Anda di halaman 1dari 57

Bab I Pendahuluan A.

Latar Belakang Masalah Kuliah Kerja Lapangan 2 (KKL 2) Prodi Pendidikan IPS dilaksanakan pada 26 Maret-31 Maret 2011. KKL dilaksanakan untuk memberikan gambaran nyata kepada mahasiswa Pendidikan IPS akan berbagai aspek keilmuan seperti Sosiologi, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Politik di suatu daerah yang tentunya akan menjadi bekal berharga untuk mengajar di hari depan. KKL 2 Prodi Pendidikan IPS untuk angkatan 2009 ini menempuh rute dari kampus UNY ke daerah sekitar Pantura, yaitu Demak dan Kudus, lalu perjalanan dilanjutkan ke Suramadu, Bromo, hingga menyeberang ke Bali. Di Demak banyak hal yang patut untuk dibahas yaitu tentang keadaan geografi Demak yang pantainya mengalami prograding ke laut, aspek sejarah dengan adanya Kerajaan Demak dan peninggalan berupa Masjid Agung Demak yang menyuratkan akulturasi budaya Islam-HinduCina, hingga keadaan ekonomi yang khas. Begitu pula di Kudus, dengan peninggalan Masjid Kudus yang menyuratkan akulturasi budaya Hindu-Islam. Kemudian di Jembatan Suramadu ada aspek sosiologi dan ekonomi yang harus dibahas sebagai dampak atas pembangunan jembatan tersebut. Kemudia di Bromo banyak aspek geografi, sosiologi menyangkut masyarakat Tengger dengan berbagai kearifan lokalnya, keadaan ekonomi mereka yang harus dibahas. Lalu di Bali lebih banyak tempat dengan banyak ilmu baru pula yang harus di pelajari. Seperti keadaan pantai selatan Bali (Pantai Tanah Lot, dll) yang menawarkan bagaimana kita harus mengupas sebab pantai tersebut menjadi pantai yang retrograded. Kita juga mempelajari kearifan lokal dalam mengolah tanah pada organisasi Subak Liplip. Selanjutnya kita akan disugihi dengan berbagaipengetahuan baru tentang keadaan geografi, sejarah, pemerintahan, kehidupan masyarakat di Desa Adat Tenganan dan Panglipuran, yang keduanya memiliki perbedaan dan persamaan. Untuk mempelajari berbagai aspek penting di atas maka ditulislah laporan ini dengan konsemtrasi bahasan pada aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi Demak dan Kudus? 2. Bagaimana aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi Bromo?

3. Bagaimana aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi Jembatan Suramadu dan Lapindo? 4. Bagaimana aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi Bali? 5. Bagaimana aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi Desa Adat Tenganan dan Desa Adat Panglipuran? C. Tujuan 1. Mengetahui aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi Demak dan Kudus. 2. Mengetahui aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi Bromo. 3. Mengetahui aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi Jembatan Suramadu dan Lapindo. 4. Mengetahui aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi Bali. 5. Mengetahui aspek fisiografis, histori, sosiologi, dan ekonomi Desa Adat Tenganan dan Desa Adat Panglipuran.

Bab II Pantura A. Demak Kawasan pantai sepanjang pantura termasuk kawasan prograded (maju ke laut) sebagai dampak dari sedimentasi sungai DJRATUNSELUNA (Sungai Djaka, Tuntang, Serang, Lusi dan Juana). Demak yang sekarang berada di pedalaman 12 km dari garis pantai, padahal pada masa lalu Demak merupakan daerah di pesisir pantai. Selain itu pula didukung oleh erosional dari gunung Muria dan Deposional daerah Demak. Sehingga dulu antara Gunung Muria dan daratan masih dapat dilewati oleh kapal-kapal, sedangkan saat ini sepenuhnya yang dahulu selat telah berubah menjadi daratan. 1. Kodisi Fisiografis Kabupaten Demak, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah daengan ibukotanya adalah Demak. Kabupaten ini terletak pada 643'26" - 709'43" LS dan 11048'47" BT dan terletak sekitar 25 km di sebelah timur Kota Semarang. Demak dilalui jalan negara (pantura) yang menghubungkan Jakarta- Semarang- Surabaya- Banyuwangi. Kabupaten Demak memiliki luas wilayah seluas 1. 149, 77 KM, yang terdiri dari daratan seluas 897, 43 KM, dan lautan seluas 252, 34 KM. Sedangkan kondisi tekstur tanahnya, wilayah Kabupaten Demak terdiri atas tekstur tanah halus (liat) dan tekstur tanah sedang (lempung). Dilihat dari sudut kemiringan tanah, rata-rata datar. Dengan ketinggian permukaan tanah dari permukaan air laut (sudut elevasi) wilayah Kabupaten Demak terletak mulai dari 0 M sampai dengan 100 M. Beberapa sungai yang mengalir di Demak antara lain: Kali Tuntang, Kali Buyaran, dan yang terbesar adalah Kali Serang yang membatasi Kabupaten Demak dengan Kabupaten Kudus dan Jepara. Kabupaten Demak mempunyai pantai sepanjang 34, 1 Km, sepanjang pantai Demak ditumbuhi vegetasi mangrove seluas sekitar 476 Ha. Secara administratif, Kabupaten Demak terdiri atas 14 kecamatan yaitu kecamatan Demak, Wonosalam, Karang Tengah, Bonang, Wedung, Mijen, Karang Anyar, Gajah, Dempet, Guntur, Sayung, Mranggen, Karang Awen dan Kebon Agung, yang dibagi lagi atas sejumlah 249 desa dan kelurahan terdiri dari 243 desa dan 6 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Demak. 2. Kondisi Histori a. Kerajaan Demak

Pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah yang menjadi perintis kerajaan Islam di Jawa. Ia disebut-sebut sebagai putra Raja Majapahit Brawijaya V dengan putri asal Campa (kini Kamboja) yang telah masuk Islam. Masa kecilnya dihabiskan di Pesantren Ampel Denta -pesantren yang dikelola Sunan Ampel. Raden Patah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit dan membangun Kesultanan Demak. Dalam konflik dengan Majapahit, ia dibantu Sunan Giri dan selepas pertikaian tersebut, Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak pada 1475. Kelahiran Demak tersebut mengakhiri masa kejayaan kerajaan Majapahit. Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa pengganti Raden Patah adalah Pangeran Sabrang Lor. Dia yang menyerbu Portugis di Malaka pada 1511. Kekuasaan Demak dipegang oleh Sultan Trenggono yang dilantik oleh Sunan Gunung Jati (Sultan Cirebon) yang juga salah seorang walisongo. Raja Demak yang berperan besar dalam sejarah perkembangan Demak adalah: 1) Raden Patah Keturunan Raja Majapahit Raja Brawijaya V memiliki Gelar Sultan Akbar al-Fatah. Raden Patah memerintah pada tahun 1500-1518 M. Perekonomian pada sektor Pertanian yang mendorong Demak menjadi kerajaan yang makmur. Demak menjadi kerajaan agraris-maritim dengan wilayah kekuasaannya adalah Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi, dan beberapa daerah di Kalimantan. Demak memiliki pelabuhan transit, sehingga Demak menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam. Pembangunan Masjid Demak pada tahun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri tahun 1479. Pada tahun 1513 Demak menyerang Portugis. 2) Adipati Unus Masa pemerintahan tahun 1518 1521 M. Beliau mendapat julukan Pangeran

Sabrang Lor. Pemerintahannya berwawasan Nusantara, Pati Unus memiliki visi menjadikan Demak sebagai kerajaan Maritim yang besar. Pada pemerintahannya Demak terancam oleh Portugis. 3) Sultan Trenggana Memerintah pada 1521-1546 M. Demak mengalami masa kejayaan, ditandai dengan terjadi perluasan wilayah; Banten, Sunda Kelapa (sekarang Jakarta), dan Cirebon

dibawah pimpinan Fatahillah. Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Keberadaan kerajaan Demak tak pernah sepi dari rongrongan pemberontakan. Pada masa pemerintahan Raja Trenggono, walaupun berhasil menalukkan Mataram dan Singasari. Tapi perlawanan perang dan pemberontakan tetap terjadi di beberapa daerah yang memiliki basis kuat keyakinan Hindu. Sehingga, daerah Pasuruan serta Panarukan dapat bertahan dan Blambangan tetap menjadi bagian dari Bali yang tetap Hindu. Di tahun 1548, raja Trenggono wafat akibat perang dengan Pasuruan. Kematian Trenggono menimbulkan perebutan kekuasaan antara adiknya dan putranya bernama pangeran Prawoto yang bergelar Sunan Prawoto (1549). Sang adik berjuluk pangeran Seda Lepen terbunuh di tepi sungai dan Prawoto beserta keluarganya dihabisi oleh anak dari pangeran Seda Lepen yang bernama Arya Panangsang. Tahta Demak dikuasai Arya Penangsang yang terkenal kejam dan tidak disukai orang, sehingga timbul pemberontakan dan kekacauan yang datangnya dari kadipatenkadipaten. Apalagi ketika adipati Japara yang mempunyai pengaruh besar dibunuh pula, yang mengakibatkan si adik dari adipati Japara berjuluk Ratu Kalinyamat bersama adipati-adipati lainnya melakukan pemberontakan dalam bentuk gerakan melawan Arya Panangsang. Salah satu dari adipati yang memberontak itu bernama Hadiwijoyo berjuluk Jaka Tingkir, yaitu putra dari Kebokenongo sekaligus menantu Trenggono yang masih ada hubungan darah dengan sang raja. Jaka Tingkir, yang berkuasa di Pajang Boyolali, dalam peperangan berhasil membunuh Arya Penangsang. Oleh karena itu ia memindahkan Karaton Demak ke Pajang dan ia menjadi raja pertama di Pajang. Dengan demikian, habislah riwayat kerajaan Islam Demak. b. Masjid Agung Demak Masjid Agung Demak yang lebih terkenal dengan sebutan Masjid Agung, terletak di kota Demak, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah. Masjid ini sekarang selain sebagai tempat ibadah juga difungsikan sebagai tempat ziarah dan wisata religius. Dari kota Semarang jaraknya kurang lebih sejauh 30 kilometer ke arah timur laut. Masjid yang ini sudah ada pada saat kerajaan Demak mulai dikenal pada abad ke-15 Masehi. Waktu itu

Kota Demak telah menjadi pusat perdagangan yang besar yang memiliki banyak bangunan besar dan penting bagi kehidupan sehari-hari atau kepentingan pemerintahan kerajaan. Menurut legenda, masjid ini didirikan oleh Walisongo secara bersama-sama dalam tempo satu malam. Pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri tahun 1479. Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31x31 m dengan bagian serambi berukuran 31x15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru) dengan tinggi 17 m (melambagkan jumlah total rakaat shalat wajib), yang dibuat oleh empat wali di antara Walisongo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Dalam proses pembangunannya, Sunan Kalijaga memegang peranan yang amat penting. Wali inilah yang berjasa membetulkan arah kiblat. Menurut riwayat, Sunan Kalijaga juga memperoleh wasiat antakusuma, yaitu sebuah bungkusan yang konon berisi baju hadiah dari Nabi Muhammad SAW, yang jatuh dari langit di hadapan para wali yang sedang bermusyawarah di dalam masjid itu. Di dalam bangunan utama terdapat ruang utama, mihrab dan serambi. Ruang utama difungsikan sebagai tempat sholat, berada di tengah bangunan. Sedangkan, mihrab atau bangunan pengimaman berbentuk sebuah ruang kecil dan mengarah ke arah kiblat (Mekkah). Mihrab berada di depan ruang utama. Di bagian belakang ruang utama terdapat serambi berukuran 31x15 meter yang tiang-tiang penyangganya disebut tiang Majapahit. Tiang Majapahit yang berjumlah delapan buah itu diperkirakan berasal dari kerajaan Majapahit yang ada di Jawa Timur. Bangunan serambi ini adalah merupakan bangunan tambahan yang dibangun pada masa Adipati Unus (Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor), menjadi Sultan Demak II pada tahun 1520. Serta terdapat Pawestren, yaitu bangunan yang khusus dibuat untuk sholat jamaah wanita. Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, di mana 4 diantaranya berhias ukiran motif Majapahit. Pawestren ini dibuat pada zaman K. R. M. A. Arya Purbaningrat, tercermin dari bentuk dan motif ukiran Maksurah atau Kholwat yang menerakan tahun 1866 M.

Masjid ini merupakan akulturasi budaya Islam dan Hindu. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan atap bertingkat tiga. Atap Masjid Demak tertingkat tiga (atap tumpang tiga), menggunakan sirap (atap yang terbuat dari kayu) dan berpuncak mustaka. Penampilan atap limas piramida masjid ini menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagian (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Dinding masjid terbuat dari batu dan kapur. Pintu masuk masjid diberi lukisan bercorak klasik. Di Masjid ini juga terdapat Pintu Bledeg, bertuliskan Condro Sengkolo, yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H. Seperti masjid-masjid yang lain, Masjid Demak juga dilengkapi dengan bedug, gentong tempat berwudlu, kolam air, mimbar, dan keramik buatan cina. Namun, yang membedakan dengan masjid lain adalah cerita dibalik bendabenda di masjid ini. Raden Patah bersama Walisongo mendirikan Masjid Maha karya abadi yang karismatik ini dengan memberi prasasti bergambar bulus. Ini merupakan Condro Sengkolo Memet, dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri dari kepala yang berarti angka 1 (satu), kaki 4 berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 ( nol ), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Bisa disimpulkan, Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Selain keunikannya berakulturasi dengan budaya Hindu dan Jawa, masjid ini juga memiliki sisi Tionghoa. Hal ini terbukti dengan adanya hiasan dinding berupa benda seperti piring yang merupakan hiasan khas dari Tionghoa peninggalan Putri Campa sebanyak 65, 60 di dalam masjid, 5 di luar masjid. Peninggalan unik lainnya adalah adanya Dampar Kencana di sebelah utara pengimaman, sumbangan dari Brawijaya V untuk tempat bawahan menghadap raja. Lalu Surya Mjapahit yang menggambarkan 8 arah mata angin. Khalwat berada di selatan pengimaman, dibangun Bupati pada 1800 M sebagai tempat imam berdoa sebelum mengimami. Pintu utama berjumlah 5 melambangkan Rukun Islam. Jendela berjumlah 6, melambnagkan Rukun Iman. Kolam tempat wudhu di halaman, dan juga komplek makam kasultanan di belakang masjid. 3. Kondisi Sosial Budaya Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada agama dan budaya Islam karena pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.

