Anda di halaman 1dari 9

PETUNJUK PELAKSANAAN PROGRAM PELAYANAN PENCEGAHAN MALARIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KALIMANTAN & SULAWESI GLOBAL FUND

ROUND 8 TAHUN 2010 2011

DIREKTORAT JENDERAL BINA KESEHATAN MASYARAKAT DIREKTORAT BINA KESEHATAN IBU KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

I. Pendahuluan
Situasi kesehatan ibu dan anak secara umum di Indonesia menunjukkan kemajuan. Hal ini terlihat dari penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian balita dalam dasawarsa terakhir.
97 81 68 57 58 46 46 35 45 34 30

390 334 307 226

125

1991

1994

1997

2002-2003

2007

target MDG 2015

1994

1997

2002-2003

angka kematian balita

angka kematian bayi

target DepKes RI 2009

target MDG 2015

Gambar 2. Angka kematian Ibu dan bayi dan balita

Di bawah ini terdapat peta penyebaran kasus malaria di Indonesia.

Gambar 4. Peta endemisitas malaria

Di daerah dengan endemisitas malaria yang tinggi, orang dewasa memiliki kekebalan terhadap malaria sehingga jika menderita malaria tidak menunjukkan gejala klinis yang khas (asimtomatik). Demikian pula pada ibu hamil. Namun, infeksi asimtomatik ini bisa menyebabkan terjadinya kekurangan darah yang berat (anemia berat) pada ibu hamil yang dapat menjadi penyebab kematian ibu baik lagsung maupun tidak langsung Malaria pada ibu hamil juga berpengaruh terhadap kesehatan janin. Infeksi malaria pada plasenta dan kekurangan darah ibu yang disebabkan oleh malaria; keduanya menyebabkan terjadinya bayi berat lahir rendah. BBLR merupakan faktor utama penyebab kematian neonatal. Di Indonesia, 59% dari kematian bayi terjadi pada masa neonatal.

Meskipun di seluruh Indonesia telah terdapat kebijakan dan program pengendalian malaria, namun masih dibutuhkan program perlindungan yang memberi perhatian khusus untuk kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap malaria yakni ibu hamil, bayi, dan balita. Dengan ini diharapkan kontribusi malaria terhadap kematian ibu dan anak bisa diturunkan. Pelayanan kesehatan ibu khususnya pelayanan ANC lebih banyak dilaksanakan oleh bidan di tingkat desa dan bidan praktek swasta dibandingkan dengan yang dilayani di gedung puskesmas ataupun di rumah sakit. Hal ini sangat penting mengingat upaya pencegahan malaria pada ibu hamil sebaiknya di mulai pada trimester I atau sedini mungkin yang lebih tepatnya pada kunjungan I ibu hamil (K1). Oleh sebab itu, ibu hamil sebaiknya mendapatkan perlindungan dari sejak awal kehamilannya dengan cara mendeteksi adanya malaria, mengobati bila positip, beri kelambu berinsektisida, KIE kebersihan, pencegahan malaria, memakai repelant dll. Karena pelayanan ANC di Indonesia sudah cukup tinggi (K1 93% th 2009) dan akan mencapai semua ibu hamil pada tahun 2014, maka program perlindungan dari malaria perlu dilaksanakan mengingat masih banyak daerah Endemis malaria di Indonesia. Hal ini akan membantu melakukan akselerasi penurunan AKI lebih cepat di Indonesia dengan mengeliminasi malaria.

CAKUPAN K1 DAN K
100 90 80 70
Untuk dapat melaksanakan pelayanan pencegahan dan penanganan malaria ibu hamil, program GF Round 8 meliputi seluruh propinsi di pulau Kalimantan dan Sulawesi yang merupakan daerah endemis dan malaria direncanakan akan tereliminasi 60 tahun 2020. Oleh sebab itu maka semua pemberi layanan pada ANC dari mulai di rumah sakit, puskesmas, BPS maupun bidan di desa perlu dipersiapkan. Maka program GF R8 dari Sub Resipient Kesehatan Ibu Hamil setelah melakukan persiapan berupa perencanaan, perekrutan staf, sosialisasi ke

50 40

seluruh provinsi dan kabupaten/kota serta menyiapkan modul pelatihan fasilitator dan fasilitator tingkat pusat. Pada awal Agustus akan dilaksanakan pelatihan fasilitator provinsi dan kabupaten secara paralel di Banjarmasin, Menado dan Makasar dalam rangka menyiapkan 2 fasilitator tiap provinsi dan 5 fasilitator tiap kabupaten/kota. Pada Q3 dan Q4, semua provinsi dan kabupaten/kota dapat melanjutkan kegiatan ditingkat masing-masing sebagaimana tertera dibawah ini. I. Tujuan

