Anda di halaman 1dari 10

HADITS SHAHIH DAN HADITS HASAN: Sebuah Telaah Epistemologis

By Ahmad Saifulloh On November 30, 2011 Leave a Comment

A. LATAR BELAKANG Sebagai sumber hukum yang kedua setelah al-Quran, hadits memiliki sejarah penyampaian dan penulisan yang panjang. Dimulai sejak zaman Rasulullah,[1] sahabat, tabiin, tabiuttabiin, dan seterusnya, telah menjadi sebuah historical account yang susah dibantah validitas dan otentisitasnya, sehingga pada gilirannya, ia menjadi disiplin ilmu sendiri. Lebih dari itu, periwayatan hadits yang sambung-menyambung sejak zaman nabi hingga tabiuttabiin, dengan seleksi kualitas perawinya yang ketat, menjadikannya sebagai bangunan epistemologis yang kuat dalam hazanah keilmuan dalam Islam. Namun demikian, dalam perjalanannya, seiring dengan perkembangan politik dan kekuasaan Islam, banyak perawi yang ditunggangi kepentingan politik penguasa atau golongan. Sehingga tidak sedikit yang meriwayatkan hadits palsu dengan motif tertentu. Hal ini tentu harus dipahami oleh umat Islam. Maka dari sini muncullah ilmu-ilmu lain untuk menyeleksi kualitas sebuah hadits sehingga bisa sampai pada kesimpulan apakah suatu hadits itu valid dan otentik atau sebaliknya. Secara garis besar, hadits dibagi menjadi dua yaitu mutawatir dan ahad. Pembagian hadits ini didasarkan pada kuantitas perawinya. Hadits mutawatir yang mensyaratkan jumlah rawi yang lebih dari tiga pada setiap generasi (thabaqah) sanadnya, merupakan hadits yang valid, otentik sehingga taken for granted tanpa perlu menganalisa terlebih dahulu. Hal ini tidaklah berlebihan karena dari sisi epistemologis, hadits mutawatir ini sangatlah kuat. Sementara itu, hadits ahad yang jumlah perawinya di setiap generasi adalah tiga atau kurang dari tiga, dibagi menjadi hadits masyhur, aziz, dan gharib. Hadits ahad ini bisa dipilah-pilah lagi berdasarkan kekuatan dan kelemahan (baca: kualitas) perawinya menjadi hadits yang diterima (maqbul) dan hadits yang ditolak (mardud).[2] Lebih lanjut Atthahan menjelaskan bahwa hadits yang maqbul merupakan hadits yang tarajjaha shidqu al-mukhbir bihi, dengan kata lain perawinya adalah tsiqah, bisa dipertanggungjawabkan kapabilitas dan kredibilitasnya sebagai perawi. Sehingga melaksanakan dan menjadikan hadits tersebut sebagai hujjah adalah suatu kewajiban. Sedangkan hadits mardud berarti ma lam yatarajjah shidqu al-mukhbir bihi. Karena perawinya tidak tsiqah, maka hadits mardud tidak bisa dijadikan landasan sebuah hukum.[3] Hadits maqbul sendiri, berdasarkan tingkatan kekutannya, dibagi menjadi dua yaitu hadits shahih dan hadits hasan. Sedangkan berdasarkan keabsahannya untuk dipakai atau tidak, hadits maqbul dibagi menjadi hadits muhkam, mukhtalifu al-hadits, nasikh, dan mansukh.[4] Sedangkan hadits yang mardud, para ulama membaginya menjadi bagianbagian yang sangat banyak dan masing-masing memiliki nama tersendiri. Akan tetapi banyak juga ulama yang memberikan nama umum untuk hadits yang mardud yaitu hadits dzaif.

Makalah ini akan mengkaji hadits shahih dan hadits hasan sebagai hadits yang diterima (maqbul) dari sudut pandang epistemologis.

