Anda di halaman 1dari 13

Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia

Oleh : Bayu Nurcahyo A. SE,Ak

AWAL KELAHIRAN SISTEM PERBANKAN SYARIAH


Perkembangan lembaga keuangan Islam, terutama perbankan di Indonesia tidak terlepas dari ekonomi Islam itu sendiri, karena perbankan Islam merupakan derivatif dari Sistem Ekonomi Islam.

Lanjutan.....
Upaya awal penerapan system profit dan loss sharing tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahuan 1940-an, dan rintisan institusional lainnya adalah Islamic Rural Bank di desa Mit Ghamr pada tahun 1963 di Kairo Mesir. Rintisan perbankan syariah antara lain: 1. Mit Ghamr Bank 2. Islamic Development Bank 3. Islamic Research and Training Institute

PEMBENTUKAN BANK-BANK SYARIAH


Jumlah bank Islam sampai tahun 1996 telah mencapai 166 yang berada di 34 negara muslim dan non muslim, yang hampir seluruh bank Islam ini boleh dikatakan berhasil dalam hal ekspansi jaringan cabang, lembaran neraca dan keuntungan. Pendirian bank tanpa bunga ini tentunya dapat menepis dugaan bahwa tidak ada ekonomi tanpa bunga dan tidak ada bank tanpa bunga. Diperkirakan hingga akhir tahun 1999, sesuai dengan analisa Prof. Khursid Ahmad dalam Laporan Internasional Association of Islamic Bank sudah tercatat 200 lembaga keuangan Islam.

PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA


Bank Muamalat Indonesia, yang disingkat dengan BMI merupakan bank dengan sistem tanpa bunga atau bagi hasil pertama di Indonesia. Pada saat pertama didirikan terkumpul komitmen pembelian saham sebesar Rp 84 Milliar dan pada tanggal 3 Nopember 1991 dalam acara silaturrahmi presiden di Istana Bogor, dapat dipenuhi dengan total komitmen modal disetor awal sebesar Rp 106.126.382.000. Dengan modal awal tersebut, pada tanggal 01 Mei 1992, BMI mulai beroperasi, namun masih menggunakan UU No. 7 tahun 1992, dimana pembahasan perbankan dengan sistem bagi hasil diuraikan hanya sepintas lalu.

Lanjutan...
Keberadaan bank syariah pertama ini belum mendapatkan perhatian yang optimal dalam tatanan industri perbankan nasional. Namun, dengan adanya UU No.10 tahun 1998 yang telah mengatur dengan rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah. Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank-bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syariah.

Lanjutan...
Perbankan Islam di Indonesia mulai menggeliat persis ketika terjadi krisis perekonomian di Asia, termasuk di Indonesia dimana perbankan nasional yang mengalami krisis berat, yang mendorong perbankan saat itu beroperasi dengan negatif spread, yaitu bunga yang dibayar kepada nasabah penabung lebih tinggi daripada bunga kredit yang diterima. Logis saja apabila kemudian kerugian menggerogoti modal bank, sampai Bank Indonesia mewajibkan program rekapitalisasi. Bayangkan saja, bunga deposito pernah mencapai 60 % saat itu. Logikannya, bank harus memberi kredit dengan bunga setinggi itu. Masalahnya, bisnis apa yang mampu membayar bunga setinggi itu dalam keadaan krisis seperti saat itu? Jangankan untuk membayar bunga, yang terjadi malah kredit macet.

ASPEK HUKUM PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA


UU NO 10 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1992 TENTANG PERBANKAN PASAL 1 NO 12 Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil

Lanjutan...
PASAL 1 NO 13 Prinsip Syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina);

UU NO 21 TAHUN 2008 TENTANG BANK SYARIAH


PASAL 1 No 7 Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah PASAL 4 (Fungsi Bank Syariah) Bank Syariah dan UUS(Unit Usaha Syariah) wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat. Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat.

1. 2.

Lanjutan...
3.

4.

Bank Syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif). Pelaksanaan fungsi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 7 (Badan Hukum) Bentuk badan hukum Bank Syariah adalah perseroan terbatas.

JENIS KELEMBAGAAN BANK SYARIAH


Bank Umum Syariah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Islamic Windows Bank konvensional boleh buka kantor cabang / unit perbankan syariah Office Channeling Kantor cabang bank konvensional boleh melayani kegiatan usaha perbankan syariah.

KEGIATAN USAHA DAN PRODUK PERBANKAN SYARIAH


UU NO 21 THN 2008 Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) untuk Bank Umum Syariah UU NO 21 THN 2008 Pasal 19 ayat (2) dan Pasal 20 ayat (2) untuk Unit Usaha Syariah Bank Konvensional UU NO 21 THN 2008 Pasal 21 untuk BPRS