Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN STUDI KASUS MINOR ILMU PENYAKIT MULUT

ULSER TRAUMATIK

Disusun oleh: Julia Famor Pratami 1601 1210 0081 Pembimbing: Wahyu Hidayat, drg.

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2011

BAB I PENDAHULUAN

Suatu lesi yang disebabkan oleh luka traumatik yang melibatkan rongga mulut mungkin secara khas menimbulkan pembentukan permukaan ulserasi. Trauma adalah penyebab paling umum dari ulserasi membran mukosa oral. Terbentuknya luka dapat dipengaruhi faktor mekanis, kimia, elektris maupun termal. Gigi yang fraktur, karies, malposisi dan malformasi ataupun ill fitting denture juga berperan dalam proses terbentuknya lesi traumatik (Houston, 2009). Trauma fisik lain yang biasa terjadi termasuk pipi atau lidah yang tergigit, atau bahkan trauma dari sebuah sikat gigi karena terlalu bersemangat menyikat gigi (Jordan and Lewis, 2004). Pada pasien berikut, luka terjadi pada gusi bagian kanan atas. Luka terbentuk karena tertusuk makanan yang keras saat sedang mengunyah. Luka yang terbentuk berupa lesi ulseratif pada daerah yang terkena iritasi mekanis dan terasa perih saat makan. Penatalaksanaan ulser traumatik dengan menghilangkan faktor penyebabnya. Dengan menjaga kebersihan mulut, lesi akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu kurang dari 3 minggu. Jika luka tidak sembuh dalam waktu 3 minggu, harus dicurigai adanya hubungan dengan penyakit sistemik atau kanker rongga mulut. Obat kumur yang bersifat antiseptik digunakan untuk mencegah infeksi sekunder terhadap lesi tersebut. Dapat juga digunakan kortikosteroid topikal atau anestesi topikal untuk mengurangi rasa sakit bila lesi ulseratif cukup parah.

BAB II LAPORAN KASUS

Data Umum Pasien Nama Umur Alamat Jenis Kelamin Status No. Rekam Medis Pekerjaan : Tn.WS : 51 thn : Komplek Pondok Hijau Blok E-39 Bandung : Laki-laki : Sudah Menikah : 2011 143xx : Pegawai Swasta

Tanggal Pemeriksaan : 15 Oktober 2011 Anamnesa Pasien datang dengan keluhan ada luka pada gusi bagian kanan atas. Luka timbul setelah bagian tersebut tertusuk makanan yang keras pada saat sedang mengunyah + 10 hari yang lalu. Setelah ada luka, pasien mengeluh sering terjadi perdarahan pada daerah yang luka. Luka terasa perih pada saat makan makanan yang keras. Tidak ada riwayat pengobatan pada luka. Tidak ada riwayat penyakit yang sama pada keluarga. Sekarang luka masih terasa perih dan ingin diobati. Riwayat Penyakit Sistemik Penyakit jantung Hipertensi Diabetes Melitus Asma/Alergi Penyakit Hepar Kelainan GIT Penyakit Ginjal Kelainan Darah Hamil Kontrasepsi Lain-lain : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK

Riwayat Penyakit Terdahulu disangkal Kondisi Umum Keadaan Umum : Baik Kesadaran Suhu : Compos Mentis : Afebris Tensi Pernafasan Nadi : 130/80 mmHg : 20 x / menit : 85 x / menit

Pemeriksaan Ekstra Oral Kelenjar Limfe Submandibula kanan dan kiri Submental kanan dan kiri Servikal kanan dan kiri Mata TMJ Bibir Wajah Sirkum Oral Lain-lain Pemeriksaan Intra Oral Kebersihan Mulut Gingiva : Sedang; Kalkulus (-); Plak (+); Stain (+) : terdapat ulser pada gingival region 14-15 dengan ukuran 1cm.Luka berbentuk irreguler, berwarna putih kekuningan yang dikelilingi permukaan eritem. Mukosa bukal Mukosa labial Palatum durum Palatum mole Frenulum Lidah Dasar mulut : TAK : TAK : TAK : TAK : TAK : TAK : TAK : tidak teraba, tidak sakit : tidak teraba, tidak sakit : tidak teraba, tidak sakit : pupil isokhor, konjungtiva non anemis, sklera non ikhterik : TAK : TAK : simetris : TAK : TAK

