Anda di halaman 1dari 101

2

PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas tersusunnya Buku
Kumpulan Peraturan Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh Tim Pelaksana Komite Kebijakan KUR.
Buku ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara umum dan sebagai landasan acuan bagi
pelaksanaan program KUR secara lebih menyeluruh.
Sebagaimana diketahui bahwa pada tanggal 5 November 2007, Presiden meluncurkan
Kredit Usaha Rakyat (KUR), dengan fasilitas penjaminan kredit dari Pemerintah melalui PT.
Askrindo dan Perum Jamkrindo. Adapun Bank Pelaksana yang menyalurkan KUR ini adalah Bank
BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Syariah Mandiri dan Bank Bukopin. KUR ini
merupakan fasilitas pembiayaan yang dapat diakses oleh UMKM dan Koperasi terutama yang
memiliki usaha yang layak namun belum bankable. UMKM dan Koperasi yang diharapkan dapat
mengakses KUR adalah yang bergerak di sektor usaha produktif antara lain: pertanian, perikanan
dan kelautan, perindustrian, kehutanan dan jasa keuangan simpan pinjam.
Penyaluran KUR dapat dilakukan langsung, maksudnya UMKM dan Koperasi dapat
langsung mengakses KUR di Kantor Cabang atau Kantor Cabang Pembantu Bank Pelaksana. Untuk
lebih mendekatkan pelayanan kepada usaha mikro, maka penyaluran KUR dapat juga dilakukan
secara tidak langsung, dalam hal ini usaha mikro dapat mengakses KUR melalui Lembaga
Keuangan Mikro dan KSP/USP Koperasi, atau melalui kegiatan linkage program lainnya yang
bekerjasama dengan Bank Pelaksana.
Melalui Program 100 Hari Pemerintah mencanangkan program revitalisasi dan relaksasi
KUR mulai tahun 2010 untuk meningkatkan kembali akselerasi penyaluran KUR. Relaksasi
pengaturan penyaluran KUR diberikan dalam bentuk : Penurunan suku bunga KUR Mikro dan ritel,
perpanjangan, suplesi, restrukturisasi ditiadakan SID bagi KUR Mikro, Debitur baru KUR dapat
sedang menerima kredit konsumtif, seperti Kredit Pemilikan Rumah, Kredit Kendaraan Bermotor,
dan Kartu Kredit serta Peningkatan plafon kredit bagi lembaga linkage dengan pola executing
menjadi sebesar Rp. 1 miliar. Disamping itu, juga telah disetujui penambahan 13 Bank
Pembangunan Daerah (BPD) sebagai bank pelaksana KUR.

Relaksasi pengaturan KUR ini dilakukan dengan tetap menjaga dan memperhatikan tata
kelola/governance serta prinsip kehati-hatian/prudential banking. Seluruh sumber dana KUR
merupakan dana bank, yang berasal dari dana masyarakat, bukan dana Pemerintah. Untuk itu
ketentuan perbankan tetap berlaku dalam penyaluran KUR.

Dalam rangka mendukung pelaksanaan sosialisasi substansi perubahan ketentuan
pelaksanaan KUR, disusun bahan sosialisasi yang terdiri: 1) buku kumpulan Peraturan KUR; 2)
buku saku tanya jawab soal KUR; 3) buku testimoni debitur KUR; dan 4) brosur sosialisasi KUR.
Bahan sosialisasi dimaksud disusun oleh Tim Pelaksana Komite Kebijakan bersama dengan seluruh
stakeholders yang diharapkan dapat dipergunakan sebagai acuan bagi percepatan pelaksanaan
program KUR yang pada gilirannya diharapkan akan mempercepat upaya peningkatan
perekonomian Indonesia.
3
Jakarta, Pebruari 2010
Deputi Bidang Koordinator Ekonomi Makro dan Keuangan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Komite
Tim Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan
Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi
Erlangga Mantik
DAFTAR ISI
PENGANTAR
...............................................................................................................
DAFTAR ISI
..................................................................................................................
KUMPULAN PERATURAN KREDIT USAHA RAKYAT
I. Addendum II Nota Kesepahaman Bersama antara Kementerian Teknis dengan
Perusahaan Penjamin dan Bank Pelaksana tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan
Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi tanggal 12 Januari 2010.

II. Peraturan Menteri Keuangan No.22/PMK.05/2010 Tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Menteri Keuangan No.135/PMK.05/2008 Tentang Fasilitas Penjaminan Kredit
Usaha Rakyat tanggal 28 Januari 2010 ........................................... (eIun ada soflcopy)
III. Keputusan Deputi Bidang Koordinator Ekonomi Makro dan Keuangan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Komite
Tim Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro
KeciI, Menengah dan Kopeiasi No. KLI- O1 /D.I.M.LKON/O1/2O1O Tenlang
Slandai OpeiasionaI dan Iiosedui IeIaksanaan Kiedil Usaha Rakyal
langgaI 25 }anuaii 2O1O ............................................................... (soflcopy ada)
IV. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Komite
Tim Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro
KeciI, Menengah dan Kopeiasi No. KLI- O7 /M.LKON/O1/2O1O Tenlang
Ienanlahan ank IeIaksana Kiedil Usaha Rakyal langgaI 26 }anuaii 2O1O ..........
(eIun ada soflcopy)

LAMPIRAN
- Nota Kesepahaman Bersama antara Kementerian Teknis dengan Perusahaan
Penjamin dan Bank Pelaksana tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada
Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi tanggal 09 Oktober 2007...................
(eIun ada soflcopy)

- Peraturan Menteri Keuangan No.135/PMK.05/2008 Tentang Fasilitas Penjaminan Kredit
Usaha Rakyat tanggal 24 September 2008 ........................................... (eIun ada
soflcopy)
- Peraturan Menteri Keuangan No.10/PMK.05/2008 Tentang Fasilitas Penjaminan Kredit
Usaha Rakyat tanggal....... ........................................... (eIun ada soflcopy)

ADDENDUM II
NOTA KESEPAHAMAN BERSAMA ANTARA KEMENTERIAN TEKNIS
DENGAN PERUSAHAAN PENJAMIN DAN BANK PELAKSANA

TENTANG
PERNJAMINAN KREDIT / PEMBIAYAAN
USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI
TANGGAL 12 JANUARI 2010
ADDENDUM II NOTA KESEPAHAMAN BERSAMA
(Nemorandum of Understanding)

Antara

KENENTER!AN KEUANGAN REPUBL!K !NDONES!A
KENENTER!AN PERTAN!AN REPUBL!K !NDONES!A
KENENTER!AN KEHUTANAN REPUBL!K !NDONES!A
KENENTER!AN KELAUTAN DAN PER!KANAN REPUBL!K !NDONES!A
KENENTER!AN PER!NDUSTR!AN REPUBL!K !NDONES!A
KENENTER!AN KOPERAS! DAN UKN REPUBL!K !NDONES!A

Dengan

PERUSAHAAN UNUN (PERUN) JAN!NAN KRED!T !NDONES!A
PT (PERSERO) ASURANS! KRED!T !NDONES!A

Dan

PT BANK RAKYAT !NDONES!A (PERSERO) Tbk
PT BANK NAND!R! (PERSERO) Tbk
PT BANK NEGARA !NDONES!A (PERSERO) Tbk
PT BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) Tbk
PT BANK BUKOP!N Tbk
PT BANK SYAR!AH NAND!R!

TENTANG

PENJAN!NAN KRED!T fPENB!AYAAN KEPADA
USAHA N!KRO, KEC!L, NENENGAH, DAN KOPERAS!

MOU-102JMKJ2010
01JKU.00JMJIJ2010
MK.01JMENHUTJIIJ2010
01JMEN-KPJKBJIJ 2010
19JM.INDJIJ2010
01JNKBJM.KUKMJIJ2010
1JJAMKRINDOJIJ2010
01JMOUJIJASKJ2010
B 06JDIRJPRGJ01J2010 BRI
DIRJ001.AJ2010
DIR.MOUJ003J2010
01JMoUJDIRJ2010
MOU. 002JDIR-DPKMJIJ2010
Nomor :
012J001-MOUJDIR BSMJ2010


Pada hari ini Selasa, tanggal duabelas bulan Januari tahun Dua Ribu Sepuluh (12 - 01 -
2010) di Jakarta, kami yang bertandatangan di bawah ini:

!. PIHAK PERTAMA sebagai Pelaksana Teknis Program yang
terdiri dari :

{1). Kementerian Keuangan Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili
oleh Sri Nulyani !ndrawati selaku Nenteri Keuangan Republik !ndonesia
yang diangkat berdasarkan Keputusan Presiden Republik !ndonesia Nomor
8+fP Tahun 2009, tanggal 21 Oktober 2009 berkedudukan di Jl Dr. Wahidin
No. 1 Jakarta Pusat, yang bertindak dalam jabatannya tersebut, oleh
karenanya berwenang melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama
Kementerian Keuangan Republik !ndonesia. --------------------------------------
----------------

{2). Kementerian Pertanian Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili
oleh Suswono selaku Nenteri Pertanian Republik !ndonesia yang diangkat
berdasarkan Keputusan Presiden Republik !ndonesia Nomor 8+fP Tahun
2009, tanggal 21 Oktober 2009 berkedudukan di Jl. Harsono RN No 3
Ragunan Jakarta Selatan, yang bertindak dalam jabatannya tersebut, oleh
karenanya berwenang melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama
Kementerian Pertanian Republik !ndonesia. --------------------------------------

{3). Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, dalam
hal ini diwakili oleh Fadel Nuhammad selaku Nenteri Kelautan dan
Perikanan Republik !ndonesia yang diangkat berdasarkan Keputusan
Presiden Republik !ndonesia Nomor 8+fP Tahun 2009, tanggal 21 Oktober
2009 berkedudukan di Jl.Nerdeka Timur No 16 Jakarta Pusat, yang
bertindak dalam jabatannya tersebut, oleh karenanya berwenang
melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama Kementerian Kelautan
dan Perikanan Republik !ndonesia. ---

{4). Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili
oleh Nohamad Suleiman Hidayat selaku Nenteri Perindustrian Republik
!ndonesia yang diangkat berdasarkan Keputusan Presiden Republik
!ndonesia Nomor 8+fP Tahun 2009, tanggal 21 Oktober 2009
berkedudukan di Jl. Gatot Subroto 52-53 Jakarta Selatan, yang bertindak
dalam jabatannya tersebut, oleh karenanya berwenang melakukan
perbuatan hukum untuk dan atas nama Kementerian Perindustrian
Republik !ndonesia. ----------------

{5). Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili
oleh Zulkifli Hasan selaku Nenteri Kehutanan Republik !ndonesia yang
diangkat berdasarkan Keputusan Presiden Republik !ndonesia Nomor 8+fP
Tahun 2009, tanggal 21 Oktober 2009 berkedudukan di Jl. Jenderal Gatot
Subroto Jakarta Selatan, yang bertindak dalam jabatannya tersebut, oleh
karenanya berwenang melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama
Kementerian Kehutanan Republik !ndonesia. -------------------------------------
-

{6). Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Usaha Menengah
Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh Sjarifuddin Hasan selaku
Nenteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Nenengah Republik !ndonesia yang
diangkat berdasarkan Keputusan Presiden Republik !ndonesia Nomor 8+fP
Tahun 2009, tanggal 21 Oktober 2009 berkedudukan di Jl. H.R. Rasuna
Said Kav. 3-5 Jakarta Selatan, yang bertindak dalam jabatannya tersebut,
oleh karenanya berwenang melakukan perbuatan hukum untuk dan atas
nama Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Nenengah Republik
!ndonesia.---


!!. PIHAK KEDUA sebagai Perusahaan Penjamin yang terdiri dari :

{1). Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo),
dalam hal ini diwakili oleh Nahid Hudaya, selaku Direktur Utama
Perusahaan Umum Jaminan Kredit !ndonesia (Perum Jamkrindo), dalam hal
ini bertindak dalam jabatannya sesuai Keputusan Nenteri Negara Badan
Usaha Nilik Negara Republik !ndonesia Nomor KEP-190fNBUf2007 tanggal
27 Agustus 2007 dan Keputusan Nenteri Negara Badan Usaha Nilik Negara
Republik !ndonesia Nomor KEP-298fNBUf2007 tanggal 28 Desember 2007,
dengan demikian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor +1 Tahun
2008 tentang Perusahaan Umum (Perum) Jaminan Kredit !ndonesia yang
telah diumumkan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik !ndonesia
Tahun 2008 Nomor 81, bertindak untuk dan atas nama serta sah mewakili
Perusahaan Umum (Perum) Jaminan Kredit !ndonesia, yang berkedudukan
di Jakarta dan beralamat di Gedung Jamkrindo Jalan Angkasa Blok B-9 Kav.
6 Kota Baru Bandar Kemayoran Jakarta Pusat. -----------------------------------

{2). PT {Persero) Asuransi Kredit Indonesia {PT. Askrindo), dalam hal ini
diwakili oleh Chairul Bahri, selaku Direktur Utama PT. Asuransi Kredit
!ndonesia yang beralamat di Jalan Angkasa, Blok B-9 Kavling nomor 8,
Kemayoran, Jakarta Pusat, 10610, yang diangkat berdasarkan Surat
Keputusan Bersama Nenteri Badan Usaha Nilik Negara dan Gubernur Bank
!ndonesia Nomor : KEP-1+9fNBUf2007 tanggal 17 Juli 2007 tentang
9f31fKEP.GB!f2007
Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi PT (Persero)
ASURANS! KRED!T !NDONES!A, dalam hal ini bertindak dalam jabatannya
sah mewakili Direksi berdasarkan Anggaran Dasar PT ASURANS! KRED!T
!NDONES!A, yang beberapa kali diubah terakhir dengan Akta Notaris !mas
Fatimah, SH. Nomor : 18 tanggal 26 Nei 1998 dan perubahannya telah
mendapat pengesahan dari Nenteri Kehakiman Republik !ndonesia, sesuai
Surat Keputusan Nomor: C2-7.50+.HT.01.0+.TH.98 tanggal 25 Juni 1998
dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik !ndonesia tanggal 16
November 1998 Nomor 92 Tambahan Nomor : 6370, dan perubahan
terakhirnya dengan Akta Notaris !mas Fatimah, SH, Nomor : 29 tanggal 30
November 2005 dan telah mendapat pengesahan dari Nenteri Hukum dan
Hak Asasi Nanusia Republik !ndonesia, sesuai Surat Keputusan Nomor: C-
3+2+0 HT.01.0+.TH.2005 tanggal 22 Desember 2005, berwenang
melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama PT Asuransi Kredit
!ndonesia. -----------------------------------------------------------------------------
!!!. PIHAK KETIGA sebagai Bank Pemberi Kredit yang terdiri dari :

{1). PT Bank Rakyat Indonesia {Persero) Tbk, dalam hal ini diwakili oleh
Sofyan Basir, selaku Direktur Utama PT. Bank Rakyat !ndonesia (Persero)
Tbk, bertempat tinggal di Jakarta, dalam hal ini bertindak dalam
jabatannya tersebut mewakili Direksi, oleh karena itu berdasarkan
Anggaran Dasar Perseron yang diumumkan dalam Berita Negara Republik
!ndonesia Nomor 88 tanggal + November 2003, Tambahan Nomor 11053,
bertindak untuk dan atas nama PT. Bank Rakyat !ndonesia (Persero) Tbk,
berkedudukan di Jalan Jenderal Sudirman No. ++-+6 Jakarta Pusat. ---------
-----------------------



{2). PT Bank Mandiri {Persero) Tbk, dalam hal ini diwakili oleh Agus
Nartowardojo, selaku Direktur Utama PT Bank Nandiri (Persero) Tbk,
bertempat tinggal di Jakarta, dalam hal ini bertindak dalam jabatannya
tersebut mewakili Direksi, oleh karena itu berdasarkan ketentuan Pasal 12
ayat (11) Anggaran Dasar Perseroan yang dibuat dihadapan Sutjipto,
Sarjana Hukum, Notaris di Jakarta dengan Akta Nomor 10 tanggal 2
Oktober 1998, yang telah diumumkan dalam Berita Negara Republik
!ndonesia Nomor 97 tanggal + Desember 1998 Tambahan Berita Negara
Republik !ndonesia Nomor 6859 yang telah mengalami beberapa kali
perubahan, dengan perubahan terakhir Anggaran Dasar sebagaimana
dimuat dalam Akta Notaris DR. Amrul Partomuan Pohan, SH. L.LN Nomor +
tanggal 9 Januari 2009, laporan perubahan Anggaran Dasar telah diterima
dan dicatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum
(S!SN!NBAKUN) Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Departemen
Kehakiman dan Hak Asasi Nanusia Republik !ndonesia Nomor AHU-
0006399.AH.01.09 Tahun 2009 tanggal 26 Februari 2009, Keputusan
Direksi PT Bank Nandiri (Persero) Tbk Nomor KEP.D!Rf11+Af2006 tanggal
16 Agustus 2006 tentang Tata Tertib Direksi PT Bank Nandiri (Persero)
Tbk, oleh karena itu sah bertindak untuk dan atas nama PT Bank Nandiri
(Persero) Tbk, berkedudukan dan berkantor pusat di Jalan Jenderal Gatot
Subroto Kavling 36-38 Jakarta. -----------------------------------------------------
----------------------

{3). PT. Bank Negara Indonesia {Persero) Tbk, dalam hal ini diwakili oleh
Gatot Nudiantoro Suwondo, selaku Direktur Utama PT Bank Negara
!ndonesia (Persero) Tbk, dalam hal ini bertindak dalam jabatannya
tersebut, dengan demikian berdasarkan Anggaran Dasar perseroan beserta
perubahan-perubahannya yang terakhir diumumkan dalam Berita Negara
Republik !ndonesia Nomor 29015, berwenang bertindak untuk dan atas
nama PT. Bank Negara !ndonesia (Persero) Tbk, berkedudukan dan
berkantor pusat di Jakarta dengan alamat Jl. Jenderal Sudirman Kavling 1,
untuk selanjutnya disebut BN!" ----------------------------------------------------
-

{4). PT. Bank Tabungan Negara {Persero) Tbk, dalam hal ini diwakili
secara sah oleh Iqbal Latanro, selaku Direktur Utama PT. Bank Tabungan
Negara (Persero) Tbk, berdasarkan Surat Keputusan Nenteri Negara Badan
Usaha Nilik Negara Republik !ndonesia selaku Rapat Umum Pemegang
Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Bank Tabungan Negara No :
KEP-291fNBUf2007 tanggal 19 Desember 2007, dalam hal ini bertindak
untuk dan atas nama PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. sesuai
dengan Anggaran Dasarnya yang dimuat terakhir dalam akta Notaris
Fathiah Helmi, SH, Nomor 07 tanggal 12 Oktober 2009, yang telah
mendapatkan persetujuan sesuai Keputusan Nenteri Hukum dan Hak Asasi
Nanusia Republik !ndonesia No.AHU-+9309.AH.01.02 Tahun 2009 tanggal
13 Oktober 2009, jungto Akta Pernyataan Direksi No. +3 tanggal 29
Oktober 2009 dan Akta Pernyataan RUPS Luar Biasa Nomor 71 Tanggal 30
Desember 2009, yang berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta, Jalan
Gajah Nada No.1, Jakarta 10130. --------------------------------------------------
-

{5). PT. Bank Bukopin Tbk, dalam hal ini diwakili oleh Glen Glenardi, SE NN,
selaku Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk, yang dalam hal ini bertindak
dalam jabatannya, berdasarkan anggaran dasar PT Bank Bukopin Tbk,
yang didirikan dengan Akta tertanggal 25 Pebruari 1993 No. 126 yang telah
disahkan oleh Nenteri Kehakiman R! tertanggal 29 Juni 1993 No. C2-
5332.HT.01.01.TH.93 dan telah diumumkan dalam Berita Negara R!
tertanggal 10 Agustus 1993 No. 6+, Tambahan No. 3633, yang telah
beberapa kali mengalami perubahan dan terakhir diubah secara
keseluruhan dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat tertanggal 6 Juni
2008 No. 8 yang telah mendapat persetujuan dari Nenteri Hukum Dan Hak
Asasi Nanusia R! tertanggal 29 Agustus 2008 No. AHU-
5695+.AH.01.02.Tahun 2008, berwenang melakukan perbuatan hukum,
maka dari dan oleh karena itu bertindak untuk dan atas nama PT Bank
Bukopin Tbk, berkedudukan di Jl. NT Haryono Kav.50-51 Jakarta-12770.----
-------------------------------------

{6). PT Bank Syariah Mandiri, dalam hal ini diwakili oleh YUSLAN FAUZ!,
selaku Direktur Utama PT Bank Syariah Nandiri, yang dalam hal ini
bertindak dalam jabatannya berdasarkan Anggaran Dasar PT Bank Syariah
Nandiri, yang didirikan dengan Akta No.23 tanggal 8 September 1999 di
hadapan Sutjipto, SH Notaris di Jakarta, akta mana telah memperoleh
persetujuan Nenteri Kehakiman Republik !ndonesia berdasarkan Surat
Keputusan No.C-16+95 HT.01.0+.TH.99 tanggal 16 September 1999 dan
telah diumumkan dalam Berita Negara Republik !ndonesia No.87 tanggal
31 Oktober 2000 Tambahan No.6588 dengan segenap perubahannya yang
terakhir diubah dengan Akta Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham
Luar Biasa PT Bank Syariah Nandiri No.10 tanggal 19 Juni 2008 dibuat di
hadapan Badarusyamsi, SH Notaris di Jakarta, akta mana telah
memperoleh persetujuan Nenteri Hukum dan Hak Asasi Nanusia Republik
!ndonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-52791.AH.01.02.Tahun
2008 tanggal19 Agustus 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara
Republik !ndonesia No.72 tanggal 5 September 2008 Tambahan No.17106,
Akta Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Bank
Syariah Nandiri No.211 tanggal 31 Desember 2008 dibuat di hadapan Aulia
Taufani, SH sebagai Notaris Pengganti dari Sutjipto, SH Notaris di Jakarta,
Akta Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroaan
Terbatas PT Bank Syariah Nandiri No. 28 tanggal 25 Juni 2009, dibuat di
hadapan Harun Kamil, SH, Notaris di Jakarta, berwenang melakukan
perbuatan hukum untuk dan atas nama PT Bank Syariah Nandiri,
berkedudukan di Jl. N.H. Thamrin No. 5 Jakarta Pusat.-------------------------
-

