Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM TATA LETAK DAN PENANGANAN BAHAN TPI 2502 ACARA 4 & 5 PERENCANAAN ALIRAN BAHAN &

PENENTUAN KEBUTUHAN RUANG DAN LUAS LANTAI

Kelompok F 3: 1. Lelia Sari 2. Riyant Hidayat 3. Wenandia Nurfala Y. 4. Rini Ambarwati (9367) (9401) (9403) (9593)

Co-Assistan: Widha Septi Dwi Utami

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

ACARA 4 & 5 PERENCANAAN ALIRAN BAHAN & PENENTUAN KEBUTUHAN RUANG DAN LUAS LANTAI A. TUJUAN Praktikum Perencanaan Aliran Bahan & Penentuan Kebutuhan Ruang dan Luas Lantai memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Praktikan dapat menentukan tipe aliran bahan dan tipe tata letak dalam industri 2. Praktikan dapat menentukan jenis dan jumlah ruang yang dibutuhkan setiap kegiatan dalam industri 3. Praktikan dapat menentukan luas lantai setiap kegiatan B. DASAR TEORI 1. PERENCANAAN ALIRAN BAHAN Keputusan mengenai layout mencakup penempatan yang terbaik dari mesin-mesin (di pabrik produksi), kantor dan meja-meja (dalam kantor) atau pusat pelayanan (dalam kelompok jasa, seperti rumah sakit atau department store). Layout yang efektif mendukung arus bahan baku, manusia dan informasi dalam dan diantara wilayah. Tujuan manajemen adalah untuk mengatur sistem layout sedemikian rupa sehingga mampu beroperasi dengan efektivitas yang tinggi. Ada enam tipe tata letak (layout) yang dikenal luas atau secara umum, yaitu (Wignjosoebroto, 2000): 1. Tata letak dengan posisi tetap, memenuhi persyaratan tata letak untuk proyek yang besar dan memakan tempat, seperti proses pembuatan kapal laut dan gedung. 2. Tata letak yang berorientasi pada proses, berhubungan dengan produksi dengan volume rendah dan bervariasi tinggi (juga disebut sebagai job shop atau produksi terputus).

3. Tata letak perkantoran, menempatkan para pekerja, peralatan mereka dan ruangan/kantor yang melancarkan aliran informasi. 4. Tata letak ritel, menempatkan rak-rak dan memberikan tanggapan atas perilaku pelanggan. 5. Tata letak gudang, melihat kelebihan dan kekurangan antara ruangan dan sistem penanganan bahan. 6. Tata letak yang berorientasi produk, mencari utilisasi karyawan dan mesin yang paling baik dalam produksi yang kontinyu atau berulang. Dalam perencanaan tata letak pabrik dalam hal ini lazim kita sebut pula sebagai tata letak mesin (machine layout) maka harus pula dipikirkan mengenai sistem pemindahan bahan (material handling). Proses

pemindahan bahan merupakan satu hal yang penting karena aktivitas ini akan menentukan hubungan atau keterkaitan antara satu fasilitas dengan fasilitas produksi yang lain atau satu departemen dengan departemen yang lain. Sebagai contoh permasalahan-permasalahan berikut ini baik langsung maupun tidak langsung ditimbulkan oleh kebijaksanaan yang berkaitan dengan sistem pemindahan bahan akan mempengaruhi layout yang ada (Francis, 1974): 1. Kebijaksanaan sentralisasi atau desentralisasi dari gudang barang setengah jadi (work in process storage), perkakas atau komponenkomponen perakitan lainnya. 2. Keputusan untuk menggunakan lintasan tetap (fixed path) atau lintasan variable (variable path) dalam menangani pemindahan bahan. 3. Besarnya beban (unit load) yang harus dipindahkan dalam sistem produksi yang berlangsung. 4. Derajat ataupun tingkatan teknologi yang dipakai dalam proses pemindahan. 5. Tingkatkan pengendalian persediaan bahan yang ada di gudang. Langkah berikutnya setelah spesifikasi jumlah maupun luas area mesin yang diperlukan selesai ditentukan adalah menetapkan prosedur atau

metode pengaturan tata letak dari fasilitas-fasilitas produksi tersebut. Disini ada empat macam/tipe tata letak yang secara klasik umum diaplikasikan dalam desain layout, yaitu (Bowersox, 1978): 1. Tata letak fasilitas berdasarkan aliran produksi (production line product atau product layout) 2. Tata letak fasilitas berdasarkan lokasi material tetap (fixed material location layout atau fixed position layout) 3. Tata letak fasilitas berdasarkan kelompok produk (product family, product layout atau group technology layout) 4. Tata letak fasilitas berdasarkan fungsi atau macam proses (functional atau process layout) Keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh untuk pengaturan berdasarkan aliran produksi ini dapat dinyatakan sebagai berikut (Anonim 1, 2011): 1. Aliran pemindahan material berlangsung lancar, sederhana, logis dan biaya material handling rendah karena disini aktivitas pemindahan bahan menurut jarak yang terpendek. 2. Total waktu yang dipergunakan untuk produksi relatif singkat. 3. Work in process jarang terjadi karena lintasan produksi sudah diseimbangkan. 4. Adanya insentif bagi kelompok karyawan akan dapat memberikan motivasi guna meningkatkan produktivitas kerjanya. 5. Tiap unit produksi atau stasiun kerja memerlukan luas area yang minimal. 6. Pengendalian proses produksi mudah dilaksanakan. Secara garis besar tujuan utama dari tata letak pabrik ialah mengatur area kerja dan segala fasilitas produksi yang paling ekonomis untuk beroperasi produksi aman dan nyaman sehingga akan dapat menaikkan moral kerja dan performance dari operator. Lebih spesifik lagi tata letak

yang baik akan dapat memberikan keuntungan-keuntungan dalam sistem produksi, yaitu antara lain sebagai berikut (Apple, 1977): 1. Menaikkan output produksi 2. Mengurangi waktu tunggu (delay) 3. Mengurangi proses pemindahan bahan (material handling) 4. Penghematan penggunaan area untuk produksi, gudang dan service 5. Pendaya guna yang lebih besar dari pemakaian mesin, tenaga kerja dan fasilitas produksi lainnya 6. Mengurangi inventory in process 7. Proses manufacturing yang lebih singkat 8. Mengurangi resiko bagi kesehatan dan keselamatan kerja dari operator 2. PENENTUAN KEBUTUHAN RUANG DAN LUAS LANTAI Penentuan luas area merupakan suatu fase yang sangat penting dalam tata letak pabrik. Untuk penentuan luas area ini, informasi dari departemen perencanaan dan pengendalian produksi sangatlah diharapkan terutama informasi mengenai purchase lot size, economic product lot size, order periods dan pemakaian rata-rata dari material tersebut per periode. Luas lantai produksi digunakan untuk mengetahui luas lahan yang akan digunakan dalam perencanaan tata letak fasilitas pabrik dan perusahaan yang akan didirikan. Perhitungan luas lantai ini dimulai dari luas kebutuhan lahan produksi sampai perkantoran dengan memperhatikan segala fasilitas pendukungnya. Kegunaan luas lantai adalah untuk menghitung kebutuhan OMH antar departemen sesuai dengan luas lantai hasil perhitungan (Purwanto, 1990). Dalam melakukan perencanaan tata letak fasilitas pabrik dan pemindahan bahan, dibutuhkan beberapa kebutuhan luas lantai untuk kegiatan produksi pabrik yang akan didirikan serta fasilitas-fasilitas pendukung lainnya. Dengan demikian perlu dihitung berapa luas lahan yang disiapkan terutama untuk kegiatan produksi. Perhitungan luas lantai ini

didasarkan pada bahan baku yang akan disiapkan, mesin atau peralatan yang digunakan dan barang jadi yang dihasilkan (Wignjosoebroto, 1996). Ruangan yang dibutuhkan untuk fasilitas memiliki kaitan erat dengan peralatan, bahan, pegawai dan kegiatan. Terdapat beberapa faktor sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan ruangan (Apple, 1990): a. Umum, seperti kegiatan yang menghuni ruang terbanyak, ramalan penjualan, jumlah produksi, rencana jangka panjang, kecenderungan ekonomi dan lain-lain. b. Produksi, seperti ukuran produk, sifat dan ukuran bahan, jumlah metode kerja, efisiensi produksi, jumlah dan ukuran mesin, kebutuhan penyimpanan dan lain-lain. c. Bangunan (baik baru ataupun lama), seperti kapasitas beban lantai, gang, ukuran, utilitas, kondisi dan lain-lain. d. Biaya, seperti ketersediaan dana, suku bunga dan kecenderungan ekonomi. Penentuan kebutuhan luasan lantai digunakan untuk melakukan optimalisasi penggunaan luasan lantai. Metode yang sering digunakan dalam penentuan luasan lantai tersebut adalah (Purwanto, 1990): a. Production Center Method, perhitungan berdasarkan pusat produksi yang terdiri dari satu buah mesin ditambah seluruh peralatan yang diperlukan serta area untuk operator. Kelonggaran dalam perhitungan bertujuan untuk menempatkan bahan baku, pekerja serta perkakas pembantu. b. Convention Method adalah metode penentuan luasan lantai pada aktivitas kantor dan gang berdasarkan logika, educated guess serta alasan-alasan tertentu. c. Rough Lay Out merupakan penentuan luasan lantai dengan menggunakan model equipment template. Luas lantai pabrik harus memuat semua ruangan yang diperlukan oleh setiap kegiatan atau fungsi pabrik. Dalam menghitung luas lantai pabrik, terlebih dahulu ditentukan jumlah dan luas masing-masing ruangan yang diperlukan, informasi mengenai jumlah mesin atau peralatan, tenaga

kerja dan tugas-tugasnya dikumpulkan untuk menghitung luas ruangan total. Data-data tersebut seperti (Barnes, 1980): a. Luas lantai gudang (gudang bahan baku, bahan pembantu dan produk jadi). Luas lantai gudang dihitung berdasarkan jumlah bahan yang disimpan dalam gudang selama waktu penyimpanan tertentu. Data yang diperlukan seperti dimensi masing-masing barang yang disimpan (panjang, lebar, tinggi barang atau kemasan), jumlah, tinggi maksimum tumpukan dan kebutuhan akan rak/lemari penyimpanan. b. Luas lantai bagian processing produksi, meliputi luas lantai untuk mesin, operator, gang dan penumpukan barang setengah jadi. c. Luas lantai bagian maintenance, meliputi area untuk perbaikan mesin. d. Luas lantai perkantoran dan pelayanan personil kantor, berupa ruang kerja yang meliputi area untuk meja, kursi, lemari/rak, ruang rapat, ruang tamu, kamar mandi pria serta wanita dan lain-lain. e. Luas lantai pelayanan produksi, seperti menara air, pengolahan air, ketel uap, genset dan lain-lain. f. Luas lantai pelayanan personil pabrik, seperti mushola, kantin dan dapur, P3K, ruang ganti dan lain-lain. Gudang atau storage pada umumnya akan memiliki fungsi yang cukup penting di dalam menjaga kelancaran operasi produksi suatu pabrik. Ada tiga tujuan utama dari departemen ini yang berkaitan dengan pengadaan barang, yaitu sebagai berikut (Wignjosoebroto, 1996): a. Pengawasan, dengan sistem administrasi yang terjaga dengan baik untuk mengontrol keluar masuknya material. Tugas ini juga menyangkut keamanan dari material (jangan sampai hilang). b. Pemilihan, yaitu aktivitas pemeliharaan atau perawatan agar material yang disimpan di dalam gudang tidak cepat rusak dalam penyimpanan. c. Penimbunan atau penyimpanan, yaitu agar ketika sewaktu-waktu diperlukan material yang dibutuhkan akan tetap tersedia sebelum dan selama proses produksi berlangsung.

Selain untuk penyimpanan bahan baku dan produk jadi, gudang terkadang digunakan untuk menyimpan barang setengah jadi. Untuk penyimpanan barang setengah jadi, yaitu barang yang sedang menunggu proses selanjutnya, sejumlah faktor yang agak berbeda dari keadaan penyimpanan biasa harus dipertimbangkan. Faktor-faktor tersebut antara lain (Apple, 1972): a. Penyeimbang jalur b. Volume produksi c. Kebutuhan ruangan d. Ketersediaan ruangan e. Metode penyimpanan dan peralatan Fasilitas parkir adalah salah satu fasilitas pendukung dalam suatu industri. Penyediaan ruang parkir yang cukup menjadi masalah yang semakin besar bagi pabrik. Masalah ini makin rawan pada tahun-tahun belakangan ini sehubungan dengan kecenderungan penempatan pabrik dan tempat tinggal di pinggiran kota serta kebutuhan dorongan untuk bekerja. Telah disarankan agar ruang parkir disediakan untuk pegawai. Hal ini akan beragam terhadap lokasi pabrik dan ketersediaan transportasi umum (Bethel, 1952). Tata letak fasilitas pabrik yang tidak memperhatikan aliran proses produksi dan penempatan mesin-mesin produksi akan menyebabkan biaya material handling menjadi besar dan hal ini akan berpengaruh signifikan terhadap besarnya biaya produksi. Untuk memperbaiki tata letak fasilitas agar ongkos material handling dapat direduksi maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut, diantaranya adalah mengidentifikasi urutan proses produksi dengan menggunakan peta proses operasi, peta aliran proses dan diagram aliran kemudian menghitung luas lantai pabrik, menghitung jarak antar mesin atau fasilitas produksi dan kemudian menghitung ongkos material handling (Anonim 2, 2011). lintas atau f. Ukuran beban g. Karakteristik bahan h. Waktu penyimpanan lokasi potensial i. Tinggi bersih j. Laju produksi dan lain-lain