B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, pemakalah mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Apa syarat hadits shahih? Apa saja macam-macam hadits shahih? Bagaimana kedudukan hadits shahih? Bagaimana tingkatan hadits shahih? Apa saja kitab-kitab hadits shahih? Apa syarat hadits hasan? Apa saja macam-macam hadits hasan? Bagaimana kedudukan hadits hasan? Bagaimana tingkatan hadits hasan?

10. Apa saja kitab-kitab hadits hasan?

C. TUJUAN PEMBAHASAN Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mengetahui apa saja syarat hadits shahih. Mengetahui macam-macam hadits shahih. Memahami kedudukan hadits shahih. Mengetahui tingkatan hadits shahih. Mengetahui macam-macam kitab hadits shahih. Mengetahui apa saja syarat hadits hasan. Mengetahui macam-macam hadits hasan. Memahami kedudukan hadits hasan. Mengetahui tingkatan hadits hasan.

10. Mengetahui macam-macam kitab hadits hasan.

D. PEMBAHASAN 1. 1. Hadits Shahih 1. Pengertian dan Syarat Hadits Shahih Secara etimologis, shahih berarti lawan dari sakit. Ini berarti makna sebenarnya yang biasa dipakai untuk badan. Namun dalam ilmu hadits merupakan makna majaz. Sedangkan secara epistemologis, para ahli hadits rata-rata sepakat mendefinisikannya sebagai hadits yang sanadnya bersambung oleh para perawi yang adil, dzabith, dari awal sanad hingga akhir sanad tanpa adanya illah dan syudzud.[5] Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa hadits sahih harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Sanadnya harus bersambung dari Rasulullah hingga mukharrijnya. Hal ini berarti bahwa setiap perawi telah mendapatkan hadits tersebut secara langsung[6] dari perawi pada generasi sanad di atasnya.[7] Dan pola seperti ini berlaku dari awal sanad hingga akhir sanad. Implikasinya, hadits yang sanadnya terpotong seperti hadits mursal, munqoti (muallaq, mudhol, mudallas, dan mursal khofi), tidak bisa disebut sebagai hadits shahih.[8] Seluruh perawinya harus adil. Adil di sini berarti para perawi dalam setiap generasi sanad adalah seorang muslim, baligh, berakal, tidak fasiq, dan memiliki akhlak yang terpuji.[9] Menurut Ibnu Shalah, keadilan seorang perawi bisa diterima jika telah dinilai oleh minimal dua peneliti para perawi. Bisa juga jika keadilan perawi tersebut telah diamini oleh para peneliti, atau dengan kata lain mereka sering memberikan pujian/penilaian yang baik kepada perawi tersebut, maka secara otomatis perawi yang demikian itu adalah adil.[10] Seluruh perawinya harus dzabith. Secara epistemologis, dzabith berarti seluruh perawi dalam sebuah silsilah sanad hafal hadits yang diterima dengan hafalan yang kuat baik itu berupa hafalan dalam kepalanya atau dalam kitabnya. Tidak berhenti sampai di situ, perawi tersebut juga mampu menghadirkan hafalannya manakala diperlukan. Dari sini bisa dipahami bahwa perawi tidak boleh lupa/lengah dengan hafalannya, dan tidak boleh juga terlalu bermudah-mudah dalam proses tahammul dan ada.[11] Kedzabithan seorang perawi hadits bisa diketahui dengan cara membandingkan hadits yang ia riwayatkan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh perawi yang terkenal ketsiqahan dan kedzabithannya. Kalau hadits tersebut ternyata sebagian besar sesuai (meskipun dalam segi makna saja) dengan hadits para perawi yang terkenal tsiqah dan dzabit, maka perawi tersebut dianggap dzabith.[12] Menurut para ahli hadits, gabungan antara sifat adil dan dzabith ini disebut sebagai tsiqah atau tsabat. Sedangkan perawi yang adil saja atau dzabith saja belum disebut sebagai perawi yang tsiqah. Tidak terdapat syudzud di dalam riwayat hadits tersebut. Yang dimaksud dengan syudud adalah adanya pertentangan dengan perawi yang lebih kuat ketsiqahannya. Karena jika riwayat tersebut bertentangan dengan perawi yang lebih utama darinya dari sisi kekuatan hafalan dan kuantitas hadits yang diriwayatkan, maka berarti terdapat keragu-raguan dalam hadits yang diriwayatkan.[13] Tidak terdapat illah di dalamnya. Yang dimaksud dengan illah adalah sebab tersembunyi yang mengakibatkan suatu hadits berkurang kebenarannya, padahal secara dzahir, hadits tersebut shahih.[14] Menurut Ibnu Shalah, mengetahui illah bukanlah perkara yang mudah.[15] Diperlukan keahlian khusus, sehingga pengetahuan tentang illah ini menjadi salah satu cabang ilmu hadits yang paling pelik, paling utama dan paling mulia. Dari penjelasan di atas, secara epistemologis dapat disimpulkan bahwa hadits shahih yang valid dan otentik benar-benar bisa menyampaikan sebuah kebenaran yang dibawa Rasulullah. Implikasinya, hadits tersebut wajib untuk diterima dan diamalkan. Namun demikian, tetap saja ia memiliki tingkatan-tingkatan berdasarkan kekuatan sanadnya. Lebih dari itu, silsilah sanad dalam tradisi periwayatan hadits menjadi bangunan ilmu yang tidak pernah dijumpai pada tradisi keilmuan peradaban manapun.

