Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

1.1

Pengertian Surveilanse Epidemiologi

Istilah surveilans berasal dari bahasa Prancis, yaitu surveillance, yang berarti mengamati tentang sesuatu. Meskipun konsep surveilans telah berkembang cukup lama, tetapi seringkali timbul kerancuan dengan kata surveillance dalam bahasa inggris, yang berarti mengawasi perorangan yang sedang dicurigai. Sebelum tahun 1950, surveilans memang diartikan sebagai upaya pengawasan secara ketat kepada penderita penyakit menular, sehingga penyakitnya dapat ditemukan sedini mungkin dan diisolasi secepatnya serta dapat diambil langkah-langkah pengendalian seawal mungkin. Selanjutnya, pengertian surveilans epidemiologi yaitu kegiatan untuk memonitor frekuensi dan distribusi penyakit di masyarakat. Ada beberapa definisi surveilans, diantaranya adalah : a. Menurut The Centers for Disease Control, surveilans kesehatan masyarakat adalah: The ongoing systematic collection, analysis and interpretation of health data essential to the planning, implementation, and evaluation of public health practice, closely integrated with the timely dissemination of these data to those who need to know. The final link of the surveillance chain is the application of these data to prevention and control.

b. Menurut Karyadi (1994), surveilans epidemiologi adalah : Pengumpulan data epidemiologi yang akan digunakan sebagai dasar dari kegiatan-kegiatan dalam bidang penanggulangan penyakit, yaitu :

1. Perencanaan program pemberantasan penyakit. Mengenal epidemiologi

penyakit berarti mengenal masalah yang kita hadapi. Dengan demikian suatu perencanaan program dapat diharapkan akan berhasil dengan baik.

2. Evaluasi program pemberantasan penyakit. Bila kita tahu keadaan penyakit sebelum ada program pemberantasannya dan kita menentukan keadaan penyakit setelah program ini, maka kita dapat mengukur dengan angka-angka keberhasilan dari program pemberantasan penyakit tersebut.

3. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)/ wabah. Suatu sistem surveilans yang efektif harus peka terhadap perubahan-perubahan pola penyakit di suatu daerah tertentu. Setiap kecenderungan peningkatan insidens, perlu secepatnya dapat diperkirakan dan setiap KLB secepatnya dapat diketahui. Dengan demikian suatu peningkatan insidens atau perluasan wilayah suatu KLB dapat dicegah. c. Menurut Nur Nasry Noor (1997), surveilans epidemiologi adalah : Pengamatan secara teratur dan terus menerus terhadap semua aspek penyakit tertentu, baik keadaan maupun penyabarannya dalam suatu masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangannya. Tujuan surveilans epidemiologi adalah : 1. Memantau kecenderungan penyakit 2. Deteksi dan prediksi terjadinya KLB 3. Memantau kemajuan suatu program pemberantasan 4. Menyediakan informasi untuk perencanaan pembangunan pelayanan kesehatan 5. Pembuatan policy dan kebijakan pemberantasan penyakit

Hipertensi adalah tekanaan sistolik > mmHg dan tekanan diastolic > 90 mmHg secara kronik. Hipertensi sering dijumpai pada individu diabetes mellitus (DM) dimana diperkirakan prevalensinya mencapai 50-70%. Modifikasi gaya hidup sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat

dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi. Merokok adalah faktor risiko utama untuk mobilitas dan mortalitas Kardiovaskuler. Di Indonesia banyaknya penderita Hipertensi diperkirakan 15 juta orang tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui factor risikonya, dan 90% merupakan hipertensi esensial.Saat ini penyakit degeneratif dan kardiovaskuler sudah merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti strok untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan mesyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, di perkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini. Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan menunjukkan, di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case-finding maupun penatalaksanaan besar penderita

pengobatannya jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian

hipertensi tidak mempunyai keluhan. Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15% tetapi angka-angka ekstrim rendah seperti di Ungaran, Jawa Tengah 1,8%; Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya 0,6%; dan Talang Sumatera Barat 17,8%. Nyata di sini, dua angka yang dilaporkan oleh kelompok yang sama pada 2 daerah pedesaan di Sumatera Barat menunjukkan angka yang tinggi. Oleh sebab itu perlu diteliti lebih lanjut, demikian juga angka yang relatif sangat rendah. Oleh karena itu, negara Indonesia yang sedang membangun di segala bidang perlu memperhatikan tindakan mendidik untuk mencegah timbulnya penyakit seperti hipertensi, kardiovaskuler, penyakit degeneratif dan lain-lain, sehingga potensi bangsa

dapat lebih dimanfaatkan untuk proses pembangunan. Golongan umur 45 tahun ke atas memerlukan tindakan atau program pencegahan yang terarah. Tujuan program penanggulangan penyakit kardiovaskuler adalah mencegah peningkatan jumlah penderita risiko penyakit kardiovaskuler dalam masyarakat dengan menghindari faktor penyebab seperti hipertensi, diabetes, hiperlipidemia, merokok, stres dan lain-lain.

