Anda di halaman 1dari 21

A. PRAKTIKUM B.

JUDUL

:1 : Pengaruh Bahan Kimia (Zat Antimikroba) Terhadap

Pertumbuhan Bakteri E.Coli. C. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Mikroorganisme dapat menyebabkan banyak bahaya dan kerusakan. Hal itu nampak dari kemampuannya menginfeksi manusia, hewan serta tanaman yang dapat menimbulkan penyakit berkisar dari infeksi ringan sampai kepada kematian. Mikrorganisme pun dapat mencemari kimiawi makanan dengan menimbulkan perubahan-perubahan

didalamnya yang membuat makanan tersebut tidak dapat

dimakan atau bahkan beracun. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian mikroorganisme.

Pengendalian ini dapat dilakukan dengan menghambat, membasmi atau menyingkirkan mikroorganisme. Salah satu cara pengendalian ini adalah dengan bahan kimia. Banyak zat kimia dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme. Berbagai substansi tersebut menunjukkan efek antimikrobialnya dalam berbagai cara dan terhadap berbagai macam mikroorganisme. Setiap zat kimia juga memiliki keterbatasan dalam keefektifannya. Cara kerja zat-zat kimia dalam menghambat atau mematikan mikroorganisme itu berbeda-beda. Beberapa diantaranya struktur dinding sel atau membran sel. mengubah

2. Tujuan Praktikum a. Untuk mengetahui pengaruh bahan kimia (zat antimikroba) terhadap pertumbuhan bakteri E.coli. b. Untuk mengetahui zona hambat dan luas zona sensitifitas

D. DASAR TEORI Menurut Adnan, (2011) Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai berbagai macam senyawa kimia baik organik maupun anorganik bersifat racun terhadap jasad renik. Sehubung dengan itu usaha manusia dalam mengatasi jasad renik. Penyebab penyakit banyak dilakukan menggunakan bahan kimia. Senyawa kimia yang mematikan jasad renik disebut dengan disinfektan. Disinfektan adalah zat kimia yang mematikan sel vegetatif tetapi belum tentu mematikan bentuk mikroorganisme penyebab suatu penyakit. Beberapa kelompok utama disinfektan yaitu: 1. Fenol dan persenyawaan penolat 2. Alkohol 3. Hidrogen 4. Logam berat dan persenyawaannya 5. Detergen 6. Aldehid 7. Kemosferilisator gas 8. Oxidator 9. Aerosol 10. Yodium 11. Zat warna 12. Preparat Chlor 13. Sabun Cara kerja zat-zat kimia dalam mematikan atau menghambat

pertumbuhan mikroorganisme berbeda-beda antara lain dengan merusak dinding, mengubah permeabilitas sel, menghambat kerja enzim, menghambat sintesis protein, dan asam nukleat dan sebagai anti metabolik. Disinfektan digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan dan kontaminasi dengan mikroba. Pengendalian yang dimaksud adalah semua kegiatan yang dapat membunuh, menghambat, dan sebagai anti metabolik (Pelczar, 2009: 457).

Serangan suatu zat antimikroba dapat diduga dengan meninjau struktur serta komposisi sel mikroba. Suatu sel hidup yang normal memiliki sejumlah besar enzim yang melangsungkan proses-proses metabolik dan juga protein lainnya, asam nukleat serta senyawa-senyawa lain. Membran semipermeabel (membran sitoplasmik) mempertahankan integritas kandungan selular, membran tersebut secara selektif mengatur keluar masuknya zat antar sel dengan lingkungan luar. Dinding sel merupakan penutup lindung bagi sel selain berpartisipasi didalam proses-proses fisiologis tertentu (Pelczar, 2009: 456). Mikroorganisme yang dihambat mempunyai proses penghambatan yang sama dan perbedaannya adalah sifat resisten yang berbeda-beda antara mikroorganisme satu dengan yang lainnya. Sifat resisten ini dapat dipengaruhi oleh kandungan lipid pada membran selnya. Teknik dan cara-cara yang digunakan dapat dengan cara fibrik atau kimiawi diantaranya dapat