Tujuan Umum Melaksanakan kegiatan program terpadu kesehatan ibu hamil dan pencegahan dan penanganan malaria secara komprehensif. Tujuan Khusus 1. Tersedianya data dan informasi kedua program terkait 2. Terlaksanakannya perencanaan dan persiapan 3. Tersosialisasinya program sampai tingkat puskesmas 4. Berfungsinya fasilitator ditiap tingkatan 5. Terlaksananya pelayanan ibu hamil terpadu 6. Terkoordinasinya kegiatan di tingkat lapangan 7. Terpantaunya kegiatan dan indikator keberhasilan secara berjenjang II. Keluaran 1. Dokumen perencanaan propinsi dan kabupaten/kota 2. APW tingkat provinsi dan kabupaten/kota termasuk laporan bulanan 3. Laporan sosialisasi ke semua kabupaten kuning di tingkat provinsi dan kabupaten/kota 4. Laporan tenaga kesehatan yang telah dilatih 5. Laporan pelayanan sesuai RR yang telah disepakati Indikator keberhasilan III. Kegiatan Kegiatan yang diharapkan selesai pada Q1 dan Q2 adalah sebagai berikut: 1. Pembuatan APW tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota Diharapkan semua tingkatan sudah membuat APW sesuai kesepakatan di tingkat pusat dan honor sudah dapat dibayarkan dari sejak bulan April 2010 dan dilengkapi laporan bulanan. Catatan: Jumlah kab/kota melaksanakan kegiatan (100)% Jumlah tenaga kesehatan pemberi layanan antenatal dilatih (sesuai daftar terlampir) Jumlah kelambu berinsektisida terdistribusi bagi 60% ibu hamil Jumlah ibu hamil discreen malaria 60% (lab/RDT).

Tupoksi masing-masing pengelola terlampir

PEN ELES Y
Tingkat Provinsi
Kepala Bidang Kepala Seksi PUM K 2. Sosialisasi Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota Kegiatan ini bertujuan untuk menindaklanjuti kegiatan yang sudah dilaksanakan Pengelola Program Kes Ibu di tingkat pusat yaitu melanjutkan sosialisasi program lebih luas di kedua pulau

diatas untuk masing-masing provinsi dan kabupaten/kota - Tempat pelaksanaan di masing masing provinsi dan kabupaten/kota Kepala Bidang - Jumlah peserta untuk masing-masing lokasi terdiri dari: o Peserta pusat dan narasumber : Kepala Seksi 2 orang (apabila dibutuhkan) melalui anggaran pusat Pengelola Program 30Kes Ibu o Peserta propinsi : kurang lebih orang o Peserta kabupaten + peserta puskesmas : 2 orang Catatan : (Kapuskesmas dan bidan koordinator) o Profesi (IDI / POGI & IBI) propinsi Honor terbayar : menyesesuaikan sejak bulan A pril (termasuk dalam 30 orang) Mem buat laporanorang bulanan o Panitia : 5 A pril: Persiapan - Waktu pelaksanaan selama : 2 hari. - Keluaran : laporan sosialisasi program GF R8 SR Kes Ibu hamil terpadu Mei: Pertem uan dengan program Kesehatan Ibu dan RTL (dana GF maupun Juni : Pertem uan APBN/APBD/donor/LSM/CSR,dll) - Materi : memanfaatkan bahan sosialisasi pusat, dan dapat ditambah provinsi dan k muatan lokal sesuai kebutuhan. (prioritas materi: malaria, pelayanan (A N, A D, Do PB PB Antenatal, Buku KIA, kelas Ibu, P4K). - Anggaran : - Tingkat Provinsi: Perdiem 2 hari x 35% rate masing2 provinsi (lihat SBU 2010) Fullday 2 hari (lihat SBU) ATK Rp. 1 juta per paket (kwitansi pembelian riil) Seminar Kit Rp. 25.000 per peserta Fotocopy (kwitansi fotocopy riil) Tingkat Kabupaten: Peserta kota yang sama : Perdiem 35% dan Fullday harian Peserta puskesmas 2 hari 1 malam : Perdiem 75% dan fullboard. Transport : riil (bila tidak ada bukti, pakai format KW3)

