Anda di halaman 1dari 78

Tugas Nutrisi Kelautan

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR

KELOMPOK 2
1. Nur Sulviyana
2. Firda Ulfa Lusiana 3. Sudarman 4. Dian Sari Enimosa 5. Ershanty Rahayu 6. Yunita Silvana Lantapi 7. Sri Wuna Sari Nasir 8. Fauzyah Novrini Kasman Arifin 9. Rahmawati Nur Ariyanti 10. Ririt Yuliarti Taha 11. Karmila 12. Inda Permatasari Ridwan 13. Aulia Fahdilah Tasruddin 14. Febrizah 15. Rika Hardiyanti Pagala

F1E1 10 047
F1E1 10 004 F1E1 10 030 F1E1 10 044 F1E1 10 046 F1E1 10 048 F1E1 10 051 F1E1 10 055 F1E1 10 057 F1E1 10 058 F1E1 10 063 F1E1 10 064 F1E1 10 068 F1E1 10 077 F1E1 10 083

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN PENANGKAP IKAN

(Nur Sulviyana F1E1 10 047)

A. Ekonomi, Sosial dan pendidikan

Pembangunan wilayah pesisir pada umumnya dikaitkan dengan upaya pengentasan kemiskinan nelayan yang kehidupannya tergantung pada usaha perikanan. Sektor perikanan pada hakekatnya dapat dikembangkan sebagai alternatif bagi perbaikan ekonomi masyarakat nelayan.

Gambar 1. Peta Desa Bandaran Bebarapa desa yang berada di ruang lingkup Nusantara berpenghasilan sebagai nelayan penangkap ikan yaitu Desa Bandaran. Desa ini berada di wilayah sekitar pesisir Pulau Madura. Desa ini semula bernama kampong cerek. Perubahan nama dari Cerek menjadi Bandaran terjadi ketika desa ini berkembang menjadi bandar ikan. Beberapa definisi tentang masyarakat nelayan yang di definisikan oleh para ahli yaitu: Masyarakat nelayan adalah masyarakat yang lingkungan pemukimannya berada pada wilayah peralihan antara daratan dengan lautan yang disebut pinggir pantai atau tepi laut. Masyarakat pesisir atas nelayan, pembudi daya ikan, dan pedagang hasil laut, serta masyarakat nelayan yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumber daya kelautan. Masyarakat nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang tergantung pada hasil laut, baik dengan cara

melakukan penangkapan atau budidaya yang pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya. Mengacu pada definisi tentang masyarakat nelayan. Definisi ini menggambarkan keadaan Desa Bandaran yang merupakan sebuah potret kehidupan desa nelayan tradisional, yang dalam menggerakkan aktivitas perekonomiannya sangat mengandalkan pada mata pencaharian sebagai nelayan, dan sedikit sekali yang memiliki mata pencaharian tetap. Selain itu, para nelayan dan beberapa pelaku ekonomi setempat (juragan pemilik kapal, bakul ikan) mengelola dan mengembangkan aktivitas perekonomian mereka secara swasembada, yaitu bertumpu pada pemberdayaan potensi daerah dan modal yang terdapat di lingkungan setempat (lokal), yang merupakan ciri khas dari sebuah struktur ekonomi desa. Kondisi ketika musim kemarau panjang, matapencaharian pokok masyarakat yang berada di desa Bandaran pesisir, adalah sebagai nelayan, serta hanya sebagian kecil di antaranya bermatapencaharian selain nelayan. Walaupun masyarakat desa Bandaran pesisir tersebut berada pada daerah yang tidak terlalu subur, dan banyak menggantungkan hidup pada hasil penangkapan ikan di laut, namun secara ekonomis kehidupan mereka tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat terbelakang dan miskin, bahkan, dari hasil penangkapan ikan di laut itu, sebagian besar dari mereka memiliki rumah tembok, fasilitas rumah tangga modern dan canggih, untuk ukuran masyarakat tradisional (traditional peasant societies), dan mobil. Seperti lazimnya pemukiman masyarakat nelayan lain di Pulau Madura, rumah-rumah penduduk setempat cukup padat, berjejal, tidak menganut pola penataan rumah seperti dalam masyarakat petani pedalaman, serta mengesankan sebuah pemukiman kumuh. Pada umumnya rumah-rumah mereka menghadap ke laut. Ketika berjalan di perkampungan sangat sempit dan berkelok-kelok, sehingga apabila berpapasan salah satu harus mengalah, namun, apabila diperhatikan, sulit dibayangkan bahwa daerah itu adalah daerah nelayan, dengan mata-pencaharian satu-satunya adalah menangkap ikan di laut. Kondisi rumah-rumah mereka yang berderet dari Timur ke Barat sepanjang 500 meter sebelah utara dan selatan jalan raya antara Pamekasan dan Sampang, tidak begitu jauh berbeda dengan rumah-rumah pemukiman orang-orang kota. Deretan bangunan rumah pemukiman penduduk di desa Bandaran itu ibarat sebuah kota kecil di tepi pantai (a little state in the coast), lengkap dengan berbagai aksesoris peralatan rumah tangga modern, berselang-

seling dengan rumah-rumah desa khas penduduk kampung nelayan, baik yang terbuat dari bambu maupun kayu, juga berbagai perabot rumah tangga khas masyarakat nelayan. Sungguh merupakan sebuah mozaik desa yang sangat mencengangkan. Sebagai daerah pemukiman cukup padat, upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya, tampaknya dapat dipenuhi sendiri dari berbagai fasilitas warung atau pertokoan yang ada di desanya, kecuali sebagian kebutuhan sandang dan papan yang tidak terdapat di desanya atau terdapat kekurangan, mereka membeli di kota Kabupaten (Pamekasan atau Sampang). Di sisi lain, perhatian dan tingkat partisipasi penduduk terhadap pendidikan anakanaknya sangat kurang. Anak-anak mereka terutama yang perempuan, pada umumnya hanya bersekolah hingga jenjang SD, itupun tidak seluruhnya tamat, terutama karena alasan akan dikawinkan. Kepedulian masyarakat setempat terhadap arti penting pendidikan bagi masa depan kehidupan anak-anak mereka, mulai berubah sejak dasa warsa 90-an. Anak-anak mereka, laki-laki dan atau perempuan, telah mulai ada yang disekolahkan hingga jenjang SMTA.Walaupun dengan tingkat persentase yang tidak terlalu tinggi, dan hanya satu-dua orang saja yang bisa mencapai jenjang Perguruan Tinggi. B. Sistem Penangkapan Ikan di Laut Bagi masyarakat nelayan di Desa Bandaran, sistem jaring (jaring lepas, jaring lingkar, dan jaring gondrong) merupakan sistem penangkapan utama atau umum diterapkan di dalam menangkap ikan di laut, disamping sistem pancing. Sedangkan, sistem penangkapan ikan melalui bagan tidak digunakan mengingat kondisi laut di desa Bandaran ini cukup dalam dan terjal sehingga tidak memungkinkan penggunaan sistem bagan. Ada tiga jenis jaring (phajang) yang biasa digunakan untuk keperluan penangkapan ikan di laut, yaitu: (1) jaring lepas (sethet); (2) jaring gondrong; (3) jaring lingkar (sleret); dan (4) rakat. Di antara keempat jenis sistem penangkapan ikan dengan menggunakan sisem jaring di atas, yang hingga kini tetap bertahan dan masih banyak digunakan oleh nelayan tradisional penangkap ikan di desa Bandaran adalah dengan jenis jaring lingkar (sleret), rakat, dan jaring gondrong; sedangkan jaring lepas (sethet) kini hanya sebagian kecil nelayan yang

menggunakannya (di desa Bandaran kini hanya tinggal 5 buah). Hal ini, mengingat bahwa penggunaan ketiga jenis jaring tadi secara ekonomis lebih menguntungkan. Berbagai jenis perahu yang digunakan para nelayan desa Bandaran untuk menangkap ikan yang ada sekarang, terdiri dari jenis yang paling besar hingga yang terkecil, yaitu: kapal sleret, edher, dan pakesan kecil (thitil).

Gambar 2 C. Organisasi dan Pola Relasi Kerjasama Antar-Nelayan Kehidupan para nelayan Desa Bandaran bukanlah bersifat individual, tetapi

berkelompok. Setiap kelompok nelayan terdiri dari: (1) juragan pemilik kapal/perahu; (2) juragan kepala perahu; (3) pandhiga. Sebagai sebuah (organisasi) kelompok nelayan pola relasi kerja, baik antara juragan perahu, juragan kepala dan phandiga, atau antar anggota nelayan sendiri, bukan terjadi dalam kerangka hubungan kerja antara atasan dan bawahan yang bersifat hubungan pengabdian, tetapi lebih bersifat kolegialisme dan kekeluargaan, sekalipun terdapat klasifikasi di antara mereka sesuai dengan spesifikasi kerja masing-masing. Hubungan di antara mereka pun sangat longgar, terbuka, suka-hati dan didasarkan atas kesertaan secara sukarela, tetapi dalam kasus-kasus tertentu bahkan seorang juragan pemilik perahu harus merekrut anggota nelayannya dengan cara membeli. Hal ini menunjukkan betapa faktor-faktor sosial dan budaya bercampur baur dengan faktor-faktor ekonomi. Organisasi dan hubungan kerjasama di antara jraghan praho/kapal, jraghan kepala dan awak perahu/kapal di atas tidaklah terlalu ketat, tidak semata-mata didasarkan pada hubungan

ekonomi-bisnis, faktor-faktor yang bersifat kekeluargaan juga mewarnai pola relasi kerjasama di antara mereka. Artinya, siapapun orangnya, dia dapat masuk menjadi pengikut atau awak perahu (pandhiga) dari seorang pemilik perahu tertentu dan/atau para pemilik perahu yang lain, secara sukarela, tanpa ada paksaan. Demikian pula, mereka pun dapat keluar dari keanggotaan suatu kelompok nelayan tersebut kapan mereka menghendaki, tanpa harus menunggu habisnya satu mosem petthengan, atau apabila menurut mereka kapal/perahu yang mereka ikuti kurang memberikan hasil yang mencukupi atau memuaskan kebutuhan diri dan keluarganya. Longgarnya ikatan keorganisasian dan hubungan kerjasama kemitraan di antara pemilik kapal, juragan dan awak perahu tersebut tampaknya disebabkan oleh pola rekrutmen anggota yang juga tidak terlalu ketat, tidak terlalu prosedural, atau dengan berbagai persyaratan sebagaimana layaknya sebuah usaha profesional. Khusus untuk seorang juragan kepala, mengingat pentingnya peran dan tanggungjawab dia sebagai pemegang komando dalam suatu operasi penangkapan ikan, maka hanya dipersyaratkan bagi setiap nelayan yang telah memiliki banyak pengalaman di bidang penangkapan ikan di laut serta luasnya hubungan dan komunikasi dengan berbagai kelompok nelayan yang ada di daerah itu atau di luar desa Bandaran. Sistem atau pola rekrutmen keanggotaan nelayan dilakukan secara: (1) sukarela; dan (2) membeli. Cara sukarela, adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan yang terbuka bagi siapa saja, atas dasar kesukarelaan yang bersangkutan untuk menjadi anggota kelompok nelayan. Di lain pihak, sistem membeli (melle) adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan dengan cara membeli atau membayar agar yang bersangkutan mau menjadi anggota kelompok perahunya. Sistem membeli ini dilakukan manakala sebuah kapal/perahu tersebut pada setiap hari atau setiap musim melaut dapat dikatakan sedikit atau sama sekali tidak membawa hasil tangkapan ikan yang banyak (ta olleyan), atau kurang memadai, sehingga, untuk mendapatkan anggota seorang juragan harus membeli orang-orang yang akan dijadikan anggota pandhiga perahunya. Adanya sistem pembelian anggota kelompok nelayan untuk keperluan pengoperasian perahu/kapal seperti ini, menyebabkan adanya hubungan hutang-piutang yang cukup rumit di antara mereka dan seringkali menyebabkan posisi menawar para phandhiga atau jraghan kepala berada pada posisi lemah dibandingkan para pemilik perahu, serta merupakan lahan yang sangat potensial bagi keduanya untuk terlibat dalam hutang yang bertumpuk-tumpuk.

D. Sistem Pembagian Hasil Ikan Dalam kaitan bisnis penangkapan ikan di desa Bandaran, seorang pemilik perahu/kapal tidak menentukan target minimal yang harus dipenuhi atau dicapai oleh para jraghan kepala atau awak kapal/perahunya berkenaan dengan hasil tangkapan ikannya. Kendatipun demikian, banyak atau sedikitnya hasil ikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem pem-bagian hasil ikan di antara jraghan kapal/perahu, jraghan kepala, pandhiga, serta anggota nelayan lain yang termasuk anggota kelompok nelayan tersebut, dan/atau orang-orang lain yang terlibat dalam proses persiapan dan pelaksanaan operasi penangkapan ikan. Berapapun hasil perolehan ikan, sistem pembagian hasilnya tetap tidak berubah. Dalam masyarakat nelayan desa Bandaran, dikenal dua sistem pembagian hasil ikan tangkapan yang didasarkan pada jenis perahu yang digunakan dan jaring (alat penangkapan ikan) yang digunakan, yaitu apakah menggunakan jenis kapal/perahu besar (sleret dan pakesan besar); atau jenis kapal kecil (sampan/edher dan pakesan kecil) juga apakah menggunakan alat berupa jaring atau pancing (khusus untuk jenis kapal kecil). Untuk jenis perahu besar, sistem pembagian ikannya adalah 50% dari seluruh ikan hasil tangkapan adalah bagian pemilik perahu, sedangkan 50% sisanya untuk seluruh awak perahu. Namun, sejalan dengan semakin ketatnya persaingan di antara para juragan pemilik perahu, dewasa ini pemilik perahu hanya mendapat sekitar 1/3 bagian (atau 35%); sedangkan sekitar 2/3 (65%) bagian lainnya dibagi menjadi 20 bagian untuk seluruh awak kapal/perahu. Apabila diperhatikan, dalam sistem pembagian ikan hasil tangkapan di atas, tampaknya juragan pemilik perahu umumnya tetap mendapatkan pembagian hasil ikan rata-rata lebih tinggi dari para awak kapal. Seperti pada sistem pembagian ikan pada jenis kapal sleret di atas, besarnya jumlah penerimaan dari seorang juragan pemilik perahu pakesan kecil dan sampan (edher) tersebut, memang sebanding dengan investasi yang telah dia keluarkan untuk pengadaan perahu, jaring, dan mesin. Selain itu, karena dalam hal terjadi kecelakaan atau kerusakan pada perahu, jaring, dan mesin, maka seluruh biaya perawatan, perbaikan atau bahkan penggantiannya yang baru sepenuhnya menjadi tanggungan dan atas modal dari juragan pemilik perahu tersebut. Hal ini berbeda pada kapal besar jenis sleret dan pakesan besar yang seluruh biaya perawatan,

perbaikan dan/atau penggantian yang baru diambilkan dari uang perbaikan/perawatan yaitu sebesar 5% 10% (sistem pembagian lama), atau sebesar 2.14% (sistem pembagian baru). Sementara itu, untuk jenis perahu kecil terbagi lagi menjadi dua sistem. Apabila menggunakan jaring sethet, maka sistem pembagiannya adalah 4-5 bagian untuk juragan pemilik perahu, sedangkan awak perahu masing-masing mendapatkan 1 bagian (jumlah awak perahu antara 4-6 orang), tokang nampo dan tokang jaghaan mendapatkan masing-masing bagian, tokang koras (harfiah: tukang menguras air di dalam perahu di tengah laut ketika sedang melaut) tidak mendapatkan bagian tersendiri, tetapi memperoleh bagian dari hasil pemberian sekadarnya

Gambar 3 Jenis-jenis kapal (sakadharra) atau atas dasar kerelaan dari para nelayan. Namun, apabila menggunakan jaring gondrong pembagiannya adalah: (1) juragan pemilik perahu antara 10% 40%, tetapi oleh karena dia juga dapat merangkap sebagai tukang nampo, maka selain mendapatkan bagian yang telah ditetapkan di atas, juga masih memperoleh tambahan bagian lagi antara 5% 20%, sehingga secara keseluruhan mendapatkan perolehan sebanyak 15% 60%; (2) awak perahu mendapatkan bagian yang bervariasi, tergantung apakah jaringnya memperoleh hasil banyak, sedikit atau tidak. Namun, secara umum mereka dapat memperoleh total bagian bersih sebanyak 85% dari jumlah udang hasil pancingan mereka; (3) tokang nampo mendapatkan bagian yang diberikan oleh masing-masing anggota nelayan sebanyak 5%. Karena seluruh anggota nelayan berjumlah 1-4 orang, maka total bersih penerimaannya sebanyak 5% 20%.

