Anda di halaman 1dari 32

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bulk Density merupakan berat suatu massa tanah persatuan volume tertentu.

Biasanya dinyatakan dalam gram/ cm3 volume tanah termasuk volume butiran pdat dan ruang pori. Berat isi berguna untuk menghitung berat tanah dilapangan dengan ukuran dan kedalaman tanah tertentu. Misalnya kita mengukur berat satu hektar tanah dalam lapisan oleh 15-20 cm dengan mengetahui berat tanah seluas 1 hektar. Berat isi menggambarkan keda;lam sifat fisik tanah seperti tekstur, strutur, dan porositas dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Dengan mengetahui BD suatu kita dapat menentukancocok tidaknya lahan tersebut ditanami tanaman . jika suatu lahan hasil pertanian. Demikian pula jika BD suatu tanah rendah juga akan mempengaruhi lahan tersebut. Tanah memilii sejumlah ruang pori yang sangat penting karena diisi dengan air dan udara yang akan bergerak mealui pori-pori itu. Jadi penyediaan air dan udara untuk pertumbuhan tanaman dan jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan earat dengan jumlah dan ruang-ruang pori tanah.. Berat suatu massa tanah persatuan volume tertentu di sebut sebagaui bulk desinty, volume tanah yang dimaksud adalah volume partikel tanah dan volume pori tanah. Berat dan ruang bervariasi dari suatu horizon dengan horizon lain. Sama halnya sifat tanah lainnya . Selain itu variebel ini juga dipengaruhi oleh teksrur dan struktur tanah.

Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan percobaan Bulk density untuk mngetahui volume tanah pada lapisan I, dan II pada tanah alfisol. 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan nilai bulk ndensity dari sample tanah pada masing-masing lapisan serta factor-faktor yang mempengaruhinya. Kegunaan dari praktikum ini adalah memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada mahasiswa tentang bulk density sehinga dapat disajikan sebagai bahan pertimbangan dalam hal pengolahan tanah.

II. TINJAUAN PUSTAKA Berat isi atau Bulk density merupakan suatu berat massa tanah persatuan volume tertentu. Umumnya dinyatakan dalam satuan gr/cm3. volume tanah yang dimaksud adalah volume kepadatan tanahdan volume pori tanahnya. Tanah yang lebih padat mempunyai nilai BD yang yang lebin besar dari pada tanah yang sama tapi kurang padat. Pada umumnya lapisan atas tanah pada tanah mineral

mempunyai BD yang lebih rendah disbanding dengan tanah yang ada disebelah bawahnya. Nilai BD tanah organic pada umumnya antara 0.1 0.9 gr/cm 3 (Pairunan A.K. dkk, 1985 ) Bulk density menyangkut tentang volume tanah padat dan pori tanah . Berat isi tanah berguna untuk menghitung berat tanah dilapangan. Tanah yang renggang mempunyai pori-pori dengan bobot kecil persatuan volume. Tanah yang beryekstur halus mempunyai porositas yang tinggi dan berat isi yang lebih rendah dari pada tanah berpasir (Pairunan, dkk. 1985). Kandungan atau isi suatu tanah sangat sangat besar pengarunhnya dalam memnentukan nilai BD. Hal hal yang banyak pengaruhnya dalam penentuan BD suatu tanah seperti kandungan bahan organic tanah dan kepadatan suatu tanah. Tanah yang memiliki banyak bahan organic akan memiliki nilai BD yang rendah. Tanah dengan kepadatan yang tinggi akan berbanding lurus dengan nilai BD suatu tanah ( Hakim N., dkk, 1986 ). Bulk density menunjukan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori-pori tanah. Bulk density merupakan petunjuk kepadatan tanah. Makin padat suatu tanah makin tinggi bulk density berarti

makin sulit meneruskan air atau di tembus akar tanaman. Pada umumnya bulk density kurang dari 0,85 9100 (Hardjowigeno, S. 1981). Bahan organik lebih ringan dari pada bahan mineral. Disamping itu bahan organik akan membesar pori tanah. Nilai bulk density akan lebih rendah bahan organik penyusun tanah tinggi karena bahan organik dapat memperkecil berat (S) tanah dan dapat memperbesar porositas tanah serta memiliki berat yang kecil dibanding dengan bahan mineral. Tanah denga nilai bulk densit yang kecil baik iuntuk lahan pertanian sebab bulk density yang kecil bahan organik yang

dikandungnya akan semakin besar, sehingga akan menyebabkan airasi dalam tanah tersebut menjadi lebih baik. Orang yang menytatakan bahwa berat isi tanah dalam kaasitas butir-butir tanah yang menyusun tanah. Misalnya ditetapkan sebagai suatu tanah maka volume tanah disebut juga dengan berat isi tanah tanah yang memiliki bulk density tinggi atau besar mempunyai kandungan bahan

mineral yang banyak, namun porositasnya rendah karana semakin nilai bulk densitynya maka porositasnya akan berkurang (Buckman and Brady, 1982). Pengambilan suatu sample tanah tidak boleh merusak suatu struktur yang asli. Terganggunya struktur tanah dapat mempengaruhi pori-pori tanah, demikian pula berat per satuan volume. Empat atau lebih bongkahan tanah biasanya diambil dari setiap horizon untuk memperoleh nilai rata-rata. Gumpalan tanah yang diambil dari lapangan untuk menetapkan kerapatan isi itu di bawah ke laboratorium untuk dikeringkan udaranya dan ditimbang (Hakim, dkk. 1986) .

III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Praktikum Bulk Density dilaksanakan pada hari senin tanggal 3 November 2008 di Laboratorium Kimia Tanah, jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian , Universitas Hasanuddin, Makassar. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan, oven, ring sampel dan mistar pengukur. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel tanah dan air. 3.3 Prosedur Kerja Mengering ovenkan sampel tanah utuh selama 2x24 jam Setelah mengovenkan, memasukkan sampel tanah tersebut kedalam desikator untuk didinginkan. Menimbang sampel tanah utuh dengan ring, kemudian menimbang berat ring sampel. Mengukur tinggi ring, diameter ring, serta volume tanah. Melakukan pengamatan dan menghitung bulk density

IV. Hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari perhitungan nilai dari Bulk Desnity, Particle Desnity, dan Porositas pada tanah lapisan I maka diperoleh Hasil sebagai berikut : Tanah lapisan Lapisan I Lapisan II Bulk Density Gr/ cm3 1,73 gr/cm3 1,56 gr/cm3

4.2 Pembasan Dari hasil diatas menunjukan bahwa nilai dari Bulk Desnity pada lapisan I adalah 1,73 gr/cm3 dan pada lapisan II 1,56.hal tersebut me gr/cm3. Hal menunjukan bahwa kandungan bahan organik pada tanah lapisan I lebih tinggi dibanding pada lapisan tanah II. Sesuai dengan pendapat Hakim N., dkk, (1986 ). Kandungan atau isi suatu tanah sangat sangat besar pengarunhnya dalam memnentukan nilai BD. Hal hal yang banyak pengaruhnya dalam penentuan BD suatu tanah seperti kandungan bahan organic tanah dan kepadatan suatu tanah. Ditambahkan lagi bahwa Tanah yang memiliki banyak bahan organic akan memiliki nilai BD yang rendah. Tanah dengan kepadatan yang tinggi akan

berbanding lurus dengan nilai BD suatu tanah. Apabila suatu tanah makin padat maka makin sulit untuk meneruskan air atau ditembus oleh akar tanaman Nilai Bulk Desnity yang terendah adalah pada lapisan II yang meruapakan tanah mineral atau tanah liat, dimana pada umunya tanah yang dilapisan atasnya memiliki nilai Bulk Desnity yang rendah disbanding dengan tanah dilapisan

bawahnya. Hal ini sesuai dengan Pendapat Foth D.H, (1988 ) yang mengatakan bahwa yang lebih padat mempunyai nilai bulk density lebih besar dari tanah yang sama tetapi kurang padat. Pada umunya tanah lapisan atas pada tanah mineral mempunyai nilai Buulk Desnity lebih rendah dibanding dengan tanah yang dibawahnya Penentuan tinggi rendahnya nilai dari suatu BD Nilai BD tanah organic pada umumnya antara 0.1 0.9 gr/cm3 (Parrunan A.K. dkk, 1985 )

Lampiran

: Perhitungan nilai Bulk Desnity

Nilai Bulk Desnity : Lapisan I Dik : BTKO d t

: 250 gram : 5,2 cm : 6,8 cm : 3.14 : BD = BTKO gr/cm3 Volume tanah

Penye

Volume tanah = r2t = 3.14. (2,6)2. (6,8) = 144,3 cm3 Jadi : BD = BTKO 144,3 Gr/cm3

= 250 144,3 = 1,73 gr/cm3 Nilai Bulk Desnity : Lapisan II Dik : BTKO d t

: 200 gram : 5,3 cm : 5,8 cm : 3.14 : BD = BTKO gr/cm3 Volume tanah

Penye

Volume tanah = r2t = 3.14. (2,65)2. (5,8) = 127,8 gr/ cm3 Jadi : BD = BTKO 127,8 Gr/cm3

= 200

127,8 = 1,56 gr/cm3

V.KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Dari hasil dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut 1. Pada tanah lapisan I memiliki nilai BD 1,73 gr/cm3 2. Pada tanah lapisan II memiliki nilai Bd 1,56 gr/ cm3 3. Faktor faktor yang mempengaruhi nilai Bulk Desnity adalah tekstur,

struktur dan bahan organik 5.2 Saran Sebaiknya dalam ptaktikum BD, PD dan Porositas digunakan juga tanah alfisol dengan berbagai lapisan agar dapat menjadi perbandingan antara nilai BD, PD dan porositasnya

DAFTAR PUSTAKA

Hakim N., M.Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S.G. Nugroho, H.M. Soul, M.A. Diha, Go Bang Hong, H.H. Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasam Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur. Ujung Pandang. Hardjowigono, Sarwono, 1995. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta. Pairunan, dkk., 1997. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur; Makassar.

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Partikel density didefenisikan sebagai berat dari suatu padatan tanah. Jelasnya yang dimaksud volume tanah disini adalah volume tanah saja. Jadi tidak termasuk volume ruang-ruang yang terdapat diantara zarah-zarah.Partkel density dinyatakan dalam berat tanah persatuan volume tanah, jadi dalam 1 cm3 padatan tanah beratnya adalah 2,6 gram, maka partikel density tanah tersebut adalah 2,6 gram/cm3. Pada umumnya kisaran partikel density tanah mineral kecil yakni antara 2,6- 2,93 gram/cm3. Hal ini disebabkan mineralkwarsa,feldspart dan silikat

kolodal yang merupakan komponen tanah sekitar angka tersebut. Plartikel density dapat melibihi 2,75 gram/cm3, bila dalam tanah tersebut terdapt mineral-mineral berat seperti magnetic, granet, epidet, sirkon, turmalin dan hornblende. Besar ukuran dan caa teraturnya partikel tanh tidak terpengaruh pada partikel density, akan tetapi kandungan bahan organik memberi pengaruh besar pad apartikel density. Lapisan atas mempunyai partikel density yang lebih rendah dari pada lapisan bawah karena ukuran dan cara tersusunnya partikel tanah tidak terpengaruh pada partikel density tanah. Besarnya ukuran ukuran partikel partikel tanah tidak mempengaruhi pada partikel desnity dan ini merupakan salah satu sebab mengapa tanah pada lapisan atas mempunyai partikel desniti yang lebih rendah dari lapisan bawahnya. Dan jelasnya bahwa dengan pengaruh kandungan bahan organik yanglebih tinggi mempunyai nilai PD yang rendah dibanding tanh yang mengandung bahan organik yang rendah, nilai Pdnya akan semakin tainggi.

1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui berat jenis butiran tanah dan mengetahui nilai partikel density pada setaip lapisan tanah alfisol. Serta faktor faktor yang mempengaruhinya Kegunaan praktikum ini adalah sebagai bahan pertimbangan dalam pengolahan tanah.

II. TINJAUAN PUSTAKA Partikel density suatu tanah merupakan suatu tetapan dan tidak bervariasi menurut jumlah ruang partikel ini didefenisikan sebagai massa setiap unit volume

kandungan bahan organik dari komposisi mineral yang terdapat didalam mineral tanah tersebut. Pada tanah lapisan atas mempunyai nilai partikel density yang lebih rendah dibandingkan lapisan bawah, dikarenakan pada lapisan ats mengandung banyak bahan organik (Foth, 1993). Kerapatan isi adalah berat persatuan volume tanah kering oven biasanya ditetapkan dalam gram/cm3. Pengambilan suatu sample tanah tidak boleh merusak suatu struktur yang asli. Terganggunya struktur tanah dapat mempengaruhi poripori tanah, demikian pula berat per satuan volume. Empat atau lebih bongkahan tanah biasanya diambil dari setiap horizon untuk memperoleh nilai rata-rata. Gumpalan tanah yang diambil dari lapangan untuk menetapkan kerapatan isi itu di bawah ke laboratorium untuk dikeringkan udaranya dan ditimbang Kerapatan setiap partikel tanah merupakan suatu tetapan dan bervariasi menurut jumlah dan ruang partikel. Hal ini tidak berbeda banyak pada tanah yang lain, jika tidak terdapat variasi yang harus dapat dipertimbangkan , kandungan tanah dan kondisi tanah mineral tanah. Orang yang menyatakan berat tanah dalam istilah kerapatan butir-butir yang menyusun tanahnya, biasanya ditetapkan sebagai kerapatan butiran (Hakim, dkk. 1986) . Kerapatan tanah atau butiran tanah setiap jenis konstan dan tidak bervariasi dengan jumlah ruang antar partikel. Perbedaan kerapatan sarahnya diantara jenis tanah , tidak begitu besar kecuali terhadap variasi yang besar di dalam kandungan bahan organik dan komposisi mineral yang terdapat di dalam tanah Kerapatan isi dapat pula ditetapkan lain misalnya poundft. Jika ditetapkan dalam gram/cm3, maka kerapatan isi lapisan oleh bertekstur halus biasanya

berkisar antara 1,3-1,8. Semakin berkembang struktur biasanya memiliki nilai berta jenis palsu yang rendah, dibandingkan pada tanah yang berpasir. Hal

yang sangat berpengaruh pada PD yaitu kandungan bahan organik dalam tanah, karena banah organik lebih kecil dibandingkan dengan berat pada mineral yang lain dalam volume yang sama. ( Pairunan a.k., dkk, 1985 ) Keratpatan zarah tanah dapat ditentukan dengan memperhatikan partikel tanah. Jadi kerapatan partikel tanah yaitu konstan dan tidak berfaraisi dengan dengan jumlah antar partikel.kerapatan tanah dapat ditentukan dengan menunjukan partikel tanah. Perbedaan xarah diantara jenis tanah tidak terlalu besar kecuali terdapat variasi yang besar dalam kandungan bahan organik dan kompetisi mineral tanah ( Hakim N., 1986 ) Berat jenisbutiran tidak berubah dan ukuran butiran atau dengan perubahan pori pori. Berat jenis tanah mineral rata rata berat bahan mineral yang paling banyak terdapat tanah ( syarif, 1986 )

III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Partikel Density dilaksanakan pada hari Senin tanggal 3 November 2008 di laboratorium kimia tanah, jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian , Universitas Hasanuddin, Makassar. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan, oven, ring sampel dan mistar pengukur. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel tanah dan air. 3.3 Prosedur Kerja Adapun prosedur kerja dari percobaan mengenai Partikel Density yaitu : Masukkan tanah hasil Bulk density sebanyak 40 gram ke dalam gelas ukur 100 ml yang telah diberi air sebanyak 50 ml dan aduk dengan baik untuk melepaskan udaranya. Bilas gelas pengaduk pada dinding selinder dengan sejumlah air. Biarkan campuran selama 5 menit untuk dapat melepaskan udaranya dan catat volume air dalam gelas ukur, ingat pada tanah terdapat udara dan air. Hitung Partikel Density : Contoh penetapan partikel density - Berat tanah kering oven - Volume dalam gelas ukur - Volume air dan tanah - Volume air pembilas - Volume tanah = 40 gram = 50 cm3 = 75,3 cm3 = 10 cm3 = (75,2) (50 + 10) = 15,2 cm3

PD =

40 gram 15,2cm 3

= 2,63 gr/cm3

Lampiran

: Perhitungan nilai Particle desnity

Nilai Particle desnity pada tanah lapisan I BTKO V. dlm Gelas ukur V. air dan tanah V. pembilas Penye : : 40 gram : 50 ml : 91 cm : 10 cm PD = BTKO gr/cm3 V. Partikel pada

V. partikel Padat

= ( volume air dan tanah ) ( V. Dalah gelas + V pbilas ) = (91) + ( 50 + 10 ) = 31 cm3 PD PD = = BTKO V. Partikel pada gr/cm3

jadi

: :

40 31 cm3 = 1.29gr/cm3 Nilai Particle desnity pada tanah lapisan II BTKO V. dlm Gelas ukur V. air dan tanah V. pembilas Penye : : 40 gram : 50 ml : 85 cm : 10 cm PD =

gr/cm3

BTKO V. Partikel pada

gr/cm3

V. partikel Padat

= ( volume air dan tanah ) ( V. Dalah gelas + V pbilas ) = (85) - ( 50 + 10 ) = 14 cm3 PD PD = = BTKO V. Partikel pada gr/cm3 gr/cm3

jadi

: :

40 25 cm3 = 1,69 gr/cm3

IV. Hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari perhitungan nilai dari Particle Desnity, pada tanah lapisan I maka diperoleh Hasil sebagai berikut :

Tanah lapisan I II Pembahasan

Particle density gr/ cm3 1.29 1,69

Dari hasil data pada tabel, nilai dari PD pada tanah lapisan I adalah 1,29 gr/cm3 dan pada tanah lapisan II adalah 1,69 gr/cm3. Sehingga dapat ditarik kesimpulan pada tanah lapisan II ini mempunyai kandungan mineral mineral yang ringan disbanding pada tanh lapisan I karena dengan pendapat Parrrunan, AK. Dkk (1985) yang mengatakan bahwa jika dalam tanah terdapat mineral mineral berat seperti magnetic, garnet, zirkom,tourmaline, dan hornblende PDnya akan melebihi 2.75 gr/cm3. Ditambahkannya lagi bahwa Hal yang sangat berpengaruh pada PD yaitu kandungan bahan organik dalam tanah, karena banah organik lebih kecil dibandingkan dengan berat pada mineral yang lain dalam volume yang sama. Sedangkan pada tanah lapisan I yang lebih rendah dubanding lapisan II yang merupakan tanah lapisan atas, sebab pada lapisan ini meskipun memliki ukuran butir yang tidak jauh berbeda dengan lapisan Ii namun kandungan mineralnya sangat kurang dibanding pada lapisan II sehingga mempengaruhi nilai PD nya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hakim, N,dkk (1986)yang menyatakan berat jenis butiran atau patrikel desnity tidak berubah dengan ukuran butir atau perubahan pori pori.

Kerapatan isi dapat pula ditetapkan lain misalnya poundft. Jika ditetapkan dalam gram/cm3, maka kerapatan isi lapisan oleh bertekstur halus biasanya

berkisar antara 1,3-1,8. Semakin berkembang struktur biasanya memiliki nilai berta jenis palsu yang rendah, dibandingkan pada tanah yang berpasir.

V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut

4. Nila Partikel density pada tanah lapisan I yaity 1.29 gr/cm3 5. Sedangkan pada tanah lapisan II yaitu 1,69 gr/cm3 6. Nilai dari Particle density yang tertingg ialah pada lapisan II yaitu 1,69 gr/cm3. Nilai ini berarti tingkat bahan bahan mineral yang terkandung rendah, sehingga mempengaruhi nilai dari PD, karena tinggi rendahnya nilai PD dipengaruhi pula dengan banyak tidanya mineral mineral yang terkandung didalamnya. Saran Sebaiknya dalam ptaktikum BD, PD dan Porositas digunakan juga tanah alfisol dengan berbagai lapisan agar dapat menjadi perbandingan antara nilai BD, PD dan porositasnya

DAFTAR PUSTAKA Foth, Henry D., 1985. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hakim N., M.Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S.G. Nugroho, H.M. Soul, M.A. Diha, Go Bang Hong, H.H. Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasam Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur. Ujung Pandang. Hardjowigono, Sarwono, 1995. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta. Pairunan, dkk., 1997. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur; Makassar. Syarif,S., 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana Press. Bandung

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Ruang diantara butiran padat tanah yang disebut pori tanah dimana pori tanah di tempati oleh udara dan air. Pada umumnya pori-pori tanah berisi udara , kecuali apabila tanah seluruhnya tergenang air, dan pori-pori kecil berisi air, kecuali apabila tanah dalam keadaan sangat kering. Porositas tanah adalah persentase volume tanah yangb tidak ditempati oleh butiran padat. Porositas sangat bedsar pengaruhnya atau berpengaruh diperoleh, maka porositas akan kecil nilainya. Berat dan ruang pori-pori tanah bervariasi dari satu hirison ke horison lain, sama halnya dengan sifat-sifat tanah lainnya dan kedua variabel ii di pengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah. Berat dari ruang tanah sangat berfariasi dari suatu horizontal kehorizontal lainnya. Sama halnya dengan sifat sifat tanah, keduanya dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah. Sejumlah pori-pori yang terdapat dalam tanah merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui karena pori merupakan ruang yang ditempati oleh air dan udara. Pri tanah merupakan ruang diantara butiran padat. Pada umumnya pori-pori tanah tergenang air serta apabila pori-pori tanah kecil akan berisi air kecuali bila tnah sangat kering. Susunan butiran tanah merupakan jumlah serta sifat pori. Liat memiliki porositas yang tnggi dari pada pasir. Usuran pori-poripada liat kecil dan dapat menahan air, akan tetapi permeabilitasnya lambat, sebaliknya pasir memilki sedikit pori-porinya tetapi pori-porinya berukuran besar sehingga kurang mampu mnahan air dan drainasenya cepat. pada nilai bulk density yang

Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan praktikum porositas tanah untuk membandingkan pori pada setiap lapisan . 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan dilakukannya praktikum ini hdala untuk mengetahui porositas tanah pada setiap lapisan serta factor-faktor yang mempengaruhinya. Kegunaan dari percobaan ini hdala untuk memberikan pengetahuan tenteng penentuan porositas tanah serta mengetahui bagaimana hubungan porositas tanah dengan kesuburan tanah.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Porositas tanah adalah total pori tanah yaitu ruang dalam tanah yang ditempati air dan udara atau bagian yang tidak terisi bahan padat. Pori-pori tanah dibedakan menjadi pori makro, pori meso, dan pori mikro. Pada keadaan basa seluruh ruang pori baik makro,meso, dan mikro terisi oleh air, pada keadaan kering pori makro dan sebagian pori meso terisi air, pada keadaan kering pori makro dan sebagian pori meso terisi oleh udara.(Hakim, 1986). Ruang pori tanah adalah bagian yang diduki oleh udara dan air. Jumlah ruang pori ini sebagian besar ditentukan oleh sesuatu susunan butir padat atau sub soilpadat. Porositasnya rendah. Jika mereka tersusun tersusun dalam agregat tergumpal yang kerap kali terjadi pada tanah-tanah yang bertekstur sedang yang mempunyai kandungan bahan organiknya, maka persatuan volumenya akan tenggi (Buckman dan Brandy, 1982). Air yang tersimpan atau bertahan dalm pori karena adanya gaya kapiler. Pori-pori bedar yang tidak menahan air dengan gaya kapiler disebut pori nonkapiler atau pori aerasi. Pori-pori kecil yang menahan air dengan gaya kapiler dinamakan pori kapiler atau pori-pori mikro (Pairunan, dkk. 1985). Inti tanah yang digunakan dalam mengukur kerapatan tidak dapat juga digunakan untuk menentukan ruang pori total. Untuk menentukan ruang pori, inti diletakkan pada susupensi air sampai jenuh dan inti kering oven mewakili volume air yang sama dengan volume ruang pori pada tanah. (Foth, 1994). Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi dua yaitu pori-pori kasar dan pori-pori halus. Pori-pori kasar berisi air kapiler atau udara. Porositas tinggi apabila bahan organik juga tinggi. Tanah-tanah yang bertekstur granular atau

lemah mempunyai porositas yang tinggi dari pada tanah-tanah yang bertekstur pasir (Hardjowigeno, 1987). Tanah dengan struktur remah atau kersai umumnya mempunyai porositas yang besar. Pengolahan tanah untuk sementara waktu dapat memperbesar porositas, namun dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan menurunnya porositas. Penahan terus menerus terutama pada tanah yang mula-mula tinggi sekali bahan organiknya kerap kali akan mengkibatkan pengurangan pori-pori makro sangat diperlukan untuk gerakan udara dikurangi (Hardjowigeno, 1987). Tanah dengan butir butir , baik aerasinya dan memiliki daya pegang air yang tinggi karena kenaikan ukuran pori pori tanah. Pori pori tanah ditempati oleh air dan udara dengan perbandingan yang berbeda. Tanah liat mempunyai jumlah pori pori lebih besar dari jumlah pori pori pasir, tetapi karena ukuran kecil dan pori pori dalam tanah liat, air dan udara bergerak melewatinya pelan pelan. Bila pori pori kecil dari tanah liat penuh air, kekurangan udara yang sangat penting untuk pertumbuhan akarakan menjadi pembatas ( Hardjadi, 1979 ) Drainase yang baik pada tanah yang lembab, biasanya ruang porinya besar terisi air, akibatnya ruang pori tersebut dinamakan ruang pori aerase atau mesopori. Pori pori yang kecil biasanya cenderung untuk terisi air dan umumnya disebut dengan kapiler atau mikropori ( Foth, Dh, 1994 ). Total pori yang mempunyai makna bahwa tanah berpasir mempunyai aerasi yang kurang baik pada musim hujan, tidak dapat mengalirkan air sehingga cepat menjadi jenuh bila dialiri dan lebih keras bila mengering. Pertumbuhan akar akan menjadi terhambat karena aerasi kurang baik, terjadi bila kadar iar tanah

tinggi an kadang kadang tanah yang tinggi terjadi bila tanah kering ( syarief, s. 1989 ).

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat Waktu dan Praktikum Porositas dilaksanakan pada hari Senin tanggal 3 November 2008 di laboratorium kimia tanah, jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian , Universitas Hasanuddin, Makassar. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan, gelas, silinder, pengaduk, oven, dan ring sampel. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel tanah dan air. 3.3 Prosedur Kerja Menghitung nilai bulk density dan partikel density dari sampel tanah (analisa BD dan PD). Melakukan pengamatan dan menghitung nilai porositas Porositas = (1-BD/PD) x 100%

Lampiran I

: Perhitungan nilai dari Porositas

Dik : Nilai pada lapisan I Nilai BD : 1,21 gr/cm3 Nilia PD : 1.29 gr/cm3 Penye 1 - BD f = PD = 1 1,73 x 100% 1.29 = 34,1%

x 100%

Dik : Nilai pada lapisan II Nilai BD : 0.43 gr/cm3 Nilia PD : 2.85 gr/cm3 Penye 1 - BD f = PD = 1 1,56 x 100% 1,69 = 7,69 %

x 100%

IV. Hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari perhitungan nilai dari Porositas pada tanah lapisan I maka diperoleh Hasil sebagai berikut : Tanah lapisan I II Pembahasan Pada tabel porositas, nilai porositas yang diperoleh pada tanah lapisan I adalah 34,1 % dan pada tanah lapisan II 7,69 %. Dapat disimpulkan bahwa kandungan bahan organik pada tanah alfisol tinggi sehingga nilai dari porositasnya pun juga tinggi dibandingkan denga tanah lapisan II adalah 7,69 % Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno, S. (1987) yang mengemukakan bahwa porositas tanah tinggi jika bahan organiknya tinggi pula, tanah dengan struktur granular dan remah mempunyai porositas yang lebih tinggi dari pada tanah dengan strukutr pejal. Tanah dengan struktur pasir mempunyai pori pori mikro sehingga sulit menahan air. Pairunan A,K, dkk (1985) juga menambahkan bahwa pwngolahan tanah juga sementara dapat memperbesar porositas, namun dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan menurunnya porositas. Olhe karena itu untuk memperbesar porositas tanah tindakan yang perlu dilakukan adalah dengan penambahan bahan organik atau melakukan pengolahan tanah yang minimum. V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 1. Porositas tanah pada lapisan I yaitu 34,1 Porositas (%) 34,1 7,69

2. Pada tanah lapisan II yaitu 7,69 3. Hal yang dapat memperbesar porositas adalah dengan banyak tingaknya/ tinggi rendahnya bahan organic yang terkandung dalam tanah tersebut. 4. Hanah dengan struktur granular dan remah mempunyai porositas yang lebih tinggi dari pada tanah dengan strukutr pejal. 5. Pengolahan tanah dapat memperbesar porositas tapi dalam jangka eaktu yang lama malah dapat memperkecil porositas 5.2 Saran Sebaiknya dalam ptaktikum BD, PD dan Porositas digunakan juga tanah alfisol dengan berbagai laipisan agar dapat menjadi perbandingan antara nilai BD, PD dan porositasnya

DAFTAR PUSTAKA Foth, Henry D., 1985. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta.

Hakim N., M.Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S.G. Nugroho, H.M. Soul, M.A. Diha, Go Bang Hong, H.H. Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasam Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur. Ujung Pandang. Hardjowigono, Sarwono, 1995. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta. Pairunan, dkk., 1997. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur; Makassar. Syarif,S., 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana Press. Bandung Hardjadi, 1979. pengantar agronomi. Penerbit Gramedia. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai