Anda di halaman 1dari 23

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPS

Disusun oleh: Putri Ayu A. L. Riskitasari Dini H. 09416241002 09416241033

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SMP/MTs Mata Pelajaran Kelas/ Semester Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

: SMP 1 Budi Dharma : Ilmu Pengetahuan Sosial : VII/ 1 : 2. Memahami kehidupan sosial manusia : 2.2. Mendiskripsikan sosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian

Indikator

: 1. Mendefinisikan pengertian sosialisasi dan kepribadian. 2. Menjelaskan faktor, agen, proses, dan tahap sosialisasi 3. Menentukan faktor-faktor pembentuk kepribadian 4. Menganalisis pentingnya sosialisasi bagi pembentukan kepribadian 5. Mengidentifikasi kiat-kiat untuk mengoptimalkan proses

sosialisasi dalam pembentukan kepribadian Alokasi Waktu : 6 jam pelajaran (3 x pertemuan, 1 jam pelajaran 45 menit)

A. Tujuan Pembelajaran Setelah selesai melaksanakan kegiatan pembelajarfan, siswa dapat: 1. Mendefinisikan pengertian sosialisasi dan kepribadian. 2. Menjelaskan faktor, agen, proses, dan tahap sosialisasi 3. Menentukan faktor-faktor pembentuk kepribadian 4. Menganalisis pentingnya sosialisasi bagi pembentukan kepribadian 5. Mengidentifikasi kiat-kiat untuk mengoptimalkan proses sosialisasi dalam

pembentukan kepribadian

B. Materi Pembelajaran 1. Pengertian sosialisasi dan kepribadian 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi sosialisasi 3. Agen sosialisasi 4. Proses sosialisasi 5. Tahap sosialisasi 6. Faktor pembentuk kepribadian

7. Fungsi sosialisasi dalam membentuk kepribadian 8. Kiat mengoptimalkan sosialisasi untuk pembentukan kepribadian

C. Metode Pembelajaran 1. Diskusi 2. Picture and picture 3. Observasi 4. Simulasi

D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Pertemuan I (diskusi, materi pembelajaran 1-5) 1. Pendahuluan (10 menit) a. Pembukaan (salam, berdoa, dan presensi). b. Yel-yel untuk menggugah semangat. c. Apersepsi: Guru menampilkan gambar tentang berbagai proses sosialisasi, seperti: gambar orang tua yang mengajarkan anaknya untuk belajar, gambar seorang guru yang sedang membimbing siswanya, gambar anak yang sedang bermain PS dengan temannya, gambar anak yang sedang ikut kerja bakti dengan tetangganya dan gambar anak yang sedang menonton acara gosip. d. Motivasi: Guru menanyakan apa saja yang terjadi pada gambar tersebut, dan bagai mana posisi anak dengan pihak-pihak lain yang ada di gambar. e. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kali ini yaitu mengenai sosialisasi dan kepribadian, khususnya faktor yang mempengaruhi, agen yang berperan, proses dan tahap sosialisasi. 2. Kegiatan Inti: (65 menit) a. Siswa menyimak informasi guru tentang garis besar materi menyangkut pengertian sosialisasi dan kepribadian, faktor yang mempengaruhi, agen yang berperan, proses dan tahap sosialisasi (5 menit). b. Siswa dibagi dalam 5 kelompok, dan masing-masing kelompok berdiskusi singkat mengenai (10 menit): Kelompok 1: pengertian sosialisasi dan kepribadian Kelompok 2: faktor yang mempengaruhi sosialisasi Kelompok 3: agen sosialisasi Kelompok 4: proses sosialisasi

Kelompok 5: tahap-tahap sosialisasi c. Masing-masing kelompok diberi waktu untuk presentasi masing-masing 10 menit sudah termasuk menjawab pertanyaan dari kelompok lain, maksimal 2 pertanyaan tiap sesi presentasi (50 menit). d. Guru memberi ulasan terhadap presentasi yang telah dilakukan tiap-tiap kelompok, meluruskan jawaban yangbelum benar. 3. Penutup (15 menit): a. Penilaian: guru memastikan form penilaian proses diskusi sudah lengkap, dan mengadakan tes individu secara tertulis dengan soal pilihan ganda sebanyak 10 soal. b. Refleksi: tanya jawab singkat guru kepada siswa tentang materi yang telah dibahas. Siswa diberikan tugas untuk mempelajari tentang faktor-faktor pembentuk kepribadian, dan pentingnya sosialisasi bagi pembentukan kepribadian. c. Berdoa dan salam penutup.

Pertemuan 2 (picture and picture, observasi, materi pembelajaran 6-7): 1. Pendahuluan (15 menit): a. Pembukaan (salam, berdoa, dan presensi). b. Yel-yel untuk menggugah semangat. c. Apersepsi: guru menampilkan potongan film Laskar Pelangi yang menunjukkan Lintang salah satu pemeran di film tersebut yang seorang anak nelayan, rumahnya di pesisir pantai, dengan keadaan keluarganya yang miskin mampu menjadi siswa yang berkepribadian pekerja keras mau bersepeda berkilo-kilo meter untuk bersekolah. d. Motivasi: guru menanyakan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan Lintang menjadi seorang anak yang berkepribadian pekerja keras. Lalu guru meluruskan faktor pada kasus Lintang tersebut antara lain pengaruh geografi, pengaruh keluarga, dll. e. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kali ini adalah membahas faktor-faktor pembentuk kepribadian dan pentingnya sosialisasi bagi pembentukan kepribadian. 2. Kegiatan Inti (60 menit): a. Siswa menyimak uraian singkat materi tentang faktor-faktor pembentuk kepribadian dan pentingnya sosialisasi bagi pembentukan kepribadian (5 menit). b. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok untuk mempelajari kembali faktor-faktor pembentukan kepribadian dan mendiskusikan pentingnya sosialisasi bagi

pembentukan kepribadian (10 menit).

c. Setelah diskusi selesai, guru memulai permainan picture and picture. Siswa diberikan berbagai gambar (masing-masing kelompok), mengenai faktor-faktor pembentukan kepribadian yang berbeda-beda, siswa diminta untuk menggolongkan gambar-gambar ke golongan faktor pembentuk kepribadian yang benar. d. Setelah itu 3 dari 5 kelompok maju dengan sukarela (inisiatif siswa) untuk mempresentasikan hasil permainan picture and picture dan hasil diskusi mengenai pentingnya sosialisasi bagi pembentukan kepribadian. Kelompok lain dapat menanyakan atau mengomentari, maksimal 3 penanya setiap kelompok. Waktu maju masing-masing kelompok 10 menit (40 menit). e. Guru memberi ulasan terhadap hasil permainan picture and picture, dan membahas pertanyaan siswa yang belum jelas (5 menit). 3. Penutup (15 menit): a. Penilaian: guru memastikan form penilaian proses diskusi sudah lengkap, dan mengadakan tes individu secara tertulis dengan soal pilihan ganda sebanyak 10 soal. b. Refleksi: guru memberi ulasan singkat pertanyaan yang diberikan. Guru memberi tugas siswa untuk melakukan observasi sederhana mengenai perbandingan hasil kepribadian seseorang yang bersosialisasi di lingkungan yang baik dan buruk di kehidupan nyata (laporan dikumpulkan minggu depan), serta membuat skenario simulasi sederhana untuk ditampilakan minggu depan, dengan undian: Undian 1. simulasi tentang sosialisasi dalam keluarga yang baik, yang berpengaruh kepada kepribadian anak. Undian 2. simulasi tentang sosialisasi dengan teman sebaya yang baik, yang berpengaruh kepada kepribadian anak. Undian 3. simulasi tentang sosialisasi dalam sekolah yang baik, yang berpengaruh kepada kepribadian anak. Undian 4. simulasi tentang sosialisasi dalam masyarakat yang buruk, yang berpengaruh kepada kepribadian anak. Undian 5. simulasi tentang sosialisasi dalam media informasi yang buruk, yang berpengaruh kepada kepribadian anak. f. Berdoa dan salam penutup. Pertemuan 3 (simulasi, ceramah, materi pembelajaran 8): 1. Pendahuluan (10 menit) a. Pembukaan (salam, berdoa, dan presensi). b. Yel-yel untuk menggugah semangat.

