Anda di halaman 1dari 19

Serat kasar

1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Serat sangat penting dalam proses pencernaan makanan dalam tubuh, kekurangan serat dapat menyebabkan konstipasi, apenaistis, alverticulity, hamoroid, diabetes militus, kanker koloni, penyakit jantung koroner dan batu ginjal. Kekurangan serat juga dihubungkan dengan berbagai penyakit gastrointestinal (Almatsier, 2003). Serat dalam makanan (dietary fiber) bukanlah satu kelompok bahan pangan yang memiliki sifat kimia yang mirip. Meskipun umumnya tergolong karbohidrat kompleks. Namun berdasarkan sifat kimiawi sebenarnya mereka sangat heterogen. Ada yang berasal dari polisakarida penyusun dinding sel tumbuhan (struktural) : selulosa, hemiselulosa dan pektin. Ada pula yang termasuk polisakarida non struktural ; getah (secrete dan reserve gums). Kelompok lain adalah polisakarida asal rumput (agar, carragenans dan alginates). Berdasarkan sifat fisik kimia dan manfaat nutrisinya serat dalam makanan dapat dikelompokkan dalam 2 jenis larut (soluble) dan tidak larut (insuble) dalam air. Serat yang sauble cenderng bercampur dengan air membentuk jaringan gel (seperti agar) atau jaringan yang pekat. Sedangkan serat yang insoluble umumnya bersifat higoroskopis mampu menahan air 20 kali dari beratnya. Oat yang berasal dari biji-bijian (cereals) umumnya bersifat insoluble. Sedangkan serat dari sayur buah dan kacang-kacangan cenderung bersifat soluble (Widjanarko, 2000). Serat kasar ialah sisa bahan makanan yang telah mengalami proses pemanasan dengan asam kuat dan basa kuat selama 30 menit yang dilakukan dilaboratorium. Dengan proses seperti ini bila merusak beberapa macam serat yang tidak dapat dicerna oleh manusia dan tidak dapat diketahui komposisi kimia tiap-tiap bahan yang membentuk dinding sel (Pi wang, 2008).

1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dilakukan praktikum Gizi Ikani dengan materi Analisa Serat Kasar ialah untuk mengetahui cara analisa dan prosedur serat kasar dalam bahan pangan. Tujuan dilakukan praktikum Gizi Ikani dengan materi Analisa Serat Kasar ialah agar paktikan dapat melakukan analisa kadar seratnya dalam bahan pangan khususnya pada rumput laut. 1.3 Waktu dan Tempat Praktikum Gizi Ikani pada materi Analisa Serat Kasar dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 27 Mei 2010 pada pukul 15.00 wib selesai di Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya Malang.

2.

PENDAHULUAN

2.1 Karakteristik Sampel Menurut Anggadiredja et al., (2006), rumput laut tergolong tanaman berderajat rendah, umumnya tubuh melekat pada substrat tertentu tidak mempunyai akar, batang maupun daun sejati, tetapi hanya menyerupai batang yang disebut thallus. Rumput laut pun dapat melekat pada tumbuhan lain secara epifitik. Klasifikasi rumput laut jenis Euchema adalah sebagai berikut : Divisio Kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Rhodophyta : Rhodohyceae : Gigartinales : Silerisceae : Eucheuma : Euchema Spinosum (Euchema denticulatum) Euchema cottoni (kappaphycus alvareali) Table 1. Kandungan nutrisi Euchema sp dalam setiap 100 gram porsi makanan Komposisi Air Energi Protein Lemak total Karbohidrat Serat Makanan Gula Kalsium Fe Mg K Na P Zn Cu Mn Se Vit.C Vit. E Vit. K Folat Sumber : Wibowo (2009), Prosentase 91,32 gr 26 kkal/107 k 0,54 gr 0,03 gr 6,75 gr 0,5 gr 0,28 gr 54 mg 1,86 mg 67 mg 226 mg 9 mg 5 mg 0,58 mg 0,061 mg 0,373 m 0,7 mg 43 mg 0,87 mg 2,3 mg 85 mg