Tingkat

K abupaten

3. Pelatihan Tenaga Kesehatan pemberi Layanan Antenatal Mengingat banyak tenaga kesehatan yang akan dilatih secara komprehensif dalam memberikan pelayanan Antenatal terpadu maka pelatihan dilaksanakan ditingkat puskesmas. Total tenaga yang akan dilatih sebanyak 5040 sampai Q4. Pelatihan diharapkan sudah selesai pada bulan 1 Q4, mengingat pelayanan sudah harus dilaksanakan agar target 60% ibu hamil dapat terlaksana. - Tempat pelaksanaan di tingkat puskesmas - Jumlah peserta untuk masing-masing lokasi terdiri dari pemberi layanan Antenatal, khususnya bidan. Setiap pelatihan diharapkan melatih 20 orang maksimal sehingga dapat dibuat regionalisasi yang terdiri dari anggota 1-3 puskesmas. - Fasilitator : berasal dari Kabupaten/Kota (masing2 telah tersedia 5 orang fasilitator dan dapat ditambah dokter puskesmas/tenaga P2M yang telah dilatih malaria apabila dibutuhkan. - Panitia: 3 orang dari puskesmas tempat pelatihan - Waktu pelaksanaan selama : 3 hari efektif - Keluaran : tenaga kesehatan mampu memberikan pelayanan ANC terpadu, memfungsikan kelas ibu, memanfaatkan buku KIA dan melaksanakan operasional P4K. - Materi: Pedoman P4K, Modul Pelayanan Antenatal pada malaria, Buku KIA dan Paket Kelas Ibu (disiapkan Rp. 100.000) per paket. Materi dapat dipesan di Jakarta apabila daerah tidak mampu untuk mengadakan. - Anggaran: Transport Fasilitator (riil/KW3) Perdiem Fasilitator 75% (3 hari) Fullboard (2 malam) hanya bisa apabila ada kwitansi hotel/penginapan). Panitia dan peserta : Perdiem 35% dan fullday harian 3 hari ATK Rp. 250.000 per paket pelatihan Seminar kit: Rp. 25.000 per peserta latih Fotocopy: Rp. 100.000/peserta latih Buku Acuan peserta Lembar Balik kelas ibu, fotocopy berwarna di kertas tebal Copy CD senam hamil Buku KIA (Dinas Kesehatan) Materi KIA
N o 1 Provinsi Kalimantan Barat N o 1 2 3 3 1 2 Kota Banjarbaru Kab. Banjar Kabupaten Kab. Bengkayang Kab. Sekadau Kab. Kubu Raya Jumlah Bidan 96 68 137 301 56 276 Bacth traini ng 5 4 7 16 3 14

SUB TOTAL KALBAR Kalimantan Selatan

N o

Provinsi

N o 3 4 5 6

Kabupaten Kab. Tanah Laut Kab. Hulu Sungai Selatan Kab. Barito Kuala Kab. Tanah Bumbu

Jumlah Bidan 160 131 211 92 926 282 85 132 28 527

Bacth traini ng 8 7 21 5 58 15 5 7 2 29 3 8 6 3 3 9 3 35 2 3 7

SUB TOTAL KALSEL Kalimantan Timur

6 1 2 3 4 4 1 2 3 4 5 6 7 7 1 2 3 4

Kab. Kutai Kertanegara Kab. Kutai Barat Kab. Paser Kab. Malinau

SUB TOTAL KALTIM Kalimantan Tengah

Kab. Seruyan Kab. Kotawaringin Timur Kota Palangkaraya Kab. Gunung Mas Kab. Pulang Pisau Kab. Kapuas Kab. Barito Timur

53 151 108 56 61 165 62 656

SUB TOTAL KALTENG 5 Sulawesi Utara

Kota Manado Kota Tomohon Kab. Minahasa Kab. Siau Tangulangdang Biaro

38 58 135 ????????? 231 35 68 103 196 196 97 109 145 126 168 86 86 209 1026 36 86 122

SUB TOTAL SULUT Gorontalo

4 1 2 2 1 1 1 2 3 4 5 6 7 8 8 1 2 2

Kab. Boalemo Kab. Bone Bolango

12 2 4 6 10 10 5 6 8 7 9 5 5 11 56 2 5 7

SUB TOTAL GORONTALO Sulawesi Tengah SUB TOTAL SUL TENGAH Sulawesi Selatan

Kota Palu

Kab. Bulukumba Kab. Enrekang Kab. Luwu Timur Kab. Pangkep Kab. Pinrang Kab. Soppeng Kab. Takalar Kab. Tator

