Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan Negara yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya.

Sumber daya alam yang ada tersebar diseluruh penjuru tanah air. Tidak mengherankan lagi jika masyarakat dunia menganggap Indonesia sebagai surganya dunia. Banyak masyarakat manca negera yang kemudian berdatangan ke Indonesia dengan berbagai tujuan. Ada yang mempunyai tujuan sekedar rekreasi belaka, ada juga yang ingin berinvertasi di bumi pertiwi. Kehadiran turis-turis asing pun secara ekonomisnya tentu akan semakin menambah pundi-pundi perbendaharaan Negara. Apalagi pemerintah kita yang seolah memberikan para turis khususnya pemilik modal untuk berinvestasi. Kenyataan ini sontak mendapatkan sambutan yang cukup baik dari pihak asing. Beberapa perusahaan besar asing pun didirikan di tanah pertiwi. Contohnya saja PT Free Port, New Moont Minahasa, dan berbagai jenis perusahaan-perusahaan lainnya. Melihat realita diatas, kita sebagai putra bangsa memang patut untuk bersyukur. Akan tetapi cerita tinggal cerita. Segumpalan donggeng yang indah terdengar ditelingga kita berbanding terbalik dengan realita kehidupan ekonomi bangsa. Tidak banyak dipungkiri bahwa masih banyak rakyat indonesia yang hidup dibawah bayang-bayang kemiskinan. Tentu, realita ini sangat kontraproduktif dengan semakin bertambah pesatnya perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. Ternyata, bukan suatu jamininan semakin banyak investor di suatu negeri maka negeri itu akan menjadi Negara penguasa perekonomian. Inilah kenyataan yang harus dihadapi oleh Indonesia. Bahkan banyak rakyat kita yang kemudian menjadi kuli dinegeri sendiri. Menguak antara fakta dan realita tentang sumber daya alam Indonesia memang tidak ada habisnya. Untuk itu, penulis disini lebih menekankan pada pandangan fisikal mengenai sumber daya alam. Oleh karenanya, disini penulis akan mengkaji lebih mendalam mengenai beberapa sub-sumber daya alam yang sekirannya menarik untuk di telaah lebih mendalam. Diantarannya penulis akan mengkaji mengenai sumber daya hutan, pantai/laut, mineral, minyak dan gas, air dan lahan. Inilah serangkaian materi pokok yang sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam.

B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Bagaimanakah cara pemanfaatan sumber daya hutan bagi kehidupan manusia? Bagaimanakah cara pemanfaatan sumber daya pantai/laut bagi kehidupan manusia? Bagaimanakah cara pemanfaatan sumber daya mineral bagi kehidupan manusia? Bagaimanakah cara pemanfaatan sumber daya minyak dan gas bagi kehidupan manusia? 5. 6. Bagaimanakah cara pemanfaatan sumber daya air bagi kehidupan manusia? Bagaimanakah cara pemanfaatan sumber daya lahan bagi kehidupan manusia?

C. TUJUAN 1. 2. Mengetahui tentang cara pemanfaatan sumber daya hutan bagi kehidupan manusia. Mengetahui tentang cara pemanfaatan sumber daya pantai/laut bagi kehidupan manusia. 3. Mengetahui tentang cara pemanfaatan sumber daya mineral bagi kehidupan manusia. 4. Mengetahui tentang cara pemanfaatan sumber daya Bagaimanakah cara pemanfaatan sumber daya minyak dan gas bagi kehidupan manusia. 5. 6. Mengetahui tentang cara pemanfaatan sumber daya air bagi kehidupan manusia. Mengetahui tentang cara pemanfaatan sumber daya lahan bagi kehidupan manusia.

BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN MANAJEMEN SUMBER DAYA ALAM Pengelolaan sumber daya dapat diartikan sebagai usaha secara sadar untuk memelihara atau memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar dapat terpenuhi dengan sebaik-baiknya. Kebutuhan dasar terutama untuk kelangsungan hidup yang manusiawi tidak sama untuk semua golongan masyarakat dan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Pengelolaan lingkungan haruslah bersifat lentur, dengan sifat yang lentur kita berusaha untuk tidak menutup pilihan golongan masyarakat tertentu untuk mendapatkan kebutuhan dasarnya. Pengelolaan sumber daya sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak manusia ada telah melakukan pengelolaan sumber daya manusia pemburu harus mencari dan mengejar hewan buruannya, hasilnya tidak dapat dipastikan kadang-kadang banyak dan kadang-kadang sedikit. Jenis hawan tangkapan pun tidak dapat dipastikan. Untuk dapat lebih memastikan jumlah tangkapan manusia menjinakkan dan memelihara hewan tertentu sebagai ternak. Manusia membuat padang rerumputan dan menjaga hewan ternaknya dari serangan binatang buas. Interaksi antara manusia dan lingkungan hidup menjadi bagian penting kebudayaan manusia yang mengandung nilai-nilai tertentu. Dengan demikian pengelolaan sumber daya merupakan bagian dari kebudayaan manusia. Keserasian merupakan unsur pokok dalam kebudayaan kita. Dalam pandangan ini sistem sosial manusia bersama sistem biogeofisik membentuk satu kesatuan yang disebut Sosiobiogeofisik. Dengan demikian manusia merupakan bagian dari ekosistem dan bukan merupakan bagian luarnya. Walaupun sistem biogeofisik merupakan sumber daya bagi manusia namun pemanfaatan biogeofisik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kerusakan pada ekosistem, pandangan ini bersifat ekosentris. Berdasarkan pandangan hidup yang holistis diatas orang jawa mempunyai ajaran tradisional memayu ayuning buwono yang secara harfiah berarti membuat bumi cantik. Ajaran ini didasarkan pada pengamatan bahwa manusia dan lingkungan hidupnya merupakan satu kesatuan. Walaupun ajaran itu ada, dalam prakteknya ajaran itu tidak selalu diterapkan.

Bahaya yang sedang kita hadapi sekarang adalah kita merasa sebagai mahluk yang paling kuat dan segalanya dapat dibereskan oleh teknologi. Penggunaan teknologi memacu pada pertumbuhan ekonomi. Di negara maju pertumbuhan ekonomi menjadi umpan balik untuk penelitian dan pengembangan teknologi sehingga ekonomi dan teknologi saling memacu perkembangannya. Manusia merupakan pengelola lingkungan hidup sehingga dari masing-masing kita ini adalah sang pengelola lingkungan hidup namun banyak orang yang tidak menyadarinya. Jika kita dapat menyadarkan masyarakat bahwa masyarakat mempunyai kewajiban untuk mengelola lingkungannya dengan baik seperti yang tertera dalam Undang-Undang No. 4 tahun 1982 tentang ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup. Budaya sadar lingkungan haruslah ditanamkan kepada anak-anak. Sehingga tumbuhlah sikap ramah terhadap lingkungan. Walaupun terlihat sulit, tetapi beberapa hasil nyata dapat dicapai misalnya saat ini banyak anak yang tahu untuk tidak membuang sampah sembarang tempat melainkan membuangnya ditempat sampah. Orientasi manajemen pada awal peradaban manusia adalah pemenuhan kebutuhan hidup dan keseimbangan ekosistem. Ini dapat diamati dari kehidupan suku-suku primitif yang menempatkan SDA sebagai mitra kehidupan mereka bahkan dipercaya dikuasai oleh kekuatan alam yang juga menguasai kehidupan mereka. Namun, perkembangan pola pikir manusia telah menempatkan SDA sebagai suatu modal (capital) yang harus dikuasai, dikelola dan dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Manajemen yang menempatkan SDA sebagai suatu modal umumnya berorientasi pada eksploitasi. Selain eksploitasi SDA secara maksimal maka ciri utama dari manajemen ini adalah pihak-pihak yang mengklaim sebagai penguasa yang sah dari SDA tersebut. Akibatnya ada pihak yang merasa diuntungkan atau dirugikan. Bila terjadi fraksi maka mereka yang terlibat akan sibuk mencari pihak yang sebaiknya disalahkan dan berusaha untuk mencari kemenangan. Akibatnya substansi terpenting dari permasalahan yaitu kerusakan SDA justru terabaikan. Model manajemen seperti ini diterapkan di banyak kawasan. Salah satu contoh kecilnya adalah di kawasan hutan lindung Yeh Embang yang kasusnya terus berkembang ke arah negatif (Bali Post, 9 Februari 2007). Kerusakan alam yang semakin parah di berbagai belahan bumi ini mungkin dapat menginspirasi kita untuk kembali pada manajemen SDA di masa awal peradaban

manusia.

Namun perkembangan

kebutuhan

manusia

jelas tidak

mendukung

diterapkannya manajemen seperti ini secara utuh. Karena itu perlu dilakukan beberapa perbaikan pada sistemnya. Manajemen yang dimaksud adalah manajemen berorientasi pada konservasi. Wacana tentang manajemen SDA berorientasi konservasi telah lama dipaparkan kepada publik. Namun karya nyatanya belum ada, kalaupun ada hanya berupa retorika yang dituangkan dalam berbagai legal formal tanpa taring. Sulitnya realisasi ini dikarenakan tidak pahamannya publik pada konsep konservasi. Konservasi merupakan rangkaian kegiatan yang mengintegrasikan pemeliharaan ekosistem, pengelolaan keragaman hayati, pengelolaan lingkungan, pendidikan, dan pemecahan masalah di suatu kawasan. Definisi ini mengisyarakan bahwa objek utama manajemen bukan hanya SDA. Namun, juga komunitas manusia yang berada dalam kawasan konservasi. Artinya, kelangsungan hidup mereka dapat terjamin sehingga tercipta sinergi kerja yang baik untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Manajemen SDA berorientasi konservasi diawaki oleh seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan SDA. Tidak ada pihak yang lebih berkuasa dari pihak lainnya, sehingga tidak ada pihak yang lebih diuntungkan atau dirugikan. Kalaupun ada penguasa maka penguasa tersebut adalah generasi yang akan datang. Jadi manajemen model ini selain menjamin kelestarian SDA juga secara otomatis menjamin kehidupan manusia di masa depan. Seiring dengan klaim bahwa manusia telah memasuki peradaban modern maka arogansi manusia pada alam juga semakin besar. Sebagian besar manusia menganggap dirinya mampu menguasai dan mengendalikan alam. Namun, alam akan menunjukkan kuasanya saat bencana datang. Kondisi ini mungkin dapat mendorong penerapan manajemen SDA berorientasi konservasi. Karena manajemen model ini dapat memelihara alam dengan baik sehingga bisa meminimalisasi kemarahannya.

