Anda di halaman 1dari 2

Berita kamis (1/12)

Sengketa Kompleks Bambu Runcing

Pengadilan Menangkan Polda NTB


MATARAM, NTB POST- Polda NTB akhirnya memenangkan sengketa lahan kompleks Bambu Runcing yang digugatnya sejak tujuh bulan silam. Keyakinan ini berdasar vonis Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Mataram dalam sidang perdata Tanggal 16 November lalu. Meski belum ada tindakan hukum selanjutnya dari pihak warga Bambu Runcing, lahan seluas 52 are itu jadi milik Polda NTB. Dengan putusan ini obyek sengketa menjadi milik penggugat, tegas kuasa hukum Polda NTB, Abdul Hanan, SH dalam jumpa pers yang diadakan Humas Polda NTB, Rabu (30/11). Abdul Hanan yang didampingi Kabidkum Polda NTB, AKBP Edy Surya P, menjelaskan dalam putusan itu hakim mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian. Sekitar dua item gugatan yang ditolak hakim yakni gugatan ganti rugi dan sita jaminan. sebagian itu sekitar 80 persen yang dikabulkan pengadilan, sedang dua puluh persennya ditolak, jelas kuasa hukum asal Bima ini. Dalam putusan tersebut, terang Hanan, pengadilan menyatakan tanah obyek gugatan jadi milik penggugat. Karenanya tergugat yang sejak tahun 1967 menguasai lahan di Jalan Majapahit, Lingkungan Taman Seruni, Kelurahan Taman Sari, Ampenan itu harus mengosongkan lahan tersebut termasuk sedikitnya sepuluh unit rumah, dan 24 KK harus meninggalkan lahan itu. Pengadilan juga memvonis surat-surat yang dipegang para tergugat seperti sertifikat tanah dan surat lainnya yang berkaitan dengan perkara ini dinyatakan tidak berkekuatan hukum karena surat tersebut tidak dibuat oleh dan dihadapan pejabat pembuat akte tanah (PPAT) yang ditunjuk Kementrian Agraria. Surat-surat tanah itu tidak procedural seperti yang tertuang dalam pasal 19 PP No 10 Tahun 1961, karenanya tidak berkekuatan hukum, ulas Hanan. Dan sejumlah gugatan lain yang dikabulkan hakim. Selain itu hakim juga menolak eksepsi tergugat yang menjelaskan soal riwayat tanah sejak awalnya. Sementara surat-surat tanah yang dipegang para tergugat baru diterbitkan tahun 1991, sedang tanah tersebut dikalaim pihak Polda sudah didaftar dalam kekayaan Negara sejak tahun 1981 dan kembali dibukukan tahun 1992 menjadi milik Polri. Untuk gugatan balik tergugat, melalui riwayat tanah itu dinilai cacat, karena sudah sejak tahun

1961 kompleks tersebut diresmikan menjadi asrama Polri dengan dipasangkan monument dan tiang bamboo runcing. Ini jadi bukti sejarah kepemilikan lahan, tambah Kabidkum AKBP Edy Surya P. Disinggung soal gugatan ini sudah dua kali dilayangkan pihak Polda NTB, Edy menjelaskan gugatan pertama tidak lengkap karenanya tidak dapat diterima. Setelah dilengkapi pihak Polda mengajukan gugatan lagi dan dikabulkan. Pertama kurang lengkap, sehingga tidak dapat diterima termasuk soal obyek sengketa. Setelah dilengkapi kami ajukan gugatan kedua dan dikabulkan, terang Edy. Vonis hakim ini belum dianggap vinal karena masih menunggu jawaban tergugat apakah menerima atau mengajukan upaya hukum banding. Batas waktu mengajuan upaya hukum 14 hari sejak dijatuhkan vonis. Karenanya batas waktu tersebut sampai tanggal 30 November (kemarin,red) tetapi belum ada penyampaian resmi soal upaya hukum tergugat. Jika hingga dua atau tiga hari kedepan tidak ada upaya hukum. Maka putusan hakim ini dinyatakan inkra.(alf)