1

PENGENDALIAN SUSUT
NASIBKU DIUJUNG TELUNJUK MU

TIM ANALISA SUSUT DISTRIBUSI 2007 PT.PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA BARAT DAN BANTEN

2

KATA PENGANTAR
Di setiap Negara Energi Listrik sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan umat manusia, termasuk di Indonesia tercinta ini. Banyak manfaat yang didapat dari energi listrik terutama bagi kalangan Industri, Bisnis, pemerintahan dan masyarakat umum. Mengingat banyaknya masyarakat yang menggunakan energi listrik, bahkan bisa dikatakan ketergantungan pada energi listrik, maka perkembangan ketenaga listrikan setiap tahunnya selalu menarik perhatian masyarakat pengguna energi listrik khususnya di perkotaan. Dampak dari semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan energi listrik, maka PT PLN (PERSERO) satu-satunya perusahan milik Negara yang di tugaskan untuk mengelola dituntut untuk meningkatkan propesionalismenya. Dengan segala keterbatasannya PT PLN (PERSERO) berupaya memenuhi kebutuhan energi listrik masyarakat melalui : a. Meningkatkan Pelayanan masyarakat b. Meningkatkan mutu dan keandalan penyaluran energi listrik Sebagai Perusahan Terbatas Persero, PLN selain ditugas utama melayani kebutuhan energi listrik yang bekwalitas juga diupayakan untuk mendapatkan keuntungan Finansial bagi Negara. Untuk memenuhi kebutuhan Finansial bagi Negara salah satu upayanya adalah : a. Mengurangi kerugian energi hilang akibat teknis dan non teknis (susut) dalam penyaluran egnergi listrik pada pengguna. b. Mengoptimalkan anggaran biaya operasional melalui Effesiency Drive Program (EDP). Melalui kedua upaya ini yang dilaksanakan secara propesional dan berkesinabungan, diharapkan mampu menjawab tantangan kedepan yang lebih baik.

Bandung ; 6 April 2007 Tim Susut & EDP 2007

Zainal Arifin

3

PEDOMAN PENURUNAN SUSUT Edisi ke 1. 1. 2. 3. 4. 5. Pedoman Penurunan susut 2006 Neraca Egergi Pembacaan dan Pencatatan Stand Meter (Cater) Koreksi Rekening Pemakaian kWh nol Program Kerja Terpadu

Terbit 6 April 2006 Dicetak sebanyak 500 buah buku Didistribusikan ke : 1. Unit Pelyanan dan Jaringan (UPJ DJBB) 2. Area Pelayanan dan Jaringan (APJ DJBB) 3. General Manager dan Para Manajer Bidang (DJBB) 4. Audit Internal (DJBB) 5. KPUB X (PLN Pusat) Revisi ke 1. tanggal 24 Maret 2007. Judul Buku e PANDUAN PENGENDALIAN SUSUT Terbit tanggal 6 April 2007 Edisi ke 2. merupakan rangkuman edisi 1 dan penambahan materi sesuai kebutuhan PLN DJBB Jika terjadi perbedaan /bertentangan dalam peraturan antara buku 1(Panduan Penurunan Susut 2006) dengan buku ke 2 (Panduan Pengendalaian Susut 2007), maka yang benar adalah pada buku ke dua (Panduan Pengendalaian Susut 2007)

 

3.4 Tinjauan Susut kWh Bab 3.1 Unsur Pembelian (KEPDIR 217-1.2 Susut kWh ditinjau dari Penyebabnya 2.5.1 1.2 1.1. Perhitungan Pemakaian Sendiri Sistem Distribusi (PSSD) Bab 4.3 1. Perhitungan Susut JTM 2.3 Unsur Susut.K/DIR/2005) 1.1 Penyeimbangan beban gardu/trafo . Perhitungan Simulasi Susut Sistem Jaringan Distribusi (Penulis materi: Kantiono Teguh Wibowo) 2.4. Panduan Pengendalian Susut (Penulis materi: Zainal Arifin) 1.1 Neraca Energi 1.2.2 1. 4.1 1. (KEPDIR 217-1.3 Langkah Pengendalian 2. Perhitungan Susut SR 2.2 Unsur Penjualan (TUL III-09) 1. KATA PENGANTAR Perubahan Daftar Isi Bab 1. Perhitungan Susut Gardu/Trafo 2.2.1 Susut kWh ditinjau dari Sifatnya 2.3. 3. Perhitungan Susut JTR 2.K/DIR/2005) 1.2.2 1.3.1.1.1.4 Daftar Isi : 1. Pengaturan Beban & Pemilihan Konduktor ( penulis materi: Durachman Rodjani) 3. Perhitungan Susut Teknis ( penulis materi: Durachman 2.3 Penyebab Susut Susut Teknis Susut Non Teknis Program Kerja Terpadu Program Pengendalian Susut Teknis Program Pengendalian Susut Teknis Program Penghematan energi Rodjani) Bab 2.3. 2.

Bahwa Susut masih menjadi sorotan utama public 2. Susut merupakan kerugian terbesar pendapatan di PLN setiap bulanya.  Tahun 2007 kWh exim hanya digunakan untuk penyulang yang digunakan oleh lebih dari satu unit pemakai.  Penyulang yang murni digunakan oleh unit lain disebut ENERGI TRANSFER . 3. Untuk mendapatkan nilai susut yang mendekati riil maka perlu diawali bembenahannya dari kWh Beli dan salah satunya adalah penyesuaian perlakuan transaksi energi dengan KEPDIR 217-1. Susut termasuk salah satu kinerja PLN yang memiliki nilai bobot 10.5 3. Perubahan kWh Exim  Tahun 2006 bahwa yang disebut dengan kWh exim adalah energi yang dikirim ke unit lain baik langsung satu penyulang atau satu penyulang terbagi dua unit pemakai.K/DIR/2005 sebagai dasar perhitungan susut. Penjelasan pada diagram satu garis memberikan gambaran perbaikan diantaranya : 1.2 Perhitungan Pemilihan Konduktor TM dan TR LATAR BELAKANG: 1.

2. PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten dalam memenuhi kebutuhan energi listrik bagi masyarakat Jawa Barat dan Banten. Pembangkitan Sendiri (PLTD) 4.1 Transaksi energi Beli. Unsur transaksi energi Beli Unsur transaksi energi Jual 1. PT Listrik Swasta . Melalui upaya-upaya tersebut kedepan diharapkan: Semua pelaksana melaksanakan perhitungan susut teknis diunit kerjanya sehingga pengelolaan operasional dan pemeliharaan dapat dilakukan secara baik dan terarah/efektip dan effecien Melalui perhitungan susut teknis diharapkan: Pemeliharaan material/peralatan terpasang pada jaringan sistem distribusi dapat dikendalikan secara baik Alokasi anggaran pemeliharaan akan lebih effecien dan terarah Data-data teknis dapat dikelola secara tertib dan memiliki akurasi yang memadai/diandalkan. d. 1. 2. PT PLN (PERSERO) Distribusi Jakarta dan Tangerang 3. melakukan transaksi energi beli dengan : 1. 2. Untuk mencapai sasaran tersebut Tim Susut DJBB bekerja sama dengan Tim Transaksi Energi segera melakukan pembenahan dianataranya : Melakukan perubahan transaksi energi beli disesuaikan dengan KEPDIR No 217-1. b. PT PLN (PERSERO) P3B 2. Kedepan Target-Target susut UPJ dan APJ didasarkan pada hasil perhitungan susut teknis masing-masing unit kerjanya.K/DIR/2005 sebagai dasar perhitungan susut energi Melakukan kerjasam dengan UDIKLAT CIBOGO-BOGOR untuk mengadakan pelatihan/Inhose training tentang Perhitungan Susut Teknis bagi pelaksana tugas di UPJ dan APJ. TRANSAKSI ENERGI LISTRIK Secara garis besar transaksi energi listrik dibagi menjadi dua unsur yaitu : 1. c.6 1. a.

Daerah kerja Depok di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Depok 11. Daerah kerja Cianjur di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Cianjur 13. Daerah kerja Majalaya di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Majalaya 5. Daerah kerja Sumedang di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Sumedang 6. Daerah kerja Karawang di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Karawang 8. Daerah kerja Purwakarta di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Purwakarta 9. Daerah kerja Bandung di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Bandung 3. Daerah kerja Sukabumi di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Sukabumi 12. Daerah kerja Bekasi di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Bekasi 7.7 Energi listrik tersebut didistribusikan ke 15 (lima belas) daerah kerja diantaranya : 1. Daerah kerja Tasikmalaya di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Tasikmalaya 15. Daerah kerja Cirebon di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Cirebon Masing-masing daerah kerja Area Pelayanan dan Jaringan (APJ) di bantu oleh beberapa Unit Pelayanan dan Jaringan (UPJ) dan Area Pelayanan (AP) di satu UPJ Dalam melaksanakan tugasnya APJ dan UPJ diberikan wewenang dan tanggung jawab penuh sehingga akuntabilitas laba rugi lebih transfaransi . Daerah kerja Bogor di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Bogor 10. Daerah kerja Cimahi di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Cimahi 4. Daerah kerja Garut di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Garut 14. Daerah kerja Propinsi Banten di kelola oleh Area Pelayanan dan Jaringan Banten 2.

8 Secara keseluruhan PT PLN (persero) distribusi Jawa Barat dan Banten khususnya masalah pembelian energi mulai tahun 2005 menggunakan Kepdir 217.1-K/DIR/2005 sebagai pedoman transaksi dan pedoman ini juga di berlakukan untuk Unit-Unit kerja dibawahnya. Tahun sebelumnya pedoman transaksi beli energi ini menggunakan SE. No 018.K/DIR/2004.

PERBEDAAN KEPDIR 018.K DNG 217.K KEPDIR 018.1-K/DIR /2004 KEPDIR 217.1-K/DIR/2005

Loko Distribusi = Total kWh Terima

Loko Distribusi = kWh Siap Salur

KWh Siap Jual = Total kWh Terima ± kWh Siap Jual = kWh Siap Salur ± kWh PSSD kWh kirim ke unit lain KWh PSSD = kWh PSGD + Io. KWh PSSD = kWh PSGD Susut kWh = kWh Siap Jual ± kWh Jual Susut kWh = kWh Siap Jual ± kWh Jual ± kWh Kirim ± kWh PSSD. ke Unit lain. Susut % = kWh Susut / kWh Siap Jual Susut % = kWh Susut / kWh Siap Salur +PSSD x 100 Total kWh Terima APJ = ™ kWh UPJ Total kWh Terima APJ = bukan ™ kWh UPJ

Keterangan : Sesuai KEPDIR No 217.1-K/DIR/2005 1. Total pembelian energi di sebut energi siap salur.(kWh Siap Salur) 2. Energi Siap Jual adalah Energi Siap salur - ( dikurang) Energi Pemakaian Sendiri Sistem Distribusi(PSSD)  PSSD terdiri dari : a. Pemakaian alat pemanas ruangan cubicle(heather)

9

b. Lampu Penerangan Gardu Beton c. Lampu Anouncitor (lampu indikator) d. Pemakaian untuk proteksi/relay e. Pemakaian untuk Rectipye f. Dll 3. Susut Energi adalah Energi Siap Jual Energi Jual (kWh TUL III-09)- Energi Kirim ke Unit Lain. Secara garis besar dapat digambarkan sbb:

a.

DJBB / APJ

ENERGI TERIMA
1. PLN P3B 2. PLN DKI JAYA 3. KIT SENDIRI 4. LISWAS

ENERGI KIRIM KE

PLN DKI JAYA

b.

UPJ

ENERGI TERIMA
1. APJ 2. UPJ 3. UPJ APJ LAIN

ENERGI KIRIM KE

UPJ UPJ APJ LAIN

1.2

TERTIB TRANSAKSI ENERGI LISTRIK
1. Transaksi Energi Listrik PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten dengan PT PLN (PERSERO)

10

2.

3.

4.

5. 6.

P3B/Region dilakukan oleh Kantor Distribusi Jawa Barat dan Banten Transaksi Energi Listrik PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten dengan PT PLN (PERSERO) Distribusi DKI Jaya dan Tangerang dilakukan oleh Kantor Distribusi Jawa Barat dan Banten Transaksi Energi Listrik PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten dengan PT LISTRIK SWASTA dilakukan oleh Kantor Distribusi Jawa Barat dan Banten Transaksi Energi Listrik PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten antara APJ dengan UPT dilakukan oleh APJ Transaksi Energi Listrik PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten antar APJ dilakukan oleh APJ Transaksi Energi Listrik PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten antar UPJ dilakukan oleh APJ

1.3

ALAT UKUR TRANSAKSI ENERGI LISTRIK
1. Alat ukur transaksi energi listrik untuk transaksi antara PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten dengan PT PLN (PERSERO) P3B/Region menggunakan kWh Meter Elektronik (ME) klas 0,2, dipasang pada titik ukur transaksi sekundeir Trafo Daya Gardu Induk Alat ukur transaksi energi listrik untuk transaksi antara PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten dengan PT PLN (PERSERO) Distribusi Jaya dan Tangerang menggunakan kWh Meter Elektronik (ME) klas 0,2, dipasang pada titik ukur transaksi Penyulang Gardu Induk Alat ukur transaksi energi listrik untuk transaksi antara PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten dengan PT PLN (PERSERO) Distribusi Jaya dan Tangerang menggunakan kWh Meter Elektromekanik (MK)

2.

3.

5. dipasang pada titik ukur transaksi Penyulang pada Pembangkit . klas 0.11 4.2. dipasang pada titik ukur transaksi Gardu Distribusi Alat ukur transaksi energi listrik untuk transaksi antara PT PLN (PERSERO) Distribusi Jawa Barat dan Banten dengan PT Listrik Swasta menggunakan kWh Meter Elektronik (ME) klas 0.

K/DIR/2005 pada lampiran empat (4) item 1 Bahwa susut energi dinyatakan dalam kWh dan prosentase (%) item 2 point Rumus perhitungan susut dalam prosentase adalah kWh Siap Salur Distribusi ± PSSD ± Dibuat Rekening x 100 % kWh Siap Salur Distribusi .12 SUSUT ENERGI LISTRIK Perhitungan susut energi listrik 2007 berdasarkan pada KEPDIR 217-1.K/DIR/2005 Rumus Perhitungan Susut Distribusi Sesuai KEPDIR 217-1.

13 Pada lampiran 1-1 Form 12 R/B 2005 dinyatakan bahwa: Susut Distribusi adalah : KWh Siap Jual ± Dikirim dari Distribusi ke unit PLN lain ± kWh terjual (TUL III-09) Keterangan: KWh siap salur adalah Total kWh penerimaan KWh PSSD adalah Total kWh Pemakaian Sendiri Sistem Distribusi KWh Siap Jual adalah KWh Siap Salur ± KWh PSSD KWh Kirim adalah kWh Yang dikirim ke Unit PLN lain KWh Exim adalah energi yang digunakan oleh unit PLN lain melalui sistem distribusi setempat 1. 5. 3.150/20 kV kWh Transfer TIDAK dihitung sebagai kWh Siap Salur DIST. 4. 2.A 2 3 Transfer DIST -B 4 Plg TR Plg TR Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima .A Penyulang 20 kV 1 DIST . SINGLE LINE DIAGRAM PENYULANG Keterangan :  Penyulang 3 adalah energi kirim ke Unit lain ( kWh transfer) GI.

150/20 kV Penyulang 20 kV 1 DIST .14 SINGLE LINE DIAGRAM PENYULANG  Keterangan : Penyulang 3 adalah energi kirim ke Unit lain ( kWh Perbatasan/Exim) kWh perbatasan dihitung sebagai kWh Siap Salur DIST.K/DIR/2005 UNTUK UNIT KERJA APJ Tahun 2005-2006 Realisasi di APJ dan UPJ  Di APJ Untuk setiap kWh Kirim selain menjadi kWh Siap Salur APJ Pengirim. susutnya dibebankan ke APJ penerima sebesar 2 % dari total kWh pemakaian penyulang tersebut  Di UPJ untuk setiap kWh Kirim selain menjadi kWh Siap Salur UPJ Pengirim.7 % dari total kWh pemakaian UPJ Penerima pada penyulang tersebut .A 2 3 DIST -B 4 Plg TR Exim Plg TR Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima PENJABARAN KEPDIR 217.A GI. susutnya dibebankan ke UPJ penerima sebesar 1.

Pengelolaan cell cubicle 20 kV Gardu Induk.A Penyulang 20 kV 1 APJ . Bagi APJ Pengelola Gardu Induk sebagian Energi Listriknya digunakan oleh APJ lain diberlakukan sebagai transaksi energi antar APJ Transaksi energi antar APJ terbagi menjadi dua diantaranya: a.150/20 kV kWh Exim dihitung sebagai kWh Siap Salur APJ. dikelola oleh APJ yang daerah kerjanya terdapat Gardu Induk.K/DIR/2005 UNIT KERJA APJ TAHUN 2007 1.4 PENJABARAN KEPDIR 217.K/DIR/2005 UNTUK UNIT KERJA APJ Tahun 2005-2006 Keterangan :  Penyulang 3 adalah energi kirim ke Unit lain ( kWh Exim) GI. Energi listrik melalui penyulang langsung (tidak masuk kesistem distribusi APJ setempat) dikirim ke Unit APJ lain disebut Transfer Energi .A 2 3 EXIM APJ -B 4 Plg TR Plg TR Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima 1. 2.15 PENJABARAN KEPDIR 217.

A Penyulang 20 kV 1 APJ .A 2 3 Transfer APJ -B 4 Plg TR Plg TR Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima . Energi Listrik melalui penyulang Tidak langsung atau masuk kesistem distribusi APJ setempat.susutnya dihitung secara proporsional bedasarkan besaran kWh penyulang (susut penyulang terbagi merata sesuai besaran pemakaian masing-masing APJ). sebahagian di kirim ke Unit APJ lain disebut Energi Exim. b.16 3.150/20 kV kWh Transfer TIDAK dihitung sebagai kWh Siap Salur APJ. SINGLE LINE DIAGRAM PENYULANG Keterangan :  Penyulang 3 adalah energi kirim ke Unit lain ( kWh transfer) GI. Penyulang yang dipergunakan oleh 2 (dua) atau lebih APJ.

89 kWh .89 = 138. APJ-B = 125 kWh Susut Penyulang = 250 ± (100 +125) = 25 kWh Pembagian kWh susut : APJ-A = 100/225*25 = 11.11 kWh APJ-B = 125/225*25 = 13.89 kWh Total KWh Beli APJ-A = 100 +11.A GI.17 SINGLE LINE DIAGRAM PENYULANG  Keterangan : Penyulang 3 adalah energi kirim ke Unit lain ( kWh Perbatasan/Exim) kWh perbatasan dihitung sebagai kWh Siap Salur APJ.150/20 kV Penyulang 20 kV 1 APJ .11 kWh Total KWh Beli APJ-A = 125 +13.11 = 111.A 2 3 APJ -B 4 Plg TR Exim Plg TR Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima Perhitungan susut proporsional X = KWh Penyulang X1 = Total Pemakaian (APJ-A + APJ-B) Susut Penyulang = x ± x1 Susut untuk APJ-A = Pemakaian APJ-A / X1 * Susut Penyulang Susut untuk APJ-B = Pemakaian APJ-B / X1 * Susut Penyulang KWh Beli APJ-A = Pemakaian APJ-A + Susut Proporsional KWh Beli APJ-B = Pemakaian APJ-B + Susut Proporsional Misalkan : kWh Penyulang = 250 kWh pemakaian APJ-A = 100 kWh.

susutnya dihitung secara proporsional sesuai besaran pemakaian masing-masing UPJ pada penyulang tersebut.K/DIR/2005 UNTUK UNIT KERJA UPJ 1. 2. b. b. Antar UPJ TR melalui pengukuran kWh Exim b. . Di UPJ untuk setiap kWh Kirim ke UPJ Lain (kWh perbatasan/ Exim) dihitung sebagai kWh Siap Salur UPJ Pengirim. Dari Gardu Distribusi melalui Tegangan Rendah 380/220 Volt. Antar UPJ TMTR melalui pengukuran kWh Exim c. 4. Energi Exim hanya berlaku a. UPJ TMTR (bukan UPJ Prima) dengan UPJ TR Khusus UPJ PRIMA tidak diberlakukan enrgi Exim Pembelian Energi UPJ Prima: a. Dari Gardu Induk melalui Penyulang Tegangan Menengah 20 kV. Dari Penyulang 20 kV langsung (tanpa pelanggan TR) c. Dari Gardu Induk melalui tegangan tinggi 150 atau 70 kV.18 PENJABARAN KEPDIR 217. 3. Dari UPJ TR dan UPJ TMTR melalui pengukuran kWh Exim atau MDI Pembelian Energi UPJ TMTR dan UPJ TR : a.

APJ UPJ UPJ kWh Siap salur adalah Total kWh terima KWh Siap Jual adalah KWh Siap Salur ± kWh PSSD.A Penyulang 20 kV 1 UPJ .K/DIR/2005 UNTUK UNIT KERJA APJ Tahun 2005-2006 Keterangan :  Penyulang 3 adalah energi kirim ke Unit lain ( kWh TRANSFER) GI.150/20 kV Keterangan : kWh Transfer Tidak dihitung sebagai kWh Siap Salur UPJ. 2.19 DIAGRAM TRANSAKSI ENERGI BELI UPJ KWh TERIMA KWh KIRIM KE 1.A 2 3 UPJ -B 4 Transfer Plg TR Plg TR Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima . RUMUS KWh Susut = KWh Siap Jual ± kWh Jual(TUL III-09) ± kWh Kirim Susut (%)= KWh Siap Jual ± kWh Jual(TUL III-09) ± kWh Kirim kWh Siap Salur x 100 % PENJABARAN KEPDIR 217.

20 SINGLE LINE DIAGRAM PENYULANG  Keterangan : Penyulang 3 adalah energi kirim ke Unit lain ( kWh Perbatasan/Exim) Keterangan : kWh perbatasan dihitung sebagai kWh Siap Salur UPJ.A GI.150/20 kV Penyulang 20 kV 1 UPJ .A 2 3 UPJ -B 4 Plg TR Exim Plg TR Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima Plg TM UPJ Prima KETENTUAN TRANSAKSI ENERGI LISTRIK ANTAR UPJ 1. Penyulang yang langsung dari cell cubicle 20 kV Gardu Induk di pergunakan oleh UPJ TIDAK termasuk Energi Exim .

ALAT UKUR TRANSAKSI ENERGI LISTRIK 1. catatan 1.5 (MK) dipasang pada titik ukur transaksi penyulang 20 kV Gardu Induk Transaksi Energi Listrik antar UPJ menggunakan alat ukur Energi (kWh) Elektronik klas 0. Gardu Distribusi yang dipergunakan oleh 2 (dua) atau lebih UPJ susut gardu dihitung secara proporsional bedasarkan besaran kWh MDI. Penyulang yang dipergunakan oleh 2 (dua) atau lebih UPJ susut penyulang dihitung secara proporsional bedasarkan besaran kWh penyulang. 3. . terbagi merata sesuai besaran pemakaian masing-masing UPJ).2 atau kWh Elektromekanik klas 0.5 (MK) dipasang Gardu Distribusi Transaksi Energi Listrik antar UPJ menggunakan alat ukur Energi (kWh) Elektronik klas 0.2 atau kWh Elektromekanik klas 0.21 2.5 (MK) dipasang pada titik ukur transaksi penyulang 20 kV sesuai daerah kerjanya Transaksi Antar APJ menggunakan alat ukur Energi (kWh) Elektronik klas 0. 4.5 (MK) dipasang pada titik ukur transaksi penyulang 20 kV Gardu Induk Penyulang yang dipergunakan oleh 2(dua) atau lebih APJ gardu distribusi dan pelanggaannya yang berada di perbatasan secara bertahap dialihkan menjadi satu APJ 2. susut terbagi merata sesuai besaran pemakaian masing-masing UPJ).2 atau kWh Elektromekanik klas 0. Transaksi Energi Listrik antar UPJ menggunakan alat ukur Energi (kWh) Elektronik klas 0.2 atau kWh Elektromekanik klas 0. 3.

3. Jika terjadi kesalahan perhitungan dapat dilakukan koreksi selama tahun berjalan dan revisi laporan pada bulan berikutnya . secara bertahap pelanggannya di alihkan menjadi satu UPJ Perhitungan Susut Penyulang atau Gardu dihitung secara porporsional oleh APJ pengelola dan disepakati para pihak.22 2. Gardu-Gardu Distribusi yang dipergunakan oleh 2(dua) atau lebih UPJ. 4.

B Plg TM UPJ TM -A Plg TR UPJ TR -D .150/20 kV UPJ TR .C X Penyulang 20 kV Plg TM UPJ TM C Plg TR UPJ TR.23 SINGLE LINE DIAGRAM PENYULANG X = (A+C)+(B+D)+susut X1= (A+C)+(B+D) Susut Penyulang = X ± X1 Prop TM = (A+C)/ X1 * susut penyulang Prop TR = (B+D)/ X1 * Susut Penyulang Prop trf A = A/ (A+B+C+D)* susut penyulang Prop trf B = B/(A+B+C+D) * susut penyulang GI.

Jumlah pelanggan 5.24 1. Rupiah Pendapatan 3. . Penulis tidak ingin membahas masalah penjualan energi. Pendataan calon pelanggan sampai dengan jadi pelanggan 2. Pelaporan data penjualan dan pendapatan penjualan tenaga listrik dsb. juga digunakan untuk mengetahui besaran susut secara kWh dan prosentase (%) melalui pola perhitungan (Kepdir 217. KWh pemakaian pelanggan 2. 3. Daya tersambung 4. dsb.K) Di PLN DJBB masalah penjualan energi listrik ini ditangani oleh Bidang Niaga mulai dari : 1. TUL III-09 merupakan data pendukung utama untuk mengetahui laba rugi perusahaan. Kolekting data pemakaian energi listrik pelanggan samapai dengan penagihan rekening listriknya. Rupiah per tarif 7. Rupiah per kWh 6.2 TRANSAKSI ENERGI JUAL Penjualan energi listrik pada pelanggan yang lebih dikenal dengan sebutan kWh TUL III-09 Seluruh transaksi penjualan energi listrik terangkum dalam pelaporan ini baik secara : 1. tapi membatasi sekedar imformasi guna pembahasan susut lebih lanjut.

3. Susut Teknis 2.1 Susut Teknis Pengertiannya : Susut teknis adalah rugi-rugi energi yang di akibat kan oleh unsur material (besi. tembaga dan alluminium) Susut teknis bersifat tetap dan harus terjadi pada sistem penyaluran tenaga listrik Pada sistem kelistrikan Distribusi dikelompokan menjadi dua yaitu: susut tegangan menegah (TM) dan susut tegangan rendah (TR) Susut TM terdiri dari susut pada Jaringan tegangan menengah (JTM) dan susut pada Gardu/Trafo Susut TR terdiri dari susut pada Jaringan tegangan rendah (JTR) dan Sambungan rumah (SR) .3 SUSUT ENERGI (LOSSES) Pengertian secara umum Susut adalah kerugian akibat terjadinya selisih antara penerimaan dengan pengeluaran.25 1. Susut Non Teknis dapat dikelompokkan 1. Susut energi listrik adalah kerugian akibat terjadinya selisih antara pembelian energi dengan penjualan energi ke pengguna Susut Energi Listrik dari penyebabnya menjadi dua yaitu : 1.

3. Kesalahan faktor pengali pemakaian kWh pelanggan f. Kesalahan wiring pada APP c. PT dan kWh meter. Kesalahan administrasi j.3 Penyebab Susut Non Teknis Susut Non Teknis bersifat variable tergantung dar penyebabnya diantaranya: a.3.2 Susut Non Teknis Pengertiannya : Susut Non Teknis adalah susut energi yang diakibatkan oleh bukan unsur material 1.3. Penggunaan energi listrik oleh bukan pelanggan h. Kelebihan tagih pemakaian kWh pelanggan e.26 Besaran susut teknis dapat diketahui melalui perhitungan susut teknis yang akan dijelaskan lebih lanjut. Penggunaan energi listrik illegal oleh pelanggan dan atau bukan pelanggan g. Kesalahan perhitungan pemakaian kWh pelanggan i. Kesalahan baca stand pemakaian pada kWh meter b. 1. Kesalahan proses sistem komputer 1. d. Kesalahan /kerusakan pada CT .3 Koreksi data pemakaian energi listrik (kWh) pelanggan Susut non teknis juga dapat disebabkan oleh pembatalan stand pemakaian kWh pelanggan (memorial 4) Pembatalan stand pemakaian kWh pelanggan disyahkan sesuai peraturan yang berlaku di PLN. Pembatalan tersebut harus dilakukan apabila : .

penambahan atau pengurangan diwajibkan dilengkapi dengan data pendukung yang syah dan apabila perubahan pendapatan uang milik Negra penambahan atau pengurangan tanpa didukung oleh data yang syah dan merugikan Negara dianggap KORUPSI ATAU KOLUSI. Delengkapi dengan Berita Acara pemeriksaan angka stand pada kWh meter pelanggan. PT dan kWh meter) d.27 a. persyaratan tersebut harus ada (lengkap). . Terjadi pencetakan rekening pemakaian energi listrik ganda c. Akibat penggunaan kWh pemakaian limit pada pelanggan baru Pada prinsifnya setiap terjadi selisih antara angka stand pemakaian kWh pada rekening dengan angka stand pada kWh meter di pelanggan harus dilakukan pembatalan rekening. Persyaratan Pembatalan Rekening Pembatalan rekening tagihan pemakian energi listrik harus dilakukan apabila : a. c. Setiap terjadi perubahan pendapatan uang milik Negara. Angka stand rekening tagihan pemakaian energi listrik lebih besar dibandingkan dengan angka stand pada kWh meter di pelanggan b. Akibat kerusakan para meter (CT. Terjadi pengaduan pelanggan dengan dibuktikan terbitnya TUL I-14 b. c. b. Dilengkapi dengan hasil photo/rekaman gambar pada kWh meter di pelanggan Ketiga mengingat : a. Rupiah pada lembar rekening adalah milik Negara Setiap terjadi perubahan yang mempengaruhi pada pendapatan uang Negara harus didukung oleh data proses penyebab perubahan.

kWh limit dibatasi selama 3(tiga) bulan berturut-turut. Gagal mutasi akibat bongkar rampung tidak tuntas. Untuk daya 450 VA = 112. Stand tunggu akibat salah catat.3. Pemakaian kWh nol juga bisa menjadi penyebab susut non teknis . f.2 Contoh Perhitungan kWh limit sambung baru UPJ Lmh Abang. e.4 Pemakaian kWh NOL.3. Akibat kertas rekening rusak (sobek.4.871 plg Pemakaian rata-rata 75 kWh per bulan per pelanggan (hasil survai lapangan).1 Pemakaian kWh Stand tunggu akibat limit. 1.5 kWh/bulan b. beberapa penyebab pemaikan kWh nol diantaranya: a. Akibat rekening ganda/doble. Stand tunggu akibat kerusakan kWh meter.5 kWh/bulan d. 1.28 Setiap terjadi pembatalan rekening tagihan pemakaian energi listrik harus dilengkapi dengan perbaikanya atau (memorial 3) kecuali untuk kasus pembatalan murni. industri berhenti berproduksi (bangkrut) c.4. jlm 13. Sesuai surat edaran (SE) Direksi no a a a .3. Untuk daya 900 VA = 225 kWh/bulan c. dsb) 1. b. . Tentang ketentuan perhitungan pemakaian kWh pasang baru bahwa. Stand tunggu akibat limit. d. Perusahaan. Untuk daya 1300 VA= 337. Rumah Kosong/tidak dihuni b. kWh limit dihitung sebesar 250 jam/bulan a. Dst. Yang dimaksud dengan pembatalan murni adalah : a.

040.024 plg * 75 =21.871*75 = 1. e. berpengaruh pada naiknya susut perbulan. b.580.-) Rp 623.3. c. Akibat perlakuan pemakaian kWh nol yang tidak benar.353 atau 4.526.29 Pemakaian kWh perbulan 13.040.966. Hindari/perkecil penggunaan kWh limit Segera Pasang meter untuk sambungan baru dan gunakan kWh pemakaiannya untuk penagihan rekening.704.Total DJBB 287.4. sehingga susut kWh riil UPJ lemah Abang pada bulan Januari adalah sebesar 991.678 kWh sudah termasuk didalamnya pemakaian kWh limit sebesar 1. Gunakan kWh minimal (50 kWh) Awasi kwalitas hasil baca meter dan upayakan sekecil mungkin terjadinya salah baca yang mengakibatkan kWh stand tunggu atau kWh numpuk Lakkukan segera penggantian kWh rusak dan awasi stand cabutnya.800 kWh atau Rp 12. 1. Jumlah kWh susut 2.325. d. f.96 %. ijon kWh. pemakaian limit adalah perbuatan yang merugikan PLN dan pelanggan. Data susut UPJ Lemah Abang bulan Januari 2006 sebesar 2.031.4 Upaya mengurangi beban susut a.031.Karena pemakaian kWh sebesar 75 kWh per pelanggan perbulan tidak terbukukan sebagai penjualan(TUL III-09) maka pemakaian kWh tersebut diatas masuk ke kWh susut perbulan.3 Contoh Pengaruh pemakaian kWh nol terhadap susut.445. 1.900.28. .37 %. Berikan penjelasan pada pelaksana tugas( cater OS & Peg.4.3.PLN) bahwa Kesalahan cater.678 kWh atau 8.325 kWh dalam rupiah(Rp=599.

gardu sisipan. reconector. pemberatan jaringan dsb. .) namun masih dirasakan belum memperoleh hasil yang diharapkan. ‡ Berbagai usaha untuk mengendalikan susut telah dilakukan (perubahan tegangan. penyeimbangan beban. pemasangan MDI. P2TL. PERHITUNGANSUSUT TEKNIS PENDAHULUAN ‡ Masalah susut adalah masalah efisiensi pendistribusian tenaga listrik yang berkaitan langsung dengan manajemen pembebanan sistim tenaga listrik ( harus dilakukan evaluasi dan pengendalian sampai pada batas yang wajar secara terus-menerus berkesinambungan ). perubahan pola baca meter. penertiban PJU. PIPEL.30 2.

