Anda di halaman 1dari 22

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Praktikum Mata Kuliah Sistem Pendingin I

PRESENTED BY

MOH. ARIS ASARI 023540

PROGRAM STUDI REFRIGERASI DAN TATA UDARA JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2006

CHAPTER I COPPER TUBE PROPERTIES

A.

Pendahuluan Telah diketahui bahwa pipa tembaga sudah banyak digunakan dalam pengerjaan

pemipaan yang berhubungan dengan sistem pemanasan, pendinginan dan sistem lainnya. Semua produksi pipa tembaga di Amerika yang digunakan untuk memenuhi semua kebutuhan, harus sesuai standar dan spesifikasi dari American Society for Testing and Materials (ASTM). Dan semua pipa tembaga berstandar ASTM harus berkomposisi minimal 99,9 % tembaga murni. Berdasarkan pada Tabel 1, terdapat enam tipe standar pipa tembaga dan spesifikasi penggunaannya. Pada tabel juga, menunjukkan standar ASTM untuk produksi pipa tembaga dengan beragam ukuran dan tempers. Terdapat tipe K, L, M, DWV dan Medical Gas tube yang sesuai dengan standar ASTM. Tiap tipe pipa merepresentasikan tingkat ketebalan pipa. Pipa tipe K akan lebih tebal daripada pipa tipe L, dan pipa tipe L akan lebih tebal daripada pipa tipe M untuk semua ukuran diameter pipa. Sedangkan ukuran diameter dalam, dipengaruhi oleh ukuran pipa serta ketebalan pipa tersebut. Temper, dideskripsikan sebagai tingkat kekuatan dan kekerasan dari pipa. Drawn temper tube biasa dikatakan sebagai hard tube/pipa keras sedangkan annealed temper tube lebih sering dikatan soft tube/pipa lunak. Untuk penyambungan pipa (joining), pipa keras biasanya disambung dengan jalan soldering atau brazing. Sedangkan untuk pipa lunak, selain bisa menggunakan perlakuan yang sama dengan pipa keras, proses penyambungan pipa juga bisa menggunakan flare dan compression fitting. Berikut ini tujuh keuntungan dari penggunaan pipa tembaga, : 1. Ekonomis. Pipa tembaga mudah untuk diperlakukan, dibentuk, dan disambung sehingga akan mengurangi biaya instalasi, material dan waktu. 2. Ringan. Untuk diameter dalam yang sama, pipa tembaga lebih ringan dibandingkan pipa ferros karena itu mudah untuk dipindahkan dan menghemat tempat.

3.

Mudah dibentuk. Pipa tembaga mudah diarahkan dan dibentuk, sehingga bisa mengurangi sambungan pipa dan elbow. Dengan proses bending, pipa bisa kita arahkan mengikuti kontur dan sudut sesuai keinginan kita.

4.

Mudah disambung. Penyambungan pipa bisa menggunakan adapter, soldering, brazing ataupun welding.

5.

Aman. Pipa tembaga tidak terbakar atau pemicu terbakar, dan tidak bereaksi menjadi gas beracun kecuali untuk campuran organik yang mudah menguap, seperti amoniak (NH3), tidak diperbolehkan memakai pipa tembaga.

6.

Standar. Pipa tembaga diproduksi sesuai standard dan diberi tanda secara permanen, sehingga kita bisa tahu apa dan siapa yang memproduksinya.

7.

Resistansi korosi. Pipa tembaga memiliki angka resistansi korosi yang cukup tinggi.

Tabel 1. Copper tube : type, standard, application

Tube Type TYPE K

Color Code Green

Standard ASTM B 88
3

Application Domestic Water Service and Distribution, Fire Protection, Solar, Fuel/Fuel Oil, HVAC, Snow Melting, Compressed Air, Natural Gas, Liquified Petroleum (LP) Gas, Vacuum

TYPE L

Blue

ASTM B 88

Domestic Water Service and Distribution, Fire Protection, Solar, Fuel/Fuel Oil, Natural Gas, Liquified Petroleum (LP) Gas, HVAC, Snow Melting, Compressed Air, Vacuum

TYPE M

Red

ASTM B 88

Domestic Water Service and Distribution, Fire Protection, Solar, Fuel/Fuel Oil, HVAC, Snow Melting, Vacuum

DWV ACR

Yellow Blue

ASTM B 306 ASTM B 280

Drain, Waste, Vent, HVAC, Solar Air Conditioning, Refrigeration, Natural Gas, Liquified Petroleum (LP) Gas, Compressed Air

OXY, MED, OXY/MED, OXY/ACR, ACR/MED

(K) Green (L) Blue

ASTM B 819

Medical Gas Compressed Medical Air, Vacuum

(Sumber: Copper Tube Handbook, 2006 : 20)

B.