c. Apersepsi: Guru menanyakan apa jadinya seorang anak jika ia dididik di dalam keluarga pemalas, dan apa jadinya seorang anak jika ia mempunyai teman yang suka menggosip. d. Motifasi: Guru menggiring siswa untuk mencari hal-hal apa saja yang harus dilakukan agar sosialisasi yang dilakukan berbagai agen optimal. e. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mengulas kembali pengaruh sosialisasi dengan pembentukan kepribadian dan kiat-kiat untuk mengoptimalisasi sosialisasi untuk membentuk kepribadian yang baik. 2. Kegiatan Inti (65 menit) a. Siswa memaparkan hasil observasi tentang perbandingan hasil kepribadian seseorang yang bersosialisasi di lingkungan yang baik dan buruk di kehidupan nyata, setelah itu mengumpulkan laporan. b. Siswa dipersilakan menampilkan simulasi sederhana yang sudah direncanakan, masing-masing kelompok 10 menit. Kelompok yang tidak tampil diminta mencermati dan menulis poin-poin penting simulasi kelompok yang tampil (50 menit). Urutan maju sesuai dengan: Undian 1. simulasi tentang sosialisasi dalam keluarga yang baik, yang berpengaruh kepada kepribadian anak. Undian 2. simulasi tentang sosialisasi dengan teman sebaya yang baik, yang berpengaruh kepada kepribadian anak. Undian 3. simulasi tentang sosialisasi dalam sekolah yang baik, yang berpengaruh kepada kepribadian anak. Undian 4. simulasi tentang sosialisasi dalam masyarakat yang buruk, yang berpengaruh kepada kepribadian anak. Undian 5. simulasi tentang sosialisasi dalam media informasi yang buruk, yang berpengaruh kepada kepribadian anak. c. Setelah selesai, guru mengulas simulasi siswa yang telah ditampilkan (5 menit). d. Siswa mengerjakan tes tertulis yang diberikan guru dengan pertanyaan: Bagaimanakah kiat-kiat yang harus dilakukan seseorang dan agen-agen sosialisasi agar sosialisasi berjalan dengan baik dan menghasilkan kepribadian seseorang yang baik pula? Tulislah dengan bahasa sendiri, secara singkat dan jelas (10 menit). 3. Penutup (15 menit) a. Ulasan guru terhadap bagaimanakah kiat-kiat yang harus dilakukan seseorang dan agen-agen sosialisasi agar sosialisasi berjalan dengan baik dan menghasilkan

kepribadian seseorang yang baik pula, dan memastikan form penialaian proses sudah lengkap. b. Refleksi: Guru memberikan kesempatan siswa untuk menyampaikan pesan kesan setelah mempelajari materi sosialisasi dalam pembentukan kepribadian. Guru memberi pesan siswa untuk menyaring nilai dan norma yang diberikan melalui sosialisasi, agar siswa mengambil nilai dan norma yang baik saja. c. Berdoa dan salam penutup.

E. Sumber dan Media Pembelajaran 1. Gambar-gambar mengenai sosialisasi dengan berbagai agen sosialisasi (pertemuan 1). 2. Potongan film Laskar Pelangi (pertemuan 2). 3. Gambar-gambar mengenai faktor kepribadian intern dan ekstern (pertemuan 2). 4. Slide power point materi (pertemuan 1 dan 2). 5. Buku paket sosiologi, Sadali. I Wayan Badrika. Poerwanti Hadi Pratiwi dkk. 2007. ILMU PENGETAHUAN SOSIAL TERPADU SMP/MTs 1. Jakarta: PT Bumi Aksara. 6. Laptop 7. LCD Proyektor

F. Penilaian Penilaian Indikator Bentuk Teknik instrume n 1. Mendefinisikan pengertian sosialisasi dan kepribadian. 2. Menjelaskan faktor, agen, proses, dan tahap sosialisasi. Tes Pilihan Ganda 1. Andi tuanya perbuatan diajarkan tentang yang oleh orang Non tes Rubrik Penialaia n Proses -Keaktifan siswa dalam berdiskusi -Ketepatan uraian siswa dalam berdiskusi Contoh instrumen

perbuatanbaik dalam

masyarakat sejak ia kecil. Proses sosialisasi yang terjadi pada Andi tersebut adalah proses sosialisasi....

a. Primer b. Sekunder c. Tersier d. Internal (sumber materi Sadali, 2007, jawaban: a) 2. I. Keluarga II. Teman sebaya III.Tetangga IV. Media massa Yang termasuk dalam agen

sosialisasi sekunder adalah.... a. I,II,III b. I,II,IV c. I,III,IV d. II,III,IV (sumber jawaban:d) materi Sadali, 2007,

