Anda di halaman 1dari 25

SEL

ORGANISME

tanpa organel terbungkus selaput

dengan organel terbungkus selaput

PROKARIOTA

EUKARIOTA

dengan plastid

tanpa plastid

dengan dinding sel

tanpa dinding sel

Bacteri dan algae hijau-biru

Tumbuhan hijau termasuk algae selain selain ganggang hijau-biru

Jamur

Hewan

Virus

DUNIA BACTERI

DUNIA TUMBUHAN

DUNIA JAMUR

DUNIA HEWAN

DUNIA VIRUS

Gambar sebuah sel Tubuh semua hewan dan tumbuhan terdiri atas sel-sel, yaitu unit dasar dari kehidupan. Sel adalah unit struktural dan fungsional dari semua organisme, unit dasar yang mempunyai semua ciri khas benda itu. Generalisasi selanjutnya yang mulamula dikemukakan oleh Virchov dalam tahun 1855, adalah bahwa sel-sel baru dapat terjadi hanya karena pembelahan dari sel-sel yang ada sebelumnya. Kesimpulannya, sel yang ada sekarang dapat ditelusuri moyangnya sampai benda hidup yang paling dini, hal ini dikemukakan oleh August Weismann sekitar tahun 1880. Secara umum berbagai sel mempunyai ciri-ciri dasar yang sama. Tiga hal yang menjadi karekteristik sel adalah sebagai berikut : a. Dinding sel Merupakan bagian terluar dari sel tumbuhan, sedang sel hewan tidak memilikinya. Dinding sel terdiri dari selulosa (penyusun terbesar), hemiselulosa, pektin, lignin dan lain-lain. Adanya dinding sel menyebabkan bentuk sel tumbuhan menjadi kaku/ tetap. Walaupun kaku dinding sel mempunyai lubang-lubang kecil sehingga dapat dilalui materi yang diperlukan/ dikeluarkan oleh sel.

b.

Selaput plasma (membran sel) Selaput plasma atau membran sel merupakan selaput tipis bagian luar sitoplasma yang tersusun dari molekul protein dan molekul lemak. Pada umumnya protein terletak di sebelah luar dan lemak di sebelah dalam sehingga bersifat selektif permiabel. Sifat selektif permiabel hanya dapat dilalui oleh air dan zat-zat terlarut tertentu. Fungsi salaput plasma untuk mengatur pertukaran zat antara sitoplasma dan larutan di luar sel. Pada sel tumbuhan, selaput plasma diperkuat dengan adanya dinding sel di sebalah luarnya. Dinding sel umumnya tersusun dari selulosa dan zat-zat lain. Dinding sel tumbuhan selalu bertambah tebal sehingga bentuk sel menjadi tetap dan sitoplasma semakin sempit. Untuk transportasi antara sel terdapat noktah atau saluran noktrah dengan plasmodesmata di dalam noktah tesebut. Membran sel di samping berfungsi sebagai batas antar sel, juga bertindak sebagai pelindung, yaitu melindungi agar isi sel tidak keluar meninggalkan sel dan juga mengontrol zat-zat yang boleh masuk atau meninggalkan sel. Pada umumnya : air, oksigen dan zat makanan dapat masuk, sisa pembakaran dan bahan-bahan yang merugikan dikeluarka. Ini berarti membran sel bersifat selektif (selekstif permiabel). Dengan ini memberan sel mempertahankan bentuk, ukuran dan reaksireaksi kimia di dalam sel agar dapat berjalan terus-menerus. Organisme multiseluler selalu mempunyai masalah transportasi jarak jauh dalam melewati tubuhnya, sekaligus juga mempunyai masalah transportasi jarak dekat lewat membran sel. Berikut ini akan dibicarakan macam-macam gerakan yang melewati membran sel. Gerakan-gerakan itu terjadi juga terjadi pada selaput organel dalam sel. Pada dasarnya ada 4 macam gerakan yang melewati membran sel yaitu difusi, osmosis, transport aktif dan endositosis atau eksositosis.

Imbibisi : merupakan penyusupan atau peresapan air ke dalam ruangan antar dinding sel, sehingga dinding selnya akan mengembang. Misal masuknya air pada biji saat berkecambah dan biji kacang yang direndam dalam air beberapa jam. Diffusi : gerak menyebarnya molekul dari daerah konsentrasi tinggi (hipertonik) ke konsentrasi rendah (hipotonik). Molekul-molekul gas seperti oksigen dan karbon dioksida selalu bergerak sepanjang waktu, demikian pula mulekul-molekul cairan atau zat lain seperti gula yang terlarut dalam air. Sebagai akibat dari gerakan ini, molekul-molekul itu akan tersebar merata mengisi ruang yang ada. Proses ini disebut difusi. Berbagai ion dan molekul-molekul seperti glukosa, asam amino, asam lemak dan gliserol berdifusi lebih lambat. Molekul-molekul yang tidak bermuatan dan molekul lemak yang terlarut dapat bergerak melewati membran lebih cepat. Proses difusi gas, cairan atau zat-zat terlarut terjadi dari daerah kerapatan tinggi menuju daerah kerapatan rendah atau nol (mengandung sedikit molekul zat atau tidak ada), sehingga kerapatannya menjadi sama di mana mana. Apakah peristiwa difusi akan terjadi atau tidak, tergantung apakah membran sel meluluskan meolekul melaluinya atau tidak. Hal ini sesuai dengan membran sel yang selektif permiabel. Molekul-molekul kecil seperti molekul H2O, CO2 dan O2 dapat dengan mudah dan cepat melalui membran, sehingga difusi cenderung untuk mempersamakan kerapatan atau konsentrasi molekul-molekul di dalam dan di luar sel sepanjang waktu. Misal pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 saat pernafasan, penyebaran setetes tinta dalam air. Osmosis : proses perpindahan air dari daerah yang berkonsentrasi rendah (hipotonik) ke daerah yang berkonsentrasi tinggi (hipertonik) melalui membran semipermiabel. Membran semipermiabel adalah selaput pemisah yang hanya bisa ditembus oleh air dan zat tertentu yang larut di dalamnya. Osmosis pada sel tumbuhan di sebelah luar terdapat dinding sel dan di dalamnya terdapat protoplasma dan vakoula. Vakoula ini dilapisi oleh lapisan proplasma yang sifatnya semipermiabel. Cairan protoplasma sel tumbuhan ini umumnya merupakan cairan yang hipertonik dibandingkan dengan dengan cairan disekelilingnya. Sel tumbuhan mengambil air dari sekelilingnya secara osmosis, air masuk vakuola dan menekan protoplasma. Protoplasma menekan dinding sel. Osmosis dapat menjaga keseimbangan konsentrasi larutan di dalam dan di luar sel. Jika terlalu banyak air masuk ke dalam sel, sel akan menggembung, bahkan mungkin dapat pecah. Tekanan pada dinding sel tersebut dinamakan takanan turgor. Karena turgor dinding sel sedikit mengembang. Waktu dinding sel mengembang secara secara maksimum dikatakan sel mempunyai turgor penuh atau turgid penuh. Keadaan menjadi sebaliknya jika sel diletakkan dalam suatu larutan yang yang bersifat hipertonik, maka air akan keluar dari sel. Bila air sel banyak keluar, maka isi sel terlepas dari dinding sel. Peristiwa telepasnya protoplasma dari dinding sel disebut plasmolisis.
Dalam keadaan bagaimana plasmolisis terjadi ?. Transpor aktif : pengangkutan lintas membran dengan menggunakan energi ATP, melibatkan pertukaran ion Na+ dan K+ (pompa ion) serta protein kontraspor yang akan mengangkut ion Na + bersama melekul lain seperti asam amino dan gula. Arahnya dari daerah berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Misal perpindahan air dari korteks ke stele. Transpor aktif merupakan transpor yang mengkonsumsi atau menggunakan energi untuk mengeluarkan dan/atau memasukkan ion-ion dan molekul melalui membran sel, melawan perbedaan konsentrasi. Ini menunjukkan, bahwa sel pada suatu waktu tidak dapat hanya mengandalkan difusi dan osmosis untuk memperoleh keperluan hidupnya. Energi diperlukan karena ada zat yang harus dipindahkan melawan kecenderungan alami berdifusi ke arah yang berlawanan. Berbeda dengan difusi yang dapat berjalan ke dua arah, transpor aktif merupakan gerakan satu arah dan dipengaruhi oleh muatan listrik di

dalam dan di luar sel. Muatan listrik ini terutama ditentukan oleh ion-ion Natrium (Na+), Kalium (K+), dan ion klor (Cl-). Keluar masuknya ion Na+, dan K+ dilakukan oleh pompa natrium-kalium (pompa Na+-K-) dengan menggunakan energi yang diperoleh dari ATP (adenosin triphospate). Pompa Na+- K- bekerja memompa ion Na+ ke luar sel dan memasukkan ion K- ke dalam sel. Konsentrasi ion K+ yang tinggi diperlukan untuk sintesis protein, glikosis, fotosintesis dan proses vital lainnya. Keberadaan ion-ion Na+ dan K+ penting untuk mengendalikan pengaturan osmosis, mempertahankan kegiatan listrik dalam sel saraf dan memacu transpor aktif bagi zat-zat lain seperti glukosa dan asam amino. Dalam beberapa hal, kombinasi antara transpor aktif dan difusi dapat terjadi. Endositosis dan eksositosis: beberapa sel memasukkan (endositosis) atau dan mengeluarkan (eksositosis) partikel-partikel padat atau tetes cairan melalui membran sel. Endosistosis terjadi pada organisme satu sel seperti amoeba dan paramecium waktu makan, atau bila sel darah putih memakan bacteri, proses ini disebut fagositosis. Eksositosis terjadi bila di dalam beberapa sel kelenjar. Sekresi, misalnya enzim pencernaan berbentuk vakuola atau granula dalam sitoplasma, dikeluarkan lewat sel untuk melakukan fungsinya di luar sel. Gerak difusi dan osmosis termasuk dalam gerak pasif, artinya tidak mengkonsumsi energi, sedangkan transpor aktif dan gerak endisitosis serta eksositosis adalah gerak aktif yang artinya mengkonsumsi energi

c.

Plasma sel (sitoplasma) Plasma sel tersusun dari nukleoplasma dan sitoplasma. Nukleoplasma adalah plasma yang terdapat di dalam inti sel atau nukleus. Sitoplasma adalah plasma yang terdapat di antara selaput sel dan selaput inti atau bagian sel yang berada di luar inti. Di dalam sitoplasma terdapat zat dasar (sitosol) dan organel. Sitosol mengisi bagian di luar inti dan terletak di antara organel sel. Untuk melaksanakan berbagai macam kegiatan sel, di dalam sitoplasma terdapat berbagai organel. Macam-macam organel sel di antaranya : 1. Retikulum Endoplasma Retikulum endoplasma merupakan pembuluh halus yang menghubungkan membran inti dengan membran plasma. Retikulum endoplasma berfungsi untuk transport bahan-bahan yang dihasilkan oleh ribosom yang melekat pada retikulum endoplasma. 2. Ribosom Ribosom terdapat pasa semua sel yang hidup, kadarnya semakin meningkat pada sel yang aktif melaksanakan metanolisme. Bentuknya bundar dan dibangun oleh RNA-ribosom dan protein. Letak ribosom tersebar di dalam sitoplasma dan berfungsi untuk sintesa protein.

3.

Mitokondria Mitokondria berbentuk bulat lonjong,banyak terdapat pada sel yang sedan gaktif menjalankan metabolisme. Struktur mitokondria dikelilingi oleh selaput dalam dan selaput luar. Pada membran dalam membentuk lipatan yang disebut krista. Krista berfungsi untuk memperluas bidang permukaan sehingga mempercepat respirasi sel, oleh karena itu mitokondria berfungsi untuk respirasi sel. Pada organisme multiseluler mitokondria terjadi oksidasi karbohidrat yang menghasilkan energi untuk penyusunan ATP. Reaksi respirasi internal secara sederhana C6H12O6 + 6O2 energi + 6CO2 + 6 H2O

AMP ADP ATP 4. 5. Badan Golgi Badan golgi banyak terdapat pada sel-sel kelenjar dan berfungsi untuk sekresi sel. Badan golgi juga disebut aparatus golgi. Vakuola

6.

Vakuola pada umumnya terdapat pada sel tumbuhan. Sel tumbuhan yang masih muda mempunyai vakuola yang kecilkecil dan jumlahnya banyak, sedangkan sel yang dewasa (tua) jumlah vakuolanya berkurang dengan ukuran semakin besar. Vakuola berisi cairan sel dengan zat-zat yang terkarut dan mengendap, seperti : - Alkaloid, misal nikotin pada tembakau, kafein pada kopi, dan papain pada pepaya. - Asam organik, misal asam tartat dam asam sitrat - Senyawa organik, misal karbohidrat, lemak dan protein - Butir-butir eleuron yang merupakan butir-butir protein halus sebagai cadangan makanan Hewan bersel satu memiliki dua macam vakuola yang fungsi dan ukurannya berbeda dengan vakuola tersebut, yaitu vakuola makanan yang berfungsi untuk ekskresi sisa metabolisme. Lisosom Lisosom hanya terdapat pada sel hewan dan banyak terdapat pada sel yang melakukan imunitas seperti leukosit dan monosit. Lisosom mengandung banyak enzim yang berfungsi untuk mencerna bahan makanan yang masuk ke dalam sel.

