Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

Retina adalah jaringan tipis dan transparan yang peka terhadap cahaya, yang terdiri dari sel-sel dan serabut saraf. Retina melapisi dinding mata bagian dalam seperti kertas dinding melapisi dinding rumah. Retina berfungsi seperti lapisan film pada kamera foto, cahaya yang melalui lensa akan difokuskan ke retina. Sel-sel retina yang peka inilah yang menangkap gambar dan menyalurkannya ke otak melalui syaraf optik.

Lepasnya retina dapat menyerang satu dari 10.000 orang setiap tahun di Amerika Serikat. Kejadian ini merupakan masalah mata yang serius dan dapat terjadi pada usia berapapun, walaupun biasanya terjadi pada orang usia setengah baya atau lebih tua. Kejadian ini lebih besar kemungkinannya terjadi pada orang yang menderita rabun jauh (miopia) atau berkacamata minus dan pada orang orang yang anggota keluarganya ada yang pernah mengalami lepasnya retina. Lepasnya retina dapat pula terjadi akibat pukulan yang keras. Selain itu, walaupun agak jarang, kondisi ini merupakan penyakit keturunan dan bahkan terjadi pada bayi dan anakanak. Bila tidak segera dilakukan tindakan, lepasnya retina akan mengakibatkan cacat penglihatan atau kebutaan.

BAB II
FANTOM
1. IDENTIFIKASI Nama Umur Agama Bangsa Pekerjaan Alamat 2. ANAMNESIS Keluhan Utama Mata sebelah kanan kabur sejak 3 hari yang lalu Riwayat Perjalanan Penyakit 4 hari yang lalu pasien mengeluh seperti melihat ada bintik-bintik hitam yang melayang di mata kanannya setelah pasien beraktivitas. Pandangan kabur (-). Mata merah (-). Mata nyeri (-) Pandangan tertutup tirai (-). Penglihatan seperti melihat kilatan cahaya (-). Penglihatan seperti melihat pelangi (-). Pandangan seperti melihat terowongan jika mata kiri ditutup (-). Pasien juga tidak kesulitan berjalan maupun beraktivitas. Sakit kepala (-), mual (-), muntah (-). Pasien belum berobat untuk keluhan ini. 3 hari yang lalu pasien mengeluh mata kanannya tiba-tiba kabur setelah pasien beraktivitas. Pandangan mata kanan tetap saja kabur walaupun pasien telah memakai kacamata yang biasa dipakainya. Pasien juga mengeluh mata seperti tertutup tirai dan seperti melihat adanya kilatan cahaya. Pasien melihat seperti ada bintik-bintik hitam yang melayang di mata kanannya. : Islam : Indonesia : Wiraswasta : Luar kota : Hatta : 35 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Mata merah (-), mata nyeri (-), berair-air (-). Penglihatan seperti melihat pelangi (-). Pandangan seperti melihat terowongan jika mata kiri ditutup (-), sakit kepala (-), mual (-), muntah (-) sehingga pasien datang berobat ke RSMH. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat memakai kacamata ada (kacamata minus) dengan koreksi kacamata terakhir untuk mata kanan minus 8 dan untuk mata kiri minus 3 Riwayat trauma terutama pada mata disangkal Riwayat kencing manis disangkal Riwayat darah tinggi disangkal Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama dalam keluarga disangkal 3. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Kesadaran Nadi Respiratory rate Suhu : compos mentis : 84 x/menit : 20 x/menit : 36,80C Tekanan darah: 120/80 mmHg

Status Oftalmologikus OD OS

Segmen Anterior Visus Koreksi kacamata Dengan kacamata TIO KBM GBM 1/300 S-800 1/300 13 mmHg orthoforia 6/60 PH 6/30 S-300 6/6 18,5 mmHg

Palpebra Superior Palpebra inferior Konjungtiva tarsal superior Konjungtiva tarsal inferior Konjungtiva bulbi Kornea COA Iris Pupil Lensa

Tenang Tenang Tenang Tenang tenang Jernih Sedang, jernih Gambaran baik Bulat, Sentral, RC (+) 3 mm Jernih

Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang Jernih Sedang, jernih Gambaran baik Bulat, Sentral, RC (+) 3 mm Jernih

Segmen posterior RFOD (+) Papil Bulat, batas tegas, warna merah normal, c/d = 0,3 a/v = 2:3 RFOS (+) Bulat, batas tegas, warna merah normal, c/d = 0,3 a/v = 2:3

Miopic cressent (+) Makula Retina Makula off, RF(+) Undulasi (+) di kuadran superior Tygroid app (-) Robekan (+) di kuadran superotemporal, bentuk bulat Demark si line (+) 4. DIAGNOSIS Ablasio retina OD ec high miopia OD + miopia sedang OS + Anisometropia 5. PENATALAKSANAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 6. MRS Informed consent Bed rest Cek laboratorium darah rutin dan kimia darah Rontgen Thorax Pro pemeriksaan funduskopi indirect Pro Buckling sklera dengan krioterapi dan gas SF6 intravitreal RF (+) Kontur pembuluh darah baik

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : bonam : dubia ad bonam

BAB III PEMBAHASAN


III.1 Definisi

Ablasio retina adalah suatu keadaan lepasnya retina sensoris dari epitel pigmen retina (RPE). keadaan ini merupakan masalah mata yang serius dan dapat terjadi pada usia berapapun, walaupun biasanya terjadi pada orang usia setengah baya atau lebih tua.1

III.2 Insidensi Lepasnya retina dapat menyerang satu dari 10.000 orang setiap tahun di Amerika Serikat. Kira-kira satu dari empat orang yang berusia 61-70 tahun mengalami ablasio dan hampir dua pertiga sisanya pada usia lebih dari 70 tahun.1

III.3 Etiologi dan Faktor Resiko Ablasi retina dapat terjadi karena: 1. Penimbunan cairan subretina, akibatnya keluarnya cairan dari pembuluh darah retina atau koroid, seperti pada tumor, hipertensi maligna

2. Adanya sehingga

robekan badan

pada kaca

retina melalui

robekan dapat masuk ke dalam celah potensial dan menimbulkan ablasi retina

3. Tarikan dari badan kaca pada retina menimbulkan terlepasnya lapisan batang dan kerucut tanpa robekan Penyebabnya dapat primer maupun sekunder. Ablasio primer terjadi pada mata yang sebelumnya tidak sakit, disebabkan oleh umur tua, myopia tinggi disertai degenerasi retina, dan trauma. Sedangkan ablasio sekunder disebabkan oleh penyakit lain, misalnya: tumor koroid atau retina yang tumbuh ke depan, transudat, eksudat, dan oleh karena retraksi dari jaringan organisasi pada retinitis proliferans akibat perdarahan di badan kaca atau peradangan uvea atau retina yang masuk ke dalam badan kaca, serta trauma perforata. Faktor Resiko Ablatio Retina Sering
Penuaan Bedah katarak

Jarang Penyakit mata kongenital Retinopati diabetika

Atrofi fokal retina Myopia (aksial) Trauma

Riwayat ablasio dalam keluarga Vitreoretinopathy herediter Prematuritas, uveitis

III.4 Patofisiologi Pada ablasio retina aksudatif, akumulasi cairan serosa atau darah pada ruang subretina karena tekanan hidrostatis (contoh: hipertensi akut severe) atau inflamasi (contoh:sarcoid uveitis), atau efusi neoplastik menyebabkan ablasio. Penyakit ini bisa sembuh dengan baik bila faktor penyebabnya telah diatasi. Pada ablasio retina akibat traksi, terjadi mekanisme tarikan sentripetal yang biasanya diakibatkan oleh jaringan fibrotik dari perdarahan yang terjadi sebelumnya, trauma, pembedahan, infeksi, atau inflamasi. Penatalaksaannya adalah melalui pengambilan jaringan parut dari permukaan retina tetapi biasanya fungsi penglihatan tetap buruk. Pada usia tua, struktur makromolekular vitreus mencair, kolaps, dan mengerut mengakibatkan traksi vitreoretinal sehingga terjadi ablasio retina regmatogenosa.2

III.5 Klasifikasi Ablasio Retina2 Bentuk ablasio retina yang lain yaitu ablasio retina traksi(Traction Retinal Detachment ), ablasio retina eksudatif (Exudative Retinal Detachment) umumnya terjadi sekunder dari penyakit lain, dan ablasio retina regmatogenosa. Tipe Exudatif (serosa) Etiologi Inflamasi (sarcoid uveitis), severe acute hypertension, neoplastic tumors Tractional Regmatogenosa Fibrosis Retinal tears Surgical excision fibrosis Pembedahan Penatalaksanaan Obati penyebab penyakit

10

Ablasio Retina Regmatogenosa Pada ablasio retina regmatogenosa, ablasi terjadi akibat adanya robekan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen dengan retina kemudian terjadi pendorongan retina oleh badan kaca yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari RPE.