3. Menentukan faktor-faktor pembentuk kepribadian. 4. Menganalisis pentingnya sosialisasi bagi pembentukan kepribadian.

Non tes

Rubrik Penialaia n

-Keaktifan siswa dalam berdiskusi -Ketepatan uraian siswa dalam berdiskusi -Inisiatif siswa

Tes

Pilihan Ganda

1. Pak Harno mendidik anaknya dengan disiplin dan keras karena ia seorang anggota TNI. Hal yang mempengaruhi kepribadian Pak

Harno dalam mendidik anaknya adalah.... a. Pekerjaan b. Lingkungan c. Daerah d. Kelas sosial

(Sumber Nursal, 2001, jawaban: a) 2. Anak perempuam mengalami pubertas lebih awal, sehingga

terlihat lebih dewasa daripada anak laki-laki dari cara berpakaian,

bersikap dan sebagainya. Hal ini merupakan pengaruh dari.... a. keragaman biologis b. kematangan jasmani c. lingkungan teman sebaya d. pengaruh ibu dalam keluarga (sumber jawaban:b) materi Sadali, 2007,

5. Mengidentifikasi kiat-kiat untuk mengoptimalkan proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian.

Non tes

Rubrik Penialaia n Proses

-Ketepatan hasil observasi -Ketepatan simulasi siswa -Kekreatifan simulasi siswa - Bagaimanakah kiat-kiat yang harus dilakukan seseorang dan agen-agen sosialisasi agar sosialisasi berjalan dengan baik dan menghasilkan kepribadian seseorang yang baik pula?

Tes

Tes Uraian

Mengetahui, Kepala Sekolah


Guru Mata Pelajaran Guru Mata Pelajaran

Supardi, M. Pd

Putri Ayu A. L.

Riskitasari Dini H.

LAMPIRAN 1-BAHAN AJAR SOSIALISASI SEBAGAI PROSES PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

A. PENGERTIAN Sejak diciptakan, manusia telah dilengkapi dengan naluri untuk mengendalikan seluruh perilaku dan potensi dalam dirinya. Oleh karena itu, manusia perlu mengembangkan potensi dalam dirinya melalui belajar. Selama dalam proses belajar itulah seorang individu tumbuh menjadi seorang pribadi. Kepribadian merupakan sifat dan watak seseorang yang konsisten, yang mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat lain yang khas dimiliki seseorang. Kepribadian seorang individu akan berkembang jika berhubungan dengan orang lain. Semakin dewasa seseorang maka akan lebih aktif mengembangkan kemampuannya. Upayaupaya untuk mengembangkan kemampuannya ini dilakukan melalui proses sosialisasi. Sosialisasi merupakan proses seseorang mempelajari cara hidup masyarakat untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan nilai, norma, dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Sosialisasi merupakan proses pembelajaran masyarakat menghantarkan warganya masuk ke dalam kebudayaan. Sosialisasi merupakan seperangkat kegiatan masyarakat ketika individu belajar dan mengajar untuk memahirkan diri dalam peranan sosial sesuai dengan potensinya. Pengertian sosialisasi dilihat dari prosesnya dapat dibedakan menjadi sosialisai primer dan sosialisasi sekunder. Sosialisasi primer, yaitu awal sosialisasi seorang individu memasuki keanggotaan masyarakat. Sosialisasi ini diawali oleh sikap hormat-menghormati, tolong-menolong, toleransi, jujur, dan kasih sayang. Sosialisasi sekunder, yaitu sosialisasi di luar lingkungan keluarga yang merupakan kelanjutan dan perluasan sosialisasi primer. Kepribadian seseorang akan berpengaruh terhadap proses sosialisasi seseorang. Dia akan menerima atau menolak proses sosialisasi sesuai dengan kadar kepribadian yang dimilikinya. Misalnya, seorang siswa akan menolak jika diajak oleh temannya bermain game pada jam sekolah. Beberapa tahapan sosialisasi dalam pembentukan kepribadian seseorang sebagai berikut: 1. Sosialisasi dalam keluarga Di dalam keluarga terjadi interaksi dan disiplin pertama dalam kehidupan sosial untuk membentuk suatu kepribadian. Orang tua berperan sebagai pendidik pertama bagi anakanaknya. Orang tua menanamkan nilai-nilai hidup dalam keluarga. Oleh karena itu, kepribadian seorang anak sangat dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya. 2. Sosialisasi dengan teman sepermainan

Pada tahap ini seseorang akan belajar berinteraksi dengan orang-orang yang sederajat/sebaya umurnya. Seseorang akan mempelajari aturan-aturan yang ada pada kelompok itu. Dalam kelompok teman sepermainan, seseorang mulai mempelajari nilai-nilai keadilan, tetapi pemikirannya masih bersifat egosentris, belum dapat menilai pendirian orang lain. Kelompok sepermainan sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian, misalnya tumbuhnya rasa aman, kemandirian, rasa simpati, dan membentuk sikap lebih dewasa. Semakin meningkat umur anak, semakin penting pula pengaruh kelompok teman sepermainan. Kadang-kadang terjadi konflik antara norma yang didapat dari keluarga dan norma yang diterimanya dalam pergaulan dengan teman sepermainan. Terutama pada masyarakat yang berkembang secara dinamis, akibatnya dapat menjurus pada tindakan yang bertentangan dengan norma yang tidak disukai masyarakat, misalnya, membentuk kelompok yang disebut Geng. Kelompok ini sering disamakan dengan kelompok yang suka membuat keonaran dan sering berperilaku menyimpang. Sebagai pelajar kamu tentu mendapatkan banyak teman di sekolah. Ingatlah bahwa baik dan buruk perbuatan kita juga dipengaruhi oleh teman kita. Oleh karena itu, kamu harus pandai-pandai memilih teman yang baik. 3. Sosialisasi dengan lingkungan sekolah Sekolah merupakan tempat kamu bertemu dengan teman lain yang berasal dari tempat dan keluarga yang berbeda. Mereka mempunyai cara hidup yang berbeda-beda. Oleh karena itu, temantemanmu di sekolah banyak yang memiliki sifat dan sikap yang berbeda dengan lingkungan dan keluargamu. Agar perbedaan yang ada tidak saling bertentangan maka dibuat aturan sekolah. Aturan yang ada di sekolah disesuaikan dengan tujuan sekolah. Setiap siswa sekolah wajib mematuhi aturan yang berlaku. Teguran dan hukuman yang dikeluarkan sekolah merupakan bentuk sanksi yang diberikan jika tidak mengindahkan aturan yang berlaku. Sekolah membimbing siswa agar belajar disiplin dengan mentaati aturan sekolah. Jika kamu sudah terbiasa dengan mematuhi aturan maka kamu akan terbiasa mentaati aturan di luar sekolah.

B. AGEN SOSIALISASI Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada empat agen sosialisasi yang utama, yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa, dan lembaga pendidikan sekolah.

Pesan-pesan yang disampaikan agen sosialisasi berlainan dan tidak selamanya sejalan satu sama lain. Apa yang diajarkan keluarga mungkin saja berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agen sosialisasi lain. Misalnya, di sekolah anak-anak diajarkan untuk tidak merokok, meminum minman keras dan menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba), tetapi mereka dengan leluasa mempelajarinya dari teman-teman sebaya atau media massa. Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi itu tidak bertentangan atau selayaknya saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, di masyarakat, sosialisasi dijalani oleh individu dalam situasi konflik pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi yang berlainan. 1. Keluarga (kinship) Bagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang telah padat penduduknya, sosialisasi dilakukan oleh orang-orabng yang berada diluar anggota kerabat biologis seorang anak. Kadangkala terdapat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat sosiologisnya, misalnya pramusiwi, menurut Gertrudge Jaeger peranan para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap awal sangat besar karena anak sepenuhnya berada dalam ligkugan keluarganya terutama orang tuanya sendiri. 2. Teman pergaulan Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu. Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan. 3. Lembaga pendidikan formal (sekolah)

Menurut Dreeben, dalam lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan

(specificity). Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab. 4. Media massa Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan. Contoh:
a.

Penayangan acara SmackDown! di televisi diyakini telah menyebabkan penyimpangan

perilaku anak-anak dalam beberapa kasus.


b.

Iklan produk-produk tertentu telah meningkatkan pola konsumsi atau bahkan gaya

hidup masyarakat pada umumnya.


c.