P!HAK PERTANA, P!HAK KEDUA dan P!HAK KET!GA, secara bersama-sama selanjutnya
disebut PARA P!HAK, terlebih dahulu menerangkan hal-hal sebagai berikut : --------------

1. 8arWa Para P|ra| pada largga| 09 0|looer 200Z le|ar rerardalargar| Nola Kesepararar 8ersara
(Vemoranoum ol unoersrano|ng) lerlarg Perjar|rar Kred|l/Pero|ayaar 8ag| usara V||ro, Kec|| dar
Verergar 0a|ar Rarg|a Pe|a|saraar lrslru|s| Pres|der Noror Tarur 200Z lerlarg Keo|ja|ar
Percepalar Pergeroargar 3e|lor R||| 0ar Peroerdayaar usara V||ro, Kec|| dar Verergar
(se|arjulrya d|seoul Nota Kesepahaman ersama). ----------------------------------
2. 8arWa pada largga| 11 Ve| 2008, Para P|ra| le|ar rerardalargar| Addendum | alas Nota
Kesepahaman ersama lerlarg Perjar|rar Kred|l/Pero|ayaar 8ag| usara V||ro, Kec|| dar
Verergar seoaga|rara d|ra|sud pada arg|a 1 d|alas. ---
3. 8erdasar|ar ra|-ra| lerseoul d|alas, Para P|ra| seluju dar sepa|al urlu| reroual dar
rerardalargar| Adderdur ll Nola Kesepararar 8ersara lerlarg Perjar|rar Kred|l/Pero|ayaar
8ag| usara V||ro, Kec|| dar Verergar, (se|anjutnya d|sebut Addendum ||) dergar |elerluar-
|elerluar dar syaral-syaral seoaga| oer||ul: ------------------------------------------------------------------------


!. Ketentuan dalam Pasal 2 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
asal 2
Ruang Lingkup Kerjasama

(1). Ruang lingkup kerjasama Nota Kesepahaman Bersama ini adalah pemberian
fasilitas KreditfPembiayaan yang diberikan P!HAK KET!GA kepada Debitur
Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi yang dijamin oleh P!HAK KEDUA
yang dalam pelaksanaannya diutamakan yang diarahkan oleh Komite Kebijakan
yang akan dibentuk sehubungan dengan Program Penjaminan Kreditf
Pembiayaan kepada Usaha Nikro, Kecil, Nenengah, dan Koperasi; danf atau
didukung oleh P!HAK PERTANA dalam kapasitasnya sebagai Komite Kebijakan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
(2). KreditfPembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini dapat
dilakukan secara langsung (direct) maupun tidak langsung (linkage). -----------
(3). Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi yang dapat dijamin oleh P!HAK
KEDUA adalah usaha produktif yang layak namun belum bankable. ---------------
(+). P!HAK PERTANA dalam ruang lingkup sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Pasal ini mempunyai kewajiban yaitu : ------------------------------------------------
a. mempersiapkan Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi yang
melakukan usaha produktif yang bersifat individu, kelompok, kemitraan
danfatau cluster untuk dapat dibiayai dengan kreditfpembiayaan; -----------
-
b. menetapkan kebijakan dan prioritas bidang usaha yang akan menerima
kreditfpembiayaan;--------------------------------------------------------------------
-
c. melakukan pembinaan dan pendampingan selama masa
kreditfpembiayaan;
d. memfasilitasi hubungan antara Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi
dengan pihak lainnya seperti perusahaan intifofftaker yang memberikan
kontribusi dan dukungan untuk kelancaran usaha. ------------------------------
-
(5). P!HAK KET!GA melakukan penilaian kelayakan usaha dan memutuskan
pemberian kreditfpembiayaan sesuai ketentuan yang berlaku pada P!HAK
KET!GA. -----------------------------------------------------------------------------------
(6). P!HAK KEDUA memberikan persetujuan penjaminan atas kreditfpembiayaan
yang diberikan oleh P!HAK KET!GA sesuai perjanjian kerja sama yang dibuat
antara P!HAK KEDUA dan P!HAK KET!GA.----------------------------------------------
(7). KreditfPembiayaan yang dapat disalurkan oleh P!HAK KET!GA kepada setiap
Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi yang dijamin oleh P!HAK KEDUA
adalah KreditfPembiayaan kepada Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi
yang tidak sedang menerima KreditfPembiayaan dari Perbankan danfatau yang
tidak sedang menerima Kredit program dari Pemerintah, pada saat
permohonan KreditfPembiayaan diajukan, yang dibuktikan dengan hasil Sistem
!nformasi Debitur.--------------------------------------------------------------------------
(8). KreditfPembiayaan dari Perbankan yang sedang diterima oleh Usaha Nikro,
Kecil, Nenengah dan Koperasi pada saat permohonan KreditfPembiayaan
diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dikecualikan untuk jenis: Kredit
Pemilikan Rumah, Kredit Kendaraan Bermotor, Kartu Kredit, dan kredit
konsumtif lainnya.
(9). Dalam hal kreditfpembiayaan yang diberikan setinggi-tingginya Rp.5.000.000,-
(lima juta rupiah) kepada setiap Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi
yang selanjutnya disebut KUR mikro, baik secara langsung (direct) maupun
tidak langsung (linkage), yang dijamin oleh P!HAK KEDUA tidak diwajibkan
untuk dilakukan pengecekan pada Sistem !nformasi Debitur sebagaimana
dimaksud pada ayat (7).-------------------------------------------------------------------
(10). Untuk melaksanakan KUR mikro yang disalurkan secara langsung (direct) maka
Para Pihak sepakat untuk menunjuk PT Bank Rakyat !ndonesia (Persero) Tbk
sebagai pelaksana.------------------------------------------------------------------------
(11). Dalam hal kerjasama penjaminan kreditf pembiayaan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) Pasal ini, PARA P!HAK sepakat atas hal-hal yang diterapkan
sebagai berikut :
a. KreditfPembiayaan yang disalurkan oleh P!HAK KET!GA yang dijamin oleh
P!HAK KEDUA kepada setiap Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi
setinggi-tingginya Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah), dan khusus
yang disalurkan melalui linkage program pola executing, plafon yang dapat
diberikan kepada setiap lembaga linkage setinggi-tingginya sebesar Rp.
1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) ; --------------------------------------------
b. P!HAK KET!GA dapat memberikan KreditfPembiayaan dengan setinggi-
tingginya Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah) kepada setiap Usaha Nikro,
Kecil, Nenengah dan Koperasi, baik secara langsung (direct) maupun tidak
langsung (linkage), yang dijamin oleh P!HAK KEDUA dengan suku bunga
kreditf margin pembiayaan maksimal sebesarfsetara 22 (dua puluh dua
prosen) efektif pertahun;-------------------------------------------------------------
-
c. P!HAK KET!GA dapat memberikan KreditfPembiayaan dengan plafon di
atas Rp 5.000.000,- sampai dengan setinggi-tingginya sebesar Rp.
500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) kepada setiap Usaha Nikro, Kecil,
Nenengah dan Koperasi, selanjutnya disebut KUR ritel, baik secara
langsung (direct) maupun tidak langsung (linkage), yang dijamin oleh
P!HAK KEDUA dengan suku bunga kreditfmargin pembiayaan setinggi-
tingginya sebesarfsetara 1+ (empatbelas prosen) efektif pertahun; -------
--------------------------------
d. Penjaminan yang dilaksanakan oleh P!HAK KEDUA atas kreditf pembiayaan
yang diberikan P!HAK KET!GA dilaksanakan secara otomatis bersyarat
sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Penjaminan Kreditf Pembiayaan;--
--
e. Prosentase jumlah penjaminan kreditfpembiayaan oleh P!HAK KEDUA
sebesar 70 (tujuh puluh prosen) dari kreditfpembiayaan yang diberikan
P!HAK KET!GA kepada Usaha Nikro, Kecil, Nenengah, dan Koperasi.--------
-
(12). Jangka waktu kreditfpembiayaan ditetapkan sebagai berikut :---------------------
a. Jangka waktu pinjaman tidak melebihi 3 tahun untuk kreditfpembiayaan
modal kerja dan 5 tahun untuk kreditfpembiayaan investasi; -----------------
-
b. Dalam hal diperlukan perpanjangan, suplesi, dan restrukturisasi maka
jangka waktu maksimal yang diberikan adalah 6 tahun untuk
kreditfpembiayaan modal kerja dan 10 tahun untuk kreditfpembiayaan
investasi terhitung sejak tanggal perjanjian kredit awal. -----------------------
(13). Komite Kebijakan sebagaimana dimaksud ayat (1) melakukan pengawasan atas
pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagai tindakan yang bersifat preventif dan
melakukan verifikasi secara selektif melalui Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP).---------------------------------------------------------------------
(1+). P!HAK KET!GA wajib melaporkan secara periodik, pelaksanaan penyaluran
kreditfpembiayaan, paling lambat pada tanggal 15 bulan berikutnya, kepada
Komite Kebijakan cq. Deputi Nenko Perekonomian Bidang Koordinasi Ekonomi
Nakro dan Keuangan selaku Ketua Tim Pelaksana dengan format laporan yang
berisikan hal-hal sebagai berikut: -----------------------------------------------
a. Realisasi total penyaluran dan baki debet kreditfpembiayaan; ----------------
b. Realisasi penyaluran kreditfpembiayaan menurut Sektor Ekonomi; ----------
-
c. Realisasi penyaluran kreditfpembiayaan menurut Provinsi; --------------------
-
d. Jumlah debitur penerima kreditfpembiayaan; dan ------------------------------
-
e. Jumlah kredit bermasalah (Non Performing LoanfNPL). ------------------------
-

(15). P!HAK KEDUA wajib melaporkan secara periodik, pengajuan dan realisasi klaim
dari setiap Bank Pelaksana selambat-lambatnya pada tanggal 15 bulan
berikutnya kepada Komite Kebijakan cq. Deputi Nenko Perekonomian Bidang
Koordinasi Ekonomi Nakro dan Keuangan selaku Ketua Tim Pelaksana,
ditembuskan ke bank pelaksana dengan format laporan yang berisikan hal-hal
sebagai berikut :
a. Pengajuan penjaminan kreditfpembiayaan; --------------------------------------
b. Pengajuan klaim kreditfpembiayaan;----------------------------------------------
c. Realisasi pembayaran klaim, persentase Non Performing Guarantee
(NPG);-
d. Klaim yang masih dalam proses; ---------------------------------------------------
e. Klaim yang ditolak.--------------------------------------------------------------------
!!. Diantara Pasal 4 dan Pasal 5 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 4 A
sebagai berikut :
PASAL 4 A
PARA PIHAK

(1). Para Pihak dalam Nota Kesepahaman Bersama ini tidak terbatas pada para
penandatangan Nota Kesepahaman Bersama ini, tetapi termasuk juga pihak
lain yang secara sukarela mengikatkan diri dan tunduk kepada Nota
Kesepahaman Bersama.------------------------------------------------------------------
(2). Pihak lain yang mengikatkan diri dan tunduk sebagaimana dimaksud pada ayat
1, ditetapkan oleh Komite Kebijakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(1).-----------------------------------------------------------------------------------------
!!!. Kreditfpembiayaan yang telah disalurkan oleh P!HAK KET!GA sebelum berlakunya
Addendum !! ini, maka penyalurkan kreditfpembiayaan tersebut tetap berpedoman
pada Nota Kesepahaman Bersama dan Perjanjian Kerjasama yang ditandatangani
oleh P!HAK KEDUA dan P!HAK KET!GA.
!v. Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran danfatau terjadi perbedaan dalam
pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada angka !!!, akan dimusyawarahkan dan
diputuskan dalam rapat Komite Kebijakan.
v. Addendum !! ini mulai berlaku terhitung satu bulan sejak ditandatangani serta
merupakan satu kesatuan serta bagian yang tidak terpisahkan dari Nota
Kesepahaman Bersama (Nemorandum of Understanding) dan Addendum ! Nota
Kesepahaman Bersama sebelumnya yang telah ditandatangani oleh Para Pihak.






PIHAK PERTAMA

NENTER! KEUANGAN
REPUBL!K !NDONES!A




Sri Nulyani !ndrawati
NENTER! KEHUTANAN
REPUBL!K !NDONES!A




Zulkifli Hasan

NENTER! PERTAN!AN
REPUBL!K !NDONES!A




Suswono

NENTER! PER!NDUSTR!AN
REPUBL!K !NDONES!A

Nohamad Suleiman Hidayat

NENTER! KELAUTAN DAN PER!KANAN REPUBL!K
!NDONES!A




Fadel Nuhammad
NENTER! KOPERAS! DAN
USAHA KEC!L DAN NENENGAH
REPUBL!K !NDONES!A




Sjarifuddin Hasan




PIHAK KEDUA

PERUSAHAAN UNUN JAN!NAN KRED!T
!NDONES!A



PT ASURANS! KRED!T !NDONES!A




Nahid Hudaya
Direktur Utama
Chairul Bahri
Direktur Utama





PIHAK KETIGA

PT BANK RAKYAT !NDONES!A (Persero) Tbk







Sofyan Basir
Direktur Utama

PT BANK NAND!R! (Persero) Tbk







Agus Nartowardojo
Direktur Utama
PT BANK NEGARA !NDONES!A(Persero) Tbk





Gatot Nudiantoro Suwondo
Direktur Utama

PT BANK TABUNGAN NEGARA (Persero) Tbk





!qbal Latanro
Direktur Utama
PT BANK BUKOP!N Tbk





Glen Glenardi
Direktur Utama

PT BANK SYAR!AH NAND!R!





Yuslam Fauzi
Direktur Utama









Mengetahui

NENTER! KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A




N. Hatta Rajasa


Pjs GUBERNUR BANK
!NDONES!A






Darmin Nasution

NENTER! BADAN USAHA
N!L!K NEGARA
REPUBL!K !NDONES!A





Nustafa Abubakar

NENTER! PERDAGANGAN
REPUBL!K !NDONES!A





Nari Elka Pangestu

PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR : 22/PMK.05/2010
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR : 135/PMK.05/2008 TENTANG FASILITAS PENJAMINAN
KREDIT USAHA RAKYAT
TANGGAL 28 JANUARI 2010
ILRATURAN MLNTLRI KLUANCAN

NOMOR : 22/PMK.05/2010
TENTANG
ILRUAHAN KLDUA ATAS ILRATURAN MLNTLRI KLUANCAN NOMOR
135/IMK.O5/2OO8 TLNTANC IASILITAS ILN}AMINAN KRLDIT USAHA RAKYAT
DLNCAN RAHMAT TUHAN YANC MAHA LSA,
MENTERI KEUANGAN,
Meninlang :
a. lahva daIan iangka nengenlangkan Kiedil Usaha Rakyal
kepada Usaha Mikio, KeciI, Menengah dan Kopeiasi secaia
leikeIanjulan leIah dilual dan dilandalangani Addendun II
Nola Kesepahanan eisana (Mcncrandun cf Undcrs|anding)
lenlang Ienjaninan Kiedil/Ienliayaan kepada Usaha
Mikio, KeciI, Menengah Dan Kopeiasi,
l. lahva unluk nendukung peIaksanaan Addendun II Nola
Kesepahanan eisana selagainana dinaksud daIan huiuf
a, peiIu diIakukan penyesuaian alas kelenluan leikail
dengan peisyaialan penjaninan, penlayaian inlaI jasa
penjaninan, dan peIapoian,
c. ahva leidasaikan peilinlangan selagainana dinaksud
daIan huiuf a dan huiuf l, peiIu nenelapkan Ieialuian
Menleii Keuangan Tenlang Ieiulahan Kedua Alas Ieialuian
Menleii Keuangan Nonoi 135/IMK.O5/2OO8 lenlang
IasiIilas Ienjaninan Kiedil Usaha Rakyal.
Mengingal : 1. Kepulusan Iiesiden Nonoi 84 /I Tahun 2OO9,
2. Ieialuian Menleii Keuangan Nonoi 135/IMK.O5/2OO8 lenlang
IasiIilas Ienjaninan Kiedil Usaha Rakyal selagainana leIah
diulah dengan Ieialuian Menleii Keuangan Nonoi
1O/IMK.O5/2OO9.

MLMUTUSKAN :

Menelapk
an

PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI
KEUANGAN NOMOR 135/PMK.05/2008 TENTANG
FASILITAS PENJAMINAN KREDIT USAHA RAKYAT.

IasaI I
eleiapa kelenluan daIan Ieialuian Menleii Keuangan Nonoi
135/IMK.O5/2OO8 lenlang IasiIilas Ienjaninan Kiedil Usaha
Rakyal selagainana leIah diulah dengan Ieialuian Menleii
Keuangan Nonoi 1O/IMK. O5/2OO9, diulah selagai
leiikul :
1. Kelenluan IasaI 4 diulah, sehingga leilunyi selagai
leiikul :
Pasal 4
(1) Bank Pelaksana menyediakan dan menyalurkan dana untuk KUR.
(2) Bank Pelaksana wajib menatausahakan KUR secara terpisah
dengan program kredit lainnya.
(3) Bank Pelaksana dapat mengambil tindakan-tindakan yang
diperlukan untuk menyediakan dan menyalurkan KUR secara
tepat jumlah dan tepat waktu sesuai dengan program yang
ditetapkan oleh Pemerintah, serta mematuhi semua ketentuan
tatacara penatausahaan yang berlaku.
(4) Bank Pelaksana memutuskan pemberian KUR berdasarkan
penilaian terhadap kelayakan usaha sesuai dengan asas-asas
perkreditan yang sehat, serta dengan memperhatikan ketentuan
yang berlaku.
(5) Bank Pelaksana dapat menyalurkan KUR secara langsung kepada
UMKM-K dan/atau tidak langsung melalui Lembaga linkage
dengan pola executing dan/atau pola channeling.
2. Kelenluan IasaI 5 diulah, sehingga leilunyi selagai
leiikul :
IasaI 5

(1) UMKM-K yang dapal neneiina fasiIilas penjaninan
KURadaIah usaha pioduklif yang fcasio|c nanun leIun
oan|ao|c selagainana dinaksud pasaI 3 ayal (1), dengan
kelenluan-kelenluan selagai leiikul:
a. neiupakan caIon delilui yang lidak sedang neneiina
kiedil nodaI keija dan/alau inveslasi daii peilankan
dan/alau yang lidak sedang neneiina Kiedil
Iiogian daii Ieneiinlah yang diluklikan
dengan hasiI Sislen Infoinasi Delilui pada saal
Ieinohonan KUR diajukan,
l. delilui yang sedang neneiina Kiedil Konsunlif
(Kiedil KepeniIikan Runah, Kiedil Kendaiaan
einoloi, Kailu Kiedil dan Kiedil Konsunlif Iainnya)
nasih dapal neneiina KUR,
c. unluk |in|agc prcgran dengan IoIa cxccu|ing, Ienlaga
|in|agc yang nenyaIuikan KUR selagainana
dinaksud daIan IasaI 4 ayal (5) vajil lidak sedang
neneiina Kiedil Iiogian,
d. unluk |in|agc prcgran dengan poIa cnannc|ing, Ienlaga
|in|agc yang nenyaIuikan KUR selagainana
dinaksud daIan IasaI 4 ayal (5) dapal sedang
neneiina Kiedil Iiogian,
e. unluk KUR sanpai dengan Rp5.OOO.OOO (Iina
julaiupiah) dan KUR neIaIui Ienlaga |in|agc sanpai
dengan Rp5.OOO.OOO (Iina jula iupiah) pei cnd uscr,
lidak divajilkan neIanpiikan hasiI Sislen
Infoinasi Delilui.

(2) KUR yang disaIuikan kepada seliap UMKM-K
dapaldigunakan laik unluk kiedil nodaI keija naupun
kiedil inveslasi, dengan kelenluan selagai leiikul :
a. selinggi-lingginya selesai Rp5.OOO.OOO (Iina jula
iupiah) dengan lingkal lunga kiedil/naigin
penliayaan paIinglinggi selesai/selaia 22 (dua
puIuh dua peisen) efeklif pei lahun alau dilelapkan
Iain oIeh Menleii Keuangan alas iekonendasi Konile
Kelijakan,
b. di alas Rp5.OOO.OOO (Iina jula iupiah) sanpai dengan
Rp5OO.OOO.OOO (Iina ialus jula iupiah) dengan lingkal
lunga kiedil/naigin penliayaan yang dikenakan
paIing linggi selesai/selaia 14 (enpal leIas
peisen) efeklif pei lahun alau dilelapkan Iain oIeh
Menleii Keuangan alas iekonendasi Konile
Kelijakan.
(3) KUR yang disaIuikan neIaIui |in|agc prcgran poIa
cxccu|ing, dapal diIaksanakan dengan kelenluan selagai
leiikul:
a. pIafon yang dileiikan kepada seliap Ienlaga |in|agc
paIing linggi selesai Rp1.OOO.OOO.OOO (salu niIiai
iupiah),
l. lingkal lunga kiedil/naigin penliayaan yang
dikenakan paIing linggi selesai/selaia 14 (enpal
leIas peisen) efeklif pei lahun alau dilelapkan Iain
oIeh Menleii Keuangan alas iekonendasi Konile
Kelijakan.
(4) UMKM-K yang leIah neneiina KUR dapal neneiina
fasiIilas penjaninan daIan iangka peipanjangan,
iesliukluiisasi, dan lanlahan pinjanan (supIesi) dengan
syaial nasih dikalegoiikan leIun , dengan
kelenluan selagai leiikul :
a. peipanjangan jangka vaklu kiedil, iesliukluiisasi dan
supIesi dapal dileiikan sepanjang lidak neIelihi 6
(enan) lahun unluk kiedil nodaI keija dan 1O
(sepuIuh) lahun unluk kiedil inveslasi leihilung
sejak langgaI efeklifnya peijanjian kiedil avaI anlaia
lank peIaksana dan UMKM-K,
l. lanlahan pinjanan dapal dileiikan dengan syaial
pIafon pinjanan dan lingkal lunga selagainana
dinaksud pada ayal (2),
c. nekanisne peIaksanaan peipanjangan jangka vaklu
kiedil, iesliukluiisasi dan lanlahan pinjanan
(supIesi) dialui Ielih Ianjul daIan peijanjian kiedil
anlaia lank peIaksana dan delilui.
(5) esainya InlaI }asa Ienjaninan yang dilayaikan kepada
Ieiusahaan Ienjaninan dilelapkan selesai 3,25 (liga
kona duapuIuh Iina peisen) pei lahun alau dilelapkan
Iain oIeh Menleii Keuangan alas iekonendasi Konile
Kelijakan, yang dilayaikan seliap lahun dan dihilung daii
KUR yang dijanin, dengan kelenluan:
a. Unluk kiedil nodaI keija dihilung daii pIafon kiedil,
l. Unluk kiedil inveslasi dihilung daii ieaIisasi kiedil.
(6) Ieisenlase junIah penjaninan KUR yang dijaninkan
kepada Ieiusahaan Ienjaninan selesai 7O (lujuhpuIuh
peisen) daii KUR yang dileiikan oIeh ank IeIaksana
kepada UMKM-K dan Ienlaga .
3. Kelenluan IasaI 9 diulah, sehingga leilunyi selagai
leiikul :

IasaI 9
(1) Ieneiinlah nenleiikan InlaI }asaIenjaninan KUR
seIana jangka vaklu paIing Iana 6 (enan) lahun unluk
kiedil nodaI keija dan paIing Iana 1O (sepuIuh) lahun
unluk kiedil inveslasi leinasuk unluk peipanjangan,
supIesi, dan iesliukluiisasi,
(2) Ienlayaian InlaI }asa Ienjaninan KUR selagainana
dinaksud daIan IasaI 5 ayal (5) diIaksanakan 2 (dua) kaIi
daIan selahun, dengan kelenluan :
a. Unluk lagihan peiiode luIan Novenlei lahun
seleIunnya sanpai dengan luIan ApiiI lahun
leikenaan dilayaikan pada luIan Mei lahun
leikenaan,
b. Unluk lagihan peiiode luIan Mei sanpai dengan
luIan Oklolei lahun leikenaan dilayaikan luIan
Novenlei lahun leikenaan.
(3) Ienlayaian InlaI }asa Ienjaninan KUR diIakukan
leidasaikan dala penulupan peilanggungan KUR oIeh
ank IeIaksana kepada Ieiusahaan Ienjaninan.
(4) Ieininlaan penlayaian InlaI }asa Ienjaninan KUR
diajukan oIeh Ieiusahaan Ienjaninan kepada Menleii
Keuangan u.p. Diieklui }endeiaI Ieilendahaiaan dengan
leiIelih dahuIu diselujui oIeh ank IeIaksana dan paIing
kuiang diIanpiii dengan :
a. iincian peihilungan lagihan inlaI jasa penjaninan,
b. konpiIasi peneililan Seilifikal Ienjaninan alau
dokunen Iain yang dipeisanakan daii Ieiusahaan
Ienjaninan,
c. landa leiina penlayaian inlaI jasa penjaninan yang
dilandalangani oIeh Diieksi Ieiusahaan Ienjaninan
alau pejalal yang dikuasakan.
(5) DaIan iangka neniIai kepaluhan leihadap kelenluan
penjaninan KUR, dan neneIili kelenaian peihilungan
InlaI }asa Ienjaninan yang leIah dilayaikan selagainana
dinaksud pada ayal (3), diIakukan veiifikasi secaia
peiiodik alau sevaklu-vaklu oIeh Menleii Keuangan c.q.
Diieklui }endeiaI Ieilendahaiaan dan Kelua adan
Iengavasan Iasai ModaI dan Lenlaga Keuangan.
(6) DaIan haI dipeiIukan, Menleii Keuangan dapal neninla
lanluan apaial fungsionaI peneiiksa inleinaI dan/alau
eksleinaI unluk neIaksanakan audil.
4. Kelenluan IasaI 11 diulah, sehingga leilunyi selagai
leiikul :
IasaI 11
(1) Ieiusahaan Ienjaninan vajil nenyusun dan
nenyanpaikan Iapoian secaia peiiodik luIanan
peIaksanaan penjaninan KUR, kepada Konile Kelijakan
cq. Depuli Menko Ieiekononian idang Kooidinasi
Lkononi Makio dan Ieiekononian seIaku Kelua Tin
IeIaksana Konile Kelijakan dengan lenlusan kepada
Diieklui }endeiaI Ieilendahaiaan dan ank IeIaksana,
paIing Ianlal pada langgaI 15 luIan leiikulnya, dengan
foinal Iapoian yang nenual:
a. pengajuan penjaninan KUR,
b. pengajuan kIain KUR,
c. ieaIisasi penlayaian kIain,
d. kIain yang nasih daIan pioses,
e. kIain yang diloIak.
(2) ank IeIaksana vajil nenyusun dan nenyanpaikan
secaia luIanan alas ieaIisasi penyaIuian dan pengenlaIian
KUR, paIing Ianlal pada langgaI 15 luIan leiikulnya,
kepada Konile Kelijakan cq. Depuli Menko Ieiekononian
idang Kooidinasi Lkononi Makio dan Keuangan seIaku
Kelua Tin IeIaksana Konile Kelijakan dengan lenlusan
kepada Diieklui }endeiaI Ieilendahaiaan dan Ieiusahaan
Ienjaninan, dengan foinal Iapoian yang nenual :
a. ieaIisasi junIah penyaIuian dan laki delel KUR,
b. ieaIisasi penyaIuian KUR nenuiul sekloi ekononi,
c. ieaIisasi penyaIuian KUR nenuiul piovinsi,
d. junIah delilui peneiina KUR.

(3) DaIan haI dipeiIukan dan/alau dininla oIeh Menleii
Keuangan, Ieiusahaan Ienjaninan dan ank IeIaksana
vajil nenyanpaikan Iapoian leikail dengan
penyeIenggaiaan KUR seIain yang dinaksud pada ayal (1)
dan ayal (2).
IasaI II
1. IenyaIuian KUR yang leIah diIaksanakan seleIun
leiIakunya Ieialuian Menleii Keuangan ini, lelap
leipedonan pada Ieialuian Menleii Keuangan Nonoi
135/ IMK.O5/2OO8 lenlang IasiIilas Ienjaninan Kiedil
Usaha Rakyal selagainana leIah diulah dengan Ieialuian
Menleii Keuangan Nonoi 1O/IMK.O5/2OO9.
2. Ieialuian Menleii Keuangan ini nuIai leiIaku seleIah salu
luIan sejak Addendun II Nola Kesepahanan eisana
(Mcncrandun cf Undcrs|anding) lenlang Ienjaninan
Kiedil/Ienliayaan Kepada Usaha Mikio, KeciI,
Menengah Dan Kopeiasi dilandalangani.

Agai seliap oiang nengelahuinya, neneiinlahkan
Diundangkan di }akaila
pada langgaI 28 }anuaii 2O1O

MLNTLRI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,
lld
IATRIALIS AKAR
LRITA NLCARA RLIULIK INDONLSIA TAHUN 2O1O NOMOR 46
pengundangan Ieialuian Menleii Keuangan ini dengan
penenpalannya daIan eiila Negaia RepulIik Indonesia.



Dilelapkan di }akaila
Iada langgaI 28 }anuaii 2O1O
MLNTLRI KLUANCAN,

lld.

SRI MULYANI INDRAWATI

KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO
DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG
PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE
KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN
KEPADA USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI
NOMOR : KEP- 01 /D.I.M.EKON/01/2010
TENTANG
STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR
PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT
NOMOR : KEP- 01 /D.I.M.EKON/01/2010
TENTANG
STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR
PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT
DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU
KETUA TIM PELAKSANA
KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA
USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka perluasan dan peningkatan efektifitas
pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat telah dilakukan perubahan Nota
Kesepahaman Bersama dengan ditandatanganinya Addendum II
Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding)
tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil,
Menengah dan Koperasi pada tanggal 12 Januari 2010;
b. bahwa perubahan Nota Kesepahaman Bersama sebagaimana
dimaksud pada huruf a, perlu diikuti dengan perubahan standar
operasional dan prosedur pelaksanaan program penjaminan kredit/
pembiayaan kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi ;
c. berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Deputi Bidang Koordinasi
Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan
Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil,
Menengah dan Koperasi tentang Standar Operasional dan Prosedur
Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat;
Mengingat : 1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005
tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara
Republik Indonesia, sebagaimana terakhir diubah dengan Peraturan
Presiden Republik Indonesia 50 Tahun 2008;
2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2009
tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 60/M Tahun 2009;
4. Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Nomor_:_PER-03/M.EKON/07/2007 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian;
5. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Nomor_:_KEP-22/M.EKON/10/2009 tentang Komite Kebijakan
Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil,
Menengah, dan Koperasi;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI
MAKRO DAN KEUANGAN, KEMENTERIAN
KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU
KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN
PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA
MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI TENTANG
STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR
PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT.
PERTAMA : Menetapkan Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha
Rakyat, sebagaimana terlampir dan merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim
Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada
Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi ini.
KEDUA : a. Dengan berlakunya Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi
Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan
Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil,
Menengah dan Koperasi ini, maka Keputusan Deputi Bidang
Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana
Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha
Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi Nomor : KEP-
14/D.I.M.EKON/04/2009 tentang Standar Operasional dan Prosedur
Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, dinyatakan dicabut dan tidak
berlaku.
b. Segala perjanjian kerjasama yang dilakukan oleh Bank Pelaksana
dan Perusahaan Penjamin berdasarkan Keputusan Deputi Bidang
Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana
Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha
Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi Nomor : KEP-
14/D.I.M.EKON/04/2009 tentang Standar Operasional dan Prosedur
Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat dinyatakan tetap berlaku sampai
masa berlakunya Perjanjian Kerjasama berakhir
KETIGA : Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan,
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim
Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada
Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi ini mulai berlaku sejak
tanggal 12 Februari 2010.
nan sesuai dengan aslinya
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 25 Januari 2010
DEPUTI BIDANG KOORDINASI
EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN
KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU
KETUA TIM PELAKSANA KOMITE
KEBIJAKAN PENJAMINAN
KREDIT/PEMBIAYAAN
KEPADA USAHA MIKRO, KECIL,
MENENGAH DAN KOPERASI,
ERLANGGA MANTIK
LAMPIRAN
KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO
DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG
PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE
KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA
MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI
NOMOR : KEP- 01 /D.I.M.EKON/01/2010
TANGGAL : 25 JANUARI 2010
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia tanggal 5 November 2007, program
penjaminan kredit/pembiayaan kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi
(UMKMK), yang selanjutnya disebut Kredit Usaha Rakyat (KUR) mendapat respon positif
dari masyarakat. Penyaluran KUR mengalami kenaikan sekitar 9,5 (sembilan koma lima) kali
lipat selama tahun 2008 dari Rp. 1.400.000.000.000,- (satu triliun empat ratus milyar rupiah)
pada Januari 2008 menjadi Rp. 12.900.000.000.000,- (dua belas triliun sembilan ratus milyar
rupiah) pada Januari 2009, yang kemudian melambat dan mencapai Rp. 17.200.000.000.000,-
(tujuh belas triliun dua ratus milyar rupiah) pada akhir Desember 2009. Sebaran realisasi KUR
menurut sektor menunjukkan peran sektor perdagangan mencapai 70% (tujuh puluh persen),
sementara sektor pertanian 15% (lima belas persen), sektor jasa lain-lain 7% (tujuh persen),
dan sektor lainnya 8% (delapan persen).
Sebaran realisasi KUR menurut wilayah, menunjukkan Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa
Barat merupakan penerima terbesar KUR secara nasional. Sementara penerima KUR terbesar
di luar Jawa adalah Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan.
Dalam rangka meningkatkan kembali penyaluran dan efektivitas KUR, Pemerintah melalui
Program 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu Kedua mencanangkan program revitalisasi KUR
mulai tahun 2010. Ada tiga aksi yang akan dikerjakan yaitu:
1. Penyaluran KUR direncanakan mencapai Rp. 20.000.000.000.000,- (dua puluh triliun
rupiah) pertahun selama periode 2010-2014. Untuk mendukung hal tersebut Pemerintah
akan menyiapkan dana penjaminan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN).
2. Penambahan bank pelaksana KUR dengan keikutsertaan Bank Pembangunan Daerah dan
kelompok bank lain;
3. Relaksasi pengaturan penyaluran KUR.
Relaksasi pengaturan penyaluran KUR telah dirumuskan dalam Addendum II Nota
Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/ Pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah yang ditandatangani pada tanggal 12 Januari 2010. Selanjutnya dalam rangka
implementasi kesepakatan baru tersebut maka diperlukan adanya perubahan Standar
Operasional dan Prosedur (SOP) Pelaksanaan KUR.
B. Dasar Hukum
Beberapa peraturan perundangan yang terkait dengan SOP ini, antara lain:
1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara 1992
Nomor 31; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3472), sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara 1998 Nomor 182; Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3790);
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara 1992
Nomor 116; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3502);
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(Lembaran Negara 2008 Nomor 93; Tambahan Lembaran Negara Nomor 4866);
4. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor: KEP-
22/M.EKON/10/2009 tentang Komite Kebijakan Penjaminan Kredit kepada Usaha Mikro,
Kecil, Menengah, dan Koperasi;
5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 135/PMK.05/2008 tentang Fasilitas Penjaminan
Kredit Usaha Rakyat sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 22/PMK.05/2010.
C. Maksud dan Tujuan
1. Memperluas dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan KUR agar sesuai dengan
pengaturan yang diamanatkan dalam Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of
Understanding/MOU) beserta addendum-nya.
2. Sebagai pedoman/petunjuk pelaksanaan bagi masing-masing pihak yang terkait dengan
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, serta pengawasan program KUR.
D. Sasaran
Sasaran SOP KUR adalah:
1. Untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKMK yang melakukan kegiatan usaha
produktif dan layak namun belum bankable kepada Bank Pelaksana.
2. Tercapainya percepatan pengembangan sektor riil dan pemberdayaan UMKMK dalam
rangka penanggulangan/ pengentasan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja.
E. Pengertian Umum
1. Kredit/Pembiayaan:
Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara Bank Pelaksana
dengan Debitur KUR yang mewajibkan Debitur KUR untuk melunasi utangnya setelah
jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan dana atau tagihan yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Pelaksana
dengan Debitur KUR yang mewajibkan Debitur KUR untuk mengembalikan dana atau
tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan/bagi hasil/marjin.
2. Kementerian :
Kementerian yang menurut Nota Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/
Pembiayaan Kepada UMKMK merupakan Pelaksana Teknis Program, yaitu Kementerian
Keuangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan
Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah.
3. Bank Pelaksana:
Bank yang ikut menandatangani Nota Kesepahaman Bersama Penjaminan
Kredit/Pembiayaan kepada UMKMK yaitu PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT.
Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT. Bank
Tabungan Negara (Persero), PT. Bank Bukopin Tbk, PT. Bank Syariah Mandiri, serta
bank lainnya yang secara sukarela mengikatkan diri dan tunduk kepada Nota
Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro,
Kecil, Menengah, dan Koperasi.
4. Penjaminan:
Kegiatan pemberian jaminan atas pemenuhan kewajiban finansial debitur KUR. dengan
maksimal penjaminan oleh Perusahaan Penjamin adalah 70% (tujuh puluh persen) dari
plafon kredit
5. Perusahaan Penjamin:
PT (Persero) Asuransi Kredit Indonesia (PT. Askrindo) dan Perusahaan Umum Jaminan
Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) yang melakukan dan memberikan sebagian
penjaminan kredit/pembiayaan secara otomatis (automatic cover) kepada Bank Pelaksana.
6. Calon Debitur KUR:
Usaha Mikro, Usaha Kecil, Usaha Menengah, Koperasi, kelompok usaha, dan Lembaga
Linkage.
7. Usaha Mikro:
Usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi
kriteria :
a) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah).
8. Usaha Kecil:
Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau
badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang
dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha
Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria :
a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus
juta rupiah).
9. Usaha Menengah:
Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau
badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang
dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan
Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan yang
memenuhi kriteria :
a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima
ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh
milyar rupiah).
10. Koperasi:
Badan Usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum Koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.
11. Kelompok Usaha:
Kumpulan orang perorang atau badan usaha (UMKM) yang melakukan kegiatan usaha
produktif dan dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan atau kesamaan kondisi
lingkungan untuk meningkatkan usaha anggotanya.
12. Usaha Produktif:
Usaha untuk menghasilkan barang dan/atau jasa untuk memberikan nilai tambah dan
meningkatkan pendapatan bagi pelaku usaha.
13. Usaha Layak:
Usaha calon debitur yang menguntungkan/memberikan laba sehingga mampu membayar
bunga/marjin dan mengembalikan seluruh hutang/ kewajiban pokok Kredit/Pembiayaan
dalam jangka waktu yang disepakati antara Bank Pelaksana dengan Debitur KUR dan
memberikan sisa keuntungan untuk mengembangkan usahanya.
14. Belum Bankable
UMKMK yang belum dapat memenuhi persyaratan perkreditan/ pembiayaan dari Bank
Pelaksana antara lain dalam hal penyediaan agunan dan pemenuhan persyaratan
perkreditan/pembiayaan yang sesuai dengan ketentuan Bank Pelaksana.
15. KUR Mikro:
KUR yang diberikan dengan plafon sampai dengan Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah)
dengan suku bunga kredit/margin, maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen)
efektif pertahun.
16. KUR Ritel:
KUR yang diberikan dengan plafon diatas Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) sampai
dengan Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) dengan suku bunga kredit/margin
pembiayaan, maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif pertahun.
17. Lembaga Linkage:
Lembaga yang menerus-pinjamkan KUR dari Bank Pelaksana kepada UMKMK, yaitu
Koperasi Sekunder, Koperasi Primer (Koperasi Simpan Pinjam, Unit Simpan Pinjam
Koperasi), Badan Kredit Desa (BKD), Baitul Mal Wa Tanwil (BMT), Bank Perkreditan
Rakyat/Syariah (BPR/BPRS), Lembaga Keuangan Non Bank, Kelompok Usaha,
Lembaga Keuangan Mikro.
18. Lembaga Keuangan Mikro:
Badan usaha keuangan yang menyediakan layanan jasa keuangan mikro, seperti Badan
Kredit Desa (BKD), Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dan Lembaga Dana Kredit
Pedesaan (LDKP) yang bukan bank dan bukan Koperasi,
19. Pola Executing:
KUR yang diberikan oleh Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage untuk diterus-
pinjamkan kepada UMKMK. Kewajiban pengembalian KUR menjadi tanggungjawab dari
Lembaga Linkage selaku penerima KUR.
20. Pola Channeling:
KUR yang diberikan oleh Bank Pelaksana kepada UMKMK melalui Lembaga Linkage.
Kewajiban pengembalian KUR menjadi tanggungjawab dari UMKMK selaku penerima
KUR.
BAB II
PELAKSANAAN KUR
A. Ketentuan Umum
Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah kredit/pembiayaan modal kerja dan atau investasi kepada
UMKMK di bidang usaha yang produktif dan layak namun belum bankable dengan plafon
kredit sampai dengan Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) yang dijamin oleh Perusahaan
Penjamin. Penyaluran KUR diharapkan dapat membantu pengembangan usaha produktif di
sektor pertanian, sektor perikanan, sektor kehutanan, dan sektor industri.
Sumber dana penyaluran KUR adalah 100% (seratus persen) bersumber dari dana Bank
Pelaksana. KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana dijamin secara otomatis (automatic
cover) oleh Perusahaan Penjamin dengan nilai penjaminan sebesar 70 % (tujuh puluh persen)
dari plafon KUR.
Persyaratan umum bagi UMKMK untuk dapat menerima KUR, yaitu:
1. tidak sedang menerima kredit/pembiayaan modal kerja dan/atau investasi dari perbankan
dan/atau yang tidak sedang menerima Kredit Program dari Pemerintah, yang dibuktikan
dengan hasil Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia pada saat permohonan
kredit/pembiayaan diajukan;
2. dapat sedang menerima kredit konsumtif (Kredit Kepemilikan Rumah, Kredit Kendaraan
Bermotor, Kartu Kredit dan kredit konsumtif lainnya);
3. dalam hal UMKMK masih memiliki baki debet yang tercatat pada Sistem Informasi
Debitur Bank Indonesia, tetapi yang bersangkutan sudah melunasi pinjaman, maka
diperlukan Surat Keterangan Lunas/Roya dengan lampiran cetakan rekening dari Bank
Pelaksana/ pembiayaan sebelumnya;
4. untuk UMKMK yang akan meminjam KUR Mikro, baik yang disalurkan secara langsung
maupun tidak langsung, tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan Sistem Informasi
Debitur Bank Indonesia.
Mekanisme umum penyaluran KUR diatur sebagai berikut
1. Langsung dari Bank Pelaksana ke UMKMK
a) Bank melakukan penilaian secara individu terhadap calon Debitur KUR. Apabila
dinilai layak dan disetujui oleh Bank Pelaksana, maka Debitur KUR
menandatangani Perjanjian Kredit .
Bank Pelaksana
UMKMK
a
Perusahaan
Penjamin
b
b) Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada Perusahaan Penjamin maksimal
penjaminan 70% (tujuh puluh persen) dari plafon kredit yang diberikan, dan
selanjutnya Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan.
2. Tidak langsung melalui lembaga linkage dengan Pola Executing
a) Lembaga Linkage mengajukan permohonan Kredit/Pembiayaan kepada Bank
Pelaksana.Bank Pelaksana melakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur dan
melakukan analisa kelayakan. Dalam hal dinyatakan layak, maka Bank Pelaksana
memberikan persetujuan kredit/pembiayaan dengan menandatangani Perjanjian
Kredit/Pembiayaan dengan Lembaga Linkage.
b) Bank Pelaksana mengajukan permintaan penjaminan kredit/pembiayaan kepada
Perusahaan Penjamin. Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan atas
nama Lembaga Linkage.
c) Lembaga Linkage menyalurkan kredit/pembiayaan yang diterima dari Bank
Pelaksana kepada debitur UMKMK dari Lembaga Linkage.
d) Debitur UMKMK melakukan pembayaran kewajiban kredit/pembiayaan kepada
Lembaga Linkage.
3. Tidak langsung melalui lembaga linkage dengan Pola Channeling
a) Dalam rangka mendapatkan kredit/pembiayaan dari Bank Pelaksana, UMKMK
memberikan kuasa kepada pengurus Lembaga Linkage untuk:
1) Mengajukan kredit kepada Bank Pelaksana;
Bank Pelaksana
Lembaga Linkage UMKMK
a
c
e
b
Perusahaan
Penjamin
d
PK
Bank Pelaksana
Lembaga Linkage UMKMK
e
b
d
a
Perusahaan
Penjamin
c
PK
2) Menjaminkan agunan kepada Bank Pelaksana.
b) Lembaga Linkage mewakili UMKMK mengajukan permohonan kredit kepada Bank
Pelaksana.
c) Bank Pelaksana melakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur dan melakukan
analisa kelayakan. Dalam hal dinyatakan layak, maka Bank Pelaksana memberikan
persetujuan kredit/pembiayaan tersebut dengan mekanisme sebagai berikut :
1) Berdasarkan kuasa dari Bank Pelaksana, maka Lembaga Linkage
menandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan dengan UMKMK atau
2) Berdasarkan kuasa dari UMKMK, maka Lembaga Linkage menandatangani
Perjanjian Kredit/Pembiayaan dengan Bank Pelaksana.
d) Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada perusahaan penjamin. Perusahaan
Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan atas nama masing-masing UMKMK.
e) Lembaga Linkage menerus pinjamkan kredit/pembiayaan yang diterima dari Bank
Pelaksana kepada debitur UMKMK. Debitur UMKMK melakukan pembayaran
kewajiban kredit/pembiayaan kepada Bank Pelaksana melalui Lembaga Linkage.
B. Penyaluran KUR Mikro Secara Langsung
Untuk penyaluran KUR Mikro secara langsung telah disepakati Bank Rakyat Indonesia sebagai
pelaksana. Dalam hal bank lainnya akan menyalurkan KUR Mikro secara langsung maka
dipersyaratkan mendapatkan persetujuan dari Komite Kebijakan.
C. Pengaturan Penyaluran KUR Melalui Lembaga Linkage
1. KUR yang disalurkan kepada Lembaga Linkage dengan pola Executing diatur sebagai
berikut :
a) Lembaga Linkage tersebut diperbolehkan sedang memperoleh Kredit/ Pembiayaan
dari perbankan.
b) Lembaga Linkage tersebut tidak sedang memperoleh Kredit Program Pemerintah.
c) Plafon KUR yang dapat diberikan oleh Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage
maksimal sebesar Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) dengan jangka waktu
sesuai ketentuan KUR.
d) Suku bunga KUR dari Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage maksimal sebesar
14 % (empat belas persen) efektif pertahun.
e) Suku bunga dan plafon kredit/pembiayaan dari Lembaga Linkage kepada UMKMK
ditetapkan maksimal sebesar 22% efektif per tahun dan maksimal Rp 100 juta per
debitur.
f) Lembaga Linkage bertanggung jawab atas pengembalian KUR yang diterima dari
Bank Pelaksana.
g) KUR yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin adalah KUR yang diterima oleh
Lembaga Linkage yang masih termasuk dalam kriteria terjamin sesuai dengan
perjanjian kerjasama Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin.
2. KUR yang disalurkan kepada Lembaga Linkage dengan pola Channeling diatur sebagai
berikut :
a) Lembaga Linkage diperbolehkan sedang memperoleh Kredit/Pembiayaan dari
perbankan maupun Kredit Program Pemerintah.
b) Jumlah KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana adalah sesuai dengan daftar
nominatif calon debitur yang diajukan oleh Lembaga Linkage.
c) Plafon, suku bunga dan jangka waktu KUR melalui Lembaga Linkage kepada debitur
mengikuti ketentuan KUR Retail dan KUR Mikro.
d) Atas penyaluran KUR tersebut, Lembaga Linkage berhak memperoleh fee dari Bank
Pelaksana yang besarnya ditentukan berdasarkan kesepakatan dengan Bank
Pelaksana.
e) Debitur KUR bertanggung-jawab atas pengembalian KUR.
f) Jumlah kredit yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin adalah sesuai dengan yang
diterima oleh Debitur KUR.
D. Putusan Pemberian KUR
Putusan pemberian KUR sepenuhnya menjadi wewenang Bank Pelaksana.
E. Agunan dan Pengikatan
1. Agunan Pokok
Kelayakan usaha dan obyek yang dibiayai.
2. Agunan Tambahan
a) Sesuai dengan ketentuan pada Bank Pelaksana.
b) Dalam hal diperlukan pengikatan, maka dilakukan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku pada Bank Pelaksana.
F. Jangka Waktu
Jangka waktu KUR ditetapkan sebagai berikut :
1. Jangka waktu KUR tidak melebihi 3 (tiga) tahun untuk modal kerja dan 5 (lima) tahun
untuk kredit/pembiayaan investasi.
2. Dalam hal diperlukan perpanjangan, suplesi, dan restrukturisasi, maka jangka waktu
sebagaimana diatur dalam angka 1) dapat diperpanjang menjadi maksimal 6 (enam) tahun
untuk kredit/pembiayaan modal kerja dan 10 (sepuluh) tahun untuk kredit/pembiayaan
investasi terhitung sejak tanggal perjanjian kredit awal.
G. Perpanjangan, Tambahan Pinjaman (Suplesi), dan Restrukturisasi
1. Kepada Debitur KUR yang usahanya meningkat, dan memerlukan tambahan kredit maka
dapat diberikan perpanjangan berupa tambahan plafon kredit maupun jangka waktu
terhadap Debitur KUR tersebut tanpa menunggu pinjaman yang bersangkutan dilunasi,
dengan ketentuan:
a) Debitur yang bersangkutan masih belum dapat dikategorikan bankable.
b) Total pinjaman setelah penambahan tidak melebihi Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah)
untuk KUR Mikro atau tidak melebihi sebesar Rp 500.000.000,- (lima ratus juta
rupiah) untuk KUR Ritel atau tidak melebihi Rp.1.000.000.000 (satu milyar rupiah)
untuk KUR yang diberikan kepada Lembaga Linkage dengan pola executing.
c) Ketentuan lainnya, sesuai dengan ketentuan KUR Mikro atau KUR Ritel atau KUR
melalui Lembaga Linkage.
2. Debitur KUR yang bermasalah dimungkinkan untuk direstrukturisasi sesuai ketentuan
yang berlaku di Bank Pelaksana, dengan ketentuan:
a) Tidak diperbolehkan penambahan plafon pinjaman KUR.
b) Ketentuan lainnya sesuai dengan ketentuan KUR Mikro atau KUR Ritel.
c) Terhadap KUR yang di restrukturisasi tidak menggugurkan hak klaim dari Bank
Pelaksana kepada Perusahaan Penjamin.
H. Imbal Jasa Penjaminan
1. Imbal Jasa Penjaminan menjadi beban Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN),
dihitung dari Nilai Penjaminan yang diperjanjikan. Tarif Imbal Jasa Penjaminan
ditentukan dalam Peraturan Menteri Keuangan
2. Tata cara penagihan dan pembayaran Imbal Jasa Penjaminan diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan.
3. SOP tentang Verifikasi Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR dan Pembayaran Imbal
Jasa Penjaminan KUR mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan.
I. Ketentuan Penjaminan
1. Syarat Klaim
Klaim dapat diajukan kepada Perusahaan Penjamin setelah:
a) Perjanjian kredit jatuh tempo dan Debitur KUR tidak melunasi kewajiban
pengembalian pinjaman, atau
b) KUR yang bersangkutan dalam kolektibilitas kredit 4 (diragukan) sesuai ketentuan
Bank Indonesia, atau
c) Keadaan insolvent:
1) Debitur dinyatakan pailit oleh Pengadilan yang berwenang,
2) Debitur dikenakan likuidasi berdasarkan keputusan Pengadilan yang berwenang
dan untuk itu telah ditunjuk likuidator,
3) Debitur diletakkan di bawah pengampuan.
2. Besarnya Klaim
Klaim penjaminan yang dapat diajukan oleh Bank Pelaksana sebesar 70% (tujuh puluh
persen) x (sisa pokok + bunga + denda) dengan setinggi-tingginya sebesar 70% (tujuh
puluh persen) x plafon KUR.
3. Resiko Kerugian Debitur KUR yang tidak dijamin, yaitu :
a) Bencana alam nasional (atau wabah penyakit menular pada manusia/hewan
berkuku/unggas) yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
b) Reaksi nuklir, sentuhan radio aktif, radiasi reaksi inti atom yang langsung
mengakibatkan kegagalan usaha Debitur untuk melunasi KUR tanpa memandang
bagaimana dan dimana terjadinya.
c) Peperangan baik dinyatakan maupun tidak atau sebagian wilayah Indonesia
dinyatakan dalam keadaan bahaya atau dalam keadaan darurat perang.
d) Huru-hara yang berkaitan dengan gerakan atau kerusuhan politik yang secara
langsung mengakibatkan kegagalan debitur untuk melunasi KUR.
e) Tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia terhadap
debitur dan/atau bank yang mengakibatkan debitur wanprestasi.
Kecuali ditetapkan lain oleh Komite Kebijakan.
4. Subrogasi
a) Klaim yang telah dibayar oleh Perusahaan Penjamin kepada Bank Pelaksana tidak
membebaskan debitur dari kewajibannya untuk melunasi kredit / pembiayaan.
b) Dalam hal Perusahaan Penjamin telah membayar klaim kepada Bank Pelaksana maka
hak tagih dan hasil penjualan agunan beralih menjadi hak subrogasi yang dibagi
secara proporsional antara Perusahaan Penjamin dan Bank Pelaksana.
c) Berdasarkan pertimbangan dan untuk kepentingan Debitur KUR, antara lain dalam
hal pemenuhan agunan tambahan, maka Departemen Keuangan melalui Peraturan
Menteri Keuangan dapat mengatur kembali mengenai ketentuan dan pelaksanaan
subrogasi tersebut diatas.
5. Pelaksana pembayaran klaim:
a. Dalam hal terjadi tuntutan klaim dari bank pelaksana dan persyaratan klaim telah
terpenuhi untuk dibayar sedangkan pihak penjamin belum menerima Imbal Jasa
Penjaminan dari pemerintah, maka perusahaan penjamin harus melakukan
pembayaran atas tuntutan klaim tersebut
b. Secara keseluruhan pembayaran klaim maksimum yang dapat dilakukan oleh
Perusahaan Penjamin adalah sebesar maksimum dana Penyertaan Modal Negara
(PMN) yang ditempatkan pada Perusahaan Penjamin ditambah hasil investasi dari
modal PMN dan imbalan jasa penjaminan setelah dikurangi biaya operasional.
6. Tata cara pengajuan penjaminan, tata cara pengajuan klaim, gugurnya hak klaim,
subrogasi dan lain-lain agar mengacu pada Perjanjian Kerjasama yang ditandatangani oleh
Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin.
J. Monitoring, Evaluasi, dan Pengawasan
1. Komite Kebijakan melakukan monitoring dan evaluasi setiap 3 (tiga) bulan. Hasil
kegiatan tersebut disampaikan dalam bentuk laporan.
2. Pengawasan
a) Komite Kebijakan melakukan pengawasan atas pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat
sebagai tindakan yang bersifat preventif dan melakukan verifikasi secara selektif
melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
b) Dalam melakukan pengawasan tersebut, BPKP akan bekerjasama dengan unit audit
internal Bank Pelaksana dan Perusahaan Penjamin.
c) Pelaksanaan pengawasan oleh BPKP akan diatur tersendiri dalam SOP Pengawasan
KUR dengan berpedoman pada SOP Pelaksanaan KUR dan Perjanjian Kerjasama
antara Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin.
K. Pelaporan
1. Bank Pelaksana melaporkan pelaksanaan KUR setiap bulan kepada Komite Kebijakan
melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan
dengan tembusan kepada Perusahaan Penjamin dengan format laporan sebagai berikut:
a) Realisasi total penyaluran KUR dan baki debet, termasuk jumlah debiturnya;
b) Realisasi penyaluran KUR menurut sektor ekonomi, termasuk jumlah debiturnya;
sektor pertanian dalam arti luas mencakup: pertanian, kehutanan, dan
kelautan/perikanan. Pertanian dalam arti sempit meliputi: tanaman pangan,
hortikultura, perkebunan, dan peternakan.
c) Realisasi penyaluran KUR menurut provinsi, termasuk jumlah debiturnya;
d) Jumlah Kredit Bermasalah (Non Performing Loan = NPL), termasuk jumlah debitur,
sektor ekonomi, dan provinsi.
e) Realisasi total penyaluran KUR dari Lembaga Linkage kepada UMKMK menurut
pola executing dan channeling, termasuk jumlah Lembaga Linkage dan jumlah
debiturnya.
2. Perusahaan Penjamin setiap bulannya melaporkan pengajuan dan realisasi klaim dari
setiap Bank Pelaksana kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Menko Perekonomian
Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan selaku Ketua Tim Pelaksana, dengan
tembusan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan,
Kementerian Keuangan selaku regulator dan kepada Bank Pelaksana dengan format
laporan sebagai berikut:
a) Pengajuan Penjaminan kredit/pembiayaan;
b) Pengajuan Klaim kredit/pembiayaan;
c) Realisasi pembayaran Klaim, persentase Non Performing Guarantee (NPG);
d) Klaim yang masih dalam proses;
e) Klaim yang ditolak.
3. Laporan sebagaimana dimaksud angka 1) dan angka 2) berisi data posisi akhir bulan dan
disampaikan paling lambat tgl 15 bulan berikutnya.
L. Kewajiban Kementerian Teknis
1. Kementerian Teknis mempunyai kewajiban, yaitu:
a) mempersiapkan UMKMK yang melakukan usaha produktif yang bersifat individu,
kelompok, kemitraan dan /atau cluster yang dapat dibiayai dengan KUR;
b) menetapkan kebijakan dan prioritas bidang usaha yang akan menerima penjaminan
KUR;
c) melakukan pembinaan dan pendampingan UMKMK selama masa kredit/
pembiayaan atau ketika usulan kredit/ pembiayaan UMKMK ditolak oleh Bank
Pelaksana;
d) memfasilitasi hubungan antara UMKMK dengan pihak lainnya seperti perusahaan
inti/offtaker yang memberikan kontribusi dan dukungan untuk kelancaran usaha.
2. Untuk melaksanakan kewajiban tersebut, Kementerian Teknis melakukan langkah-
langkah:
a) menyiapkan rencana kerja pendukung pelaksanaan KUR, khususnya yang terkait
dengan penyiapan UMKM dan koperasi sebagai calon debitur KUR, dan pembinaan
dan pendampingan bagi UMKM dan koperasi selama masa kredit/pembiayaan atau
ketika usulan kredit/pembiayaan ditolak oleh bank, serta penyediaan fasilitasi bagi
UMKM dan koperasi dengan pihak lain, khususnya Pemerintah Daerah, yang
mendukung kelancaran usaha UMKM dan koperasi;
b) memasukkan rencana kerja pendukung pelaksanaan KUR sesuai tupoksinya dalam
rancangan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L) masing-masing, dan
mengusulkan penganggarannya;
c) pengaturan lebih lanjut mengenai kegiatan perencanaan terkait pelaksanaan KUR
dapat dirumuskan dalam SOP tersendiri oleh Kementerian.
BAB III
PENUTUP
Dalam hal terdapat perbedaan pendapat atau hal-hal yang belum diatur, maka penyelesaiannya
akan diputuskan oleh Komite Kebijakan berdasarkan asas musyawarah dan mufakat.
DEPUTI BIDANG KOORDINASI
EKONOMI MAKRO DAN
KEUANGAN
KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG PEREKONOMIAN
SELAKU
KETUA TIM PELAKSANA KOMITE
KEBIJAKAN PENJAMINAN
KREDIT/PEMBIAYAAN
KEPADA USAHA MIKRO, KECIL,
MENENGAH DAN KOPERASI,
ERLANGGA MANTIK
LAMPIRAN-LAMPIRAN
NOTA KESEPAHAMAN BERSAMA ANTARA KEMENTERIAN TEKNIS
DENGAN PERUSAHAAN PENJAMIN DAN BANK PELAKSANA
TENTANG PERNJAMINAN KREDIT / PEMBIAYAAN
USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI TANGGAL 09
OKTOBER 2007
.............................................(akan diisi oleh Kemenko Perekn)....................................
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 135/PMK.5/2008 TENTANG
FASILITAS PENJAMINAN KREDIT USAHA RAKYAT TANGGAL 4
SEPTEMBER 2008.
.............................................(akan diisi oleh Kemenko Perekn).....................................
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 10/PMK.5/2008 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NO.135/PMK.05/2009 TENTANG
PENJAMINAN FASILITAS KREDIT USAHA RAKYAT TANGGAL 2
FEBRUARI 2009.
.............................................(akan diisi oleh Kemenko Perekn).....................................
ADDENDUM I NOTA KESEPAHAMAN BERSAMA
(Memorandum of Understanding)
a n t a r a
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DEPARTEMEN PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA
DEPARTEMEN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA
DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA
DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
KEMENTERIAN NEGARA KOPERASI DAN UKM REPUBLIK
INDONESIA
Dengan
PERUSAHAAN UMUM (PERUM) SARANA PENGEMBANGAN USAHA
PT (PERSERO) ASURANSI KREDIT INDONESIA
Dan
PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) Tbk
PT BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
PT BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO)
PT BANK BUKOPIN Tbk
PT BANK
SYARIAH MANDIRI
TENTANG
PENJAMINAN
KREDIT
/PEMBIAYAAN
KEPADA
USAHA MIKRO,
KECIL,
MENENGAH, DAN
KOPERASI


Pada hari ini Rabu, tanggal Empat Belas bulan Nei tahun Dua Ribu Delapan (1+ - 05 -
2008) di Jakarta, kami yang bertandatangan di bawah ini:
PIHAK PERTAMA sebagai Pelaksana Teknis Program yang terdiri dari :

{7). Departemen Keuangan Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh
Sri Nulyani !ndrawati selaku Nenteri Keuangan Republik !ndonesia yang
diangkat berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 20fP Tahun
2005, tanggal 5 Desember 2005 berkedudukan di Jl. Lapangan
Banteng Timur Nomor 2-+ Jakarta Pusat, yang bertindak dalam jabatannya
tersebut, oleh karenanya berwenang melakukan perbuatan hukum untuk
dan atas nama Departemen Keuangan Republik !ndonesia. -------------------
---------------------------------------------

{S). Departemen Pertanian Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh
Anton Apriyantono selaku Nenteri Pertanian Republik !ndonesia yang
diangkat berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor.187fN Tahun 200+,
tanggal 20 Oktober 200+ berkedudukan di Jl. Harsono RN No. 3
Ragunan - Jakarta Selatan, yang bertindak dalam jabatannya tersebut,
oleh karenanya berwenang melakukan perbuatan hukum untuk dan atas
nama Departemen Pertanian Republik !ndonesia. -------------------------------
---------------------------------------------------------

{9). Departemen Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia, dalam
hal ini diwakili oleh Freddy Numberi selaku Nenteri Kelautan dan Perikanan
Republik !ndonesia yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Presiden
Nomor. 187fN Tahun 200+, tanggal 20 Oktober 200+ berkedudukan di Jl.
Nedan Nerdeka Timur No. 16 Jakarta Pusat, yang bertindak dalam
jabatannya tersebut, oleh karenanya berwenang melakukan perbuatan
MOU-517.1JMKJ200S
145JKU.430JMJ6J200S
PKS.6JMENHUT-VJ200S
05JMEN-KPJKBJVJ200S
530.1JM.INDAG.VJ200S
01JNKBJM.KUKMJVJ200S
31JSARANAJVJ200S
ADD.IJ17JMOUJXJASKRINDOJ2007
B.246-DIRJPRGJ5J200S
DIR.MOUJ003J200S MAN
DIRJ021
30JADDJMOUJDIRJ200S
233JDIR-DMKKJVJ200S
Nomor :
10J014-MOUJDIR
hukum untuk dan atas nama Departemen Kelautan Dan Perikanan Republik
!ndonesia. -----------------------------------------------

{10). Departemen Perindustrian Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili
oleh Fahmi !dris selaku Nenteri Perindustrian Republik !ndonesia yang
diangkat berdasarkan Keputusan Presiden Nomor.20fP-Tahun 2005,
tanggal 5 Desember 2005 berkedudukan di Jl. Gatot Subroto 52-53 Jakarta
Selatan, yang bertindak dalam jabatannya tersebut, oleh karenanya
berwenang melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama Departemen
Perindustrian Republik !ndonesia. --------

{11). Departemen Kehutanan Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili
oleh H.N.S. Kaban selaku Nenteri Kehutanan Republik !ndonesia yang
diangkat berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor. 187fN Tahun
200+, tanggal 20 Oktober 200+ berkedudukan di Jl. Jenderal Gatot
Subroto, Jakarta Selatan, yang bertindak dalam jabatannya tersebut, oleh
karenanya berwenang melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama
Departemen Kehutanan Republik !ndonesia. -------------------------------------
---------------------------------------------------

{12). Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Usaha
Menengah Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh Suryadharma
Ali selaku Nenteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Nenengah
Republik !ndonesia, berkedudukan di Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 3-5 Jakarta
Selatan, yang bertindak dalam jabatannya tersebut, oleh karenanya
berwenang melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama
Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Nenengah Republik
!ndonesia. ------------------------------------------------------------------------------
----------
PIHAK KEDUA sebagai Perusahaan Penjamin yang terdiri dari :
{13). Perusahaan Umum {Perum) Sarana Pengembangan Usaha, dalam
hal ini diwakili oleh Nahid Hudaya, bertindak selaku Direktur Utama
Perusahaan Umum (Perum) Sarana Pengembangan Usaha, dalam hal ini
bertindak dalam jabatannya sesuai Keputusan Nenteri Badan Usaha Nilik
Negara Republik !ndonesia Nomor KEP-190fNBUf2007 tanggal 27 Agustus
2007 tentang Pemberhentian Dan Pengangkatan Anggota Direksi
Perusahaan Umum (Perum) Sarana Pengembangan Usaha, dengan
demikian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2000
tentang Perusahaan Umum (Perum) Sarana Pengembangan Usaha yang
telah diumumkan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik !ndonesia
Tahun 2000 Nomor 190, bertindak untuk dan atas nama serta sah
mewakili Perusahaan Umum (Perum) Sarana Pengembangan Usaha, yang
berkedudukan di Jakarta dan beralamat di Gedung Sarana Penjaminan
Jalan Angkasa Blok B-9 Kav. 6 Kota Baru Bandar Kemayoran Jakarta Pusat.
-----------------------------------------------------------

{14). PT {Persero) Asuransi Kredit Indonesia {PT. Askrindo), dalam hal ini
diwakili oleh Chairul Bahri, selaku Direktur Utama PT. Asuransi Kredit
!ndonesia yang berkedudukan dan beralamat di Jl. Angkasa Blok B-9 Kav.
No. 8 Jakarta 10610, yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Bersama
Nenteri Badan Usaha Nilik Negara dan Gubernur Bank !ndonesia Nomor
KEP - 1+9fNBUf2007
9/31/KEP.GBI/2007
tanggal 17 Juli 2007 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan anggota-anggota Direksi
Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Asuransi Kredit Indonesia, oleh karenanya berdasarkan
Anggaran Dasar yang beberapa kali diubah terakhir dengan akte Notaris Imas Fatimah, SH. Nomor :
18 tanggal 26 Mei 1998 dan perubahannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman RI,
Nomor: C2-7.504. HT.01.04.TH.98 tanggal 25 Juni 1998 dan telah diumumkan dalam Berita
Negara Republik Indonesia tanggal 16 November 1998 Nomor : 92 Tambahan Nomor : 6370 dan
perubahan terakhirnya dengan Akta Notaris Imas Fatimah, SH, Nomor : 29 tanggal 30 November
2005 dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Azazi Manusia, Republik
Indonesia, sesuai Surat Keputusan Nomor: C-34240 HT.01.04.TH.2005 tanggal 22 Desember 2005,
berwenang melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama PT Asuransi Kredit Indonesia. --------
-----------------------------------------------------------------------
PIHAK KETIGA sebagai Bank Pemberi Kredit yang terdiri dari :
{15). PT Bank Rakyat Indonesia {Persero) Tbk, dalam hal ini diwakili oleh
Sofyan Basir, selaku Direktur Utama PT. Bank Rakyat !ndonesia (Persero)
Tbk, bertempat tinggal di Jakarta, dalam hal ini bertindak dalam
jabatannya tersebut mewakili Direksi, oleh karena itu berdasarkan
Anggaran Dasar Perseron yang diumumkan dalam Berita Negara Republik
!ndonesia Nomor 88 tanggal + November 2003, Tambahan Nomor 11053,
bertindak untuk dan atas nama PT. Bank Rakyat !ndonesia (Persero) Tbk,
berkedudukan di Jalan Jenderal Sudirman No. ++-+6 Jakarta Pusat. ---------
--------------------------------------------------------------------------

{2). PT Bank Mandiri {Persero) Tbk, dalam hal ini diwakili oleh Agus
Martowardojo, selaku Direktur Utama PT Bank Nandiri (Persero) Tbk,
bertempat tinggal di Jakarta, dalam hal ini bertindak dalam jabatannya
tersebut mewakili Direksi, oleh karena itu berdasarkan ketentuan Pasal 12
ayat (11) Anggaran Dasar Perseroan yang dibuat dihadapan Sutjipto,
Sarjana Hukum, Notaris di Jakarta dengan Akta Nomor 10 tanggal 2
Oktober 1998, yang telah diumumkan dalam Berita Negara Republik
!ndonesia Nomor 97 tanggal + Desember 1998 Tambahan Berita Negara
Republik !ndonesia Nomor 6859 yang telah mengalami beberapa kali
perubahan, dengan perubahan terakhir Anggaran Dasar sebagaimana
dimuat dalam Akta Notaris DR. Amrul Partomuan Pohan, SH. L.LN Nomor
35 tanggal 28 Nei 2007, laporan perubahan Anggaran Dasar telah diterima
dan dicatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum
(S!SN!NBAKUN) Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Departemen
Kehakiman dan Hak Asasi Nanusia Republik !ndonesia Nomor W7-
HT.01.0+.7919 tanggal 5 Juni 2007, Keputusan Direksi PT Bank Nandiri
(Persero) Tbk Nomor KEP.D!Rf11+Af2006 tanggal 16 Agustus 2006
tentang Tentang Tata Tertib Direksi PT Bank Nandiri (Persero) Tbk, oleh
karena itu sah bertindak untuk dan atas nama PT Bank Nandiri (Persero)
Tbk, berkedudukan dan berkantor pusat di Jalan Jenderal Gatot Subroto
Kavling 36-38 Jakarta. ---------------------------------------------------------------
---------------------------

{3) PT Bank Negara Indonesia {Persero) Tbk, dalam hal ini diwakili oleh
Gatot Mudiantoro Suwondo, selaku Direktur Utama PT Bank Negara
!ndonesia (Persero) Tbk, yang dalam hal ini bertindak dalam jabatannya
tersebut, dengan demikian berdasarkan Anggaran Dasar perseroan beserta
perubahannya yang terakhir diumumkan dalam Berita Negara Republik
!ndonesia tanggal 18 Nei 2007 Nomor +0, dan tambahan Berita Negara
Nomor 52+, berwenang bertindak untuk dan atas nama PT Bank Negara
!ndonesia (Persero) Tbk berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta
dengan alamat Jl. Jenderal Sudirman Kavling 1. ----------

{4) PT Bank Tabungan Negara {Persero), dalam hal ini diwakili oleh Iqbal
Latanro, Direktur Utama PT Bank Negara !ndonesia, berdasarkan Surat
Keputusan Nenteri Negara Badan Usaha Nilik Negara selaku Rapat Umum
Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Bank Tabungan
Negara Nomor: KEP - 291fNBUf2007, tanggal 19 Desember 2007, dalam
kedudukannya tersebut dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama PT.
BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) sesuai dengan Anggaran Dasarnya
yang dimuat dalam Akta Notaris Sutjipto, SH, Nomor 25 tanggal 0+-09-
1998 yang termuat dalam Berita Negara Republik !ndonesia tanggal 27-11-
2001, Nomor 95, Tambahan Nomor 7651 berikut perubahan-perubahan
terakhir dengan Akta Notaris Siti Rayhana, SH, sebagai Pengganti dari
Notaris BRAY. Nahyastoeti, N, SH, Nomor 63, tanggal 31-03-2008, yang
telah disetujui oleh Nenteri Hukum dan Hak Asasi manusia berdasarkan
Keputusan Nenteri Hukum dan Hak Asasi Nanusia Nomor: AHU-
16595.AH.01.02.Tahun 2008, tanggal 03 April 2008, yang saat ini
berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta, Jalan Gajah Nada No. 1
Jakarta 10130. -------------

{5) PT Bank Bukopin Tbk, dalam hal ini diwakili oleh Glen Glenardi, selaku
Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk, yang dalam hal ini bertindak dalam
jabatannya tersebut oleh karenanya berdasarkan Anggaran Dasar PT Bank
Bukopin Tbk, yang didirikan dengan Akta tertanggal 25 Pebruari 1993 No.
126 yang telah disahkan oleh Nenteri Kehakiman R! tertanggal 29 Juni
1993 No. C2-5332.HT.01.01.TH.93 dan telah diumumkan dalam Berita
Negara R! tertanggal 10 Agustus 1993 No. 6+, Tambahan No. 3633 yang
seluruh Anggaran Dasarnya telah diubah dengan Akta Pernyataan
Keputusan Rapat tertanggal 27 April 2005 No. 30 yang telah mendapat
persetujuan dari Nenteri Hukum Dan Hak Asasi Nanusia R! tertanggal 2
Nei 2005 No. C-11786.HT.01.0+.TH.2005 dan telah dimumkan dalam
Berita Negara tertanggal 2+ Juni 2005 No. 50 Tambahan No. 6661 dan
terakhir diubah dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat tertanggal 20
Juli 2006 No. 18 yang telah dilaporkan dan diterima serta dicatat pada
Departemen Hukum Dan Hak Asasi Nanusia R! tertanggal + Agustus 2006
No. C-22919 HT.01.0+.TH.2006 serta berkaitan dengan Akta Pernyataan
Keputusan rapat tertanggal 28 Juni 2006 No. 86, berwenang melakukan
perbuatan hukum untuk dan atas nama PT Bank Bukopin Tbk,
berkedudukan di Jl. NT Haryono Kav.50-51 Jakarta-12770.-------------

{6) PT Bank Syariah Mandiri, berkedudukan di Jakarta, Jalan NH Thamrin
No.5 Jakarta 103+0, didirikan berdasarkan akta No.23, tanggal 08
September 1999, dibuat dihadapan Notaris Sutjipto, SH dan telah
memperoleh persetujuan Nenteri Kehakiman Republik !ndonesia
berdasarkan Surat Keputusan No. C-16+95.HT.01.0+.TH.99 tanggal 16
September 1999 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik
!ndonesia tanggal 31 Oktober 2000 No.87, Tambahan No.6588, akta mana
terakhir diubah berturut-turut dengan Akta Berita Acara Rapat Umum Luar
Biasa Para Pemegang Saham PT Bank Syariah Nandiri No. 83 tanggal 22
Juni 2005 dihadapan Ny. Agustina Junaedi, SH Notaris di Jakarta, Akta
Pernyataan Keputusan Pemegang Saham PT Bank Syariah Nandiri No.10
tanggal 21 Desember 2005 dan Akta Pernyataan Keputusan Pemegang
Saham PT Bank Syariah Nandiri No.11 tanggal 21 Desember 2005 yang
keduanya dibuat dihadapan Badarusyamsi, SH Notaris di Jakarta, Akta
Risalah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Bank Syariah
Nandiri No.56 tanggal 17 Nei 2006 dihadapan !mas Fatimah, SH Notaris di
Jakarta, Akta Pernyataan Keputusan Rapat PT Bank Syariah Nandiri No.59
tanggal 17 Nei 2006 dibuat dihadapan !mas Fatimah, SH Notaris di
Jakarta, akta mana telah diumumkan dalam Berita Negara Republik
!ndonesia No.7+ tanggal 15 September 2006 Tambahan No.960f2006,
Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa
Perseroan Terbatas PT Bank Syariah Nandiri No.119 tanggal 19 Juni 2007
dibuat dihadapan Harun Kamil, SH Notaris di Jakarta, dalam hal ini diwakili
oleh YUSLAM FAUZI selaku Direktur Utama, yang bertindak dalam
jabatannya tersebut mewakili Direksi, oleh karenanya sah bertindak untuk
dan atas nama PT Bank Syariah Nandiri. -----------------------------------------
-------------------------------------------------
P!HAK PERTANA, P!HAK KEDUA dan P!HAK KET!GA, secara bersama-sama selanjutnya
disebut PARA P!HAK, terlebih dahulu menerangkan hal-hal sebagai berikut : -----------------
----------------

+. 8arWa Para P|ra| pada largga| 09 0|looer 200Z le|ar rerardalargar| Nola Kesepararar 8ersara
(Vemoranoum ol unoersrano|ng) lerlarg Perjar|rar Kred|l/Pero|ayaar 8ag| usara V||ro, Kec|| dar
Verergar 0a|ar Rarg|a Pe|a|saraar lrslru|s| Pres|der Noror Tarur 200Z Terlarg Keo|ja|ar
Percepalar Pergeroargar 3e|lor R||| 0ar Peroerdayaar usara V||ro, Kec|| dar Verergar
(se|arjulrya d|seoul Nota Kesepahaman ersama)

5. 8arWa oerdasar|ar ras|| eva|uas| alas perya|urar Kred|l usara Ra|yal (KRE0lT u3AlA RAKYAT),
Para P|ra| sepa|al urlu| re|a|u|ar Adderdur l alas Nota Kesepahaman ersama seoaga|rara
d|ra|sud da|ar oul|r 1 d|alas.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, Para Pihak setuju dan sepakat untuk membuat dan
menandatangani Addendum ! Nota Kesepahaman Bersama (Nemorandum of
Understanding) tentang Penjaminan KreditfPembiayaan Bagi Usaha Nikro, Kecil dan
Nenengah, (selanjutnya disebut Addendum I) dengan ketentuan-ketentuan dan
syarat-syarat sebagai berikut :

!. Menambah 5 (lima) ayat pada Pasal 2 Ruang Lingkup Kerjasama dari Nota
Kesepahamam Bersama, yang semula terdiri dari 7 ayat menjadi 12 ayat,
sehingga tambahan ayat-ayat tersebut tertulis sebagai berikut :

Pasal 2
Ruang Lingkup Kerjasama

(8) KreditfPembiayaan yang dapat disalurkan oleh P!HAK KET!GA kepada setiap
Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi (UMKMK) yang dijamin oleh
P!HAK KEDUA adalah KreditfPembiayaan Baru dan atau diberikan kepada
Debitur Baru dan bukan kepada Debitur yang sedang menerima
KreditfPembiayaan dari perbankan yang dibuktikan dengan hasil Bank
!ndonesia Checking pada saat permohonan KreditfPembiayaan diajukan.

(9) P!HAK KET!GA dapat memberikan KreditfPembiayaan KRED!T USAHA RAKYAT
dengan jumlah setinggi-tingginya Rp 5.000.000,- kepada setiap UNKN-K baik
secara langsung (direct) maupun tidak langsung (indirect) yang dijamin oleh
P!HAK KEDUA dengan suku bungafbagi hasil maksimal sebesarfsetara 2+
efektif per-tahun.

(10) Komite Kebijakan sebagaimana dimaksud ayat (1) melakukan pengawasan
atas pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagai tindakan yang bersifat
preventif dan melakukan verifikasi secara selektif melalui Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

(11) P!HAK KEDUA hanya memberikan jaminan kepada Kredit Usaha Rakyat yang
diperjanjikan oleh P!HAK KET!GA dengan Debitur Perbankan.

(12) P!HAK KEDUA dan P!HAK KET!GA wajib melaporkan pelaksanaan penyaluran
Kredit Usaha Rakyat setiap bulannya kepada Komite Kebijakan cq. Deputi !
Nenko Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana dengan format laporan
sebagai berkut : Realisasi Total Penyaluran KRED!T USAHA RAKYAT, Realisasi
Penyaluran KRED!T USAHA RAKYAT menurut Sektor Ekonomi, Realisasi
Penyaluran KRED!T USAHA RAKYAT menurut Propinsi, Jumlah Debitur
Penerima KRED!T USAHA RAKYAT dan disampaikan paling lambat pada
tanggal 10 bulan berikutnya. Khusus P!HAK KEDUA agar melaporkan juga
daftar klaim berikut realisasi klaim yang disetujui.
Addendum ! ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Nota Kesepahaman
Bersama (Nemorandum of Understanding) yang telah ditandatangani pada tanggal 9
Oktober 2007

PIHAK PERTAMA
NENTER! KEUANGAN
REPUBL!K !NDONES!A





Sri Nulyani !ndrawati

NENTER! KEHUTANAN
REPUBL!K !NDONES!A





N. S Kaban

NENTER! PERTAN!AN
REPUBL!K !NDONES!A





Anton Apriyantono

NENTER! PER!NDUSTR!AN
REPUBL!K !NDONES!A





Fahmi !dris

NENTER! KELAUTAN DAN PER!KANAN
REPUBL!K !NDONES!A






Freddy Numberi

NENTER! NEGARA KOPERAS!
DAN USAHA KEC!L DAN NENENGAH
REPUBL!K !NDONES!A





Suryadharma Ali


PIHAK KEDUA
PERUSAHAAN UNUN (PERUN)
SARANA PENGENBANGAN USAHA





Nahid Hudaya
Direktur Utama
PT ASURANS! KRED!T !NDONES!A






Chairul Bahri
Direktur Utama

PIHAK KETIGA
PT BANK RAKYAT !NDONES!A (Persero) Tbk





Sofyan Basir
Direktur Utama

PT BANK NAND!R! (Persero) Tbk






Agus Nartowardoyo
Direktur Utama
PT BANK NEGARA !NDONES!A (Persero) Tbk





Gatot Nudiantoro Suwondo
Direktur Utama

PT BANK TABUNGAN NEGARA (Persero)





!qbal Latanro
Direktur Utama
PT BANK BUKOP!N Tbk





Glen Glenardi
Direktur Utama
PT BANK SYAR!AH NAND!R!





Yuslam Fauzi
Direktur Utama





Mengetahui,
Nenteri Koordinator Bidang Perekonomian


Boediono


BANK !NDONES!A
Deputi Gubernur Senior


Niranda S. Goeltom


NENTER! NEGARA BADAN USAHA N!L!K NEGARA
REPUBL!K !NDONES!A


Sofyan A. Djalil
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
REPUBLIK INDONESIA

SAL!NAN

KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A

-3 KEPUTUSAN DEPUT! B!DANG KOORD!NAS! EKONON! NAKRO DAN KEUANGAN
KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN SELAKU KETUA T!N
PELAKSANA KON!TE KEB!JAKAN PENJAN!NAN KRED!TfPENB!AYAAN
KEPADA USAHA N!KRO, KEC!L, NENENGAH DAN KOPERAS!


NONOR : KEP-1+fD.!.N.EKONf0+f2009


TENTANG


STANDAR OPERAS!ONAL DAN PROSEDUR
PELAKSANAAN KRED!T USAHA RAKYAT


DEPUT! B!DANG KOORD!NAS! EKONON! NAKRO DAN KEUANGAN KENENTER!AN
KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN SELAKU KETUA T!N PELAKSANA
KON!TE KEB!JAKAN PENJAN!NAN KRED!TfPENB!AYAAN KEPADA
USAHA N!KRO, KEC!L, NENENGAH DAN KOPERAS!,

Nenimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan efektifitas pelaksanaan Kredit
Usaha Rakyat agar sesuai dengan tujuan dan tepat sasaran
sebagaimana yang diamanatkan dalam Nota Kesepahaman
Bersama (Nemorandum of Understanding) tentang Penjaminan
KreditfPembiayaan Kepada Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan
Koperasi yang ditanda tangani tanggal 9 Oktober 2007, perlu
adanya Standar Operasional dan Prosedur (SOP) pelaksanaan
Kredit Usaha Rakyat;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, perlu menetapkan Keputusan Deputi Bidang Koordinasi
Ekonomi Nakro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan
Penjaminan KreditfPembiayaan Kepada Usaha Nikro, Kecil,
Nenengah dan Koperasi tentang Standar Operasional dan
Prosedur Pelaksanaan Usaha Kredit Rakyat;

Nengingat : 1. Peraturan Presiden Republik !ndonesia Nomor 9 Tahun 2005
tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian Negara
Republik !ndonesia, sebagaimana terakhir diubah dengan
Peraturan Presiden Republik !ndonesia Nomor 20 Tahun 2008;
2. Peraturan Presiden Republik !ndonesia Nomor 10 Tahun 2005
tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon ! Kementerian Negara
Republik !ndonesia, sebagaimana terakhir diubah dengan
Peraturan Presiden Republik !ndonesia 50 Tahun 2008;
3. Keputusan Presiden Republik !ndonesia Nomor 163fN Tahun 2005;
+. Peraturan Nenteri Koordinator Bidang Perekonomian
Nomor : PER-03fN.EKONf07f2007 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian;
5. Keputusan Nenteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor:
KEP-05fN.EKONf01f2008 tentang Komite Kebijakan Penjaminan
KreditfPembiayaan Kepada Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan
Koperasi, sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Nenteri
Koordinator Bidang Perekonomian Nomor: KEP32fN.EKONf05f2008;

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:

Nenetapkan :KEPUTUSAN DEPUT! B!DANG KOORD!NAS! EKONON! NAKRO DAN
KEUANGAN, KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG
PEREKONON!AN SELAKU KETUA T!N PELAKSANA KON!TE
KEB!JAKAN PENJAN!NAN KRED!TfPENB!AYAAN KEPADA USAHA
N!KRO, KEC!L, NENENGAH DAN KOPERAS! TENTANG STANDAR
OPERAS!ONAL DAN PROSEDUR PELAKSANAAN USAHA KRED!T
RAKYAT.
PERTANA : Nenetapkan Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Usaha
Kredit Rakyat, sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Nakro dan Keuangan Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite
Kebijakan Penjaminan KreditfPembiayaan Kepada Usaha Nikro, Kecil,
Nenengah dan Koperasi ini.
KEDUA : Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Nakro dan Keuangan,
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim
Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan KreditfPembiayaan Kepada
Usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi ini mulai berlaku pada
tanggal ditetapkan dan berlaku surut sejak tanggal 1+ Nei 2008.






Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 28 April 2009

DEPUT! B!DANG KOORD!NAS! EKONON! NAKRO
DAN KEUANGAN KENENTER!AN KOORD!NATOR
B!DANG PEREKONON!AN SELAKU
KETUA T!N PELAKSANA KON!TE KEB!JAKAN
PENJAN!NAN KRED!TfPENB!AYAAN
KEPADA USAHA N!KRO, KEC!L,
NENENGAH DAN KOPERAS!,






t.t.d
SAHALA LUNBAN GAOL
KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


LANP!RAN
KEPUTUSAN DEPUT! B!DANG KOORD!NAS!
EKONON! NAKRO DAN KEUANGAN
KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG
PEREKONON!AN SELAKU KETUA T!N
PELAKSANA KON!TE KEB!JAKAN PENJAN!NAN
KRED!TfPENB!AYAAN KEPADA USAHA N!KRO,
KEC!L, NENENGAH DAN KOPERAS!

NONOR : KEP-1+fD.!.N.EKONf0+f2009
TANGGAL : 28 April 2009











BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Dalam rangka mendukung !npres Nomor 6 Tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan
Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Nikro, Kecil dan Nenengah (UNKN),
telah dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama (Nemorandum of
Understanding) tentang Penjaminan KreditfPembiayaan Kepada Usaha Nikro, Kecil,
Nenengah dan Koperasi pada tanggal 9 Oktober 2007 antara: Pelaksana Teknis Program
(Departemen Keuangan, Departemen Pertanian, Departemen Perindustrian, Departemen
Kehutanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian Negara Koperasi dan
Usaha Kecil dan Nenengah, dengan Perusahaan Penjamin (Perusahaan Umum Jaminan
Kredit !ndonesia, dan PT. Asuransi Kredit !ndonesia), dan Bank Pemberi
KreditfPembiayaan (PT. Bank Rakyat !ndonesia (Persero) Tbk, PT. Bank Nandiri (Persero)
Tbk, PT. Bank Negara !ndonesia (Persero) Tbk, PT. Bank Tabungan Negara (Persero), PT.
Bank Bukopin Tbk dan PT. Bank Syariah Nandiri). Penandatanganan NoU tersebut
disaksikan oleh Nenteri Koordinator Bidang Perekonomian, Gubernur Bank !ndonesia, dan
Nenteri Negara Badan Usaha Nilik Negara.

Untuk pemantauan dan evaluasi pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagaimana
yang diamanatkan dalam NoU, telah dibentuk Komite Kebijakan Penjaminan Kredit oleh
Nenteri Koordinator Bidang Perekonomian. Komite Kebijakan juga melakukan
pengawasan pelaksanaan KUR melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
(BPKP).



KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A

-2
Sejak peluncurannya oleh Presiden Republik !ndonesia tanggal 5 November 2007,
program KUR mendapat respon positif dari masyarakat, khususnya Usaha Nikro, Kecil,
Nenengah, dan Koperasi (UNKNK). Selain itu, minat masyarakat untuk dapat
memanfaatkan KUR semakin meningkat sehingga penyaluran KUR tumbuh dengan cepat.
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan program KUR oleh Komite
Kebijakan KUR dan agar pelaksanaan KUR dapat sesuai dengan tujuan dan tepat sasaran,
maka dilakukan Addendum ! Nota Kesepahaman Bersama (NoU) pada tanggal 1+ Nei
2008. Berkenaan dengan hal diatas, untuk meningkatkan efektifitas di dalam pelaksanaan
KUR,
maka dipandang perlu adanya Standar Operasional dan Prosedur (SOP) sebagai
pedomanfpetunjuk pelaksanaan KUR.
I.2. Maksud dan Tujuan
Dalam rangka meningkatkan efektifitas pelaksanaan KUR agar sesuai dengan tujuan dan
tepat sasaran sebagaimana yang diamanatkan dalam Addendum ! Nota Kesepahaman
Bersama (NoU) pada tanggal 1+ Nei 2008, dan sekaligus penjabaran dari Nemorandum
of Understanding (NoU) dan Addendum ! NoU tentang Penjaminan KreditfPembiayaan
kepada UNKNK antara Pelaksana Teknis Program dengan Perusahaan Penjamin dan Bank
Pemberi KreditfPembiayaan, maka perlu disusun Standar Operasional dan Prosedur
(SOP) sebagai pedomanfpetunjuk pelaksanaan bagi masing-masing pihak yang terkait
dengan pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi, serta pengawasan program KUR.
I.3. Peraturan Perundangan
Beberapa peraturan perundangan yang terkait dengan SOP ini, antara lain:
1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara 1992
Nomor 31; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3+72), sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara 1998 Nomor 182;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3790).

KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A

-3
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara
1992 Nomor 116; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3502).
3. Undang-Undang ...
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Nikro, Kecil dan Nenengah
(Lembaran Negara 2008 Nomor 93; Tambahan Lembaran Negara Nomor +866).
+. Peraturan Nenteri Keuangan Nomor: 10fPNK.05f2009 tentang Fasilitas Penjaminan
Kredit Usaha Rakyat sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Nenteri Keuangan
Nomor 135fPNK.05f2008.
5. Keputusan Nenteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor: KEP05f
N.EKONf01f2008 tentang Komite Kebijakan Penjaminan Kredit kepada Usaha
Nikro, Kecil, Nenengah, dan Koperasi sebagaimana telah diubah dengan Keputusan
Nenteri Koordinator Bidang Perekonomian nomor: KEP-32fN.EKONf05f2008.

I.4. SASARAN SOP KUR
Sasaran SOP KUR adalah:
1. Tersalurnya KUR sesuai dengan maksud dan tujuan NoU untuk meningkatkan akses
pembiayaan dan mengembangkan UNKNK dalam rangka
penanggulanganfpengentasan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja.
2. Tercapainya percepatan pengembangan sektor riil dan pemberdayaan UNKNK.
I.5. Pengertian Umum

Dalam pedoman ini didefinisikan beberapa istilah agar lebih mudah dipahami oleh
berbagai pihak, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran yang menyebabkan
permasalahan dalam pemahamannya.
1. KreditfPembiayaan:
Kredit adalah Penyediaan Uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjamfpembiayaan antara bank
dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah
jangka waktu tertentu dengan pemberian bungafmarjin.
Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank
dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang
atau tagihan tersebut setelah jangka waktu dengan imbalan atau bagi hasil.
2. Bank Pemberi Kredit:
Bank yang ikut menandatangani Nota Kesepahaman Bersama Penjaminan
KreditfPembiayaan kepada UNKNK yaitu Bank BR!, Bank Nandiri, Bank Negara
!ndonesia, Bank Tabungan Negara, Bank Bukopin dan Bank Syariah Nandiri.

3. KreditfPembiayaan baru :
Fasilitas KreditfPembiayaan baru yang diberikan kepada calon debitur dalam rangka
pelaksanaan KUR.

+. Debitur KUR:
Usaha Nikro, Kecil, Nenengah, dan Koperasi (UNKNK) atau kelompok usaha.
5. Debitur Baru :
Debitur-debitur yang belum pernah mendapat KreditfPembiayaan modal kerja
danfatau investasi dari perbankan yang wajib dibuktikan dengan hasil Bank !ndonesia
Cheking pada saat permohonan kreditfpembiayaan diajukan danfatau belum pernah
memperoleh fasilitas kredit program dari Pemerintah sesuai ketentuan dalam PNK
nomor 135 Tahun 2008 yang telah diubah dengan PNK nomor 10 Tahun 2009.
Pengecualian terhadap debitur pemegang kartu kredit, KPR, atau penerima dana
bergulir perlu ditetapkan oleh Komite Kebijakan.




KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A

-+
6 Perusahaan Penjamin :
Perusahaan yang melakukan dan memberikan sebagian penjaminan terhadap KUR
yaitu PT Askrindo dan Perum Jamkrindo.
Fungsi Perusahaan Penjamin adalah meng-cover penjaminan kreditfpembiayaan secara
otomatis (automatic cover) atas Debitur Bank Pemberi Kredit yang telah memenuhi
ketentuan KUR.
7. Usaha Nikro :
Usaha produktif milik orang perorangan danfatau badan usaha perorangan yang
memenuhi kriteria Usaha Nikro yaitu :
a. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus
juta rupiah).
8. Usaha Kecil
Adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang
perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung
maupun tidak langsung dari Usaha Nenengah atau Usaha Besar yang memenuhi
kriteria Usaha Kecil yaitu :

a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus
juta rupiah).
9.Usaha Nenengah
Adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang
perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau
hasil penjualan tahunan yang memenuhi kriteria usaha menengah yaitu :
a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar
lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,00 (lima
puluh milyar rupiah).
10. Koperasi :
Badan Usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum Koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.
11. Usaha Produktif :
Usaha untuk menghasilkan barang danfatau jasa untuk memberikan nilai tambah dan
meningkatkan pendapatan bagi debitur dari usaha yang dilakukan.
12. Usaha Layak
Usaha calon debitur yang menguntungkanfmemberikan laba sehingga mampu
membayar bungafmarjin dan mengembalikan seluruh hutangfkewajiban pokok
kreditfpembiayaan dalam jangka waktu yang disepakati bank dengan debitur dan
memberikan sisa keuntungan untuk mengembangkan usahanya.

13. Belum Bankable :
UNKNK yang belum dapat memenuhi persyaratan perkreditanf pembiayaan dari
bank pemberi kredit antara lain dalam hal penyediaan agunan dan pemenuhan
persyaratan perkreditanfpembiayaan yang sesuai dengan ketentuan bank.


KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-5
1+. KUR Nikro:
KreditfPembiayaan dengan skema KUR dengan Plafond sampai dengan Rp.
5.000.000,-(lima juta rupiah) dengan suku bunga kreditfmargin pembiayaan
maksimal sebesarfsetara 2+ efektif per tahun atau 1.125 Flat rate per bulan.
15. KUR Ritel:
KreditfPembiayaan dengan skema KUR dengan Plafond diatas Rp. 5.000.000,- sfd Rp.
500.000.000,-dengan suku bunga kreditfmargin pembiayaan maksimal
sebesarfsetara 16 efektif per tahun.
16. KUR Linkage :
a. Penyaluran KUR dengan jumlah kreditfpembiayaan maksimum Rp 5 juta (Nikro)
atau KUR dengan jumlah kreditfpembiayaan Rp 5 juta sampai dengan maksimum
Rp 500 juta (Ritel) yang dapat dilakukan oleh Bank Pemberi Kredit untuk diberikan
kepada UNKNK melalui Lembaga Linkage, yaitu:
1) Koperasi, antara lain: Koperasi Sekunder, Koperasi Primer (Koperasi Simpan
Pinjam, Unit Simpan Pinjam Koperasi), Baitul Nal Wa Tanwil, atau
2) Kelompok Usaha (seperti: kelompok tanifternakftambak, Gabungan Kelompok
Tani, Asosiasi Petani, dll), atau
3) Bank Perkreditan RakyatfSyariah (BPRfBPRS), atau
+) Lembaga Keuangan Nikro (LKN) antara lain: Badan Kredit Desa (BKD),
Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP).






KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-6
b. Penyaluran KUR Linkage dapat dilakukan dengan Pola Channeling atau Executing.
c. Pemberian kreditfpembiayaan kepada anggota melalui koperasifkelompok dalam
suatu cluster usaha yang sejenis. Koperasifkelompok bertindak mewakili anggota
dalam menandatangani Perjanjian Kredit dengan Bank berdasarkan surat kuasa dari
anggota yang menerima pinjaman (kemudian masing-masing anggota penerima
pinjaman tersebut dapat menandatangani Surat Pengakuan HutangfSPH kepada
bank).
17. Lembaga Keuangan Nikro :
Badan usaha keuangan yang menyediakan layanan jasa keuangan mikro, seperti
Badan Kredit Desa (BKD) dan Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP) yang bukan
bank dan bukan Koperasi,
18. Lembaga Linkage :
Suatu Badan Usaha antara lain sebagai berikut: Koperasi Sekunder, Koperasi Primer
(Koperasi Simpan Pinjam, Unit Simpan Pinjam Koperasi), Badan Kredit Desa (BKD),
Baitul Nal Wa Tanwil (BNT), Bank Perkreditan RakyatfSyariah (BPRfBPRS) atau
Kelompok Usaha atau Lembaga Keuangan Nikro yang menghubungkan antara Bank
Pemberi Kredit dan debitur (UNKNK).
19. Pola Penyaluran Langsung :
KreditfPembiayaan yang langsung diberikan Bank Pemberi Kredit langsung kepada
UNKNK dimana kewajiban pengembalian kreditfpembiayaan tersebut menjadi
tanggung jawab UNKNK selaku penerima kredit fpembiayaan.





KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-7

20. Pola Penyaluran Tidak Langsung:
KreditfPembiayaan yang diberikan bank pemberi kredit kepada UNKNK melalui
Lembaga Linkage dengan pola channeling atau pola executing.
21. Pola Channeling :
Suatu bentuk penyaluran kreditfpembiayaan dengan penerusan KreditfPembiayaan
dari Bank Pemberi Kredit kepada UNKNK melalui Lembaga Linkage, dimana
kewajiban dari pengembalian KreditfPembiayaan tersebut menjadi tanggung jawab
UNKNK selaku penerima KUR.

















KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-8
Catatan:
a. Penerima kreditfpembiayaan adalah UNKNK;
b. Naksimum kreditfpembiayaan adalah Rp.500.000.000 per UNKNK;
c. Yang wajib mengembalikan kreditfpembiayaan adalah UNKNK;
d. Yang mendapat penjaminan adalah UNKNK.
22. Pola Executing :
bentuk pemberian KreditfPembiayaan dari Bank Pemberi Kredit kepada
UNKNK melalui Lembaga Linkage, dimana kewajiban pengembalian
KreditfPembiayaan tersebut menjadi tanggung jawab Lembaga Linkage selaku
penerima kreditfpembiayaan.
Catatan:
a. Penerima kreditfpembiayaan adalah Lembaga Linkage;
b. Naksimum kreditfpembiayaan adalah Rp.500.000.000 per Lembaga Linkage;
c. Yang wajib mengembalikan kreditfpembiayaan adalah Lembaga Linkage;
d. Yang mendapat penjaminan adalah Lembaga Linkage.









KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-9
BAB II
PELAKSANAAN KUR
II.1. Ruang Lingkup KUR
Kredit Usaha Rakyat (KUR) diberikan untuk usaha produktif, sebagai modal kerja
dan atau investasi, dengan plafond kredit sampai dengan Rp. 500 juta kepada setiap
usaha Nikro, Kecil, Nenengah dan Koperasi yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin. KUR
merupakan KreditfPembiayaan baru dan fatau diberikan kepada Debitur Baru dan bukan
kepada Debitur yang sedang menerima KreditfPembiayaan dari perbankan yang dibuktikan
dengan hasil Bank !ndonesia Checking setelah diterimanya data updated dari B!.
KUR diberikan untuk semua usaha produktif bagi usaha mikro, kecil, menengah dan
koperasi dengan pembagian risiko (risk sharing) 70 ditanggung oleh Perusahaan
Penjamin dan 30 ditanggung oleh Bank Pemberi Kredit.

Pemberian KUR untuk sektor usaha dan kondisi tertentu antara lain sektor budidaya
pertanian atau perikanan atau lainnya dimana UNKNK tidak dapat menyediakan agunan
tambahan, maka bank pemberi kredit dapat membagi resiko yang menjadi
tanggungjawabnya
kepada pihak lain. Dalam hal terjadi kondisi seperti ini, maka pembagian resiko
dimaksud adalah bukan sebagai agunan danfatau tidak berfungsi sebagai agunan dari
UNKNK penerima KUR.

Berdasarkan tujuan penggunaannya, jenis KUR yang diberikan untuk usaha produktif
berupa Kredit Nodal Kerja atau Kredit !nvestasi. Kredit Usaha Rakyat tidak diperbolehkan
untuk:



KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-10

1. Debitur yang telah bankable.
2. Take over fasilitas kreditfpembiayaan non KUR.
3. Perpanjanganftambahan fasilitas kreditfpembiayaan dari debitur yang telah
memperoleh kreditfpembiayaan non KUR dari bank.
+. Debitur yang sedang memperoleh kreditfpembiayaan dengan subsidi bunga atau
fasilitas kredit program atau fasilitas lain dari pemerintah.
II.2. Sumber Dana KUR
Sumber dana penyaluran KUR adalah seratus persen bersumber dari dana bank
pemberi kreditfpembiayaan.

II.3. Pola penyaluran
1. Langsung ke UNKNK (Pola Executing)
Bank Pemberi Kredit UNKNK
1 Perusahaan Penjamin
2. a. Bank melakukan penilaian secara individu terhadap calon debitur. Apabila dinilai
layak dan disetujui oleh Bank selanjutnya debitur menandatangani Perjanjian
Kreditfpembiayaan.
b. Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada Perusahaan Penjamin.
Naksimal penjaminan 70 dari plafond kreditfpembiayaan yang diberikan, dan
selanjutnya perusahaan penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan kepada
UNKNK sesuai yang diatur dalam Perjanjian Kerjasama (PKS).
2. Tidak langsung (melalui lembaga linkagefPola Channeling atau Executing
Bank Pemberi Kredit Lembaga Linkage UNKNK
1
3
3
2
Perusahaan Penjamin


+ PK
a. UNKN-K memberikan kuasa kepada pengurus Lembaga Linkage untuk:
1) Nengajukan kreditfpembiayaan kepada bank;
2) Nenjaminkan agunan pokok kepada bank.
b. Lembaga Linkage mewakili anggota mengajukan permohonan kredit kepada Bank
dan menandatangani Perjanjian Kreditfpembiayaan.
c. Persetujuan ...
c. Persetujuan kreditfpembiayaan dari bank pemberi kreditfpembiayaan melalui
Lembaga Linkage digunakan untuk membiayai investasi dan modal kerja UNKNK
untuk selanjutnya UNKNK dapat menandatangani Surat Pengakuan Hutang (SPH)
kepada Bank.
d. Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada perusahaan penjamin.
Naksimal penjaminan oleh perusahaan penjamin adalah 70 dari plafond kredit.
e. Untuk pola channeling: perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan
untuk masing-masing UNKNK
f. Untuk pola executing: perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan
kepada Lembaga Linkage.

II.4. Persyaratan Calon Debitur Untuk Pengajuan KUR
Sesuai dengan ketentuan bank pemberi kredit dan NoU serta Addendum NoU.

II.5. Putusan Pemberian KUR
Putusan pemberian KUR sepenuhnya menjadi wewenang bank pemberi kredit sesuai
ketentuan yang berlaku.

KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-11
II.6. Agunan dan pengikatan
1. Agunan Pokok
a. Kelayakan usaha dan obyek yang dibiayai.
b. Pengikatan : Sesuai dengan ketentuan bank pemberi kredit
2. Agunan Tambahan (apabila diperlukan)
a. Besarnya nilai agunan tambahan sesuai dengan ketentuan bank pemberi
kreditfpembiayaan dan maksimal 50 dari jumlah kreditfpembiayaan yang
disalurkan (risk sharing yang ditanggung oleh bank pemberi kredit sesuai ketentuan
NoU KUR).
b. Khusus untuk Kredit !nvestasi tidak dipersyaratkan adanya agunan tambahan.
c. Pengikatan : sesuai dengan ketentuan yang berlaku.















KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A

-12
II.7. Perpanjangan, Tambahan Pinjaman {Suplesi), dan
Restrukturisasi
1. Kepada Debitur KUR eksisting yang usahanya meningkat, dan memerlukan tambahan
kredit maka dapat diberikan perpanjangan berupa tambahan plafond kredit maupun
jangka waktu terhadap debitur tersebut tanpa menunggu pinjaman yang
bersangkutan dilunasi, dengan ketentuan:
a. Debitur yang bersangkutan masih belum dapat dikategorikan bankable,
b. Total pinjaman setelah penambahan tidak melebihi Rp 5 juta untuk KUR yang
dibebani bunga pinjaman maksimal 2+ efektif per tahun, atau tidak melebihi
sebesar Rp 500 juta untuk KUR yang dibebani bunga pinjaman maksimal sebesar
16 efektif per tahun,
c. Total jangka waktu pinjaman setelah penambahan tidak melebihi 3 (tiga) tahun
untuk kreditf pembiayaan modal kerja, atau 5 (lima) tahun untuk
kreditfpembiayaan investasi terhitung mulai tanggal efektifnya pengajuan kredit
antara bank pemberi KUR dan UNKNK.
2. KUR yang bermasalah dimungkinkan untuk direstrukturisasi sesuai ketentuan yang
berlaku di bank pemberi kreditfpembiayaan, dengan ketentuan:
a. Tidak diperbolehkan penambahan limit pinjaman.
b. Dapat diberikan penambahan jangka waktu kredit maksimum 1 (satu) tahun untuk
kredit modal kerja, dan 2 (dua) tahun untuk kredit investasi.
c. Terhadap restrukturisasi yang sudah dilakukan tidak menggugurkan hak klaim
(sesuai ketentuan dalam peraturan menteri keuangan terkait).




KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-13

II.S. Imbal Jasa Penjaminan
1. !mbal Jasa Penjaminan menjadi beban Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN),
dihitung dari Nilai Penjaminan yang diperjanjikan. Tarif !mbal Jasa Penjaminan sebesar
1,5 (satu koma limapuluh perseratus) per tahun.
2. Tata cara penagihan dan pembayaran !mbal Jasa Penjaminan diatur dalam Peraturan
Nenteri Keuangan.
3. SOP tentang verifikasi Pembayaran !mbal Jasa Penjaminan KUR dan Pembayaran
!mbal Jasa Penjaminan KUR mengikuti ketentuan dalam Peraturan Nenteri Keuangan.
II.9. Imbal Jasa Penjaminan
1. Syarat Klaim
Klaim dapat diajukan kepada Perusahaan Penjamin setelah:
a. Perjanjian kredit jatuh tempo, atau
b. KUR yang bersangkutan dalam kolektibilitas kredit + (diragukan) sesuai ketentuan
Bank !ndonesia, atau
c. Keadaan insolvent:
1) Debitur dinyatakan pailit oleh Pengadilan yang berwenang
2) Debitur dikenakan likuidasi berdasarkan keputusan Pengadilan yang berwenang
dan untuk itu telah ditunjuk likuidator
3) Debitur diletakkan di bawah pengampuan.
2. Besarnya Klaim
Klaim penjaminan yang dapat diajukan oleh Bank Pemberi Kredit sebesar 70 x (sisa
pokok + bunga sampai dengan 3 bulan setelah kreditfpembiayaan dikategorikan
diragukan + denda sampai dengan 3 bulan setelah kreditfpembiayaan dikategorikan
diragukan) dengan setinggi-tingginya sebesar 70 x plafond kredit.

3. Resiko Kerugian UNKNK Yang Tidak Dijamin
a. Bencana alam nasional (atau wabah penyakit menular pada manusiafhewan
berkukufunggas) yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
b. Reaksi nuklir, sentuhan radio aktif, radiasi reaksi inti atom yang langsung
mengakibatkan kegagalan usaha Debitur untuk melunasi KUR tanpa memandang
bagaimana dan dimana terjadinya.
c. Peperangan baik dinyatakan maupun tidak atau sebagian wilayah !ndonesia
dinyatakan dalam keadaan bahaya atau dalam keadaan darurat perang.
d. Huru-hara yang berkaitan dengan gerakan atau kerusuhan politik yang secara
langsung mengakibatkan kegagalan debitur untuk melunasi KUR.
e. Tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Republik !ndonesia terhadap
debitur danfatau bank yang mengakibatkan debitur wanprestasi.
Kecuali ditetapkan lain oleh Komite Kebijakan.
+. Subrogasi
a. Klaim yang telah dibayar oleh Perusahaan Penjamin kepada Bank Pemberi Kredit
tidak membebaskan debitur dari kewajibannya untuk melunasi kredit f
pembiayaan.
b. Dalam hal Perusahaan Penjamin telah membayar klaim kepada bank maka hak
tagih dan hasil penjualan agunan beralih menjadi hak subrogasi yang dibagi secara
proporsional antara Perusahaan Penjamin dan bank pemberi kreditfpembiayaan.
5. Pelaksanaan Pembiayaan Klaim
a.Dalam hal terjadi tuntutan klaim di bank Pemberi KreditfPembiayaan dan
persyaratan klaim telah dipenuhi untuk dibayar sedangkan Pihak Perusahaan
Penjamin belum menerima !JP dari Pemerintah, maka Perusahaan Penjamin harus
melakukan pembayaran atas tuntutan klaim tersebut.
b.Secara keseluruhan pembayaran klaim maksimum yang dapat dilakukan oleh
Perusahaan Penjamin adalah sebesar maksimum dana PNN yang ditempatkan pada
Perusahaan Penjamin ditambah sisa hasil investasi dari modal PNN yang
ditempatkan tersebut.

KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-1+

6. Tata cara pengajuan penjaminan, tata cara pengajuan klaim, gugurnya hak klaim,
subrogasi dan lain -lain agar mengacu pada Perjanjian Kerja Sama yang telah
ditandatangani oleh bank pemberi KUR dengan Perusahaan Penjamin Kredit .

II.10. Monitoring, Evaluasi, dan Pengawasan
1. Komite Kebijakan melakukan monitoring dan evaluasi setiap 3 (tiga) bulan.
2. Pengawasan
a. Komite Kebijakan melakukan pengawasan atas pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat
sebagai tindakan yang bersifat preventif dan melakukan verifikasi secara selektif
melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
b. Dalam melakukan pengawasan tersebut, BPKP akan bekerjasama dengan audit
internal bank pelaksana.
c. Pelaksanaan pengawasan internal oleh BPKP akan diatur tersendiri dalam SOP
Tatacara Audit !nternal atas Pelaksanaan KUR.











KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-15

II.11. Pelaporan
1. Bank pemberi kreditfpembiayaan melaporkan pelaksanaan KUR setiap bulan kepada
Komite Kebijakan cq. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Nakro dan Keuangan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite
Kebijakan dengan format laporan sebagai berikut:
a. Realisasi Total penyaluran KUR, termasuk jumlah debiturnya.
b. Realisasi penyaluran KUR menurut sektor ekonomi, termasuk jumlah debiturnya.
c. Realisasi penyaluran KUR menurut provinsi, termasuk jumlah debiturnya.
d. NPLfNPF (termasuk jumlah debitur, sektor ekonomi, dan provinsi).
2. Perusahaan Penjamin Kredit melaporkan:
a. Daftar pengajuan penjaminan oleh bank pemberi kreditfpembiayaan, dan daftar
yang telah diberikan penjaminanfsertifikat (termasuk jumlah debitur, sektor
ekonomi, dan provinsi).
b. Daftar pengajuan klaim dan daftar realisasi klaim yang disetujui, serta Non
Performing GuaranteefNPG (termasuk jumlah debitur, sektor ekonomi, dan
provinsi).
c. Laporan juga disampaikan kepada Bapepam-LK, Departemen Keuangan selaku
regulator.
3. Pelaporan disampaikan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dengan toleransi 3
hari untuk menyamakannya dengan dilaporkan ke S!D.






KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-16
II.11. Kewajiban Departemen Teknis
Sesuai NoU, Departemen Teknis mempunyai kewajiban, yaitu:
1. Nempersiapkan UNKNK yang melakukan usaha produktif yang bersifat individu,
kelompok, kemitraan dan fatau cluster untuk dapat dibiayai dengan KUR.
2. Nenetapkan kebijakan dan prioritas bidang usaha yang akan menerima penjaminan
KUR.
3. Nelakukan pembinaan dan pendampingan selama masa kreditfpembiayaan atau ketika
usulan kreditf pembiayaan UNKNK ditolak oleh bank.
+. Nemfasilitasi hubungan antara UNKNK dengan pihak lainnya seperti perusahaan
intifofftaker yang memberikan kontribusi dan dukungan untuk kelancaran usaha.
















KENENTER!AN KOORD!NATOR B!DANG PEREKONON!AN
REPUBL!K !NDONES!A


-17
BAB III
PENUTUP


III.1. Masa Peralihan
1. Untuk kredit fpembiayaan yang sudah direalisasikan sebelum berlakunya Addendum !
NoU KUR, tetap mengacu pada Perjanjian antara Bank Pemberi Kredit dan Perusahaan
Penjamin, dan dinyatakan masih tetap berlaku sampai kreditfpembiayaan dinyatakan
lunas.
2. Untuk kreditfpembiayaan yang sudah direalisasikan kepada debitur setelah berlakunya
Addendum ! NoU dan tidak sesuai dengan pengertian debitur KUR pada SOP ini agar
diselesaikan oleh perusahaan penjamin dan bank pemberi kreditfpembiayaan.

III.2. Masa Peralihan
Apabila terdapat perbedaan pendapat atau hal-hal yang belum diatur, maka
penyelesaiannya dikembalikan kepada Komite Kebijakan.

III.3. Masa Berlaku
SOP Pelaksanaan KUR ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan berlaku surut sejak
tanggal 1+ Nei 2008.









Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 28 April 2009

DEPUT! B!DANG KOORD!NAS! EKONON! NAKRO
DAN KEUANGAN KENENTER!AN KOORD!NATOR
B!DANG PEREKONON!AN SELAKU
KETUA T!N PELAKSANA KON!TE KEB!JAKAN
PENJAN!NAN KRED!TfPENB!AYAAN
KEPADA USAHA N!KRO, KEC!L,
NENENGAH DAN KOPERAS!,

t.t.d
SAHALA LUNBAN GAOL
NOTA KESEPAHAMAN BERSAMA
(Memorandum Of Understanding)
antara
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DEPARTEMEN PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA,
DEPARTEMEN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA
DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK
INDONESIA, DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA,
KEMENTRIAN NEGARA KOPERASI DAN UKM REPUBLIK
INDONESIA
Dengan
PERUSAHAAN UMUM (PERUM) SARANA PENGEMBANGAN USAHA,
PT(Persero) ASURANSI KREDIT INDONESIA
Dan
PT BANK RAKYAT INDONESIA (Persero) Tbk,
PT BANK MANDIRI (Persero)Tbk,
PT BANK NEGARA INDONESIA (Pesero)Tbk,
PT BANK TABUNGAN NEGARA (Persero),
PT BANK BUKOPIN Tbk,
PT BANK SYARIAH MANDIRI
4. Departemen Perindustrian Republik Indonesia, dalam hal ini di wakili oleh Fahmi
Idris. Selaku Menrti Perindustrian Republik Indonesia yang diangkat berdasarka
keputusan Presiden Nomor. 20/P-Tahun 2005, Tanggal 5 Desember 2005 berkedudukan
di Jl. Gatot Subroto 52-53, Jakarta Selatan, Yang bertindak dalam jabatannya tersebut,
oleh karenanya berwenang melakukan perbuatan hokum untuk dan atas nama
Departemen Perindustrian Republik Indonesia, ---------------------------------------------------
----------------------------------
5. Departemen Kehutanan Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili H.M.S Kaban,
selaku mentri Kehutanan Republik Indonesia yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan
Presiden Nomor 187/M Tahun 2004, tanggal 20 Oktober 2004 berkedudukan di Jl.Jendral
Gatot Subroto Jakrta, yang bertindak dalam jabatannya tersebut, oleh karnanya berwenang
melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama Departemen Kehutanan Republik
Indonesia, -----------------------------------------------------------------------------------------------
--
6. Kementrian Negara Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Usaha Menengah Republik
Indonesia, dalam hal ini diwakili Suryadharma Ali,, selaku Mentri Negara Koperasi dan
Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor
187/M Tahun 2005, tanggal 20 Oktober 2004 berkedudukan di Jl.H.R. Rasuna Kav. 3-5
Jakrta Selatan, yang bertindak dalam jabatannya tersebut, oleh karnanya berwenang
melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama Kementrian Negara Koperasi dan
Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, -------------------------------------------------
----------
II. PIHAK KEDUA sebagai Perusahaan Penjamin yang terdiri dari, -----------------------
--Perusahaan Umum (Perum) Sarana Pengembangan Usaha, dalam hal ini diwakili
oleh Nahid Hudaya, bertindak selaku Direktur Utama Perusahaan Umum(Perum) Sarana
Pengembangan Usaha,dalam hal ini bertindak dalam jabatannya sesuai keputusan Mentri
Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia Nomor KEP-190/MBU/2007 tanggal 27
Agustus 2007 tentang pemberhentian Dan Penganngkatan anggta Direksi Perusahaan
Umum(Perum) Sarana Pengembangan Usaha, dengan demikian berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 95 Tahun 2000 tentang Perusahaan Umum (Perum) Sarana
Pengembangan Usaha yang telah diumumkan dalam Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia tahun 2000 Nomor 190 Bertindak untuk dan atas nama serta sah
mewakili Perusahaan Umum (Perum) Sarana Pengembangan Usaha, yang berkendudukan
di Jakarta dan beralamat di Gedung Sarana Penjaminan Jalan Angkasa Blok B-9 Kav. 6
Kota Baru Bandar Kemayoran Jakarta Pusat. ------------------
1. PT (Persero) Asuransi Kredit Indonesia (PT. Askarindo ), dalam hal ini diwakili
oleh Chairul Bahri, bertindak selaku Direktur Utama PT.Asuransi Kredit Indonesia
yang berkedudukan dan beralamat di Jl. Angkasa Blok B-9 Kav. No. 8 Jakrta 10610
yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Bersama Mentri Badan Usaha Milik
Negara dan Gubernur Bank Indonesia Nomor
KEP-149/MBU/2007
9/31/KEP.GBI/2007
tanggal 17 Juli 2007 tentang Pemberhentian dan pengangkatan angota-angota Direksi
Perusahaan Perseroan (Persero) PT.Asuransi Kredit Indonesia, Oleh karenanya
berdasarkan Anggaran Dasar yang beberapa kali diubah terakhir dengan Akte Notaris
Imas Fatimah, SH. Nomor : 18 tanggal 26 Mei 1998 dan perubahannya telah
mendapat pengesahaan dari Mentri Kehakiman RI, Nomor : C2-
7.504.HT.01.04.TH.98 tanggal 26 Mei 1998 dan telah diumumkan dalam Berita
Negara Republik Indonesia tanggal 16 November 1998 Nomor : 92 Tambahan
Nomor : 6370 dan perubahan terakhirnya dengan Akta Notaris Imas Fatimah,SH.
Nomor : 29 tanggal 30 November 2005 dan telah mendapat pengesahaan dari Mentri
Hukum dan Hak Azazi Manusia,Republik Indonesia, sesuai Surat Keputusan Nomor
: C-34240 HT.01.04.TH.2005 tanggal 22 desember 2005, berwenang melakukan
perbuatan hokum untuk dan atas nama PT.Asuransi Kredit Indonesia, ------------------
--------------------------------------------------
III. PIHAK KETIGA sebagai Bank Pemberi Kredit Yang terdiri atas :
1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dalam hal ini diwakili oleh Sofyan
Basir, selaku Direktur Utama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk,
bertempat tinggal di Jakarta, dalam hal ini bertindak dalam jabatannya tersebut
mewakili Direksi, oleh karena itu berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan yang
diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 88 tanggal 4
November 2003,Tambahan Nomor 053, bertindak untuk dan atas nama PT.
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk,berkedudukan di Jalan Jendral Sudirman
No.44-46 Jakarta Pusat, -------------------------------------------------------------------
--------------------------
2. PT Bank Mandiri (Persero)Tbk, dalam hal ini diwakili oleh Agus
Martowardojo, selaku Direktur Utama PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk,
bertempat tinggal di Jakarta, dalam hal ini bertindak dalam jabatannya tersebut
mewakili Direksi, oleh karena itu berdasarkan Pasal 2 ayat (11) Anggaran Dasar
Perseroan yang dibuat dihadapan sutjibto, Sarjana Hukum,Notaris di Jakarta
dengan Akta Nomor 0 tanngal 2 Oktober 1998, yang telah diumumkan dalam
Brita Negara Repubik Indonesia Nomor 97 tanggal 4 Desember 1998
Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 6859 yang telah
mengalami beberapa kali perubahan, dengan perubahan terakhir Anggaran
Dasar sebagai mana dimuat dalam Akta Notaris DR. AmrulPartomuan
Pohan,SH.L.LM Nomor 35 tanggal 28 Mei 2007, Laporan perubahan Anggaran
Dasar telah diterima dan di catat dalam database Sistem Administrasi Badan
Hukum (SISMINBAKUM) Direktorat Jendral Administrasi Hukum
Departemen Kehakiman dan Hak Azazi Manusia Republik Indonesia nomor
W7-HT.01.04.7919 tanggal 5 Juni 2007, Keputusan Direksi PT. Bank Mandiri
(Persero) Tbk,oleh karena itu sah bertindak untuk dan atas nama PT. Bank
Mandiri (Persero) Tbk,Berkedudukan dan berkantor pusat di Jalan Gatot
Subroto Kavling 36-38 Jakarta, ----------------------------------------------------------
-----
3. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dalam hal ini diwakili oleh Sigit
Pramono, selaku Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk,
yang dalam hal ini bertindak dalam jabatannya tersebut,dengan demikian
berdasarkan Anggaran Dasar perseroan beserta perubahannya yang terakhir
diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 18 Mei 2007
Nomor 40,dan tambahan Berita Negara Nomor 524,berwenang bertindak untuk
dan atas nama PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, berkedudukan dan
berkantor pusat di Jkarta dengan Alamat Jl. Jendral Sudirman Kavling 1, --------
-----------------------------------
4. PT. BANG TABUNGAN NEGARA (PERSERO),dalam hal ini diwakili oleh
Kodradi,Direktur Utama, berdasarkan Surat Keputusan Mentri Keuangan
No.145/KMK.01/2000, tanggal 16 Mei 2000 jo Surat Mentri Badan Usaha Milik
Negara No. S-169/MBU/2005,tanggal 16 Mei 2005,perihal Surat Pelaksanaan
Tugas Direksi PT. Bank Tabungan Negara (Persero), dalam kedudukannya
tersebut dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama PT. Bank Tabungan
Negara (Persero) yang Anggaran dasarnya berdasarkan Akta pernyataan
keputusan pemegang Saham tentang Perubahan Anggaran Dasar PT. Bank
Tabungan Negara (Persero), No 29 tanggal 27 Oktober 2004 yang dimuat
dihadapa Emi Susilowati,SH; dan telah mendapatkan persetujuan sesuai
Keputusan Mentri Hukum da Hak Azazi Manusia No.C-27480
HT.01.04.TH.2004, tanggal 03 November 2004 serta diumumkan dalam
Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. 11 tanggal 8 Pebruari 2005;
Sebagai perubahan Terakhir atas Akte No.25 tertanggal 4 September 1998 yang
dibuat dihadapan Sutjipto, Sarjana Hukum-Notaris di Jakarta,sesuai keputusan
Mentri Kehakiman dan hak Azazi Manusia RI No.C-03568 HT.01.04. TH.2001
tanggal 20 Juli 2001, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No.95
tanggal 27 Nopember 2001 serta Akta Perubahan pasal 26 Anggaran Dasar
Perseroan Nomor 97 tanggal 28 Juni 2002 yang dibuat di hadapan Fatimah
Helmi,Sarjana Hukum-Notaris di Jakarta, yang saat ini berkedudukan dan
berkantor pusat di Jakarta,Jalan Gajah Mada No.1 Jakarta 10130, ------------------
---------------------------
5. PT. Bank Bukopin Tbk, dalam hal ini diwakili oleh Glen Glenardi, seaku
Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk, yang dalam hal ini bertindak dalam
Jabatannya berdasarkan Anggaran Dasar Pt Bank Bukopin Tbk, yang didirikan
dengan Akta Tertanggal 25 Pebruari 1993 No.126 yang telah disahkan oleh
Mentri Kehakiman RI tertanggal 29 Juni 1993 No.C2-5332.HT.01.01.TH.93
dan telah diumumkan dalam Berita Negara RI tertanggal 10 Agustus 1993 No.
64,Tambahan No.18 yang telah dilaporkan dan diterima serta dicatat pada
Departemen Hukum dan Hak Azazi Manusia RI tertanggal 4 Agustus 2006
No.C-22919 HT.01.04.TH.2006 serta berkaitandengan Akta pernyataan
Keputusan rapat tanggal 28 Juni 2006 No.86,berwenang melakukan perbuatan
hukum untuk dan atas nama PT Bank Bukopin Tbk, Berkedudukan di Jl. MT
Haryono Kav.50-51 Jakarta-12770, ----------
6. PT Bank Syariah Mandiri, berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta
Jl.M.H. Thamrin No.5 Jakarta Pusat, didirikan berdasarkan Akta No.23 Tanggal
8 September 1999, dibuat dihadapan Sutjipto,SH, Notaris di Jkarta dan telah
memperoleh persetujuan Mentri Kehakiman Republik Indonesia berdasarka
surat keputusan No.C-16495.HT.01.04.TH.99 tanggal 16 September 1999, dan
telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Tanggal 31 Oktober
2000 No.87, Tambahan No.6588,akta mana terakhir diubah berturut-turut
dengan Akta Berita Acara Rapat Umum Luar Biasa Pemegang Saham No.83
tanggal 22 Juni 2005 yang dibuat dihadapan NY.Agustina Junaedi,SH, Notaris
di Jakarta, Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham No.10 dan 1,
Keduanya tanggal 21 Desember 2005 yang dibuat di hadapan Badarusyamsi,SH,
Notaris di Jakarta, Akta Risalah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa No.
56 tanggal 17 Mei 2006 yang dibuat dihadapan Imas Fatimah,SH,Notaris di
Jakarta, yang telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 74
tanggal 15 September 2006 Tambahan No. 960/2006, dalam hal ini diwakili
oleh Yuslam Fauzi, selaku Direktur Utama, karenanya sah bertindak untuk dan
atas nama PT Bank Syariah Mandiri, ---------------------------------------------------
---------------------------------------
PIHAK PERTAMA,PIHAK KEDUA dan PIHAK KETIGA, secara Bersama-sama
selanjutnya disebut PARA PIHAK, terlebih dahulu menerangkan hal-hal sebagai berikut
:
Para Pihak terlebih dahulu menerangkan hal-hal sebagai berikut ; -----------------------
----
1. Bahwa PIHAK PERTAMA adalah Lembaga Pemerintah yang bertugas
membantu Presiden Republik Indonesia Sebagai Pelaksana Teknis Program
Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro,Kecil,Menengah, dan
Koperasi, ----------------
2. Bahwa PIHAK KEDUA adalah perusahaan yang melakukan kegiatan dalam
bentuk pemberi jaminan Kredit/pembiayaan untuk membantu Usaha
Mikro,Kecil,Menengah dan Kopersi guna memperoleh kredit/pembiayaan dari Bank,
--------------------------------
3. Bahwa PIHAK KETIGA adalah perusahaan yang melakukan kegiatan Usaha
dalam bidang layanan perbankan yang salah satunya dalam bentuk penyaluran kredit
untuk membantu Usaha Mikro,Kecil, Menengah dan Koperasi, --------------------------
-----------
4. Bahwa untuk melaksanakan misinya untuk membantu Usaha Mikro,Kecil,
Menengah dan Koperasi dalam penyaluran Kredit/pembiayaan berikut
penjaminannya tersebut, PARA PIHAK memandang perlu adanya suatu kerjasama
dengan memperhatikan maksud dan tujuan diterbitkanya Intruksi Presiden Nomor 6
Tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Rill dan
Pemberdayaan Usaha Mikro,Kecil dan Menengah, -----------------------------------------
----------------------
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas,Maka PIHAK_PIHAK
bersepakat dan setuju untuk membuat dan menendatangani Nota Kesepahaman
bersama (Memorandum Of Understanding) tentang penjamin Kredit/Pembiayaan
Usaha Mikro,Kecil dan Menengah Dalam Rangka Pelaksanaan Intruksi Presiden
Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Kebijakan Percepatan pengembangan sector Rill Dan
Pemberdayaan Usaha Mikro,Kecil dan Menengah, dengan Ketentuan-ketentuan dan
syarat-syarat sebagai berikut :
Pasal 1
MAKSUD DAN TUJUAN
(1) PARA PIHAK bermaksud untuk mengadakan Nota Kesepahaman Bersama
(Memorandum Of Understanding) Tentanmg penjamin Kredit/Pembiayaan Bagi Usaha
Mikri,Kecil, Menengah dan Koperasi dalam hal mana : ------------------------------------------
-----------------
a. PIHAK PERTAMA merupakan Lembaga Pemerintah yang berfungsi
membantu dan mendukung pelaksanaan pemberian Kredit/Pembiayaan
berikut penjamin kredit/pembuayaannya kepada Usaha
Mikro,Kecil,menengah dan Koperasi, ----
b. PIHAK KEDUA bertindak selaku Penjamin atas kredit/pembiayaan yang
disalurkan oleh PIHAK KETIGA kepada Usaha Mikro,Kecil,Menengah
dan Koperasi, -------------------------------------------------------------------------
-----------
c. PIHAK KETIGA adalah penerima jaminan yang menyalurkan
Kredit/pembiayaan dimaksud dijamin oleh PIHAK KEDUA,-----------------
------
(2) Tujuan Nota Kesepahaman Bersama Ini adalah untuk
menungkatkan askes pembiayaan dan mengembangkan Usaha
Mukro,Kecil,Menengah, dan Koperasi dalam rangka
penangulangan/pengentasan kemiskinan dan perluasan kesempatan
kerja, ---------------------
Pasal 2
RUANG LINGKUP KERJASAMA
(1) Ruang Lingkup Kerjasama Nota KesepahamanBersama ini adalah pemberian fasilitas
kredit/pembiayaan yang diberikan PIHAK KETIGA kepada Usaha
Mikro,Kecil,Menengah dan Koperasi yang dijamin oleh PIHAK KEDUA, yang dalam
pelaksanaanya diutamakan yang diarahkan oleh Komite Kebijakan yang akan dibentuk
sehubungan dengan Program Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha
Mikro,Kecil,Menengah dan Koperasi; dan/atau didukung oleh PIHAK PERTAMA dalam
kapasitasnya sebagai komite kebijakan,
(2) Kredit/Pembiayaan sebagai mana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung,--------------------------------------------------------------------
--
(3) Usaha Mikro,Kecil,Menengah dan Koperasi yang dapat dijamin oleh PIHAK KEDUA
adalah Usaha Produktif yang layak,namun belum bankable, ------------------------------------
--
(4) PIHAK PERTAMA dalam ruang lingkup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini
mempunyai kewajiban, yaitu : -----------------------------------------------------------------------
--
a. Mempersiapkan Usaha Mikro,Kecil,Menengah dan Koperasi yang
melakukan usaha produktif yang bersifat individu, kelompok, kemitraan
dan/atau cluster untuk dapat dibiayai dengan kredit/Pembiayaan; ------------
--------------------------
b. Menetapkan kebijakan dan prioritas bidang usaha yang akan menerima
penjaminan Kredit/pembiayaan; ---------------------------------------------------
------
c. Melakukan pembinaan dan pendampingan selama masa kredit/pembiayaan;
----
d. Memfasilitasi hubungan antara Usaha Mikro,Kecil,Menengah dan
Koperasi dengan pihak lain seperti perusahaan inti/offtaker yang
memberikan konstribusi dan dukungan untuk kelancaran usaha. -------------
------------------------------------
(5) PIHAK KETIGA melakukan penilaian kelayakan usaha dan memutuskan pemberian
Kredit/pembiayaan sesuai ketentuan yang berlaku pada PIHAK KETIGA.--------------------
-
(6) PIHAK KEDUA memberikan persetujuan penjaminan atas kredit/pembiayaan yang
diberikan oleh PIHAK KETIGA, sesuai ketentuan yang berlaku pada PIHAK KEDUA. ---
-
(7) Dalam Hal ini kerjasama penjamin kredit/pembiayaan sebagai mana dimaksud dalam ayat
(1) pasal ini,PARA PIHAK sepakat atas hal-ha yang ditetapkan sebagai berikut :------------
-
a. Kredit/pembiayaan yang disalurkan oleh PIHAK KETIGA yang dijamin
oleh PIHAK KEDUA kepada setiap Usaha Mikro,Kecil,Menengah dan
Koperasi setinggi-tingginya sebesar Rp. 500.000.000,- (Lima Ratus Juta
Rupiah); ---------
b. Suku bunga kredit/ margin pembiayaan yang di kenakan atas
kredit/pembiayaan sebagai mana dimaksud pada ayat (7) huruf a Pasal ini
setinggi-tingginya sebesar/setara 16% (enam Prosen) Efektif Pertahun. -----
------
c. Penjamin yang dilaksanakan oleh PIHAK KEDUA atas kredit/pembiayaan
yang diberikan PIHAK KETIGA dilaksanakan secara Otomatis bersyarat
sebagimana tertuang dalam Perjanjian Penjaminan Kredit/Pembiayaan. ----
---------------------
d. Imbal Jasa Peminjam (IJP) Kredit/Pembiayaan yang menjadihak PIHAK
KEDUA adalah 1,5 % (satu koma lima prosen) pertahun dihitung dari
kredit/pembiayaan yang dijamin dan menjadi beban Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara serta dilaksanakan dengan mekanisme Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara berdasarkan peraturan Perundang-
undangan. ------------------
e. Prosentase jumlah penjamin Kredit/pembiayaan oleh
PIHAK KEDUA sebesar 70% (Tujuh puluh Prosen) dari
Kredit/pembiayaan yang diberikan PIHAK KETIGA
kepada Usaha Mikro,Kecil,Menengah dan Koperasi.-----
---------------
Pasal 3
PELAKSANAAN KESEPAHAMAN BERSAMA
(1) Nota Kesepahaman Bersama ini meruppakan dasar PARA PIHAK melaksanakan
Program Penjaminan Kredit/Pembiayaan Usaha Mikro,Kecil,Menengah dan Koperasi.--
--
(2) Tata cara dan pelaksanaan kegiatan mengenai Nota Kesepahaman Bersama ini akan
diatur lebih lanjut dalam perjanjian penjaminan Kredit/Pembiayaan secara tersendiri. ---
----------
(3) Nota Kesepahaman Bersama ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Perjanjian Penjaminan Kredit/Pembiayaan antara PIHAK KEDUA dan PIHAK
KETIGA. ------------
Pasal 4
MASA BERLAKU
(1) Nota Kesepahaman Bersama ini mulai berlaku sejak tanggal ditandatangani oleh PARA
PIHAK dan diakhiri ata dasar kesepakatan PARA PIHAK, -----------------------------------
--
(2) Dalam hal Nota Kesepahaman Bersama ini Berakhir, perjanjian
penjaminan Kredit/Pembiayaan yang timbul dari Nota
Kesepahaman ini sepanjang menyangkut pasal 2 ayat (4) hurufc;
ayat (7) huruf b,c,d dan e dan Pasal 3 masih terus berlaku sampai
berakhirnya penjaminan Kredit/Pembiayaan. -------------------------
-----------------------------
Pasal 5
PENUTUP
(1) PARA PIHAK berkewajiban untuk melaksanakan kesepahaman bersama ini sesuai
dengan lingkup kewenangan dan tanggung jawab masing-masing PIHAK, ----------------
--
(2) Pelaksanaan Nota Kesepahaman Bersama ini monitor dan dievaluasi Komite Kebijakan
setiap 3 (tiga) Bulan, --------------------------------------------------------------------------------
--
Nota Kesepahaman Bersama ini dibuat dan ditandatangani oleh PIHAK PERTAMA,PIHAK
KEDUA, dan KETIGA pada hari dan tanggal tersebut di atas dalam rangkap 14 (Empat belas)
bermatrai cukup dan mempunyai kekuatan hukum yang sama, masing-masing untuk PIHAK
PERTAMA,PIHAK KEDUA dan KETIGA, -----------------------------------------------------------------
PIHAK PERTAMA
MENTRI KEUANGAN MENTRIKEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA REPUBLIK INDONESIA