E. Pola Relasi dan Jaringan Penjualan Ikan Transaksi jual-beli ikan/udang nelayan di desa Bandaran pada umumnya dilakukan di darat seperti dalam masyarakat nelayan di Pulau Madura lainnya, tetapi kadang-kadang juga dilakukan di tengah laut. Aktivitas jual-beli tersebut terjadi antara (1) nelayan, juragan perahu, juragan kepala; (2) bakul ikan (bakol jhuko); (3) tengkulak (tokang kolak jhuko). Dalam aktivitas jual-beli tersebut, hasil ikan bagian masing-masing awak kapal dan juragan kepala, ada yang sebagian langsung dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang datang ke tengah laut dengan menggunakan perahu, ada pula yang dibawa ke darat untuk dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang ada di darat. Dalam banyak kasus di lapangan, hubungan jual-beli ikan antara para nelayan dan juragan kepala di satu pihak dengan para bakul ikan di lain pihak sering bersifat mengikat, daripada atas dasar sukarela. Hal ini terjadi, karena para nelayan dan juragan kepala tersebut secara rutin dan berkesinambungan mendapatkan uang pengikat (pesse panyengset) dari para bakul ikan. Uang tersebut merupakan uang muka (pesse panjher) dari bakul ikan kepada para nelayan dan juragan kepala dari hasil penjualan ikan yang diterimakan kepada bakul ikan. Pemberian uang tersebut tujuannya tidak lain adalah agar para nelayan dan juragan kepala tadi menyerahkan atau menjual ikan kepada si bakul ikan. Menjadi kewajiban atau keharusan bagi para nelayan dan juragan kepala penerima uang tadi untuk menjual atau menyerahkan sebagian atau seluruh ikanikan yang menjadi bagiannyasesuai dengan kesepakat-ankepada bakul yang telah memberinya uang. Kebiasaan memberikan uang perangsang ini, dalam banyak hal telah menjadi kesepakatan di antara kedua belah pihak. Relasi dan praktik jual-beli yang demikian ini telah menjadi pola umum dalam hampir setiap relasi dan jaringan perdagangan ikan yang berlaku di kalangan nelayan tradisional di desa Bandaran. Pola jual-beli ikan dengan sistem uang pengikat (pesse panjher) tersebut memang tidak selalu merugikan pihak nelayan dan juragan kepala, walaupun sebenarnya uang yang dibayarkansaat itu juga atau kemudianoleh para bakul kepada mereka tidak pernah sama, bahkan lebih rendah dari harga jual riil ikan seandainya dijual langsung di pasar lokal. Artinya, para nelayan atau juragan kepala tersebut akan menerima uang hasil pembelian ikan dari bakul senantiasa kurang

dari harga jual ikan di pasaran. Sistem pemberian hasil penjualan di bawah harga tersebut berlaku umum atau sama untuk seluruh bakul. Dalam hal ini, tidak ada permainan harga jual antara bakul yang satu dengan bakul yang lain; sehingga jumlah uang yang diterima oleh para nelayan dan juragan kepala dari para bakul siapapun dia setiap orang adalah setara, tidak ada perbedaan. Bagi bakul ikan sendiri, dengan adanya uang pengikat ini, selain dia dapat menjual harga sesuai dengan keadaan pasar dan jenis ikan yang dijual, dari hasil penjualan ikannya itu dia juga masih mendapatkan keuntungan, yang diperoleh dari selisih antara uang yang diberikan kepada para nelayan dan juragan kepala rekanannya dengan uang yang sebenarnya diperoleh dari hasil penjualan ikan tadi. Kecenderungan para nelayan dan juragan kepala untuk menjual ikan kepada bakul yang telah mengikatnya dengan uang pengikat tadi, adalah lebih disebabkan pada pertimbangan kecepatan dan kemudahan menjual ikan serta memperoleh uang, atau hal-hal praktis lainnya daripada semata-mata pertimbangan bisnis-ekonomi yang berorientasi pada mencari untung sebesarbesarnya, sebab bagi para nelayan dan juragan kepala ada risiko yang akan diterima, apabila mereka menjual langsung ikan-ikan tersebut di pasar jalanan (pasar di pinggir jalan), yaitu ada kemungkinan tidak laku, harga jual rendah/murah dan atau apabila mereka bawa ke pasar di luar daerah mereka sendiri, misalnya ke pasar kota Pamekasan, selain masih harus mengeluarkan uang tambahan untuk transportasi juga belum dapat dipastikan dapat segera laku dengan cepat atau berharga tinggi. Bahkan, apabila ikan yang dijual sendiri tadi tidak laku, maka ikan-ikan tersebut harus dikeringkan (jhuko kerreng), yang tentunya harga jualnya akan lebih murah dibandingkan apabila dijual dalam bentuk ikan basah (jhuko odi), di samping perlu uang ekstra untuk biaya pengeringan, serta tenaga. Hal lain yang menjadi daya tarik dari para nelayan dan juragan kepala melakukan praktik bisnis semacam itu, adalah karena mereka akan mendapatkan fasilitas tambahan dari para bakul ikan, yaitu kemudahan untuk mendapatkan hutang (otang) atau pinjaman uang (nginjham pesse) dari para bakul rekanannya; apakah untuk keperluan modal usaha rumah tangga (meracang, dll) atau pun untuk keperluan keluarga yang lain, yang bagi mereka mungkin tidaklah mudah diperoleh dari orang lain, selain itu bunganya pun tidaklah terlalu tinggi (maksimal 5% perbulan). Para nelayan itu pun secara rutin masih mendapatkan barang-barang lain seperti rokok (ketika dia istirahat, atau tidak melaut), atau ketika menjelang lebaran mereka kembali mendapatkan

sesuatu dari para bakul rekanan bisnisnya seperti: pakaian, kopiah, sarung, sandal atau barangbarang kebutuhan lebaran lain untuk keluarga mereka. Praktik jual-beli di atas, senantiasa dipelihara dan semakin diperkuat; dan dalam hal-hal demikian itu telah menimbulkan hubungan jual-beli yang bersifat patron-client (hubungan pelindung-klien) di antara mereka, walaupun hal tersebut tidak dapat dikatakan bahwa pola relasi tersebut hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain, walaupun bukan merupakan gejala umum seperti halnya hubungan jual-beli antara nelayan dan bakul seperti di atas, pola jual-beli ikan dengan sistem uang pengikat juga terjadi antara para tengkulak ikan yang memberikan uang perangsang dengan para bakul ikan, tetapi pada umumnya di antara mereka terdapat hubungan jual-beli yang relatif bebas sehingga setiap tengkulak dapat menguhungi setiap bakul untuk mendapatkan berbagai jenis ikan yang dibutuhkan atau diminati oleh para pembeli di pasar asal mereka sementara para bakul ikan itu dapat pula secara bebas menjual ikan-ikannya kepada setiap tengkulak sesuai dengan harga pasaran atau harga yang lebih tinggi dari harga penawaran tengkulak yang lain. Selain sebab-sebab di atas, terjadinya praktik jual-beli ikan dengan sistem uang pengikat juga disebabkan oleh kurang berfungsinya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada, padahal pembangunan TPI tersebut pada awalnya merupakan inisiatif pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan untuk memudahkan dan memberikan keuntungan ekonomis yang lebih besar bagi para nelayan, juragan kepala, dan juragan perahu, akan tetapi keberadaan TPI ini hanya efektif pada awal-awal pendiriannya saja, dan sejak beberapa tahun yang lalu semakin tidak diminati oleh para nelayan atau juragan. Sejumlah alasan yang dikemukakan adalah, karena pasar tidak selalu memberikan respon positif terhadap hasil harga lelang yang disepakti di TPI, dikarenakan jaringan pemasaran ikan dari desa Bandaran ini hanya untuk konsumsi pasar-pasar lokal yang berada di kota Pamekasan dan Sampang. Juga karena seringkali para pembeli yang telah memberikan harga tertinggi di TPI tersebut banyak yang tidak segera melunasi uangnya, malah tidak jarang terjadi penagihan yang tidak kunjung terselesaikan sehingga para pemilik ikan pun merasa dirugikan.

F. Kepemimpinan Ekonomi dan Pengembangan Struktur Ekonomi Lokal Berbeda dengan relasi jaringan perdagangan komoditas lokal di daerah lain di Pulau Madura seperti tembakau (bhako), garam (buja), atau ikan teri (jhuko kenduy) dan nener (bibit ikan bandeng) yang pada umumnya melibatkan para pelaku ekonomi berskala besar dan lintas-lokal, pengembangan ekonomi lokal desa Bandaran, sebagaimana umumnya struktur ekonomi desa, dibangun dan didukung oleh pola-pola kepemimpinan ekonomi yang juga bersifat lokal, serta pemupukan modal yang sebenarnya bukan sebagai bentuk investasi dalam pengertian teori ekonomi. Kepemilikan modal dalam perdagangan ikan di desa Bandaran ini tidak terlalu besar, bahkan tidak sedikit dari para bakul yang berperan sebagai pedagang pemasok dan perantara dalam aktivitas penjualan ikan hasil tangkapan nelayan kepada para tengkulak ikan hanya atas dasar prinsip kepercayaan (saleng parcaja), yaitu pada kemampuan atau keahlian mereka untuk meyakinkan para pemilik ikan agar menyerahkan atau menjual ikan kepada dirinya. Selain itu, dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran ini juga terdapat sejumlah pedagang besar dari luar Bandaran yang disebut tauke yaitu pelanggan tetap bermodal besar, memiliki gudang atau pabrik pengolahan ikan, serta memiliki jaringan perdagangan di tingkat regional atau ekpor, akan tetapi sekarang ini mereka sudah tidak diperkenankan lagi untuk memborong ikan-ikan hasil tangkapan nelayan setempat. Hal ini, dimaksudkan selain agar tidak terjadi spekulasi harga jual-beli ikan yang dianggap dapat merugikan nelayan, juga agar keuntungan tetap berada di pihak masyarakat desa Bandaran sendiri. Untuk mencapai maksud itu, maka ikan-ikan tersebut diborong (ebhurung) oleh Kepala Desa, dan dari tangan Kepala Desa inilah para pedagang lokal (bakul) serta para tengkulak ikan yang berasal dari luar desa Bandaran membeli ikan sesuai dengan harga yang berlaku di pasar lokal. Dengan demikian, para pelaku ekonomi utama dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran tetap berada di tangan masyarakat setempat, yaitu juragan pemilik perahu, para bakul, dan tengkulak. Juragan pemilik perahu/kapal merupakan pelaku terpenting dalam aktivitas perekonomian desa dalam masyarakat nelayan Bandaran. Keberadaan kepemilikan kapal/perahu serta modal yang dimiliki merupakan penggerak utama dalam aktivitas penangkapan ikan dan perdagangan. Dengan jumlah armada kapal perahu yang dimiliki (antara 1-5 buah), seorang juragan pemilik

perahu mampu mempekerjakan nelayan antara 23 30 orang untuk satu kapal sleret, antara 14 18 orang untuk perahu jenis pakesan besar, dan antara 4-6 orang untuk perahu kecil jenis pakesan kecil dan sampan (edher). Secara fungsional, para juragan pemilik kapal/perahu ini telah mampu mengoptimalkan keberadaan sumber daya manusia setempat, dengan merekrut penduduk setempat antara 4-36 orang untuk tiga unit kapal/perahu sebagai tenaga-tenaga kerja efektif. Selain itu, dia juga telah melibatkan para penduduk setempat dalam suatu aliansi ekonomis di tingkat lokal untuk mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam di laut lokal dan regional, sehingga secara ekonomis mereka mempunyai kesempatan memperoleh keuntungan-keuntungan ekonomis dari hasil pembagian ikan yang menjadi haknya bagi pemenuhan kebutuhan hidup keseharian, perumahan, dan alat-alat pemuas kebutuhan modern lainnya. Sekalipun posisi seorang juragan perahu bermakna penting bagi kehidupan seorang nelayan di desa Bandaran ini, namun dia tidak memiliki dan tidak berkehendak untuk melakukan penguasaan yang bersifat monopoli terhadap para juragan kepala atau anggota nelayan. Bakul ikan yang menjadi pemulung bertindak sebagai pelaku ekonomi kedua dalam aktivitas jual-beli ikan di tingkat lokal. Bahkan, adanya kecenderungan masyarakat nelayan setempat untuk menyerahkan atau menjual sebagian terbesar ikan kepada mereka, menyebabkan para bakul ikan menjadi mata rantai terpenting dalam seluruh aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran. Dalam konteks yang sifatnya lebih terbatas, kuatnya relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan, yang dalam banyak hal menyerupai patron-client relationship, telah menjadikan keberadaan dan peran para bakul ikan ini sebagai stand guard over the crucial junctures or synapsis of relationships which connect the local system to the larger whole (Wolf, dalam de Jong, 1989). Adanya hubungan patron-klien dalam relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan ini, memang memungkinkan tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam penjualan ikan, walaupun ada risiko terhadap kemungkinan terjadinya perolehan pendapatan yang relatif lebih rendah dari pendapatan yang mungkin bisa diperoleh apabila mereka memperdagangkannya langsung di pasar jalanan setempat atau ke pasar-pasar lokal di luar daerah, sebab dengan adanya bakul ikan sebagai patron, para nelayan/juragan kepala dan nelayan dapat menjual ikannya serta memperoleh uang dengan cepat tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan lagi, kendati dengan

cara itu mereka akan memperoleh harga yang terkadang di bawah harga pasar, karena sifatnya yang sangat fluktuatif. Tengkulak ikan adalah pelaku ekonomi ketiga dalam aktivitas ekonomi dalam masyarakat di desa Bandaran. Sungguhpun para tengkulak ikan ini hampir dapat dikatakan tidak memiliki relasi dagang secara langsung dengan juragan kepala dan nelayan setempat, namun keberadaan dan perannya sebagai pembeli dan sekaligus sebagai pemasar ikan setempat ke berbagai pasar lokal di luar daerah Bandaran, telah memungkinkan ikan-ikan hasil para nelayan setempat dikenal spesifikasinya di seluruh daerah Pamekasan dan Sampang. Nama jhuko laok (ikan dari selatan) yang diberikan oleh para pembeli luar terhadap ikan hasil tangkapan nelayan desa Bandaran yang mereka temukan di sejumlah pasar lokal di luar Bandaran, tidak terlepas dari peran dan arti penting seorang tengkulak dalam matarantai perdagangan ikan dari daerah ini. Selain itu, banyaknya peminat ikan desa Bandaran telah mampu meminimalisasi adanya surplus ikan di pasaran setempat, sehingga sirkulasi ikan setempat menjadi lebih lancar. Hal ini, mengakibatkan pendapatan para bakul ikan, termasuk pula para juragan kepala dan nelayan, secara ekonomis menjadi lebih pasti dan berpengharapan. Dari uraian di atas, terlihat bahwa pola kepemimpinan ekonomi di daerah Bandaran tersebut, walaupun pada sebagiannya ada yang bersifat patron-client relationship, namun secara umum lebih bersifat collegialisme atau kemitraan kerja yang sejajar. Pemberian keamanan, kemudahan, kelancaran dalam melakukan aktivitas ekonomi dalam pola-pola hubungan jual-beli di atara nelayan, juragan, dan bakul ikan merupakan dasar pokok dari setiap kepemimpinan ekonomi yang dijalankan. Pola demikian tampaknya erat berkaitan dengan faktor-faktor penggerak ekonomi dan uang yang pada umumnya tidak berada di tangan ketiga pelaku ekonomi di atas, di samping disebabkan oleh kemampuan masyarakat nelayan setempat di dalam mendapatkan dan memanfaatkan sumber-sumber keuangan yang jumlahnya tidaklah terlalu besar. Munculnya pelaku-pelaku ekonomi lokal (juragan, bakul dan tengkulak ikan) dalam relasi perdagangan ikan, tidak saja memiliki arti penting bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi para nelayan yang menjadi kliennya, tetapi di lain pihak juga telah menciptakan hubungan patronklien yang cenderung melahirkan ketergantungan ekonomis bagi umumnya para nelayan.

Kecenderungan ini pada dasarnya bukanlah karena alasan-alasan ekonomis semata (untuk mendapatkan hutang atau kredit), tetapi lebih disebabkan karena para nelayan ingin segera menikmati hasil kerjanya, dan tidak mau direpotkan dengan hal-hal yang jlimet yang berakar pada sikap dan pemikiran sosial-budaya masyarakat nelayan tradisional desa Bandaran. G. Lembaga-lembaga Kuasi Investasi Tradisional: Arisan, Hutang, dan Titip Uang Dalam seluruh aktivitas yang berkaitan dengan investasi uang, arisan dan titip uang merupakan gejala umum yang dipraktikkan hampir oleh setiap penduduk nelayan di desa Bandaran, di samping hutang atau kredit. Di desa Bandaran terdapat tidak kurang dari 20-an kelompok arisan dengan jumlah perolehan arisan bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta. Keanggotaan para nelayan dalam kelompok arisan bisa lebih dari satu. Hasil uang yang diperoleh dari hasil arisan ini mereka sertakan lagi dalam kelompok-kelompok arisan yang lain, sehingga yang bersangkutan bisa memperoleh modal untuk membuka usaha perdagangan kecil-kecilan (pedagang kelontong), membuat rumah, menyelenggarakan lamaran dan pesta perkawinan, naik haji, dan atau dibelikan perahu/jaring kecil untuk melanggengkan matapencaharian mereka sebagai nelayan. Hal ini, juga berlaku di kalangan para juragan pemilik kapal/perahu dengan jumlah omset arisan yang lebih besar (Rp.10 juta Rp.50 juta). Oleh karena itu, sejumlah juragan kapal/perahu tidak hanya memiliki lebih dari satu armada kapal/perahu besar yang berharga ratusan juta rupiah, tetapi mereka juga mampu mengembangkan bisnis lain seperti membuka toko, tetapi kebanyakan

menginvestasikannya dengan membeli mobil-mobil penumpang (colt diesel) untuk usaha tranportasi jurusan Pamekasan-Kamal. Hutang (aotang) sebagai salah satu karakteristik perekonomian desa tradisional, dalam banyak hal hampir selalu tidak menguntungkan secara ekonomis bagi si penghutang atau peminjam (kreditur). Hal ini, tampaknya kurang disadari oleh masyarakat nelayan tradisional di desa Bandaran, sehingga sampai kini pun masyarakat setempat masih banyak terlibat dalam praktik hutang dan kredit, selain menggabungkan diri ke dalam kelompok-kelompok arisan yang menjamur di desa Bandaran, sebagaimana telah dibicarakan di atas. Hutang atau kredit (ngredit) yang dilakukan oleh masyarakat nelayan setempat, umumnya tidak dalam kerangka hubungan

kerja antara nelayan dan juragan. Hutang atau permintaan kredit biasanya dilakukan oleh para nelayan kepada orang-orang kaya (oreng sogi) tetangga-tetangga mereka sendiri yang sama sekali tidak memiliki hubungan kerja dengan dirinya, akan tetapi, pada umumnya mereka lebih sering meminjam uang kepada kepala-kepala arisan yang banyak memegang uang-uang titipan para anggotanya, dengan imbalan berupa bunga yang besarnya sekitar 5% perbulan, tergantung pada besarnya jumlah hutang/kredit. Dalam kasus hubungan hutang-piutang atau kredit antara nelayan dan bakul ikan, seorang nelayan hampir tidak pernah melakukan pembayaran dalam bentuk penyerahan ikan kepada bakul dengan harga yang ditentukan secara sepihak oleh bakul. Hutang uang tetap dibayar dengan uang, yang diberikan dari hasil penjualan ikan mereka. Kalaupun para nelayan tadi seakan terikat oleh akad jual-beli ikan dengan bakul, hal tersebut karena bakul telah memberikan uang perangsang dan barang-barang perangsang lain, tanpa mempengaruhi penetapan harga ikan yang dijualkan atau diserahkan kepada bakul. Dalam hal ini, tidak terjadi praktik ijon dari para bakul terhadap nelayan yang menjadi kliennya, di mana harga jual ikan dari nelayan tersebut ditetapkan sebelumnya dan di bawah harga pasar. Harga jual ikan dari bakul tetap mengikuti harga pasar, kalaupun nelayan tadi menerima uang penjualan ikannya di bawah harga jual yang secara riil diterima oleh bakul, hal tersebut lebih merupakan sebagai komisi atau uang jasa yang mereka anggap wajar atas kerjanya menjualkan ikan nelayan tersebut. Itupun, jumlahnya hanya berkisar antara Rp.5.000,00 hingga Rp.10.000,00. Dengan perkataan lain, permintaan hutang atau kredit dari seorang nelayan kepada para bakul patronnya, lebih dimaksudkan sebagai upaya dari kedua belah pihak untuk memelihara hubungan perdagangan, sehingga keduanya sama-sama mendapatkan manfaat. Keterlibatan masyarakat nelayan setempat dalam praktik hutang-piutang atau kredit, tampaknya banyak disebabkan oleh sikap hidup mereka yang kurang menjangkau masa depan. Bagi mereka, apa yang diperoleh sekarang, habiskan sekarang juga, besok cari lagi (ollena lako/ora pabali ka lako/ora, lagguna nyare pole). Sikap hidup ini, juga berlaku bagi penduduk Desa Bandaran di kampung Montor dan Nagger yang bermatapencaharian sebagai petani. Berhemat, menabung atau melakukan investasi uang dan barang untuk pengembangan usaha lain maupun untuk kebutuhan masa depan, hampir-hampir tidak dimiliki oleh sebagian terbesar masyarakat, kecuali para pemilik modal dan pedagang besar. Namun demikian, sikap hidup mereka tidak

dapat dikatakan sebagai sikap hidup boros, yang lebih berkonotasi pada sikap menghamburhamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu, tetapi lebih dikarenakan mereka ingin menyepadankan antara kerja dan hasil kerja untuk memperoleh kepuasan diri baik secara fisik, psikologis dan sosial setelah mereka berjerih-payah seharian atau sehari-semalam menangkap ikan. Sementara itu mereka pun tidak perlu investasi untuk ikan di laut, sebagaimana layaknya mereka yang hidup dari pertanian. Hutang atau kredit yang mereka peroleh pada umumnya tidak diinvestasikan untuk menambah modal usaha tetapi untuk kebutuhan habis pakai, seperti membangun rumah, lamaran dan pesta perkawinan, membeli peralatan rumah tangga, atau barang-barang berharga seperti perhiasan emas (kalung, gelang, cincin) terutama ketika akan menjelang lebaran untuk memenuhi kebutuhan sosial dan budaya mereka. Dengan adanya lembaga-lembaga keuangan informal dan sistem kuasi investasi semacam itu, praktis keberadaan Bank, Koperasi Desa, dan semacamnya tidak banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Hal ini dikarenakan kesederhanan pemikiran ekonomi mereka dan ketidakinginan mereka berhubungan dengan hal-hal yang bersifat prosedural. Di lain pihak, lembaga-lembaga keuangan informal dan sistem kuasi investasi tersebut telah

memungkinkan struktur ekonomi di desa mereka dapat dibangun dan dikembangkan atas dasar kemampuan ekonomi lokal atau secara berswasembada.