B. MANAJEMEN SUMBER DAYA HUTAN Hutan sebagai salah satu komunitas biologi memberikan kontribusi terbesar dalam kehidupan. Aspek-aspek yang terkait terhadap ekologi hutan sangat beragam. Untuk orang-orang yang sangat interest terhadap keberadaan hutan, sudah selayaknya konsep ekologi diterapkan dalam pengelolaan hutan.

Ekologi hutan merupakan ilmu dasar yang penting sebagai ilmu yang dijadikan dasar bagi beberapa bidang ilmu kehutanan, misalnya manajemen hutan, dan perlindungan hutan. Ekologi hutan mempunyai cakupan yang luas mengingat bahwa hutan itu merupakan suatu ekosistem. Mengingat ekosistem itu kompleks, demikian juga hutan itu merupakan ekosistem yang kompleks, maka para ahli ekologi harus mampu memahami hutan secara menyeluruh. Hal ini sangat dirasakan pentingnya kemampuan tersebut karena adanya kenyataan terjadinya perubahan yang sangat cepat pada kondisi ekosistem hutan termasuk hutan Indonesia sebagai akibat dari aktivitas manusia yang tidak memperhatikan aspek ekologi. Beberapa contoh misalnya penebangan dan pembakaran hutan untuk peladangan, konversi hutan mangrove menjadi areal pertambakan, serta kegiatan pemanfaatan sumber daya alam lainnya yang cenderung mengubah keseimbangan ekosistem jauh dari kemampuan pemulihannya. Manusia yang memanfaatkan atau mengelola ekosistem tersebut harus mempunyai pengetahuan ekologi (ekologi hutan) dan mau menerapkan dalam setiap kegiatan pemanfaatan dan pengelolaan hutan, sehingga hutan dapat dimanfaatkan

secara maksimal dan kelestariaannya terjamin. Berdasrkan uraian diatas, maka logis (masuk akal) bahwa setiap langkah dan tindakan manusia dalam mengelola sumber daya alam seperti air, tanah, mineral, minyak bumi, energy, dan hutan akan selalu mengakibatkan perubahan yang positif maupun negative. Dalam hal demikian, pengetahuan ekologi dapat membantu manusia untuk memanfaatkan dan melestarikan sumber daya alam. Oleh karena itu di bidang kehutanan, kesalahan pengelolaan hutan dapat dihindari jika semua orang yang terkait dengan ekosistem hutan itu memahami kaidah dan aturan main ekologi yang disebut sebagai konsep ekologi. Hutan bagi masyarakat bukanlah hal yang baru, terutama bagi masyarakat yang masih memiliki nilai-nilai dan kultur tradisional. Sejak jaman dahulu, mereka tidak hanya melihat hutan sebagai sumber daya potensial saja, melainkan memang merupakan sumber pangan, obat-obatan, energi, sandang, lingkungan dan sekaligus tempat tinggal mereka. Bahkan ada sebagian masyarakat tradisional yang meyakini bahwa hutan memiliki nilai spiritual. Sebagai sumber pangan, masyarakat sekitar hutan mengelola lahan dengan pola perladangan (talun) untuk ditanami pohon serta pada lantai hutan ditanami dengan tanaman pangan (palawija). Sebagai sumber obat-obatan dan energi, masyarakat

tradisional memanfaatkan tumbuh-tumbuhan liar yang hidup di hutan sebagai bahan obat-obatan dan bahan bakar. Bahan obat ini mereka peroleh dengan cara pemungutan langsung dari alam baik dengan kegiatan pengayaan maupun tanpa pengayaan. Begitu pula dalam hal pemenuhan kebutuhan akan sandang, masyarakat sekitar hutan memiliki teknologi sederhana yang cukup arif dalam memanfaatkan sumber daya hutan sebagai bahan baku sandang. Dalam perkembangan peradaban selanjutnya, masyarakat tradisional tidak lagi menggantungkan sumber pangan, pakaian, dan obat-obatan dari hutan secara langsung. Akan tetapi mereka menjadikan hutan sebagai sumber kegiatan ekonomi. Produkproduk hasil hutan yang mereka peroleh tidak lagi berorientasi kepada kebutuhan konsumsi mereka, melainkan juga diperdagangkan sebagai sumber mata pencaharian mereka. Ada sebuah fenomena yang perlu dikoreksi bersama berkaitan dengan peran masyarakat dalam pengelolaan hutan. Aktivitas ekonomi masyarakat di dalam hutan yang sudah merupakan kegiatan turun temurun dan menjadi sumber ketergantungan hidup selalu dicap sebagai sesuatu yang negatif. Sebutan liar selalu dilekatkan kepada kelompok masyarakat yang sudah terbiasa menggantungkan hidupnya dari mengelola lahan hutan untuk tanaman pangan dengan berladang. Pembangunan kehutanan di Indonesia selama ini ditengarai lebih berorientsi kepada penerimaan sebesar-besarnya bagi negara dengan prinsip-prinsip kelestarian. Kesejahteraan masyarakat sekitar hutan sendiri sebagai pemilik relatif terabaikan dengan digusurnya peran masyarakat dalam kegiatan pengelolaan hutan. Adanya fenomena bahwa masyarakat sekitar hutan yang selama ini identik dengan kemiskinan tetap saja pada predikat semula, miskin, adalah bukti yang lebih kongkrit lagi. Perkembangan tingkat pendidikan yang terjadi tidaklah menampakkan perbedaan yang berarti antara ada dan tidak adanya kegiatan pengusahaan hutan. Sebuah paradigma baru dalam pembangunan kehutanan Indonesia menapaki abad ke-21 membuka harapan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Asas pembangunan kehutana yang berkeadilan dan berkelanjutan, meletakaan masyarakat sebagai subjek dalam kegiatan pengelolaan hutan secara aktif dan intrasistem. Orientasi pembangunan kehutanan tidak lagi dititik beratkan pada penerimaan yang sebesar-besarnya bagi negara, melainkan juga sebagai sumber pendapatan masyarakat melalui perannya baik

secara individu maupun dalam bentuk koperasi. Demikian pula pengelolaan sumber daya hutan , dituntut untuk lebih memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan ekologi secara seimbang, sebagai indikator pengelolaansumber daya hutan lestari (sustanable forest management). Hal ini disadari karena adanya pergeseran paradigma pengelolaan hutan dari pengelolaan hutan untuk menghasilkan kayu (timber-based forest management) berbasis negara (state-based) kepada pengelolaan ekosistem sumber daya hutan untuk menghasilkan kayu, bukan kayu dan jasa lingkungan (ecosystem-based forest management) berbasis masyarakat (community-based). Disamping itu, tuntutan adanya pergeseran paradigma dan tatakelola

pemerintahan yang baik (good governance) juga menjadi pemicu dan pendorong adanya pergeeran sistem pengelolaan hutan dari yang sudah dipraktekan sebelum era reformasi dan desentralisasi pemerintahan. Untuk menanggulangi kerusakan hutan dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Kerusakan hutan yang disebabkan karena ladang berpindah dilakukan dengan cara membina masyarakat untuk menjadi petani tetap. Kerusakan hutan yang disebabkan oleh perambah hutan dilakukan transmigrasi dan menindak sesuai ketentuan yang berlaku. Pemerintah juga melakukan reboisasi dan kegiatan penghijauan. HTI (Hutan Tanaman Indonesia) juga melakukan

penanggulangan kerusakan hutan. Untuk mencegah kerusakan hutan HPH harus melaksanakan sistem silvikultur, yaitu dengan cara:
1. 2.

Pemegang HPH wajib mempersiapkan persemaian dari jenis kayu komersial Pohon yang boleh ditebang adalah pohon komersial dengan diameter setinggi dada sebesar 50cm

3.

Dalam 1 ha hutan yng ditebang harus ditinggalkan 25 pohon dengan diameter setinggi dada lebih dari 35cm yang tersebar secara merata

4.

Dilakukan penanaman sulam atau pengayaan dari persemaian yang telah disiapkan.

C. MANAJEMEN SUMBER DAYA PANTAI/LAUT Menurut Sain dan Krecth Pengelolaan Pesisir Terpadu (P2T) adalah proses yang dinamis yang berjalan secara terus menerus, dalam membuat keputusan-keputusan tentang pemanfaatan, pembangunan dan perlindungan wilayah dan sumberdaya pesisir dan lautan. Bagian penting dalam pengelolaan terpadu adalah perancangan proses

kelembagaan untuk mencapai harmonisasi dalam cara yang dapat diterima secara politis. Pengelolaan Pesisir Secara Berkelanjutan Suatu kegiatan dikatakan keberlanjutan, apabila kegiatan pembangunan secara ekonomis, ekologis dan sosial politik bersifat berkelanjutan. Berkelanjutan secara ekonomi berarti bahwa suatu kegiatan pembangunan harus dapat membuahkan pertumbuhan ekonomi, pemeliharaan capital (capital maintenance), dan penggunaan sumberdaya serta investasi secara efisien. Berkelanjutan secara ekologis mengandung arti, bahwa kegiatan dimaksud harus dapat mempertahankan integritas ekosistem, memelihara daya dukung lingkungan, dan konservasi sumber daya alam termasuk keanekaragaman hayati (biodiversity), sehingga diharapkan pemanfaatan sumberdaya dapat berkelanjutan. Sementara itu, berkelanjutan secara sosial politik mensyaratkan bahwa suatu kegiatan pembangunan hendaknya dapat menciptakan pemerataan hasil pembangunan, mobilitas sosial, kohesi sosial, partisipasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat (dekratisasi), identitas sosial, dan pengembangan kelembagaan (Wiyana, 2004). Pengelolaan Pesisir Berbasis Masyarakat Pengelolaan berbasisi masyarakat dapat diartikan sebagai suatu system pengelolaan sumber daya alam disuatu tempat dimana masyarakat lokal ditempat tersebut terlibat secara aktif dalam proses pengelolaan sumber daya alam yang terkandung didalamnya (Nurmalasari, 2001). Di Indonesia pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat sebenarnya telah ditetapkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Ketentuan tersebut secara tegas menginginkan agar pelaksanaan penguasaan Negara atas sumber daya alam khususnya sumber daya pesisir dan lautan diarahkan kepada tercapainya manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat banyak, dan juga harus mampu mewujudkan keadilan dan pemerataan sekaligus memperbaiki kehidupan masyarakat pesisir serta memajukan desa-desa pantai. Kewenangan daerah di bidang kelautan Luas wilayah pesisir Indonesia dua per tiga dari luas daratan dan garis pantainya 95.161 kilometer atau terpanjang kedua di dunia (Muttaqiena dkk, 2009). Pada masa

Orde Baru, pengaturan wilayah pesisir dan laut lebih banyak dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Hal ini dapat dilihat pada Undang-Undang Nomor 24 1992 tentang Penataan Ruang Pasal 9 ayat 2 dimana dinyatakan bahwa wilayah lautan wilayah udara diatur secara terpusat menurut undang-undang. Namun dimasa reformasi dengan kelahiran Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, Kabupaten/Kota memiliki kewenangan mengatur wilayah perairan yang ada di wilayahnya sejauh 4 mil dari garis Pantai. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah memberikan kewenangan yang luas kepada Daerah Kabupaten dan Kota untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan kewenangan daerah di wilayah laut adalah :
1.

Eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut

2. 3. 4.

Pengaturan kepentingan administratif Pengaturan ruang Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah

5.

Bantuan penegakan keamanandan kedaulatan Negara. Yang termasuk wilayah laut Daerah Propinsi adalah sejauh dua belas mil laut

yang diukur dari garis pantai arah laut lepas dan atau kearah perairan kepulauan. Sedangkan wilayah laut Daerah Kabupaten dan Kota adalah sepertiga dari wilayah laut Daerah Propinsi. Dengan memperhatikan ketentuan tersebut maka daerah pesisir merupakan kewenangan dari Daerah Kabupaten dan Kota. Daerah pesisir sebagai transisi dari ekosistem darat dengan ekosistem darat ekosistem alut berada dalam kewenagan daerah di bidang kelautan. Sesuai dengan Undang-Undang 22/1999 yang menyatakan bahwa wilayah laut dari Kabupaten/Kota adalah sepertiga dari wilayah laut Propinsi berarti sepanjang 4 (empat) mil laut dari garis pantai, maka wilayah pesisir berada dalam kewenangan Daerah Kabupaten atau Kota setempat. Selain itu juga diterbitkan Undang-Undang Nomor 2007 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sebagai Negara kepulauan, wilayah pesisir dimiliki oleh seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Berdasarkan data jumlah

10

Kabupaten/Kota yang ada di Indonesia pada tahun 2002, sebanyak 219 Kabupaten/Kota (68%) diantaranya memiliki wilayah pesisir. Kabupaten/Kota di Indonesia masingmasing memiliki karakteristik fisik wilayah pesisir yang satu sama lain berbeda didalam pengelolaan wilayah pesisir. Akan tetapi hingga akhir 2004, perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir baik ditingkat pusat maupun di tingkat daerah lebih banyak bersifat sektoral (Muttaqiena dkk, 2009). Pemanfaatan dan pengelolaan potensi pesisir di daerah Secara alamiah potensi pesisir di daerah dimanfaatkan langsung oleh masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan tersebut yang pada umumnya terdiri dari nelayan. Nelayan di pesisir memanfaatkan kekayaan laut mulai dari ikan, rumput laut, terumbu karang dan sebagainya untuk memenuhi kebutukan hidupnya. Pada umumnya potensi pesisir dan kelautan yang di manfaatkan oleh nelayan terbatas pada upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Pemanfaatan potensi daerah pesisir secara besar-besaran untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomis dalam rangka peningkatan pertumbuhan perekonomian rakyat belum banyak dilakukan. Pemanfaatan pesisir untuk usaha ekonomi dalam skala besar baru dilakukan pada sebagian Kabupaten dan Kota yang berada di daerah pesisir. Pada umumnya usaha ekonomi pemanfaatan daerah pesisir ini bergerak disektor pariwisata. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah berupaya untuk memanfaatkan potensi daerah pesisir ini untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Disamping itu Pemerintah Daerah juga memanfaatkan potensi daerah pesisir ini untuk meningkatkan pertumbuhan dan perekonomian masyarakat di daerah. Mengingat kewenangan daerah untuk melakukan pengelolaan bidang kelautan ang termasuk juga daerah pesisir masih merupakan kewenangan baru bagi daerah maka pemanfaatan potensi daerah pesisir ini belum sepenuhnya dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten atau kota yang berada di pesisir. Jadi belum semua Kabupaten dan Kota yang memanfaatkan potensi daerah pesisir. Permasalahan pemanfaatan dan pengelolaan pesisir Pemanfatan dan pengelolaan daerah pesisir yang dilakukan oleh masyarakat maupun daerah sebagian belum memenuhi ketentuan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan. Hal ini akan berpengaruh terhadap kondisi dan

11

kelestarian pesisir dan lingkungannya. Penyebab degradasi kondisi daerah pesisir secara tidak langsung juga disebabkan oleh pengelolaan sumber daya alam di hulu yang berpengaruh terhadap muara di pesisir. Kebijakan reklamasi yang tidak berdasarkan kepada analisa dampak lingkungan pada beberapa daerah juga berpengaruh terhadap ekosistem dipesisir. Perizinan pengembangan usaha bagi kelangan dunia usaha selama ini sebagian besar menjadi kewenangan pusat. Kadangkala dalam hal ini pemberian izin tersebut tanpa memperhatikan kepentingan daerah dan masyarakat setempat. Jika kita perhatikan berbagai permasalahan yang timbul dalam pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.

Pemanfaatan dan pengelolaan daerah belum diatur dengan peraturan perundangungan yang jelas, seingga daerah mengalami kesulitan dalam menetapkan sesuatu kebijakan.

2.

Pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir cendrung bersifat sektoral, sehingga kadangkala melahirkan kebijakan yang tumpang tindih satu sama lain.

3.

Pemanfatan dan pengelolaan daerah pesisir belum memperhatikan konsep daerah pesisir sebagai suatu kesatuan ekosistem yang tidak dibatasi oleh wilayah administratif pemerintahan, sehingga hal ini dapat menimbulkan konflik kepentingan antar daerah

4.

Kewenangan daerah dalam rangka otonomi daerah belum dipahami secara komprehensif oleh para stakeholders, sehingga pada setiap daerah dan setiap sector timbul berbagai pemahaman dan penafsiran yang berbeda dalam pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir. Menurut APKASI isu-isu penting yang perlu segera diluruskan dalam

pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir ke depan antara lain, yaitu :


1.

Adanya kesan bahwa sebagian daerah melakukan pengkaplingan wilayah laut da pantainya. Utuk itu perlu diterapkan oleh pusat pedoman bagi pelaksanaan kewenangan daerah di bidang kelautan.

2.

Pemanfaatan daearah terhadap daerah pesisir sebagai suatu kesatuan ekosisitem yang tidak dibatasi oleh batas wilayah administrative pemerintahan.

3.

Pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir secara alami dan berkelanjutan.

12

Kebijakan, strategi dan perencanan pengelolaan wilayah pesisir Kebijakan nasional yang terkait dengan pengelolaan wilayah laut dan pesisir adalah sebagai berikut : 1. Revitalisasi kawasan berfunsi lindung, mencakup kawasan-kawasan lindung yang terdapat di wilayah darat dan wilayah laut/pesisir, daalm rangka menjaga kualitas lingkungan hidup sekaligus mengamankan kawasan pesisir dari ancaman bencana alam. Salah satu factor penyebab berbagai permasalahan di wilayah laut dan pesisir adalah hilangnya fungsi lindung kawasan-kawasan yang seharusnya ditetapkan sebagai kawasan lindung, termasuk kawasan lindung di wilayah daratan yang mengakibatkan pendangkalan perairan pesisir, kerusakan padang lamun, dan kerusakan terumbu karang (coral bleaching). 2. Pengembangan ekonomi masyarakat pesisir berbasis potensi dan kondisi sosial budaya setempat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui

pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir secara optimal dan berkelanjutan. Peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir merupakan salah satu kunci dalam mengurangi tekanan terhadap ekosistem laut dan pesisir dari pemanfaatan sumber daya yang tidak terkendali. 3. Peningkatan pelayanan jaingan prasarana wilayah untuk menunjang pengembangan ekonomi di wilayah laut dan pesisir. Ketersediaan jaringan prasrana wilayah yang memadai akan menunjang pemanfaatan sumber daya kelautan dan pesisir secara optimal serta menunjang fungsi pesisir sebagai simpul koleksi-distribusi produk kegiatan ekonomi masyarakat. Konsep pengelolaan wilayah pesisir adalah fokus pada karakteristik wilayah dari pesisir itu sendiri, dimana inti dari konsep pengelolaan pengelolaan wilayah adalah kombinasi dari pembangunan adaptif, terintegrasi, lingkungan, ekonomi dan sistem sosial. Strategi dan kebijakan yang diambil didasarkan pada karakteristik pantai, sumberdaya, dan kebutuhan pemanfaatannya. Oleh karena itu dadalam proses perencanaan wilayah pesisir, dimungkinkan pengambilan keputusan diarahkan pada pemeliharan untuk generasi yang akan dating (pembangunan berkelanjutan). Idealnya, dalam sebuah proses pengelolaan kawasan pesisir yang meliputi perencanaan, implementasi dan evaluasi, harua melibatkan minimal tiga unsure yaitu ilmuawan, pemerintah, dan masyarakat. Proses alam lingkungan pesisir dan perubahan ekologi

13

hanya dapat dipahami oleh ilmuan dan kemudian pemahaman tersebut menjadi basis pertimbangan bagi pemerintah untuk melaksanakan program pembangunan yang menempatkan masyarakat pesisir sebagai pelaku dan tujuan meningkatkan sosial ekonomi kawasan. . Menurut Muttaqiena dkk, perencanaan pembangunan pesisir secara terpadu harus memperhatikan tiga prinsip pembnagunan berkelanjutan untuk pengelolaan wilayah pesisir yang dapat diuraikan sebagai berikut ;
1.