Ablatio Retina Eksudatif Ablasi yang terjadi akibat tertimbunnya cairan eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan koroid. Kelainan ini terjadi pada skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, radan uvea, idiopati, toksemia gravidarum.

11

Ablatio Retina Akibat Traksi Lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan parut pada badan kaca. Pada badan kaca terdapat jaringan fibrosis yang dapat disebabkan DM proliferative, trauma, dan perdarahan badan kaca akibat bedah atau infeksi.

III.6 Gejala Klinik3 Gejala yang sering dikeluhkan penderita adalah : 1. Floaters (terlihatnya benda melayang-layang). yang terjadi karena adanya kekeruhan di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau degenerasi vitreus itu sendiri. 2. Photopsia atau light flashes (kilatan cahaya). tanpa adanya sumber cahaya di sekitarnya, yang umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam keremangan cahaya atau dalam keadaan gelap. 3. Penurunan tajam penglihatan. penderita mengeluh penglihatannya sebagian seperti tertutup tirai yang semakin lama semakin luas. Pada keadaan yang telah lanjut, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan yang berat. III.7 Diagnosis dan Diagnosis Banding1 Retina yang lepas tidak dapat dilihat dari luar mata. Karena itu bila ada keluhan seperti diatas, pasien harus segera memeriksakan diri ke dokter

12

spesialis mata. Untuk menentukan apakah ada ablasio retina maka dokter spesialis mata akan melakukan pemeriksaan mata menyeluruh terutama bagian dalam mata. Beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui keutuhan retina:

Oftalmoskopi direk dan indirek Ketajaman penglihatan Tes refraksi Respon refleks pupil Gangguan pengenalan warna Pemeriksaan slit lamp Tekanan intraokuler USG mata Angiografi fluoresensi Elektroretinogram.

13

Gejala Photopsia

Penyebab Vitreoretinal traction

Diagnosis Banding PVD, optic neuritis, migraine, hipotensi, transient ischemic attack

Floaters Visual field loss Pandangan kabur


Keterangan :

Sel vitreus, darah Peripheral detachment Macular detachment

PVD, PDR, uveitis Optik neuropati,CVA,BRVO BRAO

PVD = posterior vitreous detachment; PDR = proliferative diabetic retinopathy; CVA = cerebrovascular accident; BRVO = branch retinal vein occlusion; BRAO = branch retinal artery occlusion.

III.8 Penatalaksanaan Bila retina robek tetapi belum lepas, maka lepasnya retina itu dapat dicegah dengan tindakan segera. Bila retina telah lepas maka retina itu harus di perbaiki dengan tindakan operasi oleh dokter spesialis mata. Penempelan kembali retina yang sukses, terdiri dari penempelan robekan retina, dan pencegahan agar retina tidak tertarik lepas lagi. Ada beberapa prosedur bedah yang dapat digunakan. Prosedur yang dipilih tergantung pada beratnya lepas retina dan pertimbangan dokter. Fotokoagulasi Laser: Bila ditemukan robekan-robekan kecil di retina dengan sedikit atau tanpa lepasnya retina, maka robekan ini dapat direkatkan lagi dengan sinar laser. Laser akan menempatkan luka-bakar- luka-bakar kecil disekeliling pinggir robekan. Luka bakar ini akan menimbulkan jaringan parut yang mengikat pinggir robekan dan mencegah cairan lewat dan berkumpul dibawah retina. Bedah laser oftalmologi sekarang biasanya dilakukan sebagai tindakan pada pasien berobat jalan dan tidak memerlukan sayatan bedah. Pembekuan (kriopeksi): Membekukan dinding bagian belakang mata yang terletak di belakang robekan retina, dapat merangsang pembentukan jaringan parut dan merekatkan pinggir robekan retina dengan dinding belakang

14

bolamata. Pembekuan biasanya dilakukan dengan prosedur pasien berobat jalan tetapi memerlukan pembiusan setempat pada mata. Tindakan Bedah: Bila cukup banyak cairan telah terkumpul dibawah retina dan memisahkan retina dengan mata bagian belakang, maka diperlukan operasi yang lebih rumit untuk mengobati lepas retina itu. Teknik operasinya bermacam-macam, tergantung pada luasnya lapisan retina yang lepas dan kerusakan yang terjadi, tetapi semuannya dirancang untuk menentukan dinding mata ke lubang retina, menahan agar kedua jaringan itu tetap menempel sampai jaringan parut melekatkan lagi robekan. Kadang-kadang cairan harus dikeluarkan dari bawah retina untuk memungkinkan retina menempel kembali ke dinding belakang mata. Seringkali sebuah pita silikon atau bantalan penekanan diletakan diluar mata dengan lembut menekan dinding mata ke retina. Dalam operasi ini dilakukan pula tindakan untuk menciptakan jaringan parut yang akan merekatkan robekan retina, misalnya dengan pembekuan, dengan laser atau dengan panas diatermi (aliran listrik dimasukan dengan sebuah jarum). Pada ablasio retina yang lebih rumit mungkin diperlukan teknik yang disebut vitrektomi. Dalam operasi ini korpus vitreum dilepaskan dari serat-serat jaringan ikat di dalam retina, dan korpus vitreum yang menciut dikeluarkan dari mata. Pada beberapa kasus bila retina itu sendiri sangat berkerut dan menciut maka retina mungkin harus didorong ke dinding mata untuk sementara waktu dengan mengisi rongga yang tadinya berisi korpus vitreum dengan udara atau gas. Lebih dari 90% lepasnya retina dapat direkatkan kembali dengan teknikteknik bedah mata modern. Kadang-kadang diperlukan lebih dari satu kali operasi. Bila retina berhasil direkatkan kembali mata akan mendapatkan kembali sebagai fungsi penglihatan dan kebutaan dapat dicegah. Tetapi seberapa jauh penglihatan dapat dipulihkan dalam jangka enam bulan sesudah tindakan operasi yang berhasil akan tergantung pada sejumlah faktor. Pada umumnya fungsi penglihatan akan lebih sedikit pulih bila retina telah cukup lama terlepas atau muncul pertumbuhan jaringan dipermukaan retina.

15

Empat puluh persen dari lepasnya retina yang berhasil direkatkan kembali akan dapat menghasilkan penglihatan yang baik. Sedang kasus-kasus sisanya masih mendapatkan penglihatan yang cukup untuk membaca dan atau berjalan dalam berbagai derajat. Sayangnya korpus vitreum yang terus menyusut dan munculnya pertumbuhan lapisan dipermukaan retina menyebabkan tidak semua retina yang terlepas dapat direkatkan kembali. Bila retina tidak dapat direkatkan kembali, maka mata akan terus menurun penglihatannya dan akhirnya menjadi buta. Operasi dapat dilakukan baik dengan bius setempat maupun dengan bius umum, tergantung pada kesehatan penderita dan waktu yang diperkirakan diperlukan untuk merakatkan kembali retina. Jarang sekali perlu menahan ablasio retina untuk tidak bergerak dalam jangka panjang sebelum ataupun sesudah operasi. Tetapi penderita yang memerlukan injeksi udara atau gas harus mempertankan posisi kepala tertentu sampai beberapa hari sesudah operasi. Penderita dengan lepasnya retina sederhana biasanya sudah di bolehkan berjalan sehari sesudah operasi dan dipulangkan dari rumah sakit beberapa hari. Biasanya setelah pulang dari rumah sakit maka yang dibutuhkan hanyalah salep dan obat tetes mata. Kadang-kadang diperlukan kacamata atau lensa kontak bila setelah bedah retina ternyata penglihatan perlu koreksi. Operasi Teknik operasinya bermacam macam, tergantung pada luasnya lapisan retina yang lepas dan kerusakan yang terjadi, tetapi semuanya dirancang untuk mendekatkan dinding mata ke lubang retina, menahan agar kedua jaringan itu tetap menempel sampai jaringan parut terbentuk dan melekatkan lagi robekan. Kadangkadang cairan harus dikeluarkan dari bawah retina untuk memungkinkan retina menempel kembali ke dinding belakang mata. Seringkali sebuah pita silikon atau bantalan penekan diletakkan di dinding luar mata untuk dengan lembut menekan dinding belakang mata ke retina. Dalam operasi ini dilakukan pula tindakan untuk menciptakan jaringan parut yang akan merekatkan robekan retina, misalnya dengan pembekuan, dengan laser atau dengan panas diatermi (aliran listrik dimasukkan

