Anda di halaman 1dari 28

KONJUNGTIVITIS

Oleh : Minda Wahyuningtias (11.2009.145)

PENDAHULUAN
Konjungtivitis merupakan penyakit mata paling umum di dunia Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau kontak dengan benda asing, misalnya kontak lensa

DEFINISI
Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang ditandai oleh dilatasi vaskular, infiltrasi selular dan eksudasi, atau Radang pada selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata.

ANATOMI KONJUNGTIVA
Konjungtiva merupakan lapisan terluar dari mata yang terdiri dari membran mukosa tipis yang melapisi kelopak mata Secara anatomi, konjungtiva dibagi atas 2 bagian yaitu konjungtiva palpebra dan konjungtiva bulbaris secara letak areanya, konjungtiva dibagi menjadi 6 area yaitu area marginal, tarsal, orbital, forniks, bulbar dan limbal

ETIOLOGI
Konjungtiva bisa mengalami perdangan akibat: Infeksi oleh virus atau bakteri Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang Iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet dari las listrik atau sinar matahari.

KLASIFIKASI
Temuan klinis dan sitologi Gatal Hiperemia Mata berair Eksudasi Adenopati preaurikular viral Minimal Generalisata Banyak Minimal Sering Bakteri Minimal Generalisata Sedang Banyak Jarang Klamidia Minimal Generalisata Sedang Banyak Hanya sering pada konjungtivitis inklusi PMN, sel plasma, badan inklusi Tak pernah alergika Hebat Generalisata Minimal Minimal Tak ada

Pada kerokan dan eksudat yang dipulas Disertai sakit tenggorokan dan demam

Monosit

Bakteri, PMN

Eosinofil

Sesekali

Sesekali

Tak pernah

1. Konjungtivitis bakteri
A. konjungtivitis akut Terdapat dua bentuk konjungtivitis: akut (termasuk hiperakut dan subakut) dan kronik Diagnosis ditentukan dengan adanya:  Hiperemi Konjungtiva  Edema kelopak dengan kornea yang jernih  Kemosis : pembengkakan konjungtiva  Secret mukopurulen atau Purulen Prinsip terapi konjungtivitis adalah dengan obat antibiotik topikal spektrum luas. Pada 24 jam pertama obat diteteskan tiap 2 jam kemudian pada hari berikutnya diberikan 4 kali sehari selama 1 minggu. Pada malam harinya diberikan salep mata untuk mencegah belekan di pagi hari dan mempercepat penyembuhan

Pencegahan: Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudahmembersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih. Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata yang sakit. Jangan menggunakan handuk atau lap bersamasama dengan penghuni rumah lainnya

b. Konjungtivitis gonore Merupakan radang konjungtiva akut dan hebat disertai dengan sekret purulen disebabkan oleh Gonokok. Infeksi pada neonatus terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran, sedang pada bayi penyakit ini ditularkan oleh ibu yang menderita penyakit tersebut Gejala: Konjungtiva yang kaku, dan sakit saat perabaan Kelopak mata membengkak dan kaku sehingga sukar di buka. Terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal superior, sedangkan konjungtiva bulbi merah. Pada stadium supuratif terdapat sekret yang kental

Pemeriksan dan diagnosis: Pemeriksaan sekret dan pewarnaan methylen blue dimana dapat terlihat diplokok di dalam sel leukosit. Pengobatan: Penisilin Salep dan Suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB, atau alternatif lain ceftriaxon 250mg i.m.

c. Konjungtivitis angular Terutama didapatkan di daerah kantus interpalpebra. Disebabkan oleh Basil Moraxella Axenfeld Gejala Ekskoriasi kulit di sekitar daerah meradang Sekret mukopurulen Pasien sering mengedip5,6 Pengobatan: Tetrasiklin oral 250mg, basitrasin 250 iu salep atau kloramfenikol eye drop 2 tetes 3-4 kali sehari.

d. Konjungtivitis mukopurulen Konjungtivitis mukopurulen merupakan konjungtivitis dengan gejala umum konjungtivitis kataral mukoid yang disebabkan oleh Staphylococcus atau basil Koch Weeks.3 Gejala Hiperemi konjungtiva Sekret berlendir yang mengakibatkan kedua kelopak mata melekat terutama saat bangun pagi.

2. Konjungtivitis Virus
a. 

Demam Faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3-40 C, sakit tenggorokan, dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata Folikuler sering sangat mencolok pada kedua konjungtiva dan pada mukosa faring Mata merah dan berair mata sering terjadi, dan kadang-kadang sedikit kekeruhan daerah subepitel Yang khas adalah limfadenopati preaurikuler (tidak nyeri tekan) Terapi Tidak ada pengobatan spesifik. Konjungtivitisnya sembuh sendiri, umumnya dalam sekitar 10 hari

b. Keratokonjungtivitis epidemika  Tanda dan gejala:  Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral.  Pada awalnya pasien merasa ada infeksi dengan nyeri sedang dan berair mata, kemudian diikuti dalam 5-14 hari oleh fotofobia, keratitis epitel, dan kekeruhan subepitel bulat.  Sensai kornea normal.  Nodus preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas.  Edema palpebra, kemosis, dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut.  Folikel dan perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 48 jam.  Dapat membentuk pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau pembentukan symblepharon

 

Pencegahan Cuci tangan secara teratur di antara pemeriksaan dan pembersihan serta sterilisasi alat-alat yang menyentuh mata khususnya tonometer juga suatu keharusan. Tonometer aplanasi harus dibersihkan dengan alcohol atau hipoklorit, kemudian dibilas dengan air steril dan dikeringkan dengan hati-hati Terapi: Sekarang ini belum ada terapi spesifik, namun kompres dingin akan mengurangi beberapa gejala walaupun harus dengan hati-hati karena kemungkinan akan menimbulkan pertumbuhan bakter ataupun infeksi sekunder. kortikosteroid selama konjungtivitis akut dapat memperpanjang keterlibatan kornea sehingga harus dihindari. Agen antibakteri harus diberikan jika terjadi superinfeksi bacterial

c. Konjungtivitis Virus Herpes Simpleks Tanda dan gejala:  pelebaran pembuluh darah unilateral, iritasi, bertahi mata mukoid, sakit, dan fotofobia ringan  Pada kornea tampak lesi-lesi epithelial tersendiri yang umumnya menyatu membentuk satu ulkus atau ulkusulkus epithelial yang bercabang banyak (dendritik)  Vesikel herpes kadang-kadang muncul di palpebra dan tepian palpebra, disertai edema hebat pada palpebra. Khas terdapat sebuah nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika ditekan

Terapi antivirus lokal maupun sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya kornea. Untuk ulkus kornea mungkin diperlukan debridemen kornea dengan hati-hati yakni dengan mengusap ulkus dengan lidi kapas steril, meneteskan obat antivirus, dan menutupkan mata selama 24 jam. Antivirus topical sendiri harus diberikan 7 10 hari: trifluridine setiap 2 jam sewaktu bangun atau salep vida rabine lima kali sehari, atau idoxuridine 0,1 %, 1 tetes setiap jam sewaktu bangun dan 1 tetes setiap 2 jam di waktu malam. Keratitis herpes dapat pula diobati dengan salep acyclovir 3% lima kali sehari selama 10 hari atau dengan acyclovir oral, 400 mg lima kali sehari selama 7 hari.3

d. Konjungtivitis Hemoragika Akut Tanda dan Gejala: Mata terasa sakit, fotofobia, sensasi benda asing, banyak mengeluarkan air mata, merah, edema palpebra, dan hemoragi subkonjungtival. Kadang-kadang terjadi kemosis konjungtiva. Terapi: Tidak ada pengobatan yang pasti.

3. Konjungtivitis Imunologik (Alergik)


a). Konjungtivitis Atopik Tanda dan gejala: Sensasi terbakar, secret berlendir, konjungtiva kemerahan, dan fotofobia. Tepian palpebra eritemosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu. Terdapat papilla halus, namun papilla raksasa tidak berkembang seperti pada keratokonjungtivitis vernal, dan lebih sering terdapat di tarsus inferior. Pada kasus berat, seluruh kornea tampak kabur dan bervaskularisasi, dantajam penglihatan menurun. Terapi: Atihistamin oral termasuk terfenadine (60-120 mg 2x sehari), astemizole (10 mg empat kali sehari), atau hydroxyzine (50 mg waktu tidur, dinaikkan sampai 200 mg). Obat-obat antiradang non-steroid yang lebih baru, seperti ketorolac dan lodoxamid, ternyata dapat mengatasi gejala pada pasien-pasien ini.

b. konjungtivitis Hay Fever (rhinitis alergika) Biasanya ada riwayat alergi terhadap tepung sari, rumput, bulu hewan, dll. Pasien mengeluh gatal, kemerahan, mata berair. Terdapat injeksi ringan di konjungtiva palpebralis dan konjungtiva bulbaris. Selama serangan akan sering ditemukan kemosis berat. Mungkin terdapat sedikit kotoran mata khususnya setelah pasien mengucek-ucek matanya. Jika alergennya menetap dapat timbul konjungtivitis papilar. Pengobatan dilakukan dengan penetesan vasokonstriktorantihistamin topical. Kompres dingin membantu untuk meredakan gatal-gatal. Kekambuhan sering terjadi kecuali bila antigennya dihilangkan. Gejala cenderung menurun sesuai dengan meningkatnya usia.

c). Keratokonjungtivitis Vernal Biasanya pada tahun-tahun pra-pubertas dan berlangsung selama 5-10 tahun. Anak laki-laki > anak perempuan Pasien umumnya mengeluh sangat gatal dan kotoran mata berserat. Biasanya terdapat riwayat alergi pada keluarga. Konjungtiva tampak putih susu, dan terdapat banyak papilla halus di konjungtiva tarsalis inferior. Konjungtiva palpebralis superior sering menampilkan papil raksasa berbentuk polygonal dengan atap rata, dan mengandung berkas papiler. Konjungtivitis vernal adalah penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya.

d). Fliktenulosis Keratokonjungtivitis fliktenularis adalah respons hipersensitivitas lambat terhadap protein mikroba, termasuk protein dari basil tuberkel, staphylococcus spp, candida albicans, haemophillus aegyptius, dan Chlamydia trachomatis serotype L1, L2, dan L3. Fliktenula konjungtiva timbul sebagai lesi kecil yang keras, merah, meninggi dan dikelilingi zona hyperemia. Di limbus sering berbentuk segitiga dengan apeks mengarah ke kornea. Disini terbentuk pusat putih-kelabu yang segera menjadi ulkus dan mereda dalam 10-12 hari. Lesi awal fliktenula terjadi di limbus, tetapi ada juga yang di kornea, bulbus, dan sangat jarang di tarsus. Fliktenularis konjungtivitis biasanya hanya menimbulkan iritasi dan air mata, tetapi fliktenula di kornea dan limbus umumnya disertai fotophobia hebat. Fliktenulosis sering dipicu oleh blefaritis akut, konjungtivitis bacterial akut dan defisiensi vitamin A

e). Konjungtivitis Vernalis Suatu inflamasi mata bagian luar yang bersifat musiman dan dianggap sebagai suatu alergi Diagnosis Ditemukan adanya tanda-tanda radang konjungtiva Ditemukan adanya giant papil pada konjungtiva palpebra superior Ditemukan adanya tantras dot pada limbus kornea Kadang disertai shield ulcer Bersifat kumat-kumatan

Gejal dan Tanda :


 Mata

merah (biasanya rekuren)  Kadang disertai rasa gatal yang hebat  Adanya riwayat alergi  Adanya hipertrofi papil difus pada konjungtiva tersal terutama superior  Adanya penebalan limbus dengan tantras dot  Discharge mukoid dan menjadi mukopurulen apabila terdapat infeksi sekunder

Terapi Kasus ringan : terapi edukasi, pemberian antihistamin, vasokonstriktor, mast cell stabilizer Kasus sedang-berat : mast cell stabilizer, antiinflamasi steroid topikal, kortikosteroid topical atau agen modulator siklosporin. Pada pasien dengan sheld ulcer bias diberikan sikloplegik yang agresif dan antibiotic topikal Dapat pula diberikan antihistamin sistemik

KESIMPULAN
Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi belakang dan kelopak mata. Konjungtivitis dibedakan akut dan kronis. Gambaran klinis: hiperemi konjungtiva bulbi (injeksi konjungtiva), lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih nyata di pagi hari, pseudoptosis akibat bola mata membengkak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membrane, pseudomembran granulasi, flikten, mata terasa seperti adanya benda asing, dan adenopati preaurikuler.

Obat tetes atau salep antibiotik biasanya digunakan untuk mengobati konjungtivitis bakteri. Tablet atau tetes mata antihistamin cocok diberikan pada konjungtivitis alergi. Selain itu, air mata buatan juga dapat diberikan agar mata terasa lebih nyaman, sekaligus melindungi mata dari paparan alergen, atau mengencerkan alergen yang ada di lapisan air mata. Untuk konjungtivitis