Anda di halaman 1dari 8

POLITIK EKONOMI LIBERAL ZAMAN KOLONIAL BELANDA

Anggota Kelompok: Putri Ayu A. L. 09416241002

PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselesaikannya makalah yang berjudul Politik Ekonomi Liberal Zaman Kolonial Belanda. Makalah yang masih perlu dikembangkan lebih jauh ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membacanya. Makalah ini dibuat sebagai tugas mata kuliah Nasionalisme dan Jati Diri Bangsa yang secara garis besar berisi tentang Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak, penulis tidak mungkin menyelesaiakan penyusunan makalah ini, untuk itu ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif, terutama dari Ibu Taat Wulandari, M. Pd, dan teman-teman prodi Pendidikan IPS.

Yogyakarta, 27 November 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................................ 1 Kata Pengantar............................................................................................................ 2 Daftar Isi........ ..... 3 Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang .............................................................................................. 4 B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 4 C. Tujuan ........................................................................................................... 4 Bab II Pembahasan A. Perubahan Bidang Politik .............................................................................. 5 Bab III Penutup A. Kesimpulan ................................................................................................... 23 Daftar Pustaka ............................................................................................................ 24

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme. Proses berlakunya politik liberal diawali dengan penghapusan tanam paksa pada tahun 1865. Pemberlakuan politik liberal ditandai dengan adanya kebebasan usaha berupa penanaman modal swasta yang ditanamkan pada perusahaan perkebunan dan pertambangan. Dengan banyaknya modal swasta yang ditanamkan di perkebunan dan pertambangan berarti berlaku Politik Pintu Terbuka di Hindia Belanda, artinya pemerintah memberikan kesempatan seluasluasnya bagi pihak swasta untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Dalam masa ini, kepemilikan kekayaan alam Indonesia bukan 100% oleh pemerintah Belanda, melainkan dimiliki oleh enterpreneur-enterpreneur dari banyak negara. Hal ini merupakan suatu bentuk sistem Neo-Liberal yang kita anut sekarang pada masa kolonial Belanda.
B. Rumusan Masalah 1. Apa yang melatarbelakangi diberlakukannya system ekonomi politik liberal? 2. Bagaimana pelaksanaan system ekonomi politik liberal? 3. Bagaimana akibat pelaksanaan system ekonomi politik liberal? C. Tujuan 1. Mengetahui apa yang melatarbelakangi diberlakukannya system ekonomi politik liberal. 2. Mengetahui pelaksanaan system ekonomi politik liberal. 3. Mengetahui akibat pelaksanaan system ekonomi politik liberal.

BAB II PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Diberlakukannya Sistem Ekonomi Liberal Politik ekonomi liberal colonial dilatarbelakangi oleh hal-hal sebagai berikut: 1. Pelaksanaan system tanam paksa telah menimbulkan penderitaan rakyat pribui, tetapi memberikankeuntungan besar bagi Pemerintah Kerajaan Belanda. 2. Berkembangnya paham liberalism sebagai akibat dari Revolusi Perancis dan Revolusi Industri sehingga system tanam paksa tidak sesuai lagi untuk diteruskan. 3. Emenangan Partai Liberal dalam Parlemen Belanda yang mendesak Pemerintah Belanda menerapkan system ekonomi liberal di negeri jajahannya (Indonesia). Hal itu dimaksudkan agar para pengusaha Belanda sebagai pendukung Partai Liberal dapat menanamkan modalnya. 4. Adanya Traktat Sumatra pada tahun 1871 yang memberikan kebebasan bagi Belanda untuk meluaskan wilayahnya ke Aceh. Sebagai imbalannya, Ingris meminta belanda menerapkan system ekonomi liberal di Indonesia agar pengusaha Inggris dapat menanamkan modalnya di Indonesia. Seiring dengan pelaksanaan politik ekonomi liberal, Belanda melaksanakan Pax Netherlandica, yaitu usaha pembuatan negeri jajahannya di Nusantara. Hal itu dimaksudkan agar wilayahnya tidak diduduki bangsa Barat lainnya. Lebih-lebih setelah dibukanya Terusan Suez (1868) yang mempersingkat jalur pelayaran antara Eropa dan Asia. Pelaksanaan politik ekonomi liberal itu dilandasi denganbeberapa peraturan antara lain sebagai berikut: 1. Reglement op het belied der Regering in Nederlansch-Indie (RR) (1854). Berisi tentang tata cara pemerintahan di Indonesia. Perundangan baru ini menunjukkan kekuatan kaum liberal-borjuis terus berkembang. Pda tahun 1926, RR diganti dengan Wer op de Staatsinrichting van Nederlandsch Indie yangbiasa. 2. Indische Compatibiliteit (1867) Berisi tentang perbedaharaan negara Hindia-Belanda yang menyebutkan bahwa dalam menentukan anggaran belanja Hindia-Belanda harus ditetapkan dengan undang-undang yang disetujui oleh Parlemen Belanda. 3. Suiker Wet Undang-undang gula yang menetapkan bahwa tanaman tebu adalah monopoli pemerintah yang secara berangsur-angsur akan dialihkan kepada pihak swasta. 4. Agrarische Wet (Undang-undang Agraria 1870)

Merupakan Undang-undang Agraria yang berlaku di Indonesia dari tahun 1870 sampai 1960. Peraturan ini dihapus dengan dikeluarkannya UUPA (Undang-undang Pokok Agraria) tahun 1960 oleh pemerintah Republik Indonesia. Agrarische Wet tercantum dalam pasal 51 dari Indische Staatsregeling (IS) yang merupakan UUD Pemerintahan Hindia-Belanda. Menteri jajahan Belanda yang berjasa menciptakan Agrarische Wet tersebut adalah De Waal. Isi pokok dari Agrarische Wet adalah sebagai berikut: a. Tanah di Indonesia dibedakan menjaditanah rakyat dan tanah pemerintah. b. Tanah rakyat dibedakan atas tanah milik yang bersifat bebas dan tanah desa yang bersifat tidak bebas. Tanah tidak bebas adalah tanah yang dapat disewakan kepada pengusaha swasta. c. Tanah rakyat tidak boleh dijual kepada orang lain. d. Tanah pemerintah dapat disewakan kepada pengusaha swasta sampai jangka waktu 75 tahun. 5. Agrarische Besluit (1870) Jika Agrarische Wet ditetapkan dengan persetujuan parlemen, Agrarische Belsuit ditetapkan oleh Raja Belanda. Agrarische Wet hanya mampu mengatur hal-hal yangbersifat umum tentang agrarian, sedangkan Agrarische Besluit mengatur hal-hal yang lebih rinci, khususnya tentang hak kepemilikan tanah dan jenis-jenis hak penyewaan tanah oleh pihak swasta. B. Pelaksanaan Sistem Politik Ekonomi Liberal Atas dikeluarkannya Undang-undang Agraria tahun 1870, Indonesia memasuki zaman penjajahan baru. Sebelum tahun 1870 Indonesia dijajah dengan Imperialisme kuno, yaitu hanya dikeruk saja kekayannya setelah 1870 di Indonesia diterapkan Imperialisme modern. Sejak tahun 1870 di Indonesia telah diterapkan opendeur politiek, yaitu politik pintu terbuka terhadap modal-modal swasta asing. Hal itu berarti Indonesia dijadikan tempat untuk berbagai kepentingan, anatara lain berikut ini: 1. Mendapatkan bahan mentah atau bahan baku industri di Eropa. 2. Mendapatkan tenaga kerja yang murah. 3. Menjadi tempat pemasaran barang-barang produksi Eropa. 4. Menjadi tempat penanaman modal asing. Di samping modal swasta belanda sendiri, modal swasta asing lain juga masuk ke Indonesia, misalnya modal dari Inggris, Amerika, jepang, da Belgia. Modal-modal asing tersebut tertanam pada sectorsektor pertanian dan pertambangan, antara lain karet, the, kopi, tembakau, tebu, timah dan minyak. Akibatnya perkebunan-perkebunan dibangun secaraluas dan meningkat pesat. Misalnya, perkebunan tebu sejak tahun 1870 mengalami perluasan dan kenaikan produksi yang pesat, khususnya di Jawa. Demikian pula perkebuunan the dan tembakau mengalami perkembangan yang pesat. Sejak semula tembakau telah ditanam did aerah Yogyakarta dan Surakarta. Sejak tahun 1870 perkebunan itu diperluas sampai ke daerah Besuki (Jawa Timur) dan daerah Deli (Sumatra Timur).

Pembukaan perkebunan-perkebunan swasta di daerah luar Jawa, khususnya di Sumatra Timur menemui masalah kekurangan tenaga kerja. Pemerintah banyak mendatangkan pekerja dari Jawa yang dilakukan secara kontrak sehingga disebut kuli kontrak. Untuk menjamin para kuli tidak melarikan diri sebelum masa kontraknya habis, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan yang disebut Koeli Ordomantie. Peraturan tersebut berisi antara alian ancaman hukuman bagi para pekerja perkebunan yang melanggar dengan ketentuan Poenale Sanctie. Akibat Sistem Politik Liberal Kolonial Pelaksanaan politik liberal membawa akibat sebagai berikut: 1. Bagi Belanda a. Memberikan keuntungan yang sangat besar kepada kaum swasta Belanda dan pemerintah colonial Belanda. b. Hasil-hasil produksi perkebunan dan pertambangan mangalir ke negeri Belanda. c. Negeri Belanda manjadi pusat perdagangan hasil dari tanah jajahan. 2. Bagi rakyat Indonesia a. Kemerosotan tingkat kesejahteraa enduduk. Pendapatan penduduk Jawa pada awal abad ke-20 setiap keluarga untuk satu tahun sebesar 80 gulden. Dari jumlah tersebut masih dikurangi untuk membayar pajak kepada pemerintah sebesar 16 gulden. Penduduk hidup dalam kemiskinan. b. Krisis perkebunan tahun 1885 akibat jatuhnya harga kopi dab gula berakibat buruk bagi penduduk. c. Menurunnya konsumsi bahan makanan, terutama beras, sementara pertumbuhan penduduk Jawa meningkat cukup pesat. d. Menurunnya usaha kerajinan rakyat karena kalah bersaing dengan banyak barag-barang impor dari Eropa. e. Pengangkutan dengan gerobak menjadi merosot penghasilannya setelah adanya kereta api. f. Rakyat menderita akibat dipterapkannya kerja rodi dan adanya hukuman berat (Poenale Sanctie).

C. D. E. BAB PENUTUP III