Anda di halaman 1dari 3

Ayatayat

C I N T A
Muhammad Akbar
Beberapa tahun yang lalu, dunia perfilman Indonesia semarak oleh demam film layar lebar berjudul Ayat-ayat Cinta, kisah yang diangkat dari sebuah novel karangan Habiburrahman El Shirazy. Kehadiran film tersebut mengulang kesuksesan novel berjudul sama yang menjadi best seller, terjual ratusan bahkan ribuan eksemplar. Di banyak media massa dan elektronik, novel karya alumni mesir itu menjadi tema yang hangat diperbincangkan. Betapa tidak, air mata kan bercucuran seolah tak tertahankan bila mengikuti kisah cinta anak manusia dalam novel itu. Bahkan konon, Presidan SBY dan Istrinya pun menitikkan air mata, terbawa alur ceritanya yang cukup menyentuh.

ahukah pembaca yang budiman, bahwa lebih dari 14 abad silam, Ar-Rahmaan, Allah Subhanahu wa Taala telah menurunkan ayat-ayat cintaNya kepada kita. Mari kita simak terjemahan dalam surat Ali Imran ayat 31 Allah berfirman, katakanlah jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Inilah ayat cinta yang sesungguhnya. Betapakah kita tidak berbahagia, jika yang langsung mengatakan cinta adalah Allah.

menghayal menembus cakarawala alam bawah sadar, seakan kita ikut dalam alurnya.

Maka, jika kita bisa menangis karena membaca novel Ayat-ayat cinta, bagaimanakah halnya dengan membaca ayat-ayat Allah. Bukankah kita lebih pantas meneteskan air mata? Hal ini mendorong penulis untuk mengangkat pembahasan ini kepada sidang pembaca yang budiman.

Dalam ayat cinta yang Allah turunkan kepada hambaNya mengisyaratkan satu pesan penting. Jika kita tidak mengikuti anjuran itu maka kita tidak akan mendapatkan cinta Allah. Pesan itu adalah kita harus mengikuti dan mencontah Rasulullah saw. Tak kalah pentingnya kita harus mencintai Rasulullah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim Rasulullah bersabda yang artinya, Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih mereka cintai daripada anak-anaknya, orang-tuanya dan seluruh manusia.

Tak sedikit diantara kita, cowok ataupun cewek yang lebih memilih memanjakan diri dengan membaca dan mengoleksi novel-novel melankolis dari meluangkan waktu tuk tilawah Al-Quran. Jika kita cermati secara mendalam, novel ayat-ayat cinta tidak memberikan sesuatu yang berharga kepada kita kecuali sedikit saja. Kita dibuat

Ya, dengan mencintai Rasulullah maka kita akan mendapatkan cinta Allah SWT. Sekilas hal ini nampak remeh, namun mampukah kita mengikuti Rasulullah dengan sebenarnya? Apakah dengan mengadakan Dzikir Akbar dan Majelis Dzikir Rasulullah dikatakan bukti cinta kepada Rasulullah? Atau dengan mengadakan perayaan Maulidan dan Isra Miraj dikatakan pengikut setia Rasulullah?

Tentu saja mencintai,

tidak. Adapun mengikuti,

cara dan

mencontoh Rasulullah haruslah sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, bukan justru membuat hal baru yang tidak pernah dicontohkan sebelumnya. Rasulullah bersabda, barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka tertolak. Bahkan lebih keras lagi Rasulullah bersabda, barangsiapa yang membuat kedustaan denganku maka hendaklah ia mempersiapkan duduknya di neraka. Oleh karena itu hendaklah kita berhati-hati, jangan sampai niat ingin mendapatkan cinta Rasulullah tapi justru mendapatkan murka darinya. Pepatah arab mengatakan, Semua orang mengaku mempunyai hubungan dengan laila namun laila sendiri tidak mengenalnya.