A. TUJUAN UMUM

1. Untuk mengetahui masalah pelaksanaan surveilense epidemiologi dari penyakit yang bersangkutan. 2. Untuk mengetahui gambaran epidemiologi dari penyakit yang bersangkutan. 3. Untuk mengetahui kecenderungan penyakit yang bersangkutan.
4. Untuk memberikan informasi atau indicator yang akan digunakan dalam

seksi metode dari BAB III. Misalnya : keterangan tentang apa yang dimaksud dengan attack rate, prevalence, insiden, proporsi, dan lain-lain.
5. Untuk memberikan informasi yang akan digunakan dalam BAB V

(Pembahasan, misalnya : Penyebab masalah, dll. Tujuan kami melaksanakan surveilense epidemiologi terhadap penyakit hipertensi didaerah Cempaka Putih, Jakarta pusat adalah untuk :
a. Mengetahui data kesakitan di Rumah Sakit sebagai sumber data

Surveilanse Terpadu Penyakit terdistribusikannya data kesakitan kepada unit surveilense Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota, unit surveiloanse Dinas Kesehatan Provinsi dan unit surveilense Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Tidak Menular dan Penyehatan Lingkungan. b. Terlaksananya pengolahan dan penyajian data penyakit dalam bentuk table, grafik, peta, dan analisis epidemiologi lebih lanjut oleh Unit Surveilanse Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes.
c. Terdistribusi hasil pengolahan dan penyajian data penyakit beserta hasil

analisis epidemiologi lebih lanjut dan rekomendasi kepada program terkait di Puskesmas, Rumah Sakit, Laboratorium, Kabupaten / Kota,

Propinsi, Nasional, pusat-pusat kajian dan perguruan tinggi serta sector terkait lainnya.

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 1. Tujuan 1.1 Definisi Hipertensi Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka

bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya. 1.2 Gejala Sebagian penderita hipertensi tidak menimbulkan gejala,

meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala dapat terjadi secara bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi ( hipertensi ) namun bisa saja bukan merupakan gejala hipertensi. Dalam hal ini gejala yang dimaksud seperti sakit kepala, pendarahan dari hidung (mimisan), pusing, wajah kemerahan dan kelelahan. Gejala diatas adalah gejala umum tapi tidak dapat dijadikan sebagai patokan bahwa seseorang yang mengalami gejala tersebut menderita penyakit darah tinggi karena kenyataannya gejala yang telah disebutkan tadi juga dapat dialami pada seseorang yang memilik tekanan darah normal. Sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan gejala kenaikan tekanan darah karena memang sifat tekanan darah itu senantiasa berubah-ubah dari jam ke jam. Pada orang normal, perubahan itu berada pada kisaran normal yaitu sekitar 120/80 mm Hg. Sedangkan perubahan pada penderita hipertensi yang belum menjalankan pengobatan dan perawatan sering tidak menentu sehingga tekanan darahnya terkadang normal dan terkadang tinggi sekali. Pada penderita hipertensi yang berkategori berat , menahun dan belum menjalani pengobatan dan perawatan maka bisa timbul gejala sebagai berikut. Diantaranya sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas dan gelisah. selain itu gejala lainnya adalah pandangan mata menjadi kabur karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. Terkadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensi yang memerlukan penanganan segera. 1.3 Perjalanan Penyakit

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.

Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Corwin,2001). Pada adrenal juga saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis aktivitas yang

merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar terangsang Medula mengakibatkan tambahan vasokontriksi. adrenal mengsekresi epinefrin

menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mengsekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapt memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi ( Dekker, 1996 ). Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,

hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang

kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Corwin,2001). 1.4 Etiologi Pada sekitar 90% penderita hipertensi, penyebabnya tidak diketahui dan keadaan ini dikenal sebagai hipertensi esensial atau hipertensi primer. Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal.Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB). Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) ataunorepinefrin(noradrenalin). Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal. Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
1. Penyakit Ginjal

- Stenosis arteri renalis - Pielonefritis - Glomerulonefritis - Tumor-tumor ginjal

- Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan) - Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal) - Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
2. Kelainan Hormonal

- Hiperaldosteronisme - Sindroma Cushing - Feokromositoma


3. Obat-obatan

- Pil KB - Kortikosteroid - Siklosporin - Eritropoietin - Kokain - Penyalahgunaan alkohol - Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4. Penyebab Lainnya

- Koartasio aorta - Preeklamsi pada kehamilan - Porfiria intermiten akut - Keracunan timbal akut.