Gelombang besar pornografi, baik dari internet maupun media cetak atau tv, didahului

dengan gelombang game eletronik dan segmen-segmen tertentu dari media TV (horor, kekerasan, ketaklogisan, dan seterusnya) diyakini telah mengakibatkan kecanduan massal, penurunan kecerdasan, menghilangnya perhatian/kepekaan sosial, dan dampak buruk lainnya. 3. Agen-agen lain Selain keluarga, sekolah, kelompok bermain dan media massa, sosialisasi juga dilakukan oleh institusi agama, tetangga, organisasi rekreasional, masyarakat, dan lingkungan pekerjaan. Semuanya membantu seseorang membentuk pandangannya sendiri tentang dunianya dan membuat presepsi mengenai tindakan-tindakan yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dalam beberapa kasus, pengaruh-pengaruh agen-agen ini sangat besar C. PROSES SOSIALISASI Menurut George Herbert Mead George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan menlalui tahap-tahap sebagai berikut. 1. Tahap persiapan (Preparatory Stage) Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.

Contoh: Kata "makan" yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan "mam". Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya. 2. Tahap meniru (Play Stage) Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang anma diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other) 3. Tahap siap bertindak (Game Stage) Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya. 4. Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other) Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama--bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya-- secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya. Menurut Charles H. Cooley Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.

1. Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain. Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba. 2. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita. Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia. 3. Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut. Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri. Ketiga tahapan di atas berkaitan erat dengan teori labeling, dimana seseorang akan berusaha memainkan peran sosial sesuai dengan apa penilaian orang terhadapnya. Jika seorang anak dicap "nakal", maka ada kemungkinan ia akan memainkan peran sebagai "anak nakal" sesuai dengan penilaian orang terhadapnya, walaupun penilaian itu belum tentu kebenarannya.

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PROSES SOSIALISASI Pada intinya, setiap manusia melakukan proses sosialisasi tanpa terkecuali. Terlebih kita sebagai makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain, menuntut kita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar melalui sosialisasi. Secara tidak langsung, proses sosialisasi mampu membentuk kepribadian individu. Menurut F.G. Robins (sebagaimana dikutip Arif Rohman dkk.; 2003), terdapat lima faktor yang memengaruhi perkembangan kepribadian manusia sebagai hasil sosialisasi. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. sifat dasar, 2. lingkungan prenatal, 3. perbedaan perorangan, 4. lingkungan, dan 5. motivasi.

Sifat dasar merupakan keseluruhan potensi yang diwarisi seseorang dari ayah dan ibunya. Sifat dasar ini berupa karakter, watak serta sifat emosional. Sifat dasar dalam diri seseorang terbentuk melalui proses pembuahan. Proses di mana sel jantan dan sel betina bertemu sehingga membentuk embrio yang mewarisi sifat-sifat ayah dan ibu. Sel telur yang dibuahi berkembang menjadi embrio dan berada dalam rahim ibu untuk beberapa waktu. Lingkungan inilah yang disebut lingkungan prenatal. Pada masa ini, seseorang mendapat pengaruh- pengaruh baik langsung maupun tidak langsung dari sang ibu. Pengaruh-pengaruh langsung misalnya, ibu hamil mengonsumsi susu dengan maksud untuk mencerdaskan otak bayi atau mengajak komunikasi sang bayi saat berada dalam kandungan. Sedangkan pengaruh-pengaruh tidak langsung secara sederhana dapat berupa penyakit sang ibu yang dapat memengaruhi sang bayi, gangguan endoktrin yang mampu memengaruhi keterbelakangan dan emosional bayi, penyakit bawaan karena faktor keturunan serta shock pada saat kelahiran. Perbedaan perorangan dimiliki setiap manusia, artinya satu orang dengan orang lainnya tidak ada yang sama, misalnya: ciri-ciri fisik (bentuk badan, warna kulit, warna mata, bentuk rambut, dan lainlain), ciri-ciri mental, emosional personal dan sosial. Lingkungan yang dimaksud yaitu kondisi di sekitar individu baik lingkungan alam, kebudayaan, dan masyarakat yang dapat memengaruhi proses sosialisasi. Kondisi lingkungan tidak menentukan dalam proses sosialisasi, namun dapat memengaruhi dan membatasi proses sosialisasi. Motivasi merupakan kekuatan-kekuatan dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat sesuatu. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu dorongan dan kebutuhan. Dorongan adalah keadaan yang tidak seimbang bagi individu karena pengaruh baik dari dalam maupun dari luar, sehingga memengaruhi individu untuk bergerak mencapai keseimbangan kembali. Sedangkan kebutuhan adalah dorongan yang telah terpola baik secara personal, sosial, maupun kebudayaan.

