Anda di halaman 1dari 13

RESUME HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA

A. PENGERTIAN DAN SUMBER HUKUM Menurut Prof. Van Apeldoorn definisi hukum adalah sangat sulit untuk dibuat, karena tidak mungkin untuk mengadakannya yang sesuai dengan kenyataan. Akan tetapi, meskipun demikian banyak para ilmuan hukum yang berusaha memberikan sebuah definisi hukum sesuai pendapat mereka. Sehingga dapat disimpulkan hukum adalah sekumpulan peraturan tingkah laku manusia untuk mengatur pola hubungan interaksi manusia yang dibuat oleh penguasa dengan bersifat mengatur dan memaksa yang apabila dilanggar akan menimbulkan sanksi yang tegas. Sumber hukum adalah segala apa saja yang menimbulkan aturan-aturan yang yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yakni aturan-aturan yang kalau dilanggar akan mendapatkan sanksi yang tegas dan nyata. Adapun macam-macam sumber hukum dapat ditinjau dari segi material dan formal: 1. Sumber sumber hukum material, yaitu sebuah keputusan yang dapat ditinjau dari berbagai sudut, misalnya dari sudut ekonomi, sejarah, sosiologi, filsafat dan sebagainya. 2. Sumber-sumber hukum formal, antara lain: y Undang-undang (statue) Adalah suatu peraturan Negara yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat diadakan dan dipelihara oleh penguasa Negara. Syarat-syaratnya adalah harus sosiologis, filosofis dan yuridis. y Kebiasaan (costum) Adalah perbuatan manusia yang dilakukan berulang-ulang dalam hal yang sama dan perbuatan tersebut ditaati oleh semua masyarakat sehingga menjadi hukum kebiasaan. y Keputusan-keputusan hakim (jurespudentie) Adalah keputusan-keputusan hakim terdahulu yang sering diikuti dan dijadikan dasar keputusan oleh hakim kemudian mengenai masalah yang sama. y Traktat (treaty) Adalah suatu perjanjian atau kata sepakat yang dilakukan oleh suatu negara dengan Negara lain. y Pendapat sarjana hukum (doktrin) B. GUGATAN DAN PERMOHONAN Dalam perdata terdapat dua macam perkara, yaitu:

a) Perkara contentios (gugatan), yaitu tuntutan hak yang mengandung sengketa dan diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan putusan. Misalnya sengketa hak milik, warisan, poligami dan lain-lain. b) Perkara permohonan (voluntair), yaitu tuntutan hak yang didalamnya tidak terdapat sengketa atau perselisihan tapi hanya semata-mata untuk kepentingan pemohon dan bersifat sepihak (ex-parte). Disebut juga gugatan permohonan. Contoh meminta penetapan bagian masing-masing warisan, mengubah nama, pengangkatan anak, wali, pengampu, perbaikan akta catatan sipil dan lain-lain. Perbedaan antara contentiosa dan voluntair: 1) Ciri-cirinya dalam contentiosa mengandung sengketa, ada lawan dan bukan kepentingan sepihak. Dalam voluntair tidak mengandung sengketa, tidak ada lawan dan merupakan kepentingan sepihak. 2) Dilihat dari segi pihak-pihaknya: y Contentiosa menggunkan istilah penggugat dan tergugat. Penggugat mungkin sendiri dan mungkin gabungan dari bebrapa orang, sehingga ada istilah Penggugat 1, Penggugat 2, Penggugat 3 dan seterusnya. Juga mungkin

memakai Kuasa Penggugat, Kuasa Penggugat 1, Kuasa Penggugat 2, Kuasa Penggugat 3 dan seterusnya. Begitu pun dengan tergugat, mungkin sendiri dan mungkin merupakan gabungan dari beberapa tergugat. Gabungan penggugat atau tergugat tersebut disebut kumulasi subjektif. y Voluntair menggunakan istilah pemohon dan termohon. Pemohon adalah orang yang meminta ditetapkan atau mohon ditegaskan sesuatu hak bagi dirinya atau tentang sesuatu situasi hukum tertentu, baginya sama sekali tidak ada lawan. Termohon dalam arti asli bukanlah sebagai pihak tetapi hanay perlu dihadirkan di depan sidanga untuk didengar keterangannya untuk kepentingan

