Anda di halaman 1dari 7

JAKARTA, KOMPAS.

com - Sebanyak delapan orang yang mewakili Komite Aksi Jaminan Sosial, melakukan aksi dengan tidur tepat di pintu masuk Gedung Nusantara II, Kompleks Gedung Dewan Perwakilan Rakya, Senin (9/5/2011). Mereka menuntut DPR untuk segera membahas dan mengesahkan Rancangan Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Awalnya, para peserta aksi ini ingin masuk mengikuti sidang paripurna pembukaan masa sidang IV DPR yang berlangsung hari ini. Akan tetapi, kehadiran mereka ditolak oleh petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk. "Kami tak perlu banyak-banyak (orang) ke sini, percuma. Cukup kami saja datang untuk menuntut disahkannya RUU BPJS, untuk kami rakyat kecil. Undang-undang ini nantinya juga akan untuk anak cucu kita semua, agar terjamin kehidupannya nanti. Tetapi kami tidak boleh masuk. Kita ini kan rakyat juga ingin bicara dengan wakil rakyat kenapa dilarang?," ujar salah seorang pekerja saat meminta izin masuk kepada petugas di Gedung Nusantara II. Saat mereka melakukan aksi tidur-tiduran di lantai, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso melintas dengan kawalan petugas keamanan dalam DPR. Sontak para peserta aksi langsung mengejarnya dan meminta komitmen untuk mempercepat pembahasan Rancangan Undang-Undang BPJS. Ia berjanji akan menyelesaikan pembahasan RUU tersebut. "Kami akan berada di barisan depan untuk memperjuangkan undang-undang jaminan sosial ini. Hari ini, kami sebelum rapat menerima surat dari Menteri Keuangan dan Menteri Hukum dan HAM yang singkat isinya, mereka mengatakan pemerintah sudah secara resmi mengirimkan daftar inventarisasi masalah (DIM) dari kaca mata pemerintah," ujar Priyo. Ia menambahkan, jika menteri-menteri yang terkait dalam pembahasan RUU BPJS ini tarik ulur waktu maupun mempersulit jalannya pembahasan, maka DPR akan mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Oleh karena itu di persidangan, masih ada mempersulit itu semua, saya akan pastikan bahwa DPR akan tulis surat untuk Presiden dan menegur menteri-menteri itu. Kalau UU itu nanti clear saya paling depan akan ikut memperjuangkan," tandas Priyo.

http://nasional.kompas.com/read/2011/05/09/1441005/Aksi.Tidur.Desak.RUU.BPJS.Dirampungkan
06/04/2010

Pemerintah didesak terapkan SJSN Badan penyelenggara jaminan sosial harus nirlaba
Jakarta, Bisnis Indonesia -

Pemerintah dan legislatif didesak membentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang tidak berorientasi laba dan merevisi UU No.3/1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Pemerintah juga diminta segera memberlakukan UU No.40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), sekaligus menggantikan keberadaan UU tentang Jamsostek.

"BPJS harus menganut prinsip-prinsip nirlaba, gotong royong, akuntabilitas, keterbukaan, dan lain-lain," tegas Said Iqbal, Sekretaris Jenderal Komite Aksi Jaminan Sosial untuk Rakyat dan Pekerja/Buruh. Dia mengungkapkan tuntutan itu saat aksi sekitar 3.000 pekerja dari 46 serikat pekerja/ serikat buruh yang tergabung dalam Komite Aksi Jaminan Sosial untuk Rakyat dan Pekerja/Buruh di depan gedung DPR/MPR kemarin. Komite aksi yang diklaim mewakili 3,4 juta orang dari 11.786 unit kerja tingkat perusahaan dari 30 provinsi itu menuntut BPJS bukan perusahaan berorientasi laba dan dibebaskan dari kewajiban menyetor dividen dan pajak kepada pemerintah, serta berstatus hukum wali amanat. Menurut Iqbal yang juga Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), perbaikan sistem jaminan sosial sudah mendesak. Salah satu bagian komite itu, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pekerja (Aspek) Indonesia Muhamad Rusdi menyatakan selama ini pemerintah tidak serius menyejahterakan warga negaranya dengan memberikan jaminan sosial yang memadai. Tuntutan Komite Aksi Jaminan Sosial 1.Jaminan kesehatan nasional seumur hidup kepada rakyat Indonesia, termasuk pekerja yang tidak lagi bekerja. 2.Jaminan pensiun seumur hidup bagi pekerja formal. 3.Segera sahkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dengan berbadan hukum waliamanat. 4. Segera berlakukan UU SJSN. 5. Segera revisi UU Jamsostek. 6.Naikkan iuran jaminan hari tua (JHT) dari 5,7% menjadi 20%. Sumber: Komite Aksi Jaminan Sosial Pasalnya, negara wajib memberikan jaminan sosial yang tidak diskriminatif dan limitatif, sehingga dibutuhkan perbaikan dari perundangan yang sudah ada mengenai jaminan sosial dan lembaga penyelenggaranya. "Bagi masyarakat golongan bawah dan pekerja yang mempunyai penghasilan standar upah minimum tidak mampu mencukupi biaya hidup, apalagi memiliki jaminan sosial, bahkan pemerintah lamban mengurus masalah ini," katanya. Dia menjelaskan pekerja/buruh menuntut hak konstitusi sebagai warga negara untuk meminta kesejahteraan kepada pemerintah dan perangkat negara lainnya dengan memberlakukan SJSN secara komprehensif, tidak diskriminatif dan limitatif. Saat ini, Rusdi menilai jaminan kesehatan yang menjadi bagian dari jaminan sosial nasional hanya melayani pekerja pada saat mereka bekerja, sehingga ketika pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau memasuki usia pensiun tidak memperoleh jaminan kesehatan lagi. "Program pensiun yang berlaku saat ini juga sangat diskriminatif, karena hanya diperuntukkan untuk PNS [pegawai negeri sipil] saja, sedangkan para pekerja swasta atau formal tidak mendapatkannya," ungkapnya.

