antrian dengan tingkat kedatangan. Asumsi-asumsinya: - hanya ada 1 server - jumlah population yg memerlukan layanan terbatas - Probabilitas kedatangan berdistribusi Poisson, sedang pelayanannya berdistribusi exponential.

Pangestu Subagyo, 2010

- Customer dilayani dengan dasar FIFS (first-come,first served) Persamaan-persamaan/ rumus-rumus yg digunaan. Variabel-variabel yg digunakan:

Pangestu Subagyo, 2010

NO SIMBOL & NAMA 1 P0 = Probabilitas sistem kosong

RUMUS 1 N N! n=0 (N-n)!


n

Lq = Rata-ratabpanjang antrian N-

(1-P0)

L= Rata-rata jml order dlm antrian

Lq + (1 P0)

Wq =

Pangestu Subagyo, 2010

Rata-rata lama tunggu dlm antrian

Lq (N L)

W= Rata-rat lama didalam sistem Wq +

Pn = Probabilitas ada n buah order dalam system

N (N n)!

P0

Untuk nilai = 1, 2, . . . . N Contoh: Suatu mesin, setelah digunakan 20 jam harus diservis. Lama tiap servis 2 jam.

Pangestu Subagyo, 2010

NO SIMBOL 1 P0 =

RUMUS 1 5 5! n=0 (5-n)! 0,05 0,5


n

= 0,564

Lq = 5-

0,05 + 0,5 0,05 (1-P0) = 5 (11)(1 - 0,564) = 0,2 printer

L= 0,2 + (1 0,564) = 0,64 printer

Pangestu Subagyo, 2010

Wq =

0,2 = (5 0,64)(0,05)

0,2 = 0,91 jam 0,22

W= 1 0,91 + 0,5 = 2,91 jam

Biaya bila mesin rusak: - biaya perbaikannya per mesin Rp 120 setiap jam, dan - biaya teknisinya Rp 25 Total cost per jam= (rata-rata jml mesin rusk x lama waktu macet) + biaya per teknisi per jam = (0,64 x Rp 120) + Rp 25 = Rp 101,80

Pangestu Subagyo, 2010

Kondisi khusus setiap ada perubahan: - Pada waktu kegiatan sudah berjalan, kondisinya akan stabil/ berjalan secara teratur - Kalau kegiatan belum lancar, belum normal, dan kurang teratur - Misal saat: mulai operation/ produksi hambatan/ kemacetan produksi/ operation - setelah semua berjalan teratur, kegiatannya wajar, waktunya normal (steady state)

13.5.

SOAL-SOAL

1. Diketahui a. Jelaskan tujuan dari queueing model itu? Berikan contohnya! b. Jelaskan kenapa tingkat pelayanan harus lebih besar daripada tingkat kedatangan order yang harus dilayani dalam model waiting line? c. Jelaskan obyek yang bersifatlimited dan unlimited , yang harus dilayani, dalam model queueig, dan berikan contohnya masing-masing!

Pangestu Subagyo, 2010

d.

Jelaskan que discipline itu, dan berikan contohnya masing-masing!

Lihat halaman 2 Semoga success

14. SIMULASI
14.1. PENDAHULUAN - Semua model dlm metoda kuantitatif sudah memiliki rumus atau formula yang pasti - Masalah diselesaikan dengan rumus yang sesuai Kalau tidak bisa, gunakanlah model Simulasi - Dalam model simulasi, modelnya mengikuti masalah yg dihadapi, tidak selalu menggunakan rumus yg pasti, dibuat berdasarkan masalah y dihadapi - Sifatnya: lebih flexible, dapat dipakai untuk mengatasi masalah yg tidak dapat diselesaikan dgn model yg lain - Merupakan duplikasi atau abstaksi dari persoalan riil/ kehidupan nyata kedalam model matematis Menyederhanakan masalah riil kedalam model-model matematis yg mungkin dibuat/ dikerjakan, sebab variabel, constraint, lingkungan selalu berbeda-beda
-

tidak semua dapat diingat/ dijngkau dlm analisis - Selalu disempurnkan, sebab: variabelnya banyak sekali yang seharusnya dipertimbangkan, tetapi kemampuan dlm membuat model: bersifat terbatas, setelah dirumuskan dan diterapkan ternyata ada yg kurang/ sebaiknya disempurnakan - Mesipun sudah selalu disempurnakan ttp: Selalu perlu perbaikan dan penyempurnaan masih selalu dapat disempurg lagi, tidak mungkin ditemukan rumus suatu rumus - Logikanya sederhana, dapat diselesaikan dengan manual, namn untuk masalah yg variabelnya banyak, biasanya digunakan computer

14.2. PENGGUNAAN PROGRAM COMPUTER Program-program computer yg digunakan dlm simulasi biasanya bersifat flexible (general purpose language). - Mula-mula digunakan FORTRAN, ALGOL, COBOL, atau PL/1. - Yg lebih khusus dan lebih cepat (waktu mulamula) DYNAMO, GASP,GPSS V, SIMSCRIPT. - DYNAMO: singkatan dari Dynamic Model, dikembangkan oleh Massacusetts Institute of Technology (MIT). Aplikasonya kebanyakan di bidang ekonoi, misal: system produksi, produksi, penelitian, serta pengembangan. Dipelopori oleh Jay W. Forrester - GASP: Mula-mula dikembangkan di United States Steel Corporation. Digunakan dlm transportation system, cara-cara baru dlm pembuatan baja - GPSS: singkatan dari General purpoe System Simulator Language. Dikembangkan th 1960. Dikembangkan th 1960. Th 1972 dikembangka menjadi GPSS V - SIMSCRIPT. Dikembangkan oleh RAND Corporaton, thn 1961. Banyak digunakan dlm
2

bidang manufacturing, logistic, system computer, scheduling dlm industri dan system antrian. Bahasa lain yg dipakai: SIMPAC, SIMULATE, GSP, ESP, CSL, MONTECODE, CPL.

14.3. MODEL-MODEL SIMULASI Dapat dikelompokkan dlm: - Deterministic dan stochastic/ probabilistic sering disebut model Monte Carlo - Static dan dynamic - Heuristic Contoh: Kita akan menentukan/ memperkirakan waktu suatu mesin. - Waktu setiap perbaikan kerusakan berbedabeda - Dgn model stochastic - Berdasarkan penelitian yg telah dilakukan,waktu perbaikan dan probabilitasnya sebagai berikut:

WAKTU PERBAIKAN 1 Jam 2 Jam 3 Jam 4 Jam 5 Jam 6 Jam 7 Jam 8 Jam :9 Jam 10 Jam

PROBABILITAS 0,08 0,10 0,11 0,12 0,15 0,14 0,09 0,08 0,07 0,06

Lagkah-langkahnya sebagai berikut: - Buatlah probability cummulative-nya - Batasan angka random. Kalau 100 angka random yg akan dpakai: bisa 0 sd 99 atau 1 sd 100
2

Distribusi batasan angka random ini disesuaikan dgn probabilitasnya: Untuk waktu 1 jam, probabilitas kumulatifnta 0,08, dari 100 angka ranom, berarti = 0 s/d 07 atau 01 sd 08 Untuk waktu kerja 2 jam, prob. = 0,10, waku kumulatif 0,18, maka batasan angka random 08 sd 17, atau 09-18, kita pakai saja 0,08 sd 0,17 Demikian seterusnya s/d ke 10. WAKTU PERBKN 1 Jam 2 Jam 3 Jam 4 Jam 5 Jam 6 Jam 7 Jam 8 Jam :9 Jam 10 Jam PROB. PROB. KUML. 0,08 0,18 0,29 0,41 0,56 0,70 0,79 0,87 0,94 1,00 BATAS ANGKA RANDOM 00 07 08 17 18 28 29 40 41 55 56 69 70 78 79 86 87 93 94 99

0,08 0,10 0,11 0,12 0,15 0,14 0,09 0,08 0,07 0,06

Kalau akan diambil 20 sampel waktu kerja, dapat dipilih dgn menggnakan random, misalnya anga random. Lihat pada tabel angka random. Misal angka random yg dipilih berdasar angka random kolon 3 dan 4 baris 1 sampai baris 20, diperoleh: Angka random 69, berarti kita ambil data ke 69 sebagai sampel pertama. Ternyata waktu kerjanya = 5 jam. Kalau kemudian diambil angka random lagi diperoleh 14, maka diambil pekerjaan ke 14, ternyata waktu penyelesaiannya 3 jam Sampel ke 3 dgn angka andom 64, ambil sampel k 64 demham waktu 6 jam dan seteruenya. Berdasarkan data yg sudah diperoleh (20 sampel), diperoleh tara-ratanya = 5,15 jam. Berarti perkiraan waktu kerja untuk menyelesaik setiap order = 5,15 jam.

Prakiraan waktu kerja NO ANGKA SPL. RANDOM 1) 1 . . 64 . . 2 . . 14 . . 3 . . 64 . . 4 . . 96 . . 5 . . 59 . . 6 . . 55 . . 7 . . 92 . . 8 . . 48 . . 9 . . 43 . . 10 . . 26 . . 11 . . 33 . . 12 . . 16 . . 13 . . 98 . . 14 . . 63 . . 15 . . 05 . . 16 . . 31 . . 17 . . 51 . . 18 . . 72 . .

WAKTU (JAM) 2) 5 3 6 10 2 6 2 7 2 6 9 5 9 4 3 5 6 5
2

. . 75 . . 6 . . 45 . . 2 Jumlah 103 Rata-rata 103/20 = 5,15 1 ) Dari daftar angka random. 2 ) Sample, penelitian

19 20

14.4.

MODEL SIMULASI YG DINAMIK DAN STATIK model dynamic: selalu memperhatikan perubahan-perubahan nilai/ sifat suatu data dan segera memperbaikinya, sedangkan model static tidak. Contoh model dynamic, untuk: forecasting, product research and development Contoh model static: perencanaan letak pabrik, perencanaan layout pabrik.

Tabek angka random 1-4 5-8 9-12 13-16 17-20 21-24 1 29 64 05 96 07 99 56 72 57 45 44 28 2 44 14 89 31 38 89 04 66 38 42 79 00 3 40 64 84 72 35 39 88 73 92 01 35 62 4 46 96 38 41 53 66 41 32 51 91 97 94 5 93 59 07 05 58 89 90 94 08 97 89 17 6 14 55 32 12 51 49 28 37 95 62 64 61 7 84 92 59 57 52 52 71 08 94 38 31 61 8 57 48 69 02 22 71 97 59 57 53 07 05 9 92 43 03 73 24 54 63 01 45 01 84 14 10 66 26 16 22 46 50 51 37 06 79 13 46 11 34 33 36 05 48 04 43 28 94 89 42 00 12 11 16 92 13 66 71 23 57 66 65 58 45 13 24 98 49 31 80 11 70 43 83 64 51 29 14 00 63 87 95 02 90 50 58 76 21 62 77 15 33 05 54 39 28 69 55 55 83 30 97 82 16 60 31 08 49 50 52 81 94 86 46 38 05 17 66 51 16 28 79 45 01 45 99 28 31 36 18 39 72 97 77 68 79 95 80 90 13 96 75 19 30 85 20 65 17 78 65 50 64 81 17 75 20 85 45 39 53 37 59 28 97 54 78 64 75 21 55 86 15 01 37 96 10 81 73 50 10 95 22 79 80 44 95 65 31 60 23 87 45 20 49 23 37 71 95 08 00 15 33 41 88 52 37 46 24 69 14 37 14 57 51 29 82 04 74 39 97 25 93 26 85 88 07 39 99 74 79 93 23 57 Diambil dari haln 17,Tabel Angka Random, E.S. Pearson

25-28 70 30 57 41 56 26 58 28 04 08 53 81 99 19 79 68 88 83 82 29 50 81 79 97 98 21 17 16 48 19 69 83 42 84 96 46 17 98 67 78 07 70 06 50 29 53 01 07 04 01