Anda di halaman 1dari 14

A.

Ilmu Lingkungan Ilmu Lingkungan adalah suatu studi yang sistematis mengenai lingkungan hidup dan keduduka n manusia ya ng pantas di dalamnya. Perbedaan uta ma ilmu lingkungan danekologi adalah dengan adanya misi untuk mencari pengetahuan yang arif, tepat (valid), baru, dan menyeluruh tentang alam sekitar, dan dampak perlakuan manusia terhadap alam. Misi t ersebut adalah untuk menimbulkan kesadaran, penghargaan, tanggung jawab, da nkeberpiha kan terhadap manusia dan lingkungan hidup secara menyeluruh. Timbulnyakesadaran lingkungan sudah dimulai sejak lama, cont ohnya Plato pada 4 abad S ebelumMasehi telah menga mat i kerusaka n ala m akibat perilaku manusia. Pada za man moder n,terbitnya buku Silent Spring tahun 1962 mulai menggugah kesadaran umat manusia. Di Indonesia tulisan tentang masalah lingkungan hidup mulai muncul pada 1960-an.S ejak itu Indonesia terus aktif mengikuti pert emuan punca k ya ng membicarakan tentanglingkungan hidup secara global, yaitu Konferensi Stockholm pada 1972; Earth Summit diRio de Janiero tahun 1992; dan WSSD di Joha nnesburg, ta hun 2002. Ilmu lingkunganm e l i p u t i hubunga n i nteraksi ya ng sangat kompl eks sehi ngga untuk m e m u d a h k a n me mp e l a j a r i n ya di l a ku ka n b er b a ga i p e n d e ka t a n , a nt a r a l a i n: h o me o s t a s i s , e n e r g i, kapasitas, simbiosis, sistem, dan model. Permasalahan Lingkungan Hidup Permasalahan lingkungan hidup terdiri dari permasalahan lingkungan global dan sektoral.Contoh per masalahan lingkunga n global adalah: pertumbuhan penduduk, penggunaans u mb e r da ya a la m ya n g t i da k merata ; p er u b a ha n cuaca gl o b a l ka r e na b e r b a ga i ka s u s pencemaran da n gaya hidup yang berlebihan; serta penuruna n keanekaragama n hayatiakibat perilaku manusia, yang kecepatannya meningkat luar biasa akhir-akhir ini. Contoh permasalahan lingkungan sektoral dibahas masalah lingkungan yang terjadi di Indonesia.M a s a l a h t er s e b u t t er j a d i pada b er ba ga i e k os i s t e m, s ep e r t i ya n g t er j a d i di ka w a s a n pertanian, hutan, pesisir, laut, dan perkotaan. Ada p u n u s a ha m en g a t a s i p er ma s a l a ha n l i n g k u n ga n d i l a k u k a n d e n g a n b e r b a g a i p e n d e ka t a n. P e n d e ka t a n ya n g di b a h a s a d a l a h c a r a i l mu p e n g et a hu a n da n t e k n o l o g i

e k o n o mi , p e n e ga ka n h u k u m, da n e t i ka l i n g k u n ga n. U n t u k m e n g a t a s i p e r ma s a l a ha n l i n g k u n ga n ya n g m e n j a d i s a n ga t k o m p l e ks d i p e r l u ka n b er ba ga i u p a ya p e n d e ka t a n sekaligus secara sinergis.Struktur EkosistemMenurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, batasan dari ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuanutuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas,dan produktivitas lingkungan hidup. Secara struktural ekosistem terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik ekosistem meliputi: sumber daya tumbuhan, sumber daya hewan, jasadrenik, dan sumber daya manusia. Komponen abiotik ekosistem meliputi: sumber daya tanah, sumber daya air, sumber dayaenergi fosil, udara, serta cuaca dan iklim. Masing-masing komponen yang menjadi bagian dari ekosistem tersebut saling berinteraksidan saling mempengaruhi dengan erat. Adapun faktor lingkungan pembatas berperan besar dalam menentukan komposisi orga nisme dala m suatu ekosistem. Dala m kons ep faktor pembatas dikemukakan bahwa setiap organisme memiliki kisaran toleransi terhadap setiapfaktor lingkungan abiotik. B.Hukum Lingkungan Hukum lingkungan dalam bidang ilmu hukum, merupakan salah satu bidang ilmuhukum yang paling strategis karena hukum lingkungan mempunyai banyak segi yaitu segihukum administrasi, segi hukum pidana, dan segi hukum perdata. Dengan demikian, tentusaja hukum lingkungan memiliki aspek yang lebih kompleks. Sehingga untuk mendalamihukum lingkungan itu sangat mustahil apabila dilakukan seorang diri, karena kaitannyayang sangat erat dengan segi hukum yang lain yang mencakup pula hukum lingkungan didalamnya. Dalam pengertian sederhana, hukum lingkungan diartikan sebagai hukum yangmengatur tatanan lingkunga n (lingkungan hidup), di mana lingkungan mencakup s emua b e n da da n k o n d i s i , t er ma s u k d i da l a m n ya ma nu s i a d a n t i n g ka h p e r b u a t a n n ya y a n gt erdapat dalam ruang di mana manusia berada dan mempengaruhi kelangsungan hidup serta kes ejaht eraan manusia serta jasad-jasad hidup lainnya. Dala m pengertian secara modern, hukum lingkungan lebih berorientasi pada lingkungan atau Environment-OrientedL a w , s e d a n g hu k u m l i n g k u n g a n ya n g s e c a r a kl a s i k l eb i h me n e k a n ka n p a d a or i e nt a s i penggunaan lingkungan atau Use-Orient ed Law. Hukum Lingkunga n Modern Dala mhukum lingkungan modern, ditetapkan ketentuan dan norma-norma guna mengatur tindak p e r b u a t a n ma n u s i a d e n ga n t u j u a n u nt u k m e l i n d u n gi l i n g k u n ga n da r i k er u s a ka n da n kemer osotan mutunya demi untuk menjamin kelestariannya agar dapat secara langsungterus menerus digunakan oleh generasi sekarang maupun generasi-generasi mendatang.Hukum Lingkunga n modern berorientasi pada lingkungan, sehingga sifat dan waktunya juga mengikuti sifat dan watak dari