16

dengan sebuah jarum). Pada ablasio retina yang lebih rumit mungkin diperlukan teknik yang disebut vitrektomi. Dalam operasi ini korpus vitreum dan jaringan ikat di dalam retina yang mengkerut dikeluarkan dari mata. Pada beberapa kasus bila retina itu sendiri sangat berkerut dan menciut maka retina mungkin harus didorong ke dinding mata untuk sementara waktu dengan mengisi rongga yang tadinya berisi korpus vitreum dengan udara, gas atau minyak silikon. Lebih dari 90% lepasnya retina dapat direkatkan kembali dengan teknik-teknik bedah mata modern, meskipun kadang-kadang diperlukan lebih dan satu kali operasi. Gambar prosedur buckle sclera

17

III.9 Komplikasi Bila ablasio sudah berlangsung lama, maka pada retina akan timbul gangguan metabolisme. Zat-zat toksis yang dihasilkan menyebabkan atrofi dan degenerasi retina. Sel batang dan kerucut juga rusak karena suplai makanan dari kapiler koroid terputus. Juga didapatkan komplikasi uveitis dengan glaukoma dan katarak. III.10 Prognosis Bila retina berhasil direkatkan kembali mata akan mendapatkan kembali sebagian fungsi penglihatan dan kebutaan total dapat dicegah. Tetapi seberapa jauh penglihatan dapat dipulihkan dalam jangka enam bulan sesudah tindakan operasi tergantung pada sejumlah faktor. Pada umumnya fungsi penglihatan akan lebih sedikit pulih bila ablasio retina telah terjadi cukup lama atau muncul pertumbuhan jaringan di permukaan retina. Korpus vitreum yang terus menyusut dan munculnya pertumbuhan jaringan di permukaan retina menyebabkan tidak semua retina yang terlepas dapat direkatkan kembali. Bila retina tidak dapat direkatkan kembali, maka mata akan terus menurun penglihatannya dan akhirnya menjadi buta. III.11 Pencegahan

Gunakan kaca mata pelindung untuk mencegah terjadinya trauma pada mata. Penderita diabetes sebaiknya mengontrol kadar gula darahnya secara seksama. Jika anda memiliki resiko menderita ablasio retina, periksakan mata minimal setahun sekali

18

BAB IV KESIMPULAN
Ablasio retina adalah suatu keadaan lepasnya retina sensoris dari epitel pigmen retina (RPE). Penegakan diagnosis ablasio retina pada pasien ini didapatkan dari hasil anamnesis yang menunjukkan adanya gejala subjektif ablasio retina (seperti floaters, photopsia atau Light flashes, penurunan tajam penglihatan dan penglihatannya seperti tertutup tirai yang semakin lama semakin luas), pemeriksaan oftalmologis didapatkan visus pada mata sebelah kanan 1/300 dan reflek fovea pada makula menurun serta pada retina ditemukan adanya undulasi pada kuadran superior, adanya robekan di kuadran superior temporal bentuk bulat dan adanya demarksi line. Untuk melihat lebih jelas segmen posterior dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan menggunakan funduskopi indirect serta dapat pula dilakukan pemeriksaan dengan USG mata. Faktor pencetus Ablasio retina yang terjadi pada pasien ini diduga karena myopia yang tinggi yang menyebabkan aksial length memanjang dan struktur makromolekular vitreus mencair, kolaps, dan mengerut mengakibatkan traksi vitreoretinal sehingga terjadi ablasio retina regmatogenosa. Pasien ini ditatalaksana dengan buckle sklera dengan krioterapi dan gas SF6 intravitreal. Selain itu, pasien harus istirahat total dan kalau perlu dapat diberikan obat penenang. Visus pasien dievaluasi setiap hari dan juga dilakukan funduskopi untuk melihat apakah ada perbaikan. Prognosis untuk fungsi penglihatan pasien ini adalah dubia ad bonam karena walaupun terdapat faktor risiko seperti adanya myopia tinggi, tetapi keadaan umum pasien ini dalam keadaan baik dan tidak ada penyakit lain yang dapat menjadi penyulit dalam usaha mengembalikan fungsi penglihatan pasien.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. 2008. Ablasio Retina. Available from URL: arbaa-

fivone.blogspot.com/2007/06/ablasio-retina_03.html - 44k

2. Ilyas, Sidharta. 2007. Ilmu Penyakit Mata dalam Ablasi Retina. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. P. 183-6 3. Wikipedia. 2008. Ablasio Retina. Available from URL: http://id.wikipedia.org/wiki/Ablasio

4. Jakarta Eye Center. 2008. AblasioRetina. Available from URL: http://www.jakartaeye-center.com/default.asp?menu=artikel&id=47

20