Direktur Utama PT Jamsostek (Persero) Hotbonar Sinaga menilai saat ini SJSN dapat diimplementasikan jika ada kemauan politik dari pemerintah. "Dalam hal ini, implementasi SJSN sesuai dengan peta jalan yang disiapkan Dewan SJSN, sehingga tujuan membangun negara berkesejahteraan bisa dilakukan secara bertahap, tapi pasti," ungkapnya, baru-baru ini. Menurut Hotbonar, penyelenggaraan jaminan sosial merupakan salah satu syarat untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang sejahtera, apalagi sudah mempunyai payung hukum berupa UU SJSN, ditambah empat badan penyelenggara, yakni PT Jamsostek (Persero), PT Askes, PT Taspen dan PT Asabri. Mengenai amendemen UU Jamsostek, Said Iqbal menegaskan harus secepatnya dilakukan pemerintah. Sistem jaminan sosial tenaga kerja belum memberikan manfaat optimal bagi pesertanya. "Alasan ekonomi itu keliru. Justru di kala ekonomi negara mulai merangkak, akumulasi premi atau iuran jaminan sosial dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi pembangunan," tutur Iqbal. Dia mencontohkan Amerika Serikat memulai sistem jaminan sosial secara nasional ketika pendapatan per kapita mencapai US$600 per tahun, demikian juga Korea Selatan saat pendapatan per kapita sebesar US$100. Padahal, lanjut Iqbal, Indonesia pada 2009 pertumbuhan ekonominya mencapai 4,5% dan pendapatan per kapitanya sebesar Rp24,3 juta atau US$2.590,1 per tahun. Jika tuntutan pekerja itu diabaikan, mereka mengancam akan terus bergerak di berbagai daerah di Indonesiadengan puncaknya pada May Day 1 Mei 2010 di DPR, Istana, dan DPRD. Sedang digodok Zuber Safawi, anggota Komisi IX DPR RI, mengatakan sedang menggodok draf rancangan pemerintah pengganti UU tentang BPJS. Jika sesuai dengan rencana, lanjutnya, pengesahan peraturan pemerintah pengganti UU tentang BPJS dapat berlangsung pada masa persidangan II/2011. "Sekarang masih dalam tahap inisiasi, kami berharap pada akhir masa persidangan III Juli (2010) nanti, draf ini sudah menjadi RUU inisiatif DPR," ujarnya. Draf itu memuat beberapa isu penting terkait penyelenggaraan jaminan sosial yang akan menjadi sorotan, antara lain bentuk BPJS. (R.Fitriana)

http://www.jamsostek.co.id/content/news.php?id=1035

Menuntut Jaminan Sosial


Posted on May 5, 2011 by Indah Budiarti

Sumber: Kompas Cetak, Kamis 5 Mei 2011

Undang-Undang tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional telah terbit pada tahun 2004. Kalau UU itu dilaksanakan, secara bertahap seluruh rakyat Indonesia akan memiliki proteksi sosial berupa jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, jaminan kematian sejak lahir hingga meninggal dunia. Ternyata implementasi UU itu tidak mudah. Masa transisi lima tahunsampai Oktober 2009 baru terbentuk Dewan Jaminan Sosial Nasional. Adapun badan penyelenggaranya, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), belum terbentuk. DPR lalu berinisiatif mengajukan RUU pembentukan BPJS pada awal 2010, yang ditargetkan selesai tahun itu juga. Namun, meski sudah dibahas bersama 8 menteri, keberadaan RUU BPJS gagal disepakati. Dikabarkan bahwa pemerintah menyikapi RUU BPJS hanya sebagai penetapan, sementara Dewan menghendaki juga pengaturan. Mengapa mandek? Pertanyaan yang mendasar adalah mengapa RUU BPJS mandek? Alasan formalnya sebagaimana dikemukakan di atas. Faktanya, delapan menteri itu tidak pernah hadir lengkap. Lalu, adakah alasan lain yang mendasar? Sebab, semua fraksi DPR telah bulat menyepakati draf RUU BPJS. Suatu hal yang sulit dimengerti kalau di era demokrasi, di mana fraksi-fraksitermasuk fraksi pendukung pemerintahternyata tak mampu berbuat apa-apa ketika pemerintah enggan melakukannya. Perlu disadari, Program Jaminan Sosial adalah amanat konstitusi. Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada 2000 mengirimkan pertimbangan kepada Presiden tentang perlunya segera dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera. Disebutkan bahwa Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) merupakan salah satu sarana bagi perwujudan hak asasi manusia yang menjamin warga negaranya tidak

telantar, melalui santunan bagi penganggur, santunan bagi orang sakit, dan santunan bagi hari tua. Dalam pertimbangan DPA itu juga disinggung potensi Program Jaminan Sosial sebagai pemupuk dana yang dapat menyangga perekonomian bangsa. Program ini juga sebagai alat pemberdayaan pranata ekonomi masyarakat, tempat memotivasi nilai-nilai sosial berupa rasa kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas sosial, serta instrumen perekonomian negara. Program Jaminan Sosial dengan demikian juga merupa- kan instrumen untuk mandiri. Substansi SJSN Substansi SJSN pada dasarnya ditujukan untuk perluasan kepesertaan, peningkatan dan perluasan manfaat, serta koreksi terhadap penyelenggaraan program jaminan sosial yang telah berjalan. Di kalangan pegawai negeri (PNS) dan anggota TNI/Polri belum ada jaminan kecelakaan kerja sehingga kalau terjadi kecelakaan kerja tak ada santunannya. Jaminan pensiun PNS, anggota TNI/Polri sebagian besar juga menjadi beban APBN sehingga dalam jangka panjang akan memberatkan APBN. PNS, anggota TNI/Polri dengan demikian juga tertutup memanfaatkan nilai tambah investasi dananya. UU SJSN mengamanatkan mengubah sistem pensiun menjadi fundedsystem, di mana iuran jaminan pensiun dibayar oleh peserta (PNS dan anggota TNI/Polri) dan pemberi kerja (pemerintah) dan diserahkan kepada BPJS. BPJS dapat menginvestasikan dana yang dikelola sehingga membuka peluang peserta menikmati nilai tambah hasil investasi. Tenaga kerja swasta, baik formal maupun nonformal, sebagian besar belum memiliki jaminan pensiun dan jaminan kesehatan purnatugas. Adapun bagi masyarakat yang kurang mampu, sesuai Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945, mereka bisa menjadi bagian dari Program Jaminan Sosial sebagai peserta penerima bantuan iuran, di mana iuran jaminan sosial mereka dibayarkan oleh pemerintah.

Jadi, adalah keliru kalau SJSN akan memberatkan pemerintah. Sebaliknya, SJSN akan lebih menyehatkan dan meningkatkan kemampuan pemerintah membiayai pembangunan ekonomi. Hambatan Salah satu hambatan yang dihadapi sejak penyusunan RUU SJSN adalah kekhawatiran dari kalangan dunia usaha. Selain merasa terbebani iuran jaminan sosial juga ancaman atas usahanya, khususnya industri di sektor asuransi, farmasi, dan kesehatan. Kekhawatiran yang sesungguhnya tidak beralasan karena Program Jaminan Sosial telah diberlakukan di banyak negara, di mana tenaga kerja merupakan aset perusahaan yang harus dijamin kesejahteraannya. Di samping itu, pasar juga masih terbuka bagi kalangan masyarakat yang ingin memiliki santunan dan jaminan yang lebih besar, yang jumlahnya di Indonesia juga cukup bermakna. Dengan kenyataan seperti itu, tuntutan terhadap jaminan sosial makin mendesak, khususnya penyelesaian pembahasan RUU BPJS yang sedang dibahas antara pemerintah dan DPR. (Sulastomo Direktur Operasional PT Askes Indonesia, 1986-2000; Ketua TIM SJSN, 2001-2004)

About Indah Budiarti Indah Budiarti, bekerja untuk Public Services International (www.world-psi.org) sebagai Organising and Communication Coordinator untuk kantor Asia dan Pasifik. Dia memegang pekerjaan ini sejak bulan April 2007 sampai sekarang. Dia juga bertanggung jawab untuk kegiatan dan aktifitas pekerja muda bagi anggota organisasi ini di wilayah Asia dan Pasifik. Sebelumnya dia adalah PSI Coordinator for Indonesia mulai bulan September 1999 sampai dengan Maret 2007. Dan beliau juga merangkap sebagai Project Coordinator untuk PSI/SASK/JHL Trade Union Development Project for Indonesia 2005-2007. Dia adalah alumni Program Master Kebijakan Buruh dan Globalisasi di Global Labour University Jerman (2009/2010). Isi tulisan dari blog ini adalah tanggungjawab dia dan bukan merupakan pernyataan atau nilai dari organisasi dimana dia bekerja. View all posts by Indah Budiarti

http://beritaburuhindonesia.wordpress.com/2011/05/05/menuntut-jaminan-sosial/