pemeriksaan, karena termohon mempunyai hubungna hukum langsung dengan pemohon. Dalam Perdata Islam terdapat istilah gugat cerai dan permohonan cerai. Dalam perkara gugat cerai, istri sebagai pihak penggugat dan suami sebagai pihak tergugat. Sedangkan dalam permohonan cerai, suami sebagai pemohon dan istri sebagai termohon. 3) Aktifitas hakim dalam memeriksa perkara :  Contentiosa, terbatas yang dikemukakan dan diminta oleh pihak-pihak.

 Voluntair, hakim dapat melebihi apa yang dimohonkan karena tugas hakim bercorak administratif. 4) Kebebasan hakim  Contentiosa, hakim hanya memperhatikan dan menerapkan apa yang telah ditentukan undang-undang.  Voluntair, hakim memiliki kebebasan menggunakan kebijaksanaannya. 5) Kekuatan mengikat putusan hakim  Contentiosa, hanya mengikat pihak-pihak yang bersengketa serta orang-orang yang telah didengar sebagai saksi.  Voluntaria, mengikat terhadap semua pihak. 6) Hasil akhir perkara  Hasil suatu gugatan (Contentiosa) adalah berupa putusan (vonis).  Hasil suatu permohonan (voluntaria) adalah penetapan (beschikking). Syarat-syarat membuat surat gugatan dan surat permohonan: a) Identitas para pihak harus jelas, memuat nama berikut gelar atau alais atau julukan, bin, bintinya, umur, agama, pekerjaan, tempat tinggal terakhir dan statusnya sebagai penggugat atau tergugat. Kalimat yang memisahakan antara penggugat dan tergugat adalah terdapat kata-kata Berlawanan dengan. Identitas harus lengkap karena berisis dengan kompetensi absolute dan kompetensi relative. Kompetensi absolute adalah kewenangan mengadili antar badan peradilan yang tidak sejenis, seperti antara Peradilan Militer dengan Peradilan Agama. Kompetensi relative adalah kewenangan mengadili antara badan peradilan yang sejenis, seperti Peradilan Agama dengan eradilan Agama. b) Fundamentum petendi atau Posita, adalah masalah yang menjadi dasar-dasar perkaranya. c) Petitum, adalah isi tuntutan dalam surat gugatan. Tuntutan disini boleh satu atau merupakan gabuangan dari beberapa tuntutan yang dikenal dengan kumulasi objektif. Perbedaan dengan surat permohonan adalah identitasnya hanya identitas pemohon saja, bagian positanya adalah tentang situasi hukum yang dijadikan dasar terhadap apa yang dimohonkan oleh pemohon dalam bagian petita. Cara-cara mengajukan gugatan:  Gugatan harus diajukan secara tertulis dan ditandatangani oleh penggugat atau kuasanya. Hal ini diatur dalam pasal 118 HIR.

Bagi yang buta huruf, bisa mengajukannya secara lisan. Hal ini diatur dalam pasal 120 HIR.  Gugatan harus daijukan ditempat tinggal tergugat dengan dasar hukumnya pasal 118 HIR. Hail ini sesuai dengan azas Aqtor Sequitor Forum Rei artinya gugatan harus diajukan di tempat tinggal tergugat. Disini ada pengecualian, dalam perkara gugat cerai, gugatan diajukan di tempat tinggal penggugat (istri), begitu pun dalam cerai talak, pengajuan permohonan dilakukan di tempat termohon (istri). Apabila tergugatnya banyak, maka gugatan diajukan di tempat salah satu tergugat. Dalam hukum acara perdata ada istilah gugatan tidak dapat diterima dan gugatan ditolak.
y

Gugatan tidak diterima adalah gugatan yang tidak bersandarkan hukum yaitu apabila peristiwa-peristiwa sebagai dasar tuntutan tidak membenarkan tuntutan. Putusan tidak diterima ini bermaksud menolak gugatan diluar pokok perkara. Dalam hal ini penggugat masih dapat mengajukan kembali gugatannya atau banding. Lebih kepada tidak memenuhi syarat formil.

Gugatan ditolak adalah gugatan tidak beralasan hukum yaitu apabila tidak diajukan peristiwa-peristiwa yang membenarkan tuntutan. Putusan hakim dengan melakukan penolakan bermaksud menolah setelah mempertimbangkan pokok perkara. Dalam hal ini penggugat tidak ada kesempatan mengajukan kembali tapi haknya adalah banding. Lebih kepada tidak memenuhi syarat materil (pembuktian). Pencabutan gugatan dapat terjadi:

1. Sebelum pemeriksaan perkara oleh hakim dalam hal ini adalah tergugat belum memberikan jawaban. 2. Dilakukan dalam proses pemeriksaan perkara dalam hal ini apabila tergugat sudah memberikan jawaban maka harus dengan syarat disetujui oleh pihak tergugat. Jika gugatan dicabut sebelum tergugat memberikan jawaban maka penggugat masih boleh mengajukan gugatannya kembali dan jika tergugat sudah memberikan jawaban penggugat tidak boleh lagi mengajukan gugatan karena penggugat sudah dianggap melepaskan haknya. 4

Pasal 118 HIR/142 RBg mengatur juga pengecualiannya yaitu : 1. Diajukan di tempat kediaman tergugat yang terakhir yang sebenarnya apabila tidak diketahui tempat tinggalnya. 2. Apabila tergugat lebih dari satu orang diajukan di tempat tinggal salah satunya sesuai pilihan penggugat. 3. Satu tergugat sebagai yang berhutang dan satu lagi penjamin diajukan di tempat tinggal yang berhutang, apabila tempat tinggal tergugat (berhutang) dan tempat turut tergugat (penjamin) berbeda maka diajukan dimana tempat tinggal tergugat. 4. Jika tidak dikenal tempat tinggal dan kediaman tergugat diajukan kepada ketua pengadilan negeri di tempat tinggal penggugat atau salah seorang penggugat. 5. Jika objeknya benda tetap diajukan di tempat benda tetap itu berada. 6. Jika ditentukan dalam perjanjian (akta) ada tempat tinggal yang dipilih (domisili hukum) mka gugatan diajukan di tempat tinggal yang dipilih tersebut (pilihan domisili hukum), namun jika penggugat mau memilih berdasarkan tempat tinggal tergugat, maka gugatan juga dapat diajukan di tempat tinggal tergugat. Perwakilan dalam Perkara Perdata: Dalam sistim HIR/RBg beracara di muka pengadilan dapat diwakilkan kepada kuasa hukum dengan syarat dengan surat kuasa. Menurut UU No 18 Tahun 2003 tentang advokat , kuasa hukum itu diberikan kepada advokat. Advokat adalah orang yang mewakili kliennya untuk melakukan tindakan hukum berdasarkan surat kuasa yang diberikan untuk pembelaan atau penuntutan pada acara persidangan di pengadilan atau beracara di pengadilan. C. PROSES PERSIDANGAN Proses sebelum persidangan: 1. Setelah perkara terdaftar di kepaniteraan, Panitera melakukan penelitian terhadap kelengkapan bekas perkara. (Penelitian terhadap bentuk dan isi surat gugatan atau permohonan sudah dilakukan sebelum perkara didaftarkan dan ia merupakan prasyarat untuk bolehnya perkara didaftarkan). Penelitian panitera itu disertai dengan membuat resume tentang kelengkapan berkas perkara, lalu berkas tersebut disampaikan kepada Ketua Pengadilan sebagai dasar membentuk Penetapan Persetujuan Majlis Hakim (PMH) oleh Ketua

Pengadilan. 5

2. Ketua majlis hakim yang terpilih akan membuat PHS (Penetapan Hari Sidang) yang menetapkan kaapn hari/tanggal/jam sidang pertama dimulai. 3. PHS akan diberikan ke jurusita untuk melakukan panggilan terhadap kedua pihak yang bersangkutan. Apabila jurusita berhalangan maka akan digantikan oleh jurusita pengganti atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Agama. Tahap-tahap persidangan: 1. Tahap sidang pertama Sidang peertama bagi pengadilan mempunyai arti yang sanagt penting dan menetukan dalam beberapa hal, misalnya sebagai berikut: a) Jika tergugat atau termohon (dalam perkara contentiosa) sudah dipanggil dengan patut, ia atau kuasa sahnya tidak datang menghadap pada sidang pertama, ia akan diputus versetek. (125 HIR) b) Jika penggugat atau pemohon sudah dipanggil dengan patut, ia atau kuasa sahnya tidak datang menghadap pada sidang pertama, maka ia akan diputus dengan digugurkan perkaranya. (124 HIR) c) Sanggahan (eksepsi) relatif hanya boleh diajukan pada sidang pertama. Kalau diajukan setelah waktu itu, tidak akan diperhatikan lagi. d) Gugat balik (reconventie) hanya boleh diajukan pada sidang pertama. Eksepsi adalah tangkisan, maksudnya bantahan atau tangkisan dari tergugat yang diajukanke pengadilan karena tergugat digugat oleh penggugat, yang tujuannya supaya pengguat tidak menerima perkara yang diajukan penggugat karena adnya alasan tertentu. Eksepsi ini berhubungan dengan wilayah hukum tempat diajukannya sebuah perkara. Ini berhubungan dengan kompetensei absolut dan kompetensi relatif. Pada tahap ini terdiri dari: (1) hakim membuka sidang. (2) hakim menya identitas pihak-pihak. (3) pembacaan surat gugatan atau permohonan. (4) anjuran damai. Menurut HIR, anjuran damai dari hakim sudah dilakukan (dalam sidang pertama)sebelum pembacaan surat gugatan, anjuran damai pada sidang pertama ini bersifat mutlak. Dalam pasal 130 HIR dinyatakan setiap kali persidangan hakim harus mendamaikan para pihak. Apabila perdaamian tidak dilakukan maka putusan dinyatakan batal. Perdamaian akan sangat pentinmg karena perdamaian mengakomodir rasa keadilan dan bernilai eksekusi dan mengikat.

Apabila terjjadi perdamaain maka dibuatkan akta perdamaian di muka pengadilan dan kekuatannya sama dengan putusan. Akta perdamaaian tidak berlaku banding sebab akta perdamaain bukan keputusan pengadilan. Bila tidak etrjadi perdamaian hal itu harus dicantumkan dalam Berita Acara Sidang, sidang akan dilanjutkan. Dalam sidang perdata hakim harus menyatakan persidangan untuk umum. 2. Tahap Jawab-Berjawab (Replik-Duplik) Surat gugatan dibacakan oleh penggugat, disini ketika dibacakan penggugat akan diberikan hak untuk menambah dan mengurangi gugatan. Sesudah pembacaaan surat gugatan atau permohonan dan anjuran damai tidak berhasilmaka Ketua Majlis akan bertanya kepada kepada tergugat atau termohon apakah ia akan menjawab secara lisan atau tertulis, apakah sudah siap atau belum siap, kapan tergugat atau termohon siapnya. Sejak saat itu masuklah proses kedalam tahap jawab-berjawab, baik antara pihak dengan pihak maupun antara hakim dengan pihak. Penggugat mempunyai hak hak bicara terakhir. 3. Tahap pembuktian Pembuktian adalah meyakinkan hakim terntang dalil-dalil yang diajukan. Hukum pembuktian adalah Barangsiapa yang mendalilkan sesuatu maka dia harus membuktikan. Dalam hukum perdata minimal harus ada 2 alat pembuktian. Adapun alat-alat pembuktian yang daitur dalam pasal 164 HIR adalah sebagai berikut:

a.