Menurut Winarno (1996) dalam Wirjainadi et. al., (2002), Komposisi utama dari rumput laut yang dapat digunakan sebagai bahan pangan adalah karbohidrat, tetapi karna kandungan karbohidrat sebagian besar terdiri dari senyawa gumi yaki polimer olisakarida yang berbentuk serat, dikenal sebagai diatary fiber maka hanya sebagian kecil saja dari kandungan karbohidrat yang dapat diserap dalam sistem pencernaan manusia. Kandungan gizi rumput laut terpenting justu pada trace element, khususnya yodium yang berkisar 0,1 0,15% dari berat keringnya. Rumput laut dapat bermanfaat untuk membersihkan usus, memperbaiki proses pencernaan dan penyerapan sari makanan serta memperbaiki usus (Suryaningrum et. al., 2006). Pada hakekatnya Euchema sp tidak mempunyai akar, batang dan daun yang berfungsi seperti pada tumbuhan darat tetapi euchema sp terdiri dari semacam batang yang disebut thallus. Euchema sp mempunyai thallus silindris, permukaan yang licin, berwarna merah atau merah oklat yang disebabkan oleh pigmen fikoeritin, memiliki benjolan dari duri berdekatan kedaerah pangkal (Olviany, 2009). Rumput laut jenis Euchema cottoni menghasilkan karegenan yang dapat bereaksi dan berfungsi baik dengan gula, pati, gum dan lain lain (Astawan et. al., 2004). 2.2. Definisi Karbohidrat Karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam kebanyakan makanan kita. Bentuk karbohidrat yang ada dicerna dalam bahan pangan pada umumnya adalah zat pati dan berbagai jenis gula seperti sukrosa, fruktosa dan laktosa sedangkan selulosa, pektin dan hemiselulosa tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi tidak tercerna (Buckle et. al., 2007). Karbohidrat adalah kelompok nutrient yang penting dalam susunan makanan, sebagai sumber energi. Senyawa-senyawa ini mengandung unsur karbon, hidrogen, oksigen dan dihasilkan oleh tanaman dengan proses fotosintesa (Gaman dan Sherington, 1992). Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi seluruh penduduk dunia. Jumlah kalori yang dihasilkan 1 gram karbohidrat menghasilkan 4 kal (kkal). Karbohidrat merupakan sumber kalori yang murah. Beberapa golongan karbohidrat menghasilkan serat-serat makanan (dietary fiber) yang berguna bagi pencernaan (Winarno, 2002). Menurut Muchtadi (2009), karbohidrat (dalam hal ini pati, gula atau glukogen) merupakan zat gizi sumber energi paling penting bagi makhluk hidup karena molekulnya menyediakan unsur karbon yang akan digunakan oleh sel secara kimia, karbohidrat dapat

didefinisikan sebagai tanaman aldehid atau keton dari alkali polihidrik karena mengandung gugus hidroksi lebih dari satu atau sebagai senyawa yang menghasilkan turunan tersebut apabila dihidrolisis. Menurut Poedjiadi dan Supriyanti (2007), karbohidrat adalah komponen dalam makanan yang merupakan sumber energi yang utama bagi organisme hidup. Dalam makanan kita, karbohidrat terdapat sebagai polisakarida yang dibuat dalam tumbuhan dengan cara fotosintesis. Tumbuhan merupakan gudang yang menyimpan kabohidrat dalam bentuk amilum dan selulosa. Amilum digunakan oleh hewan dan manusia apabila ada kebutuhan untuk memproduksi energi. Disamping dalam tumbuhan, dalam tubuh hewan dan manusia juga terdapat karbohidrat yang merupakan sumber energi yaitu glikogen. ` Menurut Fenname (1996), istilah karbohidrat menyarankan suatu komposisi unsur secara umum yang memiliki nama Cx(HzO)y, yang mana molekul menandakan mengandung atom karbon panjang dengan atom hidrogen dan oksigen pada rasio yang sama, seperti mereka terjadi di air. Bagaimanapun mayoritas besar komponen alami karbohidrat diproduksi oleh organisme hidup yang tidak mempunyai rumusan empiris ini. Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid atau polihidroksiketon dan meliputi kondensal polimer polimernya terbentuk. Nama karbohidrat dipergunakan pada senyawa senyawa tersebut, mengingat rumus rumus empirisnya berupa CnH2nOn atau mendekati Cn (H2o)n yaitu karbon yang mengalami hidratasi (Sudarmadji et al., 2003). Karbohidrat adalah salah satu komponen bahan pangan yang secara kimiawi molekulya tersusun oleh atom C, H dan O dan terdiri dari beberapa kelompok yang paling sederhana dan kompleks (Sasmito, 2005). 2.3 Macam - Macam Karbohidrat Menurut Almatsier (2009), terdapat 2 golongan karbohidrat yaitu karbohidrat kompleks dan karbohidrat sederhana, sebagai berikut: 1. Karbohidrat sederhana terdiri atas monosakarida, disakarida,, atas ikatan 2 tiap 2 atom C ada II molekul air, gula, alkohol, dan disakarida. 2. Karbohidrat kompleks terdiri atas polisakarida (2 ikatan monosakarida) dan serat (polisakarida non pati).

