Anda di halaman 1dari 17

Bantalan/ Bearing

Diposkan oleh awan di 22:24 . Selasa, 08 Desember 2009 Label: Sains dan Teknologi

Pengertian dan klasifikasi pada bearing Bantalan merupakan salah satu bagian dari elemen mesin yang memegang peranan cukup penting karena fungsi dari bantalan yaitu untuk menumpu sebuah poros agar poros dapat berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebihan. Bantalan harus cukup kuat untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. Pada umumya bantalan dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu.

a. Berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros Bantalan luncur Pada bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan perantaraan lapisan pelumas.

Bantalan gelinding Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti bola, rol, dan rol bulat.

b. Berdasarkan arah beban terhadap poros Bantalan radial Arah beban yang ditumpu bantalan ini adalah tegak lurus sumbu.

Bantalan aksial Arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros.

Bantalan gelinding khusus Bantalan ini dapat menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros. Meskipun bantalan gelinding menguntungkan, Banyak konsumen memilih bantalan luncur dalam hal tertentu, contohnya bila kebisingan bantalan menggangu, pada kejutan yang kuat dalam putaran bebas.

Pembacaan nomor nominal pada bantalan gelinding. Dalam praktek, bantalan gelinding standart dipilih dari katalog bantalan. Ukuran utama bantalan adalah - Diameter lubang - Diameter luar - lebar - Lengkungan sudut Nomor nominal bantalan gelinding terdiri dari nomor dasar dan nomor pelengkap. Nomor dasar yang ada merupakan lambang jenis, lambang ukuran(lambang lebar, diameter luar). Nomor diameter lubang dan lambang sudut kontak penulisannya bervariasi tergantung produsen bearing yang ada. Bagian Nomor nominal ABCD

A menyatakan jenis dari bantalan yang ada. Jika A berharga 0 maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, double row. 1 maka hal tersebut menunjukkan jenis Self-aligning ball bearing. 2 maka hal tersebut menunjukkan jenis spherical roller bearings and spherical roller thrust bearings. 3 maka hal tersebut menunjukkan jenis taper roller bearings. 4 maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, double row. 5 maka hal tersebut menunjukkan jenis thrust ball bearings. 6 maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, single row. 7 maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, single row. 8 maka hal tersebut menunjukkan jenis cylindrical roller thrust bearings. B menyatakan lambang diameter luar. Jika B berharga 0 dan 1 menyatakan penggunaan untuk beban yang sangat ringan. Jika B berharga 2 menyatakan penggunaan untuk beban yang ringan. Jika B berharga 3 menyatakan penggunaan untuk beban yang sedang. Jika B berharga 4 menyatakan penggunaan untuk beban yang berat. C dan D menyatakan lambang diameter dalam Untuk bearing yang berdiameter 20 - 500 mm, kalikanlah 2 angka lambang tersebut untuk mendapatkan diameter lubang sesungguhnya dalam mm. Nomor tersebut biasanya bertingkat dengan kenaikan 5 mm tiap tingkatnya.

Penyebab-penyebab kerusakan pada bearing: 1. Kesalahan bahan o faktor produsen: yaitu retaknya bantalan setelah produksi baik retak halus maupun berat, kesalahan toleransi, kesalahan celah bantalan. o faktor konsumen: yaitu kurangnya pengetahuan tentang karakteristik pada bearing.

2. Penggunaan bearing melewati batas waktu penggunaannya (tidak sesuai dengan petunjuk buku fabrikasi pembuatan bearing).

3. Pemilihan jenis bearing dan pelumasannya yang tidak sesuai dengan buku petunjuk dan keadaan lapangan (real).

4. Pemasangan bearing pada poros yang tidak hati-hati dan tidak sesuai standart yang ditentukan. Kesalahan pada saat pemasangan, diantaranya: o Pemasangan yang terlalu longgar, akibatnya cincin dalam atau cincin luar yang berputar yang menimbulkan gesekan dengan housing/poros. o Pemasangan yang terlalu erat, akibatnya ventilasi atau celah yang kurang sehingga pada saat berputar suhu bantalan akan cepat meningkat dan terjadi konsentrasi tegangan yang lebih. o Terjadi pembenjolan pada jalur jalan atau pada roll sehingga bantalan saat berputar akan tersendat-sendat.

5. Terjadi misalignment, dimana kedudukan poros pompa dan penggeraknya tidak lurus, bearing akan mengalami vibrasi tinggi. Pemasangan yang tidak sejajar tersebut akan menimbulkan guncangan pada saat berputar yang dapat merusak bearing. Kemiringan dalam pemasangan bearing juga menjadi faktor kerusakan bearing, karena bearing tidak menumpu poros dengan tidak baik, sehingga timbul getaran yang dapat merusak komponen tersebut.

6. Karena terjadi unbalance (tidak imbang), seperti pada impeller, dimana bagian-bagian pada impeller tersebut tidak balance (salah satu titik bagian impeller memiliki berat yang tidak seimbang). Sehingga ketika berputar, mengakibatkan putaran mengalami perubahan gaya disalah satu titik putaran (lebih terasa ketika putaran tinggi), sehingga berpengaruh pula pada putaran bearing pada poros. Unbalance bisa terjadi pula pada poros, dan pengaruhnya pun sama, yaitu bisa membuat vibrasi yang tinggi dan merusak komponen.

7. Bearing kurang minyak pelumasan, karena bocor atau minyak pelumas terkontaminasi benda asing dari bocoran seal gland yang mempengaruhi daya pelumasan pada minyak tersebut.

Proses pemasangan bearing. - Proses balancing. Pemasangan bearing pada komponen mesin, komponen tersebut pertama-

tama harus benar-benar balance agar bearing dapat bertahan dengan baik. - Alignment (pengaturan sumbu poros pada mesin harus benar-benar sejajar). - Proses pemberian beban. Pemberian beban ini harus sesuai dengan jenis bearing yang digunakan apakah itu beban radial atau beban aksial. - Pengaturan posisi bearing pada poros. - Clearance bearing. Metode pemasangan dan peralatan yang digunakan. - Toleransi dan ketepatan yang diperlukan. Pada saat pemasangan bearing pada poros, maka toleransi poros pada proses pembubutan harus diperhatikan karena hal tersebut mempengaruhi keadaan bearing.

Gambar 1 : Pemasangan dan pelepasan bearing Sumber: www.vista-bearing.com

Cara mengatasi kerusakan pada bearing: 1. Melakukan penggantian bearing sesuai umur waktu kerja yang telah ditentukan. 2. Mengganti bearing yang sesuai dengan klasifikasi kerja pompa tersebut. 3. Melakukan pemasangan bearing dengan hati-hati sesuai standar yang telah ditentukan. 4. Melakukan alignment pada poros pompa dan penggeraknya. 5. Melakukan tes balancing pada poros dan impeller. 6. Memasang deflektor pada poros dan pemasangan rubber seal pada rumah bantalan dan perbaikan pada seal gland, untuk mengantisipasi kebocoran.

laporan bearing
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia industri, penulis sering menjumpai macam-macam bearing. Dimana bearing biasa digunakan sebagai bantalan poros supaya pada saat perpindahan daya, mengurangi terjadinya kehilangan daya akibat gesekan. Dalam pemasangan dan pelepasan bearing harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar, agar tidak terjadi keausan/kerusakan pada poros dan bearing. oleh karena itu, penulis melakukan praktek latihan kerja dilaboratorium perawatan dan perbaikan supaya mampu melakukan pemasangan dan pelepasan bearing dengan baik dan benar. Bantalan merupakan salah satu bagian dari elemen mesin yang memegang peranan cukup penting karena fungsi dari bantalan yaitu untuk menumpu sebuah poros agar poros dapat berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebihan. Bantalan harus cukup kuat untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. Disini akan membahas tentang pemeriksaan poros pada bidang acuan secara vertical dan horizontal serta cara mamasang bearing dengan metode paksa dan heater. 1.2 Tujuan Percobaan 1.2.1 Pemeriksaan Poros pada Bidang Acuan Secara Vertikal dan Horizontal Adapun tujuan dari pemeriksaan poros pada bidang acuan secara vertical dan horizontal yaitu: a. Untuk mengetahui keadaan poros yang di alami sebenarnya pada posisi vertical dan horizontal, b. Untuk melakukan penyetelan pada posisi sumbu poros pada bidang vertical dan horizontal, c. Dapat mengetahui alat alat yang digunakan serta fungsinya.

1.2.2 Pemasangan Bearing Secara Paksa dengan Menggunakan SST Bearing Adapun tujuan dari pemasangan bearing secara paksa dengan menggunakan SST bearing yaitu: a. Agar dapat mengetahui bagaimana cara memasang bearing pada poros, b. Agar dapat mengetahui alat/ SST apa yang digunakan dalam proses pemasangan bearing, c. Agar dapat mengetahui arah penampang tulisan pada permukaan bearing pada saat pemasangan. d. Pada saat melepas bearing digunakan alat penarik bantalan (Treakker) 1.2.3 Pemasangan Bearing dengan Menggunakan Alat Pemanas (Heater) Adapun tujuan dari pemasangan bearing dengan menggunakan alat pemanas adalah: a. Mengetahui temperatur yang dibutuhkan untuk memanaskan bearing, b. Mengetahui cara penggunaan dari alat tersebut, c. Dapat membedakan proses pemasangan bearing secara paksa dengan proses heater. d. Pada saat melepas bearing menggunakan treakker 1.2.4 Pemasangan dan Pelepasan Cincin Penahan Bearing a. Mengetahui cara memasang dan melepas cincin penahan b. Mengetahui alat apa yang digunakan pada pemasangan dan pelepasan cincin penahan

c. Dapat mengetahui macam macam cincin penahan dan fungsinya 1.2.5 Pemasangan dan Pelepasan Bantalan dengan Selubung Tirus pada Poros a. Mengetahui cara pemasangan dan pelepasannya b. Mengetahui jarak bantalan terpasang yaitu pada jarak 52 mm

1.2.6 Pemasangan dan Pelepasan Bantalan pada Lubang a. Mengetahui cara memasang dan melepas b. Terdapat teknik pemasangan dan melepaskannya c. Pada saat pengetokan jangan gunakan palu baja

BAB II TEORI DASAR

2.1 Pemeriksaan Poros pada Acuan Vertical dan Horizontal Pada saat melakukan perakitan suatu komponen baik itu mekanik, sebaiknya dilakukan pemeriksaan keadaan poros sebenarnya pada sumbu poros terhadap bidang acuan. Apabila tidak dilakukan pemeriksaan, maka komponen komponen mekanik yang terpasang di poros akan mengalami suatu penyimpangan terhadap bidang acuan. Untuk dapat mengetahui penyimpangan pada suatu poros, maka dilakukanlah pemeriksaan poros pada acuan vertical dan horizontal. Dalam pemeriksaan tersebut kita akan melihat kesejajaran atau pun penyimpangan yang terjadi pada suatu poros baik secara vertical maupun secara horizontal. Pemeriksaan akan dilakukan dengan menggunakan dial indicator sebagai alat untuk mengukur suatu permukaan pada poros dan akan dibagi titik titik perpindahan dial indicator yang telah di beri ukurannya. Jika terjadi penyimpangan pada bidang vertical maupun horizontal, maka diakukan pemasangan sim pada baut pengikat dudukan poros agar terjadi ke sejajaran pada poros.

2.2 Teori Dasar Pemasangan dan Melepas Bearing serta Cincin Penahan Pada proses pemasangan bearing terjadi beberapa metode pemasangan. Metode tersebut digunakan karena pada poros menggunakan suaian sesak, maka untuk itu digunakanlah metode metode yang pas atau yang cocok untuk pemasangan bearing menurut posisinya masing masing. Hal tersebut dilakukan agar bearing tidak mengalami kerusakn pada saat proses pemasangan. Untuk itu dapat dilakukan proses pemasangan bearing dengan cara: a. Dengan metode Pemanasan (Heater), b. Dengan metode Paksa ( SST Bearing). Untuk metode pemanasan, bearing dipanaskan terlebih dahulu pada temperature yang telah disesuiakan. Jika tidak, akan terjadi perubahan pada bearing tersebut. dan sedangkan untuk metode paksa, disini menggunakan SST Bearing untuk menekan agar bearing pas berada pada dudukan poros dengan dipukul menggunakan palu plastic. pada proses melepas bearing menggunakan alat penarik bearing yaitu Treakker. Alat tersebut digunaka sebagai alat untuk melepas saja.Untuk proses memasang dan melepas cincin bering, yaitu digunakan tang Sklip. Tang tersebut berfungsi sebagai alat untuk memasang cincin penahan baik baigian dalam maupun luar dan juga berfungsi sebagai alat melepas cincin penahan. Cincin penahan gunanya adalah untuk menghindari perubahan pergeseran posisi bearing. Karena suaian ukuran diameter luar cincin luar (outer ring) bantalan gelinding terhadap diameter lubang rumah adalah suaian luncur (Slide Fit), maka pemasangan bantalan kedalam rumah cukup dengan mudah dilakukan tanpa menggunakan alat tekan khusus. Untuk pemasangan cincin penahan (Internal Retainer Ring) harus digunakan tang khusus (Internal circlip pliers) yang dapat mengecilkan lingkaran dan menempatkan cincin penahan tersebut pada alur dinding lubang. Pada pemasangan bantalan gelinding kedalam lubang diperlukan keahlian, dimana pada proses pemasangannya memerlukan ketenangan dan ketelitian yang tinggi. 2.3 Teori Pemasangan dan pelepasan Bantalan dengan Selubung Tirus Untuk mengatasi penyimpangan yang menyudut antara sumbu poros dan sumbu lubang, digunakan bantalan Self Aligned Ball Bearing. Penggunaan selubung tirus pada lubang cincin dalam dimaksudkan untuk mengatasi kesulitan manufaktur dalam memperoleh dimensi diameter poros bantalan. Dengan menggunakan selubung tirus ini bantalan dapat diposisikan di sepanjang poros sejauh ukuran diamater poros sedikit dibawah ukuran nominal selubung tirus. Posisi bantalan akan terpasang pada jarak 52 mm dari dinding plat dengan terikat cukup kencang dengan kelonggaran gelinding terhadap alur pacu.

2.4 Teori Dasar Pemasangan dan Melepas Bantalan pada Lubang Dalam memasang dan melepas bantalan pada lubang , maka terdapat teknik atur cara- caranya. Pada proses tersebut tidak perlu menggunakan alat khusus, hanya menggunakan tangan saja sebagai alat penekannya dan untuk melepaskannya juga menggunakan alat. Pada saat memasang yang penting bantalan tidak boleh miring dengan dudukan permukaan dalam lubang, kalau miring maka tidak akan masuk secara lancar. Begitu juga pada saat pembongkaran harus seimbang dengan lubang dan bantalan.

BAB III METODE PENGERJAAN 3.1 Alat dan Bahan yang digunakan Adapun dalam pelaksanaan pengujian pembongkaran pemasangan dan anasila mengunakan alat alat dan bahan sebagai berikut: 3.1.1 Alat yang digunakan

Gambar 3.1 Dial Indikator

Gambar 3.2 Kunci Ring 19 - 17 Gambar 3.3 Palu Plastik

Gambar 3.4 Tang Sklip

Gambar 3.5 Treakker

Gambar 3.6 SST Bearing

Gambar 3.7 Heater

Gambar 3.9 Kunci L Gambar 3.8 Cincin Penahan Bearing

Gambar 3.10 Penggaris

Gambar 3.11 Jangka Sorong

Gambar 3.12 Kunci Kait Pengencang

Gambar 3.13 Spidol 3.1.2 Bahan yang digunakan Adapun bahan yang digunakan adalah:

Gambar 3.14 Bearing

Gambar 3.15 Selubung Tirus

Gambar 3.16 Lubang Poros 3.2 Langkah Kerja 3.2.1 Pemeriksaan Poros pada Bidang Acuan Secara Vertikal dan Horizontal Adapun langkah langkah pemeriksaannya yaitu : a) Periksa permukaan plat landasan dari kerusakan / cacat terutama pada daerah sekitar lubang baut M8. b) Gunakan batu gosok untuk meratakan permukaan. c) Pasangkan plat L pada posisinya, ikat dengan menggunakan 4 buah baut inbus M8 dan cincin flat. d) Pasangkan plat tegak pada posisinya. Posisi plat tegak diarahkan oleh dua buah selonsong ( bush ) silindrik 16 mm pada setiap lubang bautnya. Lalu kencangkan pengikatan baut inbus M10, secukupnya.

Gambar 3.17 pemasangan plat L dan poros e) Pasang poros 1 pada plat L ( pengikatan ulir M30 x 3,5 ) kencangkan secukupnya dengan menggunakan batang pengencang 6 mm. f) Periksa kesejajaran sumbu poros terhadap permukaan plat landasan, gunakan dial indicator yang diikat pada magnetic stand dan melekat pada blok paralel ( parallel pad ).

Gambar 3.18 pengukuran kesejajaran poros g) Atur kesejajaran dengan cara menyisipkan Shim diantara ikatan plat L dengan landasan ( pemeriksaan dilakukan dengan penguncian penuh baut inbus M8, dan gerakkan dial indicator sepanjang bagian silindris. ( vertikal ) h) Periksa kesejajaran sumbu poros terhadap permukaan dinding tegak dengan menggunakan dial indicator. i) Atur kesejajaran dengan cara mengendorkan 4 ikatan plat L terhadap plat landasan, atur posisi plat L dengan menggunakan palu plastik, kemudian kencangkan kembali ikatan plat L terhadap plat landasan. ( horizontal ). j) Lakukan pengukuran bidang Vertikal dan Horizontal dengan alat dial indicator 3.2.2 Pemasangan Bearing dengan Menggunakan Alat Pemanas (Heater) 3.2.2.1 Proses Pemasangan Lakukan proses perakitan di atas meja kerja yang telah dibersihkan, sediakan benda-benda yang akan di gunakan lalu ikuti langkah-langkah sebagai berikut : 1. Pasangkan poros untuk dudukan bantalan pada plat L 2. Periksa permukaan poros bantalan, pastikan bahwa tidak ada kerusakan atau cacat, bersihkan permukaan yang tajam dengan menggunakan batu gosok 3. Pasang bantalan gelinding pada mesin pemanas bearing dengan suhu 83 C dengan waktu 35 sekon

Gambar 3.19 bering dipanaskan diatas furnes 4. Panaskan inner ring hingga mencapai suhu 83 C dalam waktu 35 sekon 5. Setelah panas bearing mencapai 83 C, pasang bearing tersebut ke poros yang sudah terpasang pada plat L.

Gambar 3.20 pemasangan bearing pada poros 6. Supaya Bearingnya tidak mengalami geseran, pasangkan ring pengikat (cincin penahan luar) bearing. 7. Setelah bearing tersebut dingin, ambil filler gauge untuk mengukur kerenggangan ball bearing dengan outer ring, dan catat hasilnya.

8. Tunjukkan hasil praktikum tersebut kepada instruktur.

3.2.2.2 Proses Pelepasan Dalam proses pembongkaran,penarikan bearing harus dilakukan dengan cara yang sangat hatihati, yaitu penarikan bearing dari poros harus di tarik secara serentak (tidak miring) permukaannya, hal ini dikarenakan supaya bearing tidak tersangkut atau rusak.Adapun cara pembongkaran bearing (Bantalan) dari porosnya adalah sebagai berikut : 1. Lakukan dengan prosedur kebalikan dari langkah pemasangannya 2. Bukakan ring pengikat (cincin penahan luar) bearing dengan menggunakan tang cincin penahan. 3. Gunakan treaker untuk menarik bearing dari porosnya (tanpa melepaskan poros dari plat L)

Gambar 3.21 pemasangan treker pada bearing 4. Perlu diingat, ketika melakukan pelepasan bearing yang porosnya berada di bagian dalam bearing dengan menggunakan penarik (treaker), beban yang paling besar berada pada inner ring. Dan ketika melakukan pelepasan bearing yang porosnya berada di bagian luar bearing dengan menggunakan penarik (treaker), beban yang paling besar berada pada outer ring. 5. Setelah itu lepaskan poros dari plat L 6. Kemudian lepaskan ikatan plat tegak dengan cara melepaskan dua ikatan baut M10. 7. Setelah semuanya dilepaskan, maka bersihkan bearing dan semua peralatan praktikumnya. Dan kemudian simpan bearing dan peralatannya pada tempat yang sudah di sediakan. 3.2.3 Pemasangan Bearing Secara Paksa dengan Menggunakan SST Bearing 3.2.3.1 Proses Pemasangan Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam proses perakitan adalah sebagai berikut : 1. Pasangkan model rumah bantalan pada plat L, kecangkan secukupnya dengan menggunakan batang pengencang 6 mm. 2. Periksa permukaan poros kedudukan bantalan, pastikan tidak ada kerusakan atau cacat. Hilangkan sisi tajam dengan menggunakan batu gosok. 3. Lumasi tipis silinder kedudukan bantalan dengan oli encer yang bersih. 4. Pasangkan bantalan gelinding perlahan kedalam silinder kedudukan bantalan dengan menggunakan tangan hingga menyentuh ujung silinder kedudukan bantalan. 5. Pasangkan cincin penahan dengan menggunakan tang circlip pada alur cincin. 3.2.3.2 Proses Pelepasan Adapun langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam proses pembongkaran adalah sebagai berikut :

a. Lakukan pembongkaran dengan prosedur kebalikan dari langkah perakitan, dimulai dengan melepas cincin pengikat dalam menggunakan tang circlip. b. Keluarkan bantalan dari dalam rumah, lumasi dan simpan kembali pada tempatnya. c. Lepaskan model rumah bantalan dari plat L, lumasi dan simpan kembali pada tempatnya. 3.2.4 Pemasangan Bantalan Gelinding dengan Selubung Tirus pada Poros 3.2.4.1 Proses pemasangan Adapun langkah langkah dari proses pemasangan adalah : a. Pasang poros pada plat Ldan kencangkan secukupnya b. Siapkan selubung tirus, bantalan, mur pengunci dan kunci kait, c. Bantalan harus sama dengan mendekati selubung tirus, d. Yakinkan selubung tirus dalam keadaan bersih, lalu pasangkan dan posisikan pada poros dengan bagian diameter luar terbesar dari selubung masuk, e. Pasangkan dan posisikan bantalan pada selubung tirus f. Pasang cincin pengunci, tepatkan posisi telinga dalam cincin pengunci pada alur belah selubung tirus, g. Pasangkan mur pengunci, kencangkan perhalan menggunakan dua kunci kait, h. Jangan lupa jarak posisi bantalan dengan plat L adalah 52 mm 3.2.4.2 Proses Pembongkaran Adapun proses pembongkaran adalah sebagai berikut : a. Kendorkan dan lepaskan ikatan mur penggunci, gunakan kunci pengkait, b. Lepaskan cincin pengunci, c. Keluarkan bantalan dari selubung tirus dengan menggunakan penarik bantakan, d. Dan bersihkan semuanya terus ditempatkan kembali pada posisi semula.

3.2.5 Pemasangan Bantalan Gelinding pada Lubang 3.2.5.1 Proses Pemasangan Adapun proses pemasangan adalah sebagai berikut : a. Pasangkan model rumah poros berlubang pada plat L, b. Lalu ambil bantalan yang muat masuk kedalam lubang, c. Pada saat memasukkan bantalan kedalam lubang, yang diperhatikan adalah bantalan tidak boleh miring. Jika miring maka bantalan tidak akan masuk secara mulus, d. Apabila tidak masuk secara mulus, maka gunakan cara pengetokan dengan menggunakan palu plastik secar pelan pelan. 3.2.5.2 Proses Pembongkaran Adapun proses pembongkaran disini tidak menggunakan alat, hanya menggunakan tehnik saja, yaitu dengan menggunakan tangan : a. Bantalan yang telah ada di dalam lubang maka kita keluarkan dengan menggunakan tangan dengan cara menyeimbangkan bantalan dengan lubang poros b. Jika telah seimbang dan tidak memiliki kemiringan maka tariklah secara cepat agar bantalan keluar lebih cepat. c. Jangan lupa gunakan oli jika pada saat pembongkaran susah keluar.

BAB IV ANALISA DATA

4.1 Data Hasil Praktikum 4.1.1 Pemeriksaan Poros pada Bidang Acuan Secara Vertikal dan Horizontal

Gambar 4.1 Pemeriksaan Penyimpangan Secara Vertikal

Gambar 4.2 Pemeriksaan Penyimpangan Secara Horizontal Tabel 4.1 Data Hasil Pengukuran dan Penyimpangan pada Poros No Titik Nilai Vertikal

(7 mm) Nilai Horizontal (4 mm) 1 Ke 1 -0,20 0,12 2 Ke 2 -0.15 0,22 3 Ke 3 -0,15 0.42 4 Ke 4 -0.10 0.50 5 Ke 5 -0.5 0.63 6 Ke 6 -0,3 0,74 7 Ke 7 -0,2 0,88 8 Ke 8 -0,3 1,4 9 Ke 9 -0,11 1,15 10 Ke 10 -0,3 1,28 11 Ke 11 -0,3 1,40 12 Ke 12 1,54 13 Ke 13 1,65 14 Ke 14 1,82 15 Ke 15 1,95 16 Ke 16 2,7 17 Ke 17 2,20 18 Ke 18 2,30 19 Ke 19 2,42 20 Ke 20 2,55 Jumlah Rata Rata 2,91 27,87 Tabel 4.2 Data Pemasangan Bearing dengan menggunakan Heater No Waktu (s) Suhu (C) 1 40 90 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari hasil Praktikum di ruang Perawatan Dasar tentang Bearing dapat di ambil kesimpulan yaitu: a. Pada saat pemasangan ataupun pelepasan pada bearing, bahwasanya sangatlah hati hati. Jika salah pada saat pemasukan atau dikeluarkannya bearing dari poros, maka akan terjadi kerusakan pada bearing itu sendiri. b. Kode yang terdapat pada permukaan bearing harus di pasang ke depan, karena nantinya memeudahkan pada saat melakukan pergantian. c. Pada saat menggunakan heater, sebaiknya jangan ditambahkan suhu pada saat melakukan pemanasan selanjutnya, karena dapat mengubah bentuk bearing. d. Dengan melakukan pemeriksaan poros pada acuan vertical maupun horizontal, kita dapat mengetahui keadaan poros yang sebenarnya. e. Pada pemasangan bearing pada poros dengan metode paksa, karena poros memilki suaian sesak. 5.2 Saran a. Teori yang diberikan sudah begitu membantu dalam proses praktek,

b. Alat alat yang digunakan mestinya masih bagus, seperti dial indicator yang sudah kurang baik dan juga heater, c. Semoga praktek kedepannya dapat dilakukan pada mobil praktek, agar dapat mengenal langsung penggunaanya, d. Alat yang sudah digunakan seperti sebaiknya dibersihkan dengan menggunakan bensin, agar alat tersebut tidak cepat rusak. e. Utamakan keselamatan kerja.