P. 1
Tinjauan Hukum Kasus Pengoplosan LPG 3kg ke LPG 12kg

Tinjauan Hukum Kasus Pengoplosan LPG 3kg ke LPG 12kg

|Views: 1,382|Likes:
Dipublikasikan oleh Anna Dewi Wijayanto
Big Paper on Business Law - Class MM UGM AP 16
Big Paper on Business Law - Class MM UGM AP 16

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Anna Dewi Wijayanto on Jan 20, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/24/2012

PAPER BUSINESS LAW

TINJAUAN HUKUM KASUS PENGOPLOSAN LPG SUBSIDI TABUNG 3KG KE LPG NON SUBSIDI KEMASAN TABUNG 12 dan 50KG

Disusun Oleh: ANNA DEWI LESTARI NIM : 15398 Kelas Akhir Pekan Angkatan 16

MASTER OF BUSINESS ADMINISTRATION GADJAH MADA UNIVERSITY YOGYAKARTA 2010

1. KONVERSI MINYAK TANAH KE LPG SEBAGAI MOMENTUM DALAM DISTRIBUSI LPG A. Road Map dan Progres Konversi Mitan ke LPG LPG (Liquid Petroleum Gases) adalah salah satu bahan bakar utama yang digunakan untuk memasak di kalangan masyarakat Indonesia. Sebelum konversi, minyak tanah sebagai bahan bakar memasak yang utama yang digunakan oleh sebagian besar rumah tangga Indonesia. Penggunaannya menyerap kurang lebih 9.9 juta kiloliter per tahun. Selama itu minyak tanah disubsidi secara besarbesaran oleh Pemerintah, hingga mencapai angka Rp. 37 Trilyun per tahun. Sementara saat itu LPG baru digunakan 10% rumah tangga, dalam kemasan tabung 12 dan 50kg. Kondisi harga LPG per tabung (ataupun per kilogramnya) jauh lebih mahal dari harga subsidi per liter eceran minyak tanah.

Sejak program konversi Minyak Tanah ke LPG dengan distribusi paket perdana LPG 3kg yang dilakukan pemerintah sejak tahun 2007 sampai tahun 2010, sejumlah kurang lebih 47,858 Juta paket telah didistribusikan di sebagian wilayah target konversi di Indonesia sebanyak 16 propinsi (kecuali Kepulauan Maluku dan Papua tidak menjadi target pelaksanaan konversi). Sampai akhir tahun 2009 telah dilakukan penarikan minyak tanah sebesar 5,4 juta kiloliter, dan sampai dengan tahun 2010 telah ditarik sejumlah 6,1 juta kiloliter.

Di akhir pelaksanaan program konversi di penghujung tahun 2011 nanti, pemerintah mentargetkan untuk mendistribusikan total 52-56 juta paket konversi kepada rumah tangga dan usaha mikro yang berhak. Sebanyak 8 juta KL Minyak Tanah akan ditarik dari peredaran sehingga tersisa sebesar 2 juta kiloliter minyak tanah untuk wilayah-wilayah yang tidak dikonversi, dan selanjutnya LPG akan menjadi bahan bakar utama di negara ini dengan estimasi volume distribusi LPG sebesar 4,1 juta Ton/tahun.

B. Alasan dilakukannya Konversi Minyak Tanah ke LPG Terdapat beberapa alasan diberlakukannya Program Konversi Minyak Tanah ke LPG tersebut, yakni: Perlunya penghematan subsidi yang diberikan kepada minyak tanah, terutama karena harga minyak dunia selalu meningkat. Diharapkan karena pemakaian LPG lebih efisien dibanding minyak tanah (kesetaraan energi 0,57 kg LPG), maka subsidi untuk LPG 3kg jauh lebih kecil dibandingkan subsidi minyak tanah. Tercatat akumulasi penghematan subsidi sampai dengan tahun 2010 mencapai angka Rp. 24 Trilyun. Mengurangi kerugian negara akibat kerawanan penyalahgunaan subsidi minyak tanah, seperti untuk pengoplosan dengan Solar (untuk angkutan), Bahan Bakar Kapal Laut (nelayan), dan sebagainya. Peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat, dengan banyaknya keunggulan teknis pemakaian LPG, yakni:     Mengurangi polusi udara pada ruang memasak Menghemat waktu memasak dan perawatan alat memasak Mengurangi kerepotan menyiapkan penggunaan kompor minyak tanah Mengurangi kerepotan membersihkan kompor dan peralatan memasak.

2. KONDISI PEMASARAN DAN DISTRIBUSI LPG

Pada akhir tahun 2010 penyerapan LPG oleh masyarakat Indonesia telah mencapai angka 2.713.917 MT (matrix ton) atau sekitar 7500 MT per hari, jumlah ini meningkat 126 kali lipat dibandingkan penyerapan LPG tahun 2007 ketika minyak tanah sama sekali belum mengalami pengurangan. Kondisi ini diperkuat juga dengan pertumbuhan di bidang infrastruktur supply dan distribusi, baik Depot LPG Pertamina, Terminal LPG, SPBE (stasiun pengisian bahan bakar elpiji), dan agen penyalur LPG.

A. Tinjauan Landasan Hukum dan Regulasi LPG 3kg Landasan Hukum dari Distribusi LPG adalah UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, khususnya: Pasal 8 ayat 1: Pemerintah memberikan prioritas terhadap pemanfaatan Gas Bumi untuk kebutuhan dalam negeri dan bertugas menyediakan cadangan

strategis Minyak Bumi guna mendukung penyediaan Bahan Bakar Minyak dalam negeri yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 28 ayat (2) : Sesuai dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi (Putusan Perkara Nomor 002/PUU-I/2003) maka harga Bahan Bakar Minyak dan Bahan Bakar Gas ditetapkan oleh Pemerintah Dengan kondisi semakin besarnya skala pemasaran dan distribusi LPG 3kg yang juga merupakan LPG bersubsidi tersebut, pemerintah melalui Kementrian ESDM kemudian mengeluarkan suatu peraturan khusus mengenai pengaturan distribusi LPG, khususnya LPG 3kg, yakni Peraturan Menteri ESDM No. 26 tahun 2009 Tentang Penyediaan dan Pendistribusian LPG, yang di dalamnya mengatur mengenai Tata Niaga LPG.

B. Tata Niaga LPG 3kg dan Mekanisme Pendistribusiannya Dalam Peraturan Menteri ESDM No. 26 tahun 2009 Tentang Penyediaan dan Pendistribusian LPG, dikatakan sebagai berikut: a. Pasal 13 dan 14 tentang Kegiatan Pengisian dan Pengangkutan LPG (Bottling Plant)  Badan Usaha yang melakukan kegiatan pengisian tabung LPG (bottling plant) dengan kegiatan usaha penyimpanan LPG wajib memiliki Izin Usaha Penyimpanan LPG.  Badan Usaha yang melakukan kegiatan pengisian tabung LPG (bottling plant) dengan kegiatan usaha pengangkutan LPG wajib memiliki Izin Usaha Pengangkutan LPG.  Badan Usaha yang melakukan kegiatan pengisian tabung LPG (bottling plant) dengan kegiatan usaha niaga LPG wajib memiliki Izin Usaha Niaga LPG.  Dengan mendasarkan pada sifat kegiatan pengisian tabung LPG (bottling plant) dan dalam rangka memberi kepastian kegiatan usaha, Badan Usaha yang hanya melakukan kegiatan usaha pengisian tabung LPG (bottling plant) wajib memiliki Izin Usaha Penyimpanan LPG. b. Pasal 16 tentang Kegiatan Penyaluran LPG (Agen/Penyalur)  Badan Usaha pemegang Izin Usaha Niaga LPG dalam menunjuk Penyalur LPG wajib mengutamakan koperasi, usaha kecil dan/atau badan usaha swasta

nasional yang terintegrasi dengan Badan Usaha berdasarkan perjanjian kerja sama.  Penyalur LPG wajib memiliki sarana dan fasilitas penyimpanan (gudang) dan pengangkutan tabung LPG untuk mendukung Kegiatan Penyalurannya pada wilayah penyalurannya.  Dalam melakukan Kegiatan Penyaluran untuk Pengguna Besar LPG, Penyalur LPG dapat memanfaatkan dan/atau menguasai Sarana dan Fasilitas pengangkutan milik pihak lain yang memiliki.  Penyalur LPG yang melakukan kegiatan penyaluran LPG dalam bentuk kemasan atau curah/bulk dapat menggunakan atau menguasai Sarana dan Fasilitas transportasi laut/sungai yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.  Penyalur LPG wajib melaksanakan Kegiatan Penyaluran pada wilayah penyaluran sesuai penunjukan dari Badan Usaha pemegang Izin Usaha Niaga LPG dan wajib memiliki Surat Keterangan Penyalur.  Penyalur LPG dilarang melaksanakan kegiatan pengisian tabung LPG (bottling plant). c. Pasal 23 dan 24 Tentang pengaturan Harga Jual LPG Kemasan 3kg:   Harga patokan LPG didasarkan pada harga patokan yang ditetapkan oleh Menteri. Harga jual eceran LPG Tertentu ditetapkan oleh Menteri berdasarkan hasil kesepakatan instansi terkait yang dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sesuai dengan peraturan perundangan-undangan.  Dengan memperhatikan kondisi daerah, daya beli masyarakat, dan marjin yang wajar serta Sarana dan Fasilitas penyediaan dan pendistribusian LPG, Pemerintah Daerah Propinsi bersama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menetapkan harga eceran tertinggi (HET) LPG Tertentu untuk Pengguna LPG Tertentu pada titik serah di Sub Penyalur LPG Tertentu. d. Pasal 25 Tentang pengaturan Harga Jual LPG Kemasan 3kg:  Ditetapkan oleh Badan Usaha dengan berpedoman pada : i. harga patokan LPG; ii. kemampuan daya beli konsumen dalam negeri; iii. kesinambungan penyediaan dan pendistribusian.  Penetapan harga jual LPG wajib dilaporkan kepada Menteri.

C. Pelaksanaan Tata Niaga Distribusi LPG saat ini 1. Pihak yang melakukan pengisian legal LPG semua kemasan baik 3kg, 12kg, 50kg, maupun bulk (skid tank) harus dilakukan di SPPBE atau SPBE yang ditunjuk oleh Pertamina sebagai Badan Usaha yang diberi kewenangan Pemerintah saat ini untuk melakukan proses distribusi LPG 2. Pihak yang melakukan penyaluran legal LPG dengan mekanisme pembelian berupa penebusan loading order LPG ke Pertamina, kemudian melakukan pengambilan fisik LPG-nya ke SPBE, dan menyalurkannya kembali kepada sub penyalur berupa pangkalan, pengecer atau konsumen, adalah Agen LPG yang ditunjuk oleh Pertamina.
Tabel 1 Mekanisme Penyaluran LPG

2
Pola Suplai LPG

POLA SUPLAI DAN SISTRIBUSI LPG (1/2)
PEMASARAN

Gas Source

Kapal Fully /Semi Refrigerated Pipa Skid Tank Mengangkut LPG Refrigerated/ Pressurized

Storage Refrigerated REFINERY Pemrosesan ke LPG Pressurized

• Kapal Pressurized • Skid tank • Pipa Mengangkut LPG Press

Storage / Depot Pressurized

Skid tank

Filling Plant Truk PERTAMINA / SPPBE / SPPEK/SPBE

Agen

Pembelian LPG Refrigerated/ Pressurized Dari KKKS

Terminalling

Mengangkut LPG Bulk

Mengisi ke dalam tabung

Impor LPG butane refrigerated CFR Basis Kilang PERTAMINA/ Swasta LPG Pressurized Impor LPG pressurized CFR Basis

Retester
Pemeliharaan Tabung dan Penggantian Tabung Afkir

Mendistribusika n dan memasarkan ELPIJI dalam bentuk curah dan Tabung hingga ke end user

Kendali : BPMIGAS

PERTAMINA dan Badan Usaha lain

OPERASI

Sumber : Pertamina LPG dan Gas Product, Presentasi Workshop Tata Niaga LPG bersama Polda DIY

3. Harga LPG 3kg ditentukan dan disubsidi oleh Pemerintah, saat ini harganya Rp. 4.250/kg. Sementara harga LPG kemasan NON 3kg ditentukan dan disubsidi oleh Pertamina, rincian harga ada di tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2 DISPARITAS HARGA LPG 3kg dan LPG NON 3kg

Tahun 2005 Sep 2006 Okt 2006 Des 2006 2007 Jan 2008 Apr 2008 Juli 2008 Aug 2008 Okt 2009 Nop 2010

3 kg Rp/kg

4250 4250 4250 4250 4250 4250 4250

6 kg Rp/kg 4250 4250 4250 4250 4250 4250 4250 5250 5750 5850 5850

Kemasan 12 kg Rp/kg 4250 4250 4250 4250 4250 4250 4250 5250 5750 5850 5850

50 kg Rp/kg 4250 4250 4250 4250 6259 7932 6803 6878 7255 7355 7355

Bulk Rp/kg 4250 5071 5280 5852 5852 7329 7329 8430 8430 8430 7689

Sumber : Pertamina LPG dan Gas Product, Presentasi Workshop Tata Niaga LPG bersama Polda DIY

Dalam tabel 2 tersebut tampak disparitas harga yang lebih tinggi untuk LPG kemasan Non 3 kg. Pada tahun 2008, kenaikan Harga LPG kemasan Non 3 kg terpaksa dilakukan oleh Pertamina untuk meperkecil kerugian atas penjualan, karena yang mensubsidi adalah Pertamina sendiri.

D. Kasus Penyalahgunaan Subsidi LPG 3kg Adanya disparitas harga dari LPG subsidi pemerintah dibanding LPG non subsidi mengakibatkan timbulnya kerawanan pengoplosan. Saat ini banyak sekali terjadi penyalahgunaan subsidi LPG 3kg tersebut. Modus operandinya bisa bermacammacam, antara lain:  Penyuntikan Tabung LPG 3 kg ke 12 kg dan 50 kg  Pengurangan isi  Penggunaan Regulator yang di modifikasi  Penggunaan pipa besi dan selang Menurut data terakhir Badan Reserse Kriminal Kepolisian Mabes Polri di Bulan Juli 2010, salah satu kasus pengoplosan LPG di Bantar Gebang Bekasi saja, telah merugikan Negara hampir Rp 2,7 Miliar per bulannya. Kerugian tersebut berasal dari pengoplosan LPG bersubsidi 3 kg ke tabung 12 kg dan 50 kg yang tidak bersubsidi.

Dari data Bareskrim tersebut didapatkan bahwa kerugian negara juga dapat diakibatkan oleh pengurangan berat gas, misalnya dari yang seharusnya 12 kg hanya diisi 9 atau 10 kg saja. Dengan demikian selain dari keuntungan yang didapat dari kegiatan penyuntikan gas yang bersubsidi ke tabung yang tidak bersubsidi, pengoplos juga meraup untung dari pengurangan berat tersebut. Akibat lain dari tindakan pengoplosan pun adalah ancaman bahayanya bagi masyarakat, antara lain: Kerusakan pada struktur Alat/mekanisme pada tabung LPG sehingga rawan kecelakaan. Kegiatan pengoplosan biasanya selalu menimbulkan kebocoran LPG pada saat dilakukan kegiatan pengoplosan tersebut, sehingga rawan kebakaran

Dari data Bareskrim juga diungkapkan, pada posisi Bulan Juli 2010, dari 40 kasus kecelakaan LPG yang terjadi selama tahun 2010, 25 kasus diantaranya justru terjadi pada tabung 12 kg, sisanya 15 kasus terjadi pada tabung 3 kg. Hal ini menunjukkan bahwa akibat dioplos tabung menjadi sangat rentan kerusakan mekanis, sehingga banyak terjadi kecelakaan LPG, yang juga dipicu faktor lain seperti kerusakan atau kebocoran selang dan regulator, atau pemakaian LPG yang belum benar.

E. Tinjauan Pelanggaran dari Sudut Hukum atau Regulasi Kegiatan pengoplosan atau pengurangan isi LPG, secara garis besar melanggar beberapa Undang-undang yang dapat dikaitkan dalam rangka menjerat para

pengoplos tersebut, antara lain pelanggaran: Pasal 362, 372 KUHP mengenai Pencurian, penggelapan, dan Pemalsuan Merk ) Pasal 359, 360 KUHP mengenai Kelalaian yang menyebabkan Luka atau Meninggal Dunia UU NO 8 TAHUN 1999 Tentang Perlindungan Konsumen , Pasal 62 Ayat 1 UU NO. 2 TAHUN 1981 tentang Metrologi Legal, Pasal 32 Ayat 1 dan 2 UU NO. 5 TAHUN 1984 tentang Perindustrian UU NO. 22 TAHUN 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Pasal 53.

F. Tindak lanjut Pemerintah maupun Pertamina dalam menangani Kasus Pengoplosan Pertamina telah mengusulkan Pemerintah memberikan subsidi pada LPG kemasan Non Tabung 3 kg untuk memperkecil/meniadakan disparitas harga,

namun sampai saat ini berdasarkan pertimbangan APBN yang terbatas, usulan tersebut belum mendapat persetujuan, sehingga disparitas harga masih terjadi sampai saat ini. Pertamina bekerjasama dengan pihak Kepolisian dalam mengatasi peredaran tabung ilegal dan pengoplosan LPG, dengan melakukan berbagai kordinasi penanganan kasus maupun monitoring distribusi LPG, didukung dengan Departemen Perindustrian dan Perdagangan setempat. Pemerintah melalui Pertamina memberlakukan Tata Niaga LPG 3kg, dengan memberlakukan Alokasi (Kuotanisasi) untuk mengendalikan pembelian LPG 3kg. Namun besarannya masih sangat fleksibel, mengingat di beberapa tempat proses Konversi masih berjalan. Pemerintah melalui Keputusan Menteri Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat No. 23/KEP/MENKO/KESRA/VIII/2010 membentuk Tim Koordinasi

Pengamanan Penggunaan LPG 3kg yang terdiri dari berbagai Departemen terkait yakni Departemen Dalam Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementrian ESDM, Kepolsisian RI, Badan Standarisasi Nasional, Kementrian Komunikasi dan Informatika, Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementrian Riset dan Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, PT Pertamina.

4. Penutup Kasus penyalahgunaan subsidi memang sudah menjadi penyakit oknum masyarakat dari sejak jaman BBM mulai ada, dan Disparitas Harga antara barang subsidi dan non subsidi selalu menjadi penyebab utamanya. Sangat diharapkan adanya tinjauan kebijakan disparitas harga tersebut, karena penyalahgunaan subsidi seperti hal yang tersebut di poin poin di atas hanya menunjukkan kesia-siaan pengorbanan anggaran negara yang mana subsidi menjadi terbuang percuma diserap dan digunakan oleh oknum tertentu, bukan oleh masyarakat yang dituju. Dampak lainnya yang tidak kalah penting adalah kerugian dari masyarakat itu sendiri baik dari aspek keselamatan teknis kerja LPG juga dari kerugian kuantitas LPG yang menjadi tidak yang seharusnya diterima oleh pengguna LPG. Untuk itu diharapkan segera muncul suatu aturan yang bersifat proaktif dan pencegahan terhadap kasus di atas, seperti aturan mengenai kemungkinan tiadanya disparitas harga.

DAFTAR PUSTAKA Administrator. (2010) LPG Oplosan Rugikan Negara Rp 2,7 Miliar per Bulan. Dipungut 05 Februari 2011, dari http://www.esdm.go.id/berita/migas/40-migas/3554-lpg-oplosan-rugikan-negara-rp27-miliar-per-bulan.htmlSabtu Bareskrim Kepolisian RI. (2010). Paparan Kabareskrim Polri tentang Analisis Penyebab Ledakan Tabung Gas LPG dan Penindakan Tindak Pidana di Bidang Migas dan Perlindungan Konsumen. Jakarta, 12 Juli 2010. Undang Undang NO. 2 TAHUN 1981 tentang Metrologi Legal Undang Undang NO. 5 TAHUN 1984 tentang Perindustrian Undang Undang NO 8 TAHUN 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Undang Undang NO. 22 TAHUN 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Keputusan Menteri Kord KESRA No. 23/KEP/MENKO/KESRA/VIII/2010 tentang Tim Koordinasi Pengamanan Penggunaan LPG 3kg Peraturan Menteri ESDM No. 26 tahun 2009 Tentang Penyediaan dan Pendistribusian LPG Pertamina, LPG and Gas Product. (2010). Workshop Tata Niaga LPG bersama Polda DIY. Yogyakarta, 15 Desember 2010.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->