Menurut Winarno (2004), karbohidrat dapat dikelompokan menjadi 3: a) Monosakarida Monosakarida merupakan salah satu molekul yang terdiri lima atau enam atom monosakarida yang mengandung satu gugus aldehid disebut aldosa, sedangkan ketosa mempunyai satu gugus keton. b) Oligosakarida Oligosakarida merupakan polimer dari 2-10 monosakarida dan biasanya bersifat larut dalam air. Olisakarida yang terdiri 2 molekul disebut disakarida dan bila 3 molekul disebut tritosa, bila sukrosa (sukrosa atau gula tebu) terdiri dari molekulglukosa dan fruktosa, laktosa terdiri dari molekul glukosa dan galaktosa. c) Polisakarida Polisakarida merupakan polimer yang terdiri dari lebih 10 monomer monosakarida. Polisakarida dalam bahan berfungsi sebagai penguat tekstur (selulosa, hemiselulosa, pektin, lignin) dan sebagai sumber energy(pati, dekstrin, glikogen, fruktosa). Menurut Sasmito (2005), karbohidrat terdiri dari beberapa kelompok dari yang paling sederhana seperti pentosa dan heksosa (monosakarida) sampai yang paling kompleks misalnya selulosa (polisakarida). Menurut Sediaoetama (2004), karbohidrat yang terdapat di dalam makanan pada umumnya hanya tiga jenis, ialah monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Mono dan disakarida terasa manis, sedangkan polisakarida tidak mempunyai rasa (tawar). Di dalam bahan makanan nabati terdapat dua jenis polisakarida, yaitu yang dapat dicerna dan yang tidak dapat dicerna. Yang dapat dicerna ialah zat tepung (amilum) dan dekstrin dan yang tidak dapat dicerna adalah selulosa, pentosan dan galaktan. Menurut Kartasapoetra dan Marsetyo (2005), karbohidrat terdiri dari unsur C, H dan O yang berdasarkan gugus susunan gulanya dapat dibedakan monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida dengan uraian sebagai berikut : 1. Monosakarida (C6H12O6) merupakan karbohidrat yang tersusun atas satu gugusan atau gula paling sederhana terdiri dari molekul tunggal. 2. Oligosakarida terdiri dari disakarida (sukrosa, maltosa), trisakarida dan tetrasakarida. Dengan demikian maka kedalam kelompok oligosakarida termasuk gula yang mengandung 2 sampai 10 molekul gula sederhana. 3. Polisakarida yaitu karbohidrat yang tersusun atas banyak gugusan gula sederhana (monosakarida) ada yang dapat dicerna (tepung/pati dan ekstrin) dan ada yang tidak

dapat dicerna (selilosa, hemiselulosa, pektin) dan tidak larut dalam air, umumnya tidak berasa atau berasa pahit.