menggunakan senyawa-senyawa fenolik, alcohol, chlor, iodium, dan senyawasenyawa lain yang mempunyai ciri komposisi molekuler yang dapat

menyebabkan terjadinya reaksi (Adnan, 2011). Adapun cara kerja zat antimikrobial ini menurut Pelczar dan chan (2009), antara lain sebagai berikut: 1. Kerusakan pada dinding sel. Struktur dinding sel dapat dirusak dengan cara menghambat pembentukannya atau mengubahnya setelah selesai terbentuk. 2. Perubahan permeabilitas sel. Membran plasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel serta mengatur aliran keluar masuknya bahan-bahan lain. Membran memelihara integritas komponen-komponen selular.

Kerusakan pada membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel. 3. Perubahan molekul protein dan asam nukleat. Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul protein dan asam nukleat dalam keadaan alamiahnya, yaitu mendenaturasikan protein dan asam-asam nulkleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali.

4. Penghambat kerja enzim 5. Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda yang ada didalam sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat. Penghambatan ini juga dapat mengakibatkan

terganggunya metabolisme atau matinya sel. 6. Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein 7. DNA, RNA dan protein memegang peranan amat penting didalam proses kehidupan normal sel. Hal itu berarti bahwa gangguan apapun yang terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel. Selain itu, ada juga faktor-faktor yang mempengaruhi kerja antimikrobial. Adapun faktor-faktor tersebut menurut Pelczar dan Chan (2009), adalah sebagai berikut: 1. Jumlah mikroorganisme Diperlukan banyak waktu untuk membunuh populasi, dan bila jumlah selnya banyak, maka perlakuan harus diberikan lebih lama supaya kita cukup yakin bahwa semua sel tersebut mati. 2. Suhu Kenaikan suhu yang sedang secara besar dapat menaikkan keefektifan suatu disinfektan atau bahan antimikrobial lain. 3. Spesies mikroorganisme Spesies mikroorganisme menunjukkan kerentanan yang berbedabeda terhadap sarana fisik dan bahan kimia.telah kita ketahui bahwa pada spesies pembentuk spora, sel vegetatif yng sedang tumbuh lebih mudah dibunuh dibandingkan dengan sporanya. 4. Adanya bahan organik Adanya bahan organik ini, dapat menurunkan keefektifan zat kimia antimikrobial dengan cara menginaktifkan bahan-bahan tersebut atau melindungi mikroorganisme daripadanya. Sebagai contoh, adanya bahan organik didalam campuran disinfektan mikroorganisme dapat mengakibatkan:

a. Penggabungan disinfektan dengan bahan organik membentuk produk yang tidak bersifat mikrobiosidal. b. Penggabungan disinfektan dengan bahan organik

menghasilkan suatu endapan, sehingga disinfektan tidak mungkin lagi mengikat mikroorganisme. c. Akumulasi bahan organik pada permukaan sel mikroba, menjadi suatu pelindung yang akan mengganggu kontak antara disinfektan dan sel. 5. Kemasaman atau kebasaan (ph) Mikroorganisme yang terdapat pada bahan dengan ph asam dapat dibasmi pada suhu yang lebih rendah dan dalam waaktu yang lebih singkat dibandingkan dengan mikroorganisme yang sama didalam lingkungan yang basa. Dalam praktikum pertama ini, saya mendapatkan percobaan mengamati perkembangan bakteri E.coli. Bakteri E.coli merupakan bakteri berbentuk batang dengan panjang sekitar 2 micrometer dan diamater 0.5 micrometer. Volume sel E. coli berkisar 0.6-0.7 micrometer kubik. Bakteri ini termasuk umumnya hidup pada rentang 20-40 derajat C, optimum pada 37 derajat. (Anonim, 2011) Klasifikasi ilmiah Escherichia coli adalah: Kingdom : Bacteria Phylum Class Order Family Genus Species : Proteobacteria : Gamma proteobacteria : Enterobacteriales : Enterobacteri aceae : E s c he r i c hi a : Escherichia coli

Menurut Pelzar dan Chan (2009), menyatakan bahwa bakteri yang lebih muda kurang daya tahannya terhadap disinfektan jika dibandingkan bakteri yang luar yang memberikan hasil zona hambat yang terbentuk. Hal ini juga sesuai dengan sifat dari dinding sel dari bakteri. Struktur dinding bakteri gram positif adalah tebal dan berlapis tunggal dengan kandungan peptidoglikan yang tinggi serta lebih resisten terhadap gangguan fisik maupun kimia dibandingkan dengan struktur dinding sel dari kedua jenis bakteri ini jelas berbeda karena bakteri gram negatif. Permeabilitas dinding sel dari jenis bakteri ini jelas berbeda karena bakteri gram negatif mengandung peptidoglikan lebih sedikit sehingga memiliki pori-pori yang besar dibanding gram positif sehingga bakteri gram positif lebih rentan terhadap antibiotik. (Adnan, 2011). Pada umumnya jika kita mendengar kata bakteri, yang langsung terbayang adalah makhluk amat kecil yang berbahaya karena menyebabkan berbagai penyakit. Bakteri Escherichia coli adalah salah satu jenis bakteri yang sering dibicarakan. Cukup banyak masyarakat yang tahu E. coli namun hanya sebatas bakteri ini adalah penyebab infeksi saluran pencernaan. Namun banyak sebenarnya yang patut diketahui dari bakteri ini (Yalun, 2008). Kita mungkin banyak yang tidak tahu jika di usus besar manusia terkandung sejumlah E. coli yang berfungsi membusukkan sisa-sisa makanan. Dari sekian ratus strain E. coli yang teridentifikasi, hanya sebagian kecil bersifat pathogen, misalnya strain O157:H7. Bakteri yang namanya berasal dari sang penemu Theodor Escherich yang menemukannya di tahun 1885 ini merupakan jenis bakteri yang menjadi salah satu tulang punggung dunia bioteknologi. Hampir semua rekayasa genetika di dunia bioteknologi selalu melibatkan E. coli akibat genetikanya yang sederhana dan mudah untuk direkayasa. Riset di E. coli menjadi model untuk aplikasi ke bakteri jenis lainnya. Bakteri ini juga merupakan media cloning yang paling sering dipakai. Teknik recombinant DNA tidak akan ada tanpa bantuan bakteri ini (Yalun, 2008). Banyak industri kimia mengaplikasikan teknologi fermentasi yang memanfaatkan E. coli. Misalnya dalam produksi obat-obatan (insulin,

antiobiotik), high value chemicals (1-3 propanediol, lactate). Secara teoritis, ribuan jenis produk kimia bisa dihasilkan oleh bakteri ini asal genetikanya sudah direkayasa sedemikian rupa guna menghasilkan jenis produk tertentu yang

diinginkan. Jika mengingat besarnya peranan ilmu bioteknologi dalam aspekaspek kehidupan manusia, maka tidak bisa dipungkiri juga betapa besar manfaat E. coli bagi kita. (Yalun, 2008). Selain itu, ada yang menggunakan bakteri lain seperti Salmonella thypi dan Staphylococcus aureus. Klasifikasi bakteri Salmonella thypi adalah:

Kerajaan Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Bakteria : Proteobakteria : Gamma Proteobakteria : Enterobakteriales : Enterobakteriakceae : Salmonella : Salmonella thypi

Bakteri

patogen

Salmonella

thypi

dan

Staphylococcus

aureus

merupakan bakteri penyebab penyakit yang berbahaya bagi kehidupan manusia. Salmonella thypi menyebabkan penyakit thypus yakni demam tifoid yang dapat menyerang semua organ tubuh manusia secara sistemik. (Sukiman, 2011).