Instrumen ekonomi lingkungan telah menjadi bagian dari pengambilan keputusan, yang memasukkan parameter lingkungan untuk melihat analisis biaya manafaat (cost benefit analysis). Misalnya pembangunan pabrik di wilayah pesisir harus memperhitungkan tingkat pencemarannya terhadap laut, perlunya pengelolaan limbah ikan di Tempat Pelelangan Ikan, dan lain-lain.

2.

Isu lingkungan seperti konservasi keanekaragaman hayati menjadi perhatian utama dalam pengambilan keputusan.

3.

Pembangunan berkelanjutan sangat memperhatikan kualitas hidup manusia pada saat sekarang dan masa yang akan dating, termasuk didalamnya adalah sarana pendidikan bagi masyarakat pesisir, penyediaan fasilitas kesehatan dan sanitasi yang memadai, dan mitigasi bencana. Strategi pengelolaan tersebut merupakan upaya-upaya pemecahan masalah-

masalah wilayah pesisir yang yang harus dipecahkan melalui program-program pembangunan. Lebih lanjut lagi dapat disimpulkan bahwa factor-faktor yang harus diperhatikan berkenaan dengan program-program pengelolaan sumberdaya pesisir yaitu;
1.

Pemerintah harus memiliki inisiatif dalam menanggapi berbagai permasalahan degradasi sumberdaya yang terjadi dan konflik yang melibatkan banyak kepentingan.

2.

Batas wilayah hukum secara geografis harus ditetapkan (meliputi wilayah perairan dan wilayah darat)

3.

Dicirikan dengan integrasi dua atau lebih sektor, didasarkan pada pengakuan alam dan sistem pelayanan umum yang saling berhubungan dalam penggunaan pesisir dan lingkungan.

14

D. MANAJEMEN SUMBER DAYA MINERAL Ada beberapa unsur yang membentuk konsep manajemen sumberdaya mineral di indonesia, yaitu konsep atau konsepsi yang mempunyai pengertian sebagai strategi dasar, teknologi yang mencakup teknik atau cara untuk memanfaatkan sesuatu, dalam hal ini sumberdaya mineral, dan manajemen yaitu pengetahuan untuk mengelolanya. Penemuan mineral-mineral baru serta hasil olahannya telah meningkatkan peradaban umat manusia. Dengan meningkatnya peradaban itu, atau meningkatnya kualitas manusia, tercipta pula teknologi baru yang menghasilkan barang-barang baru demikian seterusnya, sehingga melalui teknologi, mineral meningkatkan peradaban manusia dan pada gilirannya manusia menciptakan teknologi untuk menambah pemanfaatan mineral tersebut. Nilai tambah (added value) suatu barang menyebabkan barang tersebut bertambah kegunaanya bagi umat manusia. Hal termaksud harus merupakan kebijakan dalam pengembangan sumberdaya mineral. Terutama karena sumberdaya mineral tersebut akan habis setelah sekali pakai (depleted). Karena itu kesempatan untuk memanfaatkannya hanya ada satu kali; sekali salah kebijaksanaannya, sumberdaya itu akan hilang untuk selamanya. Sekiranya sumberdaya mineral itu digali dan tidak menimbulkan kesejahteraan atau peningkatan kualitas sumberdaya manusia, maka bukan saja mineralnya yang habis, tetapi juga manusianya itu sendiri tak berubah kesejahteraan atau kualitasnya. Karena kualitas manusia tidak berubah, maka mereka tidak akan mampu mencari cebakan baru untuk menggantikan cebakan lama. Pengetahuan di bidang teknik geologi meletakkan dasar yang kuat pada bagian hulu teknologi mineral, yaitu teknologi mencari dan mengukur atau memperkirakan cadangan mineral yang terdapat didalam perut bumi. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan metodologi, cara, atau juga teori dan hipotesis. Tahapan yang dilalui untuk dapat menemukan suatu cebakan mineral dimulai dari pemetaan geologi secara umum, survei geofisika, survei geokimia, prospekting, pembuatan sumuran, parit, dan sebagainya, yang merupakan bagian awal dari eksplorasi rinci dalam rangka pengembangan suatu pertambangan, tahap-tahap ini dikelompokkan dalam tahap yang lebih besar, tahap penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, eksploitasi, pengolahan, pengangkutan dan pemasaran. Aperta Ledy Alam, ST [ 2010-07-05 ] ahli pertambangan, teknologi penambangan merupakan materi yang utama, sebagaimana juga untuk bidang lainnya yang berada

15

pada fase pengolahan bahan galian tersebut sampai siap menjadi komoditas. Ahli ekonomi atau ahli pemasaran sangat penting perannya dalam membawa komoditas itu sampai ketangan konsumen. Terlebih-lebih lagi, komoditas tambang tidak dikonsumsi oleh kalangan yang luas, melainkan oleh kalangan tertentu, yaitu pabrik industri dan sebagainya. Dalam hal ini kontrak dan berbagai peraturan yang berlaku yang mengatur pemanfaatan sumberdaya mineral tersebut perlu dikuasai oleh ahli hukum. Dari uraian tersebut terlihat bahwa dalam pengelolaan sumberdaya mineral diperlukan berbagai keahlian atau tim ahli. Kemampuan manajemen berbagai ahli tersebut diperlukan untuk mengubah potensi yang berada dalam perut bumi menjadi potensi nyata yang bermanfaat bagi umat manusia. Pengetahuan rinci mengenai bidang masing-masing menjadi dasar dalam berbagai pengembangan sumberdaya mineral, yang selanjutnya disimpulkan dalam suatu upaya yang efektif dan efisien, yaitu manajemen. Beragam tantangan dan peluang mewarnai pelaksanaan kewenangan yang telah dilimpahkan dalam rangka Otonomi Daerah. Tantangan berhubungan dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki Daerah, sedangkan peluang merupakan potensi Daerah yang masih belum tergali. Keduanya merupakan permasalahan yang harus diselesaikan agar Daerah dapat memperoleh keuntungan maksimal dari diberlakukannya Otonomi Daerah. Dalam era Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah berpeluang untuk meningkatkan PAD dengan cara menarik sebanyak banyaknya modal investor masuk ke daerah. Dengan banyaknya modal yang berputar di daerah, maka secara langsung maupun tidak langsung tentu akan berpengaruh terhadap peningkatan perekonomian di daerah. Ada beberapa strategi manajemen yang dapat dilakukan daerah untuk menciptakan iklim investasi yang mendukung. Misalnya membentuk peta investasi daerah dan profil profil proyek investasi. Selain itu daerah juga dapat menyediakan insentif berupa penghapusan atau pengurangan pungutan, sekaligus memberikan pelayanan satu atap bagi perizinan yang menjadi kewenangan Daerah. Selanjutnya Daerah juga harus mempercepat pembangunan dan penyediaan infrastruktur untuk menunjang kegiatan investasi yang diharapkan. Sejalan dengan hal tersebut, pengembangan kemampuan aparat pemerintah dalam manajerial sumberdaya mineral juga perlu diprioritaskan. Melihat kepada tugas dan

16

kewajiban di bidang sumber daya mineral yang dibebankan kepada Daerah, maka di samping kesiapan para pelaksana dan manajer, diperlukan juga pengetahuan yang cukup mengenai kekayaan alam di wilayahnya. Terutama jika para calon investor sudah berdatangan ke Daerah untuk melakukan penjajakan kemungkinan investasi di bidang pertambangan. Dalam hal ini informasi adalah merupakan kekuatan dalam posisi tawar menawar dan posisi daya tarik (bargaining power). Dengan demikian diharapkan manajemen sumberdaya mineral di Daerah dapat terlaksana secara efektif dan bermanfaat bagi kemajuan Daerah. Melalui manajemen kebijakan, kepemimpinan dan tindakan yang tepat, akan mudah mengundang investor agar berinvestasi di daerah. Masuknya penanam modal ke daerah terutama dalam sektor pertambangan sudah merupakan satu keuntungan bagi daerah tersebut. Hal ini mengingat bahwa pengelolaan sektor pertambangan membutuhkan modal yang tidak sedikit, keahlian dan teknologi tinggi, dimana kesemuanya belum dimiliki oleh rata rata Daerah Otonom di Indonesia. Pada hakekatnya tingkat keberhasilan manajemen sumberdaya mineral di suatu daerah, tergantung pada kemauan dan kemampuan aparatur Pemerintah Daerah tersebut. Dengan sinergi berbagai kemampuan aparatur baik dibidang manajemen maupun disiplin ilmu teknis terkait, Daerah akan mampu mengatasi berbagai tantangan dan menangkap peluang dalam Otonomi Daerah. Selain tantangan dan peluang sebagaimana telah disampaikan di atas, permasalahan kelestarian lingkungan, sosial dan budaya setempat juga perlu mendapatkan perhatian serius. Dalam bidang ini Daerah dapat menekankan kewajiban community development bagi setiap investor yang masuk ke daerah. Dengan demikian dibutuhkan pula aparatur yang berkompeten dibidang tersebut untuk melaksanakan tugas monitoring dan evaluasi AMDAL, serta berbagai hal terkait dengan kelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat sekitar. Peraturan perundangan yang mengatur pengelolaan sumberdaya alam mineral telah cukup lengkap untuk dapat menjalankan wewenang yang diberikan kepada Daerah dalam rangka UU No. 22 tahun 1999. Pengaturan meliputi berbagai aspek pengelolaan, baik berkaitan dengan pemberian perizinan kuasa pertambangan kepada pihak pemohon dalam negeri, maupun dari luar negeri dalam bentuk Kontrak Karya. Demikian juga halnya dengan perizinan pengusahaan dalam bidang batubara yang dilakukan dengan