2.4 Macam-macam Serat Kasar Polisakarida sebagai penguat tekstur atau penghasil serat (dietary fiber) seperti selulosa, hemiselulosa, pectin dan gel pectin (Budianto, 2009). Ada 2 macam golongan serat yaitu yang tidak dapat larut air dan yang dapat larut air. Sserat yang tidap larut dalam air adalah selulosa, hemiselulosa dan lignin. Serat yang dapat larut dalam air adalah pectin, gum mucilage, glikan dan alga (Almatsier, 2003). Serat makanan yang diterjemahkan dari dietary fiber menurut Trowall (192) merupakan bagian sel tanaman yang tidak dapat dicernakan oleh enzin dalam tubuh kita. Pada tahun 1974 ia mengemukakan bahwa serat terdiri dari polisakarida yang terdapat pada dinding sel, lignin, lipid tumbuhan dan zat-zat yang tidak dapat diidentifikasi. Serat makanan terutama terdiri dari selulosa. Disamping itu terdapat senyawa-senyawa lain seperti hemiselulosa, pectin, gum tanaman, mucilage, lignin dan polisakarida yang tersimpan dalam tanaman dan alga (Poedjiadi dan Supriyanti, 2007). Komponen serat pangan dalam berbagai bahan pangan menurut Muchtadi (2001), sebagai berikut : Jenis bahan pangan Jenis jaringan Komponen serat pangan Selulosa, Terutama jaringan parenkim Buah-buahan dan sayuran Beberapa terlignifikasi jaringan glikoprotein Selulosa, jenis glikoprotein Hemiselulosa, Jaringan parenkim Serealia dan hasil olahannya Jaringan terlignifikasi selulosa, ester fenol ester, dan lignin, substansi pekat,

hemiselulosa dan beberapa

hemiselllulosa dan beberapa

glikoprotein Hemiselullosa, lignin, ester, glikoprotein selulosa, fenolit dan

Tabel 2. Komponen serat kasar dalam bahan pangan.

Dissebutkan bahwa kebutuhan serat untuk tubuh manusia sangatlah bervariasi menurut pola makanan dan tidak ada anjuran kebutuhan sehari secara khusus untuk serat makanan. Konsumsi serat rata-rata sebesar 25 gram/hari dapat dianggap cukup untuk memelihara kesehatan tubuh (Garrow J. S, et.al., 1993) dalm Wirjatmadi et.al., 2003) Demikian pula, tidak ada anjuran kebutuhan sehari secara khusus untuk serat makanan. Lembaga kanker amerika menganjurkan makan 20-30 gram serat sehari. Di Indonesia pada saat ini tidak ada kekhawatiran kekurangan makan serat, bila dipertahankan pola makanan yang ada dengan makanan pokok, kcang-kacangan, sayuran dan buahbuahan dalam jumlah yang cukup (Almatsier, 2003). Sampai saat ini kecukupan konsumsi serat pangan belum ditetapkan pihak yang berwenang, tetapi anjuran konsumsi menetapkan konsumsi serat pangan untuk orang dewasa sehat adalah sekitar 20-30 gram perhari. Perbandingan serat larut dan serat tidak larut yang konsumsi sebaiknya 1:3 (Muchtadi, 2009). Kebutuhan serat pria dan wanita berbeda. Pria membutuhkan 38 gram serat perhari, sedangkan wanita 25 gram perhari (Noorastuti dan Nugraheni, 2001). Menurut Cyberhealth (2002), kebutuhan serat untuk orang Indonesia seharusnya berkisar antara 25-35 gram perhari. Cara untuk mencukupi kebutuhan serat sebagai berikut : 1. Makan beraneka ragam makanan dalam jumlah yang cukup. 2. Konsumsi buah dan sayuran segar. 3. Makan kulit dan juga membrane buah yang sudah dibersihkan. 4. Konsumsi sereal ataupun roti gandum yang kaya serat. 5. Minum cukup air dan mengkonsumsi serat dari bahan makanan alami. 2.6 Sumber Serat Kasar Serat yang terlarut air terdapat pada buah-buahan, beberapa jenis kacang-kacangan dan beberapa biji-bijian seperti oat dan barley. Insoluble Fiber (serat tak terlarut) banyak dijumpai dalam sayuran dan kulit gandum (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010). Menurut Minarno dan Hariani (2008), serat makanan yang tidak larut air (lapisan luar biji-bijian dan kacang-kacangan, bagian sekam dan dedak , inti wortel, apel dan jambu biji) member volume atau isi dalam lambung sehingga menimbulkan rasa kenyangyang lama. Serat makanan yang larut dalam air (sayuran, buah-buahan, padi-padian, kacang-kacangan, biji-bijian dan rumput laut) mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : y Mampu menyerap air

y y y

Dapat membentuk larutan dengan viskositas atau kekentalan yang tinggi. Mampu mengikat asam empedu Dapat mengalami peragian atau fermentasi.

3. MATERI DAN METODE

3.1 Alat dan Fungsi Alat-alat yang digunakan dalam praktikum analisa kadar serat kasar adalah : y y y y y y y Erlenmeyer 500ml : Untuk tempat sampel Beaker glass 300ml Pipet tetes Pipet volume 10ml Pipet volume 25ml Beaker glass 250ml Gelas ukur : Untuk tempat H2SO4, aquadest dan NaOH saat didihkan : Untuk mengambil 3 tetes antifoam : Untuk mengambil larutan NaOH dan Aquadest : Untuk mengambil alcohol 15ml : Untuk tempat H2SO4 200ml : Untuk Menakar aquadest, H2SO4, NaOH dan alcohol sesuai kebutuhan. y y y y y y y y y y y Cawan petri Hot plate Kompor listrik Blender Pendingin balik Corong Timbangan digital Bola hisap Desikator Oven Gelas ukur 100ml : Tempat sampel saat dikeringkan dalam oven : Untuk mendidihkan larutan H2SO4, aquadest dan NaOH : Sebagai sumber panas pada pendingin balik : Untuk menghaluskan sampel : Sebagai kondensator : Untuk membantu proses penyaringan : Untuk menimbang sampel dengan ketelitian 0,01 gr : Untuk membantu menghisap larutan kedalam pipet volum : Untuk mendinginkan sampel : Untuk mengeringkan sampel selama 24 jam pada suhu 100oC : Untuk menakar aquadest sesuai kebutuhan.

3.2 Bahan dan Fungsi Bahan-bahan yang digulakan dalam praktikum materi analisa serat kasar ialah : y y y y y y y Rumput laut (Euchema cottoni) : sampel analisa kadar serat Aquadest Silica gel K2SO4 10% H2SO4 200ml NaOH Alcohol : Sebagai pelarut dan pengencer. : Untuk menyerap uap air dalam desikator : Untuk mengikat ion OH: Sebagai pelarut dalam analisa serat kasar. : Sebagai pelarut dalam analisa serat kasar. : Sebagai pelarut lemak.

y y y

Air Tissue Kertas label digunakan.

: Untuk mencuci peralatan : Untuk membersihkan peralatan. :Untuk member tanda pada sampel dan larutan yang

3.3 Skema Kerja

Sampel kering halus

Ditimbang 5 gr, dimasukkan erlen meyer 600ml

Ditambahkan antifoam 3 tetes, ditambahkan 200ml H2SO4 mendidih dan ditutup dengan pendinginbalik selama 30 menit

Disarung dengan kertas saring dan dicuci dengan aquadest 10ml

Dipindahkan seridu yang tersisa kedalam Erlenmeyer 250ml dan dicuci dengan larutan NaOH mendidih

Didinginkan pada pendingin balik 30 menit

Disaring dengan kertas saring dan dicuci dengan larutan K2SO4 10% dicuci dengan aquadest mendidih dan dengan alcohol 15ml

Dikeringkan kertas saring dan sampel pada suhu 100oC selama 2 jam

Didinginkan dalam desikator

Ditimbang beratnya

Hasil (berat residu adalah berat serat kasar)

3.4 Metode Penelitian Metode yang digunakan pada praktikum gizi ikani dengan materi analisa serat kasar adalah penentuan serat kasar. Menurut Sudarmadji et. al., (2007), prinsipnya di dalam analisa penentuan serat kasar siperhitungkan banyaknya zat-zat yang tidak larut dalam asam encer pada kondisi tertentu. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisa ialah : 1. Defatting, yaitu menghilangkan lemak yang terkandung dalam sampel menggunakan pelarut lemak. 2. Digestion, terdiri dari 2 tahapan yaitu pelarutan dengan asam dan pelarutan dengan basa. Kedua macam proses digesti ini dilakukan dalam keadaan tertutup pada suhu terkontrol (mendidih) dan sedapat mungkin dihilangkan dari pengaruh luar.