Salmonella adalah suatu genus berbentuk batang, Gram-negatif, enterobacteria non-spora membentuk, terutama motil dengan diameter sekitar 0,7-1,5 pM, panjang dari 2 sampai 5 pM, dan flagela yang berproyek di segala penjuru yaitu peritrichous (Amirien, 2011). Adapun bakteri lain yang digunakan adalah: Kingdom Divisio Class OrdO Family Genus Species : Monera : Firmicutes : Bacilli : Bacillales : Staphylococcaceae : Staphylococcus : Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak, tidak berspora dan mampu membentuk kapsul. Berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur. Ukuran Staphylococcus berbeda-beda tergantung pada media pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcus memiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning (Balqis, 2008). Bakteri yang tergolong berbentuk kokus gram positif ada dua famili yaitu : Famili Micrococcaceae dan Famili Streptococcaceae. Anggota Famili

Micrococcaceae ditandai dengan adanya enzim sitokrom yang memberikan tes benzidin dan katalase positif. Famili ini memiliki 2 genus yaitu : genus Staphylococcus dan genus Micrococcus. Sedangkan anggota Famili

Streptococcaceae tidak ditemukan enzim sitokrom sehingga dengan tes benzidin dan test katalase hasilnya negatif. Famili ini memiliki 2 genus yaitu : genus Streptococcus dan genus Aerococcus (Dita, 2011).

Disinfektan merupakan proses yang mematikan semua mikroorganisme patogen dengan cara kimiawi atau fisik. Disinfeksi mempunyai daya kerja terhadap vegetatif dari mikroorganisme, tetapi belum tentu mematikan sporanya, sedangkan antiseptis merupakan proses yang mencakup inakvikasi atau mematikan mikroorganisme dengan cara kimiawi. Antiseptik dapat bersifat bakterisidal atau bakteri kostatik. Proses bakteri kostatik hanya menghentikan pertumbuhan bakteri. Istilah disinfeksi dan antiseptis secara umum sulit dibedakan, sehingga penggunaanya boleh dikatakan sinonim. (Adnan, 2011)

Menurut Pelczar (2009), Setiap zat kimia mempunyai keterbatasan dalam keefektifannya. Adapun ciri-ciri suatu disinfektan yang efektif atau idel untuk digunakan adalah: 1. Aktivitas antimikrobial ialah kemampuan substansi untuk mematikan mikroorganisme. Pada konsentrasi rendah, zat tersebut harus

mempunyai aktivitas antimikrobial dengan spektrum luas. 2. Kelarutan. Harus dapat larut dalam air atau pelarut-pelarut lain untuk dapat digunnakan secara efektif.

3.

Stabilitas. Perubahan yang terjadi pada substansi, bila dibiarkan beberapa lama harus seminimal mungkin dan tidak boleh

mengakibatkan kehilangansifat antimikrobialnya. 4. 5. Tidak bersifat racun bagi manusia dan hewan lainnya. Keserbasamaan. Di dalam penyiapannya, komposisinya harus seragam sehingga bahan aktifnya selalu terdapat pada setiap aplikasinya. Bahan kimia murni memang seragam, tapi campuran berbagai bahan belum tentu serba sama. 6. 7. 8. Tidak bergabung dengan bahan organik. Aktivitas antimikrobial pada suhu kamar atau suhu tubuh. Kemampuan untuk menembus. Kecuali bila substansi tersebut dapat menembus permukaan, maka aksi antimikrobialnya hanya terbatas pada situs aplikasinya saja. 9. Tidak menimbulkan karat dan warna. Senyawa itu tidak boleh menimbulkan karat, sebab jika tidak demikian maka akan menimbulkan cacat pada logam, dan tidak menimbulkan warna. 10. Kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap. Kemampuan suatu zat mendisinfeksi sambil menghilangkan bau tak sedap merupakan sifat yang dikehendaki. 11. Berkemampuan sebagai detergen. Suatu disinfektan yang juga

merupakan detergen mempunyai keuntungan sebagai pembersih memperbaiki keefektifannya sebagai disinfektan. 12. Ketersediaan dan biaya.harus tersedia dalam jumlah yang besar dan harga yang pantas. Disinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran oleh jasad renik atau obat untuk membasmi kuman penyakit Pengertian lain dari disinfektan adalah senyawa kimia yang

bersifat toksik dan memiliki kemampuan membunuh mikroorganisme yang terpapar secara langsung oleh disinfektan. Disinfektan tidak memiliki daya penetrasi sehingga tidak mampu membunuh mikroorganisme yang terdapat di dalam celah atau cemaran mineral. Selain itu disinfektan tidak dapat membunuh spora bakteri sehingga dibutuhkan metode lain seperti sterilisasi dengan autoklaf (Wikipedia, 2011)

Efektivitas disinfektan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya lama paparan, suhu, konsentrasi disinfektan, pH, dan ada tidaknya bahan

pengganggu. pH merupakan faktor penting dalam menentukan efektivitas disinfektan, misalnya saja senyawa klorin akan kehilangan aktivitas disinfeksinya pada pH lingkungan lebih dari 10. Contoh senyawa pengganggu yang dapat menurunkan efektivitas disinfektan adalah senyawa organic. (Wikipedia, 2011) Jenis-jenis disinfektan menurut Wikipedia (2011) antara lain: 1. Klorin Senyawa klorin yang paling aktif adalah asam hipoklorit.

Mekanisme kerjanya adalah menghambat oksidasi glukosa dalam sel mikroorganisme dengan cara menghambat enzim-enzim yang terlibat dalam metabolisme karbohidrat Kelebihan dari disinfektan ini adalah mudah digunakan, dan jenis mikroorganisme yang dapat dibunuh dengan senyawa ini juga cukup luas, meliputi bakteri gram positif dan bakteri gram negatifKelemahan dari disinfektan berbahan dasar klorin adalah dapat menyebabkan korosi pada pH rendah (suasana asam), meskipun sebenarnya pH rendah diperlukan untuk mencapai efektivitas optimum disinfektan ini. Klorin juga cepat terinaktivasi jika terpapar senyawa organik tertentu. 2. Alkohol Alkohol disinfektan yang banyak dipakai untuk peralatan medis, contohnya termometer oral. Umumnya digunakan etil alkohol dan isopropil alcohol dengan konsentrasi 60-90%, tidak bersifat korosif terhadap logam, cepat menguap, dan dapat merusak bahan yang terbuat dari karet atau plastik. 3. Formaldehida Formaldehida atau dikenal juga sebagai formalin, dengan konsentasi efektif sekitar 8%. Formaldehida merupakan disinfektan yang bersifat karsinogenik pada konsentrasi tinggi namun tidak korosif

terhadap metal, dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan pernapasan. Senyawa ini memiliki daya inaktivasi mikroba dengan spektrum luas. Formaldehida juga dapat terinaktivasi oleh senyawa organic. Pada praktikum ini saya mendapatkan 3 zat antimikroba saja, yaitu formalin, betadine dan detergen. Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya

sebagai obat pembunuh bakteri, tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. (Arudewangga, 2011). Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik, melainkan juga

merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandung empat bagian. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah, digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan, karena zat ini tidak merusak jaringan, lagipula tidak

menyebabkan sakit. Sebagai larutan yang encer pun zat ini dapat membunuh bangsa jamur, dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. (Arudewangga, 2011).

E.

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

1.

WAKTU DAN TEMPAT a. b. Waktu Tempat : Jumat, 28 Oktober 2011. 14.00 WIB : Laboratorium Universitas Muhammadiyah Palembang

4. ALAT DAN BAHAN a. Alat : cawan petri, tabung reaksi, pinset, bunsen, rak tabung

reaksi, jarum ose, sprayer dan inkubator. b. Bahan : formalin, betadine dan detergen.

5. CARA KERJA a. Inokulasikan bakteri ke seluruh permukaan media NA dalam cawan petri secara aseptis dengan menggunakan kapas lidi steril. b. Masukkan masing-masing bahan kimia kedalam gelas beaker kira-kira 5 ml. Kemudian rendam paper dish berdiamater 6 mm selama 15 menit kedalam bahan kimia tersebut. c. Setelah 15 menit paper dish direndam, jepit paper dish dengan pinset steril lalu tiriskan sebentar di pinggiran beaker glass sehingga larutan/ bahan kimia tidak menyebar dipermukaan media NA. d. Letakkan paper dish tersebut secara aseptis diatas permukaan media NA yang sudah diinokulasi bakteri dengan pinset steril,

kemudian tekan secara perlahan agar paper dish menempel erat pada permukaan NA. e. Bungkus cawan petri secara terbalik. Mengapa? Karena dengan dibungkus terbalik, memudahkan bakteri E.coli menyatu dengan media agar, dan supaya bakteri tidak terkontaminasi dengan udara, Sehingga terbentuklah zona hambat. Dengan kertas putih kemudian inkubasi selama 24 jam dengan suhu 37C dalam inkubator. f. Setelah inkubasi 24 jam ukur diameter zona hambat yang terbentuk dengan jangka sorong.

F.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. HASIL PRAKTIKUM

Gambar 1. Betadine Sumber : (Dokumentasi Pribadi, 2011)

Gambar 2. Cawan petri yang telah dibungkus kertas dan siap dimasukkan kedalam inkubator. Sumber : (Dokumentasi Pribadi, 2011)

Gambar 3. Media agar yang telah dibagi menjadi 3 bagian zat antimikroba yaitu betadine, formalin dan detergen. Sumber : (Dokumentasi Pribadi, 2011)

Gambar 4. Bunsen Sumber : (Dokumentasi Pribadi, 2011)

Gambar 5. Detergen Sumber : (Dokumentasi Pribadi, 2011)

Gambar 6. Formalin Sumber : (Dokumentasi Pribadi, 2011)

Tabel 1. Hasil Perhitungan Zona Sensitifitas NO BAHAN ANTIMIKROBA Betadine Formalin Detergen d r LUAS. LUAS. LINGKARAN LINGKARAN KECIL BESAR 0.2826 cm 0.191 cm 0.2826 cm 0.567 cm 0.2826 cm 1.306 cm LUAS. ZONA SENSITIFITAS 1.6274 cm 0.2844 cm 1.0234 cm

1 2 3

1.56 cm 0.85 cm 1.29 cm

0.78 cm 0.425 cm 0.645 cm

Grafik 1. Hasil Perhitungan Zona Sensitifitas


3

2 luas zona hambat 1 luas lingkaran besar luas lingkaran kecil 1

0 betadine formalin detergen

2.

PEMBAHASAN Pada percobaan ini kami melakukan pengujian daya desinfeksi dan

antiseptik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan bakteri. Adapun zat antimikroba yang kami gunakan adalah betadine, formalin dan detergen. dengan Desinfeksi adalah usaha untuk memusnahkan mikroorganisme menggunakan zat-zat kimia tertentu. Dalam memusnahkan

mikroorganimse itu digunakanlah desinfektan, yaitu zat kimia yang digunakan untuk mendesinfeksi. (Diana, 2010). Dari grafik diatas, menunjukkan bahwa dari ketiga macam zat antimikroba yang diuji dengan bakteri E.coli dalam cawan petri memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap pertumbuhan bakteri. Yang paling efektif adalah betadine.

Formaldehide adalah desinfektan yang baik apabila digunakan sebagai gas. Agen ini sangat efektif di daerah di daerah tertutup sebagai formalin bila dalam larutan cair sekitar 37%. Formaldehid (atau formalin) menghancurkan spora bakteri dan fungi, namun uapnya yang sangat tajam mengganggu

penggunaannya. Agen ini digunakan dalam pengawetan specimen latoraratorium dan dapat digunakan dalam desinfeksi sepatu yang membawa fungi pada penyakit kaki karena kutu air (Diana, 2010). Deterjen meliputi besar agen aktif permukaan. Agen-agen ini biasanya lebih efektif terhadap organisme gram positif daripada gram negative dan kelihatannya mengeluarkan pengaruh desinfeksi dengan perusakan membran dan denaturasi protein. Betadine mempunyai efek antiseptic yang sedang karena kemampuannya mengoksidasi (Diana, 2010). Jika desinfektan menghambat pertumbuhan bakteri, maka akan terlihat daerah jernih atau zona bening di sekitar kertas cakram.

Keaktifan suatu disinfektan bergantung pada lama tidaknya waktu kontak. Dari gambar 3, terbentuk zona hambat pada masing-masing zat antimikroba yang ada di cawan petri. Dan disekitar paper dish banyak di terdapat koloni bakteri E.coli. Adapun diameter zona hambat pada setiap zat antimikroba tersebut berbedabeda, yaitu dapat dilihat pada tabel 1. Diameter pada betadine adalah 1.56 cm, pada formalin 0.85 dan pada detergen 1.29 cm. Dan luas paper dishnya 0.2826 cm.