Surat Surat ada 3 macam: (1) Biasa, yaitu surat yang tidak sengaja dibuat untuk membuktikan sesuatu. (2) Akta otentik, yaitu surat yang dibaut oleh dan atau dihadapan pejabat yang berwenang. Pada dasarnya surat ini dibuat untuk membuktikan sesuatu. (3) Akta di bawah tangan, yaitu surat dibuat tidak dihadapan berwenang. Pada dasarnya surat ini sengaja dibuat untuk membuktika sesuatu. Perbedaanya: - Akta otentik menjadi bukti paling kuat, artinya apa yang tertuang dalam isinya harus dianggap benar kecuali ada perlawanan. 7

- Akta di bawah tangan baru diakui sebagai alat bukti apabila isi dan tanda tangannya diakui oleh lawan. - Akta otentik memiliki 3 kekuatan pembuktian, yaitu formil, maksudnya para pihak telah setuju atas isi surat tersebut. Materil, maksudnya peristiwanya benar-benar terjadi. Mengikat, maksudnya akat tersebut benar-benar telah dibuat dihadapan pejabat yang berwenang. b. Saksi Harus memenuhi dua syarat: - Formil, artinya saksi harus cakap (145 HIR), keterangannya disampaikan dalam sidang (144 HIR), diperiksa satu persatu (144 HIR) dan harus disumpah. - Materil, artinya minimal dua orang saksi dan saksi ahrus berdasarkan alasan dan pengetahuannya. Kalau saksi hanya satu, maka harus dilengkapi dengan alat pembuktian yang lain. Azas mengatakan ulus testis nulus testis artinya satu saksi bukan saksi. Azas mengatakan testimonium de auditoru artinya saksi yang mendengar dari keterangan orang lain. Menurut pasal 145 HIR atau 172 RBg saksi yang tidak akn diterima antara lain: y Keluarga saudara y Istri, suami ataupun salah satu pihak walaupun sudah bercerai. y Anak-anak yang diketahui umurnya. y Orang yang ingatannya kurang. Pengecualian dalam perceraian, kelurga boleh menjadi skasi dalam pengadilan apabila perselisihan terjadi terus-menerus. Hal ini sesuai dengan PP No.9/1975 pasal 22. c. Persangkaan Persangkaan ada dau macam, yaitu: a. Undang-undang, ditentukan. yaitu perbuatan yang oleh undang-undang telah

b. Hakim, yaitu segaal peristiwa keadaan dalam sidang, bahan-bahan yang didapat dalam sidang semua itu bisa menyusun pertimbangan dalam persangkaan hakim. d. Pengakuan Ada 3 macam: a. Pengakuan murni, artinya tergugat mengakui seluruh dalil-dali gugatan. Disini penggugat tidak usah menghadirkan saksi kecuali dalam

persidangan gugat-cerai, harus menghadirkan keterangan pihak keluarga atau teman dekat apabila masalahnya karena perselisihan etrus menerus. b. Pengakuan berkualifikasi, artinya tergugat mengakui isi gugatan, akan tetapi terguagat menyertakan imbuhan keterangan yang berkualifikasi. Pada pengakuan ini keterangannya. tergugat harus membuktikan atas gugatan tetapi imbuhan

Tergugaat

mengakui

keterangannya

membantah sebagian gugatan. c. Pengakuan klausula, ini hamper sama dengan pengakuan berkualifikasi, akan tetapi keterangannya bersifat membantah keseluruhan gugatan. e. Sumpah Pada dasarnya digunakan karena tidak ada lagi alat pembuktian. Pembagian sumpah: - Suplitoir, adalah sumpah yang dimintakan salah satu pihak untuk melengkapi satu bukti yang telah diajukan oleh pihak yang berperkara. - Penaksir, hanya dapat diperintahkan karena jabatannya hakim atau pengadilan kepada penggugat. - Decisair, adalah sumpah yang dimintakan salah satu pihak karena pada perkaranya tidak ada bukti sama sekali.

Perbedaan antara suplitoir dan penaksir: Jika suplitoir dibebankan kepada salah satu pihak, maka penaksir dibebankan kepada penggugat saja. 4. Tahap Kesimpulan Penggugat dan tergugat menyimpulkan kesimpulan baik secar tertulis maupun secara lisan setelah selesainya tahap pembuktian. Setelah kesimpulan disampaikan maka hakim bermusyawarah untuk menetapkan putusan.

D. UPAYA-UPAYA HUKUM Upaya hukum terbagi dua macam yaitu upaya hukum biasa dan upaya hukum luar biasa. Yang termasuk upaya hukum biasa adalah verzet, banding dan kasasi. Sedangkan yang termasuk upaya hukum luarbiasa adalah PK (Peninjauan Kembali). a) VERZET Verzet artinya perlawanan terhadap putusan versetek yang telah dijatuhkan oleh pengadilan tingkat pertama (pengadilan Agama), diajukan oleh tergugat yang diputus versetek tersebut dalam waktu tertentudan diajukan ke pengadilan Agama yang memutus itu juga. Bagi yang diputus versetek belum bisa menggunakan upaya hukum banding sebelum ia menggunakan upaya hukum verzet. b) BANDING Banding yang disebut juga appel aialah permohonan pemeriksaan kembali terhadap putusan atau penetapan pengadilan tingkat pertam (Pengadilan Agama) karena merasa tidak puas atas putusan atau penetapan tersebut, diajukan ke pengadilan tingkat banding (Pengadilan Tinggi Agama) yang mewilayahi pengadilan tingkat pertama yang bersangkutan, melalui pengadilan tingkat

pertama yang memutus tersebut dalam tengganag waktu tertentu dan dengan syarta-syarta tertentu. Pemohon banding disebut pembanding dan lawannya disebut terbanding. Mungkin saja pihak-pihak sama-sama terbanding dan ketika itu hanya ada pembanding, tidak ada terbanding. Yang akan diperiksa di tingkat banding adalah:   Apakah pemeriksaan perkara sudah tepat dan benar? (mulai dari PMH, PHS sampai pada tahap persidangannya) Apakah putusan hakim pada pengadilan tingkat pertama sudah tepat dan benar? Disini, Pengadilan Tingkat Banding bias menguatkan putusan Pengadilan Tingkat Pertama atau membuat keputusan sendiri. Tatacara mengajukan banding: 1. Diajukan dalam tenggang waktu selama 14 hari (apabila penggugat dan tergugat hadir bisa setelah 1 hari putusan dijatuhkan juga boleh apabila sudah terhitung setelah 3 hari diterimanya surat pemberitahuan). 2. Memohon surat Akta Permohonan Banding.

10

3. Membayar panjar atau biaya banding. 4. Pemberitahuan banding kepada terbanding (sinonim tergugat). 5. Memori banding (semacam surat gugatan) diajukan pembanding (sinonim penggugat). 6. Pemberitahuan kepada terbanding bahwa adanya memori banding. 7. Contra memori banding oleh terbanding. 8. Pemberitahuan adanya contra memori banding. 9. Adanya inzage atau pemeriksaan berkas yang akan diajukan ke Pengadilan Banding. 10. Berkas baru kemudian dikirim ke Pengadilan tingkat Banding. c) KASASI Kasasi artinya mohon pembatalan terhadap putusan atau penetapan pengadilan tingkat pertama (Pengadilan Agama) atau terhadap putusan pengadilan tingkat banding ( Pengadilan Tinggi Agama) ke Mahkamah Agung di Jakarta,

melalui pengadilan tingkat pertama (Pengadilan Agama) yang dahulunya memutus, karena ada alas an tertentu, dalam waktu tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu. Pemohon kasasi lawannya termohon kasasi. Dalam hal kedua belah pihak sama-sama memohon kasasi, berarti hanya ada pemohon kasasi, tidak ada termohon kasasi. Upaya hukum kasasi baru bias digunakan apabila sudah mempergunakan upaya hukum banding. Permohonan kasasi diajukan selama tenggang waktu 14 hari.

d) PENINJAUAN KEMBALI Peninjauan kembali yang dimaksudkan adalah terhadap putusan atau penetapan pengadilan tingkat pertama (Pengadilan Agama) yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap, atau terhadap putusan pengadilan tingkat banding (Pengadilan Tingkat Agama) yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap,atau terhadap putusan Mahkamah Agung, karenanya sering disebut dipanjangkan menjadi Peninjauan kembali terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap). Peninjauan kembali dimaksudkan, diajukan ke Mahkamah Agung melalui Pengadilan tingkat pertama (Pengadilan Agama) yang dahulunya memutus, dengan alasan dan syarat tertentu tetapi tidak terikat pada waktu tertentu.

11

Tenggang waktu untuk mengajukan PK adalah selama 6 bulan atau 180 hari sejak memperoleh putusan hukum teta. Syarat di PK adalah harus adanya Novum atau bukti baru yang ditemukan. Catatan:  Perbedaan banding dan kasasi adalah: - Memori banding bukan suatu keharusan - Memori kasasi adalah wajib atau keharusan diajukan pemohon.  Perkara contentisa (gugatan) adanya di banding, kasasi kemudian PK.  Perkara voluntair (permohonan) tidak ada banding, akan tetapi langsung ke kasasi.

E. SITA Sita secara etimologi artinya perampasan. Sedangkan menurtu terminologi, sita adalah tata cara perampasan harta atau benda atau barang oleh pengadilan atas permohonan penggugat konvensi atau rekonvensi dengan tujuan agar gugatannya tidak hampa pada waktu putusan dijatuhkan. Macam-macam sita: a) Sita Jaminan (Conservatoir Beslag) Adalah sita yang diajukan penggugat supaya barang yang ada di pihak lawan (tergugat) tidak dipindah tangankan dengan tujuan agar putusan hakim tidak bersifat hampa atau ilusioner. Permohonan penggugat biasanya diajukan sekaligus ketika ia mengajukan gugatan teapi dapat juga sebelum perkara diputus bahkan dapat juga sebelum putusan memperoleh kekuatan hukum tetap, artinya boleh diajuakn ketika banding dan kasasi. Permohonan sita jaminan harus berdasarkan adanya dugaan beralasan, oleh karena itu hakim harus mempertimbangkan dahulu sebelum memutuskan dikabulkan atau tidaknya. Putusan hakim tersebut berupa putusan sela. Perintah pelaksanaan sita akan dikeluarkan oleh ketua Pengadilan Bukan Ketua Majlis hakim. Setelah putusan tersebut memperoleh kekuatan hukum yang tetap, pernyataan yang sah dan berharga tersebut berubah menjadi sita eksekutorial, kecuali kalau tergugat memenuhinya dengan sukarela. Dengan sendirinya, jika penggugat ternyata kalah, maka sita harus dicabut (diangkat). Hal ini diatur dalam HIR Pasal 227, RBg, Pasal 261.

12

Putusan sela adalah putusan hakim terhadap suatu perkara yang bukan pokok perkara akan tetapi masih ada relevansinya ddengan pokok perkara. b) Sita Eksekusi (Eksekutorial Beslag) Adalah sita yang dilakukan setelah perkara mempunyai kekuatan hukum tetap atas barang-barang yang belum diletakkan sita jaminan, karena terhadap barang yang telah diletakkan sita jaminan otomatis menjadi sita eksekusi. c) Sita Revindikasi ( Revindicatoir Beslag) Adalah siat yang dilakukan pengadilan terhadap benda bergerak milik sendiri yang berada di tangan orang lain, atau terhadap milik sendiri yang telah dijual tetapi belum dibayar harganya oleh pembeli. Permohonan kepada pengadilan untuk dilakukan sita revindicatoir tidak memerlukan adanya dugaan beraslasan terlebih dahulu bahwa si tersita akan menggelapkan atau akan melenyapkan barang yang dimohonkan sita. d) Sita Matrial atau Matrimonial Sita matrial tidak didapat di dalam HIR dan RBg, melainkan terdapat pada BW (Burgerlijke Wetboek) dan Rsv (Reglement op de Burgelijke

Rechtsvordering). Sita matrial adalah sita yang diajukan istri ke pengadilan agar selama masa sengketa perceraian yang sekaligus harta bersama di pengadilan, agar si suami tidak mentransfer atau menujual harta bersama tersebut (gono-gini). Sita ini diaukan istr karena menurut BW si istri tidak mampu bertindak hukum kecuali atas bantuan suaminya, sehingga yang mungkinmenjual atau mentransfer harta adalah suami.

13