4. PEMBAHASAN

4.2 Analisa Prosedur Pada praktikum gizi ikan dengan materi analisa serat kasar ini menurut Sudarmadji. et. al., (2007) bertujuan untuk mengetahui penilaian kualitas bahan makanan karna merupakan indeks dan menentukan nilai gizi yang terdapat dalam bahan pangan. Juga dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu prose pengolahan bahan makanan. Dengan demikian presentase serat dapat dipakai untuk menetukan kemurnian suatu bahan atau efesiensi suatu proses. Praktikum ini menggunakan sampel rumput laut, pertama yang dilakukan ialah menghaluskan sampel rumput laut dengan blender dan mortar dengan tujuan agar memperluas permukaan sampel. Selanjutnya dikeringkan dalam oven selama semalam pada suhu 105C untuk mengeringkan sampel. Sampel yang telah kering dan halus ditimbang 5 gram dengan timbangan analitik dengan ketelitian 0,1 gram dan dimasukkan kedalam erlemenyer 600 ml. Setelah itu, ditambah 3 tetes anti koam yang berfungsi mencegah timbulnya gelembung pada proses pemanasan dalam pendingin balik. Dan juga ditambah H2SO4 mendidih sebanyak 200 ml. ( 1,25 gram H2SO4 pekat / 100 ml = 0,0225 N H2SO4 ). Kemudian ditutup dengan pendingin balik, lalu didinginkan selama 30 menit, dimana fungsi dari pendingin balik yaitu mencairkan kembali uap air yang terbentuk. Penambah H2SO4 berfungsi untuk memecah dinding sel rumput laut ( digesti sampai suasana asam ). Kemudian saring supernatan dengan kertas saring dan residu yang tertinggal dalam erlemenyer dicuci dengan aquadest mendidih 10 ml. Setelah residu dipindahkan lagi secara kuantitatif dari kertas saring kedalam erlenmeyer 250 ml dengan menggunakan spatula dan dicuci dengan NaOH yaitu untuk memecah dinding sel rumput laut ( digesti sampai suasana basa ). Selanjutnya didinginkan pada pendinginan balik selama 30 menit. Setelah itu disaring dengan kertas saring yang kering dan sudah diketahui beratnya sambil dicuci dengan larutan K2SO4 10%. Kemudian dicuci lagi dengan aquadest mendidih dan juga 15 ml alkohol 95%. Fungsi dari K2SO4 10% ialah untuk menghilangkan protein. Fungsi alkohol adalah untuk melarutkan lemak vitamin dan mineral serta menetralkan pH. Kemudian kertas saring dan sampel dikeringkan dalam oven pada suhu 100C selama 2 jam. Selanjutnya didinginkan dalam desikator 15-20 menit dan ditimbang beratnya.

Dihitung % serat kasar dengan rumus : % serat kasar = x 100%

4.3 Analisa Hasil Berdasarkan hasil yang diperoleh pada praktikum gizi ikan pada materi serat kasar dengan sampel rumput laut (Euchema cottoni) didapatkan hasil sebagai berikut kelompok 1 dengan jumlah kadar serat kasar 19,16%, kelompok 2 sebesar 17,1%, kelompok 3 sebesar 20,12%, kelompok 4 sebesar 18,02%, kelompok 5 sebesar 15,24% dan kelompok 6 sebesar 22%. Pada praktikum ini didapat serat kasar tertinggi dengan sampel rumput laut pada kelompok 6 sebesar 22% dengan berat akhir 44,121 gr dan berat cawan 43,021 gram, sedangkan pada hasil terendah pada kelompok 2 sebesar 17,1% dengan berat cawan 41,568 gram. Lembaga kanker Amerika menganjurkan makan serat 20-30 gram sehari. Penyakit yang disebabkan kekurangan serat yaitu terjadi divertikulasi ( Almatsier, 2003 ).