lingkungan itu sendiri dan denga n demikian lebih banyak berguru kepada ekologi. Dengan orientasi kepada lingkunga n ini, maka HukumLingkungan Modern memiliki sifat utuh menyeluruh atau komprehensif integral, selalu b e r a d a d a l a m d i n a m i k a d e n g a n sifat da n wat aknya ya ng lu wes . [ s u n t i n g ] H u k u m Lingkungan Klasik Sebaliknya Hukum Lingkungan Klasik menetapkan ket entuan dannorma-norma dengan tujuan terutama sekali untuk menjamin penggunaan dan eksploitasisumber-sumber daya lingkungan denga n berbagai akal dan kepandaian manusia guna mencapai hasil semaksimal mungkin, dan dalam jangka waktu yang sesingkatsingkatnya.H u ku m L i n g k u n ga n K l a s i k b er s i fa t s e kt or a l , s er t a ka k u da n s u ka r b er u b a h. M o c ht a r K u s u ma a t ma d j a m e n g e mu ka ka n , b a h wa s i s t e m p e n d e k a t a n t er p a du a t a u u t u h ha r u s diterapka n oleh hukum untuk mampu mengatur lingkungan hidup manusia secara tepatdan baik, sist em pendekatan ini t elah melandasi perkembanga n Hukum Lingkungan diIndonesia. Drupsteen mengemukakan, bahwa Hukum Lingkungan (Millieu recht) adalahhukum yang berhubungan dengan lingkungan alam (Naturalijk milleu) dalam arti seluas-l u a s n y a . Ruang lingkupnya berkaitan denga n da n dit entuka n oleh r u a n g l i n g k u p pengelolaan lingkungan. Mengingat pengelolaan lingkungan dilakukan terutama olehP emerintah, maka Hukum Lingkungan seba gian besar terdiri atas Hukum Pemerintahan(bestuursrecht). Hukum Lingkungan merupakan instrumentarium yuridis bagi pengelolaanlingkungan hidup, dengan demikian hukum lingkungan pada hakekatnya merupakan suatu bidang hukum yang terutama sekali dikuasai oleh kaidah-kaidah hukum tata usaha negaraa t a u h u k u m p e m er i n t a ha n. U n t u k i t u da l a m p el a ks a na a n n ya a pa r a t p e me r i nt a h p er l u memper hatika n Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik (Algemene Begins elen vanBehoorlijk Bestuur/General Principles of Good Administration). Hal ini dimaksudkan agar d a l a m p e l a k s a n a a n kebija ks a naannya t i da k menyi mpa ng dari t ujua n p e n g e l o l a a n lingkungan hidup

C.Pengembangan pira mida kehidupan di dalam lingkunga n Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkant a n g g u n g j a wa b s et i a p i ns a n di b u mi , da r i b a l i t a s a mp a i ma nu l a . S et i a p or a n g ha r u s melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengank a p a s i t a s n ya ma s i n g- ma s i n g. S e k e c i l a pa p u n u s a ha ya n g ki t a l a ku ka n s a n g a t b es a r manfaatnya bagi terwujudnya bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak.Upaya pemerintah untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyat nya tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan ditinda klanjuti dengan menyusun program p e m b a n gu na n b er k el a n j u t a n ya n g s er i n g d i s eb u t s e b a ga i p e mb a n g u na n b e r w a wa s a n lingkungan. Pemba ngunan berwa wasan lingkunga n adalah usaha meningkatkan kualitas m a n u s i a secara b ert ahap den ga n me mer hati ka n fakt or li ngku nga n. P e m b a n g u n a n b er w a wa s a n l i n g k u n g a n di k e na l d e n ga n na ma P e m b a n gu n a n B e r k e l a nj u t a n. K o n s e p pembanguna n berkelanjutan merupa kan kesepa katan hasil KTT Bumi di Rio de Jenirotahun 1992. Di dalamnya terkandung 2 gagasan penting, yaitu: a. Gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan pokok manusia untuk menopang hidup. b. Gagasan keterbatasan, yaitu keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan baik masa sekarang maupun masa yang akan datang. Adapun ciri-ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah sebagai berikut: a. Menjamin pemerataan dan keadilan. b. Menghargai keanekaragaman hayati. c. Menggunakan pendekatan integratif. d. Menggunakan pandangan jangka panjang. P a da ma s a r e f or ma s i s e ka r a n g i ni , p e m b a n gu na n n a s i o na l di l a ks a na ka n t i da k l a g i ber dasarkan GBHN dan Propenas, tetapi berdasarkan UU No. 25 Tahun 2000, tenta ngSistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai tujuan di antaranya: a. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan. b. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. c. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan,dan pengawasan.