17

cara Kuasa Pertambangan (KP) atau dalam bentuk Perjanjian Kerja Pengusahaan Batubara. Sementara itu terdapat pula perlakuan khusus yang diberikan kepada para penambang tradisional dalam bentuk pertambangan rakyat yang diajukan secara berkelompok oleh Gubernur. Gubernur kemudian memberikan perizinan kepada masyarakat penambang. Persyaratan mengenai pertambangan rakyat dinyatakan dengan jelas, baik dalam UU No. 11 tahun 1967 maupun dalam peraturan pelaksanaannya. Apapun penyempurnaan yang akan dilakukan berkaitan dengan UU No. 22 tahun 1999, pengaruhnya di bidang pengelolaan sumberdaya mineral tidak terlalu berarti. Oleh karena itu pengetahuan teknis dan praktek pelaksanaa pengelolaan pertambangan seperti selama ini dilakukan, akan merupakan modal yang penting dalam melaksanakan desentralisasi manajemen sumberdaya mineral di daerah. E. MANAJEMEN SUMBER DAYA MINYAK DAN GAS Minyak dan gas bumi merupakan sumber daya alam penting yang dimiliki Indonesia. Disamping peran minyak dan gas bumi sebagai sumber pasokan energi dan bahan bakar bagi masyarakat serta bahan baku (feedstock) bagi industri, pengelolaan sumber daya alam minyak dan gas bumi merupakan sumber penerimaan bagi Negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan pajak. Prosentase penerimaan dari minyak dan gas bumi saat ini sekitar 20% terhadap keseluruhan penerimaan Negara dalam APBN, sehingga target produksi/lifting minyak nasional dan harga minyak merupakan bagian dari asumsi utama dalam penyusunan APBN, bersama dengan kurs tukar rupiah terhadap Dollar Amerika. Perlu diperhatikan bahwa produksi minyak merupakan volume yang dikeluarkan dari perut bumi dan kemudian disimpan dalam tanki penampungan (stock). Sedangkan lifting minyak adalah volume yang diambil dari tanki penampungan (stock), diangkut dengan tanker atau melalui pipa, dan dijual.kepada pembeli. Angka produksi dan lifting untuk suatu periode tertentu sebenarnya tidak tepat sama. Namun perbedaannya tidak signifikan dan pada prinsipnya keduanya merupakan rangkaian proses eksploitasi cadangan minyak bumi. Karena kontribusinya yang besar kepada penerimaan dalam APBN,

produksi/lifting minyak nasional selalu mendapat perhatian pada saat pembahasaan asumsi APBN dan realisasinya pada akhir tahun. Untuk tahun 2010, asumsi

18

produksi/lifting minyak adalah 965 ribu barrel per hari (bph). Angka ini lebih tinggi dari asumsi untuk tahun 2009 yang besarnya 960 ribu bph, sedangkan untuk tahun 2011 asumsinya adalah 970 ribu bph. Kenaikan asumsi produksi/lifting minyak dari tahun ke tahun merupakan tantangan yang sangat berat, baik bagi para operator KKKS, BPMIGAS selaku pengawas kegiatan KKKS maupun Kementerian ESDM sebagai pembina sektor. Kegiatan eksploitasi sumber daya alam yang tidak terbarukan, termasuk minyak bumi, memiliki karakteristik penurunan alamiah (natural decline) setelah jangka waktu tertentu. Untuk Indonesia, dimana kegiatan pemanfaatan sumber daya minyak bumi sudah berlangsung selama lebih dari 100 tahun, rata-rata penurunan alamiah diperkirakan 12% per tahun. Artinya, tanpa pengembangan lapangan minyak baru dan upaya optimasi produksi di lapangan yang ada, produksi minyak nasional setiap tahun berkurang sebesar 110 ribu bph. Dengan mengintensifkan upaya optimasi produksi, antara lain dengan infill drilling dan workover, maka rata-rata penurunan alamiah diupayakan untuk berada di sekitar 3% per tahun. Besarnya tantangan dalam upaya peningkatan produksi minyak nasional tercermin pada upaya pencapain target produksi minyak tahun 2010. Pada tahun 2009, produksi minyak nasional rata-rata sebesar 949 ribu bph. Memasuki tahun 2010, sampai dengan pertengahan tahun produksi rata-rata mencapai 960 ribu bph, didukung dengan upaya optimasi produksi, pemboran sumur baru maupun hasil proyek enhanced oil recovery (EOR). Namun pada Semester II produksi minyak nasional menghadapi sejumlah kendala, antara lain meningkatnya unplanned shutdown dan extended maintenance serta masalah pada offtaker (pembeli) minyak. Di sisi lain, beberapa proyek peningkatan produksi tidak terlaksana sesuai rencana, baik dari sisi tata waktu penyelesaian proyek maupun dari sisi tambahan produksi yang dihasilkan. Rencana kerja pemboran dan workover pun tidak sepenuhnya terlaksana, sehingga terdapat potensi penambahan produksi yang tidak dapat direalisasikan. Akibat kendala tersebut, produksi minyak nasional selama periode Juli-November 2010 rata-rata hanya mencapai 935 ribu bph. TP3M memperkirakan produksi minyak nasional rata-rata tahun 2010 berada pada kisaran 947-948 ribu bph. TP3M mencatat bahwa kondisi peralatan produksi yang sudah lama dioperasikan oleh KKKS memang meningkatkan risiko terjadinya unplanned shutdown ataupun

19

extended maintenance. Karena itu inspeksi dan pemeliharaan rutin oleh KKKS perlu lebih ditingkatkan. Namun unplanned shutdown dan extended maintenance juga diakibatkan oleh kondisi eksternal seperti cuaca ekstrim, petir dan gelombang tinggi. Selain itu, kehilangan produksi terbesar pada tahun 2010 adalah akibat kebocoran pada pipa transmisi pasokan gas untuk proyek EOR yang sepenuhnya dioperasikan oleh perusahaan gas transporter bukan Kontraktor KKS. Demikian pula penyebab tidak tercapainya sasaran peningkatan produksi dari proyek-proyek KKKS terdiri dari berbagai faktor, antara lain kondisi sub-surface yang ternyata berbeda dengan simulasi dan keterlambatan penyelesaian proyek oleh KKKS. Namun beberapa proyek dan rencana kerja pemboran tidak dapat terlaksana karena hambatan dalam perijinan dan pengaturan tumpang tindih lahan, khususnya dengan kegiatan kehutanan dan perkebunan. Dengan meningkatnya sasaran produksi minyak menjadi sebesar 970 ribu bph dalam APBN 2011, upaya untuk mempertahankan produksi di lapangan eksisting dan proyek peningkatan produksi hendaknya perlu dilaksanakan dan diawasi secara lebih intensif. Evaluasi TP3M memperkirakan produksi minyak nasional rata-rata pada bulan Desember 2010 akan mencapai 940 ribu bph. Dengan asumsi bahwa penurunan alamiah dapat ditahan pada tingkat 3% per tahun, maka untuk dapat mencapai sasaran APBN 2011 sebesar 970 ribu bph diperlukan tambahan produksi minyak dari proyek baru sebesar 58 ribu bph. Karena itu, diperlukan upaya meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan program kerja KKKS, khususnya pemboran dan workover, identifikasi potensi dan upaya peningkatan produksi, serta evaluasi terhadap kejadian unplanned shutdown dan extended maintenance. Lingkup pengawasan juga perlu diperluas dengan mencakup pihak-pihak yang menunjang KKKS dalam mencapai sasaran produksi minyak, seperti transporter dan offtaker. Dengan upaya ini diharapkan setiap potensi kendala dapat diantisipasi dan diatasi, termasuk apabila diperlukan koordinasi dan dukungan Pemerintah untuk penyelesaian masalah yang terkait dengan regulasi, perijinan maupun tumpang tindih lahan. Penyelesaian berbagai tantangan dalam upaya mencapai sasaran produksi minyak dalam APBN tidak cukup hanya dihadapi oleh KKKS, BPMIGAS dan Kementerian ESDM, namun memerlukan pula dukungan dan kerjasama dari pihak terkait lainnya.

20

BP Migas dibentuk sebagai amanat UU No. 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi pasal 4 ayat (3) Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan membentuk Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 23. Dalam melaksanakan amanat pasal 4 ayat (3) tersebut Pemerintah menetapkan PP No. 42 tahun 2002 tentang Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Adapun tugas dan fungsi Badan Pelaksana menurut ketentuan dan aturan perundang-undangan sebagai berikut : 1. UU Migas No. 22 tahun 2001 pasal 1 angka 23 disebutkan bahwa, Badan Pelaksana adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengendalian Kegiatan Usaha Hulu di bidang Minyak dan Gas Bumi. Jadi dapat disimpulkan bahwa BP Migas mempunyai tugas melakukan pengendalian Kegiatan Usaha Hulu di bidang minyak dan gas bumi; 2. PP Nomor 42 tahun 2002 pasal 10 bahwa, Badan Pelaksana mempunyai fungsi melakukan pengawasan terhadap Kegiatan Usaha Hulu agar pengambilan sumber daya alam Minyak dan Gas Bumi milik negara dapat memberikan manfaat dan penerimaan yang maksimal bagi negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dan dipertegas dengan pasal 11 bahwa untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, Badan Pelaksana mempunyai tugas: a. Memberikan pertimbangan kepada Menteri atas kebijaksanaannya dalam hal penyiapan dan penawaran Wilayah Kerja serta Kontrak Kerja Sama; b. c. Melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja Sama; Mengkaji dan menyampaikan rencana pengembangan lapangan yang pertama kali akan diproduksikan dalam suatu Wilayah Kerja kepada Menteri untuk mendapatkan persetujuan; d. Memberikan persetujuan rencana pengembangan lapangan selain sebagaimana dimaksud diatas. e. f. Memberikan persetujuan rencana kerja dan anggaran; Melaksanakan monitoring dan melaporkan kepada Menteri mengenai pelaksanaan Kontrak Kerja Sama; g. Menunjuk penjual Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi bagian negara yang dapat memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi negara.

21

Dari ketentuan dan aturan perundang-undangan diatas sudah jelas dapat disimpulkan bahwa secara fungsional Badan Pelaksana mempunyai fungsi melakukan pengawasan terhadap Kegiatan Usaha Hulu agar pengambilan sumber daya alam Minyak dan Gas Bumi milik negara dapat memberikan manfaat dan penerimaan yang maksimal bagi negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Seiring

dengan semangat peringatan hari lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni 2011 lalu, dimana Presiden menyatakan bahwa akan dilakukan renegoisasi kontrak pertambangan yang telah ada dengan mitra asing. Semoga renegoisasi kontrak ini dapat dijadikan momentum untuk membumikan pengelolaan minyak dan gas untuk bangsa. Salah satu diantaraya kebijakan DMO (Domestik Market Obligation) dimana sebagian produk minyak dan gas yang dikelola asing juga dapat dijual dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dalam negeri. Sebagaimana kita ketahui berdasarkan peta pipa gas dari lapangan migas West Natuna Consortium (WNC) yang dikelola oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama Conoco Phillips, Primeir Oil dan Star Energy bahwa produksi gas di lapangan migas WNC disalurkan sebagian besar untuk kebutuhan luar negeri Singapura dan Malaysia sebagaimana peta dibawah ini : Mudah-mudahan kedepan penyaluran gas melalui pipa gas bukan hal yang tidak mungkin untuk dapat disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri pada wilayah kabupaten/kota dalam propinsi Kepulauan Riau termasuk wilayah Natuna dan Anambas. Pemenuhan kebutuhan negeri juga sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi pasal 46 bahwa ayat (1) Kontraktor bertanggung untuk ikut serta kebutuhan minyak bumi dan/atau gas bumi untuk keperluan dalam negeri ; (2) Bagian Kontraktor dalam memenuhi keperluan dalam negeri sebagaimana dimaksud pasal (1), ditetapkan berdasarkan prorata hasil produksi minyak bumi dan/atau gas bumi; (3) Besaran kewajiban Kontraktor sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah paling banyak 25 % (duapuluh lima perseratus) bagiannya dari hasil produksi minyak bumi dan/atau gas bumi; (4) Menteri menetapkan besaran kewajiban setiap Kontraktor dalam memenuhi kebutuhan minyakbumi dan/atau gas bumi sebagaimana dimaksud ayat (3).

22

F. MANAJEMEN SUMBER DAYA AIR Pengelolaan DAS biasanya mengacu pada pengelolaan dua anasirnya (component) yang dianggap terpenting, yaitu sumberdaya tanah dan air. Adapun anasir yang lain, seperti iklim, vegetasi, relief dan manusia, diperlukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. Maksud pengelolaan DAS ialah mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuanya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. Dalam ungkapan sesuai dengan kemampuannya tersirat pengertian selaras dan lestari.

Ungkapan manfaat lengkap dan kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu mengisyaratkan bahwa (1) hasil keluaran DAS tidak boleh hanya bermacam tunggal, akan tetapi harus terdiri atas berbagai hasil keluaran yang berkombinasi secara optimum, dan (2) rencana pengelolaan harus bersifat lentur (flexible) yang berisi sejumlah alternatif. Untuk mengarahkan pengelolaan, diperlukan tiga unsur pengarah. Yang pertama diperlukan ialah variable-variabel keputusan (decision variables), yang menjadi sumber pembuatan alternatif. Yang kedua diperlukan ialah maksud dan tujuan (objectives), ini dapat sebuah atau lebih. Yang ketiga ialah kendala (constraint), yang membatasi gerak variabel-variabel keputusan dalam membuat alternatif-alternatif untuk mencapai maksud dan tujuan yang ditetapkan. Khusus mengenai pengelolaan DAS, yang dapat dipakai sebagai variebel-variabel keputusan ialah (1) keempat dasar untuk pengelolaan DAS yang telah disebutkan terdahulu (DAS selaku penghubung dua waduk air alam utama, kehadiran DAS didukung oleh kegiatan pertukaran bahan dan energi, DAS berkembang melalui proses perubahan dalam dan DAS bergatra ganda yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan), (2) pemanfaatan DAS harus dapat menimbulkan pemerataan manfaat antara daerah hulu dan hilir, dan (3) pengembangan DAS harus dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan regional dan atau nasional. Maksud atau tujuan pengelolaan DAS telah disebutkan di atas. Yang dapat ditunjuk sebagai kendala terhadap perkembangan DAS ialah iklim, relief, tanah, air, sumberdaya mineral, vegetasi, beberapa gatra tertentu manusia, ruang/luas, bentuk, ketercapaian dan keterlindasan. Pendek kata semua anasir DAS yang dikenai atau terlibat dalam pengelolaan.

23

Dalam rencana pengelolaannya, DAS dibagi menjadi dua satuan pengelolaan. Satuan pengelolaan hulu mencakup seluruh daerah tadah atau daerah kepala sungai. Satuan pengelolaan hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. Oleh Ray dan Arora (1973) istilah watershed digunakan secara terbatas untuk menamai daerah tadah, sedang daerah bawahan mereka namakan dengan istilah commanded area. Yang dinamakan commended area ialah daerah-daerah yang secara potensial berpengairan. Di DAS yang dapat dibangun suatu bendungan atau waduk maka seluruh daerah yang terkuasai oleh bangunan tersebut (daerah yang terletak dibawah garis tinggi pintu bendungan atau waduk) merupakan commended area. Pengelolaan daerah tadah ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut ini (Roy &Arora, 1973): (1) Pengendalian aliran permukaan tanah (excess) yang merusak, sebagai usaha mengendalikan banjir, (2) Memperlancar infiltrasi air kedalam tanah. (3) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna, (4) Mengusahakan semua sumberdaya tanah dan air untuk memaksimumkan produksi. Faktor-faktor yang berdaya (affect) atas program pengelolaan daerah tadahan atau DAS hulu ialah (Roy & Arora, 1973): (1) Bentuk dan luas daerah tadahan, (2) Lereng dan timbulan makro (3) Keadaan tanah, termasuk fisiografi dan hidrologi tanah, (4) Intensitas, jangka waktu dan agihan curah hujan (5) Rupa dan mutu vegetasi penutup, (6) Penggunaan lahan terkini. Tujuan pengelolaan DAS hilir dapat diringkas sebagai berikut: (1) Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi yang merugikan, sehingga tidak merusak dan menurunkan kemampuan lahan.(2) Memperbaiki pengatusan (drainage) lahan untuk meningkatkan kemampuannya. (3) Meningkatkan dayaguna air dari sumber-sumber air tersediakan. (4) Meliorasi tanah, termasuk memperbaiki daya tanggap tanah terhadap pengairan, dan kalau perlu juga reklamasi tanah atas tanah-tanah garaman, alkali, sulfat masam, gambut tebal, dan mineral mentah. Faktor-faktor pokok yang berdaya atas program pengelolaan daerah hilir ialah: (1) Bentuk daerah hilir dan perbandingan luasnya dengan luas daerah tadahan.(2) Perbedaan landaian (gradient) lereng umum daerah hilir terhadap landaian lereng umum daerah tadahan. (3) Timbulan makro, ketinggian muka lahan pukul rata, jeluk (depth) pukul rata air tanah, dan keadaan tanah.

24

(4) Intensitas, jangka waktu dan agihan curah hujan.(5) Rupa dan vegetasi penutup. (6) Penggunaan lahan kini. Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS, karena hal itu akan menentukan keuntungan yang dapat diperoleh, atau kesempatan yang terbuka, dalam pengelolaan DAS hilir. Pengelolaan DAS hilir menentukan seberapa besar keuntungan yang secara potensial dapat diperoleh karena pengelolaan DAS hulu benar-benar terwujudkan. Dengan kata lain, pengelolaan DAS hilir bertujuan meningkatkan daya tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. Pengelolaan DAS hulu bertujuan rangkap: (1) meningkatkan harkatnya sebagai lahan usaha dan atau lahan permukiman, dan (2) memperbaiki dampaknya atas DAS hilir untuk memperluas peluang memperbaiki keadaan DAS hilir. Pengelolaan DAS hilir berperanan melipatkan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. Menurut pandangan ekologi maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) bahan dan energi, atau boleh juga disebut sebagai lingkungan pengendali (conditioning environtment). Sementara itu, daerah hilir merupakan daerah penerima (acceptor) bahan dan energi, atau lingkungan konsumsi atau lingkungan yang dikendalikan (commanded environment). Dengan demikian pengelolaan DAS harus bersifat menyeluruh dan dapat memadukan bagian hulu dan hilir menjadi satu sistem.

G. MANAJEMEN SUMBER DAYA LAHAN Pengelolaan tanah Pengelolaan tanah atau managing soils merupakan pembinaan dalam hal pengolahan tanah, pembinaan-pembinaan ini dimaksudkan agar para petani atau mereka yang menggunakan tanah dapat melakukan pengolahan-pengolahan tanahnya dengan baik agar kesuburan tanah, produktivitas tanah, pengawetan tanah dan air dapat terjamin, sehingga memungkinkan terlaksananya usaha-usaha di bidang pertanian dalam jangka waktu yang panjang dari generasi ke generasi dengna hasil-hasilnya yang dapat memenuhi harapan. Kunci penting dalam usaha pengolahan tanah di tempat mana saja adalah bagaimana menjaga atau memelihara sebaik-baiknya lapisan tanah atas yang kita miliki yang tebalnya tidak lebih dari satu jengkal agar tetap dalam keadaan baik serta tidak terangkut ke lain tempat. Jadi pengertian pengelolaan sudah mencakup semua tindakan

25

yang bertujuan melindungi atau mengawetkan tanah agar kesuburannya bertahan dalam jangka panjang. Menurut Saifudin Sarief dalam Beberapa Masalah Pengawetan Tanah dan Air, 1980, pengolahan tanah adalah setiap manipulasi mekanik terhadap tanah menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Pengolahan tanah masih dianggap suatu kegiatan rutin yang harus dilakukan setiap akan bertanam tanpa mempunyai dasar yang jelas dan tidak selalu meningkatkan produksi. Peranan pengolahan tanah dalam pengaetan tanah adalah sedikit sekali bahkan dapat merugikan. Dengan pengolahan, tanah menjadi lebih gembur, tetapi pengaruhnya bersifat sementara. Tanah yang telah diolah sehingga menjadi gembur dan terbuka, lebih mudah tererosi. Pengolahan tanah sehubungan dengan usaha pencegahan erosi Pada dasarnya tanah yang gembur umunya mudah untu tererosi, sedang penggemburan tanah terjadinya akibat pengolahan-pengolahan yang kurang memakai pertimbangan. Sehubungan dengan hal tersebut untuk mencegah terjadinya erosi, maka dalam keadaan struktur dan porositas tanah masih baik pengolahan tanah sebaiknya dipertimbangkan sebagai berikut: 1. Pengolahan dilakukan secara terbatas pada perbaikan larikan-larikan tanah saja demi dapatnya dilakukan pertanaman yang baik dan teratur. 2. Pengolahan tanah biasanya dikaitkan dengan menghilangkan gulma. Sebaiknya hal ini dilakukan dengan cara penabutan saja karena apabila dilakukan pengolahan kembali tanah akan menjadi gembur lagi, sehingga membantu terjadinya erosi apabila curahan butir-butir air hujan menimpanya dan run off mulai berdaya untuk mengangkutnya butir-butir kecil tanah(partikel) yang ringan. Pengolahan tanah yang termasuk cara mekanik dan usaha pengawetan tanah Sehubungan dengan usaha-usaha pengawetan tanah dengan jalan yang ditempuh yaitu memperlambat run off dan menampung serta selanjutnya menyalurkan run off dengan daya pengikisan tanahnya yang kurang (menurun), pengolahan tanah dengan atau dalam cara mekanik menurut Sitanala Arsyad, yaitu: Pengolahan tanah (tillage), pengolahan tanah menurut kontur, galengan dan saluran menurut kontur,

penyengkeddan, perbaikan drainase dan pembangunan irigasi, waduk, tanggul, dsb.

26

Pengolahan tanah yang baik menunjang usaha konservasi Konservasi tanah mutlak sangat perlu untuk diperhatikan dan dilaksanakan secara kontinuitas, dan ini berarti bahwa kita harus selalu memperhatikan cara-cara pengolahan tanah yang baik yang merupakan tindakan-tindakan yang praktis untuk melindungi hilangnya lapisan top soil dari lahan-lahan yang digunakan para petani dalam melaksanakan usaha taninya. Tindakan-tindakan yang praktis itu pada garis besarnya dapat berupa: 1. Berdaya upaya agar permukaan tanah tetap tertutupi tanaman-tanaman

pelindungnya, sehingga kandungan bahan organiknya dapat dipertahankan atau tidak terangkut bersama aliran air permukaan (run off) 2. Segala tindakan dalam melakukan pengolahan tanah (membajak menggaru, membuat larikan, dll.) harus sejajar dengan garis kontur, searah dengan garis itu atau menyilang lereng lahan, jadi hendaknya jangan sampai mengikuti arah lereng yaitu dari atas ke bawah. 3. Menanami lahan yang mempunyai kemiringan dengan cara sistem kontur ganti berganti dengan cara strip croppin, dengan cara demikian akan dapat dipertahankan dengan baik. 4. Dalam menghadapi tanah yang mempunyai kemiringan, hendaknya tanah-tanah yang demikian dibantu dengan pembuatan sengkedan-sengkedan karena pembuatan eras-teras sangat membantu mengurangi lajunya run off dan aliran permukaaan lamban sangat kurang daya kemampuannya untuk memindahkan atau

menghanyutkan lapisan top soil. 5. Mencegah timbulnya alur-alur pada permukaan tanah yaitu dengan pembuatan check dam, menanami permukaan tanah dengan tanaman penutup yang dapat tumbuh rapat, dll. Tujuan utama konservasi tanah adalah untuk mendapatkan tingkat keberlanjutan produksi lahan dengan menjaga laju kehilangan tanah tetap di bawah ambang batas yang diperkenankan, yang secara teoritis dapat dikatakan bahwa laju erosi harus lebih kecil atau sama dengan laju pembentukan tanah. Erosi merupakan proses alam yang sama sekali tidak dapat dihindari, khususnya untuk lahan pertanian, maka yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi laju erosi, Untuk itu maka diperlukan strategi konservasi tanah:

27

1. 2. 3. 4.

Melindungi tanah dari hantaman air hujan dengan penutup permukaan tanah Mengurangi aliran permukaan dengan meningkatkan kapasitas infiltrasi Meningkatkan stabilitas agregat tanah Mengurangi kecepatan aliran permukaan dengan meningkatkan kekasaran permukaan lahan

Secara garis besar metode konservasi tanah dapat digolongkan menjadi 3, yaitu: 1. Konservasi secara agronomis. Konservasi secara Agronomis. Adalah penggunaan tanaman atau tumbuhan atau sisa tumbuhan dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi laju erosi dengan cara mengurangi daya rusak hujan yang jatuh dan jumlah daya rusak aliran permukaan. Konservasi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu: a. Penanaman tanaman tumbuhan penutup tanah secara terus menerus (permanent plant cover). tanaman penutup tanah adalah tanaman yang dengan sengaja ditanam untuk melindungi tanah dari erosi, menambah bahan organic tanah dan sekaligus meningkatkan produktivitas tanah. b. Penanaman dalam strip (strip cropping). Adalah cara bercocok tanam dengan beberapa jenis tanaman yang ditanam berselang seling dalam strip-strip pada sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau kontur c. Penanaman berganda (multilple cropping). Berguna meningkatkan

produktivitas lahan sambil menyediakan proteksi terhadap tanah dari erosi. Sistem ini dapat dilakukan baik dengan cara penanaman beruntun, tumpang sari atau tumpang gilir d. e. Penanaman bergilir (rotation cropping) Pemanfaatan mulsa (residue management) Mulsa adalah sisa-sisa tanaman yang disebarkan di atasnpermukaan tanah. Dari segi konservasi penggunaann mulsa mempunyai beberapa keuntungan yaitu member pelindung terhadap permukaan tanah dari hantaman air hujan sehingga mengurangi laju erosi, mengurangi nvolume dan kecepatan aliran permukaan, memelihara temperatur dan kelembaban tanah, meningkatkan kemantapan struktur tanah, meningkatkan kandungan bahan organic tanah dan

mengendalikan tanaman pengganggu. Bahan mulsa yang paling baik adalah tanaman yang sukar lapuk seperti batang jagung, jerami, sorgum.

28

f.

Sistem pertanian hutan (agroforestry) Penghutanan kembali merupakan cara yang cocok untuk menurunkan erosi dan aliran permukaan, terutama jika dilakukan pada bagian hulu daerah tangkapan air untuk mengatur banjir, secara lebih luas, penghutanan kembali dapat diartikan sebagai usaha untuk memulihkan dan menghutankan kembali tanah yang mengalami kerusakan fisik, kimia, maupun biologi, baik secara alami maupun oleh ulah manusia. Tanaman yang digunakan biasanya tanaman yang bisa mencegah erosi, baik dari segi habitus maupun umur, juga tanaman keras yang bernilai ekonomi. Dari segi konservasi, tanaman yang dipilih harus mempunyai perakaran yang kuat, dalam dan luas sehingga membentuk jaringan akar yang rapat, mempunyai pertumbuhan yang cepat, mempunyai nilai ekonomi dan dapat memperbaiki kualitas kesuburan tanah. Teknologi yang diterapkan pada setiap macam penggunaan tanah akan

menentukan apakah akan didapat penggunaan dan produksi yang lestari pada sebidang tanah. Metode konservasi tanah dan air dapat dibagi dalam tiga golongan, yaitu: 1. Metode vegetative Metode vegetatif adalah suatu cara pengelolaan lahan miring dengan menggunakan tanaman sebagai sarana konservasi tanah (Seloliman, 1997). Tanaman penutup tanah ini selain untuk mencegah atau mengendalikan bahaya erosi juga dapat berfungsi memperbaiki struktur tanah, menambahkan bahan organik tanah, mencegah proses pencucian unsur hara dan mengurangi fluktuasi temperatur tanah. Metode vegetatif untuk konservasi tanah dan air termasuk antara lain: penanaman penutup lahan (cover crop) berfungsi untuk menahan air hujan agar tidak langsung mengenai permukaan tanah, menambah kesuburan tanah (sebagai pupuk hijau), mengurangi pengikisan tanah oleh air dan mempertahankan tingkat produktivitas tanah (Seloliman, 1997). Penanaman rumput kegunaannya hampir sama dengan penutup tanah, tetapi mempunyai manfaat lain, yakni sebagai pakan ternak dan penguat terras. Cara penanamannya dapat secara rapat, barisan maupun menurut kontur. Penggunaan sisa tanaman untuk konservasi tanah dapat berbentuk mulsa atau pupuk hijau. Dengan mulsa maka daun atau batang tumbuhan disebarkan di atas permukaan