Referensi Abdurrachman. (1997). Sekelumit cara mengenal masyarakat Madura: Madura I. Proyek Penelitian Madura. Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). Khusyairi, A. (2001). Agama, orientasi politik, dan kepemimpinan lokal di antara orang-orang Madura di Lumajang. Huub de Jonge (ed.). Agama, kebudayaan dan ekonomi. Jakarta: Grafitti Press. Boeke, J.H., (2004). Prakapitalisme di asia. Jakarta: Sinar Harapan. Bouvier, H. (2009). Musik dan seni pertunjukan di kabupaten sumenep. Huub de Jonge (ed.). Agama, kebudayaan dan ekonomi. Jakarta: Grafitti Press. Burger, D.H. (2008). Sejarah sosiologis-ekonomis Indonesia. Jakarta: Prajnyaparamita. Castles, L. (2007). Tingkah laku agama, politik, dan ekonomi di jawa. Industri Rokok Kudus. Jakarta: Sinar Harapan. de Jonge, H. (2009). Some thought on enterpreneur in a maduranese country: Madura I. Proyek Penelitian Madura. Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). _______2009). Madura dalam empat zaman: Pedagang, perkembangan ekonomi, dan islam (suatu studi antropologi ekonomi). Jakarta: Penerbit PT. Gramedia. _______ (2009). Perkembangan ekonomi dan islamisasi di madura: de Jonge, Huub (eds). Agama, kebudayaan dan ekonomi. Jakarta: Grafitti Press. _______ (2009). Hubungan Ketergantungan dalam Perikanan di Madura: de Jonge, Huub (eds): Agama, kebudayaan dan ekonomi. Jakarta: Grafitti Press. Dewey, A. G. (2010). Peasant marketing in Java. Glencoe, III. Djojomartono, M. (2008). Adat-istiadat sekitar kelahiran pada masyarakat nelayan di Madura. Koentjaraningrat (eds). Ritus peralihan di Indonesia. Jakarta: PN. Balai Pustaka.

Geertz, C. (2007). Religious belief and economic behavior in a central javanese town. Some preliminary considerations. Economic development and cultural change. _______ (2008). Peddlers and Princes. Chicago. Koentjaraningrat. (2007). Rintangan-rintangan mental dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia. _______. (eds) (). Masyarakat Desa Indonesia. Jakarta: Yayasan BPFE-UI.

MASYARAKAT PESISIR DENGAN MATA PENCAHARIAN SEBAGAI PENJUAL IKAN (Firda Ulfa Lusiana F1E1 10 004)

Secara geografis, Indonesia terdiri dari beribu pulau yang sebagian besar wiliyahnya (62%) merupakan perairan laut, selat dan teluk; sedangkan 38 % lainnya adalah daratan yang didalamnya juga memuat kandungan air tawar dalam bentuk sungai, danau, rawa, dan waduk.
2

Demikian luasnya wiliyah laut di Indonesia sehingga mendorong masyarakat yang hidup di sekitar wilayah laut memanfaatkan sumber kelautan sebagai tumpuan hidupnya. Ketergantungan masyarakat terhadap sektor kelautan ini memberikan identitas tersendiri sebagai masyarakat pesisir dengan pola hidup yang dikenal sebagai kebudayaan pesisir (Geertz, H., 1981: 42). Sebagai satu negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, Indonesia memiliki kawasan pesisir yang sangat luas. Selain menempati wilayah yang sangat luas, kawasan pesisir yang terdiri dari berbagai ekosistem pendukung seperti ekosistem hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan lahan basah tersebut memiliki keanekaragaman hayati dan berbagai sumberdaya alam seperti ikan, dan bahan-bahan tambang yang bernilai tinggi. Potensi yang demikian besar tentunya memberikan peluang yang besar pula terhadap terciptanya berbagai bentuk pemanfaatan seperti usaha pertambakan, pertanian, perindustrian, pemukiman, pariwisata, pertambangan dan penangkapan ikan.1 Dari data statistik terlihat jumlah produksi perikanan di Indonesia saat ini sekitar 4,8 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut sekitar 78% atau lebih kurang 3,7 juta ton adalah hasil produksi dari sektor perikanan laut.3 Pemasaran adalah kegiatan mengatur barang dari produsen ke konsumen. Dalam kegiatan mikro pemasaran, tercakup didalamnya beberapa pelaku kegiatan pemasaran, seperti perusahaan pengolahan, pemasok, perantara, pelanggan, pesaingan, masyarakat atau konsumen. Dalam hal ini nelayan bisa berfungsi sebagai pengusaha, pemasok, pesaing atau perantara bila merangkap menjadi pembina.5

Rantai pemasaran produk perikanan tangkap melibatkan pedagang pengumpul, pedagang perantara, pengecer dari dalam desa, dalam kecamatan maupun dari kabupaten sebelum sampai ke konsumen akhir. Yang memengaruhi system pemasaran hasil tangkapan nelayan, yaitu jenis kapal dan alat penangkapnya, jenis ikan yang diperoleh, bentuk ikan (segar/olahan), daerah pemasaran (local/ekspor), dan organisasi atau individu yang melakukan distribusi.5 Di dalam masyarakat pesisir pada dasarnya terdapat dua kelompok usaha perikanan, yaitu kelompok nelayan tangkap dan kelompok pemasaran ikan. Dengan berlalunya waktu kelompok kedua mengalami perubahan ekonomi menjadi juragan ikan yang menguasai ekonomi masyarakat pesisir. Juragan Ikan di samping sebagai pedagang ikan, juga melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan kapal-kapal bermotor yang merekrut anggota masyarakat pesisir menjadi pekerja di kapal mereka yang sering disebut dengan istilah sawi. Sawi bekerja pada kapal-kapal juragan ikan menangkap ikan di perairan teritorial dengan keuntungan bagi hasil yang besarannya ditentukan oleh juragan ikan. 6 Bagi Nelayan tangkap yang tidak tergolong sebagai sawi atau menjalankan sendiri penangkapan ikan di perairan kabupaten (sejauh 4 mil dari pantai) kebutuhan pokok, keuangan dan peralatan melaut serta bahan bakar mereka disediakan oleh juragan ikan dengan harga yang cukup tinggi, tetapi ikan tangkapan mereka harus dijual kepada juragan ikan untuk melunasi hutang-hutangnya. Proses penjualan ikan dijalankan menurut kebiasaan yang ada yaitu melalui lembaga atau orang-orang yang biasa manampung langsung (bandar ikan) hasil tangkapan nelayan. Orangorang yang menampung hasil tangkapan ini biasanya masing-masing telah mempunyai langganan nelayan tetap dengan harga yang sama, tidak saling bersaing sesama mereka. Selain itu, Produk perikanan tangkapan umumnya dijual langsung ke pedagang perantara dan menjual produk tersebut ke beberapa pasar. Jaringan pasar terbentuk berdasarkan ikatan saling kepercayaan antara nelayan dengan pedagang.4 Harga ikan dihitung oleh Dinas Perikanan di masing-masing pelabuhan perikanan..3 Sebagian besar dari produksi ikan dipasarkan sebagai ikan segar. Hanya sebagian kecil diolah menjadi "fillet" beku, ikan asin, ikan kering, ikan kaleng, ikan asap, ataupun tepung ikan. 3  Kondisi Wilayah Pemasaran

Umumnya masyarakat perikanan (MPM) menjual produk pada tahap pertama kepada pedagang pengumpul dan perantara di lokasi MPM. Para pedagang akan menjual ke pasar kecamatan dan pasar kabupaten. Pemilihan lokasi penjualan merupakan satu syarat yang penting dalam memuali usaha, seperti halnya menjual ikan lokasi yang dipilih mesti strategis dan membuka peluang keuntungan. Usaha yang dilakukan para penjual ikan dalam memperoleh tempat menjual memang tidak mudah, selain bersaing dengan para penjual ikan lainnya, harga yang ditawarkan para pemilik tempat ataupun pemerintah terlalu mahal, sehinggga para penjual ikan kebanyakan menjadi papalele (penjual ikan keliling)  Kondisi Harga Produk Kondisi harga di level produsen sangat tergantung pada musim ikan, jumlah perdagang yang terlibat serta jarak dan jenis pasar target.  Kondisi Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran produk perikanan tangkap relatif sederhana. Harga dipengaruhi oleh volume produksi tangkap, jumlah pedagang, jenis alat angkut serta jarak yang dilalui. Belum ada upaya promosi dan klasifikasi produk perikanan. Rata-rata pedagang berpatokan pada tingkat keuntungan yang memenuhi kebutuhan primer.  Sumber Barang (Ikan Yang dijual) Penjual ikan tidak lepas dari produsen penghasil ikan dalam hal ini nelayan, pada umumnya nelayan langsung memindah tangankan hasil tangkapannya (menjual ikan) kepada beberapa pihak yang ada seperti penada, papalele kemudian sampai kepada penjual ikan, oleh karena itu penjual ikan memperoleh barang/ikannya dari nelayan penangkap ikan. Menurut hasil penelitian (Muflikhati, 2010) memperlihatkan bahwa sebanyak 32,14% dari 16,42 juta jiwa masyarakat pesisir masih hidup dibawah garis kemiskinan dengan indikator pendapatan US$ 1 per hari (Data Direktorat PMP 2006). Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir Indonesia masih termasuk masyarakat yang miskin.

Penghasilan yang diperoleh dari penjual ikan yaitu : Dari hasil survey yang telah dilakukan terhadap bakul / penjual ikan di wilayah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di peroleh hasil bahwa umumnya mereka bekerja sebagai bakul/pemasar >15 tahun, rata-rata pendidikan mereka adalah SD, SLTP dan SLTA, usia mereka rata-rata 28-70 tahun, pendapatan mereka rata-rata per bulan berkisar antara Rp. 500.000 Rp. 1.000.000. Ikan yang mereka jual adalah ikan lemuru, dengan harga beli/kg antara Rp. 2.000 Rp. 7.500, dan harga jual/kg antara Rp. 3.000 Rp. 10.000, mereka memasarkan ikan umumnya ke plosok desa dengan menggunakan motor dan ada sebagian yang menggunakan sepeda.7

Namun di Solo akibat tingginya gelombang membuat pasokan ikan turun 50% Selain pasokan terbatas, harga ikan laut juga melejit dengan kenaikan mencapai 50%. Kenaikan harga ikan laut juga terpantau di Pasar Gede. Harga cumi-cumi melonjak dari sebelumnya Rp 30.000/kg menjadi Rp 45.000/kg. Sedangkan harga kepiting naik lebih tajam, dari Rp 40.000/kg menjadi Rp 65.000/kg. Salah satu pedagang pasar, Rian mengatakan akibat harga tinggi pembeli mengurangi pembelian ikan laut. Penghasilan para pedagang ikan pun menyusut.

DAFTAR PUSTAKA

1. M. Khazali dan Laksmi A Savitri. 1999. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Bogor : Wetlands International - Indonesia Programmed dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. From http://www-

personal.umich.edu/~thoumi/Research/Carbon/Forests/Forests,%20Wetlands%20Internat ional/Buku%20Pemberdayaan%20Masy%20Pesisir-Indramayu.pdf 2. Drs. Syarif Moeis. 2008. Adaptasi Ekologi Masyarakat Pesisir Selatan Jawa Barat Suatu Analisa Kebudayaan. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia. 3. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK), Penangkapan Ikan Laut. Direktorat Kredit, BPR dan UMKM BANK INDONESIA. Telepon : (021) 3818043 Fax : (021) 3518951, Email : tbtlkm@bi.go.id. From : http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/CD1C61DF-1893-4000-BFA0-

CF81D20525D3/16052/PenangkapanIkanLaut1.pdf 4. http://ompuaan.blogspot.com/2009/05/perbaikan-pemasaran-masyarakat-pesisir.html 5. Endang Tjitroresmi. Pemasaran Ikan dan Ekonomi Nelayan. Halaman 61 Bab IV. From http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog/downloadDatabyId/2167/2168. pdf 6. Tadjudin. 2010. Konsep Dasar Pengolaan Dana PEMP. From : http://tadjuddin.blogspot.com/2010/07/konsep-dasar-pengelolaan-dana-pemp.html 7. Agus Suherman dan Adhyaksa Dault. Jurnal Saintek Perikanan Vol. 4, No. 2, 2009 : 24 32. Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambenan Jembrana Bali. Social Economic Impacts of Pengambengan Nusantara Fishing Port (NFP) Construction and Development. Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro Semarang

Peternakan Di Wilayah Pesisir


(Sudarman F1E1 10 030)

Masyarakat pesisir merupakan masyarakat multicultural yang mendiami wilayah pinggiran pantai yang tersebar di seluruh Indonesia. Berdasarkan beberapa definisi dari bberbagai ahli masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang mendiami wilayah pinggiran pantai hingga 2 km dari bibir pantai. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang tersusun atas ribuan pulau. Bahkan bisa dikatan sebagai Negara kepualauan terbesar di Indonesia. Itulah mengapa pemerintah menetapkan masyarakat pesisir sebagai patokan pengembangan kesejahteraan negara. Masyarakat pesisir memiliki berbagai macam interaksi perokonomian. Walaupun pada dasarnya melaut merupakan cirri yang khas dari perkembangan masyarakat pesisir. Beberapa dekade yang lalu, masyarakat pesisir merupakan kelompok masyarakat yang dikatakan terbelakang. Karena tidak terlalu memperhatikan pendidikan. Itulah mengapa masyarakat peisisr erat kaitannya dengan kebodohan. Bagai mereka pendidikan hanya membuang buang waktu. Mereka lebih memilih untuk focus menangkap ikan di lautan, ketimbang harus mengenyam pendidikan di sekolah sekolah. Masyarakat pesisir juga merupakan masyarakat yang memiliki nilai nilai kultur yang tinggi. Mereka menjunjung tinggi penghormatan terhadap leluhur leluhur mereka. Anggapan mereka adalah leluhur merekalah yang membantu mengumpulkan ikan saat mereka melaut. Itulah mengapa mereka lebih mengedepankan aspek aspek kultur ketimbang logika dan rasionalisme. Salah satu bukti bentuk kultur yang ditinggikan di masyarakat pesisir adalah, mereka mengedepankan budaya buka tutup perairan. Pada saat itu masyarakat pesisir tidak akan turun melaut untuk menghormati budaya mereka. Hal ini menyebabkan rekonstruksi ulang susunan ekosistem perairan di lautan. Pada saat masa menutup aktivitas peraiaran. Masyarakat pesisir tidak akan turun melaut. Hal ini menyebabkan mereka kehilangan mata pencaharian utama mereka. Untuk tetap bertahan hidup maka mereka berusaha untuk mencari mata pencaharian alternative. Beberapa contoh mata pencaharian alternative tersebut adalah menambang batu karang,, bertani garam, bertani rumput laut, berkebun, dan berternak.

