Anda di halaman 1dari 47

Materi:

Pengembangan Wilayah (Regional Development)

Disampaikan Oleh: Dr. Siti Fadjarajani, Dra., MT. Pascasarjana UNSIL Tasikmalaya
1

Prinsip Dasar Pengembangan Wilayah


Wilayah yang memiliki karakterisik sendirisendiri membutuhkan pendekatan pengembangan yang berbeda. Perbedaan karakterisik juga berkaitan dengan seberapa jauh suatu wilayah berinteraksi dengan wilayah lain mulai dari skala lokal, regional, nasional dan internasional. Atas dasar kondisi tersebut, maka pengembangan wilayah membutuhkan perencanaan wilayah yang komprehensif terutama dalam kerangka hubungan antar wilayah.
2

Konsep Wilayah
Wilayah adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki karakteristik khas yang dapat dibedakan dengan wilayah lain di sekitarnya. Wilayah yaitu bagian dari permukaan bumi yang teritorialnya ditentukan atas dasar pengertian, batasan dan perwatakan geografis seperti wilayah aliran sungai, hutan, wilayah hutan, wilayah pantai, wilayah negara secara geografis ditentukan oleh suatu batasan geografis tertentu. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait padanya pada batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan asfek administratif dan atau aspek fungsional (UUPR).
3

Tujuan Pengembangan Wilayah


Pengertian yang memberikan pedoman nyata tentang tindakan yang diinginkan dari suatu kegiatan wilayah, yang diungkapkan dalam istilah yang numerik. Suatu artikulasi dari nilai-nilai yang dirumuskan dalam kaitan dengan issu dan permasalahan yang ditemukan terhadap pencapaian hasil kebijaksanaan dan keputusan yang akan ditentukan. Suatu pencapaian yang diinginkan dari kegiatan pengembangan wilayah, yang dinyatakan dalam istilah yang bersifat kualitatif. Suatu pernyataan yang bersifat kuantitatif berkenaan dengan pencapaian yang diinginkan dari hasil kebijaksanaan dan keputusan dalam pengembangan wilayah, yang dapat menjadi pedoman nyata dan menentukan tindakan yang sesuai dalam kegiatan pengembangan wilayah.
4

Pentingnya Pengembangan Wilayah


Karena wilayah memiliki ke khasan perlu penyesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah. Merupakan integrasi dari Rencana Tata Ruang Wilayah untuk meng guide perencanaan sektoral. Perlunya otonomi untuk mengelola perencanaan wilayah, mengkordinasi perencanaan sektoral.
5

Kriteria Pengembangan Wilayah


(1) Homogenitas : Pendefinisian Wilayah yang didasarkan pada homogenitas secara geografis suatu aspek yang menjadi kepentingan utama, misalnya dalam kepadatan penduduk, aktifitas ekonomi yang lainnya ; (2) Nodalitas : Wilayah dipandang sebagai suatu sistem (fungsional) pusat-pusat lokasi aktifitas penduduk secara hierarki, (3) Perencanaan : Wilayah dipandang sebagai suatu unit perencanaan untuk suatu tujuan pengembangan tertentu. Ini bisa merupakan suatu unit administrasi seperti kabupaten atau propinsi.
6

Hubungan Pengembangan Wilayah dengan Pengembangan Sektoral


Pengembangan Wilayah - Integrasi wilayah makro Pengembangan Sektoral - Integrasi sektoral mikro Pengembangan Wilayah mengguide pengembangan sektoral. Pengembangan sektoral sebagai input pengembangan wilayah.

Hubungan Pengembangan Wilayah dengan Pengembangan Kota


Perbedaan Pengembangan Pengembangan Wilayah Kota Supra Urban Intra Urban

Ruang Lingkup Fokus

Ekonomi

Fisik

Bahan Kajian

Bidang Ekonomi

Bidang Fisik

Hubungan Pengembangan Wilayah dengan Penataan Ruang


Berdasarkan UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, bahwa pengembangan wilayah mencakup : Perencanaan ruang Pemanfaatan ruang Pengendalian pemanfaatan ruang Produk dari proses penataan ruang wilayah adalah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Hubungan Wilayah dengan Negara


Wilayah adalah suatu daerah/area yang homogen yang mempunyai karasteristik fisik dan budaya culture yang berbeda dengan daerah sekitarnya. Nation terdiri dari beberapa wilayah. Wilayah bersifat terbuka dalam perkembangannya. Nation bersifat tertutup dalam perkembangannya.

