Anda di halaman 1dari 96

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AL-QURAN MELALUI METODE JIBRIL BAGI SANTRI TANFIDZHUL QURAN PONDOK-PESANTREN BIDAYATUL HIDAYAH MOJOGENENG JATIREJO

MOJOKERTO

SKRIPSI
Oleh : MOCH. SAIKHUNI LUTHFI D01303144

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 2008

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT., hanya dengan izin dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan penuh semangat dan kerja keras. Shalawat dan salam semoga tercurahkan atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Dengan perjuangan beliaulah kita bisa menikmati Iman dan Islam. Skripsi yang berjudul Implementasi Pembelajaran Al-Quran Melalui Metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Pondok-Pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng Jatirejo Mojokerto. Skripsi dengan judul di atas dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan islam di Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, arahan, motivasi dan bantuan dari beberapa pihak, sehingga penulis merasakan arti sebuah jamaah (satu adalah kuat, kuat adalah satu). Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Bapak DR. H. Nur Hamim, M.Ag., Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. 2. Bapak DR. Abdul Kadir, M.A., Ketua Jurusan PAI Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

3. Bapak Drs. H. Syaiful Jazil, M. Ag., selaku Dosen Pembimbing yang selalu memberikan motivasi, bimbingan dan pengarahan yang tak terhingga sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 4. Semua Dosen yang mengajar penulis yang telah memberikan ilmunya mulai dari penulis menjadi mahasiswa semester satu sampai terakhir berkat bantuan beliaulah penulis bisa menyelesaikan pendidikan di jenjang Strata Satu. 5. Bapak Drs. KH. Moch. Imam Chambali selaku pengasuh Pondok-Pesantren Mahasiswa Al-Jihad Surabaya, Terima kasih atas segala nasihat yang telah diberi sebagai penguat diri dan semangat hidup penulis. 6. Semua Guru yang telah memberikan kepada penulis ilmu pengetahuan dan mengajariku mulai dari TK Muslimat Gentengsari, SDN Tompokersan 05 Lumajang, SMPN 1 Sukodono Lumajang SMAN 1 Lumajang, Terimakasih wahai ibu dan bapak guru-ku. Hanya Doa dan rasa terimakasih tak terhingga yang terlahir dari lubuk hati terdalam yang dapat penulis sampaikan, semoga semua yang telah diberikan dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya serta orang lain pada umumnya.

Akhirnya penulis sadar dalam penulisan skripsi ini tentunya banyak kekurangan karena pada hakikatnya kesempurnaan itu hanyalah milik Allah SWT. Semoga karya ilmiyah yang berupa skripsi ini bisa bermanfaat bagi kita semua amien. Surabaya, 19 September 2008

Penulis

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ........................................................................................ i PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI................................. ii PENGESAHAN ............................................................................................. iii MOTTO .......................................................................................................... iv PERSEMBAHAN ......................................................................................... v ABSTRAK ..................................................................................................... vi KATA PENGANTAR ................................................................................... viii DAFTAR ISI .................................................................................................. ix DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang .......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ...................................................................... 5 C. Tujan Penelitian ......................................................................... 5 D. Kegunaan Penelitian.................................................................... 6 E. Definisi Operasional.................................................................... 8 F. Metode Penelitian....................................................................... 9 G. Sistematika Pembahasan.14 BAB II : LANDASAN TEORI A. Tinjauan tentang Pembelajaran Al-Quran................................... 16

1. Dasar Pembelajaran Al-Quran .............................................. 16 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran ................. 22 3. Beberapa metode Pembelajaran Al-Quran .24 4. Metode-metode dalam pembelajaran agama Islam..26 B. Konsepsi Metode Jibril 1. Metode Jibril . ....................................................................... 31 a. Pengertian Metode Jibril ................................................. 31 b. Konsep Metode Jibril Dalam Hifzhul Quran ................ 35 c. Karakteristik Metode Jibril...............................................37 2. Kajian Hifzhul Quran............................................................... 38 a. Pengertian Hifzhul Quran ........................................... 38 b. Manfaat Akademis Hifzhul Quran ............................. 42 c. Keutamaan Hifzhul Quran ......................................... 45 d. Hifzhul Quran pada Masa Nabi dan Para Sahabat ...... 48 C. Implementasi Pembelajaran Al-Quran Melalui Metode Jibril Bagi Santri Tanfidzul Quran .............................................................59

BAB III : LAPORAN HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Obyek Penelitian....64 1. Sejarah singkat Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah

Mojogeneng Jatirejo Mojokerto .64 2. Struktur Organisasi PPBH .67

3. Keadaan Guru dan Santri

PPBH Mojogeneng Jatirejo

Mojokerto71 4. Sarana dan Prasarana di PPBH Mojogeneng Jatirejo Mojokerto B. Penyajian Data.. 71 1. Bentuk Implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Quran PPBH ..71 2. Faktor Pendukung dan penghambat Implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul......................76 3. Upaya-Upaya untuk mengatasi hambatan Implementasi Pembelajaran AlQuran melalui metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Quran PPBH Mojogeneng Jatirejo Mojokerto.77 BAB IV : ANALISIS...78 BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan .............................................................................. 84 B. Saran ........................................................................................ 87

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Al-Qur'an kitab suci dan sebagai mu'jizat Nabi Muhammad SAW. yang terbesar ternyata tidak ada seorangpun yang mampu membuat atau

menulis semisal Al-Qur'an. Pada mulanya seluruh manusia ditanding untuk mencoba membuat tandingan yang serupa dengan Al-Qur'an, akan tetapi tak seorangpun yang mampu menandinginya dan melakukannya. Kemudian oleh AlQur'an mereka ditantang untuk membuat yang lebih sederhana, yaitu seluruh manusia itu diminta untuk membuat sepuluh surat saja yang serupa dengan AlQur'an baik fashokhah maupun balaghahnya. Dan ternyata tidak ada manusia yang mampu melakukannya. Maka akhirnya Al-Qur'an meminta kepada seluruh manusia untuk membuat satu surat saja yang seperti Al-Qur'an. Dan ternyata walaupun hanya satu surat tidak ada seorangpun yang mampu membuat tandingannya daripada Al-Qur'an tersebut. Andaikata diantara mereka ada yang mampu membuatnya, maka sirnalah kemu'jizatan Al-Qur'an itu. Tetapi karena mereka gagal dan tidak mampu, maka akhirnya Al-Qur'an menyatakan kepada seluruh manusia didunia bahkan juga kepada bangsa jin dengan hal sebagai berikut:


Artinya:"Katakanlah, kalau sekiranya berkumpul manusia dan jin untuk mendatangkan yang serupa Al-Qur'an ini, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang serupa dengannya, walaupun sebagian mereka dengan sebagian yang lain tolong-menolong." (Al-Isra: 8)1 Allah juga telah menjamin terjaga kemurnian kitab-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:


Artinya:Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Al-Hijr: 9)2 Selain itu, Allah telah menjadikan Al-Quran mudah dihafal dan dipahami, sebagaimana dalam firman-Nya:


Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?(AlQamar:17)3 Belajar Al-Quran merupakan kewajiban yang utama bagi setiap mukmin, begitu juga mengajarkannya. Belajar Al-Quran dapat dibagi dalam beberapa tingkatan, yaitu: belajar membacanya sampai lancar dan baik, menurut kaidahkaidah yang berlaku dalam qiraat dan tajwid, yang kedua yaitu belajar arti dan maksud yang terkandung di dalamnya dan yang terakhir yaitu belajar menghafal

Nazri Adlany, Dkk, Al-Quran Terjemah Indonesia (Jakarta: Sari Agung, 1997), Hal. 544 Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Quran, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: Kompleck Percetakan Al-Quran Al-Karim Kepunyaan Raja Fahd, 1971), Hal: 391 3 Ibid, Hal: 879
2

di luar kepala, sebagaimana yang dikerjakan oleh para sahabat pada masa Rasulullah, hingga masa sekarang. Menghafal Al-Quran di luar kepala merupakan usaha yang paling efektif dalam menjaga kemurnian Al-Quran yang agung. Dengan hafalan tersebut berarti meletakkan pada hati sanubari penghafal. Dan menurut Raghib dan Abdurrahman, tempat tersebut (hati) merupakan tempat penyimpanan yang

paling aman, terjamin, serta tidak bisa dijangkau oleh musuh dan para pendengki serta penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan.4 Menghafal Al-Quran merupakan tugas dan tanggung jawab yang sangat besar dan mulia. Menurut fathoni menghafal Al-Quran itu gampang-gampang sulit, gampang dihafal tapi sulit dijaga.5 Problem yang dihadapi oleh orang yang sedang menghafal Al-Quran memang banyak dan bermacam-macam. Mulai dari pengembangan minat, penciptaan lingkungan, pembagian waktu, sampai pada metode menghafal itu sendiri. Dalam dunia proses belajar mengajar (PBM), metode jauh lebih penting dari materi. Demikian urgennya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran. Sebuah proses belajar mengajar bisa dikatakan tidak berhasil bila dalam proses tersebut tidak menggunakan metode. Karena metode menempati posisi kedua

Raghib As-Sirjani & Abdurrahman A. Khaliq, Cara Cerdas Hafal Al-Quran. (Solo: Aqwam, 2007) Hal.45 5 M. Fathoni Dimyati, Memilih Metode Menghafal Al-Quran Yang Baik dan Upaya Mencek Huffazhul Quran Yang Sempurna Ringkasan untuk santri PP Bidayatul Bidayah, Mojokerto, hlm. 2

10

terpenting setelah tujuan dari sederetan komponen-komponen pembelajaran: tujuan, metode, materi, media dan evaluasi.6 Sebuah metode dikatakan baik dan cocok manakala bisa mengantar kepada tujuan yang dimaksud. Begitupun dalam menghafal Al-Quran, metode yang baik akan berpengaruh kuat terhadap proses hifzhul Quran, sehingga tercipta keberhasilan dalam menghafal Al-Quran. Peneliti berkeyakinan bahwa metode Jibril berhasil dalam pembelajaran hifzhul Qur'an, Dimana metode ini dilatar belakangi oleh perintah Allah kepada nabi Muhammad SAW. Untuk mengikuti Bacaan Al-Quran yang telah dibacakan oleh Malaikat Jibril, sebagai penyampai wahyu dengan metode tersebut memungkinkan bagi seorang guru untuk mengawasi secara langsung, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menghafal ayat demi ayat, juga akan mempunyai pengaruh terhadap jiwa psikis santri/anak didik. Dengan mengacu pada paparan diatas, skripsi ini diformulasikan dengan sebuah judul Implementasi Pembelajaran Al-Qur'an Melalui Metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Quran Di Pondok-Pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng Jatirejo Mojokerto.

Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. (Jakarta: Ciputat Press, 2002), Hal.109

11

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah Pembelajaran Al-Qur'an menurut Metode Jibril? 2. Bagaimanakah Implementasi Pembelajaran Al-Qur'an melalui metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Quran Di Pondok- pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng Jatirejo Mojokerto?

C. Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah tersebut diatas maka peneliti mengemukakan tujuan dari penelitian antara lain adalah untuk: 1. Untuk mengetahui Pembelajaran Al-Qur'an menurut Metode Jibril. 2. Untuk mengetahui Implementasi Pembelajaran Al-Qur'an melalui metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Quran Di Pondok- pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng Jatirejo Mojokerto.

D. Kegunaan Penelitian Adapun penelitian ini diharapkan dapat mempunyai kegunaan antara lain: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada: 1. Bagi Peneliti : a. Semoga penelitian ini membawa kemanfaatan dan berkah, menjadi ghirah akan selalu cinta Al-Quran dan menjadi pedoman hidupnya b. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti mengenai Implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui Metode Jibril 2. Bagi Lembaga :

12

a. Seluruh komponen yang ada di IAIN Sunan Ampel Surabaya terutama Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam, sebagai masukan dan sosialisasi dalam rangka memasyaratkan Al-Quran di Lingkungan akademis di Perguruan Tinggi Negeri Islam seperti yang diutarakan oleh Prof. Dr. Imam Suprayogo selaku rektor UIN Malang, yakni

mengembangkan pendidikan yang berbasis Al-Quran.7 b. Bagi Pesantren, khususnya PPBH Mojogeneng-Mojokerto, penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan evaluasi atas kelemahan-kelemahan yang ada dan selalu melakukan pengembangan-pengembangan demi mencapaian tujuan Pesantren Quran yakni menggapai kemulyaan menjadi Ahlu Quran.8

E. Definisi Operasional Definisi Operasional ini dimaksudkan untuk memperjelas dan mempertegas kata-kata/istilah kunci yang diberikan dengan judul penelitian

IMPLEMENTASI PEMBELAJRAN AL_QURAN MELALUI METODE JIBRIL BAGI SANTRI TANFIDZHUL QURAN PONDOK-PESANTREN BIDAYATUL HIDAYAH MOJOGENENG-JATIREJO-MOJOKERTO. 1. Implementasi

Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al-Quran (Malang : Aditya Media, 2004), Haya Ar-Rasyid, Menggapai Kemuliaan Menjadi Ahluquran (Solo: Al-Qowam, 2004),

hal. 7
8

hal.9

13

Implementasi

adalah pelaksanaan.9 Proses penerapan ide, konsep,

kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis yang memberikan efek atau dampak baik berupa prubahan, pengetahuan, ketrampilan nilai dan sikap.10 2. Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi khusus atau menghasikan respon terhadap situasi tertentu.11 3. Al-Quran Adalah menurut bahasa, Artinya bacaan atau yang dibaca, adapun menurut menurut istilah Syara adalah Firman Allah yang diturunka kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui Malaikat Jibril dalam bahasa Arab dipandang ibadah bagi orang yang membacanya.12

WJS. Poewadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 1993), E.Mulyasa, Kurikulum Berbasis kompetensi, Konsep, Karateristik dan Implementasinya (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2002), 7. 11 Syaiful segala, Konsep dan makan Pembelajaran, (Bandung : Alfabeta,2003) 12 Ahsin W.Al-Hafidz, M.A. Kamus Ilmu Al-Quran (Wonosobo : Amzah, 2005)
10

14

4. Metode Jibril Metode yang dilatarbelakangi perintah Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW untuk mengikuti bacaan Al-Quran yang telah dibacakan oleh Malaikat Jibril, sebagai penyampai wahyu Allah SWT. 5. Santri Yang dimaksud dengan Santri disini adalah Seorang yang belajar dan bertempat tinggal di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Komplek As-

Syifa Mojogeneng- Jatirejo -Mojokerto. 6. Hifdzhul Quran Menurut Muhaimin dkk. Yang dimaksud menghafal adalah suatu metode yang digunakan untuk mengingat kembali sesuatu yang pernaha dibaca secara benar. Adapun Hifdzhul Quran yang dimaksud adalah kemampuan

mengahafal ayat Al-Quran yang diindikasikan dengan kemampuan untuk melafalkan dan membunyikan ayat-ayat Al-Quran dengan tanpa melihat mushaf.

15

F. Metode Penelitian 1. Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian adalah upaya dalam ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh factor-faktor dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan suatu kebenaran.13 Penelitian ini ini termasuk dalam penelitian kualitatif, sebab itu pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif deskriptif. Maksudnya dalam penelitian kualitatif data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumentasi pribadi, catatan memo dan dokumen resmi lainnya.14 Sehingga yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah ingin

menggambarkan realitas empiric dibalik fenomena yang ada secara mendalam, rinci dan tuntas.15 Oleh karena itu, pendekatan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mencocokkan antara realitas empiric dengan teori yang berlaku, dengan menggunakan metode deskriptif analistik.

13

Mardalis, Metodologi Penelitian Suatu Pendekatan Proposal (Jakarta : Bumi Aksara, 1999) 24 14 Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatfi (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2005) Hlm. 15 M. Nazir, Metode penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988), hlm. 66

16

2. Jenis Data Data adalah suatu hal yang diperoleh dilapangan ketiks melakukan penelitia dan belum diolah, atau dengan pengertian lain suatu hal yang dianggap atau diketahui. Data menurut jenisnya dibagi menjadi dua: a. Data Kualitatif Yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung.16Diantara data kualitatif dalam penelitian ini adalah 1) Pelaksanaan pembelajaran Al-Quran melalui metode Jibril 2) Gambaran umum obyek penelitian antara lain sejarah berdirinya pondok, struktur, visi, misi, 3) Literatur mengenai metode Jibril 4) Dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penelitian penulis. b. Data Kuantitatif Yaitu data yang berbentuk angka statistik. Dalam penelitian ini data data kuantitatif hanya bersifata data pelengkap , dikarenaka penelitian ini penelitian kualiatatif. 3. Sumber Data Sumber Data adalah sumber data dari yang diperoleh.17 Berdasarkan jenis-jenis data yang diperlukan, maka dalm penelitia ini, sumber data yang digunakan melalui 2 cara, yaitu :

16 17

Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian ; Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta; Bumi Aksara,2006), Ibid., 107

17

a. Sumber Literer (field literature) yaitu sumber data yang digunakan untuk mencari landasan teori tentang permasalahan yang diteliti dengan menggunakan buku-buku perpustakaan. b. Field research adalah sumber data yang diperoleh dari lapangan penelitian, yaitu mencari data dengan cara terjun langsung ke obyek penelitian, untuk memperoleh data yang lebih konkrit yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun sumber data ini ada 2 mcam, yaitu : 1) Data Primer Yaitu sumber yang langsung memberikan data kepada

peneliti,18data yang dimaksud disini adalah Pembelajaran Al-Quran melalui metode Jibril dan Santri Tanfidzhul Quran PPBH Mojokerto. 2) Data Sekunder. Yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti,19 misalnya dari keterangan atau publikasi lain. Data sekunder ini bersifat penunjang dan melengkapi data primer. Data yang dimaksud adalah sejarah berdirinya Pondok-pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng Jatirejo Mojokerto dan berupa dokumen-dokumen lainnya.20

18

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantiatif, Kualitatif, Dan R&D,(Bandung: Alfabeta, 2007), 308 19 Ibid,309 20 Winarno Surakhmat, Pengantar Penelitia Ilmiah (Bandung : Tarsito, 1994), 34

18

4. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yakni membicarakan tentang bagaimana cara peneliti mengumpulkan data. Dalam penelitianini peneliti menggunakan beberapa metode dalam mengumpulkan data, sebagai berikut: a. Metode kepustakaan yakni mengkaji buku atau literature yang sesuai dengan tema penelitian. . b. Metode Observasi. Menurut Marshall (1990), menyatakan bahwa, thrrought obserasion, the researcher learn about behavior and the

meaning attached to those behavior. Melalui obsevasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.21 Adapun observasi yang dilakukan peneliti termasuk dalam jenis partisipasif yaiti peneliti terlibat langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunkan sebagi sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data. c. Metode Wawancara (interview), wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehibgga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. d. Metode dokumentasi. Yakni mengumpulkan data-data tertulis.

21

Opcit., 204

19

5. Teknik Analisis Data Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Dalam hal ini peneliti menggunakan kualitatif deskriptif. Bogdan dan tailor dalam metodologi kualitatif mendefinisikan analisis data sebagai sebuah proses memerinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis. Dari sini dapat kemudian ditarik sebuah kesimpulan bahwa menganalisis data adalah mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti disarankan oleh data. Dalam penelitian ini peneliti memberikan gambaran secara meneluruh tentang implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui metode Jibril santri Tanfidzhul Quran PPBH Mojogeneng-Jatirejo-Mojokerto. Gambaran hasil penelitia tersebut kemudia ditelaah, dikaji dan disimpulkan sesuai dengan tujuan dan kegunaan penelitian. Dalam Penelitian menggunakan 2 cara penalaran a. Cara berpikir Induktif Yaitu Penalaran yang dimulai denga fakta-fakta yang khusus, Peristiwa-peristiwa yang kongkrit kemudian dari fakta-fakta khusus

tersebut ditarik generalisasi yang bersifat umum.22

22

Sotrisno Hadi, Metode Research (Yogyakarta : Andi Offset, 1991),42.

20

b. Cara berfikir Deduktif Cara ini digunakan untuk menemukan kebenaran bila fakta-fakta atau data yang dianggap sama dengan teori yang ada. 6. Sistematika Pembahasan Unttuk mendapatkan penelitian ini, maka peneliti sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Pada Bab ini meliputi: tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Definisi gambaran yang jelas tentang cantumkan sistematika tata urutan

laporan penulisan

Operasional, Metode Penelitian dan Sistematika Pembahasan. BAB II : LANDASAN TEORI Pada Bagian pertama meliputi: Tinjauan tentang Pembelajaran AlQuran, Dasar-dasar pembelajaran Al-Quran, Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran, metode-metode pembelajaran AlQuran, Metode-metode dalam pembeljaran Agama islam, Bagian kedua meliputi: Konsepsi metode Jibril, Pengertian,

Karateristik,Pengrtian Hifdzhul Quran, Manfaat Akademis Hifdzul Quran, Keutamaan Hifdzul Quran, Hifdzul Quran pada Masa Nabi dan Sahabat. Bagian ketiga meliputi : Implementasi Pembelajaran melalui metode Jibril

21

BAB III : LAPORAN HASIL PENELITIAN Bagian pertama meliputi Gambaran Umum Obyek penilitian, Sejarah singkat, struktur organisasi,Visi dan Misi Tujuan PPBH, Keadaan Guru,santri, Sarana dan prasarana, Bagian kedua meliputi bentuk Implementasi Pembelajaran Al-Quran Melalui metode Jibril, Faktor-faktor pendukung dan penghambat Implementasi

Pembelajaran Al-Quran, Upaya-upaya untuk mengatasi hambatan Implementasi Pembelajaran Al-Quran Melalui metode Jibril BAB IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN Bab ini berii tentang interprestasi penulis, dengan data-data yang berhasil dihimpun. Analisa ini Berfungsi untuk menjawab

prmasalaha yag berkaitan implementasi Pembelajara Al-Quran melalui metode Jibril bagi santri Tanfidzhul Quran PPBH Mojogeneng-Jatirejo-Mojokerto. BAB V : PENUTUP Pada terakhir ini berisi kesimpulan dan saran-saran yang diikuti dengan daftar pustaka serta lampiran-lampirannya.

22

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjaun Tentang Pembelajaran Al-Quran 1. Dasar Pembelajaran Al-Quran Metodologi Pembelajaran Al-Quran dikalangan umat Islam

belakangan ini semakin berkembang dan membudaya di masyarakat. Hal ini terjadi karena tidak sedikit jumlah anak-anak dan orang dewasa yang belum mampu membaca Al-Quran dengan baik, sehingga prosentasenya dari tahun ke tahun semakin bertambah. Fenemona ini bukan hanya berkembang di kalangan keluarga yang penghayatannya ke-Islamannya mendalam,

khususnya para pemuka agama Islam itu sendiri, tetapi juga berpengaruh pada masyarakat awam yang sebagian besar dari mereka belum memahami makna ajaran agama Islam belum sempurna. Sementara di satu sisi mereka sadar bahwa agama bukan sekedar penerapan tetapi memerlukan ajaran-ajaran secara benar. Menurut Jazer Asp. Berdasarkan penelitian tahun 1989 dari 160 jiwa umat Islam indonesia, tercatat 59 % yang buta huruf Al-Quran. Keadaan yang demikian jelas menimbulkan keprihatinan yang mendalam bagi umat Islam, pada abad modern dengan perkembangan dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabakan terjadinya peradaban baru

23

dalam kehidupan masyarakat.

terjadinya pergeseran nilai budaya,

berpengaruh pula pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran Al-Quran. Lembaga peribadatan yang berfungsi menyelenggarakan pengajaran AlQuran tidak pasti melaksanaakan fungsinya dengan baik, sehingga angka prosentase buta huruf Al-Quran dikhawatirkan akan terus bertambah. Untuk menanggulangi situasi tersebut, kita sebagai umat Islam hendaknya dapat mengoreksi diri mengembangakan dan melakukan langkah-langkah positif untuk

pengajaran Al-Quran sebagai salah satu media untuk

belajar dan memperdalam kandungan Al-Quran secara baik dan benar, oleh karena itu penyelenggaraan pembelajaran Al-Quran perlu ditingkatkan dengan menggunakan metode dan teknik mengajar baca tulis Al-Quran yang praktis, efektif dan efisien. Dengan munculnya buku-buku pedoman tentang pembelajaran Al-Quran dengan berbagai metode, kegiatan pembelajaran Al-Quran diharapkan lebih mudah dicapai, sehingga dapat mencetak siswa didik yang aktif dan cerdas dalam pembelajaran Al-Quran dikalangan umat Islam. Munculnya lembaga-lembaga pendidikan yang mengkhususkan

belajar baca tulis Al-Quran biasanya disebut dengan TPQ ( Taman Pendidikan Al-Quran ) dan Pondok Pesantren telah dikenal oleh masyarakat luas sebagai media untuk membimbing dan melatih anak anak ataupun dewasa memahami ajaran agama Islam sejak usia dini, sehingga orang tua tergerak untuk memasukkan anak-anaknya pada lembaga pendidikan tersebut.

24

Dengan demikian apabila suatu metode pembelajaran Al-Quran dapat diterapkan secara efektif diharapkan target untuk mencetak generasi yang Qurani dimasa mendatang dapat terwujud. Sehingga kekhawatiran Al-

Quran akan menjadi asing dalam era industrialisasi tidak perlu berlebihan sedangkan permasalahan yang ditimbul dari pemikiran diatas adalah apakah implementasi metode dalam pembelajaran Al-Quran sudah dapat

dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dengan memperhatikan pendapat Nana Sudjana mengenai pengajaran yaitu Mengajar tidak semata-mata berorientasi kepada hasil tetap juga berorientasi pada proses dengan harapan semakin tinggi hasil yang dicapai. Adapun dasar pelaksanaan pembelajaran Al-Quran di indonesia adalah a. Dasar Religius Yang dimaksud dasar religius dalam uraian ini adalah dasar-dasar yang bersumber dari ajaran agama, dalam hal ini agama Islam yang ajarannya bersumber pada Al-Quran, Al-Hadis Nabi dan Maqalah para ulama. Untuk memudahkan pemahaman tersebut, penulis menguraikan sebagai berikut : 1) Dasar yang bersumber dari Al-Quran Surat Al-Alaq ayat 1-5

25

, , , ,
Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Surat Al-Ankabut ayat 45


Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan Surat al Muzammil ayat 20


Artinya : Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orangorang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat

26

menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dari ayat-ayat tersebut diatas, dapat difahami bahwa ajaran AlQuran memberi kelonggaran pada umat manusia untuk belajar sesuai dengan individu. Sehingga bagi tingkat kecerdasan rendah, selayaknya diberikan metode yang mudah untuk dicerna oleh mereka. Begitu sebaliknya bagi yang mempunyai kecerdasan yang tinggi, harus diberikan teknis atau metode yang sama, tetapi dalam porsi yang berbeda, karena teknis atau metode yang sama, tetapi dalam porsi yang berbeda, karena mereka cenderung cepat menguasai materi yang diberikan oleh guru. Implementasi yang kedua adalah tahap pelaksanaan Dari pengamatan peneliti, tahap ini adalah tahap berlangsungnya pelaksanaan metode Jibril, di mana para santri menghafal lima ayat-lima ayat setelah dirasa yakin maka ia menunggu secara bergantian menyetorkan `hafalan langsung kepada ustadz baik tambahan atau hafalan deresan.

27

Sebagaimana hasil pengamatan peneliti, untuk setoran deresan, diwajibkan bagi semua santri setor seperempat juz setiap pertemuan. Setoran murojaah dilaksanakan dua kali sehari. Adapun waktu pelaksanaan setoran murojaah ini adalah bada isya dan bada shubuh. 2) Dasar yang bersumber dari Hadis Dari beberapa hadis tersebut diatas, jelaslah bahwa agama Islam mendorong umatnya agar menjadi umat yang pandai, dimulai dengan belajar baca tulis Al-Quran dan diteruskan dengan berbagai ilnu pengetahuan. Islam disamping menekankan umatnya untuk belajar, juga menyuruh umatnya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Jadi Islam mewajibkan umatnya belajar dan mengajar. Menurut pendapat Zuhairini, melakukan proses belajar mengajar adalah : Bersifat manusiawi yakni sesuai dengan kemanusiannya, sebagai mahluk homo educendus, dalam arti manusia itu sebagai mahluk yang dapat didik dan dapat mendidik. Sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak mempelajari Al-Quran, sebab Al-Quran adalah kalamullah yang Qadim yang berlaku sepanjang masa sebagai salah satu pendidik yang utama dan pertama yang harus diberikan pada anak 3) Dasar dari Fatwa Ulama

28

Ibnu Khaldun dalam muqadimah-nya menjelaskan bahwa pembelajaran Al-Quran merupakan pondasi utama bagi pengajaran seluruh kurikulum, sebab Al-Quran merupakan agama yang menguatkan salah satu syiar

aqidah dan mengokokohkan keimanan.

Sedangkan Ibnu Sina dalam al-siyasah menasehatkan agar dalam mengajar anak dimulai dengan pembelajaran Al-Quran. Demikian pula yang diwasiatkan oleh Al-Ghozali, yaitu supaya anak-anak diajarkan Al-Quran, sejarah kehidupan orang-orang besar ( terdahulu ) kemudian beberapa hukum agama dan sajak yang tidak menyebut soal cinta dan pelakunya. Dari ketiga pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Al-Quran hendaklah dijadikan prioritas utama

diajarkan kepada anak. Lisan seseorang yang sudah mampu dan terbiasa membaca dengan baik dan benar, akan menjadikan Al-Quran sebagai bacaan sehari-hari, dengan demikian seseorang tersebut akan dapat memahami makna dan isi kandungan ayat-ayat Al-Quran dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai pedoman hidupnya, sehingga secara tidak langsung dapat menanamkan aqidah yang kokoh dalam hatinya. 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembelajaran Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, ada beberapa faktor yang diperhatikan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, diantaranya :

29

a) Faktor tujuan Mengingat metode itu fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Maka dalam, menentukan metode pembelajaran yang tepat harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai. b) Faktor Guru Guru sebagai pelaksana pembelajaran, sekalipun berorientasi pada peserta didik, pemilihan metode tidak boleh mengabaikan kompetensi guru itu sendiri, terutama yang berhubungan dengan materi pelajaran, sebab guru yang tidak biasa menguasai teknik pelaksanannya, suatu metode yang dianggap baik pun akan gagal. c) Faktor Murid Dalam proses belajar-mengajar, peserta didik merupakan unsur yang harus diperhatikan, karena mereka adalah objek pertama dalam proses belajar mengajar. Untuk itu pemilihan metode mengajar harus memperhatikan keadaan peserta didik, baik tingkat usianya maupun tingkat kemampuan berpikirnya. d) Faktor Situasi Diantara keadaan-keadaan itu ada yang diperhitungkan dan ada yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Sekalipun pada umumnya dalam menetapkan suatu metode senantiasa yang dianggap terbaik dan diperkirakan memenuhi segala perhitungan. terhadap situasi yang tidak dapat diperhitungkan karena perubahan yang secara tiba-tiba, diperlukan

30

kecekatan untuk mengambil keputusan dengan segera, mengenai cara-cara untuk mengenai cara-cara untuk metode yang dipakai. e) Faktor fasilitas Segala sesuatu yang dapat mempermudah upaya atau memperlancar kerja dalam rangka mencapai suatu tujuan. Demikian beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menetapkan metode pembelajaran, jika ingin nilai

pembelajarannya efektif, dapat mencapai sasaran dan tujuan yang ditetapkan. 3. Beberapa Metode Pembelajaran Al-Quran Dalam pembelajaran membaca Al-Quran sampai saat ini masih seperti yang

dikenal adanya beberapa metode membaca Al-Quran dikemukakan oleh M.Satiri Ahmad, Sebagai berikut : a. Metode Sintetik Yaitu pengajaran

membaca dimulai dari pengenalan huruf

hijaiyah menurut urutanya, yaitu dari Alif, Ba, Ta, sampai Ya, Kemudian dikenalkan dengan huruf Hijiyah secara terpisah, lalu dirangkaikan dengan suatu ayat, contoh: Alif fathah Aa, Alif kasrah Li, Alif dlammah Uu =A,I,U dan seterusnya. Kelemahan metode ini adalah belajar membaca AL-Quran memerlukan waktu yang relatif lama, sedangkan kelebihan dari metode ini adalah santri dapat mengenal huruf dan dihafalkan secara alfabet, sekaligus dengan mengenal tulisanya. Perhatian santri tertuju pada huruf-huruf yang berbentuk kalimat. Metode

31

ini sangat membantu bagi murid yang kurang cerdas dan bagi ustadzustadz yang belum berpengalaman. b. Metode bunyi Metode ini mulai mengeja bunyi-bunyi hurufnya, bukan namanama huruf seperti di atas, contoh: Aa, Ba, Ta, Tsa, dan seterusnya. Dari bunyi ini tersunsun yang kemudian menjadi kata yang teratur. Kelebihan dari metode ini adalah membangkitkan semangat belajar santri dalam membaca, sehingga dapat dicapai pembelajaran yang lebih banyak namun metode ini kurang efektif untuk diajarkan kepada santri dalam belajar membaca Al-Quran secara baik dan benar. c. Metode meniru Metode ini ini sebagai pengembangan dari metode bunyi, metode ini merupakan pengajaran dari lisan ke lisan, yaitu santri mengikuti bacaaan ustad sampai hafal. Setelah itu baru diperkenalkan beberapa huruf beserta tanda baca atau harakatdan kata-kata atau kalimat yang dibacanya. Kelebihan metode ini adalah sesuai dengan prinsip pendidikan yang mengatakan bahwa belajar dari yang telah diketahui dan dari yang mudah sampai yang sesukar mungkin. Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah ustadz harus mengulang bacaan beberapa kali dalam batas tertentu, jika tidak maka santri akan mudah lupa. d. Metode Campuran

32

Metode Campuran merupakan perpaduan antara metode sintetik, metode bunyi, metode meniru. Metode ini untuk melengkapi kekurangankekurangan yang terdapat dalam metode pembelajaran Al-Quran sebelumya. Dalam metode campuran, seorang ustad diharapkan mampu mengambil kebijaksanaan dalam mengajarkan membaca Al-Quran dengan mengambil kelebihan-kelebihan dari metode metode diatas, kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada sekarang.

33

4. Metode-Metode Dalam Pembelajaran Agama Islam Beberapa metode yang digunakan dalam pembelajaran Agama Islam, antara lain23: a. Metode Pembiasaan Dalam kaitannya dengan metode pengajaran agama Islam, dapat dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan ajaran agama Islam. b. Metode Keteladanan Keteladanan dalam bahasa Arab disebut uswah, iswah atau qudwah, qidwah yang berarti perilaku baik yang dapat ditiru oleh orang lain (anak didik). Metode keteladanan memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mencapai keberhasilan pendidikan. Karena secara psikologi, anak didk meniru dan mencontoh perilaku sosok figurnya termasuk diantaranya adalah para pendidikan. c. Metode Pemberian Ganjaran Ganjaran (tsawab) adalah penghargaan yang diberikan kepada anak didik, atas prestasi, ucapan dan tingkah laku positif dari anak didik. Ganjaran dapat membeikan pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa anak didik untuk melakukan perbuatan yang positif dan bersikap progresif. Di samping
23

juga dapat menjadi pendorong bagi anak-anak

Armai Arief, Op.cit, Hal.110 - 200

34

didik lainnya untuk mengikuti anak yang telah memperoleh pujian dari gurunya; baik dalam tingkah laku, sopan santun ataupun semangat dan motivasinya dalam berbuat yang lebih baik. d. Metode Pemberian Hukuman Berbeda dengan ganjaran, pemberian hukum (iqab) haruslah ditempuh sebagai jalan terakhir dalam proses pendidikan. Seorang pendidik yang bijaksana tidak seenaknya mengaplikasikan hukuman fisik kepada anak didiknya kecuali hanya sekedarnya saja dan sesuai dengan kebutuhan. e. Metode Ceramah Metode ceramah dapat diartikan sebagai suatu metode di dalamnya proses belajar-mengajar, dimana cara menyampaikan materi pelajaran kepada anak didik adalah dengan penurunan/ lisan. f. Metode Tanya Jawab Metode tanya jawab adalah penyampaian materi pelajaran dengan cara mengajukan pertanyaan dan murid menjawab. g. Metode Diskusi Metode diskusi dapat diartikan sebagai jalan untuk memecahkan suatu permasalahan yang memerlukan beberapa jawaban alternatif yang dapat mendekati kebenaran dalam proses belajar mengajar. Metode ini bila digunakan dalam PBM akan dapat merangsang murid untuk berfikir

35

sistematis, kritis dan bersikap demokratis dalam menyumbangkan pikiranpikirannya untuk memecahkan sebuah masalah.

36

h. Metode Sorogan Sorogan artinya belajar secara individu dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal antara keduanya. i. Metode Bandongan Metode bandongan adalah salah satu metode pembelajaran dalam pendidikan Islam, dimana siswa/ santri tidak menghadap guru/ kyai satu demi satu, tetapi semua peserta didik menghadap guru dengan membawa buku/kitab masing-masing. Kemudian guru membacakan,

menerjemahkan, menerangkan kalimat demi kalimat dari kitab yng dipelajari, sementara santri secara cermat mengikuti penjelasan yng diberikan oleh kyai dengan memberikan catatan-catatan tertentu. Cara belajar seperti ini paling banyak dilakukan di pesantren tradisional. j. Metode Mudzakarah Metode Mudzakarah adalah metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar (PBM) dengan jalan mengadakan suatu pertemuan ilmiah yang secara khusus membahas masalah-masalah agama saja. Metode Mudzakarah ini pada umumnya banyak digunakan oleh lembagalembaga pendidikan yang disebut pesantren, khusus pesantren tradisional. Di antara tujuan penggunaan metode ini adalah untuk melatih santri agar lebih terlatih dalam memecahkan masalah-masalah yang berkembang dengan menggunakan kitab-kitab klasik yang ada. Di

37

samping untuk menguji keterampilan mereka mengutip sumber-sumber argumentasi dari kitab-kitab Islam klasik. k. Metode Drill/ Latihan Metode drill adalah suatu metode dalam menyampaikan pelajaran dengan menggunakan latihan secara terus-menerus sampai anak didik memiliki ketangkasan yang diharapkan. l. Metode Kerja Kelompok Metode kerja kelompok adalah salah satu dari sekian banyak metode yang dapat digunakan dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak didik. Metode ini dilakukan dengan cara membagi siswa ke dalam beberapa kelompok baik kecil maupun kelompok besar. Selain metode-metode yang telah dijelaskan diatas, menurut Ahsin, metode yang sering digunakan dalam pembelajaran hifzhul Quran terdiri dari24: a. Metode Wahdah Yang dimaksud dengan metode ini, yaitu menghafal satu persatu terhadap ayat-ayat yang hendak dihafalkannya. Sebagai awal, setiap ayat dibaca sepuluh kali atau lebih, sehingga proses ini mampu membentuk pola dalam bayangannya.

Ahsin W. Al-Hafizh, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Quran (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 63-66

24

38

Setelah benar-benar hafal barulah dilanjutkan pada ayat-ayat berikutnya dengan cara yang sama, demikian seterusnya hingga mencapai satu muka dengan gerak reflek pada lisannya. Setelah itu dilanjutkan membaca dan mengulang-ulang lembar tersebut hingga benar-benar lisan mampu memproduksi ayat-ayat dalam satu muka tersebut secara alami, atau reflek dan akhirnya akan membentuk hafalan yang representatif. b. Metode Kitabah Kitabah artinya menulis. Metode ini memberikan alternatif lain daripada metode yang pertama. Pada metode ini penulis terlebih dahulu menulis ayat-ayat yang akan dihafalnya pada secarik kertas yang telah disediakan untuknya. Kemudian ayat-ayat tersebut dibacanya sehingga lancar dan benar bacaannya, lalu dihafalkannya. Menghafalnya bisa juga dengan metode wahdah atau dengan berkali-kali menuliskannya sehingga dengan berkali-kali menuliskannya ia dapat sambil memperhatikan dan sambil menghafalnya dalam hati. c. Metode Simai Simai artinya mendengar. Yang dimaksud dengan metode ini ialah mendengarkan sesuatu bacaan untuk dihafalkannya. Metode ini akan sangat efektif bagi penghafal yang mempunyai daya ingat yang ekstra, terutama bagi penghafal tunanetra atau anak-anak yang masih di bawah umur yang belum mengenal tulis baca Al-Quran. d. Metode Gabungan

39

Metode ini merupakan gabungan antara metode pertama dan kedua, yakni metode wahdah dan metode kitabah. Hanya saja kitabah (manulis) di sini lebih memiliki fungsional sebagai uji coba terhadap ayatayat yang telah dihafalnya. Maka dalam hal ini, setelah penghafal selesai menghafal ayat yang dihafalnya, kemudian ia mencoba menulisnya di atas kertas yang telah disediakan untuknya dengan hafalan pula. Setelah ia telah mampu mereproduksi kembali ayat-ayat yang dihafalnya dalam bentuk tulisan, maka ia melanjutkan kembali untuk menghafal ayat-ayat berikutnya, tetapi jika penghafal belum mampu, mereproduksi hafalannya ke dalam tulisan secara baik, maka ia kembali menghafalkannya sehingga ia benar-benar mencapai nilai hafalan yang valid. 5. Metode Jama Yang dimaksud dengan metode ini, ialah cara menghafal yang dilakukan secara kolektif, yakni ayat-ayat yang dihafal dibaca secara kolektif, atau bersama-sama, dipimpin oleh seorang instruktur/ guru. B. Tinjauan Tentang Metode Jibril 1. Metode Jibril a. Pengertian Metode Jibril Metode secara etimologi, istilah ini berasal dari bahasa yunani metodos kata ini berasal dari dua suku kata yaitu: metha yang berarti melalui atau melewati dan hodos yang berarti jalan atau cara. Metode

40

berarti jalan yang di lalui untuk mencapai tujuan.25 Dalam kamus bahasa indonesia metode adalah cara yang teratur dan berfikir baik untuk mencapai maksud. Sehingga dapat di pahami bahwa metode berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar mencapai tujuan pelajaran.26 Metode adalah strategi yang tidak bisa ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Setiap kali mengajar guru pasti menggunakan metode. Metode yang di gunakan itu pasti tidak sembarangan, melainkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.27 Pada dasarnya, terminologi (istilah) metode Jibril yang digunakan sebagai nama dari metode pembelajaran Al-Quran yang diterapkan di Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ) Singosari Malang, adalah

dilatarbelakangi perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengikuti bacaan Al-Quran yang telah dibacakan oleh malaikat Jibril, sebagai penyampai wahyu, Allah SWT berfirman:


Artinya: Apabila telah selesai kami baca (Yakni Jibril membacanya) maka ikutilah bacaannya itu. (Q.S. Al-Qiyamah: 18)

Muhammad Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara1996), hlm: 61 Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka1995), hal: 52 27 Saipul Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2002), hlm: 178
26

25

41

Berdasarkan ayat diatas, maka intisari teknik dari Metode Jibril adalah taqlid-taqlid (menirukan), yaitu santri menirukan bacaan gurunya. Dengan demikian metode Jibril bersifat teacher-centris, dimana posisi guru sebagai sumber belajar atau pusat informasi dalam proses pembelajaran. Selain itu praktek Malaikat Jibril dalam membacakan ayat kepada Nabi Muhammad SAW adalah dengan tartil (berdasarkan tajwid yang baik dan benar). Karena itu, metode Jibril juga diilhami oleh kewajiban membaca Al-Quran secara tartil, Allah SWT berfirman:


Artinya : Dan bacalah (olehmu) Al-Quran dengan tartil.(QS. Muzammil : 4) Dan metode Jibril juga diilhami oleh peristiwa turunnya wahyu secara bertahap yang memberikan kemudahan kepada para sahabat untuk menghafalnya didalamnya.28 Adapun landasan yang dipakai selain di Al-Quran Surat Muzammil ayat 4 juga Hadis Riwayat Ibnu Asakir dan memaknai makna-makna yang terkandung

Ahsin W. Al-Hafizh, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Quran (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 6-7.

28

42

) (
Artinya: Abu Said al-Khudri mengajarkan Al-Quran kepada kami, lima ayat di waktu pagi dan lima ayat di waktu petang. Dia memberitahukan bahwa jibril menurunkan Al-Quran lima ayat-ayat. Dan juga ada Hadis Riwayat Baihaqi

( )
Artinya: Pelajarilah Al-Quran lima ayat demi lima ayat, karena Jibril menurunkan Al-Quran kepada Nabi SAW. Lima ayat demi lima ayat. Metode menghafal Al-Quran melalui cara diatas yakni dengan cara menghafal Al-Quran lima ayat demi lima ayat juga diterapkan di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Komplek As-Syifa Mojogeneng Jatirejo Mojokerto yang mana komplek tersebut tempat santri yang ingin menghafal Al-Quran. Adapun Pengasuh-nya adalah KH. Moh. Fathoni Dimyati, Lc. lulusan S1 dari Negara Syiria, beliau juga pernah Juara II Hifdzul Quran Tingkat Internasional Di Makkah sekitar tahun 1983 (Wawancara dengan beliau pada tanggal 13 Agustus 2008). Mengenai metode mengahafal Al-Quran yang diterapkan di tempat mengasuh beliau benar-benar telah teruji, hal ini dibuktikan oleh santri-santrinya yang sering juara di perlombaan MTQ Tingkat Kabupaten Mojokerto, Tingkat Jawa Timur dan juga ada yang sampai MTQ Tingkat Nasional.

43

(Wawancara dengan Pengurus Komplek As-Syifa Agustus 2008).

pada tanggal 14

Di dalam metode Jibril, tujuan intraksional umum pembelajaran Al-Quran adalah santri membaca Al-Quran dengan tartil sesuai dengan perintah Allah SWT. Indikasinya santri mampu menguasai ilmu-ilmu tajwid baik secara praktis maupun teoritis pada saat ia membaca AlQuran dengan demikian, metode Jibril berupaya mencetak generasi Qurani yang selalu mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. Melalui metode Jibril inilah nantinya menghafal Al-Qur'an bisa berjalan secara efektif, sehingga terwujudlah hasil yang diinginkan yaitu menjadi insan Qur'ani, bisa menghafalnya dengan baik dan benar dan sekaligus mengamalkan ajaran Al-Qur'an dengan baik dalam aplikasi kehidupannya. b. Konsep Metode Jibril Intisari teknik dari metode Jibril adalah taqlid-taqlid (menirukan), yaitu murid menirukan bacaan gurunya. Dengan demikian metode Jibril bersifat teacher-centris, dimana posisi guru sebagai sumber belajar atau pusat informasi dalam proses pembelajaran. Metode ini sudah dipakai pada zaman Rasulullah dan para sahabat. Setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu yang berupa ayat-ayat AlQuran, beliau membacanya di depan para sahabat, kemudian para sahabat menghafalkan ayat-ayat tersebut sampai hafal di luar kepala. metode yang

44

digunakan Nabi mengajar para sahabat tersebut, dikenal dengan metode belajar kuttab. Di samping menyuruh menghafalkan, Nabi menyuruh kutab (penulis wahyu) untuk menuliskan ayat-ayat yang baru diterimanya itu.29 Proses belajar seperti ini berjalan sampai pada akhir masa pemerintahan Bani Umayyah.30 Sedangkan tujuan intraksional khusus pembelajaran Al-Quran dijabarkan sebagai berikut: Santri mampu mengenal huruf, menghafalkan suara huruf, membaca kata dan kalimat berbahasa arab, membaca ayat-ayat Al-Quran dengan baik dan benar. Santri mampu mempraktekkan membaca ayat-ayat Al-Quran (pendek maupun panjang) dengan bacaan bertajwid dan artikulasi yang shahih (benar) dan jahr (bersuara keras). Santri mengetahui dan memahami teori-teori dalam ilmu tajwid walaupun secara global, singkat dan sederhana teerutama hukumhukum dasar ilmu tajwid seperti hukum lam sukun, nun sukun, dan tanwin, mad dan lainnya. Santri mampu menguasai sifat-sifat huruf hijaiyah baik lazim maupun yang aridh. Santri mampu memahami semua materi ajar dengan baik dan benar.

29 30

Amanah, Pengantar Ilmu Al-Quran &Tafsir (Semarang: As-Syifa,1991), hlm. 104 Ibid.,

45

Santri mampu menggunakan media atau alat bantu secara baik dan benar. Selain penjabaran diatas, tujuan intruksional adalah semua yang dikembangkan sendiri oleh guru yang menerapkan metode Jibril sesuai dengan kebutuhan, situasi, kondisi dan tujuan pembelajaran di lembaga pendidikan. Menurut K.H. Muhammad Bashori Alwi, sebagai pencetus metode Jibril menegaskan bahwa metode ini bersifat talqin-taqlid, yaitu murid menirukan bacaan gurunya. Dengan demikian, guru dituntut untuk profesional dan memiliki kredibilitas yang mumpuni di bidangnya. Dan metode Jibril menurut K.H.M. Bashori Alwi diadopsi dari Imam Al-Jazari dan dikombinasi dengan cara mengajar Imam Abdurrahman As-Sulami, seorang yang ahli qiraat pada awal era awal kebangkitan Islam. Kombinasi tersebut diterapkan dalam teknik metode Jibril, yang disebut tashih. Teknik ini sangat bermanfaat bagi pengkaderan guru yang profesional. Teknik dasar Metode Jibril bermula dengan membaca satu ayat atau waqaf, lalu diturunkan oleh guru yang mengaji. guru membaca satudua kali lagi yang masing-masing masing-masing ditirukan oleh orangorang yang mengaji. Kemudian guru membaca ayat atau lanjutan ayat berikutnya dan ditirukan kembali oleh semua yang hadir. Begitulah

46

seterusnya, sehingga mereka dapat menirukan bacaan guru dengan pas. (Al-Kisah:50).31 c. Karateristik Metode Jibril Di dalam metode Jibril terdapat dua tahap, yaitu tahqiq dan tartil. 1) Tahap tahqiq adalah pembelajaran Al-Quran dengan pelan dan mendasar. Tahap ini dimulai dengan pengenalan huruf dan suara, hingga kata dan kalimat. Tahap ini memperdalam artikulasi (pengucapan) terhadap sebuah huruf dengan tepat dan benar sesuai dengan makhraj dan sifat-sifat huruf. 2) Tahap tartil adalah pembelajaran membaca Al-Quran dengan durasi sedang dan bahkan cepat sesuai dengan irama lagu. Tahap ini dimulai dengan pengenalan sebuah ayat atau beberapa ayat yang dibacakan guru, lalu ditirukan oleh para santri secara berulang-ulang. Disamping pendalaman artikulasi (pengucapan), dalam tahap tartil juga diperkenalkan praktek hukum-hukum ilmu tajwid seperti: bacaan mad, waqaf, dan ibtida, hukum nun mati dan tanwin, hukum mim mati, dan sebagainya. 3) Tahap menghafal Al-Quran dengan cara lima ayat-lima ayat dihafal oleh santri dengan cara membaca Al-Quran berulang-ulang sesuai dengan kemampuan masing-masing, kemudian setelah lima ayat hafal

31

Taufiqurahman, Metode Jibril, (Malang : Malang IKAPIQ,2005) hal 1-23

47

diluar kepala baru memulai lagi menghafal Al-Quran ayat berikutnya sampai jumlahnya lima ayat dan seterusnya. 4) Menyetorkan hafalannya ke Ustad atau Pengasuh, Adapun Jadwal setorannya di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Komplek AsSyifa Mojogeneng Jatirejo Mojokerto setiap hari dua kali yakni Bada Shubuh dan Bada Isya. 2. Kajian Hifzhul Quran a. Pengertian Hifzhul Quran Al-Hifzh berasal dari bahasa Arab, dengan fiil madinya, yang artinya secara etimologi (tata bahasa) adalah menjaga, memelihara atau menghafalkan.32 Sedang Al-Hafizha adalah orang yang menghafal dengan cermat. Orang yang selalu berjaga-jaga yaitu orang yang selalu menekuni pekerjaannya. Istilah Al-Hafizh ini dipergunakan untuk orang yang hafal Al-Quran tiga puluh juz tanpa mengetahui isi dan kandungan AlQuran.33 Sebenarnya istilah Al-Hafizh ini adalah predikat bagi sahabat Nabi yang hafal Hadits-Hadits shalih (bukan predikat bagi penghafal AlQuran).

Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Al-Asri, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1996) Hal.37 33 Abdurrab Nawabudin, Teknik Menghafal Al-Quran, (Bandung: Cv. Sinar Baru,1991) Hal. 7

32

48

Kata-kata hifzh dalam Al-Quran dapat berarti banyak hal, sesuai dengan pemahaman konteks sebagaimana misalnya firman Allah dalam surat Yusuf: 65


Artinya:Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: wahai ayah kami apalagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir).34 Di sini Al-Hafizh diartikan memelihara atau menjaga. Sedang Al-Hifzh yang berarti penjagaan, pemeliharaan atau pengingatan mempunyai banyak idiom yang lain, seperti si-Fulan membaca Al-Quran dengan kecepatan yang jitu (zhahru Al-Lisan) dengan hafalan di luar kepala (zhahru Al-Qolb). Baik kata-kata zhahru Al-Lisan maupun zharu Al-Qolb merupakan kinayah (metafora) dari hafalan tanpa kitab, karena itu disebut istizhahrahu yang berarti menghafal dan membacanya di luar kepala.35 Dalam kitab ini, menghafal Al-Quran, memeliharanya serta menalarnya haruslah memperhatikan beberapa unsur pokok sebagai berikut:
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Quran, Op.cit, Hal: 358 Muhaimin Zen, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Quran, (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 1996) Hal. 37
35 34

49

a. Menghayati bentuk-bentuk visual, sehingga bisa diingat kembali meski tanpa kitab. b. Membaca secara rutin ayat-ayat yang dihafalkan. c. Penghafal Al-Quran dituntut untuk menghafal secara keseluruhan baik hafalan maupun ketelitian. d. Menekuni, merutinkan dan melindungi hafalan dari kelupaan.36 Sebagaimana sejarah turunnya Al-Quran awal kali dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, diceritakan dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

: . . ) ) ( . Artinya: Dari Aisyah r.a berkata -permulaan wahyu- yang


diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar, dalam
36

Abdurrab Nawabudin, Op.Cit., hlm. 27.

50

mimpi itu beliau hanyalah melihat seperti secercah cahaya shubuh, kemudian beliau ditenangkan untuk berkhalwat (beribadah diri). Beliau selalu mendatangi gua hira, disana bertahanust (beribadah) beberapa malam. Untuk itu beliau membawa bekal, kemudian beliau kembali kepada khdijah dan membawa bekal seperti (bekal terdahulu), sehingga beliau dikejutkan kebenaran dan beliau sedang berada di gua Hira dan malaikat lalu malaikat itu berkata:bacalah, Rasulullah SAW bersabda: Lalu saya berkata:sungguh saya tidak bisa membaca, lalu malaikat memegang dan mendekapku sehingga saya merasa payah, kemudian ia melepaskan saya lalu ia (malaikat), berkata: bacalah saya (Nabi SAW) berkata: saya tidak bisa membaca, lalu dia mendekapku yang kedua kalinya sehingga saya merasa payah, kemudian ia melepaskan saya, ia (Malaikat) ber-kata lagi: bacalah- lalu saya (Nabi SAW) berkata:saya tidak bisa membaca, dia (malaikat) mendekap yang ketiga kalinya, sehingga saya merasa payah, kemudian dia (Malaikat) melepaskan saya, lalu berkata: Iqra

sampai

lalu

Rasulullah pulang kepadanya (siti Khadijah), dengan gemetar hatinya. Dari turunnya wahyu yang pertama kali, yang dirasakan Nabi adalah ketakutan, sehingga sulitnya Nabi mengikuti apa yang dibaca Malaikat Jibril yang berulang tiga kali. Dari hal tersebut menimbukan penafsiran, bacaan itu harus diulang-ulang, sehingga tidak lupa atau hilang. Diikuti tiga kali dekapan Malaikat Jibril kepada Nabi, hal itu adalah proses internalisasi (pemahaman, penghayatan), sehingga Nabi dapat mengikuti apa-apa yang dibacanya. Dari peristiwa tersebut makna Iqra berarti tidak hanya seorang Nabi membaca saja tetapi ketika itu Nabi berusaha: a. Memperhatikan (membaca fenomena). b. Mensistematisir/ menata fenomena yang ada.

51

c. Lalu menyimpulkan sehingga terjadi pemahaman. Peristiwa tersebut adalah momentum perjalanan Muhammad prakenabian dan kerasulan. Di Gua Hira itulah Muhammad tercerahkan secara spiritual. Allah, Tuhan manusia dn makhluk pada umumnya, yang wajib disembah dan yang mencipta semesta segenap ruang dan waktu, berkenaan menutus Jibril untuk menyampaikan wahyu Ilahi yang akan segera mengubah peradaban jahiliyah Arab menuju peradaban yang tercerahkan dan terberkatu. Bacalah, Muhammmad, maka berubahlah alam semesta!. b. Manfaat Akademis Hifzhul Quran 1) Menghafal Al-Quran sebagai pengetahuan dasar bagi santri dalam proses belajarnya. Dengan ia seorang penghafal Al-Quran, akan memberikan kontribusi yang sedemikian besar terhadap studinya, apalagi AlQuran adalah sumber ilmu, sebagaimana sabda Nabi dari Ibnu Masud menyatakan: Kalau kalian menginginkan ilmu, bukalah lembaran Al-Quran. Karena Al-Quran mengndung ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang di masa mendatang.37 Santri yang hafal Al-Quran, akan terbantu ketika

membutuhkan dalil-dalil Al-Quran yang berkaitan dengan ilmu yang

37

Haya Ar-Rasyid, Op.cit, hlm. 19

52

dipelajarinya. Seiring kemajuan ilmu dan teknologi, sudah banyak dibuktikan secara ilmiah apa yang telah dinyatakan/ ditulis (ditetapkan) dalam ayat-ayat Allah (Al-Quran), apa-apa yang menjadi rahasia alam, seperti karya-karya Harun Yahya yang menguak berbagai rahasia alam yang memang bukan terjadi secara kebetulan. Hal tersebut sudah menjadi bukti dari bahwa Al-Quran adalah sumber ilmu. 2) Menentramkan dan menenangkan jiwa. Dari Abu Hurairoh r.a berkata: Rasulullah SAW. Bersabda:


Artinya: Tidak ada orang yang berkumpul di dalam satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Al-Quran, melainkan mereka akan memperoleh ketentraman, diliputi rahmat, dikitari oleh malaikat dan nama mereka disebut-sebit Allah di kalangn para Malaikat. (HR. Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Daud). Bagi seorang penghafal Al-Quran, yang lisannya tidak pernah kering akan mengulang-ulang kalam Allah, karena ia selalu membacanya dimanapun dan kapanpun. Dengan begitu, jiwanya akan selalu merasa ketentraman dan ketenangan. 3) Tajam ingatan dan bersih intuisinya. Ketajaman ingatan dan kebersihan intuisinya itu muncul karena seorang penghafal Al-Quran selalu berupaya mencocokkan ayat-ayat

53

yang dihafalnya dan membandingkan ayat-ayat tersebut ke porosnya, baik dari segi lafal (teks ayat) maupun dari segi pengertiannya. Sedangkan bersihnya intuisi itu muncul karena seorang penghafal AlQuran senantiasa berada dalam lingkungan zikrullah dan selalu dalam kondisi keinsafan yang selalu meningkat, karena ia selalu mendapat peringatan dari ayat-ayat yang selalu dibacanya. 4) Banyak menghafal kosa kata bahasa Arab Al-Quran memuat 77.439 kalimat. Kalau seluruh penghafal Al-Quran memahami seluruh isi kalimat tersebut, berapa dia banyak sekali menghafal kosa kata (vocabulari) bahasa Arab, jadi seakan-akan menghafal kamus Arab.38 5) Menjadi sumber hukum Dalam Al-Quran banyak sekali ayat hukum, dengan demikian seorang penghafal Al-Quran secara tidak langsung akan

menghafalkan ayat-ayat hukum. Ini sangat berguna sekali bagi mereka yang ingin terjun dibidang hukum c. Keutamaan Hifzhul Al-Quran Allah memuliakan orang yang menjadi Ahlul Quran dengan membaca, menghafal dan mengamalkannya dengan berbagai macam keistimewaan di dunia dan diakhirat.

Panduan Ilmu Tajwid Versi Madrsatul Quran Tebu Ireng (Jombang: Unit Tahfizh MQ Tebu Ireng, 2004), hlm. 26

38

54

Menurut Ustad Fathoni, sebagaimana dalam rangkumannya Memilih Metode Menghafal Al-Quran Yang Baik dan Upaya Mencetak Huffazhul Quran Yang Sempurna, Keutamaan orang yang menghafal Al-Quran39, antara lain: 1) Huffazhul Quran itu pilihan Allah (Q.S Fathir: 32) Kamudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antra mereka ada yang menganiaya diri sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara ada (pula) yanglebih dahulu berbuat kebikan dengan izin Allah yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. 2) Huffazhul Quran itu adalah para Ilmuwan (Q.S Al-Ankabut: 49) Sebanarnya Al-Quran itu adalah ayat-ayt yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi Ilmu dan tidak ada orang yangmengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. 3) Huffazhul Quran adalah keluarga Allah (HR. Ahmad/ Fadhoilul Libni Katsir hal. 54) Dari anas bin malik beliau berkata: Rosulullah SAW. Berkata: sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga dari pada manusia. Ada yang bertanya: siapa mereka itu wahai Rosulullah? Beliau menjawab: Ahli Al-Quran itulah keluarga Allah dan orang-orang khususnya. (HR. Ahmad/Fadloilul Quran Libni Katsir hal.54) 4) Huffazhul Quran adalah orang-orang mulia dari umat Muhammad SAW. (Nihayatul Qoulil Mufid hal. 646) Dan berkata Rosulullah SAW: Orang-orang yang mulia dari pada umatku adalah para penghafal Al-Quran dan ahli sholat malam. Dan beliau berkata: Ibadah ummatku yang paling utama ialah membaca Al-Quran. (Nihayatul Qoulil Mufid hal. 646)

39

M. Fathoni Dimyati, Op.cit, hlm. 14

55

5) Huffazhul Quran dijaga dari api neraka. (HR. Addaroni/ At-Tibyan fi Adabi Hamatil Quran Lin Nawawi hal. 16) Dari Abdulloh bin Masud dari Nabi SAW. Beliau berkata: Bacalah Al-Quran, karena sesungguhnya Al-Quran ini adalah hidangan Allah, barang siapa yang masuk di dalamnya maka ia akan aman. Dan barang siapa cinta kepada Al-Quran maka hendaklah ia bergembira. (HR. Addaroni/At-tibyan fi adabi hamatil Quran Lin Nawawi. Hal.16) 6) Huffazhul Quran itu berhak memberi syafaat kepada keluarganya. (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi/ Nihayatul Qowlil Mufid hal. 248 ) Dari Ali Bin Abi Tholib RA. Beliau berkata: Rosulullah SAW. Bersabda: barang siapa membaca Al-Quran kemudian ia menghafalkannya di luar kepala lalu ia menghalalkan apa yang di halalkan oleh Al-Quran dan mengharamkan apa yang diharamkan oleh Al-Quran maka Allah akan memasukkannya kedalam surga dan memberikan kepadanya hak untuk memberi syafaat kepada 10 orang dari keluarganya yang sudah dipastikan masuk neraka. (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi/Nihayatul Qowlil Mufid hal. 248). 7) Huffazhul Quran hampir seperti Nabi. (HR. Thobroni/ Fadhoilul Quran Libni Kastir hal. 57) Dari Abdulloh bin Amr dari Rosulullah SAW. Beliau berkata: Barang siapa yang membaca (hafal) Al-Quran maka seungguhnya dia telah mendapat derajat kenabian (yang dicapkan) diantara kedua lambungnya, hanya saja dia tidak diberi wahyu. Dan barang siapa yang hafal Al-Quran kemudian berangapan bahwa orang lain (yang tidak hafal Al-Quran telah diberi (oleh Allah) dengan pemberian yang lebih utama dari pada apa yang telah diberikan kepadanya maka sungguh dia telah mengagungkan sesuatu yang dikecilkan oleh Allah dan mengecilkan sesuatu yang dibesarkan oleh Allah. (HR. Thobroni/Fadloilul Quran Libni Kasir hal. 57). 8) Hafal al-Quran adalah kenikmatan besar yang patut diiri.(HR.Mutafaq Alaih/ Riyadhussalihin hal.431)

56

Dari Ibnu Amr RA. Dari Nabi SAW. Beliu berkata: tidak dibenarkan iri kecuali kepada dua perkara, yaitu lelaki yang diberi (hafal) AlQuran oleh Allah kemudian ia membacanya siang malam, dan lelaki yang diberi oleh Allah harta (yang banyak) kemudian ia nafkahkan harta itu (fisabilillah) siang malam. (H. Muttafaq Alaih/Rriyadlussholihin hal. 431). 9) Mencintai Huffazhul Quran sama dengan mencintai Allah.

(Muhaimin Zen: 33) Diriwayatkan dari Anas bahwa Rosululah SAW. Bersabda: AlQuran itu lebih utama dari pada segala sesuatu, maka barang siapa mengagngkan Al-Quran maka sama halnya mengagungkan Allah dan barang siapa yang meremehkan Al-Quran maka sama halnya meremehkan Allah. Para penghafal Al-Quran itu adalah orang-orang yang diliputi dengan rahmat Allah, dan mereka adalah orang-orang yang mengagungkan kalam Allah dan yang diberi pakaian cahaya oleh Allah. Barang siapa yang ,mengasihi mereka maka telah mencintai Allah, dan barang siapa yang memusuhi mereka sungguh ia telah meremehkan Allah Azzawajalla. (problematika menghafal AlQuran, Drs. Muhaimin Zen hal. 33) 10) Banyak sedikitnya hafalan menentukan derajat di akhirat. HR. Abu Daud wat Turmudzi/ Riyadhussahalihin hal.432) Dari Abdullah bin Amr dari Nabi SAW. Beliau berkata: akan dikatakan kepada penghafal al-Quran: bacalah dan bacalah dengan tartil sebagaimana kamu telah baca dengan tartil di dunia. Karena kedudukanmu (derajatmu) itu ada di akhir ayat yang kau baca. (HR. Abu Dawud wat Turmudzi/Riyadlussholihin hal. 432). d. Hifzhul Quran Di Masa Nabi dan Para Sahabat 1) Di Masa Nabi SAW Al-Quranul Karim turun kepada Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis). Karena itu perhatian Nabi hanyalah dituangkan untuk sekedar menghafal dan menghayatinya, agar dapat menguasai AlQuran yang diturunkan.setelah itu membacakan kepada orang-orang

57

dengan begitu terang agar merekapun dapat menghafalnya serta memantapkannya. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam surat AlJumuah ayat 2 sebagai berikut:


Artinya: Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Al-Jumuah:2) Bangsa Arab pada saat itu belum banyak yang dapat membaca dan menulis, namun pada umumnya mereka memiliki daya ingat yang sangat kuat. Setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu yang berupa ayat-ayat Al-Quran beliau membacanya di depan para sahabat, kemudian para sahabat menghafalkan ayat-ayat tersebut sampai hafal di luar kepala. Metode yang digunakan Nabi mengajar para sahabat tersebut, dikenal dengan metode belajar kuttab. Di samping menyuruh menghafalkan, Nabi menyuruh kutab (penulis wahyu) untuk menuliskan ayat-ayat yang baru diterimanya itu.40

40

Amanah, Pengantar Ilmu Al-Quran &Tafsir (Semarang: As-Syifa,1991), hlm. 104

58

Pada waktu itu banyak para sahabat yang hafal Al-Quran keseluruhan, di antaranya41: 1) Abu Bakar Ash-Shiddiq 2) Uma Bin Khattab 3) Ustman Bin Affan 4) Ali Bin abi Thalib 5) Thalhah 6) Saad 7) Hudzaifah 8) Salim 9) Abi Hurairah 10) Abdullah bin Masud 11) Abdullah Bin Umar 12) Abadullah Bin Abbas 13) Amir Bin Ash 14) dll. Ada beberapa faktor yamng menjamin kemurnian Quran yang telah diturunkan pada masa itu, yaitu42: 1) Hafalan yang sangat kuat dari para sahabat yang hafal Al-Quran. 2) Naskah-naskah yang ditulis untuk Nabi.

41 42

Ibid,. Hlm.105 Amanah, Pengntar Ilmu Al-Quran&Tafsir (Semarang: As-Syifa,1991), hlm. 108

59

3) Naskah-naskah yang ditulis oleh sahabat yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing. 4) Tadarrus (pengulangan) Al-Quran yang dilakukan malaikat Jibril dan Nabi setiap tahun sekali. Di waktu ulangan itu Nabi disuruh mengulang memperdengarkan Al-Quran yang telah diturunkan oleh Jibril dua kali.43 Para sahabat dikala Islam masih disembunyikan, mempelajari Al-Quran di suatu rumah (rumah Zaid bin Al-Arqam), disanalah mereka mempelajari serta memahamkan kandungan ayat-ayat yang telah diturunkan itu dengan jalan bermudarasah, bertadarus dan dikala umat Islam telah berhijrah ke Madinah, dan Islam telah tersebar kekabilah-kabilah Arab, mulailah sahabat yang dapat menghafal AlQuran pergi ke kampung-kampung, ke dusun-dusun, menemui kabilah-kabilah Islam untuk mengajarkan Al-Quran kemudian pada tiap-tiap mereka telah mempelajari, dibebankan mengajari temantemannya yang belum mengetahui. Sahabat-sahabat yang mengajarkan itu pergi ke kabilah-kabilah yang lain untuk menyebarkan Al-Quran seterusnya. Diantara para sahabat yang terkenal sebagai guru mengajar AlQuran kepada sesamanya dan kepada para tabiin adalah:

Syahminan Zaini & Ananto Kusuma S., Bukti-Bukti Kebenaran Al-Quran Sebagai Wahyu Allah (Jakarta: Klam Mulia, 1986), hlm. 19

43

60

a) Usman bi Affan b) Ali bin Abi Thalib c) Zain bin Tsabit d) Ubay bin kaab e) Ibn Masud f) Abu Darda g) Abu Musa Al-Asyari. Belajar Al-Quran dan menghafal Al-Quran ini sanagat didukung oleh Nabi sebagaimana diceritakan oleh Ubadah bi Shamit: Apabila ada seseorang kepada yang salah hijrah seorang (masuk diantara Islam) kami Nabi untuk

menyerahkannya

mengajarnya. Di Masjid Nabawi sering terdengar kegaduhan dalam membaca Al-Quran, sehingga rosul memerintahkan kepada mereka agar jangan saling mengganggu. Dari itu, penghafal-penghafal Al-Quran pada masa kehidupan Rosulullah SAW. tidak terhitung. Kiranya cukup kita ketahui bahwa mereka yang gugur dalam pertempuran di sumur Maunah jumlah mereka yang gugur kira-kira sejumlah dengan itu. Al-Qurtubi mengatakan pada pertempuran Yamamah, jumlah Qurra yang gugur adalah 70 orang dan pada pertempuran di sumur Maunah sejumlah itu juga. Jadi merekayang meninggal syahid atau mati syahid berjumlah 140 orang.

61

Sudah menjadi ciri khas bagi umat Muhammad bahwa kitab suci Al-Quran bisa dihafal dalam hati. Dalam menukilkannya berpedoman pada hati dan dada, tidak cukup dengan berdasarkan tulisan dalam bentuk lembaran dan catatan, berbeda dengan halnya ahli ktab, mereka tak satupun yang hapal akan kitab taurat dan injil. Dalam mengabadikannya, mereka hanya berpedoman dengan bentuk tulisan, mereka tidak membacanya dengan penuh seksama kecuali hanya dengan sekilas pandang, tidak penuh dengan penghayatan, karena itu masuklah unsur-unsur perubahan dan pergantian pada kedua kitab tersebut. Berbeda halnya dengan Al-Quran ia telah dipelihara Allah SWT. Dengan berupa pertolongan Illahi dengan mudah menghafalnya. Dengan tidak diragukan lagi pertolongan Allah dalam penjagaan Al-Quran merupakan prioritas dan keistimewaan yang luar biasa kepada umat umat Muhammad, dimana Allah telah menjadikan isi-isinya dalam dada dan ia menurunkan suatu kitab yang tidak hancur di rendam air. Ada beberapa faktor yang menjamin kemurnian Al-Quran pada masa itu, diantaranya hafalan yang sangat kuat dari para sahabat, naskah Al-Quran yang ditulis untuk Nabi, naskah yang di tulis oleh para penulis wahyu untuk diri mereka sendiri dan tadarus Al-Quran yang dilakukan oleh Malaikat Jibril dan Nabi setiap tahun sekali

62

sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat Bukhari yang artinya sebagai berikut: sesungguhnya Jibril mentadaruskan Al-Quran kepadaku setiap tahun sekali. Jibril mentadaruskan kepadaku tahun ini dua kali. Dan aku berpendapat bahwa telah datang kepadaku.(HR. Bukhari).44 2) Masa Abu Bakar R.A Rasulullah SAW wafat, sedang Al-Quran seluruhnya telah ditulis pada pelepah-pelepah kurma batu-batu tipis dan tulang-tulang belikat. Disamping Al-Quran tersebut dihafal dada kaum muslimin sebelum Rasul wafat, beliau telah menempatkan surat-surat dan ayatayat Al-Quran seperti yang telah dihafal oleh kaum muslimin. Dan hafalan kaum muslimin itu sesuai pula dengan hafalan Rasul. Pastilah apa yang tertulis itu menguatkan hafalan-hafalan agar dibaca sehingga dapat diambil faidahnya olah orang-orang zaman berikutnya. Karena mencukupkan apa yang tertulis itu dapat hancur, demikian pula bila hanya mencukupkan hafalan, sedangkan orangorang berikutnya yang menukilkan dari mereka tidak mempunyai keistimewaan seperti orang-orang yang hafal pada saat itu. Ketika Abu Bakar menjabat sebagai kholifah, diantara kaum muslimin yang lemah imannya banyak yang murtad dan lemah imannya, banyak yang murtad dan banyak yang menolak untuk

Syadali Ahmad, Ulumul Quran Untuk Fakultas Tarbiyah Untuk Komponen MKDK (Bandung: Pustaka Setia, 2000), Hlm. 68-71

44

63

mengeluarkan zakat karena pengaruh Musailamah Al-Kadzab yang mengaku dirinya sebagai Nabi, dimana ia berhasil mempengaruhi Bani Hanifa dari Bani Yamamah.. Setelah Abu Bakar mengetahui tindakan Musailamah beliau menyiapkan pasukan yang dipimpin oleh Kholid bin Walid, yang terkenal dengan nama perang Yamamah. Dalam peperangan itu banyak sekali hafizh yang gugur yaitu sekitar 70 penghafal Al-Quran. Setelah umat islam berjuang dengan gigih maka pertolongan Allah datang, barulah tentara Musailamah hancur dan lari, umat Islam mengejar mereka dan mengurung musuh itu dalam satu kebun kurma. Al-Barra Bin Malik menaiki tembok kebun dan menjatuhkan dirinya kedalam benteng lalu membuka pintu setelah umat islam dapat masuk dan Musailamah dan kawan-kawannya dapat dibunuh. Melihat banyak para penghafal Al-Quran yang gugur maka peperangan, maka Umar Bin Khattab kuartir akan lenyapnya al-Quran dari muka bumi bersama dengan gugurnya para penghafal itu. Setelah Umar menjelaskan latarbelakangnya dan Abu Bakar merenung dan berfikir, maka dikirimlah surat kepada Zaid Bin Tsabit, seorang penulis wahyu. Kemudian Zaid menghadap Abu Bakar dan Umar untuk mendengarkan apa yang dikehendaki oleh kedua orang itu, dan setelah memperoleh penjelasan maka Zaid pun menyetujuinya. Ketika Abu Bakar mendengarkan jawaban yang memuaskan dari Zaid Ia

64

berkata: kamu adalah pemuda yang bijaksana, saya tidak meragukan kamu, kamu adalah penulis wahyu Rosulullah maka telitilah AlQuran itu dan kumpulkanlkah. Kemudian dibuatlah sebuah panitia yang diketahui oleh Zaid Bin Tsabit, sedang anggotanya adalah Ubaid bin Kaab, Ali Bin Abi Thalib dan Usman Bin Affan. Imam bukhori meriwayatkan peristiwa yang bersejarah ini sebagaiberikut: Artinya: Bahwasanya Zaid bin Tsabit berkata: Abu Bakar mengirimkan utusan kepadaku setelah penumpasan penduduk Yamamah (setelah orang-orang yang shahid pada perang yamamah). Tiba-tiba Umar ada di majelis Abu Bakar. Abu Bakar berkata: Umar berkata kepadaku menerangkan bahwa perang yamamah telah memusnahkan para Qurra dan aia takut akan terus menerusnya perang yang menyebabkan musnahnya para Qurra yang kan melenyapkan Al-Quran. Umar meminta supaya aku mengumpulkan Al-Quran, Aku menjawab: bagaimana kita melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rosul. Umar berkata: ini demi Allah suatu perbuatan yang baik. Umar terus menerus mendesak agar menulis AlQuran, sehingga Allah membuka pintu untuk mengerjakan dan akupun dalam hal ini berpendapat sebagaimana pendapat Umar. Kata Zaid seterusnya, Abu bakar berkata kepadaku: engkau wahai Zaid seorang pemuda yang berakal kami percaya kepada keagamaan. Engjkauseorang penulis wahyu dimasa Rosulullah, maka periksalah Al-Quran atau carilah suhuf-suhuf Al-Quran (kepingan-kepingan yang di dalamnya) danperiksalah satu persatu kemudian kumpulkanlah. Zaid menjawab; demi Allah sekiranya mereka membebankan Aku untuk membawa gunung, niscaya yang demikian iut tidaklah lebih berat dari pada mengumpulkan Al-Quran. selanjutnya saya berkata: mengapa anda kerjakan sesuatu yang tidak dikerjaskan oleh nabi? Abu Bakar menjawab: Demi Allah ini sesuatu perbuatan yang baik. Abu Bakar berulang kali mendesak aku untuk mengerjakan sehingga hatiku dilapangkan oleh Allah sebagaimana dilapangkannya hati Abu Bakar dan Umar. Kemudian aku meneliti Al-Quran dan mengumpulkan kepingan-kepingan yang padanya ditulis Al-Quran serta mendatangi orang-orang yang hafal Al-Quran. stelah aku lakukan usaha itu dan aku kumpulkan segala kepingan tersebut, nyatalah ada ayat yang aku dengar dari Rasul tetapi tidak tertulis dalam kepingan maka aku dapati ayat itu pada

65

seorang Anshor yaitu abu Khuzaimah Al-Anshori ayat itu adalah ayat 128-129 surat At-Taubah.45 Sesudah Rasulullah wafat, Abu Bakar diangkat menjadi Khalifah. Umar Bin Khattab mengajukan pendapatnya kepada Khalifah Abu Bakar, untuk mengumpulkan Al-Quran dengan alasan banyaknya penghafal Al-Quran yang telah wafat karena terjadinya perang Yamamah yang tidak sedikit yang menjadi korban dari

pasukan Islam, termasuk 70 orang sahabat yang hafal Al-Quran. Pendapat Umar tidak langsung diterima, tetapi melalui perdebatan, akhirnya pendapatnya itu diterima baik oleh Khalifah Abu Bakar.46 Dalam usaha pengumpulan ayat-ayat Al-Quran itu, Zaid Bin Tsabit ditunjuk untuk melaksanakannya. Dengan tekun beliau melaksanakan tugas yang mulia itu. Dengan demikian Al-Quran seluruhnya telah ditulis dalam lembaran-lembaran dan diikatnya dengan benang, tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah, kemudian diserahkan kepada Abu Bakar. Mushaf ini tetap ditangan Abu Bakar sampai ia meninggal. Kemudian dipindahkan ke rumah Umar Bin Khattab dan tetap ada di sana selama pemerintahannya. Sesudah beliau wafat, mushaf itu dipindahkan ke rumah Hafsah putri Umar, istri Rasulullah

45 46

Ibid, Hal. 71-77 Syahminan Zaini & Ananto Kusuma S., Op.Cit, hlm. 20

66

sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al-Quran di masa Khalifah Usman.47

3) Masa Usman Bin Affan R.A Pada masa khalifah Usman bin Affan dalam penjagaan kemurnian dan keaslian Al-quran, terlebih dalam menghafalnya hal yang terjadi adalah pada waktu itu wilayah kaum muslimin menjadi luas sampai ke Mesir, Irak, Persia, dan lain-lain, yang tentu saja daerah ini memiliki bahasa dan dialek yang berbeda-beda karena banyaknya mushaf yang beredar dan mereka memandang bahwa riwayat Qiraat atau bacaan mereka lebih baik dari yang lainnya. Diantara mereka terdapat perbedaan tentang bunyi huruf dan bentuk bacaan. Masalah ini membawa mereka kepada pintu pertikaian dan perpecahan bersamanya. Hampir satu dengan yang lainnya saling mengkufurkan karena berbeda pendapat dalam bacaan. Diriwayatkan dari Abi Qilabah bahwasanya ia berkata: pada masa pemerintahan Usman, guru atau pengajar menyampaikan kepada anak didiknya, guru yang lain juga menyampaikan kepada anak didiknya. Dua kelompok murid tersebut bertemu dan bacaannya berbeda. Akhirnya masalah tersebut sampai kepada guru pengajarnya. Sehingga satu sama lain saling mengkufurkan. Berita tersebut sampai
47

Ibid.,

67

kepada Usman. Usman berpidato seraya mengatakan: kalian yang ada dihadapanku berbeda pendapat, apalagi orang-orang yang bertempat tinggal jauh dariku pasti lebih lagi perbedaannya. Sebagaimana diriwayatkan Abu Bakar menceritakan

kepadanya bahwa Huzaefah datang kepada Usman setelah peperangan dengan Armenia dan Azerbaizan bersama-sama dengan penduduk Kuffah (Irak) pada waktu itu ia melihat betapa hebatnya perselisihan diantara penduduk itu dalam soal bacaan Al-Quran. Oleh karena itu Huzaefah minta kepada Khalifah supaya secepatnya memperbaiki keadaan tersebut dan segera mengatasi perselisihan bacaan Al-quran agar umat Islam jangan berselisih tentang kitab mereka seperti apa yang terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani.48 Kaum Muslimin yang telah begitu menyebar ke mana-mana dan Al-Quranul Karim tetap jadi iman mereka, dimana mereka benyak yang menghafal Al-Quran. Naskah-naskah Al-Quran yang ada pada mereka tidak sama susunan surah-surahnya, di samping itu di antara mereka ada pertikaian tentang bacaan Al-Quran itu. Maka Khalifah Usman r.a mengambil inisiatif untuk membukukan

lembaran-lembaran yang ditulis di masa Khalifah Abu Bakar.49

Syadali Ahmad, Ulumul Quran Untuk Fakultas Tarbiyah Untuk Komponen MKDK (Bandung: Pustaka Setia, 2000), Hlm. 80-81 49 Bustami A. Gani dan Chatibul Umam, Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Al-Quran (Jakarta: Litera AntarNusa, 1994), Hlm. 141

48

68

Al-Quran yang telah dibukukan itu ada lima buah diantaranya dikirim ke Mekkah, Syiria, Basrah dan Kufah dan satu buah lagi ditinggalkan di Madinah untuk Usman sendiri, dan itulah yang dinamai dengan Mushaf Al-Imam.50 Sesudah itu itu Usman memerintahkan mengumpulkan

lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Quran yang ditulis sebelum itu dan membakarnya. Maka yang ditulis di zaman Usman itulah yang disalin kaum muslimin sampai sekarang. C. Implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui Metode Jibril Bagi santri Tanfidzhul Quran Dalam Pembelajaran Al-Quran yang menjadi tujuaan utamanya adalah bagaimana santri atau murid bisa membaca dan menulis Al-Quran lebih-lebih mengerti nilai-nilai ajaran Al-Quran yang diajarkan dapat tertanam dalam diri siswa sehingga terjadi perubahan yang dilandasi dengan nilai-nilai ajaran AlQuran dalam kehidupan pribadinya maupun sosialnya. Proses pembelajaran Al-Quran di sekolah atau Pondok Pesantren masih sebatas sebagai proses penyampaian pengetahuan agama Islam, sesuai dengan perannya yang sangat penting itu guru atau ustad mempunyai tugas-tugas pokok dalam mengolah, merencanakan, mengevaluasi dan membimbing kegiatan belajar-mengajar dengan sebaik-baiknya disamping memahami siswa dengan

50

Ibid.,

69

segala karateristik, mengetahui tujuan apa yang harus dicpai setelah adanya proses pembelajaran sehingga terjadi proses pengalaman yang baik.

70

1. Asas-asas Penerapan Metode Jibil Untuk mencapai tujuan pembelajaran, syarat utma yang harus dipenuhi oleh para pengelola lembaga pendidikan Al-Quran, baiak formal, non formal maupun informal dalam menerapkan metode jibril adalah memiliki perencanaan pendidikan yang matang dan strategis, dan memilik kurikulum pembelajaran yang baik mencakup. a. Adanya tujuan pembelajaran yang jelas. b. Adanya metode dan teknik-teknik pengjaran yang baik dan diterapkan secara berkesinambungan dengan berbagai inovasi dan evaluasi. c. Adanya materi dan bahan ajara yanag representatif dan sesuai tujuan pembelajaran. d. tesedianaya alat bantu atau media pembeljaran yang memadai. e. Adanya guru yang profesional dibidang Al-Quran.

2. Jenjang Pendidikan Metode Jibril Pada dasarnya, klasifikasi jenjang pendidikan yang ditentukan sebuah lembaga pendidikan bersifat kondisional dan institusional (bergantung pada keadaan dan kebijakan lembaga). Namun secara umum, jenjang pendidikan yang digunakan dalam penerapan metode jibril terbagi menjadi tiga macam, yaitu : a. Tingkat Pemula ( Mubtadin ) Santri yang belum mengenal dan mempelajari baca tulis arab dan tidak selalu terkait dengan usia tertentu. Namun pada umumnya santri

71

ditingkat pemula adalah anak-anak mulai usia 5 hingga 12 tahun , adapun materi ajar ditingkat pemula adalah kitab Bil Qalam. Di pesantren ini diguankan bagi santri baru yang tidak mengenal huruf sama sekali. b. Tingkat Menengah Santri yang telah mengenal huruf arab dan bisa membacanya dengan lancar tetapi tidak bisa melafalkan dengan baik. Pada tingkat menengah, santri terus dilatih artikulasi ( pengucapan ) yang benar, terutama makhraj huruf dan sifat-sifatnya. Santri disini dikenalkan beberapa hukum dasarilmu tajwid, dan juga lagu-lagu dasar yang memudahkan artikulasi. Tingkat menengah ( Mutawassithin ) disebut juga dengan Tahap Tahqiq yakni membaca pelan-pelan dengan bersungguh-sungguh memperhatikan tiap-tiap hurufnya secara jelas agar sesuai dengan makhraj dan sifatnya. c. Tingkat Lanjutan ( Mutaqaddimin ) Santri yang telah lulus ditingkat menengah, ia telah fasih membaca Al-Quran dan bacaannya tidak miring. Ia telah memahmi dasar-dasar ilmu tajwid secara teoritis dan mampu mempraktekannya saat membaca Al-Quran. Tingkat lanjutan bisa langsung diterapkan pada santri yang telah lancar membaca Al-Quran, atau santri yang pernah mengkhatamkan Al-Quran. Santri seperti ini biasanya hanya bertujuan untuk

memperbaaki bacaannya supaya bertajwid yang benar da supaya memiliki

72

kesempatan untuk mempraktekkan teoro-teori komprensip dibawah bmbingan yang mujawwid.

ilmu tajwid secra

Tingkat Lanjutan ( Mutaqaddimin ) disebut juga dengan Tahap Tartil, yaitu : membaca ayat-ayat Al-Quran dengan artilulasi yang benar dansesuai dengn mkhraj dan sifat sifat huruf, memperhatiakn waqaf dan ibtida, mampu nembaca dengan irama lambat-sedang-cepat ( Tahqiq, Tadwir,Hadr ) bisa melagukan bacaan dengan indah dan berupaya memahami makna bacaan serta merenungkan kandungan. Dari ketiga jenjang atau tingkatan diatas di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng Jatirejo Mojokerto dinamakan Bin-Nadhor yang mana merupakan prasyarat bagi santri sebelum menghafalkan Al-Quran. Adapun bagi santri yang lulus Bin-Nadhor akan diwisuda yang tentunya ada syahadah ( sertifikat ), adapun tahapan-tahapan dalam menghafal Al-Quran ada 2 tahap yakni : a. Tahap Persiapan Di mana pada tahap ini, seorang santri sebelum menyetorkan hafalan pada ustadz, mereka melakukan persiapan. Persiapan tersebut dalam upaya membuat hafalan yang representatif untuk disetorkan pada ustadz. Dari tahap persiapan ini, masing-masing santri berbeda cara dalam rangka pemantapan hafalan sebelum disetorkan kepada ustadz.

73

b. Tahap Pelaksanaan Dari pengamatan peneliti, tahap ini adalah tahap

berlangsungnya pelaksanaan metode Jibril, di mana para santri menghafal lima ayat-lima ayat setelah dirasa yakin maka ia menunggu secara bergantian menyetorkan hafalan langsung kepada ustadz baik tambahan atau hafalan deresan. Sebagaimana hasil pengamatan peneliti, untuk setoran deresan, diwajibkan bagi semua santri setor seperempat juz setiap pertemuan. Setoran murojaah dilaksanakan dua kali sehari. Adapun waktu pelaksanaan setoran murojaah ini adalah bada isya dan bada shubuh.

74

BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN, 1. Sejarah Singkat Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah MojogenengJatirejo-Mojokerto. Tahun 1932 sebenarnya di Mojogeneng sudah berdiri sebuah PondokPesantren. Tempatnya di Musholla Al- Wusto atau Langgar tengah dengan pengasuh antara lain : a. Bapak Imam Ahmad b. Bapak Kyai Suhaimi c. Bapak Kyai Mashuri Santrinya hanya beberapa anak saja dan hanya berjalan satu tahun (1932-1933) kemudian pada tahun 1936 berdiri lagi Pondok Pesantren di Mojogeneng yang diasuh oleh Bapak Abdul Latif. tempatnya juga dilanggar tengah dan Muridnya kurang lebih lima anak tetapi hanya berjalan tiga tahun lalu mengalami cobaan yaitu Bapak Abdul Latif sakit dan wafat. Pada Tahun 1940 berdirilah PondokPesantren di Mojogeneng yang diasuh oleh KH. Matlab yang baru pulang dari pondok (belajar). Beliau menghidupkan kembali pondok yang telah bubar tersebut. Tempatnya masih di musholla tengah muridnya 4 orang.

75

Demi kelancaran pendidikan tersebut, maka KH Yahdi Matlab berusaha untuk memindahkan pondok tersebut dan alhamdulillah berhasil dengan diberi tanah oleh Bapak SyafiI dari Dinoyo dilokasi berdirinya Pondok Bidayatul Hidayah sekarang ini. Setelah memperoleh tanah Wakaf, pengajian ditingkatkan lagi dengan menambah ustdaz sebanyak lima orang itu, yaitu : a. Bapak Djaelani dari Pengaron b. Bapak Sonhaji dari Sambi Lawang c. Bapak Carik Pangi dari Dinoyo d. Bapak Sholeh (Carik) dari Mojogeneng e. Bapak Muhtadi dari Mojogeneng Berkat usaha keras beliau , mendapat hasil yang baik dan muridnya bertambah meningkat jumlahnya menjadi 180 siswa. Setelah berjalan 2 tahun (1940-1942) Madrasah mengalami cobaan, yaitu : a. Terjadi peperangan dengan jepang b. Pengasuh ada yang keluar dan ada yang sakit. c. Bapak KH. Yahdi Matlab turut kemedan peperangan menjadi tentara Hizbulllah. Dengan keadaan tersebut Madrasah terpaksa bubar pada tahun 1942 sampai 1944. Selanjutnya KH. Matlab mengambil kebijaksanaan untuk keluar dari ketentaraanya dan menghidupkan madrasah kembali serta mencari tenaga guru antara lain :

76

a. Bpak Imron Ngerambut b. Bapak Sodikin Dinoyo c. Bapak Suhadi Dinoyo Dengan jumlah santri kurang lebih 199 anak. Berhubung jaminan ustadz tidak ada maka banyak asatidz yang keluar, sehingga tinggal KH Yahdi Matlab dan Bapak Imron saja. Alhamdulilah tetap berjalan. Pada tahun 1953 KH. Yahdi Matlab berusaha mencari tambahan guru untuk kelancaran pendidikan dan belajar mengajar : a. Bapak Dimyati Mojogeneng b. Bapak Syuhada Mojogeneng Pada tahun 1953 berdirilah Madrasah Tsanawiyah dan dibantu tenaga pengajar lagi yaitu : a. Bapak Maksum b. Bapak Mustain c. Bapak Rusbakin d. Bapak Ishaq Karena melihat perkembangan pada tahun 1977 KH. Yahdi Matlab mendirikan Madrasah Aliyah Salaf dan juga membuka Madrasah Huffad . Pada tahaun 1979 berdirilah madrasah diniyah dan kemudian menambah

asrama sehingga puta-putri sehingga menjadi 8 kompleks. Dan yang diteliti oleh penulis adalah kompleks As-Syifa yang programnya untuk menghafal Al-Quran yang telah berdiri sekitar 29 tahun. Adapun Pengasuhnya Sekarang

77

adalah KH. Moh Fathoni Dimyati,Lc. Beliau lulusan dari Syiria (Negara Arab di Timur Tengah) sekitar 20 Tahun yang lalu dan pernah Juara II Internasional Hifdzul Quran di Mekkah sekitar Tahun 1980-an. Sekitar tahun 1983 beliau pulang ke Indonesia (Mojogeneng-JatirejoMojokerto) untuk membantu perjuangan Abah-nya di Pondok-Pesantren Bidayatul Hidayah. Sampai sekarang beliau diamanahi Abah-nya (KH. Dimyati Salim) untuk menjadi Pengasuh di komplek As-Syifa juga aktif menjadi Dewan Juri Nasional MTQ serta Pengurus Semaan At-Ittihad di Mojokerto. 2. Struktur Kepengurusan Sebagaimana lazimnya suatu lembaga pendidikan, maka Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Komplek As-Syifa Mojogeneng-JatirejoMojokerto. juga memiliki struktur pengurusan tersendiri dalam hal ini kekuasaan tertinggi sekaligus penanggung jawab adalah ditangan pengasuh. Dibawah ini akan digambarkan sekilas struktur kepengurusan di Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin Wetan Pasar Malang: Pengasuh I Pengasuh II Ketua Komplek Wakil Ketua Sekretaris Bendahara : KH.Moh. Fathoni Dimyati,Lc. : Agus. H. Nur Rohman (Gus Nur) : Ustdaz M. Ilham Nafi. : M. Syaikhuddin. : Yendra Afriza dan Miftahur Ramadlon. : Ighifirul Aziz.

78

Seksi-Seksi Seksi Keamanan : Ali Musyafak, Luqman Hakim, Muklas Anas, Kasyiful Ilmi, Arif Yulianto. Seksi Kebersihan : Nurul Muzakki, Ali Daif Ahmad, Ahmad Soleh. Seksi Perlengkapan : Imam Hanafi, Khirun Muhsinun.

Seksi Kegiatan & Pend. : Amirul Yatim, Andik Wahyudin, Rahmat. Seksi Humas Seksi Bahasa Arab 3. Tenaga Pengajar Ustadz adalah para hafizh dari Bidayatul Hidayah sendiri (keluarga dalem) yang mana beliau mengajar dari program pendukung. Sedang untuk tahfizhul Quran sebagai program inti di pegang langsung oleh pengasuh, sebagaimana gambaran data sebagai berikut: No. Nama Kitab 1. 2. 3. Nahwu dan Shorof Pengajian Bahasa Arab Pengajian Kitab Tauhid Ustadz KH.Moh Fathoni KH.Moh Fathoni Gus Nur Ust. Agus 4. 5. Pembinaan bacaan ayat Kitab Talim Mutaalim Nurrahman Gus Nur Sabtu Sabtu Hari Rabu Minggu Senin : Misbahul Munir, Nur Tohari. : Basori Alwi, M. Robbit F, Achmad Rohmad.

79

Murotal Al-Quran dan 6. Tajwid Tahfizhul Quran: Ustad Zainal Dan 7. o Murojaah Arifin o Tambahan Kecuali Jumat Setiap hari KH.Moh Fathoni Jumat

Adapun jadwal dari pembelajaran tahfizdhul Quran yang diasuh langsung oleh pengasuh lebih rinci lagi, digambarkan sebagaimana berikut: No. Kegiatan 1. 2. Setoran Murojaah/ Deresan Setoran Tambahan/ Baru Waktu Bada Isya dan Bada Shubuh Bada Subuh dan Bada Isya

4. Keadaan Santri Adapun keadaan santri Pondok Pesantren Bidayatul Bidayah Komplek As-Syifa Mojogeneng-Jatirejo-Mojokerto dilihat dari asalnya yaitu santri yang berasal dari Mojokerto sendiri dan diluar Mojokerto. Menurut hasil interview dengan ketua pengurus, jumlah santri sampai sekarang tahun 2008 adalah 44 orang. Adapun santri yang diteliti berjumlah 17 orang sisanya yang berjumlah 27 orang sudah diwisuda dan kebanyakan dari mereka pulang.

80

5. Kondisi Fisik Pada saat penelitian dilaksanakan, menurut pengamatan penulis fasilitas (kondisi fisik) Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah komplek AsSyifa dikatakan sudah cukup memadai untuk ukuran pesantren. Berikut ini adalah beberapa kondisi fisik yang bisa diamati peneliti, yaitu: No. 1. 2. 3. 4. 5. 7. Jenis Sarana dan Prasarana Ruang setoran Ruang Murojaah Kamar Santri Kamar Mandi Ruang Masak/ Dapur Koperasi Jumlah 1 1 13 5 1 0

Perlengkapan/ inventaris PPBH Komplek As-Syifa: No. 1. 2. 3. 4. 5. Nama Komputer Papan Tulis Rak Buku Lemari Santri Meja Santri Jumlah 1 1 3 50 5

81

6. 7. 8.

Meja Ustadz Lemari Kesehatan Tempat Mading

1 1 2

B. BENTUK PENYAJIAN DATA 1. Bentuk Implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui Metode Jibril Berdasarkan pengamatan peneliti di sana selama kurang lebih 4 hari dan dalam hal ini peneliti secara langsung ikut terlibat di dalamnya dan menyatakan bahwa proses penerapan pembelajaran Al-Quran dengan

metode Jibril baik setoran deresan (murojaah) maupun setoran tambahan (hafalan baru) melalui beberapa tahapan, tahapan tersebut terdiri dari tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Dan yang menjadi prasyarat bagi yang ingin menghafal Al-Quran yakni harus lulus Bin-Nadhor dulu, adapun bentuk Implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui Metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Quran di Pondok-Pesantren Bidayatul Hidayah MojogenengJatirejo-Mojokerto meliputi : c. Implementasi yang pertama adalah tahap persiapan Di mana pada tahap ini, seorang santri sebelum menyetorkan hafalan pada ustadz, mereka melakukan persiapan. Persiapan tersebut dalam upaya membuat hafalan yang representatif untuk disetorkan pada ustadz.

82

Dari tahap persiapan ini, masing-masing santri berbeda cara dalam rangka pemantapan hafalan sebelum disetorkan kepada ustadz.

Sebagaimana hasil interview dengan beberapa santri mengenai hal tersebut, sebagaimana berikut: Dengan Imam Hanafi (Hafal 30 juz), tanggal 15 Agustus 2008, Pertama dilancarkan dulu,ayat demi ayat dihafalkan setelah dapat 5 ayat kami mengulangi lagi sampai benar-benar yakin bisa kedua disimakkan pada teman kemudian meminta saran apakah sudah pantas disetorkan pada ustadz. Kalau ternyata belum lancar, dilancarkan dulu lagi sambil menunggu antrian menyetorkan kepada ustadz. Dengan Ach. Syamsul Arifin (13 juz), Tanggal 14 Agustus 2008, Pertama dibaca satu halaman (rayi) dibaca 3X satu ayat diulang-ulang sampai lancar dan berurutan, setelah yakin hafal lima ayat kemudia diulangi lagi, ketiga dihafal diluar kepala serta kalau sudah mantap minta disemakkan teman. Kalau ternyata belum lancar, dilancarkan dulu lagi sambil menunggu antrian menyetorkan kepada ustadz. Dengan Ali Wafa ( 2 juz), Tanggal 14 Agustus 2008, Cara menghafal saya adalah dengan membaca berulang-ulang, kalimat per-kalimat dalam satu ayat dikarenakan saya masih baru menghafal, biasanya setelah hafal 1-5 ayat kami mengulangi lagi sambil menunggu antrian setoran ke ustad. Dengan Moch. Burhanudin (22 juz), 15 Agustus 2008 Pertama 1 halaman dibaca 10X kemudian satu ayat dihafal sampai bisa setelah yakin hafal 1 ayat kemudian kami melanjutkan hafalan lagi dengan meneruskan ayat berikutnya kira-kira dapat setengah halaman (biasanya dapat 5 ayat)

setelah dirasa hafal setengah halaman kami melanjutkan ayat berikutnya dan menyiapkan setoran hafalan keustad.

83

Dengan Achmad Muhibbin (1 Juz), 15 Agustus 2008 Melancarkan sesuai dengan tajwidnya sampai 40X sebab masih baru menghafal ayat per-ayat secara bersambung-sambung, setelah dapat hafalan kurang lebih 5 ayat kami mengulangi lagi cara ini yang efektif menurut kami karena gampang mengingatnya kami mengulangi lagi sambil menunggu antrian setoran ke ustad. Dari beberapa pernyataan santri diatas dapat diambil kesimpulan bahwa walaupun cara masing-masing santri berbeda tapi hakekatnya sama, yakni berupaya dalam memantapkan hafalan yang akan disetorkan pada ustadz dengan mengulang hafalan berkali-kali secara pribadi dan bersama teman. d. Implementasi yang kedua adalah tahap pelaksanaan Dari pengamatan peneliti, tahap ini adalah tahap berlangsungnya pelaksanaan metode Jibril, di mana para santri menghafal lima ayat-lima ayat setelah dirasa yakin maka ia menunggu secara bergantian menyetorkan `hafalan langsung kepada ustadz baik tambahan atau hafalan deresan. Sebagaimana hasil pengamatan peneliti, untuk setoran deresan, diwajibkan bagi semua santri setor seperempat juz setiap pertemuan. Setoran murojaah dilaksanakan dua kali sehari. Adapun waktu pelaksanaan setoran murojaah ini adalah bada isya dan bada shubuh.

84

Dari hasil interview dengan beberapa santri, rata-rata mereka setor murojaah dua kali sehari. Kadang juga satu kali sehari. Hasil interview dengan beberapa santri mahasiswa, sebagaimana berikut: Dengan Ali Wafa ( 2 juz), Tanggal 14 Agustus 2008, Saya setoran deresan satu kali (1X) dihadapan ustad habis subuh karena saya santri yang baru menghafal. Dengan Moch. Burhanudin (22 juz), 15 Agustus 2008

Saya setoran deresan dua kali (2X) kadang juga satu kali (1X) tapi yang sering deres sendiri itu kalau istiqomah akan baik dalam penghafalan. Karena kendala masih melancarkan ketika malamnya dan setoran ketika shubuh. Dengan Ach. Syamsul Arifin (13 juz), Tanggal 14 Agustus 2008, Saya setoran deresan dua kali (2X), kadang satu kali (1X). Banyak ayat-ayat mutasyabihat (yang sama) sehingga perlu waktu untuk meneliti dan melancarkannya sampai benar-benar lancar. Dengan Achmad Muhibbin (1 Juz), 15 Agustus 2008

Saya setoran deresan tidak pasti kadang dua kali (2X) kadang juga satu kali (1X) tapi yang sering (1X) kendala dalam menggabungkan dari setoran-setoran tambahan sangat sulit sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk melancarkannya. Dengan M. Syamsul Arifin (30 juz), pada tanggal 14 Agustus 2008, Kadang-kadang saya setoran deresan dua kali (2X) kadang juga satu kali (1X), tergantung kondisi badan yang gak tentu, kadang semangat dan kadang juga loyo.

85

Sedang setoran tambahan, diwajibkan bagi santri yang masih menghafal (<30 juz) sebagai penambahan kuantitas hafalan yang dipunyai, sampai pada akhirnya seorang santri dapat menyelesaikan hafalan 30 juz. Setoran tambahan dilaksanakan satu kali sehari. Adapun waktu pelaksanaan setoran tambahan ini adalah Bada Shubuh. Dari hasil interview dengan para santri, masing-masing santri berbeda dari banyak dan berapa kali setor tambahan ditiap harinya. Sebagaimana pernyataan mereka, sebagaimana berikut: Dengan Ali Wafa ( 2 juz), Tanggal 14 Agustus 2008, saya juga setor tambahan, setor setiap hari. Banyaknya saya setor 1 halaman kadang juga lebih tapi yang sering 1 halaman. Dengan Ach. Syamsul Arifin (13 juz), Tanggal 14 Agustus 2008 setoran tambahan setiap hari. Banyaknya setoran tambahan dua kali dalam dua setoran tambahan tersebut saya biasanya bisa nyetor 1 lembar.biasanya pagi habis shubuh satu halaman dan habis isya 1 halaman sehingga total yang kami setor 1 lembar Dengan Moch. Burhanudin (22 juz), 15 Agustus 2008 saya setor setiap hari, walau kadang saya dihari ini tidak bisa setor, maka dihari esok saya mencoba menggantinya (double), misalnya satu halaman setiap hari, berarti 2 halaman (1 lembar). Banyaknya saya setor tidak tentu kadang 1 halaman kadang juga lebih. Dengan Achmad Muhibbin (1 Juz), 15 Agustus 2008

tidak tentu tergantung situasi dan kondisi. Kalau pas ayatnya gampang dihafal saya setor tambahan satu kali sehari, minimal satu halaman.

86

Dengan Ali Daif (15 Juz) 15 Agustus 2008 Saya setor setiap sehari. Banyak setoran tambahan, kadang menyetorkan satu halaman kadang juga 2 halaman atau satu lampir, hal ini disesuaikan dengan kondisi saya, karena rawannya penyakit malas. Dari beberapa pernyataan, bahwa banyaknya setoran setiap harinya, rata-rata mereka setor satu halaman, kadang juga setor 2 halaman setiap harinya. Hal tersebut disesuaikan dengan waktu dan kondisi santri. 2. Faktor Pendukung Dan Penghambat Implementasi Pembelajaran AlQuran Melalui Metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Quran Ppbh

Mojogeneng-Jatirejo-Mojokerto. Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis dapat mengindentifikasi berbagai hambatan pelaksana antara lain : guru kurang memahami metodogi pengajaran Al-Quran yang berkembang terutama metode Jibril sehingga

implementsi metode tersebut tidak maksimal, pengalaman mengajar guru sangat minim, sehingga ia merasa kesulitan mencari slusi pemecahan atas problematika yang dihadapi, guru kurang konsiststen dan jumlah guru yang sangat terbatas . Adapun Faktor-faktor pendukung Implementasi Pembelajaran AlQuran Melalui Metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Quran PPBH Mojogeneng-Jatirejo-Mojokerto antara lain : Adanya sarana dan prasarana yang cukup memadai, metode ini lebih memprioritaskan penerapan ilmu-ilmu tajwid, sehingga santri lebih mudah, adanya kebijakan dari Pengasuh untuk

87

mengembangan kreatifitas guru dan siswa.dengan mendatangkan guru dari luar semisal guru Qiraat. 3. Upaya-upaya untuk mengatasi hambatan Implementasi Pembelajaran Al-Quran Melalui Metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Quran PPBH

Mojogeneng-Jatirejo-Mojokerto. Adapun upaya yang dilakukan oleh PPBH Mojogeneng-JatirejoMojokerto dalam mengatasi hambatan-hambatan tesebut antara lain

:menyampaikan visi dan misi tentang konsep metode Jibril terhadap guruguru atau lembaga yang peduli dengan metode tersebut, memberikan pelatihan atau Diklat dan memberikan pemahaman kepada wali santri dengan cara bermusyawarah.

88

BAB IV ANALISIS Dari Data observasi, interview dan dokumentasi yang diperoleh penulis,

secara keseluruhan pelaksanaan metode Jibril bagi santri Tanfidzhul Quran di PPBH Mojogeneng-Jatirejo-Mojokerto belum dapat dilaksanakan secara mutlak apalagi mengenai sistemnya. Implementasi Pembelajaran Quran melalui Metode Jibril bagi santri

Tanfidzhul Quran di PPBH Mojogeneng-Jatirejo-Mojokerto sudah terlaksana dengan baik meskipun belum sempurna, metode dan strategi Pembelajaran Al-Quran yang bervariasi itu sudah terbiasa diterapkan di Pondok-Pesantren Bidayatul Hidayah

Mojogeneng Jatirejo Mojokerto. Dengan adanya metode Jibril tersebut PondokPesantren tinggal mengembangkan apalagi didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai. Dukungan dari lembaga lain dan guru atau ustad diberi kebebasan untuk berkreatifitas dan berinovasi dalam pembelajaran sehingga guru dituntut untuk menjadikan lingkungan belajar dan sumber belajar yang menarik dan menyenangkan siswa. 1. Bentuk Implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui Metode Jibril Berdasarkan pengamatan peneliti di sana dan dalam hal ini peneliti secara langsung ikut terlibat di dalamnya dan menyatakan bahwa proses penerapan pembelajaran Al-Quran dengan metode Jibril baik setoran deresan (murojaah) maupun setoran tambahan (hafalan baru) melalui beberapa tahapan, tahapan tersebut terdiri dari tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Dan yang menjadi

89

prasyarat bagi yang ingin menghafal Al-Quran yakni harus lulus Bin-Nadhor dulu, adapun bentuk Implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui Metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul Quran di Pondok-Pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng-Jatirejo-Mojokerto meliputi : e. Implementasi yang pertama adalah tahap persiapan Di mana pada tahap ini, seorang santri sebelum menyetorkan hafalan pada ustadz, mereka melakukan persiapan. Persiapan tersebut dalam upaya membuat hafalan yang representatif untuk disetorkan pada ustadz. Dari tahap persiapan ini, masing-masing santri berbeda cara dalam rangka pemantapan hafalan sebelum disetorkan kepada ustadz. f. Implementasi yang kedua adalah tahap pelaksanaan Dari pengamatan peneliti, tahap ini adalah tahap berlangsungnya pelaksanaan metode Jibril, di mana para santri menghafal lima ayat-lima ayat setelah dirasa yakin maka ia menunggu secara bergantian menyetorkan `hafalan langsung kepada ustadz baik tambahan atau hafalan deresan. Sebagaimana hasil pengamatan peneliti, untuk setoran deresan, diwajibkan bagi semua santri setor seperempat juz setiap pertemuan. Setoran murojaah dilaksanakan dua kali sehari. Adapun waktu pelaksanaan setoran murojaah ini adalah bada isya dan bada shubuh.

90

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Setelah menyajikan data dan menganalisis data secara terpadu, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa : 1. Tahap Pelaksanaan yaitu tahap berlangsungnya pelaksanaan metode Jibril, di mana para santri bergantian menyetorkan hafalan tambahan atau hafalan deresan langsung kepada ustadz. 2. Implementasi Pembelajaran Quran melalui Metode Jibril bagi santri Tanfidzhul Quran di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah MojogenengJatirejo-Mojokerto dapat di simpulkan: Bentuk Implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui Metode Jibril Berdasarkan pengamatan peneliti di sana dan dalam hal ini peneliti secara langsung ikut terlibat di dalamnya dan menyatakan bahwa proses penerapan pembelajaran Al-Quran dengan metode Jibril baik setoran deresan (murojaah) maupun setoran tambahan (hafalan baru) melalui beberapa tahapan, tahapan tersebut terdiri dari tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Dan yang menjadi prasyarat bagi yang ingin menghafal AlQuran yakni harus lulus Bin-Nadhor dulu, adapun bentuk Implementasi Pembelajaran Al-Quran melalui Metode Jibril Bagi Santri Tanfidzhul

91

Quran di Pondok-Pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng-JatirejoMojokerto meliputi : a. Implementasi yang pertama adalah tahap persiapan Di mana pada tahap ini, seorang santri sebelum menyetorkan hafalan pada ustadz, mereka melakukan persiapan. Persiapan tersebut dalam upaya membuat hafalan yang representatif untuk disetorkan pada ustadz. Dari tahap persiapan ini, masing-masing santri berbeda cara dalam rangka pemantapan hafalan sebelum disetorkan kepada ustadz. b. Implementasi yang kedua adalah tahap pelaksanaan Dari pengamatan peneliti, tahap ini adalah tahap berlangsungnya pelaksanaan metode Jibril, di mana para santri menghafal lima ayat-lima ayat setelah dirasa yakin maka ia menunggu secara bergantian menyetorkan `hafalan langsung kepada ustadz baik tambahan atau hafalan deresan. Sebagaimana hasil pengamatan peneliti, untuk setoran deresan, diwajibkan bagi semua santri setor seperempat juz setiap pertemuan. Setoran murojaah dilaksanakan dua kali sehari. Adapun waktu pelaksanaan setoran murojaah ini adalah bada isya dan bada shubuh. A. SARAN 1. Bagi Pesantren

92

Untuk selalu mempertahankan dan mengoptimalkan metode Jibril bagi pembelajaran hifzhul Quran sebagaimana metode Jibril yang dilakukan

Rasulullah mengajarkan Al-Quran kepada para sahabatnya. 2. Bagi Santri Dengan adanya metode Jibril, setiap santri diharapkan benar-benar melaksanakan hafalan Al-Quran dengan baik dan sungguh-sungguh serta meningkatkan kedisiplinan dalam setoran. Karena dengan adanya rasa tanggung jawab dan disiplin dari masing-masing santri itulah, dapat mengoptimalkan dari pelaksanaan hifzhul Al-Qur'an. Dengan demikian akan tercapai apa yang dimaksud. 3. Bagi Khazanah Penelitian Agar Implementasi Pembelajaran Quran melalui Metode Jibril bagi santri

Tanfidzhul Quran tersebut, dijadikan sebuah wacana terhadap khazanah keilmuan yang saat ini maupun akan datang dan dapat terelisasi secara langsung dalam lingkungan pesantren maupun lingkungan lainnya. Serta perlu adanya pengembangan penelitian lebih lanjut tentang Implementasi Pembelajaran Quran melalui Metode Jibril bagi santri Tanfidzhul Quran, sehingga nantinya membawa kesempurnaan dari bahasan tersebut.

93

DAFTAR PUSTAKA

Moleong, lexi j, 2005. Metodologi penelitian kualitatif. Pt. Remaja rosda karya: bandung. Ari kunto, suharsini, 2002. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. rieneka cipta: jakarta. Gitosudarmo, indriyo, 2003. Pengantar bisnis edisi 2. Bpfe. Yogyakarta. A. Halim, dkk. Manajemen pesantren. 2005. Lkis. Pelangi aksara: yogyakarta. Suprayogo, Imam 2004. Pendidikan Berparadigma Al-Quran..Aditya Media bekerjasama dengan UIN Malang Press. Rijal Hamid, Syamsul, 2006. Pahala dan Keutamaan Membaca Al-Quran.. Samudra Hikmah: Bogor Ar-rasyid, haya, 2004. Menggapai kemulyaan menjadi ahluquran. Al-qowam: solo. Hasibuan, Malayu S.P., 2001. Manajemen; Dasar, Pengertian dan Masalah. Bumi Aksara: Jakarta. Yasmadi, 2002. Menggapai kemulyaan menjadi ahluquran. Ciputat press: jakarta. Panduan ilmu tajwid versi madrasatul quran tebuireng. 2004. Unit tahfidz mq tebu ireng: jombang Shalih Abdullah, Abdur Rahman, 1991. Landasan dan tujuan Pendidikan Menurut Al-Quran Serta Implementasinya. Bandung. CV. Diponegoro. Pt

94

Taufiqurahman,2005. Metode jibril, malang ikapiq Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta. Ciputat Press. Nazri adlany dkk, 1997, al-quran terjemah indonesia jakarta: sari agung. Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Quran, 1971, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta: Kompleck Percetakan Al-Quran Al-Karim Kepunyaan Raja Fahd. Raghib as-sirjani & abdurrahman a. Khaliq, 2007,cara cerdas hafal al-quran. Solo: aqwam Dimyati, M. Fathoni, Memilih Metode Menghafal Al-Quran Yang Baik dan Upaya Mencetak Huffazhul Quran Yang Sempurna, Ringkasan untuk santri PP Bidayatul Bidayah, Mojokerto. Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, 1994, Kamus Ilmiah Populer Surabaya: Arkola. Aan Komariah dan Cepi Triatna, 2005, Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif, Jakarta: Bumi Aksara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, 1998, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka. Saliman dan Sudarsono, 1994, Kamus Pendidikan, Pengajaran dan Umum, Bandung: Angkasa. Ulum, m. Samsul, 2005, efektifitas monitoring perkuliahan pada fakultas tarbiyah uin malang, malang: depag.

95

Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, 1996, Kamus Kontemporer Al-Asri, Yogyakarta: Multi Karya Grafika. Nawabudin, abdurrab, 1991, teknik menghafal al-quran, bandung: cv. Sinar baru. Zen, muhaimin, 1996, bimbingan praktis menghafal al-quran, jakarta: pustaka alhusna baru. Syahminan zaini & ananto kusuma s., 1986, bukti-bukti kebenaran al-quran sebagai wahyu allah, jakarta: kalam mulia. Bustami A. Gani dan Chatibul Umam, 1994, Beberapa Aspek Ilmiah Tentang AlQuran, Jakarta: Litera antarnusa. W. Al-hafizh, ahsin, 2005, bimbingan praktis menghafal al-quran, jakarta: bumi aksara. Djamarah, saipul bahri, 2002, strategi belajar mengajar, jakarta: pt.rineka cipta. M. Nazir, 1988, metode penelitian, jakarta: ghalia indonesia. Furqon, arief, 1992, pengantar metode penelitian kualitatif , surabaya: usaha nasional. Margono, 2000, metodologi penelitian pendidikan, jakarta: rineka cipta. Nasution s, 1982, metode research penelitian ilmiah, bandung: jemmars. Sutrisno, hadi, 1993, metode research, yogyakarta: andi offset. Mardalis, 1993, metode penelitian suatu pendekatan proposal , jakarta: bumi aksara. Djumhur, 1975, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Bandung: CV. Ilmu.

96