Berternak merupakan salah bentuk modifikasi mata pencaharian masyarakat pesisir. Mata pencaharian yang awalnya dianggap tidak menguntungkan justru kini malah berkembang pesat. Bagi beberapa peternak yang berhasil mereka menganggap bahwa beternak lebih

menguntungkan ketimbang mata pencaharian lain. Dengan beternak selain mereka dpata menghasilkan pendapatn yang lumayan. Mereka juga mampu mengkonsumsi hewan ternak yang mereka pelihara. Sebagai contoh bapak zamroni yang mulanya adalah nelayan, kini lebih focus beternak di wilayah pesisir. Sebagai bukti beliau telah panen ayam dengan pendapatan yang luar biasa ketimbang harus melaut. Tapi menurut beliau nelayan tetaplah mata pencaharian utama mereka, meskipun melaut lebih beresiko, tapi melaut adalah jiwa yang telah mengalir dalam darah mereka. Bagi masyarakat pesisir semua sumber daya alam yang ada dilautan merupakan harta kekayaan yang harus mereka lestarikan. Hari ini masyarakat pesisir telah berkembang maju seiring perkembangan zaman. Mereka telah mengembangkan system perekonomian yang lenih maju, system pendidikan yang mulai mereka terima. Kini masyarakat pesisir telah berkembang menjadi masyarakat dengan peradaban yang lebih baik dari sebelumnya. Daftar Pustaka Haris, solihin. 2002. Masyarakat Pesisir. Dikutip dari haris.blogspot.com. Materi kuliah nutrisi kelautan

PENGOLAH HASIL PERIKANAN SKALA KECIL (Dian Sari Enimosa F1E1 10 044)

Penanganan produk segar dan pengolahan tradisional (pengeringan/ penggaraman, pemindangan, terasi, peda, kecap ikan, dan pengasapan) umumnya dilakukan pedagang dan pengolah dalam skala kecil/ menengah atau skala rumah tangga. Karakteristik dari pengolahan tradisional adalah kemampuan pengetahuan pengolah rendah dengan ketrampilan yang diperoleh secara turun temurun, tingkat sanitasi dan higienis rendah, sesuai dengan keadaan lingkungan disekitarnya yang umumnya tidak memiliki sarana air bersih, permodalannya sangat lemah, peralatan yang digunakan sangat sederhana, dan pemasaran produk hanya terbatas pada pasaran local (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap,2001).

Permasalahan mutu dan keamanan pangan produk perikanan terjadi pada berbagai jenis produk, tahapan kegiatan maupun wilayah dengan berbagai jenis bahan beracun berbahaya dan sumbernya dengan karakteristik berbeda. Mengingat luas dan kompleksitas permasalahan maka didalam penelitian ini difokuskan pada aspek keamanan pangan penggunaan bahan tambahan makanan (food additive) ilegal atau tidak diperbolehkan. Pemilihan ini didasarkan beberapa alasan yaitukejadian penggunaan bahan tambahan ilegal telah menyebar di berbagai wilayah tanah air, terjadi pada beberapa produk olahan maupun segar yang jenis produk ini banyak dikonsumsi masyarakat luas dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan, dan penggunaannya oleh pengolah atau pedagang karena factor kesengajaan.

Pembatasan permasalahan juga dilakukan berdasarkan jenis produk dan wilayah. Permasalahan penggunanan bahan tambahan makanan berbahaya difokuskan pada 4 (empat) jenis produk yakni ikan segar, ikan asin/ kering, kerupuk, dan terasi dengan pembatasan wilayah di Pantura Jawa Tengah (Tegal, Pekalongan, Semarang, Pati dan Rembang) dan DIY (Bantul). Permasalahan yang berkaitan dengan faktor penyebab berlangsung malpraktek diantara para pengolah ikan dan produk perikanan dibatasi pada aspek teknis, ekonomi, sosial budaya, dan kelembagaan. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu perumusan dalam pengembangan ke bijakan mutu dan keamanan produk hasil perikanan di Pantura Jawa Tengah dan DIY.

Berdasarkan data dari direktorat jendral perikanan tangkap (2003) Propinsi Jawa Tengah dilihat dari cara perlakuannya meliputi dipasarkan segar (31,37 %), pengeringan/ penggaraman (46,41 %), pemindangan (15,52 %), terasi (0,41 %), peda (0,002 %), pengasapan (2,88 %), pembekuan (0,82 %), tepung ikan (0,08 %), dan lainnya (2,48 %).

Berdasarkan data cara perlakuan tersebut produk perikanan Propinsi Jawa Tengah didominasi oleh pemasaran dalam bentuk pengeringan/ penggaraman (46,41 %). Penanganan ikan segar oleh para nelayan biasanya dimulai segera setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya, dengan perlakuan suhu rendah dan kadang kadang kurang memperhatikan factor kebersihan dan kesehatan. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Suwedo H (1993) bahwa salah satu cara mempertahankan kesegaran ikan dapat dilakukan dengan memelihara ikan tetap hidup atau dengan menurunkan suhu ikan mati. Bahkan menurut UNDP, FAO (1991) bahwa perawatan, kebersihan dan pendinginan adalah kunci untuk memanen hasil tangkapan yang berkualitas baik.

Analisis Ekonomi Berkaitan dengan isu penggunaan formalin baik nelayan maupun pedagang/ pengolah di lokasi penelitian sebagian besar berpengaruh sangat nyata terhadap permintaan ikan. Masyarakat tidak peduli dengan ikan yang dikonsumsi, persepsi yang terbentuk adalah semua ikan yang dijual mengandung formalin, sehingga konsumen akan menjadi takut terhadap ikan atau antipati terhadap ikan. Walaupun memang yang terkena dampak tidak senua perusahaan perikanan. Namun, hal ini sangat mengkhawatirkan karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan masyarakat nelayan maupun pengolah/ pedagang. Bahkan, sejumlah pekerja yang sudah dirumahkan mencapai 500 orang akibat berhentinya produksinya ikan asin, sehingga perlu adanya langkah-langkah yang strategis untuk dapat memecahkan masalah tersebut.

Analisa social budaya Lingkungan sosial (sosiosfir) merupakan lingkungan yang paling penting dalam menentukan kesehatan lingkungan (Soemirat, 1994). Sosiosfir merupakan lingkungan yang

tercipta akibat terjadinya hubungan rasional antar manusia untuk memenuhi kebutuhan atau mencari solusi terhadap berbagai tantangan atau kesulitan secara bersama (Soemirat, 2000).

Ada beberapa permasalahan social budaya yang menyebabkan berlangsungnya malpraktek penggunaan bahan kimia tambahan ilegal yaitu: Kurangnya perhatian pejabat berwenang, penyuluhan, dan pembinaan mengenai keamanan pangan, Rendahnya tingkat pendidikan baik para pengolah maupun masyarakat konsumen sehingga pengetahuan mengenai keamanan pangan rendah dan kurangnya berpikir jangka panjang, Kebiasaan pola makan masyarakat yang belum memperhatikan aspek keamanan dari makanan yang dikonsumsinya bagi kesehatan.

Analisa kebijakan Kebijakan penanganan keamanan pangan diarahkan agar dapat menjamin masyarakat terhindar dari mengkonsumsi pangan terutama pangan segar yang terkontaminasi oleh cemaran biologis, kimia maupun cemaran fisik, sehingga dapat mendukung terjaminnya pengembangan pertumbuhan, kesehatan dan kecerdasan manusia. Disadari bahwa sampai saat ini masih belum banyak masyarakat yang menyadari pentingnya keamanan pangan terutama pada produk pangan segar, hal ini disebabkan karena masyarakat baik masyarakat produsen (terutama produsen skala rumah tangga) maupun konsumen masih menghadapi masalah kemampuan modal dan daya beli sehingga masalah keamanan pangan belum menjadi prioritas dalam menetapkan preferensi memilih pangan untuk dikonsumsi, dan sebagian besar pertimbangan adalah pada pangan dengan harga murah. Disamping itu belum efektifnya penanganan keamanan pangan juga dikarenakan masih belum berkembangnya sistem penanganan keamanan pangan serta terbatasnya laboratorium yang telah terakreditasi sehingga sistem penjaminan mutu belurn bisa berjalan dengan baik. Laboratorium yang terakreditasi sangat diperlukan dalam melakukan pengawasan pangan segar khususnya untuk melakukan uji residu pestisida pada buah dan sayuran segar. Penanganan keamanan pangan adalah suatu rangkaian kegiatan dalam cara-cara budidaya, berproduksi sampai dengan pengolahan pangan untuk menjamin agar makanan yang

dihasilkan fisik, kimia, dan biologi yang dapat berakibat buruk atau mengganggu kesehatan konsumen. Di Indonesia,penanganan keamanan pangan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pangan No. 7 Tahun 1996, dan dijabarkan lebih lanjut dalam PP No. 28/2004 bertujuan membantu konsumen untuk mengevaluasi dan memilih produk, membantu produsen dalam meningkatkan mutu serta dalam melakukan perdagangan yang jujur, serta meningkatkan kesehatan. rakyat dan peningkatan kegiatan ekonomi rakyat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman. S. Nasran. 1990. Perbaikan Handling Ikan di Kapal (Improvement of Fresh Fish Handling on Board). Laporan Penenelitian Teknologi Perikanan Nomor 2 hal 2735. Balai Penelitian Perikanan Indonesia.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Jakarta. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. 2001.

Inventarisasi Jenis dan Jumlah Produk Olahan Hasil Perikanan Skala Kecil Di Indonesia. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan.

Pengolahan hasil penangkapan ikan


(Ershanty Rahayu F1E1 10 046)

1.pengolahan hasil Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut cukup besar, potensi lestari ikan laut diperkirakan sebesar 6,26 juta ton per tahun. Potensi tersebut terdiri dari potensi perairan wilayah Indonesia sekitar 4,40 juta ton per tahun dan perairan ZEE sekitar 1,86 juta ton per tahun. Total hasil penangkapan ikan baru mencapai 4,38 juta ton per tahun, sementara jumlah tangkapan lestari sebesar 5,01 juta ton per tahun. Untuk menangani hasil tangkapan ikan dari laut maupun hasil perikanan budidaya secara tepat dengan mutu yang terjaga baik serta layak dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri diperlukan tenaga profesional yang handal dalam bidang teknologi pengolahan hasil perikanan Dalam rangka diversifikasi hasil perikanan dan terpenuhnya gizi dari protein hewani asal ikan bagi masyarakat,maka harus dilakukan perbaikan yang menyangkut hasil teknologi dan ekonomi.ikan sebagai bahan makanan yg mengandung protein tinggi dan asam amino esensial yang diperlukan tubuh,dan hal yg paling penting harganya jauh lebih murah dan terjangkau dibandingkan sumber protein lain. Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat karena mudah didapat dan harganya murah. Namun, ikan ternyata memiliki beberapa kelemahan. Salah satu kelemahan ikan adalah tubuh ikan yangmempunyai kadar air tinggi dan pH mendekati netral merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk maupun organisme lainnya sehingga ikanmenjadi komoditi yang cepat membusuk. Selain itu, daging ikan

banyak mengandung asam lemak tak jenuh yang sifatnya sangat mudah mengalami prosesoksidasi. Oleh sebab itu, sering muncul bau tengik pada ikan. y Teknologi penanganan hasil perikanan

Teknologi penanganan ikan pasca panen memberikan manfaat kerja dan ekonomi untuk bagian besar masyarakat. Ini meliputi berbagai proses penangkapan organisme perairan. Penggunaan metode bervariasi, tergantung pada jenis penangkapan perikanan, dan dapat berkisar mulai ikan dari

proses sederhana seperti pengumpulan organisme air dengan tangan memilih untuk

panen ikan sistem yang sangat canggih, yaitu. bertujuan pertengahan air trawl atau tas pemukatan dilakukan dari kapal ikan besar. Keragaman besar target dalam perikanan tangkap dan distribusi yang luas mereka memerlukan berbagai alat tangkap dan metode untuk panen efisien. Teknologi ini telah dikembangkan di seluruh dunia sesuai dengan tradisi lokal dan kemajuan teknologi di berbagai

disiplin ilmu seperti hidrodinamika, akustik dan elektronik. Menyaring air, memikat dan mempermainkan mangsa dan berburu, adalah dasar bagi sebagian besar alat tangkap dan metode yang digunakan bahkan hari ini. teknologi Harvest, karena mereka dipraktekkan saat ini umumnya masuk ke dalam 3 kelompok utama: a. penangkapan ikan baik secara tunggal maupun di sekolah-sekolah dengan

menggunakan jaring atau tombak, b. penangkapan ikan di gigi stasioner seperti perangkap ikan atau jaring set,dan c. ikan menarik untuk terjebak pada kait dengan menggunakan umpan, umpan buatan atau sarana lain seperti cahaya. Setengah dari makanan laut dunia ditangkap atau dikumpulkan oleh nelayan skala kecil yang beroperasi jutaan kerajinan memancing. Selama bertahun-tahun, alat penangkapan ikan tradisional telah ditingkatkan dan yang lebih baru sistem penangkapan ikan

lebih efisien telah diperkenalkan. Paling penting di antara mereka adalah panen ikan sistem seperti trawl, seines, jaring insang dan melibatkan jaring dan

perangkap. y persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis

ada 3 syarat persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis: Mempunyai nilai pasaran yang tinggi Volume produksi makro tinggi dan luas

Mempunyai daya produksi yg tinggi y komposisi kimia daging ikan:

1. air 60-84% 2. 18-34% 3. 0,1-2,2% 4. 0,0-1,0% 5. Vitamin dan mineral 2. Hasil pengolahan A. ABON IKAN Salah satu hasil difersifikasi pengolahan ikan yaitu abon ikan.kelebihannya selain sebagai sumber protein yang mudah di dapat,harganya juga relatif lebih mudah dijangkau untuk semua kalangan masyarakat. jenis ikan yang dibuat sebagai bahan baku abon belum selektif, bahkan hampir semua jenis ikan dapat dijadikan abon. Namun demikian, akan lebih baik apabila dipilih jenis ikan yang mempunyai serat yang kasar dan tidak mengandung banyak duri. ikan yang biasa dibuat abon adalah ikan air laut antara lain tuna, marlin, tongkol, cakalang, tenggiri contoh gambar abon:

Proyeksi produksi dan pendapatan: y Usaha pengolahan abon ikan pada umumnya berskala kecil dan bersifat pada tenaga kerja. Oleh sebab itu, jenis teknologi yang cocok digunakan adalahteknologi semimekanik. y Jumlah produksi abon ikan selama satu tahun sebesar 14.440 kg (1.200 kg/bulan) dan harga abon ikan ditingkat produsen adalah Rp 70.000 per kg. Oleh sebab itu, pendapatan dari hasil penjualan abon ikan per tahun adalah sebesar Rp 1.008.000.000,. Tabel 5.6 menyajikan rincian penerimaan/pendapatan kotor dalam setahun.

Tabel produksi dan penjualan abon ikan:

Nb: harga di atasa masih dalam pendapatan kotor* y Kendala yang ditemui selama produksi

Kendala produksi yang bisa dijumpai adalah terjadinya kelangkaan bahanbaku ikan. Oleh sebab itu, lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan sehinggaakan mempermudah proses penyediaan dan transportasi bahan baku ikan

B. bakso ikan ada 2 cara pembuatan bakso ikan yaitu: y tekhnik manual pada teknik ini tentu bergantung pada bahan dan pembuatnya,selain itu hasilnya terkadang jauh lebih baik dibanding menggunakan teknik mesin y teknik mesin

Jenis mesin yang diperlukan untuk membuat bakso antara lain mesin mincer (untuk mencincang daging), mesin mixing (untuk mencampur adonan), mesin pencetak bakso dan mesin sealer atau vacuum (untuk mengemas bakso).menggunakan teknik ini jauh lebih praktis tetapi membutuhkan modal yang lebih besar dibanding menggunakan teknik manual

Contoh gambar pengolahan bakso ikan (menggunakan tekhnik mesin):

kendala

Kendala yang ditemui dalam pembuatannya hampir sama dengan pembuatan makanan lain yang memerlukan bahan utama ikan,yaitu: kelangkaan bahan baku ikan. Oleh sebab itu, lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan

TINJAUAN PUSTAKA http://www.apsidoarjo.bpsdmkp.kkp.go.id http://pobersonaibaho.wordpress.com http://www.bisnis.com/articles/hasil-tangkapan-ikan-nelayan-di-malang-melimpah http://rizarahman.staff.umm.ac.id/files/2010/01/Pengolahan-ikan. http://www.dkpsultra.net/bidang-dan-uptd/ http://sudianor.wordpress.com http://research.mercubuana.ac.id/proceeding/Proses-Pengolahan-dan-Nilai-TambahBakso. http://dedisafrizal.blogdetik.com/tag/proposal-bakso-ikan/

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (Yunita Silvana Lantapi F1E1 10 048)

Bebarapa masyarakat pesisir menjadikan pembuatan kapal sebagai lahan mencari nafkah. Kehidupan masyarakat pesisir tak terpisahkan dari pemanfaatan pembuatan kapal. Bila dahulu kapal Padewakkang terkenal sebagai kapal perang dan belakangan tak lagi ditemukan, kapal Phinisi dan kapal Sandeq hingga saat ini masih diproduksi oleh penggiatnya. Masyarakat pesisir di Tana Beru, Kelurahan Tana Lemo, Kecamatan Bonto Bahari masih memproduksi Phinisi. Sekira tujuh puluh persen masyarakat Tana Beru menggantungkan hidupnya pada pembuatan kapal tradisional ini, hal ini berdasarkan data Kelurahan Tana Lemo. Sebut saja, Musriadi (43 tahun) pembuat Phinisi, masih mempertahankan membuat kapal tersebut untuk mempertahankan warisan budaya leluhur. Sejauh ini, Musriadi warga Desa Ara, belajar sendiri mengenai tata cara pembuatan phinisi, hasil dari membuat kapal untuk menafkahi keluarganya. Kesulitan selama ini, meskipun bahan baku kayu diproduksi di Bulukumba, yaitu jenis kayu besi. Namun biasanya adanya keterlambatan pasokan kayu yang dikirim dari Kendari cukup menghambat membuat kapal. Demikian halnya, Anto (45 tahun) warga Desa Ara masih membuat Pinishi karena menjaga warisan leluhurnya. Ini mi keterampilan yang diajarkan bapakku sejak kecil, jelasnya. Ia mulai membuat kapal sejak umur tujuh belas tahun. Keahlian membuat Phinisi biasanya diajarkan turun temurun dari para leluhur. Hal ini juga dialami Haji Abdullah (60 tahun) pengusaha Phinisi sudah mengenal pembuatan kapal tradisional dari orang tuanya. Sejak tahun 1988, ia terpilih ke Kanada untuk membuat kapal kerjasama dengan Teknik Perkapalan Unhas. Inilah titik tumpu yang kuat hingga ia bisa menjadi pengusaha kapal yang sukses seperti saat ini. Orang asing lebih suka yang bagian buritan kapal yang kotak karena terjadi hubungan antara layar dan mesin dan setir, ungkapnya. Dalam perkembangannya, Haji Abdullah melayani pemesanan Phinisi dengan desain yang dibuat oleh konsumen. Dalam setahun, ayah yang telah menurunkan bakat ini kepada anaknya menerima orderan rata-rata sepuluh kapal besar pertahun. Oleh karena nilai artistik yang tinggi, serta waktu pembuatanya yang sangat lama, maka tak heran jika harga satu buah kapal Phinisi bisa mencapai

miliaran rupiah. Bahkan pernah sebuah perusahaan pelayaran di Karibia yang membeli sebuah Kapal Phinisi seharga 3 miliar. Berbeda dengan pengusaha kapal, sebutan Panrita lopi bukan hal yang asing masyarakat Tana Beru. Panrita lopi, orang yang membuat kapal sesuai pengetahuannya dan tidak menggunakan tenaga ahli. Julukan Panrita lopi sendiri diturunkan generasi ke generasi oleh pembuat kapal pertama. Pengusaha kapal belum tentu disebut Panrita lopi. Sebut saja Haji Jafar (63 tahun), ia salah seorang Panrita lopi yang masih tetap aktif dalam membuat kapal. Haji Jafar sendiri membuat kapal meskipun tidak ada pesanan. Hal ini menyebabkan nilai ekonominya menurun tapi nilai budayanya tetap ada. Bukan hanya di Tana Beru, kapal tradisional lain tetap dipertahankan dengan alasan faktor ekonomi. Masih banyak nelayan yang mengandalkan layar dan kapal digerakkan tanpa menggunakan bahan bakar, seperti kapal tradisional Sandeq di Desa Pambusuang, Polewali Mandar. Kalau bukan Sandeq pasti pakai bahan bakar, pasti butuh uang lagi, jelas Fadli pemilik sekaligus membuat kapal. Kapal dibuat untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan dari nenek moyang dan pemenuhan kebutuhan hidup kami, ujarnya. Ia memproduksi empat sampai lima kapal dalam satu tahun bersama orang tuanya Keterampilan dalam membuat kapal ini ada karena faktor kebiasaan sejak kecil, sering belajar dengan pembuat kapal, ujar Fadli (41 tahun). Demikian halnya, Siden (45 tahun) salah seorang pembuat Sandeq. Dari dulu nenek moyang membuat kapal, pekerjaan ini ia tekuni membuat kapal untuk menafkahi keluarganya. Ini memang sudah menjadi kesenangan saya, dan ini saya tekuni sebagai nelayan dan sekaligus pembuat kapal, tutur Siden. Sekarang ini, sandeq untuk nelayan sangat jarang karena sudah ada kapal modern bermesin, sandeq hanya digunakan dalam Sandeq race. Biasanya keuntungan diperoleh tiap satu kapal mencapai sepuluh juta untuk jenis Sandeq race.