D . S e j a r a h P er k e mb a n ga n H u ku m L i n g k u n g a n P e n g a t ur a n p e n g e l o l a a n s u mb er da ya a l a m da n l i n g ku n ga n s e c a r a na s i o na l b a r u di l a k u k a n da l a m b e b er a p a da s a wa r s a t er a k h i r i ni . S eb a ga i l a n g ka h p er t a ma , M e nt er i N e g a r a P ener t iba n Aparat ur Negar a ( P AN) t ela h menga da ka n r a p a t P e n g e l o l a a n Lingkungan Hidup dan Pencegahan Pencemaran pada tahun 1971.Sebagai persiapan menjelang Konferensi Stockholm telah diselenggarakan sebuah seminar tentang "Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional" di Bandung, yang berlangsung dari tanggal 15 sampai dengan 8 Mei 1972.S e b a ga i t i n d a k l a nj u t d a r i K o nf er e ns i S t oc k h o l m, P e mer i nt a h R e p u b l i k I n d o n es i a membentuk Panitia Interdepartemental yang disebut: Panitia Perumus dan Rencana Kerja bagi Pemerintah di Bidang Pengembangan Lingkungan Hidup berdasarkan KeputusanPresiden No. 16/1972. Panitia tersebut diketuai oleh MenPan/Wakil Ketua BAPPENAS,sedang Sekretariatnya ditempatkan di LIPI.Panitia ini berhasil merumuskan program pembangunan lingkungan dala m wujud Bab 4dalam Repelita II berdasarkan butir 10 Pendahuluan BAB III GBHN 1973-1978. DenganKeputusan Presi den No. 27 Tahun 1975 telah dibentuk Panitia Inventarisasi dan EvaluasiKekayaan Alam dengan tugas pokok menelaah secara nasional pola-pola permintaan dan persediaan serta perkembangan teknologi, baik di masa kini maupun di masa mendatang,dengan maksud menilai implikasi sosial, ekonomis, ekologis da n politis dari pola-polatersebut, untuk dijadikan dasar penentuan kebijaksaan pemanfaatan serta pengamanannyasebagai salah satu sumber daya pembangunan nasional.G B H N ya n g d i t e n t u k a n ol e h M P R t a hu n 1 9 7 8 m e n g g a r i s ka n l a n g ka h l a n j u t u nt u k pembinaan pengelolaan lingkungan hidup. Dalam rangka aparatur lingkungan hidup telahdiangkat untuk pertama kali dalam kabinet, yaitu dalam Kabinet Pembangunan IIi, seorangMenteri yang mengkoordinasikan aparatur Pemerintah dalam pengelolaan sumber da yaa l a m d a n l i n g k u n g a n h i d u p . M e n t e r i t e r s e b u t a d a l a h M e n t e r i N e g a r a P e n g a w a s a n Pemba nguna n da n Lingkungan Hidup (disingkat PPLH) yang kedudukan, tugas pokok,fungsi, dan tata kerjanya ditetapkan dengan Keputusan Presiden No. 28 Tahun 1978, yangdis empurnakan dengan Keputusa n Presiden No. 35 Tahun 1978. Sebagai Menteri PPLHt elah diangkat Prof. Dr. Emil Salim, guru besar Ekonomi pada Universitas Indonesia. G B H N y a n g d i t e t a p k a n MP R ta hun 1983 meningkat kan pembi naa n p e n g e l o l a a n l i n g k u n ga n hi d u p ya n g t e l a h di ga r i s ka n da l a m G B H N 1 9 7 8 - 1 9 8 3 . D a l a m K a b i n et