31 SUSUT DARI SIFATNYA SUSUT KONSTAN TRAFO METER KEBOCORAN ISOLASI DARI PENYEBABNYA TEKNIS MATERIAL CARA MEMASANG CARA PEMBEBANAN SIFAT BEBAN SUSUT VARIABEL KONDUKTOR TITIK SAMBUNG TITIK KONTAK FAKTOR BEBAN FAKTOR DAYA KESEIMBANGAN BEBAN PENCURIAN NON TEKNIS ADM PELANGGAN ADM CATER CARA MENGUKUR PENCURIAN KONDUKTOR TITIK SAMBUNG TITIK KONTAK PELANGGAN NON PELANGAN PEGAWAI / NON PEGAWAI 2. kwh meter. b. antara lain seperti : rugi-rugi penghantar (I2R). Susut Konstan : yakni susut yang timbul secara konstan (terus menerus) pada sistim distribusi tenaga listrik yang tidak dipengaruhi oleh fluktuasi beban (sepanjang sumber tegangan masih ada). kebocoran isolasi dsb.1 Susut (losses) kWh ditinjau dari sisi SIFAT-nya a. titik sambung / titik kontak dsb. Susut Variabel : yakni susut yang timbul secara variabel (berubah-ubah) pada sistim distribusi tenaga listrik yang dipengaruhi oleh fluktuasi beban (naik-turunnya beban). antara lain seperti : rugi-rugi besi trafo. .

Pemetaan susut. Susut (losses) kWh ditinjau dari sisi PENYEBAB-nya a. c. dan lain sebagainya ( berkaitan langsung dengan I2R ).3. Melaksanakan kegiatan pengendalian. d. b. a. 2. Menyusun langkah pengendalian. g. antara lain seperti : ukuran konduktor. adanya kasus pelanggaran / pencurian listrik dan lain sebagainya. Langkah pengendalian susut Pengumpulan data dan statistik. f. e. Menentukan skala prioritas (dengan AMR= Analisa Manajemen Risiko / GKM = Gugus Kendali Mutu). Pengujian dan pengukuran susut. sistim tegangan yang dipakai. b. panjang jaringan. antara lain seperti : kesalahan administrasi data pelanggan.2.32 2. Susut Non Teknis : yakni susut yang timbul pada sistim distribusi tenaga listrik yang disebabkan oleh faktor non teknis. kesalahan dalam pembacaan dan pencatatan meter. tingkat isolasi yang ada. Melakukan evaluasi terhadap hasil kegiatan . Susut Teknis : yakni susut yang timbul pada sistim distribusi tenaga listrik yang disebabkan oleh faktor teknis yang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi dan sifat beban.

5 b.000 ohm = 20 watt. yang bersifat konstan Tinjauan susut (losses) kWh a.33 2. c.5 s/d 2 watt untuk dapat menggerakan kWh meter tersebut.4 a. Untuk memperkecil prosentase susut konstan pada setiap kWh meter mekanik maka penggunaan energi listrik yang melalui .40 % dari daya trafo (contoh trafo 25 kVA terjadi rugi2 besi sebesar 100 watt dan trafo 6. Pada setiap kWh meter mekanik membutuhkann daya antara 1.22 watt dan sistim TM : 20 kV = 0. Pada rugi2 pada pada Tinjauan susut (losses) kWh trafo distribusi terdapat susut konstan yang berupa besi sebesar 0. b.001 amper 2 x 20.000 ohm = 0.10 s/d 0. Untuk memperkecil prosentase susut konstan pada trafo distribusi maka tidak ada jalan lain kecuali mengatur pembebanan trafo pada kondisi beban optimum dimana efisiensinya paling tinggi yakni pada beban antara 70 s/d 80 dari kapasitasnya. yang bersifat konstan a. 2.001 amper 2 x 220.500 watt. b.001 ampere atau susut maksimun yang diijinkan pada sistim TR : 220 volt = 0.300 kVA terjadi rugi2 besi sebesar 6.000 Ohm = 0.000. Pada isolasi sistim jaringan listrik harus memiliki tahanan isolasi sebesar k 1kOhm/volt atau kebocoran maksimun yang diijinkan adalah j 1volt/1.

44 % . c. Tingkat isolasi yang telah menurun dibawah batas minimal (pada isolator. Jaringan yang terlalu panjang.22 watt dan sistim TM : 20 kV = 20 watt. sementara untuk pelanggan B = (2/1. g.8 % .6 Penyebab susut (losses) kWh a. h. kabel. e.34 meter tersebut harus ditingkatkan agar ratio kWh susut konstan di kWh meter dengan pemakaian energi listrik (kWh) yang terukur menjadi kecil (contoh : pemakaian pelanggan A sebesar 30 kWh / bulan dengan pemakaian pelanggan B sebesar 100 kWh / bulan akan memiliki ratio susut konstan untuk pelanggan A = (2/1. Pembebanan yang tidak seimbang (timbulnya Io).000 kW x 720 jam) / ( 30 kWh) x 100 % = 4. c. dari segi teknis a. Pengawatan alat ukur yang salah pada urutan fasa/polaritas (timbulnya selisih ukur) . menjadi 0. minyak trafo. Ukuran penghantar yang kurang optimum (yang dipengaruhi oleh Faktor Beban dan Faktor Distribusi Beban). Titik sambung / kontak yang kurang sempurna (timbulnya panas yang berlebihan sehingga mengurangi energi). b. Ketidak akuratan dari alat ukur meter kWh. CT maupun PT (timbulnya selisih hasil ukur). misalnya karena keretakan isolator atau adanya sisa benang layang2 sehingga tahanan isolasi berkurang sebesar 10 % maka akan terjadi perubahan susut konstan yang semula pada sistim TR = 0.24 watt pada sistim TR dan 22.000 kW x 720 jam) / (100 kWh) x 100 % = 1. arrester dsb.18 watt pada sistim TM 2. d. Jika terjadi kebocoran pada isolasi sistim jaringan listrik.). Faktor Daya (Cos Q) yang rendah (timbulnya daya reaktif) f.

e. e. Ketersediaan anggaran yang sangat terbatas. Pemakaian sendiri yang tidak terukur / tercatat. b. Kebocoran arus melalui pepohonan atau sisa benang layang2 yang menyentuh jaringan (timbulnya kebocoran energi) j. d. Pembacaan/pencatatan angka stand kWh meter yang tidak tepat/benar (waktu. Daerah pelayanan yang semakin luas. b. 2. c. Data Induk Langganan (DIL) yang tidak akurat.8 Hambatan dalam pengendalian susut (losses) kWh a. penafsiran. faktor kali dsb. Cara perhitungan yang tidak tepat / benar. Data yang kurang lengkap dan kurang akurat. Masih terbatasnya kuantitas maupun kualitas SDM yang ada. dari segi non teknis Penyebab susut (losses) kWh a. 2.9 Peluang dalam pengendalian susut (losses) kWh . Pencurian aliran listrik oleh pelanggan maupun non pelanggan.35 i.). pegawai maupun non pegawai yang kurang mendukung. d. Tingkat kesadaran sebagian masyarakat pelanggan maupun non pelanggan. c.7 b. Pengaruh harmonisa (Power Quality) sehingga mempengaruhi pengukuran 2. angka.

Secara teoritis. Menentukan skala prioritas (dengan AMR= Analisa Manajemen Risiko / GKM = Gugus Kendali Mutu). . c.36 a. Melaksanakan kegiatan pengendalian. b. Pengujian dan pengukuran susut. b. Menyusun langkah pengendalian. g.10 a. e. Strategi pengendalian susut Pengumpulan data dan statistik. susut (losses) kWh dapat ditelusuri/dilacak dan dikendalikan melalui perbaikan sistim. d. f. Pemetaan susut. 2. Melakukan evaluasi terhadap hasil kegiatan. Dukungan sarana dan fasilitas kerja yang ada memberikan dorongan dan peluang untuk dapat mengendalikan angka susut (losses) kWh.

11 Pengumpulan Data dan Statistik a.550 Jt Rp. 100 Jt Rp. b. Gardu. Penyulang.4 M 9 Jt kWh 3O 2. 300 Jt Rp. JTR. APP. SR. 900 Jt Rp. Minimal Statistik 5 (lima ) tahun terakhir : o Pembelian. JTM. penjualan dan susut. Jurusan dan lain sebagainya) o Beban puncak. o Beban Puncak .37 CONTOH MATRIK PENYUSUNAN SKALA PRIORITAS PROGRAM / KEGIATAN KRITERIA RATA2 A WAKT U COST REVENUE VOLUME LOKASI PRIORITAS 1 BULAN Rp. 5.750 Jt Rp. 1. 21 M 35 Jt kWh 2O C 3 BULAN Rp. Pengumpulan data : o Asset Jaringan (peta.8 M 13 Jt kWh 25 2 1 3 4 TIM SUSUT 200 7 2.3 M 5 Jt kWh 4O B 2 BULAN Rp.2 M 2 Jt kWh 1O D 4 BULAN Rp. Faktor Beban. single line diagram.7. Faktor Distribusi Beban. Faktor Daya (Cos ).5 BULAN Rp.

KW A LITA S ISOLA SI .KA RA KTERISTIK A LA T UKUR .CP.PEMA KA IA N OLEH NON KO NSUME N .CA RA PENGUK URA N SUSUT VA RIA BEL TE RJA DI KA RENA : .KONST RUK SI JA RI NGA N ( M.38 o o o o Faktor beban Faktor Daya Faktor Distribusi Beban Pertumbuhan asset (Penyulang.KESEI MBA NGA N BE BA N .SI STI M JA RI NGA N .) PEMETAAN SUSUT (LOSSES) DARI SISI PENYEBAB DAN SIFATNYA SUSUT (LOSSES) TERDIRI DARI : SUSUT TEKNIS SUSUT NON TEKNIS SUSUT KONSTAN SUSUT VARIABEL SUSUT TEK NI S DIPENGA RUHI : . F . JTM.SI STI M PE NGUKURA N (KETELI TIA N) .DB . FA KTOR BEBA N.PENCURIA N OL E H KO NSUMEN . SUSUT NO N T EK NI S DIPE NGA RUHI : . JTR.UK URA N DA N J E NI S PE NGHA NTA R .SIFA T BA HA N YA NG ME MILIK I TA HA NA N SEHI NGGA A KA N SA NGA T TE RGA NTUNG PA DA BEBA N ( I 2R ) TIM SUSUT 20 0 7 . SEPER TI MI SA LNYA PA DA KW H METER.PENGA RUH FA KTOR DA YA (CO S Q) . Gardu.CP) .SIFA T DA RI PERA LA TA N YA NG MEMBU TUHKA N ENE RGI .PEMBA CA A N METER KU RA NG A KU RA T . Plgn dsb.UMUR PERA LA TA N SUSUT KO NSTA N TER JA DI KA RENA : .

88 % UPA YA YA NG DA PA T DILA KUKA N UTK ME NGE NDA LIKA N S USUT TE KNIS : .PEMI SA HA N PJ U DA RI JA RI NGA N UMUM .ME NI NGKA TKA N A KURA RI METE R TIM SUSUT 20 0 7 .ME NI NGKA TKA N KW A LITA S CA TE R .ME NI NGKA TKA N P 2TL .PEMB ER SI HA N JA RI NGA N .ME NI NGKA TKA N PE RA N PIPEL .39 UPAYA PENGENDALIAN SUSUT (LOSSES) SECARA TERPADU SUSUT TOTAL : 8.ME MBA NGUN GA RDU I NDUK .PERBA IKA N FA KTOR DA YA .PENY EI MBA NGA N BEBA N .PENA MBA HA N PE NY ULA NG BA RU .ME MP ERBA IKI KEBO CORA N ISOLA SI UPA YA YA NG DA PA T DILA KUKA N UTK ME NGE NDA LIKA N S USUT NON TEK NI S : .ME NA TA KONF IGURA SI JA RI NGA N .37 % NON TEKNIS : 1.PEMA SA NGA N GA RD U SISIPA N .PERBA IKA N TIT IK SA MBUNG/KO NTA K .25 % TEKNIS : 6.PEMB ERA TA N JA RI NGA N .

397 0.700 66 224 Input 11.40 PERBANDINGAN SEBELUM DAN SETELAH FAKTOR DAYA ( COS Q ) DIPERBAIKI URAIAN Input S ( VA ) P ( WATT ) Q ( VAR ) COS Q ARUS Total ( Amp ) TEG ANGAN ( Volt ) 15.954 49 233 SETELAH Output 14.747 10.370 11.323 10.537 0.532 0.809 3.189 10.770 10.339 10.548 0.728 66 233 SEB ELUM Output 14.700 49 224 SUSUT ( % ) 8 4 TIM SUSU T 2 0 0 7 .330 10.

41

Pengukuran titik sambung melalui pengukuran tegangan dan arus
VOLT METER DAN AMP ERE METER

HASIL UKUR TAHANAN TITIK SAMBUNG HARUS DIUSAHAKAN = ATAU HAMP IR 0 OHM

TIM SUSUT 20 0 7

42

Pengukuran ada tidaknya kebocoran isolasi pada jaringan melalui pengukuran arus
SUMBER Arah Aliran Listrik BEBAN

AMPERE METER

Bila arus di titik A = di titik B Berarti tidak ada keb ocoran Bila arus di titik A > di titik B Berarti ada keb ocoran isolasi Syarat pen gukuran harus dalam Waktu yang bers amaan

AMPERE METER

TIM SUSU T 2 0 0 7

Pengukuran susut pada titik kontak melalui pengukuran tegangan dan arus
VOLT METER DAN AMP ERE METER

HASIL UKUR TAHANAN KONTAK DIUSAHAKAN < DARI 1000 micro OHM
TIM SUSUT 20 0 7

43

2.12

Strategi pengendalian susut

(losses) kWh
a. Pengkoordinasian tugas a. Pengkoordinasian tugas adalah merupakan kelanjutan dari kegiatan perenanaan yang telah disusun untuk selanjutnya menetapkan (5W) : siapa mengerjakan apa, siapa bertanggung jawab kepada siapa, kapan waktu dan lokasinya, bagaimana cara dan dengan apa mengerjakannya, mengapa harus dikerjakan; semuanya merupakan mata rantai kegiatan yang tidak boleh terputus. b. Koordinasi sangat mudah diucapkan, namun dalam prakteknya sering mengalami kegagalan karena sangat dipengaruhi oleh : SDM, material, biaya, peralatan, manajemen (5M) + Data Statistik & Informasi 2.13

Strategi pengendalian susut (losses)

kWh
b. Pengkoordinasian tugas a. Pengkoordinasian tugas adalah merupakan kelanjutan dari kegiatan perenanaan yang telah disusun untuk selanjutnya menetapkan (5W) : siapa mengerjakan apa, siapa bertanggung jawab kepada siapa, kapan waktu dan lokasinya, bagaimana cara dan dengan apa mengerjakannya, mengapa harus dikerjakan; semuanya merupakan mata rantai kegiatan yang tidak boleh terputus. b. Koordinasi sangat mudah diucapkan, namun dalam prakteknya sering mengalami kegagalan karena sangat dipengaruhi oleh : SDM, material, biaya, peralatan, manajemen (5M) + Data Statistik & Informasi. 2.14

Strategi pengendalian susut

(losses) kWh

Dari hasil evaluasi akhir akan diperoleh pengalaman yang akan dapat mendorong penyempurnaan dalam menyusun perencanaan lanjutan. Perencanaan lanjutan a.15 Strategi pengendalian susut (losses) kWh d.16 Strategi pengendalian susut (losses) kWh e. baik untuk kegiatan yang sama ataupun kegiatan lainnya. dimaksudkan pula sebagai umpan balik (masukan) yang sangat berharga dalam rangka memberikan koreksi. . maka akan sangat penting bila selama kegiatan berlangsung dilakukan pengendalian dan evaluasi secara terus-menerus atau berkala. perbaikan dan penyempurnaan dari perencanaan yang telah disusun. setiap perubahan yang dilakukan hendaknya dikoordinasikan kembali untuk memastikan bahwa perubahan tersebut memang perlu dilakukan. Pelaksanaan kegiatan a. pelaksanaan kegiatan harus dapat berjalan sesuai dengan kesepakatan. Sesuai dengan hasil pengkoordinasian. b. Sebelum memulai kegiatan perlu dicatat dan diingat mengenai kondisi awal (kondisi saat start). Dengan mengacu dan berpedoman pada rencana kegiatan. Pengendalian & evaluasi hasil kegiatan a. kelemahan atau kelebihan dari sistim yang dipakai akan tergambar. b. sehingga dapat mengetahui posisi langkah demi langkah yang dicapai. baik selama kegiatan berlangsung maupun setelah kegiatan selesai. 2. Pengendalian dan evaluasi hasil kegiatan yang dilakukan. karena setidak-tidaknya kekurangan. 2.44 c.

Pelaksanaan dan Pengendalian yang baik. bertanggung jawab dan dedikasi yang tinggi. c.45 2. Pengkoordinasian juga dipengaruhi oleh 5W.17 a. Pengkoordinasian. . 5M + DSI Yang lebih menentukan kesuksesan dan keberhasilan suatu usaha adalah SDM itu sendiri yang dituntut memiliki sikap disiplin. b. Kesimpulan Sukses dan keberhasilan suatu usaha secara teoritis akan sangat ditentukan oleh Perencanaan.

3. Formulasi Losses Load Faktor (LLF) . Penyulang 20 kV kabel maupun kawat udara.2. PERHITUNGAN SIMULASI SUSUT SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI 1. Trafo distribusi. b. maka Distribusi Jabar dan Banten melakukan evaluasi beberapa formula antara lain : 1. 3. c.1 Metoda Perhitungan Parameter Jaringan. Setiap elemen jaringan yang dilalui arus yang tergantung pada faktor pembebanan maka harus diperoleh parameter pembebanan yaitu : a. Formula PLN Distribusi DKI Jaya. Formula PLN Distribusi Jawa Timur (dikembangkan Tekdis). c. Beban puncak. Penghantar tegangan rendah. Formula hasil evaluasi bersama PLN. ADB. dan pembacaan pengukuran belum dapat dilakukan secara serentak dalam waktu yang bersamaan serta belum semua alat ukur di konsumen dibaca. Parameter jaringan yang perlu diperoleh : a. Dilakukan penyesuaian metoda pendekatan perhitungan susut jaringan yang dikembangkan PLN Distribnusi DKI Jaya sehingga mungkinkan dilakukan di Unit-Unit Cabang Distribusi Jabar dan Banten. Load faktor (LF). Namun mengingat belum seluruh peralatan yang terpasang mempunyai alat ukur.2 3. maka perlu diperoleh pendekatan yang dapat dijadikan sebagai penilai besarnya susut sistem jaringan distribusi. Akibat nilai losses yang bervariasi serta sangat besar. dan IBRD. 2. Dari hasil evaluasi formula tersebut diatas.46 3. b.1 Pendahuluan Perhitungan susut jaringan distribusi sebenarnya sangat membutuhkan ketelitian terutama keakurasian faktor meter dan parameterparameter komponen jaringan terpasang.

MWh dikonsumsi di Tegangan Rendah. b.2. 3. dan Trafo distribusi. Pencatatan pengukuran kWh.2. Pendistribusian Neraca kWh di elemen Jaringan. MWh diterima dari P3B (gardu induk) dan pembangkit sendiri atau yang dikenal sebagai MWh produksi. d. Dengan pendistribusian tersubut dapat diperkirakan berapa susut di TM.2. TR. 3.1 Perhitungan. . MWh dikonsumsi di Tegangan Tinggi. c. Setiap periode pengukuran kWh disusun atas hasil laporan kWh unit yang dapat dikelompokkan atas : a.3 3.47 Disamping itu setiap pembebanan jaringan tidak mungkin dibuat detail. sehingga seluruh pembebanan sub sistem jaringan dianggap dibebani secara merata. MWh dikonsumsi di Tegangan Menengah.

kWh 2 = I R JTM + Trafo + I R JTR + I R SR = Susut Total .2.kWh Pemakaian sendiri 3.kWh Jual TT .kWh Jual TR .Susut Teknik Jual TM 2 . .48 MODEL PERHITUNGAN SUSUT DISTRIBUSI DENGAN PENDEKATAN ALIRAN ENERGI kWh kWh In JTM kWh In Trafo kWh In JTR kWh In SR Susut non Teknis Beli kWh PS Susut I R JTM 2 Susut Trafo Susut I2R JTR Susut I2R SR kWh jual TT kWh jual TM kWh PS kWh jual TR Susut Total Susut Teknik Susut non Teknik = kWh 2 Beli .

3 x LF JTM + 0.E Out + E Out2)/3 = Total Panjang JTM / Jumlah Penyulang = Dihitung = (L JTM x R JTM / 1000) x (E Ek = 0.kWh Ps GI = kWh In JTM / Jumlah Penyulang = (Beban Rata-rata / (Beban Puncak x waktu)) x 100% = Asumsi = Jumlah trafo / Jumlah jurusan = E JTM / (waktu x LF JTM x FK JTM) = E In / Node x Faktor Koreksi = (E In2 + E In.3 x LF Trafo + 0.Susut I2R JTM .732x20))2 = Waktu x Jumlah Peny x P JTM x LLF JTM METODA PERHITUNGAN SUSUT PADA TRAFO DISTRIBUSI 1 2 3 4 5 6 7 8 kWh input Trafo Kapasitas rata-rata terpasang (S Trafo) Rugi Besi (P Besi) Rugi Tembaga (P Cu) kWh input per Trafo (E Trafo) Faktor Beban Trafo (LF Trafo) Faktor Kerja Trafo (FK Trafo) Beban Puncak per Trafo (kVA Trafo) = kWH In JTM .kWh Jual TM = Jumlah kapasitas terpasang / Jumlah Trafo = Data = Data = kWh In Trafo / Jumlah Trafo = Asumsi = Asumsi = E Trafo / (waktu x LF Trafo x FK Trafo) = 0.7 x (LF = Asumsi JTM) 2 JTM / 8 Beban Penyulang ekivalen (E Ek) 9 Panjang JTM/Penyulang (L JTM) 10 Tahanan Penghantar (R JTM) 11 Rugi beban puncak/penyulang (P JTM) 12 Faktor rugi beban JTM (LLF JTM) 13 Faktor koreksi 14 Susut I2R JTM (1.49 METODA PERHITUNGAN SUSUT I2R JARINGAN TEGANGAN MENENGAH (JTM) 1 2 3 4 5 6 7 kWh input JTM (kWh In JTM) kWh input per penyulang (E JTM) Faktor Beban JTM (LF JTM) Faktor Kerja JTM (FK JTM) Node per penyulang Beban Puncak per Penyulang (E In) Beban Puncak per Node (E Out) = kWH Beli .7 x (LF Trafo)2 = P Besi + (kVA Trafo / S Trafo)2 x P Cu x LLF Trafo = Asumsi = Waktu x Jumlah Trafo x P Trafo x LLF Trafo x Faktor Koreksi 9 Faktor rugi beban Trafo (LLF Trafo) 10 Rugi beban Trafo (P Trafo) 11 Faktor koreksi 12 Susut Trafo .kWh Jual TT .

7 x (LF JTR)2 = Waktu x Jumlah konsumen x P SR x LLF JTR x Faktor Koreksi 10 Rugi beban puncak/konsumen (P SR) 11 Faktor rugi beban SR (LLF SR) 13 Susut I2R SR Mengingat perhitungan ini sangat sederhana dan terdapat beberapa asumsi-asumsi maka diharapkan dapat diberikan masukan.E Out + E Out2)/3 = Total Panjang JTR / Jumlah Jurusan = Dihitung = (L JTR x R JTR / 1000) x (E Ek JTR / (1.3 METODA PERHITUNGAN SUSUT I2R JARINGAN TEGANGAN RENDAH (JTR) 1 2 2 3 4 5 6 7 kWh input JTR (kWh In JTR) Jumlah jurusan kWh input per Jurusan (E JTR) Faktor Beban JTR (LF JTR) Faktor Kerja JTR (FK JTR) Node per Jurusan Beban Puncak per Jurusan (E In) Beban Puncak per Node (E Out) = kWh In Trafo .masukan untuk perbaikan sistem perhitungan ini.Susut JTR = Data = kWh In SR / Jumlah konsumen = LF JTR = FK JTR = E SR / (waktu x LF JTR x FK JTR) = Total Panjang SR / Jumlah konsumen = Dihitung = (L SR x R JTR / 1000) x (kVA JTR / 0.50 3.38))2 = 0.732x0.3 x LF JTR + 0. .22)2 = 0.3 x LF JTR + 0. Kiranya simulasi ini dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk menentukan strategi dalam mengurangi losses.Susut Trafo = Data = kWh In JTR / Jumlah Jurusan = (Beban Rata-rata / (Beban Puncak x waktu)) x 100% = Asumsi = Panjang jurusan / 0.7 x (LF JTR)2 = Asumsi = Waktu x Jumlah Jurusan x P JTR x LLF JTR 8 Beban Jurusan ekivalen (E Ek) 9 Panjang JTR/Jurusan (L JTR) 10 Tahanan Penghantar (R JTR) 11 Rugi beban puncak/Jurusan (P JTR) 12 Faktor rugi beban JTR (LLF JTR) 13 Faktor koreksi 14 Susut I2R JTR METODA PERHITUNGAN SUSUT I2R SAMBUNGAN RUMAH (SR) 1 2 3 4 5 6 7 9 kWh input SR (kWh In SR) Jumlah konsumen TR kWh input per Konsumen (E SR) Faktor Beban SR (LF SR) Faktor Kerja SR (FK SR) Beban Puncak per Jurusan (kVA SR) Panjang SR (L SR) Tahanan Penghantar (R SR) = kWh In JTR .04 = E JTR / (waktu x LF JTR x FK JTR) = E In / Node x Faktor Koreksi = (E In2 + E In.

428.807 782.635.63 0.121 0.46 0.001375 8.848 0 191.72 TM 60 2.987 1.025 0.001336 3.587 1.462 35.30 1.092 1.40 10.682.614 951.477.187 131.599.40 .753 0 73.10 kW kW kVA kW kWh % % 129 4 1.701.558.994 55.071 0 165.514.664.463 754.822.809.336.001300 1.025 0.318.956.066 13.63 0.854.758 30.919.23 31 35 7 14.63 0.94 733.759 1.719.070.72 TM 60 2.829.437 3.568 8.46 0.025 0.886 784.312 648.40 2.560.58 4.48 173.110 435.49 3.810 0.260.228 84.404 0 148.605 140 0.80 10.787 6.741.18 129 4 7.60 TM 60 2.110 435.263.568 8.099 6.54 10.130 147.977 379.31 1.40 0.110 435.110 435.110 435.617.52 3.020 166.46 4.041.986 653.799 0.40 2.568 8.121 0.23 31 36 7 80.904 0 34.402.025 0.822 804.725.17 130 4 9.051.293.22 27.155 3.296.22 1.917.388 804.815 148.643.75 1.17 1.463 4.137.814 12.092 1.148 1.822 20.10 3.39 1.043 4.909.092 1.40 4.420 9.279 71.526.33 1.499 ASUMSI Faktor Beban TM (LF) Faktor Beban Trafo (LF) 0.472 1.001347 5.506 10.18 131 4 11.014 22.092 1.522.23 31 36 7 38.092 1.851 48 52 3.822 20.255.956 11.51 4.041 49.12 219.003.246.352 559.71 TM 60 2.128 1.671 131.621.785.495 777.33 1.776 61.45 0.605 140 0.303 297 60.215 623.605 6.489 481.295 251.745.620 7.40 0.214.104.90 3.822 20.009 113.091.813 0.114.10 203.534 0.989 4.63 TM 60 2.75 1.073.10 855.082.481.317.267 291 35.427.279.35 4.40 0.143 804.915 11.025 0.568 8.544.40 2.071.494 875.165.123.45 0.046 11.182 38.300 51.192 277 16.822 804.940 11.145.998.360 63.301 4.890.822 20.19 129 3 5.870.834 11.018.001523 211.491 20.655.146.620 1.900 1.110 435.26 10.402 462.119 0.025 0.879.46 0.40 2.972.354 1.650 90.605 140 0.218 282 22.49 4.541.297.536.092 1.402.323.62 TM 60 2.981 242 5.723 92.45 0.607 114.979.52 3.050.131 7.269.776 7.446.298.267.049 22.251.343.568 8.63 0.001346 6.007 20.092 1.46 0.63 0.121 0.965.395 0.316.822 804.201 0.107.40 2.716.835 3.603 7.822 20.225 11.851 48 52 3.584.590 16.851 48 52 3.111.340.17 131 4 13.362 0 147.654.906 15.510.954.851.020 916.908.132.75 1.980 1.65 4.544.40 2.92 946.561 16.320 283.153.91 6.124 7.446 109.395 311.729.110 435.75 247.65 TM 60 2.295.93 6.076.967.804 0.460 128.605 140 0.75 1.144.496 678.612 804.511.752 7.51 3.882.972 409.526 0 57.248 kWh * ) bh * ) kVA kms/kVA 107.32 1.369 522.00 200.121 0.10 746.40 2.026 0 131.362.336.783 100.025 0.973.800 0.706.268 291 47.999 3.854.223 7.45 3.890 185.17 158.46 0.347.317.715 15.550 17.595 7.971 0.074 1.822 0.092 1.831 12.524.646 1.715.025 0.4 Formula Distribusi Jabar & Banten APJ : Cirebon Penerimaan Penjualan total Penjualan di sisi TT Penjualan di sisi TM Penjualan di sisi TR Pemakaian Sendiri GI Pemakaian Sendiri GD Susut total Susut I 2 R Susut non I 2 R Susut total 2 Susut I R Susut non I 2 R JTM Input Jml Penyulang Panjang JTM Panjang JTM rata-rata per Penyulang Node per Peny (jumlah trafo per penyulang) Iek per Penyulang Rugi beban puncak per Penyulang Susut I 2 R Susut I R vs input 2 Susut I R vs input total Trafo Input Jml Trafo Jumlah KVA Trafo KVA trafo rata-rata Rugi besi Rugi tembaga Iek /Trafo Rugi beban puncak per Trafo 2 Susut I R 2 Susut I R vs input 2 Susut I R vs input total JTR Input Jml Jurusan Panjang JTR Panjang rata-rata Node per Jurusan Iek per Jurusan Rugi beban puncak per Jurusan 2 Susut I R 2 Susut I R vs input 2 Susut I R vs input total SR Input Jml Konsumen Panjang SR Panjang rata-rata Iek per Peny/Trafo/Jur/Kons Rugi beban puncak per Konsumen 2 Susut I R 2 Susut I R vs input 2 Susut I R vs input total 2 Jan *) *) *) *) kWh kWh kWh kWh kWh kWh kWh kWh kWh kWh % % % TM kWh * ) bh * ) kms kms kVA kW kWh % % 129.354 950.841 366.209.851 48 52 3.63 10.578 4.54 3.355 168.611 1.59 96.268 7.93 840.63 0.946 3.022.851 48 52 3.821.568 8.791.93 10.479.110 435.44 10.630 60 2.568 8.23 31 36 7 46.247 1.41 20.188.605 140 0.583 417.63 0.025 0.043 0.442.23 31 36 7 62.49 4.910 126.851 48 52 3.170.528.442.001354 7.103.072 3.851 48 52 3.18 2.514 933.880.813 0.352 379.142 0.72 TM 60 2.408.181.103 12.946 63.36 4.499.936.169 274 10.605 140 0.605 140 0.23 31 36 7 71.121 0.18 128 3 3.356.94 6.318 4.87 6.157.50 4.517.814 0.75 1.126.81 10.482 804.495 20.446.305.822 20.736 6.605 140 0.649 4.497 20.605 140 0.328.610 804.75 1.870 32.017.42 3.52 3.089 383.40 2.121 0.063.40 0.001349 4.670.426.183.568 8.574 579.857.924 4.23 31 0 0 0 0.167.97 kWh * ) bh * ) kms kms kVA kW kWh % % 105.303.566.495 982.86 519.133.853 804.17 kWh * ) bh * ) kms kms kVA kW kWh % % 105.71 TM 60 2.40 0.501 1.778.747.10 3.718 1.268 291 41.320 47.389 510.992 0.230 70.75 1.751 462.815 0.24 195.63 0.63 0.210 1.00 0.241 15.63 0.282.963.193.46 0.697 0.519 804.790 6.17 132 4 18.10 529.110 435.001304 2.41 179.568 8.40 0.75 1.75 1.446.16 Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt 299.40 2.57 3.034 1.40 0.76 10.209.489.121 0.851 48 52 2.403 7.568 8.341 11.897.803.10 3.002.278 293 53.17 131 4 16.222.092 1.23 31 36 7 54.364 3.737 1.610 6.851 48 52 3.247 287 29.043 637.851 48 52 3.121 0.034.864.165.500.089.382 0.806 4.711.367 1.443 270.619.462 1.089.796 626.184.40 2.23 31 35 7 30.911.708 794.883.903 0.618 7.853 656.182 852.006.451.186.637 0 42.053.110 435.025 0.39 3.75 1.121 0.923 305.130.40 0.605 140 0.369.17 131 4 14.586.822 20.943 1.133 185.23 31 35 7 22.368.971.688 4.474.092 1.49 0.703.275.40 0.156 81.001316 3.121 0.300 12.93 98.850.326.386.10 963.49 8.10 3.