10

Pengembangan Wilayah menurut Teori Neo Klasik


Dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa perkembangan wilayah ditentukan oleh:
pergerakan modal (capital) dari wilayah surplus (+) ke wilayah minus (-). Pergerakan tenaga kerja (labour) dari wilayah minus (-) ke wilayah surplus (+).

11

Pengembangan Wilayah menurut Teori Economic Based


Dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa dalam pengembangan wilayah diperlukan suatu kegiatan ekonomi utama (based) disamping kegiatan ekonomi penunjang (non-based) Ekonomi utama adalah kegiatan ekonomi yang memiliki nilai eksport/nilai jual tertinggi. Ekonomi penunjang adalah kegiatan ekonomi yang sifatnya melayani (services).
12

Pengembangan Wilayah menurut Teori Development Stages


Dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa dalam pengembangan wilayah terjadi tahaptahap perkembangan ekonomi wilayah, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Tahapan pengembangan wilayah:
1. 2. 3. 4. 5.

Subsistence Farming Agrobisnis Perdagangan Industrialisasi Jasa/Services


13

Pengembangan Wilayah menurut Teori Unbalanced Growth


Dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa dalam pengembangan wilayah terjadi ketidakseimbangan pertumbuhan (unbalanced growth) wilayah. Menurut teori unbalanced growth bahwa wilayah dalam proses pertumbuhannya justru selalu dalam keadaan tidak seimbang dan memang ketidakseimbangan ini sesungguhnya merupakan dinamika pertumbuhan wilayah.
14

Pengembangan Wilayah menurut Teori Unbalanced Growth


Menurut Gunnar Myrdal: Dalam pertumbuhan suatu wilayah terdapat dua proses yang bekerja, yaitu spread effects dan backwash effects. Backwash effects adalah proses yang menguras wilayah-wilayah yang terbelakang oleh wilayah yang telah maju, atau semua perubahan yang bersifat merugikan dari ekspansi ekonomi disuatu tempat karena sebab-sebab diluar wilayah itu. Spread effects merupakan gaya yang mendorong perkembangan wilayah yang terbelakang oleh wilayah maju, sebagai akibat adanya hubungan antara wilayah yang maju dengan wilayah yang terbelakang. Myrdal selalu pesimis dalam memandang tumbuh kembangnya wilayah, karena dia berpendapat bahwa spread effects lebih kecil pengaruhnya daripada backwash effects di setiap perkembangan wilayah.
15

Pengembangan Wilayah menurut Teori Unbalanced Growth


Menurut Albert Hirschman: Terdapat dua gaya yang dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya suatu wilayah, yaitu polarization effects dan trickling down effects. Polarization effects tersebut diperkuat dengan adanya pemusatan investasi pada pusat pertumbuhan, sedangkan trickling down effects dapat tumbuh dengan cara meningkatkan daya tarik wilayang sekitarnya. Pandangan Hirschman mengandung rasa optimis dalam kaitannya dengan terjadinya perkembangan. Trickling down effects lebih besar pengaruhnya daripada polarization effects. Menerapkan perekonomian yang tidak seimbang sejalan dengan strategi yang telah dirancang sebelumnya, merupakan jalur terbaik bagi terjadinya pertumbuhan ekonomi.
16

Ketimpangan Wilayah dalam Perspektif Polarization Reversal


Ketimpangan wilayah dalam Perspektif Polarization Reversal memberikan arah untuk menunjukkan dan menjawab pertanyaan tentang penyebab gejala ketimpangan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Begitu pula ruang, dimana analisa keruangan yaitu mempelajari keruangan yaitu mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifatsifat penting. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa dalam analisa keruangan yang harus diperhatikan adalah penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang direncanakan.
17

Ketimpangan Wilayah dalam Perspektif Polarization Reversal


Cara mengukur ketimpangan wilayah oleh Williamson (index W), dengan nilai 0 1 yaitu dengan menggunakan rumus (Y1 Y). (Pi. P) W = V -----------------------Y Y = Yi = P = Pi = Yield : pendapatan per kapita nasional Yield : pendapatan perkapita daerah Population : penduduk nasional Population : penduduk daerah
18

Ketimpangan Wilayah dalam Perspektif Polarization Reversal


Untuk melihat atau mengukur ketimpangan Nasional atau mengukur ketimpangan nasional data base propinsi. Serta Indeks W dapat digambarkan dalam bentuk kurva, yaitu Kurva Kuznet :

Titik Polarization Reversal

Bahwa perkembangan suatu wilayah mulai tumbuh dengan pendapatan per kapita yang rendah dan indeks ketimpangan semakin tinggi sampai mencapai titik keseimbangan antara pendapatan per kapita dan indeks ketimpangan yang disebut titik Polarization Reversal.

19

Ketimpangan Wilayah dalam Perspektif Core Periphery


Pengembangan wilayah perlu mengusulkan strategi desentralisasi terpusat (concentrated decentralization) untuk mengembangkan kelambanan ekonomi di wilayah periphery (pinggiran). Penyebab:
Pengaruh dominasi atau melemahnya periphery (pinggiran) akibat pengiriman sumberdaya ke wilayah core (inti ) Pengaruh informasi atau peningkatan interaksi dan inovasi di wilayah core (inti) Pengaruh modernisasi atau perubahan sosial dan inovasi di wilayah core (inti) Pengaruh produksi yang meningkatkan skala dan aglomerasi ekonomi di wilayah core (inti)
20

Ketimpangan Wilayah dalam Perspektif NIDL (New International Division of Labour)


Dalam perspektif Pembagian Tata Kerja Dunia Baru (NIDL), pengembangan wilayah perlu memperhatikan perkembangan wilayah berdasarkan pembagian tenaga kerja. Penyebab: Tenaga kerja semakin terspesialisasi Pembagian tenaga kerja dunia dapat dibagi dalam Utara-Selatan bukan lagi Barat-Timur

21

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Atas (Development Form Above)


Paradigma Top Down

22

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Atas (Development Form Above)


Perkembangan wilayah dapat dijalarkan dari pusat-pusat yang besar ke pusat-pusat yang lebih kecil, melalui pusat-pusat yang terbentuk secara hierarkis. Mekanisme penjalaran tersebut adalah keterkaitan (linkages) ekonomi baik yang bersifat kebelakang (backward) maupun kemuka (forward). Konsep teori pendukungnya yaitu : growth pole (konsep ekonomi) yang dipelopori Perroux, growth centers (konsep geografis) yang dipelopori oleh Boudeville, dan central place theory (konsep pelayanan) yang dipelopori Christaller.
23

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Atas: Teori Growth Poles


Berawal dari pemikiran seorang ahli ekonomi Perancis, yaitu Perroux. Bahwa dalam pengembangan wilayah tidak mungkin membangun semua sektor dalam waktu yang sama. Perlu dipilih beberapa sektor yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi wilayahnya (pemilihan sektor) Syarat pemilihan sektor (leading sector): Memiliki keterkaitan (linkages) Kaitan ke belakang (backward linkages) Kaitan ke dapan (forward lingkages) Mampu mendorong perkembangan wilayah Ada kaitan dengan demand Hightech Expor Base
24

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Atas: Teori Growth Centers


Dikemukakan oleh Boudeville Merupakan teori pengembangan wilayah hasil pengembangan dari teori Growth Poles, dengan memandang Poles Centers sebagai Ruang. Sebagai pusat pelayanan dalam teori pengembangan wilayah Mempunyai dimensi ruang dimensi geografis Pusat pelayanan secara berjenjang 3:
S

Tersier (T) Sekunder (S) Primer (P)

P
S
25

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Atas: Central Places Theory


Dikemukakan oleh Christaller Pusat pelayanan berjenjang Idealnya bahwa pusat pusat pelayanan itu melayani 6 pusat lain, sehingga berbentuk heksagonal dari heksagonal terkecil ke heksagonal terbesar Berjenjang dari pelayanan terkecil ke pelayanan terbesar.

26

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Bawah (Development Form Below)


Paradigma Bottom Up

27

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Bawah (Development Form Below)


Merupakan kritik terhadap konsep Development from Above yang dalam pelaksanaan pembangunannya tidak terbukti kebenarannya, yang disebabkan karena terjadinya kebocoran dalam linkages resources. Konsep Development from Below bertitik tolak pada hal hal sebagai berikut:
Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs) manusia Menekankan pada penggunaan tenaga kerja secara intensif Berdasarkan sumber daya regional Memfokuskan pada pengembangan wilayah pedesaan Menggunakan teknologi yang tepat daripada sekedar teknologi yang terbaru.
28

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Bawah: Selective Spatial Closure


Dikemukakan Stohr & Todling (1979) Tujuannya untuk mengakomodasi teori teori ketergantungan (core periphery) dalam pembangunan wilayah & pedesaan Dalam konsep Selective spatial closure, bahwa dengan adanya peningkatan keluasan komunitas lokal & regional, mereka dapat :
Merencanakan pengembangan sumber daya yang dimiliki berdasarkan kebutuhan. Mengontrol setiap hubungan dengan luar yang dapat mengakibatkan efek negatif. Melakukan pemilihan terhadap linkages yang efektif saja.
29

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Bawah: Selective Spatial Closure


Selective spatial closure dirancang untuk :
Menghilangkan backwash effect dari pusat pertumbuhan (growth centre) ekonomi terhadap wilayah periphery. Namun tetap mempertahankan trickling down effect yang positif.

Pelaksanaan konsep selective spatial closure membutuhkan suatu kondisi sebagai berikut :
Perluasan kebijakan pembangunan spasial dalam bidang ekonomi, sosial, politik. Memberikan perhatian yang lebih besar pada kegiatan kegiatan yang memerlukan sumber daya manusia dan lingkungan dalam skala yang lebih kecil. Terjadi Pergeseran kekuasaan pengambilan keputusan.
30

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Bawah: Agropolitan


Dikemukan Friedman & Douglass (1978). Strategi aggropolitan dikembangkan setelah melihat adanya kegagagalan dari strategi industrialisasi untuk meningkatkan standar hidup penduduk, terutama bagi negara negara di Asia. Konsep perencanaan daerah yang homogen. Berorientasi pada pengembangan pedesaan. Bertujuan untuk mengikutsertakan sebagaian besar penduduk pedesaan dalam pembangunan, baik sebagai konsumen maupun produsen.
31

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Bawah: Agropolitan


Strategi Agropolitan dirancang untuk konteks sebagai berikut :
Terdapat tingkat urbanisasi yang rendah (< 20 %). Pada kepadatan penduduk pedesaaan yang tinggi (> 200 jiwa / kk). Pola penyebaran desa kota yang berkelompok. Kondisi fisik wilayah dan kemiskinan yang nampak ekstrim.
32

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Bawah: Agropolitan


Alternatif strategis yang dapat diterapkan di negara negara Asia, yaitu strategi aksekrasi pembangunan pedesaaan, sebagai berikut :
Sektor pertanian harus menjadi leading sektor bagi perekonomian wilayah. Mempertahankan pemenuhan kebutuhan pangan domestik dengan kekuatan sendiri. Memberikan prioritas yang tinggi pada peningkatan produksi barang barang konsumen dalam negeri. Mengurangi ketimpangan pendapatan dan kondisi kehidupan kelas sosial desa kota. Kebijakan industrilisasi diterapkan dengan tetap melindungi perusahaan kecil.
33

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Bawah: Agropolitan


Konsep Agropolitan dapat berhasil jika dipenuhi syarat syarat sebagai berikut :
Diperlukan suatu otonomi dan sumber daya yang cukup, agar masyarakat pedesaan dapat mengambil keputusan, merencanakan dan melaksanakan pembangunannya sendiri. Mencegah mengalirnya sumber sumber kekayaan ke kota besar, serta keharusan menanam kembali keuntungan yang diperoleh untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di pedesaaan. Pembagian kembali modal produksi pedesaan terutama lahan pertanian, serta penantuan batas maksimal dan minimal luas lahan milik untuk memungkinkan pemakaian sumber alam secara produktif dan mengontrol pemerataan.
34

Konsep Local Economic Development


Merupakan kritik terhadap Pembangunan wilayah dengan pendekatan pembangunan dari atas (development from Above) dan pembangunan dari bawah (development from below) yang ternyata belum mampu menghapus terjadinya disparitas wilayah. Pembangunan dari atas (development form above) dalam kenyataan lebih menguntungkan wilayah yang lebih besar yang potensi sumberdaya (resources) lebih kaya cendrung mengisap sumber daya (resources) wilayah hinterlandnya. Kondisi ini tentu membawa konsekuensi sulitnya mengurangi disparitas wilayah.
35

Konsep Local Economic Development


Pembangunan dari bawah (development from below) yang secara konsep sangat kuat karena wilayah kecil mengelola sumberdayanya (resources) secara mandiri dan disintegrasi dengan wilayah lainnya sehingga memungkinkan pembangunan lokal bisa membangun dirinya sendiri. Tetapi pergerakan pembangunan dengan sistem pasar terbuka dan sekarang bahkan mengarah kepada globalisasi dimana hubungan antar wilayah bahkan antar negara sudah tidak ada batas menyebabkan konsep yang ditawarkan sangat utopian. Atas dasar keadaan tersebut maka sebagai alternatif telah dikembangkan konsep pengembangan wilayah yang berkembang pada akhir-akhir ini yaitu pembangunan ekonomi lokal (local economic development). 36

Konsep Local Economic Development


Konsep ini sesuangguhnya telah dikembangkan pada konteks pembangunan Eropa Barat, kini semakin dirasakan relevansinya untuk negara yang sedang bekembang seperti Indonesia. Pembangunan ekonomi lokal (local economic development) pada dasarnya beranggapan bahwa pengembangan wilayah sangat ditentukan tumbuh kembangnya wiraswasta lokal yang ditopang oleh kelembagaan-kelembagaan di wilayah tersebut meliputi; industri, universitas, asosiasi kegiatan usaha, pemerintah daerah, pengusaha lokal dan lainnya (Edward Blakely). 37

Konsep Local Economic Development


Menurut Konsep LED, bahwa pembangunan di suatu wilayah perlu memperhatikan mobilitas dari sumber daya yang terintegrasi di suatu wilayah, dengan tetap menerima pengaruh hubungan dengan wilayah sekitarnya yang lebih maju. Dalam konsep LED, suatu pembangunan wilayah perlu mengikutsertakan unsur lokal, sebagai berikut:
Pemerintah Lokal Kewiraswastaan Kewirausahaan Perguruan Tinggi LSM Masyarakat Lokal
38

Kasus 1: Fenomena Mega Urban dan Tantangan Pengelolaannya


Perkembangan wilayah pada beberapa negara di Asia, yang oleh McGee (1971) diperkenalkan sebagai konsep kotadesasi. Konsep kotadesasi inilah yang kemudian mendasari konsep Extended Metropolitan Regions (EMR) atau kemudian populer sebagai Mega Urban Regions (MUR), yang mempunyai ciri: berkepadatan penduduk tinggi; sebagian besar penduduk bergantung pada sektor pertanian dengan pemilikan lahan sempit; mengalami transformasi kegiatan dari pertanian ke berbagai kegiatan non pertanian; intensitas mobilitas penduduk yang tinggi; interaksi yang tinggi antara aktivitas perdesaan dan perkotaan; percampuran guna lahan yang intensif antara permukiman dan aktivitas ekonomi seperti pertanian, industri rumah tangga, dan kawasan industri. 39

Kasus 1: Fenomena Mega Urban dan Tantangan Pengelolaannya


Urbanisasi merupakan suatu proses mobilitas penduduk dari wilayah perdesaan ke wilayah perkotaan yang dikatakan sebagai suatu proses migrasi desa-kota atau rural urban migration. Urbanisasi digerakkan melalui rangkaian proses antar hubungan dari perubahan ekonomi, kependudukan, politik, budaya, teknologi, dan sosial, serta dimodifikasi melalui faktor lokal, seperti topografi dan sumber daya alam lingkungan. Hal dinamis yang paling menggerakkan dan membentuk urbanisasi adalah perubahan ekonomi. Namun demikian urbanisasi tidak hanya dipengaruhi oleh pengaruh langsung yang dinamis, tetapi juga dari pengaruh feed back yang sangat memungkinkan, yaitu dari respon berupa kebijaksanaan dalam perencanaan yang dapat menjadi input bagi perubahan ekonomi yang secara langsung berpengaruh besar pada fenomena urbanisasi di wilayahnya. Sementara itu hampir setiap aspek dari perubahan di perkotaannya saling mempengaruhi secara luas.

40

Kasus 2: Tantangan Konversi Lahan dalam Pengembangan Wilayah


Dalam konteks pengembangan wilayah, sumberdaya lahan merupakan faktor utama, terutama di negara-negara berkembang dimana pertanian menjadi sektor ekonomi terpenting. Di Indonesia, masalah yang berkaitan dengan penggunaan lahan sebagai salah satu tantangan dalam pengelolaan sumberdaya alam, merupakan akibat dari bertambahnya tekanan penduduk yang terus berkembang serta perubahan dalam sifat dan intensitas kegiatan ekonomi. Dalam konteks ekonomi lahan, konversi lahan pertanian di Pulau Jawa tidak dapat dilepaskan dengan kecenderungan terjadinya persaingan dalam penggunaan lahan. Persaingan yang sangat tinggi terjadi di Pulau Jawa (Anwar, 1993), antara lain disebabkan karena kepadatan penduduknya yang sangat tinggi, hasil produksi per hektar yang jauh lebih tinggi dari hasil produksi wilayah lain karena tingkat kesuburan tanahnya yang tinggi, serta permintaan lahan bagi perkembangan wilayah urban dan perluasan kawasan perkotaan serta pembangunan infrastruktur yang lebih besar dibanding wilayah lainnya. Dengan demikian konversi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian menjadi fenomena yang tidak dapat dicegah, untuk mengakomodasikan kawasan terbangun.
41

Kasus 2: Tantangan Konversi Lahan Pengembangan WIlayah


Konversi lahan yang terjadi terutama di kota-kota besar di Indonesia sebagian besar tidak terkontrol dan kecenderungan prosesnya berdasarkan bisnis lahan dimana lahan dipandang sebagai investasi semata. Di wilayah pinggiran kota yang sedang tumbuh, terjadi persaingan dalam penggunaan lahan karena banyak alternatif keperluan penggunaan, antara lain perumahan, pertokoan, atau inftrastruktur. Sementara itu secara ekonomis, persediaan lahan bersifat tetap (konstan), sedangkan permintaannya terus tumbuh dengan cepat terutama di sekitar wilayah perkotaan. Pertumbuhan kebutuhan lahan tersebut didorong oleh pertambahan penduduk, pendapatan, dan tingkat migrasi penduduk yang berasal dari wilayah lain.

42

Kasus 3: Kotabaru di Indonesia Masalah dan Prospek Pengembangan


Permasalahan perkotaan yang dialami saat ini sudah semakin kompleks diakibatkan oleh pesatnya laju pertumbuhan penduduk yang kemudian menimbulkan permasalahan disegala aspek. Untuk itu perlu dirumuskan kebijaksanaan pengembangan kota yang dapat memberi pemecahan terhadap permasalahan yang dihadapi. Kotabaru (new town) adalah kota yang direncanakan, dibangun, dan dikembangkan pada suatu atau beberapa kota lainnya yang direncanakan dan dibangun telah tumbuh dan berkembang. Beberapa faktor yang mendorong tercetusnya gagsan tersebut adalah antara lain karena adanya dampak negatif dari perkembangan daerah perindustrian berupa pesatnya laju urbanisasi yang tidak diimbangi oleh penyediaan fasilitas perumahan dan fasilitas lainnya. Semua ini berakhir dengan terjadinya penurunan (degradasi) kualitas lingkungan permukiman di daerah sekitarnya. 43

Kasus 3: Kotabaru di Indonesia Masalah dan Prospek Pengembangan


Fungsi dan Tujuan Kotabaru: Kotabaru yang direncanakan dan dikembangkan sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan suatu kota besar. Kotabaru yang dirancang dan direncanakan untuk dikembangkan sendiri walaupun fungsinya mempunyai kaitan dengan kota-kota yang telah tumbuh dan berkembang. Persyaratan Kotabaru: Sesuai dengan RUTR Perkotaan. Berwawasan Lingkungan. Keterkaitan dengan Unsur-unsur Urban Management.

44

Kasus 4: Penataan Ruang dalam Pembangunan Berwawasan Lingkungan


Pembangunan berkelanjutan atau sustainable development secara umum mengandung pengertian pembangunan yang berkesinambungan, merupakan satrategi pengelolaan sumberdaya yang pencapiannya dilakukan melalui pembangunan berwawasan lingkungan. Undang-Undang nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, sebagai berikut: Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Pembangunan berkelanjutan adalah suatu proses pembangunan yang mengoptimalhan manfaat dari sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, dengan menyerasikan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia dalam pembangunan.
45

Kasus 4: Penataan Ruang dalam Pembangunan Berwawasan Lingkungan


Untuk membuat pembangunan yang berkelanjutan yang menyeluruh dan terpadu, dilakukan dengan program-program yang dapat menjamin empat keberlanjutan, yaitu:
keberlanjutan kehidupan ekologis; keberlanjutan kehidupan ekonomis; keberlanjutan kehidupan sosial budaya, dan keberlanjutan kehidupan politik dan pertahanan kemanan.

Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan mengandung arti perbaikan mutu kehidupan manusia dengan tetap berusaha tidak melampaui kemampuan ekosistem untuk mendukungnya.

46

Sekian dan Terima Kasih

Wassalamualaikum Wr.Wb.
47