Anda di halaman 1dari 6

Transkrip Rapat Kamis 28 April 2011

Wakapuspen TNI : Saran dari anggota DPR Bapak Roy Suryo pada rapat dengar pendapat panglima TNI dengan DPR agar TNI memanfaatkan jejaring sosial sehingga kita bisa mengcounter opini, dengan kemajuan teknologi semakin pesat. Seperti Norman dan Jusrin Bieber seperti itu kita dapat memanfaatkan itu,untuk mempublikasikan kegiatan TNI kalo kita bikin spes disana lagi kalo mungkin seluruh warga TNI punya account disana si account-account ini yang warga TNI dia membuat pernyataan, pendapat, yang mendukung TNI seperti insiden yg kemarin di pasuruan kalo misalnya anggota TNI di jejaring sosial bisa bilang tentang kebumen, dia hanya bisa bilang dua opsi yaitu mendukung atau tidak mendukung sehingga berita bisa berimbang. Situs resmi nanti kita dengar Kadisinfonet mendiskusikan bagaimana kita perlu membuat jejaring sosial atau kita wajibkan semua memiliki account. Juga kedua tentang undang-undang KIP yang akan dibawakan oleh Kadis Lisapen di undang-undang KIP kita harus mempublikasikan semua informasi yang kita memiliki dan jenis-jenis informasi apa sajakah yang dapat kita publikasikan dan informasi apasaja yang di kecualikan seperti anggaran sesuai dengan Depkominfo tidak boleh dirahasiakan nanti dua hal itu yang kita kerjakan dalam rapat ini. Kolonel S. Chandra Siahaan, Dispen AU : Apa yang di paparjkan Kadis sudah cukup baik, dari segi positif dan negatifnya sehingga apabila di acc, sebelum di acc seyogyanya sudah di buat account Mabes TNI, di bon, dulu bapak. Siapa tahu sudah ada yang menggunakan karena sudah banyak sekali yang menggunakan istilah-istilah Mabes TNI, Mabes AU yang tidak jelas siapa. Saran saya sekarang juga di buat account Mabes TNI sehingga apabila di acc Panglima sudah di bagikan pejabat yang bersangkutan dan tinggal mengubah paswordnya. Wakapuspen TNI : Terimakasih sekarang saja di facebook sudah ada yang memakai TNI AD, Den 81 lah, yang lain? Kolonel Dedi Agus Purwanto, Dispenad : Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan, kami sangat sependapat dengan adanya ini namun yang perlu kita perhatikan bagaimana nantinya dalam pembuatan ST bahwa untuk mengatur hal-hal apa yang tidak boleh dan hal-hal apa yang boleh, nah itu yang perlu kita cetuskan terlebih dahulu sehingga perlu kita siapkan dari sekarang sehingga pada saat di paparkan ke Panglima TNI itu semua kita sudah punya. Salah satu contoh apakah Panglima TNI perlu mempunyai account twitter dihadapkan dengan kesibukan Panglima. Kemudian dihadapkan dengan tugas Puspen TNI dan itu kita harus siapkan jawabannya. Kalo Panglima TNI mempunyai twitter jelas nanti akan 1