Standar Radius dan Panjang pipa untuk coil

U-bend

Coil-loop

C.

Berbagai jenis sambungan a. Adapter Name Figure

Adapter (male)

Adapter (female)

Adapter (male)

Adapter (female)

Union

Tee

b. Elbow Name Figure

45 Elbow

90 Elbow

45 Elbow

90 Elbow

180 Elbow

Tee

Tee

c. Coupling Name Figure

Roll Stop

Stake Stop

No Stop

Reducing

d. Ukuran untuk soldering joint

Tabel. 2. Dimensi Solder Joint untuk sambungan Wrought (W) dan Cast (C) Pressure
Nominal or standard fitting (inches) C C C W W W Type Male end (inches) Outside diameter (A) min 0.373 0.622 0.872 max 0.376 0.626 0.876 Length (K) min 0.38 0.56 0.81 Female end (inches) Inside diameter (F) max 0.377 0.627 0.877 max 0.381 0.631 0.881 Depth (G) min 0.31 0.50 0.75 For use with tube size (under ASTM B 88) (inches)

(Sumber: Copper Tube Handbook, 2006 : 37)

CHAPTER II WORKING WITH COPPER TUBE


Pada dasarnya terdapat 4 pekerjaan dasar pemipaan. Berikut ini merupakan deskripsi dari pekerjaan dasar pemipaan dengan pipa tembaga!

Working with Copper Tube Measuring and Cutting Reaming Swaging and Flaring Bending Fitting Applying Flux Solder fitting Braze fitting

A.

Measuring and cutting Mengukur pipa dengan akurat berguna untuk mengurangi kesalahan terlalu

pendek atau terlalu panjang terhadap pipa yang akan kita potong. Hal ini akan mempengaruhi proses selanjutnya, seperti nilai ekonomis ataupun pada proses joining yang bisa berakibat hasil penyambungan pipa kurang begitu baik. Pemotongan pipa bisa dilakukan melalui berbagai alat, seperti menggunakan disk type tube cutter atau gergaji besi. Untuk pipa dengan diameter besar dan tebal, gunakan gergaji untuk memotongnya. Harus berhatihati dalam memotong pipa supaya pipa tidak berubah bentuk/rusak.

Gambar 2.1 Tube Cutter beserta bagianbagiannya

Berikut ini beberapa prosedur pengukuran dan pemotongan pipa! 1. Luruskanlah pipa yang masih dalam bentuk rol/gulungan pada bidang datar, jangan menarik pipa dari bagian sisi koil untuk mencegah pipa bengkok. 2. Ukurlah panjang pipa yang akan dipotong dan beri tanda yang jelas.

Gambar 2.2 Proses pengukuran pipa 3. Letakan pipa yang akan dipotong tersebut pada rol beralur yang ada pada tubing cutter seperti pada gambar 2.3, putarlah knob pengatur tekanan pisau sehingga pisau pemotong menyentuh pipa dan tepat pada tanda ukuran yang telah dibuat.

Gambar 2.3 Proses peletakkan pipa pada tubing cutter 4. Putarlah pemotong pipa ini secara mengelilingi pipa sampai putaran terasa ringan, setelah itu putarlah knob pengatur tekanan pisau atau putaran seperti diperlihatkan pada gambar di bawah, setelah itu putarkanlah pemotong pipa sampai pipa terpotong.

Gambar 2.4 Proses pemotongan pipa

B.

Reaming Reaming adalah proses perluasan pada pipa untuk menghilangkan ketajaman sisi

sisi pipa setelah dipotong dan membuang serpihan tembaga yang masih menempel pada bagian dalam pipa untuk menghindari terbawa masuk ke dalam sistem. Proses reaming tidak boleh terlalu kasar karena bisa membuat bentuk dan diameter dalam pipa berubah. Proses reaming bisa menggunakan (a) reamer, (b) cutting pocket ataupun (c) deburring tools.

b
Gambar 2.3 Proses reaming dengan berbagai peralatan

Bersihkan pipa dari kotoran yang menempel pada pipa dengan peralatan tambahan seperti (a) sand cloth, (b) abrasive pad dan (c) fitting brush.

Gambar 2.4 Proses cleaning dengan menggunakan peralatan tambahan C. Swaging dan Flaring Salah satu cara untuk menyambung pipa tembaga pada suatu sistem pemipaan adalah penyambungan dengan menggunakan flare dan jenis yang paling umum yang dipakai adalah flare 45. Flaring dan swaging adalah proses pengembangan pipa yang akan disambung atau diinstalasi. Supaya hasil flare pipa tepat maka diperlukan peralatan yang baik. Gambar 2.5menunjukkan gambaran hasil flaring!

Gambar 2.5 Berbagai hasil proses flaring Flareblock adalah salah satu alat untuk flaring yang mempunyai diameter lubang yang berlainan agar mampu mengakomodasi bermacam ukuran pipa. Setelah pipa dijepit dalam posisi yang benar barulah ulir pengatur flare dipasang. Batang ulir pengatur diputar perlahan sehingga cone bertemu dengan ujung pipa, setelah itu barulah proses flare dilakukan sampai ujung pipa membentuk flare. Dalam praktik yang baik, gunakan sedikit oli pada konis agar flare menjadi halus dan mudah dilepas. Yakinkan bahwa sambungan telah berada pada posisi tepat sebelum flaring dilakukan untuk menghindari pipa terlalu panjang/pendek.

Gambar 2.6 Proses flaring menggunakan flareblock.

Gambar 2.7(a) Ujung pipa yang diflare 45 (b) Proses pemasangan flare joint (c) Sambungan flare lengkap

Swaging digunakan untuk membesarkan ujung pipa, agar dua buah pipa yang sama diameternya dapat disambung dengan solder timah atau las perak. Panjang sambungan untuk tiap pipa berbeda, pada umumnya diambil sepanjang diameter dari pipa yang akan disambung. Swagging tool ada 2 macam : 1. Model dipukul (Punch type) 2. Model diputar (Screw type) Pemakaiannya hampir sama dengan flaring tool. Di sini flare cone ditukar dengan swaging punch (swaging dies atau swage adaptor).

a
D. Bending

b
Gambar 2.8 Peralatan Swaging (a) Punch type, (b) Screw type

Alat pembengkok pipa diantaranya adalah bending tools, levertype hand bender atau pegas pembengkok. Proses bending tidak akan merusak bagian dalam dan luar pipa jika dilakukan dengan benar. Berdasarkan hasil pengujian, tingkat kekuatan pipa yang sudah di bending jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Gambar 2.9 Pegas pembengkok Pada pegas pembengkok, pembengkok pipa tersebut ada 2 macam yaitu lilitan pegas di luar (outside spring) dan lilitan pegas di dalam (inside spring). Yang pertama pipa dimasukan ke dalam pegas dan untuk yang kedua pegas dimasukan ke dalam pipa. Inside spring hanya dapat dipakai untuk membengkokan ujung pipa, sedangkan outside spring dapat dipakai untuk membengkokan semua bagian dari pipa.

Gambar 2.10 menunjukkan langkahlangkah dalam pembengkokkan pipa menggunakan levertype hand bender. Ilustrasi ini hanya salah satu dari banyak alat yang telah diproduksi proses bending.

Gambar 2.10 Proses bending

a. Regangkan levertype hand bender sampai 180, kemudian masukkan pipa ke bagian tengah bender. b. Tempatkan holder clip pada pipa, kemudian putar salah satu handle bender ke kanan sampai sejajar dengan pipa. Ini adalah posisi pipa yang akan kita bengkokan berada pada sudut kelengkungan pipa masih 0. c. Putar handle bender kedua untuk membengkokan sesuai sudut yang kita inginkan dengan perlahan, dimana pada roda bender sudah tersedia indikator sudut kelengkungan.

d. Putar ke arah kanan handle bender kedua setelah kita mendapatkan bentuk dan sudut kebengkokan pipa yang kita inginkan kemudian lepaskan holder clip pada pipa.