1.1 Klasifikasi Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa Kategori Normal Pre-Hipertensi Stadium 1 Stadium 2 Tekanan Darah Sistolik Dibawah 120 mmHg 120-139 mmHg 140-159 mmHg 160 mmHg atau lebih Tekanan Darah Diastolik Dibawah 80 mmHg 80-89 mmHg 90-99 mmHg 100 mmHg atau lebih

Hipertensi Mendesak (tanpa disertai gejala kerusakan organ) Hipertensi maligna diatas 180 mmHg diatas 110 mmHg

220 mmHg atau (disertai gejala kerusakan organ) lebih

120 mmHg atau lebih

1.2 Prevalensi /proporsi Penyakit tidak menular (PTM) utama (kardiovaskular, stroke, kanker, diabetes melitus, penyakit paru kronik obstruktif) telah meningkat di beberapa negara, terutama di Negara berkembang. WHO memperkirakan pada tahun 2020 PTM akan menyebabkan 73% kematian dan 60% seluruh kesakitan di dunia. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) merupakan unit baru yang dibentuk oleh Departemen Kesehatan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Direktorat PPTM terdiri dari 5 Subdit yaitu: Subdit Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Subdit Diabetes Melitus (DM) & Penyakit Metabolik, Subdit Kanker, Subdit Penyakit Kronik & Degeneratif, serta Subdit Gangguan Akibat Kecelakaan & Cedera. Dalam pelaksanaan Grand Strategi Depkes RI, Direktorat PPTM membagi program pengendalian dalam tiga fase yaitu: fase pertama (2005-2009) pengembangan sistem, fase kedua (2010-2014) penguatan sistem, dan fase ketiga (20152019) pemantapan sistem. Sebagai panduan perencanaan dalam management pengendalian PTM, Direktorat PPTM mengembangkan 9 elemen YU yaitu: Aspek Legal, Sosialisasi Advokasi, Inovasi Program, Human Investment, Kemitraan, Logistik dan Suplai Manajemen, Surveilans dan Tekhnologi Informasi, Monitoring dan Evaluasi, Budget Development. Dalam profil ini akan dipaparkan gambaran penyakit tidak menular dan faktor risko bersama dari berbagai sumber, baik yang bersumber dari Direktorat PPTM yaitu

pengumpulan data yang dilakukan oleh Subdit DM, Subdit Jantung & Pembuluh Darah, dan Subdit Kanker, maupun yang bersumber dari luar Direktorat PPTM seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), Polri, Komnas, dll. Pengumpulan data yang dilaksanakan oleh subdit DM adalah berdasarkan hasil laporan dari penggunaan alat deteksi dini yaitu body fat analyzer untuk mengetahui kegemukan dan Glukometer untuk mengetahui kadar glukosa dalam darah. Sedangkan pengumpulan data yang dilaksanakan oleh Subdit Jantung & Pembuluh Darah adalah dengan survey cepat, pengumpulan data dilakuan di 7 provinsi, setiap provinsi dipilih satu Puskesmas. Walaupun hasilnya tidak dapat di gereralisasi tetapi dapat memberikan gambaran kondisi penyakit tidak menular di daerah tersebut. Pengumpulan data yang dilakukan oleh Subdit Kanker adalah merupakan hasil deteksi dini penyakit kanker payudara dan kanker leher rahim di daerah pilot project Berikut ini gambaran profil setiap program pengendalian penyakit tidak menular yang ada di Direktorat PPTM. 1. Data Kematian Dan Kesakitan Penyakit Tidak Menular (PTM) Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2008, memperlihatkan telah terjadi pergeseran penyebab kematian untuk semua umur, dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Pada usia penduduk di atas 5 tahun, penyebab utama kematian adalah stroke, hal ini terjadi baik di pedesaan ataupun di perkotaan. a. Mortalitas (kematian) Proporsi penyebab kematian terbesar pada kelompok umur : 45-54 tahun di daerah perkotaan adalah stroke disusul dengan Diabetes Mellitus (DM) dan Penyakit Jantung Iskemik. Sedangkan proporsi penyebab kematian terbesar di pedesaan adalah TB disusul Stroke dan Hipertensi. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel 1.1
Table 1.1

Sumber yang sama penyebab kematian pada kelompok umur 55 64 tahun adalah stroke dan hipertensi merupakan proporsi penyebab kematian dengan urutan teratas baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Penyakit jantung dan kanker menunjukkan angka yang cukup tinggi di bandingkan penyakit menular yang lainnya (lihat Tabel 1.2).
Table 1.2

Pola kematian yang sama dapat dilihat dari data tabulasi dasar di RS seluruh Indonesia tahun 2007, yang menunjukkan hipertensi merupakan penyebab kematian yang kedua.

Table 1.3

Data kesakitan Penyakit Tidak Menular baik rawat jalan maupun rawat inap pada tahun 2006 dan 2007 berdasarkan SIRS memperlihatkan bahwa cedera Intrakranial dan cedera lainnya, hipertensi essential maupun cedera karena angkutan darat menunjukkan presentase yang tinggi.

Table 1.4

Table 1.5

Data Kematian Dan Kesakitan Berdasarkan Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) a. Penyakit Jantung & Pembuluh Darah
Table 1.6

Stroke merupakan penyebab kematian dari penyakit jantung dan pembuluh darah terbesar dengan jumlah kematian sebesar 4,884 (36,7%). Sedangkan hipertensi dan penyakit jantung lainnya mempunyai potensi sebagai penyebab kematian dengan kejadian diatas 2000 kasus. Prevalensi penyakit jantung menurut provinsi, memperlihatkan bahwa prevalensi tertinggi berada di provinsi Nagroe Aceh Darussalam (NAD), Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sumatera Barat (Sumbar) serta yang terendah adalah provinsi Bengkulu (grafik 1.1)

Grafik 1.1

1.7

Data Faktor Resiko


a. Data Faktor Risiko PTM bersama 1) Diet Grafik 1.2

Berdasar grafik diatas terlihat prevalensi kurang makan buah dan sayur menurut provinsi, memperlihatkan bahwa hampir seluruh provinsi menunjukkan prevalensi kurang makan buah dan sayur sangat tinggi, kecuali provinsi Lampung, DI Yogyakarta dan Gorontalo. Hasil survei Faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh darah di 7 provinsi terpilih yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Riau, Jawa Timur dan DI Yogyakarta memperlihatkan Kebiasaan mengkonsumsi sayur dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral sesuai dengan anjuran pedoman umum gizi seimbang juga belum sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat. Survei menemukan hanya terdapat 32,8% yang mengkonsumsi buah setiap hari.
Grafik 1.3

Untuk melihat konsumsi makanan yang biasa diawetkan memperlihatkan Konsumsi Makanan Berisiko (berlemak, diawetkan, & gorengan) dari 33 provinsi dapat dilihat dari grafik 1.4. Hampir lima puluh persen dari seluruh provinsi makan makanan berlemak, sedangkan yang mengkonsumsi makanan yang diawetkan bervariasi disetiap provinsi.

Grafik 1.4

2) Kurang aktivitas fisik


Grafik 1.5

Data kurang aktifitas fisik secara Nasional menunjukkan masih rendah (grafik 1.5). Hasil survei Faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh darah di 11 provinsi tahun 2007 memperlihatkan Kebiasaan aktifitas fisik sebesar 24,8% yang melakukan aktifitas fisik (grafik 1.6).
Grafik 1.6

3) Kebiasaan merokok
Grafik 1.7

Grafik 1.8 menunjukkan prevalensi perokok aktif berkisar antara 19 29 %. Hal ini memberikan gambaran umum tentang luasnya kebiasaan merokok pada masyarakatdiIndonesia. Sama halnya dengan perokok aktif, prevalensi perokok kadangkadang juga memberikan hasil yang sama di tiap provinsi, yaitu dibawah 10%.
Grafik 1.8

4) Tekanan darah
Grafik 1.9

Riset Kesehatan Dasar menunjukan prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia adalah provinsi Kalimantan Selatan mencapai 39,6% . Hipertensi dikenal menjadi faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Tingginya prevalensi hipertensi tidak terlepas dari kebiasaan/pola makan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia

Grafik 1.10

Grafik 1.11

Profil hipertensi yang ditunjukkan berdasarkan pengumpulan data faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah tahun 2007 dan 2008 mencapai 37,5% dan 34,2% (grafik 1.10 dan grafik 1.11). BAB III RANCANGAN SURVEILENS 3.1 Tujuan Khusus

Mencakup apa yang akan dicapai dalam tujuan umum yaitu meliputi : 1 1.1 1.2 1.3 1.4 2 2.1 orang. 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 Untuk mengetahui distribusi proporsi distribusi penyakit yang bersangkutan Untuk mengetahui distribusi proporsi distribusi penyakit yang bersangkutan Diperolehnya kecenderungan atau trend penyakit menurut orang. Diperolehnya kecenderungan atau trend penyakit menurut tempat. Diperolehnya kecenderungan atau trend penyakit menurut waktu. menurut tempat. menurut waktu. Untuk mengetahui masalah pelaksanaan surveilens epidemiologi. Untuk mengetahui masalah pengumpulan data. Untuk mengetaui masalah dan analisa data. Untuk mengetahui masalah penyebaran informasi dan interpretasi data. Diperolehnya kecenderungan penyakit yang bersangkutan. Untuk mengetahui gambaran epidemiologi Untuk mengetahui distribusi proporsi penyakit yang bersangkutan menurut