Anda di halaman 1dari 4

http://tegalpanggung.blogspot.

com/

Aspek Ekonomi Penduduk RW 7 Tukangan Tegalpanggung Kawasan Bantaran Rel KA Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Jumlah Penduduk Jumlah 185 orang, Kepala keluarga (KK) 53 orang. Mata pencaharian warga masyarakat RT 36 RW 7 Tukangan kelurahan Tegalpanggung yang berada di kawasan bantaran rel KA Stasiun Lempuyangan Yogyakarta bermacam-macam, diantarannya Wiraswasta (10%), PNS (2%), Pegawai Swasta (19%), Pensiunan (3%), Pelajar (25%), dan Belum bekerja (15%), Lainlain (14%), rasio yang bekerja dan yang tidak bekerja adalah 88/97=0,9%.

Mata Pencaharian

Wiraswasta PNS Pegawai Swasta Pensiunan Pelajar Lain-lain Belum bekerja

Melalui survey lapangan, diketahui mata pencaharian penduduk justru tidak signifikan hubungannya dengan keberadaan stasiun lempuyangan, dari data diatas saja diperkirakan hanya 14% yang pekerjaannya lain-lain, dan ternyata banyak yang tidak berhubungan dengan keberadaan stasiun ketika di kroscek ke lapangan, namun belum didapat data survey primer pekerjaan penduduk lain-lain ini apa saja. Potensi penduduk yang akan berkembang sesuai tingkatan pendidikan tergambarkan dalam grafik diatas, penduduk yang tidak bersekolah sebesar 16%, selebihnya minimal mempunyai ijasah yang dapat digunakan untuk melamar pekerjaan untuk non wirausaha yakni SD. Hal ini berarti kemiskinan yang terjadi tidak berkorelasi kuat terhadap status pendidikan yang capai penduduk. Rasio penduduk laki-laki dan perempuan adalah 0,8. Dikatakan oleh Ketua Rukun Warga (RW) 7 Tukangan Kelurahan Tegalpanggung, pertumbuhan ekonomi dan penduduk disana tidak begitu signifikan bebrapa tahun terakhir ini. Bapak Iskak menambahkan, kelurahan Tegalpanggung termasuk 3 kelurahan di Kota Yogyakarta yang mendapat predikat termiskin, utamanya berada di RW 7 ini, dari pengamatan, wilayah yang termiskin adalah wilayah bantaran rel KA. Melalui program Segara Amarta (Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyakarta), yakni program pemberdayaan masyarakat miskin dengan dana 500jt, masih belum dapat mengentaskan kemiskinan di wilayah ini.

Kawasan ini adalah kawasan pencitraan kota Yogyakarta, harus dapat menjadi contoh, termasuk kehidupan masyarakatnya. Mata pencaharian yang dapat dikembangkan disini adalah wirausaha yang menawarkan berbagai kebutuhan masyarakat yang baru saja sampai di kota Yogyakarta. Hal ini justru terbalik, sebagian besar panyedia barang dan jasa di pusat kota adalah penduduk pendatang, mereka yang menjamu pendatang lainnya, warga asli yang juga di layani oleh pendatang. Barangkali pengembangan sector ini yang akan berkembang, mengingat ada 15% penduduk yang belum bekerja, potensi ini akan ditangkap oleh sector wirausaha yang baru diserap oleh 10% penduduk. Penduduk produktif sejumlah 38%, non produktif sejumlah 62%, sehingga rasio dipendensinya hamper 1:2. Pendapatan per kapita masyarakat tergolong rendah, sekitar Rp ,00, penghasilan ini selain digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan keluarga sehari-hari, juga harus disisihkan untuk membayar biaya sewa lahan yang ternyata lebih mahal dari pajak regular yang ditetapkan oleh pemerintah. Perhitungan yang didasarkan pada LL 0300 Awalnya masyarakat secara bebas menempati lahan-lahan PT KAI, namun setelah terjadi perbaikan peraturan, lahan PT KAI non Sultan Ground ditarik biaya sewa. Untuk perhitungan aspek pendanaan dan pembiayaan pembangunan rumah/rusun baru, mengingat struktur masyarakat di RW ini adalah dominan menengah ke bawah, maka pihak PT KAI atau Kraton dalam hal ini penguasa lahan dikawasan itu, dapat memberikan kemudahan, sebagaimana yang telah terlksana selama ini, untuk hunian rusunawa yang akan menjadi proyek kedua pemilik lahan.

Kemudahan inilah yang dimaksudkan Program Pemprov D.I.Y SEGORO AMARTO , upaya sinergi pengentasan kemiskinan warga masyarakat melalui basis RW.