Untuk menghitung kebutuhan luas lantai receiving model tumpukan dan rak, luas lantai fabrikasi dan assembling serta luas lantai shipping melibatkan masalah yang berkaitan dengan kegiatan lainnya yang akan mempengaruhi terhadap luas lantai, yaitu alat angkut, cara pengangkutan, cara penyimpanan dan aliran bahan. Seluruhnya harus diperhitungkan dalam penentuan luas lantai dengan menambah allowance. Dengan demikian perlu dihitung berapa luas lahan yang disiapkan terutama untuk kegiatan bagian produksi, yang didasarkan pada (Anonim 3, 2011): 1. Bahan baku yang disiapkan 2. Mesin atau peralatan yang digunakan 3. Barang jadi yang dihasilkan C. HASIL 1. Tabel Kebutuhan Ruang dan Luas Lantai Produksi (terlampir) 2. Tabel Kebutuhan Ruang dan Luas Lantai Fasilitas (terlampir) 3. Tabel Kebutuhan Ruang dan Luas Lantai Gudang (terlampir) D. PEMBAHASAN Praktikum acara 4 berjudul Perencanaan Aliran Bahan. Praktikum ini memiliki tujuan agar praktikan dapat menentukan tipe aliran bahan dan tipe tata letak dalam indudtri. Praktikum acara 5 berjudul Penentuan Kebutuhan Ruang dan Luas Lantai. Praktikum ini memiliki dua tujuan. Tujuan pertama agar praktikan dapat menentukan jenis dan jumlah ruang yang dibutuhkan setiap kegiatan dalam industri. Tujuan kedua agar praktikan dapat menentukan luas lantai setiap kegiatan. Tipe tata letak secara umum dapat dibagi menjadi empat jenis. Jenisjenis tipe tata letak tersebut antara lain: 1. Tata Letak Proses (Process Layout) Tata letak berdasarkan proses sering dikenal dengan functional layout merupakan metode pengaturan dan penempatan stasiun kerja berdasarkan kesamaan tipe atau fungsinya. Mesin-mesin yang digunakan tata letak proses berfungsi umum (general purpose). Tata letak proses umumnya digunakan untuk industri manufaktur yang bekerja dengan volume produksi yang relatif kecil dan jenis produk yang tidak standar. Kelebihan dari penggunaan tata letak proses yaitu:

a. Total investasi mesin rendah karena tipe general purpose b. Fleksibilitas produksi tinggi karena dapat mengerjakan berbagai tipe produk c. Jika ada satu mesin rusak tidak mengganggu aliran produksi d. Setiap mesin dapat digunakan secara efisien sehingga jumlah mesin relatif lebih sedikit e. Pekerjaan yang berbeda-beda memberikan rasa kepuasan yang

merupakan daya tarik tersendiri bagi pekerja Selain memiliki kelebihan, tipe tata letak ini juga memiliki kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain: a. Karena garis produk lebih panjang, biaya pemindahan bahan menjadi lebih mahal b. Total waktu produksi lebih lama c. Waktu operasi satu dengan yang lain tidak seimbang menyebabkan banyak work in process sehingga inventori dan area yang harus disediakan dalam proses cukup besar d. Skill pekerja harus tinggi e. Perencanaan dan pengendalian produksi jauh lebih kompleks 2. Tata Letak Produk (Product Layout) Tata letak berdasarkan produk sering dikenal dengan product layout atau production line layout merupakan metode pengaturan dan penempatan stasiun kerja berdasarkan urutan operasi dari sebuah produk. Sistem ini dirancang untuk memproduksi produk-produk dengan variasi yang rendah dan volume yang tinggi (mass production). Untuk itu dibutuhkan suatu sistem yang dapat memberikan produktivitas tinggi dengan ongkos yang rendah. Kelebihan dari tipe tata letak ini adalah: a. Layout berdasar urutan proses menyebabkan aliran produksi lancar dan logis sehingga jarak pemindahan bahan menjadi pendek yang mengakibatikan biaya pemindahan bahan rendah. b. Waktu produksi total menjadi lebih singkat c. Output satu proses langsung digunakan sebagai input proses berikutnya sehingga work in proces jarang. d. Biyaya operator relatif rendah karena skill pekerja tidak terlalu tinggi

e. Luas area tiap stasiun kerja minimal karena tidak ada penyimpanan bahan dalam proses f. Perencanaan dan pengendalian produksi mudah Selain itu, terdapat juga kekurangan dalam tipe tata letak ini. Kekurangan tersebut antara lain: a. Kerusakan satu mesin menyebabkan seluruh aliran produksi berhenti b. Tidak dimungkinkan adanya perubahan desain produk c. Laju produksi ditentukan oleh proses mesin yang paling lambat d. Investasi mesin tinggi karena special purpose machine 3. Tata Letak Posisi Tetap (Fix Potition Layout) Tata letak posisi tetap sering dikenal dengan fixed material location atau fixed position layout adalah metode pengaturan dan penempatan satsiun kerja dimana material atau komponen utama akan tetap pada

posisi/lokasinya sedangkan fasilitas produksi seperti tools, mesin, manusia serta komponen lainnya bergerak menuju lokasi komponen utama tersebut. Kelebihan dari tata letak posisi tetap yaitu: a. Karena yang banyak bergerak adalah fasilitas produksi maka

perpindahan material bisa dikurangi b. Bila pendekatan kelompok kerja digunakan dalam kegiatan produksi maka kontinyuitas operasi dan tanggung jawab kerja bisa tercapai dengan sebaik-baiknya c. Kesempatan untuk melakukan pengayaan kerja (job enrichment) dengan mudah bisa diberikan. Selain itu, juga dapat meningkatkan kebanggaan dan kualitas kerja karena dimungkinkan untuk menyelesaikan pekerjaan secara penuh (do the whole job). d. Fleksibilitas kerja tinggi Kekurangan tata letak posisi tetap yaitu: a. Besarnya frekuensi perpindahan fasilitas produksi, operator dan komponen pendukung pada saat operasi kerja berlangsung

