Anda di halaman 1dari 4

Pro-Kontra Fatwa Haram MUI tentang Infotainment : GHIBAH BERTOPENG INFOTAINMENT

Ghibah secara definisi yakni seorang muslim membicarakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya tentang hal-hal keburukannya dan yang tidak disukainya, baik dengan tulisan maupun lisan, terang-terangan maupun sindiran. Ghibah hukumnya haram dalam syariat Islam berdasarkan ijma kaum muslimin karena dalil-dalil yang jelas dan tegas baik dalam kitab maupun sunnah. Infotainment merupakan paduan dua kata, yaitu informasi dan entertainment . Asumsi di balik kata ini adalah apa yang ditawarkan ke publik tidak sekadar informasi, tapi juga bisa menghibur. Bahkan aspek hiburan sering dikedepankan daripada tujuan dari informasi itu sendiri. Apa yang dikedepankan dari infotainment adalah sisi sensasional sebuah tayangan bukan kedalaman informasi, edukasi, dan kepentingan publik. Dalam prakteknya, infotainment menjadi salah satu program televisi yang banyak mengaplikasikan ghibah dalam tayangannya. Menanggapi penyalahgunaan infotainment sebagai ajang praktek ghibah terutama dalam hal penyebaran keburukan artis (gosip ataupun fitnah) , MUI mengeluarkan fatwa haram mengenai praktek ghibah dalam tayangan infotainment sebagai hasil dari Musyawarah Nasional (Munas) MUI VIII. Fatwa tersebut disahkan dalam pleno MUI dalam Munas di Jakarta, Selasa 27 Juli 2010, oleh Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Maruf Amin. Menurut ketentuan umum fatwa mengenai infotainment, menceritakan aib, kejelekan gosip, dan hal lain terkait pribadi kepada orang lain dan atau khalayak, hukumnya haram. Dilansir dari situs MUI, Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh menjelaskan bahwa MUI sendiri menegaskan, tidak melarang infotainment-nya, tetapi soal kontennya yang berisi gosip dan membuka aib orang. Oleh karena itu, dalam pengumuman fatwa, kata infotainment tidak dilekatkan dengan pengumuman fatwa haram melainkan kata menceritakan aib dan seterusnya. Menurut Niam, ada juga hal-hal dari kehidupan pribadi seseorang yang boleh diungkap ke publik. Syaratnya ada kepentingan syari dan membawa kebaikan untuk orang lain. Niam

menjelaskan, hanya konten infotainment yang memiliki dampak negatif dan berada di ruang publik saja yang dilarang, termasuk unsur yang terlibat dalam mengekploitasi berita itu sendiri. Setidaknya ada lima elemen yang dilarang atau diharamkan membuka atau membuat berita aib, gosip dan lain-lainnya, pertama sumber berita, yaitu orang yang menceritakan aib itu sendiri. Kedua, yang masuk larangan membuat berita aib dan gosip ini adalah wartawan atau insan infotaimentnya. Ketiga, media penyiaranya. Keempat, masyarakat sebagai konsumen, penonton, pembaca atau sebagai penggunanya. Kelima, pihak yang mengambil keuntungan dari berita gosip seperti Production House (PH), stasiun televisi, penerbit dan lain-lainnya. Dan janganlah sebagian kalian meng-ghibbah sebagian yang lainnya, sukakah kalian jika nanti (di hari Kiamat) memakan daging bangkai saudara kalian tersebut, pasti (saat itu kelak) kalian akan merasa sangat jijik (QS 49/12). Beberapa waktu yang lalu MUI mengeluarkan beberapa fatwa baru. Salah satu fatwanya yaitu mengharamkan program infotainment atau berita tentang artis. Program infotainment dinilai sarat dengan unsur ghibah dan fitnah. Yang dapat merugikan bagi artis yang diberitakan, juga akan merusak moral bangsa. Setiap hari banyak berita tentang kelakuan bejat para artis yang diekspose secara besar besaran. Diantara faktor negatif dari infotainment adalah:
1. Menyebarkan berita bohong. Banyak program infotainment yang menyajikan berita

yang tidak sesuai dengan fakta. Berita tersebut sengaja dibuat sensasional untuk menarik perhatian publik.
2. Mengumbar aib seseorang dan mengganggu privasi. Siapa pun tidak ingin aibnya

dibuka untuk umum. Berita infotainment banyak menyoroti kelakuan buruk para artis. Jika perbuatan itu merupakan sesuatu yang berkaitan dengan publik, sah-sah saja diberitakan. Namun terkadang para wartawan infotainment sengaja mencari-cari aib para artis untuk diberitakan. Padahal ada hal-hal tertentu yang memang menjadi privasi seseorang yang harus dihormati.
3. Merusak moral bangsa. Kelakuan bejat para artis yang diberitakan secara massive akan

berdampak buruk bagi moral bangsa. Apalagi jika berita tersebut hanya memberitakan hal-hal buruk, tanpa disertai dengan saran untuk tidak meniru perbuatan tersebut.