Sebagai pusat penyebaran Islam Demak menjadi tempat berkumpulnya para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Bonar. Para wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan kerajaan Demak bahkan para wali tersebut menjadi penasehat bagi raja Demak. Sehingga tercipta keakraban antara Raja/ Bangsawan, para wali dan rakyat. Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun Pondok Pesantren. Sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di antara orang-orang Islam). Dalam bidang budaya banyak hal yang menarik yang merupakan peninggalan dari kerajaan Demak. Salah satunya adalah Masjid Demak, di mana salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan-pecahan kayu yang disebut Soko Tatal. Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijaga. Di serambi depan Masjid (pendopo) itulah Sunan Kalijaga menciptakan dasar-dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad saw) yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon. Selain peninggalan berupa bangunan fisik, ada pula peninggalan budaya seperti Grebeg Besar Demak. Grebeg Besar Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak dan merupakan suatu kebanggaan untuk kabupaten Demak. Tradisi Grebeg besar ini diselenggarakan secara Kolosal dan dinanti oleh Warga Demak maupun sekitarnya, bahkan ada pula yang dari luar Jawa Tengah. Acara Tradisional Grebeg Besar Demak yang berlangsung setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijah (hari idhul adha atau idul qurban) semakin meriah dengan karnaval kirap budaya yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak hingga ke Makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Kadilangu, jaraknya sekitar 2 kilometer dari tempat start. 4. Kondisi Ekonomi Letak Demak yang sangat strategis, baik untuk perdagangan maupun untuk pertanian. Pada zaman dahulu wilayah Demak terletak diantara pegunungan Muria dan Jawa. Pada abad 16 agaknya Demak telah menjadi gudang padi dan daerah pertanian di tepian selat. Hasil panen sawah di daerah Demak rupanya pada zaman dahulu pun sudah baik. Dengan demikian kegiatan perdagangannya ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di bidang ekonomi. Dalam hal perdagangan letak Demak sangat strategis, karena Demak berada di jalur perdagangan Nusantara memungkinkan Demak berkembang sebagai kerajaan maritim. Dalam

kegiatan perdagangan, Demak berperan sebagai penghubung antara daerah penghasil rempah di Indonesia bagian Timur dan penghasil rempah-rempah Indonesia bagian barat. Dengan demikian perdagangan Demak semakin berkembang. Hal ini juga didukung oleh penguasaan Demak terhadap pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai pulau Jawa. Perekonomian Demak pada saat ini masih sama dengan pada masa kerajaan dulu, namun sekarang Demak juga menjadi pusat pariwisata. Sebagai tempat rekreasi, ziarah, dan study. Oleh karena itu perekonomian di Demak semakin maju, masyarakat sekitar bermata pencaharian sebagai pedagang baik barang maupun jasa. Pemerintah kabupaten Demak juga membuat kebijakan politik dalam bidang ekonomi yaitu dengan adanya terminal pariwisata. Sehingga mengharuskan bus-bus pariwisata transit di terminal tersebut. Para pengunjung yang akan mendatangi Masjid Agung Demak bisa menggunakan jasa masyarakat sekitar, seperti jasa andong, ojek, becak dan ada pula angkot. Kebijakan politik tersebut bertujuan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar. B. Kudus Kabupaten Kudus adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Kudus, berada di jalur pantai utara timur Jawa Tengah, yaitu di antara Semarang-Surabaya berada 51 km sebelah timur Kota Semarang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Pati di timur, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak di selatan, serta Kabupaten Jepara di barat. Kudus dikenal sebagai kota penghasil rokok kretek terbesar di Jawa Tengah. Selain itu kudus juga di kenal sebagai kota santri, kota ini juga menjadi pusat perkembangan agama islam pada abad pertengahan hal itu dapat dilihat dari terdapatnya 2 makam wali/ sunan, yaitu sunan kudus dan sunan muria. 1. Kondisi Fisiografis Kabupaten Kudus secara geografis terletak pada 11036-750 Bujur Timur dan 636716 Lintang Selatan. Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 16 km dan dari utara ke selatan 22 km. Luas wilayah Kabupaten Kudus sekitar 42. 515 km, merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah yang terdiri dari 9 kecamatan 123 kesa dan 9 kelurahan. Sebagian besar wilayah Kabupaten Kudus adalah dataran rendah dengan ketinggian ratarata 55 m di atas permukaan laut. Sehingga Kabupaten Kudus beriklim tropis dan bertemperatur sedang. Sebagian wilayah utara terdapat pegunungan (Pegunungan Muria), dengan puncaknya Gunung Sutorenggo (1. 602 meter), Gunung Rahtawu (1. 522 meter), dan

Gunung Argojembangan (1. 410 meter). Sungai terbesar adalah Kali Serang yang mengalir di sebelah barat, membatasi Kabupaten Kudus dengan Kabupaten Demak. Batas fisiknya adalah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Jepara dan Pati, sebelah timur dengan Kabupaten Pati, sebelah selatan dengan Grobogan dan Kabupaten Pati, dan sebelah barat denga Kabupaten Jepara dan Kebupaten Demak. 2. Kondisi Historis Asal usul nama Kudus menurut dongeng/legenda yang hidup dikalangan masyarakat setempat ialah, bahwa dahulu Sunan Kudus pernah pergi naik haji sambil menuntut ilmu di Tanah Arab, kemudian beliau pun mengajar pula di sana. Pada suatu masa, di Tanah Arab konon berjangkit suatu wabah penyakit yang membahayakan, penyakit tersebut menjadi reda berkat jasa Sunan Kudus. Olek karena itu, seorang amir di sana berkenan untuk memberikan suatu hadiah kepada beliau, akan tetapi beliau menolak, hanya sebagai kenang-kenangan beliau meminta sebuah batu. Batu tersebut menurut sang amir berasal dari kota Baitul Makdis atau Jeruzalem (Al Quds), maka sebagai peringatan kepada kota dimana Jafar Sodiq hidup serta bertempal tinggal, kemudian diberikan nama Kudus. Sejarah Kota Kudus tidak terlepas dari Sunan Kudus hal ini di tunjukan oleh Skrip yang terdapat pada Mihrab di Masjid Al-Aqsa Kudus ( Majid Menara), di ketahui bahwa bangunan masjid tersebut didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. a. Sunan Kudus Sunan Kudus atau Djafar Sodiq adalah seorang putra dari Raden Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipang Panolan (ada yang mengatakan bahwa tempat tersebut terletak di sebelah utara Blora). Sunan Kudus menikah dengan Dewi Rukhil, puteri dari Kanjeng Sunan Bonang (R. Makdum Ibrahim). Semasa hidupnya Sunan Kudus mengajarkan agam Islam di sekitar daerah Kudus khususnya di Jawa Tengah pesisir utara pada umumnya. Beliau terhitung salah seorang ulama, guru besar agama yang telah mengajar serta menyiarkan agama islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Sunan Kudus selain dikenal seorang ahli agama juga dikenal sebagai ahli ilmu tauhid, ilmu hadist dan ilmu fiqh. Karena itu, diantara kesembilan wali, hanya beliau yang terkenal sebagai "Waliyil Ilmi". Adapun cara Sunan Kudus menyebarkan agama Islam adalah dengan jalan kebijaksanaan, sehingga mendapat simpati dari penduduk yang saat itu masih memeluk agama Hindu. Salah satu contohnya adalah, Sapi merupakan hewan yang sangat dihormati

10

oleh agama Hindu, suatu ketika kanjeng Sunan mengikat sapi di pekarangan masjid, setelah mereka datang Kanjeng Sunan bertabligh, sehingga diantara mereka banyak yang memeluk Islam. Dan sampai sekarang pun di wilayah Kudus, khususnya Kudus Kulon dilarang menyembelih sapi sebagai penghormatan terhadap agama Hindu sampai dengan saat ini. b. Masjid Kudus Masjid Kudus dibangun dengan bentuk bercorak agama Hindu ditujukan sebagai bentuk suatu penghormatan. Menurut sejarah, masjid Kudus dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 956 H. Hal ini terlihat dari batu tulis yang terletak di Pengimaman masjid, yang bertuliskan dan berbentuk bahasa Arab, yang sukar dibaca karena telah banyak huruf-huruf yang rusak. Batu itu berperisai, dan ukuran perisai tersebut adalah dengan panjang 46 cm, lebar 30 cm. Konon kabarnya batu tersebut berasal dari Baitulmakdis ( Al Quds ) di Yerussalem - Palestina. Dari kata Baitulmakdis itulah muncul nama Kudus yang artinya suci, sehingga masjid tersebut dinamakan Masjid Kudus dan kotanya dinamakan dengan kota Kudus. Masjid Kudus memiliki luas 2400 m2. Keadaan tanah berupa sebidang tanah pekarangan yang datar yang di atasnya didirikan masjid dan menara. Untuk memasuki halaman Masjid Kudus harus melewati dua gapura utama yang berbentuk candi bentar. Bentuk asli bangunan masjid sukar untuk diketahui karena telah beberapa kali mengalami perbaikan dan perluasan. Secara keseluruhan Masjid Kudus berbentuk empat persegi panjang berukuran panjang 58 m dan lebar 21 m. Bangunan masjid terdiri dari: menara, serambi, ruang utama, pawestren, dan bangunan lainnya. Bangunan menara berketinggian 18 meter dan berukuran sekitar 100 m persegi. Di sekelilingnya dihias dengan piringan-piringan bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah banyaknya. 20 buah diantaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sedang 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Dalam menara ada tangganya yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Tentang bangunannya dan hiasannya jelas menunjukkan hubungannya dengan kesenian Hindu Jawa. Karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian : (1) Kaki (2) Badan dan (3) Puncak bangunan. Dihiasi pula dengan seni hias, atau artefix (hiasan yang menyerupai bukit kecil). Pada bagian dasar menara secara kuat

11

memperlihatkan sistem, bentuk, dan elemen bangunan Jawa-Hindu. Hal ini bisa dilihat dari kaki dan badan menara yang dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut Pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi. Selain itu, pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Di bagian ata tajuk atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu. Permukaan bidang menara yang tampak menjadi seni tersendiri dari penataan susunan material bata ekspos. Menurut inskripsi berbentuk Candrasengkala dalam tulisan Jawa di sebuah balok bagian atap menara yang berbunyi "Gapura rusak ewahing jagad", arkeolog Soetjipto Wirjosuparto membacanya sebagai tahun Jawa 1 (jagad), 6 (ewah), 0 (rusak), 9 (gapura), maka berbunyi 1609 tahun Jawa atau 1685 Masehi. Terdapat pula gerbang yang bentuknya juga menunjukkan kaitan sangat kuat dengan seni bangunan zaman pra-Islam. Gerbang-gerbang itu menandai dan memberi batas makna ruang profan dan sakral. Komposisi tata letaknya sungguh memberikan urutan sangat menarik. Ada dua jenis gapura di kompleks ini, yakni Kori Agung dan Bentar yang keduanya mirip seperti gapura di Bali. Gapura jenis Kori Agung membentuk suatu gunungan pada bagian atasnya, sementara Bentar membentuk layaknya gunungan terbelah. Kedua jenis seperti ini juga terdapat di kompleks Masjid Mantingan atau Masjid Ratu Kalinyamat di pesisir utara Jawa Tengah . Gerbang ini terdiri dari sepasang gerbang purba berbentuk Kori Agung yang justru terdapat di dalam ruang shalat masjid. Konon, itulah sisa gerbang Masjid Kudus yang asli yang disebut "Lawang Kembar". Terdapat beduk dan kentongan pada Pendopo di bagian kepala menara. Peletakan benda-benda seperti itu merupakan tata letak yang tidak lazim di masjid-masjid Jawa tradisional. Karena alat-alat yang biasa ditabuh sebelum dikumandangkan adzan itu hampir selalu diletakkan di pendopo masjid sebelah timur. Wajar jika hal ini memperkuat kaitan dengan menara Kul-kul Bali karena pada menara Kul-kul Bali biasanya tergantung kentongan di bagian kepala menara tepat di bawah atap. Jumlah ini konon dikaitkan

12

dengan falsafah Buddha, yaitu Asta Sanghika Marga (delapan jalan utama) yang terdiri dari pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya, usaha, meditasi, dan komplementasi yang benar. Pancuran wudlu kuno dari susunan bata merah, dengan lubang pancuran berbentuk kepala arca berjumlah delapan buah. Bentuk arca seringkali dikaitkan dengan kepala sapi bernama Kerbau Gumarang karena binatang sapi merupakan binatang yang diagungkan oleh kaum Hindu di Kudus. Ruang utama dengan pintu utama terletak di tengah-tengah nya, sedangkan pintu-pintu lainnya terdapat di sisi barat dan timur ruang utama. Lantai ruang utama dari ubin. Ruang utama ini mempunyai kemiripan dengan arsitektur pada Masjid Demak yaitu terletak papa penopang yang terdiri dari empat buah soko guru (tiang utama / tiang tatal) dan empat buah soko rawa (tiang tambahan) dan banyak hiasan-hiasan berupa piring-piring unik. Di ruang utama ini juga terdapat sebuah kori agung yang berukuran gunungan pada atapnya. Atap bangunan ruang utama berbentuk tumpang tiga dan ditutup oleh genteng merah. Pada puncak atap terdapat mustaka dari tembaga. Di dalam ruang utama terdapat mimbar dan mihrab. Mimbar ada dua buah yaitu di utara dan selatan. Mimbar berbentuk kursi atau singgasana, tempat para pemimpin agama atau khatib menyampaikan pesan-pesan keagamaan khotab kepada umatnya. Mihrab berukuran ceruk atau relung yang terletak di dinding sisi kiblat. Relung mihrab berbentuk lengkung tapal kuda. Di kanan kiri mihrab terdapat jendela. Di atas mihrab terdapat inskripsi berhuruf Arab yang telah usang yang artinya kirakira masjid didirikan oleh Jafar Shodiq dalam tahun 956 H. Bangunan yang lainnya ialah adanya kompleks makam yang terdapat di belakang Masjid. Diantaranya makam Sunan Kudus dan Para ahli warisnya, serta pada tokoh lainnya seperti Panembahan Palembang, Pangeran Pedamaran, Panembahan Condro, Pangeran Kaling, dan Pengeran Kuleco. Makam-makam tersebut dalam cungkup tersendiri. Cungkup tersebut berdenah bujur sangkar. Nisan berbentuk lengkung bawang yang rata pada bagian atasnya. Hiasan yang ada pada makam Sunan Kudus terutama pada bagian nisan adalah sulur-suluran yang 3. Kondisi Sosiologis Kudus merupakan daerah pariwisata islam dengan peninggalan masjid Kudus yang arsitekturnya merupakan akulturasi kebudayaan hindu dan islam, begitu juga masyarakatnya yang toleransi antar umat beragama. Toleransi ini terlihat ketika idhul adha masyarakat

13

muslim tidak menyembelih sapi untuk menghormati masyarakat hindu. Mereka menyembelih kerbau sebagai pengganti. Masyarakatnyapun taat beragama dan menghargai leluhurnya dengan dilakukannya ziarah ke makam wali yang ada di Kudus. 4. Kondisi Ekonomi Luas lahan terdiri dari 21. 692 Ha (51, 02 %) merupakan lahan sawah dan 20. 824 Ha (48, 98 %) adalah bukan lahan sawah. Jika dilihat menurut penggunaanya, Kabupaten Kudus terdiri atas lahan dengan pengairan teknis seluas 4. 201 Ha (19, 37 %) dan sisanya berpengairan teknis, sederhana, tadah hujan dan lainnya. Sedangkan bukan lahan sawah yang digunakan untuk bangunan dan halaman sekitar seluas 9. 995 Ha (23, 51 %) dari luas Kabupaten Kudus. Pertanian merupakan sektor utama perekonomian Kudus. . Kudus juga terkenal dengan industri rokok. Untuk menopang kehidupan pariwisata masyarakat kudus juga

bermatapencaharian sebagai penyedia jasa angkutan (ojek, becak, mobil pick-up), rumah makan, penginapan, hotel, dll. Di Kudus juga disediakan terminal khusus jika ingin menuju ke Masjid Kudus, layaknya di Demak. .