Sri Mulyani Indrawati M.S Kaban

MENTRI PERTANIAN MENTRI PERINDUSTRIA
REPUBLIK INDONESIA PUBLIK INDONESIA





Anton Apriyantono Fahmi Idris
MENTRI KELAUTAN DAN PERIKANAN MENTRI NEGARA KOPERASI
REPUBLIK INDONESIA REPUBLIK INDONESIA

Freddy Numberi Suryadharma Ali
SALINAN
PERATURAN MENTRI KREDIT USAHA RAKYAT
NOMOR : 135/PMK.05/2008
TENTANG
FASILITAS PENJAMIN KREDIT USAHA RAKYAT
MENTERI KEUANGAN
Menimmbang :
a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Intruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2007 tentang Kebijakan
Percepatan Pengembangan Sektor Rill dan Pemberdayaan Usaha Mikro,Kecil
dan menengah (UMKM), Pemerintah telah mencanangkan upaya peningkatan
akses UMKM pada sumber pembiayaan guna meningkatkan pertumbuhan
ekonomi nasional;
b. bahwa untuk meningkatkan akses UMKM pada sumber pembiayaan tersebut, diperlukan
penyediaan Kredit/Pembiayaan yang bersumber dari dana perbankan dengan
persyaratan yang ringan dan terjangkau yang didukung fasilitas penjaminan;
c. bahwa dalam rangka mendukung hal tersebut pada huruf b,pada tanggal 9 Oktober 2007 telah
ditandatangani Nota Kesepahaman Bersama (MoU) tentang Penjaminan
Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro,Kecil,menengah dan Koperasi;
d. bahwa dalam rangka mewujudkan pelaksanaan program penjaminan Kredit/Pembiayaan bagi
UMKM dan Koperasi secara tertib, efisien, efektif dan tidak tumpang tindih,
maka perlu diatur dalam satu kkema penjaminan Kredit/ Pembiayaan secara
terpadu;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c dan
huruf d, perlu menetapkan Peraturan Mentri Keuangan tentang Fasilitas
Penjaminan Kredit Usaha Rakya;
Mengingat :
1. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3472) sebagai mana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1998 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790);
2. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara Republik
Indonesia tahun 1992 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3502);
3. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1995 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3611)
4. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4286)
5. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 4355)
6. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005;
7. Peraturan Mentri Keuangan Nomor 131/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Departemen Keuangan sebagaimana telah dibah dengan Peraturan Mentri
Keuangan Nomor 54.PMK.01/2007;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTRI KEUANGAN TENTANG FASILITAS
PENJAMINAN KREDIT USAHA RAKYAT.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Mentri Keuangan ini yang dimaksud dengan
1. Program Penjaminan Kredit/Pembiayaan kepada Usaha Mikro,Kecil, Menengah dan
Koperasi (UMKM-K) adalah upaya meningkatkan askes pembiayaan UMKM-K pada
sumber pembiayaan yang didukung fasilitas penjaminan.
2. Kredit Usaha Rakyat, yang selanjutnya disingkat KUR, adalah Kredit/pembiayaan Kepada
UMKM-K dalam bentuk pemberian modal kerja dan investasi yang didukung fasilitas
penjaminan untuk usaha produktif.
3. Mentri Teknis adalah Mentri Teknis terkait yang berfungsi membantu dan mendukung
pelaksanaan pemberian Kredit/pembiayaan berikut penjaminan Kredit/pembiayaannya
kepada UMKM-K
4. Perusahaan Penjamin adalah perusahaan yang melakukan dalam bentuk pemberian pinjaman
Kredit/pembiayaan untuk membantu UMKM-K guna memperoleh Kredit/pembiayaan dari
Bank,Yang menjadi pihak dalam Nota Kesepahaman Bersama (MoU) dengan Pemerintah.
5. Bank Pelaksana adalah Bank Umum yang telah menandatangani Nota Kesepakatan Bersama
(MoU) dengan Pemerintah dan Perusahaan Penjaminan dalam rangka penjaminan
Kredit/Pembiayaan KUR.
6. Bank Umum adalah sebagai mana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
tentang Perbankan sebagai mana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998,yang melakukan kegiatan usaha layanan perbankan.
7. Usaha Mikro,Kecil dan menengah adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil.
8. Koperasi adalah Koperasi Primer sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 25
Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
9. Uasaha Produktif adalah UMKM-K yang bersifat individu,Kelompok, Kementrian dan/atau
Cluster untuk dapat dibiayai dengan kredit/Pembiayaan dan diberi prioritas untuk menerima
penjaminan Kredit/ pembiayaan.
10. Imbas Jasa Penjaminan adalah Imbas Jasa yang menjadi hal Perusahaan Penjamin yang
bertindak selaku Penjamin atas Kredit/Pembiayaan bagi UMKM-K yang disalurkan Bank
Pelaksana dalam rangka KUR.
11. Perjanjian Kerja sama Penjaminan KUR adalah Perjanjian antara Direktur Jendral
Pembendaharaan atas nama Mentri Keuangan mewakili Pemerintah dengan Perusahaan
Penjamin.
12. Perjanjian Penjaminan Kredit/Pembiayaan adalah perjanjian antara Perusahaan Penjamin dan
Perbankan yang mengatur Pemberian pertanggungan dalam rangka menyelenggarakan KUR.
13. Komite kebijakan adalah komite yang dibentuk oleh menteriKoordinator Bidang
Perekonomian, yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil Departemen Keuangan,Departemen
Pertanian,Departemen Kehutanan,Departemen Kelautan dan Perikanan,Departemen
Perindustrian,Kementrian Negara Koperasi dan UKM,Departeman Perdagangan,
Kementrian Negara PPN/Bappenas dan BPKP.
14. Rencana Tahuanan Penyaluran KUR, yang selanjutnya disingkat RTP-KUR, adalah rencana
penyaluran KUR yang dibuat oleh Bank Pelaksana untuk 1 (satu) Priode tertentu.
15. Standard Operating Procedur (SOP) adalah rangkaian tahapan kegiatan yang akan
dilaksanakan dalam rangka pembinaan,pengendalian dan evaluasi pelaksanaan dalam rangka
pembinaan,pengendaliaan dan evaluasi pelaksanaan penjaminan KUR yang ditetapkan olek
Komitet Kebijakan.
BAB II
TUJUAN
Pasal 2
Penjaminan KUR diberikan dalam rangka meningkatkan akses UMKM-K pada sumber
pembiayaan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
BAB III
RENCANA PENYALURAN
Pasal 3
1. Menteri Teknis terkait menentuka Prioritas bidang usaha yang feasible tetapi belum
bankable yang akan menerima fasilitas penjaminan kredit.
2. Dengan berpedoman pada ketentuan dari mentri terkait sebagaimana dimaksud pada ayat ,
serta dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan Negara menyediakan dana Imbal
Jasa Penjaminan, Bank Pelaksanan menyusun Rencana Target Penyaluran (RTP) KUR.
3. Berdasar kan RTP-KUR sebagaimana dimaksud pada ayat 2 Perusahaam Penjaminan
menyusun Rencana Tahunan Penjaminan KUR yang dirinci per Sektor ekonomi, per Bank
Pelaksanaan dan per wilayah Propinsi.
4. Rencana Tahunan Penjaminan KUR sebagaimana dimaksud pada ayat 3 disampaikan oleh
Perusahaan Penjaminan kepada Mentri Keuangan c.q Direktur Jendral Perbendaharaan.
BAB IV
KEWAJIBAN BANK PELAKSANA
Pasal 4
1. Bank Pelaksana wajib menyediakan dan menyalurkan dana untuk KUR.
2. Bank Pelaksana wajib menatausahakan KUR secara terpisah dengan program kredit lainya.
3. Bank Pelaksana wajib mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menjamin
penyediaan dan penyaluran KUR yang menjaditanggungjawabnya secara tepat jumlah dan
tepat waktu sesuai program yang ditetapkan Pemerintah, serta mematuhi semua ketetuan
tatacara penatausahaan yang berlaku.
4. Bank Pelaksana memutuskan pemberian KUR berdasarkan penilaian terhadap kelayakan
usaha sesuai dengan asas-asas perkreditan yang sehat,serta dengan memperhatikan ketentuan
yang berlaku.
BAB V
PERSYARATAN PENJAMINAN
Pasal 5
1. UMKM-K yang dapat menerima fasilitas penjaminan adalah usaha produktif yang bankable
sebagai mana dimaksud dalam pasal 3 ayat 1, dengan ketentuan :
a. Merupaka debitur baru yang belum pernah mendapat kredit/pembiayaan dari perbankan yang
dibuktikan dengan hasil Bank Indonesia Checking pada saat Permohonan Kredit/Pembiayaan
diajukan dan/ atau belum pernah memperoleh fasilitas Kredit Program dari Pemerintah;
b. Kusus untuk penutupan pembiayaan KUR antara tanggal Nota Kesepakatan Bersama (MoU)
Penjamin KUR dan sebelum addendum I (tanggal 9 Oktober 2007 s.d 14 Mei 2008), maka
fasilitas penjaminan dapat diberikan kepada debitur yang belum pernah mendapatkan
pembiayaan Kredit program lainnya;
c. KUR yang diperjanjikan antara Bank Pelaksana dengan UMKM-K yang bersangkutan.
2. Kredit/Pembiayaan yang disalurkan kepada setiap UMKM-K baik untuk kredit modal keja
maupun kredit Investasi,dengan Ketentuan :
a. Setinggi-tingginya sebesar Rp. 5.000.000 (Lima juta rupiah) dengan tingkat bunga kredit/
margin pembiayaan yang dikenakan maksimal sebesar /setara 24% (dua puluh empat persen)
efektif pertahun.
b. Diatas Rp 5.000.000 (Lima juta rupiah) samapai dengan Rp 500.000.000 (Lima ratus juta
rupiah) dengan tingkat bunga kredit/margin pembiayaan yang dikenakan maksimal sebesar/
setara 16% (Enam belas persen) efektif pertahun.
3. Besar Imbas Jasa Penjaminan (IJP) yang dibayarkan kepada Perusahaan Pinjaman adalah
sebesar 1,5% (Satu koma lima persen) per tahun yang dibayarkan setiap tahun dan dihitung
dari kredit/pembiayaan Bank Pelaksana yang dijamin,dengan ketentuan:
a. Untuk Kredit modal kerja dihitung dari plafon kredit;
b. Untuk Kredit investasi dihitung dari realisasi kredit;
4. Presentase jumlah penjamin kredi/pembiayaan yang dijaminkan kepada Perusahaan
Penjamin sebesar 70% (Tujuh puluh Persen) dari kredit/pembiayaan yang diberikan bank
pelaksana kepada UMKM-K sedangkan penjamin sisa sisa Kredit/pembiayaan sebesar 30%
(Tiga puluh Persen) ditanggung oleh Bank Pelaksana.
Pasal 6
Tingkat bunga KUR sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat 2 sewaktu-waktu dapat
ditinjau dan ditetapkan kembali berdasarkan kesepakatan bersama antara Komite
Kebijakan dan Bank Pelaksana.
BAB VI
JANGKA WAKTU DAN SUMBER PENDANAAN IJP
Pasal 7
1. Jangka waktu pertanggungan kredit/pembiayaan disesuaikan dengan jangka waktu
kredit/pembiayaan KUR yang diberikan Bank Pelaksana, kecuali ditetapkan lain oleh
Pemerintah
2. Dalam hal terjadi klaim risiko oleh Bank Pelaksana sebelum jangka waktu
kredit/pembiayaan KUR berakhir, Maka Imbal Jasa Penjaminan yang terjadi Kewajiban
Pemerintah tetap dibayarkan sampai dengan berakhir jangka waktu pertanggungan,kecuali
ditetapkan lain oleh Pemerintah.
Pasal 8
1. Pengalokasian Pembiayaan Imbal Jasa Penjaminan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (RAPBN) dilakukan oleh menteri keuangan dengan mengacu pada pasal
3 ayat 2.
2. Atas alokasi pembiayaan Imbal Jasa Penjamin yang tersedia dalam Anggaran dan Belanja
Negara (APBN),Menteri keuangan menerbitkan Surat Penetapan Satuan Anggaran per
Satuan Kerja (SP-SAPSK) dan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran(DIPA) Imbal Jasa
Penjamin.
BAB VI
PEMBAYARAN IMBAL JASA PENJAMINAN
Pasal 9
1. Pemerintah memberikan Imbal Jasa penjaminan KUR untuk Kredit Investasi selama jangka
waktu paling lama 5 (Lima) tahun,Sedangkan untuk Kredit Modal Kerja selama jangka
waktu paling Lama 3 (Tiga) tahun.
2. Pembayaran Ibal Jasa Penjaminan KUR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat 3
dilaksanakan 2 (Dua) kali dalam setahun,dengan ketentuan.
a. Untuk Tagian priode bulan Nopember sampai dengan bulan april tahun berikutnya
dibayarkan pada bulan Mei tahun berkenaan; dan
b. Untuk tagihan priode bulan Mei sampai dengan bulan Oktober dibayarkan pada bulan
Nopember tahun berkenaan.
3. Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan dilakukan berdasarkan data penutupan pertanggungan
KUR oleh bank pelaksana Kepada Perusahaan penjamin.
4. Permintaan Pembayaran Imbal jasa Penjamin KUR diajukan oleh perusahaan Penjamin
kepada mentri Keuangan u.p. Direktur Jendral Perbendaharaan dengan terlebih dahulu
disetujui oleh bank pelaksana dan sekurang-kurangnya dilampiri dengan :
a. Rincian perhitungan tagiah IJP;
b. Kompilasi Penerbitan Sertifikasi Penjaminan dari LPK;
c. Tanda terima pembayaran IJP yang ditandatangani Direksi Perusahaan Penjamin atau
Pejabat yang dikuasakan.
5. Dalam rangka menilai kepatuhan terhadap ketentuan Penjaminan KUR, dan menilai
kebenaran Perhitungan Imbal Jasa Penjamin yang telah dibayarkan sebagaimana dimaksud
pada ayat 3, dilakukan verifikasi secara periodic/sewaktu-waktu oleh Menteri Keuangan c.q.
Direktur Jendral Perbendaharaan dan Kepala Badan Pengawas pasar Modal-Lembaga
Keuangan.
6. Dalam hal diperlukan, Mentri Keuangan dapat diminta batuan aparat Fungsional pemeriksa
internal dan/atau eksternal untuk melakukan audit.
BAB VIII
PEMBINAAN,PENGENDALIAN DAN EVALUASI
Pasal 10
1. Pembinaan dan pengendalian pelaksanaan Penjaminan KUR dilakukan oleh Komite
Kebijakan sesuai bidang tugas wewenagng masing-masing.
2. Rapat evaluasi Penyelenggaraan Penjaminan Kur dilaksanakan secara priodik atau sewaktu-
waktu atas prakarsa Komite Kebijakan dengan mengikutsertakan Perusahaan Penjamin dan
Bank Pelaksana.
3. Dalam rangka pelaksanaan ayat dan ayat 2,diatur tersendiri dalam Standar Operating
Procedure (SOP).
BAB IX
LAPORAN
Pasal 11
1. Perusahaan Penjaminan wajib menyusun dan menyampaikan Rekapitulasi Laporan Bulanan
Perkembangan Penutupan Pertanggungan KUR dan Daftar Klaim berikut Klaim yang
disetujui kepada Komite Kebijakan c.q. Deputi I, Menko Perekonomian selaku Ketua Tim
Pelaksana dengan tembusan Kepala Direktur Jendral Perbendaharaan paling lambat tanggal
10 bulan berikutnya.
2. Bank Pelaksana wajib menyusun dan menyampaikan Rekapitulasi laporan Buanan Realisali
Penyaluran dan Pengembalian KUR yang dirinci per sector,per propinsi dan per debitur dan
laporan bulanan Perkembangan Penutupan Pertanggungan KUR kepada Komite Kebijakan
c.q. Deputi I,Menko Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana dengan tembusan kepala
Direktur Jendral Pembendaharaan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya,.
3. Dalam hal diperlukan dan diminta secara khusus oleh Mentri Keuangan, laporanlain terkait
dengan penyelenggaraan KUR selain dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2, maka Perusahaan
Penjaminan dan Bank Pelaksana wajib untuk menyampaikannya.
BAB X
SANKSI
Pasal 12
Dalam hal Perusahaan Penjaminan melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana
ditetapkan dalam peraturan Mentri Keuangan ini, Maka Perusahaan Penjamin dikenakan
Sanksi :
a. Administrasi berupa teguran tertulis;
b. Penundaan atau penghentian pembayaran Imbal Jasa Penjamin
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Paal 13
Dalam Perjanjian Kerja sama Penjaminan KUR antara Menteri Keuangan c.q. Direktur Jendral
Pembendaharaan Penjaminan antara lain memuat ketentuan mengenai hak, kewajiban, tugas,
fungsi, tanggungjawab, mekanisme, dan tatacara Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan,
pelaporan, monitoring dan ketentuan-ketentuan lain yang dipandang perlu.
Pasal 14
Peraturan Mentri Keuangan ini berlaku sepanjang pembiayaan Imbal Jasa Penjamin KUR masih
dialokasikan dan dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Pasal 15
Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkannya Nota
Kesepakatan Bersama (MoU) pada tanggal 9 Oktober 2007.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengunguman Peraturan Mentri
Keuangan ini dengan menetapkanya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tangga 24 September 2008
MENTRI KEUANGAN
ttd
SRI MULYANI INRAWATI
PENUTUP