E. Fitting 1. Applying Flux Flux digunakan untuk mengurangi proses oksidasi dari permukaan yang akan disambung, mencegah proses oksidasi pada saat proses pemanasan, mempercepat penyatuan antar permukaan ketika dipanaskan. Oleskan flux jangan terlalu tebal dengan mengggunakan sikat pada pipa dan sambungannya. Kelebihan dalam menggunakan flux akan mengakibatkan korosi akibat sisa flux. Untuk kasus yang lebih besar, kelebihan flux akan mengakibatkan lubang pada pipa dan sambungannya. Pada saat mengoleskan flux pada pipa, jangan menggunakan jari tangan karena bahan kimia yang terkomposisi pada flux berbahaya untuk mata, mulut atau luka yang terbuka.

Gambar 2.11 Proses pengolesan flux pada pipa dan sambungan

2. Soldering dan Brazing Soldering dan brazing merupakan langkah terakhir dari proses penyambungan pipa. Soldering biasanya digunakan pada bahanbahan lunak seperti tembaga, seng, alumunium dan lainlain. Bahan tambahan untuk soldering biasanya timah dan perak selain itu bahan ini harus memiliki titik didih lebih rendah dari bahan yang akan disambung. Sedangkan brazing, hampir sama dengan soldering, perbedaannya penyambungan dengan cara ini menggunakan bahan yang lebih keras seperti baja atau sejenisnya. Jadi busur api yang digunakan pada brazing lebih besar daripada soldering.

Sebelum kita melakukan proses soldering dan brazing, terlebih pasang kedua pipa dan bersihkan sisasisa flux pada pipa. Lihat gambar 2.12 untuk lebih jelas!

Gambar 2.12 Proses penyambungan pipa dan pembersihan sisa flux Preheating adalah proses pemanasan awal yang diperlakukan pada pipa beserta sambungannya. Preheating berfungsi untuk menyamakan temperatur pipa dengan sambungannya sehingga akan menghasilkan sambungan yang kuat. Pada saat melakukan preheating pada sambungan, jangan panaskan terlalu lama karena akan mengakibatkan terbakarnya flux sehingga akan hilang keefektifan dari flux selain itu juga akan mengakibatkan cairan solder tidak akan masuk ke dalam sambungan.

Gambar 2.13 Proses preheating pada pipa dan sambungan Sumber bahan bakar pada proses brazing bisa menggunakan gas acetylene ataupun liquid petroleum gas (LPG). Logam penyambung yang sering digunakan dalam brazing adalah jenis campuran logam BCuP yang mengandung phosphor serta jenis campuran logam BAg yang mengandung silver. Sebelum kita menempelkan logam penyambung pada bagian yang akan kita sambung, pastikan bahwa pipa beserta sambungannya sudah panas merata sehingga akan menghasilkan sambungan yang kuat. Setelah kedua pipa telah disambungkan, dinginkan secara natural serta bersihkan bagian

luar pipa tersebut. Pendinginan pipa dengan menggunakan air akan menyebabkan sambungan menjadi regas.

Gambar 2.14 Proses penyambungan pipa dan cleaning Metode lain penyambungan adalah dengan menggunakan (a) mechanical coupling, (b) Teepulling tools, dan (c) electric resistance hand tools.

Gambar 2.15 Metode penyambungan lainnya

Halhal yang perlu diperhatikan ketika kita kerja las pemipaan! a. Tabung acetylene Tabung acetylene adalah tabung yang terbuat dari logam baja yang didalamnya selain berisi gas acetylene juga berisi bahan berpori seperti kapas, sutra tiruan, atau asbes yang berfungsi sebagai penyerap aseton yang merupakan bahan dimana acetylene dapat larut dengan baik dan aman dibawah pengaruh tekanan. Botol ini dapat berisi antara 4060 liter gas acetylene. Bentuk botol pendek gemuk. Tekanan isinya mencapai 15 kg/cm. Untuk membuka katupnya digunakan kunci sok. Baut dan mur pengikatnya menggunakan sistem ulir kiri. Warna botol merah. Petunjuk dalam praktek : 1. 2. 3. Hindarkan botol acetylene ini dari botol oksigen. Lindungi botol acetylene ini dari terik matahari dan panas. Usahakan jangan sampai jatuh atau kejatuhan benda lain.