Pemba nguna n IV (1983-1988) telah dit etapkan seorang Menteri Negara Kependudukandan Lingkungan Hidup. Kedudukan, tugas pokok, fungsi da n tata kerjanya dit etapka ndengan Keputusan Presiden No. 25 Tahun 1983. Sebagai Menteri Negara Kependudukand a n L i n g k u n g a n H i d u p i n i t ela h d i a n g k a t P r of . Dr . E mil S a l i m. Da la m K a b i n e t P e m b a n g u na n V ( 1 9 8 8 - 1 9 9 3 ) P r o f. D r . E mi l S a l i m t el a h d i a n g ka t k e mb a l i s eb a g a i Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Dalam Kabinet Pembangunan VI( 1 9 9 3 - 1 9 9 8 ) t e l a h dia ngkat Ir . S ar wono Kus u maat ma dja seba gai Ment er i N e g a r a Lingkungan Hidup. Dala m Kabinet Pemba ngunan VII (19981998) telah diangkat Prof.Dr. Yuwono Sudarsono seba gai M enteri Negara Lingkunga n Hidup. Sedangkan Dalamka binet Refor masi pembanguna n t elah diangkat dr. Panangian Siregar s ebagai ment eri N e g a r a L i n g k u n g a n H i d u p . B e r a n g k a t d a r i u r a i a n d i a t a s , m a k a s e j a r a h p e r a t u r a n perundang-undangan Hukum Lingkungan dapat di bagi menjadi tiga periode : 1. Zaman Hindia Belanda S el a n j u t n ya Da l a m s ej a r a h p e r a t u r a n p er u n da n g - u n da n ga n l i n g ku n ga n t e r d a p a t peraturan-peraturan sejak za man Hindia belanda, sebagaimana dikemuka kan oleh Prof.Dr. Koesna di Hardjasoemantri, SH.ML. Apabila diperhatika n peraturan perundangundangan pa da waktu za man Hindia Belanda sebagaimana tercantum dalam Himpunan peraturan-Peraturan perundangan di Bidang Lingkungan Hidup yang disusun oleh PanitiaPerumus dan rencana kerja bagi pemerintah di bidang Pengembangan Lingkungan hidupditerbitka n pada tanggal 15 Juni 1978, maka dapatlah dikemukakan, bahwa perta ma kalid i a t u r a da l a h m en g en a i P er i ka na n, mu t i ar a, da n p er i ka na n b u n g a k a r a n g , y a i t u Parelvisscherij, Sponservisscherijordonantie (Stb. 1916 No. 157) dikeluarkan di Bogor o l e h G u b er nu r J e n d er a l I n d e n b u r g p a da t a n g g a l 2 9 J a nu a r i 1 9 1 6 , d i m a na or d o na n s i tersebut memuat peraturan umum dalam rangka melakukan perikanan siput mutiara, kulitmutiara, teripa ng dan bunga karang dalam jarak tidak lebih dari tiga mil-laut inggris dari pantai-pantai Hindia Belanda (Indonesia). Yang dimaksud denga n melakuka n perikanant er hadap hasil laut ialah tiap usaha denga n alat apapun juga untuk menga mbil hasil lautdari laut tersebut Ordona nsi yang sangat penting ba gi lingkungan hidup adalah Hinder-ordonna ntie (Stbl. 1926 No. 226, yang diuba h/dita mbah, terakhir dengan Stbl. 1940 No.450), yaitu Ordonansi Gangguan. Dalam hubungan dengan terjemahan Hinderordonantiemenjadi undang-undang Gangguan yang sering terdapat dalam berbagai dokumen dan p er a t ur a n p e r l u di k e m u ka k a n b a h w a or d o na nt i e t i da k da p a t d i t er j e ma h ka n me n j a di U n d a n g - u n da n g, ka r e na or d o na r r t i e m er u p a ka n pr o d u k p er u n da n g- u n da n ga n z a ma n

penjajahan Hindia Bela nda, seda ngkan Undang-undang merupakan produk negara yangm e r d e ka . M es k i p u n s e b u a h or d o na n t i e ha n ya da p a t d i c a b u t d e n ga n s e b u a h u n da n g- undang, ini tidaklah berarti ordonantie dapat diterjemahkan dengan undang-undang. Istilahya n g t e p a t a da l a h me n t r a ns f o r ma s i ka n o r d o n a nt i e k e t m b a h a s a I n d o n e s i a m e n j a di ordonansi. Di dalam Pasal 1 Ordonansi Gangguan ditetapkan lara ngan mendirikan tanpai z i n t e mp a t - t e m p a t u s a ha ya n g p er i nc i a n j e n i s n ya di c a nt u mka n d a l a m a y a t ( 1 ) pa s a l ters ebut, meliputi 20 jenis perusahaan. Di dalam ordonansi ini ditetapkan pula berbagai p e n g e c u a l i a n a t a s l a r a n g a n i n i . D i bidang per usa haan t ela h d i k e l u a r k a n B e dr i j f s r e gl e m e n i gs o r d o n n a nt i e 1 9 3 4 ( S t b l. 1 9 3 8 N o. 8 6 j o. S t b l . 1 9 4 8 N o. 2 2 4 ) . O r d o n a n s i y a n g p e n t i n g d i b i d a n g p e r l i n d u n g a n s a t w a a d a l a h Dierenbeschermingsordonnantie (Stbl. 1931 No. 134), yang mulai berlaku pada tanggal 1Juli 1931 untuk seluruh wilayah Hindia Belanda (Indonesia).Berdekatan dengan ordonansi ini adalah peraturan t entang uruan, yaitu Jachtordonnantie1 9 3 1 ( S t b 1. 1 9 3 1 N o. 1 3 3 ) da n J a c ht or d o n n a n t i e J a va e n M a d o e r a 1 9 4 0 (S t b 1. 1 9 4 0 No.733) yang berlaku untuk Jawa dan Madura sejak tanggal 1 Juli 1940 . Ordonansi yangmengatur perlindunga n alam adalah Natuurher mings ordonna ntie 1941 (Stbl. 1941 No.167). Ordonansi ini mencabut ordonansi yang mengatur cagar-cagar alam dan suaka-suakamargasatwa, yaitu Natuurmonumenten en reservatenordonnantie 1932 (Stbl. 1932 No. 17)dan menggantikanya denga n Natuurbescher mings ordonna ntie 1941 tersebut. Ordonansitersebut dikeluarkan untuk melindungi kekayaan alam di Hindia Belanda (Indonesia).Peraturan-peraturan yang tercantum di dalamnya berlaku terhadap suaka-suaka alam atau Natuur monument en, denga n pembedaan atas suaka-suaka mar gasatwa dan cagar-cagar alam. Keempat or donansi di bidang perlindungan ala m dan satwa tersebut di atas telahdicabut berlakunya denga n diunda ngkannya UU No. 5 Tahun 1990 t entang Kons ervasiS u mb e r D a ya A l a m H a ya t i da n E k os i s t e mn ya p a da t a n g g a l 1 0 A g u s t u s 1 9 9 0 . D a l a m hubungan denga n pembentukan kota telah dikeluarkan Stads vormingsordonna ntie (Stbl.1 9 4 8 N o. 1 6 8 ) , d i s i n g ka t S V O , ya n g mu l a i b er l a ku p a da t a n g ga l 2 3 J u l i 1 9 4 8 . Y a n g menarik di sini a dalah bahwa Stadsvor mingsordonnantie diterbit kan pada tahun 1948, padahal Republik Indonesia diproklamasikan kemer dekaa nnya pada tanggal 17 Agustus1945. Penjelasannya adalah bahwa SVO tersebut ditetapkan di wilayah yang

secara defacto diduduki Belanda. Berbagai ordona nsi tersebut di atas telah dijabarkan lebih lanjutdalam verordeningen, seperti misalnya: Dierenbeschermingsverordening (Stbl. 1931 No.2 6 6 ) ; b er b a ga i B e dr i j f s r e g l e m e nt er i n gs v er o r d e n i n g e n ya n g me l i p u t i b i d a n gb i da n g t ertentu s eperti pabrik sigar et, pengecoran loga m, pabrik es, pengolahan kembali karet, pengasapan karet, perusahaan tekstil; Jachtveiordening Java en Madura 1940 (Stbl. 1940 No. 247 jo. Stbl. 1941 No. 51); dan Stadsvormingsverordening, disingkat SW (Stbl. 1949 No. 40). Begitu pula terdapat peraturan tentang air, yaitu Algemeen Waterreglement (Stbl.1936 No. 489 jo. Stbl. 1949 No. 98). 2. Zaman Jepang P a da wa kt u z a ma n p e n d u du k a n J e p a n g, ha m p i r t i da k a d a p er a t ur a n p e r u n d a n g- undangan di bidang lingkungan hidup yang dikeluarkan, kecuali Osamu S Kanrei No. 6,yaitu mengena laranga n menebang pohon aghata, alba dan bals em tanpa izin Guns eikan.P er a t ur a n p er u n da n g- u n da n g a n di wa kt u it u t er u t a ma di t u j u ka n u nt u k m e mp e r ku a t kedudukan penguasa Jepang di Hindia Belanda, dimana larangan diadakan untuk menjaga ba h a n p o k o k u n t u k m e mb u a t p e s a w a t p el u n c u r ( gl i d er s ) y a n g b er b a h a n p o k o k ka y u aghata, alba, balsem dimana daam rangka menjaga logistik tentara, karena kayu pohontersebut ringan, tetapi sangat kuat. 3. Periode setelah kemerdekaan Pada periode ini secara bertahap muncul beberapa peraturan-peraturan antara lain :a) UU No. 4 prp Tahun 1960 tentang perairan Indonesia; b) UU No. 5 Tahun 1967 tentang Kehutanan; c) UU No. 11 Tahun 1967 tentang Pokok Pertambangan d) UU No. 1 Tahun 1973 tentang landas Kontinen Indonesia; e) UU No. 11 Tahun 1974 tentang pengairan; f) UU No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ket entuan Pokok Pengelolaan Lingkunga nHidup; g) UU No. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia; h) UU No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan; i) UU No. 17 Tahun 1985 tentang I Pengesahan Konvensi Hukum Laut 1982; j) UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya; k) UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; l) PP No. 17 Tahun 1974 t entang Pengawasan Pelaksanaan Eksplorasi da n EksploitasiMinyak dan Gas Bumi di Daerah Lepas Pantai (LN No. 20 Tahun 1974 TLN No. 3031); m) P P N o. 1 5 T a h u n 1 9 8 4 t e nt a n g P e n g e l ol a a n S u m b er Da ya A l a m H a y a t i di Z o na Ekonomi Ekslusif Indonesia; n) PP No. 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Instansi Vertikal di Daerah;

o) Keputusn ment eri perta nian No. 67 tahun 1976 tentang Empat Daerah Operasi BagiKapal-kapal Perikanan; p) Keputusan presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; q) Keputusan presiden No. 55 tahun 1993 tentang P engadaan Tanah Bagi PelaksanaanPembangunan Untuk Kepentingan Umum.Selanjutnya peraturan perundang-undangan set elah dilakukan penggantian terhadap UU N o . 4 T a h u n 1 9 8 2 d e n ga n U U N o. 2 3 T a hu n 1 9 9 7 t e nt a n g U n da n g - U n da n g P o k o k Lingkungan Hidup , juga mulai mmperhatikan bagaimana untuk menjaga agar lingkungant i da k t er c e m a r , ya it u m e n g e l u a r ka n U n da n g - U n da n g ya n g me n j a g a a ga r b a g a i ma na lingkungan secara dini akan t erjaga dari pencemaran atas adanya proses pemba ngunanyaitu AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Da mpak Lingkunga n danP eraturan pemerintah No. 18 Tahun 1999 t entang Pengelolaan Limbah B3, PeraturanPemerintah No. 85 Tahun 1999 tentang Peraturan P erubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3, Peraturan pemerintah No. 19 tahun1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusaka n Laut, Peraturan pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, ,Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor : Kep13/MENLH/3/94 tentang pedoman susunan keanggotaan dan tata kerja komisi amdal, Keputusan menteri negaralingkungan hidup republik indonesia nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tanggal 19 Maret1 9 9 4 t e n t a n g p e d o ma n u mu m p e n y u s u n a n a na l i s i s me n g e na i d a mp a k l i n g ku n ga n, Keputusan kepala badan pengendalian dampak lingkungan republik indonesia nomor :Kep-056 Tahun 1994 tentang pedoman mengenai ukuran dampak penting, Keputusanmenteri negara lingkungan hidup republik indonesia nomor : KEP15/MENLH/3/1994t a n g g a l 1 9 M a r e t 1 9 9 4 t e n t a n g p e m b e n t u k a n k o m i s i a n a l i s i s m e n g e n a i d a m p a k lingkungan terpadu, Keputusan presiden republik indonesia nomor : 77 tahun 1994 tentang bada n pengendalian da mpak lingkunga n, Surat keputusan ment eri perindustrian nomor :250/M/SK/10/1994 tentang pedoman teknis penyusunan pengendalian dampak terhadaplingkungan hidup pa da sekt or industri., Keputusan bersama ment eri kesehatan republik i n d o n e s i a d a n m e n t e r i n e g a r a k e p e n d u d u k a n dan lingkungan hidup republik i n d o n e s i a / k e p a l a b a d a n p e n g e n d a l i a n d a m p a k l i n g k u n g a n o m o r : 181/MENKES/SKB.II/1993, KEP.09/BAPEDAL/02/1993 Ta nggal 26 Februari 1993tentang Pelaksanaan Pemantauan Dampak Lingkungan, Keputusan menteri dalam

negerinomor : 29 tahun 1992 tentang pedoman tata cara pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkunga n ba gi pr oyek-pr oyek P MA da n P MDN di D a e r a h . , K e p u t u s a n M e n t e r i P er t a mb a n ga n da n E n er g i N o mor : 5 2 3 K / 2 0 1 / M P E / 1 9 9 2 t e nt a n g P e d o ma n T ek n i s P enyusunan Penyajian Infor masi Lingkungan, Rencana Pengelolaan Lingkunga n, danRencana Pemantauan Lingkungan Untuk Usaha Pertambangan Bahan Galian Golongan C,K e p u t u s a n M e n t e r i N e g a r a Lingkunga n hidup republik indonesia nomor : Kep11/MENLH/3/1994 tanggal 19 Maret 1994 tentang jenis usaha atau kegiatan yang wajibdilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan, Peraturan pemerintah republik indonesia nomor : 12 tahun 1995 tentang perubahan peraturan pemerintah nomor 19 tahun1994 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun, Peraturan pemerintahrepublik indonesia nomor 19 tahun 1994 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun, Undang-undang republik indonesia nomor 24 tahun 1992 tentang penataan ruang,K e p u t u s a n p r e s i d e n r e p u b l i k i n d o n e s i a n o m o r 7 5 t a h u n 1 9 9 3 t e n t a n g k o o r d i n a s i pengelolaan tata ruang nasional, Keputusan pr esiden republik indonesia nomor 32 tahun1990 tentang pengelolaan kawasan lindung, Peraturan pemerintah republik indonesia nomor 35 tahun 1991 tentang sungai, Peraturan pemerintah republik indonesia nomor 27tahun 1991 tentang rawa, Peraturan pemerintah republik indonesia nomor 18 tahun 1994tentang pengusahaan pariwisata alam di zona pemanfaatan ta ma n nasional, taman hutanraya dan ta ma n wisata ala m, Undang-undang republik indonesia nomor 5 tahun 1992t e n t a n g b enda ca gar bu da ya, P er atur an pemer i nta h No. 41 T ahu n 1 9 9 9 T e n t a n g P e n g e n da l i a n P e n c e ma r a n U da r a , P er a t ur a n p e m er i n t a h N o. 2 0 t a hu n 1 9 9 9 0 t e nt a n g Pengendalian Pencemaran Air, Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.Peraturan pemerintah republik indonesia nomor 10 tahun 1993 tanggal 19 pebruari 1993tentang pelaksanaan undang-undang nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya,K e p u t u s a n m e n t e r i n e g a r a l i n g k u n g a n h i d u p r e p u b l i k i n d o n e s i a n o m o r : K e p - 42/MENLH/11/1994 tentang pedoman umum pelaksanaan audit lingkungan, Keputusanment eri negara lingkungan hidup republik indonesia nomor : Kep-10/MENLH/3/1994tentang pencabutan keputusan menteri negara kependudukan dan lingkungan hidup nomor : a. KEP -49/MENKLH/ 6/1987 t enta ng P edoma n p enent ua n d a m p a k p e n t i n g d a n lampirannya; b. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang pedoman umum penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan dan lampirannya;c. Kep51/MENKLH/6/1987 tentang pedoman umum penyusunan studi evaluasi mengenaidampak lingkungan dan lampirannya

d. Kep-52/MENKLH/6/1987 tentang batas waktu penyusunan studi evaluasi mengenai dampak lingkugnan; e. Kep-53/MENKLH/6/1987 tentang pedoman susunan keanggotaan dan tata kerja komisi. 4. Deklarasi-deklarasi Internasional yang berkaitan dengan Lingkungan Hidup: Perkembangan hukum lingkungan tidak dapat dipisahkan dari gerakan sedunia untuk memberikan perhatian lebih besar kepada lingkungan hidup.a. Deklarasi StockholmDeklarasi Stockholm sebagai akibat dari sidang umum PBB 1 Juni 1970 yang menyerukanuntuk meningkatkan usaha dan tindakan nasional serta internasional guna menanggulangiproses kemrosotan kualitas lingkungan hidup agar dapat diselamatkan keseimbanan dank e s er a s ia n e k ol o g i s , d e mi k e l a n gs u n g a n hi du p ma n u s i a . D e kl a r a s i S t o c k h o l m 1 9 7 2 Menghasilkan : a ) D e kl a r a s i t e nt a n g L H ( pr ea mb l e da n 2 6 a s a s ya n g di s e b u t s t o c k h ol m d e c l a r a t i o n) di da l a mn y a t er d a pa t ha l - ha l ya n g m e mb er i ka n a r a h a n t er h a da p p e na n ga n a n ma s a l a hlingkungan hidup termasuk di dalamnya pengaturannya melalui perundang-undangan. b ) R e n c a na a ks i l i n g k u n g a n hi d u p ma n u s i a ( a ct i o n p l a n) , t er ma s u k di da l a m n y a 1 8 rekomendasi tentang perencanaan dan pengelolaan pemukiman manusia c ) R e k o me n da s i t e n t a n g k el e mb a ga a n d a n k eu a n ga n y a n g m e n u nj a n g a k s i t e r s eb u t (UNEP) d) Menetapkan 5 Juni sebagai hari lingkungan hidup sedunia e) Sekrerariat UNEP di Nairobi. f) Bangsa-bangsa perlu membangkitkan kes adaran serta partisipasi mas yara kat denganmenyediakan informasi tentang lingkungan yang meluas. g) Bangsa-bangsa perlu memberlakukan undang-undang tentang lingkungan yang efektif dan menciptakan undang-undang nasional tentang jaminan bagi para korban pencemarandan kerusakan lingkungan lainnya h) Pihak pencemar harus menanggung akibat pencemaran i) Bangsa-bangsa perlu kerjasama menegakkan sistem ekonomi internasional yang terbukauntuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan j ) P e m b a n g u na n b er k e l a nj u t a n m e m e r l u ka n p e ma ha ma n i l mi a h ya n g b a i k t e nt a n g masalah-masalahnya (perlu pengetahuan dan teknologi inovatif)

Bahwa unsur - unsur perbuatan pidana adalah berikut: a. Kelakuan dan akibat ( perbuatan ) b. Hal lkhwal atau keadaan yang menyertai perbuatan c. Keadaan tambahan yang memberatkan pidana d. Unsur melawan hukum yang subyektif e. Unsur melawan hukum yang obyektif Namun demikian dengan tidak adanya keseragaman pandangan dan definisi yang kurang lengkap menurut pandangan dualistic tentang uraian delik, maka unsur unsur suatu delik pada umumnya sebagai berikut: 1. Perbuatan aktif atau pasif 2. Akibat ( hanya pada delik materil) 3. Melawan hukum formil dan materil 4. Keadaan menyusul atau keadaan tambahan 5. Keadaan yang secara obyektif yang memperbaiki pidana 6. Tidak adanya dasar pembenar dan dasar pemaaf 1. Perbuatan aktif dan pasif Suatu perbuatan yang dikatakan perbuatan aktif dan pasif apabila perbuatan itu dilakukan tanpa disadari walaupun dirangkum oleh suatu aturan hukum yang tertulis maupun tidak tertulis belumlah merupakan straf baar hadling ( perbuatan pidana ) jika tidak dipandang suatu perbuatan tercela dan buruk menurut manusia umumnya. Andi Zainal Abidin Farid (1989 : 155 ) berpendapat sebagai berikut: Jadi Suatu perbuatan aktif atau pasif barulah dikatakan perbuatan melawan hukum apabila bertentangan dengan Undang - Undang dan juga bertentangan dengan perasaan keadilan masyarakat dengan kata lain bertentang dengan hukum yang tertulis dan tidak tertulis. 2. Akibat ( hanya pada delik materil) Yang dinyatakan dengan akibat hanya pada delik materil adalah akibat tertentu di dalam delik sehingga KUHP pidana sendiri tidak mudah memberikan kaidah atau petunjuk tentang cara penentuan akibat pada pembuat delik. Andi Zainal Abidin Farid (1989 : -186) menyatakan sebagai berikut: Hanya menentukan dalam beberapa pasal, bahwa untuk delik -delik tersebut diperlukan adanya suatu akibat tertentu guna dapat menjatuhkan pidana terhadap pembuatnya. 3. Melawan Hukum Formil dan Materil yang dimaksud dengan melawan hukum formal adalah merupakan unsur dari pada hukum positif tertentu saja. Sehingga ia merupakan unsur tindak pidana dan materil itu sendiri. sedangkan yang dimaksud dengan melawan hukum materil adalah melawan hukum dalam arti luas di mana sebagai suatu unsur yang tidak hanya melawan hukum tertulis saja. Andi Hamza (1986:79) berpendapat sebagai berikut: Suatu tindakan pada umumnya dapat hilang sifatnya sebagai melawan hukum bukan hanya berdasarkan suatu ketentuan dalam perundang-undangan melainkan juga berdasarkan azaz-azas hukum yang tidak tertulis dan bersifat umum.

Secara formil, maka teranglah bahwa perbuatan yang dilarang oleh undang - undang atau perbuatan yang melanggar perintah di dalam undang undang, karena bertentangan apa yang dilarang oleh atau yang diperintahkan dalam undang - undang. Menurut pendapat penuiis dari berbagai pendapat para Sarjana Flukum mengartikan bahwa melawan Hukum pada hakekatnya adalah sama dengan suatu perbuatan pidana yang ancam pidana oleh orang yang dapat mempertanggung jawabkan atas perbuatannya. 4. Keadaan yang Menyusul atau keadaan Tambahan Di katakan keadaan menyusal apabila perbuatan itu merupakan pemufakatan jahat dan terlaksana adanya pelaporan pada yang berwajib.Terkadang dalam rumusan perbuatan pidana tertentu dijumpai adanya ikhwal tambahan yang tertentu pula.Misalnya dalam pasal 164,165 KUHP adalah kewajiban untuk melaporkan kepada pihak berwajib.Jika mengetahui terjadinya suatu kejahatan, kalau kejahatan betul -betul terjadi, maka kejahatan itu merupakan unsur tambahan. 5. Keadaan yang secara objektif yang memperberat pidana Pasal 351 (1) dan (2) Pasal 352 (1) dan (2), dan Pasal 354 (2) KUHP.Keadaan mana yang tidak di kehendaki tetapi terjadi secara otyektif akibat perbuatan delik. Di katakan secara obyektif mempererat pidana adalah terletak pada keadaan obyektif pembuat delik.apabila penganiayaan biasa ini berakibat luka berat atau mati.tentang luka berat dapat dilihat pada pasal 90 KUHP. 6. Tidak adanya dasar pembenar dan dasar pemaaf Andi Zainal Abidin Farid (1989 : 251 - 252 ) mengatakan sebagai berikut: a. Alasan Pembenar, dimana sifat melawan hukum perbuatan hapus dan tidak terbukti, sehingga terdakwa harus dibebaskan oleh hakim b. Alasan pemaaf yaitu perbuatan pidana sudah terbukti unsur - unsur semuanya, namun unsur kesalahan tidak ada pada pembuat dalam hal ini sebaiknya terdakwa dilepaskan dari segala tuntutan hukum. Moeljatno (1987: 137) mengatakan sebagai berikut: 1. Alasan pembenar yaitu alasan menghapus sifat melawan hukum perbuatan, sehingga apa yang dilakukan oleh terdakwah lalu menjadi perbuatan yang patut dan benar. 2. Alasan pemaaf yaitu alasan menghapuskan kesalahan terdakwa, perbuatan yang dilakukan terdakwa tetap bersifat melawan hukum tapi ia tidak dapat dipidana karena tidak ada kesalahan. Sedangkan dalam pasal 44 KUHP menguraikan bahwa orang yang tidak dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya dalam 2 (dua) hal sebagai berikut: 1. Jiwanya cacat dalam pertumbuhan 2. Terganggu karena penyakit Setelah penulis menjelaskan pengertian Delik secara umum sebagai mana yang telah dikemukakan oleh pakar hukum pidana,penulis akan menjelaskan juga pengertian pengeroyokan secara spesifik. Istilah pengeroyokan berasal dari kata kerubut atau keroyok, yang artinya maju orang banyak, dengan demikian bila diartikan kata keroyok berarti melakukan kekerasan ditambah dengan kata pengeroyok, berarti melakukan kekerasan

dengan mempergunakan tenaga.atau kekuatan jasmani sekuat - kuatnya secara tidak syah (R. Soesilo1988: 147). Dalam Pasal 170 Kitab Undang - Undang Hukum Pidana yang berbunyi: (1). Barang siapa dimuka umum bersama sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan. (2). Tersalah hukum: 1. Dengan penjara selama - lamanya tujuh tahun, jika ia dengan sengaja merusakkan barang atau jika kekerasan yang dilakukannya itu menyebabkan sesuatu luka 2. Dengan penjara selama - lamanya Sembilan tahun jika kekerasan itu menyebabkan luka berat. 3. Dengan penjara selama-lamanya dua betas tahun, jika kekerasan itu menyebabkan matinya orang. Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2107131-unsurunsur-tindak-pidana/#ixzz1fdotMxYE