Misalnya saja kasus video porno Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. Semenjak maraknya pemberitaan tentang video porno tersebut, banyak anak-anak yang penasaran ingin menonton video yang tidak sepantasnya ditonton oleh anak dibawah umur. Akibatnya, banyak terjadi kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak dibawah umur akibat menonton video tersebut. Beberapa efek negatif itulah yang melatarbelakangi fatwa haram MUI terhadap infotainment. Namun yang menjadi objek sasaran fatwa ini sebenarnya bukan program infotainment itu sendiri. Namun isi dari program tersebut. Jika sebuah program infotainment menyajikan berita yang faktual, menaati kode etik kewartawanan dan tidak mengandung unsur seperti diatas, maka boleh-boleh saja membuat program infotainment. Seperti halnya fatwa haram MUI yang lainnya, fatwa haram infotainment ini juga menjadi pro dan kontra. Bagi yang setuju, fatwa tersebut dianggap sebagai solusi agar efek negatif infotainment dapat dikurangi. Fatwa tersebut selaras dengan peraturan kewartawanan. Namun yang tidak setuju berdalih, bahwa infotainment bermanfaat untuk meredam kelakuan buruk para artis. Karena para artis sangat takut jika perbuatan buruk mereka diekspose di infotainment. Ketika ada program infotainment saja, para artis banyak yang berkelakuan buruk, apalagi jika infotainment dilarang? Para artis akan bisa berbuat seenaknya sendiri. Apa pendapatmu tentang infotainment? Kalau saya pribadi infotainment itu tontonan paling memuakkan, tontonan yang tidak bermanfaat dan tidak ada unsur edukasinya sama sekali, malah yang ada hanya jualan fitnah dan aib orang lain. Dipandang dari sisi apapun infotainment tetap saja bukan sajian yang pantas untuk ditonton, apalagi jam tayangnya yang tidak kenal waktu, mulai pagi, siang, sore, hingga malam hari. Anggota Komisi I DPR RI sepakat mendukung penuh upaya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk menyensor program infotainment stasiun-stasiun televisi untuk menghindari pelanggaran etika, agama, moral, budaya, dan sosial dalam penayangannya. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), KPI, dan Dewan Pers, terpaksa mengambil kesepakatan itu untuk menghindari maraknya program infotainment yang merusak moral anak bangsa. Malah terkesan oleh beberapa pihak, ada tayangan yang seperti hasil rekayasa semata, atau hanya untuk mengejar target-target komersial tertentu, karena tidak bisa dipungkiri infotainment merupakan salah satu lahan

penghasilan stasiun-stasiun tivi terbesar karena memiliki ranking yang tinggi di antara programprogram lainnya. Ada beberapa pihak yang mengusulkan agar program infotainment harus melalui lembaga sensor film. Ini dilakukan untuk menjaga agar program infotainment tidak melanggar hal-hal yang sudah diatur oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) disamping karena program tersebut sudah mendapat berbagai macam protes keras dari masyarakat belakangan ini. Komisi Penyiaran Indonesia menyatakan kebijakan menempatkan infotainment sebagai nonfaktual alias bukan pers sudah mengikat. Soalnya, kebijakan itu diambil dalam rapat kerja dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Pers. Sebagai tayangan nonfactual, infotainment nantinya masuk kategori hiburan. Kalau hiburan, nanti harus melalui sensor tapi bukan KPI yang melakukan, melainkan Lembaga Sensor Film. Dari data pengaduan masyarakat ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) hampir sepertiga (32,18 persen) pengaduan kepada tayangan infotainment. Jumlah tersebut mencakup sekitar 200 dari total 637 pengaduan hingga bulan Juni 2010. Memang usulan untuk menyensor tayangan infotainment ini masih menjadi pro kontra di tengah-tengah masyarakat, karena tentu saja dari tayangan infotainment ada pihak yang mendapatkan keuntungan, seperti pihak stasiun tivi, artis yang baru menapaki karir yang tentu butuh media untuk mempublikasikan diri, tetapi apapun itu tontonan ini tetap kurang bahkan tidak bermanfaat sama sekali untuk dikonsumsi publik. Lihat saja berita-berita yang ditayangkan infotainment, yang ada hanya berita perceraian, perselingkuhan, kasus video mesum yang ujungujungnya hanya mengekspos aib seseorang. Jadi dimana manfaatnya untuk masyarakat menurut anda?