234 Beban Rata-rata (Brt) = (480 + 270 + 350) / 3 = 367 Ampere Beban (+ / -) Fasa R = 367 . k.000 = 0.65 x 720 jam = 142 kWh .722 VA ) / 900 VA = 118 Titik Sambung ( jika dipilih 900 VA per Pelanggan ) Jumlah Titik Sambung Yang Harus Dipindah (JTSp) = (106.300 VA per Pelanggan ) Jumlah Titik Sambung Yang Harus Dipindah (JTSp) = (106.050. h.52 3.65 x 720 jam = 98 kWh KWh Pelanggan Yang Dipilih (untuk DT 1.722 VA ) / 450 VA = 237 Titik Sambung ( jika dipilih 450 VA per Pelanggan ) Jumlah Titik Sambung Yang Harus Dipindah (JTSp) = (106.65 Demand Factor Gardu (DFGrd) = 246.560+78400 = 246.200 VA = 48 Titik Sambung ( jika dipilih 2.3 a. c. l. CONTOH PERHITUNGAN Kapasitas Trafo = 315 kVA KWh Salur (MDI) = 110.65 x 720 jam = 49 kWh KWh Pelanggan Yang Dipilih (untuk DT 900 VA) = 0.040 / 1000) x 0. i.722 VA ) / 1. j. b.000 / 720) / {(246.234 x 450/1000 x 0. g.234 = (24.722 VA ) / 2.000 kWh Power Faktor (Cos Phi ) = 0.050.040 VA Load Factor (LF) = (110.234 = 106.722 VA Jumlah Titik Sambung Yang Harus Dipindah (JTSp) = (106.000 kWh KWh Jual (TUL III-09) = 95.270 = + 97 Ampere ( harus ditambah ) Beban (+ / -) Fasa T = 367 .080+61.234 x 900/1000 x 0. f.973 VA) / 0. e.113 Ampere ( harus dikurangi ) Beban (+ / -) Fasa S = 367 .300 VA) = 0.95 Tegangan Fasa R = 221 volt Tegangan Fasa S = 228 volt Tegangan Fasa T = 224 volt Eeban Fasa R = 480 Ampere Eeban Fasa S = 270 Ampere Eeban Fasa T = 350 Ampere Arus Netral = 54 Ampere Daya Tersambung Gardu = 1.200 VA per Pelanggan ) KWh Pelanggan Yang Dipilih (untuk DT 450 VA) = 0.234 x 1.480 = .300/1000 x 0.95} = 0.040 / 1.350 = + 17 Ampere ( harus ditambah ) Daya Tersambung Yang Harus Dipindah (DTp) = (113 x 221 ) / 0.300 VA = 82 Titik Sambung ( jika dipilih 1. d.000 VA Beban Puncak (BP) = (480x221)+(270x228)+(350x224) = 106.

Beban Fasa R .3.Tegangan Fasa T = = .Beban Fasa T 11 .) Fasa T = = = = = = = 280.Tegangan Fasa S 7 .Power Factor (Cos Phi) = = 5 .267 417 -33 17 17 VA Ampere Ampere Harus Dikurangi Ampere Harus Ditambah Ampere Harus Ditambah Beban harus dikurangi jika bernilai negatip ( .300 VA) = kWH Pelanggan yang dipilih (untuk DT 2.57 0.Kapasitas Trafo 2 .Arus Netral 12 .050.000 kWh 95.1 PERHITUNGAN PENYEIMBANGAN BEBAN 1 .000 Ampere Ampere Ampere Ampere VA 13 14 15 16 17 18 19 Beban Puncak ( BP ) Load Factor ( LF ) Demand Factor Gardu ( DFGrd ) Beban Rata .Beban Fasa S 10 .95 221 Volt 228 Volt 224 Volt 4 .600 14.200 VA) = 0.) Fasa R Beban ( +/.237 13.234 x 2.65 x 720 jam = 241 kWh 3.) -27.250 0.000 kWh 0.200 VA) = Fasa R Fasa S Fasa T -33 17 17 A Beban harus dikurangi jika bernilai negatip ( .) Fasa S Beban ( +/.300 VA per Pelanggan) -13 6 6 Titik sambung (jika dipilih 2.988 VA -61 32 31 Titik sambung (jika dipilih 450 VA per Pelanggan) -31 16 16 Titik sambung (jika dipilih 900 VA per Pelanggan) -21 11 11 Titik sambung (jika dipilih 1.rata ( Brt ) Beban ( +/.) 20 21 22 23 24 25 26 27 28 BEBAN FASA YANG HARUS DIPINDAH = Daya Tersambung yang harus dipindah (DTp) = Jumlah titik sambung yang harus dipindah (JTSp) = Jumlah titik sambung yang harus dipindah (JTSp) = Jumlah titik sambung yang harus dipindah (JTSp) = Jumlah titik sambung yang harus dipindah (JTSp) = kWH Pelanggan yang dipilih (untuk DT 450 VA) = kWH Pelanggan yang dipilih (untuk DT 900 VA) = kWH Pelanggan yang dipilih (untuk DT 1.200/1000 x 0.Tegangan Fasa R 6 .200 VA per Pelanggan) 50 kWH 99 kWH 143 kWH 243 kWH .53 KWh Pelanggan Yang Dipilih (untuk DT 2.Daya tersambung gardu 8 9 = = = = = 450 400 400 54 1.kWh jual (TUL III-09) = = = 315 kVA 110.kWh salur MDI 3 .

200 1.200 - 2.000 KWH : 12.200 - 900 2.54 3.400 - 4.200 13.200 4.300 225 113 2.000 KWH : 108.00 % ) : CUCAK ROWO : TAMAN BURUNG : JANUARI / 2007 : UPJ KELAPA PUAN / APJ GANESHA JUMLAH FASA (1/3 ) 4 TERSAMBUNG PADA FASA DAYA ( VA ) 5 KWH 6 R ( VA ) 7 S ( VA ) 8 T ( VA ) 9 KETERANGAN 10 NO.650 325 450 2. 1 NAMA PELANGGAN 2 ID PELGN 3 I 1 2 3 4 5 II 1 2 3 4 5 III IV JURUSAN I Amin Suharmono Bambang Sukamto Charles Hutagalung Dedi Rahmat «««««« dst JURUSAN II Agusman Taher Budi Sulistyo Cucu Suwanda Dadang Gumilang «««««« dst JURUSAN III JURUSAN IV DAN SETERUSNYA 1 1 3 1 450 900 6.400 450 4.000 KWH ( 10.300 1 3 1 1 2.3.400 900 - .2 NAMA GARDU JENIS KONSTRUKSI JUMLAH JURUSAN LOKASI KAPASITAS TRAFO TOTAL KWH SALUR ( MDI ) TOTAL KWH JUAL SUSUT KWH ( PROSEN ) PENYULANG GARDU INDUK BULAN / TAHUN UNIT : PONDOK ASRI SEKALI ( PAS ) : TEMBOK : 4 ( EMPAT ) : JLN.300 113 225 1.200 900 450 550 3.600 1. SUKA RAPIH .KOTA BERSIH : 400 KVA : 120.

thd N Arus 221 228 224 VA 454 454 454 VA rata2 Arus rata2 + / .000 0.387751 94.789 55 28 19 11 104.2820323 60.497 454 (10) (2.333 34 17 12 7 23.300 R SUMBU Y ( R ) SUMBU Y ( S ) SUMBU Y ( T ) SUMBU X ( R ) SUMBU X ( S ) SUMBU X ( T ) TOT SUMBU Y TOT SUMBU X N 150 40 35 9.378) (39) (19) (13) (8) 104.490 KAP TRF 315.437 24.696 431.437 24.497 454 32 7.079011 0 0 0 - R R T S SUMBU Y ( R ) SUMBU Y ( S ) SUMBU Y ( T ) SUMBU X ( R ) SUMBU X ( S ) SUMBU X ( T ) TOT SUMBU Y TOT SUMBU X N SUMBU Y ( R ) SUMBU Y ( S ) SUMBU Y ( T ) SUMBU X ( R ) SUMBU X ( S ) SUMBU X ( T ) TOT SB Y TOT SB Y N T S ASUMSI COS Q # 1 (KAPASITIF MERATA DISEMUA PHASE) Phase R S T N TOTAL Teg.000 100 20 4.3877508 94.490 + / .ARUS + / .000 1.819199 130.213) (17.720 313.000 + / .4 ASUMSI COS Q = 1 Phase R S T N TOTAL Teg.thd N Arus 230 230 230 VA 422 477 464 138 97.ARUS + / .39190763 140.378) (39) (19) (13) (8) 104.500) (38.223) (7.213) (17.300 431.9588167 313.411) (16) (8) (6) (3) PROSEN 30.17387652 344.49834435 T S ASUMSI COS Q # 1 (INDUKTIF MERATA DISEMUA PHASE) Phase R S T N TOTAL Teg.497 454 32 7.69463257 49.0790107 0 0 0 + / .600 15.ARUS + / .4051716 466.000 100 30 6.500 18.490 + / .78955714 ASUMSI COS Q # 1 (INDUKTIF TIDAK MERATA DISEMUA PHASE) Phase R S T N TOTAL Teg.300 R T S SUMBU Y ( R ) SUMBU Y ( S ) SUMBU Y ( T ) SUMBU X ( R ) SUMBU X ( S ) SUMBU X ( T ) TOT SUMBU Y TOT SUMBU X N 401.333) (85) (43) (29) (17) 23.4766014 -42.497 454 (23) (5.542 305.7852953 444.62177826 75 8.3217084 313.050.SAMBUNGAN RUMAH JIKA DIPILIH VA rata2 Arus rata2 + / .497 454 (10) (2.SAMBUNGAN RUMAH JIKA DIPILIH + / .DAYA + / .DAYA + / .411) (16) (8) (6) (3) PROSEN 10.720 313.ARUS 101.100 69.thd N Arus 230 230 230 VA 150 80 70 75 34.050.000 DAYA TSB 1.5764056 310.542 KAP TRF DAYA TSB DF 100.3919076 140.DAYA TSB 450 VA/SR 900 VA/SR 1300 VA /SR 2200 VA/SR 104.660254038 75.847 454 PROSEN 0 305.55 3.000 DF 0.785295 444.4983444 69.050.000 DF 0.334 103.18861E-15 69.DAYA + / .DAYA TSB 450 VA/SR 900 VA/SR 1300 VA /SR 2200 VA/SR 315.779658 337.050.223) (7.64722567 25.497 454 (23) (5.490 KAP TRF 315.DAYA TSB 450 VA/SR 900 VA/SR 1300 VA /SR 2200 VA/SR 23.7796584 337.710 106.710 106.2937154 303.293715 303.3.000 .000 DAYA TSB 1.847 454 101.SAMBUNGAN RUMAH JIKA DIPILIH VA rata2 Arus rata2 + / .900 23.DAYA TSB 450 VA/SR 900 VA/SR 1300 VA /SR 2200 VA/SR 104.thd N Arus 230 230 230 VA 422 477 464 50 97.DAYA + / .789 55 28 19 11 104.000 100 (50) (11.847 454 101.000 51 26 18 10 PROSEN 75.400 16.000 DAYA TSB 1.SAMBUNGAN RUMAH JIKA DIPILIH VA rata2 Arus rata2 + / .060 109.060 109.512 101.000 KAP TRF 315.3458499 99.

9 MAKA SDT Q = JIKA TAN Q = 0.95 MAKA SDT Q = SIN Q = 0.19487 30 dr CARA CEPAT MENYEIMBANGKAN BEBAN PADA GARDU DISTRIBUSI TIM SUSUT & TIM OUTSOURCING PEMELIHARAAN TERPADU PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA BARAT DAN BANTEN .98721 0.84193 18. MAKA A X COS 60 = 64.9 MAKA SDT Q = JIKA A = 1.5 JIKA JIKA JIKA JIKA COS Q = 0.56 JIKA SIN Q = 0.15807 26.56505 41.5 MAKA SDT Q = COS Q = 0.9 MAKA SDT Q = COS Q = 0.5 MAKA SDT Q = JIKA TAN Q = 0.5 MAKA SDT Q = 60 25.

57 3. PENDAHULUAN Ketidak seimbangan beban pada gardu distribusi. d. pada umumnya terjadi pada gardu distribusi sistim 3 (tiga) fasa atau 2 (dua) fasa.4 a. Ketidak seimbangan beban pada gardu distribusi dapat diketahui atau diindikasikan dari adanya arus yang mengalir melalui titik netral (pada hubungan bintang atau pada titik tengah) karena adanya perbedaan besarnya arus yang mengalir pada masing-masing fasa maupun perbedaan power factor (Cos Phi) pada masing-masing fasa. c. b. capasitif dan campuran dari ketiganya dan coincidence factor yang berubah-ubah) Walaupun tidak seratus persen seimbang. cepat dan praktis untuk dapat meminimalisir dampak negatif dari ketidak seimbangan tersebut. maka ketidak seimbangan beban pada gardu distribusi dapat diperkecil (diminimalisir) dengan cara yang sederhana. Ketidak seimbangan beban pada gardu distribusi terjadi karena pembagian beban pada masing-masing fasa yang kurang merata dan ditambah lagi dengan sifat/karakteristik beban dari masing-masing pelanggan yang berubah-ubah pada setiap saat (resitif. induktif. Ketidak seimbangan beban pada gardu distribusi dapat mengakibatkan : sering putusnya pengaman gardu (baik pengaman trafo sisi primer maupun pengaman jurusan dari JTR). . e. menimbulkan kerusakan pada trafo karena adanya arus nol yang dapat menimbulkan panas tambahan pada trafo dan juga menimbulkan susut tambahan pada hantaran / jaringan netralnya.

d.1 ISTILAH-ISTILAH YANG DIPERGUNAKAN a. biasanya didapat dari hasil pengukuran pada saat beban puncak. DAYA TERSAMBUNG GARDU = total daya tersambung dari seluruh pelanggan yang dilayani dari gardu distribusi tersebut dalam satuan Ampere atau VA atau kVA. FAKTOR PERMINTAAN GARDU (Demand Factor) = adalah perbandingan beban puncak gardu dengan dengan daya tersambung gardu dalam satuan prosen ISTILAH-ISTILAH YANG DIPERGUNAKAN a. kWh salur biasanya diperoleh dari pembacaan kWh Meter MDI.4. BEBAN RATA-RATA GARDU = beban rata-rata dalam suatu periode yang diperoleh dari energi kWh yang dikeluarkan dari gardu tersebut dalam periode tertentu dibagi dengan jumlah jam dalam periode yang bersangkutan (misalnya bulanan) dalam satuan kW atau kVA (kVA = kW/ Faktor Daya). b. 3. KWH JUAL GARDU = total kWH terjual kepada pelanggan yang dilayani dari gardu yang bersangkutan. JAM NYALA GARDU = jumlah jam yang dihitung dari jumlah kWh Jual Gardu dibagi dengan daya tersambung gardu beban (kVA).58 3. f. b.2 .4. BEBAN PUNCAK GARDU = beban tertinggi dalam suatu periode yang terukur di gardu tersebut dalam satuan Ampere atau kVA. c. KAPASITAS GARDU = kapasitas terpasang dari trafo distribusi yang terpasang dalam gardu distribusi tersebut dalam satuan Ampere atau kVA. d. FAKTOR BEBAN GARDU = beban rata-rata gardu dibagi dengan beban puncak gardu dalam satuan prosen. c. KWH SALUR GARDU = total kWh yang disalurkan dari gardu ke jaringan yang dilayani dari gardu tersebut. e. FAKTOR DAYA (COS Phi) GARDU = perbandingan antara daya aktif (kW) dengan daya semu (kVA) dalam satuan prosen.

Mencakup terhadap beban Gardu Total termasuk beban masing-masing jurusan dan beban pada setiap percabangan JTR yang diukur pada saklar induk (LBS) dan pada masing-masing jurusan serta percabangan JTR pada saat beban puncak (beban tertinggi).59 e. i. g. h. Mencakup hanya terhadap beban total Gardu yang diukur pada saklar induk (LBS) pada saat beban puncak (beban tertinggi). BEBAN RATA-RATA PER FASA MASING-MASING PERCABANGAN = beban total seluruh fasa pada masingmasing percabangan dibagi dengan jumlah fasa yang ada di masing-masing percabangan yang bersangkutan. Mencakup terhadap beban Gardu Total termasuk beban masing-masing jurusan yang diukur pada saklar induk (LBS) dan pada masing-masing jurusan pada saat beban puncak (beban tertinggi). j.3 SKALA PRIORITAS PENYEIMBANGAN BEBAN a. c. KELEBIHAN BEBAN FASA = beban fasa yang nilainya lebih besar dari beban rata-rata fasa dikurangi dengan beban rata-rata KEKURANGAN BEBAN FASA = beban fasa yang nilainya lebih kecil dari beban rata-rata fasa dikurangi dengan beban rata-rata 3. . f.4. BEBAN RATA-RATA PER FASA = beban total seluruh fasa dibagi dengan jumlah fasa yang ada. b. BEBAN RATA-RATA PER FASA MASING-MASING JURUSAN = beban total seluruh fasa pada masingmasing jurusan dibagi dengan jumlah fasa yang ada di masing-masing jurusan yang bersangkutan. JAM NYALA PELANGGAN INDIVIDU = jumlah jam yang dihitung dari jumlah kWh Jual masing-masing pelanggan dibagi dengan daya tersambung (kVA) masing-masing pelanggan yang bersangkutan.

Prioritas ini adalah kondisi yang paling ideal. Beban Masing-masing Fasa. baik total maupun perjurusan atau percabangan. Faktor Permintaan.4 PROSES PENYEIMBANGAN BEBAN 1. total maupun perjurusan atau percabangan dan Power Factor ( Cos Phi ). . Beban Titik Netral. total maupun perjurusan atau percabangan. Daya Tersambung Gardu.60 d. Mencakup terhadap beban Gardu Total termasuk beban masing-masing jurusan dan beban pada setiap percabangan JTR yang diukur pada saklar induk (LBS) dan pada masing-masing jurusan serta percabangan JTR pada saat beban puncak (beban tertinggi) maupun pada saat diluar waktu beban puncak (beban terrendah atau beban rata-rata). DIAGRAM SKALA PRIORITAS PENYEIMBANGAN BEBAN JURU SAN T RAFO JURU SAN JURU SAN LBS JURU SAN PERCABANG AN JURU SAN T RAFO JURU SAN JURU SAN LBS JURU SAN PERCABANG AN PERCABANG AN PERCABANG AN PERCABANG AN PERCABANG AN PERCABANG AN PRIORITA 1 S PRIORITA 2 S JURU SAN T RAFO JURU SAN JURU SAN LBS JURU SAN PERCABANG AN PERCABANG AN PERCABANG AN PRIORITA 3 S T RAFO JURU SAN JURU SAN JURU SAN LBS JURU SAN PERCABANG AN PERCABANG AN PERCABANG AN ADALAH TIT IK UKUR PENYEIMBANG AN BEBAN PRIORITA 4 S KETERANGAN : 3.4. Kumpulkan data-data : Beban Puncak Gardu.

Hitung jumlah beban yang lebih dan yang kurang dari masing-masing fasa terhadap beban rata-rata per fasa. Hitung besarnya daya tersambung dari masing-masing fasa yang harus dikurangi dan yang harus ditambah.61 2. Buat pemberitahuan tentang rencana penyeimbangan beban kepada seluruh pelanggan yang tersambung di gardu yang bersangkutan (kemungkinan adanya pemadaman sementara). Hitung Beban Rata-rata per fasa. 7. 900 VA. dengan cara membagi hasil hitung pada butir 3. baik untuk total. 1300 VA atau 2200 VA dsb. dengan angka Faktor Permintaan (demand factor) di masing-masing fasa yang bersangkutan. 8. per jurusan atau percabangan. 4. 3. bila di gardu tersebut memliki sambungan pelanggan 3 . 5. Laksanakan penyeimbangan beban dengan memindahkan sambungan rumah (SR) dari fasa yang berlebih kepada fasa yang kurang. baik untuk total maupun per jurusan atau percabangan. baik total maupun masing-masing jurusan atau percabangan. Untuk perhatian. 6.) Jika memiliki data pelanggan per gardu cukup lengkap. Hitung jumlah sambungan rumah (SR)/Titik Sambung yang akan dipindahkan (TSp). dengan cara membagi jumlah daya yang akan dipindahkan dengan satuan daya tersambung masing-masing pelanggan (450 VA. dengan cara memadamkan sementara fasa yang berlebih (bila di jaringan tidak ada tandatanda fasa atau tidak memiliki alat pendeteksi fasa) untuk mempermudah pengalihan beban. maka untuk lebih akuratnya penyeimbangan beban tersebut perlu dikorelasikan antara titik sambung yang akan dipindahkan (TSp) dengan nilai DEMAN FACTOR masing-masing pelanggan yang memiliki kesamaan atau kemiripan (yang mendekati) dengan nilai DEMAND FACTOR total gardu.

Periksa dan teliti hasilnya dengan pengukuran beban pada setiap fasa secara total dan per jurusan di gardu maupun di percabangan jaringan TR.) berarti pada fas a ter ebut harus dikurangi ( BFt ) s ( Ampere ) Demand Facto Gardu (DFGrd) = r Beban T otal Gardu (BT Grd) ( dalam Ampere ) x T egangan Gardu ( dalam Volt ) Daya T ersambung Pelanggan Gardu (DT Grd) (dalam VA ) P Beban Fasa Yang Harus Dikurangi (`dalam Amp ere ) x T egangan ( dalam Volt ) Daya T ersambung Yang Haru Pindah ( DT ) = s p Dem and Factor G ardu ( DFGrd ) ( dalam VA ) Daya T ersambung Yang Haru Pindah ( dalam Volt Ampere ) s Jumlah T itik Sambung Yang Harus Pindah ( JT p ) = S Daya T ersambung Masing Pelanggan Yang Dipilih ( VA ) 2 (T itik Sambung ) KW h Pelanggan Yang Sesuai ( EP s ) = DFGrd x DT x LF x Jam p - ( dalam kW h ) DFGrd = Demand Fac tor Gardu DTp = DayaT ersambung Pel anggan yang akan dipilih untuk dipi ndahkan ( k VA atau VA / 1000 ) LF = Load F tor pada Gardu ac Jam = jumlah jam dal am satu periode.Jika has ilnya positip ( + ) berarti pada fas a ter ebut harus ditambah ( s BFk ) . beban sudah hampir seimbang. mis al 1 bulan = 720 jam .Jika has ilnya negatif ( . S.62 fasa maka cara ini perlu kehati-hatian (pelanggan yang memiliki beban 3 fasa harus dipadamkan total) 9. RUMUS-RUMUS YANG DIPERGUNAKAN Beban Fasa R + Beban F asa S + Beban Fasa T Beban Rata-rata ( Brt ) = 3 ( Ampere ) Nilai Beban T ambah (+) atau Kurang (-) = Beban Rata-rata ( Brt ) ± Beban Fasa ( R. T ) . Bila hasilnya optimum. maka pekerjaan dapat dinyatakan selesai. 10.

23 0 V olt AC .000 / 720) / {(246.65 x 720 j am = 142 kWh KWh PelangganYang Dipilih (untuk DT 2. 14 Oh m In = 75 A mp ere Perhitu ng an s usut : Total Da ya I npu t = ( 1 40 A + 9 0 A + 70 A ) x 230 V = 69.000 = 0. 52 %) -Susut p ada JTR fas a S = ( 8 0 x 80 x 0 .240 VA -Susut p ada JTR fas a R = ( 1 50 x 15 0 x 0.234 x 1.722 VA ) / 450 VA = 237 Titik Sambung ( j ika dipilih 450 Jumlah Titik SambungYang Harus Dipindah (JTSp) = (106.95 -Tegangan Fasa R = 221v olt -Tegangan Fasa S = 228 v olt -Tegangan Fasa T = 224 volt -Eeban Fasa R = 480 Ampere -Eeban Fasa S = 270 Ampere -Eeban Fasa T = 350 Ampere -Arus Net ral = 54 Ampere -Daya Tersambung Gardu = 1.14 %) Total S usut (R+S+T+N) = 7548 V A / 69 .95} = 0.2 Oh m Ir = 150 A mper e B = 30 0 V 1 .200 VA) = 0.000 VA Beban Puncak (BP) = (480x221)+(270x228)+(350x224) = 106.040 VA Load Factor (LF) = (110.722 VA ) / 900 VA = 118 Titik Sambung ( j ika dipilih 900 Jumlah Titik SambungYang Harus Dipindah (JTSp) = (106.973 VA) / 0. t A x 0.12 A It = 70 A mp ere B = 15 0 V 3 .480 = .080+61. 94 % .234 x 900/1000 x 0.113 Ampere ( harus dikurangi ) Beban (+ / -) Fasa S = 367 .234 Beban Ratarata (Brt) = (480 + 270 + 350) / 3 = 367 Ampere Beban (+ / -) Fasa R = 367 .300 Jumlah Titik SambungYang Harus Dipindah (JTSp) = (106.00 0 V A x 10 0 % = 1 0.234 x 2. 28 0 VA (1.234 = (24.350 = + 17 Ampere ( harus ditambah ) Daya Tersambung Yang Haru Dipindah (DTp) = (113 x 221 ) / 0.040 / 1.8 5 %) -Susut pa da JTR f asa S = ( 7 0 x 70 x 0.300/1000 x 0. 000 VA Total Da ya B eba n = ™ {(23 0 V .65 x 720 j am = 98 kWh KWh PelangganYang Dipilih (untuk DT 1.300 VA = 82 Titik Sambung ( j ika dipilih1.12 A Zn = 0.00 A Is = 80 A mpere B = 17 0 V 2 .2 O hm Zs = 0.560+78400 = 246.722 VA s Jumlah Titik SambungYang Harus Dipindah (JTSp) = (106.234 = 106.722 VA ) / 1.234 x 450/1000 x 0.050.23 0 V olt AC .65 x 720 j am = 241 kWh VA per Pelanggan ) VA per Pelanggan ) VA per Pelanggan ) VA per Pelanggan ) SKEMA KONDISI PEMBEBANAN TIDAK SEIMBANG AC .200 VA = 48 Titik Sambung ( j ika dipilih2.200/1000 x 0.63 CONTOH PERHITUNGAN : -Kapasitas Trafo = 315 kVA -KWh Salur (MDI) = 110.2 Oh m Zt = 0.040 / 1000) x 0.300 VA) = 0.2 ) = 1.4 2 %) -Susut pa da JTR Ne tral = ( 75 x 75 x 0. 2 O hm)) x (Ir.270 = + 97 Ampere ( harus ditambah ) Beban (+ / -) Fasa T = 367 .000 kWh UL -Power Faktor (Cos Phi ) = 0.(Ir.23 0 V olt Zr = 0.s. t A)} = 62 .s.000 kWh -KWh Jual (T III-09) = 95.722 VA ) / 2.65 Demand Factor Gardu (DFGrd) = 246.50 0 V A (6.65 x 720 j am = 49 kWh KWh PelangganYang Dipilih (untuk DT 900 VA) = 0. 14) = 7 88 VA (1 . 2 ) = 9 80 VA ( 1.2 ) = 4 .050.200 KWh PelangganYang Dipilih (untuk DT 450 VA) = 0.

000 VA x 100 % = 8. 00 0 V A (2.2 ) = 2.00 0 V A) x 100 % = 8.0 0 A Is = 10 0 A mp ere B = 21 0 V 2 .24% ) Pencapaian Kinerja susut 2006 dan strategi pengendalian susut 2007 . 70 % KESIMPULAN : PEN YEIMBANGAN B EBAN PADA KASUS INI DA PAT MENURUNKA N ANGKA SU SUT DARI 7.00 %) Total S usut (R+S+T+N) = (6.1 4) = 0 VA (0.0 00 VA (2 .23 0 V olt AC . 14 Oh m In = 0 A mpere Perhitung an s usut : Total Da ya I nput = ( 1 00 A + 100 A + 100 A ) x 230 V = 69.2 Ohm)) x (10 0 A)} = 63. 00 0 V A ± 63 .0 00 VA Total Da ya B eba n = 3 x {(23 0 V .9 0 %) -Susut p ada JTR fas a S = ( 100 x 10 0 x 0.0 0 A It = 1 00 Ampere B = 21 0 V 3 .(100 A x 0.90 %) -Susut p ada JTR fas a T = ( 100 x 100 x 0 . 90 %) -Susut pa da JTR Ne tral = ( 0 x 0 x 0. 2 ) = 2.2 Ohm Zt = 0.54 VA MENJAD 6.00 0 V A) / 69.64 SKEMA KONDISI PEMBEBANAN SEIMBANG AC .54 VA AT 8 AU 2.0 0 A Zn = 0.23 0 V olt Zr = 0.2 O hm Zs = 0.000 VA ( B 8 I ERK URANG 1.2 ) = 2. 70 % -Susut p ada JTR fas a R = ( 100 x 1 00 x 0.2 Ohm Ir = 100 A mper e B = 21 0 V 1 .000 VA Total S usut = (69. 000 VA (2.000 V A / 69 .23 0 V olt AC .

baik kegiatan teknis atau administrasi /non teknis 1. a. PLN ( PERSERO) DISTRIBUSI JAWA BARAT DAN BANTEN 1.65 PT. Internal : adalah untuk meningkatkan kinerja APJ .4.4 PROGRAM KERJA TERPADU Apa itu program kerja terpadu ? Program Kerja Terpadu adalah suatu upaya yang mengkoordinir kegiatan penyelesaian tugas dari hulu sampai hilir secara tuntas.1 Tujuan Program Kerja Terpadu.

b.4. pengendalian susut dan tunggakan. mengurangi jumlah kerusakan material akibat gangguan 3. External : adalah untuk meningkatkan : a. Meningkatkan pendapatan PLN melalui peningkatan penjualan kWh. 1.2 Latarbelakang. 2. Untuk meningkatkan keandalan pasokan energi listrik pada pelanggan.4. 3. tetapi hasilnya kurang optimal. Sering terjadi ketidak sinkronan penyelesaian pekerjaan teknik dengan nonteknik. Pelayanan pada masyarakat konsumen 1. 1. Belum memiliki data teknik dan non teknik dengan tingkat akurasi yang memadai (sesuai kebutuhan bisnis PLN) 2. . Mutu dan kendalan penyaluran energi listrik pada konsumen b. Memiliki data teknik dan Data induk langganan (DIL) yang dapat menunjang proses bisnis PLN 4.66 khususnyadan kinerja Distribusi Jawa Barat dan Banten.3 Sasaran Sasaran yang ingin di capai program kerja terpadu adalah : 1. 4. Belum terdapatnya mekanisme kerja yang dapat menyelesaikan pekerjaan mulai dari hulu sampai hilir secara bersama-sama Banyak pekerjaan yang sudah dikerjakan oleh masing-masing bidang.

4.4. Kesiapan anggaran b. Jaringan Tegangan Rendah (JTR) dan Sambungan Rumah (SR) d.4. Penurunan tunggakan Keuangan Bidang a. Administrasi/akutansi.6 .5 1. Lemari bagi/rak TR c. APP dan kelengkapannya (segel dan Barcode) Bidang Niaga : a.4. Pemetaan susut dan Peta pasar e.4. Perbaikan Data Induk Langganan (DIL) b. 1. Pemutusan sementara dan bongkar rampung f.4 Lingkup Pekerjaan : Agar pekerjaan bisa diselesaikan secara tuntas maka program kerja terpadu di fokuskan pada: 1.4. Bidang Perncanaan a.1 Bidang Distribusi : a. Pengembangan CIS Bidang SDMO a. Peta Rute Baca Meter (RBM) c. Tenaga kerja(Pegawai) b.4. Outsourcing Pelaksana Tugas melibatkan antara lain.4.4.3 1.2 1.4 1.4. Kwalitas hasil baca meter d. Gardu Distribusi b.67 1.4.4.4. Teknik imformasi b.

Cut out/ material LBS d.OAK 1. f.1. b. a. d.4. Kabel twisted(TIC) e.1 Menyiapkan material pengganti. Jumlah gangguannya banyak c. Minyak Trafo c.5. a. Tim pemeliharaan Gardu dan Lemari Bagi .5 Persiapan Tugas Bidang . Susutnya tinggi b.68 a. h. Tarfo Arus/CT (TM dan TR) dan Trafo Tegangan (PT) f. Box lemari bagi dan kunci gembok. Beban over load d. Tim Pemutusan 1. i.4. e.4. Groun Plat dan NH Fuse. MCB bermacam ukuran daya .4.1. Klem dan sepatu kabel (kabel skun) g. c.1 Bidang Distribusi : Menyiapkan data Gardu berdasarkan pada: a.5. Trafo Distribusi b. Asman Bidang terkait (APJ) SPV Bidang terkait (UPJ) Tim PPTL Tim Pemeliharaan Gardu dan Lemari bagi TR Tim Penyambungan Tim Survay dan pembuatan peta lokasi Gardu dan RBM g. Tim PPTL. KWh meter ( 1 dan 3 phasa).5.2 Menyusun Tim pelaksana tugas. Pemeliharaan sebelumnya 1. 1. b.

5.4 1. Tim Bongkar pasang APP berikut penyambunganya.5. a.2 Bidang Niaga. Daftar nama pelanggan per Gardu (daya.5.5. b.4.5.3 Menyiapkan Tim pemutusan 1.4. d. 1. Menyiapkan anggaran yang di perlukan bidang terkait.2 Menyiapkan data Tunggakkan per Gardu 1.4. tarif) c.4. Tim Survai dan pembuatan peta RBM 1. Menyiapkan prasarana penunjang lainya(transfortasi dan akomudasi) 1. DIL per Gardu Distribusi b. . Menyiapkan surat-menyurat termasuk pengumuman pemadaman c.2.6. a. Lembaran Bardcode yang sudah diberi nama pelanggan d.2.1 Menyiapkan data : a. Tugas Pelaksana : 1.4.4.4.3 Bidang Perencanaan.69 c. Menyiapkan progran IT untuk menunjang bidang Bidang KEU Bidang SDM dan KEU. Menyiapkan progran IT untuk menunjang bidang Bidang Niaga b.2.5. Tim Perbaikan data Gardu dan Peta lokasi Gardu. 1.6.4. Menyiapkan SDM(rekanan) tambahan jika diperlukan bidang terkait d.1 Pelaksana Tugas Bidang Distribusi.

2 Melaksanakan pemeliharaan Lemari Bagi Gardu a. Buat peta lokasi . Melakukan pengukuran beban Trafo waktu beban puncak b.70 Tim Pemeliharaan Gardu tugasnya meliputi antara lain: 1. Bagi Gardu d. Mengganti kabel skun TM jika diperlukan.6.1 Melaksanakan pemeliharaan gardu a. Memeriksa secara visual b.4.dsb. g. Mengganti cut out dan atau LBS jika diperlukan f. kelainan/kerusakan pada Box Lemari c. Sesuaikan data NH fuse dengan .1. Buat laporan masing-masing item pekerjaan 1.1. Melakukan pengujian grounding trafo dan memperbaiki / mengganti jika diperlukan i. Melakukan penggantian minyak trafo jika diperlukan e. Memeriksa/mengganti groun plat e. Mengambil sempel minyak trafo untuk di tes tegangan tembusnya .alamat penempatan dan data teknik Gardu j. Mengganti kabel skun TR jika diperlukan f.4. d.6. Melakukan pengujian (megger) gulungan trafo TM TR h. Memeriksa secara visual kelainan/kerusakan pada gardu c.

pada ke tinggian minimal 150 Cm maksimal 180 Cm dari lantai c. i.6. Buat peta lokasi pelanggan (Peta RBM) lengkap nama jalan dan tanda-tanda yang mudah dikenal(mesjid ATTaqwa. tentang sambungan rumah. Setiap penggantian APP buat berita acaranya lengkap dengan stand cabutnya. a. a. kebutuhan daya perjurusan. Buat laporan masing-masing item pekerjaan 1. Periksa Height Boom /Saklar induk jika perlu lakukan penggantian. 1.3 Melaksanakan Pemeliharaan SR dan APP.4. sebagai bahan perubahan DIL. Lakukan penggantian APP dan harus dipasang pada tempat strategis (menghadap ke jalan umum).71 g.4.6. pombensin dsb). h. b. b. SR (sambungan rumah) harus terlihat transfaran (keluarkan dari loteng bangunan) sesuai dengan SE Noa a a a a .1. APP dipasang di luar ruangan. Lakukan pencatatan ulang data pada meter dan cocokan dengan data di rekening.2 Pelaksana Tugas Bidang Niaga. j. gunakan klem wight sesuai fungsinya. .

jika diperlukan setiap mendapatkan kWh numpuk buatkan SPH.tidak boleh dihapus). Pembentukan Tim Terpadu Identifikasi Pekerjaan Prediksi jumlah SDM Persiapan Anggaran 2 1. TAHAPAN PROGRAM TERPADU 1.plg /No . Survay visual Buat Pemberitahuan Ke masyarakat Rencana Kegiatan (Radio. 3. Himpun data kWh Numpuk dan atau kWh stand tunggu.72 c. 4. d. 2. CatatNo. Catat Daya Kontrak (rekening) 5a . e.dsb) Persiapan Material Pengganti Persiapan Peralatan Kerja Persiapan transfortasi dan Akomudasi 4a Penentuan Gardu/Trafo (Tahap 3) Gardu/Trafo yg Susutnya >10 % Gardu/Trafo yg tunggakan RP Besar Gardu/Trafo yg Pemakaian kWh rendah Gardu/Trafo yg sering Gangguan Gardu/Trafo yg banyak pengaduan plg 3 Tim PPTL * Perisa semua plg per jurusan * Lakukan sesuai aturan PPTL * Segel kembali APP yg sdh diperiksa * Buat BA Pemeriksaan APP plg Tim Data Pelanggan 1.(catatan : jika terjadi perubahan data lama cukup di beri tanda garis lurus .Kontrak 4. Lakukan perbaikan data induk langganan sesuai data lapangan (hasil petugas survay data) Bandingkan data DIL yang lama(yang ada di kantor) dengan data yang baru dari lapangan. 2. Koran. Pinjam Rekening di Plg 2. 4. untuk di masukan ke pembuat laporan TUL III-09. Catat Nama plg direkening 3. 3. 6. 5.

. Nama dan nomor pelanggan diberikan kepada petugas pembuat barcode. Data peta lokasi pelanggan berikan pada petugas pembuat peta RBM c. 3. b.73 Catatan 1. Hasil pendataan ulang yang sudah akurat a. Spv Sambung (untuk pembuatan PDL dan mutasi pelanggan) Data teknis lainya berikan pada pelaksana tugas perbaikan DIL. Data kWh stand cabut berikan pada Spv Cater( untuk menetukan kWh numpuk/stand tunggu. pembuatan SPH.) d.

74 KERJA TERPADU NIAGA DISTRIBUSI OSDM-KEU P ROGRAM KE RJ A TERP AD U PEMBENTUKAN TIM UNSUR DIST UNSUR NIAGA TIM SURV AI G ARDU TIMSURVAI PLG TIM SURV AI LSB TIM PP TL TIM H AR G ARDU TIM H AR LS BOARD TIM H AR AP P & SR TIM DIL TIM TUSBUNG TIM TUNGGAK AN TIM HIMPUN LAP TIM STAND KWH TIM K AL SDM & TR ANS TIM ANGG AR AN UNSUR OSDM KEU TIM RBM TIM KWH MACET ANALISA & KOO RD INASI .

TIM P2TL 2.75 PENGORGANISASIAN KERJ A TERP ADU 1 P ERSIAPAN UNSUR B IDANG 1. TIM S URV AI GARDU 3. P EMBAGIAN TUGAS SESUAI BIDANGNYA 2 OPERASIONAL 1. TIM S URV AI PELANGGAN TINDAK LANJUT 3 DATA SURVAI PROSES P2TL MAT ERIAL DATA P ELANGGAN . P EMBENTUKAN TIM KERJA 2.

76 4 TINDAKLANJUT TIM HAR GARDU TARFO DIST TIM HAR DIL TIM HAR APP & S R 5 TINDAK LANJUT PELAPORAN TIM HAR GARDU TRAFO TIM HAR APP & SR TIM HAR DI L .

Tunggakan per gardu 9. Pemutusan sementara dan bongkar rampung 10. berikutnya secara bersamaan Tim Pemeliharaan Gardu.7 Langkah Operasional. diharapkan selesai tugas akan diperoleh : a. b.1 Selesai pada tahap persiapan secara bersamaan pelaksana tugas PPTL dan Tim Survay data.4.7. c.7. PPTL memeriksa seluruh pelanggan bersamaan dengan pelaksana pencatat data dan petugas pembuat peta lokasi pelanggan.2 Tugas Kelompok: Tim Har Gardu/Trafo . Tim Pemeliharaan SRdan APP melaksanakan tugasnya. PPTL akan menjaring semua pelanggaran termasuk sambungan liar dan PJU liar Petugas survay akan memperoleh data pelanggan yang akurat diantaranya : 1.77 1. KWh Ruangan tertutup 7. KWh pemakaian nol 5. mulai melaksanakan tugasnya pada gardu yang sudah di tentukan. KWh Rusak/macet 6. Data piutang ragu-ragu per gardu .4.4. Satu hari setelah Tim PPTL dan Tim Survay melakukan tugasnya. Tarif perpelanggan 2. KWh stand tunggu 4. 1. KWH numpuk 3. 1. Peta RBM 8.

2. 4. 4. 2. Tim Har SR dan APP . 12. 5. 8. 11. 3. Buat sket peta lokasi pelanggan 15. no Telp atau HP plg Catat ID Pelanggan/ No kontrak plg Catat Daya dan tarif pelanggan Catat Merk kWh meter plg Catat nomor kWh meter pelanggan Catat Tegangan input (V) kWh meter plg Catat I nominal (A) kWh meter Catat Putaran kWh meter Catat error klas kWh meter Catat tahun pembuatan dan pemasangan kWh meter Catat Stand pemakaian kWh meter Catat kelainan pada meter Pelanggan o Dist/Piringan tidak berputar/tersendat o Kaca meter Buram/pecah/cacat. 7. 2. 9.78 1. Tim 1. 3. 5. 4. retak o Kelengkapan APP (tutup mcb. 6. Buat Berita Acara Pemeriksaan Buat laporan Realisasi pemeriksaan Tindaklanjuti hasil temuan Pelanggaran Pendataan Pelanggan Usahakan dapat rekening di pelanggan Catat Nama Pelanggan dan penghuni persil Catat Alamat lengkap pelanggan. segel dan oak besi/kayu) o Terpasang diluar ruangan/dalam ruang tertutup. 6. 10. 7. 14. Tim 1. 13. Lakukan Pemeriksaan visual Lakukan Penggantian material yang rusak Lakukan pengantian material sesuai standar/kebutuhan Buatkan laporan realisasi pekerjaan Buat Laporan penggunaan material Buat Laporan Kerusakan material dan penyebabnya Buat usulan jika kerusakan belum teratasi PPTL : Lakukan Pemeriksaan sesuai standard PPTL. 3.

1. 6. Data DIL lama jangan dihapus (historical data DIL) 3.79 1. Buatkan BA retur material bongkaran. 2. Setiap melaksanakan tugas pemeliharaan diharuskan membawa material pengganti/ yang diperlukan sesuai dengan hasil pendataan tim Survai dan PPTL 2. misalnya untuk . 4. Pemeliharaan bisa dikerjakan secara bertahap sesuai dengan ketersediaan anggaran dan SDM. 3. 5. Buat laporan perolehan pemakaian kWh pelanggan dirinci o KWh numpuk/kurang tagih o kWh Stand Tunggu/ kelebihan tagih Catatan : 1. Tim IT/Lahta. Buat data DIL Baru sesuai dengan data hasil lapangan 2. Keluarkan SR dari ruang tertutup ke ruang terbuka/transfaran Keluarkan APP dari ruang tertutup dan pasang pada tempat yg strategis (menghadap ke jalan) Lakukan penggantian APP jika diperlukan Segel kembali OAK Buat Berita Acara penggantian APP atau pemindahan APP. Buat data Gardu/Trafo lengkap dengan data DIL tersambung pada Gardu tersebut(dibuat pergardu yang telah diperiksa) diantaranya: o Data Teknis Gardu/ Trafo o Jumlah Daya tersambung per jurusan dan total daya tersambung 5. Bandingkan data DIL lama dengan data DIL Baru 4.

APP dsb atau material yang memerlukan dana cukup besar di ditangguhkan 1. c. dapat mempertajam TO PPTL. pemakaian nol. h. i. f. KWh meter jelas peruntukannya dan tidak bisa dipindah pindah persil pemasangannya l. pencurian. KWh meter macet. .4. g. d.3 Keuntungan Pemeliharaan kerja Terpadu a. dsb.7. NK dapat diketahui Dapat mengetahui prosentase pembebanan trafo (untuk mengetahui trafo over load) Dapat mengetahui pendapatan operasional per Gardu Dapat mengetahu susut per Gardu Dapat memperbaiki DIL per Gardu Dapat membuat peta Rayon Memiliki peta lokasi pelanggan perjurusan (rayon cart) sehingga dapat mempermudah mencari alamat pelanggan yang gangguan. b. SR. k. e. mempermudah dan menghindari kesalahan pemutusan sementara /bongkar rampung.80 perbaikan /penggantian JTR. Kesiapan operasional trafo dapat diyakinkan Sambungan terminal tidak terjadi los kontak Kerusakan material dapat diketahui secara dini sebelum terjadi gangguan Dapat mengetahui jumlah pelanggan per gardu dan pertarif pada satu jurusan. j.

Seluruh pelanggan pada satu Gardu terperiksa Tim PPTL c. dan susut pada satu Gardu dapat di ketahui f. Pemakaian kWh Nol. Seluruh pelanggan pada satu Gardu memiliki data akurat baik dilapangan maupun pada DIL d. b.4. KWh numpuk. peta RBM per Gardu . sehingga anggaran pemeliharaan akan lebih terarah dan dapat lebih dioptimalkan. Material terpasang akan lebih banyak yang terpelihara. jumlah pertarif. Program penggantian meter periodik tidak diperlukan lagi e. Dengan demikian beberapa pekerjaan dapat dilaksanakan sekaligus.81 m. tunggakan/pemutusan sementara. bongkar rampung tuntas. Menghindari penggantian kWh meter periodik. yang sering disalah gunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab terutama untuk pelanggan yang memiliki kWh numpuk. sehingga pegawai di tuntut untuk peduli terhadap asset dan pendapatan PLN 1. Jumlah daya terpakai. jumlah pelanggan per phasa.7.4 Program Kerja Terpadu berdampak pada : a. Jika Gardu sudah dilakukan pemeliharaan secara tuntas maka pengawasan dan tanggung jawabnya bisa dibagi rata keseluruh pegawai.

82 g. seluruhnya akan terdata secara akurat. . b. d. f. e. Pendapatan . tunggakan. Mampu menjawab permasalahan kedepan yang lebih baik Terciptanya komunikasi dua arah yang seimbang saling menguntungkan para pelaku tugas Mutu dan keandalan operasional dapat lebih berkwalitas Akurasi data teknis dan administrasi pelanggan lebih dapat diandalkan. Saidi Saifi dan Tunggakan dikarenakan tidak terciptanya sistem kerja yang mampu menyatukan semua kegiatan kerja mulai dari hulu sampai hilir. KESIMPULAN Dari uraian tersebut diatas. bahwa penyebab belum optimalnya nilai kenerja Susut. c. Target-target yang menjadi tanggung jawab APJ/UPJ bisa tercapai Nilai kinerja APJ/UPJ lebih baik dari tahun lalu. susut dan biaya pemeliharaan per Gardu Akhirnya melalui program pemeliharaan terpadu di harapkan : a.

46 17.5 7.5 8.0 9.09 11.0 16.2006 20.28 2005 9.75 2004 9.0 Total Tanpa I-4 2003 14.00 11.5 Realisasi SUSUT Tanpa PSSD 2003 .83 3.37 Realisasi SUSUT dengan PSSD 10.47 10.0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des .5 9.0 8.0 12.5 10.0 6.0 18.0 14.27 2006 8.0 10.0 7.0 8.

79 PWK 5.44 KRW 4.68 DJBB 7.35 7.40 DPK 8.90 4.49 10.00 7.99 CJR 17.00 15.00 Susut (%) 10.51 BGR 9.00 15.42 8.00 Susut (%) 10.59 6.10 8.47 Target Realisas i Target Desember 2006 dan Realisasi Susut sd Desember 2006 tanpa I.00 20.00 15.63 20.98 9.84 Target Desember 2006 dan Realisasi Susut sd Desember 2006 Dengan I.08 5.43 BDG 6.4 25.00 - CRB 10.55 8.72 BTN 3.25 SM D 4.13 10.4 25.00 .65 MJA 7.88 9.00 5.90 BKS 9.04 SKI 12.63 CMH 6.88 TSK 15.00 11.00 20.41 GRT 9.50 3.

93 BTN 211.00 100.89 516.64 223.21 SKI 84.00 - CRB 222.79 142.55 CJR 80.00 Target Realisasi Realisasi Susut sd Desember 2006 500.00 300.09 PWK 109.50 DPK 123.92 304.96 BGR 370.44 172.28 SMD 72.48 54.00 400.00 400.88 82.00 500.80 BKS 445.12 CM H 124.49 71.00 Susut (GWh) 300.00 450.00 200.43 BDG 242.00 .83 127.31 KRW 108.85 Target Desember 2006 dan Realisasi Susut sd Desember 2006 600.00 150.74 TSK 136.12 125.00 100.56 198.95 146.45 138.00 Susut (GWh) 250.79 439.00 350.00 200.76 MJA 148.82 GRT 54.40 92.

86 .

588 2.397 2006 2.437 2.888 GWh GROWTH : 5.403 2.583 2.172 2.438 2.263 2.326 2.308 2.02 % Jan Feb Mar 2005 : REAL : 28.900 1.495 2.461 2.544 2.400 2.539 2.328 2.300 2006 2005 2004 GWh 2.647 2.500 GWh .800 2004 : REAL : 27.423 2.87 Tren Penjualan Energi Bulanan 2. PENC : 99. GROWTH : 4.88 % Ags Sep Okt Nov Des 2004 2.299 GWh .34 % REAL : 30.200 2.01-Hr .444 2.257 2.000 1.389 2.256 2.205 2.394 2.300 GWh GROWTH : 11.500 2.100 2.399 2.440 2.210 2.700 2.696 G-KWh.82 % Apr Mei Jun Jul 2006 : TARGET : 30.111 2.533 2.600 2.388 2.400 2.483 2.355 2.366 2.221 2005 2.588 2.

71 547.301 1. 16.00 R /K h p W 580.522 Feb 1.03 % H Mei 551.85 606. 21 549.76 541.10 557.66 601.60 Des 552.282 1.304 1.513 Ags 1.419 2005 : REAL : Rp.52 % REAL : Rp.28 .00 620.500 1.552 Nov 1.201 1.67 549.23 % REAL : 599.526 2006 : TARGET : Rp. 74 2006 : TARGET : 559.339 1. 53 594.400 1.456 Jun 1.233 1. 18.74 Sep 543.401 1.100 1.966 T GROWTH : 17.321 1.69 .158 T GROWTH : 7.200 1.70 600. GROWTH : 12.239 1.55 545.47 Mar 553.300 2006 2005 Trilyun Rp 2004 1.604 G-KWh.25 % Jan 1.349 1.00 520.501 Mar 1.00 2004 2005 2006 2004 : REAL : 548.43 594.000 900 2004 2005 2006 2004 : REAL : Rp.17 2005 : REAL : 559.61 % Jan 553.239 1.341 1.22 % Ags 546.03-Hr .20 595.260 1.33 GROWT : 2.00 560.56 Apr 547. PENC.539 Sep 1.281 1.170 T .382 1.455 1.55 548.77 Nov 544.88 Tren Pendapatan Penjualan Bulanan 1.477 Mei 1.74 609. PENC : 107.217 1.27 602.169 1.00 500.575 Okt 1.08 Ok t 544.271 1.00 540.96 604.52 588. 17.487 Des 1.228 1. : 106.19 Feb 546.25 J n u 545.700 1.303 1. GROWTH : 7.058 T .97 % Apr 1.600 1.96 594.82 600.97 200 6 2004 G-KWh.00 2005 600.232 1.71 606.19 GROWTH : 5.50 609. 14.46 556.02-Hr Tren Ha rga J ua l Rata-ra ta Bulanan (Rp/kWh) 640.50 553.45 % Jul 1.310 1.97 Jul 549.47 550.465 1.

017.790.79 3.383.000 4.884.990.02 0.985.000 1.541.30 0.543.03 0.77% 10.606.95 707.97 5.04 6.27 0.300 1.859.90% 7.000 328.900 4.70 0.60 2.08 0.00% 3.554.000 3.000 464.086 6.40% 6.89 638.25 0.000 2.54 9.000 18.59 588.36 - 7.000 34.900.16 0.000 1.000 1.400 1.90 647.13 609.000 1.82% 9.41 8.49 618.986.92% 8.307.60 532.70 0.700.70 0.074 7.000 2.952.157.437 20.694.40% 7.000 3.000 1.05 590.63 556.50 0.50 - .57 548.000 426.965.233.25 0.000 995.30 7.986.694.02 0.515 7.470.000 291.640.476.838.17 613.04 0.00 591.032.600.700 386.137.661.500.700 3.01 0.287 336.619.60 0.31 636.000 796.23 7.900.40 0.76 522.000 1.000 1.954.000 186.700 12.55 631.45 8.000 2.411.65% 9.429.046 11.544.000 1.05% 7.547.360.787 18.400.91 22.500.000 1.27 1.06 2.00 0.960 17.000 714.400 357.652 31.000 2.000 2.23 621.000 950.294.000 1.387.885.01 TOTAL DJBB RKAP DJBB 34.900.36 4.527 31.418 12.67 1.14 640.24 662.20 0.866.18 4.000 1.05% 21.105 12.02 0.51% 16.04 0.070.804.000 21.200.500.022.89 639.67 639.400.09 573.000 3.00% 4.200.703.800 639.85 18.776 11.20 3.723.42 553.500 79.30 0.818.89 PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA BARAT & BANTEN SASARAN PENGUSAHAAN UNIT 2007 NO UNIT MWH BELI MWH JUAL LOSSES % RP TRANSFER RP PENDAPATAN (Rp/kWh) TP Rp/kWh JUAL PERTAMB PLG SAIDI SAIFI GANGG PNYLG / KMS COP RATIO PIUTANG 1 BANTEN 2 BANDUNG 3 BEKASI 4 BOGOR 5 KARAWANG 6 CIMAHI 7 PURWAKARTA 8 CIREBON 9 MAJALAYA 10 SUMEDANG 11 DEPOK 12 TASIKMALAYA 13 SUKABUMI 14 CIANJUR 15 GARUT 6.30 539.373 173 71 272 253 121 82 122 104 131 119 63 236 105 613 84 6.900 1.06 0.000 939.900 3.91 627.180.50% 6.01 665.900 1.20 0.300 3.157.600 1.98 9.34 690.74 3.16 6.800.248.77% 5.000 590.000 393.121 25.16 603.11 0.80 3.000 1.832.40 5.81 2.000 1.10 705.74 6.00 0.27 9.90% 14.51% 4.06 2.000 376.817.002.264.022.000 2.500 800.00 0.832.59 2.387 37.558.40 740.652 11.49 10.000 692.793.000 831.000 493.000 221.000 1.100.43 3.000 1.583.700.161.55 0.03 0.613.42 336.287 170 170 6.726.44 590.39 5.249.23 737.700 1.316.86 8.230 638.169.045.00% 9.000 4.000 5.414.46 652.295.100 31.338.500.50 0.000 1.50 39.100 2.40 0.62 1.

ring dsb bermacam ukuran Tangga AL. biaya. dsb 10 Tim(a.T per Jurusan) « Volt (Phasa R. Fuse CO. Tang (KWh dipasang ruangan terbuka. kbl Groun Body Trafo dan Netral * Lakukan pengukuran Tahanan Belitan dan Pentanahan * Posisi Tap * Periksa Groun plat.M Ohm 1 atau «.2 org) * OAK Volt meter * KWh Meter 1 ph 2 org kertas & bulpoin * Mur Baut. .. Misalnya 2/10/2005 Buat pengumuman * Gardu ABC pemadaman Data Teknis sbb 3/5-10-05 Persiapan Material Susut 10 % dan data . Volt Buat sket peta lokasi PLG( peta RBM) * Trafo Distribusi * Minyak Tafo * Kabel TIC * NH Fuse 3 Org Tang ampere * Groun Plat Volt meter * Fuse CO Botol Kaca * Kbl Skun Pompa Minyak+slang * Alkohol kertas & bulpoin * kain lap/majun Vacum Kliner(gd.. paku beton Kuatkan Kuatkan. papan pengumuan Material 7 1/10/2005 Survay visual.TR * Mengambil sample minyak trafo * Catat stand kWh Meter MDI * Sket lokasi gardu TIM PPTL & Survay * Lakukan tugas PPTL * Data ulang plg.3 org) Tangga AL.6 LAMPIRAN "TIME SCHEDULE PROGRAM TERPADU " Nama Gardu 1 Tgl 2 Tahapan Operasional 3 Actions 4 lihat kelokasi Gardu dan pelanggan Buat pemberitahuan Pemadaman Buat data kebutuhan . pasang APP * Tertibkan SR Catat stand Cabut dan stand awal(kWh baru) 10 Tim(a.2 org) Alat kerja PPTL * MCB 10 Tim(a. mur baut terminal.liter «««. Jalur SR Obeng.Ujung * Sket lokasi plg 7/10/2005 Operasional Har Tim Har Gardu * Periksa terminal sambungan. Kuatkan. kWh Alamat penempatan Gardu Periksa seteliti mungkin semua plg Catat Data teknis dan data plg ««. koordinasi pelaksana Tugas. Catat stand kWh * Pengukuran Teg.dsb 6/10/2005 Operasional * Jlh Plg Tim Har Gardu * Jlh lbr tunggakan * Pengukuran beban pengukuran teg. Org Kunci pas. jika perlu ganti 3. sabuk Megger. skun kabel.Beton)* kunci Gembok * CT TR. sabuk Gunakan Klem wight sesuai fungsinya Pengaman. Org Buat BA pemeliharaan/Pemeriksaan/ Penggantian.T per Jurusan) ««. Tenaga Kerja 5 2 Org Alat Kerja 6 Camera/Handicam Koran. rel TR. TIM Har Pelanggan * Bongkar. transf tasi.material.S.S.90 3. Earth tes 2. Martil harus tembus pandang) Buat BA penggantian kWh Meter Catatan : semua data hasil operasional di himpun oleh satu orang yang di tugaskan. Kbl Skun. NH Fuse Terminal CT TR « Ampere (Phasa R.jika perlu ganti «.

6.815.346) (678.496.071.840 72.084.458 19.170.149 12.974 (991.170.901.748.326.946 3.672.009.662.449.383 3.171 54.496.577.111.547.2005) NO.396 46.435.603.800) 905.887.223.153.975 13.139.830 1.802 2.550 3.356 (20.170.659) 19.803.836.840 2.748.183.139.443.755 21.003 924.633.418.662.827.144) 221.046.219 95.449 20.210.546.082.219 7=5-3 521.990) 16.738.418.338 95.313.646.236 118.111.579.630) 39.827.184.120.013.017.496.452.388 2.313.425.682 39.133.399 1.686.460) 9.620.112 4.881 117.218.973.848.554.847.118.156 9.487 2.796.861.151 10.369 61.757 63.923.799 1.164 1.437 36.184.720.053.120.762 (5.084.256.258.584 6=4-2 1.661 1.460 1.741) (1.114.469.840 568.776 4.605.977.988 67.766.290 72.976.983.558 1.956 178.088 20.879) 54.836.030.241 75.353.227 3.373 4.366.659) 23.259.662.816.439 11.578.013.764 1.920.170.082.717. KWH SELISIH KOREKSI 2005 Rp.308 1.526 .812 178.788.149 3.503 95.170.629.108 21.059.661 (97.783.737 3 1.140.595 (21.662.685 796.636.949.290 4 1.435.070 6.470 (118.432.854.101 1.757.547 3.954.580.432.399.526 3.619) (5.881 113.491 50.810.005.218 299.617.319.027.357.377.310.524.448.483) 25.539 3.940.804 174.215 915.783 (3.732 (1.519.662.360 12.509 5.313.060 1.446.389.691 20.559 34.228.776.449 627.310.805.026 2.359 7.353.598.515. SELISIH KOREKSI 2005-2006 KWH Rp.685.725 10.556.559 314.794 (4.056.003 1.236 10.699.816.603.498 1.757) 12.184.833.527 12.396 8.360 2.662.456.737 83.710 60.762 842.753.171 52.313.627.013.559 36.961 (3.172.807 75.097.077 (16. TARIF SELISIH KOREKSI 2006 KWH Rp.973.574) 111.178.682 38.627.583 4.747 (3.610 8.706) 46.261.338 4.059.636.443.509 3. LAMPIRAN KLASIFIKASI KOREKSI REKENING LISTRIK DES (2006 .011) (751.498 695.519 (3.097.842 18.114.869.847.920.228) 4.140.710 63.452.293.579.571.291.170.846.373 363.480.509 1.571.326.458.030.646.699.803.812 905.056.888.391 (58.449 3.584 118.261.750.971.316 16.976.804 21.234 (50.509 24.133.566 1.253) (4.483 10.183.221.949 10.201 3.515.011) (1.650 10.830 23.086 2.118.739.013.458 1.745) (5.484.294 25.878 117.015.877 5.752 41.566 16.262.770 24.241 73.121.503.038 766.050.286 1.353.237.799 9.940.071.984.484.046.686.578 6.706) 4 5 6 R1 R2 R3 JML R 7 8 9 B1 B2 B3 JML B 10 11 12 13 I1 I2 I3 I4 JML I 14 15 16 P1 P2 P3 JML P JUMLAH Kontribusi Tarif S Tarif R Tarif B Tarif I Tarif P 83.610) 2. 0 1 2 3 1 S1 S2 S3 JML S 2 3.358.956 5 523.524.262.650 1.056.275.258.702.755 1.060 3.91 3.289 3.399 1.181.070.940.277.

114.43 4.241 125 80.140 198.065 722 15 1.523.045 152.158.224 40.332.035.487 2.384.286 45.218.379 1.920.756.982.357.376.118.764 1.621.191.685.487 23.324 6.92 3.684.817 266.585.806 128.325.661 (97.562.202 2.15 10.339 129.555 80.283 189.546.480.189 4.81 .869.190 3.073.324 1.452.431 573 60 24.800 174.056.763.737 798.972 361.778.810.169 2.824 1.574) 111.659 2.814 271.581 30.902 275.519 1.541 150 86 236 5 19 5 29 12 3 15 10 1=3+5+7+ 12=4+6+8+1 2 40 42 9 1.095.286 20.395.98 67.261.976.644.675 6.802.403 337.647.053.533 1.132.788.122 3.392 14.201 11.137.977.262.571.20 3.270 491.168.10 1.272 965.148 4 1.194 120 18 1.920.527 12.65 7 8 9 B1 B2 B3 JML B 1.911.094 16 1.726 21.308 1.183 15.35 (20.155.566 2.610) 2.194.336.781 26.732 72 28 40.629.909 87.417.DESEMBER 2006 NO PENGADUAN PELANGGA SALAH INPUT/PROS EX DLPD TARIF PLG LBR PLG LBR PLG LBR TIDAK TERBACA PLG LBR JUMLAH PLG LBR SEBELUM KOREKSI (MEMO 4) KWH Rp.244.671.001 12.584.210.613.733 8.823 3.848.463.900 10.800 1.663.637 117.167 1.780 9.609.456.967 88.467.596 55 6 2.017.114 72 187 87 1 347 126 1 83 210 4 6 1.767 121 360 183 3 667 190 1 179 370 13 5.772.373 363.366.424.353.009.417 78.073 3.058.891.036 2.575 11.136 3.595 (21.092 16.648 22 4.899.084.778 21.246.170.595 5.294 25.147 71 6 3.849 7.953 44.125 15 2.345.399.753.575.988.015 205 110 315 5 19 5 29 23 3 26 3.591 11.917.562 19 4.438 469.562 3.702.964 17.527.710 60.835 17=13-15 3.746 1.716.144.528 26.517.929.748.627.007 82.261.50 14 15 16 P1 P2 P3 JML P 1.249 867 689 14 1.117.023 78.416.823.731 15.215 915.545 219.111.384 135.402.059.857.397.085.817 271.388 2.749.737 18=14-16 1.29 JUMLAH 64.254 14.234 (50.00 924.118.094.014 3 1.970.360 2.803.757.22 3.584 32.858 4.863 21.948.297 22.308.971. SELISIH KOREKSI (MEMO 4KWH Rp.448.57 6.446.857 78.75 21.070.998.120.742 50.757 63.161 9 1.176 508.406.163.80 10 11 12 13 I1 I2 I3 I4 JML I 174.603 1.76 1.6 LAMPIRAN KUMULATIF .283.074 34.086 2.646.104.821.44 627.231.275.228) 4.600 460.55 4 5 6 R1 R2 R3 JML R 4.152 24.994 75 194 87 1 357 136 1 77 214 5 3 307 1 311 18.048 221.407.537.061 86.578.613.174 1.028.062 203.840 72.423 105.003 1.064 1.449.725 469 55 19.326.082 9.983.115.410 4 1.414.596 2. SETELAH KOREKSI (MEMO 3) KWH Rp.802 35 150 89 2 276 38 1 97 136 7 1 24 25 2.921.802.994.815.389.776 535.649 50.359 7.94 10.124 3.472.313.589 37.656 15.600 611.831 14 2.816.513 420.414 108 19 3.223.733.458.321.657 165 70 2 237 8 13 4 25 2 7 9 8 1 28 29 3.591 83.77 4.361 37.647 174 34.364 35 5.570 32 143 87 2 264 36 1 97 134 6 3 377 1 381 23.649.995 115 343 181 3 642 167 1 185 353 36. 1 1 2 3 2 S1 S2 S3 JML S 3 6 815 3 824 57.662.138.548 872.633.896.930 189 107.669.636 18.166 157.571.083.136.443.977 17.983 149.078 109 58.832 8 16 4 28 2 7 9 9 2 35 37 3.80 905.596.501.957.87 5.385.414 53.500 65 47.544 16.432.418.293.908.245.653 1.719 1.998.

Senantiasa memberi petunjuk dan memberi kemudahan dalam segala usaha dan urusan kita. mohon maaf atas segala kekurangan yang ada.93 Atas kerjasama serta perhatian sepenuhnya diucapkan terima kasih. Amin. TIM ANALISA SUSUT 2007 DISTRIBUSI JAWA BARAT DAN BANTEN . Semoga Allah SWT.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful