Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Di dalam pergaulan masyarakat, setiap hari terjadi hubungan antara anggotaanggota masyarakat yang satu dengan yang lainnnya. Pergaulan tersebut menimbulkan berbagai peristiwa atau kejadian yang dapat menggerakkan peraturan hukum. Salah satu contoh dari peristiwa tersebut adalah penanggulangan tindak pidana Narkotika,1 dimana Narkotika dapat mempengaruhi perasaan dan emosi bagi yang mengkonsumsinya yang pada akhir-akhir ini sudah sangat mencemaskan.2 Kemajuan teknologi yang sedang berlangsung tidak selalu berdampak positif, bahkan ada kalahnya berdampak negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah dengan kemajuan teknologi juga ada peningkatan masalah kejahatan dengan menggunakan modus operandi yang semakin canggih. Hal tersebut merupakan tantangan bagi aparat penegak hukum untuk menciptakan penanggulangannya, khususnya dalam kasus narkotika dan obat-obatan terlarang. Akhir-akhir ini kejahatan Narkotika dan obat-obatan terlarang telah bersifat internasional yang dilakukan dengan modus operandi dan teknologi yang canggih. Aparat penegak hukum diharapkan mampu mencegah dan menanggulangi kejahatan

Singkatan dari Narkotika dan obat-obatan berbahaya atau bisa disebut juga NAPZA singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif yang terkandung dalam narkoba. 2 Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, PT Sinar Grafika, Jakarta, 2000, halaman 134.

tersebut guna meningkatkan moralitas dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia khususnya bagi genarasi penerus bangsa.3 Dalam perkembangannya menuju masa remaja, sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan yang ada disekitarnya. Pada masa remaja dalam suasana atau keadaan peka, karena kehidupan emosionalnya yang sering berganti-ganti. Rasa ingin tahu yang lebih dalam lagi terhadap sesuatu yang baru, kadangkala membawa mereka kepada hal-hal yang bersifat negatif. Para remaja pada usia ini merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju kedewasaan masih memiliki kemampuan yang sangat rendah untuk menolak ajakan negatif dari temannya.4 Remaja berada dalam tahap pencarian identitas sehingga keingintahuan mereka sangat tinggi, apalagi iming-iming dari teman mereka bahwa Narkotika itu nikmat dan menjadi lambang sebagai anak gaul ditambah lagi dengan lingkungan pergaulan di kalangan anak remaja yang cenderung tidak baik maka memudahkan para pengedar Narkotika untuk memasarkan Narkotika. Bahkan juga ada diantara anak remaja tersebut yang tidak hanya menjadi pemakai Narkotika, tetapi terlibat dalam jaringan perdagangan Narkotika seperti yang diberitakan dalam berbagai media massa. Salah satu unsur penegak hukum yang ada di Indonesia adalah Kepolisian Republik Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia (selanjutnya disingkat Polri) selaku alat Negara penegak hukum dituntut untuk mampu melaksanakan tugas
A. Hamzah dan RM. Surachman, Kejahatan Narkotika dan Psikotropika, Sinar Grafika, Jakarta, 1994, halaman 6. 4 Sudarsono, Kenakalan Remaja, Rineka Cipta, Jakarta, 1991, halaman 101.
3

penegakan hukum secara professional dengan memutus jaringan sindikat dari luar negeri melalui kerjasama dengan instansi terkait dalam memberantas kejahatan penyalahgunaan Narkotika, dimana pengungkapan kasus Narkotika bersifat khusus yang memerlukan proaktik Polri dalam mencari dan menemukan pelakunya serta senantiasa berorientasi kepada tertangkapnya pelaku tindak pidana penerapan peraturan perundang-undangan di bidang Narkotika. Sampai saat ini penyalahgunaan Narkotika di belahan dunia manapun tidak pernah kunjung berkurang, bahkan di Amerika Serikat yang dikatakan memiliki segala kemampuan sarana dan prasarana berupa teknologi canggih dan sumber daya manusia yang profesional ternyata angka penanggulangan tindak pidana Narkotika makin hari makin meningkat sejalan dengan perjalanan waktu. Di Indonesia sendiri saat ini angka penanggulangan tindak pidana Narkotika telah mencapai titik yang mengkhawatirkan karena pada saat sekitar awal Tahun 1900-an masalah Narkotika masih belum popular dan oleh jaringan pengedar hanya dijadikan sebagai negara transit saja. Belakangan ini Indonesia telah dijadikan Negara tujuan atau pangsa pasar dan bahkan dinyatakan sebagai Negara produsen/pengekspor Narkotika tersebut di dunia.5

Mulyono Liliawati Eugenia, Peraturan Perundang-Undangan Narkotika dan Psikotropika, Harvarindo, Jakarta, 1998, halaman 5.

Menurut hasil wawancara di Polsek Gebang data sementara selama tahun 2010, remaja yang terlibat narkoba adalah seperti tabel di bawah ini: No. 1. 2. Nama Surya Kencana Sri Wahyuni Umur 17 Tahun 18 Tahun Jenis Kasus Ganja Pil Koplo Miras Ganja Ket Masih di proses Sudah Vonis Masih Tahanan Rumah Tahan Polsek

3. Wagi Anjas 20 Tahun 4. Bosri Rangkuti 16 Tahun Sumber : Kanit Reskrim Polsek Gebang

Berdasarkan kepada uraian pada latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam bentuk skripsi yang berjudul : Upaya Polri Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika Yang Dilakukan Oleh Remaja (Study Kasus di Polsekta Gebang Kab. Langkat) B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan pada penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana kondisi penyalahgunaan narkotika saat ini? 2. Hambatan-hambatan apa yang ditemui penyidik dalam penyelesaian terhadap pelaku tindak pidana narkotika? 3. Bagaimana upaya polri sebagai penyidik dalam menanggulangi dan mengungkap masalah tindak pidana narkotika di Gebang Kab. Langkat? C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah sebagai berikut : 1. ini. 2. Untuk mengetahui Hambatan-hambatan yang ditemui Untuk mengetahui kondisi penyalahgunaan narkotika saat

penyidik dalam penyelesaian terhadap pelaku tindak pidana narkotika. 3. Untuk mengetahui upaya polri sebagai penyidik dalam

menanggulangi dan mengungkap masalah tindak pidana narkotika di Gebang Kab. Langkat. D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis

Penulisan skripsi ini dapat bermanfaat untuk dapat memberikan masukan sekaligus menambah khasanah ilmu pengetahuan dan literatur dalam dunia akademis, khususnya tentang hal-hal yang berhubungan dengan upaya polri dalam penanggulangan tindak pidana narkotika yang dilakukan oleh remaja yang dewasa ini banyak terjadi. 2. Secara Praktis

Secara praktis diharapkan agar penulisan skripsi ini dapat memberikan pengetahuan tentang kasus-kasus upaya polri dalam penanggulangan tindak pidana narkotika yang dilakukan oleh remaja yang terjadi dewasa ini dan

bagaimana upaya pencegahannya, sehingga kasus-kasus narkotika sebagai bentuk kenakalan remaja tidak lagi terjadi. E. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Remaja Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik.6 Menurut Hurlock secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, terjadi perubahan intelektual yang mencolok dan transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.7 Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Menurut Sri Rumini dan Siti Sundari masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa.8 Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.
Hurlock, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004, halaman 79. 7 Ibid., halaman 206. 8 Sri Rumini dan Siti Sundari, Pengertian Remaja, Aksara Baru, Jakarta, 2004, halaman 53.
6

Menurut Zakiah Darajat remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.9 Menurut Santrock bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional.10 Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 (dua belas) hingga 21 (dua puluh satu) tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12-15 tahun = masa remaja awal, 15-18 tahun = masa remaja pertengahan dan 18-21 tahun = masa remaja akhir.11 Menurut Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10-12 tahun, masa remaja awal 12-15 tahun, masa remaja pertengahan 15-18 tahun, dan masa remaja akhir 18-21 tahun.12 Definisi yang dipaparkan oleh Sri Rumini dan Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia

Zakiah Darajat, Psikologi Remaja, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1995, halaman 23. Santrock, Perkembangan Remaja, Alumni, Bandung, 2003, halaman 26. 11 Deswita, Defenisi Anak dan Remaja, Rineka Cipta, Jakarta, 2006, halaman 192. 12 Monks, Knoers dan Haditono, Anak dan Remaja, Armico, Bandung, 2002, halaman 19.
10

antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis. Masa remaja merupakan masa yang sangat penting, sangat kritis dan sangat rentan, karena bila manusia melewati masa remajanya dengan kegagalannya, dimungkinkan akan menemukan kegagalan dalam perjalanan kehidupan pada masa berikutnya. Sebaliknya bila masa remaja itu diisi dengan penuh kesuksesan, kegiatan yang sangat produktif dan berhasil guna dalam rangka menyiapkan diri untuk memasuki tahapan kehidupan selanjutnya, dimungkinkan manusia itu akan mendapatkan kesuksesan dalam perjalanan hidupnya. Dengan demikian, masa remaja menjadi kunci sukses dalam memasuki tahapan kehidupan selanjutnya.13 2. Pengertian Pidana Beberapa pendapat para sarjana tentang pengertian Pidana antara lain : Soedarto mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pidana adalah penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.14 Roeslan Saleh menyatakan pidana adalah reaksi atas delik dan ini berwujud suatu nestapa yang sengaja ditimpakan Negara pada pembuat delik.15
Canboyz, Pengertian Definisi Remaja, http://www.canboyz.co.cc/2010/06/pengertiandefinisi-remaja.html, diakses Senin, 13 Desember 2010. 14 Widya Priyatno, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara Di Indonesia, PT. Refika Aditama, Jakarta, 2005, halaman 6. 15 Roeslan Saleh, Stelsel Pidana Indonesia, Aksara Baru, Jakarta, 1987, halaman 3.
13

R. Soesilo yang menggunakan istilah hukuman untuk menyebut istilah pidana merumuskan, bahwa apa yang dimaksud dengan hukuman adalah suatu perasaan yang tidak enak (sengsara) yang dijatuhkan oleh hakim dengan vonis kepada orang yang telah melanggar Undang-Undang Hukum Pidana.16 3. Pengertian Tindak Pidana Tindak Pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya disingkat KUHP) dalam teks asli berbahasa Belanda menggunakan istilah strafbaar feit dan delict. Kedua istilah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sebagaimana dikenal dalam kajian hukum pidana dan peraturan perundang-undangan dengan istilah yang beragam, seperti perbuatan pidana, tindak pidana, peristiwa pidana, perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum, hal yang diancam dengan hukuman dan perbuatan-perbuatan yang dapat dikenakan hukuman. Tindak Pidana yaitu setiap perbuatan yang diancam hukuman sebagai kejahatan atau pelanggaran baik yang disebut dalam KUHP maupun perundang-undangan lainnya.17 Beberapa pendapat para sarjana terhadap pengertian tindak pidana ialah : Menurut Pompe tindak pidana atau disebut dengan peristiwa pidana sebagaimana terjemahan dari kata strafbaar feit adalah tindakan yang menurut sesuatu rumusan undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum.18

R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Politeia, Bogor, 1996, halaman 35.
17

16

Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 1, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2008, Halaman Ibid, Halaman 75.

67.
18

10

Menurut Van Hamel tindak pidana adalah kelakuan manusia yang dirumuskan dalam undang-undang, melawan hukum yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan.19 Menurut Simons tindak pidana adalah kelakuan yang diancam dengan pidana, yang bersifat melawan hukum yang berhubungan dengan kesalahan dan dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung jawab.20 4. Pengertian Narkotika Menurut Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menyatakan bahwa : Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadara, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang. Narkotika adalah suatu obat atau zat alami, sintetis maupun sintetis yang dapat menyebabkan turunnya kesadaran, menghilangkan atau

mengurangi hilang rasa atau nyeri dan perubahan kesadaran yang menimbulkan ketergantungna akan zat tersebut secara terus menerus. Contoh

Herman, Tindak Pidana dan Kejahatan www.hukumonline.com/tindakpidana, diakses Jumat, 24 Desember 2010.
20

19

Kansil, C.S.T, dkk, Latihan Ujian Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2007, Halaman

106.

11

narkotika yang terkenal adalah seperti ganja, eroin, kokain, morfin, amfetamin, dan lain-lain.21 Narkotika ialah suatu obat yang merusak pikiran menghilangkan rasa sakit, menolong untuk dapat tidur dan dapat menimbulkan kecanduan dalam berbagai tingkat. Narkotika dan Psikotropika merupakan salah satu obat yang dibutuhkan kesehatan untuk pengobatan suatu penyakit, tetapi kadang menyebabkan efek samping misalnya kecanduan, kerusakan organ tubuh, bahkan kematian.22 Menurut Farmakologi, narkoba termasuk zat atau obat yang bekerja disusunan saraf. 5. Pengertian Kepolisian Kata polisi itu berasal dari kata Yunani Politea, Kata ini pada mulanya dipergunakan untuk menyebut orang yang menjadi warga negara dari kota Athene, kemudian pengertian itu berkembang menjadi kota dan dipakai untuk menyebut semua usaha kota. Oleh karena pada zaman itu kota-kota merupakan negara-negara yang berdiri sendiri, yang disebut juga Polis, maka politea atau polis, diartikan sebagai semua usaha dan kegiatan negara, juga termasuk kegiatan keagamaan.23 Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara menyatakan bahwa kepolisian adalah segala hal
Organisasi, Arti Definisi Pengertian Narkotika, http://organisasi.org/arti-definisipengertian-narkotika, diakses Senin, 27 Desember 2010. 22 Anak Ciremai, Pengertian Narkotika, http://www.anakciremai.com/2008/04/created-ninaeliyana-school-lp2k-satya.html, diakses Kamis, 30 Desember 2010. 23 Kambey, Pengertian Polisi, http://policeline-kambey.blogspot.com/2008/07/pengertianpolisi.html, diakses Senin, 03 Januari 2011.
21

12

ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Polisi adalah instansi yang berperan dalam penegakan hukum dan norma yang hidup dalam masyarakat (police as an enforment officer). Pada pelaksanaan demikian, polisi adalah instansi yang dapat memaksakan berlakunya hukum. Manakala hukum dilanggar, terutama oleh perilaku menyimpan yang namanya kejahatan, diperlukan peran polisi untuk memulihkan keadaan (restitutio in intreguman) pemaksa agar sipelanggar hukum menanggung akibat dari perbuatannya. Untuk mengetahui bagaimana hukum ditegakkan tidaklah harus dilihat dari institusi hukum seperti kejaksaan atau pengadilan, tetapi dilihat pada perilaku polisi yang merupakan garda terdepan dari proses penegakkan hukum.Sebagai penegak hukum, polisi adalah pribadi atau anggota yang menguasai pengetahuan hukum, bersifat jujur, bersih, berani bertindak dengan penuh tanggungjawab, sehingga hukum dapat ditegakkan.24 Menurut Pasal 2 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara menyatakan bahwa fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. F. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif (hukum normatif) dan yuridis sosiologi (hukum sosiologi) yaitu yang mengacu kepada adanya penelitian yang bersifat analisis untuk mendapatkan

Mardalli, Profesionalisme Polisi Republik Indonesia, http://mardalli.wordpress.com/ 2009/05/23/profesionalisme-polisi-republik-indonesia-di-mata-masyrakat-sebagai-profesi-hukum/, diakses, Selasa, 04 Januari 2011.

24

13

kebenaran-kebenaran konkrit yang terdapat di masyarakat atau di lapangan. Lokasi penelitian dilakukan di Polsekta Gebang Kab. Langkat. Data yang dipergunakan di dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari : 1. Data Primer yaitu bahan hukum yang berasal dari literatur buku-buku, undang-undang, peraturan pemerintah, pendapat para ahli, doktrin, yurisprudensi dan data-data yang diperoleh peneliti di Polsekta Gebang Kab. Langkat. 2. Data Sekunder yaitu bahan hukum yang berasal dari majalah hukum dan internet. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode studi kepustakaan atau disebut dengan (library research) yaitu melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan dan studi lapangan atau (field research) yaitu dengan mengumpulkan data-data dan wawancara.Kanit Reskrim Polsek Gebang, Oscar Purba. G. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan, pada bab ini merupakan pendahuluan yang menguraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan. Bab II Kondisi penyalahgunaan narkotika saat ini, pada bab ini akan dibahas mengenai jenis-jenis narkotika yang sering di gunakan, penyebab penyalahgunaan narkotika dan kondisi penyalahgunaan narkotika.

14

Bab III Hambatan-hambatan yang ditemui penyidik dalam penyelesaian terhadap pelaku tindak pidana narkotika, pada bab ini akan dibahas mengenai faktorfaktor penyebab terjadinya penyalahgunaan narkotika, kendala yuridis yang dihadapi penyidik dalam menanggulangi tindak pidana narkotika dan penanganan perkara terhadap pelaku tindak pidana narkotika yang dihadapi penyidik di jajaran polsekta gebang. Bab IV Upaya Polri sebagai penyidik dalam menanggulangi dan mengungkap masalah tindak pidana narkotika di Gebang Kab. Langkat, pada bab ini akan dibahas mengenai fungsi, tugas dan wewenang Polri, upaya Polri dalam mengungkap masalah penyalahgunaan Narkotika di Gebang Kab. Langkat dan penerapan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dalam upaya penanggulangan tindak pidana Narkotika di Gebang Kab. Langkat. Bab V Penutup, pada bab ini berisikan kesimpulan dan saran-saran yang dianggap dapat memberikan kesimpulan dari isi skripsi dan masukan-masukan.

15

DAFTAR PUSTAKA

A.

Buku

Arrasjid Chainur, 2000, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, PT Sinar Grafika, Jakarta. Chazawi Adami, 2008, Pelajaran Hukum Pidana 1, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta. Darajat Zakiah, 1995, Psikologi Remaja, Ghalia Indonesia, Jakarta. Deswita, 2006, Defenisi Anak dan Remaja, Rineka Cipta, Jakarta. Eugenia Mulyono Liliawati,1998, Peraturan Perundang-Undangan Narkotika dan Psikotropika, Harvarindo, Jakarta. Hamzah A. dan RM. Surachman, 1994, Kejahatan Narkotika dan Psikotropika, Sinar Grafika, Jakarta. Hurlock, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004. Kansil, C.S.T, dkk, 2007, Latihan Ujian Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta. Monks, Knoers dan Haditono, 2002, Anak dan Remaja, Armico, Bandung. Priyatno Widya, 2005, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara Di Indonesia, PT. Refika Aditama, Jakarta. Rumini Sri dan Siti Sundari, 2004, Pengertian Remaja, Aksara Baru, Jakarta. Santrock, 2003, Perkembangan Remaja, Alumni, Bandung. Saleh Roeslan, 1987, Stelsel Pidana Indonesia, Aksara Baru, Jakarta. Soesilo R., 1996, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta KomentarKomentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Politeia, Bogor. Sudarsono, Kenakalan Remaja, Rineka Cipta, Jakarta, 1991.

16

B.

Peraturan Perundang-Undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara C. Internet

Anak Ciremai, Pengertian Narkotika, http://www.anakciremai.com/2008/04/ created-nina-eliyana-school-lp2k-satya.html, diakses Kamis, 30 Desember 2010. Canboyz, Pengertian Definisi Remaja, http://www.canboyz.co.cc/2010/06/ pengertian-definisi-remaja.html, diakses Senin, 13 Desember 2010. Herman, Tindak Pidana dan Kejahatan www.hukumonline.com/tindakpidana, diakses Jumat, 24 Desember 2010. Kambey, Pengertian Polisi, http://policeline-kambey.blogspot.com/2008/07/ pengertian-polisi.html, diakses Senin, 03 Januari 2011. Mardalli, Profesionalisme Polisi Republik Indonesia, http://mardalli.wordpress. com/2009/05/23/profesionalisme-polisi-republik-indonesia-di-matamasyrakat-sebagai-profesi-hukum/, diakses, Selasa, 04 Januari 2011. Organisasi, Arti Definisi Pengertian Narkotika, http://organisasi.org/arti-definisipengertian-narkotika, diakses Senin, 27 Desember 2010. Singkatan dari Narkotika dan obat-obatan berbahaya atau bisa disebut juga NAPZA singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif yang terkandung dalam narkoba.