1. Macam-Macam Hadits Shahih Hadits shahih dibagi menjadi dua macam, yaitu hadits shahih lidzatihi dan hadits shahih lighairihi. Yang dimaksud dengan hadits shahih lidzatihi adalah hadits yang karena keadaan dirinya sendiri telah memenuhi sepenuhnya lima syarat hadits shahih

sebagaimana dijelaskan di atas. Sedangkan yang dimaksud dengan hadits shahih lighairihi adalah hadits yang pada dirinya sendiri belum mencapai tingkatan shahih, misalnya hanya berkualitas hasan lidzatihi, lalu ada petunjuk atau dalil lain yang menguatkannya. Misalnya, dua buah hadits yang semakna dan sama-sama berkualitas hasan lidzatihi, atau sebuah hadits hasan lidzatihi kemudian terdapat ayat al-Quran yang bersesuaian dengan hadits tersebut, maka kualitas hadits tersebut meningkat menjadi shahih lighairihi. 1. Kedudukan Hadits Shahih Para ahli hadits sepakat bahwa hadits shahih wajib untuk diterima. Para ulama ushul fiqh dan fiqh juga sepakat bahwa hadits shahih bisa dijadikan landasan hukum Islam, dan tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk meninggalkannya.[16] Jika terdapat sebuah statemen bahwa ini adalah hadits shahih maka artinya, hadits tersebut sanadnya bersambung dengan sifat-sifat perawi seperti yang telah dijelaskan di atas. Sebaliknya, jika terdapat pernyataan, ini adalah hadits tidak shahih, mengandung arti bahwa hadits tersebut belum memenuhi syarat-syarat hadits shahih di atas baik seluruhnya atau sebagian saja. Tetapi, menurut Ibnu Shalah, tidak bisa dihukumi secara mutlak bahwa hadits tersebut adalah bohong/palsu karena bisa saja perawi yang tidak memenuhi persyaratan di atas meriwayatkan hadits yang shahih.[17] Maka cukup dikatakan bahwa hadits tersebut tidak memenuhi persyaratan shahih seperti yang dijelaskan di atas. Hal ini disebabkan karena para ahli hadits sangat teliti dan berhati-hati dalam menilai sebuah hadits. 1. Tingkatan Hadits Shahih Banyak ulama telah menyebutkan dan menjelaskan silsilah sanad yang paling shahih. Dari sini bisa ditarik kesimpulan tingkatan hadits shahih. Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits shahih yang diriwayatkan dengan sanad yang paling shahih, seperti Malik dari Nafi dari Ibnu Umar. Tingkatan berikutnya adalah hadits shahih yang sanadnya/perawinya secara kualitas di bawah sanad yang paling shahih, seperti riwayat Hamad ibnu Salamah dari Tsabit dari Anas. Tingkatan berikutnya adalah hadits shahih yang perawinya di bawah tingkatan sebelumnya secara kualitas, seperti riwayat Suhail ibnu Abi Shalih dari ayahnya dan Abi Hurairah.[18] Berdasarkan tingkatan silsilah sanad yang dikemukakan para ulama, dan jika melihat pola sanad dari kitab-kitab hadits, dapat diambil kesimpulan bahwa hadits shahih dibagi menjadi tujuh tingkatan: Hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Hadits yang disepakati/diriwayatkan oleh Bukhari saja. Hadits yang disepakati/diriwayatkan oleh Muslim saja.

