Anda di halaman 1dari 121

STUDI STRUKTUR KOMUNITAS BIVALVIA DAN GASTROPODA

DI PERAIRAN MUARA SUNGAI KERIAN DAN SUNGAI SIMBAT


KECAMATAN KALIWUNGU KABUPATEN KENDAL

SKRIPSI

Oleh :
DEDI SYAFIKRI
K2D003207

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2008

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
STUDI STRUKTUR KOMUNITAS BIVALVIA DAN GASTROPODA
DI PERAIRAN MUARA SUNGAI KERIAN DAN SUNGAI SIMBAT
KECAMATAN KALIWUNGU KABUPATEN KENDAL

Oleh :
DEDI SYAFIKRI
K2D003207

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat U` ntuk Memperoleh


Derajat Sarjana S1 Pada Program Studi Ilmu Kelautan Jurusan Ilmu Kelautan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2008

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Dengan ini saya, Dedi Syafikri menyatakan bahwa Karya Ilmiah/Skripsi

ini adalah asli hasil karya saya sendiri dan Karya Ilmiah ini belum pernah

diajukan sebagai pemenuhan persyaratan untuk memperoleh gelar kesarjanaan

strata satu (S1) dari Universitas Diponegoro maupun Perguruan Tinggi lain.

Semua informasi yang dimuat dalam Karya Ilmiah ini yang berasal dari

penulis lain, baik yang dipublikasikan maupun tidak, telah diberikan

penghargaan dengan mengutip nama sumber penulis secara benar dan semua isi

Karya Ilmiah/Skripsi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya sebagai

penulis.

Semarang, 25 Maret 2008


Penulis,

Dedi Syafikri
NIM. K2D003207

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
     

       
     
      

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang


mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi
segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia
jadikan antara keduanya dinding dan batas yang
menghalangi. (QS : Al Furqaan 53).

De mi mat a har i d an s inarn ya d i p ag i har i, De mi b ulan


ap ab il a me ng iri ng i,
De mi s iang ap ab il a me na mp akk an dir i, De mi ma lam ap ab ila
me nut up i,
De mi l ang it de ng an s e luruh b inaan nya, De mi b umi se rt a
yang ad a d i hamp ara nnya,
De mi ji wa de ng an s e luruh pe nye mp urn aann ya,
All ah me ng ilh amk an s uk m a kef as ik an d an ke t ak wa an,
M ak a be runt ung l ah o rang ya ng me ns ucik a nnya, D an
me rug ila h o rang yang me ng ot o rin ya.

I Want To DediCaTe
For My LoveLy Family
My Father, My Mother & My
BroTher

Message For My Friends


Yakin, Tekun & dilandasi
Kesabaran
Adalah kunci selesainya
Skripsi ini.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Studi Struktur Komunitas Bivalvia dan Gastropoda

di Perairan Muara Sungai Kerian dan Sungai

Simbat Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal

Nama Mahasiswa : Dedi Syafikri

Nomor Induk Mahasiswa : K2D 003 207

Jurusan / Program Studi : Ilmu Kelautan / Ilmu Kelautan

Mengesahkan :

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Nur Taufiq Spj, DEHW, M.App.Sc. Ir. Widianingsih, M.Sc.


NIP. 131 675 258 NIP. 132102827

Dekan Ketua
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Jurusan Ilmu Kelautan

Prof. Dr. Ir. Yohannes Hutabarat, M.Sc. Ir. Irwani, M.Phill.


NIP. 130 529 700 NIP. 131 964 516

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Studi Struktur Komunitas Bivalvia dan Gastropoda

di Perairan Muara Sungai Kerian dan Sungai

Simbat Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal

Nama Mahasiswa : Dedi Syafikri

Nomor Induk Mahasiswa : K2D 003 207

Jurusan / Program Studi : Ilmu Kelautan / Ilmu Kelautan

Skripsi ini Telah Disidangkan di Hadapan Tim Penguji

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Pada Tanggal : 25 Maret 2008.

Mengesahkan :

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

Ir. Nur Taufiq Spj, M.App.Sc Ir. Widianingsih, M.Sc.


NIP. 131 675 258 NIP. 132 102 827
Penguji Penguji Penguji

Dr. Ir.Ambariyanto, MSc Ir. Hadi Endrawati, DESU Dra. Ken Suwartimah
NIP. 131 771 275 NIP. 131 899 736 NIP. 131 675 254
Panitia Ujian Skripsi
Ketua

Dr. Rudhi Pribadi, MSc.


NIP. 131 962 240

RINGKASAN

Dedi Syafikri. K2D003207. Studi Struktur Komunitas Bivalvia Dan


Gastropoda Di Perairan Muara Sungai Kerian Dan Sungai Simbat Kecamatan
Kaliwungu Kendal. (Nur Taufiq Spj dan Widianingsih)

Muara sungai adalah tempat bercampurnya dua massa air yaitu massa air
tawar dan air laut yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik perairan seperti
musim, pasang surut, arus, suhu, dan salinitas. Daerah muara sungai memiliki
berbagai macam fungsi dan peranan bagi kelangsungan hidup biota perairan
khususnya hewan bentik. Bivalvia dan gastropoda merupakan salah satu
komoditas perikanan laut, yang bernilai ekonomis dan juga ekologis.
Keberadaannya dapat memberi gambaran mengenai kondisi ekologis suatu
wilayah perairan. Meningkatnya aktifitas manusia di sekitar perairan muara
sungai dimungkinkan akan mempengaruhi habitat tersebut yang selanjutnya
memberi dampak pada kehidupan biota di dalamnya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan struktur
komunitas bivalvia dan gastropoda yang terdapat di sekitar perairan muara

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Sungai Kerian dan Sungai Simbat Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2007 berlokasi di perairan Muara
Sungai Kerian dan Sungai Simbat Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survai sekala terbatas dan
bersifat diskriptif, sedangkan untuk pengumpulan data menggunakan Sample
survey method. Penentuan stasiun didasarkan pada beberapa pertimbangan
sehingga diharapkan dapat mewakili daerah penelitian (Purpose sampling
method). Stasiun dibagi menjadi 14, yaitu 7 stasiun di Muara Sungai Kerian dan
7 stasiun di Muara Sungai Simbat. Materi yang digunakan yaitu Bivalvia dan
Gastropoda yang di dapatkan dari hasil sampling di wilayah ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelimpahan tertinggi bivalvia di
stasiun 7 Sungai Simbat (3,846 ind/dm3), terendahnya di stasiun 4 sungai yang
sama (0,170 ind/dm3). Sedangkan kelas Gastropoda kelimpahan tertinggi di
stasiun 3 Sungai Kerian (9,786 ind/dm3), terendahnya di stasiun 2 Sungai
Simbat (0,509). Untuk kelas Bivalvia indeks keanekaragaman tertinggi terdapat
di stasiun 6 Sungai Kerian (1,340), sementara Indeks keseragaman tertinggi di
stasiun 6 Sungai Simbat (0,935), sedangkan nilai indeks keanekaragaman dan
keseragaman terendahnya terdapat di stasiun 3, 4,5 Sungai Kerian dan stasiun 4
Sungai Simbat. Indeks dominansi tertingginya di stasiun 4 dan 5 masing-masing
bernilai 1, sedangkan terendahnya di stasiun 2 (0,283). Indeks keanekaragaman
tertinggi kelas Gastropoda terdapat di stasiun 4 Sungai Kerian (1,227) dan
terendahnya di stasiun 5 Sungai Simbat (0), sementara indeks keseragaman
tertinggi di stasiun 6 Sungai Kerian (0,989) dan terendahnya di stasiun 5 Sungai
Simbat (0). Untuk Indeks dominansi tertinggi terdapat di stasiun 5 Sungai
Simbat sebesar 1 sedangkan terendahnya di stasiun 5 Sungai Kerian (0,330).

Kata kunci : Muara, Sungai Kerian, Sungai Simbat, Bivalvia, Gastropoda.


SUMMARY

Dedi Syafikri. K2D003207. Community Structure Study of Bivalve and


Gastropods in Kerian and Simbat Rivermouth of Kaliwungu Kendal
(Nur Taufiq Spj. and Widianingsih)

Rivermouth is a place where two water mass are mixed, there are insipid
water mass and sea water that influenced by physic characteristic of water such
as climate, tidal wave, current, temperature, and salinity. Rivermouth areas have
so many role and function for continuity of life of water biota, especially
benthic. Bivalve and gastropods are one of sea fisheries commodity, which
valuable from economics and ecology aspect. Their existence can give a
description about ecological condition of estuary area. The increase of human
activity around rivermouth area assumed can affect the habits and then the biota
inside it.
The aim of this research is to know about abundance and community
structure of bivalve and gastropods that exist in around Kerian and Simbat

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Rivermouth of Kaliwungu Kendal. This research was conducted on July 2007
that located on Kerian and Simbat Rivermouth of Kaliwungu Kendal. This
research method was using limited scale survey method and have descriptive
feature, and then data collecting was using sample survey method. Station
selection is based on a few calculations so it can be represent the research area
(purpose sampling method). The stations are divided to 14, which are 7 stations
in Kerian rivermouth and 7 other in Simbat rivermouth. Samples used are
bivalve and gastropods taken from the research area.
The result showed that highest abundance of bivalve in station 7 of
Simbat River (3.846 ind/dm3), with lowest value is in station 4 in the same river
(0.170 ind/m3). Meanwhile the highest value of class Gastropods is in station 3
of Kerian River (9.786 ind/m3), with the lowest value is in station 2 of Simbat
River (0.509 ind/m3). Highest diversity index for class Bivalve is in station 6 of
Kerian River (1.340), while highest homogeneity index is in station 6 of Simbat
River (0.935), for lowest value of diversity and homogeneity index are in station
3, 4, 5 of Kerian river and station 4 of Simbat river. Highest domination index is
in station 4 and 5 for each value is 1, with the lowest value in station 2 (0.283).
Highest diversity index of class Gastropods is in station 4 of Kerian River
(1.227) and lowest value in station 5 of Simbat River (0), while highest
homogeneity index is in station 6 of Kerian River (0.989) with the lowest value
in station 5 Simbat River (0). To highest domination index is in station 5 Simbat
River with value 1, while lowest value is in station 5 Kerian river (0.330).

Keyword: Rivermouth, Kerian River, Simbat River, Bivalve, Gastropods

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah

memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

penyusunan Laporan Penelitian / Skripsi yang berjudul “Studi Struktur Komunitas

Bivalvia dan Gastropoda di Perairan Muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat

Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal”.

Pada kesempatan ini Penulis ucapkan terima kasih kepada :

1. Ir. Nur Taufiq Spj, DEHW, M.App.Sc. selaku dosen pembimbing utama

dalam penelitian untuk skripsi ini.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
2. Ir. Widianingsih, M.Sc. selaku pembimbing dalam pelaksanaan penelitian dan

penulisan skripsi ini.

3. Ir. Hariyadi, MT. Selaku dosen wali yang selama ini telah mendampingi dan

mengarahkan saya baik di dalam ataupun di luar proses perkuliahan.

4. Para Dewan Penguji yang telah memberikan segala bentuk saran dan koreksi

dalam perbaikan skripsi ini.

5. Pimpinan dan Staf Laboratorium Jurusan Ilmu Kelautan Universitas

Diponegoro di Tembalang, Semarang atas fasilitas dan bantuannya.

6. Semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini.

Penulis menyadari penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu kritik dan saran yang membangun senantiasa penulis harapkan untuk

perbaikannya.

Semarang, 25 Maret 2008

Penulis

DAFTAR ISI

Halama

LEMBER PENGESAHAN............................................................................ iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH.......................................... iv

RINGKASAN.................................................................................................. v

SUMMARY...................................................................................................... vi

KATA PENGANTAR...................................................................................... vii

DAFTAR ISI.................................................................................................... viii

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
DAFTAR TABEL............................................................................................ xi

DAFTAR GAMBAR....................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xiii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.................................................................................. 1


1.2. Pendekatan Masalahan...................................................................... 2
1.3. Tujuan Penelitian.............................................................................. 4
1.4. Manfaat Penelitian............................................................................ 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Struktur Komunitas............................................................................. 6
2.2. Bivalvia.............................................................................................. 7
2.2.1. Morphologi Bivalvia................................................................ 7
2.2.2. Sistematika Bivalvia............................................................... 8
2.2.3. Habitat Bivalvia....................................................................... 11
2.2.4. Kebiasaan Makan..................................................................... 12
2.3. Gastropoda......................................................................................... 12
2.3.1. Morphologi Gastropoda.......................................................... 12
2.3.2. Sistematika Gastropoda.......................................................... 14
2.3.3. Habitat Gastropoda.................................................................. 16
2.3.4. Kebiasaan Makan.................................................................... 17
2.4. Parameter Lingkungan....................................................................... 18
2.4.1. Kecepatan Arus........................................................................ 20
2.4.2. Kedalaman............................................................................... 20
2.4.3. Kecerahan ............................................................................... 20
2.4.4. Suhu......................................................................................... 21
2.4.5. Derajat Keasaman (pH) ........................................................... 22
2.4.6. Subtrat Dasar............................................................................ 22
2.4.7. Salinitas.................................................................................... 23
2.4.8. Bahan Organik......................................................................... 23

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
BAB III. MATERI DAN METODA
3.1. Waktu dan Tempat.............................................................................. 26
3.2. Peta Lokasi Penelitian........................................................................ 26
3.3. Alat dan Bahan Penelitian.................................................................. 27
3.4. Metoda Penelitian ............................................................................. 27
3.4.1. Penentuan Lokasi Penelitian................................................... 28
3.4.2. Pengambilan Sampel............................................................... 29
3.5. Analisa Data....................................................................................... 31
3.5.1. Kelimpahan............................................................................. 31
3.5.1. Indeks Keanekaragaman......................................................... 31
3.5.2. Indeks Keseragaman............................................................... 33
3.5.3. Indeks Dominansi................................................................... 33
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil .................................................................................................. 35
4.1.1 Kondisi Daerah Penelitian...................................................... 35
4.1.2 Kelimpahan............................................................................ 36
4.1.2.1. Kelimpahan Bivalvia................................................ 36
4.1.2.2. Kelimpahan Gastropoda............................................ 38
4.1.3 Kelimpahan Relatif................................................................. 40
4.1.3.1. Kelimpahan Relatif Bivalvia...................................... 40
4.1.3.2. Kelimpahan Relatif Gastropoda................................. 42
4.1.4. Nilai Indeks dalam Komunitas................................................ 43
4.1.4.1 Nilai Indeks Komunitas Bivalvia................................ 43
4.1.4.2 Nilai Indeks Komunitas Gastropoda........................... 44
4.1.5 Parameter Lingkungan............................................................. 45
4.2. Pembahasan......................................................................................... 47
4.2.1. Kondisi Perairan...................................................................... 47
4.2.2. Kelimpahan Bivalvia dan Gastropoda..................................... 48
4.2.3. Indeks Keanekaragaman, Keseragaman dan Dominansi........ 58

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan........................................................................................ 63
5.2. Saran.................................................................................................. 64

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 65
LAMPIRAN..................................................................................................... 70

DAFTAR TABEL

Tabel Halama
n

1. Kriteria kandungan bahan organik dalam sedimen ....................................25


2. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian........................ .................27
3. Kelimpahan total bivalvia di Muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat.....38
4. Kelimpahan total gastropoda di Muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat40
5. Persentase kelimpahan relatif bivalvia di setiap stasiun pengamatan......41
6. Persentasekelimpahan gastropoda di setiap stasiun pengamatan...............42
7. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi bivalvia.........43
8. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi gastropoda. .45

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
9. Parameter lingkungan dan rata-rata kelimpahan bivalvia dan gastropoda
di Sungai Kerian dan Sungai Simbat...................................... ........................46

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Bagan alir penyelesaian penelitian.............................................................. 5

2. Bagian cangkang bagian dalam dan luar Bivalvia...................................... 8


3. Bagan cangkang Gastropoda....................................................................... 3
4. Faktor-faktor kualitas air yang mempengaruhi komunitas bentos.............. 9
5. Peta lokasi Sungai Kerian dan Sungai Simbat............................................ 6
6. Histogram kelimpahan total bivalvia.......................................................... 7
7. Histogram kelimpahan total gastropoda..................................................... 9

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Koordinat lokasi penelitian......................................................................... 70


2. Jumlah total bivalvia dan gastropda tiap stasiun di muara Sungai Kerian
dan Sungai Simbat...................................................................................... 71
3. Persentase kelimpahan relatif bivalvia tiap stasiun di muara Sungai
Kerian dan Sungai Simbat.......................................................................... 72
4. Persentase kelimpahan relatif gastropoda tiap stasiun di muara Sungai
Kerian dan Sungai Simbat.......................................................................... 73
5. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman dan indeks
dominansi bivalvia periode I....................................................................... 74
6. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman dan indeks

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
dominansi bivalvia periode II.................................................................... 75
7. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks
dominansi bivalvia periode III..................................................................... 76
8. Rerata perhitungan kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman
dan indeks dominansi bivalvia selama 3 periode pengambilan.................. 77
9. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman dan indeks
dominansi gastropoda periode I................................................................. 70
10. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman dan indeks
dominansi gastropoda periode II................................................................. 80
11. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman dan indeks
dominansi gastropoda periode III............................................................... 81
12. Rerata perhitungan kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman
dan indeks dominansi bivalvia selama 3 periode pengambilan................. 82
13. Grafik kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman
dan indeks dominansi……………………………………………………. 84

14. Histogram kelimpahan relatif komposisi bivalvia dan gastropoda (%) di


Sungai Kerian dan Sungai Simbat............................................................ 85
15. Data pasang surut paruh bulan Juli 2007................................................... 86
16. Pola arus saat pasang menuju surut pada musim peralihan dari musim
barat ke musim timur................................................................................. 87
17. Pola arus saat surut menuju pasang pada musim peralihan dari musim
barat ke musim timur................................................................................ 88
18. Dokumentasi keadaan lokasi penelitian..................................................... 89
19. Dokumentasi kegiatan dan peralatan penelitian……………………….... 90
20. Dokumentasi biota sempel……………………………………………..... 91
21. Klasifikasi Bivalvia…………………………………………………….... 92
22. Klasifikasi Gastropoda………………………………………………....... 95
23. Metode penentuan jenis sedimen dasar..................................................... 98
24. Analisa kandungan bahan organik............................................................. 99

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Makrobenthos yang hidup di dasar perairan merupakan contoh dari jenis-

jenis biota dari ekologi bentik. Kelompok organisme yang dominan menyusun

makrofauna di subtrat dasar perairan sub litoral (pasir, lumpur dan lumpur

berpasir) terbagi kedalam empat kelompok taksonomi yaitu : Kelas Polychaeta

dan Crustacea, Filum Echinodermata dan Mollusca. Khusus mollusca biasanya

terdiri dari berbagai spesies bivalvia penggali dan beberapa gastropoda di

permukaan pada subtrat (Nybakken,1992). Komunitas bentik memegang

peranan utama di lingkungannya, komunitas ini berperan dalam mengubah

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
detritus organik menjadi biomassa invertabrata, yang pada akhirnya biomassa

ini berperan dalam siklus makanan dan energi (Mann,1982).

Komunitas bentik memiliki fauna yang sangat beragam.

Keanekaragaman yang tinggi di dalam komunitas manggambarkan beragamnya

komunitas ini (Stowe, 1987). Setiap habitat dasar memiliki struktur komunitas

hewan bentik yang berbeda satu dengan yang lainnya, dikarenakan tiap hewan

bentik memiliki daya dan kemampuan adaptasi yang berbeda. Bervariasinya

habitat menyebabkan perbedaan penyebaran hewan bentik (Kennish, 1990).

Muara sungai adalah daerah dimana terjadi pertemuan air sungai untuk

masuk ke laut atau disebut juga estuaria. Estuaria atau muara sungai adalah

saluran tempat masuknya massa air dari laut ke dalam sungai, yang jauhnya

dibatasi oleh kenaikan pasang surut, yang biasanya dapat dibagi menjadi

beberapa bagian yang berbeda. Menurut Nontji (1986) sungai merupakan

perairan terbuka yang mengalir (lotik) yang mendapat masukan dari semua

buangan dari berbagai kegiatan manusia di daerah pemukiman, pertambakan,

pertanian, dan industri di daerah sekitarnya. Masukan buangan ke dalam sungai

akan mengakibatkan terjadinya perubahan faktor fisika, kimia, dan biologi di

dalam perairan. Perubahan ini dapat mempengaruhi keberadaan bahan-bahan

yang essensial dalam perairan sehingga dapat mengganggu lingkungan perairan.

Kondisi muara sungai dan ekosistem yang ada pada umumnya dipengaruhi debit

sungai, gelombang, arus pasang surut serta makrozoobentos yang menempati

lingkungan tersebut. Keempat faktor tersebut bekerja secara simultan, tapi

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
biasanya salah satu faktor mempunyai faktor yang paling dominan dari yang

lainnya (Triatmojo, 1999).

1.2. Pendekatan Masalah

Perairan muara memiliki ciri fluktuasi salinitas yang bergantung pada

musim, pasang surut dan jumlah air tawar. Demikian pula dengan suhu perairan

muara cenderung lebih bervarisai dibandingkan perairan di dekatnya karena

volume air kecil sedangkan luas permukaan lebih besar. Sementara itu tingkat

kecerahan parairan muara cenderung lebih rendah dibandingkan parairan

sekitarnya terutama saat aliran sungai maksimum.

Sungai Kerian dan Suangai Simbat adalah dua sungai di perairan pantai

Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal yang bermuara di pantai utara Jawa

Tengah. Tingkat aktifitas manusia di sekitar muara kedua sungai ini semakin

meningkat, diantaranya penangkapan ikan, dan beberapa jenis hewan bentos

oleh masyarakat setempat maupun pendatang, di lingkungan tersebut juga ada

aktifitas produksi industri PT. Kayu Lapis Indonesia (PT. KLI) yang tepat

berada di sebelah timur Muara Sungai Kerian serta aktifitas pembangunan

pelabuhan penyebrangan Kabupaten Kendal yang berada diantara kedua muara

sungai dan sampai saat ini masih dalam proses pengerjaan.

Meningkatnya aktivitas manusia di sekitar lingkungan perairan muara ini

memungkinkan terpengaruhnya beberapa faktor lingkungan yang pada akhirnya

akan memberi pengaruh pada individu dan juga komunitas hewan bentik,

sebagaimana kita ketahui faktor lingkungan dalam suatu ekosistem akan

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
mempengaruhi jumlah dan jenis fauna yang hidup di dalamnya. Hal ini

didukung oleh pendapat Nybakken (1992) yang menyebutkan bahwa kehidupan

hewan bentik pada ekosistem perairan sangat dipengaruhi oleh kualitas

lingkungan, lingkungan biotik maupun abiotik akan mempengaruhi kelimpahan

dan keseragaman jenis biota di lingkungan tersebut.

Invertebrata bentos merupakan salah satu komponen kunci dalam jaring

- jaring makanan di lingkungan perairan dan dampak yang mengenai populasi

invertebrata ini dapat memberi gambaran pada tingkatan tropik yang lebih

tinggi. Karateristik dari populasi bentik dapat memberikan informasi terhadap

perubahan kondisi habitat bentik.

Kajian ekologis tentang struktur komunitas hewan benthos penting

dalam kaitannya dengan pendugaan kualitas perairan (Gambar 1.1). Sehubungan

dengan kondisi lingkungan yang ada maka dipandang perlu dilakukan penelitian

lebih lanjut mengenai kelimpahan dan distribusi populasi hewan

makrozoobentos di daerah tersebut.

1.3. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan struktur

komunitas Bivalvia dan Gastropoda yang terdapat di Muara Sungai Kerian dan

Sungai Simbat Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal.

1.4. Manfaat

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

keberadaan, kelimpahan dan struktur komunitas hewan Makrobenthos pada

kelas Bivalvia dan Gastropoda yang terdapat di Sungai Kerian dan Sungai

Simbat Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal kepada masyarakat sekitar

dan pihak-pihak yang terkait dengan upaya pelestarian sumberdaya alam.

Sebagaimana yang diungkapkan Datta dan Sarangi (1986) dalam Putro dan

Nganro (2000), studi hewan bentos dapat digunakan sebagai salah satu indikator

biologis perubahan lingkungan dalam suatu ekosistem. Pemantauan terhadap

adanya bahan pencemar pada suatu kawasan pesisir dapat ditandai dengan

melihat komunitas hewan bentos di kawasan tersebut.

Studi Pustaka

Survei awal

Penentuan stasiun dan


Persiapa sampling

Pengukuran parameter oceanografi :


Salinitas, suhu, pH, kedalaman, dan Sampling :
kecerahan Pengambilan sampel bivalvia,
gastropoda dan subtrat dasar

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Analisa data : Data sekunder:
1. Analisa Distribusi dan kelimpahan 1. Data Pasang surut
2. Analisa Keanekaragaman 2. Data Gelombang
3. Analisa Keseragaman 3. Data Arus
4. Analisa Domonansi 4. Kualitas Perairan

Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 1.1. Bagan alir penyelesaian penelitian

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Struktur Komunitas

Kelimpahan suatu organisme dalam suatu perairan dapat dinyatakan

sebagai jumlah individu persatuan luas atau volume. Sedangkan kepadatan

relatif adalah perbandingan antara kelimpahan individu tiap jenis dengan

keseluruhan individu yang tertangkap dalam suatu komunitas. Dengan

diketahuinya nilai kepadatan relatif maka akan didapat juga nilai indeks

dominansi. Sementara kepadatan jenis adalah sifat suatu komunitas yang

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
menggambarkan tingkat keanekaragam jenis organisme yang terdapat dalam

komunitas tersebut. Kepadatan jenis tergantung dari pemerataan individu dalam

tiap jenisnya. Kepadatan jenis dalam suatu komunitas dinilai rendah jika

pemerataannya tidak merata (Odum, 1993).

Indeks keanekaragaman (H’) dapat diartikan sebagai suatu

penggambaran secara sistematik yang melukiskan struktur komunitas dan dapat

memudahkan proses analisa informasi-informasi mengenai macam dan jumlah

organisme. Selain itu keanekaragaman dan keseragaman biota dalam suatu

perairan sangat tergantung pada banyaknya spesies dalam komunitasnya.

Semakin banyak jenis yang ditemukan maka keanekaragaman akan semakin

besar, meskipun nilai ini sangat tergantung dari jumlah inividu masing-masing

jenis (Wilhm dan Doris 1986). Pendapat ini juga didukung oleh Krebs (1985)

yang menyatakan bahwa semakin banyak jumlah anggota individunya dan

merata, maka indeks keanekaragaman juga akan semakin besar.

Indeks keanekaragaman (H’) merupakan suatu angka yang tidak

memiliki satuan dengan kisaran 0 – 3. Tingkat keanekaragaman akan tinggi jika

nilai H’ mendekati 3, sehingga hal ini menunjukkan kondisi perairan baik.

Sebaliknya jika nilai H’ mendekati 0 maka keanekaragaman rendah dan kondisi

perairan kurang baik (Odum, 1993).

Menurut Leviton (1982) yang dimaksud dengan indeks keseragaman

adalah komposisi tiap individu pada suatu spesies yang terdapat dalam suatu

komunitas. Indeks keseragaman (e) merupakan pendugaan yang baik untuk

menentukan dominasi dalam suatu area. Apabila satu atau beberapa jenis

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
melimpah dari yang lainnya , maka indeks keseragaman akan rendah. Jonathan

(1979) menyatakan bahwa jika nilai indeks keseragaman melebihi 0,7

mengindikasikan derajat keseragaman komunitasnya tinggi.

2.2. Bivalvia

2.2.1. Morphologi Bivalvia

Bivalvia atau lebih dikenal dengan nama kerang, mempunyai dua keping

atau belahan yaitu belahan sebelah kanan dan kiri yang disatukan oleh suatu

engsel bersifat elastis disebut ligamen dan mempunyai satu atau dua otot

adductor dalam cangkangnya yang berfungsi untuk membuka dan menutup

kedua belahan cangkang tersebut. Untuk membedakan belahan kanan dan

balahan kiri cangkang terkadang mengalami kesulitan, hal ini biasa terjadi pada

bivalvia yang hidup menempel pada benda keras misalnya pada karang, karena

pertumbuhan bivalvia ini mengikuti bentuk dari permukaan karang tersebut

sehingga bentuknya tidak wajar (Barnes, 1982).

Bivalvia tidak memiliki kepala, mata serta radula di dalam tubuhnya,

tubuh bivalvia hanya terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu kaki, mantel, dan

organ dalam. Kaki dapat ditonjolkan antara dua cangkang tertutup, bergerak

memanjang dan memendek berfungsi untuk bergerak dan merayap (Robert et al,

1982).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Gambar 2.2. Bagian Cangkang bagian dalam dan luar Bivalvia
(Carpenter and Niem, 1998)

2.2.2. Sistematika Bivalvia

Kelas Bivalvia termasuk salah satu kelas dari phylum Molusca yang

memiliki empat ordo yaitu Protobranchia, Taxodonata, Dysodonta dan

Pseudolamellibranchia. Kebanyakan hidup di laut terutama di daerah littoral,

beberapa di daerah pasang surut dan air tawar. Beberapa jenis laut hidup sampai

kedalaman 5000 m (Swit, 1993).

Suwignyo (1998) membagi Bivalvia dalam 3 sub kelas diantaranya :

1. Sub kelas Protobranchia

Umumnya primitif; filamen insang pendek dan tidak melipat; permukaan

kaki datar dan menghadap ke ventral; otot aduktor 2 buah.

• Ordo Nuculacea

Tidak mempunyai sifon; sebagai deposit feeder mendapatkan

makanan menggunakan proboscides; Nucula dan Yoldia dan

hidup di semua laut terutama daerah temperate.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
• Ordo Solenomyacea

Mempunyai sifon; menyaring makanan menggunakan insang;

cangkang mempunyai semacam tirai (awning); Solen

cangkangnya sangat rapuh.

2. Sub kelas Lamellibranchia

Filamen insang memanjang dan melipat, seperti huruf W; antara filamen

dihubungkan oleh cilia (filabranchia) atau jaringan (eulamellibranchia)

• Ordo Taxodonta

Gigi pada hinge banyak dan sama; kedua otot aduktor berukuran

kurang lebih sama; pertautan antara filamen insang tidak ada.

Arca, Anadara, dan Barbatia. Penyebarannya luas umumnya di

pantai laut.

• Ordo Anisomyaria

Otot aduktor anterior kecil atau tidak ada yang posterior

ukurannya besar, sifon tidak ada; terdapat pertautan antara

filamen dengan cilia; biasanya sessile; kaki kecil dan memiliki

bisus. Beberapa diantaranya : Mitylus, Ostrea, Atrina dan

Pinctada.

• Ordo Heterodonta

Gigi pada hinge terdiri atas beberapa gigi kardinal dengan atau

tanpa gigi lateral; insang tipe eulamellibranchia; kedua otot

aduktor sama besar; tepi mantel menyatu pada beberapa tempat,

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
biasanya mempunyai sifon. Cardium, Corbicula, Marcenaria,

Tagelus, Mya dan Tridacna. Kebanyakan hidup di laut.

• Ordo Schizodonta

Gigi dan hinge memiliki ukuran dan bentuk yang berfariasi; tipe

insang eulamellibranchia. Kerang air tawar Pseudodon,

Anodonta dan Mutelidea.

• Ordo Adapedonta

Cangkang selalu terbuka, ligamen lemah atau tidak ada; gigi pada

hinge kecil atau tidak ada; tipe insang eulamellibranchia; tepi

mantel menutup, kecuali pada bukaan kaki; sifon besar, panjang

dan menjadi satu; hidup sebagai pengebor pada subtrat keras.

Pengebor tanah liat dan batu karang, Pholas, Mya, Panope,

Teredo, dan Bankia. Umum terdapat dilaut mana saja.

• Ordo Anomalodesmata

Tidak ada gigi pada hinge; tipe insang eulamellibranchia, tetapi

lembaran insang terluar mengecil dan melengkung kearah dorsal;

bersifat hermaprodit. Lyonsia, cangkang kecil dan rapuh, terdapat

di laut dangkal Atlantik dan Pasifik.

3. Sub kelas Septibranchia.

Insang termodifikasi menjadi sekat antara rongga inhalant rongga

suprabranchia, yang berfungsi seperti pompa. Umumnya hidup di laut

dalam seperti Cuspidularia dan Poromya.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
2.2.3. Habitat Bivalvia

Menurut Kastoro (1988) ditinjau dari cara hidupnya, jenis-jenis Bivalvia

mempunyai habitat yang berlainan walaupun mereka termasuk dalam satu suku

dan hidup dalam satu ekosistem. Bivalvia pada umumnya hidup membenamkan

dirinya dalam pasir atau pasir berlumpur dan beberapa jenis diantaranya ada

yang menempel pada benda-benda keras dengan semacam serabut yang

dinamakan byssus. Demikian pula Nontji (1987), bivalvia hidup menetap di

dasar laut dengan cara membenamkan diri di dalam pasir atau lumpur bahkan

pada karang-karang batu. Akan tetapi pada beberapa spesies bivalvia seperti

Mytillus edulis dapat hidup di daerah intertidal karena mampu menutup rapat

cangkangnya untuk mencegah kehilangan air (Nybakken, 1992).

Menurut Odum (1988), dalam Samingan dan Srigondo (1993) bahwa

binatang infauna seringkali memberikan reaksi yang mencolok terhadap ukuran

butir atau tekstur dasar laut, sehingga habitat Molusca dari berbagai lereng pasir-

lumpur akan berbeda.

2.2.4. Kebiasaan Makan

Nybakken (1992), menyebutkan berdasarkan pada makanan dan

kebiasaan makannya, jenis-jenis bivalvia dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu

pemakan suspensi dan pemakan endapan. Bivalvia umumnya memperoleh

makanan dengan cara menyaring partikel-partikel yang ada dalam air laut

(Nontji,1987).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Pada golongan pemakan endapan, bivalvia ini membenamkan diri dalam

lumpur atau pasir yang mengandung sisa-sisa zat organik dan fitoplankton yang

hidup di dasar. Makanan tersebut dihisap dari dasar perairan melalui siphon.

Semakin dalam bivalvia membenamkan diri siphonnya semakin panjang.

(Nontji,1987).

2.3. Gastropoda

2.3.1. Morfologi Gastropoda

Sebelum mencapai bentuk yang sempurna, gastropoda mengalami

perubahan bentuk tubuh yang meliputi tiga tahapan utama, yaitu perkembangan

kepala, perubahan cangkang dari fungsinya sebagai alat pelindung, menjadi

tempat membenamkan tubuh lunaknya dan perputaran cangkang (torsi). Adapun

setelah bentuknya sempurna, Gastropoda tersusun atas kepala, leher, kaki dan

badan (Barnes, 1987).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Gambar 3.2. Bagan cangkang Gastropoda
(Sumber: Dharma, 1988)

Gastropoda memiliki cangkang tunggal berupa sebuah terowongan

berbentuk spiral. Pada bagian dasar atau bawahnya lebih lebar dan bagian atas

melingkar seperti kerucut (Mather & Bennet, 1984). Pernyataan ini juga

didukung oleh Barnes (1987) yang menerangkan bahwa gastropoda memiliki

bentuk cangkang spiral mengerucut yang tersusun dari gulungan-gulungan

berbentuk tabung yang berisi jarigan tubuh. Gulungan cangkang yang paling

atas disebut apex, merupakan gulungan yang tertua. Sedangkan gulungan yang

terakhir berukuran paling besar disebut body-whorl yang berakhir pada lubang

(apertur) dimana kepala dan kaki Gastropoda di julurkan keluar.

Gastropoda memiliki bentuk cangkang yang beragam, ada yang conical,

biconical,abconical, turreted, fusi form, patelli form, ovoid, discoidal, involute,

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
obovatus, globose, lenticular, bulloid, cylindrycal dan trochoid (Keen, 1963 dan

Sabelli, 1980 dalam Oemerjati dan Wardana 1990).

Putaran cangkang Gastropoda ada 2 macam, yaitu dekstral (melekuk ke

kanan) dan sinestral (berlekuk ke kiri). Sebagian besar Gastropoda laut

mempuyai cangkang dekstral. Dijelaskan dalam Nontji (1987) bahwa akibat

pengendapan bahan cangkang bagian luar berlangsung lebih cepat dibandingkan

dengan bagian dalam sehingga pertumbuhan cangkang pada Gastropoda

memilin seperti spiral. Akibat dari putaran cangkang ini akan melindungi bagian

tubuhnya yang berberisi bagian - bagian dari sistem pencernaan, sirkulasi,

respirasi, ekskresi, dan reproduksi.

2.3.2. Sistematika Gastropoda

Hughes (1986) menyebutkan terdapat 2000 spesies Gastropoda yang

hidup di laut. Sedangkan di Indonesia diperkirakan mencapai 1500 jenis

Gastropoda (Nontji, 1987). Kelas gastropoda hidup sebagai pemakan bangkai,

parasit dan predator. Menurut cara makannya gastropoda dibagi menjadi 3

kategori yaitu pengerat atau penggaruk pada subtrat, pemakan tunas tumbuh

-tumbuhan dan pemburu mangsa (Hughes, 1986).

Gastropoda merupakan kelas dari Moluska yang paling sukses dalam

siklus hidupnya, hal ini dapat dilihat dari variasi habitatnya yang sangat

beragam dimana spesies-spesies Gastropoda yang hidup di laut mampu untuk

hidup pada berbagai tipe subtrat dasar perairan (Barnes, 1987).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Willson dan Gillet (1979) membagi gastropoda dalam 3 sub kelas

diantaranya :

1. Sub kelas Prosobranchia

Beberapa spesies ditemukan di laut, tapi ada juga yang ditemukan di air

tawar dan beberapa di daratan. Kaki mascular digunakan untuk

merangkak, jarang digunakan untuk berenang atau mengapung. Sub

kelas Prosobranchia dibagi kedalam 3 ordo, yaitu : Archaeogastropoda,

Mesogastropoda, dan Neogastropoda.

2. Sub kelas Opistobranchia

Merupakan Moluska yang dalam proses evolusinya kehilangan

cangkangnya. Beberapa bersifat sebagai hewan planktonik/pelagik.

Mareka menggali pasir untuk melindungi dirinya atau melapisi tubuhnya

dengan lapisan lendir, berwarna terang dan banyak species yang bersifat

karnivora. Sub kelas Opistobranchia dibagi kedalam 5 ordo yaitu :

Cephalaspidea, Anaspidea, Sacoglossa, Notaspidea, dan Nudibranchia.

3. Sub kelas Pulmonata

Kelompok ini terdiri dari siput tanah walaupun beberapa hidup di laut,

estuari, sungai, danau dan kolam. Sub kelas Pulmonata dibagi kedalam 2

ordo yaitu : Basommatophora dan Stylommatophora.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
2.3.3. Habitat Gastropoda

Gastropoda yang hidup di laut dapat dijumpai di berbagai jenis

lingkungan dan bentuknya telah beradaptasi dengan lingkungannya tersebut

(Nontji,1987). Di laut dalam gastropoda dapat hidup sampai pada kedalaman ±

5000 meter (Plaziat, 1984).

Barnes (1987) menyebutkan beberapa jenis dari gastropoda hidup

menempel pada subtrat yang keras, akan tetapi ada juga yang hidup di subtrat

seperti pasir dan lumpur. Gastropoda juga dapat hidup di zona litoral, daerah

pasang surut dengan menempel pada terumbu karang, laut dalam maupun

dangkal bahkan ada yang hidup di air tawar (Barry, 1972). Pada lingkungan laut

gastropoda dapat ditemukan di daerah benthik, antara bebatuan dan pada subtrat

lunak (lumpur).

Sebagian dari gastropoda juga hidup di daerah hutan Bakau, ada yang

hidupnya di lumpur atau tanah yang tergenang air, ada juga yang menempel

pada akar dan batangnya, bahkan adapula yang memiliki kemampuan memanjat,

misalnya Cerithiidea, Cassidulla, Littorina dan lain-lain. Pada umumnya

pergerakan Gastropoda sangat lambat dan bukan merupakan binatang yang

berpindah-pindah (Dharma, 1988).

Arsianto (1985) menerangkan bahwa kondisi lingkungan seperti tipe

sedimen, kedalaman, kecerahan, salinitas, suhu dan pH perairan memberikan

variasi yang besar pada kehidupan gastropoda.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
2.3.4. Kebiasaan Makan

Kebiasaan makan gastropoda sangat beragam. Hal ini dapat dilihat pada

struktur radulanya. Radula yang dimiliki gastropoda tiap jenisnya berbeda-beda,

radula pemakan tumbuh-tumbuhan berbeda dengan radula pemakan daging

(Dance,1977). Diterangkan juga dalam Dharma (1988) bahwa dengan

mempelajari radulanya kita dapat lebih jelas membedakan jenis gastropoda jika

terjadi keragu-raguan saat mempelajari cangkang dan operkulumnya.

Townsen & Hughes (1981) menerangkan bahwa kebiasaan makan dari

Gastropoda meliputi semua proses dari mencari makan, membawanya sampai

pada proses pencernaannya, termasuk dalam hal ini semua aktifitas yang

memungkinkan untuk mencari makan. Gastropoda pemakan microalgae secara

perlahan-lahan bergerak di atas subtrat sambil mengumpulkan makanan,

sedangkan yang bersifat predator menunggu mangsanya dan kadang-kadang

bergerak mencari mangsa. “Suspension feeder” menahan partikel-partikel

makanan dari aliran air sedangkan “Deposit feeder” menyerap yang terdapat

dalam sedimen (Hughes, 1986).

Pada jenis Gastropoda yang memburu makanan ada dua aspek yang

berperan terhadap efisiensi pengambilan makanan, yakni saat gastropoda

bergerak mencari makan dengan kecepatan pergerakannya dan kondisi jalan

atau subtrat. Dalam proses mencari makan dibutuhkan waktu yang paling

memungkinkan untuk mendapatkan makanan dengan mudah dan aman.

Cassidae berburu bintang laut (Echinoidea) pada waktu malam hari, pada siang

harinya bersembunyi dalam pasir. Nucella lapillus mencari tritip dan kerang

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
hijau pada saat pasang tertinggi dan pada saat surut berada pada tempat yang

tergenang. Untuk pemakan tumbuhan dan detritus (misalnya famili

Potamididae) di daerah intertidal mulai makan ketika subtrat mulai terpapar

pada saat air surut (Hughes, 1986).

2.4. Parameter Lingkungan

Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh

berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang

berpengaruh diantaranya adalah fitoplankton sebagai produsen primer yang

merupakan salah satu sumber makanan utama bagi hewan bentos. Adapun faktor

abiotik adalah kondisi fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, pasang

surut, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia

(COD), kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar (Allard and

Moreau, 1987 dalam APHA, 1992). Secara skematis, Hawkes (1978)

mengemukakan 14 faktor yang mempengaruhi keberadaan hewan bentos di

perairan (Gambar 4.2), sembilan diantaranya merupakan faktor penentu kualitas

perairan.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Kekeruhan
Sinar matahari

Padatan
tersuspensi *) Kedalaman
Penetrasi
cahaya
Kanalisasi Nutrien

Suhu *)

Kecepatan
arus
Substrat Oksigen terlarut *)

pH *)

Bahan beracun *)

KOMUNITAS BENTOS Kesadahan*)

Keterangan :

*) = Faktor penentu kriteria kualitas air

= Faktor bukan penentu kualitas air


= Pengaruh langsung
= Pengaruh interaksi

Gambar 4.2. Faktor-faktor kualitas air yang mempengaruhi

komunitas bentos (Hawkes, 1978)

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
2.4.1. Kecepatan Arus

Arus merupakan faktor yang membatasi penyebaran organisme benthos

di sungai (Odum, 1993). Menurut Supriharyono dkk (1993), pola pergerakan

arus pasang yang menuju ke muara sungai akan mempengaruhi pola penyebaran

limbah yang ada di estuaria. Pola yang terbentuk ini tergantung pada arah arus

yang terjadi baik yang berasal dari arus laut pada waktu pasang maupun surut

dan memperoleh dorongan arus dari sungai menuju ke laut.

Pergerakan arus merupakan hal yang penting di perairan dangkal

subtidal. Pengaruh arus membuat partikel dan nutrien dari daratan maupun

plankton dari laut menjadikan daerah tersebut tercukupi sumber pakan bagi

biota yang hidup di perairan tersebut (Nybakken, 1992).

2.4.2. Kedalaman.

Kedalaman perairan mempengaruhi jumlah dan jenis hewan bentos

(Odum, 1993). Kedalaman perairan berhubungan secara langsung dengan

komunitas makrozoobenthos (Hawkes, 1978). Menurut Mc Lachlan (1970)

dalam Widiastuti (1983), menyatakan bahwa perbedaan fariasi dari jumlah

species atau genera antara kedalaman 0,2 – 4 m adalah kecil, akan tetapi jumlah

rata-rata setelah kedalaman tersebut diduga menurun.

2.4.3. Kecerahan

Secara tidak langsung kecerahan akan mempengaruhi komunitas hewan

makrobentos di perairan. Interaksi antara kekeruhan dengan kedalaman akan

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
mempengaruhi penetrasi cahaya matahari sehingga produktifitas microalga

bentik yang merupakan salah satu sumber makanan hewan makrobenthos, akan

terganggu. Hal ini selaras dengan pendapat Widyorini (1995) yang menyatakan

bahwa komposisi hewan makrobentos tergantung pada sumber makanan yang

tersedia. Lebih lanjut Mason (1981) menyatakan bahwa perairan yang keruh

dapat mempengaruhi keberadaan populasi hewan benthos, karena partikel

tersuspensi dapat mengganggu sistem pernafasan pada insang akibatnya akan

menggangu pertumbuhannya. Kecerahan yang besar umumnya terdapat

diperairan laut sedang kecerahan yang rendah terdapat di daerah muara

(Soedharma, 1994).

2.4.4. Suhu.

Suhu merupakan fungsi dari intensitas energi panas. Lebih lanjut

dikatakan bahwa kenaikan suhu akan menyebabkan kenaikan metabolisme

organisme perairan, sehingga kebutuhan oksigen terlarut menjadi meningkat

(Klein, 1962 dalam Widiastuti,1983). Ditegaskan pula dalam Boyd dan

Lichtkopper (1979) bahwa suhu perairan sangat berpengaruh pada suhu tubuh,

sehingga kenaikan suhu perairan 10 °C akan meningkatkan kecepatan

metabolisme 2 kali lipat.

Perubahan suhu dapat mempengaruhi perubahan komposisi hewan

bentos pada suatu perairan atau mempengaruhi kelimpahan dan

keanekaragamannya baik cepat ataupun dengan perlahan (Ruswahyuni dan

Susilowati, 1991).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
2.4.5. Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman digunakan untuk menggambarkan kondisi asam dan

basa suatu larutan. Selain berpengaruh langsung terhadap organisme

makrozoobenthos di perairan, pH juga berpengaruh secara tidak langsung,

melalui daya racun dari bahan pencemar (Hawkes, 1978).

Setiap jenis benthos atau organisme perairan lainnya mempunyai

toleransi yang berbeda-beda terhadap nilai pH. Namun pada umumnya biota air

dapat hidup layak pada kisaran pH 5 – 9 (Pescod,1973). Jika perairan

mengalami perubahan yang mendadak sehingga nilai pH melampaui kisaran

tersebut, akan mengakibatkan tekanan fisiologis biota yang hidup di dalamnya

dan berakhir dengan kematian (Swingle,1968).

2.4.6. Subtrat Dasar

Menurut Hawkes (1978) tanah dasar merupakan faktor yang

berpengaruh langsung terhadap komposisi dan distribusi makrozoobenthos.

Sumich (1992) dalam Ardi (2002), menyebutkan bahwa subtrat berpasir tidak

menyediakan tempat yang stabil bagi organisme karena aksi gelombang secara

terus menerus menggerakkan pertikel subtrat. Makrozoobenthos infauna

hidupnya jelas akan sangat tergantung kepada kondisi tanah dasar tempat

tinggalnya (Hutabarat dan Evans, 1985). Tekstur tanah dasar sangat dipengaruhi

oleh kecepatan arus, apabila arus di tempat tersebut kuat maka partikel yang

berukuran besar akan mengendap lebih dahulu. Sebaliknya apabila arusnya

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
lemah maka partikel yang berukuran kecil yang akan banyak dijumpai di daerah

tersebut.

2.4.7. Salinitas

Salinitas akan mepengaruhi penyebaran hewan makrobenthos karena

organisme laut hanya dapat mentoleransi terhadap perubahan yang kecil dan

lambat (Hutabarat dan Evans, 1985). Hal ini diperkuat oleh Astuti (1990) bahwa

salinitas sangat berpengaruh terhadap distribusi hewan benthos, karena berkaitan

dengan kemampuan organisme untuk dapat hidup pada suatu perairan dengan

salinitas tertentu. Untuk mengatur kondisi tersebut sangat tergantung pada

kemampuannya dalam merubah tekanan osmose di dalam tubuhnya agar sesuai

dengan lingkungannya. Hughes (1986) mengatakan bahwa fluktuasi salinitas di

perairan untuk gastropoda intertidal tidak menyebabkan peningkatan rata-rata

metabolisme di atas tingkat normalnya, karena gastropoda termasuk jenis

organisme laut yang dapat menyesuaikan diri dengan habitat atau lingkungan

yang ditempatinya (osmokonformer). Untuk dapat hidup normal hewan bentos

harus berada pada rentangan salinitas antara 25 - 40‰ (Coles, 1977).

2.4.8. Bahan organik

Menurut Bukman dan Brady (1982) bahan organik merupakan salah satu

komponen penyusun sedimen yang berasal dari sisa-sisa makluk hidup.

Perbandingan jumlah bahan organik dalam sedimen relative lebih kecil apabila

dibandingkan dengan bahan mineral sedimen. Walaupun demikian, bahan

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
organik merupakan suatu unsur pokok tanah yang penting dan khas.

Hardjowigeno (1987) dalam wibowo et al. (2004) menjelaskan bahwa fungsi

bahan organik antara lain sebagai sumber energi bagi mikroorganisme yang

menyuburkan tanah, meningkatkan kamampuan daya tahan air dan memperbaiki

struktur tanah.

Kandungan bahan organik dalam sedimen sangat berfariasi bergantung

pada lingkungan pengendapanya. Nybakken (1992) menyatakan bahwa sumber

penting bahan organik berasal dari daratan melalui sungai sehingga didaerah

yang berdekatan dengan muara sungai terdapat sejumlah besar bahan organik.

Lebih lanjut menjelaskan bahwa bahan organik banyak ditemukan pada sedimen

lumpur yang berukuran halus. Hal ini disebabkan pergerakan air di daerah

tersebut cenderung lebih rendah sehingga bahan organik akan terendapkan dan

terakumulasi dalam sedimen.

Hutabarat dan Evans (1985) menjelaskan bahwa di dalam perairan,

bahan organik terdapat dalam bentuk detritus. Sejumlah besar bahan organik

tersebut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan atau hewan bentik yang hidup di

perairan pantai yang dangkal. Sumber bahan organik yang lain adalah sisa-sisa

organisme pelagis yang mati dan tenggelam ke dasar, serta kotoran binatang di

perairan. Odum (1993) menjelaskan bahwa bahan organik yang terlepas dari

pembusukan terkumpul dalam sedimen suatu perairan. Reynold (1971)

mengklasifikasikan kandungan bahan organik dalam sedimen yaitu terlihat

dalam Tabel 1.2.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Tabel 1.2. Kriteria kandungan bahan organik dalam sedimen
Kandungan bahan
No Kriteria
organik (%)
1 > 35 Sangat tinggi
2 17 – 35 Tinggi
3 7 – 17 Sedang
4 3,5 – 7 Rendah
5 <3 ,5 Sangat rendah
Sumber : Reynold (1971)

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
BAB III

MATERI DAN METODA

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 11 - 23 Juli 2007 di muara Sungai

Kerian dan Sungai Simbat, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal Jawa

Tengah.

3.2. Peta Lokasi Penelitian

Gambar 5.3. Peta lokasi Sungai Kerian dan Sungai Simbat Kecamatan
Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
3.3. Alat dan Bahan Penelitian

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah organisme

Makrozoobenthos yaitu kelas Bivalvia dan Gastropoda yang diambil dari

perairan sekitar muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat, Kecamatan

Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, serta beberapa parameter

lingkungan yang dipandang memiliki pengaruh pada kehidupan bivalvia dan

gastropoda. Adapun peralatan yang digunakan dalam penelitian ini tercantum

dalam Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian.

No Alat dan Bahan Kegunaan


1. Ayakan dengan ukuran 1 x 1 mm Mensortir benthos
2. Ember Plastik Menampung sampel
3. Botol sampel berlabel Tempat sampel biota
4. Sekop plastik Mengambil sampel sedimen
5. Kantong plastik berlabel Tempat sampel sedimen
6. Kamera digital Memotret Sample
7. Mikroskop Untuk mengidentifikasi sampel
8. Formali 4% Mengawetkan sampel
9. GPS Mengetahui posisi sampling
10. Refraktometer Untuk mengukur salinitas
11. Sieve shaker Untuk analisa sedimen
12. Neraca analitik Menimbang berat sample
13. Kertas saring Saringan sedimen
14. Gelas ukur 1 Liter Untuk pemipetan
15. Pipet panjang Untuk pemipetan
16. Grab sampel Untuk mengambil sampel
17. Kertas lakmus / pH meter Untuk mengukur pH
18. Sechidisk Untuk mengukur kedalaman & kecerahan
19. Buku identifikasi Untuk identifikasi biota

3.4. Metoda Penelitian

Penelitian ini bersifat diskriptif, yaitu untuk mendapatkan informasi dan

gambaran mengenai situasi dan kejadian secara sistematis dan bersifat

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
eksploratif dimana menggambarkan suatu fenomena keadaan (Nazir,1988).

Sedangkan metode yang digunakan adalah metode survey sekala terbatas, yaitu

suatu metode penelitian yang bertujuan mengamati secara sistematik objek

penelitian serta kejadian yang erat kaitannya dengan objek yang diteliti pada

lokasi dan waktu yang terbatas dan tidak dapat digeneralisasikan untuk tempat

dan waktu yang berbeda (Hadi, 1989).

Pengumpulan data meliputi data primer dan data sekunder. Data primer

meliputi kelimpahan dan indeks komunitas bivalvia dan gastropoda yang

ditemukan di muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat. Sedangkan data

sekunder berupa suhu, derajat keasaman (pH), kadar salinitas, kedalaman,

kecerahan, kecepatan arus, pasang surut, jenis subtrat dasar dan kandungan

bahan organic yang terkandung dalam subtrat (BO).

Data bivalvia dan gastropoda yang diperoleh dianalisis dengan

menghitung kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan

indeks dominansinya dengan menggunakan software microsoft Excel.

3.4.1. Penentuan lokasi

Sebelum menentukan stasiun langkah awal yang dilakukan adalah survey

pendahuluan berupa survey peta lokasi dan pengamatan karekteristik pantai

meliputi; tipe subtrat, vegetasi yang tumbuh, rataan pasang surut, garis pantai

dan arah terhadap laut bebas. Survey pendahuluan ini dilakukan seminggu

sebelum menentukan lokasi penelitian.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Penentuan stasiun dilakukan dengan metode purposive sampling method,

yaitu didasarkan pada beberapa pertimbangan tertentu yang dipandang memiliki

hubungan dengan sifat populasi (Hadi, 1989), sehingga diharapkan dapat

mewakili daerah penelitian. Berdasarkan survey pendahuluan tersebut penelitian

dibagi menjadi 14 (empatbelas) stasiun yaitu 7 (tujuh) stasiun di muara Sungai

Kerian dan sekitarnya serta 7 (tujuh) stasiun lagi di muara Sungai Simbat.

Masing – masing stasiun berjarak antara 50 – 100 meter.

3.4.2. Pengambilan Sampel Bivalvia dan Gastropoda

Pengambilan sampel makrozoobenthos dilakukan secara kualitatif artinya

pada saat sampling tidak memperhitungkan volume atau kedalaman subtrat.

Sedangkan untuk pengumpulan data menggunakan sample survey method yaitu

metode pengambilan data dengan cara mencatat sebagian kecil populasi yang

ada secara sistematik. Dari hasil yang didapat diharapkan dapat menggambarkan

sifat populasi secara kuantitatif dari objek penelitian dan dapat digunakan untuk

pengambilan kesimpulan secara umum bagi populasi dan lingkungannya

(Suwignya, 1976 dalam Hutabarat, 19985).

Pengambilan sample dilakukan dalam 3 periode atau tahapan dengan

tenggang waktu ± 7 hari (1 minggu), yaitu perioda ke-1 pada tanggal 11 Juli

2007, perioda ke-2 tanggal 17 dan yang ke-3 tanggal 23 Juli 2007. Pada setiap

periode masing-masing stasiun yang terdapat di kedua muara sungai dilakukan

pengambilan sampel dengan “Ekman Grab” dilakukan sebanyak 5 kali ulangan.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Pengambilan sampel dilakukan pada saat air pasang, sehingga

memudahkan perahu masuk sampai ke bagian badan sungai. Bivalvia dan

Gastropoda yang berada di dalam subtrat diambil dengan bantuan “Ekman

Grab” sampai kedalaman ± 10 cm, hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa

Bivalvia memiliki kemampuan untuk dapat membenamkan diri ke dalam

subtrat sampai beberapa cm (Barnes, 1987).

Sampel yang didapat kemudian dibersihkan, disortir dan dimasukkan

dalam botol sampel berlabel yang sudah diisikan larutan formalin 4% sebagai

bahan pengawet.

Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan Termometer yang

dimasukkan ke bagian badan air muara. Sementara derajat keasaman (pH)

didapat dengan melihat perubahan warna pada kertas lakmus yang diteteskan

dengan air muara. Untuk kadar salinitas diukur dengan cara meneteskan sample

air muara ke lensa Refraktometer. Sedangkan kedalaman dan kecerahan diukur

secara bersamaan menggunakan Sechidisk.

Kecepatan arus diukur dengan menggunakan Bola duga selama 3 hari atau

3 kali 24 jam. Sementara pengukuran pasang surut dilakukan selama 15 hari

dengan metode Admiralty. Stasiun pengamatan arus dan pasang surut terletak

diantara muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat, tepatnya di Pelabuhan

Penyebrangan dan Barang Kabupaten Kendal yang berada diantara kedua muara

sungai tersebut.

Analisa jenis subtrat dasar dilakukan denagan metode ayakan yaitu

menggunakan Sieve Shaker dan pemipetan (Buckman dan Brady 1982) untuk

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
mendapatkan ukuran butir, kemudian dipersentasekan dalam grafik granulometri

(Lampiran 23). Sementara persentase bahan organic (BO) yang terkandung

dalam subtrat dasar di dapat dengan metode pemanasan dengan menggunakan

Furnace 500 ºC ± selama 4 jam (Radojevic and Bashkin, 1999) (Lampiran 24).

3.5. Analisis Data

3.5.1. Kelimpahan

Kelimpahan suatu organisme dalam suatu perairan dapat dinyatakan

sebagai jumlah individu persatuan luas atau volume (Odum 1993). Karena

dalam penelitian ini pengambilan sampel menggunakan Ekman Grab maka

perhitungan kelimpahan dapat di rumuskan sebagai berikut :

Xi
A = ...................................................................................................(1)
ni

Dimana :

A : Kelimpahan (individu/m3)
Xi : Jumlah individu dari spesies ke-i
ni : Volume Ekman Grab untuk spesies i yang ditemukan (m3)

Sedangkan kelimpahan relatif menurut Odum (1993) adalah pesentase dari

jumlah individu suatu jenis terhadap jumlah seluruh individu yang terdapat di

area tertentu dalam suatu komunitas dan di rumuskan sebagai berikut :

ni
KR = X 100% .....................................................................................(2)
N
Dimana :
KR = Kelimpahan relatif
ni = Jumlah individu spesies ke – i
N = Jumlah seluruh individu

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
3.5.2. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiever (H’) (Odum, 1993)

Indeks keanekaragaman dapat digunakan untuk mencirikan hubungan

kelompok genus dalam komunitas. Indeks keanekaragaman genus (genus

diversity indices) dapat dilihat dari dua komponen. Pertama adalah jumlah genus

dalam komunitas, yang sering disebut sebagai kekayaan jenis (genus richness).

Komponen kedua adalah keseragaman genus (genus eveness) atau

keseimbangan. Keseragaman ini menggambarkan distribusi kelimpahan diantara

spesies.

Indeks keanekaragaman yang dipergunakan adalah indeks Shannon Wiever yang

diterapkan pada komunitas acak dengan ukuran yang besar, dimana jumlah total

spesies diketahui (Krebs, 1985). Indeks keanekaragaman Shannon-Wiever

(Odum, 1993) adalah :

Dimana :

H’ : Indeks keanekaragaman jenis


ni : Jumlah individu jenis ke i
N : Jumlah total individu
S : Jumlah spesies yang ditemukan

Menurut Wilhm and Dorris (1986), kriteria indeks keanekaragaman dibagi

dalam 3 kategori yaitu :

H` < 1 : Keanekaragaman jenis rendah


1 < H` < 3 : Keanekaragaman jenis sedang
H` > 3 : Keanekaragaman jenis tinggi

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
3.5.3. Indeks Keseragaman Evenness (e) (Krebs, 1985)

Untuk mengetahui keseimbangan komunitas digunakan indeks

keseragaman, yaitu ukuran kesamaan jumlah individu antar spesies dalam suatu

komunitas. Semakin mirip jumlah individu antar spesies (semakin merata

penyebarannya) maka semakin besar derajat keseimbangan. Rumus indeks

keseragaman (e) diperoleh dari :

H'
e = ………………………………………………………...
ln S
(4)

Dimana :

H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wiever


S = Jumlah species
e = Indeks Keseragaman Evenness

Dengan kisaran sebagaiberikut :

e < 0,4 = Keseragaman populasi kecil


0,4 < e < 0,6 = Keseragaman populasi sedang
e > 0,6 = Keseragaman populasi tinggi
Semakin kecil nilai indeks keanekaragaman (H’) maka indeks

keseragaman (e) juga akan semakin kecil, yang mengisyaratkan adanya

dominansi suatu spesies terhadap spesies lain.

3.5.4. Indeks Dominansi (C) (Odum, 1993)

Indeks dominansi (C) digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu

kelompok biota mendominansi kelompok lain. Dominansi yang cukup besar

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
akan mengarah pada komunitas yang labil maupun tertekan. Dominansi ini

diperoleh dari rumus :

2
n
n  n
C = ∑ p = ∑ i 
2
i
………………………………………...(5)
i =1 i =1  N 

Dimana :

C = Indeks Dominansi
ni = Jumlah individu ke-i
N = Jumlah total individu
Dengan kisaran :

0 < C < 0,5 = Tidak ada jenis yang mendominasi

0,5 < C < 1 = Terdapat jenis yang mendominasi

Semakin besar nilai indeks dominansi (C), maka semakin besar pula

kecenderungan adanya jenis tertentu yang mendominasi.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1. Kondisi Daerah Penelitian

Secara Geografis, Muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat terletak pada

6054’41,0″ Lintang Selatan (LS) dan 110015’50,1″ Bujur Timur (BT), dan

Sungai Kerian terletek pada 6055’03,8″ Lintang Selatan (LS) dan 110018’00,9″

Bujur Timur (BT). Sedangkan secara administratif kedua sungai termasuk dalam

wilayah Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal.

Kedua sungai ini bermuara di Pantai Utara Jawa Tengah, sehingga baik

secara langsung maupun tidak, dapat memberikan pengaruh dari darat terhadap

laut berupa suplai sedimen, air tawar dan nutrient.

Kedua sungai berjarak ± 6 Km dan dipisahkan oleh pelabuhan

penyebrangan Kabupaten Kendal. Tingkat aktifitas manusia di sekitar perairan

ini semakin meningkat, misalnya pertambakan, penangkapan ikan, serta

beberapa jenis bivalvia dan gastropoda oleh masyarakat setempat maupun

pendatang, ditambah lagi dengan aktifitas produksi industri PT. Kayu Lapis

Indonesia (PT. KLI) yang tepat berada di sebelah timur Sungai Kerian dan

aktifitas pembangunan pelabuhan penyebrangan Kabupaten Kendal yang sampai

saat ini masih dalam proses.

Pantai di sekitar lokasi penelitian merupakan pantai berpasir dan

berlumpur yang dimungkinkan terjadi dari proses sedimentasi (Tabel 9.4).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Kondisi ini ada hampir sepanjang garis pantai yang menghubungkan kedua

muara sungai tersebut. Selain itu bagian muara dari kedua sungai telah

mengalami pembelokan yang diperkirakan oleh proses abrasi dan akresi yang

terjadi di sepanjang pantai. Namun begitu, di sekitar muara kedua sungai

kawasan mangrove masih dapat kita temukan.

4.1.2. Kelimpahan

4.1.2.1. Kelimpahan Bivalvia

Bivalvia yang ditemukan dari kedua muara sungai selama penelitian

terdiri dari 6 famili dan 6 genus, masing-masing adalah famili Solenidea,

Pholadidea, Arcidea, Mactridea, Cardiidea dan Isognomonidea. Masing-masing

famili ditemukan hanya ada satu genus, yaitu genus Solen, Pholas, Anadara,

Mactra, Trachycardium dan Isognomon. Di Sungai Kerian ditemukan ke-6

famili dan 6 genus tersebut, sedangkan untuk famili Isognomonidea tidak

ditemukan di muara Sungai Simbat (Tabel 3.4).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan tertinggi bivalvia di

Sungai Kerian terdapat di stasiun 6 (3,394 ind/dm3), sedangkan kelimpahan

terendah terdapat pada stasiun 4, (0,339 ind/dm3). Sedangkan Sungai Simbat

kelimpahan tertinggi terdapat distasiun 7 (3,846 ind/dm3) dan terendah terdapat

pada stasiun 4 (0,170 ind/dm3) (Gambar 6.4) (Tabel 3.4).

Di stasiun 1 dan 2 Sungai Kerian serta stasiun 2 Sungai Simbat tidak

memiliki nilai kelimpahan, karena bivalvia tidak ditemukan di ketiga stasiun ini.

Sementara di stasiun 1 Sungai Simbat kelimpahan bivalvia tertinggi oleh Solen

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
vaginalis, yaitu 1,244 ind/dm3 terendah adalah Mactra violacea (0,396 ind/dm3)

(Tabel 3.4).

4
Kelimpahan Total
( ind / dm3 )

0
1 2 3 4 5 6 7
Stasiun Pengamatan
Sungai Kerian Sungai Simbat

Gambar 6.4. Histogram kelimpahan total bivalvia di Sungai Kerian dan Sungai
Simbat Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal (Ind/dm3).

Bivalvia di stasiun 3 hanya ditemukan 1 spesies, yaitu Trachycardium

orbita dengan kelimpahan sebesar 0.509 ind/dm3 di Sungai Kerian. Begitu juga

dengan stasiun 4 di ke-2 muara sungai, bivalvia hanya ditemukan masing-

masing 1 spesies, yaitu Isognomon sp di Sungai Kerian dengan kelimpahan

0,339 ind/dm3 dan Trachycardium orbita di Sungai Simbat sebesar 0,170

ind/dm3 (Tabel 3.4).

Di stasiun 5, 6 dan 7 yang terletak di depan muara sungai, kelimpahan

tertinggi ditempati Pholas sp sebesar 1,188 ind/dm3 di Sungai Kerian, sedangkan

terendah adalah Isognomon sp (0,283 ind/dm3) di sungai yang sama. Sementara

itu di stasiun 5 Sungai Kerian hanya ditemukan 1 jenis spesies yaitu Pholas sp

dengan kelimpahan 0,735 ind/dm3 (Tabel 3.4).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Tabel 3.4. Kelimpahan total bivalvia di Muara Sungai Kerian dan Sungai
Simbat Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal (ind/dm3).
Sungai Kerian Sungai Simbat
Taxa
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Fam Solenidae
1.07 1.24 0.56 0.33 0.73
- - - - - - - - -
Solen vaginalis 5 4 6 9 5
Fam Pholadidea
0.73 1.18 0.56 0.45 0.33 0.62
- - - - - - - -
Pholas sp 5 8 6 3 9 2
Fam Arcidae
0.45 0.28 0.39 0.39 0.50
- - - - - - - - -
Anadara antiquata 3 3 6 6 9
Fam Mactridae
1.07 0.67 0.39 0.17 0.96
- - - - - - - - -
Mactra violacea 5 9 6 0 2
Fam Cardiidea
Trachycardium 0.50 0.50 0.28 0.39 0.17 0.62 1.01
- - - - - - -
orbita 9 9 3 6 0 2 8
Fam Isognomonidea
0.33 0.28
- - - - - - - - - - - -
Isognomon sp 9 3
0.50 0.33 0.73 3.39 2.43 2.20 0.96 0.17 1.01 1.69 3.84
Total (individu/dm3) - - -
9 9 5 4 2 6 2 0 8 7 6

Keterangan : Fam : Famili


- : Kosong / bivalvia tidak ditemukan

4.1.2.2. Kelimpahan Gastropoda.

Sementara itu kelas Gastropoda yang ditemukan dari kedua muara

sungai terdiri dari 6 famili dan 7 genus, masing-masing adalah famili

Potamididea, Cerithiidea, Crepidulidea, Buccinidea, Cymatiidea dan terakhir

famili Fusciolariidea. Famili Potamididea ditemukan 1 genus, yaitu Cerithidea,

famili Cerithiidea terdiri atas 2 genus, yaitu Cerithium dan Clypoemorus, famili

Crepidulidea 1 genus, yaitu Crepidula, famili Buccinidea 1 genus, yaitu Pisania,

famili Cymatiidea 1 genus, yaitu Gyrineum dan famili Fusciolariidea juga

ditemukan 1 genus, yaitu Fusinus (Tabel 4.4).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Kelimpahan gastropoda tertinggi di Sungai Kerian terdapat di stasiun 3

(9,786 ind/dm3), sedangkan terendah terdapat di stasiun 7 (0,962 ind/dm3).

Sementara Sungai Simbat kelimpahan tertingginya terdapat di stasiun 6

(2,037 ind/dm3), sedangkan terendah terdapat di stasiun 2 sebesar 0,509 ind/dm3

(Gambar 7.4) (Tabel 4.4).

10
Kelimpahan Total

8
( ind / dm3 )

0
1 2 3 4 5 6 7
Stasiun Pengamatan
Sungai Kerian Sungai Simbat

Gambar 7.4. Histogram kelimpahan total gastropoda di Sungai Kerian dan


Sungai Simbat Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal (Ind/dm3).

Kelimpahan tertinggi kelas Gastropoda di stasiun 1 dan 2 kedua muara

sungai ditempati oleh famili Potamididea, yaitu Cerithidea cingulata (3,959

ind/dm3) di stasiun 2 Sungai Kerian dan terendah oleh Terebralia palutris (0,057

ind/dm3) di stasiun 2 Sungai Simbat. Begitu juga dengan stasiun 3 dan 4 kedua

muara sungai, famili Potamididea masih menempati nilai kelimpahan tertinggi,

yaitu Cerithidea cingulata (7,976 ind/dm3) di stasiun 3 Sungai Kerian dan

Terebralia palutris0,962 ind/dm3 di Sungai Simbat (Tabel 4.4).

Berbeda dengan stasiun sebelumnya, pada Stasiun 5, 6 dan 7 di kedua

muara sungai, kelimpahan tertinggi dimiliki oleh famili Cerithiidea, yaitu

Clypoemorus coralium (0,962 ind/dm3) di stasiun Sungai Simbat, sedangkan

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
kelimpahan terendah dimiliki oleh Fusinus colus (0,170 ind/dm3). Sementara itu

di stasiun 5 Sungai Simbat gastropoda hanya ditemukan 1 jenis, yaitu Cerithium

cobelti (0,566 ind/dm3) (Tabel 4.4).

Table 4.4. Kelimpahan total gastropoda di Sungai Kerian dan Sungai Simbat
Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal (ind/dm3)
Sungai Kerian Sungai Simbat
Taxa
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Fam Potamididea -
2.31 3.95 7.97 2.20 0.62 0.84
- - - - - - - -
Cerithidea cingulata 9 9 6 6 2 8
0.84 0.67 0.84 0.39 0.05 0.96
- - - - - - -
Tetrebralia palutris 8 9 8 6 7 2
Fam Cerithiidea
0.62 0.28 0.56 0.17
- - - - - - - - - -
Cerithium cobelti 2 3 6 0
0.67 0.28 0.39 0.22 0.50 0.28
- - - - - - - -
Cerithium alveolum 9 3 6 6 9 3
0.62 0.39 0.96
- - - - - - - 0.113 - - -
Clypoemorus coralium 2 6 2
0.39 0.56 0.28 0.50
- - - - - - - - - -
Clypoemorus battilariaformis 6 6 3 9
0.39 0.56 1.30 0.22 0.90
- - - - - - - - -
Cerithium columna 6 6 1 6 5
Fam Crepidulidea
0.17 0.05
- - - - - - - - - - - -
Crepidula walshi 0 7
Fam Buccinidea
0.17 0.17 0.45
- - - - - - - - - - -
Pisania crocata 0 0 3
Fam Cymatiidea
0.50 0.22 0.39
- - - - - - - - - - -
Gyrineum gyrinum 9 6 6
Fam Fusciolariidea
0.39 0.17
- - - - - - - - - - - -
Fusinus Colus 6 0
3.73 4.63 9.78 4.52 1.92 1.58 0.96 1.01 0.50 1.75 1.98 0.56 2.03 0.67
Total (individu/dm3)
3 8 6 5 3 4 2 8 9 3 0 6 6 9

Keterangan : Fam : Famili


- : Kosong / gastropoda tidak ditemukan

4.1.3. Kelimpahan Relatif

4.1.3.1. Kelimpahan Relatif Bivalvia

Stasiun 1 dan 2 merupakan stasiun yang mewakili daerah badan sungai,

di Sungai Kerian kedua stasiun ini bivalvia tidak ditemukan, begitu juga dengan

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
stasiun 2 Sungai Simbat. Sementara di stasiun 1 Sungai Simbat persentase

kelimpahan relatif bivalvia tertinggi oleh Solen vaginalis, yaitu 56,43 % dan

yang terendah adalah Mactra violacea (17,94%) ( Tabel 5.4).

Tabel 5.4. Persentase kelimpahan relatif bivalvia di setiap stasiun pengamatan


Sungai Kerian Sungai Simbat
Taxa Bivalvia
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Fam Solenidae
Solen vaginalis - - - - - 31.65 - 56.43 - - - 55.50 20.00 19.10
Fam Pholadidea
100.0
Pholas sp - - - - 0 - 48.81 25.64 - - - 44.50 20.00 16.19
Fam Arcidae
Anadara antiquata - - - - - 13.35 11.65 - - 41.17 - - 23.30 13.23
Fam Mactridae
Mactra violacea - - - - - 31.65 27.89 17.94 - 17.67 - - - 25.01
Fam Cardiidea
100.0 100.0
Trachycardium orbita - - 0 - - 15.00 11.65 - - 41.17 0 - 36.70 26.47
Fam Isognomonidea
100.0
Isognomon sp - - - 0 - 8.35 - - - - - - - -
100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
Jumlah Total - - 0 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 100.00
Jumlah Spesies - - 1 1 1 5 4 3 - 3 1 2 4 5

Keterangan : Fam : Famili


- : Kosong / gastropoda tidak ditemukan

Stasiun 3 dan 4 terletak tepat di bagian muara kedua sungai. Di stasiun 3

dan 4 Sungai Kerian, serta stasiun 4 Sungai Simbat bivalvia ditemukan hanya 1

spesies (100%), sedangkan di stasiun 3 Sungai Simbat persentase tertinggi

ditempati oleh Anadara antiquata dan Trachycardium orbita, masing-masing

sebesar 41,17%, terendah adalah Mactra violacea (17,67%) (Tabel 5.4).

Stasiun 5, 6, dan stasiun 7 mewakili daerah laut dan berada di depan

muara sungai. Di stasiun 5 Sungai Kerian ditemukan hanya 1 jenis yaitu Pholas

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
sp dengan persentase sebesar 100%. Sementara di Stasiun 6 kedua sungai

persentase tertinggi terdapat di Sungai Simbat (36,7%), yaitu Trachycardium

orbita, terendah adalah Isognomon sp (8,35%) di Sungai Kerian. Sedangkan di

stasiun 7 persentase tertinggi ditempati Pholas sp, yaitu 48,81% di Sungai

Kerian, sementara terendah yaitu Anadara antiquata dan Trachycardium

senense, masing-masing 11,65% di sungai yang sama (Tabel 5.4).

4.1.3.2. Kelimpahan Relatif Gastropoda

Hasil perhitungan kelimpahan relatif gastropoda di stasiun 1, terlihat

bahwa persentase tertinggi adalah Cerithidea cingulata (63,19%) di Sungai

Simbat, sementara terendah Pisania crocata (4,55%) di sungai yang sama.

Begitu juga dengan stasiun 2, 3 dan stasiun 4, persentase gastropoda tertinggi

masih ditempati oleh Cerithidea cingulata yaitu masing-masing 85,36%,

81,51% dan 47,55% di Sungai Kerian dan terendah Crepidula walshi (2,83%)

di Sungai Simbat (Table 6.4).

Tabel 6.4. Persentase kelimpahan relatif gastropoda setiap stasiun pengamatan

Sungai Kerian Sungai Simbat


Taxa Gastropoda
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Fam Potamididea
Cerithidea cingulata 62.14 85.36 81.51 47.55 - - - 63.19 - 48.36 - - - -
Terebralia palutris 22.73 14.64 8.67 - - - - 36.81 11.04 - 48.59 - - -
Fam Cerithiidea
100.0
Cerithium cobelti - - - - 32.36 17.90 - - - - - 8.33 -
0
Cerithium alveolum - - - 14.63 14.73 24.97 - - 44.48 29.01 - - - 41.75
Clypoemorus
- - - - 32.36 24.97 - - - 6.48 - - 47.25 -
coralium
Clypoemorus
- - 4.04 - - - 58.83 - - 16.15 25.71 - - -
battilariaformis
Cerithium columna 10.59 - 5.78 28.05 - - - - 44.48 - - - 44.42 -
Fam Crepidulidea
Crepidula walshi - - - 3.66 - - - - - - 2.83 - - -
Fam Buccinidea

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Pisania crocata 4.55 - - 6.11 - - - - - - 22.88 - - -
Fam Cymatiidea
Gyrineum gyrinum - - - - - 32.15 23.50 - - - - - - 58.25
Fam Fusciolariidea
Fusinus Colus - - - - 20.55 - 17.67 - - - - - - -
100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
Jumlah Total
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Jumlah Spesies 4 2 4 5 4 4 3 2 3 4 4 1 3 2

Di stasiun 5 Sungai Simbat ditemukan hanya 1 spesies yaitu Cerithium

cobelti (100%). Selanjutnya di stasiun 6 persentase tertinggi oleh Clypoemorus

coralium (47,25%) di Sungai Simbat, sedangkan terendah adalah Cerithium

cobelti 8,33% di sungai yang sama. Di stasiun 7 terlihat bahwa persentase

tertinggi ditempati Clypoemorus battilariaformis (58,83%) dan terendah

Fusinus Colus (17,67%) keduanya terdapat di Sungai Kerian (Tabel 6.4).

4.1.4 Nilai Indeks dalam Komunitas

4.1.4.1 Nilai Indeks Komunitas Bivalvia

Hasil perhitungan rata-rata indeks komunitas bivalvia di ke-2 lokasi

penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman (H`) bivalvia tertinggi

di Sungai Kerian terdapat di stasiun 6, sebesar 1,340, sedangkan terendah

terdapat di stasiun 3, 4 dan 5, sebesar 0. Sementara di Sungai Simbat indeks

keanekaragaman tertinggi terdapat di stasiun 7, yaitu sebesar 1,329 dan terendah

di stasiun 4 (Tabel 7.4).

Tabel 7.4. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi bivalvia


Indeks Indeks Indeks
Sungai Stasiun Keanekaragaman Keseragaman Dominansi
( H`) ( e`) (C)

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
1 - - -
2 - - -
3 0 0 0.667
Kerian 4 0 0 1.000
5 0 0 1.000
6 1.340 0.921 0.283
7 0.907 0.825 0.475
1 0.765 0.912 0.502
2 - - -
3 0.558 0.625 0.640
Simbat 4 0 0 0.333
5 0.462 0.667 0.667
6 0.986 0.935 0.403
7 1.329 0.919 0.295
Nilai indeks keseragaman (e) tertinggi di Sungai Kerian terdapat di

stasiun 6, yaitu sebesar 0,921, sedangkan terendahnya di stasiun 7 sebesar

0,825. Sementara di Sungai Simbat indeks keseragaman tertinggi terdapat di

stasiun 6, yaitu sebesar 0,935, sedangkan terendah di stasiun 3, yaitu sebesar

0,625 (Tabel 7.4).

Sementara indeks dominansi (C), di Sungai Kerian didapatkan nilai

indeks tertinggi di stasiun 4 dan 5, yaitu sebesar 1, sedangkan terendah di

stasiun 6 sebesar 0,283. Kemudian di Sungai Simbat indeks dominansi tertinggi

terdapat di stasiun 5, yaitu sebesar 0,667, sedangkan terendah terdapat di stasiun

7 sebesar 0,295 (Tabel 7.4).

4.1.4.2 Nilai Indeks Komunitas Gastropoda

Hasil perhitungan rata-rata indeks komunitas gastropoda di ke-2 lokasi

penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman (H`) tertingginya

terdapat di stasiun 4 Sungai Kerian, yaitu sebesar 1,227, sedangkan terendah di

stasiun 2 sebesar 0,441. Sementara di Sungai Simbat indeks keanekaragaman

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
tertinggi terdapat di stasiun 4, yaitu sebesar 0,922, sedangkan terendah di stasiun

5 (Tabel 8.4).

Untuk indeks keseragaman (e) di Sungai Kerian nilai tertinggi terdapat

di stasiun 6, yaitu sebesar 0,989, terendah terdapat di stasiun 7 sebesar 0,496.

Sementara di Sungai Simbat indeks keseragaman tertingginya terdapat di stasiun

6, yaitu sebesar 0,940, sedangkan terendah terdapat di stasiun 3 sebesar 0,315

(Tabel 8.4).

Tabel 8.4. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman dan


indeks dominansi gastropoda.
Indeks Indeks Indeks
Sungai Stasiun Keanekaragaman Keseragaman Dominansi
( H`) ( e`) (C)
1 0.857 0.795 0.505
2 0.441 0.636 0.723
3 0.588 0.496 0.708
Kerian 4 1.227 0.840 0.336
5 1.152 0.965 0.330
6 1.046 0.989 0.369
7 0.674 0.973 0.519
1 0.393 0.567 0.733
2 0.231 0.333 0.500
3 0.772 0.620 0.562
Simbat 4 0.922 0.891 0.435
5 0 0 1.000
6 0.784 0.940 0.485
7 0.218 0.315 0.512

Sedangkan hasil perhitungan indeks dominansi (C), nilai tertinggi

terdapat di stasiun 2 Sungai Kerian, yaitu sebesar 0,723, sedangkan terendah

terdapat di stasiun 5 sebesar 0,330. Sementara di Sungai Simbat indeks

dominansi tertinggi terdapat di stasiun 5 sebesar 1, sedangkan terendah terdapat

di stasiun 4 sebesar 0,435 (Tabel 8.4).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
4.1.5 Parameter Lingkungan

Nilai parameter lingkungan kedua lokasi penelitian dapat dilihat dalam

Tabel 9.4. Kondisi lingkungan setiap stasiun di kedua lokasi relatif sama dan

tidak terlihat adanya fluktuasi yang tinggi. Di Sungai Kerian kisaran suhu antara

28,86 - 30,27°C, sementara di Sungai Simbat antara 28,49 - 30,07°C, selanjutnya

nilai salinitas di Sungai Kerian berkisar antara 25.17 - 28.42‰, dan di Sungai

Simbat antara 25.42 - 28,28‰. Demikian pula dengan rata-rata kedalaman dan

kecerahannya, di Sungai Kerian memiliki kedalaman 1,03 m dan Sungai Simbat

0,3 m, sementara itu nilai kecerahan di Sungai Kerian mencapai 0,45 m

sedangkan Sungai Simbat hanya 0,3 m.

Tabel 9.4. Parameter lingkungan, data kelimpahan gastropoda dan bivalvia


di Sungai Kerian dan Sungai Simbat.
Kelimpahan
Parameter Lingkungan
(Ind/dm3)
Sungai
Sh Slt Kdl Kcr BO Jenis
St pH Bivalvia Gastropoda
( °C ) (‰) (m) ( m) (%) Sed
1 29.49 25.17 1.22 0.49 7.83 3.32 Pasir - 3.733
2 30.13 25.73 0.84 0.42 7.50 2.00 Pasir - 4.638
3 29.19 26.25 1.35 0.40 7.00 10.22 Pasir 0.509 9.786
Kerian 4 29.76 26.27 1.24 0.35 7.00 8.88 Pasir 0.339 4.525
5 29.41 28.42 3.54 0.38 7.17 1.84 Pasir 0.735 1.923
6 30.27 27.62 3.55 0.36 7.33 5.72 Pasir 3.394 1.584
7 28.86 27.90 1.56 0.79 7.00 2.26 Pasir 2.432 0.962
Rerata 29.59 26.76 1.90 0.45 7.26 4.98 - 1.481 3.879
1 28.97 25.42 1.03 0.23 7.00 2.21 Pasir 2.206 1.018
2 29.43 25.73 0.80 0.27 7.00 0.87 Pasir - 0.509
3 29.13 26.77 0.55 0.25 7.00 3.44 Pasir 0.962 1.753
Simbat 4 29.52 26.33 0.59 0.25 7.00 1.79 Pasir 0.170 1.980
5 29.37 28.28 1.51 0.52 7.00 1.65 Pasir 1.018 0.566
6 30.07 27.45 1.23 0.25 7.00 5.70 Pasir 1.697 2.036
7 28.49 27.25 1.47 0.30 7.00 7.22 Pasir 3.846 0.679
Rerata 29.28 26.75 1.03 0.30 7.00 3.27 - 1.414 1.220
Keterangan :
Sh : Suhu; Slt: Salinitas; Kdl: Kedalaman; Kcr; Kecerahan; Sed: Sediment

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Rerata kandungan bahan organik setiap stasiun di kedua lokasi penelitian

masuk dalam kategori rendah sampai sangat rendah, rerata kandungan bahan

organik Sungai Kerian sebesar 4,98%, sedangkan Sungai Simbat sebesar 3,27%.

Sementara itu derajat keasaman (pH) di kedua sungai berkisar antara 7 sampai

dengan 7,83. Sedangkan jenis subtrat dasar yang ditemukan di seluruh stasiun

kedua lokasi berupa pasir (Tabel 9.4).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
4.2. Pembahasan

4.2.1. Kondisi Perairan

Lingkungan pantai khususnya daerah estuaria merupakan daerah yang

selalu mengalami perubahan, karena daerah tersebut menjadi tempat bertemunya

dua kekuatan, yaitu yang berasal dari daratan berupa aliran air sungai yang

membawa asupan sedimen dan mineral lainnya dari daratan serta yang berasal

dari lautan yang berupa arus, gelombang dan pasang-surut.

Hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan bahwa terdapat

berbagai macam aktifitas manusia di kedua lokasi penelitian diantaranya;

pertambakan, penangkapan ikan, pariwisata, pembangunan pelabuhan sampai

pada kegiatan peridustrian. Sementara itu di sebelah timur muara Sungai Kerian

terdapat pemukiman penduduk yang mana limbah rumah tangganya dialirkan

langsung ke sungai.

Akibat beragamnya aktifitas manusia di sekitar lingkungan perairan ini,

menyebabkan daerah ini paling mudah terkena dampaknya. Dahuri, dkk (1996),

menyebutkan bahwa permasalahan lingkungan yang sering terjadi di wilayah

perairan pantai diantaranya adalah; pencemaran, erosi pantai, banjir, intrusi air

laut, penurunan biodiversitas pada ekosistem mangrove dan rawa, serta

permasalahan sosial ekonomi.

Semakin meningkatnya upaya pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut

yang kurang berwawasan lingkungan akan berdampak terhadap penurunan

produktivitas primer perairan. Akibat lebih jauh adalah terjadinya penurunan

kualitas perairan dan sedikit banyak akan mempengaruhi habitat yang berimbas

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
pada pertumbuhan, perkembangan, bahkan sangat mungkin mempengaruhi

keanekaragaman mikroorganisme, vertebrata dan avertabrata yang hidup di dasar

perairan seperti makrobentos.

Oleh karena itu, perlu diupayakan beberapa spesifikasi metode

pengembangan wilayah pesisir dan laut yang layak dan sesuai dengan ekosistem

yang ada, untuk menunjang program pembangunan berwawasan lingkungan.

Dalam hal ini, upaya manajemen pesisir dan laut secara terpadu yang berpedoman

pada pelestarian fungsi lingkungan hidup merupakan prioritas utama

pembangunan suatu kawasan (Dahuri, dkk., 1996).

Berdasarkan hasil pengukuran bathimetri serta hasil pengamatan di sekitar

wilayah studi maka dapat dikatakan bahwa kedalaman rata-rata perairan hingga

jarak 500 m dari muara dan pantai masih kurang dari 5 m (Lampiran 19). Adanya

pemecah gelombang (break water) sepanjang ± 1 km yang terletak di antara ke-2

muara sungai mengekibatkan daerah sebelah kiri dan kanan pemecah gelombang

tersebut terkena abrasi yang diakibatkan oleh pantulan gelombang dan arus dari

break water tersebut. Hal ini terlihat dari berubahnya lahan tambak di sepanjang

garis pantai sebelah barat Sungai Kerian serta sebelah timur dan barat Sungai

Simbat, termasuk bagian muaranya.

4.2.2. Kelimpahan Bivalvia dan Gastropoda

Bivalvia yang ditemukan dalam penelitian ini pada umumnya

membenamkan diri dalam pasir atau pasir berlumpur seperti famili Solenidea,

Pholadide, Arcidea (Tabel 5.4) dan (Tabel 9.4). Nontji (1987) menyebutkan

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
bahwa, bivalvia hidup menetap di dasar laut, ada yang membenamkan diri dalam

pasir atau pasir berlumpur bahkan ada yang membenamkan diri dalam kerangka

karang-karang batu.

Hasil pengkajian pada kelas Bivalvia di kedua muara sungai ditemukan 6

famili yang terdiri dari 6 genus Bivalvia yaitu famili Solenidea, Pholadidea,

Arcidea, Mactridea, Cardiidea dan Isognomonidea. Masing-masing famili

ditemukan hanya ada 1 genus (Tabel 3.4). Sedangkan untuk gastropoda ditemukan

6 famili dengan 7 genus, masing-masing adalah famili Potamididea, Cerithiidea,

Crepidulidea, Buccinidea, Cymatiidea dan Fusciolariidea (Tabel 4.4). Secara

umum kelas Gastropoda memiliki nilai kelimpahan lebih besar dibandingkan

kelas Bivalvia, hal ini bisa dilihat pada jumlah dan sebarannya di setiap stasiun

baik di muara Sungai Kerian ataupun Sungai Simbat. Hal ini dimungkinkan

karena kelas Gastropoda memiliki radula atau gigi parut yang memudahkannya

dalam proses mendapatkan makanan, misalnya dapat digunakan untuk mengeruk

alga yang menempel di bebatuan dan mencerna bahan makanan yang berupa

serasah daun mangrove, lamun dan sejenisnya. Dengan adanya radula ini

gastropoda lebih mudah mendapatkan makanan dibandingkan bivalvia.

Gastropoda juga memiliki kemampuan bergerak lebih aktif dalam proses mencari

makanan dibandingkan dengan bivalvia. Dengan demikian gastropoda memiliki

peluang atau kesempatan yang lebih besar dalam kompetisi makanan. Selain itu

kelas Gastropoda merupakan kelas yang paling sukses dalam siklus hidup dan

juga memiliki jumlah spesies paling banyak dibandingkan kelas yang lain dalam

philum Moluska.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Barnes (1987) menyebutkan bahwa gastropoda merupakan kelas dari

Moluska yang paling sukses dalam siklus hidupnya, hal ini dapat dilihat dari

variasi habitatnya yang sangat beragam dimana spesies-spesies gastropoda yang

hidup di laut mampu untuk hidup pada berbagai tipe subtrat dasar perairan.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kelimpahan rata-rata tertinggi

kelas Bivalvia terdapat di stasiun 7 Sungai Simbat dan terendah di stasiun 4 pada

sungai yang sama (Tabel 3.4). Stasiun 7 yang terletak di bagian depan muara ke-2

sungai kondisinya selalu terendam air sehingga biota yang berada di wilayah ini

tidak mengalami tekanan fisik yang terlalu besar seperti halnya stasiun 4 dan

beberapa stasiun lain yang berada di wilayah pasang surut (Gambar 2.1).

Demikian halnya dengan kandungan bahan organik yang merupakan bahan

makanan dan sumber energi bagi hewan bentos di stasiun 7 ini lebih tinggi jika

dibandingkan stasiun lain yang ada di Sungai Simbat, hal ini memungkinkan

hewan bentos yang ada di stasiun ini mendapatkan asupan makanan dan energi

yang cukup untuk dapat bertahan hidup. Sedangkan stasiun 4 kandungan bahan

organiknya tergolong sangat sedikit, bila mengacu pada standar yang ditetapkan

Reynold (1971), maka kandungan bahan organik di stasiun ini masuk dalam

kategori sangat rendah sementara di stasiun 7 masuk dalam kategori sedang (Tabel

9.4).

Sementara kelimpahan tertinggi kelas Gastropoda terdapat di stasiun 3

Sungai Kerian dan didominasi oleh famili Potamididea yaitu C. Cingilata dan

Terebralia palutris, sedangkan terendah di stasiun 2 Sungai Simbat (Tabel 4.4).

Stasiun 3 yang terletak dibagian muara Sungai Kerian memiliki kandungan bahan

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
organik lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain, yaitu sebesar 10,22% (Tabel

9.4). Letak stasiun ini yang cukup terlindungi oleh ekosistem mangrove

memungkinkan hewan bentos yang mendiami stasiun ini lebih dapat bertahan

dibandingkan stasiun lain. Sementara itu famili Potamididea merupakan

gastropoda yang umum ditemukan di habitat hutan mangrove, sebagaimana

diterangkan oleh Carpenter and Niem (1998), bahwa famili Potamididea

ditemukan melimpah di daerah yang berair payau, estuarin yang berlumpur, dan

daerah mangrove atau rawa dekat garis tertinggi pasang.

Di stasiun 1, dan 2 Sungai Kerian serta stasiun 2 Sungai Simbat bivalvia

tidak ditemukan. Hal ini berlawanan dengan keberadaan gastropoda yang mana

pada stasiun 1 dan 2 di kedua muara sungai kelimpahannya relatif tinggi terutama

di Sungai Kerian. Tidak ditemukannya bivalvia di ketiga lokasi ini dimungkinkan

oleh beberapa faktor diantaranya persaingan atau kompetisi dimana kelas Bivalvia

di kedua stasiun ini kalah bersaing dengan kelas Gastropoda. Kelimpahan

gastropoda di kedua stasiun tersebut cukup tinggi dan didominasi oleh genus

Cerithidea. Sesuai dengan pernyataan Barnes (1987) bahwa kelas Gastropoda

merupakan spesies yang luas penyebarannya dan paling banyak jenisnya serta

mampu untuk hidup dalam berbagai macam subtrat dasar perairan. Faktor lain

yang diduga turut mempengaruhi kelangkaan bivalvia di kedua lokasi adalah

aktifitas pertambakan penduduk yang sangat tinggi terutama di sebelah kanan dan

kiri stasiun 1 dan 2 Sungai Kerian, dimana pada kedua stasiun ini terdapat

beberapa mesin diesel berbahan bakar solar yang digunakan untuk mamasukkan

dan membuang air tambak dari dan kedalam sungai. Hal ini sangat mungkin

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
mengakibatkan kondisi di kedua stasiun ini sudah mengalami penurunan kualitas

perairan. Millero dan Sohn (1992) dalam Prihatiningsih (2004) menerangkan

bahwa tingginya aktifitas manusia mengakibatkan penurunan kualitas perairan dan

sedikit banyak akan mempengaruhi habitat yang berimbas pada pertumbuhan,

perkembangan bahkan sangat mungkin mempengaruhi keanekaragaman

mikroorganisme, vertebrata dan avertabrata yang hidup di dasar perairan seperti

makrobentos.

Hal serupa juga terjadi di stasiun 3 dan 4. Bivalvia yang ditemukan

tergolong sangat sedikit baik dari segi jumlah ataupun jenisnya. Di stasiun 3 dan 4

Sungai Kerian hanya ditemukan masing-masing 1 spesies bivalvia yaitu

Trachycardium orbita (0,509 ind/dm3) dan Isognomon sp (0,339 ind/dm3), begitu

juga dengan stasiun 4 Sungai Simbat hanya ditemukan 1 spesies yaitu

Trachycardium orbita (Tabel 3.4). Sedangkan untuk gastropoda di stasiun ini

mencapai kelimpahan tertinggi di kedua muara sungai. Sama seperti stasiun 1 dan

2 genus Cerithidea di kedua stasiun ini masih mendominasi (Tabel 4.4). Faktor

persaingan dimungkinkan masih menjadi penyebab utama kelangkaan bivalvia di

ketiga stasiun ini dimana di stasiun 3 dan stasiun 4 pada kedua sungai bivalvia

kalah dalam kompetisi dengan gastropoda. Whitten et al., (1987) manyatakan

bahwa jika suatu jenis mampu memenangkan kompetisi baik ruang maupun

makanan, maka jenis tersebut biasanya akan mendominasi suatu habitat.

Gastropoda lebih aktif dalam upaya mencari dan mengambil makanan jika

dibandingkan dengan bivalvia. Ada dua aspek yang berperan terhadap efisiensi

pengambilan makanan saat gastropoda bergerak mencari makan yaitu kecepatan

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
pergerakannya dan kondisi jalan atau subtrat. Dalam proses mencari makan

dibutuhkan waktu yang paling memungkinkan untuk mendapatkan makanan

dengan mudah dan aman (Hughes,1986).

Letak stasiun 3 dan 4 yang langsung menghadap ke laut diduga turut

mempengaruhi kelangkaan spesies bivalvia ini. Dengan posisi seperti ini, stasiun

3 dan 4 cenderung mendapatkan tekanan fisik yang lebih besar dibandingkan

dengan stasiun yang lain. Kondisi pantai yang terlindung dengan karakteristik

ombak yang tidak besar memungkinkan lebih banyak jenis moluska yang

ditemukan. Selain itu kondisi subtrat yang berpasir juga turut memberi pengaruh

baik lansung ataupun tidak terhadap kelimpahan dan penyebaran bivalvia dan

gastropoda, jenis sedimen dasar dapat menjadi faktor pembatas bagi penyebaran

organisme bentos.

Jenis subtrat dasar erat hubungannya dengan kandungan oksigen dan

ketersediaan nutrien yang terkandung di dalamnya. Pada subtrat berpasir,

kandungan oksigen relatif lebih besar dibandingkan pada subtrat yang halus,

karena pada subtrat berpasir terdapat pori udara yang memungkinkan terjadinya

pencampuran yang lebih intensif dengan air di atasnya, tetapi pada subtrat

berpasir ini tidak banyak terdapat nutrient, sedangkan pada substrat yang lebih

halus, walaupun oksigen sangat terbatas tapi cukup tersedia nutrient dalam jumlah

yang besar (Wood, 1987). Driscol dan Brandon (1973) dalam Rangan (1996)

menyebutkan bahwa sebaran dan kelimpahan jenis moluska berhubungan dengan

besar kecilnya diameter butiran sedimen di dalam atau di atas tempat mereka

berada. Subtrat berpasir tidak menyediakan tempat yang stabil bagi organisme

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
karena aksi gelombang secara terus menerus menggerakkan pertikel subtrat

(Sumich, 1992 dalam Ardi, 2002).

Pada stasiun 5, 6 dan 7 yang mewakili daerah laut, letaknya berada di

depan muara kedua sungai (Gambar 2.1), kelimpahan bivalvia di ketiga stasiun ini

cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun lain yang berada di muara

dan badan sungai. Sebaliknya kelimpahan gastropoda cenderung mengalami

penurunan. Ketiga stasiun ini memiliki kedalaman rata-rata lebih dari 1 m dan

selalu tergenang air (Tabel 9.4). Sedangkan kelas Gastropoda dominan ditemukan

di kawasan mangrove, daerah muara yang selalu mengalami ritme pasang dan

surut, serta daerah yang berair payau. Dharma (1988) menyebutkan kelas

Gastropoda dominan ditemukan di kawasan mangrove, perairan dangkal, muara –

muara sungai dan rawa dekat garis pasang tertinggi, misalnya famili Potamididea

dan Cerithiidea. Sebaliknya bivalvia cenderung menyukai darah atau habitat yang

senantiasa tergenang air dan pada umumnya bivalvia hidup membenamkan

dirinya dalam pasir atau pasir berlumpur di dasar perairan. Nontji (1992)

mengatakan bahwa bivalvia hidup menetap di dasar laut dengan cara

membenamkan diri di dalam pasir atau lumpur, juga menempel pada karang-

karang batu serta benda-benda keras dengan semacam serabut yang dinamakan

byssus. Akan tetapi pada beberapa spesies bivalvia seperti Mytillus edulis dapat

hidup di daerah intertidal karena mampu menutup rapat cangkangnya untuk

mencegah kehilangan air (Nybakken, 1992).

Selain itu dalam suatau ekosistem bivalvia dan gastropoda akan saling

berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lainnya, misalnya dalam kompetisi baik

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
ruang ataupun makanan. Menurut Nybakken (1988), dalam setiap ekosistem,

spesies-spesies tidak terisolasi melainkan saling berinteraksi dengan spesies lain

pada daerah yang sama.

Kelimpahan rata-rata individu pada seluruh stasiun di kedua lokasi

penelitian cenderung mengalami penurunan dari periode pengambilan pertama,

kedua, sampai pada periode ketiga pengambilan sampel (11, 17 dan 23 Juli 2007).

Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya fisik, kimia dan biologi

yang semuanya saling mempengaruhi satu sama lain. Allard and Moreau ( 1987)

dalam APHA (1992) mengatakan bahwa keberadaan hewan bentos pada suatu

perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun

abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang

merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos. Adapun faktor abiotik

adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO),

kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen

(N), kedalaman air, dan substrat dasar. Selain itu faktor yang dapat mempengaruhi

distribusi dan kelimpahan organisme pada suatu populasi adalah pertambahan

karena adanya natalitas dan imigrasi serta pengurangan karena mortalitas dan

emigrasi (Krebs, 1987).

Tenggang waktu pengambilan antara sampling pertama dengan periode

selanjutnya yang hanya 7 hari diduga turut berpengaruh terhadap menurunnya

jumlah biota yang ditemukan. Jarak waktu sampling ini tergolong sangat singkat

sehingga peluang dan kesempatan hewan bentos dan juga lingkungan sangat

sedikit dalam upaya merecoveri keadaan.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Faktor lingkungan yang kurang mendukung diduga menjadi salah satu

penyebab utama kelangkaan organisme bentos di kedua lokasi ini. Selain itu

wilayah pesisir utara Jawa Tengah khususnya yang terbentang dari Semarang

hingga Kabupaten Kendal termasuk dalam kawasan padat industri yang mana

secara lansung ataupun tidak akan memberikan dampak terhadap lingkungan

khususnya perairan di sekitarnya termasuk perairan muara Sungai Kerian dan

Sungai Simbat.

Dari hasil analisa subtrat yang dilakukan didapatkan bahwa jenis subtrat

pada kedua lokasi penelitian ini berupa pasir dengan rata kandungan bahan

organik (BO) termasuk dalam kategori rendah sampai sangat rendah. Adapun

substrat berpasir umumnya miskin akan organisme dengan rata-rata produksi

primer pantai berpasir rendah, selain itu kebanyakan bentos pada pantai berpasir

mengubur diri dalam substrat. Bahan organik merupakan suatu unsur pokok tanah

yang penting dan khas sebagai sumber makanan dan energi bagi organisme bentik

khususnya bivalvia dan gastropoda yang hidup di atas dan terbenam di dalam

subtrat perairan. Hardjowigeno (1987) dalam Wibowo et al. (2004) menjelaskan

bahwa fungsi bahan organik antara lain sebagai sumber energi bagi

mikroorganisme yang menyuburkan tanah, meningkatkan kamampuan daya tahan

air dan memperbaiki struktur tanah. Jumlah dan laju penambahan bahan organik

dalam sedimen mempunyai pengaruh yang besar terhadap populasi organisme

dasar, sedimen yang kaya akan bahan organik sering didukung oleh melimpahnya

organisme bentik tersebut (Wood, 1987).

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Kedalaman dan kecerah perairan Muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat

tergolong sangat rendah. Kedalamnya hanya berkisar antara 0,55 – 3,55 m,

sedangkan kecerahannya berkisar antara 0,35 – 0,79 m (Tabel 9.4). Perairan yang

dangkal dan tingkat kecerahan yang rendah merupakan salah satu ciri khas dari

perairan estuaria. Perairan yang dangkal akan mengakibatkan penetrasi cahaya

matahari bisa sampai lansung ke dasar perairan, hal ini memungkinkan terjadinya

kenaikan suhu dasar perairan. Sementara kecerahan yang rendah disebabkan oleh

banyaknya partikel tersuspensi akibat dari proses erosi, abrasi dan sedimentasi,

partikel tersuspensi ini dapat menghambat penetrasi cahaya matahari yang masuk

ke perairan tersebut, sehingga suhu perairanpun akan ikut terganggu karena

sebagian besar cahaya matahari yang masuk ke perairan akan dipentulkan kembali

oleh pertikel-partikel tersuspensi tersebut. Akibat lebih jauh akan menurunkan

produktifitas primer perairan dimana mikroalga yang menjadi produsen utama di

lingkungan perairan tidak bisa melakukan proses fotosintesis secara maksimal.

Demikian pula halnya dengan hewan bentos, kekeruhan yang tinggi akan

menghalangi proses pencarian dan pencernaan makanan khususnya individu yang

menggunakan mata dan insangnya.

Suhu, salinitas dan pH (Tabel 9.4) setiap stasiun di kedua lokasi tidak

mengalami perubahan yang besar pada setiap periode pengambilannya, dengan

rentangan tergolong sangat kecil serta masih dalam ambang batas normal. Hal ini

diduga perubahan suhu, salinitas dan pH tidak memberikan pengaruh besar pada

kelimpahan bivalvia dan gastropoda.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
4.2.3. Indeks Keanekaragaman, Keseragaman dan Indeks Dominansi

Rata-rata indeks keanekaragaman bivalvia di Sungai Kerian dan Sungai

Simbat cukup bervariasi (Tabel 7.4), yaitu berkisar antara 0 - 1,340. Jika kita

berpatokan pada Wilhm and Dorris (1986) yang mengatakan bahwa jika nilai H` <

1, maka tingkat keanekaragamannya sangat kecil, 1 < H` < 3 masuk dalam

kategori sedang dan H` > 3 tergolong dalam kategori keanekaragaman tinggi,

maka secara umum indeks keanekaragaman bivalvia yang berada di Sungai

Kerian dan Sungai Simbat berada dalam kategori sedang sampai rendah. Hanya

stasiun 6 Sungai Kerian dan stasiun 7 Sungai Simbat yang masuk kedalam

kategori sedang. Sementara indeks keanekaragaman tertingginya terdapat di

stasiun 7 Sungai Simbat, yang mana di stasiun tersebut memiliki nilai kelimpahan

bivalvia lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun yang lainnya serta jumlah

spesies yang ditemukanpun lebih bervariatif.

Begitu pula dengan gastropoda, indeks keanekaragamannya berkisar

antara 0 - 1,227 (Tabel 8.4). Hanya stasiun 4, 5 dan 6 Sungai Kerian yang

memiliki indeks keanekaragaman masuk dalam kategori sedang, sedangkan

stasiun 1, 2, 3 dan 7 nilai indeks keanekaragamannya masuk dalam kategori

rendah. Nilai indeks keanekaragaman tertingginya di stasiun 4, walupun tidak

menempati kelimpahan tertinggi namun dari segi jenis yang ditemukan, stasiun ini

lebih banyak dibandingkan stasiun yang lain.

Rendahnya indeks keanekaragaman bivalvia dan gastropoda ini

dimungkinkan oleh meningkatnya berbagai macam aktifitas manusia di sekitar

wilayah perairan tersebut. Pertambakan penduduk, rekreasi, penangkapan ikan

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
oleh nelayan yang menggunakan jenis jaring ”Trawl” atau Pukat Harimau,

pembuangan limbah rumah tangga oleh penduduk dan juga aktivitas industri serta

pembangunan pelabuhan yang berada diantara kedua muara sungai (Gambar 2.1)

dan berbagai macam aktivitas lain yang intensif dimungkinkan menjadi salah satu

faktor penyebabnya. Disamping itu faktor-faktor ekologis, misalnya natalitas dan

mortalitas dari biota itu sendiri serta faktor biologi dan fisika perairan seperti jenis

subtrat dasar yang berpasir, ketersediaan bahan organik yang rendah (Tabel 9.4),

gelombang dan arus juga dimungkinkan berperan dalam hal ini. Odum, (1993)

menegaskan bahwa keanekaragaman jenis dipengaruhi oleh banyak hal,

diantaranya jenis habitat tempat hidup, stabilitas lingkungan, produktifitas,

kompetisi dan penyangga rantai makanan.

Semakin baik kondisi lingkungan perairan, maka nilai indeks

keanekaragaman jenis biota akan semakin tinggi. Begitu juga sebaliknya indeks

keanekaragaman jenis akan semakin menurun seiring dengan menurunnya kondisi

atau kualitas lingkungan perairan. Tarumingkeng (1994) menyebutkan bahwa

kondisi lingkungan akan mempengaruhi aneka ragam bentuk-bentuk hayati dan

banyak jenis mahluk hidup atau keanekaragaman hayatai. Sebaliknya

keanekaragaman dan banyaknya mahluk hidup menentukan keadaan lingkungan.

Selanjutnya Clarc (1974), mengatakan ”keanekaragaman mengekspresikan variasi

spesies yang ada dalam suatu ekosistem, ketika suatu ekosistem memiliki indeks

keanekaragaman yang tinggi maka ekosistem tersebut cenderung seimbang.

Sebaliknya, jika suatu ekosistem memiliki indeks kenekaragaman yang rendah

maka mengindikasikan ekosistem tersebut dalam keadaan tertekan atau

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
terdegradasi”. Sesuai dengan pendapat Clark (1974) tersebut, maka kondisi

ekosistem di muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat berada dalam kondisi

tertekan dan tidak seimbang. Hal ini mengindikasikan bahwa lingkungan di

daerah penelitian dimungkinkan telah mengalami penurunan kualitas atau telah

terdegradasi.

Berlawanan dengan nilai indeks keanekaragaman yang relatif rendah,

untuk indeks keseragaman bivalvia di semua stasiun pada kedua lokasi lebih

condong pada kategori tinggi. Nilai indeks keseragaman yang diperoleh berkisar

antara 0 - 0,935 (Tabel 7.4). Berdasarkan ketentuan Krebs (1985), nilai ini masuk

kedalam kategori rendah sampai dengan tinggi. Namun beberapa hal yang perlu

dijelaskan dalam hal ini bahwa indeks keseragaman yang bernilai 0, yaitu stasiun

3, 4 dan 5 Sungai Kerian serta stasiun 4 Sungai Simbat bukan karena spesiesnya

yang tidak ditemukan, namun lebih karena individu yang ditemukan di stasiun

tersebut hanya 1 jenis, sehingga memiliki nilai indeks indeks keanekaragam 0.

Berdasarkan pada rumus indeks keseragaman (Krebs, 1985) bahwa nilai indek

keseragaman merupakan hasil bagi antara indeks keanekaragaman dengan nilai ln

dari jumlah spesies yang ditemukan.

Sementara itu indeks keseragaman gastropoda setiap stasiun di Sungai

Kerian dan Sungai Simbat secara umum masuk dalam kategori tinggi, dimana

rerata indeks keseragaman seluruh stasiunnya di atas 0,6 kecuali stasiun 3 Sungai

Kerian, stasiun 1, 2 dan 7 Sungai Simbat yang berada dalam kategori sedang

(Tabel 8.4). Nilai keseragaman yang tinggi di beberapa stasiun mencerminkan

bahwa dominasi jenis atau spesies tertentu sangat kecil, sementara stasiun yang

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
memiliki nilai keseragaman rendah menggambarkan bahwa di stasiun tersebut

telah didominasi oleh jenis tertentu.

Untuk indeks dominansi kelas Bivalvia di stasiun 6 dan 7 kedua sungai

berada di bawah 0,5 sehingga tidak ditemukan adanya dominansi spesies tertentu

di kedua stasiun tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil perhitungan indeks

keseragamannya, dimana pada kedua stasiun ini baik di Sungai Kerian ataupun

Sungai Simbat memiliki nilai indeks keseragaman yang tinggi (Tabel 7.4). Hal

sebaliknya terjadi pada stasiun 3, 4, dan 5 Sungai Kerian dimana Indeks

dominansinya lebih besar dari 0,5 dan indeks keseragamannya 0. Dengan

demikian pada ketiga stasiun ini terdapat dominansi oleh spesies-spesies tertentu.

Sebagaimana kita ketahui bahwa indeks keseragaman jenis suatu ekosistem

berbanding terbalik dengan indeks dominansinya.

Sementara itu kelas Gastropoda di stasiun 1, 4, 5, 6 Sungai Kerian dan

stasiun 1, 4, 6 dan 7 Sungai Simbat indeks dominansinya di bawah 0,5 hal ini

memberi gambaran bahwa di beberapa stasiun tersebut tidak ada spesies

gastropoda yang mendominasi ekosistem. Sementara di stasiun 5 Sungai Simbat

indeks dominansinya mencapai 1, hal ini lebih dikarenakan pada stasiun tersebut

hanya diketemukan 1 jenis spesies yaitu Cerithium cobelti. Spesies ini merupakan

bagian dari famili Cerithiidea yang umumnya hidup di perairan dangkal dengan

subtrat berpasir hingga berlumpur dan juga bisa ditemukan di lingkungan muara

atau estuaria khususnya di wilayah perairan tropis. Hidup dengan berkoloni dan

merupakan hewan herbivora, memakan alga-alga kecil, bakteri dan debris organic.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulakan bahwa :

1) Kelas Bivalvia dan Gastropoda yang ditemukan di Sungai Kerian dan Sungai

Simbat masing-masing terdiri dari 6 famili dan 6 genus.

2) Kelimpahan tertinggi kelas Bivalvia di Sungai Kerian adalah 3,394 ind/dm3,

sedangkan Sungai Simbat adalah 3,846 ind/dm3. Sementara kelas Gastropoda

di Sungai Kerian memiliki kelimpahan tertinggi adalah 9,786 ind/dm3,

sedangkan Sungai Simbat adalah 2,036 ind/dm3.

3) Secara umum nilai Indeks keanekaragaman, keseragaman dan indeks

dominansi kelas Bivalvia maupun kelas Gastropoda di Sungai Kerian dan

Sungai Simbat memiliki kisaran nilai yang hampir sama. Namun dilihat dari

nilai indeks keanekaragamannya, bivalvia dan gastropoda di Sungai Kerian

maupun Sungai Simbat menunjukkan bahwa tingkat keanekaragaman spesies

kedua biota tersebut masuk dalam kategori rendah sampai dengan sedang.

4) Terdapat dominansi oleh suatu jenis tertentu di perairan muara Sungai Kerian

dan Sungai Simbat.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
5.2. Saran

Hasil penelitian ini dapat dikembangkan dengan melakukan penelitian

lanjutan secara periodek dengan cakupan lokasi yang lebih luas serta variasi

parameter yang lebih lengkap, sehingga keberadaan fauna bentik dapat diketahui,

demikian pula dengan perubahan komunitasnya.

Perlunya peran akademisi dan pemerintah setempat dalam memberikan

penyuluhan, menambah wawasan dan membuka kesadaran masyarakat untuk

menumbuhkembangkan potensi dan pemanfaatan sumberdaya hayati laut secara

bertanggung jawab beserta upaya pelestarian lingkungannya.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
DAFTAR PUSTAKA

Anggoro, S. 1984. Distribusi dan Kelimpahan Molluska. Universitas


Diponegoro. Semarang.

APHA. 1992. Standart Methods for the Examination of Water and Waste Water.
18th edition. Washington.

Ardi. 2002. Pemanfaatan Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas perairan


Pesisir. http;//tumoutou.net/702.

Asriyanto. 1988. Hubungan dan Pengaruh Kondisi Oseanografi Terhadap


Struktur Komunitas Makrobenthos di Antara Pulau Panjang dan
LPWP Undip Jepara. Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro.
Semarang. 45 hlm.

Astuti, 1990. Keanekaragaman Benthos sebagai Bioindikator Pencemaran


Logam Pb, Hg, dan Cd di Pantai Utara Jawa Tengah. Program Studi
Biologi Fakultas MIPA, Universitas Dipenegoro, Semarang.

Barnes, R. D. 1987. Invertebrate Zoology. Fith edition. Sounders College


Publishing. Pp:344-377.

Barnes, R. D. and R. N. Hughes. 1982. An Introduction to Marine Ecology.


Balackwell Scientific Publication. London. 72-110 pp.

Bayne, B. L. 1976. Marine Mussels. Their ecology and Physiology. Cambridge


University. Press, New York. P. 13-18.

Berry, A. J. 1972. Fauna Zonatio in Mangrove Swamps. Departement of


Zoology. University of Malaya : p. 90-98.

Boyd, C. E. and Lichtkoppler. 1979. Water Quality Management in Pond Fish


Culture for Akuaculture. Experimental Station. Alabama.

Buckman, H.O. dan N.C, Brady 1982. Ilmu Tanah. Bhatara Karya Aksara.
Jakarta. 788 Hlm.

Carpenter, E.K. dan V.H. Niem. 1998. The Living Marine Resource of The
Western Central Pacific. Vol 1. Seaweed, Corals, Bivalves,
and Gastropod. New York: Food and Agriculture Organizations
United Nations. 686 pp.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Clark, J. 1974. Coastal Ecosystems. Ecological Considerations For
Management Of The Coastal Zone. Washington D.C.
Publications Department The Conservations Foundations. 178
pp.

Coles, B. 1977. The Biology of Estuarine and Coastal Waters. Academic Press
Inc. London. New York. 667 hlm.

Daget, J. 1976. Les Modeles Mathematiques en Ecologie. Masson, Coll.


Ecol., 8, Paris: 172 pp.

Dahuri, R., J. Rais, S.P. Ginting, dan M.J. Sitepu.1996. Pengelolaan


Sumber Daya Hayati Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu.
Jakarta: Pradnya Paramitha. 305 hlm.

Dance, S.P. 1977. The Encyclopedia of Shells. Landford Press. London.

Dharma, B. 1988. Siput Dan Kerang Indonesia I. PT. Sarana Graha, Jakarta.

Hadi, S. 1989. Metodologi Reasearch. Jilid 1. Cetakan ke-10. Yayasan Penerbit


Fakultas Fisikologi UGM. Yogyakarta. 65 Hal.

Hawkes, H. A. 1978. Invertebrates as Indicators of River Water Quality dalam


A. James dan L. Evison (Ed.) Biological Indicator of Water Quality.
John Willey & Sons. Toronto.

Hughes, R.H. 1986. A Fungtional Biology of Marine Gastropods. First


Published. John Hopkins University Press. USA:7-112.

Hutabarat. S. dan S. Evans. 1985. Pengantar Oseanografi, UI Press. Jakarta


167 hlm.

Indardjo, A., dan Muslim. 1996. Tingkat Fluktuasi Biovaliabel Phospat Sedimen
dan Terlarut Terhadap Kehidupan Makrobentos dan Karang di Pantai
Teluk Awur Jepara. Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro.
Semarang. 53 hlm.

Jonathan, L.R. 1979. Dimensions of Ecology. Oxford University Press. New


York. 536 p.

Kastoro, W. 1988. Work Shop Budidaya Laut : Budidaya jenis-jenis Kerang


(bivalvia). Puslitbang Oceanografi LIPI. Jakarta.

Kennish, M. 1990. Ecology of Estuary, Biologycal Aspect. Vol 2. CRC


Press, Boston, 391 pp.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Krebs, C.J. 1985. Ecology: The Experimental Analysis of Distributions and
Abundance. Ed. New York: Harper and Row Publishers. 654 pp.

Leviton, J. S. 1982. Marine Biology. Prentice Hall Inc. New Jersey. USA. 526 p.

Mann, K. H. 1982. Ecology of Coastal Water A System Approach. Blackwel


Scientific Publication. London. 183 – 209 pp.

Mason, J, 1981. Biology of Freshwater Pollutions. Logman. London. 215 p.


Mather, P., and Bennet, I. 1984. Aguid To The Fauna, Flora and Geology of
Heron Island and Adjacent Reef and Bays. The Australian Coral Reef
Society Incorporate. The Great Barrier Reef Committee Brisbane. Pp
81-90.

Nazir, M. 1988. Metodologi Penelitian Ghalia Indonesia. Jakarta.

Nontji, A. 1986. Rencana Pengembangan Puslitbang Limnologi. LIPI pada


Prosiding Expose Limnologi dan Pembangunan. Bogor.

Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta. Pp 157-171.

Nybakken, J.W. 1992 Biologi Laut, Suatu Pendektan Ekologis. PT Gramedia


Pustaka, Jakarta 458 hlm. (diterjemahkan oleh M. Eidmann, et al).

Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Penerjemahan: Samingan, T dan B.


Srigandono. Gajahmada University Press. Yogyakarta. 697 hal.

Oemarjati, B. S. dan W. Wardhana. 1990. Taksonomi Avertebrata. Pengantar


Praktikum Laboratorium. Penerbit Unversitas Indonesia press :
Jakarta.

Pescod, M. B. 1973. Investigation of Rational Effluent and Standard for


Tropical Contries. AIT. Bangkok. P. 59.

Plaziat, C. J. 1984. Mollusc Distribution in Mangal. Dr. W. Junk Published. P.


121-143.

Prihatiningsih. 2004. Struktur Komunitas di Perairan Teluk Jakarta,


Skripsi Program Studi Ilmu Kelautan, Fak. Perikanan dan
Ilmu Kelautan IPB, Bogor, 46 hal.

Putro, S. P. dan N. R. Nganro. 2000. Studi Komunitas


Makroinvertebrata Bentik di Kawasan Pesisir UP Pertamina
Cilacap. Majalah Ilmu Kelautan Nomor 18 Tahun V. Jurusan Ilmu
Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Radojevic, M. and Bashkin, V. N. 1999. Practical Environmental Analysis.
Published The Royal Society of Chemistry. Chambridge. U. K. 154
pp.

Rangan, J. K. 1996. Struktur dan Tipologi Komunitas Gastropoda pada Zonasi


Hutan Mangrove Perairan Kulu, Kab. Minahasa Sulawesi Utara.
Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 94
hal.

Reynold, S. C. 1971. A Manual of Introductor Soil Science and Sampel Soil


Analysis Metods. North Pacific Commision. 147 hal.

Robert, D. And Soemodiharjo. 1982. Shallow Waters Marine Mollusca of


North-West Java. LON-LIPI. Jakarta. : p. 312-332.

Romimohtarto, K. dan S. Juwana. 1999. Biologi Laut. Ilm4 Pengetahuan


Tentang Biota Laut. Jakarta : Puslitbang Oseanologi-LIPI. 527 him.

Ruswahyuni, dan Susilowati. 1991. Hubungan Tekstur Dasar Perairan Dengan


Distribusi Bivalvia Secara Vertikal di Pantai Bondo, Jepara.
LEMLIT-UNDIP. Semarang. 52 hal.

Samingan, T dan B, Srigandono. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Gajahmada


University Press. Yogyakarta. 697 hal.

Soedharma, D. 1994. Keanekaragaman Makrobentos dan Hubungannya dengan


Kualitas Lingkungan Pesisir Teluk Lampung. Jurnal Ilmu – Ilmu
Perairan dan Perikanan Indonesia. II : 15 – 34.

Stowe, K. 1987. Essentials of Ocean Science. John Wiley and Sons.


Canada. 353 pp.

Supriharyono., Yusuf, M. dan Ekowati, T. 1993. Makrobentos Sebagai


Indikator Pencemaran Air di Perairan Pulau Tirang Cawang,
Semarang. Lembaga Penelitian UNDIP. Semarang. 48 hal.

Suwignyo, S., Widigdo, B. Wardiatno, Y. dan Krisanti, M. 1998. Avertebrata Air


untuk Mahasiswa Perikanan. Jilid 2. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor. 300 hlm.

Swift, D. R. 1993. Aquaculture Training Manual. Second Edition. Fishing News


Book. New York. P. 123-125.

Swingle, H. S. 1968. Standarization of Chemical Analysis for Water and Pond


Muds. FAO Fish rep., Vol 3.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Tarumingkeng, R. 1994. Dinamika Populasi, Kajian Ekologi
Kuantitatif. Jakarta: Universitas Kristen Krida Wacana. 283 hal.

Townsen. J and R. N. Hughes. Distribution of Macrofauna on a Malayan


Mangrove Shore. Journal of Animal Ecology, 43 : 51-59.

Triatmojo, B. 1999. Teknik Pantai. Beta offset. Yogyakarta.397 hal.

Wibowo, E., Ervia, Suryono dan T. Retnowati. 2004. Kandungan Klorofil-a


Pada Diatom Epipelik di Sedimen Ekosistem Mangrove. Majalah
Ilmu Kelautan, 9(4): 225-229.

Widiastuti, E. 1983. Kualitas Air Cakung Ditinjau Dari Kelimpahan Hewan


Makrobentos. Fak. Pasca sarjana-IP. Bogor. 106 hal.

Widyorini, N. 1995. Dampak Ekomorfologis Pencemaran terhadap Makrobentos


di Perairan Estuarin Kabupaten Batang. Lembaga penelitian Undip
Semerang. 47 hal.

Wilhm, J. 1975. Biological Indicators of Pollution. dalam Whitton B.A. (ed).


River Ecology. Blackwell Scient Publ. Oxford.

Wilhm, J. L., and T.C. Doris. 1986. Biologycal Parameter for water quality
Criteria. Bio. Science: 18.

Wilson, B. R., and K. Gillett. 1979. A Field Guide To Australian Shells. A.H. &
A.W. reed Pty Ltd, Sidney. 287 p.

Woods, M. S. 1987. Subtidal Ecology. Edward Arnold Pty. Limited, Australia.

Lampiran 1. Koordinat lokasi penelitian

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Sungai Stasiun Koordinat
LS : 06055’42,0’’
1
BT : 110017’56,5’’
LS : 06055’32,6’’
2
BT : 110017’56,8’’
LS : 06 055’03,8’’
3
BT : 110018’00,9’’
LS : 06 055’03,8’’
Kerian 4
BT : 110018’00,9’’
LS : 06055’26,1’’
5
BT : 110018’18,3’’
LS : 06055’25,7’’
6
BT : 110018’07,8’’
LS : 06055’26,5’’
7
BT : 110017’49,5’’
LS : 06054’51,2’’
1
BT : 110015’50,0’’
LS : 06054’44,5’’
2
BT : 110015’47,5’’
LS : 06054’41,0’’
3
BT : 110015’50,1’’
LS : 06054’41,0’’
Simbat 4
BT : 110015’50,1’’
LS : 06055’31,8’’
5
BT : 110015’29,7’’
LS : 06054’31,2’’
6
BT : 110015’39,5’’
LS : 06054’31,8’’
7
BT : 110015’49,9’’

Keterangan :
LS : Lintang Selatan
BT : Bujur Timur
Lampiran 2. Jumlah total bivalvia dan gastropda tiap stasiun di muara
Sungai Kerian dan Sungai Simbat

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Sungai Kerian Sungai Simbat
Taxa Bivalvia
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Solenidae
1 2 1
Solen vaginalis 9 2 0 6 13
Pholadidea
1 2 1
Pholas sp 3 1 0 8 6 11
Arcidae
Anadara antiquata 8 5 7 7 9
Mactridae
1 1
Mactra violacea 9 2 7 3 17
Cardiidea
Trachycardium sinense 9 9 5 7 3 11 18
Isognomonidea
Isognomon sp 6 5
1 6 4 3 1 1 3
Total 0 0 9 6 3 0 3 9 0 7 3 8 0 68
Jumlah Spesies 0 0 1 1 1 5 4 3 0 3 1 2 4 5

Sungai Kerian Sungai Simbat


Taxa Gastropoda
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Potamididea
4 7 14 3 1 1
Cerithidea cingulata 1 0 1 9 2 5
1 1 1
Terebralia palutris 5 2 15 7 1 7
Cerithiidea
1
Cerithium cobelti 11 5 0 3
1
Cerithium alveolum 2 5 7 4 9 4
1
Clypoemorus coralium 11 7 2 7
1
Clypoemorus battilariaformis 7 0 5 9
2 1
Cerithium columna 7 10 3 4 6
Crepidulidea
Crepidula walshi 3 1
Buccinidea
Pisania crocata 3 5 8
Cymatiidea
Gyrineum gyrinum 9 4 7
Fusciolariidea
Fusinus Colus 7 3

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
6 8 17 8 3 2 1 1 3 3 1 3
Total 6 2 3 2 4 8 7 9 9 1 5 0 6 11
Jumlah Spesies 4 2 4 5 4 4 3 2 3 4 4 1 3 2

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 3. Persentase kelimpahan relatif bivalvia tiap stasiun di muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat

Sungai Kerian Sungai Simbat


Taxa Bivalvia
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Famili Solenidae
Solen vaginalis 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 31.65 0.00 56.43 0.00 0.00 0.00 55.50 20.00 19.10
Famili Pholadidea
Pholas sp 0.00 0.00 0.00 0.00 100.00 0.00 48.81 25.64 0.00 0.00 0.00 44.50 20.00 16.19
Famili Arcidae
Anadara antiquata 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13.35 11.65 0.00 0.00 41.17 0.00 0.00 23.30 13.23
Famili Mactridae
Mactra violacea 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 31.65 27.89 17.94 0.00 17.67 0.00 0.00 0.00 25.01
Famili Cardiidea
Trachycardium sinense 0.00 0.00 100.00 0.00 0.00 15.00 11.65 0.00 0.00 41.17 100.00 0.00 36.70 26.47
Famili Isognomonidea
Isognomon sp 0.00 0.00 0.00 100.00 0.00 8.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Jumlah Total 0.00 0.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 0.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00
Jumlah Spesies 0 0 1 1 1 5 4 3 0 3 1 2 4 5

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 4. Persentase kelimpahan relatif gastropoda tiap stasiun di muara Sungai Kerian dan Sungai Simbat

Sungai Kerian Sungai Simbat


Taxa Gastropoda
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Famili Potamididea
Cerithidea cingulata 62.14 85.36 81.51 47.55 0.00 0.00 0.00 63.19 0.00 48.36 0.00 0.00 0.00 0.00
Terebralia palutris 22.73 14.64 8.67 0.00 0.00 0.00 0.00 36.81 11.04 0.00 48.59 0.00 0.00 0.00
Famili Cerithiidea
100.0
Cerithium cobelti 0.00 0.00 0.00 0.00 32.36 17.90 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0 8.33 0.00
Cerithium alveolum 0.00 0.00 0.00 14.63 14.73 24.97 0.00 0.00 44.48 29.01 0.00 0.00 0.00 41.75
Clypoemorus coralium 0.00 0.00 0.00 0.00 32.36 24.97 0.00 0.00 0.00 6.48 0.00 0.00 47.25 0.00
Clypoemorus battilariaformis 0.00 0.00 4.04 0.00 0.00 0.00 58.83 0.00 0.00 16.15 25.71 0.00 0.00 0.00
Cerithium columna 10.59 0.00 5.78 28.05 0.00 0.00 0.00 0.00 44.48 0.00 0.00 0.00 44.42 0.00
Famili Crepidulidea
Crepidula walshi 0.00 0.00 0.00 3.66 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2.83 0.00 0.00 0.00
Famili Buccinidea
Pisania crocata 4.55 0.00 0.00 6.11 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 22.88 0.00 0.00 0.00
Cymatiidea
Gyrineum gyrinum 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 32.15 23.50 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 58.25
Famili Fusciolariidea
Fusinus Colus 0.00 0.00 0.00 0.00 20.55 0.00 17.67 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
Jumlah Total 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 100.00
Jumlah Spesies 4 2 4 5 4 4 3 2 3 4 4 1 3 2

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 5. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman dan indeks dominansi bivalvia periode I
( Pengambilan Sampel Tanggal 11 Juli 2007 )

Sungai Kerian Sungai Simbat


Taxa
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Solenidae
Solen vaginalis 9 18 6 2 10
Pholadidea
Pholas sp 5 12 5 6 5 9
Arcidae
Anadara antiquata 5 4 3 3 5
Mactridae
Mactra violacea 12 8 9
Cardiidea
Trachycardium sinense 5 1 5 5 3 3 6
Isognomonidea
Isognomon sp 3 3
Jumlah Spesies 0 0 1 1 1 5 4 2 0 2 1 2 4 5
Kelimpahan (ind / dm3) 0.000 0.000 0.848 0.509 0.848 5.091 4.921 3.903 0.000 1.358 0.509 2.036 2.206 6.618
H` 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 1.370 1.297 0.524 0.000 0.662 0.000 0.693 1.332 1.577
e 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.851 0.936 0.756 0.000 0.955 0.000 1.000 0.961 0.980
C 0.000 0.000 1.000 1.000 1.000 0.289 0.296 0.660 0.000 0.531 1.000 0.500 0.278 0.212

Lampiran 6. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman dan indeks dominansi bivalvia periode II

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
( Pengambilan Sampel Tanggal 17 Juli 2007 )

Sungai Kerian Sungai Simbat


Taxa
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Solenidae
Solen vaginalis 6 4 2 4 3
Pholadidea
Pholas sp 5 5 3 1 1
Arcidae
Anadara antiquata 3 3 4
Mactridae
Mactra violacea 2 1 5 4
Cardiidea
Trachycardium sinense 4 4 5 8
Isognomonidea
Isognomon sp 1
Jumlah Spesies 0 0 1 1 1 4 2 3 0 1 0 1 3 5
Kelimpahan (ind / dm3) 0.000 0.000 0.679 0.170 0.848 2.545 1.018 2.036 0.000 0.509 0.000 0.339 1.697 3.394
H` 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 1.310 0.451 1.078 0.000 0.000 0.000 0.000 0.943 1.445
e 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.945 0.651 0.981 0.000 0.000 0.000 0.000 0.858 0.898
C 0.000 0.000 1.000 1.000 1.000 0.289 0.722 0.347 0.000 1.000 0.000 1.000 0.420 0.265

Lampiran 7. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi bivalvia periode III

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
( Pengambilan Sampel Tanggal 23 Juli 2007 )

Sungai Kerian Sungai Simbat


Taxa
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Solenidae
Solen vaginalis 4 2
Pholadidea
Pholas sp 3 4 2 2 1
Arcidae
Anadara antiquata 1 1 4
Mactridae
Mactra violacea 5 3 2 3 4
Cardiidea
Trachycardium sinense 4 2 3 4
Isognomonidea
Isognomon sp 2 2
Jumlah Spesies 0 0 0 1 1 4 3 2 0 3 0 2 2 3
0.00
Kelimpahan (ind / dm3) 0.000 0.000 0 0.339 0.509 2.545 1.358 0.679 0.000 1.018 0.000 0.679 1.188 1.527
0.00
H` 0.000 0.000 0 0.000 0.000 1.340 0.974 0.693 0.000 1.011 0.000 0.693 0.683 0.965
0.00
e 0.000 0.000 0 0.000 0.000 0.967 0.887 1.000 0.000 0.920 0.000 1.000 0.985 0.878
0.00
C 0.000 0.000 0 1.000 1.000 0.271 0.406 0.500 0.000 0.389 0.000 0.500 0.510 0.407

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 8. Rerata perhitungan kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman
dan indeks dominansi bivalvia selama 3 periode pengambilan

Kelimpahan Bivaivia ( ind/dm3 )

Sungai Kerian Sungai Simbat


Periode
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
0.00 0.00 0.84 0.50 0.84 5.09 4.92 3.90 0.00 1.35 0.50 2.03 2.20
1 6.618
0 0 8 9 8 1 1 3 0 8 9 6 6
0.00 0.00 0.67 0.17 0.84 2.54 1.01 2.03 0.00 0.50 0.00 0.33 1.69
2 3.394
0 0 9 0 8 5 8 6 0 9 0 9 7
0.00 0.00 0.00 0.33 0.50 2.54 1.35 0.67 0.00 1.01 0.00 0.67 1.18
3 1.527
0 0 0 9 9 5 8 9 0 8 0 9 8
0.00 0.00 0.50 0.33 0.73 3.39 2.43 2.20 0.00 0.96 0.17 1.01 1.69
Rerata 3.846
0 0 9 9 5 4 2 6 0 2 0 8 7
0.00 0.00 0.44 0.17 0.19 1.47 2.16 1.61 0.00 0.42 0.29 0.89 0.50
SD 2.575
0 0 9 0 6 0 2 9 0 7 4 8 9

Indeks Keanekaragaman Bivalvia ( H` )

Sungai Kerian Sungai Simbat


Periode
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.37 1.29 0.52 0.00 0.66 0.00 0.69 1.33 1.57

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
0 0 0 0 0 0 7 4 0 2 0 3 2 7
0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.31 0.45 1.07 0.00 0.00 0.00 0.00 0.94 1.44
2
0 0 0 0 0 0 1 8 0 0 0 0 3 5
0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.34 0.97 0.69 0.00 0.00 0.69 0.68 0.96
3 1.011
0 0 0 0 0 0 4 3 0 0 3 3 5
0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.34 0.90 0.76 0.00 0.55 0.00 0.46 0.98 1.32
Rerata
0 0 0 0 0 0 7 5 0 8 0 2 6 9
0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.03 0.42 0.28 0.00 0.51 0.00 0.40 0.32 0.32
SD
0 0 0 0 0 0 7 4 0 4 0 0 7 2

Indeks Keseragaman Bivalvia ( e )

Sungai Kerian Sungai Simbat


Periode
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.85 0.93 0.75 0.00 0.95 0.00 1.00 0.96 0.98
1
0 0 0 0 0 1 6 6 0 5 0 0 1 0
0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.94 0.65 0.98 0.00 0.00 0.00 0.00 0.85 0.89
2
0 0 0 0 0 5 1 1 0 0 0 0 8 8
0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.96 0.88 1.00 0.00 0.92 0.00 1.00 0.98 0.87
3
0 0 0 0 0 7 7 0 0 0 0 0 5 8
0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.92 0.82 0.91 0.00 0.62 0.00 0.66 0.93 0.91
Rerata
0 0 0 0 0 1 5 2 0 5 0 7 5 9
0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.06 0.15 0.13 0.00 0.54 0.00 0.57 0.06 0.05
SD
0 0 0 0 0 2 2 6 0 2 0 7 7 4

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Indeks Dominansi Bivalvia (C)

Sungai Kerian Sungai Simbat


Periode
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
0.00 0.00 1.00 1.00 1.00 0.28 0.29 0.66 0.00 0.53 1.00 0.50 0.27 0.21
1
0 0 0 0 0 9 6 0 0 1 0 0 8 2
0.00 0.00 1.00 1.00 1.00 0.28 0.72 0.34 0.00 1.00 0.00 1.00 0.42 0.26
2
0 0 0 0 0 9 2 7 0 0 0 0 0 5
0.00 0.00 0.00 1.00 1.00 0.27 0.40 0.50 0.00 0.38 0.00 0.50 0.51 0.40
3
0 0 0 0 0 1 6 0 0 9 0 0 0 7
0.00 0.00 0.66 1.00 1.00 0.28 0.47 0.50 0.00 0.64 0.33 0.66 0.40 0.29
Rerata
0 0 7 0 0 3 5 2 0 0 3 7 3 5
0.00 0.00 0.57 0.00 0.00 0.01 0.22 0.15 0.00 0.32 0.57 0.28 0.10
SD 0.117
0 0 7 0 0 0 1 7 0 0 7 9 1

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 9. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman dan indeks dominansi gastropoda periode I
( Pengambilan Sampel Tanggal 11 Juli 2007 )
Sungai Kerian Sungai Simbat
Taxa
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Potamididea
Cerithidea cingulata 19 39 57 22 9 8
Terebralia palutris 9 4 7 4 11
Cerithiidea
Cerithium cobelti 6 3 4
Cerithium alveolum 5 3 5 4 4 4
Clypoemorus coralium 7 4 10
Clypoemorus battilariaformis 3 6 3 5
Cerithium columna 4 6 13 4 7
Crepidulidea
Crepidula walshi 1
Buccinidea
Pisania crocata 3 2 3
Cymatiidea
Gyrineum gyrinum 5 7
Fusciolariidea
Fusinus Colus 3
Jumlah Spesies 4 2 4 4 3 4 2 2 2 3 4 1 2 2
Kelimpahan (ind/dm3) 5.939 7.297 12.388 7.127 2.715 2.885 1.527 2.206 1.358 2.545 3.394 0.679 2.885 1.867
H` 1.139 0.309 0.755 1.100 1.043 1.366 0.637 0.617 0.693 1.010 1.110 0.000 0.677 0.655
e 0.822 0.446 0.545 0.793 0.949 0.985 0.919 0.890 1.000 0.919 0.801 0.000 0.977 0.945
C 0.381 0.831 0.627 0.387 0.367 0.260 0.556 0.574 0.500 0.396 0.390 1.000 0.516 0.537

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 10. Kelimpahan, indeks keanekaragaman keseragaman dan indeks dominansi gastropoda periode II
( Pengambilan Sampel Tanggal 17 Juli 2007 )
Sungai Kerian Sungai Simbat
Taxa
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Potamididea
Cerithidea cingulata 13 21 53 7 3 4
Terebralia palutris 3 3 5 1 3
Cerithiidea
Cerithium cobelti 2 4 3
Cerithium alveolum 6 2 2 5
Clypoemorus coralium 2 3 2 5
Clypoemorus battilariaformis 4 3 2
Cerithium columna 4 5 4
Crepidulidea
Crepidula walshi
Buccinidea
Pisania crocata 1 4
Cymatiidea
Gyrineum gyrinum 2 3
Fusciolariidea
Fusinus Colus 4
Jumlah Spesies 2 2 4 4 4 3 2 2 0 4 2 1 3 0
Kelimpahan (ind/dm3) 2.715 4.073 11.200 3.224 1.697 1.188 1.018 0.679 0.000 2.206 1.188 0.679 2.036 0.000
H` 0.483 0.377 0.711 1.238 1.332 1.079 0.693 0.562 0.000 1.306 0.683 0.000 1.078 0.000
E 0.697 0.544 0.513 0.893 0.961 0.982 1.000 0.811 0.000 0.942 0.985 0.000 0.981 0.000
C 0.595 0.781 0.658 0.307 0.280 0.347 0.500 0.625 0.000 0.290 0.510 1.000 0.347 0.000

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 11. Kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman dan indeks dominansi gastropoda periode III
( Pengambilan Sampel Tanggal 23 Juli 2007 )

Sungai Kerian Sungai Simbat


Taxa
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Potamididea
Cerithidea cingulata 9 10 31 10 3
Terebralia palutris 3 5 3 2 1 3
Cerithiidea
Cerithium cobelti 3 2 2
Cerithium alveolum 1 1
Clypoemorus coralium 2 2
Clypoemorus battilariaformis 1 4
Cerithium columna 3 5 5
Crepidulidea
Crepidula walshi 3 1
Buccinidea
Pisania crocata 2
Cymatiidea
Gyrineum gyrinum 2 1
Fusciolariidea
Fusinus Colus 3
Jumlah Spesies 3 2 2 5 3 2 2 1 1 1 3 1 2 1
2.54 2.54 5.77 3.56 1.35 0.67 0.33 0.33 0.17 0.50 1.35 0.33 1.18 0.17
Kelimpahan (ind/dm3) 5 5 0 4 8 9 9 9 0 9 8 9 8 0
0.95 0.63 0.29 1.34 1.08 0.69 0.69 0.00 0.00 0.00 0.97 0.00 0.59 0.00
H` 0 7 8 2 2 3 3 0 0 0 4 0 8 0
0.86 0.91 0.43 0.83 0.98 1.00 1.00 0.00 0.00 0.00 0.88 0.00 0.86 0.00
E 5 9 0 4 5 0 0 0 0 0 7 0 3 0

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
0.44 0.55 0.83 0.31 0.34 0.50 0.50 1.00 1.00 1.00 0.40 1.00 0.59 1.00
C 0 6 9 5 4 0 0 0 0 0 6 0 2 0

Lampiran 12. Rerata perhitungan kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman


dan indeks dominansi bivalvia selama 3 periode pengambilan
Kelimpahan Gastropoda ( ind/dm3 )
Sungai Kerian Sungai Simbat
Periode 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7

5.93 7.29 12.38 7.12 2.71 2.88 1.52 2.20 1.35 2.54 3.39 0.67 2.88 1.86
1 9 7 8 7 5 5 7 6 8 5 4 9 5 7
2.71 4.07 3.22 1.69 1.18 1.01 0.67 0.00 2.20 1.18 0.67 2.03 0.00
2 5 3 11.200 4 7 8 8 9 0 6 8 9 6 0
2.54 2.54 3.56 1.35 0.67 0.33 0.33 0.17 0.50 1.35 0.33 1.18 0.17
3 5 5 5.770 4 8 9 9 9 0 9 8 9 8 0
3.73 4.63 4.63 1.92 1.58 0.96 1.07 0.50 1.75 1.98 0.56 2.03 0.67
Rerata 3 8 9.786 8 3 4 1 5 9 3 0 6 6 9
1.91 2.43 2.16 0.70 1.15 0.59 0.99 0.74 1.09 1.22 0.19 0.84 1.03
SD 2 6 3.528 2 6 5 6 4 0 1 8 6 9 2

Indeks Keanekaragaman ( H` )
Sungai Kerian Sungai Simbat
Periode 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7

1 1.13 0.30 0.75 1.10 1.04 1.36 0.63 0.61 0.69 1.01 1.110 0.00 0.67 0.65

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
9 9 5 0 3 6 7 7 3 0 0 7 5
0.48 0.37 1.23 1.33 1.07 0.69 0.56 0.00 1.30 0.68 0.00 1.07 0.00
2 3 7 0.711 8 2 9 3 2 0 6 3 0 8 0
0.95 0.63 0.29 1.34 1.08 0.69 0.69 0.00 0.00 0.00 0.97 0.00 0.59 0.00
3 0 7 8 2 2 3 3 0 0 0 4 0 8 0
0.85 0.44 0.58 1.22 1.15 1.04 0.67 0.39 0.23 0.77 0.92 0.00 0.78 0.21
Rerata 7 1 8 7 2 6 4 3 1 2 2 0 4 8
0.33 0.17 0.25 0.12 0.15 0.33 0.03 0.34 0.40 0.68 0.21 0.00 0.25 0.37
SD 8 3 2 1 7 8 2 1 0 5 8 0 7 8

Indeks Keseragaman ( e )
Sungai Kerian Sungai Simbat
Periode 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7

0.82 0.44 0.54 0.79 0.94 0.98 0.91 0.89 1.00 0.91 0.80 0.00 0.97 0.94
1 2 6 5 3 9 5 9 0 0 9 1 0 7 5
0.69 0.54 0.51 0.89 0.96 0.98 1.00 0.00 0.94 0.98 0.00 0.98 0.00
2 7 4 3 3 1 2 0 0.811 0 2 5 0 1 0
0.86 0.91 0.43 0.83 0.98 1.00 1.00 0.00 0.00 0.00 0.88 0.00 0.86 0.00
3 5 9 0 4 5 0 0 0 0 0 7 0 3 0
0.79 0.63 0.49 0.84 0.96 0.98 0.97 0.56 0.33 0.62 0.89 0.00 0.94 0.31
Rerata 5 6 6 0 5 9 3 7 3 0 1 0 0 5
0.08 0.25 0.05 0.05 0.01 0.01 0.04 0.49 0.57 0.53 0.09 0.00 0.06 0.54
SD 7 0 9 0 8 0 7 3 7 7 2 0 7 6

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Indeks Dominansi ( C )
Sungai Kerian Sungai Simbat
Periode 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7

0.38 0.83 0.62 0.38 0.36 0.26 0.55 0.57 0.50 0.39 0.39 1.00 0.51 0.53
1 1 1 7 7 7 0 6 4 0 6 0 0 6 7
0.59 0.78 0.65 0.30 0.28 0.34 0.50 0.62 0.00 0.29 0.51 1.00 0.34 0.00
2 5 1 8 7 0 7 0 5 0 0 0 0 7 0
0.44 0.55 0.83 0.31 0.34 0.50 0.50 1.00 1.00 1.00 0.40 1.00 0.59 1.00
3 0 6 9 5 4 0 0 0 0 0 6 0 2 0
0.47 0.72 0.70 0.33 0.33 0.36 0.51 0.73 0.50 0.56 0.43 1.00 0.48 0.51
Rerata 2 3 8 6 0 9 9 3 0 2 5 0 5 2
0.14 0.04 0.04 0.12 0.03 0.23 0.50 0.38 0.06 0.00 0.12 0.50
SD 0.111 6 0.115 4 5 2 2 3 0 3 5 0 5 0

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 13. Grafik kelimpahan, indeks keanekaragaman,
indeks keseragaman dan indeks dominansi

5 12
4 10
( ind / dm3 )
Kelimpahan

( ind / dm3 )
Kelimpahan
3 8
6
2
4
1 2
0 0
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Stasiun Pe ngamatan Stasiun Pe ngamatan

Sungai Kerian Sungai Simbat Sungai Kerian Sungai Simbat

Kelimpahan bivalvia di Sungai Kerian Kelimpahan gastropoda di Sungai Simbat


1.400
1.200 1.400
1.200
Nilai Indeks

1.000
1.000
0.800 0.800
0.600 0.600
0.400 0.400
0.200 0.200
0.000 0.000
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Stasiun Pe ngamatan Stasiun Pe ngamatan
Inde ks Ke ane karagaman Inde ks Ke se ragaman Inde ks Ke ane karagaman Inde ks Ke se ragaman
Inde ks Dominansi Inde ks Dominansi

Struktur komunitas bivalvia Sungai Kerian Struktur komunitas gastropoda Sungai Kerian
1.400 1.2
1.200 1
Nilai Indeks

1.000 0.8
Nilai Indeks

0.800 0.6
0.600 0.4
0.400 0.2
0.200 0
0.000 1 2 3 4 5 6 7
1 2 3 4 5 6 7 Stasiun Pe ngamatan
Stasiun Pe ngamatan
Inde ks Ke ane karagaman Inde ks Ke seragaman
Inde ks Ke ane karagaman Inde ks Ke se ragaman Inde ks Dominansi
Inde ks Dominansi

Struktur komunitas bivalvia Sungai Simbat Struktur komunitas gastropoda Sungai Simbat

Lampiran 14. Histogram kelimpahan relatif bivalvia dan gastropoda (%)

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
di Sungai Kerian dan Sungai Simbat.

A. Histogram kelimpahan relatif bivalvia (%)

100
90
80
70
Persentase (%)

60
50
40
30
20
10
0
S. S. S. S. S. S. S. S. S. S. S. S. S. S.
Kerian Simbat Kerian Simbat Kerian Simbat Kerian Simbat Kerian Simbat Kerian Simbat Kerian Simbat

1 2 3 4 5 6 7
Stasiun Pengamatan
Solen vaginalis Pholas sp Anadara antiquata Mactra violacea Trachycardium orbita Isognomon sp

B. Histogram Kelimpahan relatif gastropoda (%)


100

90

80

70
Persentase ( % )

60

50

40

30

20

10

0
S. Kerian S. Simbat S. Kerian S. Simbat S. Kerian S. Simbat S. Kerian S. Simbat S. Kerian S. Simbat S. Kerian S. Simbat S. Kerian S. Simbat

1 2 3 4 5 6 7
Stasiun Pengamatan

Cerithidea cingulata Terebralia palutris Cerithium cobelti Cerithium alveolum

Clypoemorus coralium Clypoemorus battilariaformis Cerithium columna Crepidula walshi

Pisania crocata Gyrineum gyrinum Fusinus Colus

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 15. Data pasang surut paruh bulan Juli 2007

WAKTU PENGAMBILAN ( JAM )


TANGGAL JUMLAH RERATA
0:00 1:00 2:00 3:00 4:00 5:00 6:00 7:00 8:00 9:00 10:00 11:00 12:00 13:00 14:00 15:00 16:00 17:00 18:00 19:00 20:00 21:00 22:00 23:00

7/8/2007 127 117 107 96 75 68 64 63 717 29.88


7/9/2007 68 72 84 98 98 100 105 110 119 118 118 120 126 134 138 130 128 118 110 95 85 70 56 59 2459 102.46
7/10/2007 65 73 85 93 109 112 118 112 110 108 99 100 103 110 109 108 108 104 96 81 74 60 55 49 2241 93.38
7/11/2007 51 75 81 109 116 123 125 126 129 116 116 114 110 115 120 125 118 115 110 98 78 67 58 56 2451 102.13
7/12/2007 60 68 81 100 115 124 134 138 130 128 120 110 112 104 106 101 100 100 98 99 89 78 63 49 2407 100.29
7/13/2007 66 70 80 91 100 115 125 134 132 130 126 120 112 107 100 98 95 82 94 90 89 83 76 68 2383 99.29
7/14/2007 63 69 83 91 108 110 128 134 140 137 133 129 123 118 110 103 93 88 85 82 75 71 73 69 2415 100.63
7/15/2007 63 67 83 95 98 108 127 130 140 142 143 138 137 122 110 106 100 91 85 83 79 71 70 64 2452 102.17
7/16/2007 64 74 91 99 105 114 123 129 135 140 142 146 140 132 124 116 105 90 84 80 77 72 70 66 2518 104.92
7/17/2007 67 63 67 86 102 106 118 132 132 145 148 154 148 144 132 128 115 107 90 80 74 70 75 60 2543 105.96
7/18/2007 65 70 79 68 75 112 123 135 135 146 144 153 148 141 140 130 128 120 93 95 88 85 80 75 2628 109.50
7/19/2007 83 78 72 78 94 113 120 128 135 133 139 140 145 146 132 135 120 108 100 90 78 74 78 63 2582 107.58
7/20/2007 70 77 86 93 100 110 119 123 130 134 136 138 134 136 130 122 123 120 104 90 80 73 79 83 2590 107.92
7/21/2007 89 81 83 91 100 108 126 136 137 131 136 131 136 133 133 123 125 128 132 113 111 95 89 91 2758 114.92
7/22/2007 80 82 90 112 117 120 125 135 135 138 120 125 125 123 125 121 121 110 106 104 97 92 87 85 2675 111.46
7/23/2007 87 85 96 111 105 115 121 121 127 127 113 116 114 110 108 111 1767 73.63
JUMLAH 37586 104.41

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 16. Pola arus saat pasang menuju surut pada musim peralihan dari musim barat ke musim timur

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 17. Pola arus saat surut menuju pasang pada musim peralihan dari musim barat ke musim timur

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 18. Dokumentasi keadaan lokasi penelitian

Badan Sungai Kerian Muara Sungai Simbat Stasiun 5, 6 dan 7 Sungai Simbat

Stasiun 3 Sungai Kerian Kawasan mangrove Stasiun 1 dan 2 Sungai Kerian

Stasiun 3 dan 4
Pertambakan dan perumahan Pengerukan pelabuhan Kendal
dekat objek wisata

Abrasi di sebelah timur Abrasi sebelah barat Pertambakan sebelah kanan


Sungai Simbat Sungai Kerian Sungai Kerian

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 19. Dokumentasi kegiatan dan peralatan penelitian

Pengayakan sampel di muara Pengambilan sampel di wilayah laut Bola Duga alat pengukur arus

Pengayakan sampel di atas perahu Pengayakan sampel di laut Peralatan sempling

Sampel biota dan subtrat dasar Biota hasil ayakan Pengukuran suhu

Pengukuran kedalaman
Pengukuran morfologi sampel Identifikasi sempel
dan kecerahan

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 20. Dokumentasi biota sempel

Famili Solenidea Famili Isognomonnidea Famili Pholadidea


(Solen sp) (Isognomon sp) (Pholas sp)

Famili Mactridea Famili Cardiidea Famili Arcidea


(Mactra sp) (Trachycardium sp) (Anadara sp)

Famili Fusciolariidea Famili Cerithiidea Famili Buccinidea


(Fusinus sp) (Clypoemorus sp) (Pisania sp)

Famili Crepidulidea Family Cymatiidea Famili Potamidea


(Crepidula sp ) (Gyrineum sp) (Cerithidea sp)

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 21. Klasifikasi Bivalvia

1. Superfamily: Solenacea (Razor & Jackknife Clams)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Subclass : Heterodonta
Order : Veneroida
Superfamily : Solenacea
Families : Solenidae & Cultellidae
Major Genera
Family: Solenidae
• Genus: Solen
Family: Cultellidae
• Genus: Cultellus
• Genus: Ensis
• Genus: Pharella
• Genus: Siliqua, dll.

2. Family: Arcidae (Ark Clams)


Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Subclass : Pteriomorpha
Order : Arcoida
Superfamily : Arcacea
Family : Arcidae
Major Genera
• Genus: Anadara (Mangrove Cockles)

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
3. Family: Cardiidae (Cockles)
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Subclass : Pteriomorphia
Order : Veneroida
Superfamily : Cardiacea
Family : Cardiidae
Major Genera
• Genus: Acanthocardia
• Genus: Cardium
• Genus: Cerastoderma
• Genus: Parvicardium
• Genus: Trachycardium, dll.

4. Family: Pholadidae (Piddocks)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Subclass : Heterodonta
Order : Myoida
Superfamily : Pholadacea
Family : Pholadidae
Major Genera
• Genus: Barnea
• Genus: Chaceia
• Genus: Cyrtopleura
• Genus: Martesia
• Genus: Pholas

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
5. Family: Mactridae (Surf or Trough Clams, Mactras)
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Subclass : Heterodonta
Order : Veneroida
Superfamily : Mactracea
Family : Mactridae
Major Genera
• Genus: Anatina
• Genus: Lutraria
• Genus: Mactra
• Genus: Mactrellona
• Genus: Raeta
• Genus: Rangia
• Genus: Spisula
• Genus: Tresus , dll.

6. Famili : Isognomonidea

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Order : Pterioida
Family : Isognomonidea
Major Genera
• Genus: Isognomon, dll.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 22. Klasifikasi Gastropoda

1. Family: Potamididae (Horn Shells)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Subclass : Prosobranchia
Order : Caenogastropoda
Superfamily : Cerithiacea
Family : Potamididae
Major Genera
• Genus: Battilaria
• Genus: Cerithidea
• Genus: Faunus
• Genus: Pirenella
• Genus: Telescopium
• Genus: Terebralia, dll.

2. Family: Cerithiidae (Ceriths)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Subclass : Prosobranchia
Order : Caenogastropoda
Superfamily : Cerithiacea
Family : Cerithiidae
Major Genera
• Genus: Cerithium

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
• Genus: Clypeomorus
3. Family: Crepidulidae (Calyptraeidae) Slipper Shells
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Subclass : Prosobranchia
Order : Caenogastropoda
Superfamily : Crepidulacea
Family : Crepidulidae
Major Genera
• Genus: Calyptraea
• Genus: Cheilea
• Genus: Crepipatella
• Genus: Crepidula
• Genus: Crucibulum, dll.

4. Family: Ranellidae (Cymatiidae) --Tritons, Trumpets


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Subclass : Prosobranchia
Order : Caenogastropoda
Superfamily : Cymatiacea
Family : Ranellidae
Major Genera
• Genus: Argobuccinum
• Genus: Charonia
• Genus: Cymatium
• Genus: Fusitriton

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
• Genus: Gyrineum, dll.
5. Family: Buccinidae Rafinesque,1815
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Subclass : Prosobranchia
Order : Neogastropoda
Family : Buccinidae
Major Genera
• Genus Pisania
• Genus Ancistrolepis
• Genus Antillophos
• Genus Bailya
• Genus Bartschia
• Genus Bathybuccinum
• Genus Beringius
• Genus Buccinum, dll.

6. Fasciolariidae (Tulips, Spindle Shells, Horse Conchs)

Klasifikasi
Class : Gastropoda
Subclass : Prosobranchia
Order : Caenogastropoda
Superfamily : Buccinacea
Family : Fasciolariidae
Major Genera
• Genus: Fasciolaria
• Genus: Fusinus

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
• Genus: Latirus
• Genus: Opeatostoma
Lampiran 23. Metode penentuan jenis sedimen dasar

Tahap-tahap analisis ukuran butir sedimen yaitu sebagai berikut :


1. Sampel sedimen dikeringkan dibawah sinar matahari, kemudian
dilanjutkan dengan pengeringan dengan oven bersuhu 100%C selama 24
jam untuk menghilangkan kandungan air yang tersisa sehingga diperoleh
berat konstan
2. Sampel kemudian dihaluskan, dan ditimbang sebanyak 100 gram.
3. Sampel diayak dengan saringan bertingkat otomatis (Automatic sieve
shaker) dimulai dari ayakan dengan ukuran2 mm; 0,425 mm; 0,297 mm;
0,150 mm dan 0,063 mm. Pengayakan dilakukan selama 15 menit,
kemudian timbang sedimen yang tersisa pada masing-masing tingkat
saringan.
4. Sampel yang lolos saringan paling bawah ditimbang dan dipindahkan
dalam gelas ukur volume 1000 mL, dikocok hingga homogen untuk
dilakukan pemipetan.
Jarak dan waktu pemipetan menurut Buckman dan Brady (1982).
Diameter Jarak tenggelam (cm) Jam Menit Detik
0,0625 20 - - 58
0,0312 10 - 1 56
0,0156 10 - 7 44
0,0078 10 - 31 0
0,0039 10 2 3 0

5. Hasil Pemipetan ditaruh pada cawan yang sebelumnya sudah ditimbang


kemudian dioven pada suhu 1000 C, setelah kering ditimbang beratnya.
6. Setelah didapat berat tiap ukuran butir kemudian dihitung prosentase
beratnya, nilai prosentase tersebut diplotkan dalam grafik kumulatif
prosentase berat tertahan dan juga diplotkan dalam grafik tringular
sehingga akhirnya dapat diklasifikasikan jenis sedimen dasarnya.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
Lampiran 24. Analisa Kandungan Bahan Organik

Analisa kandungan bahan organik dalam sedimen dilakukan dengan


metode pengabuan (Radojevic dan Bashkin, 1999). Prosedur analisa kandungan
bahan organik yaitu sebagai berikut :
1. Sampel sedimen yang telah dioven ditimbang sebanyak ± 10 gram dan
dimasukan kedalam cawan porselin yang telah ditimbang terlebih dahulu.
2. Sampel sedimen dalam cawan dimasukan dalam tanur pengabuan (furnace
muffle) pada suhu 5000C selama 4 jam.
3. Setelah dingin, cawan bersama sampel ditimbang untuk memperoleh berat
sedimen setelah pengabuan. Selisih berat sebelum pengabuan dan setelan
pengabuan merupakan kandungan bahan organik yang hilang.
4. Persentase kandungan bahan organik dalam sedimen dihitung dengan
menggunakan persamaan matematika sebagai beriut :

Berat awal sedimen – Berat akhir sedimen


Bahan Organik (%) = × 100%
Berat awal sedimen

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Utan, Sumbawa, pada tanggal 27 Juni
1984, anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan Bp.
Abdul Gani SPd dan Ibu Har’in. Karier akademis penulis
dari Sekolah Dasar di SD Negeri 2 Utan, Sumbawa
kemudian dilanjutkan di SLTP 1 Utan, Sumbawa. Pada
tahun 2000 penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas
di SMA Negeri 5 Mataram NTB dan tamat pada tahun
2003. Penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro pada tahun 2003 melalui
Seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (PSSB).

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan,


diantaranya Kerohanian Islam (Al-Bahrain), dan Kelompok Selam Universitas
Diponegoro (UKSA 387). Penulis berpartisipasi aktif menjadi pengurus kedua
organisasi tersebut dengan keanggotan di Bidang Kederisasi Rohis Al – Bahrain
dan di bagian LITBANG Kelompok Selam UKSA-387. Penulis juga pernah
menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan (HMIK)
periode 2006 – 2007 serta berperan aktif dalam keanggotaan Himpunan
Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Indonesia (HIMITEKINDO), Selain itu
juga terlibat dalam beberapa kepanitiaan kegiatan kerohanian, olah raga dan
koservasi alam seperti Training Kerohanian (TRIK Al-Bahrain), Pekan Olah Raga
Jurusan (POR) Mangrove Replant, Seminar Nasional Moluska Tahun 2007,
RAKERNAS HIMITEKINDO dan Seminar Nasional Pemberdayaan Pulau-Pulau
Kecil Tahun 2004 di IPB Bogor serta Diklat SAR 2004. Penulis juga pernah
melaksanakan working Experience di Loka Budidaya Laut Lombok, Nusa
Tenggara Barat bulan April hingga Mei 2005.
Saat penyusunan skripsi ini penulis masih tercatat sebagai mahasiswa
Jurusan Ilmu Kelautan FPIK Universitas Diponegoro.

M a r i n e S c i e n c e U N D I P.
fik_marine@yahoo.co.id