b. Memerlukan operator dengan skill yang tinggi disamping aktivitas supervisi yang lebih umum dan intensif c. Adanya duplikasi peralatan kerja yang menyebabkan dibutuhkannya lokasi untuk work in process d. Memerlukan pengawasan dan koordinasi kerja yang ketat khususnya dalam penjadwalan produksi 4. Tata Letak Teknologi Kelompok (Group Technology Layout) Tata letak teknologi kelompok (group technology layout) sebagai teknik untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan bersama komponenkomponen yang sama atau berhubungan dalam proses produksi untuk mengoptimalkan aliran produksi. Dalam konsep manufaktur, teknologi kelompok didefinisikan sebagai suatu filosofi manajemen yang melakukan pengidentifikasian dan pengelompokkan part berdasarkan kemiripan dalam perancangan dan proses manufaktur. Teknologi kelompok dimaksudkan untuk memperoleh efisiensi yang tinggi pada tata letak produk dan fleksibilitas yang tinggi pada tata letak proses. Beberapa kelebihan dari tata letak teknologi kelompok dibandingkan dengan tata letak yang lain adalah sebagai berikut: a. Pengurangan waktu set up b. Pengurangan ukuran lot c. Pengurangan work in process dan persediaan barang jadi d. Pengurangan waktu dan ongkos material handling e. Perbaikan kualitas produk Kekurangan tipe tata letak ini adalah: a. Pengidentifikasian part family b. Pengidentifikasian machine cell c. Pengalokasian part family atau machine cell Pada tipe tata letak tertentu seperti process layout, ada pembuatan peta Dari-Ke (From-To chart). Peta ini dapat memudahkan kita mengetahui aliran bahan dan seberapa besar langkah balik yang terjadi pada bahan dala

pembuatan industri. Pada praktiku ini kita tidak membuat peta dari-ke karena industri Egg Roll Ubi Ungu memiliki tata letak produk (product layout), namun kita akan tetap membahas From-To chart ini. Menurut Wignjosoebroto (1995), analisa aliran material dengan aplikasi dalam bentuk Peta Dari Ke- (from to chart) cenderung untuk mencari hubungan aktivitas pemindahan material secara kualitatif. Secara umum analisa aliran material dengan menggunakan from to chart akan sangat baik diaplikasikan pada perancangan layout berdasarkan aliran proses (process layout). Untuk product layout, dalam hal ini lebih tepat menggunakan flow process chart. Penggunaan from to chart tidak akan ada manfaatnya karena di sini mesin-mesin sudah diatur berdasarkan urutan proses produsi (jarak sependek-pendeknya) dan tidak akan dijumpai adanya back tracking. Peta Dari Ke- adalah salah satu teknik yang paling baru yang digunakan dalam pekerjaan tataletak dan pemindahan bahan. Biasanya sangat berguna jika barang yang mengalir pada suatu wilayah berjumlah banyak, seperti misalnya di bengkel, bengkel mesin umum, kantor atau fasilitas lainnya. Juga berguna jika keterkaitan terjadi antara beberapa kegiatan dan jika diinginkan adanya penyusunan kegiatan optimum. Berikut ini merupakan beberapa kegunaan dan keuntungan penggunaan peta Dari Ke- (Apple, 1990): 1) Menganalisis perpindahan bahan 2) Perencanaan pola aliran 3) Penentuan lokasi kegiatan 4) Pembandingan pola aliran atau tataletak pengganti 5) Menunjukkan hubungan kuantitatif antara kegiatan dan perpindahannya 6) Menunjukkan keterkaitan lintas produksi 7) Perencanaan keterkaitan antara beberapa produk, komponen, barang, bahan, dsb.

Pembuatan peta dari ke tidak sembarangan untuk semua jeis tata letak, tetapi hanya untuk procces layout (tata letak proses). Tata letak proses memiliki cirri-ciri sebagai berikut. 1. Mesin dengan fungsi kerja yang sama diletakkan departemen. 2. Penempatan mesin berdasarkan kesamaan fungsi mesin. 3. Produk terdiri dari berbagai macam tipe produk. 4. Line balancing sulit diperoleh. 5. Perlu banyak pengawasan. 6. Mesin yang digunakan bertipe general purpose. Pembuatan peta Dari-Ke ini berhubungan dengan industri yang bertata-letak process layout . sedangkan keuntungan dan kekurangan dari tata letak ini telah dibahas pada point-point di atas. Industri yang kami jadikan objek pengamatan adalah Industri Egg Roll Ubi Ungu. Tipe tata letak pada industri tersebut adalah product layout. Product layout merupakan metode pengaturan atau penempatan fasilitas produksi (mesin) yang disusun menurut urutan proses suatu produk. Ciriciri dari tipe tata letak product layout adalah volume produksi yang tinggi, variasi produk yang dihasilkan tidak banyak dan proses produksi terjadi atau dilakukan secara kontinyu. Kelompok kami memilih tipe tata letak product layout untuk industri tersebut karena industri tersebut hanya memproduksi satu jenis produk, yaitu egg roll ubi ungu. Selain itu, produksi dilakukan dalam jumlah besar dan secara kontinyu. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri yang ada pada tipe tata letak product layout. Untuk tipe aliran bahan, industri tersebut membentuk pola aliaran L. Pada praktikum kali ini kami juga membahas kelonggaran. Kelonggaran merupakan ruang sisa yang dimanfaatkan untuk menjaga atau meminimalisir kecelakaan kerja. Fungsi kelonggaran adalah sebagai pembatas antara stasiun kerja dengan proses aliran bahan sehingga menciptakan kondisi-kondisi kerja yang akan menjamin manusia dan mesin agar dapat berfungsi pada kapasitas maksimalnya. Kelonggaran ini berkaitan dengan fungsi perhitungan yang digunakan untuk mencari dalam satu

kelonggaran stasiun kerja. Fungsi Perhitungan luas lantai sendiri itu antara lain : 1. Untuk menciptakan area yang nyaman dalam berkerja 2. Meminimalisir kecelakaan dalam berkerja 3. Untuk menentukan kelonggaran sehingga bisa mngetahui luas area yang diperlukan.

Luas lantai pabrik harus memuat semua ruangan yang diperlukan oleh setiap kegiatan atau fungsi pabrik. Dalam menghitung luas lantai pabrik, terlebih dahulu ditentukan jumlah dan luas masing-masing ruangan yang diperlukan, informasi mengenai jumlah mesin/peralatan, tenaga kerja dan tugas-tugasnya dikumpulkan untuk menghitung luas ruangan total. Data-data tersebut seperti: a. Luas lantai gudang (gudang bahan baku, bahan pembantu dan produk jadi). Luas lantai gudang dihitung berdasarkan jumlah bahan yang disimpan dalam gudang selama waktu penyimpanan tertentu. Data yang diperlukan seperti dimensi masing-masing barang yang disimpan (panjang, lebar, tinggi barang atau kemasan), jumlah, tinggi maksimum tumpukan, dan kebutuhan akan rak/lemari penyimpanan. b. Luas lantai bagian processing produksi, meliputi: luas lantai untuk mesin, operator, gang, dan penumpukan barang setengah jadi. c. Luas lantai bagian Maintenance, meliputi: area untuk perbaikan mesin. d. Luas lantai perkantoran dan pelayanan personil kantor, berupa ruang kerja yang meliputi: area untuk meja, kursi, lemari/rak, ruang rapat, ruang tamu, kamar mandi pria serta wanita, dan lain-lain. e. Luas lantai pelayanan produksi seperti: menara air, pengolahan air, ketel uap, genset, dan lain-lain. f. Luas lantai pelayanan personil pabrik seperti: mushola, kantin dan dapur, P3K, ruang ganti, dan lain-lain. Dimensi ruang kerja akan dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu situasi fisik dan situasi kerja yang ada. Di dalam menentukan dimensi ruang kerja perlu diperhatikan antara lain jarak jangkau yang bisa dilakukan oleh

operator, batasan-batasan ruang yang enak dan cukup memberikan keleluasaan gerak operator, dan kebutuhan area minimum yang harus dipenuhi untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Luas Lantai produksi dihitung berdasarkan: 1. Kebutuhan ruang a. b. Area untuk oparasi dari mesin / peralatan produksi yang ada Area untuk penyimpanan bahan baku atau produk jadi yang telah selesai dikerjakan. c. Area yang diperlukan untuk fasilitas service seperti panel listrik, steam, dll