Hadits yang diriwayatkan sesuai dengan syarat[19] Bukhari dan Muslim tapi belum dimasukkan dalam kedua kitab beliau. Hadits yang diriwayatkan sesuai dengan syarat Bukhari dan belum dimasukkan dalam kitabnya. Hadits yang diriwayatkan sesuai dengan syarat Muslim dan belum dimasukkan dalam kitabnya.

Hadits yang shahih menurut pandangan selain Bukhari dan Muslim seperti Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban yang tidak memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim.

1. Buku-Buku Kumpulan Hadits Shahih Kitab pertama yang merupakan kumpulan hadits shahih adalah Shahih Bukhari, kemudian Shahih Muslim. Dua kitab ini adalah kitab yang paling shahih setelah alQuran, dan para ulama telah bersepakat untuk menerimanya.[20] Namun para ulama berpendapat bahwa kitab shahih bukhari lebih kuat dari shahih muslim karena hadits bukhari lebih kuat jika ditinjau dari ketersambungan sanad[21] dan kualitas perawinya. Lebih dari itu, jumlah hadits shahih bukhari juga lebih banyak dari shahih muslim. Perlu dicatat di sini bahwa hadits shahih yang tidak terdapat pada kitab shahih bukhari dan shahih muslim jumlahnya lebih banyak. Hadits-hadits tersebut bisa ditemukan pada kitab-kitab lain yang mutamad dan masyhur seperti Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban,[22] Mustadrak al-Hakim,[23] Sunan al-Arbaah, Sunan Addaruquthni, Sunan Baihaqi, dan lain sebagainya.

1. 2. Hadits Hasan 1. Pengertian dan Kriteria Hadits Hasan Secara etimologis, hasan diambil dari kata al-husnu yang artinya keindahan. Namun artinya secara epistemologis sangat banyak sekali. Hal ini dikarenakan posisinya yang berada di antara hadits shahih dan hadits dhoif. Di antara pengertian hadits hasan secara epistemologis adalah seperti yang diungkapkan oleh al-Khattabi. Menurutnya, hadits hasan adalah hadits yang diketahui asalnya (sanadnya), perawinya masyhur, diterima oleh sebagian besar ulama dan para ahli fiqih juga memakainya. Menurut Tirmidzi, hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang tidak ada dalam sanadnya perawi yang dituduh suka berbohong, matannya tidak syadz, dan diriwayatkan pula melalui jalan yang lain. Sedangkan menurut Ibnu Hajar, hadits hasan adalah hadits yang bersambung sanadnya oleh perawi yang adil tapi tingkat kedhabithannya rendah, tidak mengandung illah dan syududz. Pengertian menurut Ibnu Hajar inilah yang dianggap sebagian besar ulama sebagai pengertian yang lebih pas.[24] Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kriteria hadits hasan adalah sebagai berikut: Sanad hadits tersebut harus bersambung. Perawinya adalah adil.

Perawinya memiliki sifat dhabith namun kualitasnya lebih rendah dari perawi hadits shahih. Hadits tersebut tidak syadz atau tidak bertentangan dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqah. Dalam hadits tersebut tidak terdapat illah.

1. Macam-Macam Hadits Hasan Hadits hasan terbagi menjadi dua macam; hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. Yang dimaksud dengan hasan lidzatihi adalah hadits yang karena keadaan dirinya sendiri telah memenuhi lima kriteria seperti yang dijelaskan di atas. Jadi, kehasanannya bukan karena petunjuk atau penguat dari hadits yang lain. Sedangkan yang dimaksud dengan hasan lighairihi adalah hadits dhaif yang jalan periwayatannya banyak, dan sebab kelemahan hadits tersebut bukan karena perawinya fasik atau pembohong. Dari sini bisa dilihat bahwa hadits dhaif dapat meningkat derajatnya menjadi hasan lighairihi jika: Hadits tersebut diriwayatkan dari jalan sanad yang lain yang memiliki kekuatan sama atau lebih. Sebab kelemahan hadits tersebut adalah rendahnya kualitas hafalan perawinya atau sanadnya yang terputus, atau terdapat perawi yang kurang pandai.

1. Kedudukan Hadits Hasan Dalam konteks dalil hukum Islam, kedudukan hadits hasan seperti hadits shahih meskipun kekuatannya di bawah hadits shahih. Oleh karena itu, para ahli fiqh memakainya sebagai landasan hukum sebagaimana para ulama hadits dan ushul, kecuali golongan yang sangat ketat dalam memakai hadits sebagai landasan hukum Islam. Sebaliknya, golongan yang sangat berkompromi terhadap istinbath hukm, memasukkan hadits hasan bagian dari hadits shahih. Di antaranya adalah Hakim ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah.[25] Alasan para ulama adalah perawi hadits hasan kebanyakan telah diketahui kejujurannya. Rendahnya tingkat kedhabitan tidak mengeluarkan mereka dari golongan perawi yang mampu menyampaikan hadits sama ketika mereka mendapatkannya. Hal ini juga berlaku untuk hadits hasan lighairihi. Menurut jumhur ulama dari kalangan ahli hadits, hadits hasan lighairihi juga dapat dijadikan hujjah dan dapat diamalkan. Karena, meskipun awalnya dhaif, namun menjadi sempurna dan lebih kuat dengan diriwayatkannya hadits tersebut dari jalan yang lain. Di samping itu, hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits lain. Dengan demikian, kerendahan tingkat kedhabithan seorang rawi menjadi meaningless di sini. Dan jika dipadukan dengan sanad yang lain, maka terlihat potensi bahwa perawi yang kedhabithannya rendah mampu merekam dan menyampaikan hadits dengan benar.

1. Tingkatan Hadits Hasan Sebagaimana hadits shahih, dalam hadits hasan juga terdapat tingkatan-tingkatan. Menurut Dzahabi, terdapat dua tingkatan dalam hadits hasan. Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits yang sanadnya dari: Bahzu ibnu Hakim dari ayahnya dari kakeknya. Umar ibnu Syuaib dari ayahnya dari kakeknya. Ibnu Ishak dari Attaimi.

Tingkatan yang kedua adalah hadits yang di dalamnya terdapat perselisihan pendapat para ulama apakah ia termasuk hadits shahih atau hadits hasan. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Harits ibnu Abdillah, dan Ashim ibnu Dhomroh, dan Hajaj ibnu Arthoah, dan lain sebagainya.

Di kalangan ulama hadits sendiri terdapat beberapa istilah yang harus diperhatikan. Seperti; hadits shahih al-isnad yang tentu saja berbeda dengan hadits shahih. Yang dimaksud dengan hadits shahih al-isnad adalah hadits yang memenuhi tiga persyaratan shahih (sanadnya bersambung, perawinya adil dan dhabith), tetapi hadits tersebut belum bebas dari illah atau syadz.[26] Sementara iut, Tirmidzi juga memiliki istilah khusus yaitu hadits hasan shahih. Secara etimologis, istilah ini tentu saja problematis, karena bagaimana mungkin dua hal yang berbeda (shahih dan hasan) digabung menjadi satu. Namun para ulama hadits telah menjelaskan maksud dari istilah ini dengan penjelasan yang sangat beragam. Yang bisa dijadikan sandaran adalah pendapatnya Hafidz ibnu Hajar yang disepakati juga oleh Suyuthi. Menurutnya, yang dimaksud dengan hadits hasan shahih adalah hadits yang memiliki dua isnad atau lebih yang artinya hadits tersebut hasan jika dilihat dari isnad yang pertama, dan shahih jika dilihat dari isnad yang kedua. Atau bisa juga hadits yang memiliki satu isnad yang menurut sebagian kaum hadits tersebut hasan, dan shahih bagi kaum yang lain.[27] Dari sini bisa disimpulkan bahwa sepertinya Tirmidzi ingin menunjukkan kepada kita adanya perselisihan atau khilaf dalam hukum hadits tersebut.

1. Kitab-Kitab Kumpulan Hadits Hasan Para ulama pada umumnya tidak ada yang mengarang buku khusus di dalamnya hadits hasan sebagaimana terjadi pada hadits shahih. Tetapi terdapat kitab yang di dalamnya banyak dijumpai hadits hasan. Di antara kitab tersebut adalah; Jamiu Attirmidzi yang lebih dikenal dengan Sunan Attirmidzi. Tetapi harus diingat bahwa dalam bukunya terdapat istilah hasan shahih yang memiliki makna seperti dijelaskan di atas. Kitab yang kedua adalah Sunan Abi Dawud. Dalam kitabnya ia mengatakan kepada orang-orang Makkah bahwa ia telah menyebutkan hadits-hadits shahih dan hadits yang mendekati shahih. Selama dalam suatu hadits ia tidak menyebutkan kelemahan yang besar, dan para ulama belum menganggap hadits tersebuth shahih, maka berarti hadits itu adalah hasan menurut Abu Dawud. Kitab ketiga adalah Sunan Addaruquthni. Di dalamnya juga banyak dijumpai haditshadits hasan.

E. PENUTUP Berdasarkan pembahasan di atas, penulis dapat menyampaikan kesimpulan sebagai berikut: 1. Syarat-syarat hadits shahih ada lima, yaitu; sanadnya harus bersambung, perawinya harus adil, dhabith, tidak terdapat illah di dalamnya, dan tidak juga terdapat syudzud. 2. Hadits shahih terbagi menjadi dua macam, yaitu; hadits shahih lidzatihi dan hadits shahih lighairihi. 3. Hadits shahih adalah hadits yang sangat kuat secara sanad dan matan, oleh karena itu ia termasuk hadits maqbul. Yang secara epistemologis bisa dijadikan landasan hukum Islam dan wajib diamalkan. 4. Ditinjau dari kekuatannya, hadits shahih terbagi menjadi beberapa tingkatan. Yang paling tinggi adalah shahih bukhari dan muslim, shahih bukhari, shahih muslim, shahih berdasarkan persyaratan bukhari muslim, shahih berdasarkan persyaratan bukhari, shahih berdasarkan persyaratan muslim, dan hadits shahih

5. 6. 7. 8. 9.