terlimpah juga ke Puspen itu pasti akan kesitu. Dan yang kedua kita masih perlu diingat lagi dulu ada kasus di Papua masuknya film-film di youtube tentunya yang akan membawa dampak kasus kedepan inilah yang saya hubungkan ST yang ada harus terkoordinir disitu mana film yang boleh masuk mana yang tidak. Untuk meresmikan video yang bisa masuk itu siapa? Apakah Mabes TNI atau mungkin dari jajaran angkatan itu sendiri. Kami menghawatirkan nanti pada saat kita tidak punya background seperti itu, tidak mempunyai aturan seperti itu, yang tadi disampaikan oleh Kolonel Bejo. Menyampaikan mari kita sama-sama menyampaikan ke publik namun ternyata belum atas dasar yang dimiliki sudah disebar kemana-mana. Kemudian perlu juga kita menyarankan siapa saja pejabat-pejabat yang perlu adanya twitter didalam ini misalkan di Angkatan Darat apa levelnya kalau sampai ke Panglima atau cukup ke Pendam setempat atau Penrem ini yang perlu kita sampaikan disitu, itu misalkan di Angkatan Darat. Apabila ini dapat direstui olah pimpinan dalam hal ini Panglima TNI ini jelas kita perlu untuk mensosialisasikan kami laporkan ke Waka kita disini ada humas jadi setiap bulan ada kalanya kita 3x ikut humas karna dihumas itu berbagai kalangan ikut disitu baik dari kementerian maupun dalam kalangan LSM, nanti kita sosialisasikan. Kolonel Suharto, Ster TNI : Karna komunitas kami komunitas elektronika sebenarnya dengan kemajuan teknologi ini istilahnya gayung bersambut dengan adanya ini namun demikian perlu kita atur regulasinya atau aturan-aturan yang perlu kita samakan semua karena dengan adanya ini merupakan kebebasan untuk kita meluangkan apa saja unek-unek kita yang ada dibenak kita termasuk anggota, anggota mungkin mau menuangkan apa saja status di facebooknya yang kemungkinan keluar dari jalur aturan-aturan yang ada di TNI karna dunia maya ini merasa sudah bebas akhirnya untuk itu kami menyarankan untuk dibikinkan juklak dulu untuk disosialisasikan ke prajurit baru kita bisa menjalankan ini kalau tidak nanti kita sendiri yang rugi. Karna bukan malah mendukung utuk mengcounter pemberitaan dari kita tetapi malah menambah masalah. Untuk itu berkaitan dengan ster kami akan lebih ringan untuk komunitas sosialnya karna kita ada komsos juga, mungkin lebih gampang dari pada datang ke daerah. Dengan mengunakan ini sudah bisa tapi yaitu regulasinya level-level yang bawah harus mengerti sampai dimana batasannya apa yang bisa disampaikan dan apa yang tidak . Kolonel laut (E) Ditya Soedarsono, Pusinfo TNI : Katakanlah kemajuan semakin meningkat untuk penyebaran informasi dikalangan TNI kalau memang mewadahi jejaring sosial ini untuk dimanfaatkan Cuma seperti yang dikatakan sebelumnya perlu aturan apakah itu perlu buku petunjuk teknis atau buku petunjuk administrasi untuk mengelola jejaring sosial ini karna kami melihat juga barusan kami buka bahwa user dimedia sosial itu sudah sekitar 30 juta jadi tepatnya 29.844.240. ini saya kira ini suatu ide yang berlian namun aturannya harus jelas.

Kolonel chb M. Taufik, SAP, Skomlek TNI: Kami setuju pada website TNI saja, tapi masalah ini sangat-sangat rawan saya katakan sangat rawan seperti yang dikatakan teman-teman ini perlu adanya seperti aturan-aturan apakah dari tingkat Panglima atau sampai Pamen saja, Mayor yang kebawah pribadi silahkan-silahkan saja, tapi kalau terjadi apa-apa kita tinggal menghentikan ini semuanya kalau terjadi bawahan tidak suka kepada komandannya dia bisa masukkan fitnah yang bagaimana maka ini akan menjatuhkan karir pimpinannya. Contoh Danyon Intel dan lainnya ini menyatakan tidak tepat tapi sudah terdramatisir itu sudah jelek padahal tidak ini yang terjadi masalah kebawahnya itu. Jadi memang perlu adanya aturan-aturan sampai sejauh mana kalau kita lihat pada ini seperti foto adalah Panglima dan sebagainya tapi seperti facebook dan sebagainya namanya Anto, ini Anto yang mana berarti kita perlu menampilkan foto-foto. kalau menurut saya ini sangat rawan memang bagus untuk kedepannya namun yang sekarang sudah ada website TNI kalau kita lebih mengembangkan tentu orang akan lebih terangsang membacanya tentang kegiatan TNI yang ada disitu, tapi kalau ini kan sudah dunia maya jadi semua orang didunia ini melihat. Sekali jelek TNI buat semua orang mengecap jelek. Kalau kawan-kawan sendiri masing-masing sih monggo-monggo saja tidak ada aturan tidak boleh tapi sekarang aturan itu ada batasnya atau tidak. Kolonel Laut (P) Aris P, Dispenal: Sama sependapat, setuju, namum perlu diperhatikan juga kita punya telegram Panglima TNI dan tentang pejabat-pejabat yang punya wewenang untuk mempublikasikan sampai sekarang kalau nggak salah belum berubah bahkan sudah di breakdown disatuan bawah, yang kedua sebenarnya para TNI itu di facebook itu hanya malu-malu kucing mereka menyamar tapi kami melihat yang dibicarakan justru lain-lain contoh somalia dan cenderung mendiskritkan TNI nah ini mungkin perlu juga masukan-masukan bagaimana regulasinya wacananya mungkin pada saat 2 tahun yang lalu saat Kapuspen masih di Dispenal itu ada anggota yang membicarakan operasi, kapal selam dan sebagainya yang sebenarnya ini rahasia sekali. Ada juga yang membicarakan biasanya ibu-ibu, ini pemimpin nah disitulah kita kumpulkan PAM, DISKUM akhirnya ada larangan di situ bahkan tidak dimunculkan bagi dinas sehingga ini bagi mereka-mereka untuk komunikasi di twiter dan sebagainya. Karena belum ada regulasi yang jelas mereka akhirnya tidak terkontrol. Wakapuspen TNI : Memang dari semua tanggapan tadi sulitnya jejaring sosial ini adalah milik masyarakat demokrasi nah sementara kita apalagi TNI tidak seperti itu, maka yang terjadi inilah kalau masyarakat bebas ya bebas aja. Cuman yang dimaksud disini kita membuat seperti page-nya Mabes TNI, tapi yang dikhawatirkan jejaring sosial yang dimiliki account masing-masing kalau jujur masing-masing orang punya account suruh ngomong belum tentu bela TNI. Dia merasa susah di TNI, udah gajinya kecil kerjanya diomelin ditekan terus lama-lama dia kesempatan curhat pun di sini. Jadi kalau kita bilang dibatasi