5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan Berdasarkan praktikum gizi ikani pada materi analisa serat kasar maka dapat disimpulkan bahwa : Karbohidrat merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon, hydrogen dan oksigen. Karbohidrat dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu monosakarida, disakarida dan polisakarida. Serat kasar adalah residu dari bahan makanan atau pertanian setelah diperlakuan dengan asam alkali mendidih, dan terdiri dari selulosa dengan sedikit lignin dan rentosa. Sumber serat adalah serat makanan yang tidak larut dalam air (lapisan luar biji-bijian dan kacang-kacangan dan lain sebagainya) dan serat makanan yang larut dalam air (sayuran, buah-buahan, padi-padian). Manfaat nutrisi serat kasar adalah mengurangi gangguan sembelit (congtipatian) appenditis, divertinulosis, hemoroid, diabetes militus, kanker kalon, penyakit jantung koroner, batu ginjal dan gastriintestinal. Prinsip analisa serat kasar adalah semua zat-zat organik yang tidak dapat larut dalam H2SO4 0,3 N dan larutan NaOH 1,5 N yang berturut-turut dipanaskan selama 30 menit. Berdasarkan data dan perhitungan diketahui kadar serat kasar terbesar pada kelompok 6 yaitu sebesar 22% sedangkan kadar terendah pada kelompok 5 yaitu sebesar 15,24%. Semakin tinggi kadar serat dalam suatu makanan dianggap makin rendah nilai gizi makanan tersebut dan serat dibutuhkan sekisar 25-30 gram serat setiap hari.

5.2 Saran Saran yang diberikan untuk praktikum gizi ikani pada materi analisa kadar serat kasar yaitu sebaiknya praktikan lebih teliti dalam melakukan analisa serat kasar, agar dalam bahan pangan dapat diperoleh data yang akurat, serta alat-alat praktikum ditambah agar kegiatan praktikum dapat berjalan dengan efisien waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Anggadiredja, J ; Achmad & Heri. P., Sri.I. 2006. Rumput Laut. Penebar Swadaya. Depok Buckle, K. A., R. A. Edward., b. H. Fleet dan M. Wooton. 2007. Ilmu Pangan UI Press. Jakarta Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2010. Gizi dan Kesehatan Masyarakat Edisi Revisi. PT. Raja biafin du Perkasa. Jakarta Gaman P. M dan K. B. Sherrington. 1992. Ilmu Pangan Pengantar Ilmu Pangan. Nutrisi dan Mikrobiologi Edisi Kedua Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Poedjiadi. A. dan FMT Supriyanti. 2007. Dasar-Dasar Biokimiawi. UI Press. Jakarta Sediaoetama. A. D. 2010. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid 1. Dian Rakyat. Jakarta Sudarmadji, S; B Haryono dan Suhardi. 1997. Prosedure Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Linerty. Yogyakarta . 2007. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta Wibowo, TAG. 2009. Efek Diet Rumput Laut Euchema Coffoni FPIK. IPB. Bogor Monosit tikus yang disuntik Alaksan Fakultas Kedokteran. Universitas Diponegoro. Semarang Winarno. F. B. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Wirjatmadi B. M. Adrianti dan S purwati. 2002. Pemanfaatan Rumput Laut (Euchema cottoni) dalam meningkat nilai kandungan serat dan yodium Tepung Terigu dalam Pembuatan mie basah, Jurnal Penelitian Medika Eksakta Vol. 13 No. 1 April 2002 Kertasapoetra, G., dan Marsetyo. 2005. Ilmu Gizi (kesehatan dan Produktivitas Kerja). Rinek Cipta. Jakarta Muchtadi, D. 2009. Gizi Anti Penuaan Dini. Alfabeta. Bandung Sasmito, B. B. 2005. Dasar-dasar Pengawetan Bahan Pangan Fkultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang

LAMPIRAN

Perhitungan Kadar Serat Kasar Rumus : % serat kasar = Kelompok 1


    

x 100%

X 100% = 19,16% serat kasar

Kelompok 2

X 100% = 17,1 % serat kasar

Kelompok 3

X 100% = 20,12 % serat kasar

Kelompok 4

X 100% = 18,02 % serat kasar

Kelompok 5

X 100% = 15,24 % serat kasar

Kelompok 6 = X 100% = 22 % serat kasar