yang tidak memenuhi persyaratan keduanya, sperti shahih menurut ibnu khuzaimah dan ibnu Hibban. Terdapat banyak sekali kitab-kitab yang merupakan kumpulan hadits shahih. Di antaranya adalah kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Mustadrak al-Hakim, Shahih ibnu Hibban, dan Shahih ibnu Khuzaimah. Suatu hadits disebut hasan jika ia memenuhi persyaratan hadits shahih tetapi diriwayatkan oleh perawi yang tingkat kedhabithannya rendah. Terdapat dua jenis hadits hasan yaitu hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. Para ulama fiqh, ushul fiqh, dan ulama hadits sepakat untuk menerima hadits hasan sebagai dalil dalam istinbath hukm. Terdapat dua tingkatan hadits hasan. Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits yang sanadnya dari: Bahzu ibnu Hakim dari ayahnya dari kakeknya. Dan Umar ibnu Syuaib dari ayahnya dari kakeknya. Serta Ibnu Ishak dari Attaimi.

10. Tidak terdapat kitab khusus yang merupakan kumpulan hadits hasan, tapi terdapat beberapa kitab yang di dalamnya bisa ditemukan hadits hasan. Di antaranya adalah Sunan Attirmidzi, Sunan Abi Dawud, dan Sunan Addaruquthni.

): 1980) 1415 ) ): 1986 ) ): ) ): ) ) ) ): 2041 ) ): 1241 ) ): 7041

[1]Pada awalnya, nabi melarang menulis hadits secara umum karena takut tercampur dengan al-Quran. Saat itu aktivitas penulisan difokuskan pada al-Quran. Namun kemudian, nabi memerintahkan menulis hadits khusus kepada sahabat yang pandai baca tulis sehingga tidak dikhawatirkan terjadi kesalahan. Perintah itu juga kepada sahabat yang kuat hafalannya sehingga tidak dikhawatirkan bercampur dengan al-Quran. Lihat: . ): 0891( 83 [2]29 . ): 5141( [3]

.[4]Pada akhirnya, pembagian ini menjadi cabang tersendiri dari ilmu hadits ): 5141( . 03. ]5[ . . : ): . 6891( . 11-21 [6]Dalam ilmu hadits, terdapat metode khusus untuk mendapatkan hadits yang telah .disepakati oleh para ulama hadits. Metode itu disebut sebagai thuruq attalaqqiy Pemakalah sengaja tidak membahas metode ini karena akan di bahas oleh pemakalah .yang lain . 13]7[ . 21]8[ . 13]9[ . 501]01[ . 21]11[ . 601]21[ . 21 : ]31[ . . . : . . . : : . . : . 67-87 . 13]41[ . ]51[ . . . : . . : . 09-19 . 23]61[ . 41]71[ . 83]81[ [19]Sebenarnya Bukhari dan Muslim tidak menjelaskan persyaratan apa saja dalam periwayatan haditsnya sebagai tambahan syarat-syarat hadits shahih. Tetapi para ulama hadits berpendapat bahwa Bukhari dan Muslim memiliki beberapa syarat dalam periwayatan hadits. Hal ini didasarkan pada penelaahan terhadap pola periwayatan hadits oleh Bukhari dan Muslim. Maka, menurut para ulama, yang dimaksud dengan syarat Bukhari dan Muslim adalah suatu hadits harus diriwayatkan dengan jalan sanad

dalam kitab Bukhari dan Muslim atau salah satu dari kedua kitab itu dengan memperhatikan bagaimana metode periwayatan sebagaimana dilakukan oleh Bukhari .dan Muslim. Lihat Ibid . 13]02[ [21]Persyaratan bersambungnya sanad menurut Bukhari harus bertemu langsung (murid dan gurunya), sedangkan menurut Muslim tidak harus bertemu langsung tetapi cukup .hidup dalam satu zaman atau generasi ]22[ . : . 53 ]32[ . . : . 53 . 93]42[ . 04]52[ ]62[ Source: http://fundonesia.com/makalah/hadits-shahih-dan-hadits-hasan-sebuah-telaah4epistemologis/#ixzz1ji7zrlF