G. KESIMPULAN 1. Pengendalian mikroorganisme dapat dilakukan dengan menghambat, membasmi atau menyingkirkan mikroorganisme. Salah satu cara pengendalian ini adalah dengan bahan kimia. 2. Disinfektan adalah zat kimia yang mematikan sel vegetatif tetapi belum tentu mematikan bentuk mikroorganisme penyebab suatu penyakit. 3. Contoh-contoh zat kimia yang digunakan adalah betadine, formalin dan detergen. 4. Cara kerja zat-zat antimikroba antara lain dengan merusak dinding, mengubah permeabilitas sel, menghambat kerja enzim, menghambat sintesis protein, dan asam nukleat dan sebagai anti metabolik. 5. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik, melainkan juga

merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. 6. Formaldehid (atau formalin) menghancurkan spora bakteri dan fungi, namun uapnya yang sangat tajam mengganggu penggunaannya. 7. Betadine mempunyai efek antiseptic yang sedang karena

kemampuannya mengoksidasi. 8. Terbentuk zona hambat pada setiap zat antimikroba pada cawan petri dengan ukuran yang berbeda-beda. 9. Zona hambat terbentuk karena adanya disinfektan dan antiseptik yang menghambat pertumbuhan bakteri E.coli.

DAFTAR PUSTAKA Michael J. Pelczar and E.C.S Chan. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2. Jakarta: UI-Press. Adnan. 2010. Laporan Praktikum Uji Sensitifitas. http://kesmasunsoed.blogspot.com/2010/06/laporan-praktikum-uji-sensitifitas.html, diakses tanggal 1 November 2011. Arudewangga. 2011. Pengaruh Lingkungan dan Fisiologis Terhadap Pertumbuhan Mikroba. http://arudewangga.blog.uns.ac.id/2011/02/12/makalah-mikrobiologilingkungan-pengaruh-lingkungan-dan-fisiologis-terhadap-pertumbuhanmikroba/, diakses tanggal 1 November 2011. Diana. 2010. Desinfeksi dan Desinfektan. http://dianapple.blogspot.com/2010/08/desinfeksi-dan-desinfektan.html, diakses tanggal 1 November 2011. Wikipedia. 2011. Disinfektan. http://id.wikipedia.org/wiki/Disinfektan, diakses tanggal 1 Novwmber 2011. Yalun. 2008. Mengenal Bakteri Escherichia coli. http://yalun.wordpress.com/2008/10/07/mengenal-bakteri-escherichiacoli/, diakses tanggal 1 November 2011.

LAMPIRAN PRAKTIKUM I Perhitungan Luas Zona Sensitifitas BETADINE d1= 1.6 d2= 1.35 d3= 1.8 d4= 1.75 d5= 1.35 d6= 1.55 Nilai d =



1.56 cm
. d . 1.56 cm = 0.78 cm =    = 1.91 cm

Nilai r = =

Luas lingkaran besar

Luas Zona Sensitifitas

= L. Lingkaran besar L. Lingkaran kecil = 1.91 cm - 0.2826 cm = 1.6274 cm

FORMALIN d1 = 0.8 d2 = 0.9 d3 = 0.85 d4 = 0.9 d5 = 0.8 d6 = 0.9 Nilai d =

0.85 Cm

Nilai r = = =

. d . 0.85 cm = 0.425 cm =  =  

Luas Lingkaran besar

= 0.567 cm Luas Zona Sensitifitas = L. Lingkaran besar L. Lingkaran kecil = 0.567 cm - 0.2826 cm = 0.2844 cm

DETERGEN d1 = 1.65 d2 = 1.3 d3 = 0.85 d4 = 1.1 d5 = 1.6 d6 = 1.25 Nilai d =

1.29 Cm

Nilai r = = =

. d . 1.29 cm = 0.645 cm =  =  

Luas Lingkaran besar

= 1.306 cm Luas Zona Sensitifitas = L. Lingkaran besar L. Lingkaran kecil = 1.306 cm - 0.2826 cm = 1.0234 cm