E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBENTUK KEPRIBADIAN Secara umum, perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu warisan biologis, warisan lingkungan alam, warisan sosial, pengalaman kelompok manusia, dan pengalaman unik. 1. Warisan Biologis (Heredity)

Warisan biologis memengaruhi kehidupan manusia dan setiap manusia mempunyai warisan biologis yang unik, berbeda dari orang lain. Artinya tidak ada seorang pun di dunia ini yang mempunyai karakteristik fisik yang sama persis dengan orang lain, bahkan anak kembar sekalipun. Faktor keturunan berpengaruh terhadap keramah-tamahan, perilaku kompulsif (terpaksa dilakukan), dan kemudahan dalam membentuk kepemimpinan, pengendalian diri, dorongan hati, sikap, dan minat. Warisan biologis yang terpenting terletak pada perbedaan intelegensi dan kematangan biologis. Keadaan ini membawa pengaruh pada kepribadian seseorang. Tetapi banyak ilmuwan berpendapat bahwa perkembangan potensi warisan biologis dipengaruhi oleh pengalaman sosial seseorang. Bakat memerlukan anjuran, pengajaran, dan latihan untuk mengembangkan diri melalui kehidupan bersama dengan manusia lainnya. 2. Warisan Lingkungan Alam (Natural Environment) Perbedaan iklim, topografi, dan sumber daya alam menyebabkan manusia harus menyesuaikan diri terhadap alam. Melalui penyesuaian diri itu, dengan sendirinya pola perilaku masyarakat dan kebudayaannyapun dipengaruhi oleh alam. Misalnya orang yang hidup di pinggir pantai dengan mata pencaharian sebagai nelayan mempunyai kepribadian yang berbeda dengan orang yang tinggal di daerah pertanian. Mereka memiliki nada bicara yang lebih keras daripada orang-orang yang tinggal di daerah pertanian, karena harus menyamai dengan debur suara ombak. Hal itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari dan telah menjadi kepribadiannya. 3. Warisan Sosial (Social Heritage) atau Kebudayaan Kita tahu bahwa antara manusia, alam, dan kebudayaan mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling memengaruhi. Manusia berusaha untuk mengubah alam agar sesuai dengan kebudayaannya guna memenuhi kebutuhan hidup. Misalnya manusia membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian. Sementara itu kebudayaan memberikan andil yang besar dalam memberikan warna kepribadian anggota masyarakatnya. 4. Pengalaman Kelompok Manusia (Group Experiences) Kehidupan manusia dipengaruhi oleh kelompoknya. Kelompok manusia, sadar atau tidak telah memengaruhi anggota-anggotanya, dan para anggotanya menyesuaikan diri terhadap kelompoknya. Setiap kelompok mewariskan pengalaman khas yang tidak diberikan oleh kelompok lain kepada anggotanya, sehingga timbullah kepribadian khas anggota masyarakat tersebut. 5. Pengalaman Unik ( Unique Experience )

Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda dengan orang lain, walaupun orang itu berasal dari keluarga yang sama, dibesarkan dalam kebudayaan yang sama, serta mempunyai lingkungan fisik yang sama pula. Mengapa demikian? Walaupun mereka pernah mendapatkan pengalaman yang serupa dalam beberapa hal, namun berbeda dalam beberapa hal lainnya. Mengingat pengalaman setiap orang adalah unik dan tidak ada pengalaman siapapun yang secara sempurna menyamainya.

F. PERANAN SOSIALISASI DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN Kepribadian seseorang tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang. Proses tersebut melibatkan orang lain dalam bentuk interaksi sosial atau sosialisasi, baik dalam keluarga maupun masyarakat yang lebih luas. Sosialisasi memungkinkan seseorang menerima pengaruh dari orang lain, demikian sebaliknya. Ciri kepribadian seseorang merupakan hasil dan menggambarkan pula kondisi sosial kelompok masyarakatnya. Apa sebenarnya kepribadian itu? Ada beberapa definisi kepribadian. Menurut para ahli sosiologi, di antaranya sebagai berikut: a. Menurut Soerjono Soekanto (2003), kepribadian mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap, dan lain-lain. Sifat yang khas dimiliki seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain. b. Menurut Cuber (2003), kepribadian sebagai gabungan keseluruhan dari ciri-ciri (sifatsifat) yang tampak dan dapat dilihat pada seseorang. Dengan demikian, kepribadian itu tidak hanya tampak dari ciri-ciri fisik saja tetapi juga termasuk ciri-ciri psikologis setiap orang.

LAMPIRAN 2-MEDIA Pertemuan 1

Pertemuan II

Penilaian non tes Pertemuan 1 (diskusi) RUBRIK PENILAIAN DISKUSI No Nama Siswa Aspek yang Jumlah dinilai Skor 1 2 3 4 4 3 2 3 12 4 3 3 4 14 Nilai 60 70

1 Ardiana Minelli Purwanto 2 Ratna Dwi Ikasari 3 Keterangan Aspek yang dinilai 1. Aktivitas diskusi 2. Kualitas jawaban 3. Ketepatan mengumpulkan pekerjaan 4. Kualitas hasil pekerjaan Jumlah skors maksimal Nilai = Skors Perolehan x 5

Skors Maksimal 5 5 5 5 20

Pertemuan 2 (diskusi dan picture and picture) RUBRIK PENILAIAN PICTURE AND PICTURE DAN DISKUSI No Nama Siswa Aspek yang dinilai 1 2 3 4 5 4 3 2 3 4 5 2 2 4 4 6 4 4 Jumlah Skor 20 21 Nilai 80 84

1 Ardiana Minelli Purwanto 2 Ratna Dwi Ikasari 3 Keterangan Aspek yang dinilai 1. Ketepatan memasangkan gambar 2. Aktivitas diskusi 3. Kualitas jawaban diskusi 4. Inisiatif

Skors Maksimal 5 3 3 4 5 5 25

5. Ketepatan mengumpulkan pekerjaan 6. Kualitas hasil pekerjaan Jumlah skors maksimal Nilai = Skors Perolehan x 4 Pertemuan 3 (hasil observasi dan simulasi)

FORMAT PENILAIAN TUGAS KELOMPOK (LAPORAN OBSERVASI) No. Nama Aspek Penilaian Ketepatan Substansi penyelesaian Bahasa Jumlah Skor Nilai

tugas 1. 2. 3. 4. Ardiana Minelli Pruwanto dkk Novi Andari dkk 2 1 2 3 2 3 6 7 75 87,5

Keterangan: 1. Ketepatan penyelesaian tugas Skor 1: jika tepat waktu Skor 2: jika cepat waktu 2. Subtansi Skor 1: jika tidak sesuia dengan tuntutan maateri Skor 2: jika hanya sebagian tuntutan materi dapat terpenuhi Skor 3: jika semua tuntutan materi terpenuhi 3. Bahasa Skor 1: jika tidak memenuhi unsur sistematis, komunikatif dan kaidah bahasa baik dan benar Skor 2: jika sitematis/komunikatif/kaidah bahasa baik dan benar Skor 3: jika sitematis, komunikatif, kaidah bahasa baik dan benar Jumlah skor maksimal: 2+3+3=8 Nilai=
 

 

FORMAT PENILAIAN TUGAS KELOMPOK (SIMULASI) No. Nama Aspek Penilaian Substansi Kreatifitas simulasi 4 3 5 3 Jumlah Skor 7 8 Nilai

1. Ardiana Minelli Pruwanto dkk 2. Novi Andari dkk 3. 4. Skor maksimal 1. Substansi simulasi 2. Kreatifitas Jumlah skor Nilai= skor perolehan x 10 5 5 10

70 80

Penilaian Tes Pertemuan No. 1. 2. 3. 4. Skor maksimal Pertemuan 1 Pertemuan II Pertemuan III Jumlah skor Nilai=


Jumlah III 8 8 Skor 23 22

Nilai

Nama Ardiana Minelli Pruwanto Ratna Dwi Ikasari 8 7

I 7 7

II

7,7 7,3

10 10 10 30