DAFTAR PUSTAKA 1. Mulyadi Agus. Perahu Phinisi kebanggaan bangsa Indonesia. Online Business Journal; 2010 2. Penerbitan Kampus 'Identitas'unhas. Masih Setia dengan Kapal Tradisional, Identitasonlinedotnet; 2011

MASYARAKAT BAJO (Sri Wuna Sari Nasir F1E1 10 051)

Masyarakat Bajo atau biasa disebut juga orang laut masih banyak yang buta huruf. Budaya fasalistik juga masih melekat kuat dalam kepribadian mereka, seperti kurang kreatif dan produktif, cepat puas dengan apa yang diperoleh, pasrah pada nasib, sikap konsumtif dan boros, serta sikap menutup diri pada pihak-pihak lain. Sikap-sikap tersebut telah menyebabkan masyarakat Bajo menjadi tidak berdaya. Suku Bajo adalah salah satu suku laut yang dimiliki oleh Indonesia. Masyarakat suku bajo memanfaatkan sumberdaya laut yang ada di sekitar perairan kawasan tempat tinggal mereka sebagai sumber pendapatan/mata pencahariannya yaitu sebagai nelayan tradisional, dan petani budidaya rumput laut. 1. Kondisi Sosial Masyarakat Suku Bajo Pada masyarakat suku bajo juga terjadi pergeseran yang mengarah ke yang lebih baik. Artinya pada mulanya masyarakat suku bajo tidak memiliki tempat tinggal yang tidak menetap sehingga mereka lebih cenderung merusak laut dengan ulah mereka sendiri seperti membom, membius dan menjarah secara tidak teratur sehingga secara lambat laun laut mengalami kerusakan yang parah dan tidak ada kesadaran secara social untuk kelestarian laut untuk masa depan generasi muda, hal ini yang menjadikan masyarakat bajo pada saat itu tidak menetap tempat tinggalnya dan kemudian berpindah lagi kempat yang lain dengan meninggalkan kerusakan yang parah pada tempat yang awal mereka diami. Begitu seterusnya dengan kebiasan yang secara turun temurun merusak laut yang berimbas pada krisis yang dialami generasi mudah suku bajo untuk menggantungkan hidupnya pada laut semata mau tidak mau memaksa mereka juga untuk berbuat yang serupa. Kebiasaan yang mendarah daging pada masyarakat suku bajo saat ini masih kita dapatkan, namun secara kuantitas sudah mengalami penurunan, dengan kata lain sudah ada pergeseran nilai budaya yang di miliki oleh mereka, kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai instrument keberlanjutan hidup merekah sudah mulai tertanam dalam masyarkat suku bajo.

2. Kondisi Pendidikan Masyarakat Suku Bajo Pada umumnya masyarakat bajo rata-rata berdomisili di daerah-daerah pesisir yang sangat terpencil dan jauh dari jangkauan media sehingga secara garis besar mereka sangat awam terhadap perkembangan media yang begitu pesat yang diiringi dengan teknologi yang semakin canggih. Karena kebanyakan dari suku bajo sendiri banyak yang menggantungkan kehidupanya semata-mata pada hasil laut, masyarakat bajo sendiri seakan tidak perduli dengan perkembangan media dan teknologi yang beredar di dalam masyarakat luas. Jangankan perkembangan media yang begitu pesat masalah pendidikan pun mereka kesampingkan. Bagi mereka sekolah itu bikin habis waktu mendingan mereka turun di laut mencari dan kemudian hasil dari laut itu mereka jual yang kemudian dapat meenghasilkan uang. Maka dari itu tidak sedikit dari mereka yang tidak menamatkan pendidikanya sekolah dasar, SMP, dan SMA, bahkan sebagian dari masyarakat bajo yang buta aksara. Fenomena ini terjadi secara turun temurun dan mereka mengganggap hal biasa dan tidak berpengaruh pada lingkungannya, karena mereka beranggapan tanpa berusaha dalam hal ini turun ke laut mereka tidak bisa makan. Dan sebenarnya juga orang bajo juga mempunyai jiwa pekerja keras dan pantang menyerah pada keadaan. Kemudian di bidang pendidikan masyarakat bajo menomor duakan pendidikan seperti yang dipaparkan diatas tadi bahwa sekolah itu sama saja dengan buang-buang waktu, dan lebih baik turun ke laut untuk mencari kehidupan yang dapat menghasilkan uang, sebenarnya ini paradigma berpikir yang keliru karena mereka tidak punya kapasitas atau perantara untuk sampai pada sejauh pemikiranya tentang pentingnya dari pada pendidikan itu sendiri. Selain dari pada pendidikan sebagian besar masyarakat bajo pun gagap teknologi, seperti media yang saat ini sangat canggih seperti internet mereka sama sekali tidak bisa mengoperasikannya. Kasadaran lahir tumbuh dari beberapa pengelola yang merasa bahwa pentingya mengetahui perkembangan teknologi, dan untuk mengetahi teknologi harus melalui bengku sekolah. Dalam tiga tahun tarakhir ini genarasi muda masyarakat bajo berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk bersekolah baik itu SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Hal ini menunjukan sebuah kemajuan yang menggembirakan bagi masyarakat bajo. Semua ini bisa terjadi karena kemampuan sumberdaya manusia generasi muda masyarakat suku bajo yang semakin meningkat. Semua ini berawal dari media komunitas yang intens memberikan pendidikan kepada masyarakat suku bajo.

3. Kondisi Ekonomi Masyarakat Suku Bajo Masyarakat Bajo merupakan masyarakat yang sangat tergantung pada laut, mulai dari mata pencaharian sampai membangun pemukiman yang berada di atas pesisir laut dengan memanfaatkan batu karang. Menurut Saleh (2002), laut bagi masyarakat Bajo merupakan tempat nenek moyang mereka yang di percaya sebagai penguasa laut. Pemanfaatan terumbu karang dan pasir laut yang berlebihan serta penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak ekosistem laut banyak dilakukan oleh masyarakat Bajo. Bahkan saat ini terjadi pemanfaatan sumberdaya laut pada lokasi-lokasi yang sebenarnya merupakan lokasi perlindungan sumberdaya laut. Masyarakat bajo biasanya bertempat tinggal di daerah pesisir. Masyarakat bajo merupakan masyarakat yang sejahtera karena potensi sumber daya alamnya yang besar. Namun pada kenyataannya hingga saat ini sebagian besar masyarakat bajo masih merupakan bagian dari masyarakat yang tertinggal dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Kemiskinan yang melanda rumah tangga masyarakat bajo telah mempersulit mereka dalam membentuk kehidupan generasi berikutnya yang lebih baik dari keadaan mereka saat ini. Anak-anak mereka harus menerima kenyataan untuk mengenyam tingkat pendidikan yang rendah. Karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya. Anak-anak di tuntut untuk ikut mencari nafkah, menanggung beban kehidupan rumah tangga, dan mengurangi beban tanggung jawab orang tuannya. Akibatnya, kualitas sumber daya manusia tetap rendah dan kemiskinan di kalangan masyarakat Bajo akan diwarisi serta dilanggengkan dari generasi ke genarasi. 4. Karakteristik Masyarakat Suku bajo Dahulu kala masyarakat Bajo kerap berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya mencari sumber kehidupan seperti masyarakat gipsy atau nomaden. Namun saat ini meskipun masih ada yang meneruskan tradisi berpindah tempat, sebagian lainnya memilih menetap di lokasi tertentu dengan pola hidup yang sangat sederhana. Segala bentuk kehidupan berlangsung benar-benar di atas laut. Rumah panggung dibangun tepat di atas permukaan laut, di atas gugusan karang. Sungguh suatu bentuk kehidupan yang unik yang memerlukan keberanian serta ketangguhan untuk menjalaninya. Masyarakat suku bajo memiliki kehidupan yang bergantung pada laut. Namun sebagian besar dari masyarakat suku bajo menganggap pendidikan itu bisa didapatkan dilaut. Bukan

didapatkan dari bangku sekolah. Kehidupan ekonominyapun bergantung pada hasil ataupun pendapatan setiap harinya.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2011. Kondisi Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat. http://siswa.univpancasila.ac.id Anonim. 2011. Kondisi Sosial Masyarakat. http://www.bangka.go.id Bengen, D.G. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara

Terpadu,Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Berbasis Masyarakat. Bogor, 21-22 September 2001. Kusumawati, Diah. 2011. Suku Bajo dalam Pusaran Modernitas. utamidk@jurnal.com

Nunuk. 2011. Suku Bajo: Sederhana, Pemberani Dan Tangguh. http://aci.detik.travel/read

Tridarma. 2010. Pengaruh Media Komunitas Terhadap Struktur Sosial Masyarakat Bajo. http://suarakomunitas.net

Kehidupan Masyarakat Suku Bajo


(Fauzyah Novrini Kasman Arifin F1E1 10 055)

Suku bajo terletak di Kepulauan Tukang Besi (dulu) yang sekarang berubah Wakatobi, di Sulawesi Tenggara. Sebuah daerah yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Suku ini tinggal menetap diatas perairan Pulau Wakatobi, dan belakangan mulai berekspansi ke wilayah kepulauan nusantara lainnya dan membentuk komunitasnya. Sejarah Suku Bajo Konon, nenek moyang suku Bajo berasal dari Johor, malaysia. Alkisah, dahulu kala seorang puteri dari kerajaan Johor hilang entah kemana. Sehingga sang Raja memerintahkan pengawalnya untuk mencari sang putri, tidak hanya di seantero negeri johor, tetapi juga sampai ke sulawesi. Menurut beberapa versi, sang putri lebih memilih untuk tetap tinggal di sulawesi, dan sejalan dengan itu orang-orang yang ditugaskan oleh sang raja pun tidak mau lagi kembali ke Johor dan tetap tinggal bersama sang putri. Sang putri yang pada akhirnya menikah dengan Raja bugis tersohor, kemudian menempatkan masyarakatnya yag berasal dari Johor itu dalam sebuah daerah yang bernama Bajo, yang merupakan cikal bakal dari suku bajo. Laut, bagi suku bajo menjadi andalan satu-satuya. Dari mulai hidup, bertempat tinggal, hingga mencari kehidupan pun dilakukan dengan banyak berinteraksi dengan laut., hingga mendapatkan julukan The Sea Nomads yang berarti hidup dilaut dan tak menetap pada satu tempat. Meski akhirnya kini Suku Bajo mulai menetap di darat oleh karena paksaan pemerintah, namun tetap tidak berjarak jauh dari laut. Suku Bajo merupakan suku yang terkenal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dari banyak interaksi tersebut menyebabkan suku ini banyak tersebar di berbagai daerah di Tanah air.

Keunikan Suku Bajo Suku Bajo dikenal dengan Same(sama).Dan mereka menyebut warga di luar sukunya sebagai suku bagai.Suku bajo juga identik dengan manusia perahu oleh karena mereka menggantungkan hidupnya dari perahu. Mereka adalah pelaut tangguh yang memilih untuk hidup di pulau-pulau di tengah laut.Pernah disebut dalam sejarah bahwa suku bajo pernah

menjadi

bagian

dari

Angkatan

laut

Kerajaan

Sriwijaya.Sehingga

ketangguhan

dan

keterampilannya dalam mengarungi samudera jelas tidak terkalahkan. Dulu, mereka adalah manusia pengelana lautan yang telah menjadikan laut sebagai sahabat dan tempat tinggalnya.Semua aktivitas bersama keluarga dihabiskan diatas perahu atau soppe seperti biasanya kehidupan di darat.Lambat laun mereka juga sudah mulai mengenal daratan sebagai tempat tinggalnya.Di mana ada tanjung atau pulau maka di situlah mereka mencari nafkah. Ada empat kelompok masyarakat suku bajo menurut kebiasaan mereka bernelayan, yakni kelompok lilibu, kelompok papongka, kelompok sakai dan kelompok lame. Kelompok lilibu adalah suku Bajo yang biasanya bernelayan di laut hanya satu atau dua hari. Mereka menggunakan perahu soppe yang dikendalikan dayung. Setelah mendapat ikan, mereka kembali ke darat, untuk menjual hasil tangkapan atau menikmatinya bersama keluarga.

Kelompok papongka adalah suku bajo yang biasanya mencari ikan di laut selama sepekan atau dua pekan. Biasanya terdiri dari lima atau enam orang anggota papongka.Mereka menggunakan perahu atau soppe yang di kendalikan dengan dayung dan layar.Kebiasaan mereka bila sudah memperoleh hasil ikan tangkapan atau kehabisan air bersih,mereka selalu menyinggahi pulau-pulau terdekat .Setelah hasil ikan tangkapan dijual dan merasa sudah mempunyai air bersih,mereka kembali lagi ke laut.

Bedanya dengan kelompok lilibu, mereka baru akan pulang ke rumahnya setelah seminggu atau dua minggu mencari nafkah. Pada saat kembali ke rumah, sang nelayan biasanya membawa uang dan berbagai kebutuhan rumahtangga lainnya. Jadi, tidak lagi membawa ikan tangkapan. Kelompok sakai memiliki kebiasaan mencari ikan yang lebih dasyat lagi. Mereka tidak jauh berbeda dengan kelompok papongka. Namun, wilayah kerjanya lebih luas. Bila kelompok papongka hitungannya seluas provinsi, maka kelompok sakai hitungannya antarprovinsi. Katakanlah, antarpulau. Sehingga, waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. Mereka bisa berada di tempat kerjanya itu selama sebulan atau dua bulan. Karena itu, perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin.

Kelompok terakhir, kelompok lame bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih berkelas. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. Karena, mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. Dan, mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan. Selain sampan sebagai pusat kegiatan ekonomi, kerajinan kain tenun tradisional juga menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan suku bajo, khususnya di Wakatobi. Kain-kain seperti ledja dan kasopa di tenun secara tradisional dengan motif yang khas . suku bajo sangat percaya pada kearifan lokal dibandingkan dengan instrumen modernitas yang sangat masif berkembang diluar kebudayaan laut suku tersebut.

Kehidupan Masyarakat Penambang Pasir


(Rahmawati Nur Ariyanti F1E1 10 057)

Pasir laut, menurut geologi, yaitu semua materi seukuran pasir dan mengalami proses transportasi, lalu terhadap dalam sedimen di dasar lautan. Sedangkan menurut pemerintah yang tertuang dalam keputusan menteri, yakni materi galian pasir yang berada di perairan Indonesia dan tidak mengandung mineral golongan A dan golongan B. Perairan nusantara, selain menjadi mata pencaharian bagi masyarakat pesisir, juga menjadi objek pertambangan pasir dengan keuntungan bisnis yang sangat menggiurkan. Namun, penambangan pasir laut telah berkembang menjadi polemik nasional. Dampaknya seperti nelayan yang kehilangan mata pencarian hingga tenggelamnya sebuah pulau. Secara kelautan pasir yang obyektif pasir berkembang pada laut memang bisa disebut salah satu sumber daya

menjadi

komoditas

ekonomi. pesisir di

Namun, dan

penambangan laut. Kegiatan tepat dan

laut

berdampak pasir yang laut tepat

pengelolaan tidak

wilayah dilakukan pada

penambangan dengan cara

apabila akan

daerah

yang baik

berdampak

lingkungan,

fisik,

biologi,

maupun sosial. Faktor-faktor penyebab adanya kegiatan penambangan pasir beraneka ragam. Faktor yang berasal dari dalam diri masyarakat itu sendiri salah satunya adalah faktor ekonomi. Contohnya masyarakat pesisir pantai yang dulunya bergantung pada mata pencaharian nelayan, penghasilannya tidak menentu karena semua itu tergantung hasil tangkapan dan cuaca. Berbeda jika mereka menjadi penambang pasir yang akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar dari biasanya. Faktor pendidikan masyarakat juga berpengaruh. Sebagian besar masyarakat pesisir adalah hanya lulusan SD, tidak lulus SD atau bahkan tidak bersekolah sehingga pemahaman mereka tentang lingkungan hidup sangat sedikit. Yang ada dalam pemikiran mereka hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dengan mendapatkan uang melalui pekerjaan yang dapat diharapkan hasilnya secara nyata. Keberlanjutan dari usaha mereka pada jangka panjang tidak menjadi pemikiran mereka. Ada sebagian dari tenaga kerja yang

mengerti tentang lingkungan hidup, namun karena tekanan ekonomi membuat mereka terpaksa mengambil keputusan untuk tetap bekerja di penambangan pasir karena tidak mendapatkan pekerjaan yang lain. Beberapa pekerja malah tidak mengetahui tentang lingkungan hidup, karena dalam mereka hanyalah bagaimana cara untuk mendapatkan uang agar hidup secara layak. Faktor dari luar yang menyebabkan adanya penambangan pasir adalah faktor bisnis bagi perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Kegiatan penambangan pasir merupakan mata pencaharian yang potensial bagi masyarakat-masyarakat pesisir, dengan pertimbangan alat-alat yang digunakan untuk melakukan penambangan merupakan alat-alat yang sederhana (alat manual) diantaranya sekop & pacul yang berfungsi mengumpulkan dan mengambil pasir serta kerikil, dan alat sederhana lain. Dampak positif pada aspek sosial ekonomi dengan adanya kegiatan penambangan pasir dirasakan oleh sebagian masyarakat khususnya masyarakat pesisir, yaitu pengurangan jumlah pengangguran karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai penambang pasir dan peningkatan penghasilan masyarakat. Sebagai contohnya warga Dusun 5 Desa Poto, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang. Ibu dua anak ini sehari-harinya bekerja mengumpulkan pasir dari pantai untuk kemudian dijemur dan diayak. Bila telah terayak, pasir dibiarkan saja di lokasi pengayakan dengan ditutupi ranting-ranting kering. Hari senin merupakan hari yang paling ditunggu oleh warga Dusun 5 yang mayoritas bekerja menambang pasir pantai karena pada hari itu pengumpul dari kota Kupang datang untuk membeli pasir hasil mereka. Pengumpul datang datang dengan menggunakan truk sambil membawa karung-karung beras kosong ukuran 20 kg untuk diisi dengan pasir. Sekarung pasir yang telah bersih dibeli dengan harga Rp. 4.500,- dan rata-rata setiap keluarga menjual sebanyak 20 karung. Artinya, mereka akan memperoleh penghasilan sekitar Rp. 90.000,- untuk hasil kerja selama seminggu. Lain lagi dengan penambang pasir Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Karena mereka hanya ngayak pasir lalu memasukkan kedalam sak (karung plastik), sore hari pasir tersebut sudah diambil pengepulnya dengan harga Rp.1750/sak, penambang mengatakan setengah hari

pendapatanya tidak kurang dari Rp. 35.000,- jika dijumlahkan dalam satu bulan Rp.1.100.000,dengan catatan hanya setengah hari. Namun, penambangan yang terjadi secara terus-menerus dan tak terkendali terutama yang dilakukan oleh beberapa perusahaan besar apalagi perusahaan yang tidak memiliki izin untuk dijual, contohnya ke Singapura, menimbulkan masalah serius bagi keberlangsungan ekosistem laut. Dampak langsung dari kerusakan ini paling dirasakan oleh masyarakat pesisir yang kebanyakan sebagai nelayan. Hasil ikan yang diperoleh menjadi berkurang. Hal ini disebabkan seluruh isi laut disedot tanpa pandang bulu. Tidak hanya pasir yang diangkat, tetapi telur-telur, anak ikan, terumbu karang, serta biota lainnya juga ikut musnah. Dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan pasir adalah hilangnya pulau-pulau kecil. Hal tersebut bisa mengubah sistem perairan laut di Indonesia. Salah satu pulau kecil dari ribuan pulau yang hampir tenggelam adalah Pulau Nipah. Pulau tak berpenghuni di Provinisi Kepulauan Riau itu sangat penting perannya. Karena pulau tersebut merupakan tanda dari batas kontinen negara Indonesia dengan Singapura. Aktivitas penambangan pasir laut memiliki banyak dampak negatif. Kerusakan yang muncul salah satunya adalah perubahan morfologi dasar laut menjadi tidak beraturan. Perubahan itu secara langsung mengganggu kehidupan biota laut dan lingkungan di dalamnya, seperti ekosistem dan abrasi. Diperlukan pengaturan khusus agar lokasi penambangan tidak dilakukan pada satu titik, Laju perkembangan perizinan tersebut, bukan saja semakin menekan keseimbangan ekosistem laut, tetapi juga telah menyebabkan jatuhnya harga pasir lantaran melonjaknya volume produksi dengan pembeli satu-satunya, Singapura. Kasus serupa juga tidak tertutup kemungkinan terjadi di tempat lain di seluruh perairan Indonesia. Dalam proses penambangan tingkat kekeruhan air sangat tinggi. Ini tidak bisa ditoleransi. Terumbu karang tercemar, kematian biota laut di dalamnya pun tak bisa dihindari. Hanya beberapa jenis biota yang bisa bertahan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, para penegak hukum dan pemberi perizinanan memberantas, serta menindak tegas pelaku penambangan pasir. Jangan mudah memberi perizinan. Sebaiknya kaji dulu dampak lingkungan yang akan terjadi ke depan. Selain itu bagi yang sudah mendapat izin, pemerintah harus menetapkan kedalaman dan kemiringan/keterjalan maksimum lereng pantai yang dapat mencegah terjadinya longsoran di daerah pantai akibat penambangan pasir laut di daerah pantai (aspek geoteknologi).

Daftar Pustaka

www.multiplyjournal.com Harian Umum Pelita tanggal 7 Mei 2009 khan35.blogspot.com

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI PETANI GARAM Ririt Yuliarti Taha F1E1 10 058
Garam merupakan komoditi strategis sebagai bahan baku industri dan bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh hampir semua masyarakat, tetapi dewasa ini kehidupan petani garam di berbagai daerah di Indonesia, dihadapkan pada situasi sulit. Banyak petani tidak dapat bertahan dengan pilihan usahanya, bahkan ada yang meninggalkan usahanya dan berpindah menekuni mata pencaharian lain. Problem yang dihadapi petani garam yang tampak kepermukaan, antara lain menyangkut harga, mutu garam yang sangat rendah, sampai membanjirnya garam impor. Jika dicermati dan dikaji lebih mendalam, terdapat problem yang mendasar yang dihadapi petani garam, yaitu beroperasinya sistem kapitalisme yang mengantarkan mereka pada kondisi yang terpuruk bahkan termarjinalkan.

Di Kabupaten Sampang Air laut dengan sinaran matahari mampu menghasilkan garam yang sejak dulu dikenal sebagai produk utama masyarakat Madura, khususnya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pesisir, tidak terkecuali para petani garam di Desa Aeng Sareh. Petani garam bekerja dengan memanfaatkan tanah, air laut, dan matahari sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi selama musim hujan para petani garam tidak dapat memproduksi garam, hal ini mengharuskan para petani garam melakukan berbagai strategi agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

kehidupan sosial para petani garam di Desa Aeng Sareh, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, dalam hal interaksi sosial baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat yaitu mereka tidak hanya berkomunikasi secara langsung, tetapi mereka juga menggunakan alat komunikasi yaitu HP. Petani garam sebagai anggota masyarakat mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dimasyarakat, seperti mengikuti perkumpulan pengajian. Mereka juga melakukan kerja sama dengan masyarakat disekitarnya. Sedangkan dalam hal pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat, para petani garam juga tidak terlepas dari persaingan dan konflik. Kehidupan ekonomi para petani garam di Desa Aeng Sareh, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang berdasarkan tingkat pendapatan, yaitu memiliki penghasilan rata-rata antara

Rp 25.000 sampai Rp 45.000 per hari dengan jumlah tanggungan rata-rata antara 4 orang sampai 6 orang. Dalam hal pendidikan, tingkat pendidikan para petani garam hanya menempuh sekolah dasar (SD), sedangkan tingkat pendidikan putra-putri mereka sampai bangku SMA/ Sederajat. Para putra-putri petani garam di Desa Aeng Sareh ini bersekolah Madrasah Sore atau TPA, serta mengaji di surau. Sedangkan akses untuk mendapatkan pendidikan putra-putrinya yang masih duduk di bangku SD/ Sederajat dan SMP/ Sederajat, seperti biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah. Untuk biaya sekolah madrasah sore atau TPA hanya membayar uang SPP sebesar Rp 5000 per bulan, sedangkan untuk biaya mengaji, para petani garam hanya membayar uang listrik sebesar Rp 2000 per bulan. Strategi yang dilakukan para petani garam dalam mempertahankan hidup yaitu seperti bekerja sambilan, meminimalisasikan pengeluaran, mengikuti arisan dan menabung, memanfaatkan barang bekas untuk ditukar dengan makanan seperti kerupuk, meminjam uang kepada famili dan pemilik warung untuk keperluan yang mendesak, serta menjual barang-barang berharga untuk memenuhi kebutuhan besar.

Di kabupaten Rembang jumlah petani garam pemilik lahan pada tahun 1990 sebanyak 784 orang, tahun 2000 menurun menjadi 729 orang dan pada tahun 2005 menjadi 718 orang. Peningkatan terjadi pada jumlah petani penggarap/buruh garap di mana pada tahun 2000 terdapat sebanyak 3.986 orang dan pada tahun 2005 menjadi 4.739 orang. Adapun jumlah perusahaan garam rakyat di kabupaten Rembang juga cenderung menurun, pada tahun 1990 terdapat 12 perusahaan, pada tahun 2000 berkurang menjadi 6 perusahaan dan tahun 2005 berkurang lagi tinggal 4 perusahaan (Rembang Dalam Angka 1990, 2000 dan 2005). Padahal luas lahan garam relatif tidak berubah, yaitu 1.189,449 ha pada tahun 1990 (Jawa TengahDalam Angka, 1991), 1.184,965 ha pada tahun 2000 dan 1.184,965 ha pada tahun 2005 (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rembang, 2005).

Fenomena itu pada satu sisi menunjukkan bahwa posisi dan status sosial ekonomi petani garam semakin termarjinalkan dan pada sisi yang lain juga dapat dimaknai telah terjadi polarisasi dalam penguasaan lahan garam dan dominasi modal produksi kapitalis. Modal produksi kapitalis dalam pemikiran Marx (Morrison, 1995) lebih didasarkan pada pemilikan individual (private ownership) masing-masing orang terhadap alat-alat produksi dan dalam hal ini kapitalis sebagai pemilik alat produksi dan buruh proletar memiliki kepentingan yang bertentangan. Dari hal ini

terjadi proses pemiskinan kaum buruh oleh kaum kapitalis melalui aliran dan akumulasi surplus yang pada hakekatnya merupakan bentuk eksploitasi terhadap kaum buruh dalam proses produksi. Pemikiran Marx itu dikembang-kan Russel (1989), bahwa moda produksi kapitalis mempunyai ciri padat modal dan merupakan tipe kelas berstruktur majikan-buruh pada hubungan produksinya.

Dalam proses produksi garam, lahan merupakan alat produksi yang sangat penting bagi petani garam karena diatas lahan itulah kegiatan produksi mereka lakukan. Oleh karena itu struktur penguasaan lahan garam akan menentukan accessibity petani garam pada surplus atas produksinya. Artinya, petani garam lahan sempit dan yang tidak menguasai lahan garam, aksesnya rendah bahkan tidak memiliki akses pada surplus dari produksinya dan sebaliknya petani yang menguasai lahan luas memiliki akses untuk dapat menikmati surplus dari produksi garam.

Dalam hal ini struktur penguasaan lahan juga berpengaruh pada modal produksi yang berkembang, yaitu moda produksi kapitalis pada petani lahan luas dan moda produksi non kapitalis/us aha keluarga (household farm) pada petani kecil dan petani penggarap. Model produksi non kapitalis dalam proses produksi garam di kabupaten. Rembang secara empiris dicirikan oleh adanya hubungan produksi subsisten yang terbatas dalam lingkup keluarga (orang tua, anak, menantu, sepupu) dengan dasar hanya untuk dapat survival, tidak terekspresi adanya perhitungan untung-rugi (cost-benefit calculation). Hal ini jelas sangat berbeda dengan moda produksi kapitalis yang dicirikan oleh hubungan produksi komersial yang berorientasi pada keuntungan (profit). Selain itu kedua moda produksi tersebut dalam banyak kasus memiliki keterkaitan integratif yang bersifat asimetris, yaitu moda produksi kapitalis mendominasi moda produksi non kapitalis dan surplus dari beroperas inya moda produksi non kapitalis diserap ke dalam moda produksi kapitalis melalui mekanisme pasar (market mechanism) dan sistem bagi hasil yang dikembangkan.

Dari hal ini secara sosial ekonomi petani garam yang menguasai lahan terlebih lahan luas relatif lebih maju/kaya dibandingkan dengan petani lahan sempit apalagi petani penggarap/buruh pada umumnya lebih terbelakang/miskin. Sebagai indikatornya tercermin dari beberapa hal

antara lain: pola kerja/usaha, pendapatan/hasil yang diperoleh, relasi sosial yang dikembangkan, kondisi perumahan, jenis dan pola konsumsi makanan, pendidikan. Dengan demikian polarisasi penguasaan lahan garam oleh kapitalis secara signifikan ikut memberi kontribusi bagi marjinalisasi petani garam terutama petani kecil dan petani penggarap/buruh. Hal ini mengingat petani garam di kabupaten Rembang sebagian besar merupakan petani penggarap baik dari pemilik lahan sempit (< 0,5 ha) maupun buruh garap, hanya sebagian kecil petani garam yang memiliki lahan luas (> 5 ha) yang pada umumnya juga bergerak di jalur pemasaran garam sebagai tengkulak/bakul dan pabrikan (pabrik garam rakyat).

Selain itu dominasi kekuatan ekonomi kapitalis atas produksi garam juga ditunjukkan melalui penguasaan mereka terhadap gudang-gudang garam yang merupakan titik pengumpul (collecting point), yaitu tempat pengumpulan garam di tepi/pinggir jalan raya yang dapat dijangkau truk dan sejenisnya milik kaum kapitalis yang menguasai jalur pemasaran garam, bukan milik petani kecil dan penggarap.

Masyarakat Rembang menempatkan garam sebagai komoditas perdagangan yang cukup menarik, maka pada musim panen banyak kelompok sosial di luar petani garam (seperti guru, pegawai pemerintah maupun pegawai swasta dan pemodal) ikut bermain baik sebagai penyetok, tengkulak maupun mak elar. Demikian juga dengan kekuatan ekonomi kapitalis baik pada aras lokal maupun supra lokal, biasa memainkan komoditas garam di mana mereka itu semuanya bergerak di julur pemasaran garam. Bermainnya kelompok -kelompok sosial lain dari berbagai aras pada jalur pemasaran garam ini, di satu sisi dapat menjadi indikator bahwa garam merupakan komoditas yang dapat memberi keuntungan signifikan, tetapi pada sisi lain menjadikan petani garam terutama petani petani kecil dan petani penggarap/buruh semakin tidak memiliki akses ke pasar. Dalam konteks ini tampak bahwa kelompok-kelompok di luar komunitas petani garam yang bertindak sebagai pelaku ekonomi di jalur pemasaran garam, justru cenderung yang menikmati surplus value bukannya petani produsen.

Dengan demikian petani garam sebagai produsen garam krosok dalam konteks perdagangan garam posisinya termarjinal-kan karena adanya penutupan akses ke pasar oleh pelaku ekonomi di jalur pemasaran. Petani (lahan sempit dan penggarap) hanya diposisikan

sebagai produsen. Kondisi itu diperkuat lagi dengan adanya eksploitasi yang terwujud dalam bentuk relasi usaha antara petani penggarap/buruh dengan petani pemilik dan antara petani kecil dengan pelaku usaha lain di jalur pemasaran dan permodalan serta dengan pabrikan sebagai produsen jadi.

Dalam mata rantai usaha garam itu penggarap/buruh adalah pihak yang paling kecil mendapatkan keuntungan dan paling rentan dibandingkan dengan lainnya, baru berikutnya petani kecil dan petani besar. Petani penggarap/buruh sangat tergantung dan ditentukan secara sepihak oleh pemilik, mereka hanya memiliki hak untuk memproduksi garam dengan kewajiban menyerahkan sepenuhnya hak penjualan pada pemilik dan pemiliklah yang menentu-kan harga. Adapun petani hanya dapat menjual pada pedagang yang telah dikenal yang bergerak di jalur pemasaran dan permodalan dan mereka ini yang cenderung mempermainkan harga. Pada dasarnya kondisi yang demikian sudah dapat dikategorikan sebagai eksploitasi, karena adanya unsur kesengajaan penutupan akses oleh pihak tertentu pada pihak lain untuk tidak mendapatkan keuntungan dari sumber daya yang ada. Sebagaimana pada tingkat global, kekuatan ekonomi kapitalis memiliki kecenderungan untuk dengan sengaja menutup akses pelaku ekonomi lokal dan nasional dapat menembus pasar global, agar supaya mereka tetap dapat menguasai dan mendominasi pasar global.

Daftar Pustaka
1. http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/PPKN/article/view/15331 2. http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Petani%20Garam%20dalam%20Jeratan%20Kapitalism e.pdf

TAMBAK IKAN BANDENG (Karmila F1E1 10 063)

Perikanan darat adalah usaha perikanan yang meliputi segala penangkapan dan pemeliharaan ikan yang dilakukan di dalam batas garis pantai. Salah satu kegiatan perikanan darat yang banyak terdapat di pesisir pantai adalah budidaya ikan bandeng di dalam tambak. Tambak dapat dibangun apabila memenuhi syarat yang paling utama, yaitu telah dibuatnya bendungan sebagai tempat penampungan air yang berasal dari air laut serta memiliki sarana saluran air yang memudahkan penambahan air maupun pembuangan air pada waktu panen. Menurut Murtidjo, berdasarkan salinitasnya tambak dapat dibagi menjadi : a. Tambak bersalinitas tinggi, adalah tambak yang sangat dekat dengan garis pantai. b. Tambak bersalinitas menengah, adalah tambak yang agak jauh dari garis pantai, c. Tambak bersalinitas rendah, adalah tambak yang terletak sangat jauh dari garis pantai, tetapi dekat dengan sungai. Usaha budidaya tambak terutama ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan, mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan Ikan bandeng mempunyai nama latin chanos-chanos, yang merupakan sejenis ikan laut yang tersebar dari pantai Afrika Timur sampai kepulauan Timotu, sebelah timur Tahiti, dan dari selatan Jepang sampai Australia Utara. Ikan bandeng dikenal sebagai ikan petualang yang suka merantau. Ikan bandeng ini mempunyai bentuk tubuh langsing mirip terpedo, dengan moncong agak runcing, ekor bercabang dan sisiknya halus. Warnanya putih gemerlapan seperti perak pada tubuh bagian bawah dan agak gelap pada punggungnya. Usaha budidaya tambak ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan, mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di Indonesia.

