Anda di halaman 1dari 2

Berbagai persiapan sudah dilakukan sejak awal kehamilan hingga menjelang persalinan, mulai dari menjaga pola makan

hingga senam hamil. Namun ketika persalinan tiba, semuanya ternyata sia-sia sehingga diperlukan tindakan bantuan untuk memperlancar proses kelahiran si buah hati. Setiap calon ibu pasti menginginkan proses persalinan yang sehat dan lancar. Namun, bagaimana bila keinginan itu ternyata tak bisa terwujud karena kondisi tertentu. Proses persalinan dengan bantuan terpaksa dilakukan jika persalinan normal tak mungkin untuk dilakukan karena akan membahayakan si janin maupun si ibu. Misalnya yaitu tindakan episiotomi yang dilakukan karena beberapa kondisi tertentu, seperti risiko terjadinya kerobekan yang parah dan berhubungan dengan daerah anus, ukuran bayi yang sangat besar, posisi bayi yang sungsang, serta kelahiran yang membutuhkan forsep atau vakum. Tindakan bantuan berupa penggunaan forsep atau vakum biasanya dilakukan karena berbagai hal seperti keadaan stres yang dialami si bayi atau si ibu, bayi yang dilahirkan adalah bayi kembar, atau karena ukuran bayi yang terlalu besar. Penggunaan alat tersebut juga dilakukan pada proses persalinan dengan bantuan induksi. Tindakan induksi dilakukan bila kehamilan sudah memasuki minggu ke-41 atau ke-42 (kehamilan lewat waktu) dan si ibu mengalami gangguan medis. Tindakan itu bisa juga dilakukan jika pertumbuhan bayi lambat atau berhenti, cairan ketuban berkurang, plasenta tak lagi memberikan asupan nutrisi pada bayi, atau karena bayi mengalami gangguan yang harus segera ditangani dengan tindakan operasi. Persalinan dengan vakum atau forsep Dua buah penjepit dari logam diletakkan di sekeliling kepala bayi dan terkait satu sama lain. Salah satu forsep digunakan untuk memutar posisi bayi, sedangkan forsep yang lainnya digunakan jika bayi sudah ada di posisi yang tepat tapi perlu diangkat keluar. Untuk alat vakum, semacam mangkuk khusus dari plastik atau logam diletakkan di atas kepala bayi dan sebuah selang menghubungkan mangkuk ke mesin untuk membantu menghisap bayi keluar. Saat posisi mangkuk sudah mantap, dokter akan menarik mangkuk, sementara si ibu tetap mengejan hingga kepala dan badan bayi mulai terlihat.
http://www.info-sehat.com/inside_level2.asp?artid=104&secid=&intid=2

VAKUM Alat bantu ini dipasangkan pada bagian terbawah dari kepala bayi. Penggunaan alat vakum dilakukan dengan syarat tertentu, yaitu bila ketuban sudah pecah, pembukaan sudah lengkap, posisi kepala bayi sudah di dasar panggul, dan janin dalam keadaan hidup. Kalau janin tidak segera dikeluarkan, kepalanya akan terjepit di antara tulang-tulang panggul ibu. Risiko pada bayi: Kepala terlihat lebih panjang. Sebetulnya bukan bentuk kepalanya, tapi karena adanya cairan di kulit kepala. Jika terjadi seperti itu kepala bayi didiamkan saja dan akan kembali seperti semula. Cairan yang ada di bawah kulit tersebut akan diserap oleh tubuh sendiri. FORSEP

Alat bantu persalinan ini dipasangkan pada kepala bayi seperti mencapit, kemudian kepala akan ditarik keluar. Tindakan forsep diperlukan pada kondisi ibu sudah dipimpin untuk mengedan namun lebih dari satu jam bayi belum juga lahir. Tindakan forsep perlu persetujuan pasien. Risiko pada bayi: Akan tampak bekas alat tersebut pada bagian wajah bayi, namun nantinya akan hilang sendiri. Seperti jika tangan terjepit akan menimbulkan bekas jepitannya. Kecuali kalau posisi alatnya meleset, bisa menimbulkan luka pada bagian kepala yang dicapit.
http://nursingwear.wordpress.com/2008/09/05/bahu-dipatahkan-agar-bayi-selamat/