sudah tidak bisa sama LSM TNI dibilang membatasi hak azasi. Mungkin yang bisa ditengahi Panglima TNI tidak usah membuat acount. Tapi nanti yang itu ada pengendalinya dari sini sehingga apa yang akan di upload apa yang akan di komentari akan di laksanakan oleh Puspen TNI dan itu dinamakan bukan pribadi tapi institusi TNI secara pribadi sehingga semua yang akan dimasukkan kesana akan di publikasikan itulah bedanya pribadi dan institusi TNI inilah yang akan di buatkan account disana. Kalau regulasi yang kebawah itu yang agak sulit, kita kirim ST gak boleh gini nanti di bilang kuno sama LSM, ortodok masa begitu aja gak boleh, tapi kalu maksudnya betul, komentarnya akan gak macem-macem, suka-suka dia kan, oke ini akan kita masukkan sebagai bahan untuk kita masukkan Kolonel Fedi Irianto, Babinkum : Untuk kami kalau institusi tidak masalah namun yang perlu di dari paparan tadi itu kerugiannya ada cukup terbuka dan cukup sulit untuk dikendalikan jadi yang saya baca semuanya susah dikendalikan. Namun kita perlukan untuk mengcounter hal-hal yang dalam aturan pasal 17 P5 sudah diatur. Namun untuk pribadi saya sependapat dengan Waka, perlu ada aturan-aturan karena jangan sampai keteteran sendiri mengcounter itu semua. Kerjaan kita makin sibuk untuk mengcounter itu semua. Dikaitkan dengan PDT semuanya sudah diatur pasal 3-5 masalah etika dan kehormatan kita berpakaian dinas mungkin di facebook itu ketemu kawan lama sma terus pembicaraan tidak terkontrol sedikit dianggap seorang Perwira TNI kok begitu, itu perlu dibatasi. Sebetulnya disini sudah ada kita baca pasal 3 atau pasal 9 setiap prajurit didalam kehidupan diluar kedinasan dan pergaulan sehari-hari wajib menjunjung tinggi norma-norma etika dan kesopanan dan menjaga kehormatan Prajurit. Kalau seperti norma itu saya anggap seperti sipil mungkin, tapi TNI yang begitu itu nggak pas bawahannya gimana kalau TNI begitu. Jadi yang person begitu, kalu institusi saya sepakat untuk mengcounter hal-hal yang jelek. Kalau takutnya misalnya kasus kebumen hanya sepotong saja yang pas penembakan dan pemukulan, kita harus mengcounter dari awalnya mulai awalnya ternyata ada pengrusakanpengrusakan. Ternyata ada positif-positif namun ada yang dipertimbangkan dari paparan tadi saya lihat ini kok susah dikendalikan, susah dikendalikan lagi yang untuk dipertimbangkan bagaimana mengcounter yang dipertimbangkan itu bagaimana. Kolonel Judi R Hadi, Sintel : Memang dengan adanya kebebasan publik ini mau tidak mau kita harus masuk, darimanapun kita tidak bisa membatasi kebebasan pribadi maupun dinas karena saya lihat untuk dinas sudah ada tni.mil.id. tentunya untuk menjadi twitter, facebook dan sebagainya itu tinggal memindahkan saja untungnya informasi-informasi yang diperlukan yang bersifat positif. Kemudian telah disampaikan oleh Waka karakter bangsa ini berbeda, seperti Amerika tidak ada warga negaranya yang menjelakkan negaranya, sementara kita ini sudah Anggota TNI sudah di gaji TNI mendapatkan tunjangan kinerja malah menjelekkan TNI, untuk itu aturannya sudah ada seperti PDT dan P5 dan tinggal mungkin kita sebagai komandan sebagai

atasan ada apel pagi kita harus selalu menyampaikan disana kita harus meningkatkan wawasan kebangsaan sehingga kita bangsa Indonesia kalo menjelekkan bangsa Indonesia berarti kita penghianat. Jadi sekarang ini kita sudah banyak melihat Anggota TNI yang bersifat pribadi menjadi anggota twitter facebook dan saya lihat masih moderat dan tidak jelek. Kemudian saya pernah mencoba nama Prakoso dan saya sign_in dengan nama Prakoso, ketika Prakoso membaca dia bisa memblacklist jadi kalo tidak mau dapat memblacklist dan saya akan tereliminir. Wakapuspen TNI : Kita akan menggunakan jejaring sosial ini untuk lebih mengeksis, untuk eksistensi TNI melalui jejaring sosial. Sehingga kita tidak selalu disudutkan. Beritanya pasti ya menurut dialah, suka-suka dialah tanpa bisa mengcounter. Kolonel Sudirman, Sespuspen TNI : Sebenarnya ide yang ada adalah bukan kita mengatur prajurit memiliki facebook atau twitter. Idenya adalah TNI itu akan memiliki account Institusi katakanlah difacebook dan twitter. Kalau ada sesuatu yang di twit disana diharapkan siapa saja Anggota TNI dan keluarga yang sudah memiliki kita minta di re-twit saja. Jadi tidak ada hubungannya dengan kita membuat regualasi yang mengatur prajurit menggunakan jejaring sosial. TNI akan membuat twitter dan facebook institusi, kalau Kapuspen dan Panglima ngomong disitu kita harapkan semua prajurit yang sudah punya twitter dia me re-twit saja. Jadi perpanjangan tangan omong Panglima saja tidak mengomentari apa-apa. Misalkan Kapuspen mengeluarkan twit bahwa kejadian kebumen gini-gini-gini oleh kita yang punya twitter kita re-twit ke temen kita ke tetangga, ke anak kita nanti anak kita lanjut ke temannya. Jadi jejaring informasi itu meluas jadi harapannya begitu. Jadi bukan meminta semua TNI melarang memiliki twitter tetapi memiliki tanggung jawab masingmasing tetapi kalau institusi mengeluarkan informasi lewat twitter mohon di perpanjang. Yang kedua adalah kalau sekiranya Panglima kita buat account kira-kira pantas nggak, itu aja sebenarnya karena yang dituntut oleh komisi 1 DPR itu disamping TNI punya personalnya juga punya, jadi panglima itu punya twitter yang bisa di jejaringkan dengan anggota DPR. anggota DPR bisa mendapat seketika berita tentang TNI kalau ada kejadian. Tapi tadi kalau ada yang menangkap esensi dari diskusi ini mungkin untuk panglima mungkin tidak, tapi untuk institusi barang kali iya.

Letkol Djoko. T, Satkomlek : Pemanfaatan jejaring sosial penggunaan kebebasan keterbukaan mengenai penggunaan anggaran apakah nantinya dihadapkan dengan UU No. 54 mabes TNI mempunyai suatu wadah account tersendiri memasukkan itu semua. Atau masing-masing institusi bisa mengeluarkan account sendirisendiri didalam melaksanakan UU No. 54 tersebut.

Kolonel Sudirman, Sespuspen TNI : Kalau pengumuman lelang boleh menggunakan website www.tni.mil.id akan ditayangkan selama satu minggu dan akan hilang, silahkan saja menyebutkan nama barang, jumlahnya , siapa saja yang dihubungi bisa disampaikan lewat website TNI dan ini sudah dilaksanakan oleh Satkomlek. Kolonel Dedi Agus Purwanto, Dispenad: Batasan pejabat yang nantinya akan diberikan account, kita kan sudah disampaikan oleh kolonel Aris kita punya batasan siapa saja pejabat yang punya account, maksud kami kita putuskan saja siapa pejabat yang punya account. jadi pada saat kita paparan kepada Panglima TNI kita sudah punya jawaban. Apakah hanya panglima TNI saja atau pejabat lainnya. Wakapuspen TNI : Kalau selaku pribadi masing-masing saja tapi kalau atas nama institusi nanti yang mengelola Puspen. Tolong tampilkan jejaring sosial yang kita miliki mampu mengcounter berita atau twitter yang real time itu berarti kita bisa juga real time untuk mengcounter. Dan ini tidak semua orang yang bisa mengcounter ini. Dan tidak semua bisa menjawab, cuma yang punya wewenang yang bisa menjawab.