SUB TOTAL SULSEL Sulawesi Barat SUB TOTAL SULBAR

Kab.Mamasa Kab. Majene

N o 1 0

Provinsi Sulawesi Tenggara

N o

Kabupaten

Jumlah Bidan

Bacth traini ng

1 2 3 4 5 5 4 2

Kab. Muna Kota Kendari Kab. Konawe Selatan Kab. Wakatobi Kab. Konawe Utara

119 109 134 47 12 421

6 6 7 3 1 23

SUB TOTAL SULTENGGARA

TOTAL

4509

252

4. Pelaksanaan Pelayanan Antenatal Terpadu Setelah mendapatkan pelatihan, pelayanan sudah dapat dilaksanakan oleh masing-masing petugas kesehatan. - Tempat Pelayanan : Puskesmas maupun Poskesdes/Polindes/BPS/Posyandu/Poli KIA Rumah Sakit - Bahan : Kelambu berinsektisida dan operasional disiapkan oleh SR provinsi/SSR Kabupaten/Kota. Test: Lab puskesmas dan RS. RDT untuk diluar gedung Pusk atau RS. Obat: dilaksanakan di puskesmas. Untuk bidan perlu dukungan SK Menteri Kesehatan. Buku KIA : disiapkan Kabupaten/Kota Target Q3 30% ibu hamil dan Q4 60% ibu hamil (mengingat keterlambatan pelatihan dan sarana maka untuk tahun 2010 semua ibu hamil datang pertama dilayani, bahkan kelambu dapat diberikan apabila lahir pada Q3 atau Q4) Kelambu dapat diberikan tidak hanya pada kunjungan ANC tetapi dapat diberikan pada bumil ANC yang datang K2, K3, K4 yang belum dapat kelambu ( catat di kohort & buku KIA ) selain itu ibu bersalin yang melahirkan sejak April 2010. Bayi sesudah campak diberi 1 kelambu untuk perlindungan balita. Skrening untuk tahun 2010 dapat diberikan pada semua kunjungan (K1 K4) bumil ANC. - Tahun 2011 ke-2 kegiatan diatas diberikan pada K1. - Kelas Ibu segera dibentuk oleh peserta latih agar dapat mendukung program P4K, KIE pencegahan malaria, meningkatkan K4 dan persalinan nakes dan kematian ibu akibat malaria (manfaatkan dana BOK maupun jamkesmas, dll. - Pencatatan dan pelaporan memanfaatkan sistem yang sudah ada (Kartu ibu, Kohort, PWS KIA , Buku KIA). Catatan: ibu hamil malaria di koordinasikan dengan pencatatan P2Malaria. 5. Monitoring dan Evaluasi. Kegiatan monitoring bisa dilaksanakan ditiap jenjang baik provinsi maupun kabupaten/kota dengan tujuan memantai, mengatasi masalah dan membina pengelola program maupun tenaga pemberi layanan

Tempat pelaksanaan : semua kabupaten dan puskesmas/polindes bermasalah - Pelaksana : Tim GF (masing2 2 orang) - Waktu pelaksanaan : bulan ke 2 dan ke 3 dari Q2 masing-masing 2-3 hari - Keluaran : laporan hasil asistensi penyelesaian masalah yang ada. 6. Review tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota Kegiatan ini dilaksanakan pada Q4 secara berjenjang sebelum pertemuan Review tingkat pusat. - Keluaran: Capaian program sesuai indikator Masalah yang ada RTL - Peserta Review tingkat provinsi : LP dan peserta kab/kota masing2 2 orang (pengelola program KIA dan malaria) - Peserta Review tingkat kabupaten : LP dan peserta puskesmas masing masing 2 orang (Kapuskesmas dan bidan koordinator) IV. Keuangan Dana akan dikirimkan dari pusat ke SR dan SSR masing-masing sesuai RAB yang disepakati Selanjutnya Penanggung-jawab KIA akan mengajukan permohonan ke PMU SR untuk tingkat provinsi dan PM SSR di tingkat kabupaten dengan melampirkan TOR dan RAB kegiatan. (koordinasi dengan FA masing-masing). Cara SPJ : koordinasi dengan FA masing-masing. Pertanggung-jawaban kegiatan akan diverifikasi oleh FA masing-masing. FA akan membuat laporan keuangan dan ME akan membuat laporan kegiatan sesuai prosedur yang berlaku.