29

tanah, sedangkan dengan pupuk hijau maka sisa-sisa tanaman tersebut dibenamkan ke dalam tanah (Arsyad, 1989). Syarat-syarat dari tanaman penutup tanah, antara lain: a. b. c. d. e. f. g. Dapat berkembang dan daunnya banyak. Tahan terhadap pangkasan. Mudah diperbanyak dengan menggunakan biji. Mampu menekan tanaman pengganggu. Akarnya dapat mengikat tanah, bukan merupakan saingan tanaman pokok. Tahan terhadap penyakit dan kekeringan. Tidak berduri dan bersulur yang membelit. Selain dengan penanaman tanaman penutup tanah (cover crop), cara vegetatif lainnya adalah: a. Tanaman dengan lajur berselang-seling, pada kelerengan 6 10 % dengan tujuan: 1) Membagi lereng agar menjadi lebih pendek 2) Dapat menghambat atau mengurangi laju aliran permukaan. 3) Menahan partikel-partikel tanah yang terbawa oleh aliran permukaan. Tipe-tipe tanaman lajur berseling adalah: i) Countur strip cropping, adalah penanaman berselang berdasarkan garis kontur. ii) Field strip cropping, digunakan untuk kelerengan yang tidak bergelombang dengan jalur dapat melewati garis kontur, tetapi tanaman tidak melewati garis kontur. iii) Wind strip cropping, digunakan pada lahan yang datar atau kelerengan yang tidak tajam dengan jalur tanaman tegak lurus arah angin, sehingga kadang-kadang arah alur searah dengan kelerengan. iv) Buffer strip cropping, adalah lajur tanaman yang diselingi dengan lajur rumput atau legume sebagai penyangga. b. Menanam secara kontur (Countur planting), dilakukan pada kelerengan 15 18 % dengan tujuan untuk memperbesar kesempatan meresapnya air sehingga run off berkurang. c. Pergiliran tanaman (crop rotation).

30

d. e.

Reboisasi atau penghijauan. Penanaman saluran pembuang dengan rumput dengan tujuan untuk melindungi saluran pembuang agar tidak rusak.

2.

Metode mekanik Cara mekanik adalah cara pengelolaan lahan tegalan (tanah darat) dengan menggunakan sarana fisik seperti tanah dan batu sebagai sarana konservasi tanahnya. Tujuannya untuk memperlambat aliran air di permukaan, mengurangi erosi serta menampung dan mengalirkan aliran air permukaan (Seloliman, 1997). Termasuk dalam metode mekanik untuk konservasi tanah dan air di antaranya pengolahan tanah. Pengolahan tanah adalah setiap manipulasi mekanik terhadap tanah yang diperlukan untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Tujuan pokok pengolahan tanah adalah menyiapkan tempat tumbuh bibit, menciptakan daerah perakaran yang baik, membenamkan sisa-sisa tanaman dan memberantas gulma (Arsyad, 1989). Pengendalian erosi secara teknis-mekanis merupakan usaha-usaha

pengawetan tanah untuk mengurangi banyaknya tanah yang hilang di daerah lahan pertanian dengan cara mekanis tertentu. Sehubungan dengan usaha-usaha perbaikan tanah secara mekanik yang ditempuh bertujuan untuk memperlambat aliran permukaan dan menampung serta melanjutkan penyaluran aliran permukaan dengan daya pengikisan tanah yang tidak merusak. Pengolahan tanah menurut kontur adalah setiap jenis pengolahan tanah (pembajakan, pencangkulan, pemerataan) mengikuti garis kontur sehingga terbentuk alur-alur dan jalur tumpukan tanah yang searah kontur dan memotong lereng. Alur-alur tanah ini akan menghambat aliran air di permukaan dan mencegah erosi sehingga dapat menunjang konservasi di daerah kering. Keuntungan utama pengolahan tanah menurut kontur adalah terbentuknya penghambat aliran permukaan yang memungkinkan penyerapan air dan

menghindari pengangkutan tanah. Oleh sebab itu, pada daerah beriklim kering pengolahan tanah menurut kontur juga sangat efektif untuk konservasi ini. Pembuatan terras adalah untuk mengubah permukaan tanah miring menjadi bertingkat-tingkat untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan menahan serta menampungnya agar lebih banyak air yang meresap ke dalam tanah melalui

31

proses infiltrasi (Sarief, 1986). Menurut Arsyad (1989), pembuatan terras berfungsi untuk mengurangi panjang lereng dan menahan air sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan dan memungkinkan penyerapan oleh tanah, dengan demikian erosi berkurang. 3. Metode kimia Kemantapan struktur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang menentukan tingkat kepekaan tanah terhadap erosi. Yang dimaksud dengan cara kimia dalam usaha pencegahan erosi, yaitu dengan pemanfaatan soil conditioner atau bahan-bahan pemantap tanah dalam hal memperbaiki struktur tanah sehingga tanah akan tetap resisten terhadap erosi (Kartasapoetra dan Sutedjo, 1985). Bahan kimia sebagai soil conditioner mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap stabilitas agregat tanah. Pengaruhnya berjangka panjang karena senyawa tersebut tahan terhadap mikroba tanah. Permeabilitas tanah dipertinggi dan erosi berkurang. Bahan tersebut juga memperbaiki pertumbuhan tanaman semusim pada tanah liat yang berat (Arsyad, 1989). Penggunaan bahan-bahan pemantap tanah bagi lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang baru dibuka sesunggunya sangat diperlukan mengingat: a. Lahan-lahan bukan baru kebanyakan masih merupakan tanah-tanah virgin yang memerlukan banyak perlakuan agar dapat didayagunakan dengan efektif. b. Pada waktu penyiapan lahan tersebut telah banyak unsur-unsur hara yang terangkat. c. Pengerjaan lahan tersebut menjadi lahan yang siap untuk kepentingan perkebunan, menyebabkan banyak terangkut atau rusaknya bagian top soil, mengingat pekerjaannya menggunakan peralatan-peralatan berat seperti traktor, bulldozer dan alat-alat berat lainnya.

32

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN 1. Sumber daya alam hutan teah memberikan banyak manfaaat bagi kehidupan manusia. Sejak jaman dahulu, mereka tidak hanya melihat hutan sebagai sumber daya potensial saja, melainkan memang merupakan sumber pangan, obat-obatan, energi, sandang, lingkungan dan sekaligus tempat tinggal mereka. Bahkan ada sebagian masyarakat tradisional yang meyakini bahwa hutan memiliki nilai spiritual. 2. Sumber daya alam pantai/laut Negara kita sangatlah banyak. Berbagai tumbuhan dan hewan hidup didalamnya, dan menjadikannya surga bagi siapapun yang menikmatinya. Untuk menjaga kelangsungannya paling tidak kita bisa melakukan revitalisasi kawasan berfunsi lindung, mengembangkan ekonomi masyarakat pesisir, dan meningkatkan pelayanan jaingan prasarana wilayah 3. Sumber daya alam mineral merupakan salah satu sumber pendapatan terbesar Negara. Beberapa hasil tambang seperti timah, emas, perak dan lain-lainnya adalah suatu komoditas unggulan di negeri ini. Oleh karena itu, untuk menjaga kelestariannya baik masyarakat maupun aparatur harus bisa melaksanakan tugas monitoring dan evaluasi AMDAL, serta berbagai hal terkait dengan kelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat sekitar. 4. Sumber daya alam minyak dan gas adalah salah satu hasil bumi Indonesia yang sangat vital. Hal ini dikarenakan kedua elemen tersebut telah menjadi urat nadi pengerak pertumbuhan ekonomi Negara. Oleh karenanya, kita harus memanfaatkan minyak dan gas secara bijak demi kelangsungan anak cucu kita dimasa mendatang. 5. Sumber daya alam air merupakan komoditas utama untuk menunjang kehidupan manusia. Oleh karana itu, sudah selayaknya kita bisa memanfaatkan dan mendayagunakan air seefektif dan seefisien mungkin. Jangan sampai melakukan tindakan-tindakan seperti pencemaran air yang justru akan merugikan

keberlangsungan mahluk di bumi termasuk manusia. 6. Sumber daya alam lahan di Indonesia sangatlah luas. Selain untuk bermukin manusia, lahan juga berfungsi sebagai sumber mata pencaharian hidup manusia. Untuk itu sebagai langkah peduli lahan maka kita harus menjaga lahan sebaik

33

mungkin misalnya dengan melakukan konstruksi lahan baik dengan metode vegetative, mekanik maupun kimia

B. SARAN Berdasarkan pemaparan makalah diatas, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam mengoptimalisasikan sumber daya alam Indonesia misalnya: 1. Pemerintah harus membuat kebijakan bagaimana cara untuk mengopimalisasikan kekayaan sumber daya alam yang ada guna mensejaterakan rakyatnya. Misalnya seiring dengan makinbanyak investor asing di Indonesia, maka perusahaan yang berada diatas kewenangan asing harus menyediakan lapangan pekerjaan yang mapan bagi rakyat Indonesia. 2. Kita sebagai warga Negara yang baik harus bisa berlaku bijak terutama dalam hal pemanfaatan sumber daya alam yang ada. Hal ini dimaksudkan demi kelangsungan hidup generasi-generasi dimasa mendatang.

34

DAFTAR PUSTAKA

Akil,

Sjarifuddin. 2002. Kebijakan Kimpraswil Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Kelautan dan Perikanan. Makalah Rapat Koordinasi Nasional Departemen Kelautan dan perikanan Tahun 2002. Jakarta.Nurmalasari, Y. Analisis Pengelolaan Wilayah Pesisr Berbasis Masyarakat. www. Stmikim.ac.id/userfiles/jurnal%20yessi.pdf.

Eddy, Karden S M. 2007. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: Djambatan. Kartasaputra, G, dkk. 1991. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Jakarta: PT Rineka Cipta Kay, R. dan Alder, J. 1999. Coastal Management and Planning. E & FN SPON. New York. Muttaqiena, dkk. 2009. Makalah Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Berkelanjutan Pasca Tsunami Desember 2004. http://slideshare.net/abida/pengelolaan-pesisir

Wiyana, Adi. 2004. Faktor Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Pengelolaan Pesisir Terpadu (P2T). Diakses dari http://rudyct.com/PPS702-ipb/07134/afi_wiyana. htm pada tanggal 01 Oktober 2011.

35

36