14

Bab III Bromo A. Bromo dan Masyarakat Tengger 1. Kondisi Fisiografis Pegunungan Tengger merupakan sebuah komplek vulkanis yang sebetulnya merupakan lanjutan deretan vulkan di jawa. Di bagian tengah vulkan Tengger purba terbentuklah anakanak vulkan seperti Gunung Bromo, dan Gunung Batok. Pegunungan Tenger meliputi Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Pananjakan, dan Gunung Semeru. Saat mengeluarkan letusan, abu gunung Bromo lebih banyak mengandung silica daripada abu gunung Merapi. Bagi masyarakat Bromo kawah Bromo merupakan tempat yang di sucikan sehingga direncanakan agar ada penataan yang diharapkan pengunjung tidak dapat ke kawah Bromo dan hanya di bibirnya saja. Hal ini dikarenakan kawahnya sudah menipis. Secara edavologi ilmu tanah, sebenarnya kedua daerah Bromo dan Dieng merupakan sama-sama daerah vulkan. Tapi karena perbedaan stadiumnya, di Dieng tanah sudah menjadi tebal, namun di Bromo setiap tahun terdapat penimbunan material vulkanik baru, sehingga tanah yang terbentuk belum berkembang, konsekuensinya batuan belum menjadi tanah, sehinga tidak subur, poduktifitas lebih rendah dari pada di Dieng. Luas daerah Tengger kurang lebih 40 km dan utara ke selatan; 20-30 km dan timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000m-3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empat kabupaten, yaitu: Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan pasir yang terluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km. Kawah Gunung Bromo, dengan ketinggian 2392 m, masih aktif mengeluarkan asap yang menggelembung ke angkasa. Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m. Keadaan tanah daerah Tengger gembur seperti pasir, namun cukup subur. Tanaman keras yang tumbuh terutama adalah agathis laranthifolia, pinus merkusii, tectona, grandis leucaena, dan swietenia altingia excelsa, anthocepalus cadamba. Di kaki bukit paling atas ditumbuhi pohon cemara sampai 3000 m di lereng Gunung Semeru. Tumbuhan utamanya

15

adalah pohon-pohonan yang tinggi, pohon elfin dan pohon cemara, sedangkan tanam-tanaman pertanian terutama adalah kentang, kubis, ubi ketela, jagung dsb. 2. Kondisi Historis Ditinjau dari arti etimologisnya Tengger berarti berdiri tegak, diam tanpa bergerak (Jawa). Sedangkan bila dikaitkan dengan kepercayaan yang hidup dalam masyarakatnya, Tengger diartikan sebagai tengering budhi luhur (Jawa), Tengger berarti tanda atau ciri yang memberikan sifat khusus pada sesuatu. Dengan kata lain tengger dapat berarti sifat-sifat budi pekerti luhur. Arti yang kedua adalah daerah pegunungan, yang memang tepat dengan keadaan sebenarnya bahwa masyarakat Tengger berada pada lereng-lereng pegunungan Tengger dan Semeru. Arti kata Tengger juga dapat dianalisis dari mitos masyarakat Tengger, tentang suami istri sebagai cikal bakal atau yang pertama menghuni daerah itu, yaitu Roro Anteng, dan Joko Seger. Dalam legenda, suami istri tersebut mempunyai 25 anak, yang salah satunya dikorbankan sebagai tumbal dengan masuk ke dalam kawah Gunung Bromo yakni Kusuma demi keselamatan saudara-saudaranya. Tengger merupakan singkatan dari kata teng dari asal kata anteng dan ger dari kata seger. Anteng mengandung arti sifat tidak banyak tingkah, dan tidak mudah terusik. Makna dari istilah tersebut tercermin pula pada kenyataan bahwa masyarakat Tengger hidup sederhana, tenteram dan damai, bergotong-royong, bertoleransi tinggi, serta suka bekerja keras. Mereka bekerja di ladang dari pagi sampai petang, bahkan sehari penuh tidak pulang ke rumahnya, kecuali pada malam hari. Sifat pergaulan masyarakat Tengger komunal, dalam arti hubungan batin antar-warga adalah erat, dan sikap serta tindakan untuk saling menolong sesama warga dilakukan baik antar-tetangga maupun antar-kerabatnya. Sikap tolong-menolong itu terwujud pada kegiatan bercocok tanam, mendirikan rumah, hajat keluarga, mengatasi bencana alam, dsb. 3. Kondisi Sosiologi (Masyarakat Desa Ngadisari) a. Pemimpin Masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger dipimpin oleh seorang kepala desa, dimana kepala desa bekerja sebagai wakil pemerintahan yang memimpin desa di Tengger sekaligus sebagai kepala adat. Sebagai kepala adat, kepala desa disebut petinggi. Petinggi mempunyai hak untuk mengatur dukun-dukun lain yang ada di Tengger sesuai dengan prosedur yang berlaku.

16

Dukun merupakan pimpinan masyarakat yang berperan memimpin upacara keagamaan. Kedudukan dukun lebih tinggi daripada modin dalam agama Islam, namun lebih rendah dari pedanda dalam masyarakat Bali. Di Tengger dahulu ada 36 orang dukun. Satu di antaranya menjadi kepala Dukun Pandita Tengger yang memberi arahan serta petunjuk atau nasihat bagi para dukun lainnya. Dukun Pandita Tengger bertugas pula memimpin upacara secara komunal maupun upacara pribadi seperti pernikaham. Wanakara, entasentas, nyewu, ontang-anting, gono-gini dan lain-lain. Dukun dipilih melalui musyawarah desa, diseleksi melalui ujian, serta diangkat oleh pemerintah. Dukun berfungsi memimpin upacara keagamaan dan dibantu oleh legen. Pada waktu memimpin upacara keagamaan, dukun mengenakan baju antrakusuma atau rasukan dukun dengan ikat kepala dan selempang, serta dilengkapi dengan alat-alat upacara seperti: prasen, genta, dan talam. Syarat menjadi dukun antara lain adalah: (1) berkemampuan, tekun, mampu menggali legenda, memiliki kedalaman ilmu, dan bertempat tinggal dekat dengan lokasi; (2) disetujui oleh masyarakat melalui musyawarah; dan (3) diangkat oleh pemerintah. Untuk memperkuat karisma dan wibawa, seorang dukun diwajibkan menjalankan laku tertentu. Pada setiap bulan ketujuh dukun diharuskan melakukan mutih, yaitu selama satu bulan tidak makan garam, gula, dan tidak kumpul dengan istri. Kerja seharihari tetap dilaksanakan, hanya dibatasi waktunya supaya tidak terlalu lelah. Laku mutih ini diibaratkan sebagai pengasah kemampuan batiniah yang bersifat spiritual. Diibaratkan seperti pisau, untuk menjadi tajam harus diasah. Laku mutih ini bukan untuk setiap orang, dalam arti bahwa orang-orang yang bukan dukun tidak harus melakukannya. Untuk dapat menjadi dukun diharuskan menguasai adat dan mantra-mantra yang dibaca atau diucapkan pada berbagai upacara adat. Pada umumnya dipandang bahwa seseorang bisa menjadi dukun setelah mencapai umur 40 tahun dan menguasai adat serta berbagai mantranya. Mantra-mantra tersebut dulu diwariskan secara lisan, akan tetapi sekarang di samping lisan diusahakan melalui tulisan. b. Kehidupan sehari-hari. Warga Tengger terkenal dengan karakternya, keluhuran budi pekerti dan sikapnya yang sangat sadar hukum. Di Tengger sangat jarang terjadi tindakan pencurian, pembunuhan atau tindakan kriminal lainnya, kehidupan Tengger sangat harmonis. Warga Tengger

17

kebanyakan hidup dari kegiatan bercocok tanam. Meskipun banyak warga tengger yang berpendidikan tinggi dan melek teknologi, tapi umumnya mereka lebih suka kembali ke desa dan menjalani kehidupan desa yang bersahaja. Filosofi hidup masyarakat Tengger yaitu catur guru bekti, yaitu taat pada Tuhan, orang tua, pasinaon (guru) formal dan non formal, dan pemerintah. Secara kedeluruhan masyarakat Tengger tersebar di beberapa kabupaten yaitu kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Masyarakat suku Tengger terdiri atas kelompok-kelompok desa yang masing-masing kelompok tersebut dipimpin oleh tetua. Seluruh perkampungan ini dipimpin oleh seorang kepala adat. Masyarakat suku Tengger amat percaya dan menghormati dukun di wilayah mereka dibandingkan pejabat administratif karena dukun sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger mengangkat masyarakat lain dari luar masyarakat Tengger sebagai warga kehormatan dan tidak semuanya bisa menjadi warga kehormatan di masyarakat Tengger. Masyarakat Muslim Tengger biasanya tinggal di desa-desa yang agak bawah sedangkan Hindu Tengger tinggal didesa-desa yang ada di atasnya. Seperti orang Jawa lainnya, orang Tengger menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral yaitu garis keturunan pihak ayah dan ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak. Pada umumnya masyarakat Tengger mempunyai pendirian yang cukup bermoral atas perkawinan. Poligami dan perceraian boleh dikatakan tidak pernah terjadi, karena pada saat upacara perkawinan diucapkan janji perkawinan yaitu Sri Kawin Rali Ringgit Arta Perak Utang, yang artinya hutang tanggung jawab sampai mati tidak boleh ditinggalkan. Perkawinan di bawah umur juga jarang terjadi. Sebelum acara perkawinan biasanya telah dimintakan nasihat kepada dukun mengenai kapan sebaiknya hari perkawinan itu dilaksanakan. Dukun akan memberikan saran (menetapkan) hari yang baik dan tepat, papan tempat pelaksanaan perkawinan, dan sebagainya. Setelah hari untuk upacara perkawinan ditentukan, maka diawali selamatan kecil (dengan sajian bubur merah dan bubur putih). Masyarakat Tengger mempunyai salam yaitu Hong Ulun Basuki Langgeng, yang harus dijawab dengan Langgeng Basuki. Hong berarti sebutan untuk Tuhan, Ulun berarti kita, Basuki berarti selamat, dan Langgeng berarti kekal. Jadi Hong Ulun Basuki Langgeng

18

berarti semoga kita dalam keadaan selamat atas karunia Tuhan MHE. Salam ini dipakai dalam setiap pertemuan, tidak peduli agama masyarakat Tengger yang ada di pertemuan tersebut apakah Hindu, Islam, Katolik, atau yang lainnya. Masyarakat Tengger mempunyai ciri khas memakai sarung karena dingin, sehinga menjadi tradisi. Masyarakat Tengger mempunyai pakaian kebesaran untuk laki-laki yaitu kepala diikat (udeng), pakai celana dan rompi hitam, jarik dibebet. Sedang perempuan memakai kebaya hitam, jarik, selendang kuning dan sanggul. Bagi masyarakat Tengger warna hitam mempuyai arti kedamaian. Di desa Ngadisari khususnya yang dipimpin oleh Bapak Supoyo, ada kearifan lokal tersendiri yang diterapkan oleh beliau untuk memajukan desanya, namun tetap melestarikan budaya luhur. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain adalah: adanya penghargaan bagi warga Ngadisari yang berhasil sekolah hingga menjadi Sarjana S1, hingga mereka diberikan penghargaan dengan cara pelaksanaan Upacara Mayu Ilmu Sarjana, hal ini dilakukan untuk memotivasi penduduk agar rajin menuntun ilmu. Kedua, pembangunan Seruni Point Yes, dengan rencana pembangunan toilet dan fasilitas lain. Seruni Point Yes adalah tempat alternatif untuk melihat puncak Bromo, agar kawasan bibir Bromo tetap lestari. Karena sejak dulu jeep, kuda, banyak wisatawan menuju bibir Bromo sehingga bibir Bromo mengalami penipisan. Hal lain yang dilakukan adalah pelengkapan musium di Bromo dengan alat seismograf agar pengunjung dapat melihat secara nyata kinerja alat tersebut dan keadaan gunung Bromo. Ketiga, larangan untuk tidak boleh menikah sebelum lulus SMA hal ini dilakukan agar kaum perempuan tidak dirugikan dan agar remaja-ermaja terpenuhi pendidikannya. Hal ini juga diharapkan meminimalisir pernikahan dini yang beresiko KDRT, kemiskinan, penyakit kandungan pada wanita, dll. c. Upacara adat Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama lain yang dipeluk adalah agama Islam, Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut, setiap tahun mereka melakukan 6 upacara adat. Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa

19

mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan. Di Tengger terdapat berbagai upacara adat yang sampai sekarang masih dilaksanakan. Upacara adat yang bersifat umum dan besar adalah Kasada, Karo dan Unan-unan. Upacara Kasada dan Karo dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada bulan ke-12 dan ke-2 menurut penanggalan Tengger, sedangkan upacara Unan-unan dilaksanakan setiap lima tahun sekali, satu windu tahun wuku. Upacara-upacara yang dilaksanakan tiap tahun adalah: 1) Bulan ke-1, Kasa, tidak ada upacara. 2) Bulan ke-2 Upacara Karo dilaksanakan di rumah atau juga secara terpusat di kepala Desa/adat. Pada bulan ke-2 atau Karo. Pada upacara ini diutamakan para rakyat saling berkunjung, dan kepala adat perlu mengunjungi setiap rumah tangga para warganya. Pada upacara yang bersifat umum, dimulai dengan tari ujung dan tari sebagai rangkaian upacara, di samping itu dikeluarkan juga jimat klonthong sebagai penyempurnaan upacara. Tarian yang ada di upacara ini adalah Tarian Sang Hyang Parang Dumadi, menggambarkan kelahiran manusia di muka bumi ini. 3) Bulan ke-3, tidak ada upacara. 4) Bulan ke-4, Pukang kampat, upacara untuk keselamatan desa dan masyarakat. 5) Bulan ke-5 dan ke-6 tidak ada upacara. 6) Bulan ke-7, bersamaan dengan Nyepi, melaksanakan Nyepi. 7) Bulan ke-8, Pujan Kawolu upacara memohon keselamatan. 8) Bulan ke-9, Pujan Kasanga upacara bersih desa, berkeliling desa memakai obor untuk memberi sesaji kepada butakala agar tidak mengganggu desa. 9) Bulan ke-10 dan ke-11, Kasepuluh dan Kadesta tidak ada upacara. 10) Bulan ke-12, upacara Kasada dilakukan di kaki Gunung Bromo di lembah lautan

pasir pada bulan ke-12. Setelah berdoa tengah malam, upacara ini diakhiri dengan menyajikan korban ke kawah Gunung Bromo sebagaimana dipesankan oleh leluhurnya, Raden Kusumaputra Rara Anteng dan Jaka Seger. Korban itu berupa buah-buahan dan hasil bumi lainnya demi keselamatan masyarakat dan anak-cucu masyarakat Tengger. Upacara Kasada, selain untuk persembahan dan penyajian korban di Gunung Bromo, juga digunakan untuk penyumpahan dan pelantikan dukun baru. Di samping itu bisa

20

juga diadakan pelantikan para pejabat pemerintahan atau orang terhormat lainnya yang diangkat oleh masyarakat Tengger sebagai pinisepuh. Upacara Kasada dianggap sebagai saat yang tepat untuk memamerkan objek wisata Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, karena dapat menarik perhatian orang dari berbagai daerah dan mancanegara untuk berkunjung menyaksikan upacara adat di Tengger. Dengan demikian, sekaligus dapat menunjukkan keindahan Bromo dan alam sekitarnya kepada para pengunjung. 11) Upacara Unan-unan juga bersifat khas dilaksanakan 5 tahun sekali. Tujuan utama

upacara ini untuk bersih desa dalam arti luas. Pengertian bersih bukan semata-mata bersifat fisik, melainkan lebih bersifat ritual spiritual yaitu suatu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Tengger pada khususnya dan negara Indonesia pada umumnya. . 12) Upacara-upacara lain bersifat individual, sehingga sedikit kemungkinan untuk

dijadikan objek kepariwisataan. Di samping itu terdapat pula upacara Galungan, yang ada karena masuknya agama Hindu Dharma Bali. 4. Kondisi Ekonomi Penduduk di sekitar Taman Nasional Bromo kurang lebih sebanyak 128. 181 jiwa dengan distribusi sebagai berikut: petani penggarap 48. 625 orang (37, 93%), buruh tani 10. 461 orang (8, 16%), karyawan dan ABRI 1. 595 orang (1, 24%), pedagang 3. 009 orang (2, 38%), pengrajin/industri kecil 343 orang (0, 01%), dan lain-lain sekitar 64. 140 orang (50, 05%). Penduduk masyarakat Tengger pada umumnya bertempat tinggal berkelompok di bukit-bukit mendekati lahan pertanian. Mereka hidup dari bercocok tanam di ladang, dengan pengairan tadah hujan. Pada mulanya mereka menanam jagung sebagai makanan pokok, akan tetapi saat ini sudah berubah. Pada musim hujan mereka menanam sayuran seperti kentang, kubis, bawang, dan wortel sebagai tanaman perdagangan. Pada penghujung akhir musim hujan mereka menanam jagung sebagai cadangan makanan pokok. Pada masa kini masyarakat Tengger umumnya hidup sebagai petani di ladang. Prinsip mereka adalah tidak mau menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain. Macam hasil pertaniannya adalah kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. Jagung adalah makanan pokok suku Tengger. Untuk pendistribusian hasil pertanian dilaksanakan dengan penjualan ke tengkulak, tengkulak atau pedagang langsung menjemput komoditas pertanian ke Bromo.

21

Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda dan jeep yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan. Aspek pembangunan yang terlihat adalah pada sektor pariwisata misalnya dengan pembangunan-pembanguna akses-akses menuju gunung Bromo agar lebih mudah dijangkau oleh wisatawan. Fasilitas yang dibangun untuk pariwisata misalnya hotel, restoran, caf, musium, toko aksesoris, warung-warung dan sebagainya. Di desa Ngadisari sudah terdapat 276 kuda, 176 jeep, 4 hotel, dan 32 penginapan. Untuk media bersosialisasi pengusaha pariwisata di Bromo, didirikan Koperasi Wisata Bromo Nusa Indah, yang dulu dibantu oleh BNI sebesar 46 juta, hingga sekarang SHU sudah mencapai 80 juta. B. Lapindo 1. Letak Semburan Lokasi semburan lumpur Lapindo yakni di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. . Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan. Lokasi pusat semburan hanya berjarak 150 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas Inc sebagai operator blok Brantas. Lokasi semburan lumpur tersebut merupakan kawasan pemukiman dan di sekitarnya merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Tak jauh dari lokasi semburan terdapat jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-PasuruanBanyuwangi (jalur pantura timur), serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi, Indonesia. 2. Penyebab Semburan Pada awalnya sumur tersebut direncanakan hingga kedalaman 8500 kaki (2590 meter) untuk mencapai formasi Kujung (batu gamping). Sumur tersebut akan dipasang selubung bor (casing) yang ukurannya bervariasi sesuai dengan kedalaman untuk mengantisipasi potensi circulation loss (hilangnya lumpur dalam formasi) dan kick (masuknya fluida formasi tersebut ke dalam sumur) sebelum pengeboran menembus formasi Kujung. Sesuai dengan desain awalnya, Lapindo sudah memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 kaki, casing 20 inchi pada 1195 kaki, casing (liner) 16 inchi pada 2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki (Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Ketika Lapindo mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki,

22

mereka belum memasang casing 9-5/8 inchi yang rencananya akan dipasang tepat di kedalaman batas antara formasi Kalibeng Bawah dengan Formasi Kujung (8500 kaki). Diperkirakan bahwa Lapindo, sejak awal merencanakan kegiatan pemboran ini dengan membuat prognosis pengeboran yang salah. Mereka membuat prognosis dengan mengasumsikan zona pemboran mereka di zona Rembang dengan target pemborannya adalah formasi Kujung. Padahal mereka membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujungnya. Alhasil, mereka merencanakan memasang casing setelah menyentuh target yaitu batu gamping formasi Kujung yang sebenarnya tidak ada. Selama mengebor mereka tidak mengcasing lubang karena kegiatan pemboran masih berlangsung. Selama pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari formasi Pucangan sudah berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat diatasi dengan pompa lumpurnya Lapindo (Medici). Setelah kedalaman 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping. Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (bolong-bolong). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik) atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di permukaan. Akibat dari habisnya lumpur Lapindo, maka lumpur formasi Pucangan berusaha menerobos ke luar (terjadi kick). Mata bor berusaha ditarik tetapi terjepit sehingga dipotong. Sesuai prosedur standard, operasi pemboran dihentikan, perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup & segera dipompakan lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan mematikan kick. Kemungkinan yang terjadi, fluida formasi bertekanan tinggi sudah terlanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di permukaan (surface casing) 13 3/8 inchi. Di kedalaman tersebut, diperkirakan kondisi geologis tanah tidak stabil & kemungkinan banyak terdapat rekahan alami (natural fissures) yang bisa sampai ke permukaan. Karena tidak dapat melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui lubang sumur disebabkan BOP sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi akan berusaha mencari jalan lain yang lebih mudah yaitu melewati rekahan alami tadi & berhasil. Inilah mengapa surface blowout terjadi di berbagai tempat di sekitar area sumur, bukan di sumur itu sendiri. 3. Dampak Semburan

23

Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Sampai Mei 2009, PT Lapindo, melalui PT Minarak Lapindo Jaya telah mengeluarkan uang baik untuk mengganti tanah masyarakat maupun membuat tanggul sebesar Rp. 6 Triliun. a. Lumpur menggenangi 16 desa di tiga kecamatan. Hingga bulan Agustus 2006, luapan lumpur ini telah menggenangi sejumlah desa/kelurahan di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin, dengan total warga yang dievakuasi sebanyak lebih dari 8. 200 jiwa dan tak 25. 000 jiwa mengungsi. Karena tak kurang 10. 426 unit rumah terendam lumpur dan 77 unit rumah ibadah terendam lumpur. b. Lahan dan ternak yang tercatat terkena dampak lumpur hingga Agustus 2006 antara lain: lahan tebu seluas 25, 61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring; lahan padi seluas 172, 39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo, Kedungbendo, Sentul, Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon; serta 1. 605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang. c. Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1. 873 orang tenaga kerja yang terkena dampak lumpur ini. d. Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak bekerja. e. Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil Porong, serta rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon) f. Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak sebanyak 1. 683 unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1. 810 (Siring 142, Jatirejo 480, Renokenongo 428, Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah negeri), kantor 2 (Kantor Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid dan musala 15 unit. g. Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal persawahan h. Pihak Lapindo melalui Imam P. Agustino, Gene-ral Manager PT Lapindo Brantas, mengaku telah menyisihkan US$ 70 juta (sekitar Rp 665 miliar) untuk dana darurat penanggulangan lumpur. i. Akibat amblesnya permukaan tanah di sekitar semburan lumpur, pipa air milik PDAM Surabaya patah.

24

j. Meledaknya pipa gas milik Pertamina akibat penurunan tanah karena tekanan lumpur dan sekitar 2, 5 kilometer pipa gas terendam [3]. k. Ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak ditentukan, dan mengakibatkan kemacetan di jalur-jalur alternatif, yaitu melalui Sidoarjo-Mojosari-Porong dan jalur Waru-tol-Porong. l. Tak kurang 600 hektar lahan terendam. m. Sebuah SUTET milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik di empat desa serta satu jembatan di Jalan Raya Porong tak dapat difungsikan. Penutupan ruas jalan tol ini juga menyebabkan terganggunya jalur transportasi SurabayaMalang dan Surabaya-Banyuwangi serta kota-kota lain di bagian timur pulau Jawa. Ini berakibat pula terhadap aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Selain dampak diatas, kadar PAH (Chrysene dan Bzenz(a)anthracene) dalam lumpur Lapindo yang mencapai 2000 kali diatas ambang batas bahkan ada yang lebih dari itu. Maka bahaya adanya kandungan PAH (Chrysene dan Benz(a)anthracene) tersebut telah mengancam keberadaan manusia dan lingkungan: a. Bioakumulasi dalam jaringan lemak manusia (dan hewan), b. Kulit merah, iritasi, melepuh, dan kanker kulit jika kontak langsung dengan kulit, c. Kanker, d. Permasalahan reproduksi, e. Membahayakan organ tubuh seperti liver, paru-paru, dan kulit. Dampak PAH dalam lumpur Lapindo bagi manusia dan lingkungan mungkin tidak akan terlihat sekarang, melainkan nanti 5-10 tahun kedepan. Dan yang paling berbahaya adalah keberadaan PAH ini akan mengancam kehidupan anak cucu, khususnya bagi mereka yang tinggal di sekitar semburan lumpur Lapindo beserta ancaman terhadap kerusakan lingkungan. 4. Upaya Penanggulangan Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menanggulangi luapan lumpur, diantaranya dengan membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur. Namun demikian, lumpur terus menyembur setiap harinya, sehingga sewaktu-waktu tanggul dapat jebol, yang mengancam tergenanginya lumpur pada permukiman di dekat tanggul.

25

Ada pihak-pihak yang mengatakan luapan lumpur ini bisa dihentikan, dengan beberapa skenario dibawah ini, namun asumsi luapan bisa dihentikan sampai tahun 2009 tidak berhasil sama sekali, yang mengartikan luapan ini adalah fenomena alam. Skenario pertama, menghentikan luapan lumpur dengan menggunakan snubbing unit pada sumur Banjar Panji-1. Snubbing unit adalah suatu sistem peralatan bertenaga hidrolik yang umumnya digunakan untuk pekerjaan well-intervention & workover (melakukan suatu pekerjaan ke dalam sumur yang sudah ada). Snubbing unit ini digunakan untuk mencapai rangkaian mata bor seberat 25 ton dan panjang 400 meter yang tertinggal pada pemboran awal. Diharapkan bila mata bor tersebut ditemukan maka ia dapat didorong masuk ke dasar sumur (9297 kaki) dan kemudian sumur ditutup dengan menyuntikan semen dan lumpur berat. Akan tetapi skenario ini gagal total. Rangkaian mata bor tersebut berhasil ditemukan di kedalaman 2991 kaki tetapi snubbing unit gagal mendorongnya ke dalam dasar sumur. Skenario kedua dilakukan dengan cara melakukan pengeboran miring (sidetracking) menghindari mata bor yang tertinggal tersebut. Pengeboran dilakukan dengan menggunakan rig milik PT Pertamina (persero). Skenario kedua ini juga gagal karena telah ditemukan terjadinya kerusakan selubung di beberapa kedalaman antara 1. 060-1. 500 kaki, serta terjadinya pergerakan lateral di lokasi pemboran BJP-1. Kondisi itu mempersulit pelaksanaan sidetracking. Selain itu muncul gelembung-gelembung gas bumi di lokasi pemboran yang dikhawatirkan membahayakan keselamatan pekerja, ketinggian tanggul di sekitar lokasi pemboran telah lebih dari 15 meter dari permukaan tanah sehingga tidak layak untuk ditinggikan lagi. Karena itu, Lapindo Brantas melaksanakan penutupan secara permanen sumur BJP-1. Skenario ketiga, pada tahap ini, pemadaman lumpur dilakukan dengan terlebih dulu membuat tiga sumur baru (relief well). Tiga lokasi tersebut antara lain: Pertama, sekitar 500 meter barat daya Sumur Banjar Panji-1. Kedua, sekitar 500 meter barat barat laut sumur Banjar Panji 1. Ketiga, sekitar utara timur laut dari Sumur Banjar Panji-1. Sampai saat ini skenario ini masih dijalankan. Ketiga skenario beranjak dari hipotesis bahwa lumpur berasal dari retakan di dinding sumur Banjar Panji-1. Padahal ada hipotesis lain, bahwa yang terjadi adalah fenomena gunung lumpur (mud volcano), seperti di Bledug Kuwu di Purwodadi, Jawa Tengah. Sampai sekarang, Bledug Kuwu terus memuntahkan lumpur cair hingga membentuk rawa.

26

Rudi Rubiandini, anggota Tim Pertama, mengatakan bahwa gunung lumpur hanya bisa dilawan dengan mengoperasikan empat atau lima relief well sekaligus. Semua sumur dipakai untuk mengepung retakan-retakan tempat keluarnya lumpur. Kendalanya pekerjaan ini mahal dan memakan waktu. Contohnya, sebuah rig (anjungan pengeboran) berikut ongkos operasionalnya membutuhkan Rp 95 miliar. Biaya bisa membengkak karena kontraktor dan rental alat pengeboran biasanya memasang tarif lebih mahal di wilayah berbahaya. Paling tidak kelima sumur akan membutuhkan Rp 475 miliar. C. Suramadu Jembatan Suramadu adalah Jembatan Nasional yang melintang dari Pulau Jawa (Surabaya) menuju Pulau Madura. Nama Suramadu berasal dari kedua daerah yang dihubungkan dengan jembatan ini, yaitu Sura yang berasal dari kata kota Surabaya dan Madu yang berasal dari nama pulau Madura. Panjang jembatan ini sekitar 5. 438 Meter, Lebar 30 Meter dan dengan tinggi 146 Meter. Jembatan ini mulai dibangun pada 20 Agustus 2003 dan dibuka pada 10 Juni 2009. Tujuan pertama dibangunnya jembatan ini adalah untuk meningkatkan pertumbuhan di Madura. 1. Dampak positif dibangunnya Jembatan Suramadu a. Manfaat Langsung (Primary Benefit). Manfaat langsung dari Jembatan Suramadu adalah meningkatnya kelancaran arus lalu lintas atau angkutan barang dan orang. Dengan semakin lancarnya arus lalu lintas berarti menghemat waktu dan biaya. Selain itu juga merangsang tumbuhnya aktivitas perekonomian, serta manfaat dari tarif tol yang dikenakan. Transportasi barang dan orang yang semakin lancar dan meningkat tajam. b. Manfaat Tidak Langsung (Secondary Benefit). Manfaat tidak langsung atau manfaat sekunder adalah multiplier effect dari Jembatan Suramadu. Ini merupakan dinamika yang timbul dan merupakan pengaruh sekunder (secondary effect), antara lain: 1) Meningkatnya jumlah penduduk yang akan meningkatkan permintaan barang dan jusa. Selanjutnya akan meningkatkan kegiatan perekonomian sehingga sektor pertanian, industri dan perdagangan akan berkembang. 2) Meningkatkan kebutuhan kawasan pemukiman dan infrastruktur 3) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar 4) Meningkatnya Pendapatan Domestik Regional Bruto. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto yang terjadi di empat kabupaten di Madura setelah dibangunnya jembatan Suramadu bahwa pertumbuhan di kabubaten Bangkalan paling besar

27

disbanding kabupaten lainnya karena kabupaten tersebut terletak dekat dengan keberadaan jembatan Suramadu. Dari hasil data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa semakin dekat dengan jembatan Suramadu maka akan lebih meningkatkan PRDB daerah tersebut. c. Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Income per Kapita. Semakin lancarnya transportasi, keberadaan jembatan Suramadu juga akan meningkatkan kegiatan ekonomi daerah, yang selanjutnya akan meningkatkan pertumbuhan. Income per kapita merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang tertinggi income per kapitanya adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Sampang, dan Pamekasan. Jika income per kapita dibandingkan, dalam keadaan dengan dan atau tanpa Jembatan Suramadu, maka income per kapita rata-rata per tahun di Bangkalan akan bertambah sebanyak 93, 63%, Pamekasan (48. 68%), Sampang (42, 57%) dan Sumenep (20, 03%). Sesudah dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang tertinggi income per kapitanya adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, dan Sampang. Tampaknya respon ekonomi Bangkalan tetap lebih kuat dibanding tiga kabupaten lainnya. d. Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Kawasan Permukimam. Semakin lancarnya transportasi juga menimbulkan dampak pada pertumbuhan kawasan pemukiman. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang terluas kawasan pemukimannya adalah Kabupaten Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Setelah dibangunnya Jembatan Suramadu ternyata Kabupaten Sumenep merupakan kabupaten yang memiliki kawasan pemukiman terluas dibanding 3 kabupaten lainnya. Akan tetapi kalau melihat perbandingannya terhadap luas areal lahan yang tersedia, Kabupaten Bangkalan yang mengalami pertumbuhan kawasan pemukiman lebih pesat dibandingkan dengan 3 kabupaten lainnya. 2. Dampak negatif dibangunnya jembatan Suramadu Pembangunan jembatan Suramadu memiliki dampak negatif dalam sosial, budaya dan keagamaan bagi masyarakat madura yang dikenal sebagai kaum santri dan agamis. Proses Industrilisasi dan pembangunan objek-objek wisata akan semakin ditingkatkan dan berkembang. Dampaknya budaya-budaya prostitusi (pelacuran) akan mudah memasuki pulau tersebut dengan seiring terhubungnya pulau Jawa dan Madura melalui jembatan Suramadu.

28

Selain itu, proses masuknya budaya-budaya Barat semakin meningkat melalui kunjungankunjungan wisatawan asing dari mancanegara, sehingga terjadi percampuran dan benturan budaya orang Madura yang agamis dengan budaya Barat yang liberal dan bebas. Akibatnya nilai-nilai budaya Islam dan norma-norma kesusilaan atau akhlaqul-Karimah mengalami degradasi atau penurunan dalam pengamalannya. Terjadinya degradasi moralitas mengarah kepada perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih konsumtif dan materialistik di daerahdaerah industri dan objek-objek wisata di pulau Madura.

29

Bab IV Bali A. Bali secara Umum 1. Kondisi Fisiografis Provinsi Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Batas fisiknya adalah sebagai berikut, utara berbatasan dengan Laut Bali, timur dengan Selat Lombok, selatan dengan Samudera Hindia, dan Barat dengan Selat Bali. Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi delapan kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibokota provinsi. Selain Pulau Bali, Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan di wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng. Luas total wilayah Provinsi Bali adalah 5. 634, 40 ha dengan panjang pantai mencapai 529 km. Berdasarkan fisiografisnya, Pulau Bali dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu: a. Daerah Batu Gamping Barat b. Daerah Endapan Aluvial Selatan c. Daerah Batu Gamping Selatan d. Daerah Vulkanik Muda, terdiri dari: 1) Bagian Sebelah Barat 2) Bagian Sebelah Timur 3) Daerah Gunung Seraya 4) Lembah Karang Asem 5) Daerah Bukit Sideman e. Daerah Aluvial Pantai Utara 2. Kondisi Historis Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia. Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan Sansekerta dari India pada 100 SM.

30

Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, di antaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (1293 1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali. Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4. 000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah. Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya

31

keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang. Pada 20 November 1945, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir. Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia. 3. Kondisi Sosiologi Provinsi Bali dikenal di seluruh dunia sebagai The Island of Gods yang memiliki modal budaya kaya sebagai sumber daya pembangunan. Kebudayaan tersebut didasari nilai-nilai keagamaan sehingga mencerminkan kearifan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta keahlian yang bersifat unik. 4. Kondisi Ekonomi a. Pariwisata dan perhubungan Bidang usaha pariwisata dan perhubungan dari tahun 2001 hingga tahun 2003 merupakan bidang primadona yang paling banyak diminati oleh perusahaan/ penanam modal. Oleh karena itu, sebagian besar dana pembangunan dialokasikan pada bidang tersebut. Bidang yang cukup diminati atau menduduki arutan kedua adalah bidang jasa lainnya. b. Pertanian 1) Padi. Provinsi Bali dengan luas wilayah yang relatif sempit yaitu 563. 666 hektar, terdiri dari 78. 945 hektar lahan persawahan dan sisanya 484. 721 hektar lahan bukan sawah. Pada tahun 2004, jumlah produksi beras yang dihasilkan oleh seluruh petani Bali

32

mencapai 501. 340 ton atau mengalami penurunan sebesar 0, 62 persen dari tahun 2003 yang mencapai 504. 340 ton. 2) Jagung. Luas areal panen tanaman jagung diperkirakan pada tahun 2005 mencapai 27. 019 hektar dengan produksi 72. 140 ton jagung pipil. Angka perkiraan luas areal panen ini ternyata jika dibandingkan dengan tahun 2004 lebih yaitu sebesar 13, 96 persen. Peningkatan luas areal panen tersebut berdampak pada peningkatan produksi jagung dari 68. 424 ton tahun 2004 menjadi 72. 140 ton tahun 2004 atau meningkat sebesar 5, 43 persen. 3) Kedelai. Tanaman bahan lainnya, seperti kedelai menunjukkan luas areal panen perkiraan tahun 2005 mencapai 6. 017 hektar dengan produksi mencapai 8. 441 ton. Jika dibandingkan dengan tahun 2004, luas areal tahun 2004 meningkat sebesar 8, 03 persen namun peningkatan ini tidak ditunjang dengan produksi yang justru mengalami penurunan sebesar minus 24, 17 persen. 5. Politik Desa di Bali dibuat berdasarkan kesatuan tempat. Sebagian tanah di wilayah Bali adalah milik para warga desa sebagai individu, dan sebagian lagi adalah tanah yang ada di bawah hak ulayat desa. Tanah hak ulayat desa ini dapat diberikan kepada pamong desa, pejabat desa, atau kepada warga desa yang membutuhkan. Pamong desa dan pejabat desa itu sendiri harus mengembalikan tanah tersebut kepada desa bila mereka berhenti. Desa berhak mencabut kembali tanah yang diberikan kepada warga desa bila perlu. Desa-desa di daerah pegunungan biasanya mempunyai pola perkampungan memusat (sstem banjar). Banjar dikepalai oleh kepala yang disebut klian banjar (kliang). Ia dipilih untuk suatu masa jabatan tertentu oleh warga banjar. Tugasnya tidak hanya menyangkut urusan dalam sosial banjar sebagai suatu komunitas, tetapi juga kehidupan keagamaan. Ia juga harus memecahkan soal-soal hukum adat tanah dan bertanggung jawab kepada pemerintah di atasnya. Selain kesatuan wilayah (sistem banjar) di Bali terkenal juga kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks kuil desa yang disebut keyengan tiga, yaitu: pura puseh, pura bale agung, pura dalam. Pura puseh, dan pura bale agung ada kalanya dijadikan satu menjadi pura desa. Kesatuan lainnya adalah organisasi dan perkumpulan seperti subak dan seka.

33

Selain kesatuan wilayah (sistem banjar) di Bali terkenal juga kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks kuil desa yang disebut keyengan tiga, yaitu: pura puseh, pura bale agung, pura dalam. Pura puseh, dan pura bale agung ada kalanya dijadikan satu menjadi pura desa. Kesatuan lainnya adalah organisasi dan perkumpulan seperti subak dan seka. Subak merupakan organisasi pengaturan irigasi yang mempunyai seorang kepala sendiri (klian subak) yang bertanggung jawab kepada adat (sedahan agung). Hal ini disebabakan orang yang menjadi warga subak tidak semuanya sama denagn orang yang menjadi warga banjar. Warga subak adalah pemilik atau penggarap sawah yang menerima air irigasi dari bendungan-bendungan yang diurus oleh subak. Seka merupakan suatu organisasi yang bergerak dalam lapangan kehidupan khusus. Organisasi ini ada yang didirikan untuk waktu yang lama dan mencakup beberapa generasi secara turun temurun, ada juaynag bersifat sementara. Fungsi seka adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara-upacara yang berkenaan dengan desa. Misalnya, seka baris (perkumpulan tari baris), seka truna (perkumpulan para pemuda), seka daha (perkumpulan paea gadis-gadis). Seka-seka tadi sifatnya permanen dan didirikan untuk waktu yang lama. Seka-seka yang bersifat sementara didirikan berdasarkan suatu kebutuhan tertentu. Misalnya, seka memula (perkumpulan menanam), seka manyi (perkumpulan menuai), seka gong (perkumpulan gamelan. Seka-seka seperti ini biasanya merupakan perkumpulan yang terlepas dari organisasi desa dan banjar. B. Tempat-tempat yang Dikunjungi di Bali 1. Selat Bali Selat Bali adalah selat yang memisahkan antara Pulau Jawa (di sebelah barat) dengan Pulau Bali (di sebelah timur). Selat Bali dihubungkan dengan layanan kapal ferry dengan Pelabuhan Gilimanuk di Bali dan Pelabuhan Ketapang di Jawa. Dari atas kapal fery ketika kita menyebrang, kita dapat melihat Pegunungan Rembang di utara Pulau Jawa dan Pegunungan Kendeng di sebelah Selatan dengan jelas. 2. Pantai Tanah Lot Pantai tanah Lot merupakan sebuah objek wisata di Bali, terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Di pantai ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu yang mirip dengan pulau mini dan syang atunya terletak di atas tebing. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura

34

Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Pura Tanah Lot merupakan salah satu pura suci terbesar di pulau Bali. Di sini juga sering diadakan upacara-upacara besar umat Hindu Bali. Selain tempatnya yang sangat luas dan pemandangan matahari tenggelam, deburan ombak disekitar area pura juga menjadi daya tarik tersendiri. Di Pura Tanah Lot ada tradisi bagi pengunjung untuk menikmati air suci, yaitu pertama pengunjung diberikan tanda suci dan bunga kamboja pada telinga, lalu diwajibkan juga untuk membilas muka dengan air suci 3x, kemudian meminum air suci 1x, dan ada peraturan untuk membuang sampah pada tempatnya. Dari segi konfigurasu pantai, bisa dijelaskan sebagi berikut factor-faktor yang mempengaruhi konfigurasi pantai: a. Kondisi geologi, konfigurasi pantai dipengaruhi oleh kondisi geologi pembentuk daratan pantai. Di pulau Bali bagian selatan, pembentuk daratan pantai terdiri dari endapan vulkanik yang berlapis-lapis terdiri dari bagian lunak dan keras. Materialnya tersusun dari pecahan basalt berwarna hitam dan fragmen yang lebih halus. Lapisannya membentuk struktur sedimen yang mencirikan bahwa sedimen ini diendapkan dengan proses aliran air di daratan. Lapisan di Tanah Lot ini berasal dari endapan lahar. Lahar sangat berbeda dengan lava. Lahar adalah banjir bandang dari lereng atas gunung api. Banjir ini mengalir cepat membawa segala material berbagai ukuran (mulai lumpur, pasir, sampai bongkahan batu besar) menuju hilir. b. Sedimen yield, yaitu merupakan endapan lumpur yang dibawa sungai yang bermuara di pantai menyebabkan perybahan konfigurasi garis pantai. Sungai di Bali pendek-pendek, sehingga endapan lumpurnya tidak begitu berpengaruh, karena di kembalikan lagi oleh kekuatran ombak, dan tidak berpengaruh menyebabkan pantai menjorok ke laut. c. Wave action (aktivitas gelombang laut), aktivitas gelompbang laut secara evolutif dapat menggerus tebing-tebing pantai, yang kemudian merubah konfigurasi garis pantai. Hal ini lah yang terjadi di Pantai Tanah Lot. Dulu, Tanah Lot menyatu dengan daratan Pulau Bali dalam bentuk tanjung. Namun karena gelombang terus menghantam, terjadilah abrasi di kedua sisi tanjung tersebut. Abrasi ini cepat atau lambat membentuk lubang pada kedua

35

sisinya. Ketika kedua lubang itu bertemu, Tanah Lot terpisah dari daratan seperti yang tampak sekarang ini. Kondisi serupa juga mengimbas kawasan Uluwatu, yang terletak tak jauh dari Tanah Lot. Saat ini, abrasi mulai mengikis tebing-tebing vertikal (cliff) yang tersusun oleh lapisan batu karang yang sangat keras. Dampak dari abrasi tersebut, gua-gua dan lubang ceruk terbentuk di bagian bawah. Gerusan abrasi itu lama kelamaan membentuk karang bolong. Secara evolutif, tanjung Uluwatu itu akan runtuh dan terpisah dari daratan utama semenanjung Nusa Dua. Itu artinya, Pura Uluwatu yang berada di tanjung tersebut akan mengikuti kisah Tanah Lot. d. Gelombang pantai Tanah Lot yang terletak di selatan Bali begitu besar karena langsung berhadapan dengan Samudra Hindia, sangat berbeda dengan pantai utara Bali. e. Biota Laut. Biota yang ada di darat dan laut berpengaruh terhadap konfigurasi garis pantai. f. Biota payau. Biota payau yang membantu mempertahankan konfigurasi garis pantai dari abrasia adalah pohon bakau. g. Kadar garam (salinitas), salinitas adalah kadar garam yang terkandung dalam air laut. Salinitas mempengaruhi pergerakan pada kedalaman air laut. Ini disebabkan adanya perbedaan kadar salinitas di setiap zona kedalaman laut. Air laut yang bersalinitas tinggi akan bergerak ke kadar air laut yang bersalinitas rendah. Itulah yang disebut perbedaan densitas air laut. Perbedaan densitas air laut meneybabkan pergerakan di kedalaman air laut. Untuk pantai tanah Lot, factor yang berpengaruh pada pembentukan garis pantai adalah wave action yang sangat kuat dan didukung oleh endapan geologi yang terdiri dari material keras dan lunak yang dapat terkikis oleh abrasi gelombang laut. 3. Subak Liplip Subak Liplip berada di kecamatan Badung, Kuta Utara. Subak adalah model pertanian dan pengairan di Bali sejak berabad-abad yang lalu. Nama Liplip sendiri berasal dari sejarah yang menceritakan dahulu kala ada 2 kelompok penduduk yang berperang yaitu kelompok Mengue dengan Badung, korban luka kemudian diobati di balai padukuhan, kemudian bara api perang waktu malam hari masih terlihat berkelip-kelip, maka dari itu Subak tersebut kemudian dinamakan Subak Liplip.

36

Subak Liplip mengambil sumber air dari Danau Batur di Kintamani. Setahun sekali pada saat malam purnama bulan kedase, warga Subak Liplip mencari air untuk keselamatan dan disebarkan ke petani. Dalam 1 tahun, petani Subak dapat menanami lahan 3 kali, yaitu 3 bulan sekali. Bulan November-Februari untuk menanam padi, Maret-Juni untuk menanam palawija, dan bulan Juli-Oktober untuk menanam padi lagi. Setiap akan menanam padi diadakan upacara untuk memohon ampunan kepada Sang Hyang Widhi agar tanaman dapat tumbuh sehat hingga panen. Rata-rata perani dapat memanen 7 ton/ha gabah kering sekali tanam, hasil terendah

mencapai 4 ton/ha dikarenakan iklimyang buruk. Rata-rata petani di Subak Liplip memiliki tanah 20 are/ 2000 m2. Tantangan untuk melestarikan Subak datang dari berbagai pihak, seperti mahalnya harga tanh dan pesatnya industri dan pariwisata menjadikan petani Subak kerap diiming-imingi berbagai pihak agr menjual tanah pertanian mereka. Harga tanah disana mencapai 3 juta/m2. Untuk mempertahankan kelestarian lahan, ada peraturan dari Bupati setempat yang tidak memperbolehkan mengganti status lahanbasah menjadi lahan kering. Lalu tanah yang dapat disewakan adalah lahan kering. Dalam pelaksanaan organisasi Subak, filosofi yang dijalankan adalah pembagian kegiatan Subak berdasarkan: a. Baga parahyangan, yaitu kegiatan Subak Liplip yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, terwujud dalam berbagai upacara. b. Baga pawongan, yaitu kegiatan Subak yang berkaitan dengan hubungan antar petani Subak, terwujud dalam berbagai pertemuan rutin, musyawarah, dll. c. Baga palemahan, yaitu kegiatan Subak yang menyangkut dengan tanah dan budidaya tanaman, yang terwujud dengan berbagai pengaturan pengairan, panen, tanam, dan penjualan. 4. Pantai Tanjung Benoa Pantai Tanjung Benoa merupakan pantai yang ada di kawasan ujung Tenggara pulau Bali. Kawasan ini dapat dicapai sekitar 20 menit dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Lokasinya cukup landai dengan ombak yang tenang, sehingga pantai ini cocok untuk digunakan sebagai wahana olah raga air, mulai dari jetski, parasailing, scuba diving,

37

snorkeling, flying fish, banana boat. Glassbottom, hingga mengunjungi pulau penyu. Berbagai permainan olah raga air tersebut buka rata-rata dari pukul 8 sampai 12 siang. Fasilitas lain di Tanjung Benoa adalah adanya berbagai hotel berbintang dan restoran bertaraf internasional. Dua puluh lima tahun yang lalu, Tanjung Benoa hanyalah perkampungan nelayan yang kumuh dan miskin, dulu masyarakatnya hanya mengandalakan pendapatan dari berladang dan menangkap ikan, saat ini mereka relative makmur dengan pendapatan di bidang pariwisata. Hal ini bermula dari pembangunan proyek kawasan Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang lokasinya berdekatan dengan Tanjung Benoa pada tahun 1980-an. BDTC adalah proyek besar untuk membangun berbagai sarana pariwisata di bagian Selatan Bali, di antaranya membangun 12 hotel berbintang 5. Semula Tanjung Benoa direncanakan untuk hunian bagi para karyawan yang bekerja di kawasan BDTC. Namun para investor tertarik untuk mengembangkjan hotel berbintang dan mengembangkan kawasan ini sebagai daerah tujuan wisata. Hingga saat ini warga Tanjung Benoa banyak bekerja di sector pariwisata, mulai dari perhotelan, restoran, tenaga kebersihan, hingga tour guide dalam berbagai perwainan olahraga air yang ditawarkan. Pesona lain di pantai ini ialah Pulau Penyu. Pulau ini disebut Pulau Penyu karena merupakan tempat penangkaran berbagai spesies penyu langka dan hampir punah. Penangkaran ini sendiri bernama Pudut Sari. Satu paket dengan perjalanan ke Pulau Penyu ini, pengunjung juga disuguhi pemandangan objek wisata bawah laut. Perahu yang digunakan dimodifikasi sedemikian rupa dengan bagian dasar tengah perahu dipasangi kaca, yang membuat dasar laut yang dangkal terlihat jelas. 5. Pantai Kuta Pantai kuta terletak di selatan pulau Bali. Pantai ini merupakan salah satu pantai terfavorit di Bali. Secara fisik pantai ini memiliki pasir putih, namun karena adanya kiriman sampah di laut, menjadikan pantai ini kotor dan tidak indah. Daya tarik pantai ini adalah banyaknya pertokoan yang lengkap dengan berbagai barang lokal hingga internasonal. 6. Pasar Sukowati Pasar Sukawati merupakan sebuah pasar yang sangat terkenal di Bali. Pasar seni ini biasanya buka dari jam 08. 00 WITA hinga pukul 18. 00 WITA setiap harinya Pasar Sukawati menyediakan pakaian-pakaian seperti Batik khas Bali, selain batik khas bali juga tersedia berbagai macam baju-baju serta celana pendek yang harganya miring dan juga ada beberapa

38

kaos yang bercorak Bali. Semua barang-barang yang dijual di pasar ini dapat ditawar hingga setengah harga yang ditawarkan bahkan sepertiganya. Selain pakaian-pakaian murah seperti baju, celana, kaos, sandal, di pasar ini juga terkenal dengan barang-barang seni seperti lukisan dari berbagai aliran lukisan. 7. Joger Pendiri Joger atau adalah Mr. Joger atau Pak Joger bernama Joseph Theodorus Wulianadi. Joger memiliki salam khas Selamat Pagi, tidak peduli apakah hari sudah siang atau malam. Nama Joger sendiri merupakan singkatan dari nama Joseph dan Gerhard Seeger. Gerhard adalah teman sekolah Mr. Joger ketika di Jerman yang memberi US 20. 000 sebagai hadiah pernikahannya. Usaha Mr Joger dimulai dengan modal 500 ribu pada bulan Juli 1980. Beliau mulai merangkai kata-kata sendiri, disablonkan kepada orang lain, memasarkan sendiri door to door. Produk yang paling pertama ia hasilkan adalah kaos yang waktu itu masih menggunakan desain manual. Pada 19 januari 1981 dibuka toko di Jalan Sulawesi 37, Denpasar dengan nama Art & Batik Shop Joger. Kemudian selanjutnya Tahun 1983 membuka toko lain di jalan yang sama. Terakhir tahun 1986, Mr. Joger membuka toko di Jalan Raya Kuta hingga saat ini. Pada tahun 1987, dua toko di Jalan Sulawesi akhirnya ditutup, walaupun secara materi menguntungkan. Namun saat ini telah dibangun Teman Joger (Tempat Penyaman) di daerah Baturiti, Tabanan Bali. Hal ini karena toko Joger di jalan raya Kuta sudah terlalu sempit untuk menampung ribuan pengunjung tiap harinya. 8. Danau Beratan Bedugul Danau Beratan adalah sebuah danau yang terletak di kawasan Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Jika datang dari arah Denpasar menuju utara, mendaki kawasan pegunungan di tengah pulau Bali, melewati daerah persawahan yang bertingkat tingkat, maka anda akan sampai di kawasan wisata Danau Beratan yang berhawa sejuk. Tepatnya berada di jalur jalan provinsi yang menghubungkan Denpasar Singaraja.

Danau Beratan terletak paling timur di antara dua danau lainnya yaitu Danau Tamblingan dan danau Buyan, yang merupakan gugusan danau kembar di dalam sebuah kaldera besar. Danau Beratan adalah danau terluas kedua di Bali setelah danau di Gunung Agung

39

Luas daerah: 350 hektar. Ketinggian: 1240 meter di atas permukaan laut. Suhu Udara: 18C di malam hari dan 22C di siang hari. Cuaca yang sejuk di siang hari membuat pengunjung merasa nyaman untuk menikmati pemandangan di sekeliling danau Beratan. Saat senja semakin banyak kabut yang turun meliputi danau. Suhu air danau: 20, diameter danau: 850 hektar. Danau Beratan terjadi karena kawah gunung berapi Gunung Catur yang sudah tidak aktif yang Terisi air, dengan ketinggian 1. 200 meter di atas permukaan laut. Di tengah danau terdapat sebuah Pura yaitu Pura Ulun Danu yang merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan. Diyakini pula sebagai penjaga gua danau. Dan beberapa warisan Jepang selama Perang Dunia II. Uraian sejarah Pura Ulun Danu Beratan diketahui dari arkeologi dan data sejarah yang terdapat dalam lontar babad Mengwi. Di sebelah kiri halaman depan pura Ulun Danu Beratan terdapat sebuah sarkopagus dan sebuah papan batu, yang berasal dari masa tradisi megalitik, sekitar 500 SM. Kedua artefak tersebut sekarang ditempatkan masing-masing di atas Babaturan atau teras diperkirakan lokasi di mana Pura Ulun Danu Beratan, telah digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan ritual sejak jaman megalitik. Dalam lontar Babad Mengwi tersirat menguraikan bahwa I Gusti Agung Putu sebagai pendiri kerajaan Mengwi mendirikan Pura di pinggir Danau Beratan, pendirian pura taman ayun yang upacaranya berlangsung pada tahun caka 1556 atau 1634 M. Berdasarkan uraian dalam lontar Babad Mengwi tersebut diketahui bahwa Pura Ulun Danu Beratan didirikan sebelum tahun saka 1556, oleh I Gusti Agung Putu. Mulai berfungsi sebagai daerah pariwisata sejak tahun 1980. 9. Pantai Lovina Lovina terletak di Bali Utara di pesisir utara Pulau Bali tepatnya sekitar 10 km arah barat Singaraja. Pantai Lovina berada di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali. Karena itu, kadang orang menyebutnya sebagai kawasan wisata Kalibukbuk. Pantai Lovina yang berpasir hitam ini masih alami sehingga menarik dikunjungi. Hal menarik di Pantai Lovina adalah perjalanan ke tengah laut di perairan Lovina, karena kita dapat menjumpai lumba-lumba di perairan Lovina yang terletak sekitar 1 kilometer dari bibir pantai. Laut Bali yang berada di perairan Lovina relatif tenang sehingga kita dapat berwisata di laut tersebut dengan menggunakan perahu nelayan.

40

Dari pantai Lovina ke timur, aspek yang berperan dalam pembentukan konfigurasi garis pantai pada pantai ini adalah sedimen yield. Yaitu adanya endapan-endapan dari sungaisungai panjang yang ada di daerah tersebut yang membentuk alluvial plane sehingga menyebabkan pantai Lovina ke barat merupakan pantai yang prograded. 10. Pantai Pulaki Pantai Pulaki adalah pantai yang berada di sebelah barat pantai Lovina. Di pantai ini terdapat kawanan kera yang berkeliaran di pinggir jalan karena adanya makanan yang sering diberikan pengunjung. Di selatan pantai ini ada tebing yang menjulang tinggi, secara litologi tersusun oleh batuan algomerat dengan bahan dominan vulkanik dan butirannya tidak sama besar. Kegiatan pusat vulkanisnya pada daerah tengah pulau Bali dan kelompok ini termasuk Gunung yang tua di Bali, dan menghasilkan endapan yang ada di pantai Pulaki. Pegunungan ini semakin kearah timur maka pegunungannya akan semakin muda. Dari Pantai Pulaki ke timur tidak ada lahan yang datar yang menyebabkan sungai beraliran pendek, sehingga energi gelombang laut (wave action) lebih dominan pada daerah ini yang berakibat kemungkinan pantai prograded lebih kecil karena tidak ada sungai yang besar pada daerah ini. Peran abrasi laut menjadi dominan dalam pembentukan konfigurasi garis pantai. Sungai-sungai yang ada pada daerah ini mengalir pada waktu hujan (debit besar) sedangkan pada musim kemarau debit airnya tidak ada. Sungai yang ada rata-rata dalamdalam karena begitu ada hujan lebat, energi erosinya besar sehingga erosi kedasar sungai juga kuat karena banyak membawa partikel-partikel yang bisa mengelunduk didasar sungai erosi lateral pada sungainya tidak begitu besar tapi erosi kedalam lebih banyak hal ini terjadi sepanjang pantai utara Bali oleh karena itu kondisi fisiogarafis seperti inilah yang sebetulnya penyebab pantai Utara Bali tidak berkembang. Hal-hal yang menyebabkan pantai ini tidak berkembang (segi sosial) adalah: a. Lahanya sempit, karena lahan sempit maka pertaniannya jarang yang menyebabkan orang-orang jarang bermukim pada daerah ini. b. Topografinya kasar-kasar (lereng-lerengnya) sehingga tidak dapat digunakan untuk bercocok tanam. Dengan lahan yang tidak ada dan kondisi topografi yang kasar ini, penyebab orang-orang jarang (bahkan tidak ada yang bertempat tinggal pada daerah ini), jika orang tidak ada disini maka interaksi sosial pun akan jarang kalau interaksi sosial jarang maka perubahan-perubahan sosial pun sangat lambat.

41

C. Tenganan Desa adat Tenganan merupakan salah satu bentuk desa Bali aga (kuno) yang terletak di kaki pegunungan yang masih mempertahankan adat aslinya. 1. Kondisi Fisiografis Desa adat Tanganan terletak di Tenganan, Manggis, Karangasem, Bali. Luas wilayah desa ini yaitu 917. 200 ha. Delapan persen pemukiman yang dipilih adalah kawasan lereng bukit. Desa ini dikelilingi tiga bukit kecuali bagian selatan. Dua puluh dua persen sawah atau 255, 5 ha ada di balik bukit, selebihnya lahan kering, hutan, tanah adat, dan infrastruktur. Secara administrative Desa Adat (Pakraman) Tenganan Pegringsingan berada di dalam wilayah Desa Dinas (Perbekelan) Tenganan. Dilihat dari segi topografinya, Desa Adat iini berada di ketinggian 50 mdpl, termasuk salahs atu desa Bali Aga yang dekat dengan pantai, beriklim tropism lembab dengan temperature 28-30 derajat Celcius. Batas wilayahnya adalah, Desa Pakraman Macang di sebelah utara, Desa Pakraman Bungaya, Asak, Timbah di sebelah timur, Desa Pakraman Pasedahan, Tenganan Dauh Tukad di sebelah selatan, dan Desa Pakraman Ngis di sebelah barat. Di Bali ada 2 jenis desa yang diakui keberadaanya oleh Pemerintah Daerah. Kedua desa ini berbeda secara substansial dan masing-masing memilikistruktur dan fungsi tersendiri. Kedua desa itu adalah: a. Desa dinas (Perbekelan), yaitu desa resmi di bawh kecamatan. Desa Tenganan Penggringsingan sebagai desa dinas meliputi wilayah Dusun Banjar Tenganan Pegringsingan, Banjar Daud Tukah. Banjar Bukit Kaja, Banjar Gunung, dan Banjar Bukit Kangin. b. Desa adat (Pakraman), desa yang berfungsi mengurus masalah dan seluk beluk yang berkaitan dengan adat-istiadat, juga sebagai lembaga sosial-religius. Secara teoritis, Desa Adat adalah suatu kesatuan wilayah dimana para warganya secara bersama-sama mengkonsepsikan dan mengaktifkan upacara keagamaan untuk memelihara kesucian desa. Rasa kesatuan sebagai warga Desa Adat terikat oleh karena adanya karang desa (wilayah desa), awig-awig desa (system aturan desa dan system pelaksanaannya), dan Pura Kahyangan Tiga (Tiga Pura Desa sebagai suatu system tempat Persembahyangan bagi warga Desa Adat). 2. Kondisi Historis

42

Menurut riwayat, Desa Pakraman Tengana Pegringsingan terbentuk pada abad ke-11. pada masa tersebut seorang Dalem (Raja) Beda Hulu Bali (Bedulu), bernama Maharaja Mayadenawa, yang terletak di Gianyar mengadakan uoacara Yadnya yang mengunakan perlengkapan salah satunya kuda. Namun beberapa saat sebelum upacara, kuda tersebut hilang, lalu Raja mengutus seseorang mencarinya. Ketika ditemukan kuda tersebut dalam keadaan mati, lalu seseorang yang diutus melaporkan kepada raja dan memohon kekuasaan atas tempat dimana kuda itu ditemukan. Rajapun membolehkan dengan syarat wilayah yang diberikan hanya seluas bau bangkai kuda itu tercium. Utusan raja itupun menyiasati dengan memotong-motong bangkai kuda menjadi beberapa bagian dan menyebarkannya di sekeliling desa sehingga menjadilah Desa Adat tenganan Pegringsingan yang sekarang. Tempat potongan bangkaikuda sampai sekarang dianggap tempat suci, yaitu antara lain: a. Batu Jaran (tempat pertama kali ditemukan) b. Batu Keben (perut besar) c. Rampur Pule (rambut) d. Taikik (kotoran) e. Kaki Dukun (kelamin) f. Penimbalan kangin kauh (Paha) Orang yang mencari kuda disebut Wong Paneges, karena berasal dari Desa Paneges yang merupakan wilayah kerajaan Bedulu Gianyar. 3. Kondisi Sosiologi Masyarakat tengan Pegringsingan menyebut diri mereka sebagai warga bali Mula (Bali Aga) yang nenek moyangnya berasal daei India. Mereka keturunan orang Jawa (dari Kerajaan Majapahit) yang eksodus ke Bali ketika kerajaan besar tersebut menghadapi keruntuhan karena adanya kerajaan Islam di Jawa. Dalam ajaran dan upacara keagamaan ada perbedaan ajaran dengan Hindu Dharma di bali, yaitu, mereka tidak mengenal Ngaben, tidak mengenal kasta, mengakui kesamaan kedudukan laki-laki dan kaum perempuan dalam beberapa posisi dan dalam struktur sosial. Masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan menunjukkan pola-pola yang bersifat kolektif dan tradisional dimana prinsip persatuan dan kesatuan dijunjung tinggi, mereka juga menjaga kelestarian dan kusician desa. Cikal bakal kebersamaan dan persatuan adalah:

43

a. Sistem perkawinan bersifat endogamy, yang melanggar mendapatkan sanksi. b. Sistem pengelompokan yang tidak berbasis tingkatan top-down. c. Tidak adanya system pelapisan sosial. d. Sistem kepemimpinan yang berlaku berasas kekeluargaan. e. Sistem pemukiman berasaskan adat. Orang-orang Tenganan dikelompokkan menjadi orang-orang asli keturunan Wong Peneges dan orang-orang pendatang. Orang-orang asli kemudian dikelompokkan lagi menjadi: a. Orang asli yang sudah menikah. 1) Krama Teruna, untuk laki-laki yang menginjak remaja. 2) Krama Deha, untuk gadis yang menginjak usia remaja. b. Orang asli yang sudah menikah. Dibagi berdasar fungsi pada kelembagaan dan kepemimpinan desa adat berdasar fungsi, peranan, dan kedudukan. 1) Krama Desa (Klian adat), lembaga tertinggi, mengurusi bidang upacara pembangunan dan pemerintahan. Anggota Krama Desa 29 pasang, untuk menjadi anggota Klian Adat dengan syarat tidak kawin keluar desa, sama-sama dari Teruna (lelaki remaja) atau Deha (perempuan remaja), tidak janda, tidak cacat fisik maupun mental. Klian Adat tidak dipilih, bukan karena keturunan, bukan karena keahlian, tidak memakai masa jabatan, tetapi bedasarkan senioritas yang dihubungkan dengan nomor urut perkawinan yang selalu dicatat secara kolektif. Seseorang berhenti menjadi Krama Desa apabila salah satu (suami/istri) meninggal dunia, anaknya menikah karena dengan pernikahannya anaknya berhak menjadi Krama Desa, berpoligami, melakukan kesalahan tertentu. Apabila ada kekososongan pada salah satu urutan, maka urutan di bawahnya naik sesuai urutan perkawinan. Struktur Krama Desa adalah: a) Luanan, sebagi penasehat, nomor perkawinan 1-5. Mereka dituakan, akan hadir di suatu acara apabila persiapan sudah selesai. b) Bahan Roras, sebagai pelaksana pemerintahan, nomor perkawinan 6-17. Bahan Duluan, yaitu nomor 6-11 menjadi Kepala Desa Adat (Klian Desa Adat), pelaksana pemerintahan harian, perencana, pelaksana pucuk pimpinan. Bahan Tebenan sebagai pembantu cadangan dalam klian desa nomor 12-17.

44

c) Peneluduhan, sebagai juru arah. Dibagi menjadi Tambalapu Duluan nomor perkawinan 18-23, sebagai penggerak dalam segala kegiatan, dan Tambalapu Tebenan nomor 24-29 sebagai cadangan dan penggantinga kemudian. 2) Krama Gumi Pulangan. Organisasi bagi mereka yang sudah selesai dalan menjabat sebagi Krama Desa. 3) Krama Gumi (Unggu). Warga desa yang terdiri dari orang-orang pendatang, dan orang asli Tenganan yang diasingkan. Tata ruang sangat dihormati (awig-awig tata ruang). Di desa ini tidak pernah ada pengalihan lahan. Artinya, penduduk hanya memiliki sawah dari warisan nenek moyang. Masyarakat daerah Tenganan juga tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah ke luar desa. Penduduk desa Tenganan sampai tahun 2010 berjumlah 665 jiwa, 225 kk. Di desa ini selalu diadakan konservasi lingkungan. Namun dengan adanya teknologi yang semakin maju masih banyak yang kekurangan. Desa ini menganut kepercayaan Hindu Darma sekte Indra. Ciricirnya, tidak mengenal kasta dan tidak mengenal pembakaran mayat. Indra berarti ibu pertiwi, lahir tumbuh kembali ke tanah. Kematian cukup dikubur dengan posisi telungkup menghadap ke selatan. Dengan filosofi, laut sebagai kiblat. Pada umumnya, kematian di Bali prosesinya menunggu hari baik. Di tenganan, prosesi kematian sebaliknya, tidak menunggu hari baik. Langsung dikubur pada hari itu juga setelah jam duabelas siang, sampai jam enam malam Penebangan pohon diatur oleh pemerintah adat dengan meminta izin legislatif desa. Dari jam kantor sampai jam 20. 30 malam. Penebangan juga bisa dilakukan jika tiga perempat bagian pohon sudah mati, pohon adalah yang bisa digunakan untuk bahan bangunan. Pendidikan dimulai dari lahir (upacara) dibagi menjadi tiga komponen yang menganut aturan sendiri-sendiri. Mata pencaharian mayoritas adalah petani. Jika tanah garapan digarap oleh orang lain, maka lima puluh persen untuk pemilik, lima puluh persen untuk penggarap. Untuk kelapa, pemilik memiliki bagian tujuh puluh lima persen, penggarap dua puluh lima persen. Masyarakat boleh tinggal di luar konteks pemukiman dengan membayar empat puluh ribu pertahun. Peraturan adat ada yang menyatakan jika orang yang sudah menikah, anak dan bapak tidak boleh tinggal serumah setelah tiga bulan menikah. Satu pekarangan terdiri dari empat unit,

45

bale ternak, terdiri dari dua ruang, kelahiran dan kematian. Bale meter, tempat menikah. , dapur, kamar mandi. Kamar mandi keluarga satu dengan yang lain tidak boleh sebelahan. Awig-awig terdiri dari 61 pasal. Dalam pernikahan, adat ini memiliki aturan berupa istri mengikuti hak suami, hak waris laki-laki dan perempuan sama. Anak yang memiliki hak waris adalah anak bungsu. Tiga sistem perkawinan, yaitu ule kandang dilakukan dengan paksa. Kawin pinang, dijodohkan dengan orang tua, dan kawin karena suka sama suka. Ada juga awig-awig yang menerangkan bahwa kehamilan di luar nikah harus membayar denda seribu rupiah pertahun, dan berlau seumur hidup. Gaji adat pemimpin yang paling kecil diambil dari hasil bumi. Awig-awig terdiri dari 61 pasal, namun tidak hanya itu. Isinya berupa seluruh aspek kehidupan masyarakat adat Tenganan. Kekuatan hukum adat lebih kuat daripada hkum pemerintahan. Oleh karena itu, hukum adat diberlakukan lebih utama daripada pemerintahan. Jika ada masalah yang bisa diselesaikan secara adat diselesaikan secara adat. Contohnya mencuri. Namun, jika ada masalah yang lebih rumit, contohnya pembunuhan, maka harus ditangani oleh kepolisian. 4. Kondisi Ekonomi Penghasilan penduduk Desa Tenganan juga tidak jelas berapa pendapatannya, karena disana masih menggunakan sistem barter diantara warganya. Disana banyak tanaman, sawah, kerbau yang bebas berkeliaran dipekarangan mereka. Mata pencaharian di desa adalah petani padi, hal itu didukung oleh lahan seluas 917, 2 Ha yang terletak jauh dari pemukiman, hal itu berkenan dengan adanya, pembagian wilayah terstruktur dengan rapi. Pemukiman diletakan ditengah-tengah dengan beberapa pembagian yang dikelompokan menjadi tempat tinggal, dan untuk para pandai besi. Untuk mendongkrak potensi wisata mereka, Penduduk Desa Tenganan banyak yang menjual hasil kerajinan tangannya ke turis. Artshop juga dapat kita lihat begitu kaki kita melangkah kepintu masuk, mereka menjual banyak kerajinan. Seperti Anyaman bambu, ukirukiran, lukisan mini yang diukir diatas daun lontar yang sudah dibakar, dan yang paling terkenal adalah kain geringsing. Kain ini sangatlah unik karena dengan sekilas memandang kita dapat langsung mengetahui kalau kain tersebut memang buatan tangan.

46

D. Panglipuran 1. Kondisi Fisiografi Desa adat Penglipuran berlokasi pada kabupaten Bangli yang berjarak 45 km dari kota Denpasar. Desa Adat Penglipuran memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut, sebelah utara berbatasan dengan Desa Adat Kayang, sebelah timur berbatasan dengan Desa Adat Kubu, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Adat Gunaksa, dan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Adat Cekeng. Desa Adat Panglipuran memiliki luas sekitar 122 ha, seluruhya adalah lahan kering. Desa adat ini terletak di ketinggian 600-625 Mdpl, dengan suhu 18 C-32 C. Dari selatan ke arah utara semakin tinggi. Jumlah penduduk saat ini kurang lebih 980 jiwa, dengan 228 kepala keluarga. Desa Adat Penglipuran memiliki konsep tata ruang yang disebut Tri Mandala (dari utara ke selatan), yaitu: a. Bagian hulu terdapat Pure (Mandala Pure). Bangunan suci atau disebut parahyangan,di sini terdapat pura yang bernama Pura Penataran, tempat bersembahyang warga desa. b. Madya Mandala (ke selatan sampai jarak 500 m). Merupakan pemukiman penduduk yang secara teratur berbaris dari barat sampai timur,berada disebelah kanan dan kiri jalan utama.Terdiri dari 76 kaplingan yaitu pekarangan,hak guna pakai. c. Nista Mandala. Berupa makam atau tempat penguburan orang Hindu yang disebut Setra. 2. Kondisi Historis Kata Penglipuran sendiri mengandung dua macam arti, yaitu: Berasal dari kata pangeling, dari kata dasar eling, yang artinya mengingat dan pura yang artinya tanah leluhur. Jadi Penglipuran artinya ingat kepada tanah leluhur. Dan berasal dari kata penglipur yang berarti penghibur. Hal ini didasarkan karena konon pada zaman dahulu Raja Bangli sering mengunjungi tempat ini untuk menenangkan pikiran. 3. Kondisi Politik Desa Adat Penglipuran saat ini dipimpin oleh I Wayan Supat yang menjabat dari tahun 1991-2014.Sistem organisasi yang dianut disebut Ulu Apat, dimana Ulu adalah puncak, sedangkan Apat adalah kepala. Sistem pemerintahan dilakukan secara demokratis dan sangat unik karena ada dua antara pemimpin adat yang memimpin secara adat dan kepala desa yang memimpin secara formal.

47

Penglipuran memiliki Organisasi adat yang terdiri dari: a. Seke Baris b. Seke Gong c. Seke Pejalan d. Seke Dehe Tarune : Kelompok Penari : Kelompok Penabuh : Keamanan : Kelompok pemuda, dimana Dehe adalah pemuda wanita dan

Tarune adalah pemuda laki-laki. e. Organisasi Masak Karena masyarakat Desa Penglipuran ini mampu melestarikan adat dan budaya, pada tanggal 29 April 1993 Penglipuran dijadikan sebagai desa adat sesuai dengan SK bupati nomor 133. Desa Adat Penglipuran memilki payung hukum, diantaranya yaitu Perda 06 tahun 1986, Perda 03 tahun 2001, dan Perda 03 tahun 2003. Jumlah penduduk Desa Adat Penglipuran mencapai 980 jiwa dengan jumlah KK sebanyak 228 KK yang terdiri dari 76 KK disebut krama pengarep dan sisanya disebut krama pengerob. Krama pengarep mempunyai tanggung jawab dalam perencanaan baik dalam upacara yadnya maupun perencanaan dan pembangunan fisik desa. Sedangkan krama pengerob tidak memiliki hak spesifik, mempunyai tugas dan kewajiban sama seperti warga desa adat pada umumnya. Desa Adat Penglipuran juga merupakan suatu desa yang dikelola dengan suatu kesatuan hukum adat dengan seorang kelian adat sebagai ketua dan dua orang pembantu yang disebut dengan penyarikan yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan sekala (keduniawian) sedangkan yang mengatur dan memimpin hal-hal yang berkaitan dengan niskala (spiritual) ditangani oleh kancan roras dengan ketuanya disebut dengan jero bayan. Pedesaan ini dipimpin oleh seorang pemimpin yang Bendesa atau Kelian atau Penyarikan atau Patengan dan dia dibantu oleh Sinoman. Sistem sosial yang diakui oleh 12 istilah kelompok yang nomor 1 sampai 12 sebagai anggota Pemerincik yang ditugaskan sebaliknya anggota masalah atau merencanakan dan hasilnya disampaikan kepada para anggota. Sistem kekerabatan di desa ini adalah sistem patrilinial yang menurut garis keturunan ayah. Pemimpin agama desa ini disebut sebagai Jero Bayan yang terdiri dari 3 Bayans Jero yang merupakan Jero Bayan Mucuk dan 2 orang dari Bayan Jero Nyoman. Potensi budaya tertentu seperti pola arsitektur bangunan masih harus tradisional, alam yang indah dan lingkungan dengan suasana dingin.

48

4. Kondisi Sosiologi Desa Penglipuran merupakan salah satu desa adat yang mampu mempertahankan adat dan budaya hingga sekarang. Adapun unsur-unsur pembentuk desa adat ini, yaitu: a. Tuah (Ketuhanan) b. Datu/Ratu (Pemimpin) c. Parimandaya (Wilayah) d. Kraman (Warga) e. Awik-awik (Aturan) Persaudaraan masyarakat Penglipuran sangat kental karena kebanyakan pasangan yang menikah berasal dari satu wilayah di masyarakat Penglipuran. Wilayah Panglipuran terkurung oleh hutan bambu dan ini dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan bangunan rumah maupun tempat peribadatan/pura mereka. Terutama pada kontribusi atap, bahkan atap rumah terbuat dari bambu yang disusun seperti atap sirap. Ini satu-satunya yang ada di propinsi Bali. Konstruksi bangunan mereka menggunakan bahan-bahan yang dapat di daur ulang oleh alam. Filosofi mereka dalam hidup TRI HITA KARANA yaitu harmoni antara manusia dan Tuhannya, harmoni antara manusia dengan manusia, dan harmoni antara manusia dengan lingkungan. Dalam pemecahan masalah-masalah social, desa ini mempertahankan kearifan lokal dalam penyelesaiannya. Misalnya dalam sistem pengelolaan lahan, sistem pernikahan, sistem tebang pohon dan sistem pemukiman. Keunggulan dari Desa Adat Penglipuran ini dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Bali adalah, bagian depan rumah serupa dan seragam dari ujung utama desa sampai bagian hilir desa. Desa tersusun sedemikian rapinya dengan daerah utamanya terletak lebih tinggi dan semakin menurun sampai kedaerah hilir. Selain bentuk depan yang sama, bahan untuk membuat rumah tersebut juga sama. Seperti bahan tanah untuk tembok dan untuk bagian atap terbuat dari penyengker dan bambu untuk bangunan diseluruh desa. Selain keseragaman bentuk bangunan, desa yang terletak pada ketinggian 700 meter dari permukaan laut ini juga memiliki sejumlah aturan adat dan tradisi unik lainnya. Salah satunya, pantangan bagi kaum lelakinya untuk beristri lebih dari satu atau berpoligami. Lelaki Penglipuran diharuskan menerapkan hidup monogami yakni hanya memiliki seorang istri. Pantangan berpoligami ini diatur dalam peraturan (awig-awig) desa adat.

49

Dalam bab perkawinan (pawos pawiwahan) awig-awig disebutkan, krama Desa Adat Penglipuran tan kadadosang madue istri langkung ring asiki. Artinya, krama Desa Adat Penglipuran tidak diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu. Jika ada lelaki Penglipuran yang telah menikah menyukai wanita lain lagi, maka cintanya harus dikubur sedalamdalamnya. Sebab kalau melanggar aturan ini, akibatnya bisa disisihkan dari desa pakraman. Jika lelaki Penglipuran beristri yang coba-coba merasa bisa berlaku adil dan menikahi wanita lain, maka lelaki tersebut akan dikucilkan di sebuah tempat yang diberi nama Karang Memadu. Karang artinya tempat dan memadu artinya berpoligami. Jadi, Karang Memadu merupakan sebutan untuk tempat bagi orang yang berpoligami. Karang Memadu merupakan sebidang lahan kosong di ujung selatan desa. Penduduk desa akan membuatkan si pelanggar itu sebuah gubuk sebagai tempat tinggal bersama istrinya. Dia hanya boleh melintasi jalan-jalan tertentu di wilayah desa. Artinya, suami istri ini ruang geraknya di desa akan terbatas. Tidak hanya itu, pernikahan orang yang berpoligami itu juga tidak akan dilegitimasi desa, upacara pernikahannya tidak dipimpin oleh Jero Kubaya yang merupakan pemimpin tertinggi di desa dalam pelaksanaan upacara adat dan agama. Implikasinya karena pernikahan itu dianggap tidak sah, maka orang tersebut juga dilarang bersembahyang di pura-pura yang menjadi emongan (tanggung jawab) desa adat. Mereka hanya diperbolehkan sembahyang di tempat mereka sendiri. Melihat hukuman yang menakutkan yang akan diterima oleh lelaki yang bermaksud berpoligami ini, sampai sekarang tidak ada lelaki Penglipuran yang berani bersujud di kaki istrinya agar diijinkan menikah lagi. Karang Memadu yang disiapkan oleh desa tetap tidak berpenghuni dan bahkan oleh penduduk desa dianggap sebagai karang leteh (tempat yang kotor). Mungkin lelaki Penglipuran lebih memilih hidup nyaman dengan satu istri daripada digilir dua istri dan diasingkan oleh orang satu desa. Desa Adat Penglipuran ini termasuk desa yang banyak melakukan acara ritual, sehingga banyak sekali acara yang diadakan di desa ini seperti pemasangan dan penurunan odalan, Galungan dll. Memang saat yang sangat tepat untuk datang ke desa ini adalah pada acara tersebut berlangsung, sehingga kita dapat melihat langsung keunikan dan kekhasan dari desa Penglipuran ini. Menurut penuturan para pemuka adat, bahwa Penglipuran mengandung makna "Pangeling Pura". Penglipuran yang mengandung makna "Pangeling Pura" memberikan petunjuk bahwa

50

terjadi hubungan yang sangat erat antara tugas dan tanggung jawab masyarakat

dalam

menjalankan dharma agama. Desa adat Penglipuran ini yang memiliki spesifik dan jati diri, perlu diteliti lebih mendalam akan berbagai ragam yang melatar belakangi keunikan desa tersebut. Keunikan lainnya, tidak akan ditemukan tempat sampah di jalan utama Desa Adat. Mereka melarang warganya untuk membuang sampah sembarangan, mereka juga menyatakan kepada para wisatawan bahwa mereka membenci sampah plastik. Hal ini karena adanya aturan (awig-awig) kepada setiap warga untuk menyapu dua kali dalam sehari setiap pagi dan sore hari. Kewajiban lain yang harus dipatuhi warga adalah memotong rumput yang ada di taman jalan dua kali sebulan. Kalau hal itu tak dipatuhi, denda Rp10. 000 akan diberlakukan. Meskipun dendanya terbilang tidak terlalu besar, sejauh ini belum ada warga yang melanggar dan lebih taat pada aturan tersebut. Hal ini dikarenakan masyarakat ditanamkan budaya malu jika tidak menaati aturan tersebut dan pantas untuk dijadikan sebagai percontohan daerah tujuan pariwisata sehat. Selain itu bagi warganya yang memiliki kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil diharuskan memakai jalan belakang rumah. Mereka juga diharuskan memarkir kendaraannya di belakang rumah, sehingga tidak menimbulkan polusi berlebihan di desa adat ini. Di desa adat ini tidak mengenal tradisi membakar mayat, melainkan dikubur. Karena mereka menganut tradisi pengembalian 5 unsur badan manusia yaitu: air, api, angin, zat padat, dan eter. Mereka tidak mengenal kaya dan miskin. Pengaturan penguburan mayat, kepala berada disebelah timur dan utara, posisi tengkurap untuk mayat laki-laki dan tengadah untuk mayat wanita. 5. Kondisi Ekonomi Mata pencaharian penduduk Desa Adat Panglipuran sebagian besar adalah bertani dan beternak, selebihnya ada yang bekerja sebagai tukang, pengrajin, pegawai, serta pedagang. Bagi wisatawan yang datang, wisatawan dewasa cukup membayar Rp 2.500, sementara untuk anak-anak Rp 1.500. Hasil penjualan tiket kemudian dibagi dengan pihak PEMDA. Pada bagian hilir dari desa adat Penglipuran ini, terletak Taman Makam Kapten Mudita yang keberadaannya ditata dengan baik, sehingga dapat tampil juga sebagai obyek wisata sejarah. Disamping itu pada ujung hutan bambu di sebelah utara desa Penglipuran akan dikembangkan kawasan dan arena berkuda.

51

Bab VI Penutup A. Kesimpulan Demak merupakan salah satu daerah yang memiliki peninggalan sejarah kerajaan Demak. Demak memiliki sebuah masjid dengan arsitektur akulturasi budaya hindu dengan islam. Demak menjadi salah satu wisata agama dan banyak peziarah yang datang ke Demak. Dengan adanya masjid Demak, menjadikan salang penopang perekonomian di Demak. Ada kebijakan politik di Demak dengan memanfaatkan majid Demak. Kudus merupakan tujuan wisata agama yang dekat dengan demak. Kudus juga memiliki masjid dengan arsitektur hindu. Selain itu di dekat masjid Kudus juga terdapat makam Sunan Kudus, dan banyak peziarah yang datang. Sehingga banyak masyarakat Kudus yang perekonomiannya ditunjang oleh sektor pariwisata. Bromo merupakan daerah pegunungan dengan pemandangan yang indah. Perekonomian Bromo ditunjang dari sektor pertanian dan pariwisata. Suhu udara di Bromo sangat dingin. Masyarakat Bromo hidup dengan menjaga kearifan lokal dan adat istiadatnya hingga sekarang. Bencana lumpur lapindo memngakibatkan kerugian bagi masyarakat yang rumah dan harta bendanya terendam oleh lumpur lapindo. Sudah banyak usaha untuk menanggulanginya, namun hingga sekarang semburan lumpur masih terjadi. Jembatan Suramadu di harapkan memajukan pembangunan ekonomi di Madura. Selain itu diharapkan ada upaya untuk mengatasi dampak negatif pembangunan jembatan ini. Terlepas dari positif negatif dibangunnya jembatan ini, masyarakat diharapka mampu memanfaatkan dan menjaga infrastruktur berharga ini. Bali mempunyai banyak pesona wisata yang terkenal di dalam negeri maupun luar negeri, seperti pantai Kuta, Tanah Lot yang mengalami retrograded, Tanjung Benoa, Pasar Sukowati, Joger, Pantai Pulaki, Danau Bedugul, dan ratusan desa adatnya. Desa Tenganan dengan kearifan lokalnya menjaga tradisi dan menggunakan awig-awig sebagai pengatur kehidupan bermasyarakat yang selalu diatati. Ada juga desa Panglipuran dengan pemandangan yang asri dengan tata ruang yang unik sebagai perwujudan konsep Tri Hita Karana. B. Saran Diharapkan ada upaya pelestarian semua aspek kehidupan di berbagai daerah yang telah dibahas di atas dan ada perbaikan terhadap dampak khusus yang muncul seperti di Lapindo.

52

Daftar Pustaka Geriya, S. Swarsi. 2003. Menggali Kearifan Lokal Untuk Ajeg Bali. Dalam www. Balipost. co. id Anonim. Masjid ini dibangun sekitar abad ke-15 Masehi atau pertengahan abad ke-9 Hijriyah. , (Online), (diakses dari http://jakarta45. wordpress. com/2009/05/25/mesjid-agungdemak-simbol-akulturasi-membumikan-tauhid/, pada 12 April 2011). Anonim. Dampak Jembatan Suramadu, (Online), (diakses dari http://www. suramadu. com/study/amdal/manfaat-jembatan-suramadu. html, pada 12 April 2011). www. demakkab. go. id Anonim. 2008. Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi, (Online), (diakses dari http://pelukismalam. multiply. com/journal/item/31/Masjid_Menara_Kudus_Simbol_Toleransi, pada 12 April 2011).

Madmax. Sejarah Kota Kudus, (Online), (diakses dari http://dwisusilo. com/index. php/tentangkudus/35-tentang-kudus/52-sejarah-kota-kudus, pada 12 April 2011). Daradjatun, Adang. 2009. Sunan Kudus, Masjid Menara, sampai Larangan Sembelih Sapi, (Online), (diakses dari http://www. bangadang. com/berita/nusantara/247-masjidmenara-kudus-hadir-dari-dakwah-bil-hikmah?format=pdf, pada 12 April 2011). Anonim. Masjid Menara Kudus, (Online), (diakses org/wiki/Masjid_Menara_Kudus, pada 12 April 2011). dari http://id. wikipedia.

Kuratorweb. 2011. Masjid candi Kudus, (Online), (diakses dari http://www. indonesiakuno. com/2011/01/masjid-candi-kudus. html, pada 12 April 2011 Budi, Bambang Setia. 2006. MASJID MENARA KUDUS KESINAMBUNGAN ARSITEKTUR JAWA-HINDU DAN ISLAM, (Online), (diakses dari http://bambangsb. blogspot. com/search/label/arsitektur%20masjid, pada 12 April 2011). Anonin. Sejarah Menara Kudus, (Online), (diakses dari http://fauzyalfalasany. blogspot. com/2010/02/sejarah-menara-kudus. html, pada 12 April 2011). http://alfredoelectroboy. wordpress. com/2010/06/05/upacara-pengangkatan-dukun-sukutengger/ http://andharavee. blogspot. com/2010/08/upacara-kasada-tengger. html http://blog-sejarah. blogspot. com/2008/10/sejarah-dan-asal-usul-suku-tengger. html http://ragambudayanusantara. blogspot. com/2008/09/budaya-suku-tengger. html http://www. balistarisland. com/Bali-Interesting-Place/Penglipuran-Village. htm

53

LAMPIRAN

Gambar 1. Soko Tatal Sunan Kalijaga

Gambar 2. Keramik Hadiah Putri Campa

Gambar 3. Atap Masjid Demak

Gambar 4. Tiang Peninggalan Majapahit

Gambar 5. Pintu Bledeg

Gambar 6. Ornamen Bulus

54

Gambar 7. Surya Majapahit

Gambar 8. Kholwat

Gambar 9. Dampar Kencana

Gambar 10. Petilasan Pangeran Benowo

Gambar 11. Kolam

Gambar 12. Gentong Hadiah Putri Campa di Musium

Gambar 13. Menara Masjid Kudus

Gambar 14. Kori Agung 2 55

Gambar 15. Gerbang Candi Bentar

Gambar 16. Kori Agung 1

Gambar 17. Tempat Wudhu Masjid Kudus

Gambar 18. Makam Sunan Kudus

Gambar 19. Bromo

Gambar 20. Koleksi Musium Bromo

Gambar 21. Jenbatan Suramadu

Gambar 22. Pure Tanah Lot 56

Gambar 23. Batuan Tebing Pantai Tanah Lot

Gambar 24. Pantai Kuta

Gambar 26. Ketua Subak Liplip Gambar 25. Susunan Pengurus Subak Liplip

Gambar 27. Subak Liplip

Gambar 28. Artshop di Desa Adat Tenganan

Gambar 29. Desa Adat Panglipuran

Gambar 30. Danau Beratan Bedugul

57