Status Gigi Geligi X 8 7 6 5 4 3 2 1 8 7 6 5 4 3 2 1 X Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan Diagnosis D/ Traumatic Ulcer DD/ Stomatitis Apthosa Reccurent Behcets Disease Herpes simplex virus Rencana Perawatan Dan Pengobatan Pro OHI Pro resep col oris Pro anjuran diet makanan sehat Pro kontrol 1 minggu X 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 X

R/ Chlorheksidine gluconate 0,2% gargle flc no.I

Gambar 1. Traumatik ulser pada region 14-15

Status Kontrol Nama Umur Alamat Jenis Kelamin Status No. Rekam Medis Pekerjaan : Tn.WS : 51 thn : Komplek Pondok Hijau Blok E-39 Bandung : Laki-laki : Sudah Menikah : 2011 143xx : Pegawai Swasta

Tanggal Pemeriksaan : 3 November 2011 Anamnesa Pasien datang untuk kontrol setelah sekitar 19 hari yang lalu terdapat luka pada daerah gusi kanan atas. Untuk pengobatan pasien menggunakan obat kumur chlorhexidine dua kali sehari.. Selain itu pasien jugaa diet makanan sehat dan menjaga kebersihan mulutnya . sekarang luka tsb sudah sembuh dan tidak sakit lagi.

Pemeriksaan Ekstra Oral Kelenjar Limfe Submandibula kanan dan kiri Submental kanan dan kiri Servikal kanan dan kiri TMJ Bibir Wajah Sirkum Oral Lain-lain Pemeriksaan Intra Oral Kebersihan Mulut Gingiva Mukosa bukal : Sedang; Kalkulus (-); Plak (+); Stain (+) : TAK : TAK : tidak teraba, tidak sakit : tidak teraba, tidak sakit : tidak teraba, tidak sakit : TAK : TAK : simetris : TAK : TAK

Mukosa labial Palatum durum Palatum mole Frenulum Lidah Dasar mulut Status Gigi Geligi X

: TAK : TAK : TAK : TAK : TAK : TAK

X 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 X

8 7 6 5 4 3 2 1 8 7 6 5 4 3 2 1 X

Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan Diagnosis D/ post Traumatic Ulcer Rencana Perawatan Dan Perawatan Pro OHI Pro anjuran diet makanan sehat

Gambar 2. Post traumatic ulser

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Definisi Ulser adalah suatu defek pada jaringan epitel berupa lesi cekung berbatas jelas yang telah kehilangan lapisan epidermis (Greenberg dan Glick, 2003). Menurut Mosby's Dental Dictionary (2008), ulser traumatik adalah ulserasi yang disebabkan karena trauma. Ulser traumatik biasanya terasa sakit dan lesinya berupa ulser tunggal berbatas eritema dengan dasar yang dilapisi pseudomembran. Jika lesi multipel disebabkan karena stomatitis apthous rekuren. Ulser traumatik terjadi karena tergigit, adanya gigi yang tajam, atau gigi tiruan yang kasar (Thomas, 2010). 3.2 Etiologi Trauma penyebab ulserasi oral bisa fisik ataupun kimia. bagian gigi palsu, alat Orthodontic, restorasi gigi, atau prominent bonjol gigi. kerusakan pada mukosa oral dapat disebabkan oleh permukaan yang tajam di dalam mulut, seperti :

Trauma fisik yang biasa terjadi termasuk pipi atau lidah yang tergigit, iritasi gigi tiruan yang tidak sesuai, trauma dari benda asing atau bahkan trauma dari sebuah sikat gigi karena terlalu bersemangat menyikat gigi (Cunningham, 2002). Situasi yang juga kadang-kadang muncul di mana pasien dengan masalah psikologi mungkin sengaja menyebabkan ulserasi di dalam mulut mereka (ulser factitial) (Jordan and Lewis, 2004). 3.3 Patofisiologi Mukosa oral terdiri dari lapisan epitel berlapis gepeng yang tipis dan rapuh, dan banyak terdapat suplai darah. Seperti epidermis dan lapisan saluran pencernaan, epitel oral mempertahankan integritas struktural oleh proses pembaharuan sel terus-menerus

di mana sel-sel yang dihasilkan oleh pembelahan mitosis dalam lapisan terdalam bermigrasi ke permukaan untuk menggantikan sel yang membuka. Dengan pembaharuan sel yang berlangsung cepat, penyembuhan luka akan cepat terjadi, namun kemungkinan untuk mutasi sel dan kerusakan pada sel juga tinggi. Karena suplai darah yang melimpah dan kerapuhan sel epitel, risiko untuk terjadinya infeksi, inflamasi, dan trauma meningkat. Gejala ulser traumatik ini adalah sakit, ketidaknyamanan dalam 24 hingga 48 jam sesudah trauma terjadi. Gambaran lesi ulser bergantung pada faktor iritannya. Pada awalnya daerah eritematous dijumpai di perifer, perlahan-lahan menjadi lebih muda karena proses keratinisasi. Ulser ini akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 10 hingga 14 hari apabila iritan penyebab dihilangkan karena terjadi proses keratinisasi dan pembaharuan sel-sel epitel mukosa oral (Cunningham, 2002). 3.4 Histopatologis Mukosa rongga mulut dibentuk oleh epitel gepeng berlapis dan lamina propria, yaitu(Bloom and Fawcett, 2002) : 1. Epitel gepeng berlapis tidak mengalami keratinisasi sempurna seperti pada kulit. Seperti pada vestibulum, dasar mulut, dan lidah bagian bawah. Epitel ini relatif tipis. Sel-sel epitel gepeng berlapis ini antara lain (Bloom and Fawcett, 2002): a) Stratum basale/germinativum Merupakan selapis sel berbentuk silindris pendek yang terletak paling bawah dari epitel gepeng berlapis keratin, dan dalam sitoplasma terdapat butir-butir pegmen melanin. b) Stratum spinosum Terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk polihedral, sel nya seolah-olah berduri (spina) yang dikarenakan adanya desmosom yang berfungsi sebagai tempat perlekatan dua sel yang berdekatan c) Stratum granulosum Terdiri dari dua hingga empat lapis sel berbentuk belah ketupat, dan dalam selnya terdapat keratohialin. Pada lapisan ini mulai terjadi perubahan fungsi. d) Stratum lucidum

Lapisan ini sebenarnya terdiri dari sel-sel tidak berinti yang mati, oleh karena itu terkadang gambaran lapisan ini tidak jelas sehingga hanya tampak sebagai garis jernih yang homogen e) Stratum korneum Merupakan lapisan teratas epidermis f) Stratum disjungtivum Pada lapisan ini bagian-bagian epidermis sudah ada yang terlepas. 2. Lamina propria epitel yang meluas ke dalam lekuk-lekuk pada permukaan bawah epitel berupa papila jaringan ikat namun lebih halus dengan serat-serat kolagen dan sel melanin. Banyak limfosit yang dijumpai di lamina propria mukosa di bagian posterior rongga mulut dan banyak di antaranya bermigrasi ke dalam epitel. Dasar mulut dan pipi, lamina propria yang mukosa dapat digerakkan atau diangkat berupa lipatan-lipatan (Bloom and Fawcett, 2002).

3.5 Gambaran klinis Lokasi, ukuran, dan bentuk lesi tergantung trauma yang menjadi penyebab. Secara simtomatik, gambaran yang paling sering berupa ulser tunggal dan sakit dengan permukaan lesi halus, berwarna putih kekuningan atau merah, dengan tepi eritem tipis. Ulser biasanya lunak pada palpasi, dan sembuh tanpa berbekas dalam 610 hari, secara spontan atau setelah menghilangkan penyebab. Meskipun demikian, traumatic ulcer yang kronis mungkin secara klinis menyerupai carcinoma. Predileksi dapat pada lidah, bibir, dan mukosa bukal. Diagnosis berdasarkan riwayat dan gambaran klinisnya. Bagaimanapun, jika ulser tetap ada melebihi 10-12 hari, maka biopsy harus dilakukan (Laskaris, 2006; Scully, 2005). 3.6 Diagnosa Banding 1. Recurrent aphthous stomatitis RAS merupakan lesi oral yang paling sering ditemui. RAS terdiri dari 3 tipe, yaitu tipe minor, mayor dan herpetiformis.

Gambaran Usia onset Jumlah Ukuran Durasi Meninggalkan jaringan parut

Minor 20 1-5 < 1 cm 7-14 hari Tidak Mukosa tidak berkeratin,

Mayor 10-20 1-3 > 1 cm 2-3 minggu Ya Mukosa berkeratin dan tidak berkeratin, seperti palatum lunak

Herpetiformis 30 >10-100 1-2 mm 7-14 hari Tidak Mukosa tidak berkeratin dan dasar mulut serta lidah

Lokasi

terutama mukosa labial & bukal serta lidah

Etiologi RAS belum diketahui sampai sekarang. Adapun faktor-faktor predisposisi untuk RAS, antara lain (Banuarea, 2010): 1. Genetik Faktor ini dianggap mempunyai peranan yang sangat besar pada pasien yang menderita RAS. Faktor genetik RAS diduga berhubungan dengan peningkatan jumlah human leucocyte antigen (HLA). HLA menyerang sel-sel melalui mekanisme sitotoksik dengan jalan mengaktifkan sel mononukleus ke epitelium. Bila kedua orang tua menderita RAS maka besar kemungkinan timbul RAS pada anakanaknya. Pasien dengan riwayat keluarga RAS akan menderita RAS sejak usia muda dan lebih berat dibandingkan pasien tanpa riwayat keluarga RAS. 2. Trauma Berbagai trauma yang menyebabkan timbulnya SAR seperti tergigit, sikat gigi, jarum injeksi, makanan, perawatan gigi, gigi tiruan, atau tambalan yang tajam. 3. Stres Stres merupakan respon tubuh dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan yang terjadi terus menerus yang berpengaruh terhadap fisik dan emosi. Stres dinyatakan sebagai salah satu faktor yang berperan secara tidak langsung terhadap RAS. Aktifnya hormon glukokortikoid pada orang yang mengalam stres dapat menyebabkan meningkatnya katabolisme protein sehingga sintesis protein menurun.

Akibatnya

metabolisme

sel terganggu

sehingga

rentan

terhadap

rangsangan atau mudah terjadi ulser. Menurut penelitian, kebanyakan orang yang menderita ulser memiliki tingkat stres yang tinggi.
4.

Pengaruh hormonal Pada pasien SAR wanita, timbul lesi berhubungan dengan periode menstruasi. Umumnya timbul ulser baru selama 7 hari setelah periode ovulasi dan berhubungan dengan penurunan estrogen dan peningkatan progesteron. Diduga keratinisasi mukosa mulut berkurang akibat penurunan estrogen yang dapat menyebabkan mukosa rentan terhadap trauma yang mengakibatkan terbentuknya ulser.

5.

Kekurangan nutrisi Adanya gangguan hematologik pada pasien SAR terutama disebabkan oleh defisiensi besi, folat atau vitamin B12 .

6.

Alergi Alergi adalah suatu respon imun spesifik (hipersensitifitas) terhadap alergen tertentu. Alergi merupakan suatu reaksi antigen dan antibodi. Antigen ini dinamakan alergen, merupakan substansi protein yang dapat berekasi dengan antibodi tetapi tidak bisa membentuk antibodinya sendiri. Alergi dapat berasal dari makanan seperti susu, keju, gandum, atau dapat juga berasal dari Sodium Lauryl Sulfate (SLS) yang merupakan deterjen pada pasta gigi.

Manifestasi Klinis Lesi SAR yang pertama kali muncul seringkali terjadi pada usia 20-an dan dapat ditimbulkan oleh trauma minor, menstruasi, infeksi saluran pernafasan atas, atau kontak dengan makanan tertentu. Tahap-tahap perkembangan ulser pada RAS (Greendberg dan Glick, 2003) :
1.

Tahap prodormal : berlangsung 2 48 jam, rasa tidak enak di dalam mulut dan disertai gejala malaise seperti demam. Tetapi tahap ini jarang terjadi pada kebanyakan pasien.

2. Tahap pre-ulseratif : ditandai dengan adanya mukosa yang berwarna kemerahan dan bengkak.
3. Tahap ulseratif : merupakan tahap yang dominan, pasien merasakan adanya

nyeri lokal pada mukosa mulut. Terlihat lesi cekung dengan margin yang

tajam dan jelas dikelilingi daerah yang eritema dan oedem. Lesi berbentuk bulat atau oval regular. Hal ini berlawanan dengan lesi traumatik yang berbentuk irregular. 4. Tahap penyembuhan : rasa nyeri menghilang, terlihat gambaran granulasi dan pseodomembran. 5. Tahap remisi : tahap ini waktunya panjang / pendek, regular / irregular tergantung dari faktor etiologi.

Patofisiologi SAR Pada awal lesi terdapat infiltrasi limfosit yang diikuti oleh kerusakan epitel dan infiltrasi neutrofil ke dalam jaringan. Sel mononuclear juga mengelilingi pembuluh darah (perivaskular), tetapi vasculitis tidak terlihat. Namun, secara keseluruhan terlihat tidak spesifik (Cawson dan Odell, 2002). Perjalanan stomatitis aphtous dimulai dari masa prodromal selama 1-2 hari, berupa panas atau nyeri setempat. Kemudian mukosa berubah menjadi makula berwarna merah, yang dalam waktu singkat bagian tengahnya berubah menjadi jaringan nekrotik dengan epitelnya hilang sehingga terjadi lekukan dangkal. Ulkus akan ditutupi oleh eksudat fibrin kekuningan yang dapat bertahan selama 10-14 hari. Bila dasar ulkus berubah warna menjadi merah muda tanpa eksudat fibrin, menandakan lesi sedang memasuki tahap penyembuhan (Pindborg, 1994).

2. Behcets Disease Behcets Disease merupakan kelainan multisistem dimana etiologinya belum pasti, diduga berhubungan dengan imunogenetik. Karakteristiknya berupa triad gejala klinis yaitu lesi rekuren pada rongga mulut, genital dan mata. Didiagnosa apabila memiliki 2-3 kriteria mayor dan 2 kriteria minor. Kriteria mayornya adalah ulser oral yang bersifat rekuren, ulser genital rekuren, lesi pada mata (konjungtivitis, iritis, uveitis, retinal vaskulitis), lesi pada kulit (papula, pustula, eritema nodosum, ulser, lesi nekrotik). Sedangkan kriteria minornya adalah lesi pada gastrointestinal, lesi vaskular, arthritis, keterlibatan SSP, lesi kardiovaskular, riwayat keluarga (Sciubba, 2002, Greenberg dan Glick, 2003; Laskaris, 2006).

3. Herpes Simplex Virus Etiologi dari lesi ini adalah virus herpes simpleks. Lesi ini diawali dengan adanya daerah fokal yang berwarna merah dan edema, dengan disertai banyak vesikel. Vesikel ini kemudian mengalami ruptur dengan cepat dan meninggalkan ulser yang dangkal, kecil, dalam jumlah yang banyak, dilapisi oleh fibrin berwarna kuning, dan masing-masing ulser dibatasi oleh daerah eritem serta sangat sakit. Penggabungan ulser-ulser yang berdampingan akan membentuk ulser dalam ukuran yang lebih besar (Langlais dan Miller, 1998; Sciubba, 2002; Laskaris, 2006).

3.7 Terapi Penatalaksanaan ulser traumatik dengan menghilangkan penyebab dan menggunakan obat kumur antiseptik (contohnya klorheksidin 0,2 %) atau covering agent seperti Orabase selama fase penyembuhan. Semua ulser traumatik harus ditinjau, jika lesi terus menetap lebih dari 10-14 hari setelah faktor penyebab dihilangkan sebaiknya dilakukan biopsi untuk memastikan adanya keganasan rongga mulut atau squamous cell carcinoma (Field dan Longman, 2003). Menurut Houston (2009), perawatan lesi ulserasi bermacam-macam tergantung dari ukuran, durasi dan lokasi. Ulserasi akibat trauma mekanis atau termal dari makanan biasanya sembuh dalam 10-14 hari dengan menghilangkan penyebabnya. Penatalaksanaan terbaik untuk ulserasi yang berhubungan dengan trauma kimiawi yaitu dengan mencegah kontak dengan bahan kimia penyebabnya. Trauma elektris pada mukosa oral biasanya dirawat pada bagian luka bakar dan dipertimbangkan untuk pemberian vaksin jika perlu. Terapi antibiotik (biasanya penisilin) diberikan untuk mencegah adanya infeksi sekunder jika lesi yang terjadi parah dan dalam. Kebanyakan ulser traumatik sembuh tanpa memerlukan terapi antibiotik. Tabel dibawah ini merupakan pilihan terapi untuk ulser traumatik namun terapi yang diberikan tergantung tingkat keparahan dan frekuensi. Yang paling penting dalam terapi ini yaitu untuk menghilangkan ketidaknyamanan, menyembuhkan lesi ulseratif dan mencegah lesi tersebut terjadi lagi (Field dan Longman, 2003). Jenis Antiseptik topikal Terapi Chlorhexidine gluconate 0,2 %

Cara penggunaan: kumur selama 1 menit sebanyak 10 ml Waktu: 2x sehari selama masih terdapat lesi sampai 2 hari setelah lesi sembuh

Povidon iodine 1 % Cara penggunaan: kumur selama 30 detik sebanyak 10 ml Analgesik topikal Waktu: 3-4x sehari Benzydamine hydrochloride Cara penggunaan: kumur selama 1 menit sebanyak 15 ml Waktu: 2-3x sehari, tidak boleh lebih dari 7 hari Triamcinolone acetonide 0,1% Cara penggunaan: dioles tipis pada luka

Kortikosteroid topikal

Antibiotik topikal

Waktu: setelah makan dan sebelum tidur Chlortetracycline Cara penggunaan: larutkan 1 kapsul dalam 10 ml air, kumur selama 3-5 menit Waktu: 4x sehari namun tidak untuk terapi jangka panjang

BAB IV PEMBAHASAN

Tn. WS datang ke Instalasi Penyakit Mulut RSGM FKG UNPAD dengan keluhan ada luka pada gusi bagian kanan atas. Luka timbul setelah bagian tersebut tertusuk makanan yang keras pada saat sedang mengunyah. Menurut Houston (2009), etiologi ulser traumatik adalah tergigit saat tidur, bicara, atau selama mengunyah; gigi fraktur, karies, malposisi, malformasi dan erupsi prematur; gigi tiruan yang tidak terawat dan kasar; trauma iatrogenic; trauma mekanis, kimia, elektris, dan termal. Pada kasus ini, ulser traumatik yang terjadi disebabkan karena trauma mekanis, yaitu tertusuk makanan saat sedang mengunyah. Pasien juga mengeluhkan sariawannya perih jika sedang makan makanan pedas dan panas. Gambaran klinis lesi pada mukosa gingiva kanan berbentuk oval berbatas ireguler berwarna putih berdasar cekung dan dikelilingi daerah eritema dengan diameter 1cm. Sesuai dengan pernyataan Laskaris (2006), gambaran klinis ulser traumatik cenderung memiliki batas ireguler dengan margin eritema dan dasar kekuningan. Ulser traumatik perih dan sakit jika disentuh. Mukosa oral terdiri dari lapisan epitel berlapis gepeng yang tipis dan rapuh,. dan banyak terdapat suplai darah. Seperti epidermis dan lapisan saluran pencernaan, epitel oral mempertahankan integritas structural dengan proses pembaharuan sel terusmenerus dimana sel-sel yang dihasilkan oleh pembelahan mitosis dalam lapisan terdalam bermigrasi ke permukaan untuk menggantikan sel yang membuka. Dengan pembaharuan sel yang berlangsung cepat, penyembuhan luka akan cepat terjadi, namun kemungkinan untuk mutasi sel dan kerusakan sel juga tinggi. Karena suplai darah yang melimpah dan kerapuhan sel epitel, risiko untuk terjadinya infeksi, inflamasi, dan trauma meningkat (Cunningham, 2002). Rentannya epitel mukosa oral untuk terkena trauma seperti pada kasus ini yaitu trauma mekanis karena tergigit saat makan dan gesekan kawat cekat, menimbulkan ulser yang merupakan lesi yang meluas hingga ke stratum basal. Perawatan yang diberikan yaitu pasien diberikan OHI dan diinstruksikan untuk berkumur dengan klorheksidin 0,2 % (Minosep) setiap 2 kali sehari sesudah menyikat gigi. Chlorheksidine berguna sebagai antiseptik untuk mencegah infeksi pada luka.

BAB V SIMPULAN

Traumatic ulcer merupakan lesi rongga mulut yang umum, dan dapat disebabkan oleh pipi atau lidah yang tergigit, iritasi landasan akrilik, karena objek asing misalnya sikat gigi yang terlalu kuat, iritasi karena gigi yang patah, kesalahan penggunaan alat kedokteran gigi, trauma kimia, dan suhu. Pada pasien ini, gambaran lesi pada gingiva anterior atas berupa ulser yang ireguler, sakit dan perih, dengan permukaan halus berwarna putih dikelilingi tepi eritem. Pada pasien ini ditegakkan diagnosis traumatic ulcer. Hal ini disebabkan oleh tertusuknya gusi oleh makanan. Luka trauma pada mukosa mulut dirawat dengan menghilangkan iritan yang menyebabkan, setelah penyembuhan biasanya lancar. Penyembuhan dapat dipercepat dengan membersihkan jaringan dengan menggunakan klorheksidine untuk antiseptik.

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, S. J., F. B. Quinn, and M.W. Ryan. 2002. Ulcerative Lesions of The Oral Cavity. Dept. of Otolaryngology: Grand Rounds Presentation. Houston, G. 2009. Traumatic Ulcers. Available online http://emedicine.medscape.com/ (diakses tanggal 1 November 2011). at

Jordan, R.C.K, and M.A.O Lewis. 2004. a color handbook of oral medicine. London : Manson Publishing.ltd

Langlais, R.P. dan Miller C.S. 1998. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut yang Lazim. Jakarta: Hipokrates. Laskaris, G. 2006. Color Atlas of Oral Disease: second edition. New York : Thieme.

Scully, C dan Felix, D. H. 2005. Aphthous and other common ulcers. British Dental Journal Vol: 190, No.5, hal: 259-264. Thomas, C.A. 2010. Traumatic Ulcer. Available online at http://screening.iarc.fr/ (diakses tanggal 4 november 2011).