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Hindarkan dari tempattempat yang berminyak. Pemakaian gas harus selalu melalui regulator. Bukalah regulatornya bila tidak digunakan. Jangan merubah tandatanda yang ada pada regulator. Tempatkan tabung ini berdiri tegak. Bila tabung asetilin tibatiba menjadi panas, segeralah tutup katup silindernya, kemudian siramlah dengan air sampai dingin.

10. Dilarang merokok selama berdekatan dengan acetylene.

b. Tabung oksigen Tabung oksigen terbuat dari bahan baja. Bentuknya tinggi ramping. Mempunyai tekanan isi maksimum 150 kg/cm. Baut serta mur pengikatnya adalah ulir kanan. Botol ini berisi zat asam (O2) sekitar 40 60 liter. Warna botol biru atau hitam. Petunjuk dalam praktek : 1. Jauhkan tabung oksigen dengan tabung acetylene.

2. Tutuplah katup tabung oksigen ini, buang gasnya hingga manometer tekanan kerja menunjukan angka nol, bila pengelasan telah selesai atau istirahat. 3. Ikatlah tabung oksigen ini dengan kokoh pada kereta dorong waktu dipindah pindahkan. 4. Bukalah dahulu regulatornya dari tabung oksigen, bila terpaksa memindahkan oksigen tanpa kereta. 5. Bersihkanlah tempat kerja pada radius kurang lebih 8 meter sebelum memulai kegiatan mengelas. 6. Tempatkan alat pemadam kebakaran pada tempat yang mudah dicapai.

c. Regulator tabung gas Regulator merupakan perlengkapan tabung las dan pengatur tekanan isi menjadi tekanan kerja yang tetap besarnya sesuai yang dikehendaki oleh operator las. Pada regulator terdapat 2 (dua) buah alat pengukur tekanan yaitu manometer tekanan isi dan manometer tekanan kerja. Dimana : 1. Tekanan isi sampai 30 kg/cm 2. Tekanan kerja sampai 3 kg/cm

Gambar 2.16 Regulator Oksigen (kiri) dan regulator acetylene (kanan)

Petunjuk dalam praktek : 1. 2. 3. Jangan memegang regulator dengan sarung tangan berminyak. Pegang regulator pada badannya jangan pada manometernya. Sebelum membuka katup tabung, tutuplah dahulu katup regulator dengan memutar baut pengatur berlawanan jarum jam hingga terasa longgar. 4. Putarlah baut pengatur perlahanlahan searah putaran jarum jam ketika mengatur tekanan kerja. 5. 6. Berdirilah di samping, jangan dimuka manometer ketika mengatur tekanan kerja. Apabila regulator rusak segera diganti dengan yang baik.

d. Brander las Brander las adalah alat untuk mencampur gas acetylene dengan oksigen serta alat pengatur pengeluaran hasil campuran gas tersebut ke mulut brander.

Gambar 2.17 Brander las Petunjuk dalam praktek : 1. Jangan memegang pembakar dengan sarung tangan berminyak. 2. Mulut pembakar jangan digunakan untuk memukulmukul atau mencungkil sesuatu. 3. Bila lubang mulut tersumbat, tusuklah dengan alat penusuk khusus yang pas ukurannya.

4. Untuk membersihkan bibir mulut pembakar, gosokannlah pada balok kayu yang bersih sambil katup oksigen dibuka agar tidak tersumbat. 5. Matikan pembakar bila tidak dipakai. 6. Jangan membiasakan menggantungkan pembakar pada tabung las.

e. Nyala api las Memilih atau menentukan nyala api las yang dipergunakan merupakan bagian yang penting pada pengelasan dengan acetylene. Pembakaran yang telah terjadi dapat menimbulkan nyala api yang berbeda beda bentuk dan warnanya. Pada praktek pengelasan ada 3 (tiga) jenis nyala api yang dipergunakan, yaitu : 1. Nyala karburasi

Nyala karburasi adalah nyala api las yang berlebihan acetylene. Nyala api ini dipergunakan pada proses pengelasan batang batang permukaan yang keras. 2. Nyala Netral

Nyala api dimana pengaturan pengeluaran oksigen dan acetylene seimbang. Nyala api ini sering dipergunakan pada pengelasan : baja, baja tahan karat, aluminium dan tembaga. 3. Nyala oksidasi

Nyala api las yang berlebihan oksigen nya. Nyala oksidasi ini dapat terjadi dengan mengurangi pengeluaran acetylene setelah nyala netral. Nyala api ini biasa dipergunakan untuk pengelasan kuningan atau perunggu

f.

Perlengkapan Las

Perlengkapan las Oxy Acetylene tekanan tinggi yang terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tabung acetylene Tabung Okigen Pipa hembus dengan pipa pancarnya Regulator tekanan asetilin Regulator tekanan oksigen Pipa karet atau selang (house) Satu set kunci ring/kunci sok Kaca mat alas Pemantik/penyulut api (flint lighter)

10. Batang kawat las 11. Fluks (borak) 12. Trolly (roda dorong)

g. Perakitan peralatan Las dan Pengoperasiannya 1. Simpanlah kedua tabung pada roda secara tegak lurus, dimana tabung hitam adalah tabung Oksigen dan tabung berwarna merah bata adalah tabung asetilin. 2. Pasanglah ujungujung pipa karet/selang pada pipa hembus dan ujung yang lainnya pasangkan pada regulator. Ikatlah dengan menggunakan klem pengikat, dimana selang yang berwarna merah untuk acetylene dan selang berwarna hitam atau hijau untuk saluran oksigen. 3. Bersihkan permukaan ulir cylinder valve dan regulator yang akan disambung dari kotoran oli atau gemuk. 4. Bukalah kran pada tabung oksigen sedikit saja untuk mengeluarkan kotoran yang ada pada saluran, begitu pula untuk tabung acetylene lalu tutup kembali. 5. Pasanglah regulator oksigen pada tabung oksigen dengan catatan bahwa ulir sekrup regulator oksigen adalah ulir kanan. 6. Pasanglah regulator asetilin pada tabung acetylene dengan catatan bahwa ulir sekrup regulator acetylene adalah ulir kiri. 7. Keraskan dengan menggunakan kunci, lalu periksalah semua kran atau valve semuanya harus dalam keadaan tertutup.

8. 9.

Pasanglah pipa pancar sesuai kebutuhan. Bukalah kran tabung secara perlahanlahan satu putaran saja, agar tidak merusak meter regulator, ini berlaku untuk kedua tabung tersebut, maka disini akan terlihat meter regulator menunjukan isi/volume tabung itu sendiri.

10. Aturlah kran regulator acetylene maupun oksigen secara perlahanlahan sehingga didapatkan tekanan yang sesuai dengan kebutuhan dengan melihat meter tekanan saluran keluar. Untuk kran regulator oksigen maupun acetylene untuk membuka saluran arah putaran kanan dan menutup arah putaran kiri. 11. Bukalah kran acetylene dan oksigen yang ada pipa hembus (blow pipe) sedikit saja, lalu nyalakan dengan menggunakan penyulut api. 12. Setelah menyala aturlah nyala apinya dengan mengatur lagi kran yang ada di pipa hembus, sehingga didapatkan nyala api yang sesuai dengan kebutuhan. Adapun bentuk nyala api yang ada pada systim pengelasan adalah ada 3 (tiga) jenis, sebagai berikut : Nyala oksidasi, Nyala Netral dan Nyala karburasi. 13. Pengelasan siap untuk dikerjakan dan jangan lupa memakai kacamata las untuk pengaman. 14. Jika pengelasan telah selesai, matikanlah nyala api dengan menutup kran acetylene yang ada pada pipa hembus terlrbih dahulu setelah itu baru tutup kran oksigen. 15. Tutuplah keran yang ada pada kedua tabung, lalu bukalah kran yang ada pada pipa hembus untuk mengeluarkan acetylene dan oksigen yang tersisa. 16. Tutuplah semua kran yang ada. 17. Bukalah regulator dari tabungnya. 18. Gulung kembali selang supaya rapih dan simpan semua peralatan pada tempatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Copper Development Association. (2006). The Copper Tube Handbook. New York : Copper Development Association Inc. Hasan, Syamsuri. (2006). Sistem refrigerasi dan Tata Udara jilid 2. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Mitrakusuma, W.H. (2006). Panduan Praktikum Instalasi Sistem Refrigerasi. Bandung : Polban (Tidak diterbitkan). Taqwali, Ega. (2005). Job sheet Sistem Pendingin I : Pekerjaan Dasar Pipa. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia (Tidak diterbitkan).