7.

Sentrosom Pada umumnya sentrosom hanya terdapat pada sel hewan dan terletak dekat membran inti. Sentrosom mengandung dua sentriol yang berfungsi pada waktu sel membelah. Pada waktu terjadi pembelahan kedua sentriol terbentuk benang gelendong. 8. Plastida Plastida hanya terdapat pada sel tumbuhan. Ada tiga macam plastida, yaitu : Leukoplas adalah plastida yang tidak berwarna, berfungsi untuk menyimpan amilum (amiloplas), minyak (elaioplas) dan protein (aleuroplas). - Kloroplas adalah plastida yang mengandung kloropil, berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis. - Kromoplas adalah plastida yang berwarna selain warna hijau. Kromoplas biasanya terdapat pada bunga, buah dan batang, misalnya xantofil berwarna kuning merah, karotin berwarna orange atau merah, dan fikosianin berwarna biru. 9. Mikrotubulus dan mikrofilamen Mikrotubulus adalah tabung-tabung halus dari protein tubulin, yang terdapat pada kebanyakan sel hewan dan tumbuhan. Diameternya kurang lebih 25 nm, sedangkan panjanrnya bervariasi. Mikrotubulus menentukan bentuk struktur (sitoskleton = kerangka sel) pada sitoplasma, pembentukan sentriol, silia, flagela dan juga memainkan peranan yang amat penting dalam pembentukan sel. Mikrofilamen merupakan benang-bendang dari protein aktin dan miosin berdiameter 5 7 m. mikrofilamen terlihat dalam gerakan sel dan proses endositosis dan eksositosis. 10. Badan mikro (mikrobodyperoksisom) Badan mikro merupakan organel-organel kecil di dalam sitoplasma, yang mengandung enzim katalase dan oksidase. Diameter sekitar 400 nm. Bentuk bulat atau lonjong dan bersistem membran. Dibedakan 2 kelompok badan mikro yaitu peroksisom dan glioksisom. Peroksisom berfungsi menetralkan peroksida (H2O2), yang berbahaya bagi kehidupan sel menjadi air dan oksigen. Glioksisom selain mengandung katalase dan oksidase juga berisi enzim yang berfungsi pada daur glioksisat. Pada sel hewan badan mikro letaknya tersebar di sekitar retikulum endoplasma. Pada tumbuhan badan mikro terletak berdekatan dengan kloroplas dan berfungsi dalam fotorespirasi, yaitu respirasi tumbuhan yang diaktifkan oleh cahaya dan melibatkan metabolisme. d. Nukleus (inti sel) Pada umumnya sel hanya mempunyai satu inti, tetapi ada juga yang mempunyai inti lebih dari satu. misalnya Paramaecium sp mempunyai dua inti yaitu inti makro dan inti mikro. Pada inti terdapat bagian-bagian sebagai berikut : - Membran inti (karioteka), merupakan selaput rangkap yang memisahkan inti dari sitoplasma, tersusun dari protein dan lemak (lipoprotein). Inti pada bacteri tanpa membran disebut prokarion, sedangkan inti yang mempunyai membran disebut eukarion. - Nukleoplasma, merupakan plasma yang terdapat dalam inti. Nukleoplasma mengandung bahan kimia, seperti fosfat, gula ribosa, protein, nukeotida dan asam nukleat. - Kromatin, pada nukleus terdapat benang kromatin yang berubah menjadi kromosom pada sel yang membelah. Kromosom berfungsi mengatur metabolisme sel dan mengontrol pewarisan sifat pada individu. - Nukleolus (anak inti), berbentuk bulat yang berfungsi untuk sintesis, ARN-ribosom dan replikasi DNA.

Beda sel tumbuhan dan sel hewan

1 2 3 4 5

Sel tumbuhan Sel hewan Mempunyai plastida Tidak mempunyai plastida Mempunyai dinding sel Tidak mempunyai dinding sel Tidak mempunyai sentriol Mempunyai sebuah sentriol Tidak mempunyai lisosom Mempunyai lisosom Mempunyai vakuola yang berfungsi sebagai penimbunVakuola tidak selamanya ada, kecuali pada anggota atau penyimpan hasil sintesis. Protozoa. Badan golginya kurang jelas Aktivitas sentrosomnya tidak jelas Mempunyai badan golgi Sifat pertumbuhannya terbuka Aktivitas sentrosomnya sangat jelas Sifat pertumbuhannya tertutup

6 7 8 Gambar sel tumbuhan Gambar sel hewan

Skema sel secara umum :

Sitoplasma
endoplasma

Selaput plasma Mitokondria Badan golgi Retikulum Ribosom Lisosom Sentrosom Plastida Selaput plasma

Komponen protoplasma

Protoplasma
Nukleus

Nukleoplasma Nukleolus Benang kromatin

Vakuola

SEL
Bukan komponen protoplasma
Amilum (pati)

Bahan ergastik
kristal

KristalAleuron

Lamel tengah

Dinding sel

Lamel primer Lamel sekunder

http://tedbio.multiply.com/journal/item/18

Air dalam tumbuhan


Januari 21, 2009 4 Komentar
Air merupakan 85 95 % berat tumbuhan herba yang hidup di air. Dalam sel, air diperlukan sebagai pelarut unsur hara sehingga dapat digunakan untuk mengangkutnya; selain itu air diperlukan juga sebagai substrat atau reaktan untuk berbagai reaksi biokimia misalnya proses fotosintesis; dan air dapat menyebabkan terbentuknya enzim dalam tiga dimensi sehingga dapat digunakan untuk aktivitas katalisnya. Tanaman yang kekurangan air akan menjadi layu, dan apabila tidak diberikan air secepatnya akan terjadi layu permanen yang dapat menyebabkan kematian. Terdapat lima mekanisme utama yang menggerakkan air dari suatu tempat ke tempat lain, yaitu melalui proses: difusi, osmosis, tekanan kapiler, tekanan hidrostatik, dan gravitasi. a. Difusi Difusi adalah pergerakan molekul atau ion dari dengan daerah konsentrasi tinggi ke daerah

dengan konsentrasi rendah Beberapa contoh difusi: 1. Apabila kita teteskan minyak wangi dalam botol lalu ditutup, maka bau minyak wangi tersebut akan tersebar ke seluruh bagian botol. Apabila tutup botol dibuka, maka bau minyak wangi tersebut akan tersebar ke seluruh ruangan, meskipun tidak menggunakan kipas. Hal ini disebabkan karena terjadi proses difusi dari botol minyak wangi (konsentrasi tinggi) ke ruangan (konsentrasi rendah). 2. Apabila kita meneteskan tinta ke dalam segelas air, maka warna tinta tersebut akan menyebar dari tempat tetesan awal (konsentrasi tinggi) ke seluruh air dalam gelas (konsentrasi rendah) sehingga terjadi keseimbangan. Sebenarnya, selain terjadi pergerakan tinta, juga terjadi pergerakan air menuju ke tempat tetesan tinta (dari konsentrasi air tinggi ke konsentrasi air rendah). Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan) medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil. Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara luar masuk melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi) juga merupakan contoh proses difusi. Di alam, angin, dan aliran air menyebarkan molekul lebih cepat disbanding dengan proses difusi. b. Osmosis Osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Masuknya larutan ke dalam sel-sel endodermis merupakan contoh proses osmosis. Dalam tubuh organisme multiseluler, air bergera dari satu sel ke sel lainnya dengan leluasa. Selain air, molekul-molekul yang berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel. Molekul-molekul tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses Osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua sisi membran tersebut telah mencapai keseimbangan. Osmosis juga dapat terjadi dari sitoplasma ke organel-organel bermembran. Osmosis dapat dicegah dengan menggunakan tekanan. Oleh karena itu, ahli fisiologi tanaman lebih suka menggunakan istilah potensial osmotik yakni tekanan yang diperlukan untuk mencegah osmosis. Jika anda merendam wortel ke dalam larutan garam 10 % maka sel-selnya akan kehilangan rigiditas (kekakuan)nya. Hal ini disebabkan potensial air dalam sel wortel tersebut lebih tinggi dibanding dengan potensial air pada larutan garam sehingga air dari dalam sel akan keluar ke dalam larutan tersebut. Jika diamati dengan mikroskop maka vakuola sel-sel wortel tersebut tidak tampak dan sitoplasma akan mengkerut dan membran sel akan terlepas dari dindingnya. Peristiwa lepasnya plasma sel dari dinding sel ini disebut plasmolisis. c. Tekanan kapiler Apabila pipa kapiler dicelupkan ke dalam bak yang berisi air, maka permukaan air dalam pip a kapiler akan naik sampai terjadi keseimbangan antara tegangan yang menarik air tersebut dengan beratnya. Tekanan yang menarik air tersebut disebut tekanan kapiler. Tekanan kapiler tergantung

pada diameter kapiler : semakin kecil diameter kapiler semakin besar tegangan yang menarik kolom air tersebut d. Tekanan hidrostatik Masuknya air ke dalam sel akan menyebabkan tekanan terhadap dinding sel sehingga dinding sel meregang. Hal ini akan menyebabkan timbulnya tekanan hidrostatik untuk melawan aliran air tersebut. Tekanan hidrostatik dalam sel disebut tekanan turgor. Tekanan turgor yang berkembang melawan dinding sebagai hasil masuknya air ke dalam vakuola sel disebut potensial tekanan. Tekanan turgor penting bagi sel karena dapat menyebabkan sel dan jaringan yang disusunnya menjadi kaku. Potensial air suatu sel tumbuhan secara esensial merupakan kombinasi potensial osmotic dengan potensial tekanannya. Jika dua sel yang bersebelahan mempunyai potensial air yang berbeda, maka air akan bergerak dari sel yang mempunyai potensial air tinggi menuju ke sel yang mempunyai potensial air rendah. e. Gravitasi Air juga bergerak untuk merespon gaya gravitasi bumi, sehingga perlu tekanan untuk menarik air ke atas. Pada tumbuhan herba, pengaruh gravitasi dapat diabaikan karena perbedaan ketinggian pada bagian tanaman tersebut relatif kecil. Pada tumbuhan yang tinggi, pengaruh gravitasi ini sangat nyata. Untuk menggerakkan air ke atas pada pohon setinggi 100 m diperlukan tekanan sekitar 20 atmosfer

http://klimatologi.wordpress.com/2009/01/21/air-dalam-tumbuhan/

A. Latar Belakang Pernahkah kita memikirkan bagaimana caranya udara dan air masuk ke dalam tubuh tumbuhan? Semua sel tumbuhan dikelilingi oleh selaput atau membran. Membran sel tidak dapat dilalui oleh semua zat. Membran sel berfungsi seperti tirai kasa di jendela rumahmu yang dapat dilalui udara tetapi tidak dapat dilalui benda-benda yang besar seperti serangga atau kerikil bahkan nyamuk. Bagaimana zat-zat tertentu dapat melalui membran sel? Sel-sel tumbuhan dapat dilewati air, zat-zat makanan yang terlarut, oksigen dan karbondioksida baik ke dalam atau ke luar sel. Sel tumbuhan memerlukan oksigen dan karbondioksida, serta bagaimana zat-zat tersebut bergerak melewati membran sel? Bagian-bagian penyusun zat di alam ini selalu dalam keadaan bergerak. Bagian-bagian penyusun zat yang ukurannya sangat kecil disebut partikel. Partikel tersebut menyebar merata ke segala arah. Zat-zat

bergerak dari tempat yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi ke tempat yang konsentrasinya lebih rendah. Proses perpindahan zat seperti tersebut disebut difusi. Konsentrasi suatu zat adalah ukuran yang menunjukkan jumlah suatu zat dalam volume tertentu. Difusi partikel zat itu akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua tempat tersebut sudah sama. Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam. Perubahan bentuk sel terjadi jika terdapat pada larutan yang berbeda. Sel yang terletak pada larutan isotonik, maka volumenya akan konstan. Dalam hal ini, sel akan mendapat dan kehilangan air yang sama. Banyak hewan-hewan laut, seperti bintang laut (Echinodermata) dan kepiting (Arthropoda) cairan selnya bersifat isotonik dengan lingkungannya. Jika sel terdapat pada larutan yang hipotonik, maka sel tersebut akan mendapatkan banyak air, sehingga bisa menyebabkan lisis (pada sel hewan), atau turgiditas tinggi (pada sel tumbuhan). Sebaliknya, jika sel berada pada larutan hipertonik, maka sel banyak kehilangan molekul air, sehingga sel menjadi kecil dan dapat menyebabkan kematian. Pada hewan, untuk bisa bertahan dalam lingkungan yang hipo- atau hipertonik, maka diperlukan pengaturan keseimbangan air, yaitu dalam proses osmoregulasi. Pada praktikum ini kita akan melakukan pengamatan terhadap potensial kimia air untuk mengetahui pergerakan kimia air dalam tumbuhan yang mengalami kelebihan ataupun kekurangan cairan. Kita akan mengamati pergerakan air yang terjadi pada umbi kentang dan larutan sukrosa. Caranya yaitu dengan merendam potongan jaringan dalam suatu seri laurtan yang diketahui konsentrasinya. Dari sini kita akan mengetahui apakah umbi kentang yang memiliki Potensial air tinggi ataupun larutan suksrosa. Namun dalam percobaan ini kita juga harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyimpangan hasil dari teori yang ada sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut, maka praktikum Fisiologi Tumbuhan ini dilaksanakan. B. Tujuan Praktikum Adapun tujuan praktikum ini adalah Untuk mengukur nilai potensial air jaringan umbi kentang. C. Manfaat Praktikum Adapun manfaat praktikum ini adalah agar bisa memahami cara mengukur nilai potensial air jaringan umbi kentang BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sistem yang menggambarkan tingkah laku air dan pergerakan air dalam tanah dan tubuh tumbuhan didasarkan atas suatu hubungan energy potensial. Air mempunyai kapasitas untuk melakukan kerja, yaitu akan

bergerak dari daerah dengan energy potensial tinggi ke daerah dengan energy potensial rendah. Energy potensial dalam sistem cairan dinyatakan dengan cara membandingkannya dengan energy potensial air murni. Karena air dalam tumbuhan dan tanah biasanya secara kimia tidak murni, disebabkan oleh adanya bahan terlarut dan secara fisik dibatasi oleh berbagai gaya, seperti gaya tarik-menarik yang berlawanan, gravitasi, dan tekanan, maka energy potensialnya lebih kecil dari pada energi potensial air murni (Gardner, 1991). Potensial kimia air atau potensial air (PA) merupakan konsep yang sangat penting dalam fisiologi tumbuhan. Ralph O. Slatyer (Australia) dan Sterling A Taylor (Utah State University) pada tahun 1960, mengusulkan bahwa potensial air digunakan sebagai dasar untuk sifat air dalam sistem tumbuhan-tanah-udara. Potensial air merupakan sesuatu yang sama dengan potensial kimia air dalam suatu sistem, dibandingkan dengan potensial kimia air murni pada tekanan atmosfir dan suhu yang sama. Mereka menganggap bahwa PA air murni dinyatakan sebagai (0) nol (merupakan konvensi) dengan satuan dapat berupa tekanan (atm, bar) atau satuan energi. Karena air begitu sangat penting dan jumlahnya sangat banyak (konsentrasi sekitar 50M), difusi air melintasi membran semipermeabel dinamakan osmosis. Molekul air dapat berdifusi secara bebas melintasi membran, dari larutan dengan gradien konsentrasi larutan rendah ke larutan dengan gradien konsentrasi larutan tinggi (Ismail, 2006). Potensial air adalah suatu pernyataan dari status energy bebas air, suatu ukuran daya yang menyebabkan air bergerak kedalam suatu sistem, seperti jaringan tumbuhan, seperti jaringan tumbuhan, tanah atau atmosfir, atau suatu bagian dari suatu bagian lain dalam suatu sistem. Potensial air mungkin merupakan parameter yang paling bermanfaat untuk diukur dalam hubungan dengan sistem tanah, tanaman dan atmosfir (Ismail, 2009).

http://www.scribd.com/doc/27598302/Yny-Lap-1-Fistum-Potensial-Air
LEMBAR PENGESAHAN Laporan Lengkap Praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan judul Pengukuran Potensial Air Jaringan Tumbuhan disusun oleh: Nama : Ariandi

NIM : 071404075 Kelas/kelompok : A/V. Telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten dan Koordinator Asisten, maka dinyatakan diterima. Makassar, Maret 2009 Koordinator Asisten Asisten IWAN S.Si IWAN S.Si Mengetahui Dosen penanggung jawab Drs. ISMAIL, M.S. NIP: 131625063 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pernahkah kita memikirkan bagaimana caranya udara dan air masuk ke dalam tubuh tumbuhan? Semua sel tumbuhan dikelilingi oleh selaput atau membran. Membran sel tidak dapat dilalui oleh semua zat. Membran sel berfungsi seperti tirai kasa di jendela rumahmu yang dapat dilalui udara tetapi tidak dapat dilalui benda-benda yang besar seperti serangga atau kerikil bahkan nyamuk. Bagaimana zat-zat tertentu dapat melalui membran sel? Sel-sel tumbuhan dapat dilewati air, zat-zat makanan yang terlarut, oksigen dan karbondioksida baik ke dalam atau ke luar sel. Sel tumbuhan memerlukan oksigen dan karbondioksida, serta bagaimana zat-zat tersebut bergerak melewati membran sel? Bagian-bagian penyusun zat di alam ini selalu dalam keadaan bergerak. Bagian-bagian