mereka juga melakukan dzikir, shalawat, dan lain-lain. Namun perlu kita ketahui bahwa syarat diterimanya amal ada dua. Pertama harus ikhlas. Kedua harus sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah. Apakah kita menganggap bahwa yang Rasulullah sampaikan belum sempurna sehingga perlu kita tambah? Apakah maksud dari surat Al Maidah ayat 3. Apakah kita merasa lebih pandai atau lebih shaleh daripada Rasulullah sehingga perlu menambah dengan alasan sesuatu yang baik. Ketauhuilah bahwa tidak ada kebaikan kecuali telah Rasulullah lakukan. Yakinlah bahwa apa yang hari ini kita lakukan selama masih sesuai dengan contoh Rasulullah, maka itulah yang terbaik. Bilal Ibn Rabah rela dijemur di tengah terik matahari bahkan rela dicambuk demi membela dan memurnikan agama Rasulullah. Tsabit Ibn Qais terpaksa mengurung diri di kamarnya setelah turunya surat Al Hujarat ayat 2, Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian angkat suara melebihi suara Nabi dan janganlah kalian berkata kepada Nabi dengan suara keras.. Beliau merasa malu terhadap Rasulullah karena selama ini suara beliau paling keras dihadapan Rasulullah.

Dalam kitab arbain karya Imam An Nawawi hadits ke-28 dari Abu Najih Al Irbad Ibn Sariah beliau berkata: Suatu hari ketika para sahabat sedang berkumpul, Rasulullah memberi nasehat kepada kami. Nasehat yang meluluhkan hati dan membuat airmata bercucuran. Kami bertanya, Wahai Rasulullah seolah nasehat ini nasehat terakhir bagi kami, maka wasiatkanlah kepada kami. Rasulullah bersabda, Aku nasehatkan kepada kalian untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah. Tetaplah mendengar dan taat walaupun kalian diperintah oleh seorang hamba sahaya (budak). Barangsiapa diantara kalian yang hidup setelahku maka akan menyaksikan banyak perselisihan. Hendaklah kalian berpengang teguh kepada sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah olehmu bidah karena sesungguhnya semua bidah itu sesat. (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi). Banyak orang yang beralasan bahwa melakukan sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasulullah adalah hal yang boleh-boleh saja selama hal itu masih baik. Mereka menganggap bahwa ibadah yang mereka lakukan adalah sesuatu yang baik karena

Kalau seandainya para sahabat rela mengorbankan nyawa demi membela Rasulullah maka mengapa kita tidak rela mengorbankan waktu untuk mengerahkan seluruh kemampuan kita demi memurnikan peribadatan, sesuai tuntunan Rasulullah. Seharusnya kita malu, bila melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari Rasulullah. Ketahuilah bahwa dengan menaati Rasulullah maka kita telah menaati Allah. Allah berfirman, Barangsiapa yang menaati Rasulullah maka sungguh ia telah menaati Allah. inilah konsekuensi ayat-ayat cinta yang sebenarnya.

Sebagaimana diungkapkan (dalam syair) Artinya:

Engkau bermaksiat kepada ilahi, sedangkan engkau mendakwa cinta kepadaNya Ini dalam analogi adalah kemustahilan yang diada-adakan Jika saja dakwaan cintamu jujur, niscaya engkau akan mentaatiNya Sesungguhnya seorang pecinta terhadap yang dicintai, akan taat

Semoga dengan membaca tulisan sederhana ini, kita dapat kembali bersemangat menghidupkan sunnah Rasulullah. Jangan pernah merasa

malu atau takut dalam menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah karena kita berada dalam kebenaran. Kita patut berbangga dengan kesempurnaan syariat yang dibawa Rasulullah dibawah kalimat tauhid La ilaha illallah. Terakhir, sebagai kabar gembira kepada kita sekalian, Allah berfirman dalam surat An Nisa ayat 69, Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orangorang yang mati syahid, dan orangorang shaleh dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.[]