Dalam membudidayakan ikan bandeng di dalam tambak, ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan sehingga para petani tidak banyak menemui hambatan. Hal ini dikarenakan dalam mengusahakan tambak selain didukung oleh kondisi fisik juga didukung oleh kondisi non fisik yang ada pada lingkungan. Menurut Afrianto, ketentuan-ketentuan yang perlu diperhatikan :

1.

Pemilihan tempat atau lokasi dan kondisi lingkungan berdasarkan pada tekstur tanah, topografi, temperatur air, dan kualitas, serta kuantitas air.

2. 3.

Perencanaan usaha budidaya ikan yang meliputi ukuran unit usaha, penyediaan air, Perencanaan pembuatan tambak yang didasarkan pada pertimbangan biologis dan ekonomis serta cara pengelolaannya. Faktor-faktor yang mendukung usaha budidaya ikan bandeng ini meliputi faktor fisik kimia dan faktor non fisik kimia (sosial ekonomi). Tambak yang diusahakan haruslah dapat memberikan keuntungan dan berlangsung secara terus menerus. Faktor-faktor fisik kimia yang harus diperhatikan dalam pembuatan tambak adalah:

1. 2.

Keadaan tanah (letak, topografi, pH, dan tekstur tanah). Mampu menjamin ketrsediaan air dan pengairan yang memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan; - Pergantian air minimal; 200 % per hari. - Suhu air, 26,5-31,0 0C. - PH; 6,5-8,5. - Oksigen larut; 3,0-8,5 ppm. - Alkalinitas 50-500 ppm. - Kecerahan 20-40 cm (cahaya matahari sampai ke dasar pelataran). - Air terhindar dari polusi baik polusi bahan organik maupun an organik..

3.

Sifat-sifat perairan pantai dalam kaitan dengan pasang surut dan pasang arus perlu diketahui secara rinci.

4.

Faktor-faktor biologis seperti kesuburan perairan, rantai makanan, speciesdominan, keberadaan predator dan kompretitor, serta penyakit endemik harus diperhatikan karena mampu mengakibatkan kegagalan proses produksi.

Menurut Slamet Soeseno, ada beberapa faktor lingkungan yang sangat dominan dalam budidaya ikan bandeng, yaitu: 1. 2. Elevasi (ketinggian tempat) calon lokasi tambak. Keadaan tanah yang menjadi dasar tambak.

Iklim merupakan keadaan rata-rata cuaca dalam jangka waktu tertentu dan dalam suatu wilayah/daerah tertentu juga. Iklim merupakan salah satu fenomena alamiah yang sangat menentukan dalam keberhasilan budidaya. Karena ikan bandeng termasuk hewan rheotaksis positip (menentang arus) maka faktor iklim, terutama curah hujan, perlu diperhitungkan dalam kaitannya dengan osilasi pasang. Air pasang pada saat curah hujan tinggi biasanya mengakibatkan banjir di kawasan pantai. Walaupun banjir tidak sampai merobohkan pematang pada tambak bandeng, tetapi bila ada aliran air di atas pematang maka semua bandeng akan keluar dari tambak (berkaitan dengan sifat rheotaksis positip). Oleh karena itu, untuk mengurangi biaya produksi maka lokasi yang dipilih sebaiknya tidak termasuk daerah kawasan banjir. Pada musim kering, salinitas tinggi tidak terlampau mempengaruhi kelangsungan hidup bandeng bila air sering diganti. Namun demikian, pada salinitas tinggi (> 60 ppt) pertumbuhan bandeng lebih lambat dan sangat peka terhadap stress yang diakibatkan oleh rendahnya oksigen terlarut serta gangguan fisik saat panen. Untuk itu, sebaiknya dipilih lokasi yang beriklim sedang yang tidak mengalami kemarau panjang. Tanah datar yang letaknya berada dekat pantai sangat cocok untuk lokasi tambak. Pada tanah yang bergelombang sebaiknya dibuat datar terlebih dahulu. Tanah yang paling baik adalah tanah paya-paya yang dekat laut dan muara sungai. Daerah ini jarang mengalami kekeringan dan mempunyai unsur hara yang cukup tinggi. Tanah yang digunakan untuk lokasi tambak dicari di daerah yang masih berada di daerah pasang surut. Ketinggian seluruh tempat itu tidak boleh melebihi tinggi permukaan air pasang tertimggi dan juga tidak boleh kurang (lebih rendah) dari permukaan air surut terendah. Untuk membuat tambak, ketinggiannya harus disesuaikan dengan perbedaan pasang surut. Pada umumnya pasang surut di Indonesia adalah 1 2 meter, kecuali di Jawa Timur yang mempunyai ketinggian pasang sampai 3 meter . Tanah merupakan tempat untuk tumbuh tanaman dan tempat kehidupan hewan mikroorganisme yang mampu menghancurkan sampah-sampah yang dibuang ke tanah. Di dalam tanah ini mengandung bahanbahan organik yang diperlukan tumbuhan. Tanah merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha pembudidayaan ikan bandeng. Pada dasarnya tanah tersusun dari partikel-partikel pasir (sand), liat (clay), dan debu (silt) yang proporsinya masing-masing akan menentukan teksturnya. Jadi tekstur tanah ditentukan oleh perbandingan relatif dari ketiga jenis partikel tersebut. Tanah yang baik untuk dijadikan tambak

adalah tanah yang liat dan berlumpur. Tanah demikian sangat keras dan mempunyai kemampuan yang baik dalam menahan air.

INFORMASI TAMBAHAN Budidaya ikan bandeng telah lama dikenal oleh petani dan seat ini telah berkembang di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia, utamanya di daerah Sulawesi Selatan dengan memanfaatkan perairan payau dan pasang surut. Teknologi budidaya ikan ini juga telah mengalami perkembangan yang begitu pesat mulai dari pemeliharaan tradisional yang hanya mengandalkan pasok benih dari alam pada saat pasang sampai ke teknologi intensif yang membutuhkan penyediaan benih, pengelolaan air, dan pakan secara terencana. Ikan ini sangat digemari oleh masyarakat utamanya Sulawesi Selatan. Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau saja namun saat ini juga sedang berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Ikan bandeng sebagai komoditas budidaya mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan komoditas budidaya lainnya dalam hal : 1. Teknologi perbenihannya telah dikuasai dengan baik sehingga pasok benih tidak lagi tergantung pada musim dan benih dari alam. 2. Teknologi budidayanya baik di tambak maupun dalam KJA telah dikuasai dengan baik, secara teknis mudah diaplikasikan dan secara ekonomis menguntungkan. 3. Mampu mentolerir perubahan salinitas mulai dari 0-158 ppt sehingga areal budidayanya cukup luas mulai dari perairan tawar hingga ke perairan laut. 4. Mampu hidup dalam kondisi yang padat di keramba jaring apung (100-300 ekor/m3). 5. Pertumbuhannya cepat (1,6%/hari). 6. Efisien dalam memanfaatkan pakan FCR 1,7-2,2. 7. Pakan komersial untuk ikan ini sudah tersedia dalam jumlah cukup hingga ke pelosok desa. 8. Jaminan pasar baik dalam maupun luar negeri masih terbuka. Permintaan ikan ini dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan baik untuk tujuan konsumsi, umpan bagi industri perikanan tuna cakalang maupun untuk pasar ekspor, sementara

areal budidayanya di darat semakin hari semakin menciut akibat banyaknya lahan tambak yang dikonversi untuk kebutuhan pembangunan lain seperti untuk perumahan, industri, dan pariwisata yang pada gilirannya akan berdampak pada penurunan produksi. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi budidaya bandeng adalah dengan memanfaatkan perairan laut seperti muara sungai, teluk, laguna, dan perairan semacamnya yang memenuhi persyaratan baik teknis, sosial ekonomi, legalitas, maupun lingkungannya. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perairan seperti tersebut di atas layak untuk dijadikan lokasi budidaya dengan sistem keramba jaring apung. Pengkajian tentang kelayakan lokasi, tata lelak, dan desain keramba telah banyak dilakukan. Penggunaan keramba jaring apung untuk budidaya bandeng di laut memiliki beberapa kelebihan di antaranya: 1. Efisien dalam penggunaan lahan 2. Mudah dalam pemanenan baik selektif maupun total 3. Mudah dipantau dan tidak memerlukan pengelolaan air yang khusus seperti di tambak 4. Produktivitasnya tinggi (350-400 kg/keramba 6 m3/musim tanam 6 bulan) 5. Skala usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan modal dengan menggunakan bahanbahan yang tersedia di lokasi budidaya. Demikian halnya dengan ikan bandeng yang diproduksi dalam keramba jaring apung dapat memiliki standar kualitas ekspor yaitu: 1. Sisik bersih dan mengkilat 2. Tidak berbau lumpur 3. Kandungan asam lemak Omega-3 relatit tinggi jika dibandingkan dengan bandeng yang diproduksi pada tambak 4. Dagingnya kenyal dengan aroma yang khas sehingga sangat digemari sebagai ikan bakar di warung-warung sea food 5. Ukurannya bisa mencapai 600-800 g/ekor sesuai dengan permintaan pasar

Prospek Pengembangan Peluang Pasar

Hasil penelitian sederhana yang dilakukan oleh Atjo & Syahrun (2000), diperoleh data bahwa kebutuhan ikan bandeng untuk pasar spesifik berupa rumah-rumah makan sea food, hotel, don pasar swalayan khususnya di Kota Madya Makassar diperkirakan mencapai 6 ton per hari, dan saat ini baru terpenuhi 25%. Selanjutnya dikatakan bahwa problem utama yang dihadapi adalah kontinyuitas produksi, konsistensi mutu, utamanya dalam hal bobot, rasa, ukuran, dan penampilan fisik. Kriteria-kriteria yang dipersyaratkan tersebut akan dapat dipenuhi dan hasil budidaya bandeng yang berasal dari keramba jaring apung di laut. Potensi Sumber Daya Hasil identifikasi yang telah dilakukan terhadap wilayah pesisir dan laut, nampak bahwa lahan yang potensial untuk kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 1,9 jute ha. Dari potensi tersebut yang layak untuk budidaya ikan adalah 369.500 ha dan tersebar di beberapa provinsi di Indonesia Dari luasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan dalam keramba jaring apung seluas 1% atau 3.695 ha. Dukungan lptek Teknologi budidaya bandeng dengan sistem keramba jaring apung di laut mulai dirintis oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros sejak tahun 1993, dan sejak saat itu rutin dilakukan percontohan di berbagai daerah di Indonesia. Saat ini budidaya bandeng dengan sistem KJA tersebut telah berkembang di beberapa daerah seperti Maluku, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Batam, Riau, Bali, dan daerah lainnya di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Budidaya Bandeng. 2008. http//: www.tribun-timur.com/berita/ form98677 Warta Penelitian Perikanan Budidaya Volume II Nimor 1, 2005

KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR (Inda Permatasari Ridwan F1E1 10 064)

Berdasarkan pendapat Nikijuluw dalam Dietriech (2001), Masyarakat pesisir itu sendiri dapat didefinisikan sebagai kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier factor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain. Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakterisik masyarakat agraris atau petani. Dari segi penghasilan, petani mempunyai pendapatan yang dapat dikontrol karena pola panen yang terkontrol sehingga hasil pangan atau ternak yang mereka miliki dapat ditentukan untuk mencapai hasil pendapatan yang mereka inginkan. Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir yang mata pencahariannya didominasi dengan pelayan. Pelayan bergelut dengan laut untuk mendapatkan penghasilan, maka pendapatan yang mereka inginkan tidak bisa dikontrol.nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat open acces dan beresiko tinggi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisir sepeti nelayan memiliki karakter yang tegas, keras, dan terbuka (Satria, 2002)2. Selain itu, karakteristik masyarakat pesisir dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya, aspek pengetahuan, kepercayaan (teologis), dan posisi nelayan sosial. Dilihat dari aspek pengetahuan, masyarakat pesisir mendapat pengetahuan dari warisan nenek moyangnya misalnya mereka untuk melihat kalender dan penunjuk arah maka mereka menggunakan rasi bintang. Sementara, dilihat dari aspek kepercayaan, masyarakat pesisir masih menganggap bahwa laut memilki kekuatan magic sehingga mereka masih sering melakukan adat pesta laut atau sedekah laut. Namun, dewasa ini sudah ada dari sebagian penduduk yang tidak percaya terhadap adatadat seperti pesta laut tersebut. Mereka hanya melakukan ritual tersebut hanya untuk formalitas semata. Begitu juga dengan posisi nelayan sosial, pada umumnya, nelayan bergolong kasta rendah.

Secara sosiologis, masyarakat pesisir memiliki ciri yang khas dalam hal struktur sosial yaitu kuatnya hubungan antara patron dan klien dalam hubungan pasar pada usaha perikanan. Biasanya patron memberikan bantuan berupa modal kepada klien. Hal tersebut merupakan taktik bagi patron untuk mengikat klien dengan utangnya sehingga bisnis tetap berjalan (Satria, 2002)3. Dari masalah utang piutang tersebut sering terjadi konflik, namun konflik yang mendominasi adalah persaingan antar nelayan dalam memperebutkan sumberdaya ikan yang jumlahnya terbatas. Oleh karena itu, sangatlah penting adanya pihak yang dapat mengembangkan sumberdaya laut dan mengatur pengelolaannya. Masyarakat pesisir yang memiliki karakter tegas, keras, dan terbuka memerlukan berbagai strategi dan kegiatan.yang bersifat fleksibel agar dapat berubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Pemberdayaan masyarakat berbasis masyarkat merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakberdayaan yang dialami oleh masyarakat pesisir khususnya para nelayan. Program-program yang telah dilakukan pemerintah untuk

pemberdayaan masyarakat pesisir telah banyak menghasilkan manfaat dan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Namun, tidak sedikit pula program-program yang tidak berhasil karena tidak sesuai dengan harapan masyarakat dan tidak ada keberlanjutan dari masyarakat. Dalam hal ini peranan aktif LSM sangat membantu dalam mengarahkan strategi

pembangunan yang diperlukan masyarakat pesisir dan menunjang pengelolaan sumberdaya lingkungan laut di sekitar tempat tinggal mereka misalnya budidaya perikanan . Pengelolaan ini dilakukan dengan kegiatan nyata yang sesuai dengan warna dari kultur masyarakat setempat. Selain itu LSM harus mampu memberikan masukan dan kritikan bagi strategi pengembangan dan pengelolaan kawasan pesisir. Beberapa contoh adaptasi yang berkaitan dengan tempat tinggal Adaptasi yang dilakukan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai dan menggantungkan sumber penghidupannya dari sumber daya yang ada, menunjukkan adanya keragaman. Contoh yang menunjukkan bagaimana masyarakat yang tinggal di tepi pantai mengadaptasikan dirinya, berkaitan dengan permukiman/tempat tinggal mereka, adalah pola

permukiman kelompok masyarakat Kampung Laut di kawasan Sagara Anakan atau daerahdaerah lain yang mengembangkan dan membangun rumah-rumah mereka di atas tiang-tiang pancang yang relatif tinggi yang menyesuaikan kepada pasang surut laut yang terjadi secara reguler. Selain contoh di atas, pada banyak kasus, pertumbuhan penduduk yang tinggi mendorong penduduk di kawasan pantai untuk merambah/membuka kawasan hutan ,mangrove atau menciptakan lahan-lahan baru yang dapat digunakan sebagai lokasi permukiman dan, terutama, sebagai lahan usaha. Sebagai contoh, di beberapa tempat seperti di kawasan pantai Kabupaten Bekasi, masyarakat dengan sengaja membuat jebakan-jebakan sedimen lumpur di pantai untuk mendapatkan lahan baru atau memperluas lahan yang sudah ada untuk kepentingan kegiatan tambak. Sejalan dengan munculnya lahan-lahan baru (tanah timbul), mereka juga mengembangkan permukimannya. Upaya seperti ini dilakukan oleh masyarakat sebagai respon atas semakin terbatasnya lahan yang mereka miliki/kuasai.

Daftar Pustaka http://famif08.student.ipb.ac.id/2010/06/20/masyarakat-pesisir/ http://ngurahadisanjaya.wordpress.com/2011/10/08/proses-adaptasi-manusia-di-lingkunganpesisir/

Sosial Ekonomi Pembudidaya Rumput Laut (Aulia Fahdilah Tasruddin F1E1 10 068)

Indonesia adalah Negara kepulauan dengan wilayah lautan yang sangat luas yaitu 70 % dari seluruh wilayah Indonesia. Di perairan Indonesia hidup berbagai biota laut, salah satu di antaranya yaitu rumput laut. Berbagai keragaman jenis rumput laut hidup di daerah pesisir maupun yang hidup dalam tambak merupakan cerminan dari potensi rumput laut yang ada di Indonesia. Budidaya rumput laut memiliki peran penting dalam rangka meningkatkan produksi perikanan. Upaya meningkatkan produksi rumput laut dapat ditempuh melalui usaha budidaya dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relative sederhana dan biaya produksi yang murah. Sehingga usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu sumberdaya yang berbasis keunggulan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di daerah pesisir. Untuk menunjang program pembangunan kelautan dan perikanan tersebut, pemerintah telah mewujudkan tiga pilar pembangunan, yaitu pro-poor (pengentasan kemisknan), pro-job (penyerapan tenaga kerja) dan pro-growth (pertumbuhan). Perwujudan dari pada tiga pilar tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan visi dan misi, yaitu Indonesia penghasil produk perikanan terbesar tahun 2015. Guna mendukung visi dan misi tersebut maka usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu jawaban dan pilihan yang paling tepat. Sebagai jawaban dari pada visi dan misi tersebut adalah dengan ketersediaan SDM yang terampil dan kompoten dalam bidang budidaya khususnya budidaya rumput laut. Dalam pembangunan diwilayah pesisir, salah satu pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang digalakkan pemerintah adalah pengembangan budidaya rumput laut. Melalui program ini diharapkan dapat merangsang terjadinya pertumbuhan ekonomi wilayah akibat meningkatnya pendapatan masyarakat setempat. Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun 1980-an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumberdaya alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan Budidaya, 2004).

Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal : (1) produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam, (2) tersedianya lahan untuk budidaya yang cukup luas serta (3) mudahnya teknologi budidaya yang diperlukan (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2001). Saat ini rumput laut merupakan salah satu komoditas prioritas dan unggulan bagi Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini disebabkan rumput laut termasuk jenis komoditi yang mudah dibudidayakan, umur panen singkat hanya 45 hari. Selain itu teknologi yang digunakan cukup sederhana, biaya investasi dan biaya produksi relatif murah, lahan dan bibit mudah dan murah, produksinya baik dengan harga bersaing. Potensi pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kolaka lebih kurang 17.000 Ha yang terletak di sepanjang pesisir dan pulau-pulau kecil. Dimana panjang garis pantai Kabupaten Kolaka 295 km. Sementara potensi lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut Indonesia seluas 4,5 juta Ha. Namun yang dimanfaatkan baru mencapai 2,1 juta Ha atau sekitar 46,6 % dari potensi yang ada. Produksi rumput laut Indonesia termasuk yang terbesar di dunia, khususnya jenis rumput laut yang hanya tumbuh di lautan tropis, seperti Kappaphycus awarezii (cottoni), Eucheuma denticulatum (spinosum) dan Gracilaria sp. Rumput laut Indonesia sudah diakui secara internasional sebagai bahan baku utama untuk sejumlah industri pengolahan rumput laut dunia. Khusus budidaya rumput laut di Kolaka hingga tahun 2010, yang dimanfaatkan seluas 4.130 Ha, dengan jumlah pembudidayaan 5.869 rumah tangga perikanan (RTP), atau kira-kira 17.600 orang. Pengembangan kelompok budidaya juga ditingkatkan, dari 250 kelompok atau 1.500 orang di tahun 2008, meningkat di tahun 2010-2014 sebanyak 2.900 kelompok atau 17.600 orang. Daerah pengembangan rumput laut telah meluas dan tersebar di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Kolaka, Latambaga, Samaturu, Wolo, Wundulako, Pomalaa, Tanggateda, dan Watubangga, dengan 43 desa pesisir, serta pulau-pulau kecil (8 buah). Teknologi budidaya rumput laut yang diterapkan oleh masyarakat saat ini yakni long line dengan menggunakan tali PE. Dengan teknologi tersebut produksi rumput laut kering mencapai 1.500 - 2.000 kg/Ha yang sebelumnya hanya 700 kg/ Ha, karena itu produksi per minggu sekitar 177,65 ton, atau 28.525 ton/tahun. Sementara produksi nasional tahun 2010 sebesar 3,082 juta ton atau melewati target yang telah ditetapkan KKP sebesar 2,574 juta ton. Produksi rumput laut menyumbang utama

produksi perikanan budidaya. Setiap tahun produksi rumput laut terus mengalami peningkatan, dari sebesar 2,574 juta ton pada tahun 2009 menjadi 3,082 juta ton pada tahun 2010. Proses pengolahan rumput laut yang telah dipanen diawali dengan proses pengeringan selama 3-4 hari di atas para-para dengan kisaran kadar air lebih kurang 32-35%. Setelah kering hasil panen tersebut dimasukkan ke dalam karung nilon kapasitas 70-80 kg untuk kemudian disimpan dalam gudang penyimpanan. Kegiatan pemasaran rumput laut di Kabupaten Kolaka dimulai dengan sistem pemasaran lokal (pedagang pengepul), kemudian pedagang tersebut menjualnya ke eksportir yang ada di Makassar dan Surabaya. Dampak positif terhadap ekonomi masyarakat pembudidaya melalui budidaya rumput laut, telah dapat meningkatkan pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan sampai dengan Rp3 juta Rp 5 juta per bulan. Dengan semakin luas dan meningkatnya pemanfaatan rumput laut bagi keperluan bahan baku industri maka prospek usaha budidaya dan perdagangan rumput laut semakin cerah. Masih ada sekitar 7 ribu Ha areal pengembangan budidaya rumput laut yang belum dimanfaatkan. Kabupaten Kolaka berencana melakukan pengembangan produksi rumput laut dengan perluasan areal budidaya dari 4.130 Ha di tahun 2010, menjadi 5.000 Ha di tahun 2014. Ditambah lagi pengembangan kebun bibit rumput laut menjadi 8 unit, dengan nilai anggaran dari masing-masing Rp65 juta menjadi Rp520 juta. Begitu juga dengan pembangunan gudang penyimpanan rumput laut 15 unit, dengan anggaran yang tadinya masing-masing Rp75 juta menjadi Rp1,1 miliar. Selain itu, pemerintah daerah juga memberikan peningkatan anggaran untuk pengadaan mesin katinting, pembangunan jalur dan batas-batas kawasan budidaya rumput laut guna menghindari konflik pemanfaatan kawasan, menyiapkan anggaran bagi kelompok pembudidaya rumput laut pemula, dan menyiapkan dana penguatan modal dengan pola kredit lunak sebesar Rp5 miliar. Salah satu petani rumput laut yang mengalami kenaikan tingkat kesejahteraan karena rumput laut adalah Syamsuddin (40), warga kelurahan Kolakasih Kecamatan Lantambaga Kabupaten Kolaka. Sebelum menjadi petani rumput laut, Syamsuddin bekerja sebagai penambang pasir. Namun karena pendapatannya tidak membaik, bapak 4 orang anak ini akhirnya mencoba untuk ikut dalam kelompok tani pembudidaya ikan untuk budidaya rumput laut (Pokdakan) Bina baru di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga Kolaka pada tahun 2009.

Saat itu ada bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berupa tali PE untuk bentang tanaman rumput laut bagi petani. Berkat dukungan teman-teman kelompoknya, Syamsuddin menerima bantuan 70 bentang tali PE masing-masing sepanjang 25 meter. Ia juga mendapat penyuluhan bagaimana budidaya rumput laut yang benar. Melihat potensi produksinya tinggi dengan masa tanam 40 hari sudah bisa dipanen, Syamsuddin lalu mencoba menanam dan panen dengan hasil maksimal. Selang dua tahun ia sudah memiliki 900 bentang dengan panjang 25 dan 50 meter. Ia bahkan mampu mempekerjakan 10 orang untuk membuat bentang bibit dengan upah Rp2.500 untuk bentang ukuran 25 meter, dan Rp3.500 untuk bentang ukuran 50 meter. Saat ini ia bisa menikmati hasil penjualan rumput kering sebanyak 1 ton setiap kali panen dengan harga jual ke pengepul sebesar Rp9 ribu Rp10 ribu per kg. Saya sangat bahagia karena kini bisa meningkatkan penghasilan saya dan merekrut tenaga kerja karena budidaya rumput laut, ujarnya.

Daftar Pustaka

Sumber dari situs : http://www.setkab.go.id/mobile/index.php?pg=artikeldetail&articleid=2837 diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 12.16 http://kendariekspres.com/content/view/13324/52/ diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 13.20 http://DitjenkanBudidaya.com.2004/budidayarumputlaut// diambil pada tanggal 28 desember 2011 jam 12.23

KEHIDUPAN MASYARAKAT PENAMBANG BATU KARANG (Febrizah F1E1 10 077)

Terumbu karang adalah struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang, terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Tergantung dari jenis, dan kondisi perairannya, terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa mm saja per tahunnya. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam. Terdapat ribuan spesies yang hidup di kawasan terumbu karang. Namun hanya sebagian yang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu. Organisme pembentuk terumbu yang terpenting adalah hewan karang. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21 29 C. Masih dapat tumbuh pada suhu diatas dan dibawah kisaran suhu tersebut, tetapi pertumbuhannya akan sangat lambat. Itulah sebabnya terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewati aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida, Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang. Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus cahaya matahari yang digunakan oleh zooxanthellae untuk berfotosintesis. Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18 29 m sangat lambat tetapi masih ditemukan hingga kedalaman iebih dari 90 m. Karang memerlukan salinitas yang tinggi untuk tumbuh, oleh karena itu, di sekitar mulut sungai atau pantai atau sekitar pemukiman penduduk akan lambat karena karang membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup. Fungsi Terumbu Karang
y

Pelindung ekosistem pantai

Terumbu karang akan menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya.
y

Rumah bagi banyak jenis mahluk hidup di laut Terumbu karang bagaikan oase di padang pasir untuk lautan. Karenanya banyak hewan dan tanaman yang berkumpul di sini untuk mencari makan, memijah, membesarkan anaknya, dan berlindung. Bagi manusia, ini artinya terumbu karng mempunyai potensial perikanan yang sangat besar, baik untuk sumber makanan maupun mata pencaharian mereka. Diperkirakan, terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang, termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penhidupan.

Sumber obat-obatan Pada terumbu karang banyak terdapat bahan-bahan kimia yang diperkirakan bisa menjadi obat bagi manusia. Saat ini banyak penelitian mengenai bahan-bahan kimia tersebut untuk dipergunakan untuk mengobati berbagai manusia.

Objek wisata Terumbu karang yang bagus akan menarik minat wisatawan sehingga meyediakan alternatif pendapatan bagi masyarakat sekitar. Diperkirakan sekitra 20 juta penyelam , menyelam dan menikmati terumbu karang per tahun.

Daerah Penelitian Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. Selain itu, masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahui misteri laut tersebut.

Mempunyai nilai spiritual

Bagi banyak masyarakat, laut adalah daerah spiritual yang sangat penting, Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual ini. Kondisi Terumbu Karang

Pada laporan Reef at Risk (2002) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan status terumbu karang yang paling terancam. Selama 50 tahun terakhir, proporsi penurunan kondisi terumbu karang Indonesia telah meningkat dari 10% menjadi 50%. Lebih lanjut, hasil survey P2O LIPI (2006) menyebutkan bahwa hanya 5,23% terumbu karang di Indonesia yang berada di dalam kondisi yang sangat baik. Laporan status terumbu karang dunia yang dikeluarkan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) menyebutkan bahwa selama 2004 hingga 2008 luasan area terumbu karang semakin menurun. Dalam periode 2004 hingga 2008, 19% luasan terumbu karang dunia telah hilang, 15% terancam hilang 10-20 tahun kedepan dan 20% luasan terancam hilang 20-40 tahun mendatang. Di Indonesia sendiri 34% berada dalam kondisi sangat buruk 42% agak baik sedang hanya 21% dalam kondisi sehat dan 3 % sangat sehat. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan terumbu karang saat ini dalam kondisi yang menghawatirkah mulai dari kondisi ozon kita saat ini yang merupakan efek dari rumah kaca,

bencana alam dan masih banyak lagi yang diantaranya oleh karena ulah dari perusahaanperusahaan penambangan yang tidak melakukan peraturan-peraturan yang telah diberikan baik yang telah mendapatkan surat izin terlebih lagi penambangan legal Adapun lagi sekarang yang merupakan ulah dari masyarakat setempat yang melakukan penambangan maupun pengambilan yang kita ketahui bersama bahwa pengambilan karang merupakan kegiatan merusak terumbu karang yang banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pada umumnya. Penyebab utama penambangan karang adalah tidak tersedianya bahan bangunan, terutama batu pada suatu daerah, sehingga alternatif termudah adalah mengambil dari terumbu karang. Jenis yang umum diambil adalah karang batu (stony coral; Porites spp) dan tidak jarang karang yang diambil tersebut masih hidup. Karang yang diambil dipergunakan untuk membuat bangunan/rumah, jalan, lapangan bola, (banyak kasus di Maluku, Kalimantan Timur). Di Sulawesi Selatan, ribuan meter kubik karang batu dan sebagian besar merupakan karang hidup dipakai untuk membuat tanggul-tanggul tambak yang diambil dari terumbu karang pada bagian depan tambak. Di Lombok (Mataram), karang yang ditambang digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kapur. Pada daerah-daerah yang tidak memiliki bahan galian seperti batu yang dapat dipakai dalam pembuatan bangunan atau untuk memperoleh bahan-bahan bangunan tersebut sangat jauh, maka penambangan karang merupakan alternatif yang terbaik dan termudah yang dapat dilakukan, walaupun banyak sekali masyarakat yang sadar bahwa kegiatan mereka dapat merusak ekosistim terumbu karang. Penambangan karang berpotensi

menghancurkan ribuan meter persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air. Dampak Bagi Kehidupan Dari Penambangan dan Pengambilan Batu Karang 1. perlindungan terhadap ekosistem pantai akan berkurang karena tidak mampu lagi memecah energy gelombang untuk mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan sekitarnya. Dengan begitu maka masyrakat yang tinggal di bagian pesisir yang akan mendapatkan imbasnya dan masyarakat yang ikut melakukan penambangan maupunn pengambilan terumbu karang akan merasakan akibatnya secara langsung pada musim-musim tertentu

dan yang paling fatal bila terjadi bencana alam di laut maka tak ada lagi yang dapat meredam ombak. 2. .Rumah yang digunakan bagi banyak jenis makhluk hidup di laut ini akan hilang, yang artinya bagi manusia potensial perikanan yang sangat besar dengan adanya terumbu karang tersebut akan berkurang dan untuk sumber makan maupun mata pencaharian mereka akan semakin sulit karena diperkirakan, terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang, termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penghidupannya. Dengan begitu maka pendapan dan kehidupan bagian pesisirpun akan menurun dan ini akan sangat dirasakan oleh para nelayan sekitar atau yang berpencaharian disekitar pesisir.

3. Pencarian obat-obatan dengan terumbu karang akan semakin sulit dan akan semakin meningkat harganya.

4. Objek wisata yang juga merupakan sumber pendapan bagi sebagian masyarakat sekitar akan menurun. Dalam hal ini maka pemerintah harus lebih giat dalam melakukan peninjauan pada daerahdaerah tersebut dan memberikan pengetahuan yang penting pada masyarakat sekitar agar masalah-masalah yang dapat timbul bisa berkurang. Dengan begitu maka mata pencaharian maupun sumber makanan bagi mereka akan tetap ada dan kebersihan lautpun akan tetap terjaga dengan begitu maka kualitas hidup masyarakat pesisirpun akan semakin baik. Selain itu juga peraturan maupun hukum yang telah ada untuk perlindungan terhadap terumbu karang harus lebih ditegakkan agar para perusahaan maupun masyarakat yang melakukan penambangan tidak menimbulkan akibat yang dapat merugikan. Selain berpengaruh pada masyarakat sekitar maupun perusahaan penambangan terumbu karang juga memberikan keuntungan kepada Negara seperti di Negara kita Indonesia memberikan keuntungan pendapatan sebesar US$1,6 milyar/tahun. Nilai keseluruhan pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai setidaknya US$ 61,9 milyar/tahun.

Oleh sebab itu pemberian pengetahuan tentang pentingnya terumbu karang kepada masyarakat pesisir sangatlah penting karena bagaimana cara hidup mereka saat ini juga dapat menimbulkan akibat ataupun gambaran kehidupan mereka kedepannya sebab mereka yang dapat merasakan langsung akibat perbuatan yang mereka lakukan.

Referensi http://www.terangi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=8%3Afaktor-faktoryang-merusak-terumbu-karang&catid=17%3Aterumbukarang&Itemid=12&lang=id#ixzz1hqSixN8I

Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Non Perikanan (Rika Hardiyanti Pagala F1E1 10 083)

( PENENUN )

Pembahasan : Populasi masyarakat pesisir didefinisikan sebagai kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir.

Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa pariwisata, penjual jasa transportasi, serta kelompok masyarakat lainnya yang memanfaatkan sumberdaya non-hayati laut dan pesisir untuk menyokong kehidupannya. Terutama yang akan saya bahas yaitu masyarakat pesisir yang mata pencahariannya adalah menenun. Penenun merupakan pekerjaan populer bagi kaum hawa,terutama yang hidup dan bermukim di daerah pesisir maupun daerah yang terpencil. Menenun adalah kebiasaan dan tradisi sehat yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan hanya dengan melihat secara terus menerus kebiasaan ibu-ibu mereka, gadis-gadis remaja dengan sendirinya bisa memulai menenun tanpa harus diajari. Kebiasaan, ketekutan, konsistensi dan selanjutnya adalah penemuan atas media penyaluran kreatifitas dan ekspresi, yang membuat para gadis remaja itu terpanggil untuk melanjutkan tradisi dari nenek moyang mereka.

Gambar para gadis yang melanjutkan warisan nenek moyangnya yaitu menenun

Kain tenun mempunyai banyak fungsi penggunaan di masyarakat, selain sebagai mata pencahrian, berikut adalah fungsi dari kain tenun: 1. Sebagai busana untuk penggunaan sehari-hari dan mentupi badan. 2. Sebagai busana dalam tari adat dan upacara adat. 3. Sebagai mahar dalam perkawinan dalam bahasa daerah disebut sebagai belis nikah. 4. Sebagai pemberian dalam acara kematian dan sebagai wujud penghargaan. 5. Sebagai penunjuk status social. 6. Sebagai alat untuk membayar hukuman jika terjadi ketidakseimbangan. 7. Sebagai alat barter/transaksi

8. Sebagai betuk cerita mengenai mitos dan cerita-cerita yang tergambar di motif- motif nya. 9. Sebagai bentuk penghargaan bagi tamu yang datang berkunjung.

Contohnya Dari dermaga Desa Tanjung Luar yang berada di bagian Selatan Pulau Lombok, tampak pulau Maringkik Di pulau yang memiliki luas 16 hektar are ini, perempuanperempuannya menenun kain khas Maringkik. Penenun Maringkik mewarisi keahlian menenun dari nenek moyang mereka yang sejak dahulu mendiami pulau ini. Rata-rata di tiap rumah di pulau ini memiliki alat tenun peninggalan leluhur mereka sehingga dua hingga empat perempuan di masingmasing rumah kesehariannya adalah menenun. Tenun khas Maringkik terdiri dari tenun ikat kain Bugis, tenun corak Palembang, corak Tanjung dan yang mulai langka adalah tenun Mandar Tenunan khas pulau Maringkik dijual dengan harga Rp 200.000 hingga Rp 250.000. Makin banyak kembang atau coraknya maka harganya makin mahal. Proses menenun satu kain memakan waktu 7-14 hari. Proses pencelupan warna yang mereka jadikan motif, adalah proses yang dianggap paling sulit. Tenun khas Maringkik berkembang alami sesuai kemampuan dan keahlian para penenun tradisional ini.

Mereka sangat berharap, pemerintah daerah setempat dapat membantu mereka untuk memberikan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan mutu dan kualitas tenunan. Termasuk juga keluhan mereka tentang susahnya memasarkan tenunan Maringkik. Sejauh ini, hasil tenun mereka dipasarkan di pulau Maringkik serta di Tanjung Luar dan sekitarnya. Lebih jauh dari itu, tenun Maringkik belum dapat dipasarkan. Padahal, hasil tenunan tersebut bisa membuat para ibu rumah tangga ini bisa membantu ekonomi keluarga, di mana suami-suami mereka nota bene bermata pencaharian sebagai nelayan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.cybertokoh.com Bengen, D.G. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu, Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Sumberdaya BerbasisMasyarakat. Bogor, 21-22 September 2001.

^ "Fungsi Kain Tenun". http://www.neonnub.co.cc/2010/12/pesona-ttu.html