penyusun zat yang ukurannya sangat kecil disebut partikel. Partikel tersebut menyebar merata ke segala arah. Zat-zat bergerak dari tempat yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi ke tempat yang konsentrasinya lebih rendah. Proses perpindahan zat seperti tersebut disebut difusi. Konsentrasi suatu zat adalah ukuran yang menunjukkan jumlah suatu zat dalam volume tertentu. Difusi partikel zat itu akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua tempat tersebut sudah sama. Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam. Perubahan bentuk sel terjadi jika terdapat pada larutan yang berbeda. Sel yang terletak pada larutan isotonik, maka volumenya akan konstan. Dalam hal ini, sel akan mendapat dan kehilangan air yang sama. Banyak hewan-hewan laut, seperti bintang laut (Echinodermata) dan kepiting (Arthropoda) cairan selnya bersifat isotonik dengan lingkungannya. Jika sel terdapat pada larutan yang hipotonik, maka sel tersebut akan mendapatkan banyak air, sehingga bisa menyebabkan lisis (pada sel hewan), atau turgiditas tinggi (pada sel tumbuhan). Sebaliknya, jika sel berada pada larutan hipertonik, maka sel banyak kehilangan molekul air, sehingga sel menjadi kecil dan dapat menyebabkan kematian. Pada hewan, untuk bisa bertahan dalam lingkungan yang hipo- atau hipertonik, maka diperlukan pengaturan keseimbangan air, yaitu dalam proses osmoregulasi. Pada praktikum ini kita akan melakukan pengamatan terhadap potensial kimia air untuk mengetahui pergerakan kimia air dalam tumbuhan yang mengalami kelebihan ataupun kekurangan cairan. Kita akan mengamati pergerakan air yang terjadi pada umbi kentang dan larutan sukrosa. Caranya yaitu dengan merendam potongan jaringan dalam suatu seri laurtan yang diketahui konsentrasinya. Dari sini kita akan mengetahui apakah umbi kentang yang memiliki Potensial air tinggi ataupun larutan suksrosa. Namun dalam percobaan ini kita juga harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyimpangan hasil dari teori yang ada sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut, maka praktikum Fisiologi Tumbuhan ini dilaksanakan. B. Tujuan Praktikum Adapun tujuan praktikum ini adalah Untuk mengukur nilai potensial air jaringan umbi kentang. C. Manfaat Praktikum Adapun manfaat praktikum ini adalah agar bisa memahami cara mengukur nilai potensial air jaringan umbi kentang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Sistem yang menggambarkan tingkah laku air dan pergerakan air dalam tanah dan tubuh tumbuhan didasarkan atas suatu hubungan energy potensial. Air mempunyai kapasitas untuk melakukan kerja, yaitu akan bergerak dari daerah dengan energy potensial tinggi ke daerah dengan energy potensial rendah. Energy potensial dalam sistem cairan dinyatakan dengan cara membandingkannya dengan energy potensial air murni. Karena air dalam tumbuhan dan tanah biasanya secara kimia tidak murni, disebabkan oleh adanya bahan terlarut dan secara fisik dibatasi oleh berbagai gaya, seperti gaya tarik-menarik yang berlawanan, gravitasi, dan tekanan, maka energy potensialnya lebih kecil dari pada energi potensial air murni (Gardner, 1991). Potensial kimia air atau potensial air (PA) merupakan konsep yang sangat penting dalam fisiologi tumbuhan. Ralph O. Slatyer (Australia) dan Sterling A Taylor (Utah State University) pada tahun 1960, mengusulkan bahwa potensial air digunakan sebagai dasar untuk sifat air dalam sistem tumbuhan-tanah-udara. Potensial air merupakan sesuatu yang sama dengan potensial kimia air dalam suatu sistem, dibandingkan dengan potensial kimia air murni pada tekanan atmosfir dan suhu yang sama. Mereka menganggap bahwa PA air murni dinyatakan sebagai (0) nol (merupakan konvensi) dengan satuan dapat berupa tekanan (atm, bar) atau satuan energi. Karena air begitu sangat penting dan jumlahnya sangat banyak (konsentrasi sekitar 50M), difusi air melintasi membran semipermeabel dinamakan osmosis. Molekul air dapat berdifusi secara bebas melintasi membran, dari larutan dengan gradien konsentrasi larutan rendah ke larutan dengan gradien konsentrasi larutan tinggi (Ismail, 2006). Potensial air adalah suatu pernyataan dari status energy bebas air, suatu ukuran daya yang menyebabkan air bergerak kedalam suatu sistem, seperti jaringan tumbuhan, seperti jaringan tumbuhan, tanah atau atmosfir, atau suatu bagian dari suatu bagian lain dalam suatu sistem. Potensial air mungkin merupakan parameter yang paling bermanfaat untuk diukur dalam hubungan dengan sistem tanah, tanaman dan atmosfir (Ismail, 2009). Osmosis merupakan difusi air melintasi membran semipermeabel dari daerah dimana air lebih banyak ke daerah dengan air yang lebih sedikit . Osmosis sangat ditentukan oleh potensial kimia air atau potensial air , yang menggambarkan kemampuan molekul air untuk dapat melakukan difusi. Sejumlah besar volume air akan memiliki kelebihan energi bebas daripada volume yang sedikit, di bawah kondisi yang sama. Energi bebas zuatu zat per unit

jumlah, terutama per berat gram molekul (energi bebas mol-1) disebut potensial kimia. Potensial kimia zat terlarut kurang lebih sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya. Zat terlarut yang berdifusi cenderung untuk bergerak dari daerah yang berpotensi kimia lebih tinggi menuju daerah yang berpotensial kimia lebih kecil (Ismail, 2006). Osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Masuknya larutan ke dalam sel-sel endodermis merupakan contoh proses osmosis. Dalam tubuh organisme multiseluler, air bergera dari satu sel ke sel lainnya dengan leluasa. Selain air, molekul-molekul yang berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel. Molekul-molekul tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses Osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua sisi membran tersebut telah mencapai keseimbangan (Anonim, 2009). Struktur dinding sel dan membran sel berbeda. Membran memungkinkan molekul air melintas lebih cepat daripada unsur terlarut; dinding sel primer biasanya sangat permeable terhadap keduanya. Memang membran sel tumbuhan memungkinkan berlangsungnya osmosis, tapi dinding sel yang tegar itulah yang menimbulkan tekanan. Sel hewan tidak mempunyai dinding, sehingga bila timbul tekanan didalamnya, sel tersebut sering pecah, seperti yang terjadi saat sel darah merah dimasukkan dalam air. Sel yang turgid banyak berperan dalam menegakkan tumbuhan yang tidak berkayu (Salisbury, 1995). Prinsip osmosis: transfer molekul solvent dari lokasi hypotonic (potensi rendah) solution menuju hypertonic solution, melewati membran. Jika lokasi hypertonic solution kita beri tekanan tertentu, osmosis dapat berhenti, atau malah berbalik arah (reversed osmosis).Besarnya tekanan yang dibutuhkan untuk menghentikan osmosis disebut sebagai osmotic press.Jika dijelaskan sebagai konsep termodinamika, osmosis dapat dianalogikan sebagai proses perubahan entrropi. Komponen solvent murni memiliki entropi rendah, sedangkan komponen berkandunagn solut tinggi memiliki entropi yg tinggi juga. Mengikuti Hukum Termo II: setiap perubahan yang terjadi selalu menuju kondisi entropi maksimum, maka solvent akan mengalir menuju tempat yg mengandung solut lebih banyak, sehingga total entropi akhir yang diperoleh akan maksimum.Solvent akan kehilangan entropi, dan solut akan menyerap entropi. "Orang miskin akan semakin miskin, sedang yang kaya akan semakin kaya". Saat kesetimbangan tercapai, entropi akan maksimum, atau gradien (perubahan entropi terhadap waktu) = 0. Ingat: pada titik ekstrim, dS/dt = 0 (Wibosono, 2009).

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM A. Waktu dan Tempat Hari / Tanggal : Senin / 23 Maret 2009 Waktu : Pukul 09.10 s.d 13.00 WITA Tempat : Laboratorium Biologi Lantai III Timur FMIPA UNM B. Alat dan Bahan 1. Alat a. Bor sumbat gabus berdiameter 0,8 cm b. Silet c. Neraca Ohaus d. Cawan Petri 10 buah e. Kertas saring f. Pinset 1. Bahan a.Bahan tumbuhan : umbi kentang (Solanum tuberosum) b.Bahan kimia : Aquadest, larutan sukrosa : 0,1 M, 0,2 M, 0,3 M, 0,4 M, 0,5 M, 0,6 M, 0,7 M, 0,8 M, dan 0,9 M. A. Prosedur Kerja

1. Menyiapkan 10 buah cawan petri, masing-masing diisi dengan 10 ml dari larutan berilut: aquades, larutan sukrosa 0,1 M, 0,2 M, 0,3 M, 0,4 M, 0,5 M, 0,6 M, 0,7 M, 0,8 M, dan 0,9 M. 2.Melakukan tahap-tahap berikut dengan cepat, membuat 10 silinder umbi

kentang dengan yang berdiameter 0,8 cm, masing-masing dengan panjang 4 cm, menghilangkan bagian kulitnya. Sebaiknya semua silinder umbi kentang berasal dari umbi kentang saja. Meletakkan silinder di dalam wadah tertutup. 3. Menggunakan pisau silet, memotong satu silinder umbi kentang menjadi irisan-irisan tipis dengan tebal 1-2 mm.