2. Kelonggaran a. Ruang antara mesin dan operator untuk area kerja operator = panjang maksimum mesin x 1 meter. b. Penyimpanan bahan setengan jadi maksimum 1 meter. c. Mempermudah pemindahan bahan d. Perawatan mesin e. Penyimpanan perkakas f. Area untuk pengawas 3. Pemindahan bahan, gang, perawatan mesin, penempatan kolom allowance 10%. Dari total luas stasiun kerja.

Pada teknis perhitungan luas lantai pertama kali dilakukan pengukuran instrument (peralatan pada semua stasiun kerja. Dalam hal ini ada 7 stasiun kerja yang diamati yakni : Penimbangan, Pencucian, Pengukusan, Pengupasan, Pengadukan, Pencetakan, dan Pengemasan. Setelah emnghitung luas peralatan kemudian selanjutnya adalah mengidentifikasi posisi operator saat melakukan stasiun kerja. Dengan mengacu pada aturan kelonggaran operator kemudian ditentukan luas kelonggaran operator. Setelah itu analisi mengenai bahan setengah jadi yang berada dalam masing-masing stasiun kerja. Selanjutnya hasil pengukuran diimplementasikan dalam sebuah gambar yang dituangkan pada kertas millimeter block. Setelah itu dilakukan perhitungan luas SK, luas kelonggaran operator, luas kelonggaran bahan setengah jadi, luas kelonggaran transport, dan luas total stasiun kerja.

Tabel yang kedua adalah luas lantai gudang, mula-mula ditentukan bahan baku pokok yang diperlukan dalam proses operasi pembuatan Egg Roll Ubi Ungu. Tabel ini terdiri dari 12 kolom. Kolom pertama berisi bahan baku pokok dari proses pembuatan egg roll adalah tepung terigu, ubi ungu, telur, gula pasir, mentega, susu, pewarna, dan ovalet. Selanjutnya untuk kolom kedua diisikan kebutuhan per hari dari masing-masing bahan baku pokok tersebut. Kolom ketiga berisi periode penyimpanan yang menggunakan hitungan hari. Kolom keempat berisi jumlah bahan yang disimpan/periode penyimpanan. Kolom kelima berisi volume atau berat 1 kemasan bahan. Kolom keenam berisi jumlah bahan disimpan dalam periode penyimpanan. Perhitungan untuk kolom keenam ini dilakukan dengan cara membagi kolom keempat dengan kolom kelima. Kolom ketujuh berisi dimensi kemasan bahan. Kemasan yang kami gunakan adalah kardus. Kolom ketujuh ini didapatkan dengan cara pengukuran. Kolom kedelapan berisi jumlah kemasan bahan/tumpukan. Kolom ini dihitung dengan cara membagi tinggi maksimum jika bahan ditumpuk dibagi tinggi kemasan kolom ketujuh. Kolom kesembilan berisi jumlah tumpukan dalam ruang yang dihitung dengan membagi kolom keenam dengan kolom kedelapan. Kolom kesepuluh berisi luas tumpukan yang dihitung dari mengalikan kolom ketujuh dengan kolom kesembilan hasilnya dalam satuan m2. Kolom kesebelas berisi kelonggaran. Untuk menentukan luas gudang diperlukan data yang memuat kelonggaran karena pekerja membutuhkan jangkauan serta ruang ketika melakukan penanganan bahan. Kolom ke dua belas berisi total luas lantai gudang yang dibutuhkan, yaitu luas tumpukan bahan ditambah dengan kelonggaran. Tabel terakhir yaitu luas fasilitas. Fasilitas penunjang dalam industri ini meliputi kamar mandi yang terbagi menjadi dapur, ruang adonan, ruang bahan baku, ruang produksi, ruang penyimpanan bahan jadi, area parkir, ruang pengemasan, dan kamar mandi. Pada tabel ini terdapat 8 kolom. Kolom pertama merupakan nama ruang/fasilitas. Kolom kedua berisikan dimensi ruang berupa panjang ruang. Kolom ketiga berisikan dimensi ruang berupa lebar ruang. Kolom keempat berisikan luas ruang yang didapatkan

dari mengalikan panjang dengan lebar ruang. Kolom kelima berisikan kelonggaran. Kelonggaran dihitung berdasarkan luas ruangan dikurangi dengan luas alat-alat yang ada didalamnya. Kolom keenam berisikan luas ruang dengan mempertimbangkan kelonggaran sehingga kolom ini didapatkan dari luas ruang ditambah dengan kelonggaran. Kolom ketujuh berisikan jumlah ruang yang digunakan. Sedangkan kolom terakhir yaitu kolom kedelapan berisikan luas lantai yang didapatkan dari mengalikan luas dan kelonggaran dengan jumlah ruang. Perhitungan luas lantai bermanfaat untuk menentukan atau menghitung luas lahan yang akan digunakan dalam perencanaan tata letak fasilitas pabrik dan perusahaan yang akan didirikan. Dengan adanya perhitungan luas lantai ini penggunaan ruangan dapat efisien, ekonomis, dan efektif yang dapat menunjang kelancaran dalam proses produksi. Tabel yang dibuat dalam praktikum ini ada 3, pertama adalah tabel luas lantai produksi yang terdiri dari 11 kolom. Ruang produksi yang digunakan dalam industri ini adalah satu ruangan besar yang dibagi-bagi menjadi berbagai stasiun kerja. Namun untuk ruang pengemasan terletak di luar produksi utama berdekatan dengan ruang display. Data yang

digunakan pada kolom 1 untuk nama stasiun kerja diambil dari peta proses operasi, dimulai dari penimbangan bahan baku,pencucian, pengukusan, pengupasan, pengadukan, pencetakan, hingga pengemasan Egg Roll Ubi Ungu.. Kolom kedua berisi nama mesin atau peralatan yang digunakan untuk proses operasi. Kolom ketiga berisi jumlah mesin yang digunakan oleh masing-masing stasiun kerja. Kolom keempat berisi dimensi mesin yang memuat panjang dan lebar mesin dengan satuan meter. Selanjutnya dimensi ini dikalikan sehingga diperoleh luas mesin yang kemudian dimasukkan ke dalam kolom enam. Diperlukan kelonggaran dalam luas lantai, pertama untuk bahan setengah jadi yang dimasukkan ke dalam kolom tujuh. Kedua untuk kelonggaran operator dimasukkan ke dalam kolom delapan, dihitung dengan mengalikan 1 meter dengan panjang mesin

(diperlukan dalam tabel karena operator membutuhkan jangkauan untuk mengoperasikan mesin). Ketiga untuk kelonggaran transport dimasukkan ke dalam kolom sembilan, dihitung dengan cara mengalikan lebar gang dengan panjang stasiun kerja (penting karena operator membutuhkan ruang dalam melakukan transport bahan dari stasiun kerja satu ke stasiun kerja berikutnya). Kolom selanjutnya adalah kolom sepuluh yang berisikan luas satu mesin yang didapatkan dengan menambahkan kebutuhan luas satu mesin, kelonggaran untuk bahan setengah jadi, kelonggaran operator serta kelonggaran untuk transportasi. Kolom terakhir adalah kolom sebelas yaitu total luas satu stasiun kerja yang didapatkan dari mengalikan jumlah mesin dengan luas satu mesin. Stasiun penimbangan dengan mesin timbangan berjumlah satu buah dengan panjang 0,50 m dan lebar 0,3 m sehingga luas mesin adalah 0,15 m2. Kelonggaran bahan setengah jadi 1.3 m 2, operator 1,5 m2, dan transport 0,195 m2. Sehingga diperoleh luas + kelonggaran 2,145 m2. Sedangkan total luas sebenarnya untuk stasiun ini adalah 5,8 m 2 yang berarti lebih besar dibanding total luas perhitungan yang hanya 2,145 m 2 . Hal ini dapat disebabkan pada luas yang sebenarnya pada tempat tersebut tidak hanya digunakan untuk satu macam elemen kerja pada stasiun kerja yang berbeda sehingga tempatnya lebih luas. Stasiun pencucian dengan alat cuci berjumlah satu buah dengan panjang 0,70 m dan lebar 0,50 m sehingga luas mesin adalah 0,35 m 2. Kelonggaran bahan setengah jadi 1,5 m2, operator 1,7 m2, dan transport 0,255 m2. Sehingga diperoleh luas + kelonggaran 2,805 m 2. Sedangkan total luas sebenarnya untuk stasiun ini adalah 4 m 2 yang berarti lebih besar dibanding total luas perhitungan yang hanya 2,805 m 2 . Hal ini dapat disebabkan pada luas yang sebenarnya pada tempat tersebut tidak hanya digunakan untuk pencucian melainkan juga aktivitas lain dengan sumber air yang ada. Stasiun pengukusan dengan kompor kukus berjumlah satu buah dengan panjang 0,30 m dan lebar 0,30 m sehingga luas mesin adalah 0,09

m2. Kelonggaran bahan setengah jadi 1,3 m 2, operator 1,3 m2, dan transport 0,169 m2. Sehingga diperoleh luas + kelonggaran 1,859 m 2. Sedangkan total luas sebenarnya untuk stasiun ini adalah 5,8 m 2 yang berarti lebih besar dibanding total luas. Hal ini dapat disebabkan pada luas yang sebenarnya pada tempat tersebut tidak hanya digunakan untuk mengukus melainkan aktivitas lainnya yang menggunakan dapur sehingga tempatnya lebih luas. Stasiun pengupasan dengan alat berupa baskom berjumlah tiga buah dengan panjang 0,30 m dan lebar 0,30 m sehingga luas mesin adalah 0,27 m2. Kelonggaran bahan setengah jadi 0 m 2, operator 6,4 m2, dan transport 0,195 m2. Sehingga diperoleh luas + kelonggaran 7,337 m 2. Sedangkan total luas sebenarnya untuk stasiun ini adalah 5,8 m2 yang berarti lebih sempit dibanding total luas perhitungan yang hanya 7,337 m 2 . Hal ini dapat disebabkan oleh stasiun pengupasan yang operator pada saat bekerja tidak hanya berada pada satu posisi melainkan dia bisa memutari alat untuk melakukan inspeksi. Stasiun pengadukan dengan mesin mixer berjumlah satu buah dengan panjang 0,44 m dan lebar 0,38 m sehingga luas mesin adalah 0,167 m2. Kelonggaran bahan setengah jadi 1,38m 2, operator 1,44 m2, dan transport 0,199 m2. Sehingga diperoleh luas + kelonggaran dan total luas adalah 2,188 m2. Sedangkan total luas sebenarnya 5,8 m 2 dan hasilnya lebih besar daripada total luas perhitungan yang hanya sebesar 2,188 m 2, hal ini dapat disebabkan karena pada luas yang sebenarnya tidak hanya digunakan sebagai tempat pencampuran namun juga tempat penimbangan, sementara pada luas perhitungan hanya diperhitungkan untuk stasiun pencampuran saja. Stasiun pencetakan dengan alat kompor gas dua sumbu, cetakan berjumlah dua buah, dengan panjang kompor 0,7 m dan lebar 0,37 m sehingga luas mesin adalah 0,259 m2. Kelonggaran bahan setengah jadi 2,74 m2, operator 2,7 m2, dan transport 0,3699 m2. Sehingga diperoleh luas + kelonggaran dan total luas adalah 4,0689 m 2. Sedangkan total luas

sebenarnya 15,921 m2 dan hasilnya lebih besar daripada total luas perhitungan yang hanya sebesar 4,0689 m2, hal ini dapat disebabkan karena pada luas yang sebenarnya tidak hanya ada satu stasiun kerja pencetakan melainkan ada enam stasiun yang sama dengan enam operator yang

berbeda. Namun yang diperhitungkan hanya satu stasiun pencetakan saja. Stasiun pengemasan dengan alat (sealer) berjumlah satu buah dengan panjang 0,40 m dan lebar 0,15 m sehingga luas mesin adalah 0,06 m2. Kelonggaran bahan setengah jadi 0 m 2, operator 6,6 m2, dan transport 0,69 m2. Sehingga diperoleh luas+kelonggaran dan total luas adalah 7,59 m2. Sedangkan untuk total luas sebenarnya adalah sebesar 12,45 m 2 yang berarti lebih besar dari total luas perhitungan yang hanya 7,59 m 2 . Hal ini dapat disebabkan karena pada total luas sebenarnya, tempat tersebut tidak hanya digunakan untuk mengemas produk saja tetapi juga digunakan sebagai ruang keluarga sekaligus sebagai tempat pendinginan. Total luas stasiun kerja yang dibutuhkan yaitu sebesar 27,99 m2. Bila dibandingkan dengan total luas lantai produksi keseluruhan pada industri Egg Roll Ubi Ungu yang sebenarnya yaitu 64,767 m 2 maka terlihat bahwa luas lantai produksi keseluruhan melebihi kapasitas yang dibutuhkan. Hal ini dikarenakan ada beberapa tempat stasiun kerja yang memiliki fungsi lain. Misalnya untuk ruang penimbangan, tempat

penyimpanan bahan baku yang disatukan , ataupun karena pada ruang pengemasan tersebut tidak hanya digunakan untuk pengemasan produksi Egg Roll namun juga digunakan untuk area beraktivitas keluarga. Setelah kami mengadakan kunjugan dan perhitungan data untuk luas ruang, kami dapatkan hasil data luas tiap ruangan di rumah beserta tempat produksi Egg Roll. Hasil perhitungan luas lantai dan ruangan

disbanding dengan fakta di lapangan untuk industri Egg Roll masih banyak yang kurang sesuai dengan standar. Dapur sebagai tempat pengukusan dan pencucian ubi ungu, luasnya adalah 3.03 m x2.2m. luas kelonggarannya adalah 0.66m 2. Jadi luas dan kelonggaran yang kami rancang untuk dapur adalah 7.326. Menurut hasil

perhitungan kami ini fakta di lapangan tidak sesuai dengan standar yang kami hitung, sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja masih tinggi. Namun pergerakan bahan di ruangan ini relatif sedikit dan hanya dimasuki 1 pekerja sehingga masih aman untuk menjadi wilayah kerja. Ruang Adonan (Ruang produksi 1) memiliki luas 2.1mx1.2m , luas kelonggarannya adalah 0.25m2. ruangan ini dipakai untuk mencampur bahan yang digunakan untuk pembuatan Egg Roll. Luas ruangan dan kelonggarannya jadi 2.77m2 . ruang ini terbilang sangat sempit untuk

bekerja karena fakta di lapangan dan hasil perhitungan lumayan jauh berbeda karena ketidak adanya kelonggaran untuk ruangan tersebut. Ruang bahan baku yang digunakan untuk menyimpan bahan baku ini berukuran kecil sehingga membuat pekerja kurang leluasa untuk

memasukinya. Luas ruangan ini adalah 3.03mx2m, kelonggarannya setelah kami hitung adalah 0.6m2 dan hasil perhitungan kami menunjukan ruangan yang asli belum memenuhi standar karena tidak diberikan luas kelonggaran. Ruang produksi, ruang ini digunakan untuk mencetak,

memanggang, dan menggulung Egg Roll, serta untuk mengumpulkan egg roll yang telah siap dikemas. Luas ruangan ini adalah 5.49mx3.03m , dari nilai tersebut kami hitung kelonggarannya adalah 1.663m 2. Ruang ini juga belum memenuhi standar karena terlalu sempit dan belum diberikan kelonggaran. Jarak antar pekerja lumayan dekat sehingga jalan untuk bahan sangat sempit. Dalam 1 ruang tersebut berisi 6 orang pekerja, 6 kompor dan masing-masing alatnya. Penyimpanan bahan jadi adalah etalase yang digunakan untuk menyimpan egg roll yang sudah dikemas terletak di ruang produksi. Bukan berbentuk ruangan namun seperti lemari kaca untuk meletakkan produk jadi. Luas penyimpanan ini adalah 2mx0.5m. kelonggaran diantaranya adalah 0.1m
2

, namun faktanya di ruang produksi tersebut tidak ada jarak

kelonggaran yang diberikan. Parkir, digunakan untuk tempat sepeda-sepeda pekerja. Luasnya hampir sama dengan luas ruang produksi. Letaknya diluar dan memiliki luas 3.03mx3m. kelonggarannya adalah 0.909m2. Untuk tempat parkir ini

sudah lumayan luas dan cukup karena para pekerja jarang ada yang memakai kendaraan disebabkan jarak rumahnya yang dekat. Pengemasan, ruangan ini terlihat ukurannya luas karena bercampur dengan rumah atau aktivitas keluarga pemilik Egg Roll, pengemasan biasanya dilakukan pada malam hari oleh Ibu Iffah dan keluarganya. Luas ruang pengemasan ini adalah 5.17mx3.83m, dan kelonggaran yan g telah kami hitung adalah 1.98m2. Kamar mandi biasanya digunakan untuk para pekerja dalam menunjang kenyamanan kerjanya. Luas kamar mandi ini adalah 2mx1.5m, dan luas kelonggarannya adalah 0.3m2. ruangan ini masih memenuhi standar karena hanya untuk 1 orang pekerja saja (bergantian). Dari ruang-ruang yang telah kami hitung luas kelonggarannya kami mengusulkan untuk menambah ruangan yang belum ada di wilayah produksi. Ruang-ruang tersebut diantaranya adalah Mushola dan Ruang Istirahat. Mushola telah kami hitung kira-kira disediakan seluas 4mx4m dan kelonggaran ruang sebesar 1.6m2 mushola berguna untuk ruang ibadah pekerja untuk sholat saat waktu istirahat siang dating dan tidak perlu untuk cari ruang yang lain. Ruang istirahat pekerja berguna saat pekerja istirahat siang untuk makan dan beristirahat. Luas ruang istirahat yang kami usulkan ini adalah 4mx3m. dengan kelonggaran sebesar 1.2m 2. Pada industri Egg RollUbi Ungu bu Iffah penyediaan gudang penyimpanan untuk bahan belum tersedia. Sehingga bahan-bahan yang akan diolah menjadi Egg Roll Ubi Ungu disimpan di tempat yang sama dan secara tidak beraturan. Untuk masing-masing bahan telah kami hitung kelonggarannya sehingga operator atau pekerja dapat dengan mudah menjangkau bahan tersebut dari arah manapun. Bahan yang pertama dan utama dalam pembuatan Egg Roll Ubi Ungu adalah Ubi ungu. Untuk bahan ini Ibu Iffah menyediakan stok untuk 3 hari adalah 2 karung ukuran 0.3x0.52x0.2 meter. Setiap hari beliau menggunakan 3.6kg ubi ungu. Persediaan ubi dalam karung ini tidak kami rancang untuk ditumpuk karena kemungkinan bahan rusak akan sangat mudah. Dari hasil perhitungan kami, luas tumpukan ubi ungu adalah sebesar 0.312 m2. Karena berbentuk karung , maka kedua

karung tersebut tidak ditumpuk, namun dijajar. Luas kelonggarannya adalah 6.68m2 dan total luasnya adalah 6.992m2. Bahan yang kedua adalah tepung. Tepung disimpan dalam karung kemasan besar yang berukuran 0.63x0.48x0.26. Untuk pembuatan Egg Roll ubi ungu ibu Iffah menyediakan 24,7kg dalam 1 minggu yang tiap hari dipakai sebanyak 3.5 kg. 1 karung ini tdah ditumpuk. Kelonggaran yang telah kami hitung untuk tepung adalah 6.22m 2. jadi total luas yang digunakan untuk tepung adalah 6.5224m2. Bahan selanjutnya yang harus disimpan bu Iffah selama 2 hari adalah telur yang biasa disediakan untuk periode 1 hari adalah 15 butir. Penyimpanan dilakukan tanpa ditumpuk. Luas penyimpanan yang ada adalah 0.6mx0.4mx0.16m. Kelonggaran yang telah dihitung adalah 6m, dan total luasnya adalah 6.24m2. Penyimpanan mentega disimpan pada kardus, yang berukuran 0.41mx0.24mx0.35m dan luas kelonggaran untuk mentega adalah 5.3m
2

dan total luas adalah 5.3984m2. dalam 1 gudang tidak ada penumpukan karena dalam periode 3 hari ibu Iffah menyetok hanya 1 kardus dan dipakai per hari 4.8kg. Bahan yan terakhir adalah gula, susu, ovalet dan pewarna bahanbahan ini dijadikan 1 dalam 1 kardus. Periode penyimpanan 1 kardus tersebut adalah 7 hari atau 1 minggu. Pemakaian campuran untuk 1 hari adalah 9.45kg. Luas kelonggaran yang harus disediakan adalah 0.0984m 2. Dari evaluasi perhitungan tersebut dapat dilihat bahwa industri tersebut kurang menyediakan gudang yang sebenarnya membutuhkan rongga kelonggaran untum meminimalisasi kecelakaan kerja pada pekerja.

E. KESIMPULAN Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Tipe aliran bahan pada Industri Egg Roll Ubi Ungu adalah membentuk pola aliran L sedangkan tipe tata letak pada industri tersebut adalah tipe

tata letak product layout karena hanya memproduksi satu jenis produk,yaitu egg roll ubi ungu. 2. Jenis dan jumlah ruang yang dibutuhkan setiap kegiatan dalam Industri Egg Roll Ubi Ungu adalah: Ruang fasilitas, Ruang Produksi, dan Gudang. Jumlahnya masing-masing yang dibutuhkan adalah 10 ruang untuk fasilitas, 7 ruang untuk produksi, dan 1 ruang gudang untuk menyimpan 5 tumpukan bahan. 3. Luas lantai setiap kegiatan adalah: a. Ruang fasilitas : Dapur : 7.326m2 R. Adonan : 2.77m2 R. Bahan Baku : 6.66m2 R. Produksi : 18.293m2 Penyimpanan Produk Jadi : 1.1m2 Parkir : 9.99m2 R. Pengemasan : 21.781m2 Kamar Mandi : 3.3m2 Mushola : R. Istirahat : Penimbangan : 2.9145m2 Pencucian : 2.805m2 Pengukusan : 0.429m2 Pengupasan : 5.82m2 Pengadukan : 0.6677m2 Pencetakan : 4.0689m2 Pengemasan : 1.771m2 Karung Ubi Ungu : 6.992m2 Karung Tepung : 6.5224m2 Telur : 6.24m2 Kardus Mentega : 5.3984m2 Kardus Gula,Susu,Ovalet dan Pewarna : 5.3984m2

b. Ruang Produksi : c. Gudang : -

DAFTAR PUSTAKA Anonim 1. 2011. Tipe-tipe Layout. www.processtext.com. Diakses Sabtu,26 Maret 2011 pukul 17.00 WIB. Anonim 2. 2011. Material Handling. http://lppm.unjani.ac.id. Diakses Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 17.00 WIB. Anonim 3. 2011. Kebutuhan Ruang dan Luas Lantai untuk Ruang Produksi dan Gudang. manajemenpabrik.blogspot.com. Diakses Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 17.00 WIB. Apple, J. M. 1972. Material Handling System Design. The Ronald Press Co. New York. Apple, J. M. 1977. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Apple, J. M. 1990. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Barnes, Ralph M. 1980. Motion and Time Study: Design and Measurement of Work. John Willy & Sons. Singapura. Bethel, dkk. 1952. Industrial Organisation and Management, Second Edition. McGraw Hill Book Co. New York. Bowersox, Donald J. 1978. Logistical Management. Macmillan Publishing Co Inc. New York. Francis, R. L. dan J. A. White. 1974. Facility Layouts and Locations. Prentice Hall Inc. New Jersey. Purwanto. 1990. Usulan Plant Layout untuk Tahap-tahap Terbaru. Bandung: Aviasti dan Konsultan Pendawa Lima.

Wignjosoebroto, S. 1996. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Surabaya: ITS. Wignjosoebroto, S. 2000. Tipe Tata Letak Pabrik. Surabaya: ITS.

LAMPIRAN
KEBUTUHAN RUANG DAN LUAS LANTAI PRODUKSI Ukuran (m) Kelonggaran Bahan Setengah jadi 1.3 1.5 1.3 0 1.38 Oper ator Trans port Luas + Kelonggoran

N o

Nama SK

Nama Mesin

Jumla h Mesin

Luas 1 mesin(m 2)

Total Luas 1 SK

p 1 2 3 4 5 Penimbang Pencucian Pengukusan Pengupasan Pengadukan Timbangan Ember Panci Manual Mixer Cetakan dan Kompor Sealer 1 2 1 1 1 0.5 0.7 0.3 0.3 0.4 4

l 0.3 0.5 0.3 0.3 0.3 8 0.3 7 0.1 5 0.15 0.35 0.09 0.09 0.1672

1.5 1.7 1.3 6.4 1.44

0.195 0.255 0.169 0.667 0.199 0.369 9 0.69

1.695 1.955 1.469 7.067 1.639

2.145 2.805 1.69 6.67 1.99

6 7

Pencetakan Pengemasan

1 1

0.7 0.4

0.259 0.06

2.74 0

2.7 6.6

3.0699 7.29

3.699 6.9

KEBUTUHAN RUANG DAN LUAS LANTAI FASILITAS Ukuran (m) p 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Dapur Ruang Adonan Ruang Bahan Baku Produksi Penyimpanan Jadi Parkir Pengemasan Kamar Mandi Mushola Ruang Istirahat 3.03 2.1 3.03 3.03 2 3.03 5.17 2 4 4 l 2.2 1.2 2 5.49 0.5 3 3.83 1.5 4 3 6.666 2.52 6.06 16.6347 1 9.09 19.8011 3 16 12 Kelonggaran (m2) Jumlah Ruang Luas Lantai(m2)

No

Nama Ruang

Luas (m2)

L+K (m2)

0.66 0.25 0.6 1.663 0.1 0.909 1.98 0.3 1.6 1.2

7.326 2.77 6.66 18.2977 1.1 9.999 21.7811 3.3 17.6 13.2

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

7.326 2.77 6.66 18.293 1.1 9.999 21.781 3.3 17.6 13.2