4. Membilas irisan tipis kentang dengan aquades dengan cepat, mengeringkan dengan kertas saring dan menimbangnya. Selanjutnya memasukkan ke dalam salah satu larutan sukrosa yang telah disiapkan. Melakukan ini pada tiap-tiap silinder umbi kentang untuk masing-masing larutan berikutnya. 5. Merendam silinder selama 1 jam, mengeluarkan irisan-irisan tersebut dari masing-masing cawan petri, lalu mengeringkan dengan kertas pengisap dan menimbangnya. Melakukan ini untuk semua contoh percobaan 6. Untuk menghitung rumus berikut perubahan berat, gunakan rumus berikut: % perubahan berat= berat akhir berat mula-mula.Berat mulamula100% 7.Kemudian membuat grafik dan plotkan persen perubahan berat pada ordinat dan konsentrasi larutan sukrosa (dalam molar) pada absis. 8.Potensial air jaringan dapat diperoleh setelah terlebih dahulu menghitung potensial osmotic untuk masing-masing konsentrasi larutan sukrosa. Gunakan rumus berikut: -s = MiRT

Dimana M = molaritas dari larutan sukrosa I = konstanta ionisasi, untuk sukrosa=1 R= konstanta gas ()0,0831 bar/ derajat mol T= suhu absolute= ( C + 273) Rumus diatas cukup digunakan untuk menghitung potensial osmotic suhu larutan sukrosa. Selanjutnya, potensial dari larutan-larutan lainnya dapat ditentukan dengan mengunakan rumus berikut:

9.Kemudian menentukan dengan menginterpolasikan dari grafik, konsentrasi sukrosa yang tidak menghasilkan perubahan berat. Dan menghitung s dari larutan ini. Nilai s tersebut sebanding dengan potensial air (w) jaringan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan 1. Kegiatan I Tabel hubungan konsentrasi dengan perubahan tinggi permukaan cairan

KONSENTRAS I LARUTAN SUKROSA (M) BERAT AWAL(g BERAT AKHIR (gr) PERUBAHAN BERAT (gr)

r)

PERSENTAE PERUBAHAN BERAT (%)

AQUADES

2,4 3,5 1,1 45,83% 0,1

2,5 3,3 0,8 32,00% 0,2 2,4 2,6 0,2 8,33% 0,3 2,0 2,2 0,2 10,00% 0,4 1,8 2,0 0,2 11,11% 0,5 2,3 2,2 0,1 4,35% 0,6 1,9 1,6

0,3 15,79% 0,7 2,0 1,9 0,1 5,00% 0,8 2,2 1,9 0,3 13,64% 0,9 1,8 1,5 0,3 16,67%
A. Analisis Data Rumus: % perubahan berat= berat akhir berat mula-mula.Berat mulamula100% 1. Aquades % perubahan berat= 3,5-2,42,4100% =45,83% 2. Larutan Sukrosa 0,1 M % perubahan berat= 3,3-2,52,5100% =32,00% 3. Larutan Sukrosa 0,2 M % perubahan berat= 2,6-2,42,4100% =8,33%

4. Larutan Sukrosa 0,3 M % perubahan berat= 2,2-2,02,0100% =10,00% 5. Larutan Sukrosa 0,4 M % perubahan berat= 2,0-1,81,8100% =11,11% 6. Larutan Sukrosa 0,5 M % perubahan berat= 2,2-2,32,3100% =4,35% 7. Larutan Sukrosa 0,6 M % perubahan berat= 1,6-1,91,9100% =15,79% 8. Larutan Sukrosa 0,7 M % perubahan berat= 1,9-2,02,0100% =5,00% 9. Larutan Sukrosa 0,8 M % perubahan berat= 1,9-2,22,2100% =13,64% 10.Larutan Sukrosa 0,9 M % perubahan berat= 1,5 -1,81,8100% =16,67% Rumus yang digunakan untu menghitung potensial osmotik yaitu: s = -miRT, Untuk s adalah potensial osmotic; m = molalitas larutan; i = konstanta ionisasi;R = konstanta gas;T = temperature absolute. Rumus pehitungan osmotic yang lain;M1/ s1 = M2/ s2 1. Aquades

s = -miRT s = -0 x 1 x 0,0083 x 298 s = 0 bar 2. Larutan Sukrosa 0,1 M

s = -miRT s = -0,1 x 1 x 0,0083 x 298 s = -0,24743 bar

3.Larutan Sukrosa 0,2 M

s = -miRT s = -0,2 x 1 x 0,0083 x 298 s = -0,49468 bar 4.Larutan Sukrosa 0,3 M s = -miRT s = -0,3 x 1 x 0,0083 x 298 s = -0,74202 bar 5.Larutan Sukrosa 0,4 M

s = -miRT s = -0,4 x 1 x 0,0083 x 298 s = -0.98936 bar 6.Larutan Sukrosa 0,5 M

s = -miRT s = -0,5 x 1 x 0,0083 x 298 s = -1,2367 bar 7.Larutan Sukrosa 0,6 M

s = -miRT s = -0,6 x 1 x 0,0083 x 298 s = -1,48404 bar 8.Larutan Sukrosa 0,7 M

s = -miRT s = -0,7 x 1 x 0,0083 x 298 s = -1,73138 bar

9.Larutan Sukrosa 0,8 M

s = -miRT s = -0,8 x 1 x 0,0083 x 298 s = -1,97872 bar 10.Larutan Sukrosa 0,9 M

s = -miRT s = -0,1 x 1 x 0,0083 x 298 s = -2,22606 bar A. Pembahasan

Pengamatan potensial air pada jaringan tumbuhan dilakukan dengan menggunakan silinder umbi kentang yang direndam di dalam larutan sukrosa berbeda konsentrasi dan di dalam aquades selama 1 jam . Konsentrasi Larutan sukrosa dibuat bervariasi, untuk mengetahui apakah ada perbedaan potensial air di dalam larutan tersebut, yang merupakan pemicu terjadinya osmosis. Sedangkan aquades disini berfungsi sebagai kontrol. Dari gambaran percobaan tersebut dapat dikatakan bahwa potensial air yang ada pada aquades dan larutan sukrosa lebih banyak dibanding potensial air yang ada pada silinder kentang. Sehingga diasumsikan bahwa cairan dari luar sel kentanglah yang akan masuk ke dalam sel silindris kentang. Dilihat dari tabel, aquades dan larutan sukrosa konsentrasi 0,1 M sampai 0,4 M, nilai perubahan berat dan % perubahannya positif. Namun pada konsentrasi sukrosa 0,5 M sampai 0,9 M, nilainya negative. Nilai positif ini diperoleh dari berat akhir kentang yang lebih besar dari berat awal kentang, akibat terjadinya penambahan berat jaringan oleh air dari larutan sukrosa. Pergerakan air dari larutan sukrosa menuju sel kentang menunjukkan bahwa konsentrasi air dalam larutan sukrosa lebih tinggi daripada dalam sel kentang. Dengan demikian larutan sukrosa 0,1 M - 0.4 M disebut larutan hipotonis (larutan dengan kandungan solute yang lebih rendah dari larutan lain. Nilai negative perubahan dan % perubahan berat akhir yang terjadi pada konsentrasi sukrosa 0,5 M 0,9 M diperoleh dari berat akhir kentang yang lebih kecil dari berat awalnya, akibat terjadi penyusutan berat jaringan karena air keluar dari sel menuju larutan sukrosa sehingga dapat disimpulkan merupakan larutan hipertonis (kandungan solutenya lebih tinggi daripada sekelilingnya. Pada praktikum kali ini tidak terdapat jaringan kentang yang tidak mengalami

penambahan maupun pengeluaran air atau tidak ada pergerakan molekul air karena tidak ada gradient konsentrasi larutan yang memiliki konsentrasi sama dengan konsentrasi larutan dalam sel disebut larutan isotonis. Dari hasil pengamatan untuk kentang pada larutan sukrosa 0,1 M sampai 0,4 M terjadi penambahan berat pada umbi kentang, sedangkan untuk larutan sukrosa 0,5 M sampai 0,9 M. Terjadi penurunan berat awal umbi kentang setelah pengeringan dan penimbangan. Berdasarkan tabel hasil pengamatan terlihat bahwa berat awal dan berat akhir dari silinder kentang yang telah direndam menunjukkan perbedaan yang sangat signifkan. Perbedaan tersebut terlihat dari lebih besarnya berat silinder mula-mula dibanding berat setelah perendaman. Hal ini menyebabkan perubahan berat yang diperoleh adalah negative. Penurunan jumlah berat silinder kentang setelah perendaman disebabkan oleh larutan sukrosa yang ada di dalam silinder keluar ke dalam lingkungan kentang melalui osmosis. Keluarnya air dari sel kentang selama waktu perendaman menyebabkan sel-sel kentang berkerut karena kekurangan air. Hal ini yeng menyebabkan berat akhir sel kentang menjadi rendah.. Hal ini disebabkan oleh karena konsentrasi larutan sukrosa yang ada diluar menarik air yang ada di dalam sel kentang lebih banyak. Hal lain yang menyebabkan hal ini terjadi adalah ketidaksamaan ketebalan silinder yang dibuat mempengaruhi berat akhir kentang. Makin tebal membrane maka juumlah air yang dapat dilewatkan. Hal lain yang menyebabkan adanya pebedaan data yang diperoleh dengan teori adalah lamanya waktu perendaman, serta proses pengeringan dengan kertas saring yang tidak dilakukan dengan baik, sehingga kentang yang seharusnya ditimbang dalam keadaan kering, masih tetap mengandung air. Dengan adanya pengurangan berat awal umbi kentang disebabkan karena potensial air pada umbi kentang lebih tinggi dibandingkan dengan potensial air pada larutan sukrosa, sehingga air yang terjadi dalam kentang bergerak keluar, sehingga ternyata pengurangan berat pada umbi kentang. Hal ini berarti sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa air bergerak dari potensial air tinggi kepotensial air yang rendah. Perpindahan atau pergerakan molekul air dari potensial air yang tinggi kepotensial air yang rendah disebut dengan osmosis.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum adalah potensial air pada suatu larutan berpengaruh terhadap perpindahan cairan dalam jaringan tumbuhan. Makin besar potensial air, makin besar kemampuan cairan untuk berosmosis. Adanya perbedaan hasil yang didapatkan pada hasil pengamatan dengan teori disebabkan adanya kesalahan-kesalahan yang terjadi saat praktikum berlangsung diantaranya, kurang baiknya pengeringan silinder yang dilakukan dengan kertas saring, perbedaan ketebalan silinder menyebabkan perbedaan ketebalan membrane, serta lama perendaman B. Saran 1. Sebaiknya waktu praktikum lebih diperpanjang, agar kegiatan yang dilakukan tidak terburu-buru, sehingga hasil yang didapatkan juga maksimal.

2. Sebaiknya peralatan praktikum ditambah, sehingga tiap kelompok tidak perlu menunggu dan meminjam peralatan pada kelompok lain setelah kelompok lain menggunakannya. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Air Dalam Tumbuhan.http:// id.kli mato logi.w ordpres s .com/ tag/a irdalam-tumbuhan.html. Diakses Pada Tanggal 27 Maret 2009. Gardner, Franklin P., R. Brent Pearce, dan Roger L. Mitchell. 1992.Fis iologi Tanaman Budidaya. Jakarta: UI Press. Ismail. 2006. Fisiologi Tanaman. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM Makassar. Ismail dan Abdul Muis. 2009. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Makassar:

Jurusan Biologi FMIPA UNM Makassar. Salisbury, Frank B. dan Clean W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB. Wibosono. 2009.Os m os is.http://w ibos ono1981.blogs pot. com/os mos is .ht ml. Diakses Pada Tanggal 27 Maret 2009.

Anonim. 2009. Mekanisme fisiologis proses difusi dan osmosis dalam sel. http://read-biologi? mekanisme_fisiologis_difusi_osmosis-sel. Diakses Pada Tanggal 27 Maret 2009.

Mekanisme fisiologis proses difusi dan osmosis dalam sel


Transport pasif merupakan transport ion, molekul, dan senyawa yang tidak memerlukan energi untuk melewati membran plasma. Transport pasif mencakup osmosis dan difusi. Difusi dibedakan menjadi difusi dipermudah dengan saluran protein dan difusi dipermudah dengan protein pembawa. Osmosis adalah kasus khusus dari transpor pasif, dimana molekul air berdifusi melewati membran yang bersifat selektif permeabel. Dalam sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik (larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi), larutan hipotonik (larutan dengan konsentrasi terlarut rendah), dan larutan isotonik (dua larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut sama). Jika terdapat dua larutan yang tidak sama konsentrasinya, maka molekul air melewati membran sampai kedua larutan seimbang. Dalam proses osmosis, pada larutan hipertonik, sebagian besar molekul air terikat (tertarik) ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran. Sedangkan pada larutan hipotonik, memiliki lebih banyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran. Oleh sebab itu, dalam osmosis aliran netto molekul air adalah dari larutan hipotonik ke hipertonik. Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam.