Anda di halaman 1dari 232

Resident Evil X

Salam kenal, saya seorang penggemar game, anime dan hentai. Sudah 2 tahun lebih saya mengenal situs 17Tahun.com, namun belum pernah saya melihat satupun cerita yang bersetting dunia game dan anime, padahal di situs-situs dan milist asing ada begitu banyak cerita-cerita yang berbau hentai. Maka untuk itu saya memberanikan diri untuk menjadi orang pertama yang memulainya. Bukankah sejarah terukir dari mereka yang berani mendobrak tradisi? Bukankah penulis adalah Dewa bagi tulisan dan karakternya? jadi boleh dong mengembangkan imajinasi seluas-luasnya. Semoga langkah saya bisa menjadi awal perkembangan hentai fanfics berbahasa Indonesia. Bagi para hentaimania ditunggu karya-karyanya, OK! *****

Jill Valentine Kisahnya bermula dari sebuah kota bernama Racoon City, sebuah kota yang tenang dan damai, sampai terjadinya bencana virus yang disebarkan Umbrella Corp. Kota itu mulai menjadi kota yang mencekam dengan munculnya makhluk-makhluk tak dikenal yang meminta banyak korban. Seluruh kota dipenuhi zombie hasil perubahan genetik yang disebabkan T-virus itu. Malapetaka itu menyebabkan Racoon City lumpuh total menjadi puing-puing seperti sedang dalam situasi perang. Tindakan diambil dengan mengirimkan pasukan khusus STARS (Special Tactical and Rescue Squad) untuk mengendalikan situasi. Jill Valentine (23 th), salah satu anggota unit STARS, adalah seorang gadis yang berkemauan keras dan cerdas, dia mahir dalam menggunakan senjata dan teknik membuka kunci. Dalam misi ini Jill terhalang beberapa kali oleh makhluk-makhluk aneh dan penduduk yang telah berubah menjadi zombie. Dia menjelajahi kota mengerikan itu dan

bertarung mati-matian dengan mereka. Di suatu sudut kota dia sedang sIbuk menghadapi seorang zombie yang menghadangnya, dengan sebuah tembakan dari S&W 44 magnum miliknya membuat kepala zombie itu pecah dan roboh ke tanah. Jill terus berjalan sampai ke sebuah gang yang terhalang sebuah truk yang hancur menabrak tembok, dikursi kemudi tampak mayat si sopir dan temannya yang kondisinya mengenaskan. Jill bukanlah Jill jika melihat mayat saja menghentikan langkahnya, maka dengan hati-hati dia memanjat truk itu dan mengintai situasi di gang. Gang itu berbentuk perempatan yang dikelilingi gedung-gedung tinggi. Sebagai tentara yang terlatih tentu dia mengecek dulu situasi di sana, dilihatnya setiap sisi, yakin tidak ada apa-apa dia meloncat turun dari truk itu. Masih dengan waspada diintainya kedua belokan di gang itu memastikan apakah ada zombie yang menyergap. Dia tidak melihat apapun dan diapun meneruskan langkahnya ke arah pintu di penghujung gang itu. Diputarnya gagang pintu, tidak terbuka. Dengan keahliannya membongkar kunci, dipakainya seutas kawat, dan klik.., klik.., nampaknya usahanya membuahkan hasil. Kembali diputarnya gagang pintu, masih tidak terbuka, ternyata pintu besi itu dipalang dari dalam. Jill mulai cemas, terlintas firasat buruk di hatinya bersamaan dengan terdengar suatu suara dari belakang. Hallo.., siapa disana!, dia melihat sekeliling sambil bersiap dengan Magnum-nya. Akhirnya nampak 2 zombie berjalan mendekat, lalu Doorr..! Doorr..! terdengar 2 letusan tembakan disusul ambruknya kedua mayat hidup itu. Kemudian dia mengisi kembali magnumnya dengan peluru yang sudah tinggal sedikit. Baru saja dia berjalan meninggalkan area itu, tiba-tiba dari kedua belokan gang terdengar suara raungan zombie tersebut, Eeerrgghh.. eerrgghh..!! Dan dilihatnya dari sisi kanan muncul 3 zombie dan 2 lagi dari sisi kirinya. Sadar amunisinya sudah tidak banyak, Jill memilih kabur dari situ dan dia berlari ke arah reruntuhan truk tadi. Beberapa meter dari truk mendadak Brakk..!! pintu truk terdobrak dari dalam, kini kedua mayat di truk itu sudah bermutasi menjadi zombie mengerikan. Kali ini Jill benar-benar terpojok, sementara dibelakangnya zombie-zombie itu semakin dekat saja jaraknya. Akhirnya sambil berharap lolos, Jill berinisiatif menerjang kedua zombie di hadapannya. Mampus, zombie sialan! serunya sambil menembak pecah kepala zombie teman si sopir. Tembakan kedua hanya mengenai bahu zombie sopir truk. Dengan sigap dia berlari sambil meninju jatuh zombie sopir truk dan membuka kesempatan untuk kabur. Dengan satu lompatan Jill berhasil meraih atap truk itu. Namun malang baginya karena zombie-zombie itu sudah terlalu dekat, belum sempat dia memanjat, pergelangan kakinya sudah ditangkap oleh salah satu zombie dan diseret ke bawah. Tubuhnya terjembab dan segera para zombie itu mengerubutinya, dia masih sempat melubangi kepala seorang zombie wanita dengan sebuah tembakan sebelum zombie yang lain menepis tangannya sehingga pistolnya terlempar jauh. Dia masih berusaha berontak dengan mencabut pisaunya dan menghujamkannya beberapa kali pada zombie yang menindihnya, serangan pisau sedahsyat tentu sudah bisa membunuh manusia biasa, tapi yang dihadapinya kali ini adalah mayat hidup

yang tampaknya tidak terpengaruh oleh tikaman maut Jill. Kemudian dengan sigap salah satu zombie memegangi tangannya yang berpisau dan menepis pisau itu, sementara tangannya yang satu lagi pun sudah di tangkap oleh zombie yang lain. Sekarang Jill sudah tak berdaya, tubuhnya terkunci dan senjatanya sudah dilucuti, rontaannya semakin melemah karena kalah tenaga dengan keenam zombie yang mengeroyoknya. Dia memalingkan wajahnya ke samping dan memejamkan mata, pasrah menanti kematian yang sudah akan menjemputnya. Namun setelah dua detik berlalu dia baru menyadari dirinya masih hidup, yang terasa adalah tetesan liur di pipinya dan juga remasan pada dadanya. zombie botak yang menindihnya mendekati wajah cantik berambut coklat itu, dengus nafasnya mulai terasa di leher Jill. Begitu membuka mata Jill tercengang melihat zombie-zombie itu sudah mengeluarkan penisnya yang besar dan sudah mengeras, si zombie botak kini menjilati lehernya yang jenjang, sedangkan zombie sopir merentangkan kedua pahanya. Oh.., tidak, mereka tidak membunuhku, mereka mau memperkosaku!. Jill mulai panik, tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa dirinya akan diperkosa oleh mayat-mayat hidup yang mengerikan. Dengan sekali sentakan kasar, zombie botak mengoyak robek seragam biru STARSnya beserta bra di dalamnya sehingga tersembullah payudara C-cup yang menggiurkan. Kelima zombie lainnya tidak mau kalah ikut mencabik-cabik pakaian Jill, dan yang terakhir zombie sopir mengoyak celana dalamnya. Jill yang malang hanya bisa menjerit-jerit dan meronta, namun siapa di kota mati itu yang mendengar jeritannya, dan apalah artinya rontaannya melawan enam zombie yang sudah kalap. Akhirnya seluruh keindahan tubuhnya kini terekspos jelas, tubuh putih mulus dengan puting kemerahan, yang tersisa di tubuhnya hanya sepatu bot dan sarung tangannya. zombie-zombie itu memulai aksinya, zombie negro meremas dada kirinya dan mengulum putingnya, sedangkan payudara kanannya dijilat-jilat oleh zombie pemuda kurus. Jilatan zombie botak dari lehernya kini mulai naik ke bibir indahnya, Jill menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghindari bibirnya di lumat zombie itu, dia merasa jijik membayangkan di-french kiss oleh mayat hidup. Tapi akhirnya zombie botak itu berhasil melumat bibir Jill dan mendesak-desakkan lidahnya ke dalam mulut, dia hanya memejamkan mata ngeri menatap zombie yang mukanya sudah rusak dan matanya sudah ada bilatungnya itu, tubuhnya yang sudah busuk penuh bekas tusukan pisau barusan. Dua zombie lainya, yaitu zombie pria setengah baya dan zombie buruh bangunan menggerayangi bagian tubuh lainnya seperti pantat dan paha mulusnya. Sekuat apapun dia bertahan lama-lama pertahananya bobol juga apalagi setelah kemaluannya mulai berlendir akibat dijilati dan dikorek-korek oleh zombie sopir. Mulutnya pun perlahan membuka dan dia merasakan lidah zombie itu sudah bermainmain dalam mulutnya. Jill merasa mual dengan bau busuk mayat-mayat hidup itu, tapi disaat yang sama rasa nikmat mulai menjalari tubuhnya. Mata Jill tiba-tiba terbelakak saat dirasakannya sesuatu memasuki vaginanya. zombie sopir mulai mendorong masuk penisnya, sementara Jill merintih kesakitan, tubuhnya menegang berkeringat, dan jari-jarinya mencakar tanah. zombie sopir

menekan lebih dalam lagi sampai penis itu melesak seluruhnya ke dalam vagina Jill, jeritan memilukan keluar dari mulutnya menggema di gang itu, tapi jeritan itu terputus karena si zombie botak yang sudah berpindah posisi ke belakang kepala Jill menjejali mulutnya dengan penis dan memaju-mundurkanya dengan cepat hingga buah pelirnya memukul-mukul hidungnya, rasa nikmat membuat Jill seolah melupakan penis zombie di mulutnya yang rasanya seperti daging busuk itu, dia terpaksa mengocok penis itu dengan mulutnya. Di antara kedua paha mulus itu, zombie sopir mulai menusuk-nusukkan penisnya pada vagina Jill, nampak darah mengalir dari vaginanya yang baru saja diperawani. Tanpa sadar air mata mulai mengalir membasahi wajahnya, sesuatu yang sebenarnya pantang bagi pasukan elite seperti dirinya. Dia merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik hingga berkelejotan, dia mengalami orgasme panjang. Bersamaan dengan itu pula zombie sopir dan zombie botak pun mencapai klimaks, kedua zombie itu mengerang nikmat. zombie botak menyemburkan maninya di mulut Jill, sehingga Jill yang saat itu juga sedang orgasme tersedak sampai cairan kental itu meleleh ke mulut dan lehernya. Cairan merah susu percampuran darah, cairan cinta, dan sperma nampak mengalir dengan deras di selangkangannya. Setelah zombie sopir dan zombie botak melepas penis mereka, zombie lain segera menerima gilirannya. Kali ini zombie pria setengah baya dengan kasarnya menaikan tubuh Jill yang masih lemas itu ke atas tubuh busuknya lalu menancapkan penisnya. zombie itu menggerak-gerakkan pinggulnya naik-turun, Jill sendiri mulai merasakan birahinya bangkit kembali sehingga secara refleks dia ikut menaik-turunkan tubuhnya, payudaranya ikut bergerak naik turun seiring goyangan badannya, dari mulutnya yang blepotan sperma itu terdengar desahan-desahan nikmat. zombie negro mengambil posisi di belakangnya dan mulai mengarahkan penisnya yang hitam besar itu ke duburnya. Jill meronta-ronta saat kepala penis makhluk itu mendesak masuk ke anusnya, tapi perlawanannya segera dapat diatasi, zombie-zombie yang lain memegangi tubuhnya dan zombie negro itu menyingkap anus Jill sambil menusukkan penisnya. Gigi Jill gemeretakan saat merasakan penis itu menerobos pelan-pelan ke anusnya, keringat dan air mata bercucuran di wajahnya yang cantik. Ahh.., ohh.., akkhh!! desah gadis itu. Kedua tangannya masing-masing mengocok penis zombie buruh bangunan dan zombie sopir. Zombie pemuda kurus kini berlutut di depannya, rambut Jill dijambaknya dengan kasar dan wajahnya didekatkan pada penisnya, dengan terpaksa dijilatinya dan dikulumnya penis mayat hidup itu. Sementara zombie negro sedang asyik menyodok-nyodok anus Jill, membuatnya merem-melek menahan sakit, di bawahnya zombie pria setengah baya menikmati goyangan Jill sambil menjilati payudaranya yang tidak jauh dari wajahnya. Tidak satupun bagian tubuh Jill lepas dari jamahan mereka, rasa sakit sekaligus nikmat menjalari tubuhnya. Jill merasa sudah setengah tak sadar, dia hanya bisa menuruti saja diperlakukan apapun oleh zombie-zombie itu, dia tidak tahu lagi siapa yang menggenjot vagina dan anusnya, siapa yang menggerayangi payudaranya, siapa yang mengocok penisnya diantara kedua payudaranya, dan penis siapa saja yang dia kulum. Beberapa kali dia klimaks namun mereka masih getol mengerjai mangsa

cantiknya itu. Tubuhnya kini sudah basah oleh keringat dan cairan putih kental, beberapa bekas cakaran dan gigitan juga nampak pada kulitnya. Erangannya terdengar sahut menyahut dengan raungan zombie-zombie itu. zombie terakhir yang belum menikmati vagina maupun anus Jill, yaitu zombie buruh bangunan kini mengerjai Jill dalam posisi berdiri, kedua tangan Jill bersandar pada box truk itu, cairan yang membasahi vagina dan anusnya membuat zombie itu dengan leluasa menusuk-nusukkan penisnya secara bergantian ke kedua liang senggama itu. Jill yang tak berdaya cuma bisa mengerang dan menangis, namun hebatnya tidak pernah dia sedikitpun meminta ampun atau memelas seperti yang dilakukan wanita pada umumnya jika dalam situasi demikian. Memang sebagai pasukan khusus dia memiliki mental sekuat baja, tapi tetap saja sebagai wanita dia tidak sanggup menahan birahi yang sedang melandanya. Tubuhnya tersentak ke depan disertai erangan histeris setiap kali zombie itu memberikan sodokan keras padanya. Setiap jengkal tubuh lainnya pun tidak luput dari rangsangan. Nampak zombie negro sedang berjongkok menjilati paha mulus Jill, kedua buah dada yang berayun-ayun itu juga digerayangi oleh yang lainnya. Akhirnya kembali rahim Jill disiram sperma zombie itu, saking penuhnya sperma yang sudah bercampur cairan kewanitaan itu mengalir deras membasahi selangkangan dan pahanya. Kemudian keenam zombie itu mengelilingi Jill yang berlutut di tengahnya. Disana dia kembali menjadi bulan-bulanan mereka, dia tidak tahu lagi penis siapa yang dia hisap atau penis siapa yang dia kocok. Keenamnya berebutan minta diemut dan tangannya bergantian melayani penis mereka, membuatnya sangat kewalahan. Tubuh mulus itu jadi bermandikan sperma, liur, dan keringat. Saat Jill sedang mengisap penis zombie sopir tiba-tiba terdengar sebuah suara tembakan disusul robohnya zombie negro itu dengan lubang di kepala. Bersamaan dengan itu terdengar teriakan, Awas.., tiarap!!. Naluri prajurit Jill langsung bekerja dengan berguling ke samping dan tiarap. Kelima zombie yang tersisa baru akan bertindak ketika dua dari mereka ambruk oleh peluru shotgun yang menembus keduanya dengan membuat lubang besar di dada mereka. Jill yang berhasil meraih magnum-nya menembak zombie pemuda kurus tepat di lehernya. Lalu kembali terdengar letusan shotgun yang mengakhiri riwayat kedua zombie terakhir. Kini sosok penolong misterius itu mulai tampak. Di antara mayat-mayat itu berdiri tegak seorang gadis cantik berambut coklat yang dikuncir. Pakaian merah yang ketat dengan celana yang pendek yang dikenakannya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sintal. Tangannya memegang sepucuk shotgun M39 yang masih mengepulkan asap. Dia menghampiri Jill dan berkata, Jangan takut, saya juga manusia.., kamu aman sekarang. Jill yang sudah kelelahan itu mulai kabur pandangannya dan pingsan di depan gadis itu. Gadis itu melepaskan rompi merahnya untuk menutupi tubuh telanjang Jill, lalu memapahnya menuju ke tempat yang aman. ############################## Klik.. klik!, suara itulah yang keluar dari pistol yang digenggam Jill. Dia sudah kehabisan peluru dan terjebak di antara kerumunan zombi yang mengepungnya. Tebasan pisaunya hanya menjatuhkan segelintir dari mereka

sedangkan puluhan lainnya terus maju, erangan mereka terdengar hiruk pikuk memenuhi ruangan itu. Beberapa zombi meraih bajunya dan merobeknya. Zombi lainya makin ganas melihat ketelanjangan Jill. Dia merasakan bagian-bagian sensitifnya mulai dikerjai oleh makhluk-makhluk mengerikan itu. Tidak..!!, jeritnya. Dia terbangun dan menyadari dirinya terbaring di ranjang dengan selembar selimut menutupi tubuh telanjangnya. Ah.. hanya mimpi? katanya dalam hati sambil menyeka keringat dingin yang membasahi dahinya. Kesadarannya berangsur pulih dan ditatapinya ruangan sekeliling yang terasa asing baginya. Masih teringat olehnya bagaimana terakhir kali dia baru saja diperkosa sekumpulan zombi. Mimpi buruk ini tidak dapat begitu saja dilupakannya. Dia masih belum tahu dimana dia sekarang dan siapa gadis yang menolongnya tadi.

Claire Redfield Ketika itu pintu terbuka, kini dia dapat melihat jelas sosok gadis yang menolongnya itu, wajahnya cantik dengan rambut coklat diikat ke belakang, tubuhnya yang sintal dibalut pakaian ketat hitam dengan rompi merah, celana merahnya yang pendek dan ketat memperlihatkan kakinya yang indah dan pantatnya yang montok berisi. Hai, kamu bangun juga akhirnya, saya sudah menjaga kamu setengah harian, sapanya dengan tersenyum ramah. Siapa.. siap kamu? Dimana ini?, tanya Jill masih belum mengerti. Namaku Redfield.. Claire Redfield, kamu anggota STARS ya? Saya lihat dari pakaian dan kartu ID-mu Redfield? Claire? Jadi kamu adiknya Chris?, tanya Jill mengacu pada partnernya dalam STARS ketika bertugas membongkar misteri di wisma Umbrella dulu. Chris dulu pernah bersamanya membongkar misteri hilangnya anggota tim mereka dan kasus aneh yang merebak di sekitar sana. Chris sendiri sekarang sedang

ditugaskan untuk menyelidiki jaringan Umbrella di tempat lain yang masih dirahasiakan bahkan Jill sendiri belum mengetahui keberadaannya. Claire menceritakan bahwa dia sedang mencari kakaknya dan baru tiba di Racoon City hari ini juga atas informasi dari Leon Kenedy dari RCPD (Racoon City Police Department), setelah dihadang beberapa zombi dan monster-monster aneh dia akhirnya menemukan Jill sedang diperkosa oleh zombi-zombi itu. Setelah menolongnya, dia membawa Jill ke sebuah motel kosong sebagai tempat perlindungan sementara yang sekarang mereka tempati. Jill mendengarkan cerita panjang lebar Claire sambil berendam di bath tub membasuh tubuhnya dari sisa-sisa persetubuhan barusan. Merekapun menjadi akrab dan saling sepakat untuk menemukan ada apa dibalik semua malapetaka ini. Kita kekurangan amunisi untuk membela diri, saya mau keluar sebentar untuk mencari amunisi dan informasi baru, ujarnya sambil melangkah ke pintu depan. O.. iya, pakaianmu sudah rusak, jadi saya sudah mencarikan yang baru dari butik sebelah dan saya taruh di meja, ok!, ujar Claire sambil membuka pintu Ingat pastikan bahwa senjata telah terisi.. hati-hati, apapun bisa terjadi!, sambungnya lagi sebelum menghilang di balik pintu. ***** Kita tinggalkan sejenak Jill untuk menyimak petualangan Claire, gadis 19 tahun ini berwatak liar dan pemberani. Dia nekad bertaruh nyawa untuk mencari kakak tercintanya. Walau masih muda, dia mempunyai kemampuan bela diri yang tidak bisa diremehkan hasil dilatih kakaknya. Karena kurangnya amunisi, dia berusaha untuk sebisa mungkin menghindar dari makhluk-makhluk mengerikan yang berkeliaran di segenap penjuru kota. Di tengah kegelapan malam dia berhasil menghindari sekelompok zombi yang mengejar dan menembak beberapa di antaranya. Akhirnya dia melihat sebuah rumah yang lampunya menyala remang-remang, papan namanya bertuliskan Gun Shop. Dengan berharap bisa menemukan sesuatu yang berguna dan manusia yang masih hidup, dia bergegas menuju ke bangunan itu. Setelah membongkar kuncinya dengan seutas kawat, dengan hati-hati dibukanya pintu itu. Namun tiba-tiba, Berhenti jangan bergerak atau kutembak! seru seorang pria gemuk yang tiba-tiba muncul dari balik meja mengarahkan shotgun padanya, lalu disusul keluar seorang lagi pria setengah baya yang pendek mengarahkan pistol padanya. Muka mereka tampak stress, agaknya mereka terkurung disini tidak berani keluar takut dimangsa zombi. Tahan.. saya juga manusia, Claire agak lega bertemu orang yang masih hidup setelah agak terkejut sebelumnya. Oooh.. maaf nona, kami kira monster yang datang, kata si pria gendut yang adalah pemilik toko sambil berjalan ke pintu dan menguncinya, diam-diam matanya melirik mengagumi keindahan tubuh Claire. Apa yang terjadi di sini? Seluruh kota dipenuhi mayat, zombi, dan monster!, tanya Claire penasaran. Mereka pun menceritakan bahwa mereka sendiri tidak tahu banyak, yang mereka tahu kota sudah dipenuhi zombi dan manusia yang tersisa telah kabur, mereka sendiri terperangkap di sini selama 2 hari tidak berani keluar. Si pria setengah baya itu bernama Dario, keluarganya telah dibunuh zombi-zombi itu, dia sendiri lolos dan melarikan diri ke tempat ini.

Kedatangan Claire ke sana membuat suasana lebih segar, bagaimana tidak, terkurung selama beberapa hari disana dilingkupi ketakutan tiba-tiba datanglah seorang gadis cantik dan seksi. Stress mungkin membuat mereka agak gila, tergiur oleh keindahan tubuh Claire mereka mulai berpikir tidak-tidak bahkan berniat tidak baik hendak mengerjainya. Tuan, boleh saya pinjam senjata anda dan amunisi? Kita perlu itu untuk keluar dari kota terkutuk ini, tanya Claire membuyarkan lamunan si pemilik toko itu. Ooo.. silakan nona, anda memang malaikat penolong, pilih saja sesukamu, katanya terbata-bata. Tolong nona, kami hampir kehabisan makanan dan mati kelaparan di sini, saya masih mau hidup, ujar Dario memelas. Claire membungkuk dan mengambil beberapa Pak peluru dari rak bawah. Mereka tidak berkedip menatapi pantat Claire yang sedang membungkuk. Si pemilik toko akhirnya tidak tahan lagi, dia berjalan ke arahnya dan meremas pantat montok itu. Spontan Claire pun kaget, dia langsung berbalik dan menampar pria gemuk itu sampai jatuh. Kurang ajar! jangan macam-macam kamu ya!, bentaknya. Pria itu bangkit sambil mengelus-ngelus pipinya yang memar. Mereka berdua menatapi Claire seolah-olah bisa menembus ke balik pakaiannya. Hehehe.. kamu harus bayar atas perlakuanmu manis, dia menyeringai dengan wajah mesum dan kembali menghampirinya perlahan-lahan. Hei.. jaga kelakuanmu, atau kuhajar!, ancamnya sambil berusaha meraih shotgunnya yang dia letakkan di meja toko. Namun belum sempat tangannya meraih senjata itu, tiba-tiba dari sampingnya sebuah laras pistol sudah ditodongkan ke keningnya, dia sungguh tidak menduga Dario, pria pendek setengah baya itu berbuat demikian. Kalau kamu pintar sebaiknya tidak bergerak manis Melihat situasi itu si pemilik toko langsung menepis shotgun itu menjauh dari Claire, kemudian dengan sigap mendekapnya dan menelikung lengan Claire ke belakang sehingga gerakannya terkunci. Claire mempertahankan dirinya dengan menjerit dan meronta-ronta, namun tidak ada gunanya malah membuat lengannya yang dilipat ke belakang itu terasa sakit. Diam kamu, bitch!!, bentak Dario sambil menampar pipinya. Tamparan itu membuat Claire terdiam beberapa saat, lalu si pemilik toko mulai bicara. Menurut aja manis, kalau kamu mau menolong kami sebaiknya layani kami baikbaik, kami sudah lama tidak menikmati wanita dan stress. Atau kamu mau kita lempar ke luar, ingat kamu sudah tidak punya senjata lagi nona, zombi-zombi itu akan membunuhmu atau memperkosamu, hehehe!, sambung Dario sambil mengelus pipi Claire Claire belum bisa menjawab pertanyaan itu, dia membayangkan ngerinya kalau diperkosa zombi-zombi itu seperti yang belum lama menimpa Jill. Dia berpikir lebih baik menuruti apa mau mereka dulu sambil menanti kesempatan melawan. Ok.. ok, saya menyerah, tapi jangan kasar dong!, Claire mengiyakan sementara otaknya terus bekerja memikirkan cara untuk lolos dari kedua orang gila ini. Ok, kalau begitu sekarang berbalik pelan-pelan lalu berlutut di hadapanku, perintah

si pemilik toko. Claire hanya bisa menurut dibawah todongan pistol di kepalanya, pelan-pelan dia berlutut, wajahnya tepat menghadap selangkangan si pemilik toko. Nah.. bagus sekarang buka celanaku dan hisap kontolku, cepat!!. Dia makin tidak sabaran Dia mulai membuka celananya dan tertegun begitu melihat benda di baliknya yang sudah mengeras menyembul keluar. Dia agak risih untuk memasukkan ke mulutnya, namun terpaksa dilakukannya karena diancam dengan pistol. Wajahnya memerah saat dia menyentuh penis itu dengan bibirnya, pelan-pelan dijulurkannya lidahnya untuk menjilatinya. Badan si pemilik toko bergetar hebat merasakan sentuhan lidahnya pada penisnya, dia terus meremas-remas rambut Claire dan mendesah-desah. Dia merasa panik ketika merasakan dua buah tangan menyelinap lewat ketiaknya dan menurunkan resleting rompinya, tangan itu lalu menaikkan kaos hitam ketat beserta bra di baliknya. Dario yang berjongkok dan menggerayangi dari belakang begitu terpesona melihat payudara 34B Claire yang kencang dan bulat. Dengan kasar kedua tangannya meremas kedua payudaranya sehingga Claire menggeliat dan mendesah. Aahh.. jangan.. sakit.. mmhh..!! Ketika Claire mencoba berbicara dengan Dario kata-katanya terputus karena si pemilik toko menjambak kuncir rambutnya dan menyumbat mulutnya dengan penis. Cerewet.. isep aja yang satu ini!, demikian perintahnya. Mulut mungil Claire tidak dapat menampung penis besar itu seluruhnya, dengan susah payah ia membiasakan lidahnya bermain-main menyapu permukaan penis yang bercokol di mulutnya itu. Dia sibuk mengulum penis si pemilik toko dan mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ada sensasi yang aneh dirasakannya ketika putingnya dipencet-pencet dan dipilin-pilin oleh Dario, di luar kendalinya puting mungil kemerahan itu makin mengeras. Kini tangan kiri Dario mulai turun mengerjai daerah pangkal paha Claire, ditekan-tekankannya jarinya disana sehingga celana dalam Claire menyusup pada bibir kemaluannya. Claire mencoba menahan niat Dario ketika pria itu menurunkan resleting celananya dengan memengangi tangannya, tapi percuma karena pria itu menepisnya lalu dia menangkap kedua pergelangan tangannya. Tangannya kini menyusup ke balik celana dalam Claire. Hhmmphh.., demikian desah Claire tertahan saat jari-jari gemuk itu bergerak diantara kerimbunan bulu-bulu kemaluan Claire mencari liangnya. Kedua bibir vagina Claire dibuka lalau jari-jari itu bergerak mengelus-elus dinding kemaluannya, terkadang juga menusuk ke dalam. Claire semakin tak dapat menahan birahi yang sedang melandanya, vaginanya terus mengeluarkan cairan kemaluan akibat digerayangi Dario, belum lagi kini Dario menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati payudaranya. Dario dengan bernafsu menjilati dan menyedot putingnya, hal ini menyebabkan Claire makin terangsang sehingga otomatis hisapannya pada penis si pemilik toko makin kuat. Pada saat itulah si pemilik toko mengerang panjang dan menekan penisnya lebih dalam lagi hingga menyentuh kerongkongan Claire. Dia meronta ingin melepaskan benda itu dari mulutnya karena merasa sesak dan sakit, tapi tangannya yang kokoh itu menahan kepala Claire dengan memegangi kuncirnya. Dari pelupuk mata Claire menetes air mata menahan rasa sakit sekaligus nikmat itu, dia merasakan penis di dalam mulutnya mulai berdenyut lebih kencang dan akhirnya cairan putih kental memenuhi mulutnya.

Tidak tahan dengan rasanya yang aneh, Claire berusaha mengeluarkan cairan itu, tapi karena derasnya, dia malah tersedak, sebagian cairan itu tertelan dan sebagian lagi meleleh membasahi bibirnya. Setelah puas berejakulasi di mulut Claire, si pemilik toko mencabut penisnya. Claire agak lega, akhirnya dia dapat kembali mengatur nafasnya yang memburu dan mengelap ceceran sperma di sekitar bibirnya. Tapi semua ini masih belum berakhir, tanpa memberi kesempatan pada Claire yang masih terbatuk-batuk, si pemilik toko merebahkan tubuhnya di lantai. Pakaian atasnya yang sudah setengah terbuka dia lucuti, sedangkan Dario melucuti celananya, tidak ketinggalan pula sepatu bot dan sarung tangannya pun mereka buka. Sesudah menelanjangi Claire, merekapun melepas pakaiannya sendiri. Sudah.. cukup.. jangan diteruskan lagi, kita masih dalam bahaya!!, kata Claire sambil menyilangkan tangan menutupi dadanya. Tenang nona, kami 3 hari disini cukup aman, senjata pun banyak, lagipula kamu datang untuk menolong kan? Nah dengan begini kamu juga sudah menolong kami hahaha..!!, ejek si pemilik toko. Tanpa buang waktu lagi si pemilik toko langsung menyambar paha Claire dan merentangkannya. Aaawww.. jangan!!, pekik Claire sambil berusahan menutupi daerah itu. Dario segera menarik tangan Claire dan memeganginya. Kepala si pemilik toko hanya sejengkal dari daerah terlarang Claire, hembusan nafasnya pun mulai terasa di sana. Rambutnya yang diikat membuat Dario leluasa menjilati lehernya yang jenjang samapi ke tenguknya yang ditumbuhi rambut halus sambil meremasi kedua payudaranya. Tubuh Claire bergetar sambil mengeluarkan desahan ketika lidah pria itu menyapu permukaan kemaluannya sehingga bulu-bulu disana jadi basah oleh ludahnya. Lidah itu kini mulai membelah bibir kemaluannya dan terus melesak ke dalam. Desahan Claire makin hebat, matanya terpejam, tangannya menggenggam erat tangan Dario yang bercokol di payudaranya. Sekarang mau melawan pun sudah tanggung, tubuhnya tidak bisa berbohong untuk terus menikmati hal ini. Sepuluh menit lamanya pria itu melahap kemaluan Claire, tapi nampaknya dia masih belum puas juga, dia terus mengisap vagina itu walaupun cairannya sudah membasahi daerah itu. Claire kembali terlonjak ketika lidah pria itu menyentuh selaput daranya, kedua paha mulusnya menegang sehingga mengapit kepala si pemilik toko. Sementara itu Dario memiringkan wajah Claire untuk melumat bibirnya. Karena sudah lepas kontrol, Claire tidak kuasa menolaknya, dia membiarkan lidah Dario bermain-main dalam rongga mulutnya, bahkan pelan-pelan lidahnya juga mulai ikut bermain, saling membelit dan saling isap. Tanpa sadar, salah satu tangannya memainkan payudaranya bersama tangan Dario. Akkhh.. ahh!!, rintih Claire panjang bersamaan dengan melelehnya cairan bening dari vaginanya. Dario memandangi wajah Claire yang sedang orgasme sambil memilin-milin putingnya, sementara si pemilik toko menyeruput cairan vaginanya sampai habis. Pria itu tersenyum puas dengan mulut belepotan cairan cinta setelah mengeluarkan lidahnya dari vagina Claire. Tubuhnya masih lemas setelah orgasme, butir-butir keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Dia tidak bisa apa-apa ketika si pemilik toko memiringkan tubuhnya dan mengangkat paha kanannya, tangan satunya

menuntun penisnya memasuki liang senggamanya dari samping. Tanpa mempedulikan rintihan kesakitan Claire yang baru pertama kali ditusuk itu, si pemilik toko terus saja mendorongkan penisnya untuk mendobrak kemaluan yang masih sempit itu, rintihan Claire dan raut mukanya yang menahan sakit hingga mata berair justru makin merangsang pria itu. Dengan sekali hentakan, tertancaplah seluruh batang itu ke dalam vagina Claire membuatnya menjerit kesakitan. Mulailah pria itu menyodok-nyodokkan penisnya diiringi desahan dari mulut Claire. Cairan merah nampak meleleh perlahan dari vaginanya, rupanya pria itu baru saja membobol keperawanannya. Dario berlutut di depan wajah Claire, lalu meraih tangannya dan meletakkannya pada penisnya, disuruhnya Claire memasukkan benda itu ke mulutnya. Penis Dario memang tidak sebesar si pemilik toko, namun tetap saja tidak muat seluruhnya di mulutnya yang mungil. Claire benar-benar tidak berdaya menolaknya, niat untuk melawan mereka perlahan-lahan sirna, kalah oleh perasaan nikmat yang sedang melandanya. Sekarang tanpa ditodong pistolpun, Claire mengikuti saja keinginan tubuhnya menikmati semua ini. Sensasi dari vaginanya yang diaduk-aduk dan remasan pada payudaranya menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya semakin bersemangat mengulum penis Dario sambil mengelus-ngelus buah pelirnya. Claire merasakan dirinya melayang-layang, seperti ada yang mau meledak dari bawah, dia mau menjerit namun tertahan oleh penis Dario. Selama setengah menit perasaan itu menderanya, selama itu dia hanya bisa berkelejotan sambil mengeluarkan erangan tertahan. Tak lama kemudian si pemilik toko mencabut penisnya dan menyiram payudara Claire dengan spermanya. Claire telentang lemas dengan kaki terkangkang, dari kemaluannya mengalir darah dan cairan orgasme yang telah bercampur, tubuhnya bersimbah peluh, liur, dan sperma. Belum habis rasa lemasnya, Dario sudah mengangkatnya, kemudian dia duduk di kursi dan memangkunya dengan posisi membelakangi. Digenjotnya gadis itu dengan posisi duduk, Claire tidak bisa tidak mendesah menerima sodokan naik turun itu. Gairahnya mulai timbul lagi sehingga tanpa sadar diapun ikut memompa tubuhnya sendiri, payudaranya yang memerah bekas cupangan dan remasan ikut bergoncang-goncang seirama gerak tubuhnya. Si pemilik toko mengangkat dagu Claire hingga wajahnya mendongak ke atas, lalu bibirnya melumat bibir Claire. Dia hanya pasrah saja membiarkan lidah tebal itu menyapu langit-langit mulut dan lidahnya hingga ludah menetes-netes di pinggir mulut mereka. Sambil mencium satu tangannya meraih payudara kiri Claire dengan gemas, dia juga menurut saja waktu tangannya dipegangi pria itu untuk dibimbing mengocok penisnya. Ketika merasa sudah akan keluar lagi, secara refleks dia mempercepat naik turunnya dan semakin cepat mengocok penis pemilik toko. Pada saat yang hampir bersamaan, Dario pun mencapai klimaksnya, pria itu merintih keenakan sambil meremas susu Claire keras-keras. Kembali lolongan panjang terdengar dari mulutnya, erangan yang berisi perasaan nikmat, sakit, dan sedih bercampur jadi satu, dirasakannya ada cairan hangat yang menyiram rahimnya. Berkali-kali Claire mengalami orgasme dahsyat, kedua pria itu mengerjainya dengan berbagai gaya. Tubuhnya yang mandi keringat itu nampak mengkilat dibawah cahaya lampu. Masih belum merasa puas, si pemilik toko kini mengincar pantatnya. Diaturnya posisi Claire supaya nungging, tangannya bertumpu pada meja toko. Pemilik toko membuka belahan pantatnya dan mulai menekan-nekankan penisnya ke

daerah itu. Aaahh.. ahh.. jangan.. disitu.. please!!, rintih Claire dengan meringis menahan sakit. Hehehe.. tenang saja bitch, kamu juga menikmatinya kan!, ejeknya sambil terus mendorong. Tiba-tiba, Praangg..!!, kaca etalase di belakang mereka hancur berkeping-keping, bersamaan dengan itu belasan zombi merangsek masuk ke dalam. Dario yang sedang beristirahat duduk dekat situ langsung diterkam mereka sebelum sempat bereaksi. Si pemilik toko yang terkejut sempat meraih pistol dan menembakkannya sekali. Tapi zombi-zombi itu terlalu cepat sehingga belum sempat dia menembak kedua kalinya, tubuhnya sudah dikerubuti mereka, jeritan menyayat hati terdengar dari mulut mereka yang dicabik-cabik zombi itu. Yang lainnya maju menyerbu Claire, salah satu dari mereka mendekapnya dari belakang dan sempat memegang payudaranya. Dengan sisa-sisa tenaganya Claire berontak sebisanya dengan menyikut dan menendang, tangannya berusaha meraih sepasang sub-machine gun yang tidak jauh darinya. Sedikit lagi.. dan akhirnya, yes, dia berhasil meraihnya dan dengan sigap ditembakkannya pada zombi yang mendekapnya. Setelah terdengar sesaat suara rentetan tembakan, ambruklah zombi itu. Melihat hal itu yang lain maju mengepung Claire. Cepat-cepat diraihnya sub-machine gun yang satu lagi, dia mulai menembak membabi buta dengan kedua senapan mesin mini itu. Ratusan peluru berhamburan membuat zombi-zombi itu berjatuhan dengan tubuh bolong-bolong. Setelah zombi terakhir ambruk, Claire melihat kedua orang tadi sudah terkapar dengan tubuh penuh cakaran, terlambat untuk menyelamatkan mereka. Tubuhnya bersandar lemas pada tembok, merenungkan apa yang baru saja terjadi, dia tidak tahu apakah dia harus merasa senang atau sedih atas kematian keduanya. Di satu sisi dia merasa wajib menolong manusia yang tersisa di kota terkutuk itu, namun di sisi lain mereka juga adalah orang yang baru saja memperkosanya. Dia hanya bisa menumpahkan perasaannya yang campur aduk itu dengan menangis terisak-isak. Sesaat kemudian setelah merasa agak tenang, dia baru sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting yang harus dikerjakannya yaitu memecahkan misteri kota ini dan mencari kakaknya, Chris. Setelah memakai kembali pakaiannya dan mengambil barang-barang yang dianggap perlu, dia segera meninggalkan tempat itu untuk kembali ke motel tempat perlindungan sementara mereka. ------------------------

Kenangan Pahit dari Jaman Jepang 2


"KEHORMATAN PERTAMA KAMI BERIKAN PADA MAJIKANMU DAN ADIKMU ITU"Kini rekan botak yang bergigi tonggos dan bermata sangat sipit itu yang membentakku "Tolong tuan aku mohon aku tak bisa menyetubuhi adikku sendiri dan Nonik aku sudah bersumpah pada mendiang tuan mener."aku mencoba mengelak aku tak mungkin menyetubuhi Nonik apalagi adiku sendiri tidak...lebih baik aku mati aku telah membulatkan tekadku." "JUSTRU UNTUK ITULAH KAMU DIBAWA KESINI BUDAK...!!!" AYO CEPAT ENTOTIN ANJING BETINA REKANMU ITU...!!!" dengan berkacak pinggang si tonggos ini rupanya tak kalah galaknya dengan si botak

"Tidaaak lebih baik aku mati keparat kau....!!!"Aku bangkit berdiri sambil mengepalkan kedua tanganku ya aku telah siap mati membela kehormatan diriku." "BAIK KALAU ITU MAUMU RASAKAN INI HIAAAAT!!!!!"Aku hanya bisa memejamkan mataku. Hawa maut yang kental sudah kurasakan berdesir di wajahku ya aku siap menyambut samurai yang sudah meluncur tepat ke leherku. "CUKUP......Jangan tuaaan toloooooong aku akan memaksanya agar mau menyetubuhiku."Aku terlonjak kaget bukan kepalang. Tiba-tiba tanpa terduga Nonik meloncat kedepan mencoba menghadang laju pedang yang sudah siap memenggal leherku. "Tidak non aku tidak mau.... aku sudah bersumpah pada ayahmu lebih baik aku mati!!"Aku masih melangkah maju. Aku tepiskan tubuh Nonik yang berusaha menghalangi langkahku "Surip cukup ...!! jangan sampai kamu mati konyol. Kalau kamu mati siapa yang akan menjagaku aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi" suara Nonik terdengar sedikit melengking. Langkahku terhenti sesaat. Ada benarnya ucapan Nonik. Tapi aku sungguh tak bisa kalau aku sampai melakukan perbuatan nista itu. Aku akan dikutuk oleh leluhurku yang sejak dulu setia pada keluarga mener. Tidak aku bukan pengkhianat aku kembali membulatkan tekadku "Surip..!!! aku perintahkan kamu..."Nonik memekik seperti putus asa melihat kebulatan tekadku yang masih nekat tetap melangkah maju Langkahku tiba-tiba terhenti sesuatu yang sangat berat di selangkanganku serasa membebani langkahku.Rupanya dalam keputus asaannya Nonik tak lagi mempedulikan harga dirinya sebagai wanita tangan gadis cantik itu menggenggam erat erat kemaluanku Tak cukup sampai disitu, "Oooughshhhzhzhzhh aachhhh sghhhh aough...."Bagai tersengat berjuta-juta volt listrik aku merasakan sesuatu yang hangat basah dan licin menari-nari di leher dan kepala kemaluanku Uedan rasanya nikmat sekali. Sekujur tubuhku merinding keenakan. Geli yang tak terlukiskan menjalari seluruh tubuhku. Lututku yang semula bertenaga penuh kini serasa kosong tak bertulang bahkan rasanya aku tak sanggup berdiri. Kenikmatan yang seumur hidup tak pernah aku rasakan. Bahkan dalam mimpi sekalipun Kini lidah Nonik yang basah hangat memanjakan ujung gundul kepala penisku yang berbentuk mirip topi baja para serdadu Jepang itu.Rupanya dalam keputus asaannya Nonik rela mengulum kemaluanku. Sungguh besar sekali pengorbanan gadis cantik itu. Tubuhku menggigil hebat baru kali ini kemaluanku bersarang di mulut seorang gadis secantik Nonik. Lidahnya terasa lembut menyapu lubang kencingku nikmatnya luar biasa. 'BWAHAHAHAHA LIHAT MEREKA BWAHAHAHAHA riuh rendah suara tawa prajurit Jepang itu silih berganti bersahut-sahutan "SUDAH AKU BILANG SEJAK SEMULA KEPARAT ITU CUMA BESAR MULUT." HEY....JAGOAN KINI KAU SAMA BRENGSEKNYA BAHKAN KAMU LEBIH BEJAT DARI SIAPAPUN KAMU PENGKHIANAT TERENDAH YANG PERNAH MUNCUL DIMUKA BUMI INI BWAHAHAHAHA."Si botak jelek dan si gigi tonggos sipit itu terus menerus memaki-maki ku. Mereka memanfaatkan kondisi fisiku yang cacat dan buruk rupa. Mereka hendak

mempermalukan para korbannya dengan jalan memaksaku menghamili mereka semua. Para serdadu Jepang itu berpikir kelak anak-anak dari bibitku akan tumbuh sama jeleknya dengan diriku sehingga membuat aib seumur hidup bagi korbanya. Makian para serdadu keparat itu sempat memerahkan telingaku seperti tersadar aku kembali akan melawan "HEH BUDAK SELANGKAH LAGI KAMU MAJU KAMI AKAN PENGGAL PUTRI MAJIKANMU DAN ADIKMU YANG CANTIK ITU MENGERTI KAMU..!!!!" Langkahku kembali surut posisiku dalam keadaan yang sulit. Nampaknya prajurit Jepang itu tahu keteguhan hatiku sehingga kini mereka menggunakan nyawa Nonik dan Lastri untuk mengancamku. Nonik tahu niatku, gadis itu takut aku akan nekat melawan para keparat itu sehingga gadis itu semakin kuat menghisap batang kemaluanku membuyarkan pikiranku yang memang sedang di persimpangan jalan. Semua energiku bagai tersedot kedalam mulutnya aku sudah tak mampu lagi untuk bertahan hingga akhirnya aku jatuh terduduk. Aku telah kalah aku memang pecundang. Terjadi perang batin yang hebat antara kenikmatan yang sedang menjajah selangkanganku dan akal sehatku. Namun rupanya perlahan lahan akal sehatku semakin terpojok dan akhirnya padam. Api amarah yang semula berkobar-kobar, kini berganti wujud menjadi api birahi yang bergejolak hebat bahkan lebih dahsyat dari api amarahku. Mereka memaksa kami bertiga masing-masing menungging. Membentuk sebuah lingkaran. Posisi kami saling membelakangi. Pantat Nonik yang masih memerah berada tepat diwajahku aku dapat melihat anus gadis cantik itu kembang kempis seperti bernafas. Sementara aku dapat merasakan hangat dengus nafas Lastri tepat berada di bagian belakangku. Bagai tersengat listrik, tubuhku melenting saat aku rasakan sesuatu yang basah dan hangat memoles lobang anusku rupanya Lastri mulai menjilati lobang duburku. Rasa geli tak tertahankan menyerang tepat di lobang anusku. Belum sempat aku menyesuaikan keadaan, popor senapan itu dengan kasar mendorong kepalaku memaksaku untuk semakin mendekat ke lobang anus Nonik yang tersaji di wajahku. Sejujurnya aku jijik juga. Ujung lidahku terpaksa menempel di lubang anus Nonik.namun rasa jijik yang semula aku takutkan tidak seburuk yang aku bayangkan. Tidak ada bau atau rasa yang memuakan. Ujung lidahku yang basah dan kasap perlahan menari-nari diatasnya membuat lobang anus Nonik semakin kembang kempis seakan bernafas. Gadis itu mulai menggelinjang kegelian. Aku sejenak berhenti. Sementara gejolak aneh yang berawal di bagian belakangku terus menyerbu secara hebat merambat ke seluruh tubuhku membuat pinggulku bergetar hebat menahan sensasi nikmatnya. Tentara Jepang itu kembali menghardikku untuk terus melanjutkan menjilati lobang anus gadis itu. "Maafkan aku Non..." Dengan ragu-ragu aku memeluknya dari belakang ia hanya bisa memejamkan mata. pori-pori tubuhnya dapat kurasakan semakin melebar. Gadis itu mulai melenguh nikmat. Tak seperti para serdadu itu yang selalu bersikap kasar, kecupan dan belaianku yang lembut akhirnya membuai gadis itu keawang-awang secara perlahan namun pasti, gairah birahi gadis itu mulai terbakar. Tanpa sungkan lagi Nonik mulai aktif menggoyang pinggulnya. Gadis itu berusaha memuaskan rasa geli yang mengadukaduk selangkangannya. Baru sekali ini aku sepenuhnya mendapat akses untuk mengekplorasi keindahan lekuk tubuh putri majikanku. Entah ini sebuah kutuk atau berkat aku sendiri tak tahu. Sementara tanganku secara otomatis giat meremas-remas dan memilin-milin puting susu gadis pirang itu. Memainkan dua gunung kembarnya yang lembut menggoda. Seirama dengan hisapan lembut yang menyedot-sedot dua

biji pelirku yang sudah bersarang di mulut Lastri. "Sfghh ahh ahhhh non stopzz Nonn geli....acgh...."Lastri terpekik kegelian.Lidah Nonik menari-nari tepat di selangkangan gadis cantik itu. Memainkan itil Lastri sehingga menimbulkan sensasi yang tak terlukiskan lagi sehingga organ intim Adiku yang berkulit kuning langsat itu basah kuyup dibuatnya.Tentara laknat itu sengaja memaksa kami bertiga untuk saling menjilati organ intim kami masing-masing "Aough....sghhh...."Aku menggelinjang ngilu akibat kantung biji pelirku sedikit tergigit oleh adikku.Pinggul Lastri meliuk-liuk liar akibat jilatan-jilatan lidah Nonik yang menyapu bersih area intimnya gelinjang gadis itu sesaat membuatnya lepas kontrol sehingga tanpa sengaja menyakiti biji pelirku yang masih bersarang di mulutnya. Penisku yang telah mencapai ukuran maksimalnya, kini telah basah berlendir. Cairancairan bening kental menetes-netes deras dari ujung kelaminku. Seakan terlepas nyawaku, badanku bergemetar hebat. Rasa hangat nikmat yang berawal dari selangkanganku terus menerus menghancurkan kesadaranku. Pinggulku aktif bergoyang maju mundur dengan teratur. Tanpa sadar batang kemaluanku yang semakin berdenyut-denyut hebat menggesek-gesek ke paha mulus Nonik. Mereka tertawa terbahak-bahak menyaksikan tingkah kami. Sungguh perbuatan mereka sangat biadab mempermalukan dan merendahkan martabat Nonik bahkan lebih rendah dari binatang sekalipun. Gadis berdarah biru keluarga Eropa itu harus dipaksa mensejajarkan dirinya bahkan lebih rendah daripada seekor binatang dimana tidak pernah terpikirkan sama sekali meski di mimpi terburuknya sekalipun. Sebilah pedang samurai kembali menempel di leherku memaksaku untuk menjilat lebih lanjut ke liang kelaminnya. Di kerimbuan bulu kemaluannya yang berwarna kuning keemasan, secuil daging segar kemerahan yang nampak segar berdenyut-denyut kencang. Tubuh Nonik yang ramping melenting kebelakang saat lidahku menyentuh daging kecil yang menyembul di liang kelaminnya, sehingga dadanya yang semakin membusung mengekspose keindahan sepasang payudaranya yang terayun-ayun indah tanpa penyangga lagi. Selangakangan Nonik menjadi basah kuyup oleh cairan kental yang bening. Rasanya sedikit manis dan gurih. Aku suka dengan rasa dan aromanya yang wangi khas tubuh perempuan. Secara naluriah lidahku semakin giat mengail-ngail klitoris Nonik. Itil gadis pirang itu semakin membengkak. Denyutan-denyutannya semakin kencang terasa bergetar lembut di ujung lidahku. Sementara itu akupun merasakan sesuatu yang semakin bergejolak di selangkanganku akibat penisku yang sedang dikulum-kulum oleh Lastri. Aku terpekik lirih Lastri yang sedang sibuk mengulum-kulum kemaluanku secara tak sengaja menggigit lembut ujung kepala kemaluanku yang telah membengkak seperti topi helm para serdadu Jepang itu. Mungkin Lastri juga sedang kegelian setengah mati akibat permainan lidah Nonik yang juga sedang menguasai area intimnya. Walaupun terasa sedikit sakit tapi entah kenapa aku sungguh ingin Lastri mengulangi perbuatannya itu. Akupun memajukan pinggulku. Rupanya Lastri mengerti entah secara naluriah atau akibat perkosaan para serdadu Jepang itu, membuat Lastri semakin ahli dalam memuaskan kelamin laki-laki. Para serdadu Jepang itu sukses membenamkan kami semua ke kubangan birahi yang tak berdasar. Segala nilai-nilai moral yang telah ditanamkan puluhan tahun runtuh dalam sekejap.Tak bisa kami pungkiri, meskipun dibawah ancaman senjata namun sebenarnya kami juga menikmati permainan keji yang dipaksakan kepada kami. Aku marah namun tak berdaya akal sehat kami telah dikalahkan nafsu birahi mungkin sudah menjadi sifat

dasar yang alamiah insting primitif yang lebih dominan. Para serdadu Jepang itu ramai bersiut-siutan. Kami bertiga benar-benar telah tenggelam dalam lautan nafsu birahi yang membelenggu jiwa. Tanpa mempedulikan mereka lagi, kini kami bertiga telah aktif memanjakan kelamin kami masing-masing. Aku dapat membedakan mana hisapan-hisapan yang dibawah ancaman dan hisapanhisapan yang telah dibumbui nafsu birahi. Hisapan-hisapan Lastri kini jauh berbeda jika dibandingkan waktu awal adiku itu nampaknya cepat belajar. "Ough....zghhh...ahhhh"Entah untuk yang kesekian kalinya, aku menggeram keenakan. Lidah Lastri secara liar berputar-putar memoles leher kemaluanku menimbulkan sensasi rasa geli yang tak terperikan. Nafas kami bertiga semakin mendengus keras tak tertahankan. Aliran darahku berdesir semakin kencang berpacu cepat seirama dengan detak jantungku Hal demikian juga terjadi pada Nonik dan Lastri. Telingaku yang menempel erat di payudaranya yang lembut dan terasa kenyal, dapat menangkap detak jantung gadis pirang itu yang berpacu cepat tak beraturan.Peluh kami yang mengalir deras bercampur menjadi satu membasuh tubuh telanjang kami yang saling membelit. "PLAAAAK.....!!"Tiba-tiba aku merasakan panas menyengat di pantatku, salah seorang keparat itu secara tiba-tiba menampar keras-keras pantatku. Mereka memaksa kami berdua bangkit salah seorang dari mereka kemudian meraih tangan Nonik.dan menyuruh gadis itu untuk meraih kemaluanku Dengan kasar mereka memaksa gadis itu untuk memasukan kemaluanku yang telah tegang sempurna. Karena tubuhku jauh lebih pendek, Nonik terpaksa menekuk sebagian kakinya sehingga belahan selangkangannya otomatis semakin terbuka lebar. Meskipun telah basah dan licin tetap saja kemaluanku yang besarnya lebih dari ukuran normal, kesulitan untuk masuk kedalam lobang kenikmatan yang paling pribadi milik gadis pirang itu.Untuk beberapa saat tubuh kami berdua terdiam membiasakan kelamin kami yang sedang menyatu. Sementara di bagian bawahku, lidah Lastri tetap rajin menjilati dan mengulum biji pelirku sehingga membuat tubuhku menggigil dahsyat meresapi kenikmatan ganda yang tiada duanya. Ritual intim indah yang suci yang sepatutnya dilakukan diruang tertutup kini seakan tak ada batas-batas kesuciannya lagi. di depan hidung gerombolan tentara yang setengah mabuk menyiksa para tawanannya, kami dipaksa melakukan aktifitas paling intim yang seharusnya hanya pantas dilakukan sepasang insan yang sudah terikat dalam janji suci pernikahan. Tawa mereka pecah berderai bersahut-sahutan menyaksikan pemandangan yang sangat kontras dan mesum. Ritual intim yang suci ini kini hanya menjadi sebuah konsumsi hiburan cabul para biadab itu untuk mempermalukan kami semua. Dalam posisi setengah berjongkok lama kelamaan Nonik terpaksa membungkuk karena kelelahan menopang berat tubuhnya. Kedua tangannya kini menapak tanah menopang berat tubuhnya sehingga posisi gadis itu kini menungging sesaaat bahkan Nonik hampir terjatuh kepayahan. Aku berusaha menolong gadis itu agar tak terjatuh tapi lagi-lagi bentakan keras dan tamparan yang keras mendarat diwajahku membuatku terpaksa kembali menggenggam kemaluanku sendiri untuk kembali dimasukan kedalam lobang kenikmatan Nonik. Posisi bersetubuh kami yang seperti binatang sedang kawin sungguh sangat mempermalukan kami. Terpaksa aku menuruti kemauan mereka meskipun tubuhku masih mampu menerima siksaan mereka namun tidak dengan Nonik dan Lastri aku memutuskan

untuk menuruti kemauan mereka daripada mereka semakin brutal menyiksa kami meskipun kami berdua harus membayar mahal dengan harga diri kami. Tidak cukup sampai disitu mereka bergantian menampari kami mereka memaksa kami mengembik atau mengonggong menirukan suara-suara binatang. Mereka memaksa kami berdua bersetubuh sambil merangkak mengelilingi ruangan. Kami berusaha sedemikian rupa menjaga agar kemaluan kami tidak terlepas setiap kemaluan kami terlepas mereka dengan segera mencambuki kami. Aku merasakan ada sesuatu yang bergejolak di ujung kemaluanku rasanya seperti ingin pipis aku berusaha menahannya aku tidak mau kalau sampai pipis didalam kemaluan Nonik. Tapi akibat kami berdua dipaksa merangkak-rangkak sambil kelamin kami masih tetap lekat menempel, rasa geli luar biasa semakin merayapi batang kelaminku membuatku tak mampu lagi untuk bertahan "CRROOOOOTZZZZZHHHSSS...CREEEEETTTZZZ....AHHGHH.....OOOOOH"A ku tak dapat menahan lebih lama lagi. Seperti ada beban yang maha berat terlepas. Bersamaan dengan cairan hangat yang menyemprot secara liar dari ujung kemaluanku. Aku seperti berasa kencing. Namun tak kujumpai air yang membanjir deras. Aku hanya menemukan cairan putih pekat seperti susu yang membanjir mengalir dari selasela selangkangan Nonik yang masih berdenyut-denyut.Sementara beberapa tetes diantaranya masih menetes-netes dari ujung kemaluanku aku merasa malu luar biasa dalam hati aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya memancar keluar dari kemaluanku. Bening bola mata Nonik yang berwarna biru menatap sayu diriku yang terkapar lemas. Tubuh bugil gadis itu tanpa daya diseret dari pelukanku tanpa belas kasihan mereka segera menggumuli Nonik yang sudah kelelahan melayaniku. Dalam keadaan mabuk berat, birahi para serdadu laknat itu kembali terbakar setelah menyaksikan permainan cinta kami. Mereka segera menindihi tubuh telanjang Nonik yang meronta-ronta lemah. Tanpa menghiraukan tubuh gadis itu yang sudah berlumuran sperma yang sudah mulai mengering, dengan sangat bernafsu lidah-lidah para keparat itu menyapu inchi demi inchi setiap lekuk tubuh Nonik majikanku yang cantik. Kedua payudara gadis malang itu telah tenggelam dibalik dua kepala yang berbeda Masing-masing bagai bayi yang kelaparan, dengan rakusnya menghisap kuatkuat ujung pentil susu Nonik yang kembali tegang mengacung akibat lidah-lidah nakal yang mengerjainya. Tubuhku terkapar kelelahan tiba-tiba kembali bagai tersengat listrik ribuan volt tubuh telanjangku yang tergolek lemah merasakan sapuan lidah hangat aku memicingkan mata ternyata Lastri dengan menggigil ketakutan dibawah ancaman bayonet yang terhunus sedang mengulum kemaluanku yang nyaris tergolek lemas. Gadis itu nampak tersiksa dipaksa membersihkan sisa-sisa sperma yang bertebaran di batang kelaminku. Tubuh telanjangku lalu disiram air dingin oleh mereka. Rasa kantuk dan lelah yang mulai menyerangku tiba-tiba menguap entah kemana. Dinginnya air yang menusuk tulang memaksaku kembali terjaga. Tubuh kami berdua yang menggigil kedinginan memaksa kami untuk saling berpelukan erat. "Lastri Maafkan aku....."Baru kali ini aku terisak-isak. Aku menyetubuhi adikku sendiri hanya binatang yang bisa melakukan hal terkutuk seperti itu dan faktanya kini aku melakukannya, meskipun dibawah ancaman. Mereka semua terkekeh-kekeh kegirangan menyaksikan kami berdua "Aouugh....sghhh....ahhh...aaah....aaahhh.."Entah bagaimana perasaan Lastri saat itu dengan terpaksa kemaluanku yang telah kembali tegak dipaksa menjejali liang kewanitaannya yang sempit. Tubuh Lastri terguncang-guncang keras menyambut

sodokan pinggulku. "Maafkan...maafkan aku Lastri ..."Sambil terus menggoyangkan pinggulku aku berbisik di telinga Lastri Gadis itu sepenuhnya telah memasrahkan dirinya padaku. Lobang kenikmatan adiku itu terasa licin namun aku merasakan bibir kemaluannya tak cukup lebar untuk menerima penisku. Aku tak berani memasukan seluruh batang kemaluanku. Beruntung para tentara yang sudah setengah mabuk itu tak terlalu memperhatikannya. Tak bisa kubayangkan jika batang kemaluanku terhunjam sepenuhnya ke lobang kelamin adiku itu Sebagai gadis ras asia postur Lastri tidak sebangkok Nonik. "Ngga papa Rip aku ngerti koq.."Entah pura-pura atau benar-benar menikmatinya, geliatan Lastri terasa semakin liar Batang kemaluanku serasa diremas-remas. Sedikit terasa ngilu mungkin akibat air maniku yang sudah tersedot habis sebelumnya. Beberapa saat kemudian Lastri sudah tak mampu lagi membendungnya gadis itu melolong panjang mengakhiri kenikmatan terlarang yang menjalari tubuh telanjangnya. "Tidak....tidak....!!!" tanpa memberiku kesempatan beristirahat, seorang gadis kembali diseret kehadapanku kali ini rupanya Mei-Mei. Wajah gadis itu pucat pasi. Matanya terbelalak menatap ke selangkanganku gadis cantik itu begitu ketakutan menyaksikan kemaluanku yang besar bukan kepalang pasti benda sebesar itu terasa sangat menyakitkan jika menjejali kemaluannya. "Ci maafin aku ci....aku tak bermaksud ......"Aku benar-benar tak tega terhadap gadis ini. Aku tahu betul penderitaannya. Gadis itu meronta-ronta mencoba melepaskan dirinya. 3 orang tentara sekaligus membekuk tubuh bugil Mei-Mei. Memaksa gadis putih itu menungging di hadapanku "Cuih...."Aku kaget setengah mati gadis cantik itu meludahiku. Matanya yang bening nampak berkilat-kilat marah melotot ke arahku aku menyadari dirinya pantas marah seperti itu tetapi sungguh aku sama sekali tak bermaksud mengambil kesempatan darinya. "BWA...HA....HA.....GALAK JUGA NIH GADIS HEH ANJING KAU HARUS BALAS PERBUATAN BETINA INI MENGERTI KAU...!!" "Arrgh...."Aku terpekik kesakitan dengan kasar mereka menarik rambutku. Dengan kasarnya wajahku diusap-usapkannya ke selangkangan Mei-Mei. Pipiku serasa sedikit gatal perih sisa-sisa bulu kemaluan gadis itu terasa tajam di wajahku bagaikan sebuah parutan yang menggosok pipiku. "HAYO CEPETAN...!!!"Usahaku untuk melawan sia-sia tenagaku tak cukup kuat untuk mematahkan para serdadu laknat itu. "Ci maaf ci aku benar-benar tak bermaksud..."Suaraku bergetar putus asa aku merasa sangat berdosa kepada gadis ini. "HEH KAU BANTU KAKAKMU INI ATAU AKU POTONG KONTOLNYA CEPAT..!!"Jemari Lastri mengocok-ngocok batang kemaluanku sehingga mau tak mau penisku kembali tegang mengacung. Lastri dengan ketakutan membimbing kemaluanku ke liang kewanitaan Mei-Mei. 'TIDAK....!!! BUKAN DISITU.....DISINI....YA DISINI.....!!" Ujung bayonet itu menekan tangan Lastri untuk membimbing penisku naik lebih ke atas lagi. "Ya Tuhan Tidaaaaak jangan disitu tidaaaak muat tolong...!!!."Mei-Mei menjerit-jerit histeris.Gadis itu bergidik ngeri saat kemaluanku terasa hangat menempel di lobang anusnya. "HA...HA....ANGKAT DIA DAN DUDUKAN ANJING BUDUK INI..."Tubuh MeiMei diangkat oleh empat orang sekaligus.

Dua orang memegangi pahanya dan merenggangkannya lebar-lebar. Mereka lalu mendudukan gadis itu dipangkuanku yang tak berdaya dengan penisku yang kembali sudah mengacung tegak akibat rangsangan-rangsangan Lastri. Berat tubuh gadis itu bersinergi harmony dengan gaya gravitasi bumi sehingga memaksa tubuh mungil Mei-Mei meluncur tak tertahan lagi semakin menekan penisku yang sudah siap sedia di mulut anusnya. "Arrgh....aoww...aooww" tanpa bisa dicegah lagi kemaluanku melancap sepenuhnya ke anus Mei-Mei. Jeritan gadis cantik itu semakin serak matanya melotot menahan nyeri luar biasa yang menyerang duburnya "Hegh...ghhh...aaahhh...aoughh..."Aku melenguh. Batang penisku seperti diremas-remas.Usaha Mei-Mei untuk mengejan berusaha mengeluarkan kemaluanku dari lubang duburnya ternyata malah semakin membuat penisku masuk lebih dalam lagi. Pijatan duburnya lebih sempurna daripada pijatan lobang vaginanya. Sehingga aku merasakan nikmat luar biasa akibat kemaluanku dipijat oleh lobang anus yang sangat sempit. Mei-Mei melolong histeris tubuh gadis itu benar-benar tak berdaya lagi menggelosor lemas dalam posisi menungging lobang anusnya masih terbuka lebar nampak darah segar menetes diantara selangkangannya. Aku tak sempat memperhatikannya lebih lanjut sebelum tubuh bugil gadis lain kembali diseret untuk aku setubuhi. Entah sudah berapa lubang kelamin wanita yang aku setubuhi, mataku sedikit berkunang-kunang tapi secara keseluruhan pikiranku masih tersadar. Kemaluanku rasanya ngilu sekali. Hampir seluruh tentara yang menyiksa kami secara sexual tergolek berserakan menindihi tubuh bugil para gadisgadis itu yang juga sebagian besar pingsan. Aku berusaha mencari Nonik. Beruntung aku segera berhasil menemukan gadis malang itu. Tubuk moleknya tergolek lesu dibalik pelukan salah seorang serdadu Jepang yang nampaknya tertidur pulas. Gadis itu terisak-isak tanpa daya ditindih tubuh seorang perwira tentara Jepang yang bertubuh tambun mirip babi. Dengan hati-hati kusingkirkan tubuh bugil perwira bejad yang menindih Nonik Jantungku serasa berhenti berdetak ketika ia berdehem. Jika ia memergokiku kepalaku ini pasti segera menggelinding ke tanah beruntung Nonik tidak histeris. Ia lalu bahkan membantuku menyingkirkan salah satu tentara yang menindih tubuh Lastri. Adiku nampaknya sangat shock namun beruntung kesadarannya masih bagus tanpa sempat berbusana lagi, kami memutuskan untuk kabur dari kamp jahanam ini dengan mengendap-endap kami mencoba berputar menghindari penjagaan tentara yang bersiaga penuh. "Adduuuh.......!!!!!, Lari Rip Lari.......jangan pedulikan aku!!!!"Lastri kurang berhatihati sebelah kakinya terkilir sementara lampu sorot yang sangat menyilaukan langsung menyinari kami. Pekik kesakitan Lastri rupanya terdengar salah satu penjaga. Dalam sekejap sirine berbunyi meraung-raung. Rentetan suara miltrayul senapan mesin dengan garang bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. "Lastriiiii...........tidaaaaakkkkk......!!!" tanpa sempat mengaduh, aku menyaksikan tubuh bugil Lastri tumbang diterjang ratusan timah panas yang meluncur tanpa ampun. Lastri adikku tercinta telah dijemput maut. "Sudah...sudaaah.....Surip......larii....!!!"Nonik berusaha sekuat tenaga menyeret tubuhku yang mematung. Dengan berat hati aku terpaksa meninggalkan Lastri aku dan Nonik terus berlari menembus kegelapan malam dan lebatnya hutan diiringi dengan rentetan peluru yang berdesingan. Kaki kami terus melangkah jauh masuk kedalam jantung hutan. Rasa

takut kami kepada pasukan laknat itu mengalahkan segalanya. Hutan perawan yang katanya sangat angker tanpa ragu-ragu kami terobos. Dalam keadaan normal pasti kami tak akan berani memasukinya jangankan malam hari siang hari bolongpun kami tak bakal mau untuk memasuki kawasan terlarang itu tapi justru tempat yang katanya angker inilah yang menyelamatkan kami. Aku tak bisa lagi menyembunyikan kesedihanku yang teramat dalam kehilangan satu-satunya keluargaku.Baru sekali ini aku menangis terisak-isak. Nonik berusaha untuk menghiburku walaupun tak lama kemudian tangisnya bahkan lebih kencang dari ku gadis malang ini kembali teringat ke keluarganya yang dalam waktu singkat habis terbantai. Kami berpelukan erat masing-masing berusaha menghapus segala kenangan terburuk yang ada. Tanpa mempedulikan keadaan sekitar, kami berdua terlelap tidur kelelahan dihamparan semak-semak hutan. Untuk sesaat tidur yang lelap menghapus segala kejadian buruk yang menimpa kami sepanjang hari ini. Sinar sang surya pagi hari yang cerah menyilaukan mata membuat kami terjaga. Entah siapa yang memulai ketika terjaga, tubuh bugil kami berpelukan rapat. Wajah Nonik merona merah bermandikan cahaya matahari. Setelah melewati malam yang melelahkan baru kami tersadar tak selembar benangpun menutupi tubuh kami. Nonik mencoba menutupi organ intimnya dengan kedua tangannya. Begitupula dengan diriku. Di tengah hutan ini tak ada sesuatupun yang bisa digunakan untuk menutupi tubuh telanjang kami. "Maaf...maaf Non..."Tergagap aku jadi salah tingkah menatap tubuh bugil gadis cantik di depanku. "Ngga apa-apa Rip..."Suara Nonik meskipun lirih terdengar sangat merdu gadis itu tertunduk malu tak berani menatapku. Mataku menyapu keadaan sekitar. Aku berusaha keras menemukan sesuatu yang mungkin bisa kami gunakan untuk menutupi tubuh kami. Sungguh risih dan sangat tidak nyaman dalam keadaan bugil seperti ini.Aku hanya menemukan semacam pohon perdu yang merambat tumbuh liar membungkus sebuah pohon besar yang nampaknya sudah sangat tua. Aku segera mencabuti sulur-sulur tanaman itu dan mencoba merangkaikannya untuk menutupi tubuh kami. Yah walaupun seadanya, namun cuma inilah satu-satunya yang bisa kami kenakan. "Adduhh....Rip gatal sekali aduuh..."belum lama Nonik membalutkan tanaman itu ke tubuhnya, tiba-tiba Nonik merasakan gatal-gatal luar biasa di sekujur tubuhnya. "Iya Non saya juga aargh.....aduuuuuhhhh....!!!!"Kami tak mengetahui kalau getah tanaman itu mengandung racun yang menimbulkan rasa gatal. Tak seberapa lama kulit kami timbul ruam-ruam merah gatal sekali rasanya. Lebih celaka lagi rasa gatal itu menyerang organ paling pribadi kami, karena memang tujuan semula kami menggunakan tumbuhan itu memang untuk menutupi organ intim kami. Kami menjadi kelabakan karenanya. Karena tak tahan lagi akhirnya terpaksa kami membuang pakaian darurat tersebut, sehingga kami berdua kembali telanjang bulat. Setidaknya itu lebih baik daripada harus menderita gatal di sekujur tubuh. Beruntung tak begitu jauh kami menemukan sebuah telaga. Dengan terbirit-birit kami berdua segera segera berendam didalamnya Airnya yang bening dan dingin nyaman sekali rasanya. Setelah beberapa hari dalam tawanan, kami tidak bisa mandi. Segarnya air telaga yang jernih paling tidak memulihkan sebagian tenaga kami. Awalnya kami merasa malu ketika saling bertatap mata.. Bagaimanapun juga telanjang bulat di depan lawan jenis yang bukan siapasiapa kita tentu saja sangat tidak nyaman rasanya. Tapi rasa canggung itu tak

berlangsung lama, toh kami sudah saling kenal sebelumnya dan lagi pula tak ada siapa-siapa lagi diantara kita. "Non kedinginan ya non....?" Kulihat tubuh polosnya menggigil kedinginan aku jadi tak tega melihatnya. Tapi untuk mencoba membantu memeluknya aku juga tak berani karena takut ia marah menyangkaku memanfaatkan kesempatan. Aku coba memberikannya seonggok semak-semak yang sudah mengering. "Ngga mau Surip nanti tubuhku gatal-gatal lagi..."Ia menggelengkan kepala.Tubuhnya nampak indah walaupun sedang meringkuk menggigil kedinginan. Meskipun ia berusaha melipat tubuhnya sedemikian rupa namun tentu saja dalam keadaan telanjang bulat seperti itu tak mungkin mengusir dinginnya udara. "Ngg...Maaf Non kalau boleh... aku peluk bagaimana Non....?? Mungkin bisa sedikit mengusir hawa dingin."Hati-hati aku mencoba menawarkan bantuan. Sungguh tak ada maksud apapun. Aku cuma merasa iba. Bibir Nonik sudah mulai membiru gemetaran Sebenarnya aku juga kedinginan tapi entah kenapa menatap tubuh Nonik yang polos tanpa sehelai benangpun membuat jantungku berdebar keras memaksa darahku mengalir lebih cepat yang berakibat menimbulkan hawa hangat dalam diriku. Aku tertunduk tak berani menatapnya langsung. Aku mengira Nonik akan segera memakimakiku. Beberapa saat suasana hanya hening. Aku beranikan meliriknya dengan ekor mataku. Nampak wajah jelitanya bersemu merona kemerahan. Mata kami akhirnya bertemu Nonik tak menjawabnya hanya mengangguk. Tubuhku menggigil saat kulit kami bergesekan. Bukan karena kedinginan. Entah sesuatu gejolak aneh merambat pelan tapi pasti. Sungguh dalam mimpi sekalipun tak pernah terpikirkan akan seberuntung ini.Kulit gadis cantik itu begitu lembut dan halus sangat kontras dengan kulitku yang kasar. Untuk beberapa saat kami membisu terdiam tak sepatah katapun meluncur dari mulut kami. Entah apa yang Nonik pikirkan aku sendiri tak tahu perasaanku saat itu. Semilir angin yang menyapu tubuh-tubuh polos kami membuat kami secara otomatis semakin merapatkan tubuh kami. Dapat kurasakan detak jantung gadis itu semakin berdetak kencang. Payudaranya yang kenyal menghimpit dadaku nyaman sekali rasanya. Aku beranikan diri memeluk putri majikanku itu semakin erat. Harum rambutnya semerbak membuai indera penciumanku. Nonik hanya melenguh perlahan nampaknya ia juga menikmatinya. Entah siapa yang memulainya lebih dahulu, kurasakan tangan Nonik dengan lembut aktif membelai punggungku akupun memberanikan diri untuk semakin mempererat pelukanku dengus nafasnya mulai memburu.Gadis pirang itu nampak semakin cantik dengan rambutnya yang masih basah. Sudah menjadi naluri bagi setiap insan berlainan jenis. Birahi dan insting primitif akan selalu muncul sebagai respon jika diharuskan berduaan apalagi dalam kondisi tanpa busana seperti kami. Segala pilu lara seakan terlupakan sesaat oleh bara api birahi yang mulai berkobar mengusir kebekuan kalbu.Tubuh putri majikanku ini memang sedikit bongkok udang yang baru aku ketahui kemudian, bahwa wanita yang berpostur seperti itu, api birahinya mudah berkobar-kobar. Entah mitos atau fakta, kenyataannya saat ini, seakan lupa akan statusnya, Nonik semakin berani mengekspresikan isi hatinya. Tanpa disadari, Nonik melenguh semakin keras Gadis pirang ini terbuai oleh usapan lembut tanganku pada punggungnya. Rintihannya semakin merdu ditelingaku. Tubuhku menggelinjang hebat, ketika tanpa aku duga jemari putri majikanku itu merabai kantung biji kemaluanku. Secara perlahan, jari jari lentik itu menari-nari merambat naik dan mengocok maju mundur secara lembut batang kemaluanku yang tentu saja mulai

mengacung tegang. Jemari lentik gadis cantik itu tak cukup lebar untuk menggengam seluruh kemaluanku yang memang berukuran abnormal. Meskipun demikian belaian lembut jemarinya semakin membuat nafasku mendengus tak beraturan. Nonik menggelinjang kegelian saat lidahku menyapu ketiaknya. Aku tak mempedulikan lagi rengekan manjanya. Bahkan aku semakin menurunkan lidahku tepat ke payudaranya yang bulat kencang. Bagai tersengat listrik ribuan volt, tubuh Nonik semakin liar menggelinjang ketika ujung lidahku menari-nari 360 derajat berotasi secara bergantian di aerolea dan pentil susunya yang berwarna coklat kemerahan. Dari sekedar desahan, gadis cantik itu semakin merengek. Mengerang nikmat meresapi aktifitasku mengakibatkan pentil susu gadis itu kini telah mencapai ukuran maksimalnya. "Hmpfhh....hmpffff....sini Rip....sebelah sini....oooooughhhh" setengah berbisik, tanganku dibimbingnya menuju ke tepat area selangkangannya. Secara naluriah tanpa disuruhpun jemariku otomatis segera menjelajahi rimbunnya bulu kemaluan Nonik yang menghiasi selangkangannya yang mulai lembab. Tanpa kesulitan segera kurabai secuil daging yang tepat berada diujung kemaluannya gadis cantik itu semakin menggelinjang histeris begitu itilnya secara stimultan aku pilinpilin tanpa henti kekanan dan kekiri. Dalam sekejap liang kemaluan gadis cantik itu telah basah lembab oleh cairan kenikmatannya "Ouch....awww..awwww...aarghhhh..."Aku mengernyit kesakitan kurasakan kuku Nonik menghunjam punggungku. Sepasang buah dadanya yang padat membusung segera membekap mulut jelekku yang nyaris memekik kesakitan akibat hunjaman kukunya yang tajam. "Hmmmph....sssgh......aaahhh....aaahhh..."Gadis itu sangat menikmati mulutku yang asyik mengunyah-ngunyah pentil susunya yang semakin tegang memanjang. Lingkaran aeroleanya seakan memang diciptakan hanya untukku begitu pas sempurna. Dengan ukuran bibirku.. Nafsu birahi liar yang memuncak hingga ubun-ubun membuat kami lupa segalanya. Bagaikan binatang liar, tiba-tiba nonik mendorong tubuhku hingga rebah ketanah. Posisi tubuh kami membentuk posisi 69 memudahkan kami masing-masing untuk memuaskan syaraf kelamin kami masing-masing. Dengan segera wajahku disuguhi selangkangannya. Aroma khas wanita menjejali indera penciumanku, membuaiku ke awang-awang. Cairan bening yang menetes-netes dari liang kelamin putri majikanku itu begitu legit terasa dilidahku.Bulu-bulu kemaluannya yang tumbuh liar tanpa permisi menggelitiki hidungku yang tepat berada dibawahnya. Aku mengejan keenakan ujung kepala penisku terasa basah dan hangat. Lidah Nonik meluncur keluar dari mulut mungilnya memberikan sensasi nikmat surgawi menyapu liar ke seluruh ujung kepala kemaluanku, yang secara perlahan-lahan berdenyut-denyut kencang. Bagaikan seekor ular, batang kemaluanku kini mulai menggeliat tegang seakan bagai sang naga terbangun dari tidur panjangnya. Akupun tak mau kalah, lidahku secara frontal mulai bergerilya lebih jauh ke area anus gadis cantik itu.yang berdenyutdenyut kencang bagaikan bernafas, lobang anus yang sempit itu semakin giat kembang kempis ketika ujung lidahku mulai menyapunya. Entah kenapa bagian inilah yang begitu menarik perhatianku aku suka dengan reaksi Nonik yang menggelinjang kegelian setiap ujung lidahku menjelajahinya. Nonik meronta kegelian. Namun gadis cantik itu tak berdaya. Pinggulnya yang ramping berisi telah aku kunci erat-eratdengan kedua lenganku. Dengan merintih putus asa akhirnya Nonik hanya bisa pasrah

merelakan lobang anusnya dijajah lidahku yang kasap. Cairan cinta gadis cantik itupun semakin deras membanjiri selangkangannya. Aku membiarkan gadis itu memutar tubuh bugilnya. Pentil susunya yang tegang mengacung terasa nyaman seolah menggelitiki dadaku. Untuk beberapa saat kami saling menatap matanya terlihat sayu. Bibirnya yang merah merekah basah sedikit terbuka seolah menantangku untuk mengulumnya. Tanpa membuang waktu lagi aku segera menjulurkan lidahku. Lidah kami saling membelit liar. Gairah birahi yang meledakledak membungkus tubuh bugil kami yang tergolek bebas dibawah langit. Tangan Nonik yang mungil mengenggam erat batang kemaluanku yang mengacung kokoh bagaikan batang kayu. Ia lalu membimbingnya dengan lembut tepat ke mulut kelaminnya. Sesaat digosok-gosokannya kepala penisku yang sudah berdenyut-denyut ke bibir kemaluannya. Gadis cantik itu mendesah merdu. Wajahnya sedikit mengernyit ketika ujung kelaminku menerobos liang kewanitaannya untuk beberapa saat aku membiarkan pijatan-pijatan nikmat yang membuai batang kemaluanku. Bulu kemaluannya yang lebat menggelitiki batang kemaluanku. Seakan ada ratusan semut yang menggerayangi batang kemaluanku. Rasanya sangat geli menimbulkan sensasi yang tak bisa dilukisakan oleh kata-kata. Putri majikanku itu semakin erat memeluk pinggangku seolah memaksaku untuk lebih dalam lagi membenamkan kejantananku.aku mulai menggoyangkan pinggulku naik turun secara teratur. Bagaikan lokomotif, gerakan pinggul ku semakin lama semakin cepat membuat tubuh bugil gadis itu terguncang-guncang menerima sodokan kelaminku. Aku berhenti sesaat. Kurasakan kini pinggul gadis yang aku tindih itulah yang aktif menggantikan kerjaku. Pipi Nonik merona merah padam melihatku tersenyum padanya Aku melenting kaget. Dengan gemas pinggangku dicubitnya. Gadis itu merasa malu padaku menyadari dirinya yang kini begitu menikmati permainan cintaku Sesuatu yang bergejolak seakan meledak aku rasakan di ujung kemaluanku. Semakin aku coba menahan ,rasanya semakin nikmat. Namun pijitan-pijitan dinding kemaluan Nonik yang semakin agresif, membuatku tak mampu untuk menahannya lebih lama lagi. Cairan hangat kurasakan memancar dari ujung kepala penisku bersamaan dengan sensasi nikmat yang nyaman di selangkanganku. "Creeetz...croootszz...crooootszz...Ahhh....ahh.....haah....enaaak....enaaak...sekali...Rip ..."Nonik terpekik lirih. Gadis itu menggigit kuat-kuat bahuku tubuh kami masing masing melenting kearah yang berlawanan. Memaksa kelamin kami untuk menyatu semakin dalam. Bagaikan terbang ke langit ke tujuh, seluruh tulang belulang kami serasa lepas aku mengakhiri pekikan nikmatnya dengan menyumpal mulut manisnya dengan lidahku. Mata gadis itu terpejam meresapi ciumanku sungguh pemandangan yang sangat kontras tubuh telanjang Nonik yang cantik jelita bisa berada dalam pelukan tubuhku yang hitam kerdil. Perlahan batang kejantananku mulai mengecil aku membiarkanya tetap berada di vagina Nonik. Setelah beberapa lama, secara otomatis penisku terlepas dari liang kenikmatan putri majikanku yang cantik. Suara menderu-deru terdengar mengglegar membelah angkasa.mengganggu kemesraan kami. Penisku sejenak terhenti di lobang kenikmatan Nonik yang kini meskipun belum resmi, telah menjadi istriku. ******************************* "Papa itu apaan....?" Sentot putra kami yang lucu terpelongo menatap angkasa bocah 2,5 tahun itu takjub dengan benda raksasa mirip burung yang terbang rendah berputarputar tepat diatas kami.

"Hgh....hgh...ah...Ng...ga.. tahu sayang dulu kakekmu pernah cerita itu katanya pesawat. Mami kamu yang pernah lihat agh...ahh.." aku menjawab sekenanya. Kenikmatan lobang kemaluan Nonik yang sedang meremas-remas batang kemaluanku membuatku tak konsen dalam menjawab pertanyaan anakku "Hgh....ah....ah.....Sentot...oh...ahhh...ugh....mainnya jangan ja...uh ....jauuuuuh...ogh....aaahhh." dengan terengah-engah Nonik memanggil putranya. Bocah cilik itu tak mempedulikan kami yang tengah bersetubuh. Teriknya matahari pagi sama sekali mengganggu aktifitas kami. Saat ini perut Nonik kembali membuncit entah sejak tubuhnya semakin berisi gairah birahi istriku itu semakin tak terbendung aku harus melayaninya kapanpun ia menginginginkannya. Semua yang dulu pernah di katakan Warto sepenuhnya benar untuk hal yang satu ini ia sama sekali tak pernah bohong. "Hore...hore...!!"Bocah cilik itu kegirangan berlarian kian kemari memunguti beberapa lembar kertas yang bertebaran dari badan benda asing itu. ***************************** Sementara itu beberapa kaki dari permukaan tanah "What......!!! Impossible....what the fuck.....??"Mayor William seorang komandan resimen ke 8 pasukan sekutu terheran-heran dengan penglihatannya. Bagaimana mungkin di tengah hutan belantara ini ada seorang gadis bule berkulit putih yang cantik dalam keadaan tanpa busana sedang ditunggangi seorang pria berkulit gelap yang nampaknya penduduk pribumi. "Hey pilot coba putar lagi....!!! Kemarikan teropongnya...!!!"Pria itu masih belum mau percaya begitu saja dengan penglihatannya diraihnya teropong berlensa 8 mm carl zeis. "Holly shit bagaimana mungkin.....!!"Pria itu menatap takjub pemandangan indah yang sedang terjadi dibawah. "Hey...hey....awas...!!!"Pilot terkejut badan pesawat mendadak oleng dan nyaris menghantam ujung pohon jati yang tumbuh menjulang tinggi. "Hey you yang bener ya....kita semua bisa mampus gara-gara kalian mengerti...sekarang lemparkan brosurnya mudah-mudahan mereka membacanya."Mayor William memarahi anak buahnya yang berebutan ingin turut menyaksikan pemandangan indah itu sehingga mengakibatkan badan pesawat oleng kekiri. "Mama....Sentot lapar mau mik cucu."Bocah cilik nampak kelelahan usai memunguti kertas-kertas yang berceceran dari badan pesawat. "Ya..ya... sudaaaah sini...sini...nenen mama...ogh....jangan nakal ya hgh...ah...ahhh.."Sambil terengah-engah menahan nikmat Nonik menyodorkan pentil susunya yang langsung disambut dengan rakusnya oleh mulut mungil bocah bermata sipit itu. Sentot putra pertama kami memang sedikit berbeda dengan diriku dan Nonik. Bocah cilik itu lebih mirip dengan para serdadu Jepang itu. Sembilan bulan sejak kami berhasil melarikan diri dari pasukan Jepang itu, Nonik mengalami perubahan fisik yang drastis. Perut gadis pirang itu semakin membuncit dari hari kehari. Kedua gunung kembarnya semakin membesar dan kenyal. Puting susunya juga makin melebar dan menghitam. Sampai pada suatu hari seorang bayi mungil yang lucu muncul dari selangkangan Nonik yang terengah-engah kesakitan. Sejak saaat itu, waktu aku hisap putting Nonik dari pentilnya yang panjang keluar cairan putih yang terasa gurih dan enak

Aku tak mempedulikan lagi dengan benda asing yang melayang berputar-putar diatas kami. Aku lebih berfokus ke penisku yang semakin serasa mau meledak seperti biasa denyutan-denyutan kencang pada batang kemaluanku menandakan masa klimaks ku sudah semakin dekat demikian juga dengan Nonik selangkangan istriku itu kini telah basah kuyup dibanjiri cairan lendir. Aku tak bisa menindihi tubuh Nonik seperti biasanya. Kini tubuh Nonik kembali sedang membuncit. Istriku itu meracau merengek-rengek keenakan diatas pangkuanku sebelah tangannya mendekap Sentot yang tengah asyik menyusu. "I,,,ih udah ah geli...Rip....lihat tuh Sentot jadi terganggu"Nonik menggelinjang kegelian saat pentil susu sebelah kirinya aku mainkan. Aku lalu menurunkan tanganku Perlahan aku elus lembut perutnya yang membuncit. Dapat kurasakan gerakan bayi yang bergerak didalam perutnya Nonik nampaknya sangat nyaman dengan elusanku di perutnya Ibu muda ini nampak bahagia dengan kebersamaan kami. "Ini apaan non....?"Aku menunjukan selembar kertas yang dipungut Sentot. Maklum aku ini buta huruf. "Oh ini isinya tentara Jepang sudah kalah dan diminta menyerah..."Wajah Nonik berseri-seri girang "Hah kalau begitu tadi yang ada diatas ada orangnya ya....?"Wajahku bersemu memerah. Nonik mengangguk. "Pantas saja benda itu berputar-putar terus jangan-jangan mereka mengintip kita"Kulihat wajah Nonik juga memerah mungkin istriku itu malu ketika baru menyadari ada yang mengintipnya. "Tapi yang penting tentara Jepang yang kejam itu telah dikalahkan..."Nonik kembali tersenyum gembira. "Asyik...... artinya sebentar lagi kita bisa pulang ke rumah."Aku bersorak kegirangan Tak terasa sudah hampir 3,5 tahun kami bersembunyi di dalam hutan. Banyak suka duka kami selama ini. Beruntung kami tak pernah dipergoki patroli pasukan Jepang meskipun gua tempat kami bersembunyi pernah dimasuki para serdadu laknat itu. Aku beruntung bisa mencuri tas ransel milik salah seorang serdadu Jepang yang tergeletak di pinggir hutan. Meskipun pisau dan api bisa aku temukan untuk alat bertahan hidup, namun aku tetap tak berhasil memperoleh pakaian atau kain untuk menutupi ketelanjangan kami. Beruntung selama kami didalam hutan, meskipun tanpa busana sama sekali kami tidak pernah mengalami sakit penyakit yang berarti. 15 Agustus 1945 pendudukan teror Jepang resmi berakhir setelah dua bom nuklir menghajar 2 kota besarnya. Tak pelak teror pendudukan yang berada di Indonesiapun turut berakhir. ************************* Masih seperti dulu, hanya nampak kotor dan tak terawat beruntung rumah tempat kami dulu tidak terlalu parah kerusakanya kami sekeluarga bersyukur bisa kembali hidup normal kembali. Desa ini kembali aman tentram entah untuk berapa lama aku menutup buku lusuh yang baru selesai aku bacakan. "Aku ingat....," tiba-tiba Nonik menyahut." lalu kita bersama-sama mengecat kembali rumah kita...anak-anak kita....Surip....Surip....Jangan tinggalkan aku lagi..."Air mata kebahagian menetes dari sudut matanya yang telah berkerut. "Tidak...tidak akan .....Aku mencintaimu Julia..."Aku memeluk tubuhnya Ia nampak nyaman dalam pelukanku. Aroma rambutnya masih sewangi dulu jari-jemariku memainkan rambut pirangnya yang kini telah memutih. Aku mengecup keningnya.

Wajah yang telah berhias kriput itu nampak terpejam damai. "Aku lelah Rip...lelah..." Nonik melenguh pelan. Keningnya terus aku hujani dengan kecupan mesra. Aku mengusap kening istriku itu. Seperti biasa Nonik meraih batang kelaminku yang menggantung bebas dibalik kain sarung. Dibelainya benda kenyal yang pernah berjaya di masanya itu dengan penuh perasaan. Aku membiarkannya memainkan benda kebanggaanku. Nonik mempunyai kebiasaan membelai kemaluanku sebagai pengantar tidurnya.Aku merebahkan tubuh tuanya di hamparan rumput taman yang menghijau Bersama-sama kami berpelukan entah untuk berapa lama. Sama seperti yang terjadi 65 tahun yang lalu. Gemericik air kolam seakan mengantar memory kami. Membuai kami berdua melayang menembus ruang dan waktu kembali ke masamasa terindah kami di dalam hutan.

Kenangan Pahit dari Jaman Jepang


3 Februari 2009 "Sudahlah Mbah, lebih baik Mbah pulang saja nanti malah ikut sakit. Mbah ngga usah cemas, eyang putri sudah ada yang jaga." anak dan cucu-cucuku bersikeras membujukku untuk pulang.Tapi tekadku sudah bulat aku harus tetap menemani istriku entah kenapa firasatku merasa ada yang lain. Rasa pengabdian yang dalam yang sudah tertanam puluhan tahun tak bisa digoyahkan begitu saja. Ya aku begitu mencintai istriku apapun keadaanya kini. "Sudahlah kalian semua pulang saja... biarkan mbah mu ini menemani eyang putri mu waktu kami sudah tidak banyak lagi."Segala bujuk rayu anak dan cucu-cucuku tetap tak merubah pendirianku.Aku menyadari mungkin waktu kami berdua sudah tak lama lagi dan aku ingin memanfaatkan waktu kami yang tersisa itu sebaik-baiknya. "Hush bapak jangan ngomong sembarangan ah, pamali mbah Eling." Sentot, putra tertuaku nampak cemas dengan ucapanku. "Mbah yakin eyang putri bisa lebih cepat sembuh jika ditemani sama mbah."Aku tetap bersikukuh untuk tetap tinggal, "Hmm....ya sudahlah mbah kami tinggal dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon saja." Akhirnya anak dan cucu-cucuku menyerah. Setelah berpesan pada para dokter dan perawat untuk baik-baik menjaga kami berdua akhirnya mereka semua pulang. Aku menghela nafas panjang taman ini kembali sepi perlahan aku melirik kesamping Julia, istriku masih duduk termenung diatas hamparan rumput. Entah apa yang ada dalam kepalanya saat ia melamun seperti itu. Setidaknya dalam sedikit sisa umur yang masih disediakan Tuhan, aku cukup bahagia bisa menyaksikan anak-anak dan cucucucuku tumbuh dewasa dan telah mapan secara materi dan rohani. Aku sangat bangga dengan keberadaan mereka. Aku bersyukur nasib mereka tidak sepahit diwaktu zamanku. Diantara mereka semua, untung tidak ada yang mengikuti genku yang buruk rupa. Semuanya tumbuh sehat tampan dan secantik eyang putrinya semasa gadis perwan. Terutama cucuku Suryati. Ia sangat mirip dengan eyang putrinya

sewaktu muda.

Tak ada yang menyangka gadis itu cuma kelahiran di sebuah dusun kecil di dekat lereng Gunung Lawu. Meskipun bola matanya tak sebiru eyang putrinya namun perawakannya yang tinggi langsing dengan kecantikan luar biasa khas gadis berdarah Eropa sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang hanya dihuni gadis kampung kebanyakan. Sedangkan saudaranya Jarwo mengingatkanku pada mendiang Mener Van der Saar, bapak mertuaku. Yah namanya perjalanan nasib tiada seorangpun yang tahu persis akhirnya. Tapi paling tidak di masa tuaku aku bahagia dengan semua yang ada disekelilingku. "Kamu siapa? Sedang apa disini....?"Suara parau mendadak mengagetkan lamunanku matanya masih seindah dulu menatap penuh curiga pada diriku. "Ini aku Julia...suamimu Surip..." suaraku sedikit tercekat. Meskipun secara umum aku cukup bahagia, namun keadaan istriku beberapa bulan ini nampaknya semakin parah. Ingatannya lama kelamaan semakin menurun alias pikun menurut dokter penyakit linglung ini istilah kerennya dikenal dengan penyakit alzheimer. Penyakit itu menggerogoti memorinya sehingga kenangan-kenangan indah kami bersama seakan lenyap tak bersisa. Kadang ia bahkan tak mengenali diriku dan anak-anaknya sendiri. Meskipun aku sadar tidak semuanya kenangan masa lalu kami indah, beberapa bahkan sangat buruk dan sudah sepantasnya hilang. Namun hidupku ini seakan tak ada artinya lagi kalau Istriku sampai melupakanku hanya kehangatan cintalah yang membuatku masih bergairah melanjutkan sisa hidupku. Dan kini gairah ini mulai surut seiring dengan kesehatan istriku yang juga semakin menurun. "Surip...?.... Surip siapa ya.....???....siapa kamu?Aura sisa kecantikan masih terberkas di wajah rentanya. Mata birunya menatap penuh kecurigaan padaku, perlahan wajahnya berubah pucat. Berkas ketakutan mulai muncul di wajah ayunya yang mulai termakan usia. "Dimana aku...? Tolong....tolong....Pulangkan saya!!!!!" Tiba-tiba emosi istriku melonjak dia menjerit-jerit histeris. Memang akhir-akhir ini ia sering bertingkah seperti itu.Mungkin kenangan buruk masa lampaunya kembali hadir menghantuinya "Ada apa pak....? Semua baik-baik saja.....?"Beberapa perawat dengan tergopohgopoh berlarian menghampiri kami. "Tidak....tidak....tidak ada apa-apa tinggalkan saja kami."Aku lalu menjelaskan secara singkat tabiat serta kebiasaan istriku.

"Baiklah pak tapi kalau ada apa-apa jangan segan-segan panggil kami."Meski dengan sedikit ragu akhirnya para perawat itu meninggalkan kami. "Siapa kamu.....?"Kembali mata biru istriku menatap diriku. Ingatannya sekarang ini memang sudah semakin pendek saja..Terakhir kali ia mengingat kami semua cuma

bertahan 2 jam saja setelah itu perlahan semakin lama semakin pendek ingatannya seperti yang terjadi seperti sekarang ini. "Saya Surip...."Aku menjawab singkat sengaja aku pura-pura tidak terjadi sesuatu supaya istriku ini tenang.Aku kembali menatapnya harapanku berhasil. Ia kembali tenang seolah tidak pernah terjadi sesuatu. "Buku apa itu...?"Istriku menatap buku lusuh yang aku pegang sejak tadi. Buku ini telah menemani aku sejak aku berhasil belajar menulis kira-kira 60 tahun yang lalu aku bersyukur meskipun terlambat aku berhasil juga belajar membaca dan menulis banyak hal yang bisa aku tuangkan dalam tulisan dan buku inilah yang setia menemaniku selama ini. Buku ini penuh terisi kenangan-kenangan baik manis ataupun pahit sepanjang hidup kami. "Oh ini....ini novel romantis kamu suka...?" sengaja aku memperkenalkan identitas lain aku mencoba menggunakan metode lain karena pendekatan dengan langsung berusaha mengingatkan istriku cuma berakibat membuatnya semakin histeris dan itu tak akan menghasilkan apapun.. "Oh ya...???....saya suka membaca novel maukah pak Surip membacakannya?" Suaranya masih tetap merdu di telingaku. Aku bersyukur ia merespons positif pendekatanku. Tangan rentaku bergemetaran menggenggam erat buku lusuh yang nyaris sama tuanya denganku. Perlahan satu persatu aku mulai buka kembali lembar demi lembar buku catatan harian kami. "Ini cerita romantis apakah kamu suka?" sengaja aku memancing responnya sekali lagi. Aku mencoba membangkitkan daya ingat otak kanannya agar memorinya bisa bertahan lebih lama.

"Ya saya suka cerita romantis saya sudah tak sabar ingin mendengarnya."Aku puas dengan responsnya. Aku berdoa semoga Tuhan memberi mujizat pada kami.Aku menghela nafas dalam dalam sebelum mulai mebacakannya.. Aku membacakan sebuah kisah yang sebenarnya kisah kami sendiri. Ingatanku melayang kebeberapa puluh masa yang silam. Saat aku masih bujang aku mengabdi di keluarga Belanda sudah 4 generasi keluargaku mengabdi ke keluarga Mener Van der Saar. Dengan perlahan mulutku yang telah keriput mulai membacakan buku harian kami Julia Van Osh istriku, dengan seksama mendengarkanku yang mulai kembali menggali kisah-kasih kami yang telah terkubur. Tidak seperti cerita-cerita sejarah yang aku baca dari buku-buku pelajaran sejarah cucu-cucuku, pada masa itu kehidupan terasa damai keluarga Mener Van der Saar begitu baik memperlakukan keluarga kami begitu juga penduduk sekitar beliau mempunyai tanah perkebunan teh yang luas di kaki Gunung Lawu yang sejuk. Keadaan masa itu bahkan lebih baik dibanding zaman sekarang yang katanya sudah merdeka. Sandang, pangan ,papan semua tercukupi. Sayur mayur dan ternak tumbuh subur dan sehat. Aku suka sekali dengan hawa pegunungan yang sejuk kedamaian terjaga dengan baik di desa

kami.Bahkan ketika kedua orang tuaku wafat mener tetap merawat aku dan adikku, Laras. Kami tumbuh besar bersama dengan Nonik demikianlah kami semua memanggil Julia putri semata wayang mener Van der Saar. Waktu terus berlalu kini nonik Julia sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Matanya yang biru sebening kristal dari bohemia serasi dengan hidungnya yang mancung. Semua semakin sempurna dengan kulitnya yang putih bersih. Udara pegunungan yang sejuk dan bebas polusi semakin membantu kecantikan nonik Julia yang memang sudah cantik luar biasa. Hari itu kami semua sangat sibuk mempersiapkan pesta pertunangan nonik Julia dengan Edwin putra mener Pieter. Sebenarnya mereka akan melaksanakannya di negeri Belanda namun keadaan benua Eropa sedang berkecamuk perang. Maka akhirnya diputuskan cukup diadakan di desa kami saja. Acara berlangsung meriah dan rencananya 3 bulan kemudian mereka akan meresmikan pernikahan mereka.

Lastri adiku begitu terharu. Nonik Julia lalu menggodanya dan menjodohkannya dengan Dasirun mandor perkebunan tuan Pieter. Meskipun secara fisik telah menunjukan kematangan seorang wanita dewasa, nonik tetaplah masih seorang gadis yang sangat belia. Jiwa kekanak-kanakanya yang ceria terkadang usil masih terekspresi dari sikap dan tindakannya. Dengan tersipu-sipu malu Lastri akhirnya menerima perjodohan itu. Lastri cukup beruntung gadis secantik dia tak begitu sulit mendapatkan jodoh berbeda dengan diriku. Akibat terkena polio sebelah kakiku menjadi pincang. Tubuhku juga tumbuh tak sempurna aku lebih pendek dari anakanak seusiaku tubuhku yang kerdil dan wajahku yang jelek tentu kalah jauh jika dibandingkan dengan Dasirun yang bertubuh atletis apalagi jika dibandingkan dengan Tuan Edwin yang tinggi besar dan gagah. Satu-satunya yang, entah ini berkat atau cacat adalah ukuran kemaluanku saja yang luar biasa besarnya. Dibandingkan dengan kakiku, kemaluanku malah lebih besar. Dengan diameter 8 cm dan panjang mencapai 35 cm kemaluanku malah lebih mirip sebuah kaki daripada alat kelamin. Meskipun sudah berumur 19 tahun aku sama sekali belum mengerti arti hubungan antara pria dan wanita. Demikian juga dengan Nonik dan Laras. Yang kami tahu setelah menikah itu pindah rumah, lalu menurut cerita mener, pria dan wanita yang sudah menikah katanya akan diantarin seorang bayi yang lucu oleh burung bangau. Itu saja yang selalu mener Van Der Saar ceritakan kepada kami tak pernah lebih. Keluarga Mener adalah keluarga puritan yang sangat teguh menjaga tata krama sehingga tak heran jika seusia kami, masih saja kami tidak tahu apa-apa mengenai hal-hal yang berbau atau menjurus ke arah sexualitas.Satu-satunya yang aku ketahui walaupun tak banyak adalah dari mentor ku Warto kacung gemblung tetanggaku yang selalu tampil jenaka. Terus terang aku merasa minder dengan penampilan fisikku yang abnormal. Mungkin karena asupan giziku yang tidak sebaik anak-anak zaman sekarang, sehingga sampai sebesar inipun, aku belum mengalami masa puber. Demikian pula dengan kondisi kecerdasanku yang juga dibawah standart Walau tak termasuk idiot tapi daya tangkapku termasuk rendah.

Mungkin karena ukuran kemaluanku yang abnormal, Lastri dan kawan-kawan sepermainan kami sering menggodaku ketika kami mandi bersama-sama di kali sambil memandikan kerbau ternak kami. Mereka sering menyembunyikan pakaianku

saat aku mandi di sungai sehingga aku sering kebingungan dibuatnya.Mereka meledekku dengan sebutan "Buto terong" salah satu tokoh pewayangan yang ciri-ciri fisiknya rada mirip-mirip kondisiku. Aku kapok membalas perbuatan mereka. Pernah suatu waktu aku balas perbuatan Lastri. Gadis itu kebingungan tak berhasil menemukan busananya. Aku kasihan juga melihatnya menangis meraung-raung. Bukannya berterima kasih, gadis cantik itu malah memarahiku habis-habisan bahkan setelah pulang perbuatanku diadukan ke Mener sehingga kupingku merah di jewer. Mener lalu memperingatkan aku agar tidak mengulangi perbuatan seperti itu apalagi terhadap perempuan mener cukup adil Lastri juga di hukum ketika aku komplain tentang perbuatannya dan teman-temannya yang juga sering mengerjaiku. Terletak di lereng gunung, Rumah kami begitu damai dan nyaman untuk siapapun penghuninya. Bangunan berarsitektur kolonial sesuai masanya, nampak indah bercat putih dengan langit-langitnya yang tinggi. Bagian barat desa kecil ini dikelilingi oleh tanah pertanian yang luas hanya ada satu jalan utama yang menghubungkan desa kecil ini dengan kota terdekat Di sebelah selatan dan timur, seluruhnya masih berupa hutan perawan yang luas. Semua pemandangan alam yang indah ini dapat dinikmati pada setiap jendela yang ada pada rumah ini. Aku menghela nafas. Sejenak aku berhenti.Aku memperhatikan reaksi Julia. Aku memutuskan membacakannya secara utuh walau kadang ada beberapa bagian kisah yang menyakitkan tapi kadang ingatan buruk akan memicu keseluruhan ingatan yang ada demikianlah menurut sebuah artikel yang aku baca. "Aku sepertinya pernah tinggal disana." mata Julia sedikit berair matanya yang biru nampak menerawang seakan-akan kembali menembus ruang dan waktu. Aku kembali meneruskan kisahku.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat di tolak mungkin pepatah itulah yang paling tepat. Beberapa hari menjelang pesta perkawinan Nonik Julia, keadaan berubah 180 derajat. Tentara jepang Dai Nippon dengan brutal menyerbu desa kami. Semula aku kira mereka masih satu kerabat dengan babah Ahong, sahabat mener Van Der Saar. Hanya saja para serdadu itu lebih pendek dan lebih putih. Mereka sangat bengis bahkan babah Ahong menjadi salah satu korban pertama keganasan mereka akibat melindungi keluarga kami yang mengungsi. Kepala babah Ahong yang pertama kali menggelinding ke tanah disusul dengan kepala mener Pieter, mener Van Der Saar dan calon menantunya mener Edwin. Semuanya tewas secara mengenaskan dipenggal samurai bala tentara dai Nippon yang kejam. Sementara para mener Belanda yang sudah uzur, wanita dan anak-anak keluarga para mener Belanda yang dieksekusi digabungkan menjadi satu di dalam tahanan militer yang lebih mirip kandang, bahkan lebih buruk dari kandang ternak kami. Para pasukan biadab itu menjarah apa saja yang mereka lihat. Aku Lastri dan Dasirun suaminya cukup beruntung tidak mereka tangkap. Mener menyuruh kami semua untuk lari tepat sebelum para tentara biadab itu menyerbu rumah kediamannya. Sejak peristiwa itu aku tidak pernah bertemu nonik Julia lagi. Mungkin ia telah mati. Lastri sangat sedih hampir setiap hari ia terisak-isak bila teringat nonik dan mener. Dasirun yang kini telah menjadi suaminya tak kuasa menghiburnya. Beberapa hari sejak peristiwa pembantaian secara tiba-tiba Dasirun berlarian terengah-engah bersama Lastri. Kondisi mereka nampaknya sangat tidak baik tangan Dasirun yang menggenggam golok berlumuran darah segar sementara tubuh Lastri yang nyaris telanjang bulat nampak lemas digendong suaminya.

"Surip....!!!... tolong adikmu Rip sembunyikan dia.. Biar aku tahan sementara para mata sipit itu cepaaat jangan bengong saja sebentar lagi mereka akan dataaang!!!" tubuhku terpaku gemetaran. Aku bingung harus bagaimana dalam suasana genting seperti ini. Dengan terpincang-pincang aku gendong tubuh Lastri. Di dalam lemari pakaian yang cukup besar akhirnya aku putuskan untuk aku jadikan tempat persembunyian. "BAGEROOO!!!!! BERANI BERANINYA KAMU MELAWAN !!!" tak lama kemudian suara erang kesakitan yang memilukan meluncur dari mulut Dasirun.

Dari celah-celah pintu aku menyaksikan sebelah tangan Dasirun hancur dihantam popor senapan. Pria malang itu terbungkuk-bungkuk sambil memegangi tangan kanannya yang berdarah-darah. Golok yang semula dalam genggamannya kini nampak tergeletak begitu saja di lantai. "Mas...jangan....jangan sakiti suamiku....!!!!!" melihat suaminya terluka parah, entah dari mana datangnya kekuatannya, Lastri yang sudah lemas tiba-tiba memberontak sekuat tenaga ia berlari menghambur keluar tanpa bisa aku cegah lagi. Aku masih berusaha mengejarnya namun semuanya sia-sia. Derai tawa bekakakan meluncur bersahut-sahutan dari para serdadu mata sipit itu beserta ucapan-ucapan dalam bahasa yang tidak aku mengerti. Namun aku menebaknya itu sebuah kata-kata makian. Meskipun ketakutan setengah mati naluriku sebagai pria membuatku maju melindungi adiku satu-satunya. "HA..HA...HA...MAHKLUK APA PULA KAMU INI...HA..HA..HA..BUK!!!! Sebuah pukulan keras bersarang tepat ke ulu hatiku. Aku terbungkuk-bungkuk dibuatnya. nyeri sekali rasanya Para tentara itu semakin keras menertawakan kami tanpa perlawanan berarti, sebuah tendangan yang keras kembali mendarat di dadaku membuat ku jatuh terkapar tak berkutik lagi. "Augh...jangan tuan.....jangan...."Lastri menjerit-jerit ketakutan. Para serdadu itu sengaja mempermainkan Lastri sebelum mereka memperkosanya.Dalam sekejap, serpihan sisa-sisa kain yang masih menempel di tubuh Lastri telah rontok. Kini tubuh Lastri telah polos tanpa busana lagi. Buah dadanya yang berukuran sedang terayunayun indah tanpa penyangga "HA..HA...AYO LARI SANA MANIS...!!!!" pantat telanjang Lastri yang membulat kencang menjadi sasaran empuk tangan-tangan laknat serdadu itu. Dasirun dan aku hanya bisa melihat dengan miris perlakuan para jahanam itu. Dalam keadaan telanjang bulat Lastri kebingungan berlarian kesana kemari mencoba menghindari sergapan para serdadu cabul itu.

"PLAK....!!! BAGERO!!! SUDAH.....DIAM KAMU!!! " bosan mempermainkan Lastri, salah seorang prajurit Jepang itu tiba-tiba menghardik keras Lastri. Tubuh bugil Lastri nyaris terjerembab bagai daun gugur yang tertiup angin. Sebuah tamparan keras mendarat telak di wajah gadis malang itu.Seorang serdadu berkepala botak dengan cambang yang lebat langsung mengunci tubuh Lastri yang nyaris mencium tanah dan membuat gadis malang itu tak berkutik lagi. "HAYO ISAAP...DAN PUASIN KAMI SEMUA...!!! KALAU TIDAK KAMI CINCANG SUAMIMU ITU DAN KAMI BERI MAKAN ANJING KAMI DENGAN DAGING BUSUK SUAMIMU ITU!!"Dengan bahasa indonesia yang terpatah-patah, perwira Jepang itu dengan tergesa-gesa melucuti celananya sendiri. "HAYOOO CEPAT BUKA MULUTMU..!!!" kemaluannya yang berwarna pink cerah agak kehitaman mencuat tegang mengacung. Dengan kasar rambut Lastri yang panjang terurai segera dijambaknya. Disodorkannya kemaluannya yang sudah menetes-netes tepat di depan mulut gadis malang itu. Mata Lastri terpejam.Gadis itu tak berani membuka matanya. Aroma khas bau kemaluan laki-laki terasa kuat menusuk hidungnya. Dengan kasar benda berlendir yang menjijikan itu mendobrak bibirnya melesak maju mundur dengan cepat. Lastri merasa sangat mual. Seumur hidupnya baru sekali ini ia mengoral kemaluan laki-laki. Dasirun suaminyapun tak pernah memaksanya melakukan hal itu. Namun dibawah ancaman gadis cantik berambut panjang itu tak mampu berbuat banyak selain tunduk seratus persen kepada mereka. Lastri tak mau mengambil resiko dengan mempertaruhkan nyawa suaminya dan aku kepada pasukan Jepang yang terkenal sangat kejam. "HOAAH....ARGH....HAH..HAH..SHHGH..HMM..ENYAK...ENYAK...ENYAK.... HA...HA...ISEPANMU ENAK SEKALI. HA...HA...HA...HAYO LEBIH KUAT ISEPNYA!!!" tanpa mempedulikan Lastri yang hampir kehabisan nafas, perwira Jepang itu dengan kasar merengkuh kepala Lastri. Membenamkan kepala gadis malang itu dalam-dalam tepat ke selangkangannya

"Keparat Hentikan....!!"Dasirun memberontak sekuat tenaga. Pria mana yang tak terbakar hatinya menyaksikan tubuh telanjang istrinya digagahi, meronta-ronta tak berdaya digumuli segerombolan serdadu liar yang cabul. "BANGSAT DIEM KAMU...!!!" gagang popor senapan serdadu Jepang itu dengan telak mendarat diwajah Dasirun. Darah segar yang kental segera meleleh dari sudut bibir pria malang itu beberapa giginya turut tanggal akibat hajaran popor senapan. Perlawanan Dasirun tak berlangsung lama pria itu kepayahan kehabisan tenaga dihajar habis-habisan oleh para serdadu pemerkosa istrinya.

"Maaaasssss....JANGAAANN....!!!!!....Ouw....argh...argh....ampun tuan....argh...."Tubuh POLOS Lastri yang tak tertutup sehelai benangpun merontaronta liar. Ingin rasanya ia menghambur untuk melindungi suaminya namun apa daya tangan-tangan kokoh yang kekar membuatnya tak kuasa bergerak sama sekali. Gadis cantik itu hanya bisa sesenggukan menatap miris suaminya yang berdarah-darah. "Ampun tuan saaakit...... jangan sikza saya arghhh....." Lastri menjerit kesakitan. Prajurit Jepang itu dengan brutal memilin puting susunya kuat-kuat. Membuat ujung pentil susunya terasa sangat perih.Tubuh Lastri yang ramping padat berisi nampak kontras ditindih tubuh tambun Perwira Jepang yang putih kemerahan. Tanpa basa-basi ujung kemaluan perwira Jepang itu segera menjebol lobang kenikmatan surgawi gadis malang itu. Lastri menjerit-jerit kesakitan selangkangannya serasa panas membara lobang kemaluannya yang masih kering terasa perih diterobos kelamin serdadu laknat yang cabul.Tubuh gadis itu terguncang-guncang hebat. Butiran keringatnya mengalir deras. Lastri gadis cantik. Muda belia dan baru saja menikah keadaan saat ini sesungguhnya sangat menyakitkan dan merendahkannya sampai ke titik nadir. Namun sebagai wanita muda yang baru mengenal dan mengexplorasi nikmatnya malam pertama, tubuhnya terlalu jujur untuk mengingkari kenikmatan stimulasi-stimulasi cabul yang terfokus di area intimnya. Meskipun perbuatan itu dilakukan oleh pria yang samasekali tak mempunyai hak untuk mengakses tubuhnya. Secara perlahan namun pasti, bara api birahi mulai membakar gadis itu. Perlahan tubuhnya menggelinjang perlahan, beradaptasi menikmati belaian-belaian nakal pada area intimnya.

"BWA...HA..HA...HA...LIHAT IA SUDAH MULAI KEENAKAN HA...HA...HA...!!!"Lastri terkejut. Gadis itu kembali tersadar akan posisi dirinya. Tak dapat dilukiskan perasaan Lastri saat itu. Air matanya kembali jatuh berderai mengalir deras bagaikan anak sungai. Gadis itu jijik kepada dirinya sendiri yang entah bagaimana, tanpa bisa dikontrol lagi tubuhnya merespon kelamin pria asing yang bersarang di kemaluannya. "Maaf mas...maafkan aku hu..hu..."Tangis Lastri pecah entah untuk kesekian kalinya. gadis itu sangat malu dan marah pada dirinya sendiri. Pinggulnya kini bahkan bergoyang sendiri menyambut sodokan penis pemerkosanya. Liang kelaminnya yang telah lembab basah berdenyut-denyut kencang terekpose tepat diwajah suaminya. Gadis muda itu mencoba memalingkan mukanya. Dicobanya untuk menyembunyikan gurat-gurat nikmat birahi yang tergambar nyata pada ekspresi wajah cantiknya. Matanya tak kuasa menatap suaminya. Nuraninya tak mampu menguasai amuk birahi yang telah bergejolak hebat pada dirinya. Namun jari-jari yang sangat kuat mencengkram dagunya. Dengan kasar memaksa wajahnya nya untuk tetap menghadap suaminya yang tengah meringis kesakitan. "Ugh...sssh...ahhhh.....maaafkan akuuuuuu masss aaaaaaccchhh....sssghhhhhhh oooouuuughhhhh..!!!" tanpa tertahankan lagi tubuh polos Lastri mengejang hebat. Gadis itu telah mencapai titik orgasmenya. Liang kelaminnya beberapa kali berdenyut kencang meremas-remas daging kenyal batang kelamin yang menjejali lobang

kelamin gadis cantik itu. Tubuh polos Lastri terkulai lemas bermandikan cairan lendir-lendir kenikmatan yang berwarna putih kental. "WOOY LIHAT NIH....!!! SUDAH AKU BILANG BUKAN? ISTRIMU INI KEENAKAN BWA...HA...HA...HA...HA..." para pemerkosanya tertawa kegirangan. Dipamerkannya cairan kewanitaan Lastri yang berlumuran dijarinya ke wajah Dasirun. Pria itu geram bukan kepalang. Hatinya remuk redam. Rasa kecewa yang amat sangat menusuk-nusuk hatinya. Jauh lebih sakit dari siksa fisik yang ada.Tak habis fikir olehnya bagaimana mungkin istrinya yang cantik dan setia bisa terbuai oleh permainan birahi yang menjijikan. Pria malang itu tak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya begitu menikmati perkosaan biadab itu.

Tak usai disini penderitaan Lastri. Tiga orang sekaligus langsung menggumuli tubuh telanjang gadis itu yang masih tergeletak lemas kelelahan. Segala jerit dan pekik minta ampun dan kesakitan gadis malang itu sama sekali tak digubris. Cairan sperma yang hampir mengering berceceran menghiasi anak-anak rambutnya yang terurai awut-awutan. "Aduuuh...!! Ampunn sakiiit arghhh ah...ah...ahhh...ooohhh tidak jangan disituuu arrrgh....."Tiba-tiba Lastri merasakan lobang anusnya digerayangi. Sebuah jari, tanpa permisi mencoba memaksa membuka sedikit-demi sedikit lobang pembuangannya yang paling pribadi. Dengan kasar jari-jari itu semakin dalam menghunjam liang pantatnya yang kini serasa panas membara. Tak usai disitu saja, dua ruas jari sekaligus secara cepat mengocok lobang anusnya dengan brutal. Menimbulkan rasa nyeri dan panas serasa terbakar yang luar biasa. Seakan tak mau kalah, dua orang prajurit secara kesetanan mengulum-ngulum kedua belah payudara Lastri yang membulat sempurna secara bergantian. Pentil susunya yang memanjang sepanjang ujung ruas jari pertama segera lenyap di mulut jelek mereka. Dengan rakusnya, dihisapnya kuat-kuat ujung pentil susu yang kini sudah sepenuhnya dalam mulut mereka. Tak bosan-bosannya lidahlidah kasap mereka memoles puting Lastri menimbulkan sensasi rasa geli yang luar biasa. Bagai dua orang bayi yang kelaparan, dengan buas serdadu Jepang itu menyusu pada bulatan indah daging kenyal yang menggantung indah menghiasi dada milik Lastri. Tubuh Lastri yang telah total tanpa busana semakin lemah tak berdaya menjadi bulan-bulan mereka. Baru kali ini aku menyaksikan proses persetubuhan antara pria dan wanita. Jujur sama sekali, walau sudah sedewasa ini, aku belum pernah tau tentang bersetubuh. Aku juga baru kali ini secara explisit menyaksikan tubuh telanjang seorang wanita dewasa dengan seutuhnya. Dulu pernah secara tak sengaja aku memergoki nonik Julia sewaktu sedang ganti baju Lastri yang memergokiku langsung melotot dan menjewerku

"Kalau mener tahu kelakuanmu, kamu bisa di usir loh Rip, jangan main-main kamu."

mata Lastri yang hitam bening seakan menusuk jantungku. "A..aku cuma lewat aku tak sengaja yakinlah sumpah...sumpah"Aku tergagap-gagap berusaha membela diri. Mata Lastri yang tajam menatap penuh selidik raut wajahku yang bersemu memerah menahan malu beberapa saat ia menatapku dalam-dalam penuh selidik namun ia akhirnya mempercayaiku "Yo wis Rip lain kali jangan di ulangi ya." aku bernafas lega, ia lalu melarangku untuk mengulangi lagi perbuatanku itu. Meskipun Lastri adiku, namun pada kenyataannya ia malah mirip ibuku. Daya tangkapku yang lemah membuatku lebih mirip anak-anak yang terperangkap dalam tubuh dewasa. Sejak kedua orang tua kami meninggal, praktis Lastri yang menggantikan peran ibu dalam mengurusku. Malamnya aku tidak bisa tidur. Tubuh telanjang Nonik seakan menggodaku. Aku berusaha kuat untuk melupakan imajinasi cabul yang datang tak diundang itu. Entah kenapa sepertinya ada sesuatu dalam hatiku yang bergejolak liar Aku sendiri tak tahu pasti apa itu. Yang aku rasakan, semakin memikirkan apa yang aku lihat tadi, rasanya aku seperti ingin pipis. Seperti ada kekuatan gaib yang membimbing tanganku untuk mengusap-usap daging kenyal yang menggelantung tepat di tengah selangkanganku. Ada rasa damai dan nyaman luar biasa yang hinggap di hatiku. Perasaan nyaman yang dalam muncul begitu saja entah dari mana saat aku meresapi elusan jari jemari tanganku yang bermain-main pada batang kelaminku sendiri. Namun ancaman Lastri kembali menyadarkan pikiran warasku. Pikiranku bercabang antara mendengarkan ancaman Lastri dan pemandangan indah yang aku lihat tadi. Di samping sensasi aneh yang seakan-akan menendang-nendang keras selangkanganku. Semula aku mengira akan buang air kecil. Namun setelah lama aku menunggu untuk menuntaskan hajatku itu, tak kunjung datang pula. Angin malam yang semilir sejuk semakin membuaiku membuatku kelelahan .Tak lama kemudian aku tertidur. Esoknya aku kebingungan karena celanaku telah basah kuyup oleh cairan kental lendir putih pekat. Aku tak berani menceritakan itu kepada siapapun. Aku malu karena waktu itu aku mengira mengompol kelak baru aku tahu kalau itu sebenarnya mimpi basahku yang pertama.

"Keparat kalian....!!" bentakan Dasirun mengagetkanku dari lamunanku. Usaha Dasirun membuahkan hasil. Prajurit yang menjaganya sama sekali tak menyangka Dasirun masih memiliki tenaga untuk melawan. Prajurit Jepang yang tengah lengah itu terpental diseruduk Dasirun. Tanah kering mengepul berhamburan seolah menciptakan cendawan debu dihempas tubuh tambun perwira Jepang yang sama sekali tidak menyangka korbannya masih berani melawan. "MAMPUS KAMU ANJING....!!!!". Tentara Jepang itu sangat murka kesenangan mereka terganggu. Kepala pria malang itu menggelinding kencang ditebas pedang samurai yang sangat tajam. Tubuh buntung yang telah kehilangan kepalanya itu segera tumbang berdebum. Tamat sudah riwayat Dasirun tanpa sempat mengaduh lagi. "Maaassss.....tidaaaaakk......bajingan kalian semuaa!!!!!" Lastri nampak sangat shock

menyaksikan suami tercintanya tumbang. Malaikat maut menjemput suaminya dengan cara yang sangat tragis. Seakan kehilangan sukmanya, tubuh bugil Lastri hanya bisa tergoncang-goncang keras kian kemari dipermainkan sodokan demi sodokan kelamin pria-pria bejad yang terus menerus membombardir organ intimnya. Seluruh syaraf gadis cantik itu seakan putus sama sekali cubitan dan tamparan yang sebelumnya serasa menyakitkan, kini sama sekali seakan tak bereaksi lagi atas tubuhnya..Bibir gadis itu tercekat, rasa perih batinya jauh mengalahkan nyeri luka puting susunya yang terluka atau rasa perih pada anusnya yang serasa membara. Luka batin yang mengoyak-koyak jiwa jauh mengalahkan derita fisiknya.Tubuhnya membeku tak bergerak membiarkan jari jemari cabul yang terus menerus mempermainkan area-area intim organ kelaminnya. Entah apa yang kini sedang terjadi, tubuh bugil adiku itu kini seakan kosong tiada berjiwa lagi. Semangat perlawananya yang beberapa saat lalu gigih menghalau serbuan tangan-tangan cabul penjajah kelamin,kini seakan menguap lenyap mengiringi kepergian suami tercintanya.Tubuh polosnya yang indah terumbar bebas tanpa seutas benangpun menjadi bahan permainan terlarang para serdadu keparat itu.

Puas melampiaskan nafsu bejad mereka, para serdadu keparat itu menggiring kami berdua ke markas besar mereka. Disana kami dimasukan kedalam sel yang penuh sesak. Para tahanan wanita kebanyakan dalam keadaan tanpa busana sama sekali. Aku bergidik ngeri menatap satu persatu tubuh-tubuh wanita telanjang itu. Sebagian besar aku dapat mengenali mereka, tak susah untuk mengenali mereka karena desa kami adalah desa kecil mereka sebagian besar adalah para wanita terhormat istri-istri atau anak-anak dari para tuan tanah Belanda yang berhasil ditawan oleh bala tentara Iblis. Kehidupan mewah yang bergelimang harta, baju-baju indah berbahan sutera yang setia membalut tubuh indah para wanita terhormat itu, kasur empuk yang nyaman yang selalu siap untuk menerima tubuh lelah mereka. Tiada seorangpun dari mereka yang menyangka akan mengalami nasib seperti ini. Kini tembok kusam dan ruangan yang bau mengurung tubuh letih mereka. Jangankan baju sutera. Kini bahkan para wanita cantik terhormat yang dulu biasa hidup enak berkecukupan harus menggigil kedinginan meringkukan rapat-rapat tubuh putih mulus mereka yang kini tanpa busana lagi. Keadaan mereka bahkan lebih buruk dari hewan ternak peliharaan mereka dulu. "Jangan...jangan....tiddaaaak.....tidaaaak....!!!" Mei-Mei putri babah Ahong satusatunya keluarga babah Ahong yang selamat dari pembantaian Jepang menjerit-jerit histeris. Aku masih mengenalinya. Tubuh bugilnya meronta-ronta tak berdaya ditindih seorang pria setengah baya yang berkulit hitam pekat entah siapa namanya, namun aku mengenalnya dulu sebagai seorang kuli di rumah babah Ahong. Aku terkejut dan merasa jijik menyaksikan perbuatan mesum tua bangka itu. Entah apa yang dipikirkan pria itu tega-teganya ia memperkosa putri majikannya sendiri. Padahal keadaannya sendiripun tidak lebih baik. Sekujur tubuhnya masih dihiasi luka bekas cambukan yang masih basah.

Memang nafsu birahi tak memandang strata maupun usia.. Naluri primitif itu sama tuanya dengan umur bumi. Hanya akal budi yang bisa menjadikannya menjadi suatu ikatan suci yang indah dengan batasan-batasan norma yang agung. Maka sejatinya orang yang akal budinya sudah tak mampu mengontrol nafsu birahinya, maka tiada bedanya lagi ia dengan seekor binatang. Dan hal itulah yang terjadi pada pria itu. Aroma kematian yang sudah sedemikian dekat pada dirinya masih tak mampu menyadarkannya.Pria itu lebih memilih memuaskan nafsu primitifnya pada putri majikannya yang cantik.Putri yang seharusnya ia lindungi. Nafasnya memburu kencang. Sama kencangnya seirama dengan pinggulnya yang dengan cepat memompa selangkangan gadis cantik putri majikannya sendiri. Hatiku terenyuh menyaksikan adegan mesum ini. Ingin rasanya aku menghalau pria separuh baya yang sudah bau tanah itu.Namun aku juga menyadari status dan keadaan diriku yang juga masih kacau balau bukan kapasitasku untuk mampu mencegahnya Para tuan-tuan Belanda lain yang dulunya sangat diseganipun tak berbuat apapun untuk mencegah perbuatan biadab yang sedang berlangsung di depannya. Mereka masing-masing terpekur dalam kesedihannya dan kerisauan hatinya masing-masing tanpa sedikitpun peduli terhadap keadaan sekitarnya. Lingkungan sel ini memang sudah menjadi kandang ternak yang buruk. Cuma binatang yang bertubuh manusia yang kini menghuni sel laknat ini. "HA...HA...HA...BAGUS....BAGUS....HA....HA.....HA...HAYO BIKIN BUNTING MAJIKANMU ITU BWA...HA...HA...HA...HAH....!!!." entah kenapa para prajurit brengsek itu selalu berteriak kalau berbicara. Kasihan Mei-Mei tak seorangpun yang mau menolongnya prajurit penjaga malah justru tertawa terbahak-bahak menyemangati aksi cabul tawanannya. Para prajurit itu sengaja mengurung tawanannya bercampur jadi satu antara pria dan wanita. Prajurit itu ingin menciptakan kehancuran moral yang luar biasa untuk para tawanannya dengan demikian para tawanannya itu akan selalu dihantui oleh teror jahat yang tak mungkin dilupakan seumur hidupnya

Aku tak mau untuk memperhatikan mereka lebih lama lagi.Tubuh Mei-Mei yang putih bersih terlihat kontras dengan pria legam yang menggagahinya.Rintihan-rintihan gadis malang itu semakin lirih gadis itu menyadari nasib buruknya yang menakdirkannya menjadi budak pelampiasan nafsu hewani. Mataku menyapu seluruh ruangan berbau busuk ini. Aku berharap bisa menemukan nonik Julia. Setelah membaringkan Lastri yang pingsan, aku berjalan keliling di Sel yang cukup besar ini. Doaku nampaknya dikabulkan.Diantara para tahanan wanita itu aku dapat mengenali salah seorang wanita yang sudah tak asing lagi bagiku. Ya nonik Julia, nampaknya gadis malang itu pingsan. Meskipun tubuh bugilnya diam tak bergerak namun buah dadanya yang membusung indah dengan puting susunya yang berwarna pink cerah masih naik turun teratur beraktifitas mengolah nafas. Entah kenapa jantungku berdegup kencang tak menentu. Bayangan Lastri dan Mei-Mei yang diperkosa, tanpa permisi bersliweran didalam kepalaku. Keadaan gadis cantik itu sangat menyedihkan. Tubuhnya yang putih mulus kini penuh bercak-bercak merah bekas cupangan. Selangkangannya yang dihiasi bulu kemaluan yang pirang keemasan seperti bulu jagung nampak mengalir darah disertai cairan putih kental lengket yang membanjiri pahanya. Dengan hati-hati aku mencoba menyadarkan Nonik. Ragu-ragu aku

mencoba membersihkan tubuh mulusnya. Entah kenapa tanganku gemetar hebat ketika kulit kami bersentuhan. Tubuhnya lumayan berat mau tidak mau aku terpaksa menjamah payudaranya yang begitu halus,lembut dan terasa kenyal saat aku mencoba menyeretnya agar bisa berbaring di samping Lastri. Aku terkejut tanpa bisa aku kendalikan kemaluanku perlahan-lahan bangkit berdiri. "Memalukan...memalukan sungguh terlalu kenapa aku ini..?" Aku mengutuki diriku sendiri. "Apa yang aku pikirkan....?" Aku mengambil nafas dalam-dalam aku samasekali tidak mengerti padahal aku tidak memikirkan sesuatu yang cabul. Memang peristiwa pemerkosaan Lastri dan Mei-mei sempat melintas di kepalaku tapi aku cuma teringat saja. Aku tak mungkin terangsang oleh hal biadab seperti itu meskipun aku cacat dan bodoh tidak mungkin aku berbuat serendah itu. Aku akan loyal budi baik Mener akan selalu aku ingat.

"Rip tolong jaga putriku lindungi ia dengan segenap jiwa dan ragamu Rip, aku percaya kepadamu sama seperti leluhurku. Dulu kakekku bersama kakek buyutmu, sudah turun temurun keluarga kita saling menjaga." itulah kata-kata terakhir mener kepadaku. Aku bersumpah dengan segenap jiwa dan ragaku akan melindungi Nonik apa lagi saat-saat menjelang ajal menjemput mener, beliau sempat menitipkan Nonik padaku. "Jadilah jujur dan setia itu saja Rip kunci menjadi seorang pria sejati." pesan mendiang bapakku kembali terngiang. Aku lalu menyobek bajuku menjadi beberapa serpihan kain. Aku lalu memakaikan potongan-potongan kain bekas bajuku ke tubuh Lastri dan Nonik. Walaupun tak cukup untuk menutupi tubuh telanjang keduanya. Aku hanya menyisakan secarik kain yang juga tak cukup sempurna untuk menutup seluruh kemaluanku yang besar. Tapi siapa peduli lagipula hampir semua penghuni sel ini senasib denganku jadi apa yang salah dengan kelamin kami. Demikian aku menguatkan hatiku. "Surip...?!.."mata gadis pirang itu berkaca-kaca.. "Iya non...Non baik-baik saja bukan...?" pertanyaan konyol. Dengan kondisi tubuh telanjang dan berlumuran sperma yang telah mengering mana mungkin Nonik baik keadaannya.Tapi aku tetap konsisten mencoba menghibur putri majikanku itu.

Ia hanya mengangguk lemah isak tangisnya perlahan muncul gadis cantik itu tak kuasa untuk menahan kegetiran hatinya hal-hal buruk yang tak pernah tak terbayangkan sebelumnya secara kejam telah mengoyak-koyak kehidupan indahnya. "Rip...mana suamiku Rip...? Mana dia....?" kembali aku dikagetkan Lastri yang rupanya juga telah siuman. "Suamimu....suamimu telah meninggal nduk....?" Ada beban berat yang menghimpit

pita suaraku membuat tenggorokanku begitu berat untuk meluncurkan kalimat itu. Aku tahu kenyataan itu sangat menyakitkan tapi aku tak bisa berbohong lagi walau begitu pahit kenyataan namun aku tetap berprinsip Lastri harus tahu.

"Kang mas...hu..hu.....hu...." aku membiarkan Lastri memelukku tangisnya pecah tak tertahankan lagi air matanya terasa hangat membasahi bahuku. Dengan ragu aku membelai-belai rambutnya. "Sabar...ya nduk sabar....sementara sabar dulu nanti aku pikirkan cara untuk kabur dari tempat ini."Aku sendiri sebenarnya tak yakin akan ucapanku. Namun mungkin itu satu-satunya kalimat bijak yang pantas aku ucapkan untuk memberikan secercah harapan pada dua gadis yang sedang ketakutan. "Non sudah berapa lama disini..?" aku bertanya kepada Nonik nampaknya gadis itu lebih tegar dari Lastri walaupun gurat-gurat kesedihan masih membekas dalam pada raut wajahnya yang cantik jelita. "Sudah seminggu Rip. Aku sarankan lupakan idemu itu Rip sudah banyak yang mencoba melarikan diri. Semuanya sia-sia. Prajurit biadab itu sungguh sangat kejam siapapun yang tertangkap akan disiksa habis-habisan dahulu sebelum kemudian dibiarkan mati sendiri."Nonik menatap mataku mencoba menghalangi niatku untuk kabur dari tempat terkutuk ini. "Non Julia...aku...aku...." Lastri tak mampu meneruskan ucapannya air matanya kembali berderai. Adiku terlalu sedih meratapi deritanya. "Sudahlah....kita semua senasib yang penting sekarang bagaimana kita bertahan saja."Nonik lalu memeluk Lastri.Adiku tersedu-sedu dalam pelukan majikannya yang kini senasib dengannya. "Tidak...lebih baik aku mati daripada menanggung malu begini.....!!"Tangis Lastri semakin keras keduanya pun kembali larut dalam kesedihan. "Mereka tidak akan membiarkanmu mati semudah yang kau pikir. Lihat diriku ini. Lihat gadis itu...semakin kamu melawannya, mereka semakin senang. Kamu akan semakin dipermainkan oleh para keparat itu" setengah berbisik suara gadis cantik itu seakan tertahan dibatang tenggorokannya.

Kami bergidik mendengar ucapan Nonik. Kulihat Mei-Mei tergolek lemas, selangkangannya yang dihiasi bulu kemaluan yang sangat lebat sudah basah kuyup oleh cairan sperma. Dengan terisak-isak gadis berkuning langsat itu mencoba membersihkan kemaluannya dari sisa-sisa sperma. Sementara pria bejad yang baru saja memperkosanya tersenyum-senyum penuh kepuasan memandang tubuh bugil korbannya. Tiba-tiba pintu sel terbuka. Beberapa serdadu bersenjata lengkap menyeruak masuk.Si Botak yang tadi pagi memperkosa Lastri nampak diantara mereka.

"Non mereka mau apa lagi Non..?" dengan suara bergetar ketakutan Lastri bertanya. Trauma perkosaan yang dialaminya tadi pagi belum juga sirna gadis itu menjadi sangat ketakutan setiap kali melihat Tentara Jepang itu. "Kamu diam saja usahakan jangan sampai menarik perhatian mereka." raut cemas tergurat di wajah cantiknya gadis itu nampak menahan nafasnya. Suara langkah para prajurit itu terdengar nyaring memecah kesunyian. Beberapa diantara gadis-gadis yang sudah mereka pilih meronta-ronta. Tanpa ampun mereka yang masih mencoba meronta langsung dihadiahi tamparan. Jantungku terasa berhenti. Salah seorang perwira mereka berhenti tepat di muka kami. Matanya yang cabul menyala-nyala menjelajahi tubuh Lastri dan Nonik yang nyaris telanjang meringkuk menggigil ketakutan terpojok disudut dinding sel yang kotor "BAWA YANG INI....YANG ITU JUGA HA...HA....DIA MASIH BARU MEMEKNYA MASIH SEMPIT TADI PAGI BARU AKU ENTOTIN KOMANDAN PASTI PUAS DEH BWA...HA...HA..." Si Botak yang bercambang lebat mirip wajah pepy itu cengar cengir kurang ajar menatap tubuh bugil Lastri dan Nonik yang menggigil ketakutan. "Jangan coba...coba...ganggu mereka berdua." aku geram sekali dengan perlakuan para prajurit biadab itu.Entah datang dari mana tiba-tiba saja keberanianku muncul begitu saja.

"Plaaak...!!"Sebuah tamparan yang keras mendarat dipipiku.Dunia serasa berputar pipiku sangat panas akibat tamparan itu tapi aku masih mampu bertahan. 'PLAAK!!"Lagi-lagi sebuah tamparan yang lebih keras mendarat dipipiku badanku kali ini nyaris tak kuasa menahannya. "Cukup...hentikan.tuan....tolong"Tiba-tiba Nonik melangkah maju entah apa yang dipikirkan gadis itu.Aku sama sekali tidak mengharap Nonik menolongku. "O O O ADA MALAIKAT DISINI YA BWA...HA...HA..."Si Botak itu kembali tertawa bekakaan entah apa yang dimakannya nafasnya sangat bau hingga membuatku muak. "HEH CANTIK..... SIAPA ANJING BUDUK INI HAH...PACAR BARU KAMU YA...????!!!!.BWA...HA...HA...HA..."Dengan kurang ajar tiba-tiba tangan si Botak itu nyelonong meremas Payudara Nonik.Gadis cantik itu spontan terpekik kaget. "Bajingan...!!!! Jangan coba-coba kau ganggu majikanku."Aku mencoba melesat maju tanganku terkepal erat-erat ingin rasanya aku meninju si botak yang sangat kurang ajar. Namun usahaku sia-sia beberapa anak buahnya dengan mudah mematahkan seranganku. "O...O....RUPANYA CUMA SEEKOR ANJING BUDUK PENJAGA...

KAU MAU ANJINGMU INI TETAP HIDUP...??? HM....TERGANTUNG BAGAIMANA KAMU BISA MEMUASKAN KAMI SEMUA BARU KAMI PERTIMBANGKAN.....BAGAIMANA?" kembali si botak tersenyum-senyum mesum wajah jeleknya merapat ke Julia. Gadis itu dapat merasakan dengus nafasnya yang bau. Ia itu mencoba memalingkan mukanya namun tangan kuat si botak tak membiarkanya begitu saja lidahnya yang panjang menerobos masuk telinga Julia sehingga si cantik itu menggelinjang kegelian. "Jangan...jangan....non.." aku mencoba memberontak penghinaan mereka sungguh keterlaluan bajingan seperti mereka sudah sepantasnya dicampakan kedalam neraka yang paling dalam.

"PLAAAK....."Lagi-lagi aku dihadiahi sebuah tamparan.Dengan tersenyum, kini si botak itu menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.Wujud fisikku yang tak sempurna membuat si botak tertawa terpingkal-pingkal mata sipitnya semakin tenggelam dalam bongkahan pipinya yang bersemu merah. "HEH ANJING....!!! DENGAR ....YA NANTI KAMU BAKAL BERTERIMAKASIH KEPADAKU...KAMU MAU KAN NGENTOTI MAJIKANMU ITU TADI MAJIKANMU BILANG PADAKU IA MAU DIHAMILI KAMU TAPI IA MALU UNTUK MENGATAKANNYA BWA...HA...HA...HA... "Cuih..!!!"Aku mencoba meludahi mereka namun akibat tindakanku itu semakin membuat mereka murka. "BUK...BUK...!!!...AAArrghhh.."Pandanganku langsung berkunang-kunang aku langsung terjatuh dalam posisi terduduk sebuah tendangan yang sangat keras menghunjam perutku membuat seluruh isi perutku serasa berputar-putar nyeri. "Stoop tuan tolong sudah cukup tuan..."Nonik dan Lastri meronta-ronta mereka mencoba menolongku yang tengah meringkuk kesakitan dihajar kawan-kawan si Botak. "SUDAH-SUDAH HENTIKAN AKU MASIH PUNYA RENCANA UNTUK SI JELEK INI!!!." Si Botak mengangkat tangannya memberi komando kepada anak buahnya untuk berhenti menyiksaku. "NAH CANTIK AKU SUDAH BERBAIK HATI BUKAN? NAMUN INI SEMUA TIDAK GRATIS APA PENAWARANMU SEBAGAI IMBALAN KEBAIKAN HATIKU MENGAMPUNI ANJING INI HAH?"Dengan senyum licik si botak itu menatap tajam Nonik dan Lastri yang menggigil ketakutan. "AYO AKU INGIN DENGAR DARI MULUT KALIAN SENDIRI APA PENAWARAN KALIAN?" Si botak itu kembali membuka suara setelah menunggu

beberapa saat Lastri dan Nonik diam membisu kedua gadis itu saling berpandangan dengan tatap mata yang penuh ketakutan.

"AA.....AAAARGHHHHHHH!!!!!" tubuhku terpental beberapa jengkal ketika sebuah tendangan lagi-lagi mendarat di perutku. "KALIAN JANGAN COBA-COBA MENGUJI KESABARANKU.....INI PERINGATAN TERAKHIR AYO CEPAT KATAKAN PENAWARAN KALIAN AKU MAU DENGAR....!!!!" kembali si botak membuka suara tapi kali ini nada bicaranya semakin tinggi. "Ka...ka...kami...akan mematuhi semua perintah tuan..."Dengan terbata-bata Nonik dan Lastri akhirnya bersuara juga. "BAGUS....NAH SEPERTI ITU DONK.....YAKIN KALIAN AKAN MENURUTIKU..? BEGINI SAJA DEH KALAU KALIAN BERANI SEDIKIT SAJA MENOLAK PERINTAHKU MAKA PRIA INI AKAN SEGERA AKU CINCANG UNTUK MAKANAN ANJING BAGAIMANA?" dengan senyum kemenangan si botak kembali menatap lekat-lekat Nonik dan Lastri. "HA...HA....HA....BAGUS....BAGUS....."Bagaikan suara iblis yang terlepas dari neraka tawa mereka yang menjijikan pecah berderai memecah kesunyian sel terkutuk ini. "NAH MULAI SEKARANG KITA PUNYA 2 EKOR ANJING BETINA YANG CANTIK HA....HA....HA..."Masih bisa kusaksikan air mata Nonik meleleh meskipun gadis itu tak bersuara sama sekali. "NAH INI PERINTAH PERTAMA...COPOT KAIN BUSUK ITU CEPAT...!!! SEEKOR ANJING SEPERTI KALIAN TAK SEPANTASNYA BERPAKAIAN BUKAN BWA...HA....HA..." bagaikan suara petir, Nonik dan Lastri terkejut mendengar perintah pertama mereka lutut gadis cantik itu gemetar hebat jantung mereka semakin berdegup kencang jauh dari lubuk hati kecil mereka, ingin semuanya ini hanya mimpi buruk sejenak mereka memandangku aku menggelengkan kepalaku aku tak ingin mereka diperlakukan seperti binatang oh..lebih baik aku binasa saja daripada menyusahkan mereka. Mereka tak berani membantah lagi, mereka sadar setiap konsekwensi yang akan terjadi kalau mereka membantah masih segar dalam ingatan Nonik dan Lastri yang terjadi pada orang-orang yang mereka cintai.Kedua gadis cantik itu tak ingin kehilangan lagi satu-satunya orang yang masih tersisa.

Dengan tangan gemetaran satu persatu sisa-sisa kain penutup tubuh mereka jatuh berguguran. Tak makan waktu lama dalam sekejap keduanya kembali telah telanjang bulat tanpa seutas benangpun. Wajah keduanya nampak merah padam dada mereka naik turun dengan cepat nafas keduanya memburu cepat Lastri dan Nonik berusaha

menutupi organ-organ intimnya dari sapuan tatapan mata mesum para prajurit cabul itu. Si Botak lalu berjalan berkeliling memutari tubuh bugil tawanannya yang menggigil ketakutan dua gadis malang itu bagai anak domba yang tengah dalam kepungan srigala lapar yang buas. Tiba-tiba Nonik menjerit tertahan. Gadis cantik itu terkejut bukan kepalang secara tiba-tiba bulatan pantatnya yang kenyal diremas dengan penuh nafsu oleh si Botak. Nampaknya pria cabul itu sudah hampir tak bisa menguasai dirinya lagi jakunnya naik turun dengan cepat begitu pula dengan para anak buahnya beberapa kali dari mereka menelan ludahnya sendiri. Botak lalu menjentikan jarinya salah seorang anak buahnya lalu maju menyerahkan sesuatu kepadanya. "PERINTAH KEDUA AKU MAU KALIAN MEMAKAI INI....!!! BAGAIMANA TEMAN-TEMAN COCOK TIDAK...??? NANTI SETELAH ACARA INI SELESAI AJAK MEREKA UNTUK BERPATROLI KELILING DESA...!!!"Botak lalu menyerahkan seutas kalung kulit yang terhubung dengan rantai logam yang biasa digunakan untuk anjing mereka. "A..aaampun Tuan....ja...jangan...kami...."Belum sempat Nonik menyelesaikan ucapannya suara bengis botak langsung mengglegar 'KALIAN MASIH INGAT JANJI KALIAN BUKAN? INGAT INI PERINGATAN TERAKHIR SETELAH INI ANAK BUAHKU AKAN LANGSUNG......."Bentak botak sambil memberikan isyarat tangannya membelah leher Dengan berurai air mata kedua gadis malang itu tak bisa lagi membantah mereka menelan bulat-bulat segala penghinaan yang sangat merendahkan harga diri mereka sebagai manusia.

Sulit untuk menyangkal kecantikan Nonik meskipun adikku juga cantik namun tentu saja cantiknya berbeda.Gadis pirang itu memang benar-benar cantik luar biasa. Dengan rantai anjing yang melingkar di leher jenjangnya yang putih bersih, penampilan Nonik sangat sexy luar biasa. Tampil polos tanpa secuil kainpun. Kini penampilan gadis pirang itu benar-benar membangkitkan birahi para pria untuk segera menunggangi tubuh telanjangnya. Aku bisa merasakan kesedihan Nonik. Gadis cantik kaya raya dari keluarga terhormat seperti dirinya yang boleh dikatakan tidak pernah mengalami kesusahan tiba-tiba harus berakhir seperti ini meskipun tangis Nonik tidak sekeras Lastri namun aku tahu gadis itu sedang terluka hebat batinnya..Aku sungguh merasa tak ada guna gadis secantik Nonik rela berkorban demi diriku.. "AYO JALAN..........!!! HEH SIAPA YANG SURUH KALIAN BERJALAN DENGAN DUA KAKI....?!!!! KALIAN LUPA KALAU SEKARANG KALIAN ANJING? AYO JALAN MERANGKAK.....!!!!.

NAH SEPERTI ITU BARU BENAR BWA....HA....HA...HA..HA...HA!!!!"Betapa remuk redam hati kedua gadis cantik itu. Dengan perlahan mereka menekuk lutut masing-masing. Dalam posisi merangkak susah payah mereka berusaha tak terjatuh mengikuti kecepatan langkah para prajurit Jepang yang menyeret rantai kalung anjing yang terpasang dileher jenjang mereka. "HEH KAU....PAKAI JUGA KALUNG INI....DENGAR KALIAN...!!! MULAI SEKARANG KALIAN ANJING KAMI TERUTAMA KAU BUDUK..!!! JIKA KAU BERANI COBA-COBA SOK JAGO SEPERTI TADI AKU TAK SEGANSEGAN MENYEMBELIH 2 ANJING CANTIK INI MENGERTI KAU...!!!"Aku menggeretakan gigiku sendiri rasa dendam yang amat sangat menguasai diriku sampai mati akan kuingat wajah si botak ini dan aku bersumpah suatu saat nanti akan kupenggal kepalanya dengan tanganku sendiri Tiada jalan lain selain menuruti kemauan sinting para prajurit cabul itu.Aku tak mau perlawananku mencelakakan Nonik dan Lastri meskipun itu artinya aku menyerahkan harga diriku sebagai seorang pria

"BAGUS.....!! KOPRAL MULAI BESOK BAWA 3 ANJING BARU KITA UNTUK PATROLI MENGAMANKAN DESA INI..... MENGERTI...???!!!! NAH SEKARANG KITA SENANG-SENANG DULU.... BAGAIMANA DENGAN YANG LAINNYA....?? SUDAH KALIAN PILIH GADIS-GADISNYA...? BWAHAHAHAHAHAH BAGUS AYOOOO WAKTUNYA PESTAAAA.....!!!!!". Ada kira-kira 50 orang gadis termasuk Lastri dan Nonik yang semuanya cantik-cantik hanya aku seorang satu-satunya tawanan pria yang dibawa para prajurit Jepang itu.entah apa yang akan mereka lakukan kepada kami aku hanya bisa berdoa semoga semuanya cepat berakhir dan kami bisa melarikan diri dari tempat terkutuk ini. Dengan susah payah aku berusaha untuk tidak terjatuh.. Para prajurit keparat itu khusus memperlakukan kami seperti anjing. Dengan berjalan merangkak susah sekali mengikuti langkah kaki para prajurit itu yang berjalan cepat. Kalung leher yang mengikat leherku terasa sangat menyiksa membuat nafasku tersengal-sengal. Nonik merangkak tepat di depanku.Pantat gadis cantik itu membulat sempurna. Daging pantatnya nampak montok kenyal menggemaskan. Pantat indah itu bergoyang kian kemari mengikuti gerakan pinggulnya. Aku bisa melihat lobang anusnya yang merah agak kecoklatan meskipun lobang anus Nonik sedikit tertutup bulu-bulu kemaluannya yang tumbuh liar meremang sampai ke belahan pantat gadis cantik itu. Mungkin karena sudah seminggu gadis cantik itu tak mempunyai kesempatan untuk merawat organ intimnya sehingga kini bulu-bulu kemaluannya tumbuh lebat tak terurus bagaikan ilalang yang tumbuh liar di musim gugur yang berkilau kilau keemasan

bermandikan cahaya surya. Mataku secara tak sengaja menatap bulatan payudaranya yang menggelantung indah. Payudara Nonik yang besar terlihat membulat kenyal. Bulatan dagingnya yang lembut nampak simetris sempurna dan proporsional, dengan hiasan puting susunya yang merah muda agak kecoklatan. Payudara si cantik itu terlihat makin luar biasa dilihat dalam keadaan posisi merangkak. Mungkin akibat gravitasi bumi membuat seluruh sel-sel kelenjar susu yang berada didada gadis itu menyebar menekan secara sempurna kesegala penjuru.sehingga benar-benar menciptakan bentuk bulat yang sempurna.

"Surip....apa yang kamu pikirkan.!!!" tiba-tiba suara hatiku membangunkanku dari lamunan.Aku merasa malu dan jijik pada diriku sendiri begitu menyadari kemaluanku sudah tegak mengacung. Bagaimana mungkin aku masih berpikir mesum dalam keadaan seperti ini. Pemandangan yang begitu indah tersaji didepan batang hidungku. Aku samasekali tak berdaya menghalau naluri alamiahku sebagai laki-laki normal. Oh Tuhan, oh mener maafkan aku. Surip sama sekali tak bermaksud tak senonoh terhadap putri tuan. "BWA....HA...HA...HA...!!! LIHAT....!!! ANJING BUDUK INI SUDAH BIRAHI INGIN NGENTOTIN MAJIKANNYA. HEH MANA JANJIMU UNTUK MELINDUNGI MEREKA....HAH?? JANGANKAN MELINDUNGI, KAMU MALAH INGIN NGENTOT SAMA MAJIKANMU ITU BUKAN ...??!!! "LIHAT TUH KONTOLMU GA BISA BOHONG SUDAH NGACUNG MINTA JATAH BWA...HA...HA...HA..HAH" "SUDAH AKU BILANG DARI TADI KAMU INI TAK LEBIH DARI SAMPAHSAMPAH SEPERTI MEREKA" "JANGAN BELAGU KAU SOK JAGOAN KAMU MEMANG PENGKHIANAT BUKAN BWAHAHAHAHAHA." Bagaikan ditampar oleh ribuan tangan, wajahku terasa sangat panas. Saat ini aku benar-benar mengharapkan lebih baik aku dipukuli oleh mereka daripada dipermalukan seperti ini.Umpatan, makian dan ejekan mereka sangat menyakitkan hatiku. Aku sendiripun sama sekali tak menginginkan ini terjadi. Bukan salahku kalau kemaluanku menjadi tegang seperti ini. Aku sama sekali tidak pernah memerintahkan atau memikirkan sesuatu yang cabul terhadap Nonik. Semuanya terjadi begitu saja. Aku merasa sangat berdosa. Sebenarnya jarak Sel tahanan ke aula barak militer mereka tidak jauh hanya beberapa meter saja tapi entah kenapa waktu serasa berjalan sangat-sangat lambat. Ya Tuhan kapan semua ini berakhir. Aku rasa bukan cuma aku tapi kami semua yang menjadi korban mempunyai doa yang sama tapi entah kenapa yang maha kuasa seakan tak mendengarkan kami.

Ratusan serdadu Jepang itu berkumpul di tengah ruangan aula. Dahulu Aula ini digunakan sebagai kantor pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Beberapa meja yang

cukup lebar disusun sekenanya membentuk seperti panggung sebagian dari serdadu itu sepertinya sedang mabuk berat mereka tertawa terkekeh-kekeh sambil membelaibelai senapan mereka layaknya sedang memeluk wanita. Ruangan yang dulunya sangat bersih dan rapi itu kini berantakan dan kotor bercak-bercak darah yang sudah mengering nampak berceceran di lantai dan beberapa dinding.Laskar liar ini memang benar-benar sangat jorok tidak seperti para mener-mener yang dulu ngantor di tempat ini yang selalu tampil bersih dan wangi dengan baju putih dan topinya. Prajurit liar ini lebih tepat kalau disebut dengan begundal tengik. "KAU TUNGGU DULU DISINI.... SANTAI SAJA NANTI KAU JUGA DAPAT GILIRAN.... TAPI GILIRANMU PALING AKHIR..... BAHKAN SETELAH PARA ANJING KAMI DAPAT GILIRAN BWA...HA..HA..HA..HA TUGASMU NANTI BERSIHIN AMPAS-AMPAS KAMI INGAT BERSIHIN YANG BERSIH YA BWA...HA...HA...HA..HA Kata-kata kotor berhamburan meluncur dari mulut mereka.Tubuhku meronta kesakitan saat salah seorang tentara itu dengan kasar mengikatku erat-erat. Mereka lalu mengangkat dan membanting tubuh telanjangku begitu saja ke atas meja yang telah mereka susun. Jerit tangis bercampur derai tawa yang menjijikan riuh rendah campur baur. Pemandangan yang aku saksikan selanjutnya sungguh sangat menjijikan. Tubuh-tubuh telanjang para gadis belia itu bergelimpangan digumuli tanpa daya. Mereka dipaksa melayani beberapa orang sekaligus rata-rata mereka melayani hampir 15 orang dan masih banyak lagi yang mengantri menunggu giliran. "Tidaaaak......tidaaaak mau....tolong....papa....papa...tolong...."Seorang gadis berambut pirang lainnya tiba-tiba berhasil meloloskan diri. Dengan menjerit-jerit histeris ia berhasil meraih sebuah pedang samurai yang tergeletak diantara tumpukan seragam tentara yang berserakan dilantai. Dengan membabi buta gadis itu mencoba memberikan perlawanan. Tubuh bugilnya yang bercucuran keringat nampak indah berkilat-kilat diterangi nyala lampu. Meskipun payudaranya tak sebesar milik Nonik tetap saja bulatan daging kenyal yang menggemaskan itu nampak indah bergoyang liar kian kemari seirama gerakan si empunya tubuh

"DOR......DOR....!!!!!" "Auuuwghhhhh...!!!" gadis cantik itu melolong kesakitan jeritannya begitu menyayat hati. Perlawanannya yang gigih tak berlangsung lama. Dalam sekejap tubuh bugil gadis malang itu jatuh tumbang terjerembab menghempas tanah. Kaki mulusnya yang jenjang dengan betisnya yang mbunting padi tanpa ampun diterjang timah panas para serdadu bejat itu.

"CTAAARZ.....TARZ....!!" tanpa belas kasihan sama sekali salah seorang prajurit Jepang itu mengayunkan cemetinya. Mata cambuk yang tajam itu segera mengoyak tubuh mulus gadis pirang yang malang itu.Tubuh telanjang itu langsung berkelojotan meregang sakit yang amat dahsyat mendera tubuhnya "DENGARKAN KALIAN SEMUA....!!!! LIHAT PELACUR INI....PERHATIKAN IA BAIK-BAIK IA AKAN MENJADI CONTOH BAGI KALIAN YANG BERANI COBA-COBA MELAWAN KAMI NGERTI....!!!!" "AAA....AAARGHHH.....SAAAKIT AMPUNNN !!!!" jerit kesakitan terdengar memilukan meraung-raung memecah kesunyian malam yang harusnya terjadi. Segala jerit minta tolong dan ampun nampaknya sudah terlambat. Tubuh telanjang gadis malang itu diikat erat-erat sedemikan rupa. Tali rami hitam berbahan ijuk yang biasa digunakan untuk mengikat bambu digunakan untuk mengikat gadis malang itu tali-tali itu terasa tajam menusuk kulit. Dililit melingkar dari leher gadis itu. Kemudian dengan sentakan keras, prajurit Jepang itu membuat simpul mati tepat mengikat erat-erat kedua belah payudara montok gadis cantik itu sehingga payudaranya menggembung tegak semakin mengacung. Tali terasa yang tajam itu kemudian diselipkan diantara simpul yang terbentuk ditengah dadanya kemudian ditarik memanjang sampai tepat berada di depan selangkangan gadis malang itu. Ujung tali itu lalu ditarik kuat-kuat membelah celah bibir kelamin gadis itu terus ditarik keatas melewati celah bulatan pantatnya dan berakhir pada kedua tangannya yang dilipat membentuk siku sempurna. Dengan posisi terikat seperti itu tubuh gadis itu sama sekali tak mampu bergerak banyak Tali-tali itu menimbulkan rasa perih dan gatal yang amat sangat pada area yang dilintasinya. Beberapa serdadu Jepang lalu menggotong tubuh telanjang yang sudah tak berdaya itu. Mereka lalu mengikatnya di salah satu tiang kayu yang menjadi penyangga bangunan gedung ini.

"Ouuugh aammpun saaakit aaarghhh" tubuh gadis itu berkelojotan hebat. Dalam keadaan terikat erat-erat pada tiang kayu, para serdadu cabul itu sengaja meletakan lintah pada alat kelamin gadis malang itu, dan menggantung tubuh bugilnya dalam posisi berdiri agak tinggi sedikit dari lantai sehingga mau tak mau gadis itu harus berjinjit untuk menahan berat tubuhnya "KALIAN SEMUA LIHAT...!!! JANGAN COBA MACAM-MACAM KALAU TIDAK MAU BERNASIB SAMA SEPERTI PELACUR ITU MENEGERTI KALIAN...!!' suara si botak menglegar. Meskipun bertubuh pendek, pria cabul itu memiliki suara yang sangat berkharisma yang bisa membuat runtuh semangat lawanlawannya. "Tooolong....ampunn....tolong..." suara gadis malang itu lambat laun mulai melemah Tubuhnya bahkan sudah tak mampu meronta lagi. Bibirnya membiru kontras dengan wajah cantiknya yang semakin pucat pasi. Darah segar nampak meleleh diantar lukaluka bekas cambukan yang masih basah menganganga. Payudaranya yang

membusung sudah nyaris berwarna ungu. Mungkin darahnya membeku lantaran tak bisa mengalir secara sempurna. Sementara ratusan lintah dengan rakusnya menghisapi darah mangsanya yang tak berdaya. Mahkluk kecil berlendir yang menjijikan itu bercokol memenuhi area puting susu dan selangkangan gadis malang itu. Menghisap dengan rakus darah yang mengalir melewati bagian intim gadis malang itu. Melihat penyiksaan yang diluar prikemanusiaan itu membuat runtuh nyali kami semua Meskipun para gadis-gadis itu sudah tak berani memberikan perlawanan, para serdadu itu tetap saja memukuli mereka nampaknya mereka semakin bernafsu jika mendengar jerit kesakitan para korban-korbannya. Pantat-pantat telanjang para gadis yang ratarata berkulit putih bersih itu kini semua telah rata merona kemerahan. Beberapa diantara pantat telanjang itu bahkan jelas-jelas tercitra bekas telapak tangan yang menamparnya. Nampak raut kelelahan dari para gadis cantik itu. Bagaimana tidak mereka harus melayani puluhan atau bahkan mungkin ratusan serdadu cabul. Tubuh bugil mereka telah basah kuyup sepenuhnya oleh lendir-lendir menjijikan yang mulai mengering

Usai melampiaskan nafsu bejat mereka, nampaknya sebagian besar prajurit itu dalam keadaan mabuk berat bahkan untuk sekedar berpakaianpun nampaknya mereka tak mampu. Ruangan megah, anggun yang dulunya merupakan tempat terhormat, kini menjadi saksi bisu kebiadaban laskar-laskar laknat. Seakan lenyap norma-norma kesusilaan yang ada, para serdadu Jepang itu bergelimpangan dalam keadaan telanjang bulat sambil memeluk tubuh telanjang gadis-gadis tawanannya yang menggigil ketakutan "KAWAN-KAWAN......SEKARANG WAKTUNYA MAKAN KALIAN MAU MAKAN APA HAAH???!!!"Dengan tubuh oleng si Botak maju naik keatas panggung tubuh tambunnya nyaris jatuh terjengkang beruntung anak buahnya yang masih sadar buru-buru memapahnya. "SHASIMI....SASHIMI...SIAPKAN NAMPANNYA.!!!" teriakan parau mereka silih berganti bersahut-sahutan diiringi tepuk tangan dan siulan-siulan kurang ajar Beberapa dari mereka yang masih cukup memiliki kesadaran menyeret salah seorang dari gadis malang itu. Dibalik rambut panjangnya yang hitam riap-riapan aku masih bisa mengenali gadis cantik itu. Ya tak salah lagi itu Mei-Mei putri babah Ahong. Gadis cantik berkulit putih itu menggigil ketakutan. Hampir seribu pasang mata milik para prajurit cabul yang berkumpul di aula menatap tubuh bugilnya yang diseret paksa naik ke atas panggung. Walaupun keadaan Mei-Mei sudah berantakan, namun kecantikan gadis itu tak dapat disembunyikan. Dulu sewaktu aku mampir ke rumah babah Ahong, kecantikan gadis ini bahkan lebih sempurna lagi. Kulitnya putih bersih. Walaupun aku tak pernah menjamahnya, namun aku dapat memastikan kalau kulitnya selembut sutera. Mata gadis itu begitu indah. Tidak terlalu sipit seperti gadis cina pada umumnya. Pipinya merona kemerahan segar. Hidungnya juga mancung tapi yang paling menggetarkan hati adalah sepasang alisnya yang luar biasa cantik Alis gadis itu meskipun tebal namun nampak terawat rapi. Aroma rempah-rempah wangi kuat tercium menandakan bahwa gadis cantik ini selalu telaten dalam menjaga penampilan tubuhnya.

"Lihat Rip ci Mei-Mei. Busyet alisnya tebel banget.. Pasti itunya lebat banget deh." Aku jadi teringat ucapan Warto temanku. "Itunya apaan sih To maksudmu....?Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. "Jembut bego...kamu sudah setua ini koq masih goblok sih Rip"Warto nampaknya kesal dengan keluguanku aku memang sama sekali tidak mengerti maksud ucapannya. "Jembut itu opo si?"Aku kembali bertanya dengan tanpa berdosa lha wong saya bener-bener ngga ngerti maksudnya Warto. "Ih iki bocah, dasar goblok iki Rip wulu ning bawuk ( red*bawuk=kemaluan dalam bahasa jawa)Dengan geram Warto merogoh celananya sambil menunjukan cabutan sehelai bulu kemaluannya tepat di depan batang hidungku. "Oalah iku....masa sih To...darimana kamu tahu?"Aku benar-benar keheranan dengan analisa Warto yang terdengar tanpa keraguan sedikitpun. "Dengerin ya Rip, kamu perhatikan ci Mei-Mei waktu kamu bantu dia tadi, lengannya yang putih khan sedikit meremang berbulu. Dan perhatikan bibir atasnya seperti ada kumis mau lebih jelas lagi lihat alisnya semua wanita yang mempunyai ciri-ciri seperti itu aku berani pastikan kalo jembutnya pasti lebat ngerti ora kowe Surip?"Kata Warto sambil menepuk kepalaku "E'eh dasar bocah gemblung kurang ajar tur saru kowe To."Aku sedikit tersinggung ketika Warto menepuk kepalaku. Tapi dalam hati aku membenarkan ucapan Warto. Aku teringat Nonik. Nonik memiliki ciri-ciri seperti itu tapi tidak hitam melainkan pirang keemasan "Lha kalo Nonik piye To?"Tanyaku penasaran. "Ya podo wae Cuma beda warna kalo Mei-Mei kan Cino jadi wulune ya ireng kalo Londo kaya Nonik ya wulune pirang blondi tho dasar dogol kowe Rip"Warto tertawa terbahak-bahak melihat keluguanku. "Ah masa sih To kamu itu penipu. Aku tau kelakuanmu To."Aku sama sekali tidak mempercayai kacung gemblung sahabatku itu "Ya terserah kowe Rip memang aku suka menipu tapi kalo yang ini yakinlah sumpah aku tidak bohong lagi pula apa untungnya nipu kamu?"Warto nampaknya kesal denganku yang tak mempercayainya. "Ya embuh lah aku juga ngga tahu. Namanya kamu juga suka ngerjain aku To"Setengah percaya aku akhirnya tak mempedulikannya lagi

Baru malam ini ucapan Warto seakan membuktikan kebenarannya. Kacung gemblung itu benar 100% Mei-Mei yang kebingungan nampak kesulitan menyembunyikan bulubulu lebat yang tumbuh liar menghiasi selangkangannya. Jari-jemarinya yang mungil tak mampu menyembunyikannya dengan sempurna beberapa helai bulu kemaluan yang hitam lebat itu masih muncul menyeruak nakal diantara celah-celah jemarinya. Gadis cantik itu gelagapan ketika tiba-tiba para prajurit cabul itu menyemprotkan air ke tubuh bugil gadis malang itu. Layaknya memandikan hewan ternak saja, ramairamai mereka memandikan tubuh gadis malang itu dari sisa-sisa lendir menjijikan yang mengotori tubuh mulusnya. Mungkin karena air yang disiramkan begitu dingin, puting susu gadis malang itu langsung beraksi keras. Tak disangka pentil susu yang semula melesak kedalam, tiba-tiba menyembul kira-kira sepanjang ukuran ruas pertama jari telunjukku. Pentil susu coklat kemerahan itu nampak indah. Ranum menghiasi ujung payudara Mei-mei yang cukup besar "HEH BERSIHKAN JEMBUTMU ITU...!!!!" KAMI MAU PINJAM TUBUHMU UNTUK NAMPAN MAKANAN KAMI BWA...HA....HA...HA...HA"Dengan gemetaran tangan gadis cantik itu meraih sebuah pisau cukur yang nampaknya sudah sedikit berkarat. Beberapa saat gadis itu diam mematung. Tangannya menggenggam erat pisau cukur yang dilemparkannya. Sementara para serdadu itu bersiap-siap dibelakangnya dengan ujung bayonet mereka yang terhunus. "AYOO CEPAT....KAMU TAK INGIN SEPERTI PELACUR ITU BUKAN...!!!" Botak kembali membentak gadis malang itu. Mei-Mei melirik kearah gadis pirang yang masih terikat lemah sambil merintih-rintih menahan kesakitan Terisak-isak ketakutan, terpaksa gadis itu menuruti kemauan para serdadu laknat itu Dengan gemetaran, jemari lentiknya menyibakkan bulu-bulu kemaluannya sendiri yang tumbuh lebat. Hati hati ia mulai menyapukan ujung pisau yang tak terlalu tajam itu ke bibir kemaluannya sendiri. Sesekali nampak jelas gadis itu mengernyit menahan sakit bagaimanapun juga pekerjaan mencukur bulu kemaluan tanpa dibantu cream cukur adalah hal yang sangat menyiksa. Apalagi pisau cukur itu sudah sedikit berkarat dan tidak setajam pisau cukur yang masih baru.

Setelah beberapa saat yang menyakitkan, selangkangan Mei-Mei kini telah gundul tumpukan bulu kemaluannya nampak berceceran diatas meja "NAH BAGUS CANTIK SEPERTI BAYI... BWA...HA...HA..HA...HA" Bagaikan terkena tamparan wajah gadis cantik itu langsung merona merah padam menahan malu. Setelah kemaluannya gundul, kini baru nampak kalau itil gadis cantik itu mencuat. Aku tak tahu pasti yang menyebabkannya. Entah akibat digagahi puluhan kelamin laki-laki atau memang sejak awal itil gadis itu sudah mencuat panjang.

'NIH AMBIL..... BERSIHKAN MEJA ITU INGAT KALAU KAMI MASIH MENEMUKAN MESKIPUN HANYA SEHELAI BULU JEMBUTMU, KAU AKAN MENEMANI PELACUR ITU MENGERTI..!!"Botak lalu melemparkan sebuah sapu keatas meja. Buru-buru gadis cantik itu segera meraihnya. Tubuh telanjangnya menggigil hebat Dengan menahan malu yang sangat luar biasa gadis itu menyapu panggung itu dari sisa-sisa bulu-bulu kemaluannya yang berceceran. 'BAGUS SUDAH BERSIH SEKARANG KAMU DIAM BERBARING JANGAN BERGERAK MENGERTI!!!!!" para sedadu itu lalu menyusun ransum makanan mereka ke atas tubuh polos gadis malang itu Para serdadu Jepang itu menjadikan Mei-Mei sebagai sashimi girl. Gadis itu berusaha menahan rasa geli yang menjalari tubuhnya. Daun-daunan sayur mayur itu terasa menggelitiki seluruh tubuhnya. Pori-pori gadis cantik itu seakan membuka lebar merespon rangsangan yang menjalari seluruh tubuhnya "Auuugh...aahh" tiba-tiba Mei-Mei menggelinjang. Para serdadu itu sengaja menuangkan cairan cabe ke kemaluannya. Rasa panas segera menjalari selangkangan gadis malang itu. Meskipun perih menyerang selangkangannya gadis itu nampak berusaha keras untuk tidak bergerak. "HEH BISA DIAM..TIDAAAK!!!"Bentakan keras kembali mengglegar Prajurit jepang itu kesal karena tubuh bugil Mei-Mei semakin lama semakin keras menggeliatgeliat bagai cacing kepanasan. "Sghhhhh aakch...hhhzzz...hgh....sakit tuan."Tubuh Mei-Mei sedikit melenting gadis itu tak mampu bertahan lagi ujung sumpit milik salah satu tentara Jepang itu dengan kuat menjepit itilnya yang memang sejak tadi sudah mencuat sehingga mudah sekali untuk dijepit

"Auugh...aauuww..aaaaa..."jeritan demi jeritan berubah jadi lenguhan yang nadanya satu persatu menurun satu oktaf, sehingga seakan menjadi alunan melody. Puting susu gadis cantik itu kini bahkan semakin memanjang dari ukuran semula Para serdadu itu sudah kekenyangan. Mereka membiarkan anjing-anjing penjaga mereka membersihkan sisa-sisa makanan yang masih tercecer termasuk yang berada diatas tubuh Mei-Mei. Puting susu gadis cantik itu sedikit membengkak dengan warna kebiruan akibat digigit atau dicubit para pasukan cabul Seluruh tenaga gadis cantik itu telah terkuras habis. Ia samasekali tak mampu menggerakan tubuhnya gadis cantik itu menangis sesenggukan pasrah merelakan lidah-lidah kasap anjing itu menjilat-jilat sekujur tubuhnya. "NAH ANJING SEKARANG GILIRANMU AKU TAHU KAMU SUDAH PENGIN NGENTOT BUKAN BERTERIMA KASIHLAH PADAKU. HA...HA...HA..." "Tidak...tidak akan...tidaaak mau....!!"Aku berusaha bertahan leherku terasa tercekik saat rantai anjing yang mengikat leherku dibetot sekuat tenaga

"BUK....!!!"Aku jatuh terguling. Secara tiba-tiba salah satu tentara jepang itu menendang pantatku. "HEH BUDAK DENGERIN YA NGGA USAH SOK PAHLAWAN KAMU DI SINI NGERTI KAMU...!!!! KONTOLMU ITU NGGA BISA BOHONG UDAH NGACENG TUH....!!!!" Jauh di dalam lubuk hati,Aku benar-benar merutuki diriku sendiri.Aku sama sekali tidak pernah berpikiran cabul terhadap gadis-gadis malang itu. Aku benar-benar merasa kotor dan hina kemaluanku sama sekali tidak sejalan dengan isi hatiku. "AKU NGGA AKAN MEMERINTAH KEDUA KALINYA LAGI CEPET LO NGENTOT DAN BERIKAN PENAMPILAN TERBAIKMU UNTUK MENGHIBUR KAMI SEMUA....!!!"Suara menglegar botak tengik itu kembali membentakku "KARENA KONTOLMU GEDE KAMU HARUS NGENTOTIN 50 GADIS INI...!!! "JIKA SEBELUM 50 ORANG KONTOLMU SUDAH LETOY AKAN KAMI POTONG BUAT MAKAN ANJING NGERTI KAMU "Aku benar-benar tidak tega pada para gadis itu. Aroma ketakutan yang begitu kental terpancar jelas di wajah mereka. Para gadis itu bergidik ngeri memandang arah selangkanganku. Jika dibanding dengan penis-penis milik para prajurit cabul itu, ukuran mereka bukan apa-apanya dibanding dengan milikku yang kini sudah tegang hingga seukuran lengan pria dewasa. Mustahil rasanya penisku yang kokoh bagai batang kayu ini melesak kedalam liang kelamin para gadis malang itu aku dapat memaklumi ketakutan yang mereka rasakan. to be continued...

The Blue Serenade of a Kunoichi


DISCLAIMER 1. Kisah ini memang berdasarkan fakta sejarah, tapi tidak semua kisahnya benarbenar terjadi dalam sejarah (yyaaaa.. eyaaalah... :-P) Jika menemukan kejanggalan urutan sejarah pada cerita ini, atau ketidak sesuaian karakter pelaku sejarah yang ada pada cerita ini/ tempat terjadinya... ya jelas lumrah wkwkwkwk. 2. Cerita ini tidak seperti layaknya autobiografi para negarawan republik tetangga, yang dipakai untuk mendiskreditkan tokoh sejarah tertentu. Semua sifat dan penokohan pelaku cerita hanya dibentuk murni oleh imajinasi si penulis tanpa data ilmiah. 3. Banyak adegan sado-masokisme (ga kasar-kasar amat kok... semoga masih bisa ditolerir para humanis republik mupeng ^^), gang-bang, perkosaan, dan homoseksualisme baik f/f maupun m/m dalam cerita ini... Jadi para pecinta soft-core

bisa rada ngernyit jijay dikiiittt... Tapi aslinya penulis juga amit-amit dah kalo liat yang begituan di dunia nyata... 4. Mau ikut berpartisipasi ah mengkampanyekan, "NO RAPE, NO DRUGS, NO FREE SEX, NO ABORTION, NO SEXUAL HARRASSMENT, and NO WOMEN/ CHILD TRAFFICKING!" di dunia nyata. 5. Bukan konsumsi anak-anak di bawah 17 tahun,... bisa menimbulkan efek samping berbahaya, DEWASA SEBELUM WAKTUNYA. Anak baik ga boleh baca cerita ini dulu ya, ntar aja kalo udah gede baru boleh baca.... T_T Tapi yang nulis cerita ini juga anak baek lho... kan udah gede, jadi boleh nulis beginian :-P 6. No plagiarism, tidak untuk barang dagangan tanpa seijin penulis cerita!!! Copypaste sah-sah aja kalau untuk koleksi pribadi. (Ketauan ortunya, penulis ga tanggung jawab tapi hhhh) ---------------------------------------------------------Suatu sore di sebuah pantai Provinsi Kii pada zaman Sengoku (zaman kegelapan/ perang sipil Jepang), seorang pria berkulit kecoklatan dengan kimono tercabik berlambang klan Sh berlari terhuyung-huyung ke arah pantai. Ia bergegas menaiki sebuah kapal kecil milik nelayan setempat dan mendayungnya seorang diri. Tubuhnya penuh luka bekas sabitan pedang bala tentara musuh. Ketika ia baru mencapai jarak sekitar 200 meter dari pinggir pantai, sebuah suara lantang terdengar, "Jangan kabur kau pengecut! Kembali kau anjing Shni Fuyuhisa! Kepala majikan bangsat-mu itu sudah kutebas dan kuserahkan pada Tuan Ryzoji Takanobu. Kembali atau kubunuh kau!" Pria itu bergeming, ia tak akan kembali. Lebih baik ia mati ditelan ombak daripada menyerahkan katana milik tuannya yang berharga kepada para penjahat itu. "Pasukan, serang!" perintah komandan bawahan Takanobu itu. Seketika puluhan anak panah menghujaninya. Ia bertahan dengan mematahkan beberapa buah anak panah, tapi karena kelelahan fisik dan psikologisnya, beberapa anak panah menembus tubuhnya. Tak peduli sekuat apa pun ia bertahan, anak-anak panah itu tetap tanpa ampun menerjangnya. Satu lemparan anak panah terakhir mengenai dadanya, dan ia roboh ke lantai kayu perahu. Arus air laut yang deras membawanya menjauh dari tempat itu. "Ayo, tinggalkan saja bangkainya, biarkan ia membusuk di laut dan jadi santapan para hiu...Kita tidak boleh ketinggalan merayakan pesta kemenangan kita. Pasukan, kembali ke kastil!" instruksi Sang Komandan.

******************************

"Ah, dia sudah siuman, Ketua." ujar seorang laki-laki berkimono butut dan bergigi tonggos. Pria yang terluka itu membuka matanya dan mencoba menyandarkan punggungnya ke dinding. "Akh!" jeritnya, bekas luka tertembus anak panah di dadanya terasa nyeri menyiksanya. "Hahahahaha.... beruntung sekali kau masih hidup, anak ingusan... Kau tahu, anak panah itu telah dilumuri racun. Kalau Dewa Laut tak membawa perahu kecilmu itu ke kapalku, mungkin kau sudah mati." ledek orang berjambang dan berkumis lebat dengan bekas luka di pipi kanannya yang disebut Ketua oleh si Tonggos. "Kamu bawa barang bagus heh,... katana itu kalau kujual pada orang Korea atau pedagang Cina pasti bisa menghidupi kawanan kami selama beberapa bulan..." tambah Sang Ketua. Si Tonggos menimpali, "Benar ketua, kita tidak perlu membahayakan diri dengan merampok para pedagang dan samurai kaya yang sedang berlayar." "Kembalikan katana itu padaku! Kalau tidak, aku akan membunuhmu." gertak pria yang terluka itu. "Hahahaha... antek Shni memang besar mulut. Sudah mau mati saja masih menantang berkelahi... Baiklah, aku akan simpan katana ini. Nanti kalau kau pulih, kita akan berduel. Kalau kau menang aku kembalikan katana ini padamu... tapi kalau kau kalah, kau akan kuumpankan pada hiu-hiu di Laut Jepang. Aku tunggu kau." Ujar Sang Ketua sambil berlalu.

************************** "Trang!" golok Sang Ketua terbanting ke dek kapal dan tubuhnya terjengkang kehilangan keseimbangan. Ujung pedang yang dipegang mantan anak buah klan Sh itu tertodong tepat di atas kepalanya. "Bbbb...bbaikk...aku menyerah. Kuserahkan katanamu!" ujarnya sambil mengulurkan katana yang terselip di pinggangnya pada pria itu. Pria itu mengambilnya dari Sang Ketua. "Kau hebat sekali, siapa namamu?" tanya Sang Ketua lagi. "Sda Yui." Jawabnya enteng. "Kau sedang diburu tentara Takanobu seperti kami. Maukah kau bergabung dengan kami?"

Yui diam dan berbalik, ia tak begitu tertarik untuk bergabung dengan kawanan penjahat seperti mereka. "Kau akan kuangkat jadi tangan kananku, bagaimana?" desak Sang Ketua. "Tapi Ketua..." beberapa anak buah Sang Ketua tampak keberatan. "Ya Anak Muda, kau akan aman berada di sini. Kau memang ditakdirkan untuk berada di tempat ini..." ujar seseorang. Semua bajak laut yang ada di tempat itu mundur memberi jalan dan membungkuk takzim pada wanita tua keriput berpakaian aneh dan nyentrik itu, kecuali Sang Ketua. "Benar, semua yang dikatakan Baba Shaman pasti benar... Tinggallah di kapal ini bersama kami." Paksa Ketua. Setelah lama berpikir, Yui mengangguk setuju,"baiklah. Aku akan bergabung dengan kalian." "Hahahahahaha... selamat bergabung Saudaraku!" Ketua menepuk-nepuk pundak Yui bangga, "Takeeee... ambilkan sakeeeee!" teriak Sang Ketua sesaat kemudian. Si Tonggos berlari mengambil semangkuk sake murahan dan memberikannya pada Sang Ketua. Sang Ketua melukai jempolnya lalu mengucurkan darahnya ke dalam mangkuk sake. Ia meminta Yui melakukan hal serupa. Setelah keduanya secara bergantian menenggak sake yang berwarna kemerahan akibat tetesan darah itu, Sang Ketua mengumumkan pada anak buahnya, "Dewa Laut, Baba Shaman, Langit, Bumi, binatang-binatang laut dan kalian semua hari ini jadi saksi, aku Yutaka Send dan Sda Yui telah menjadi saudara. Mulai saat ini ia akan menjadi seorang wokou (bajak laut) seperti kita semua. Semua yang aku miliki, ia pun boleh memilikinya." "Horee!!! Hidup Ketuaaa!!!" koor semua anak buahnya.

********************* Malam itu para bajak laut berpesta untuk merayakan persaudaraan Sang Ketua dengan Yui. Budak-budak cantik mereka keluarkan dari sel. Beberapa budak menari erotis dengan kimono-kimono berbahan sangat tipis yang samar-samar memperlihatkan payudara-payudara indah mereka, kulit putih menawan yang aduhai, pinggul berisi, pinggang ramping, perut rata, dan segitiga-segitiga berbibir merah merekah di antara selangkangan mereka benar-benar dicukur gundul. Ketua yang menonton tarian budak-budak seksinya di sebelah Yui tertawa, "Hahahaha.. Bagus-bagus....." ia bertepuk tangan mengagumi keindahan tarian dan tubuh budak-budaknya.

Yui ikut bertepuk tangan. "Yui aku punya seorang budak kesayangan, namanya Oboro." "Oboro... kemari!" ia panggil budak penari tercantik miliknya. Budak itu melangkah menggoda ke arah Ketua," Ya Tuanku..." ucapnya lembut sambil duduk bersandar pada dada Ketua. "Nah Oboro, ini Yui saudara angkatku." kata Ketua. Oboro hanya mengelus-elus dada berbulu lebat Sang Ketua. Oboro membiarkan jemari Ketua menyusup ke balik kimono tipisnya untuk meraup buah dada kenyal miliknya. "Yui, Oboro sangat cantik bukan?" ujar Ketua yang tangan kanannya asyik memilinmilin ujung sensitif berwarna kemerahan di puncak bukit kanan Oboro. Yui mengangguk menghormati perkataan Send, walaupun ia risih melihat pemandangan hot di depannya. "Kalau kau mau, kau boleh memakainya malam ini... Ia sangat luar biasa. Aku saja ketagihan dilayaninya hahahahaha," Ketua tergelak. Oboro tersenyum genit sambil menggesek-gesekkan puting tegangnya ke tubuh kekar Ketua, "Ketua terlalu memuji... mmhhh.... ssshhh... ssshhh.... Ketua saja yang sangat ahli memanjakan Oboro..." rayunya sambil menggelinjang-gelinjang dikuasai nafsu.

Ketua mencubit hidung Oboro gemas. Yui menggeleng, "Ketua sangat baik hati,... Tapi aku sudah sangat lelah. Aku ingin tidur saja tanpa gangguan siapa pun. Mohon Ketua maklum." Tolaknya halus. Ketua mengangguk-angguk, "Baiklah kalau begitu,... Oboro kau temani aku saja malam ini." kata Ketua. Oboro menggelendot manja ke bahu ketua, tanpa rasa malu ia melumat bibir ketua di hadapan Yui. "Dengan senang hati, Send-sama..." ujarnya manja. Ketua memeluknya sambil tertawa-tawa. Kedua sejoli yang dibakar nafsu itu meninggalkan aula utama menuju ke kamar Sang Ketua. Budak-budak lain menuangkan sake ke chawan-chawan (mangkuk-mangkuk) para bajak laut dan menemani mereka berjudi. Tangan-tangan para bajak laut yang nakal terkadang diselipkan ke area-area sensitif para budak itu. Para bajak laut yang telah mabuk dan bosan berjudi membawa budak-budak cantik itu ke sudut-sudut kapal untuk melayani nafsu bejatnya. Yui, biarpun dadanya mulai berdesir-desir terbawa suasana, merasa tidak tega untuk menyakiti wanita-wanita malang itu. Ia merasa kasihan mendengar

teriakan-teriakan minta ampun dari para budak wanita yang sedang di-oral, di-sodomi, bahkan di-gang bang oleh para bajak laut bejat yang telah kehilangan akal sehat. Dari kamar sang ketua pun mulai terdengar suara rintihan dan lenguhan nikmat Oboro si Budak Nakal. Yui meninggalkan tempat mengerikan itu menuju ke kamarnya sendiri, menggelar futonnya, dan berusaha untuk memejamkan mata meskipun sesuatu di bawah hakama (celana)-nya sudah tak bisa menahan diri sedari tadi.

*** "Duar!" ledakan keras terdengar dari buritan kapal. Sang Navigator berteriak, "Kita diseraaaaang!!!! Kita diseraaaang!!!" sambil memukul genderang sekuat-kuatnya. Yui membuka matanya, meraih katana, dan keluar dari kamarnya. Ia melihat tubuhtubuh bugil para budak dan bajak laut di hampir seluruh bagian kapal. Ia mencoba membangunkan beberapa orang di dekatnya. Ia dan beberapa bajak laut lari ke arah buritan kapal yang terbakar sementara para budak berlari ke tempat aman. Sang Navigator turun dari tempat ia berjaga dan berkata pada Yui, "Sda, kapal yang menyerang kita berlambang klan Oda (dua pengikut paling setia Oda Nobunaga, seperti lazim diketahui, adalah Ieyasu Tokugawa dan Toyotomi Hideyoshi)... Itu pasti Takanobu dan pengikutnya. Kau bangunkan Ketua, aku akan menyuruh Fuko dan Tae untuk menyelamatkan Baba Shaman dan membawanya naik sekoci ke pulau yang aman." Send keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada, sedangkan sang budak yang kini telah membalut tubuhnya dengan sehelai selimut berlari ke arah teman-temannya. "Kita harus mempertahankan kapal ini, Saudaraku." Ujarnya sambil menepuk bahu Yui. "Kenapa mereka tahu posisi kita?" tanya Yui. "Entahlah,... " Send terlihat berpikir. "Tuan, pasti ada mata-mata. Jangan-jangan Yui yang memata-matai kita." tuduh Take si Tonggos. "Apa maksudmu?! Aku juga musuh mereka." Sangkal Yui. 'Hentikan!" perintah Ketua. "Jangan biarkan musuh memecah belah kita! Cepat suruh beberapa orang menembak kapal Takanobu! Yang lain, bantu para pendayung. Navigator, kembali ke posisi. Tetap waspada dan bersiaplah jika musuh mendekat dan menyerang. Biar aku yang mengemudikan kapal." "Baik Ketua!" Jawab mereka serempak.

Sang Ketua masuk ke ruang kemudi. Karena tak ada lagi yang memperhatikan, sang budak cantik mengikuti ketua ke ruang kemudi. Ia memeluk Sang Ketua dari belakang, "Sayang,.... aku takut sekali..." katanya lirih sambil bergelayut manja. Sang Ketua sedikit menoleh dan menatap kedua matanya, "Jangan takut,... aku pasti akan menjagamu, Oboro." jawab Sang Ketua. "Aku cinta kamu, Send-sama," bisik Oboro. Ia mendekatkan bibirnya yang merekah ke arah sang Ketua. Ia mengulum-ngulum bibir bagian bawah sang Ketua, menggigitnya pelan, lalu menjilat-jilat langit-langit mulut Ketua dengan rakusnya. Sang Ketua membalas cumbuan liar Oboro. Ia terlena dan melepaskan kemudi kapal. Sejurus kemudian, ia asyik berpagutan dengan budak cantiknya itu. Oboro memindahkan tangan kanan ketua dari pinggangnya dan menyelipkannya ke balik selimutnya. Ia membimbing tangan ketua untuk meremasremas buah dadanya yang sintal. Ketua tak hanya meremasnya, bibirnya bahkan ikut turun menelusuri leher jenjang Oboro dan akhirnya mendaratkan kecupan ke puting kiri Oboro. Ia terlihat asyik menjilat-jilat dan memainkan puncak indah merah ranum itu... Ternyata permainan di kamar Ketua belum cukup memuaskan gadis binal itu. Ketika Ketua asyik dengan dua gundukan kenyal itu, Oboro meraih sesuatu dari rambutnya dan dengan berhati-hati menancapkannya ke punggung Sang Ketua sekuat-kuatnya. Akibatnya, Ketua yang asyik menyusu padanya langsung menggigit puting Oboro hingga berdarah. Oboro yang kesakitan secara refleks menendang Ketua hingga melepaskan gigitannya, dan berlari keluar dari ruang kemudi. Yui memergoki budak itu keluar dari ruang kemudi. Yui segera masuk ke ruang kemudi dan melihat Ketua telah berlumuran darah.

Ketua berkata dengan menahan sakit di punggungnya," Yui, kejar wanita busuk itu... dia pengkhianat!" Yui mengejar wanita berbalut selimut itu, tapi aneh.... gerakannya terlalu cepat untuk seorang wanita biasa. Yui berhasil mengejar dan memojokkannya, ia menarik katananya ke arah leher gadis itu dan berteriak, "Siapa kau?! Suruhan Takanobu hah?!" Wanita cantik itu memandang Yui sayu,"Aku... hanya seorang gadis lemah Tuan. Tolong bebaskan aku..." ia berkata memelas, ia berharap Yui jatuh iba padanya. "Tidak! Tak ada wanita lemah yang bisa berlari cepat sepertimu." ujar Yui. Gadis itu merasa gagal membohongi Yui, ia mengganti siasatnya. "Aku akan melakukan apa saja untuk Tuan jika aku dibebaskan," ia berkata demikian sambil menatap Yui mesra.

Kemudian ia memegang sisi lain mata pedang Yui yang tumpul dan menariknya dari lehernya dengan tangan kanannya sementara tangan kiri gadis itu menarik lepas selimut yang ia kenakan untuk memperlihatkan keindahan semu duniawi yang ia miliki pada Yui. Ia berharap Yui tergoda dan mengampuninya. "Bagaimana Tuan?" tanyanya menggoda sambil membasahi bibirnya dengan lidahnya. Sebelah tangannya menahan pedang agar tak melukai leher jenjangnya yang mulus, sedangkan sebuah tangannya lagi memainkan sendiri area paling sensitif yang gundul dan bertindik di antara kedua selangkangannya. Yui terperanjat. Ia belum pernah melihat tubuh polos tanpa busana seorang wanita dewasa. Genggaman tangannya mengendor... tapi anggota geraknya yang lain langsung menegang seketika. Ketika ia lengah, gadis itu menendang pedang Yui dengan kaki kanannya, memakai selimutnya, dan memanjat tiang kapal dengan kecepatan yang luar biasa.

Oboro Semua mata para perompak mengarah kepadanya. Mereka menodongkan senjatasenjata mengancamnya turun dari tiang kapal. Gadis cantik yang sudah tidak gadis lagi itu (lho ?!) sama sekali tidak takut dengan ancaman mereka. Sekilas ia tersenyum sinis. Ia berdiri tegak di ujung tiang kapal dan membuka lagi selimutnya. Kali ini ia telah memakai kimono hitam selutut tanpa lengan, sepasang pelindung tangan menutupi tangannya sampai ke siku dan dalaman baju berbentuk ikatan kain yang dililitkan dilapisi jaring-jaring telah menutupi pemandangan indah yang tadi membuat Yui tak bisa bernafas normal. Ikatan kain yang sama juga membalut kedua kakinya yang berjinjit seimbang di ujung tiang kapal. Ia terbahak-bahak sambil berkata, "bajak laut-bajak laut bodoh, dalam waktu satu jam ketuamu akan mati... Racun di jepit rambutku itu berasal dari bisa ular paling berbisa yang penawarnya sulit kalian cari, hahahahaha... Takanobu-san akan segera datang dan membantai kalian...hahahahaha.... Sayang aku tak sempat memenggal kepala ketua kalian dan

memberikannya sebagai hadiah untuk Tokugawa-sama." Yui merebut busur dan panah dari salah satu anggota bajak laut. Hanya dalam hitungan detik anak panah itu telah meluncur ke arah Oboro. Tapi Oboro adalah seorang kunoichi (ninja wanita) yang cekatan. Ia menghindari anak panah Yui dan melemparkan bom asap ke dek kapal. Saat para bajak laut itu terbatuk-batuk Oboro melarikan diri. "Gawat!!!" teriak bajak laut bernama Yuta. "Buritan kapal bocor dan kita tak mungkin memperbaikinya dalam kondisi seperti ini." Para bajak laut terlihat bingung. Tanpa Ketua dan Baba Shaman mereka tak bisa memutuskan apa-apa. "Baiklah," ujar Yui berwibawa, "Siapkan sekoci dan siapa pun yang takut dan berjiwa kerdil silahkan pergi dari kapal ini. Yang berani mempertaruhkan nyawa untuk Ketua dan kapal ini, tetaplah tinggal bersamaku."

Kaum bajak laut ternyata berbeda dengan para samurai yang mau berkorban jiwa raga demi majikannya. Dua pertiga dari seratus orang lebih yang ada di kapal besar itu ternyata memilih naik sekoci dan meninggalkan ketua mereka. "Maafkan kami, Yui. Kami telah lelah jadi buronan Takanobu...""...kami masih punya istri dan anak." "Aku ingin jadi orang baik...", dan beribu alasan penuh kemunafikan yang lain diucapkan oleh para pria bernyali cekak itu. Setelah mereka semua pergi, Yui berkata pada mereka yang masih tinggal. "Terima kasih Saudara- Saudaraku... aku dan Send-kun berhutang nyawa pada kalian...tapi kami tak tahu apakah masih akan bisa membalas keberanian kalian. Yang pasti, tak ada lagi sekoci...hanya sedikit sisa mesiu...dan hidup kalian, kalian sendirilah yang tentukan. Jadi, ayo berjuang untuk tetap bisa bertahan hidup dan menikmati lebih banyak lagi jarahan dari kapal Takanobu. Ayo kita basmi musuh dengan tangan-tangan kita!" "Bunuh Takanobuuuu!!!" seru Ryu sang Navigator membakar semangat yang lain. "Bunuhhh bunnuuuuhhh!!! Hiduuuppp Yui!!! Hiduuuppp Ketua!!! Hidup "Ksatria Laut"!!!" seru mereka. Sekoci-sekoci Takanobu mulai mengepung kapal mereka, tali-temali mulai dilemparkan untuk mendaki kapal para bajak laut. Beberapa saat kemudian, bau mesiu dan darah memenuhi langit. Anak-anak panah melayang di udara dan suarasuara pedang nyaring beradu. Pagi yang bisu itu berubah ramai karena tiga puluh lima pria berani sedang berusaha mempertahankan kapalnya dari sergapan 250 tentara Takanobu.

***************** "Srett...," tebasan Yui tepat mengenai prajurit terakhir Takanobu. Takanobu telah melarikan diri dari tadi karena Yui berhasil mengalahkan tangan kanan terhebatnya. Ia memandang ke seantero kapal. Air laut yang berasal dari lubang di buritan kapal telah merendam tubuhnya hingga selutut. Jasad para prajurit Takanobu dan perompak-perompak yang tewas terapung-apung ke sana kemari. Sebagian mayat telah membiru pucat karena terendam air dalam waktu lama. Salah seorang saudara sesama bajak lautnya telah pergi dengan keadaan yang mengenaskan sambil memeluk layar "Ksatria Laut" yang tercabik lepas dari tiangnya. Yui memejamkan mata mayat itu, yang terbelalak menahan sakitnya tertembus pedang, "Namuamida,..." doanya untuk si mayat. (Btw, bener ga sih doanya? Penulis bukan pemeluk Shinto nih, maaf kalau salah ya). Ia pergi ke ruang kemudi, tempat Ketua diamankan. Take mendekatinya dengan lunglai dan menonjok kuat-kuat bahu Yui. "Ketua sudah meninggal, Yui... Ia memberikan wakizashi (pedang pendek) nya untukmu. Kini kaulah ketua baru "Ksatria Laut"..." Ujar Take lirih. Kondisi Take hampir sama dengan dirinya, penuh luka dan memar. "Aku... aku... tak bisa menemukan penawar racunnya..." tangis si Tonggos meledak. Satu persatu,... Ryu sang Navigator yang kurus kering, Taro si Gentong, Hiro yang berbicara gagap, Yuta si Mata Juling, dan Rao yang kehilangan satu tangan masuk ke ruang kemudi. "Tak ada lagi yang tersisa selain kami," lapor Ryu si Navigator. Yui mengangguk. "Ryu, tolong kau dan Taro temui Baba Shaman, Fuko dan Tae. Katakan pada mereka, kondisi telah membaik. Lalu kembalilah dan bimbing kami ke tempat mereka berada. Yuta dan Hiro... kalian usahakan untuk menambal lubang di kapal, dan menepikan ke daratan yang aman setelah kedua rekan kita kembali nanti. Aku dan Rao akan berjaga-jaga kalau ada sisa rombongan Takanobu yang akan menyerang sambil membersihkan kapal dari air dan mayat antek-antek Takanobu." "Baik Ketua." Mereka membungkuk serempak pada Yui.

*********************** Dua puluh delapan mayat terbujur kaku di daratan berpasir Pulau Tsushima. Yui dan delapan awak kapal yang lain menebang pohon dan menyusun kayu bakar untuk mengkremasi mayat-mayat itu. Baba Shaman duduk di samping mayat Ketua yang diletakkan terpisah sambil terkadang berbicara, tertawa, dan menangis sendiri. Yui menatap Baba Shaman sekilas. Ia heran melihat tingkah lakunya. Ia menyenggol

pundak Ryu dan bertanya, "Wanita tua itu... agak gila?" Ryu menggeleng. "Entahlah, yang kutahu dia memang aneh. Tapi hati-hati dengannya, ia punya ilmu hipnotis yang hebat. Kadang ia juga meramal dan semacamnya. Seminggu sebelum kau datang pun ia selalu berteriak-teriak histeris agar Ketua menjauhi wanita... Yah, tapi Ketua tak menggubrisnya... karena memang Ketua sangat suka wanita." Yui manggut-manggut. "Wanita tua yang sedikit menakutkan ya... Tapi kenapa Ketua membawanya berlayar. Dia istri tua Ketua?" tanya Yui polos. Ryu terbahak-bahak geli. "Huahahahahaha...Tentu saja bukan. Istri Ketua sudah lama mati bersama bayi yang dikandungnya. Masa Ketua mau sama Nenek Tua Peyot begitu... gadis-gadis cantik seperti Oboro si Pelacur saja bisa ia dapatkan." "Jadi?" "Ketua itu sama sepertimu. Dulu ia berasal dari keluarga samurai, Baba Shaman adalah penasehat spiritual keluarganya yang telah mengasuhnya sejak kecil. Ketua semasa muda ditugaskan untuk membasmi bajak laut tapi malah jatuh hati pada putri bajak laut yang ditaklukannya, dan memilih jadi seorang bajak laut. Keluarganya marah besar dan minta Baba Shaman membunuhnya. Tapi karena sudah menyayangi Ketua seperti putranya sendiri, Baba Shaman justru menenung ayah Ketua sampai mati dan menyusul ketua." Jawab Ryu. "Sebentar, aku mau minum dulu ya. Kuambilkan juga?" tanya Yui pada Ryu Ryu menggeleng sambil melanjutkan pekerjaannya. Ketika Yui menenggak air minum, Baba Shaman mendekatinya. "Kau beruntung Anak Muda. Nasibmu tak sesial Yutaka... tapi gadismulah yang kelak akan menderita." Katanya mencerocos. Lalu ia tertawa- tawa sendiri lagi dan pergi meninggalkan Yui. "Kenapa? Ngomong apa si Dukun Tua itu?" tanya Ryu yang ternyata telah berada di sebelahnya. Yui menggeleng, "aku tak tahu... Ia bicara tentang gadisku akan celaka. Bagaimana mungkin? Istri saja aku tak punya, kekasih pun tak ada." "Kalau wanita simpanan?"canda Ryu. "Plak!" Ia menjitak kepala Ryu pelan dan meninggalkannya. Ryu cemberut sambil mengusap-usap kepalanya.

*************************

Asap hitam membubung mengantar kepergian kedua puluh sembilan rekan mereka ke alam keabadian. Setelah memberi penghormatan terakhir pada rekan-rekan mereka, kesembilan bajak laut dan Baba Shaman mendirikan tenda, membuat kayu bakar dan berkumpul di sekeliling kayu bakar sambil membakar beberapa ekor ikan dan jamur sebagai santapan. 'Yui, kau tahu... aku merasa hambar sekali makan tanpa ditemani wanita-wanita cantik dan sake." ujar Take si Tonggos. "Benar Yui, satu-satunya wanita di sini tinggal Baba Shaman... Kalau terlalu lama tinggal bersama Nenek Tua, kita bisa ketularan keriput," Tambah Fuko mendramatisir. "Yui, aku kangen dengan kilauan emas..." Ryu menambahkan. "Kalau hanya sake dan uang mungkin kita bisa dapatkan..." Ujar Yui sambil tersenyum. "Iya sih, keduanya penting, tapi tetap harus ada wanita, Yui." Seloroh Rao. "Memangnya kau ingin perjaka seumur hidup?" ledeknya lagi. "Baiklah, aku mengerti. Dengan uang itu kalian bisa pergi mencari wanita yang kalian mau, yang penting kalian membantuku mendapatkan uang ini dulu. " kata Yui. "Bagaimana?" usul Yui lagi. Mereka mengangguk-angguk setuju. "Caranya bagaimana?" tanya Ryu tertarik. Yui tersenyum lebar. "Tadi waktu kita menebang pepohonan, aku menyuruh Hiro membeli beras ke desa terdekat. Ia kabarkan padaku bahwa orang-orang desa heboh membicarakan pesta pernikahan Tuan Ono." "Bebebenar... tatatadddtadi mmememereka bilbillbillang bebebbegitu..." timpal Hiro. "Sudah Hiro, biar Ketua saja yang bicara." Bentak Rao jengkel. Yui menambahkan,"Orang-orang desa itu berkata bahwa Saudagar Ono yang kaya raya sedang membawa uang dan barang-barang hasil memeras para petani bersama calon mempelainya pagi ini. Jadi, mulai malam ini kita akan berjaga di jalur yang akan dilalui rombongan itu. Setelah rombongan itu lewat, kita habisi para penjaganya dan rampas uangnya." "Ayooo!!! Mari berpesta!!! Hidup Ksatria Laut!" teriak Ryu memberi semangat sambil mengajak semuanya bersulang. "Hiduuupp..!!!" yang lain menimpali dengan tak kalah semangat.

************************** Rao mengintai di atas pohon bersama Ryu. Taro si Gempal meletakkan sebatang pohon besar untuk menghalangi jalan. Hiro dan Take mempersiapkan alat peledak. Yui dan yang lain dengan senjata tergenggam siap menyerbu. Setelah sekitar empat jam menunggu, sebuah kereta kuda yang diikuti beberapa ekor kuda yang lain dan para pengawal yang duduk di atasnya melewati daerah itu. Mereka berhenti di depan kayu besar yang menghalangi perjalanan mereka itu. Beberapa pengawal Ono turun untuk memindahkan kayu. Tiba-tiba,..."duar!" ada ledakan yang menewaskan dua orang pengawal. Lima orang pengawal lain langsung siaga menghunuskan katana mereka. "Serbuuu!!!" komando Yui. Ia dan beberapa anak buahnya beradu pedang dengan para pengawal. Hiro dan Rao dengan cekatan mengantongi barang rampasan dari kuda-kuda yang telah tak bertuan. Take dan Fuko menebas leher si pengendali kereta kuda dan masuk ke dalam kereta kuda. Mata Take berbinar ketika melihat di dalamnya ada seorang gadis cantik berkimono putih. "Fuko,... kita benar-benar akan berpesta hari ini.."kata Take senang. "Iya, hehehehe slrrrppp... kelihatannya ia cukup ranum juga untuk dinikmati." Fuko setuju. Ia dengan genit mencolek dagu sang gadis berkimono putih. "Mau apa kalian?! Pergi dari sini!" gertak gadis cantik itu. "Kami tidak akan kasar Cantik. Iya kan Take?" lanjut Fuko. Take hanya menyeringai mesum. "Tidak.... Jangan.... Tolong, jangan lakukan itu... Tolong kasihani aku..." si Gadis mengiba. "Karena kami kasihan padamu,... kami akan membawamu pergi dari sini, Sayang.... Kita bawa dia kemana Fuko...?" mata Take tampak kesetanan. "...heheheheheeeeeh..... ke puncak nirwana...," lanjut Fuko tak kalah blingsatan, "kau pasti ingin pergi ke sana lagi setelah mengunjunginya dengan bantuan kami, hehehehehehe..." ia semakin mendekati si gadis cantik yang ketakutan.

"Jangan...!!! Tolong.....!!! Lepaskan!!! Tolong!!" gadis itu meronta- ronta saat kedua tangannya ditarik paksa oleh Take.

"Aku tahu bagaimana melepas kimono dengan cepat, Cantik... Jadi jangan khawatir, kau pasti akan segera merasakan indahnya nirwana.." Fuko yang tak bisa lagi menahan kesabarannya menarik paksa tali dan obi (sabuk besar kimono) gadis cantik itu. Ia lalu melemparkan lapisan kimono luarnya jauh-jauh. 'ayo nikmati malam pertamamu dengan kami berdua, Cantik,..." Fuko semakin genit. "Tidaakkk!!! Lepaskan aku...!!!" Gadis itu berusaha keras mempertahankan kosode (kimono dalamnya) dengan menggenggamnya erat. Tapi ia bukan lawan Take. Gadis itu berteriak semakin keras, "Jangan,... jangan!!! Toloooong!!!" Take menarik dan menahan kedua tangannya sambil menertawainya,"teriak saja yang keras, toh semua pengawalmu sudah mati heheheheeh" Sementara Fuko justru makin bersemangat mendengar teriakan calon korbannya, ia menduduki kedua kaki gadis itu, mendorongnya hingga jatuh terlentang, dan membuka paksa kosode-nya hingga dua bukit putih mulus menggiurkan dengan puncak hitam kemerahan yang ranum itu terpampang menantangnya. "Glekh...!" kedua perompak yang sudah lama tidak mimik cucu itu pun menelan air liurnya. Sementara si gadis masih berteriak-teriak mengiba," tollloong... jangaaann... jangan Tuan..." sambil terus menangis. Kedua pria jalang itu tertawa-tawa mesum. Tiba-tiba... "bruak!" atap kereta itu hilang seperti dibabat sesuatu dan Yui sudah menyisipkan katana-nya di antara kedua bukit kembar milik gadis itu. Ujung lancip katana Yui tepat berada di jidat Fuko. Fuko terpaksa memundurkan kepalanya yang tinggal berjarak beberapa centimeter dari hidangan lezat di depannya. "Berhenti!" perintah Yui. Take memberanikan diri untuk bicara, "Yui,... kalau kau mau menikmatinya dulu... kami tidak keberatan." Tawarnya bernegosiasi. Gadis cantik itu menangis ketakutan, jantungnya berdetak kencang. Dadanya terlihat naik turun nenggoda, tapi bagian tubuhnya yang lain diam membeku... Ia takut Yui akan ikut menikmati tubuhnya, bahkan membunuhnya setelah itu.

Yui melotot marah pada Take, "tidak, kataku! Lepaskan dia!" "Dan kau, bangun!" perintah Yui pada Fuko.

Ketika Fuko beranjak bangun, Yui menyarungkan pedangnya lagi dan melemparkan kimono terluarnya pada gadis itu. "Pakailah," ujarnya sambil berbalik cepat tanpa memandang sekilas pun tubuh putih mulusnya yang setengah telanjang. "Kita di sini bukan untuk memperkosa gadis lemah. Kita hanya butuh uang ini untuk bertahan hidup. Bantu teman kalian dan cepat pergi dari sini!" perintah Yui. Kedua anak buahnya menurut. Mereka bertiga keluar dari kereta tanpa atap itu dan membantu yang lain mengemas harta jarahan milik Tuan Ono. Gadis cantik itu keluar dari kereta dan berlutut di depan Yui. Ia membungkukkan kepalanya hingga menyentuh tanah dan berkata, "Terima kasih telah menyelamatkan aku, Tuan. Aku... aku... bolehkah aku ikut bersamamu?" Mata semua perompak memandangnya heran. "Aku sudah tak punya keluarga...hkshiks.... ibu, ayah, dan adik laki-lakiku sudah dibunuh oleh pengawal Tuan Ono..." kata-katanya terputus karena terisak, "Aku juga sudah tak punya rumah lagi... bahkan mayat keluargaku pun dibakar bersama rumah kami.... Jadi, jadi,... izinkan aku ikut bersamamu. Aku mohon..." Ryu menyenggol Yui, "Ketua, mimpi apa kau? Dapat gadis secantik dia... menyerahkan diri pula... Sudah, Ketua... ambil saja dan pelihara dia sebagai gundikmu. Kalau kau bosan, aku juga mau." Yui memelototi Ryu. "Ah,.. yah... aku kan cuma memberi saran." Ryu menciut. "Tidak, pulanglah... dalam rombongan ini aku tidak memerlukan wanita." Yui pergi meninggalkan gadis yang bersujud di tanah itu. "Heh Ketua, Baba Shaman kan juga wanita. Kau mau membuang Baba Shaman dari komplotan kita ya? Katanya kau tak butuh wanita..." tanya Take sambil menjajari langkah Yui. Yui mempercepat langkahnya, menjauh dari Take. Take cuma tersenyum-senyum geli di belakangnya.

************************ Tepat waktu Yui keluar dari tendanya... "Selamat pagi Ketua... Ini aku buatkan sup jamur... khusus untuk Ketua." Ujar gadis cantik yang tadi malam ditinggalkannya sambil menyodorkan semangkuk sup panas. "Kenapa kau ada di sini?" hardik Yui.

"Sudahlah Ketua, biarkan dia ikut... Aku tidak tega melihatnya duduk sendiri di dekat perapian yang sudah mati... Jadi aku suruh dia tidur di tenda Baba Shaman." Ujar Ryu. "Tapi,... aku,..." "Iya, Ketua tak butuh wanita... tapi kami butuh dia. Masakannya enak. Aku sudah tambah lima kali." Potong Taro. "Anak Muda, dia gadis yang baik,... Lihat, ia bantu aku memperbaiki syalku yang sobek," tambah Baba Shaman dari tenda di depannya. "Lagipula kami sudah berjanji untuk tidak mengganggunya lagi, Ketua." Tambah Fuko. Take ikut menimpali, "Ya,... ia berjanji akan mengajari kami tips-tips menaklukkan hati wanita... supaya kami bisa seperti Ketua yang bisa menaklukkan hatinya katanya hihihihihi.." Wajah gadis itu bersemu merah. Yui mengacuhkannya dan duduk bergabung dengan teman-temannya. "Noonnn...nonnn.noonnaa Mid miiddorii... akakaakkku suddah aammmambil rruurruumpputnnyaah... Bissaa bbuat oobbattih Tatatattae?" tanya Hiro. Midori mengangguk dan mengambil rumput obat itu dari tangan Hiro, "Ayo kita obati Tae."ajaknya. "Tae?" Yui bertanya heran. "Iya, Tae sakit perut karena ternyata ia makan jamur beracun kemarin. Ia langsung muntah-muntah waktu sampai ke tendanya." Jawab Rao. "Untung Midori langsung membuatkan dan memberinya ramuan obat. Boleh juga ia bergabung bersama kita, Yui. Ia pintar memasak dan meramu obat." timpal Taro. Yui hanya merasa sangat... sangat... sangat... terpojok.

Midori ************************* Semua perompak sedang memperbaiki "Ksatria Laut." Terdengar derit-derit suara gergaji, suara-suara bising ketukan-ketukan palu dan debu-debum pohon ditumbangkan. Suara ketukan di ember tempat mengaduk cat dan plitur pun ikut meramaikan suasana. Hari yang sangat menghabiskan energi para perompak. Namun kelelahan mereka terobati dengan lezatnya masakan Midori. "Ksatria Laut" sudah hampir sempurna diperbaiki. Ia juga telah dicat ulang dan di plitur mengkilap. Kecantikan "Ksatria Laut" tak akan kalah dibanding kecantikan sang calon penghuni baru kapal itu. "Yui, hari ini "Ksatria Laut" sudah jadi... bolehkah kami pergi cuci mata?" tanya Ryu. "Bebbennaar... akakaaakkuuh mmaau bbbelih ppaaakkuu caaddangaan," ujar Hiro. "Aku juga ingin beli arak yang enak." Tambah Rao. "Iya, aku akan beli daging yang banyaak..." Taro setuju. "Ya, baju baru juga tidak jelek." Fuko mengangguk-angguk. "Aku juga sudah lama tak berjudi." Ujar Take. "Anak Muda, aku ingin pergi membeli dango... sudah lama sekali aku tidak makan manisan itu..." Baba Shaman juga ikut-ikutan. "Kurasa aku butuh obat ekstra... sekalian mencari tabib." Ucap Tae lemah. "Iya, aku yang akan mengantar Tae," Yuta nimbrung. "Kalian semua... pergi? Siapa yang menjaga kapal?" Yui agak keberatan ditinggal sendirian oleh gerombolannya. Mereka semua saling berpandang-pandangan dan senyam-senyum satu sama lain, lalu

dengan kompak berseru... "Ketuaaaa...!!!"

************************** Malam itu dingin sekali... tapi rasa lelah yang teramat sangat membuat Yui lelap tertidur di bawah pohon kelapa menghadap "Ksatria Laut" yang mengapung-apung cantik. Midori memperhatikan wajah Yui yang manis dari kejauhan... Ya, Yui bukan seorang laki-laki yang tampan dan berkulit putih seperti pura bangsawan. Ia hanya pria biasa berkulit coklat kemerahan terbakar matahari. Punggung bidang dan perutnya yang rata itu hasil latihannya setiap hari (wink... penulisnya juga mau kalo ada yang kaya' Yui ;-P)... Ia memang tidak tampan, tapi tiap kali Midori memandang mata teduhnya... ada sebentuk kedamaian dan rasa aman timbul di hati Midori. Bibirnya memang agak tebal, tapi... seksi. Midori tersenyum memandang wajah innocent nya saat tertidur, benar-benar berbeda dengan Sda Yui yang galak, menyebalkan, dan selalu mengacuhkannya. Midori mengambil secarik selimut dan mendekati Yui perlahan-lahan. Ketika mereka begitu dekat, Midori tergoda untuk mengecup bibir Yui... sekaliiii saja. (emang judul film ;P) Midori menutup kedua matanya, ia monyongkan bibirnya, dan perlahan-lahan jarak antara keduanya makin tipis.... dan.... "...mmhhh,..." "Bruak!" Yui mendorong tubuh Midori dan menarik katana-nya. "Apa maumu? Kau juga mata-mata Tokugawa? Menyamar jadi seorang gadis lemah dan ingin membunuhku?!" Ia babatkan pedangnya ke samping tubuh Midori untuk menggertaknya dan membuatnya menampakkan wujud aslinya jika ia memang wanita jalang suruhan Tokugawa. Tapi Midori tidak melawan. Ia justru menunduk ketakutan. Ia menangis dan menutup kedua matanya. "Aku... bukan orang jahat... aku cuma mau menyelimutimu saja... tapi kenapa kau ingin membunuhku?... Aku benci Ketua!" ia bangun dan berlari. Yui mengejarnya, "Tunggu.. aku pikir... kau berniat jahat pada kami... dan ingin menghabisiku dan anak buahku seperti kunoichi yang dulu merayu Ketua Send." Dalih Yui.

Midori menggeleng. "Aku,... cuma wanita biasa, anak seorang petani miskin yang dibantai pengawal Tuan Ono... Aku tak sehebat kunoichi itu... Aku... mana mungkin mampu membunuhmu,... menyentuh dan menaklukkan hatimu saja aku tak sanggup,...hikshikshiks..." Midori kembali terisak dan menunduk malu setelah mengungkapkan perasaannya pada Yui. Wajah Yui merona merah. "Bukan begitu, aku.." "Apa?!" hardik Midori. "Kau merasa dirimu adalah seorang samurai terhormat kan...

Yah,... Ryu bilang kau seorang ronin (samurai yang melarikan diri)... jadi kau tak pantas menikahi gadis miskin anak petani sepertiku kan?" "Tidak.." "Padahal aku cuma ingin punya seorang suami yang baik dan melahirkan anak untuknya... lalu apa alasanmu menolakku? Kau takut aku sudah dinodai pengawalpengawal Ono?" desak Midori sinis. "Tentu tidak,... tapi" "Tapi apa? Karena aku jelek? Atau jangan-jangan... karena aku punya luka bakar di sini,..." Midori menyingkap kimononya dan memperlihatkan luka bakar di paha kirinya pada Yui. Ia menangis sesenggukan setelah itu. Yui mengelus luka bakar Midori, merunduk, dan mengecupnya pelan, "bukan karena ini,..." lanjut Yui lagi. Midori tertegun. Yui kembali menegakkan tubuhnya. "... aku hanya takut... jika aku mencintai seseorang... suatu saat nanti dia akan pergi dariku, dan aku pasti akan merasa sangat kehilangannya..."pandangan Yui menerawang. "Bohong!" bentak Midori. Ia langsung berlari ke arah pantai dan terus menuju laut. Tubuh Midori terbenam air laut setinggi pinggangnya. Yui berlari mengejarnya dan menariknya, "Apa yang kau lakukan?" desak Yui. "Aku... hikshiks... lebih baik pergi menyusul keluargaku daripada sendirian di dunia ini... Aku.. hikshiks.. rindu mereka, lagipula... aku tak ingin hidup lagi jika kau tak menginginkanku..." Yui memeluknya erat,"maaf... aku tak tahu kalau kau begitu terluka,..." Ketika Yui melepaskan pelukannya, Midori berkata, "Tolong,... jadikan aku istrimu...." pipi putih Midori mendadak bersemu merah. Yui menghela nafas dan terdiam. Mata innocent Midori yang berwarna coklat seperti hazel nut mencoba meyakinkan Yui. Yui menatap Midori lama sekali... sampai akhirnya ia mengangguk lemah.

Midori mengelus pipi Yui dan balas menatapnya penuh arti... Perlahan-lahan ia menutup mata dan dengan tubuh bergetar Midori memberanikan diri untuk mengecup bibir Yui pelan-pelan. Wajahnya bersemu merah setelah melakukan ciuman pertama dengan lelaki impiannya. Saat ia mundur dan membuka matanya, Yui mengangkat dagunya lembut... tangan kanan Yui meluncur ke pinggangnya, menguncinya kuat, dan dengan beringas Yui mengulum bibir indahnya. Sambil memasukkan lidahnya ke

mulut Midori, tangan Yui menarik ikatan obi Midori hingga obi-nya terlepas. Midori berusaha melepaskan sendiri kimono luarnya sambil terus melilit dan membelit mesra lidah lelaki yang telah menaklukkan hatinya itu. Tangan Yui bergerilya ke balik kosode putih Midori dan meremas-remas dengan gemas salah satu buah dadanya. "Mmmhh..." Midori mulai kehabisan nafas dan menarik lidahnya. Ia menggigit mesra hidung Yui dan membuka kimono Yui. Ia memeluk Yui, yang tangannya sedang asyik bermain-main dengan dua manik-manik kecilnya. Yui membuat tubuhnya makin memanas. Ia menyapu bagian belakang telinga Yui dan tengkuk pria itu dengan lidahnya, "sslllrrpp....slrrrppp.....sllrpppp." Midori lalu merunduk dan menggigit puting Yui. Yui memekik pelan akibat keliaran Midori. Lidah Midori terus mengeksplorasi tubuh kekar lelaki pujaannya, terus ke perut six pack nya yang sexy, sekelling pusarnya, dan terus ke rambut-rambut halus di bawah pusar Yui... Kedua tangan Midori menarik ke bawah hakama (celana) Yui kemudian mengelus ular laut milik Yui yang sedari tadi telah siap menyerang dari balik hakamanya. Midori terus membenamkan kepalanya sambil menarik ular itu ke bawah permukaan air laut. Ia menggenggam si ular yang liar dengan kedua tangannya dan menjilati kepala si ular, "Mmm,... asin...hihihihi" tawanya nakal. Ia memang baru pertama kali melakukannya. "Coba masukkan ke mulutmu, sayang,...." bujuk Yui. Midori mencium bau khas yang sedikit memuakkan,... Tapi ia tak peduli, ia sangat mencintai Yui. Pelan-pelan ia masukkan benda keras sepanjang 20 cm dengan diameter sekitar 3 cm itu ke mulutnya yang mungil. Ia hanya menelan separonya karena mulutnya yang mungil tak muat menampung ular hitam kecoklatan itu. Ia mulai menyedot-nyedot pelan benda coklat kehitaman itu.

"Aahhh... aaah.. yahh, seperti itu" ujar Yui sambil menekan-nekan kepala Midori pelan agar batang kebanggaannya masuk lebih dalam ke mulut Midori. Midori memanjakan ular Yui dengan mengocok-ngocokkan kedua tangannya di atasnya. Lidahnya menjilati hingga ke dua biji pelirnya, mengulum-ngulum batangnya seperti manisan, menyedot-nyedot, dan terkadang menggigitnya pelan. "Hhhssshhhh.... hhhsshhh... Mi-channn... ahshhhh... aahhhsshh..." Yui memanggilmanggil Midori dengan panggilan kesayangannya ketika ia menerima servis yang hebring dari si gadis berdada montok itu. "Mi-chan,... sshhhh.... sshhhh... ahh,... akuu.. aahhhsshhh aahhhsshh... mau keluar.. hssshh..." Yui menikmati kelihaian Midori dalam memanjakannya, "ssshhh... terus sayang,... ssshhh ssshhh" desah Yui nikmat. dan "Crrrt...crrt...ccrrrtt..." cairan lengket pelan-pelan mulai membasahi mulut Midori. Midori menutup lubang kejantanan Yui dengan ibu jarinya dan keluar dari dalam air. Ia lalu menjilati bibir dan jari-jarinya yang lain, yang telah berlumuran cairan gurih kekasihnya.

"Jangan ditumpahkan di mulutku... Sda-sama... Aku ingin mengandung anakmu," bisiknya lembut sambil memeluk Yui. Midori menggesek-gesekkan kedua putingnya yang terasa mengeras dan kaku ke dada Yui... Putingnya teramat perih dan gatal akibat amukan birahi. Dada Yui membara karena digesek-gesek dua buah bola empuk dengan ujung keras meruncing milik Midori. "Aaaahhhsshh... ahhhsshhh..... sekarang?" tanya Yui sambil memegang ularnya sendiri dan menempel-nempelkan kepalanya ke kawah Midori yang sudah mulai mengeluarkan lava. "Hhhmmppffhhhh.... aaahhhssshhh... Jangan... mhh di siniiihh sshh hsshh...mmmhh," Midori menggeleng... "Nanti... hhhsshhh... benihmuuhhh... mmhhh.. mmhhh... terbawa aahhhss..... hhhssshhh.... air..." Midori mendesah-desah karena Yui menjilati dan menghisap-hisap kedua pentil kemerahannya secara bergantian. Yui memencet hidung mancung Midori pelan dan mengangguk. Ia membopong gadis cantik dengan kosode terbuka itu. Dari sela-sela kosode yang tertiup angin laut, terlihat dua gundukan padat dan kenyal di dada Midori yang mencuat indah. Kedua ujung mungil merah kehitamannya telah padat mengeras, dan belahan kemerahan di selangkangannya yang terlindung bulu-bulu halus berwarna kehitaman telah basah merekah.

Midori masih memakai sepasang kaos kakinya bersama kosode di tubuhnya yang disingkap-singkap nakal oleh hembusan kencang angin laut. Yui membaringkannya ke atas pasir. Sekali lagi keduanya berciuman. Tangan kanan Midori meremas rambut Yui sedangkan tangan kirinya digenggam oleh tangan kiri Yui. Tangan kanan Yui mulai mengeksplorasi gua Midori yang basah dengan jari-jarinya karena Yui sudah tidak tahan, ia tempel-tempelkan lagi kepala si ular nakal ke gua Midori yang dilindungi semak-semak lebat. "Ssshhh...Ketua...akh,...ssshh aku...mmhhh... takut..." ujar Midori yang terperangkap antara kenikmatan dan rasa takut..."Inihhh... sshhh... pertama kalinya, mmhhh..." ia menitikkan air mata sambil kelojotan keenakan. Yui melumat bibir mungil Midori, menghapus air matanya, dan bergeser dari atas tubuh gadis cantik itu. Ia kini ikut berbaring di belakang tubuh Midori yang tiduran membelakanginya. Ia memeluk Midori erat dari belakang dan mencumbu tengkuknya, "Mi-chan,... mmmhhh.... "Ksatria Laut" bagus sekali kan?" Tanyanya sambil menjilati bagian belakang telinga Midori. Ia mengalihkan perhatian Midori. Satu tangannya mengusap-usap pintu gua Midori. Tangannya yang lain memilin-milin dan menyentil-nyentil buah plum keras yang ada di puncak bukit-bukit putih Midori.

"Aahhhssshhh.. yahh.. sshh..ahh" "Aku akan membawamu dan anak-anak kita berkelana di atasnya... kamu mau kan?" Yui mencoba membuat Midori rileks dengan mengajaknya bicara dan terus menstimulasi Miss V dan payudaranya. "Mmmhh... mmhhh... aahhhsshh" Midori berusaha mengangguk, tapi terlalu sulit untuk melawan sensasi nikmat yang ditimbulkan oleh gesekan jari telunjuk dan tengah Yui di bagian paling pribadinya, malah terkadang ular Yui yang sudah lapar pun ikut menggesek-gesek sela kedua bokongnya. Jadi ia malah semakin melenting ke depan, membiarkan Yui memainkan dua bukit kembarnya dengan lebih leluasa. "Sayang, kamu siap berkelana bersamaku?" tanya Yui bernafsu. Midori mengangguk pasrah. Pelan-pelan ia mengangkat satu pahanya dan melilitkannya ke arah belakang. Betis mulus Midori mendarat di pinggang Yui. Midori membiarkan ular Yui yang sudah sangat lapar melewati dua bongkahan pantatnya yang putih mulus. Kepala si ular berusaha menerobos semak-semak dan mulut gua yang sempit. Setelah berhasil melewati rintangan itu (emang Benteng Takeshi :P), si ular liar menjalar lebih dalam sambil berdenyut-denyut untuk mencari mangsa di dalam gua rahasia Sang Bidadari. Si ular agak kesulitan menjelajahi gua akibat ukuran tubuhnya yang terlalu besar untuk gua sempit Midori.

"Ssshhh... Akhssshhh.... mmpphhh... mmmhhh.. aakkhh... sakiit..." ujar Midori sebelum kesemua tubuh ular hitam kecoklatan itu menembusnya. Yui semakin aktif merangsang daerah-daerah erogen pasangannya. Ia biarkan cairan cinta Midori mempermudah bersatunya kedua raga sejoli yang dimabuk cinta itu. "Sayang,.... mmhhh.... mmmhhh... sudah berkurang sakitnya...," kata Midori lirih beberapa saat kemudian. Saat rasa sakit Midori berangsur-angsur berkurang.... Yui menarik ularnya keluar sedikit lalu mendorongnya sekuat tenaga,"Jlleebb... plok!" selangkangan Yui kini menempel rapat di bokong mulus Midori. "Gyaaa....!" teriakan Midori membelah malam. Yui berhenti sesaat,... "Masih sakit?" ia bertanya pada gadisnya setelah keduanya menyatu selama beberapa saat. "Yah... mmhhh... perih.. mmmhhh mmhh...tapi... sshhh.. perlahan-lahan hilang... mmhhh rasanya aahhh... penuh sekali.. sshhh ssshh.... tapi... mmhhh yah... di situ sayang ahhh shhhh shhh yahh ahhh... terus ahhh yahh sshhh shhh lebih cepat... aahhh... sshhh lebih cepat ssshh sshhhs sshhh shh yaaa... yaaaa... mmhhh terus sayang mmmhhh" Midori menceracau saat Yui mulai menggerak-gerakkan ularnya di liang perawan Midori.

Ular Yui ternyata lihai juga menemukan mangsanya, sebuah daging kecil kemerahan yang berbahaya jika disentuh. Seisi gua bisa berdenyut-denyut dan memeras-meras tubuh licin sang ular jika benda itu diseruduk-seruduk liar oleh kepala si ular. Cairan lengket berwarna merah darah keluar dari gua Midori. Cairan itu merembes ke pasir tempat dua insan yang dimabuk asmara itu berbaring. Yui mencium lembut Midori dan memainkan telunjuknya di sekitar areola Midori. Sesekali ia daratkan jarinya ke puting si Cantik dan memilin-milinnya. Saat lenguhan Midori makin menjadi-jadi, Yui menarik ularnya yang kini telah dilumuri warna merah,... bekas darah keperawanan Midori. Sedetik, kemudian.... "jlebh... jlebbhh... plok..." ia masukkan lagi setengah bagian Mr.P nya yang tadi sempat berada di luar ke liang sempit Midori.

"Shhhh.. hahhhh... hahhhsshh..... hhssshh..... ahsss..." Midori merasa luar biasa nikmat saat kepala si ular menyundul pelan G spotnya. Yui mulai memompanya pelan, Midori ikut bergoyang mengimbangi keperkasaan kekasihnya... "plokh....plokh...plokh...plokh.." Yui merasa remasan rongga surga Midori makin kencang, sodokan-sodokan Yui makin cepat dan liar karena birahinya terbakar... si ular makin intens menggesekgesek kumpulan serabut saraf pembawa nikmat dalam rongga surga Midori. Tubuhnya terayun-ayun ke depan dan belakang. "Ahhhsshh.... aahhhssshhh... Yuiiiii.... sshhshhss....sshhsshh" lenguhnya. Tetesan keringat, buah dadanya yang berayun, dan ekspresi wajahnya yang terpejam-pejam seksi saat menggigit bibir bawahnya menambah nuansa erotis dan akhirnya "ccrrrtt...ccrrrtt...ccrrtt..." Midori sampai pada puncak kenikmatannya... "Sssshhh...sshhh... ennaakk...sayang....ahhh... yahh...yah...mmhhh mmmhh" Desahan Midori makin membakar birahi Yui. Yui jadi makin semangat menghunjam-hunjamkan senjatanya ke liang peret Midori. Ia melakukan pompaan terdahsyatnya sekitar 25 menit... Yui sudah bermandi peluh, namun sodokannya masih sangat cepat, tepat, dan akurat (ga pake terpercaya, emang Lintas Lima wkwkwkwk).... hingga akhirnya "crooottthhh..." ular Yui memuncratkan seluruh bisanya dan gerakan Yui mulai melambat. Si ular yang sudah lemas pun menyerah dan merayap keluar dengan sendirinya dari gua hangat Midori yang tadi meremas-remasnya kencang. Yui yang kelelahan mencium pipi Midori dan berbisik "Terimakasih, Mi-chan,..." Midori hanya mengelus rambutnya mesra, nafasnya masih tersengal-sengal.

************************* Rombongan perompak dan Baba Shaman berlari tunggang-langgang. Dari jauh mereka dikejar oleh empat orang pengawal Ono-sama.

"Midoriiii.... Yuii... Kita dikejar..." teriak para perompak dari kejauhan. Yui menyambar pakaiannya lalu mengangkat Midori yang hanya diselimuti secarik kain ke atas kapal. Midori terbangun dan bertanya," Sayang, ada apa?" "Kita dikejar. Kau duduklah di sini. Aku akan membantu saudara-saudaraku dulu." Midori menggenggam tangan Yui. "Kau akan kembali kan?" Yui mengangguk pasti. Karena merasa tersudut, Yui dan teman-temannya naik ke atas kapal. Jangkar kapal segera diangkat, layar dikembangkan, dan mereka mulai berlayar meninggalkan pantai itu.Setelah keadaan sedikit tenang,... "Mmmmhhh... aku mencium bau sperma." ujar Take sambil mengernyikan hidungnya. "Heh, jangan bercanda... mana ada yang sempat ke rumah bordil tadi!"protes Yuta. "Ya, tapi baunya menusuk... kau onani ya Fuko?!" tuduh Ryu. "Tidak! Baju baruku pasti kotor kalau kulakukan itu." Sangkal Fuko. "Bukan aku... tabib yang tadi mengobatiku pun laki-laki... aku bukan homo." Jawab Tae karena ia takut dituduh bersenang-senang sendiri tanpa sahabat-sahabatnya. Yuta mengangguk setuju. Memang ia yang mengantarkan Tae tadi. "Jangan-jangan... kau ya Rao? Kau kan pergi beli sake... bisa saja kau beli itu di rumah bordil." Yuta menuduh yang lain. "Tidak!" Rao menjawab dengan ketus, "mungkin Hiro bukannya beli paku..." Hiro menggeleng dan mengeluarkan paku dari bungkusannya, "tiiiddtiiiidddtiiiddddddak... iiinnniinniih paapakkuunyyaah..." "Jadi?!" Ryu menatap penuh selidik ke semua anggota yang lain. Baba Shaman hanya tertawa dan nyeletuk, "Hahahahaha... malam ini seseorang telah benar-benar menjadi seorang lelaki..." Wajah Yui bersemu merah merasa tersindir, sedang teman-temannya yang lain justru memandang aneh Baba Shaman dan dengan kompak berkata,"Wanita tua aneh,..." Untuk menutupi kecanggungannya, Yui pergi menemui Midori. Ketika ia membuka pintu kamar Midori, seorang shinobi dengan penutup wajah menutup mulut Midori yang tubuhnya terikat. Ia membawa Midori melompat dari jendela kapal. Yui mengejarnya sampai ke jendela. Ternyata di bawah jendela seorang ninja lain telah menunggu di atas sekoci. Kedua ninja itu membawa tawanan mereka pergi menjauh

dari "Ksatria Laut". Yui melompat dan berenang mengejar kedua shinobi yang membawa Midori sebagai tawanan. to be continued...

The Blue Serenade of a Kunoichi 2


Seluruh kimono Yui basah kuyup, demikian juga rambutnya. Ia berteriak lantang, Hai ninja pengecut! Tampakkan diri kalian! Sebuah shuriken (bintang ninja) meluncur ke arahnya. Yui dengan refleks menebas shuriken di depannya dan membelahnya jadi dua. Blesh! kepulan asap muncul di hadapannya. Bajak laut busuk... kami ingin kau mati. ujar ninja berbaju hitam. Siapa tuanmu?!bentak Yui. Siapa tuan kami? Hahahaha... ninja biru yang menyandera Midori keluar dari balik pepohonan. Midori seperti coba meneriakkan sesuatu tapi tak terdengar jelas. Kau tak perlu tahu,... hiiaaaaattt!!! si ninja hitam menyerang Yui dengan tusukan kilat. Trang! Yui menangkis ujung pedang si ninja dengan mata pedangnya. Krrttt.....krrrttt....krrrtt, kedua pedang berbeda kualitas itu beradu. Yui menendang tubuh si ninja, Bruak! si ninja terpelanting ke belakang dan berjongkok. Trang! si Ninja menyerang sekali lagi. Kali ini dua mata pedang beradu. Tanpa Yui duga, si ninja menyisipkan belati kecil di pegangan pedangnya. Ia mencabutnya dari sana dan ia sarangkan belati itu secepat kilat ke tubuh Yui. Yui membelalak, dari perutnya darah tak berhenti mengucur. Midori mencoba melepaskan diri dari penyanderanya, tapi ia terlalu lemah. Yui menyobek lengan kimononya dan mengikatkannya pada lukanya sendiri. Ia berusaha agar darahnya berhenti mengalir. Si ninja menghilang dan membentuk seribu bayangan yang mengitari Yui.

Batt... bettt...battt... bettt... sambaran-sambaran pedang datang dari segala arah.

Luka-luka kecil bekas sambaran pedang si ninja mulai memenuhi tubuh Yui. Midori makin kuat memberontak. Ia begitu khawatir dengan keadaan suaminya. Yui menutup matanya. Ia mencoba tak mempedulikan rasa nyeri sambaran-sambaran pedang itu. Luka-luka di tubuhnya makin banyak dan kian menganga. Ia berkonsentrasi....ia biarkan pedang milik Tuan Shni Fuyuhisa memilih sendiri korbannya. Lalu,... srettt... dalam sekejap mata tangannya telah terayun dan kepala si ninja menggelinding dari tempatnya. Kaki Midori lemas seketika, ia langsung pingsan di tempat. Ninja biru yang ketakutan menyambar Midori dan segera melompat dari satu dahan pohon ke pohon lainnya. Yui yang telah berlumuran darah mengejar si ninja biru. Ia tak mau kehilangan gadis yang ia cintai. Sampai di tepi sebuah jurang, tiba-tiba.. jreett! dua kaki Yui terbelit perangkap si ninja. Sekarang posisi tubuhnya terbalik. Kakinya tergantung di atas dan kepalanya di bawah. Lalu kabut asap tebal mengelilinginya. Tenggorokannya tercekik oleh gas beracun itu. Ia menahan nafas dan menggapai-gapai katananya. srettt... dengan satu tangan ia putuskan kedua tali yang membelit kakinya. Ia jatuh ke permukaan tanah selepasnya. Kabut masih begitu tebal, ia tak menyadari bahwa sebuah jutte (sejenis pisau) menusuk jantungnya. Matanya terbelalak dan tubuhnya terjatuh ke tanah. Seseorang mengambil katana di tangannya dan mengikat katana itu di belakang punggungnya. Ia bopong tubuh Yui ke arah jurang dan ia lemparkan jasad Yui begitu saja. Di bawah sana laut sedang pasang, ombak menyambar-nyambar liar batu-batu karang raksasa yang kokoh membentengi pantai dari amukan samudera.

***********************

Midori Midori membuka matanya karena seseorang mengguyur wajahnya dengan air. Dia sudah bangun, senpai. (kakak seperguruan) celetuk si ninja biru.

Di mana suamiku?bentak Midori. Bajunya kini basah kuyup lagi. Kedua putingnya yang masih kaku dan keras sehabis dipakai bercinta dengan Yui makin terekspose di balik kosode-nya. Ia memang belum sempat mengganti pakaiannya. Vaginanya pun masih becek berlumuran sperma Yui tanpa dilapisi secarik kain pun. Suamimu?! ninja abu-abu meledeknya. ...kau kan baru akan dinikahi oleh saudagar tengik itu... jadi kau belum bersuami. Ninja coklat yang ternyata juga ada di tempat itu terbahak-bahak, Huahahaha... jangan kau sebut-sebut tentang juragan bodoh itu ott-kun (adik)... Jadi,... kalian semua anak buah Tuan Ono? Midori memastikan. Ninja coklat menarik dagu Midori, Sudah kubilang kan cantik,... kami tak sudi jadi anak buah bajingan tukang kawin itu... kami hanya butuh uang dari dia,... sedangkan kesetiaan kami... hanya untuk Tokugawa-sama. Senpai, berarti ia masih perawan kalau begitu? tanya ninja biru sambil memandang lapar kedua tonjolan puting Midori. Senpai, bagaimana kalau kita nikmati saja dia dulu sebelum kita serahkan pada saudagar tengik itu? Bukankah selain dapat uang, kita juga dapat hiburan Senpai? usul ninja abu-abu. Aaahh,... benar juga,... jawab si ninja coklat. Ninja coklat memeluk paksa Midori dan mencengkeram kasar buah dadanya dari balik kosode-nya. Plak! Midori menampar si ninja coklat. Plak! si ninja coklat balas menampar Midori sampai bibirnya berdarah. Midori menahan rasa sakit dan mengusap lukanya. Si ninja coklat menarik tangan Midori yang berlumuran darah. Ia mendekatkan tangan itu ke penutup hidungnya dan mengendus-endusnya. Aku suka bau darah,... gumamnya.

Blesh! kabut asap tebal menggumpal, seutas tali membelit tubuh Midori ke sebuah pohon. Si ninja coklat tak tahu darimana asal tali itu.

Jangan menggertak kami! Tampakkan dirimu!teriak si ninja coklat. Sesosok ninja berpakaian merah muncul dari balik kabut asap yang mulai menipis. Sedang akan berpesta rupanya... komentar si ninja merah. Tuan Hattori... ketiga ninja itu langsung menyadari dari suaranya, bahwa ninja merah itu adalah pengawal kepercayaan Tokugawa, Hanzo Hattori. Mereka serentak memberi hormat. Maafkan kami karena tidak menyambut kedatangan Tuan dengan layak. Ya,ya,ya,... Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah ikut campur urusan kalian. bajak laut itu membawa lari katana Shni yang harus kuserahkan pada Tuan Tokugawa. Tuan Tokugawa sangat ingin memberikannya sebagai hadiah untuk Tuan Oda Nobunaga. Jadi aku terpaksa ikut campur. kata Hattori. Ilmu ninja Tuan sangat hebat, sampai-sampai tak satupun dari kami menyadari kedatangan Tuan...Kami sangat terhormat mendapatkan bantuan Tuan dalam menyelesaikan tugas sepele kami. Silakan jika Tuan berkenan membawa pedang itu... si ninja coklat yang terlihat paling senior di antara ketiga ninja itu menjawab perkataan Hattori. Tapi,... aku sedikit kecewa pada Jiraiya... kenapa ia bisa terbunuh dengan begitu mudahnya. Hattori berkomentar lagi. Ampuni kami Tuan, lain kali kami akan lebih berhati-hati. Jawab ketiganya. Bagus,... Hattori mengangguk-angguk. Midori yang mendengar kata bajak laut langsung berteriak, Apa yang kau lakukan pada bajak laut itu, penjahat busuk? Ijinkan aku Tuan, ninja coklat membungkuk dalam. Ia berdiri dan menampar Midori sekali lagi. Lancang sekali kau perempuan! Tidak ada yang boleh menghardik Tuan Hattori. Ia lalu berlutut kembali Hattori tertawa,hahaahaaahaa,... biarkan saja ia tahu... laki-laki pembawa pedang itu sudah kubunuh. Jasadnya kujatuhkan ke jurang dan sudah ditelan ombak. Jahanaaammm!!! Midori berteriak histeris dan mengalirkan air mata. Hahahaahhaaahaaa... Hattori menghilang, namun suaranya masih membahana di seantero langit.

*****************************

Ketiga ninja itu bangkit. Mereka mengerubungi Midori yang terikat di sebatang pohon momiji. Ninja coklat menutup mata Midori dengan secarik kain. Apa mau kalian?! teriak Midori. Kami ingin kau melayani kami,... hehehehe ujar si coklat mesum. Kedua rekannya yang lain ikut tertawa terbahak-bahak. Ketiga ninja itu membuka semua kostumnya masing-masing, tinggal celana dalam mereka yang menyerupai celana sumo saja yang tersisa di tubuh-tubuh mereka. Si ninja abu-abu ternyata kurus kering bagai jerangkong morfinis (saking keringnya...^_^), kedua matanya cekung dan menyeramkan. Ninja biru mukanya penuh bekas luka sabetan pedang dan di pipi kirinya ada tembong hitam berambut, sedangkan si coklat hampir semua giginya berwarna kuning dan hitam. Gigi-gigi taringnya diganti dengan perak tajam... kalau ia membuka mulut ia bagai sesosok drakula yang tak pernah sikat gigi (hueekkss... bayanginnya aja mau muntah nih :P). Beruntung Midori yang cantik tak boleh melihat wajah mereka. Ninja coklat yang berdiri di depan Midori menyingkap kimononya sampai dua bukitnya tersembul. Si ninja coklat meremas gundukan kanan Midori lalu melahap bukit itu. Ia mengenyotngenyot rakus payudara Midori sambil tangan kirinya menekan puting kiri Midori dengan kedua kukunya yang tajam seperti cakar. Waktu darah keluar dari puting kiri dan payudara kanan Midori, si drakula menjilatinya. Aaaakkhhh.... Midori ternganga dan jatuh terduduk karena saking sakitnya. Kesempatan itu tak disia-siakan si abu-abu. Ia langsung menyumpalkan penis panjang dan besarnya (lebih besar dari milik Yui) ke mulut manis Midori. Ia men-deep throat Midori sampai tersedak-sedak. Ia memaksa Midori mengocok barangnya dengan mulutnya. Midori menghisap-hisap, menjilat-jilat, dan mengenyot-ngenyot benda bau itu. Si abu-abu kelojotan menerima service bibir mungil Midori yang sudah mulai pandai meng-oral penis. aahhhsshhhh...ahhhhshhh... si abu-abu bergidik asyik. Tak lama kemudian, crooott.... spermanya menyembur di kuluman si cantik. Midori dengan lahap menghisap-hisap dan menjilati sperma gurih tapi bau yang dihasilkannya itu. Kedudukan sementara 1-0 untuk si cantik Midori.

Si Coklat terus menjilati kedua puting, areola, dan payudara Midori yang berlumuran darah. Puas menyusu, ia renggangkan kedua kaki Midori dan ia letakkan di pundaknya. Ia singkap kosode yang melapisi segitiga Midori. Ia senang sekali waktu tahu segitiga Midori tak lagi berlapis apapun. Ia dekatkan segitiga itu ke wajahnya. Si coklat terangsang waktu menghirup wangi khas daerah kewanitaan Midori yang ber pH 3,5 (Iklan banget). Ia menjulurkan lidahnya menyapu bibir gua Midori yang rimbun. hhhssshhh....hhhsshhh.... Midori berdesis...

Si coklat mengernyitkan dahi. Cairan lengket di gua Midori itu bukan hanya cairan cinta si cantik yang terangsang waktu ia menyusu padanya. Ia melihat ternyata ada bekas sperma pria lain yang menempel juga di kosode putih gadis yang konon katanya sakitnya karena diguna-guna (dangdut mode: on :P), eh....konon katanya belum pernah disentuh si juragan tengik itu! Si cantik bukan lagi seorang perawan, si coklat menyimpulkan. Ia pasti baru saja selesai bercinta dengan seseorang,...kalau bukan si juragan tengik itu yang memerawaninya,... pasti si bajak laut busuk yang dibunuh Tuan Hattori itu yang lebih dulu menyerobot keperawanannya... Sial! makinya dalam hati. (ulat, ulat, kepompong, kupu-kupu, eh ninja coklat,emang kacian deh luuu wkwkwk) Si biru yang ikut horny menonton adegan bokep gratisan di depannya tidak mau ketinggalan. Ia memilin-milin dua puting Midori yang kebetulan masih menganggur dari belakang pohon momiji berdiameter 50 cm itu. Ia lalu menggesek-gesekkan penis nya ke celah-celah pohon. Ia onani sambil meremasi, menyentil-nyentil, memilinmilin, serta menarik-narik dua buah plum matang milik Midori. Tak cukup dipuaskan oleh batang pohon, ia selipkan batang tumpul miliknya di antara dua bulatan montok Midori. Tangannya mencengkeram erat dua gundukan itu, kedua jari telunjuk dan jempolnya dengan lihai bermain-main dengan puting-puting Midori. Si biru mengocok penisnya dengan dua bongkahan kenyal Midori sambil terus mencengkeram dan bermain dengan ujung-ujungnya. hhuufhh...ssshhhshhh sshhh aahhhssshh aaahhhsshh. si biru sangat terangsang, gerakannya makin lama makin cepat, serrtt....seeerrrtt...seeerrttt....sseerrtt... ia terpejam-pejam mupeng. Hingga crottt... spermanya menyembur ke payudara dan perut Midori. Midori kini memimpin 2-0 atas tim ninja.

Coklat makin berani, ia mulai memasukkan lidahnya yang bergerigi ke dalam gua hangat Midori. Ia bermain-main dengan klitoris si cantik, hahhhhh,.... hahhh,...hssshhshh...sshhshhsshh... Midori benci tubuhnya yang mengkhianati Yui. Ccrrrtt....crrrttt...ccrrrtt cairan cintanya meluber, si coklat menyucup-nyucup habis cairan itu dan menjilat-jilat sisanya. Coklat memperbaiki skor tim ninja jadi 1-2. Ayo Midori, kamu bisa!!! (Lho ada supporternya toh?! :P) Srrtt... si coklat menggoreskan kukunya ke perut Midori, darah langsung mengucur dari sana. Kukunya memang tajam sekali. Ia jilati darah segar yang mengalir dari luka di perut rata tanpa lemak milik sang bidadari. Aku masukkan saja kuku tajamku ini ke liang senggamamu, biar aku bisa minum lebih banyak darah... ujar si coklat sebelum memasukkan jemarinya ke rongga kenikmatan Mi-chan. Midori menangis.... ia bisa mati seketika kalau si coklat benar-benar memasukkan kuku-kuku setajam pisau itu ke vaginanya, ia sangat ketakutan.

Yui... tolong aku.... tangisnya dalam hati. Midori gemetar ketakutan, ia berusaha menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih dalam posisi di deep throat oleh si abu-abu. Abu-abu ingin adik kecilnya bangun lagi, karena baginya pijatan payudara Midori cuma makanan pembuka, ia ingin menu utama yang lebih mak nyussszzz lagi, rongga dubur Midori. Dasar perek, sudah tak perawan kau heh?!bentak si coklat. Midori cuma bisa menangis. Kenapa? Kau takut ya mengeluarkan darah lagi setelah malam pertamamu dengan bajak laut buduk itu, heh?!... Jadi bersiaplah menerima kuku-kukuku. gertak si Ninja. Midori berusaha meronta-ronta melepaskan diri dari posisi wuenak ninja cs saking ketakutannya. Hiaaaattt... si ninja pura-pura memasukkan kuku-kuku jemari tajamnya ke vagina Midori. Midori lebih kuat memberontak. Hahahahahaha... tawa ketiga ninja yang sedang menggarapnya. Laluu... sreett...sreeett... si coklat menggesek-gesek lagi bagian luar vaginanya dan jleb,...jleb,... jleb,... jleb,.. ia lanjutkan dengan mencolok-colokan dua jarinya ke liang merekah milik si cantik bermata coklat menawan itu.

Ahhssshhsshhh.....hhssshhhshsss...ahshhs.....ashhhsshh... Midori malah mendesis keenakan lagi... tak ada rasa sakit sama sekali seperti yang ia takutkan... Dua ninja lain tertawa lagi, Senpai, kau menakut-nakuti gadis kecil yang malang... Lihat Senpai, ia kelojotan karena ingin di-entot Senpai. ujar si Abu-abu meledek. Si Biru ikut menimpali, Wuah lihat Senpai,... ia sampai banjir begitu... Aku sudah khawatir... kita akan kehilangan uang kalau Senpai membunuhnya. Ternyata Senpai baik hati juga, mengirimnya ke surga tanpa membunuhnya... hehehhheheh Huahahahaha.... Tapi lihat saja... aku pasti akan membuatnya berdarah-darah seperti di malam pertamanya... seringai si coklat. Wow!! Ajiiibb.. si biru takzim pada seniornya. Buka talinya! ia memerintah dua ninja lain. Si biru dan abu-abu langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka membuka tali yang mengikat Midori. Batang Penis keduanya sudah mengacung tegak lagi setelah tadi sempat masing-masing satu kali kalah main melawan bibir dan payudara Midori.

Midori yang sudah belepotan sperma mereka baringkan ke tempat lapang tak berpohon. Rembulan bersinar redup menerangi hutan jahanam tempat seorang gadis tak berdosa digilir oleh tiga ninja bayaran yang diperintahkan untuk menculiknya. Si coklat mengangkat kedua kaki Midori lagi. Ia menyingkap kain penutup kemaluannya sendiri. Sebuah penis besar yang ujungnya berlapis kondom tradisional Jepang menyembul perkasa dari balik kainnya. Kondom tradisional Jepang pada masa Sengoku sangat menyakitkan si wanita, karena terbuat dari tempurung kura-kura yang tidak berpelumas. Kondom itu tidak menyelimuti semua bagian penis, hanya ujungnya saja yang diselubunginya. Ia memasukkan paksa penisnya yang berujung tempurung kura-kura miliknya (ya sebut aja penis berperisai itu si kura-kura ninja... bruak ^^) dengan satu hentakan kuat. Kyyyaaaaaaa....!!!!! Midori benar-benar dianiaya secara seksual oleh si coklat pecinta sadisme itu. Tentu saja darah segar meleleh dari liang Midori. Darah itu jelas mengalir bukan akibat ia masih perawan,... dinding vagina bagian dalam Midori lah yang lecet karena kebiadaban si coklat. Tanpa ampun ia terus menghujam-hujamkan siksaan ke kawah cinta Midori.

Si abu-abu mendudukkan Midori yang masih berteriak-teriak kesakitan karena disenggamai paksa tanpa foreplay oleh si coklat. Si abu-abu menggesek-gesekkan lagi penisnya, kali ini di belahan pantat Midori. Lama-lama ia meraba-raba anus Midori dan mencelup-celupkan ujung jari ke dalamnya. Si coklat mafhum apa yang diinginkan adik seperguruannya. Si coklat berdiri menggendong Midori dengan posisi penisnya masih berada di vagina gadis cantik itu. Ia menurunkan kedua kaki mulus Mi-chan dari pundaknya. Si abu-abu langsung ikut meremas-remas pantat Mi-chan, melebarkan celah di antara kedua bongkahan putih mulusnya dan menjilati dubur sampai daerah vagina Midori yang masih dipompa si Coklat plopphh...plopphh,...ploopphh..... Kadang tanpa sengaja ia pun ikut menelan cairan cinta bercampur darah dari liang vagina Midori. Setelah si abu-abu merasa tempat pembuangan Midori sudah basah oleh ludahnya, ia langsung merekahkan lubang dubur si Cantik dan kepala ularnya ia tempelkan ke lubang lain Midori yang masih perawan. Jangan,... tolong jangan di situ... janggaaannn... ahhkk nnggaahhkk Midori menangis memohon dan mencoba berontak. Si abu-abu tak peduli, ia terus mendesak-desakkan penisnya ke dubur wanita itu. Ia begitu bernafsu ingin menyodomi sang Bidadari. Aaakkkkhhhh.... aaaaaakkhhh..... aaakkhhh... Mi-chan melolong-lolong kesakitan waktu penis si abu-abu melesak-lesak ke dalam duburnya. Jlebh....jlebhh...jlebhhh....jlebbhh...plok! perlu berkali-kali tusukan untuk menenggelamkan seluruh kejantanannya ke dubur Midori dan gyaaaaaaaaaa...!!! Midori berteriak lagi. Sensasi dijepit-jepit dubur si cantik memang asoy, apalagi lubangnya bertambah sempit karena si coklat juga sedang menikmati denyut-denyut

hangat lubang Midori yang satunya. Si coklat terlihat berpagutan hot dengan si cantik untuk merangsangnya. si abu-abu juga kembali menstimulasi puting-puting merah kehitaman milik sang bidadari itu dengan jemarinya. Si biru yang memang anak bawang cuma bisa menyaksikan keganasan dua rekannya. Ia menggosok-gosok sendiri batang penisnya.

Si coklat yang kini menciumi tengkuk Midori berhenti sejenak, ia menertawakan juniornya Hehehehhheheh... horny hah?! Ayo gabung saja Ott. Ia mengajak si biru ikut menggarap tubuh molek Midori. Mereka berganti posisi. Si abu-abu duduk di tanah. Penisnya yang mengacung tegak dimasukkan ke lubang dubur Midori. jlebh...jlebh..jlebh... kali ini sedikit lebih mudah karena cairan cinta si abu-abu sudah mulai menetes-netes memperlicin tempat buang air besar Midori. Ngehk..ehk...sshhh...sshhh... rintih Midori menggemaskan. Ia masih merasa geli karena ada benda keras berdenyut-denyut dimasukkan paksa ke lubang belakangnya. Setelah si coklat duduk, ia juga memasukkan penisnya ke vagina Midori. Sssshhh... aahhsshhh....eehhhsshhh... kali ini klitoris Midori tergesek-gesek ujung kura-kura ninja-nya. Satu,... dua,.. tiga,..!!!serempak si coklat dan si abu-abu menaik turunkan pinggul Midori ke atas dan ke bawah. plok...plok..plok....plok... suara yang timbul puluhan kali akibat perbuatan asyik masyuk mereka. Buah dada Mi-chan ikut berayun-ayun eksotis. Kelopak matanya terpejam nikmat, aaahhshhhh......aahhhssshhhh hhhsshhhh.... Midori menikmati permainan itu. Si biru minta di-blow job oleh Mi-chan. Ia dekatkan penisnya yang berdenyut-denyut ke bibir Mi-chan lagi. Ia ketagihan belaian dan hisapan-hisapan Mi-chan di bagian vitalnya. Lama-kelamaan Mi-chan terbakar nafsunya sendiri dan lupa kalau ia sedang diperkosa. Ia goyang-goyangkan sendiri pinggul berisinya sambil menjilati, mengocok, menghisapi, dan menggigit-gigit penis si biru dengan lidah dan tangan kanannya. Tangan kirinya memelintir, memilin-milin, mengelus-elus, dan menariknarik puting-putingnya sendiri secara bergantian. Aaaahhsshhhh.... ahhsshhh... hhshhh.. terusss... aahhhsshh.... lebih cepat hhssshhh hsshhh akhh akkhhh aakkkssshhshh... desahnya.

Ketiga Ninja itu menertawakan dan mengatainya pelacur, wanita jalang, murahan, dan sebagainya, tapi yang tersisa di pikirannya tinggal satu hal: kenikmatan! Setelah agak

lama bergoyang heboh, tubuh Mi-chan menggelegak hebat, aaaahhhkkkk... ccrrttt....... ccrrtt..... ccrrrrrrrrtt.... hehh....hehh...hhh... napasnya memburu. Buah dadanya ikut naik turun menggoda. Kini kedudukan 2 sama bagi Midori dan tim ninja. Tapi tak berjarak begitu lama, terjadi kekalahan bertubi-tubi pada tim ninja. Karena keahlian ber fellatio Mi-chan, Crrooothh... si biru keluar lagi. Mi-chan menelan dan menjilati serta menghisapi lagi sisa spermanya. Disusul si abuabu...Ngehhhk...crooth!...spermanya tumpah ruah dari dubur Mi-chan akibat ia tak sanggup lagi mengimbangi goyangan Mi-chan yang membuat ularnya terjepit-jepit nikmat di dalam rongga anus Mi-chan. Ular itu pun melarikan diri dari liang Mi-chan setelah tak mampu bertahan. Aaaahhhhsshhhsss........aahhhshh....ehhkkk....croth! akhirnya kesadisan kura-kura ninja si coklat kalah juga dengan jepitan-jepitan erat otot vagina dan perut Mi-chan... Kontraksi kencang rahim Mi-chan memijat-mijat nikmat si kura-kura ninja sampai ia tak mampu bertahan lagi dan meloloskan diri dari sarang hangat-hangat empuk Michan. Pertandingan berakhir, hasil akhir 5-2 untuk Midori. Kini tubuh-tubuh bugil itu rebah tak berdaya di atas rerumputan. Para ninja terlelap tidur. Midori, yang masih memakai sepasang kaos kaki, kain penutup mata, serta kosode yang terbuka bagian dada dan vagina ke bawahnya, meneteskan air mata. Kini, ia tak ubahnya seperti seorang pelacur.

**************************

Midori tampak semakin cantik dengan kimono putih dan riasan di wajahnya. Hiasan khas pengantin tradisional Jepang menghiasi rambut hitam panjangnya yang disanggul. Ia duduk menunggu di dalam sebuah ruangan. Hari ini ia resmi jadi mempelai Tuan Ono. Kejadian buruk seperti kemarin malam akan menimpanya lagi. Ono membuka pintu geser kamar itu. Ia berjalan terhuyung-huyung. Dari mulutnya tercium aroma sake berkualitas tinggi. Tanpa berkata-kata, ia langsung menubruk tubuh Midori dan menindihnya di atas tatami. Ia menolak ketika bibirnya hendak diserang lelaki gendut botak dan bermata sipit itu. Akibatnya, leher mulusnya yang jadi sasaran kecupan, jilatan, dan gigitan bertubi-tubi Ono. Tangan Ono menarik obinya dan menyingkap terbuka kimononya. Bibir monyong Ono langsung mencucup-cucup puting susu Midori secara bergantian. Tangannya menggosok-gosok alat vital Mi-chan yang masih perih karena habis dipakai untuk memuaskan empat orang laki-laki kemarin malam. Ono masih terus mengusap-usap vaginanya sambil memainkan puting-putingnya... sshhhh... aahhhssshhh....aahhhsshh.... Midori menggelinjang geli.

Lidah Ono menjilati seluruh tubuhnya... Midori mendesah-desah waktu ia mulai menjilati areola kehitamannya dan menghisap-hisap serta mengulum-ngulum bergantian kedua puncak ranumnya. Ono menjilat perut Midori, area sekeliling pusar, dan akhirnya lidahnya yang nakal mengelitik bibir luar vagina kemerahannya yang plontos dan terus masuk ke bibir dalam kawah cintanya. Si lidah nakal menjilat-jilat klitoris Mi-chan, aahhhhssshhh.... aahhsshhsshh... ia melenguh lagi. Ono menggigit-gigit kecil klitorisnya dan hhmpffhhh... hhmpfhhh... ia makin memanas. Tangannya menggerayangi hakama Ono. Ono mengeluarkan juga benda pusakanya karena sudah mulai gerah berada di sarangnya. Ukuran benda keramat Ono tidak ada apa-apanya dibanding para pria yang telah menidurinya kemarin malam. Tapi mungkin kecil-kecil cabe rawit, pikir Midori. Buktinya, ia adalah selir ke 12 Onosama. Ia memijat-mijat benda yang walau sudah menegang panjangnya cuma 5 cm itu. Midori menjilati kepala penis berkulup milik Ono, ia dengan terampil memainkan lidahnya dan mulutnya di helm si penis. Ia jilat, lalu ia kulum dan hisap-hisap, dijilat lagi, digigit pelan, dikenyot lagi.... Ia kocok-kocok si kecil dengan tangan mulusnya dan ia bimbing ke arah vaginanya yang merah merekah, kali ini vagina Midori memang benar-benar gundul karena sang perias pengantin mencukur habis bulu-bulu kemaluan Midori saat melakukan perawatan pra-pernikahan. Midori menggesekgesekkan penis mungil itu ke vagina nya yang lapar. aahhhssshhh...... Mi-chan mulai terangsang. Baru sampai di luar kawahnya, tiba-tiba,... chroooothh... sperma Ono sudah membasahi bibir vaginanya, lalu mengkerut bersembunyi di balik timbunan lemak di perut buncitnya. Tuan,... kata Midori agak gimanaaaa getooo.... Wajah Ono merah padam, ia membetulkan hakama-nya dan berbalik memunggungi Midori tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya. Sesaat kemudian Ono lelap tertidur meninggalkan Mi-chan yang masih asyik menggerayangi puting kemerahannya yang mengeras dan bibir vaginanya sendiri yang merekah gatal. *******************************

Beberapa bulan kemudian Yue, istri ke 11 Ono berkunjung ke kamar Midori untuk mengucapkan selamat. Midori, mungkin aku agak lambat mengucapkannya padamu. Yah, harusnya empat bulan lalu aku ucapkan ini. Tapi aku memang baru saja kembali dari kampung halaman orang tuaku. Selamat ya atas pernikahanmu dengan Tuan Ono, katanya. Terima kasih, jawab Midori.

Karena usia mereka hampir sepantaran, Yue dan Midori jadi sangat akrab. Lama-lama mereka mulai terbuka untuk mendiskusikan topik-topik sensitif. Yue, apakah Tuan Ono terlalu lelah karena sibuk bekerja? tanya Midori. Maksudmu? Yue mengklarifikasi. ...Mmmm kami belum melakukan apa-apa sejak malam pengantin,... Midori menambahkan. Tidak bisa.... begitu itu? tanya Yue memastikan dengan memberi tekanan pada waktu mengucapkan kata begitu. Midori mengangguk-angguk. Yue tertawa terbahak-bahak, Ia memang seperti itu,... hahahahahaha.. Sssstt harusnya aku tak bilang padamu... tapi kau sebaiknya tahu, kalau kau tak boleh membocorkan hal ini pada siapa pun. Tuan Ono beristri banyak hanya untuk menutupi ketidak perkasaannya. Lihat saja, mana ada istri Ono yang hamil. Kau bisa dibunuh kalau bercerita pada orang luar. Jadi, hati-hati ya. Lalu, kalau kau sampai ketahuan selingkuh, orang suruhannya akan langsung memenggal kepalamu. kata Yue, Midori mengangguk. Oh ya, aku ada janji,... Aku harus ke toko barang antik Tuan Muda Ueda... Tuan muda baru pulang dari Edo. Ia bilang mau membelikan aku sebuah sisir sebagai oleholeh. Aku mau ambil sisir baruku. Aku pergi dulu ya? pamitnya. Hati-hati... pesan Midori. Mau titip apa? tanyanya. Midori menggeleng. Yue berjalan meninggalkannya menuju toko Tuan Maeda, anak angkat Tuan Ono yang juga seorang saudagar penjual barang antik di desa kecil tempat Tuan Ono tinggal. Waktu membereskan cangkir teh, Midori menemukan dompet Yue yang tertinggal. Midori mengenakan zori (sandal Jepang) dan kasa (payung) nya lalu menyusul Yue ke toko barang antik Tuan Ueda.

*********************************

Baru saja Tuan Ueda pergi dengan Nyonya Yue... mereka bilang mau ke hutan di selatan kota. Mau memetik raspberry katanya. Kata si pelayan. Bisa kutunggu? tanya Midori. Lebih baik Nyonya menyusul mereka saja... hutannya tidak begitu jauh. Lagipula pemandangan di sana pasti bagus sekali karena sedang musim semi. saran si Pelayan.

Terima kasih... Aku akan menyusul ke sana. Permisi. Jawab Midori. Ia terus berjalan ke hutan di selatan kota. Udara hangat, bunga-bunga cherry bermekaran, sepasang kupu-kupu terbang kiankemari... Musim semi yang indah,... Musim para pecinta... Midori berdecak kagum menikmati indahnya pemandangan hutan kecil yang ia lewati. Di kejauhan ada kereta kuda. Ya, kereta itu milik Tuan Muda Ueda. Tuan Ueda dan Yue pasti sedang mencari raspberry di daerah sekitar sini. Ia mendekati dan menengok ke dalamnya, ternyata kereta kuda itu kosong. Midori mendengar gemericik air waktu ia hendak berjalan pulang. Pasti ada sungai di dekat sini! Ia ingin duduk-duduk sejenak di sungai untuk melepas kepenatannya. Toh Tuan Ono sedang berbisnis di tempat lain dan baru pulang 2 atau 3 hari lagi. Ia mencari arah datangnya suara air. Langit begitu cerah, enak sekali kalau bisa seringsering menghabiskan waktu di sini. Kalau saja Yui masih hidup... batinnya. Tesss... setitik air mata jatuh karena kenangan manis akan Yui kembali padanya. Si cantik itu buru-buru mengusap air matanya dan berusaha tersenyum untuk memperbaiki moodnya. Midori berjalan riang sambil sesekali berhenti untuk memetik buah raspberry yang banyak tumbuh di hutan kecil itu. Ia memasukan buah-buah mungil kemerahan itu ke kantong kainnya. Ada semak bergoyang-goyang jauh di hadapannya. Ia sematkan kantong kainnya ke obinya. Jangan-jangan di sana ada ular atau binatang buas pikirnya. Ia takut, tapi ingin tahu Ah sudahlah, lebih baik pulang saja... akan berbahaya kalau memang benar-benar binatang buas pikir Midori yang mulai agak bergidik ketakutan karena menyadari bahwa ia kini seorang diri saja di tengah hutan. Gyaaaaa!!! ia mendengar teriakan Yue. Rasa penasarannya makin tergugah. Ketakutannya kini kalah oleh rasa ingin tahunya. Tanpa berpikir lagi ia mendekati sumber suara itu... suara itu berasal dari dekat semak bergoyang tadi. Jangan-jangan Yue dalam bahaya, ia diserang macan atau serigala. Mi-chan pergi untuk memastikannya terlebih dahulu.

Ooohhhhsshhh... aaahhshhshhh.... aaahhsshhh... terdengar lagi desahan Yue waktu ia mendekati tempat itu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Yue tanpa penutup dada naik-turun di atas penis Tuan Muda Ueda. Ueda sedang mengenyot dan memilinmilin puting Yue yang merintih-rintih genit. Yue sendiri menurun-naikkan lubang vagina nya di atas kejantanan Ueda sambil mendesah-desah, Ahhssshhhh... yahhh... ennakkkhhss... aahhhshhh... Ueda, aku cinta kamu,... ahshhhhhh aaaahhshhshhsh... terusss... aahhh... yahhh... yahhh... ahshshssh...

Bibir Ueda yang tadinya mengenyot-ngenyot puting Yue, kini berpagutan, beradu lidah, dan mengenyoti bibir si wanita kesepian itu dengan rakus. Midori tak bisa berkata-kata. Sekujur tubuhnya seperti membeku seketika saat ia tahu Yue, sahabat barunya sekaligus madunya, dan Ueda, anak angkatnya, sedang berselingkuh di tengah hutan kecil nan rimbun ini. Midori berbalik dan berlari pulang, pura-pura tak tahu apa yang telah terjadi. Bagaimanapun, Tuan Ono tak boleh tahu perbuatan terlarang Yue dan anak angkatnya. Midori berniat untuk tutup mulut saja dan melupakan apa yang baru saja dilihatnya karena ia tak mau kehilangan seorang teman. Yue selingkuh. Ya, mana ada wanita yang mau dijadikan gundik tanpa pernah dipenuhi kebutuhan batinnya. Walaupun Midori tahu perbuatan Yue itu salah dan keterlaluan, tapi ia pun tak bisa benar-benar menyalahkan Yue. Yue, sama seperti dirinya, hanyalah wanita yang dinikahi hanya untuk dijadikan hiasan. Midori juga merasakan kesepian yang sama dengan yang dirasakan Yue. Midori jadi iri pada Yue. Yue punya Tuan Ueda yang mampu mengisi kekosongannya, sedangkan dirinya? Yui yang ia cintai sudah pergi meninggalkannya...jauh, jauh sekali... Midori pun bahkan tak tahu kapan ia bisa bertemu lagi dengan kekasihnya itu. Midori mengambil sebuah raspberry dan memakannya. Ia ambil sebuah lagi, memejamkan matanya, dan menjilat-jilat raspberry itu kemudian dikulum-kulumnya sensual. Ia oleskan buah kecil itu menelusuri bibir, dagu leher, mengitari kedua areola hitamnya... sambil mendesah aaahhhsshhh... Yuiii....lidahmu nakal. dan tersenyum-senyum geli seorang diri.

Ia menarik kain pelapis vaginanya dan mengoles-oleskan raspberry itu ke mulut kewanitaannya, Yui,... jangan, hhhshhhh ia berkhayal Yui sedang mencumbunya. Lalu ia masukkan raspberry beserta jari-jarinya ke liang kewanitaannya. Ia sentilsentil dan raba-raba sendiri klitorisnya. aahhssshhhsshhshh... enak sayang.... aaahhhsss....... lakukan lagi,... aaahhhshhhshh.. ia makin terangsang. Ia keluarkan raspberry dan jarinya yang lentik dari liang senggamanya lalu memakan raspberry berlumur cairan pelumas vaginanya itu dengan kunyahan-kunyahan erotis. Setelah itu ia menjilati sendiri sisa cairan cintanya yang melekat di jemarinya. Tangannya yang lain meremasi buah dadanya yang ranum dan memilin-milin puting merah kehitamannya, liang cintanya makin merekah basah. Ia meraih sebuah wortel dari sisi futon (kasur)nya. Ia kulum-kulum dan kenyot-kenyot wortel berukuran panjang 25 cm dengan diameter 4 cm itu di dalam mulutnya sambil terus meremasremas payudaranya yang kian mengeras dan meruncing... Ia masukkan wortel itu ke kawahnya yang merekah aahhhssshhh... Yui, pelan pelan, ...ssshhhhshhhs.. Ia terus menenggelamkan wortel itu ke dalam rongga licinnya sambil terus membayangkan wajah dan tubuh kekar Yui sedang menggumulinya. Ia gerak-gerakkan dulu si wortel untuk mengaduk-aduk vaginanya sebelum dikocok-

kocokkannya keluar masuk dari liang kewanitaannya. Midori menaik turunkan wortel itu pelan-pelan, makin lama makin bernafsu Midori menusuk-nusuk rongganya sendiri.. Ahhhsshhh.... aahhhssshhhh... Yuiii.... aahhhssshhh... Yui, ...aku cinta kamu, aahhshhhss ehk... ehk nghek... hsshhs... aaaahhsshh.... aaahhhshh...... ia makin menjadi - jadi... Sampai, eehhhkk.... aaaaakkkhhhh! ia melolong nikmat sambil melentingkan tubuh seksinya. Crrrrtttt..... crrrrtttt.... cccrrrtt.... cairan cintanya tumpah. Ia keluarkan wortel itu dan menjilati serta mengenyotinya lagi. Ia gigit pelan ujung wortel itu dan meletakkannya kembali di atas futon (kasur)nya. Matanya terpejam menggigit bibir bawahnya. Setelah nafasnya kembali teratur, bibir mungilnya yang dilumuri cairan cintanya sendiri bergumam lirih, Sda Yui,... dan setitik air mata membasahi pipi mulusnya. Ia pun jatuh tertidur.

********************************

Ssllrrrppp.....sslllrrrppp... slllrrrppp.... Aaaaahhhsss.....sshhhshhshh...... Midori merasa kegelian, lidah seseorang sedang menjilati dan mengebor bagian paling rahasianya. Mi-chan yang cantik jatuh tertidur setelah melakukan seks swalayan tadi. Ia lupa membetulkan kimononya, jadi ia masih tertidur dengan keadaan semi-bugil. Buah dada dan daerah vagina ke bawahnya masih terekspos dengan posisi terlentang yang menantang. Ia buka matanya perlahan-lahan... Aaaahhhshhh.... aahhhhssshhh..... klitorisnya terasa dijilati dan digigit-gigit pelan oleh seseorang. Ia menengok ke sela-sela selangkangannya. Bukan Tuan Ono yang sedang mengoralnya. Anak angkat Tuan Ono lah yang sedang asyik menikmati liang surganya yang merah merekah. Tu, tu, tu, tuan... apa yang kau lakukan?Midori panik. Ueda bergerak cepat, ia langsung menyumpal mulut Midori dengan lidahnya. Lidah bergeriginya membelit belit dan melilit-lilit lidah Midori. Ueda mencegah Midori berteriak dengan memagut-magut dan mencumbu liar bibir Midori. Ueda memainkan puting-puting kecil si bidadari binal. Ia pilin-pilin, tarik-tarik, dan usap-usap sampai sang bidadari kelojotan keenakan. Ahkkshhkkksshh...aahhhkkksshhh..... bibir Midori masih ditahan Ueda dengan belitan lidahnya. Ueda memindahkan satu tangannya ke bawah. Ia remas-remas bongkahan pantat

Midori, lalu naik mengusap-usap paha mulus Midori, dilanjutkan dengan mengusapusap pintu rongga kewanitaannya yang telah basah karena jilatan-jilatannya tadi. Ia tarik penisnya yang telah mengacung dengan satu tangan dari balik hakamanya dan ia sumpalkan kepalanya ke rongga nikmat Mi-chan. Ssssshhhh.... pekikan Mi-chan tertahan bekapan tangan Ueda. Ueda memaju-mundurkan pantatnya memompa keluar-masuk saluran rahim Mi-chan. Tangan kanan Ueda membekap Mi-chan sementara tangan kirinya bermain-main di daerah puting si Cantik dan area kehitaman di sekitarnya. Kedua tangan Mi-chan pertamanya berada di tempat Ueda membekapnya lalu setelah pompaan Ueda makin kencang dan Midori makin mantap saja mendaki puncak kenikmatannya, tangantangannya berpindah ke bokong Ueda, membantu anggota badan pria berkulit bersih dan tampan itu masuk lebih dalam ke tubuhnya.

Midori memejam-mejam nikmat dan tak lagi memberontak... Ia malah ikut-ikutan memutar-mutar panggulnya, serrr,... serrr,... serrr,.... adik kecil Ueda yang berdenyut-denyut keluar-masuk jadi makin kewalahan mengikuti aksi goyang ngebor sang ibu angkat nan aduhai. Ueda melepaskan tangannya melihat reaksi ibu angkatnya yang masih lebih muda 2 tahun darinya itu. Tubuhnya meliuk indah sempurna, buah dada besar padat membuntal dihiasi puting lancip berwarna hitam kemerahan yang ranum, kulit putih halus bak boneka perselen, perut rata tanpa lemak, pinggang berisi yang berlekuk eksotis, juga rongga kemerahan gundul yang peret, hangat, dan nikmat. Wajahnya pun sangat cantik, yah kalau zaman sekarang mirip-mirip Van Tomiko, vokalisnya Do As Infinity (yang nyanyi soundtrack Inu Yasha Fukai Mori itu looohhh kalo pembaca sekalian nan budiman dan budiwati tidak begitu familiar dengan J Pop), rambutnya hitam kecoklatan panjang lurus, matanya bulat indah misterius dengan bola mata berwarna coklat muda terang, hidungnya bangir, dan bibir pink mungilnya nan sensual kini sedang merekah-rekah indah... Damn it, rongga surganya lebih piawai memijat-mijat dan lebih sempit juga keset dari pada milik wanita-wanita yang pernah ia nikmati tubuhnya. Jelas sudah banyak sekali wanita yang rela ia tiduri karena ia sangat sadar bahwa fisiknya dan wajahnya sangatlah sempurna. Beda penampilan fisiknya dan ayah angkatnya memang bagaikan langit dan bumi. Midori yang sudah terbakar birahi menarik wajah Ueda ke dadanya. Ueda langsung mencucup-cucup dan mengenyoti dua gundukan ranum makhluk seksi di hadapannya. Tangannya juga ikut memilin-milin, menarik-narik, dan memencetmencetnya gemas. Aaaahhhssshhh,..... hhshhhshhh,.... desahan si ibu angkat. Ueda makin cepat mengebor liangnya. eehhhkkk... nghhheekk.....ehhkkk...., Ueda melampiaskan semua kegilaan di atas tubuh semlohay si ibu angkat. plok,....plok,....plok,...plok,... selangkangan keduanya beradu kencang... Aaahhhshhhsshh...yaaahhh.....aaahhshhhshhahhhsss..... si bidadari cantik pun merasa terbang ke awang-awang. Sudah lama ia tak merasakan nikmatnya menjadi seorang wanita seperti ini...

Midori,.... peret sekali... Ahhhkkkhhh... pijitan vaginamu eennaaaahhhkkk.... aaahhkksshh. Erang Ueda sambil ularnya diremas-remas di dalam sana. Unnnhhhh...uunnnhhh... aaahhshhhs aahhhhsshh Jlebh....jlebh....jlebh... Plok....plok...plok... suara pergumulan liar mereka.

Yue Srettt... pintu tergeser. Yue terbelalak melihat kekasih gelapnya bergumul liar dengan madunya. Apa yang kalian lakukan?! teriaknya. Ia mendekati kedua insan yang sedang bergumul seru itu. Ueda mengeluarkan penisnya yang masih tegak dari vagina Midori. Mereka berdua memandang Yue. Plak! Yue menampar Ueda. Kau tahu kan kalau aku mencintaimu? Kenapa kau lakukan ini padaku?!bentaknya. Ueda diam kehilangan kata-kata.

Aku... bisa memuaskanmu lebih dari pelacur itu! ia membentak Ueda. Ia mulai menangis sesenggukan. Ueda diam salah tingkah memandangi Yue yang menangis. Sambil terisak-isak, Yue menarik sendiri tali pengikat obinya dan menjatuhkan semua lapisan kimononya ke atas tatami (karpet jerami). Yue kini benar-benar bugil. Hanya kaos kakinya saja yang masih melekat di tubuhnya. Yue membelai pipi Ueda dan memejamkan matanya, lidahnya ia julurkan ke arah Ueda. Mereka berdua berpagutan di depan Mi-chan yang semi-bugil, liang Midori makin becek-becek karena nggak ada ojek... hehehe bukan ding! Liang sempitnya jadi ikut becek karena terangsang melihat betapa ganasnya Yue dan Ueda beradu lidah di hadapannya. Ueda tak mau melewatkan kesempatan langka untuk bercinta dengan dua wanita cantik sekaligus. Ueda benar-benar merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani oleh dua budak wanitanya. Sambil berpagutan dengan Yue, jemari kanannya menyusup ke lubang di antara selangkangan Yue. Tangan kirinya yang tak mau menganggur memuntir-muntir dan mencubit-cubit gemas puting kaku Midori yang sedang mencolok-colokkan jemari lentiknya ke vaginanya sendiri. Ueda membaringkan diri di atas futon dan Yue mendudukinya dengan posisi sashimi for two alias enam sembilan atawa sekusu nain (maksa banget ya istilah bahasa Inggris yang di Jepang-kan kaya gini >_<). Yue dan Ueda menjilati organ vital satu sama lain.

Ueda berhenti sejenak dan memandangi wajah sensual ala Van Tomiko-nya Midori. Mi-chan,... ayo lanjutkan yang tadi... Kamu belum membuatku meledak. Ucap Ueda. Ueda menepuk pantat Yue, memberinya isyarat untuk berhenti melakukan fellatio pada kejantanannya. Yue pun berhenti menjilati Mr. P tegang Ueda. Yue menegakkan tubuhnya, rongga kewanitaan Yue masih berada di mulut Ueda. Yue masih terpejampejam nikmat di oral Ueda. Midori bergabung. Ia renggangkan celah vaginanya yang lapar. Ia tempelkan kepala penis Ueda ke vaginaya dan berjongkok memasukkan benda bengkak berdenyut-denyut itu pelan-pelan hingga Mi-chan terduduk di atas selangkangan Ueda. Mi-chan terpejam-pejam merasakan sensasi nikmat gesekan klitorisnya dengan batang kejantanan lelaki itu. Midori langsung bergerak naik turun di atas penis Ueda. Ia juga melenguh-lenguh menikmati permainan liarnya sendiri.Yue melihat payudara Mi-chan yang lebih montok dari miliknya terayun-ayun naik turun. Payudara padat itu tampak sangat menggiurkan. Tangan Yue memilinmilin puting madunya dan menarik-narik ujung merah kehitaman itu gemas. Mi-chan membalas perlakuan madunya. Ia menciumi dan menyapu leher Yue, jarinya ia masukkan ke dubur Yue sesekali. Yue makin kencang memilin-milin dan menariknarik puting Midori. Ahhshhhh.....aaahhhshhshhh.....aaahhhshhsshhh...... kedua gadis muda itu meraungraung nikmat di atas tubuh anak angkat mereka.

Midori gantian menurunkan lidahnya ke puting Yue. Ia menghisap-hisap, menjilati,

dan menggigiti tombol-tombol pink milik Yue. Yue dan Midori langsung berciuman panas sambil saling menstimulasi area dada lawan mainnya dengan tangan mereka... Eehhhkkk.... crrooottthhh.... Ueda terangsang melihat dua gadis binal itu. Maninya muncrat membasahi rongga hangat Mi-chan. Cccrrrrrttt......crrrttt..... Yue pun keluar tak lama kemudian. Ueda menghisap dan menjilati cairan cinta sang ibu angkat. Mi-chan membalikkan tubuhnya dan menungging. Kali ini ia mengoral ular Ueda yang kempes. Ia jilati ujungnya. Ia kulum seluruh bagiannya dan ia hisap-hisap. Tangan mulusnya ikut mengocok-ngocok ular itu agar ia terbangun kembali. Yue menjilati bekas cairan cinta Midori yang bercampur dengan sperma Ueda dari kemaluan Mi-chan, dan cccrrrtttt.... cccrrrrttt.... crrrttt... mmmhhh..... Mi-chan akhirnya keluar. Ular Ueda telah tegak kembali waktu Mi-chan menjepit-jepitkannya di antara dua payudara montoknya. Ueda menepuk pantat kedua bidadarinya dan menyuruh mereka berdua berposisi doggy. Ueda menghunjamkan penisnya ke rongga vagina Yue dari belakang, sementara jari-jarinya ia mainkan di kawah merekah Mi-chan. Kedua gadis cantik itu saling melumat dan membelitkan bibir dengan liar. Jleb, jleb, jleb,... Plok....plok....plok.... sekitar lima belas menitan liang Yue disenggamai dan klitoris Mi-chan diusap-usap dan disentil-sentil Ueda, lalu vagina Mi-chan pun dikorek-korek jari liar Ueda, Ahhshhhsshhh..... aaahhshhhsshhh... kedua gadis itu ramai melenguh-lenguh nikmat. Aaaaahhhhkksssskkk.... crooottt!!! Ueda keluar untuk kedua kalinya. Crrrtttt.... cccrrrttt..... Yue merem melek kelojotan. Crrttt....crrrttt.. Midori menyusul. Kedua makhluk cantik tapi liar itu pun tumbang.

*********************************

Hueekkk,.... Midori merasa mual dan ingin mengeluarkan semua isi perutnya.

Entah mengapa tujuh bulan terakhir badannya agak sedikit gemuk dari biasanya, areolanya membesar bulatannya, begitu juga payudaranya sering terasa perih dan membengkak. Kadang waktu menghanduki dua bukit indahnya, ada tetesan air keluar dari puting merah kehitamannya. Sejak tiga bulan lalu ia rasakan dalam perutnya seperti ada yang bergerak-gerak. Parahnya, tiga bulan terakhir perutnya jadi makin membesar. Setiap kali orgasme, perutnya pasti jadi sakit dan menegang. Karena itu ia minta Ueda agar jangan terlalu kencang menggenjotnya setiap kali melakukan hubungan intim. Mungkin lebih baik Midori pergi ke tabib karena kali ini rasa pusing

dan mualnya sudah terasa luar biasa. Tubuhnya pun jadi sangat lemas. Setelah berthreesome seru di kamar Midori, Ueda jadi sering mampir ke kamar Midori untuk memanjakan ibu angkatnya yang cantik itu kalau ayah angkatnya sedang tidak ada di rumah. Tadi pagi Tuan Ono sudah berangkat ke Osaka, anak angkatnya itu pasti sebentar lagi akan datang ke kamarnya karena kangen dengan entotan dan sepongannya yang wow. Dalam hati Midori sebenarnya tak ingin jadi wanita bejat pemuas nafsu banyak pria seperti saat ini, tapi kadang tubuhnya yang berlekuk indah mengkhianati kesetiaannya pada Yui. Entahlah, mungkin ia adalah reinkarnasi seorang pelacur... jadi setiap lelaki sangat ingin tidur dengannya karena ia begitu lihai bermain cinta. Dan lelaki yang sudah pernah mencicipi betapa keset rongga surganya dan betapa premium kualitas servicenya pasti ketagihan untuk menikmatinya lagi. Midori, aku merindukanmu... tanpa basa-basi Ueda langsung meremas susu ibu angkatnya yang cantik. Jangan! Aku sedang tidak ingin melakukannya... Aku sedang mual sekali. Midori menepis tangan gatal Ueda. Ia ganti meraba paha Midori. Jangan,... tolak Midori. Perutku sakit sekali kalau aku mencapai klimaks. Sebentar saja,... ayo,... Ueda memaksa. Aaahhh... jangan tekan payudaraku... rasanya bengkak sekali... kata Midori ketika

Ueda memaksa Midori untuk melayaninya lagi. Sini! Ueda membuka paksa atasan kimono Midori. Aku sedang sakit Ueda,... aku mohon jangan, Midori memelas. Pria itu tak peduli. Ia terus mengenyot-ngenyot salah satu pentil Midori yang mencuat. Sebelah tangannya asyik memilin-milin dan menarik-narik puting sebelahnya. Slrrrppp.... slllrrrppp.... ia menjilati rakus dari puting merah kehitaman itu keluar sedikit air. Tidak seperti biasanya, rasa kenyotan Ueda tidak membuat Midori nyaman sama sekali, Midori merasa akhir-akhir ini gairah seks nya menurun. Ia merasakan kedua gundukan dadanya sakit dan menegang meskipun dalam keadaan tidak terangsang. Ueda,... sudah jangan...nanti ada yang lihat ia memelas. Ueda tidak mendengarkannya. Ia tetap asyik memilin-milin dan mengenyoti pentil Midori. Sssstt! Ueda menyuruhnya diam. Ia lalu membuka kain pelapis vagina Midori. Ia tarik Mr. P nya dari balik hakamanya dan ia renggangkan lubang vagina Midori sambil mendorong si hitamnya ke rongga di bawah pinggang ramping gadis itu agar

seluruh batang penisnya tenggelam dalam liang Midori. Midori sama sekali tidak menikmati permainan mereka. Ia menangis dan meminta Ueda menghentikan perbuatannya. Ueda seolah-olah tuli. Ia justru melumat bibir Midori sambil menekannekan dan memilin putingnya yang kini terasa lebih lembut dari biasanya. Srettt...pintu ruang kamar Midori bergeser. Tuan Ono berdiri di depan istri muda dan anak angkatnya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Ia tak percaya apa yang dilihatnya. Ueda dan Midori pun tersentak waktu tahu Tuan Ono memergoki perbuatan mereka. Ueda mengangkat tubuh Midori dan membetulkan hakamanya. Aaaa...aa...ayah. ia salah tingkah. Midori menutup kembali kimononya dan menunduk malu. Plak!Ono menampar anak angkatnya yang kurang ajar itu. Pelacur! Ia juga membentak Midori. Pengawal, seret mereka! perintah Ono pada para pengawalnya. Pengawal-pengawal Ono menuruti perintah tuannya. Midori dan Ueda mereka ikat dan keduanya diseret ke halaman. Udara sangat terik, tenggorokan Midori terasa kering, tubuhnya yang sedang sakit pun makin melemah akibat terpaan sinar mentari yang panas membakar. Wajah cantik Midori pun berangsur-angsur pucat. Lalu, ia jatuh pingsan.

**********************************

Plak!!! Tamparan keras Ono membangunkan Midori. Midori mengerjap-ngerjapkan matanya yang silau tertimpa cahaya matahari. Anak siapa yang ada di rahimmu?! Ono menginterogasi Midori. Midori cuma diam. Ia tak tahu siapa sebenarnya ayah bayi yang dikandungnya. Sejak kapan kalian berselingkuh, heh?! Midori diam. Ono menjambak rambut Midori untuk memaksanya bicara, Anak siapa?! Aaakkuu..... tidak tahu,... jawab Mi-chan lemah. Ono menghempaskan tubuh gundiknya dengan jengkel hingga ia jatuh terjerembap ke atas tanah.

Bruak! Ono gantian menendang anak angkatnya karena kesal. Anak durhaka! bentaknya. Ampuunnn.... ampuuunn... ampuni aku Ayaah... Aku tak bersalah. Rengek Ueda. Pengawal, pukuli mereka sampai mengaku! Ono meninggalkan Midori dan Ueda untuk dihajar dan diinterogasi paksa oleh para pengawalnya. Tidak...aku tidak menghamilinya... ia memang seorang pelacur... Ueda terus membela diri. Midori kaget mendengar pernyataan Ueda dan memandang Ueda dengan tatapan jijik. Pria busuk itu begitu pengecut untuk mengakui perbuatan bejatnya padanya. Bukankah si busuk itu sendiri yang begitu lancang menyusup ke kamarnya dan memperkosanya, juga dialah orang yang tega berselingkuh dengan ibu angkatnya di belakang punggung sang ayah angkat, yang telah mendidik dan membesarkannya. Bukannya berhenti memfitnah Midori, Ueda malah semakin mengkambing hitamkan Midori, Ia yang selalu datang ke toko barang antik untuk menggodaku... Ia mengajakku tidur bersamanya karena ia butuh lebih banyak lagi uang Duak... duak... bruak... duakk.... suara para pengawal yang menyiksa mereka berdua dengan deraan bertubi-tubi. Midori kesakitan. Sekujur tubuhnya penuh luka. Kedua tangannya diikat dengan rantai. Kimononya sudah tercabik-cabik. Aku bukan pelacur,... Aku diperkosa,... hikshiks,... tangis Midori. Para pengawal tak peduli pada ratapannya. Mereka terus memukulinya sampai ia katakan siapa ayah bayi yang dikandungnya. Mereka sama sekali tak peduli mengapa ia sampai mengandung bayi itu, mereka hanya menjalankan tugas untuk menyiksa kedua manusia nista itu. Aaaaaa....!!! perut Midori menegang. Rahimnya berkontraksi karena kondisi emosinya yang sangat tidak stabil. Cairan bening licin bercampur darah keluar dari kawahnya. Cairan kemerahan itu membasahi selangkangan dan seluruh kaki mulus Midori. Ia menangis kesakitan. Para pengawal pun panik ketika tahu si cantik itu mengeluarkan begitu banyak darah. Mi-chan berteriak-teriak kesakitan karena perutnya sakit sekali. Para pengawal melepaskan rantainya dan membawa ia ke kamarnya. Salah seorang pengawal berlari memanggilkan tabib.

To be continued.

The Blue Serenade of a Kunoichi 3

Sejak pertama kali ia di sini, Midori sering mengajak Ueda-sama ke kamarnya, Tuan. Yue datang menghampiri Tuan Ono yang sedang minum sake. Kau tahu mereka berselingkuh? Ono mengorek lebih dalam. Yue mengangguk. Kenapa kau tak laporkan padaku?! tanya Ono geram. Yue memasang wajah memelas, Ia mengancam akan memutar balikkan fakta dengan menuduh bahwa sayalah yang berselingkuh, Tuan. Dia memang wanita licik yang memanfaatkan kepercayaan Tuan. Saya sangat takut pada ancamannya karena dia bilang Tuan pasti akan lebih mempercayainya. Ya, ia adalah istri kesayangan Tuan saat ini... Tuan lebih banyak menghabiskan malam di kamarnya... Jadi saya tak berani melaporkan apa yang saya lihat. Bagaimana bisa Midori lakukan itu? Ono penasaran. Ia butuh uang,... Yah, Tuan tahu ia cuma seorang gadis miskin sebelum Tuan peristri. Jadi ia sangat suka uang. Ia sering datang ke toko barang antik Tuan Muda Ueda untuk menggodanya. Yue memfitnah Midori. Ueda tidak bersalah? Tuan Ono terhenyak kaget. Tentu saja tidak. Pelacur itu menggodanya. Bukankah Tuan tahu kalau Tuan Ueda itu seorang pria baik. Tuan sangat mengenal putra Tuan kan? Mana mungkin seseorang yang Tuan didik sejak kecil bisa melakukan perbuatan kotor seperti itu jika tak ada yang menjerumuskannya. Yue mempengaruhi Ono. Ia memfitnah Midori yang sebenarnya tak bersalah.

Ono mengangguk-angguk.

Sebaiknya Tuan mempercayai putra Tuan... Jangan biarkan pelacur itu menghancurkan keluarga Tuan. Ia mengelus-elus paha suaminya yang tua bangka. Yaaa,.... ya,... kau benar Yue. Ia setuju akan perkataan Yue. Yue menuangkan lagi sake ke gelas Tuan Ono dan memijat-mijat pundak si pria tua yang lebih pantas jadi ayahnya itu. Sebaiknya Tuan mengampuni putra Tuan. Ia hanyalah korban wanita jalang itu. Ono berhasil dipengaruhi Yue. Sekali lagi ia manggut-manggut setuju. Dasar tua bangka idiot,... si Manis tersenyum licik dari balik punggung sang saudagar. Tuan, Nyonya Midori melahirkan bayi perempuan. kata seorang pelayan yang berlari tergopoh-gopoh menghadap Tuan Ono. Di mana dia sekarang? tanya Yue. Nyonya Midori ada di kamarnya bersama bayinya. Tadi kami pindahkan ia ke sana. Jawab si pelayan. Pyaarrr!!! ia banting gelas sakenya ke atas meja. Aku tak menyuruhmu memindahkan pelacur itu ke kamarnya dan menolongnya! Harusnya kau biarkan saja ia mati! bentak Ono marah. Maafkan kelancangan kami Tuan.... Pelayannya bersujud di atas tanah memohon ampunan tuannya. Tuan Ono bergegas ke kamar Midori tanpa menghiraukan si pelayan yang membuatnya jengkel. Yue mengikuti dengan setengah berlari di belakangnya.

******************************* Midori berbaring lemah mengelus rambut halus yang tumbuh di kepala bayi mungil yang dilahirkannya. Si bayi yang bokongnya masih berwarna kebiruan itu telungkup di atas dada ibunya. Bayi perempuan itu menggerak-gerakkan mulutnya mencari air susu sang ibu. Midori tersenyum bahagia. Bayi mungil yang matanya masih terpejam itu cantik sekali. Meskipun terlahir prematur, ia lahir dengan sehat. Kulitnya kuning langsat. Bayi itu mirip dirinya. Yui, lihatlah anak kita... bisik Midori sambil meneteskan air matanya. Ia membuka sedikit kimononya dan membiarkan si kecil menetek. Si kecil kelaparan, ia menyedot air susu ibunya dengan lahap. Tangan-tangan mungil si bayi menyentuh kulit pualam Mi-chan. Ia merasa sangat sempurna menjadi seorang wanita. Tuan Ono dan Yue masuk ke kamarnya. Ia sangat marah melihat bayi kecil di

buaian Midori dan merebutnya dari Midori. Midori menangis memohon-mohon agar bayinya dikembalikan padanya. Cepat seret wanita jalang ini ke selnya! Ia tak boleh enak-enakan tidur di sini. perintah Ono. Midori yang tubuhnya masih lemah sehabis melahirkan pun dijebloskan lagi ke penjara dekat kandang kuda milik Tuan Ono. Ono membawa bayi kecil yang baru ia lahirkan ke depan sel tempat ia mengurung Midori dengan satu tangan. Tangan Ono yang lain membawa besi panas berujung membara yang biasa digunakan untuk menandai kuda-kuda peliharaannya. Ujung besi itu bergambar sepasang naga kembar. Jangaaaannn!!! teriak Midori waktu Ono mendekatkan ujung merah membara besi itu ke punggung putri mungilnya.

Tapi Sssshhhhhttt....., Ono sudah menempelkan besi panas itu ke punggung si kecil. Si kecil menangis keras sekali karena melawan siksaan rasa sakit pada kulit sensitifnya yang dibakar dengan besi merah membara. Oeeee......... oeeeeee... oeeeeeee...... tangisannya membahana. Bajingan! Kau menyakiti anak kecil yang tak berdosa. Apa salah anak itu?! Midori berusaha bangun dari lantai, namun tak bisa. Ia terlalu lemah. Aku ingin bayi ini mati,... hahahaha... Ono tertawa keji. Jangan! Ia tak bersalah. Bunuh saja aku....Apa maumu?! tanya Midori. Ada hal penting yang harus kau lakukan.... aku akan mengundang para rekan bisnisku agar mereka mau membeli kain sutra dariku...ada beberapa petugas yang akan mengurus perizinan pengiriman barang-barang yang juga akan datang... kau pasti bisa melancarkan proses negosiasi kami dengan tubuh mulusmu.... hahahahaha... Ono menyeringai padanya. ...mungkin setelah itu aku akan mempertimbangkan akan membunuh anakmu atau tidak,... Midori mengerti apa maksud si pedagang licik itu. Bajingan bejat! Kau ingin menjual istrimu sendiri?! bentaknya. Yah,... tidak benar-benar seperti itu... Aku kan cuma mengajarimu bagaimana cara mencari uang... Itu yang kau inginkan dariku dan anak angkatku kan?... cemoohnya. Kau bajingan tua tak berperasaaannn!!! jerit Midori dari balik jeruji besi yang menahannya. Ono tak menggubris Midori. Ia pergi begitu saja dari hadapan Midori yang terus mengiba-iba agar Ono mengembalikan putri kecilnya.

Pergi dan bunuh anak haram ini! Kuburkan saja sekalian kalau perlu. Kau juga boleh membuang mayatnya! perintah Ono pada seorang pengawal. Pengawal itu membungkuk hormat dan membawa pergi si bayi kecil. Ia membawanya ke tempat yang jauh dari rumah besar Saudagar Ono. Bayi mungil itu begitu berani. Ia tak menangis menghadapi kematiannya. Ia tertawa-tawa jenaka selama digendong si pengawal. Mata mungilnya yang bulat kecoklatan dan innocent menatap mata sang pengawal sekilas. Ia lalu menguap dan tidur nyenyak di gendongan si pengawal. Si pengawal teringat akan putri kecilnya, bayi ini bahkan lebih cantik dari putrinya sewaktu bayi. Si kecil ini hanya lahir pada tempat dan saat yang salah. Seorang bayi sama sekali tak berdosa karena dilahirkan, bahkan oleh seorang pelacur sekali pun. Pengawal merasa kasihan padanya. Ia tak tega untuk membunuhnya. Ia letakkan bayi kecil itu di dalam sebuah keranjang bambu yang ia temukan di dekat sungai. Agar si bayi tak kedinginan, ia melapisi keranjang sekaligus tubuh si kecil dengan kimono terluar dan syal yang dipakainya. Ia hanyutkan si kecil yang tertidur lelap ke sungai. Semoga kau beruntung dan ada orang yang mau memeliharamu bayi kecil ujar si pengawal waktu keranjang berisi bayi itu mulai terbawa arus air. Di perjalanan pulang, ia tangkap seekor kelinci dan membunuhnya dengan sebilah pisau. Ia simpan pisau yang dipakainya untuk membunuh kelinci itu untuk nanti diperlihatkan pada Tuan Ono sebagai bukti palsu bahwa ia telah membunuh si kecil.

************************ Ueda-sama, jangan khawatir... Sebentar lagi kau akan dibebaskan. Kau mengatakan apa yang kuajarkan padamu kan? Yue memastikan. Yue... mereka menyiksaku,... pria pengecut itu menggenggam tangan Yue erat. Jangan takut, si gadis jalang itu akan segera menerima hukuman atas ketidak setiaannya pada Tuan Ono... Sayang, kau pasti diampuni Tuan Ono. Hibur Yue. Terima kasih, cinta. (Afghan banggedz :P) Ueda merayu Yue yang telah menyelamatkannya. Aku akan melenyapkan siapa saja yang mencoba merebut Tuan dariku,...karena aku sangat mencintai Tuan... ujar Yue. Ueda membelai rambut Yue yang duduk di hadapannya. Kalau jeruji itu tak ada di antara mereka berdua pasti mereka telah berpagutan mesra.

************************* Sekitar 20 orang pria setengah baya duduk di ruang utama kediaman Tuan Ono. Tuan

Ono sedang melangsungkan perjamuan bisnis dengan para kliennya dari mancanegara. Wilayah Kyushu memang tempat eksklusif di mana Korea mau menjual hasil buminya kepada bangsa Jepang. Beberapa pedagang asing juga sudah mulai memasok komoditi dari dan ke Jepang, walaupun melalui black market. Para niagawan asing itu rela berlayar berbulan-bulan demi mendapatkan sutra dan emas, komoditi perdagangan utama bangsa Jepang. Seorang pria bule bangkotan beserta dua bodyguard negronya yang kekar-kekar ikut duduk dalam ruangan itu. Baiklah Tuan-tuan sekalian, kita tunda dulu proses negosiasi kita sejenak. Maaf kalau Tuan sekalian merasa kurang berkenan. Namun hari sudah siang dan aku yakin Tuan sekalian pasti sudah mulai lapar. Aku ingin menyuguhkan hidangan lezat pada tuan-tuan semua. Ono berbasa-basi. Para hadirin mengangguk-angguk setuju. Midoriii,... bawa masuk hidangannya! panggilnya. Pintu kertas itu bergeser. Seorang gadis cantik berambut hitam lurus panjang terurai dengan jubah bulu beruang berwarna putih masuk membawa senampan besar lembaran-lembaran sashimi. Mereka semua terpana melihat betapa eksotis kecantikan wajahnya. Ia duduk bersimpuh dan meletakkan pinggan sashimi besar di hadapannya. Ia tarik ikatan jubah bulu beruang di lehernya. Jubah itu tergelincir jatuh, tubuh indahnya yang meliuk sensual terpampang polos tanpa selapis kain penutup pun di depan para bandot tua yang tambah melongo memelototinya. Keindahan tubuh sang bidadari memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. (padahal penulisnya aslinya males nih mendeskripsikan keindahan tubuh Midori berulang-ulang :-P) Silakan perlakukan saya sekehendak hati Tuan,.. ujarnya lirih sambil membungkuk hormat. Ono berdiri dari tempat duduknya, silakan menikmati hidangannya, Saudarasaudara. Ono membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. (Ya eyalah, malu lagi kalo nggabung sama mereka en ketahuan menderita disfungsi ereksi... heleh bahasanya sok ilmiah aku wkwkwkwkwk)

Midori meletakkan beberapa lembar potongan sashimi di atas tubuh polosnya lalu berbaring telentang memasrahkan diri di atas tatami yang terasa kasar di punggung polosnya. Beberapa lelaki tua mendekatinya dan menyirami tubuhnya dengan saus sashimi. Panas yang berasal dari campuran wasabi (sejenis talas dengan rasa kuat) dan ponzu (parutan jahe) dalam saus itu seketika merambati tubuh Midori. Tanpa menunggu lama, pria-pria beringas itu sudah asyik memakan langsung iris demi iris potongan-potongan persegi tipis afrodisiak di atas tubuhnya tanpa sumpit atau alat makan lain dan menjilat-jilat seluruh tubuhnya yang gurih berlapis saus nan hhmmm slrrrppp... mak serrr legender kata Pak Bondan! Seorang pria bangkotan mengeyoti payudara kanannya yang masih mengeluarkan air susu karena baru beberapa minggu lalu melahirkan. Pria lain memilin dan menjilati rakus puting kirinya. Kedua paha mulusnya sampai ujung kakinya masing-masing disapu entah oleh lidah-lidah pria yang mana. Seorang pria hitam legam menyeruputi saus sashimi dari liang vaginanya

yang masih peret. Seorang bandot bule membelit-belit lidah gadis oriental yang sangat seksi itu. Tak cukup itu saja, Midori didudukkan dan satu pria lain ikut asyik menjilati punggungnya, sedangkan rekannya menyiram dubur Midori yang kembang kempis dengan saus sashimi dan mengebor serta menyeruput cairan di duburnya dengan mulut dan lidahnya. Mi-chan menangis tanpa suara karena rasa pedih dan panas menyergap organ-organ intimnya, ia tak pernah bermimpi akan diperlakukan seperti ini. Bule yang tadi membelit lidahnya menyumpalkan penis merah besar dan men deep throatnya sampai ia sulit bernafas. Lidah dan mulut mungil Mi-chan langsung menjilati, mengenyot-ngenyot, dan menggigit kontol si bule.

aaahhhhsshhhh.... aaasshhhssahhh,..... f***ing great! si bandot bule jadi makin excited. Dua pria lain mengoles-oleskan tangan kanan dan kiri Midori ke atas penis mereka. Midori langsung mengocok kedua penis besar tegang entah milik siapa itu. Ia bergantian menyepong dan mengocok penis tiga pria. Selangkangan Midori sudah semakin basah saja karena klitorisnya dimain-mainkan dan dihisap-hisap si Afro. Midori mengejang nikmat sambil mendesah-desah dan, crrrttt.... ccrrrttt.... ia keluar. Crroott... crroot... crooot... tiga penis yang layu karena servicenya kini digantikan oleh tiga penis tegang berbagai ukuran lainnya. Si negro yang pandai mengebor kini menyodokkan batang hitam besarnya ke vagina sempit Midori dan ngehhk....hekkhh....aaahhhsss..... ia pompa kuat-kuat ploph, ploph, ploph, Midori yang pentilnya masih dipilin-pilin dan dikenyoti membiarkan bongkahan kenyal di dadanya terayun-ayun maju mundur. Saking besarnya penis si negro, mulut vagina Midori kadang ikut timbul-tenggelam terbawa genjotan bersemangatnya. Seorang negro lain menyodok duburnya dari belakang. Kini ia jadi seperti daging di antara dua tangkupan roti. Bedanya, kalau pada sandwich biasa dua roti pengapitnya putih, sedangkan sandwich ala Midori bagian tengahnyalah yang berwarna putih pualam. Kulit putih mulusnya kontras sekali dengan kulit dua pria negro yang menjepitnya dari depan dan belakang. Aaaahhhsssshhhh.... hhssshhhh....hhhssshhh.... Gadis cantik itu sangat terangsang untuk kedua kalinya, crrrtttt.... ccrrrrtt... dua kali sudah ia keluar. Croothhh.... crootthhh....crooothhh... banyak penis meledak dan menyemburkan guyuran sperma ke segala penjuru karena tubuh sintalnya berhasil melayani mereka dengan kualitas prima.

Ia kini penuh belepotan sperma dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kadang ia diminta memijat dada dan menjepit penis beberapa pria dengan payudaranya. Penispenis para pria itu pun digesek-gesek di hampir semua bagian tubuhnya, kaki, perut, tangan, ketiak, serta sela-sela antara pinggang dan pinggulnya. Tubuhnya juga dibolak-balik naik turun dengan berbagai posisi, mengangkang, di doggy, diangkat satu kakinya, diajak kuda-kudaan, dan dibopong sambil dipompa bergantian oleh para pria itu... Entah sudah berapa pria yang menikmati tubuhnya,... entah berapa kali ia keluar,... dan entah berapa posisi yang telah mereka pakai untuk menyenggamainya, yang penting, makin lama goyangan patah-patah Midori makin asoy geboy membuat para bandot tua bangka itu klepek-klepek. Satu persatu bandot itu KO karena telah

tersalurkan naluri kebinatangannya. Kini mereka semua terkapar tak berdaya dalam ruang seluas 20 tatami milik Tuan Ono yang kini tatami dan dindingnya telah penuh cipratan sperma. Midori tak bisa bergerak karena kelelahan memuaskan bandotbandot tua bangka bernafsu besar itu. Midori memejamkan dan menggigit bibirnya menahan rasa perih tak tertahankan dari seluruh tubuhnya. Darah keluar dari dua rongganya yang lecet dan panas memerah karena terlalu sering dibor. Ia perhatikan sejenak jemarinya yang berlumuran cairan putih kental, lalu menjilati dan menghisaphisap jemarinya dengan gerakan yang sangat erotis. Ia meletakkan tangannya yang sudah bersih dari lelehan sperma ke atas tatami. Ia mengalirkan air mata menyesali nasibnya... dan Hahahahahahaaaaa...... hahahaha.... hahahahaha.... ia mulai tertawa-tawa sendiri sambil menatap kosong ke langit-langit ruangan itu.

***************************** Lima tahun lalu di desa Iga Tsubagakure...

Ouran Seorang gadis cantik melemparkan shuriken ke arah sebatang pohon besar. Srett... kulit pohon itu terkelupas dan trang...! nunchaku (double stick) si ninja laki-laki menangkis serangan lawannya. Shuriken itu terlempar jauh ke udara. Dalam gerakan secepat kilat, ia sudah berada di belakang ninja wanita dan menyerang si kunoichi dengan sabitan nunchakunya.

Ah,... nyaris saja,.. desis si ninja wanita sambil berkelit menghindar. Blush! ia menghilang di balik kepulan asap. Si ninja laki-laki kehilangan jejaknya dan memandang sekeliling dengan penuh kewaspadaan, bersiap-siap kalau si ninja wanita menyerang. Benar saja, si ninja wanita menyerangnya dari dalam tanah. Sreett,... sebilah mata pedang melesat secepat kilat ke arahnya. Si ninja laki-laki langsung tanggap dan melompat gesit ke dahan pohon terdekat. Sappp,... sappp,... sappp,.... ia melesat secepat angin. Tangannya mengambil sebentuk bungkusan dari sakunya dan melemparkan ke arah pedang yang membelah tanah. Duar!!! bom rakitan si ninja meluluh-lantakkan tanah. Si ninja wanita terpaksa melompat keluar dari tanah. Lalu,... Cring,... rantai nunchaku si ninja pria sudah tepat berada di depan leher si ninja wanita. Ippon... (skor satu) kata si ninja pria mengkagetkannya. Ah menyebalkan! Aku kalah lagi! Uno-kun, kenapa sih sejak kecil aku tak pernah bisa mengalahkanmu! kunoichi cantik itu mengomel. Hehehehehe... kau kan memang payah sedari kecil, wek... ledek si ninja laki-laki sambil menarik kedua kelopak matanya dan menjulurkan lidahnya. Whush,.... ia langsung lari dengan kecepatan hampir 200 km/jam. Syuuttt.... si ninja wanita pun ikut melesat mengejarnya. Lihat saja kau ninja jeleeeekkk!!! umpatnya. Sudah Uno-kun, keluar dari persembunyianmu dan cepat minta maaf!... mumpung aku sedang mau memaafkanmu... bentak si cantik dengan galak.

Plek,... tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di pantat si kunoichi. Plak! ia tampar si ninja laki-laki yang muncul di belakangnya lagi. Sukebei (mata keranjang)! ia melotot jengkel. Si ninja laki-laki malah mencubit pipinya, kau kelihatan cantik kalau marah, Ouran. ujarnya. Si kunoichi wajahnya langsung bersemu merah. ...ya tapi ini memang tampang tercantik si Nenek Sihir sih,... tambahnya sambil bersiul-siul. Iiihhh... kau memang menyebalkan! Ouran mencubit keras-keras pinggang Uno. Aww...... wadauuuwww..... wadauuuwww,... ampuuunnn... ampunnn,... iya cantik deh...!!! Uno meralat perkataannya supaya diampuni. Jangan pakai deh! ujar si cantik yang galak itu.

Iyaaaa... kamu cantiiikkk... aaaawwww.... ssuuuaaaakkkiiiitt..!!!! Siapa yang cantik?! bentaknya lagi. Ouran Kosukeeee.... adduuuhhh,... Bilang sekali lagi! Ouran Kosuke wanita tercantik di dunia. Uno menurut. Ouran tersenyum senang mendengarnya. Hehehehe,... Uno ikut tertawa. Ia menjaga jarak dan ambil ancang-ancang sambil memancing keributan kembali, ... wanita tercantik di dunia para ibliiisss... Awas kau Uno-kuuun! ... langit pun seketika dipenuhi kepulan debu. Ampuuunnn.... stop, stop, stop!!! kepala Uno dipukuli dengan kipas oleh si gadis yang gelombang kemarahannya sangat mengerikan itu. (^^) Ouran menghentikan pukulannya. Ia tertarik pada sebuah objek di leher Uno, sebuah kalung dengan liontin berbandul mirip shuriken ninja iga berukuran kecil. Kalungmu bagus,... buatku saja ya? ia menarik kalung dari leher Uno tanpa disadari si pemakainya. Wah,... bakat juga kau jadi copet... seloroh Uno begitu menyadari liontinnya sudah berada di genggaman Ouran. Mimik wajah Ouran berubah mengerikan karena dikatai copet. Ya, ya, ya... bukan copet, maksudku ninja pencuri yang cantik... tambah Uno sambil bergidik ngeri.

Ouran mengangguk-angguk senang dan pergi meninggalkannya. Kalungku? Uno teringat akan kalungnya yang masih berada di tangan Ouran. Aku sitaaa...Ouran menjawab dari kejauhan. Uno mengejar Ouran dan menjajari langkahnya. Aku tukar dengan bom terhebatku saja ya? ia menawarkan untuk membarter kalungnya sendiri. Ouran berhenti sejenak. Penawaran yang menarik. Mana? tantangnya.

Uno memperlihatkan sebuah bola besi kecil di atas telapak tangannya. Daya ledaknya sehebat apa? Mmm,... kemarin aku uji coba di pantai,... ia bisa ledakkan batu karang sebesar perguruan ninjutsu kita... yah, lumayan juga kalau kita pakai untuk meledakkan bangunan perguruan ninjutsu kita... kita kan jadi bisa dapat libur ekstra panjang untuk perbaikan total seluruh bangunannya. Uno meyakinkan Ouran akan kehebatan bom buatannya. Tapi kau lah yang akan kena skors mengepel kesepuluh lantai bangunan perguruan seumur hidupmu kalau bangunan itu sudah dibangun kembali... cibir Ouran. Ah benar kok! Bom buatanku kan memang tak ada bandingannya... Halah! Kebohonganmu itu juga terkadang tak ada yang bisa mengalahkannya... Sini, biar kuuji coba! Ouran merebut bom itu dari Uno dan berjalan lagi. Lalu kalungku? Tidak bisa diambil sampai uji coba bomnya sukses! Pokoknya aku sita. Ouran berkacak pinggang sambil melotot. Iapun ngeloyor pergi sambil membawa kedua benda itu. Uno menggaruk-garuk kepala jengkel. Ouran tersenyum licik dari kejauhan, lumayan sudah dapat kalung, dapat bom bagus lagi... siapa pun kan tahu kalau Uno adalah pembuat bom terhebat di perguruannya, yah meskipun ia kadang suka agak melebihlebihkan ceritanya sih.

***************************** Kedua ninja itu terpana waktu kembali ke desanya. Api sudah melalap hampir semua rumah di desa ninja Iga. Mayat-mayat para ninja penghuni desa sudah bertebaran di seluruh desa. Ada yang tergantung di pohon, tertusuk anak panah beracun, terpenggal kepalanya, dan hiiihhh... pokoknya ngeri, nanti malah penulisnya kena sensor karena terlalu sadis mendeskripsikan keadaan mereka. Oh ya, beberapa wanita dan anak-anak yang telah tak bernyawa juga terbaring dalam kondisi tak kalah mengerikan. Mayat beberapa gadis muda malah sampai tak berpakaian sama sekali dan lelehan kental membasahi tubuh, mulut, dan alat kelamin jasad tak bernyawa mereka. Ayah dan ibu Uno pun ditemukan telah meninggal berlumuran darah di pekarangan rumahnya. Jasad ayah Uno digantung di pohon, sedangkan jasad ibunya ditembus anak panah beracun. Jasad wanita setengah baya itu tersangkut di mulut sumur dengan kondisi bagian pinggang ke bawahnya terekspose tanpa kain penutup dan cairan kental menjijikkan melumuri selangkangan, dubur, dan kaki mulusnya. Tampaknya setelah ibunya jadi mayat pun para begundal yang membunuh wanita itu masih berbuat begitu keji terhadapnya. Uno menggendong dan membaringkan wanita itu sambil menutupi mayat wanita cantik yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan selembar kain hitam. Uno bersimpuh menggigit bibir dan mengepalkan tangan geram di

samping mayat wanita itu. Aaaaa..... Uno berteriak keras melepaskan kemarahannya. Koak... koak... koak... gagak pemakan bangkai yang sedari tadi bertengger di pohon-pohon langsung terbang ketakutan. Ouran ikut menangis histeris dan memeluk Uno yang kini duduk tertunduk di sebelah jasad ibunya. Hiks... hiks... hiks... mereka mendengar suara tangisan dari dalam sumur... Ada seseorang yang masih hidup... Uno berlari dan menarik tali timba sumur. Adiknya, Mochizuki, yang masih berusia sepuluh tahun duduk gemetar ketakutan di dalam ember kayu yang ia tarik dari dalam sumur. Ia gendong adiknya yang menangis keras di pelukannya dan menyuruh Ouran membawanya ke tempat persembunyian yang aman. Ia berlari ke dekat kuil, di mana para ninja yang masih bertahan hidup sedang berkelahi dengan ninja-ninja penyerang desa yang berjumlah sekitar 30 orang. Satu persatu ninja dari desa Iga tumbang karena ninja-ninja musuh itu ternyata adalah para ninja pilihan.

Sepuluh menit kemudian, sekujur tubuh Uno sudah babak belur. Bruakkk!!! serangan si ninja berkuku pisau menghempaskan tubuh Uno ke dinding sampai dinding itu ambruk. Tubuh Uno muda, yang belum begitu lihai bertempur melawan ninja senior sekaliber ninja berkuku besi, tiba-tiba mati rasa, tak bisa bergerak lagi akibat rasa sakit tak terperi. Kini ujung lancip sebuah jutte (pisau) menusuk dan menoreh lehernya. Uno memejamkan mata menyongsong kematiannya,... Tiba-tiba, bettt... trang!! jutte itu terpental dan terpelanting ke tanah akibat sambitan shuriken berlambang Iga milik seseorang. Seorang kunoichi cantik sudah berdiri di atas gerbang torii kuil desa Tsubagakure. Zapp... zapp... zapp... zapp ratusan jarum beracun menyerang si ninja berkuku besi. trang... trang... trang.... ninja itu menepis jarum-jarum beracun yang menyerangnya. Bruak! tiba-tiba saja si kunoichi sudah ditendang oleh si ninja jahat. Kunoichi itu refleks melompat ke tanah sambil menahan sakit. Heghh... ia memuntahkan darah dari mulutnya. Kunoichi itu menyapu bekas darah akibat luka dalamnya dari balik kain penutup hidungnya. Cring... sebuah shuriken menyerempet pipi mulus si kunoichi dan melepaskan kedoknya. Wajah cantik Ouran pun terlihat. Glekh,... si ninja berkuku besi menelan air liur melihat wajah imut sang kembang desa Iga yang mirip-mirip Ryoko Hirosue. (huehehehe jadi keliatan kalo aku doramalover ^^) Kawai ne... (uuiiimut gellaaa... kalo kata orang sini sich ^^) si ninja berdecak

kagum. Sret si kunoichi cantik membabatkan ninja-to (pedang ninjanya) ke arah leher si Kuku Besi. Tapi, secepat kilat si Kuku Besi menahan tangan mungilnya dan merebut ninja-to nya. Buk!! sebuah pukulan telak di tengkuk menyudahi perlawanan Ouran. Ouran tersungkur jatuh ke atas tanah. Ninja-ninja lain yang telah mengalahkan penduduk desa Iga ikut berkerumun di dekat si ninja berkuku besi yang telah mengalahkan seorang kunoichi cantik.

Senpai, cantik juga kunoichi ini... Senpai, apa dia memang sudah benar-benar jadi kunoichi? Buktikan saja Senpai... Iya, kalau dibor masih berdarah berarti belum benar-benar jadi kunoichi... Hahaha... haahhaahha... para ninja terbahak-bahak menertawai Ouran. Si kuku besi meraba paha mulus Ouran. Kita buktikan saja,... kau tidak keberatan kan cantik? Ouran menangis ketakutan,... Lebih baik ia mati daripada... Sakit sedikit sih... tapi lama-lama kau pasti akan.... desis si kuku besi. Derai tawa para ninja bertambah kencang. Ouran memandang berkeliling. Ninja-ninja Iga yang tadi masih berjuang kini telah terbaring sekarat. Tak boleh ada lagi ninja Iga yang mati,... desa Iga tak boleh dimusnahkan... Ouran pun mengangguk pelan. Hahahaha... gadis penurut... si kuku besi senang sekali waktu tahu Ouran mau melayaninya. Semua anggota pasukanmu pun boleh ikut, biar aku menghilangkan rasa lelah kalian selepas bertugas... tambah Ouran yang pura-pura tegar. Gadis pintar,... kata si Kuku Besi sambil membelai pipi mulus Ouran yang bergidik gemetar karena rasa takut. Gue suka gaya loo...

Semua anggota pasukan ninja bersuit-suit, bertepuk-tepuk tangan, dan tertawa-tawa setuju. Mereka memang butuh hiburan setelah lelah bertempur.

Mmmmhh,... si Kuku Besi bernafsu hendak mencumbu Ouran di tempat itu juga. Jangan di sini... Ouran menahan agar mulut si Kuku Besi yang masih berkedok ninja tidak menciumnya... Ia tak mau dilecehkan di tempat ia berada sekarang, sebab kedua mata nanar Uno yang tergeletak menahan sakit masih menatap geram ke arahnya. Pandangan Uno menampakkan ketidaksetujuannya dengan keputusan sahabatnya yang cantik itu. Lalu di mana? si ninja coklat berbisik di telinga Ouran. Di dalam kuil saja,... Kenapa hmm? Aku malu. Ouran menunduk. Ia tak sanggup melihat tatapan membara Uno. Huahahahaha.... dia malu Senpai,... para ninja menertawakannya lagi. Baiklah, kata si Kuku Besi, lagipula ia gadis manis yang penurut. Tak ada salahnya mengikuti kemauannya... Si Kuku Besi pun membopong Ouran ke dalam kuil suci desa ninja Iga Tsubagakure untuk diambil kesuciannya. Uno yang tak bisa bergerak hanya bisa menangis pedih melihat sahabatnya yang sebenarnya masih virgin akan dijadikan bulan-bulanan nafsu bejat para ninja jahat. Ia kerahkan segenap tenaganya untuk bangkit, namun ia langsung pingsan karena lemas akibat kehilangan terlalu banyak darah.

Para ninja membuka kedoknya. Dari ketiga puluh tujuh ninja di ruangan itu, tak ada satu pun yang tampan. Si Kuku Besi yang memperkosa Midori adalah anak dari ninja yang memimpin penyerbuan desa Iga Tsubagakure ini. Penampilan ayah anak itu tak beda jauh, tapi si ayah ini tak sebrutal dan sesadis anaknya. Semua ninja melepas kostum mereka. Ada yang masih bersempak ninja, ada yang benar-benar polos. Ouran bergidik melihat penis-penis besar itu. Ikat dia! perintah si kuku besi. Dua ninja membelit kaki Ouran dengan masingmasing seutas tali, melemparkan ke antara kayu penyangga genting kuil, menarik Ouran yang tergantung dengan posisi terbalik, dan mengikat kedua tali itu ke tiang kuil. Si kuku besi menyelipkan kedua kakinya ke kayu penyangga genting tepat di depan selangkangan Ouran. Ia kini juga bergantung terbalik seperti kelelawar dengan posisi selangkangan Ouran yang masih berlapis kain menganga lebar di depannya. Zrett,... ninja lain merobek lepas pakaian ninja Ouran. Buah dada berputing pink dengan ukuran sedang milik gadis belia berusia 15 tahun itu menjuntai ke bawah. Dua ninja lapar langsung mengenyoti, memilin-milin, dan menjilatinya rakus. Jleb,.. satu penis masuk ke mulut mungilnya. hegh,... hegh,... Ouran yang masih lugu tak tahu harus melakukan apa.

Jilat! perintah si ninja yang menyumpali mulutnya. Ia menjilat sedikit ujungnya. Bodoh,... aku takkan keluar kalau begitu caranya. Jilat sampai ujung satunya, kulumkulum, dan sedot yang kuat! bentaknya. Ouran mencoba sekali lagi dengan agak canggung. Kurang kuat, hisap lagi! Ouran menurut. Nah, begini lebih enak. Teruskan sendiri! kata si ninja sambil tersenyum-senyum menang. Dua ninja lain menggosok-gosokkan tangan Ouran ke penis mereka. Ia minta tangan halus Ouran untuk mengocok benda berkerut yang belum pernah ia sentuh itu.

Si Kuku Besi melepas kuku-kukunya dan membelah selangkangan merah Ouran yang berbulu lebat. Sllrrrppp,... slllrrppp... sllrrpp... ia menjilati pintu sumur Ouran sampai tubuh Ouran geli. Ia masukkan lidahnya ke sumur sempit itu dan menjilati klitoris Ouran. Aaahhhssshhhh aahhhsshhh... sang perawan menggelinjang kegelian. Lubang sumur Ouran sudah sangat basah. Si kuku besi berpegangan pada kayu dan membelitkan kakinya ke panggul Ouran. Kepala penisnya menyundulnyundul sumur sempit Ouran. Ia melepas satu tangan dan mempergunakan tangan itu untuk melebarkan sumur sempit Ouran. Jlebh... Aaaaahhhhkkk.... Ouran berteriak karena ada benda asing masuk separo ke sumurnya yang belum pernah dibor... si Kuku Besi menarik keluar lagi sedikit untuk mengambil ancang-ancang dan menghempaskan lambang keperkasaannya bertubi-tubi Jlebh, jlebh, jlebh, jlebh, jlebh, phlokh! Aaaaahhhkkk.... aaaahhhkk..... nghhhkk.... Ouran berteriak tertahan. Sakit,... ia belum pernah mengalami luka di daerah itu sebelumnya. Air matanya menetes. Tanpa memberi kesempatan bagi Ouran untuk beradaptasi, Ssrrrtt,... si Kuku Besi menarik tubuhnya ke atas hingga sebagian Penis nya ikut tertarik juga. Darah perawan Ouran melumuri penis si ninja dan mulut vaginanya. Kemudian, plok.... plok... plok... plok.... si Ninja mulai memompa sumur perawan itu berulang-ulang. Makin lama makin cepat.... klitoris Ouran pun ikut tergesek-gesek. Hsshhhh ahsshhh aahhsshhh... si gadis mulai keenakan. Lama-lama ia ikut memutar-mutar pinggulnya. Crotthhh... croootthhh.... crooothhh... penis-penis ninja mulai lunglai karena nikmatnya service Ouran. Si Kuku Besi di atas sana masih memompanya dengan kecepatan fantastis. Ouran tak sanggup ber-ah eh oh karena mulutnya masih asyik berkaraoke. Tapi dari goyangannya yang makin lama makin hot kelihatan ia makin menjiwai perannya sebagai wanita dewasa. Akhirnya, ccrrrtt... ccrrtt... vagina Ouran mulai digenangi cairan cintanya yang mengucur-ngucur membasahi selangkangan dan perutnya. Chrrrooottthhh! si Kuku Besi ikut keluar. Brugh...Pegangannya terlepas, kini ia bertumpu pada kedua kakinya yang membelit

pinggul Ouran. Ia menumpukan tangan ke tanah, menolakkannya, dan bersalto. Turunkan dia! perintahnya.

Semua ninja menghentikan keasyikan mereka. Ouran diturunkan untuk disetubuhi di atas lantai kuil. Seorang ninja berbaring. Vagina Ouran yang kini dilumuri cairan kental kemerahan dibor lagi olehnya. Ouran ditengkurapkan di atasnya, si Kuku besi yang sukses menegakkan lagi penis nya mencoblos-cobloskan kejantanannya ke dubur Ouran. Gyaaaa!!! Ouran berteriak waktu penis si Kuku Besi masuk dengan sukses. Ia dipompa atas bawah, mem-blow job, dan mengocok banyak sekali penis. Vaginanya pun kini dinikmati bergantian oleh para ninja. Ia pun acapkali disodomi oleh mereka. Hingga akhirnya mereka semua lemas dan tertidur karena kehabisan energi. Ouran yang sudah amat letih dan kesakitan meraih sesuatu yang ia pakai sebagai anting-anting. Ia melepaskan mata anting-anting bulatnya yang ternyata adalah bola besi buatan Uno. Uno-kun,... aku... suka... kamu,... desis Ouran lirih. Ia menangis pedih karena tahu bahwa ia takkan pernah sempat lagi mengungkapkan perasaannya pada Uno. Apalagi ia kini sudah sangat kotor dan menjijikkan karena 37 pria sudah menggumulinya sampai kepayahan dalam semalam. Lendir-lendir bening menjijikkan menyerupai larutan metil selulosa sudah melumuri seluruh tubuh mulusnya yang berkilat-kilat ditimpa cahaya remang-remang lilin-lilin putih di dalam kuil. Hari ini ia tak lagi seputih dan sesuci lilin-lilin yang meneranginya, ia tak lagi pantas jadi pengantin Uno-kun. Hanya kematian yang bisa melepaskan jiwa sucinya dari noda kotor di raganya. Biarlah ia tunggu Uno di surga... Duarr!!! bom kecil itu meluluh lantakkan kuil suci desa Iga Tsubagakure yang telah dinodai ninja-ninja bejat. Seluruh kuil dan isinya hancur berkeping-keping. Sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk shuriken ninja Iga terpelanting dari dalam kuil yang puing-puingnya terbakar hebat. Liontin itu kini tergeletak di tanah desa Iga yang subur.

************************** Arus air sungai Shinano membawa si bayi kecil ke Nagano. Si kecil membuka matanya dan menangis karena haus. Seorang pria memungut keranjangnya dari sungai dan menatap bayi cantik itu lekat-lekat. Kecantikan wajah si kecil membawanya bernostalgia pada kenangan pedih yang pernah dialaminya 5 tahun yang lalu. Peristiwa pembantaian massal di desa Iga Tsubagakure yang menewaskan sahabatnya. Kini hanya tinggal beberapa orang ninja Iga yang hidup dan mengabdi pada Tuan Masayuki Sanada. Penyerangan Iga tempo hari ternyata adalah pemusnahan massal yang direncanakan Tokugawa karena ia tidak ingin ada ninja selain ninja-ninja

pengikut Hanzo Hattori, ajudan setianya, yang beroperasi di luar kendalinya dan mengabdi pada seterunya. Hattori adalah seorang ninja Iga, tapi hatinya sama sekali tak hancur melihat kehancuran desa dan keluarganya. Kesetiaannya pada Ieyasu Tokugawa memang telah membutakannya. Uno mengalungkan liontin berbentuk miniatur shuriken Iga di leher mungil si bayi. Pria yang kini telah berjambang dan berkumis itu berjalan membawa keranjang berisi bayi yang ditemukannya ke mansion majikannya, Masayuki Sanada.

************************* Seorang lelaki bertubuh gemulai yang mengenakan topeng kayu hinoki (pinus Jepang) berlukiskan wajah siluman mengerikan mencekik leher seseorang yang memakai topeng berwajah wanita. Gerakan pencekikan itu tidaklah kasar seperti layaknya perkelahian biasa. Drama pembunuhan itu ditarikan dengan sangat halus, elegan, dan indah. Si topeng wanita pura-pura mati dan si hantu berpose angkuh menandai berakhirnya pertunjukan. Begitulah,... akhirnya roh jahat yang terlepas dari tubuh sekarat Putri Rokujo menghabisi nyawa Tuan Putri Aoi yang menjadi saingan cintanya,... ujar si pemandu cerita. Semua hadirin bertepuk-tangan riuh. Masayuki Sanada berdiri dan melakukan kakegoe (penyebutan nama pemeran) sebagai tanda salutnya atas kepiawaian sang seniman topeng, Seikai... Miyoshi Seikai!! ujarnya bangga. Sang seniman berbakat melepas topeng siluman Putri Rokujonya dan tampaklah wajah laki-laki muda yang cantik. Wajahnya didandani mirip mirip personel Larc en ciel, penyanyi lagu Jy e no Shoutai, yang sedang cos-play dengan make up gothic. Ia membungkuk dengan sangat elegan pada Tuan Masayuki Sanada... bak gerakan seorang geisha. Ia tidak seperti anggota grup band laruku yang asli cowok,... pria cantik itu memang 100% bencong tulen. Masayuki yang didampingi para relasi, keluarga, dan geisha kesayangannya, Chihiro, sangat menikmati pertunjukan drama tari Noh berjudul Aoi no Ue (Putri Aoi) yang disadur dari petikan kisah Genji Monogatari malam itu. Setelah para penonton bubar dan Tuan Masayuki tinggal duduk berdua didampingi geishanya, Uno Rokuro memberi hormat dan menyodorkan sebuah bungkusan berisi bayi perempuan mungil kepada Tuannya. Mohon Tuan berkenan mengangkat anak malang ini sebagai pelayan, ia saya temukan terhanyut di sungai. Uno memohon. Bayi ini cantik, Tuan... Kalau ia punya bakat seni akan kudidik jadi seorang shikomi (calon geisha). Ujar Chihiro sambil menggendong bayi itu.

Tuan, saya juga akan melatihnya jadi seorang kunoichi agar ia dapat mengabdi pada Tuan. Uno Rokuro meyakinkan Tuan Besarnya. Sang samurai mengangguk setuju. Siapa nama bayi ini? Chihiro tersenyum-senyum sambil bercanda dengan si mungil. Kosuke... Anayama Kosuke. jawab Uno Rokuro.

************************** Si kecil Anayama, An-chan panggilannya, dilatih semenjak dini oleh kedua gurunya. Chihiro-dono mengajarinya cara menari, bermain musik, tatakrama, dan tata cara minum teh. Ia diajari untuk berperilaku layaknya seorang wanita ningrat dan bagaimana menaklukkan laki-laki dengan satu lirikan mata. (hue hue hue... Memoirs of a Geisha banggedz!) Sangat kontras dengan pelajaran kewanitaan yang diberikan Chihiro, An-chan kecil juga dididik guru-gurunya untuk mempelajari ninjutsu (ilmu ninja). Ia belajar berbagai cabang ilmu ninja seperti teknik menyelinap untuk mencuri (shinobi iri), teknik ramuan (yagen), teknik perakitan bahan peledak (kayaku-jutsu), strategi (boryaku), penyamaran (inton-jutsu), seni memainkan pisau (tanto-jutsu), dan teknik melempar senjata (shuriken-jutsu). Kadang tubuh mungilnya sampai cedera, luka parah, patah tulang, dan lebam-lebam biru kehitaman sebab Rokuro-sensei (Uno Rokuro), Rokuro-senpai (Mochizuki Rokuro), Miyoshi-sensei (Isa Miyoshi), dan Sarutobi-sensei (Sasuke Sarutobi) tidak membedakannya dengan para murid didikannya yang lain, Saizo Kirigakure, Jinpachi Nezu, Kakei Jzo, dan Yuri Kamanosuke yang semuanya laki-laki. Kalau sudah begitu, Chihiro-dono lah yang ribut karena takut lukanya akan meninggalkan bekas sampai dewasa dan membuat tubuhnya tak lagi mulus. Di waktu luang kadang ia belajar menenun dan menari Noh pada Miyoshi-dono (Seikai Miyoshi), sang ninja seniman yang kemayu. Miyoshi Seikai memang sangat terampil memainkan jarum dan benang, di area pertempuran sekali pun.

********************** Slepp,... sebuah anak panah menembak tepat di tengah-tengah sasaran. Semua laki-laki muda bertepuk tangan mengagumi kepiawaian lelaki berkimono dengan gambar segiempat berisi enam buah koin berjajar seperti bulatan kartu domino lambang klan Sanada. Lelaki tampan dengan wajah aristokrat, berkulit putih, dan berhidung bangir itu adalah putra bungsu Tuan Masayuki, Yukimura Sanada. Ia sedang berlatih memanah bersama Tuan Masayuki, Nobuyuki, kakak Yukimura, dan para ninja pengawal keluarga Sanada. Sanada Jyushi sebutan bagi ninja-ninja itu. Dari sepuluh orang Sanada Jyushi, ada dua orang yang menghilang dari arena panahan. Di mana kira-kira mereka? Ah, ternyata salah satu anggota yang menghilang, Yuri Kamanosuke, berlari-lari sambil membawa tatami untuk digelar di luar. Bau yang menggugah selera dari dapur langsung membuat pelatihan memanah

itu bubar. Kini, semua orang duduk berkeliling di tatami yang digelar di pekarangan mansion luas keluarga Sanada untuk menanti makan siang mereka yang lezat. Yuri masuk lagi untuk mengambil beberapa peralatan upacara minum teh (chadogu). Ia mondar-mandir dengan membawa nampan berisi hidangan lengkap khusus untuk keluarga Sanada. An-chaaaann, tehnya... panggil Yuri Kamanosuke, si koki handal. Siaaap! kata An-chan yang penampilannya beda dari biasanya. Hari ini ia tidak berkimono putih, berhakama, dan mengikat rambut ekor kuda. Hari ini rambutnya digelung berhiaskan kanzashi (hiasan rambut) sederhana, memakai yukata (kimono musim panas) dan sepasang sandal tatami. Ia duduk di atas karpet tatami, mengambil bubuk teh pekat (kaicha) dari temae (tempat teh) dengan sebuah sendok bambu yang disebut chasaku ke sebuah mangkuk, menuangkan air, dan mengaduknya dengan charen. Aku pikir dia laki-laki, Tuan Masayuki memecah kekakuan. Iya, ayah. Bisa juga dia melakukan nodate (upacara minum teh di luar ruangan), ujar Nobuyuki menimpali perkataan ayahnya. Hei, tapi dia terlihat cantik dengan penampilannya hari ini, ujar Yukimura.

Deg!! Jantung An-chan berdegup kencang mendengar pujian Tuan Muda pujaannya. Karena terlalu grogi, ia tidak sengaja mengeraskan adukan tehnya hingga tumpah sedikit ke pangkuan Saizo yang duduk di dekatnya. Ceroboh sekali `sih! bentaknya. Maaf, Senpai. Kata An-chan. Huh... dasar wanita-pria. Saizo mencibir An-chan. Hiiih,... gigi bertumpuk cerewet! An-chan balas mengejek Saizo yang giginya memang gingsul. Gimandang sih bo`... bisa alusan dikit ga! dengan gaya kemayu Miyoshi Seikai berkomentar. Iya, iya, maaf Miyoshi-dono. An-chan meminta maaf pada si banci kemayu yang agak risih melihat upacara yang jadi tidak khidmat gara-gara kelakuannya. Semua orang menertawai An-chan yang berubah jadi sangat kikuk waktu menuangkan teh. Yuri, apa ini? tanya Tuan Masayuki Sanada.

Sushi dari ikan maguro (tuna), kerang, udang, tiram, unagi (belut), dan cumi-cumi yang saya ramu dengan saus buatan saya sendiri Tuan, jawabnya. Oishi! Masayuki memuji. Doumo arigatou, Masayuki Sanada-sama. Ia membungkuk karena tersanjung. Kimo sui (sup belut)-nya juga enak, hmm... Yukimura memuji. Yuri membungkuk lagi. Ah, kau juga membuat unagi no kabayaki (belut panggang)... pas sekali dimakan di musim panas. Ujar Nobuyuki senang. Ya,... hanya saja saya tidak mengukusnya lagi setelah dipanggang seperti di Jepang belahan timur, Tuan. Silakan menikmati. Ujar Yuri. Yang seperti ini pasti An-chan tak bisa membuatnya,... kata Saizo meledek. An-chan menyodok perut Saizo dengan sikunya sampai teh di mulut Saizo muncrat karena tersedak. Semua peserta jamuan terbahak-bahak, kecuali Miyoshi Seikai yang tetap duduk anggun dan jaim.

Jaga sikap! bentak Miyoshi Seikai pada dua cecunguk Iga, begitu ia menyebut Anchan dan Saizo, yang tak pernah bisa bertata krama itu.. An-chan menunduk takut. Sudah, tidak apa-apa, jangan terlalu formil. Ini kan cuma jamuan makan keluarga. Kata Tuan Masayuki menengahi. Weekk,... An-chan meledek Saizo. Saizo dengan cuek menikmati unagi no kabayaki nya tanpa menggubris si usil An. Jinpachi menyenggol bahu Saizo. Kau perhatikan tidak Saizo-senpai, An-chan dadanya sudah tidak serata dulu... Kalau begitu ia sudah bisa diperistri ya?... kata Jinpachi mupeng. Plak! Mochizuki Rokuro yang tak sengaja mendengar celotehan Jinpachi memukulkan kipasnya ke kepala Jinpachi. Addduuuh, kenapa sih Senpai? tanyanya sambil mengusap kepala benjolnya. Sudahlah,... dasar playboy! Lagian buat apa sih menikahi makhluk bodoh seperti wanita... komentar Miyoshi Isa yang ternyata juga mendengar ucapan Jinpachi.

Hohohoho... benar. Wanita itu tak berguna. Cuma dua benjolan besar yang tak kumiliki itu saja yang bisa mereka banggakan. Lebih baik nikahi saja aku Jinpachi... Biarpun tanpa dua buntalan sampah itu, aku bisa lebih memuaskanmu. Iya kan saudaraku? Seikai yang kemayu mengomentari dengan iri. Jinpachi langsung mulas-mulas mendengarnya. Sarutobi Sasuke mengangguk-angguk sendiri mendengar komentar kekasih gay-nya. Yang lain cuma il-fil memandang Sarutobi Sasuke, si ninja Koga dengan orientasi seksual ganda yang dibesarkan oleh para monyet hutan Manjidani itu. Hiihhh,... dasar ninja-ninja Koga homo,... bisik Saizo pada Jinpachi. Jinpachi mengangguk. Tuh Jinpachi mau menikahimu, ujar Saizo pada An-chan. Jinpachi langsung salah tingkah. Eeee... bukan kok... Ah males aku kawin sama playboy, tolak An sadis, ...tapi aku mau kok kalau Tuan Yukimura yang menikahiku, seloroh An-chan lagi dengan raut wajah berbinar-binar. Semua orang malah menertawakan perkataan An, kecuali Saizo yang kini menunduk dan mengepalkan tangan geram, lalu ngebut menghabiskan unagi no kabayakinya untuk melampiaskan kecemburuannya.

************************ Ippon! teriak Mochizuki Rokuro ketika sebuah pukulan Saizo telah mendarat di jidat Jinpachi. Jinpachi dan Yukimura saling memberi hormat dan kembali ke tempat duduk masingmasing. Kosuke dan Kirigakure, maju! perintah Uno Rokuro, sang pelatih kendo. Keduanya saling membungkuk dan menghunuskan bokken (pedang kayu) masingmasing. Suasana hening untuk beberapa lama. Tak ada gerakan sama sekali yang dihasilkan Saizo Kirigakure. An-chan sudah habis kesabarannya, ia langsung berlari menyerang Saizo. Trakk! pedang kayu mereka beradu. Pedang kayu An-chan ditepis dengan mudah dan An-chan agak terdorong ke belakang. Traakk...! pukulan berikutnya terarah ke kepala An-chan. Secepat kilat An-chan menangkis serangan itu. Bett.. pedang Saizo telah mengubah arah serangannya. Kali ini hampir mengenai leher An-chan. Beruntung, gerak refleks An-chan bagus dan bokken itu hanya menarik lepas ikatan rambutnya. An-chan yang cantik kini berdiri sejauh tujuh langkah dari Saizo. Rambut lurus berkilaunya kini terurai lepas. Mata Saizo terpaku melihat keelokan parasnya... Mata kecoklatan indah An memukau serta menenggelamkan dirinya seketika.

Senpai, awas!!! teriak Jinpachi. Saizo langsung menguasai diri dan menangkis lagi bokken An-chan. Bletak! tanpa ampun ia membabat bahu An-chan dengan bokken nya. An chan tertunduk dan tak bergerak untuk beberapa saat. Kau tidak apa-apa? tanya Saizo khawatir. Lihat, apa yang Senpai perbuat.... Aduuuhhh... rengek An-chan. Maaf... sini biar aku obati, katanya. Senpai, ini obatnya. Jinpachi menyodorkan kotak obat pada Saizo. Beberapa orang yang lain ikut mengerumuni mereka berdua. Nih,.. An-chan menurunkan kimono putihnya.

Punggung mulus berlukis sepasang naga kembar miliknya langsung terpampang di hadapan Saizo. Glekh! Saizo terbelalak sambil menelan ludahnya sendiri. Cepat oleskan Senpai! perintah An-chan. Si gingsul hitam manis itu dengan gemetar membalurkan ramuan obat di tangannya ke tubuh mulus kuning langsat An-chan. Matanya tidak memperhatikan luka memar si gadis mungil, ia justru memperhatikan betapa mulus punggung bertatonya, indahnya leher jenjang berpeluh miliknya, dan betapa halusnya kulit kuning langsat milik si cantik kembaran Yukie Nakama itu. (lagi-lagi terinspirasi J-dorama artist wkkk). Anchan yang merasa sudah selesai diobati langsung menarik dan membetulkan lagi ikatan kimono putihnya. Senpai, terima kasih. Ujarnya. Kalau aku tak merengek kau tidak akan mengasihaniku kan? katanya jenaka. Saizo langsung menjitak An-chan. Minta dikasihani?... Dasar manja! ejeknya. Weeekk,... An-chan bangkit dan menjulurkan lidahnya. Ia langsung berlindung di belakang punggung Yukimura Sanada untuk menghindari jitakan Saizo berikutnya. Sudah, sekarang Saizo Kirigakure dan Tuan Yukimura silakan bersiap.. instruksi Uno Rokuro. An-chan memijiti bahu Yukimura dan menyemangatinya, Tuan Muda, kalahkan dia! ujarnya sambil tersenyum. Yukimura membalas senyuman manis An-chan sambil mengacak-acak rambut berkilau An-chan dengan gemas. Seketika dada Saizo bergolak hebat terbakar api cemburu melihat kemesraan mereka berdua.

Senpai, selamat berjuang. Jinpachi menepuk pundak Saizo untuk memberi semangat. Keduanya berdiri berhadapan dan memberi hormat. Mata elang Saizo tak lepas menatap Yukimura. Ia menggenggam kuat bokkennya dan langsung meluncurkan serangan pertamanya sambil berteriak lantang, Kuhabisi kau, Yukimuraaa!!!

****************** Sasuke Sarutobi sedang membaca gulungan perkamen kuno berisi jurus ninja Koga di kamarnya. Angin dingin berhembus masuk ke kamarnya. Kelima inderanya langsung waspada, suara angin yang bergerak tak sewajar biasanya membuat instingnya bekerja, pasti ada seorang penyusup yang telah memasuki kamarnya. Tampakkan dirimu! perintahnya. Seketika ratusan jarum beracun menyerangnya. Ia menangkis jarum-jarum itu dengan ninja-to (pedang ninja) nya. Jarum itu berjatuhan di atas tanah. Blush! di balik kepulan asap sesuatu yang mirip tubuh manusia bergerak dan menyerangnya. Trang! lengan sebuah boneka kayu menyerangnya. Untunglah Sasuke selalu bergerak selincah dan secepat seekor monyet. Ia menangkis dan melontarkan lengan si boneka kayu. Benang-benang tipis berkilau nan tajam mengikat sekujur tubuh si boneka. Pastilah ada seorang puppet master yang mengendalikan penyerangan ini. Praanngg!!ia menghancurkan boneka kayu yang dikendalikan dari jarak jauh itu dalam sekali tebasan. Keluar kau Seikai! Berhenti pamerkan jurusmu yang belum begitu matang! bentaknya. Sesosok siluet tubuh gemulai membayang di dinding. Hoohoohoho.. kau tahu aku lah puppet masternya ya?... Sebaiknya lain kali kupakai tubuh manusia sungguhan dan kucari benang yang lebih halus... Ujar si banci gothic yang perlahan-lahan mulai menampakkan diri. Kau makin mengerikan, seringai Sasuke. Kau pun masih sehebat biasanya sayang,...selincah monyet, sekuat macan... kini, jadilah seekor kuda jantan untukku... Seikai langsung bergelayut manja di pelukan Sasuke dan menanggalkan berlapis-lapis kimono sutra mahalnya. Sasuke langsung membelitkan lidahnya ke lidah pasangan sesama jenisnya dan tangan kekarnya mengelus benda bulat panjang yang sama seperti miliknya sendiri yang tersembunyi di antara kedua paha Seikai. Sinar bulan keperakan membelah gelapnya malam penuh dosa.

Oke...cut...cut...cut!! sampe disini dulu, soalnya kalau adegan ini dilanjutkan mupengers bisa muntah atau shock (^_^;)

To be continued....

The Blue Serenade of a Kunoichi 3

Sejak pertama kali ia di sini, Midori sering mengajak Ueda-sama ke kamarnya, Tuan. Yue datang menghampiri Tuan Ono yang sedang minum sake. Kau tahu mereka berselingkuh? Ono mengorek lebih dalam. Yue mengangguk. Kenapa kau tak laporkan padaku?! tanya Ono geram. Yue memasang wajah memelas, Ia mengancam akan memutar balikkan fakta dengan menuduh bahwa sayalah yang berselingkuh, Tuan. Dia memang wanita licik yang memanfaatkan kepercayaan Tuan. Saya sangat takut pada ancamannya karena dia bilang Tuan pasti akan lebih mempercayainya. Ya, ia adalah istri kesayangan Tuan saat ini... Tuan lebih banyak menghabiskan malam di kamarnya... Jadi saya tak berani melaporkan apa yang saya lihat. Bagaimana bisa Midori lakukan itu? Ono penasaran. Ia butuh uang,... Yah, Tuan tahu ia cuma seorang gadis miskin sebelum Tuan peristri. Jadi ia sangat suka uang. Ia sering datang ke toko barang antik Tuan Muda Ueda untuk menggodanya. Yue memfitnah Midori. Ueda tidak bersalah? Tuan Ono terhenyak kaget.

Tentu saja tidak. Pelacur itu menggodanya. Bukankah Tuan tahu kalau Tuan Ueda itu seorang pria baik. Tuan sangat mengenal putra Tuan kan? Mana mungkin seseorang yang Tuan didik sejak kecil bisa melakukan perbuatan kotor seperti itu jika tak ada yang menjerumuskannya. Yue mempengaruhi Ono. Ia memfitnah Midori yang sebenarnya tak bersalah.

Ono mengangguk-angguk. Sebaiknya Tuan mempercayai putra Tuan... Jangan biarkan pelacur itu menghancurkan keluarga Tuan. Ia mengelus-elus paha suaminya yang tua bangka. Yaaa,.... ya,... kau benar Yue. Ia setuju akan perkataan Yue. Yue menuangkan lagi sake ke gelas Tuan Ono dan memijat-mijat pundak si pria tua yang lebih pantas jadi ayahnya itu. Sebaiknya Tuan mengampuni putra Tuan. Ia hanyalah korban wanita jalang itu. Ono berhasil dipengaruhi Yue. Sekali lagi ia manggut-manggut setuju. Dasar tua bangka idiot,... si Manis tersenyum licik dari balik punggung sang saudagar. Tuan, Nyonya Midori melahirkan bayi perempuan. kata seorang pelayan yang berlari tergopoh-gopoh menghadap Tuan Ono. Di mana dia sekarang? tanya Yue. Nyonya Midori ada di kamarnya bersama bayinya. Tadi kami pindahkan ia ke sana. Jawab si pelayan. Pyaarrr!!! ia banting gelas sakenya ke atas meja. Aku tak menyuruhmu memindahkan pelacur itu ke kamarnya dan menolongnya! Harusnya kau biarkan saja ia mati! bentak Ono marah. Maafkan kelancangan kami Tuan.... Pelayannya bersujud di atas tanah memohon ampunan tuannya. Tuan Ono bergegas ke kamar Midori tanpa menghiraukan si pelayan yang membuatnya jengkel. Yue mengikuti dengan setengah berlari di belakangnya.

******************************* Midori berbaring lemah mengelus rambut halus yang tumbuh di kepala bayi mungil yang dilahirkannya. Si bayi yang bokongnya masih berwarna kebiruan itu telungkup di atas dada ibunya. Bayi perempuan itu menggerak-gerakkan mulutnya mencari air

susu sang ibu. Midori tersenyum bahagia. Bayi mungil yang matanya masih terpejam itu cantik sekali. Meskipun terlahir prematur, ia lahir dengan sehat. Kulitnya kuning langsat. Bayi itu mirip dirinya. Yui, lihatlah anak kita... bisik Midori sambil meneteskan air matanya. Ia membuka sedikit kimononya dan membiarkan si kecil menetek. Si kecil kelaparan, ia menyedot air susu ibunya dengan lahap. Tangan-tangan mungil si bayi menyentuh kulit pualam Mi-chan. Ia merasa sangat sempurna menjadi seorang wanita. Tuan Ono dan Yue masuk ke kamarnya. Ia sangat marah melihat bayi kecil di buaian Midori dan merebutnya dari Midori. Midori menangis memohon-mohon agar bayinya dikembalikan padanya. Cepat seret wanita jalang ini ke selnya! Ia tak boleh enak-enakan tidur di sini. perintah Ono. Midori yang tubuhnya masih lemah sehabis melahirkan pun dijebloskan lagi ke penjara dekat kandang kuda milik Tuan Ono. Ono membawa bayi kecil yang baru ia lahirkan ke depan sel tempat ia mengurung Midori dengan satu tangan. Tangan Ono yang lain membawa besi panas berujung membara yang biasa digunakan untuk menandai kuda-kuda peliharaannya. Ujung besi itu bergambar sepasang naga kembar. Jangaaaannn!!! teriak Midori waktu Ono mendekatkan ujung merah membara besi itu ke punggung putri mungilnya.

Tapi Sssshhhhhttt....., Ono sudah menempelkan besi panas itu ke punggung si kecil. Si kecil menangis keras sekali karena melawan siksaan rasa sakit pada kulit sensitifnya yang dibakar dengan besi merah membara. Oeeee......... oeeeeee... oeeeeeee...... tangisannya membahana. Bajingan! Kau menyakiti anak kecil yang tak berdosa. Apa salah anak itu?! Midori berusaha bangun dari lantai, namun tak bisa. Ia terlalu lemah. Aku ingin bayi ini mati,... hahahaha... Ono tertawa keji. Jangan! Ia tak bersalah. Bunuh saja aku....Apa maumu?! tanya Midori. Ada hal penting yang harus kau lakukan.... aku akan mengundang para rekan bisnisku agar mereka mau membeli kain sutra dariku...ada beberapa petugas yang akan mengurus perizinan pengiriman barang-barang yang juga akan datang... kau pasti bisa melancarkan proses negosiasi kami dengan tubuh mulusmu.... hahahahaha... Ono menyeringai padanya. ...mungkin setelah itu aku akan mempertimbangkan akan membunuh anakmu atau tidak,... Midori mengerti apa maksud si pedagang licik itu. Bajingan bejat! Kau ingin menjual istrimu sendiri?! bentaknya.

Yah,... tidak benar-benar seperti itu... Aku kan cuma mengajarimu bagaimana cara mencari uang... Itu yang kau inginkan dariku dan anak angkatku kan?... cemoohnya. Kau bajingan tua tak berperasaaannn!!! jerit Midori dari balik jeruji besi yang menahannya. Ono tak menggubris Midori. Ia pergi begitu saja dari hadapan Midori yang terus mengiba-iba agar Ono mengembalikan putri kecilnya.

Pergi dan bunuh anak haram ini! Kuburkan saja sekalian kalau perlu. Kau juga boleh membuang mayatnya! perintah Ono pada seorang pengawal. Pengawal itu membungkuk hormat dan membawa pergi si bayi kecil. Ia membawanya ke tempat yang jauh dari rumah besar Saudagar Ono. Bayi mungil itu begitu berani. Ia tak menangis menghadapi kematiannya. Ia tertawa-tawa jenaka selama digendong si pengawal. Mata mungilnya yang bulat kecoklatan dan innocent menatap mata sang pengawal sekilas. Ia lalu menguap dan tidur nyenyak di gendongan si pengawal. Si pengawal teringat akan putri kecilnya, bayi ini bahkan lebih cantik dari putrinya sewaktu bayi. Si kecil ini hanya lahir pada tempat dan saat yang salah. Seorang bayi sama sekali tak berdosa karena dilahirkan, bahkan oleh seorang pelacur sekali pun. Pengawal merasa kasihan padanya. Ia tak tega untuk membunuhnya. Ia letakkan bayi kecil itu di dalam sebuah keranjang bambu yang ia temukan di dekat sungai. Agar si bayi tak kedinginan, ia melapisi keranjang sekaligus tubuh si kecil dengan kimono terluar dan syal yang dipakainya. Ia hanyutkan si kecil yang tertidur lelap ke sungai. Semoga kau beruntung dan ada orang yang mau memeliharamu bayi kecil ujar si pengawal waktu keranjang berisi bayi itu mulai terbawa arus air. Di perjalanan pulang, ia tangkap seekor kelinci dan membunuhnya dengan sebilah pisau. Ia simpan pisau yang dipakainya untuk membunuh kelinci itu untuk nanti diperlihatkan pada Tuan Ono sebagai bukti palsu bahwa ia telah membunuh si kecil.

************************ Ueda-sama, jangan khawatir... Sebentar lagi kau akan dibebaskan. Kau mengatakan apa yang kuajarkan padamu kan? Yue memastikan. Yue... mereka menyiksaku,... pria pengecut itu menggenggam tangan Yue erat. Jangan takut, si gadis jalang itu akan segera menerima hukuman atas ketidak setiaannya pada Tuan Ono... Sayang, kau pasti diampuni Tuan Ono. Hibur Yue. Terima kasih, cinta. (Afghan banggedz :P) Ueda merayu Yue yang telah menyelamatkannya. Aku akan melenyapkan siapa saja yang mencoba merebut Tuan dariku,...karena aku

sangat mencintai Tuan... ujar Yue. Ueda membelai rambut Yue yang duduk di hadapannya. Kalau jeruji itu tak ada di antara mereka berdua pasti mereka telah berpagutan mesra.

************************* Sekitar 20 orang pria setengah baya duduk di ruang utama kediaman Tuan Ono. Tuan Ono sedang melangsungkan perjamuan bisnis dengan para kliennya dari mancanegara. Wilayah Kyushu memang tempat eksklusif di mana Korea mau menjual hasil buminya kepada bangsa Jepang. Beberapa pedagang asing juga sudah mulai memasok komoditi dari dan ke Jepang, walaupun melalui black market. Para niagawan asing itu rela berlayar berbulan-bulan demi mendapatkan sutra dan emas, komoditi perdagangan utama bangsa Jepang. Seorang pria bule bangkotan beserta dua bodyguard negronya yang kekar-kekar ikut duduk dalam ruangan itu. Baiklah Tuan-tuan sekalian, kita tunda dulu proses negosiasi kita sejenak. Maaf kalau Tuan sekalian merasa kurang berkenan. Namun hari sudah siang dan aku yakin Tuan sekalian pasti sudah mulai lapar. Aku ingin menyuguhkan hidangan lezat pada tuan-tuan semua. Ono berbasa-basi. Para hadirin mengangguk-angguk setuju. Midoriii,... bawa masuk hidangannya! panggilnya. Pintu kertas itu bergeser. Seorang gadis cantik berambut hitam lurus panjang terurai dengan jubah bulu beruang berwarna putih masuk membawa senampan besar lembaran-lembaran sashimi. Mereka semua terpana melihat betapa eksotis kecantikan wajahnya. Ia duduk bersimpuh dan meletakkan pinggan sashimi besar di hadapannya. Ia tarik ikatan jubah bulu beruang di lehernya. Jubah itu tergelincir jatuh, tubuh indahnya yang meliuk sensual terpampang polos tanpa selapis kain penutup pun di depan para bandot tua yang tambah melongo memelototinya. Keindahan tubuh sang bidadari memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. (padahal penulisnya aslinya males nih mendeskripsikan keindahan tubuh Midori berulang-ulang :-P) Silakan perlakukan saya sekehendak hati Tuan,.. ujarnya lirih sambil membungkuk hormat. Ono berdiri dari tempat duduknya, silakan menikmati hidangannya, Saudarasaudara. Ono membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. (Ya eyalah, malu lagi kalo nggabung sama mereka en ketahuan menderita disfungsi ereksi... heleh bahasanya sok ilmiah aku wkwkwkwkwk)

Midori meletakkan beberapa lembar potongan sashimi di atas tubuh polosnya lalu berbaring telentang memasrahkan diri di atas tatami yang terasa kasar di punggung polosnya. Beberapa lelaki tua mendekatinya dan menyirami tubuhnya dengan saus

sashimi. Panas yang berasal dari campuran wasabi (sejenis talas dengan rasa kuat) dan ponzu (parutan jahe) dalam saus itu seketika merambati tubuh Midori. Tanpa menunggu lama, pria-pria beringas itu sudah asyik memakan langsung iris demi iris potongan-potongan persegi tipis afrodisiak di atas tubuhnya tanpa sumpit atau alat makan lain dan menjilat-jilat seluruh tubuhnya yang gurih berlapis saus nan hhmmm slrrrppp... mak serrr legender kata Pak Bondan! Seorang pria bangkotan mengeyoti payudara kanannya yang masih mengeluarkan air susu karena baru beberapa minggu lalu melahirkan. Pria lain memilin dan menjilati rakus puting kirinya. Kedua paha mulusnya sampai ujung kakinya masing-masing disapu entah oleh lidah-lidah pria yang mana. Seorang pria hitam legam menyeruputi saus sashimi dari liang vaginanya yang masih peret. Seorang bandot bule membelit-belit lidah gadis oriental yang sangat seksi itu. Tak cukup itu saja, Midori didudukkan dan satu pria lain ikut asyik menjilati punggungnya, sedangkan rekannya menyiram dubur Midori yang kembang kempis dengan saus sashimi dan mengebor serta menyeruput cairan di duburnya dengan mulut dan lidahnya. Mi-chan menangis tanpa suara karena rasa pedih dan panas menyergap organ-organ intimnya, ia tak pernah bermimpi akan diperlakukan seperti ini. Bule yang tadi membelit lidahnya menyumpalkan penis merah besar dan men deep throatnya sampai ia sulit bernafas. Lidah dan mulut mungil Mi-chan langsung menjilati, mengenyot-ngenyot, dan menggigit kontol si bule.

aaahhhhsshhhh.... aaasshhhssahhh,..... f***ing great! si bandot bule jadi makin excited. Dua pria lain mengoles-oleskan tangan kanan dan kiri Midori ke atas penis mereka. Midori langsung mengocok kedua penis besar tegang entah milik siapa itu. Ia bergantian menyepong dan mengocok penis tiga pria. Selangkangan Midori sudah semakin basah saja karena klitorisnya dimain-mainkan dan dihisap-hisap si Afro. Midori mengejang nikmat sambil mendesah-desah dan, crrrttt.... ccrrrttt.... ia keluar. Crroott... crroot... crooot... tiga penis yang layu karena servicenya kini digantikan oleh tiga penis tegang berbagai ukuran lainnya. Si negro yang pandai mengebor kini menyodokkan batang hitam besarnya ke vagina sempit Midori dan ngehhk....hekkhh....aaahhhsss..... ia pompa kuat-kuat ploph, ploph, ploph, Midori yang pentilnya masih dipilin-pilin dan dikenyoti membiarkan bongkahan kenyal di dadanya terayun-ayun maju mundur. Saking besarnya penis si negro, mulut vagina Midori kadang ikut timbul-tenggelam terbawa genjotan bersemangatnya. Seorang negro lain menyodok duburnya dari belakang. Kini ia jadi seperti daging di antara dua tangkupan roti. Bedanya, kalau pada sandwich biasa dua roti pengapitnya putih, sedangkan sandwich ala Midori bagian tengahnyalah yang berwarna putih pualam. Kulit putih mulusnya kontras sekali dengan kulit dua pria negro yang menjepitnya dari depan dan belakang. Aaaahhhsssshhhh.... hhssshhhh....hhhssshhh.... Gadis cantik itu sangat terangsang untuk kedua kalinya, crrrtttt.... ccrrrrtt... dua kali sudah ia keluar. Croothhh.... crootthhh....crooothhh... banyak penis meledak dan menyemburkan guyuran sperma ke segala penjuru karena tubuh sintalnya berhasil melayani mereka dengan kualitas prima.

Ia kini penuh belepotan sperma dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kadang ia diminta memijat dada dan menjepit penis beberapa pria dengan payudaranya. Penispenis para pria itu pun digesek-gesek di hampir semua bagian tubuhnya, kaki, perut, tangan, ketiak, serta sela-sela antara pinggang dan pinggulnya. Tubuhnya juga dibolak-balik naik turun dengan berbagai posisi, mengangkang, di doggy, diangkat satu kakinya, diajak kuda-kudaan, dan dibopong sambil dipompa bergantian oleh para pria itu... Entah sudah berapa pria yang menikmati tubuhnya,... entah berapa kali ia keluar,... dan entah berapa posisi yang telah mereka pakai untuk menyenggamainya, yang penting, makin lama goyangan patah-patah Midori makin asoy geboy membuat para bandot tua bangka itu klepek-klepek. Satu persatu bandot itu KO karena telah tersalurkan naluri kebinatangannya. Kini mereka semua terkapar tak berdaya dalam ruang seluas 20 tatami milik Tuan Ono yang kini tatami dan dindingnya telah penuh cipratan sperma. Midori tak bisa bergerak karena kelelahan memuaskan bandotbandot tua bangka bernafsu besar itu. Midori memejamkan dan menggigit bibirnya menahan rasa perih tak tertahankan dari seluruh tubuhnya. Darah keluar dari dua rongganya yang lecet dan panas memerah karena terlalu sering dibor. Ia perhatikan sejenak jemarinya yang berlumuran cairan putih kental, lalu menjilati dan menghisaphisap jemarinya dengan gerakan yang sangat erotis. Ia meletakkan tangannya yang sudah bersih dari lelehan sperma ke atas tatami. Ia mengalirkan air mata menyesali nasibnya... dan Hahahahahahaaaaa...... hahahaha.... hahahahaha.... ia mulai tertawa-tawa sendiri sambil menatap kosong ke langit-langit ruangan itu.

***************************** Lima tahun lalu di desa Iga Tsubagakure...

Ouran Seorang gadis cantik melemparkan shuriken ke arah sebatang pohon besar. Srett... kulit pohon itu terkelupas dan trang...! nunchaku (double stick) si ninja laki-laki menangkis serangan lawannya. Shuriken itu terlempar jauh ke udara. Dalam gerakan secepat kilat, ia sudah berada di belakang ninja wanita dan menyerang si kunoichi dengan sabitan nunchakunya. Ah,... nyaris saja,.. desis si ninja wanita sambil berkelit menghindar. Blush! ia menghilang di balik kepulan asap. Si ninja laki-laki kehilangan jejaknya dan memandang sekeliling dengan penuh kewaspadaan, bersiap-siap kalau si ninja wanita menyerang. Benar saja, si ninja wanita menyerangnya dari dalam tanah. Sreett,... sebilah mata pedang melesat secepat kilat ke arahnya. Si ninja laki-laki langsung tanggap dan melompat gesit ke dahan pohon terdekat. Sappp,... sappp,... sappp,.... ia melesat secepat angin. Tangannya mengambil sebentuk bungkusan dari sakunya dan melemparkan ke arah pedang yang membelah tanah. Duar!!! bom rakitan si ninja meluluh-lantakkan tanah. Si ninja wanita terpaksa melompat keluar dari tanah. Lalu,... Cring,... rantai nunchaku si ninja pria sudah tepat berada di depan leher si ninja wanita. Ippon... (skor satu) kata si ninja pria mengkagetkannya. Ah menyebalkan! Aku kalah lagi! Uno-kun, kenapa sih sejak kecil aku tak pernah bisa mengalahkanmu! kunoichi cantik itu mengomel. Hehehehehe... kau kan memang payah sedari kecil, wek... ledek si ninja laki-laki sambil menarik kedua kelopak matanya dan menjulurkan lidahnya. Whush,.... ia langsung lari dengan kecepatan hampir 200 km/jam.

Syuuttt.... si ninja wanita pun ikut melesat mengejarnya. Lihat saja kau ninja jeleeeekkk!!! umpatnya. Sudah Uno-kun, keluar dari persembunyianmu dan cepat minta maaf!... mumpung aku sedang mau memaafkanmu... bentak si cantik dengan galak.

Plek,... tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di pantat si kunoichi. Plak! ia tampar si ninja laki-laki yang muncul di belakangnya lagi. Sukebei (mata keranjang)! ia melotot jengkel. Si ninja laki-laki malah mencubit pipinya, kau kelihatan cantik kalau marah, Ouran. ujarnya. Si kunoichi wajahnya langsung bersemu merah. ...ya tapi ini memang tampang tercantik si Nenek Sihir sih,... tambahnya sambil bersiul-siul. Iiihhh... kau memang menyebalkan! Ouran mencubit keras-keras pinggang Uno. Aww...... wadauuuwww..... wadauuuwww,... ampuuunnn... ampunnn,... iya cantik deh...!!! Uno meralat perkataannya supaya diampuni. Jangan pakai deh! ujar si cantik yang galak itu. Iyaaaa... kamu cantiiikkk... aaaawwww.... ssuuuaaaakkkiiiitt..!!!! Siapa yang cantik?! bentaknya lagi. Ouran Kosukeeee.... adduuuhhh,... Bilang sekali lagi! Ouran Kosuke wanita tercantik di dunia. Uno menurut. Ouran tersenyum senang mendengarnya. Hehehehe,... Uno ikut tertawa. Ia menjaga jarak dan ambil ancang-ancang sambil memancing keributan kembali, ... wanita tercantik di dunia para ibliiisss... Awas kau Uno-kuuun! ... langit pun seketika dipenuhi kepulan debu. Ampuuunnn.... stop, stop, stop!!! kepala Uno dipukuli dengan kipas oleh si gadis yang gelombang kemarahannya sangat mengerikan itu. (^^)

Ouran menghentikan pukulannya. Ia tertarik pada sebuah objek di leher Uno, sebuah kalung dengan liontin berbandul mirip shuriken ninja iga berukuran kecil. Kalungmu bagus,... buatku saja ya? ia menarik kalung dari leher Uno tanpa disadari si pemakainya. Wah,... bakat juga kau jadi copet... seloroh Uno begitu menyadari liontinnya sudah berada di genggaman Ouran. Mimik wajah Ouran berubah mengerikan karena dikatai copet. Ya, ya, ya... bukan copet, maksudku ninja pencuri yang cantik... tambah Uno sambil bergidik ngeri.

Ouran mengangguk-angguk senang dan pergi meninggalkannya. Kalungku? Uno teringat akan kalungnya yang masih berada di tangan Ouran. Aku sitaaa...Ouran menjawab dari kejauhan. Uno mengejar Ouran dan menjajari langkahnya. Aku tukar dengan bom terhebatku saja ya? ia menawarkan untuk membarter kalungnya sendiri. Ouran berhenti sejenak. Penawaran yang menarik. Mana? tantangnya. Uno memperlihatkan sebuah bola besi kecil di atas telapak tangannya. Daya ledaknya sehebat apa? Mmm,... kemarin aku uji coba di pantai,... ia bisa ledakkan batu karang sebesar perguruan ninjutsu kita... yah, lumayan juga kalau kita pakai untuk meledakkan bangunan perguruan ninjutsu kita... kita kan jadi bisa dapat libur ekstra panjang untuk perbaikan total seluruh bangunannya. Uno meyakinkan Ouran akan kehebatan bom buatannya. Tapi kau lah yang akan kena skors mengepel kesepuluh lantai bangunan perguruan seumur hidupmu kalau bangunan itu sudah dibangun kembali... cibir Ouran. Ah benar kok! Bom buatanku kan memang tak ada bandingannya... Halah! Kebohonganmu itu juga terkadang tak ada yang bisa mengalahkannya... Sini, biar kuuji coba! Ouran merebut bom itu dari Uno dan berjalan lagi. Lalu kalungku? Tidak bisa diambil sampai uji coba bomnya sukses! Pokoknya aku sita. Ouran berkacak pinggang sambil melotot. Iapun ngeloyor pergi sambil membawa kedua

benda itu. Uno menggaruk-garuk kepala jengkel. Ouran tersenyum licik dari kejauhan, lumayan sudah dapat kalung, dapat bom bagus lagi... siapa pun kan tahu kalau Uno adalah pembuat bom terhebat di perguruannya, yah meskipun ia kadang suka agak melebihlebihkan ceritanya sih.

***************************** Kedua ninja itu terpana waktu kembali ke desanya. Api sudah melalap hampir semua rumah di desa ninja Iga. Mayat-mayat para ninja penghuni desa sudah bertebaran di seluruh desa. Ada yang tergantung di pohon, tertusuk anak panah beracun, terpenggal kepalanya, dan hiiihhh... pokoknya ngeri, nanti malah penulisnya kena sensor karena terlalu sadis mendeskripsikan keadaan mereka. Oh ya, beberapa wanita dan anak-anak yang telah tak bernyawa juga terbaring dalam kondisi tak kalah mengerikan. Mayat beberapa gadis muda malah sampai tak berpakaian sama sekali dan lelehan kental membasahi tubuh, mulut, dan alat kelamin jasad tak bernyawa mereka. Ayah dan ibu Uno pun ditemukan telah meninggal berlumuran darah di pekarangan rumahnya. Jasad ayah Uno digantung di pohon, sedangkan jasad ibunya ditembus anak panah beracun. Jasad wanita setengah baya itu tersangkut di mulut sumur dengan kondisi bagian pinggang ke bawahnya terekspose tanpa kain penutup dan cairan kental menjijikkan melumuri selangkangan, dubur, dan kaki mulusnya. Tampaknya setelah ibunya jadi mayat pun para begundal yang membunuh wanita itu masih berbuat begitu keji terhadapnya. Uno menggendong dan membaringkan wanita itu sambil menutupi mayat wanita cantik yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan selembar kain hitam. Uno bersimpuh menggigit bibir dan mengepalkan tangan geram di samping mayat wanita itu. Aaaaa..... Uno berteriak keras melepaskan kemarahannya. Koak... koak... koak... gagak pemakan bangkai yang sedari tadi bertengger di pohon-pohon langsung terbang ketakutan. Ouran ikut menangis histeris dan memeluk Uno yang kini duduk tertunduk di sebelah jasad ibunya. Hiks... hiks... hiks... mereka mendengar suara tangisan dari dalam sumur... Ada seseorang yang masih hidup... Uno berlari dan menarik tali timba sumur. Adiknya, Mochizuki, yang masih berusia sepuluh tahun duduk gemetar ketakutan di dalam ember kayu yang ia tarik dari dalam sumur. Ia gendong adiknya yang menangis keras di pelukannya dan menyuruh Ouran membawanya ke tempat persembunyian yang aman. Ia berlari ke dekat kuil, di mana para ninja yang masih bertahan hidup sedang berkelahi dengan ninja-ninja penyerang desa yang berjumlah sekitar 30 orang. Satu persatu ninja dari desa Iga tumbang karena ninja-ninja musuh itu ternyata adalah para ninja pilihan.

Sepuluh menit kemudian, sekujur tubuh Uno sudah babak belur. Bruakkk!!! serangan si ninja berkuku pisau menghempaskan tubuh Uno ke dinding sampai dinding itu ambruk. Tubuh Uno muda, yang belum begitu lihai bertempur melawan ninja senior sekaliber ninja berkuku besi, tiba-tiba mati rasa, tak bisa bergerak lagi akibat rasa sakit tak terperi. Kini ujung lancip sebuah jutte (pisau) menusuk dan menoreh lehernya. Uno memejamkan mata menyongsong kematiannya,... Tiba-tiba, bettt... trang!! jutte itu terpental dan terpelanting ke tanah akibat sambitan shuriken berlambang Iga milik seseorang. Seorang kunoichi cantik sudah berdiri di atas gerbang torii kuil desa Tsubagakure. Zapp... zapp... zapp... zapp ratusan jarum beracun menyerang si ninja berkuku besi. trang... trang... trang.... ninja itu menepis jarum-jarum beracun yang menyerangnya. Bruak! tiba-tiba saja si kunoichi sudah ditendang oleh si ninja jahat. Kunoichi itu refleks melompat ke tanah sambil menahan sakit. Heghh... ia memuntahkan darah dari mulutnya. Kunoichi itu menyapu bekas darah akibat luka dalamnya dari balik kain penutup hidungnya. Cring... sebuah shuriken menyerempet pipi mulus si kunoichi dan melepaskan kedoknya. Wajah cantik Ouran pun terlihat. Glekh,... si ninja berkuku besi menelan air liur melihat wajah imut sang kembang desa Iga yang mirip-mirip Ryoko Hirosue. (huehehehe jadi keliatan kalo aku doramalover ^^) Kawai ne... (uuiiimut gellaaa... kalo kata orang sini sich ^^) si ninja berdecak kagum. Sret si kunoichi cantik membabatkan ninja-to (pedang ninjanya) ke arah leher si Kuku Besi. Tapi, secepat kilat si Kuku Besi menahan tangan mungilnya dan merebut ninja-to nya. Buk!! sebuah pukulan telak di tengkuk menyudahi perlawanan Ouran. Ouran tersungkur jatuh ke atas tanah. Ninja-ninja lain yang telah mengalahkan penduduk desa Iga ikut berkerumun di dekat si ninja berkuku besi yang telah mengalahkan seorang kunoichi cantik.

Senpai, cantik juga kunoichi ini... Senpai, apa dia memang sudah benar-benar jadi kunoichi? Buktikan saja Senpai... Iya, kalau dibor masih berdarah berarti belum benar-benar jadi kunoichi... Hahaha... haahhaahha... para ninja terbahak-bahak menertawai Ouran.

Si kuku besi meraba paha mulus Ouran. Kita buktikan saja,... kau tidak keberatan kan cantik? Ouran menangis ketakutan,... Lebih baik ia mati daripada... Sakit sedikit sih... tapi lama-lama kau pasti akan.... desis si kuku besi. Derai tawa para ninja bertambah kencang. Ouran memandang berkeliling. Ninja-ninja Iga yang tadi masih berjuang kini telah terbaring sekarat. Tak boleh ada lagi ninja Iga yang mati,... desa Iga tak boleh dimusnahkan... Ouran pun mengangguk pelan. Hahahaha... gadis penurut... si kuku besi senang sekali waktu tahu Ouran mau melayaninya. Semua anggota pasukanmu pun boleh ikut, biar aku menghilangkan rasa lelah kalian selepas bertugas... tambah Ouran yang pura-pura tegar. Gadis pintar,... kata si Kuku Besi sambil membelai pipi mulus Ouran yang bergidik gemetar karena rasa takut. Gue suka gaya loo...

Semua anggota pasukan ninja bersuit-suit, bertepuk-tepuk tangan, dan tertawa-tawa setuju. Mereka memang butuh hiburan setelah lelah bertempur. Mmmmhh,... si Kuku Besi bernafsu hendak mencumbu Ouran di tempat itu juga. Jangan di sini... Ouran menahan agar mulut si Kuku Besi yang masih berkedok ninja tidak menciumnya... Ia tak mau dilecehkan di tempat ia berada sekarang, sebab kedua mata nanar Uno yang tergeletak menahan sakit masih menatap geram ke arahnya. Pandangan Uno menampakkan ketidaksetujuannya dengan keputusan sahabatnya yang cantik itu. Lalu di mana? si ninja coklat berbisik di telinga Ouran. Di dalam kuil saja,... Kenapa hmm? Aku malu. Ouran menunduk. Ia tak sanggup melihat tatapan membara Uno. Huahahahaha.... dia malu Senpai,... para ninja menertawakannya lagi. Baiklah, kata si Kuku Besi, lagipula ia gadis manis yang penurut. Tak ada salahnya mengikuti kemauannya... Si Kuku Besi pun membopong Ouran ke dalam kuil suci desa ninja Iga Tsubagakure untuk diambil kesuciannya.

Uno yang tak bisa bergerak hanya bisa menangis pedih melihat sahabatnya yang sebenarnya masih virgin akan dijadikan bulan-bulanan nafsu bejat para ninja jahat. Ia kerahkan segenap tenaganya untuk bangkit, namun ia langsung pingsan karena lemas akibat kehilangan terlalu banyak darah.

Para ninja membuka kedoknya. Dari ketiga puluh tujuh ninja di ruangan itu, tak ada satu pun yang tampan. Si Kuku Besi yang memperkosa Midori adalah anak dari ninja yang memimpin penyerbuan desa Iga Tsubagakure ini. Penampilan ayah anak itu tak beda jauh, tapi si ayah ini tak sebrutal dan sesadis anaknya. Semua ninja melepas kostum mereka. Ada yang masih bersempak ninja, ada yang benar-benar polos. Ouran bergidik melihat penis-penis besar itu. Ikat dia! perintah si kuku besi. Dua ninja membelit kaki Ouran dengan masingmasing seutas tali, melemparkan ke antara kayu penyangga genting kuil, menarik Ouran yang tergantung dengan posisi terbalik, dan mengikat kedua tali itu ke tiang kuil. Si kuku besi menyelipkan kedua kakinya ke kayu penyangga genting tepat di depan selangkangan Ouran. Ia kini juga bergantung terbalik seperti kelelawar dengan posisi selangkangan Ouran yang masih berlapis kain menganga lebar di depannya. Zrett,... ninja lain merobek lepas pakaian ninja Ouran. Buah dada berputing pink dengan ukuran sedang milik gadis belia berusia 15 tahun itu menjuntai ke bawah. Dua ninja lapar langsung mengenyoti, memilin-milin, dan menjilatinya rakus. Jleb,.. satu penis masuk ke mulut mungilnya. hegh,... hegh,... Ouran yang masih lugu tak tahu harus melakukan apa. Jilat! perintah si ninja yang menyumpali mulutnya. Ia menjilat sedikit ujungnya. Bodoh,... aku takkan keluar kalau begitu caranya. Jilat sampai ujung satunya, kulumkulum, dan sedot yang kuat! bentaknya. Ouran mencoba sekali lagi dengan agak canggung. Kurang kuat, hisap lagi! Ouran menurut. Nah, begini lebih enak. Teruskan sendiri! kata si ninja sambil tersenyum-senyum menang. Dua ninja lain menggosok-gosokkan tangan Ouran ke penis mereka. Ia minta tangan halus Ouran untuk mengocok benda berkerut yang belum pernah ia sentuh itu.

Si Kuku Besi melepas kuku-kukunya dan membelah selangkangan merah Ouran yang berbulu lebat. Sllrrrppp,... slllrrppp... sllrrpp... ia menjilati pintu sumur Ouran sampai tubuh Ouran geli. Ia masukkan lidahnya ke sumur sempit itu dan menjilati klitoris Ouran. Aaahhhssshhhh aahhhsshhh... sang perawan menggelinjang kegelian. Lubang sumur Ouran sudah sangat basah. Si kuku besi berpegangan pada kayu dan membelitkan kakinya ke panggul Ouran. Kepala penisnya menyundul-

nyundul sumur sempit Ouran. Ia melepas satu tangan dan mempergunakan tangan itu untuk melebarkan sumur sempit Ouran. Jlebh... Aaaaahhhhkkk.... Ouran berteriak karena ada benda asing masuk separo ke sumurnya yang belum pernah dibor... si Kuku Besi menarik keluar lagi sedikit untuk mengambil ancang-ancang dan menghempaskan lambang keperkasaannya bertubi-tubi Jlebh, jlebh, jlebh, jlebh, jlebh, phlokh! Aaaaahhhkkk.... aaaahhhkk..... nghhhkk.... Ouran berteriak tertahan. Sakit,... ia belum pernah mengalami luka di daerah itu sebelumnya. Air matanya menetes. Tanpa memberi kesempatan bagi Ouran untuk beradaptasi, Ssrrrtt,... si Kuku Besi menarik tubuhnya ke atas hingga sebagian Penis nya ikut tertarik juga. Darah perawan Ouran melumuri penis si ninja dan mulut vaginanya. Kemudian, plok.... plok... plok... plok.... si Ninja mulai memompa sumur perawan itu berulang-ulang. Makin lama makin cepat.... klitoris Ouran pun ikut tergesek-gesek. Hsshhhh ahsshhh aahhsshhh... si gadis mulai keenakan. Lama-lama ia ikut memutar-mutar pinggulnya. Crotthhh... croootthhh.... crooothhh... penis-penis ninja mulai lunglai karena nikmatnya service Ouran. Si Kuku Besi di atas sana masih memompanya dengan kecepatan fantastis. Ouran tak sanggup ber-ah eh oh karena mulutnya masih asyik berkaraoke. Tapi dari goyangannya yang makin lama makin hot kelihatan ia makin menjiwai perannya sebagai wanita dewasa. Akhirnya, ccrrrtt... ccrrtt... vagina Ouran mulai digenangi cairan cintanya yang mengucur-ngucur membasahi selangkangan dan perutnya. Chrrrooottthhh! si Kuku Besi ikut keluar. Brugh...Pegangannya terlepas, kini ia bertumpu pada kedua kakinya yang membelit pinggul Ouran. Ia menumpukan tangan ke tanah, menolakkannya, dan bersalto. Turunkan dia! perintahnya.

Semua ninja menghentikan keasyikan mereka. Ouran diturunkan untuk disetubuhi di atas lantai kuil. Seorang ninja berbaring. Vagina Ouran yang kini dilumuri cairan kental kemerahan dibor lagi olehnya. Ouran ditengkurapkan di atasnya, si Kuku besi yang sukses menegakkan lagi penis nya mencoblos-cobloskan kejantanannya ke dubur Ouran. Gyaaaa!!! Ouran berteriak waktu penis si Kuku Besi masuk dengan sukses. Ia dipompa atas bawah, mem-blow job, dan mengocok banyak sekali penis. Vaginanya pun kini dinikmati bergantian oleh para ninja. Ia pun acapkali disodomi oleh mereka. Hingga akhirnya mereka semua lemas dan tertidur karena kehabisan energi. Ouran yang sudah amat letih dan kesakitan meraih sesuatu yang ia pakai sebagai anting-anting. Ia melepaskan mata anting-anting bulatnya yang ternyata adalah bola besi buatan Uno. Uno-kun,... aku... suka... kamu,... desis Ouran lirih. Ia menangis pedih karena tahu

bahwa ia takkan pernah sempat lagi mengungkapkan perasaannya pada Uno. Apalagi ia kini sudah sangat kotor dan menjijikkan karena 37 pria sudah menggumulinya sampai kepayahan dalam semalam. Lendir-lendir bening menjijikkan menyerupai larutan metil selulosa sudah melumuri seluruh tubuh mulusnya yang berkilat-kilat ditimpa cahaya remang-remang lilin-lilin putih di dalam kuil. Hari ini ia tak lagi seputih dan sesuci lilin-lilin yang meneranginya, ia tak lagi pantas jadi pengantin Uno-kun. Hanya kematian yang bisa melepaskan jiwa sucinya dari noda kotor di raganya. Biarlah ia tunggu Uno di surga... Duarr!!! bom kecil itu meluluh lantakkan kuil suci desa Iga Tsubagakure yang telah dinodai ninja-ninja bejat. Seluruh kuil dan isinya hancur berkeping-keping. Sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk shuriken ninja Iga terpelanting dari dalam kuil yang puing-puingnya terbakar hebat. Liontin itu kini tergeletak di tanah desa Iga yang subur.

************************** Arus air sungai Shinano membawa si bayi kecil ke Nagano. Si kecil membuka matanya dan menangis karena haus. Seorang pria memungut keranjangnya dari sungai dan menatap bayi cantik itu lekat-lekat. Kecantikan wajah si kecil membawanya bernostalgia pada kenangan pedih yang pernah dialaminya 5 tahun yang lalu. Peristiwa pembantaian massal di desa Iga Tsubagakure yang menewaskan sahabatnya. Kini hanya tinggal beberapa orang ninja Iga yang hidup dan mengabdi pada Tuan Masayuki Sanada. Penyerangan Iga tempo hari ternyata adalah pemusnahan massal yang direncanakan Tokugawa karena ia tidak ingin ada ninja selain ninja-ninja pengikut Hanzo Hattori, ajudan setianya, yang beroperasi di luar kendalinya dan mengabdi pada seterunya. Hattori adalah seorang ninja Iga, tapi hatinya sama sekali tak hancur melihat kehancuran desa dan keluarganya. Kesetiaannya pada Ieyasu Tokugawa memang telah membutakannya. Uno mengalungkan liontin berbentuk miniatur shuriken Iga di leher mungil si bayi. Pria yang kini telah berjambang dan berkumis itu berjalan membawa keranjang berisi bayi yang ditemukannya ke mansion majikannya, Masayuki Sanada.

************************* Seorang lelaki bertubuh gemulai yang mengenakan topeng kayu hinoki (pinus Jepang) berlukiskan wajah siluman mengerikan mencekik leher seseorang yang memakai topeng berwajah wanita. Gerakan pencekikan itu tidaklah kasar seperti layaknya perkelahian biasa. Drama pembunuhan itu ditarikan dengan sangat halus, elegan, dan indah. Si topeng wanita pura-pura mati dan si hantu berpose angkuh menandai berakhirnya pertunjukan. Begitulah,... akhirnya roh jahat yang terlepas dari tubuh sekarat Putri Rokujo menghabisi nyawa Tuan Putri Aoi yang menjadi saingan cintanya,... ujar si pemandu

cerita. Semua hadirin bertepuk-tangan riuh. Masayuki Sanada berdiri dan melakukan kakegoe (penyebutan nama pemeran) sebagai tanda salutnya atas kepiawaian sang seniman topeng, Seikai... Miyoshi Seikai!! ujarnya bangga. Sang seniman berbakat melepas topeng siluman Putri Rokujonya dan tampaklah wajah laki-laki muda yang cantik. Wajahnya didandani mirip mirip personel Larc en ciel, penyanyi lagu Jy e no Shoutai, yang sedang cos-play dengan make up gothic. Ia membungkuk dengan sangat elegan pada Tuan Masayuki Sanada... bak gerakan seorang geisha. Ia tidak seperti anggota grup band laruku yang asli cowok,... pria cantik itu memang 100% bencong tulen. Masayuki yang didampingi para relasi, keluarga, dan geisha kesayangannya, Chihiro, sangat menikmati pertunjukan drama tari Noh berjudul Aoi no Ue (Putri Aoi) yang disadur dari petikan kisah Genji Monogatari malam itu. Setelah para penonton bubar dan Tuan Masayuki tinggal duduk berdua didampingi geishanya, Uno Rokuro memberi hormat dan menyodorkan sebuah bungkusan berisi bayi perempuan mungil kepada Tuannya. Mohon Tuan berkenan mengangkat anak malang ini sebagai pelayan, ia saya temukan terhanyut di sungai. Uno memohon. Bayi ini cantik, Tuan... Kalau ia punya bakat seni akan kudidik jadi seorang shikomi (calon geisha). Ujar Chihiro sambil menggendong bayi itu. Tuan, saya juga akan melatihnya jadi seorang kunoichi agar ia dapat mengabdi pada Tuan. Uno Rokuro meyakinkan Tuan Besarnya. Sang samurai mengangguk setuju. Siapa nama bayi ini? Chihiro tersenyum-senyum sambil bercanda dengan si mungil. Kosuke... Anayama Kosuke. jawab Uno Rokuro.

************************** Si kecil Anayama, An-chan panggilannya, dilatih semenjak dini oleh kedua gurunya. Chihiro-dono mengajarinya cara menari, bermain musik, tatakrama, dan tata cara minum teh. Ia diajari untuk berperilaku layaknya seorang wanita ningrat dan bagaimana menaklukkan laki-laki dengan satu lirikan mata. (hue hue hue... Memoirs of a Geisha banggedz!) Sangat kontras dengan pelajaran kewanitaan yang diberikan Chihiro, An-chan kecil juga dididik guru-gurunya untuk mempelajari ninjutsu (ilmu ninja). Ia belajar berbagai cabang ilmu ninja seperti teknik menyelinap untuk mencuri (shinobi iri), teknik ramuan (yagen), teknik perakitan bahan peledak (kayaku-jutsu), strategi (boryaku), penyamaran (inton-jutsu), seni memainkan pisau (tanto-jutsu), dan

teknik melempar senjata (shuriken-jutsu). Kadang tubuh mungilnya sampai cedera, luka parah, patah tulang, dan lebam-lebam biru kehitaman sebab Rokuro-sensei (Uno Rokuro), Rokuro-senpai (Mochizuki Rokuro), Miyoshi-sensei (Isa Miyoshi), dan Sarutobi-sensei (Sasuke Sarutobi) tidak membedakannya dengan para murid didikannya yang lain, Saizo Kirigakure, Jinpachi Nezu, Kakei Jzo, dan Yuri Kamanosuke yang semuanya laki-laki. Kalau sudah begitu, Chihiro-dono lah yang ribut karena takut lukanya akan meninggalkan bekas sampai dewasa dan membuat tubuhnya tak lagi mulus. Di waktu luang kadang ia belajar menenun dan menari Noh pada Miyoshi-dono (Seikai Miyoshi), sang ninja seniman yang kemayu. Miyoshi Seikai memang sangat terampil memainkan jarum dan benang, di area pertempuran sekali pun.

********************** Slepp,... sebuah anak panah menembak tepat di tengah-tengah sasaran. Semua laki-laki muda bertepuk tangan mengagumi kepiawaian lelaki berkimono dengan gambar segiempat berisi enam buah koin berjajar seperti bulatan kartu domino lambang klan Sanada. Lelaki tampan dengan wajah aristokrat, berkulit putih, dan berhidung bangir itu adalah putra bungsu Tuan Masayuki, Yukimura Sanada. Ia sedang berlatih memanah bersama Tuan Masayuki, Nobuyuki, kakak Yukimura, dan para ninja pengawal keluarga Sanada. Sanada Jyushi sebutan bagi ninja-ninja itu. Dari sepuluh orang Sanada Jyushi, ada dua orang yang menghilang dari arena panahan. Di mana kira-kira mereka? Ah, ternyata salah satu anggota yang menghilang, Yuri Kamanosuke, berlari-lari sambil membawa tatami untuk digelar di luar. Bau yang menggugah selera dari dapur langsung membuat pelatihan memanah itu bubar. Kini, semua orang duduk berkeliling di tatami yang digelar di pekarangan mansion luas keluarga Sanada untuk menanti makan siang mereka yang lezat. Yuri masuk lagi untuk mengambil beberapa peralatan upacara minum teh (chadogu). Ia mondar-mandir dengan membawa nampan berisi hidangan lengkap khusus untuk keluarga Sanada. An-chaaaann, tehnya... panggil Yuri Kamanosuke, si koki handal. Siaaap! kata An-chan yang penampilannya beda dari biasanya. Hari ini ia tidak berkimono putih, berhakama, dan mengikat rambut ekor kuda. Hari ini rambutnya digelung berhiaskan kanzashi (hiasan rambut) sederhana, memakai yukata (kimono musim panas) dan sepasang sandal tatami. Ia duduk di atas karpet tatami, mengambil bubuk teh pekat (kaicha) dari temae (tempat teh) dengan sebuah sendok bambu yang disebut chasaku ke sebuah mangkuk, menuangkan air, dan mengaduknya dengan charen. Aku pikir dia laki-laki, Tuan Masayuki memecah kekakuan. Iya, ayah. Bisa juga dia melakukan nodate (upacara minum teh di luar ruangan), ujar Nobuyuki menimpali perkataan ayahnya.

Hei, tapi dia terlihat cantik dengan penampilannya hari ini, ujar Yukimura.

Deg!! Jantung An-chan berdegup kencang mendengar pujian Tuan Muda pujaannya. Karena terlalu grogi, ia tidak sengaja mengeraskan adukan tehnya hingga tumpah sedikit ke pangkuan Saizo yang duduk di dekatnya. Ceroboh sekali `sih! bentaknya. Maaf, Senpai. Kata An-chan. Huh... dasar wanita-pria. Saizo mencibir An-chan. Hiiih,... gigi bertumpuk cerewet! An-chan balas mengejek Saizo yang giginya memang gingsul. Gimandang sih bo`... bisa alusan dikit ga! dengan gaya kemayu Miyoshi Seikai berkomentar. Iya, iya, maaf Miyoshi-dono. An-chan meminta maaf pada si banci kemayu yang agak risih melihat upacara yang jadi tidak khidmat gara-gara kelakuannya. Semua orang menertawai An-chan yang berubah jadi sangat kikuk waktu menuangkan teh. Yuri, apa ini? tanya Tuan Masayuki Sanada. Sushi dari ikan maguro (tuna), kerang, udang, tiram, unagi (belut), dan cumi-cumi yang saya ramu dengan saus buatan saya sendiri Tuan, jawabnya. Oishi! Masayuki memuji. Doumo arigatou, Masayuki Sanada-sama. Ia membungkuk karena tersanjung. Kimo sui (sup belut)-nya juga enak, hmm... Yukimura memuji. Yuri membungkuk lagi. Ah, kau juga membuat unagi no kabayaki (belut panggang)... pas sekali dimakan di musim panas. Ujar Nobuyuki senang. Ya,... hanya saja saya tidak mengukusnya lagi setelah dipanggang seperti di Jepang belahan timur, Tuan. Silakan menikmati. Ujar Yuri. Yang seperti ini pasti An-chan tak bisa membuatnya,... kata Saizo meledek. An-chan menyodok perut Saizo dengan sikunya sampai teh di mulut Saizo muncrat karena tersedak. Semua peserta jamuan terbahak-bahak, kecuali Miyoshi Seikai yang tetap duduk anggun dan jaim.

Jaga sikap! bentak Miyoshi Seikai pada dua cecunguk Iga, begitu ia menyebut Anchan dan Saizo, yang tak pernah bisa bertata krama itu.. An-chan menunduk takut. Sudah, tidak apa-apa, jangan terlalu formil. Ini kan cuma jamuan makan keluarga. Kata Tuan Masayuki menengahi. Weekk,... An-chan meledek Saizo. Saizo dengan cuek menikmati unagi no kabayaki nya tanpa menggubris si usil An. Jinpachi menyenggol bahu Saizo. Kau perhatikan tidak Saizo-senpai, An-chan dadanya sudah tidak serata dulu... Kalau begitu ia sudah bisa diperistri ya?... kata Jinpachi mupeng. Plak! Mochizuki Rokuro yang tak sengaja mendengar celotehan Jinpachi memukulkan kipasnya ke kepala Jinpachi. Addduuuh, kenapa sih Senpai? tanyanya sambil mengusap kepala benjolnya. Sudahlah,... dasar playboy! Lagian buat apa sih menikahi makhluk bodoh seperti wanita... komentar Miyoshi Isa yang ternyata juga mendengar ucapan Jinpachi. Hohohoho... benar. Wanita itu tak berguna. Cuma dua benjolan besar yang tak kumiliki itu saja yang bisa mereka banggakan. Lebih baik nikahi saja aku Jinpachi... Biarpun tanpa dua buntalan sampah itu, aku bisa lebih memuaskanmu. Iya kan saudaraku? Seikai yang kemayu mengomentari dengan iri. Jinpachi langsung mulas-mulas mendengarnya. Sarutobi Sasuke mengangguk-angguk sendiri mendengar komentar kekasih gay-nya. Yang lain cuma il-fil memandang Sarutobi Sasuke, si ninja Koga dengan orientasi seksual ganda yang dibesarkan oleh para monyet hutan Manjidani itu. Hiihhh,... dasar ninja-ninja Koga homo,... bisik Saizo pada Jinpachi. Jinpachi mengangguk. Tuh Jinpachi mau menikahimu, ujar Saizo pada An-chan. Jinpachi langsung salah tingkah. Eeee... bukan kok... Ah males aku kawin sama playboy, tolak An sadis, ...tapi aku mau kok kalau Tuan Yukimura yang menikahiku, seloroh An-chan lagi dengan raut wajah berbinar-binar. Semua orang malah menertawakan perkataan An, kecuali Saizo yang kini menunduk

dan mengepalkan tangan geram, lalu ngebut menghabiskan unagi no kabayakinya untuk melampiaskan kecemburuannya.

************************ Ippon! teriak Mochizuki Rokuro ketika sebuah pukulan Saizo telah mendarat di jidat Jinpachi. Jinpachi dan Yukimura saling memberi hormat dan kembali ke tempat duduk masingmasing. Kosuke dan Kirigakure, maju! perintah Uno Rokuro, sang pelatih kendo. Keduanya saling membungkuk dan menghunuskan bokken (pedang kayu) masingmasing. Suasana hening untuk beberapa lama. Tak ada gerakan sama sekali yang dihasilkan Saizo Kirigakure. An-chan sudah habis kesabarannya, ia langsung berlari menyerang Saizo. Trakk! pedang kayu mereka beradu. Pedang kayu An-chan ditepis dengan mudah dan An-chan agak terdorong ke belakang. Traakk...! pukulan berikutnya terarah ke kepala An-chan. Secepat kilat An-chan menangkis serangan itu. Bett.. pedang Saizo telah mengubah arah serangannya. Kali ini hampir mengenai leher An-chan. Beruntung, gerak refleks An-chan bagus dan bokken itu hanya menarik lepas ikatan rambutnya. An-chan yang cantik kini berdiri sejauh tujuh langkah dari Saizo. Rambut lurus berkilaunya kini terurai lepas. Mata Saizo terpaku melihat keelokan parasnya... Mata kecoklatan indah An memukau serta menenggelamkan dirinya seketika. Senpai, awas!!! teriak Jinpachi. Saizo langsung menguasai diri dan menangkis lagi bokken An-chan. Bletak! tanpa ampun ia membabat bahu An-chan dengan bokken nya. An chan tertunduk dan tak bergerak untuk beberapa saat. Kau tidak apa-apa? tanya Saizo khawatir. Lihat, apa yang Senpai perbuat.... Aduuuhhh... rengek An-chan. Maaf... sini biar aku obati, katanya. Senpai, ini obatnya. Jinpachi menyodorkan kotak obat pada Saizo. Beberapa orang yang lain ikut mengerumuni mereka berdua. Nih,.. An-chan menurunkan kimono putihnya.

Punggung mulus berlukis sepasang naga kembar miliknya langsung terpampang di hadapan Saizo. Glekh! Saizo terbelalak sambil menelan ludahnya sendiri.

Cepat oleskan Senpai! perintah An-chan. Si gingsul hitam manis itu dengan gemetar membalurkan ramuan obat di tangannya ke tubuh mulus kuning langsat An-chan. Matanya tidak memperhatikan luka memar si gadis mungil, ia justru memperhatikan betapa mulus punggung bertatonya, indahnya leher jenjang berpeluh miliknya, dan betapa halusnya kulit kuning langsat milik si cantik kembaran Yukie Nakama itu. (lagi-lagi terinspirasi J-dorama artist wkkk). Anchan yang merasa sudah selesai diobati langsung menarik dan membetulkan lagi ikatan kimono putihnya. Senpai, terima kasih. Ujarnya. Kalau aku tak merengek kau tidak akan mengasihaniku kan? katanya jenaka. Saizo langsung menjitak An-chan. Minta dikasihani?... Dasar manja! ejeknya. Weeekk,... An-chan bangkit dan menjulurkan lidahnya. Ia langsung berlindung di belakang punggung Yukimura Sanada untuk menghindari jitakan Saizo berikutnya. Sudah, sekarang Saizo Kirigakure dan Tuan Yukimura silakan bersiap.. instruksi Uno Rokuro. An-chan memijiti bahu Yukimura dan menyemangatinya, Tuan Muda, kalahkan dia! ujarnya sambil tersenyum. Yukimura membalas senyuman manis An-chan sambil mengacak-acak rambut berkilau An-chan dengan gemas. Seketika dada Saizo bergolak hebat terbakar api cemburu melihat kemesraan mereka berdua. Senpai, selamat berjuang. Jinpachi menepuk pundak Saizo untuk memberi semangat. Keduanya berdiri berhadapan dan memberi hormat. Mata elang Saizo tak lepas menatap Yukimura. Ia menggenggam kuat bokkennya dan langsung meluncurkan serangan pertamanya sambil berteriak lantang, Kuhabisi kau, Yukimuraaa!!!

****************** Sasuke Sarutobi sedang membaca gulungan perkamen kuno berisi jurus ninja Koga di kamarnya. Angin dingin berhembus masuk ke kamarnya. Kelima inderanya langsung waspada, suara angin yang bergerak tak sewajar biasanya membuat instingnya bekerja, pasti ada seorang penyusup yang telah memasuki kamarnya. Tampakkan dirimu! perintahnya. Seketika ratusan jarum beracun menyerangnya. Ia menangkis jarum-jarum itu dengan ninja-to (pedang ninja) nya. Jarum itu berjatuhan di atas tanah. Blush! di balik kepulan asap sesuatu yang mirip tubuh manusia bergerak dan

menyerangnya. Trang! lengan sebuah boneka kayu menyerangnya. Untunglah Sasuke selalu bergerak selincah dan secepat seekor monyet. Ia menangkis dan melontarkan lengan si boneka kayu. Benang-benang tipis berkilau nan tajam mengikat sekujur tubuh si boneka. Pastilah ada seorang puppet master yang mengendalikan penyerangan ini. Praanngg!!ia menghancurkan boneka kayu yang dikendalikan dari jarak jauh itu dalam sekali tebasan. Keluar kau Seikai! Berhenti pamerkan jurusmu yang belum begitu matang! bentaknya. Sesosok siluet tubuh gemulai membayang di dinding. Hoohoohoho.. kau tahu aku lah puppet masternya ya?... Sebaiknya lain kali kupakai tubuh manusia sungguhan dan kucari benang yang lebih halus... Ujar si banci gothic yang perlahan-lahan mulai menampakkan diri. Kau makin mengerikan, seringai Sasuke. Kau pun masih sehebat biasanya sayang,...selincah monyet, sekuat macan... kini, jadilah seekor kuda jantan untukku... Seikai langsung bergelayut manja di pelukan Sasuke dan menanggalkan berlapis-lapis kimono sutra mahalnya. Sasuke langsung membelitkan lidahnya ke lidah pasangan sesama jenisnya dan tangan kekarnya mengelus benda bulat panjang yang sama seperti miliknya sendiri yang tersembunyi di antara kedua paha Seikai. Sinar bulan keperakan membelah gelapnya malam penuh dosa.

Oke...cut...cut...cut!! sampe disini dulu, soalnya kalau adegan ini dilanjutkan mupengers bisa muntah atau shock (^_^;)

To be continued....

The Blue Serenade of a Kunoichi 5

An-Chan Di sudut sebuah ocha-ya di Fujiwara, Saizo Kirigakure menenggak begitu banyak sake. Berpuluh-puluh botol kosong bekas sake tergeletak di samping Saizo yang mabuk berat. Andai ilmu hipnotis miliknya bisa dipakainya untuk mengobati luka hatinya sendiri, mungkin ia tak perlu menenggak berbotol-botol sake. Malam terkutuk ini adalah saksi bisu betapa dalamnya penderitaannya,... ya, pada malam terkutuk ini gadis yang paling dicintainya, gadis yang bisa membangkitkannya kembali dari kematian, seorang gadis yang demi kebahagiaannya Saizo rela memberikan nyawanya sedang ditiduri oleh saingan cintanya. Dan ialah yang telah dengan bodohnya memberikan keperawanan cinta sejatinya itu pada pria lain. Sikap sok ksatria-nya lah yang mendorongnya untuk melakukan tindakan tolol itu. Saizo tak berhenti mengutuki dirinya yang teramat bodoh. Tak peduli seberapa banyak sake yang telah melewati kerongkongannya, pikirannya tetap tak bisa melupakan An-chan dan pertanyaan sadis sang gadis yang menohok hatinya, Senpai, apakah aku bisa menjadi milik Sanada-sama? Saizo hanya bisa tersenyum pahit untuk kesekian kalinya sambil bergumam, Ya,.. hikss... kau hiks malam ini telah jadi hiks hiks milik Sanada Busuk itu!Hiks... hiks. (maksudnya ini nangis sambil cegukan hiks hiksnya :-P) Malam ini, An chan secara de facto telah menjadi wanita milik Sanada Yukimura...

*********** Takeda Katsuyori, putra dan penerus Takeda Shingen kalah dalam Pertempuran Nagashino. Klan Sanada khawatir akan keruntuhan kekuasaan mereka. Ayah Masayuki Sanada, Nobutsuna Sanada, adalah abdi setia Takeda Shingen. Ia adalah salah satu dari 24 jendral Takeda yang terbunuh pada waktu mengepung benteng

milik Oda dan Tokugawa di Nagashino. Masayuki Sanada, sang pemimpin klan, memutuskan untuk bertekuk lutut di bawah kekuasaan super power kolaborasi klan Oda dan Tokugawa. Sebagai tanda penyerahan diri pada kekuasaan mereka, Masayuki mengirimkan Akamaru, kuda kesayangannya, kepada Oda Nobunaga. Proses diplomasi ini harus berjalan lancar. Jika sampai diplomasi ini gagal, keluarga Sanada terancam hancur lebur. Baiklah, aku akan mengirim Akamaru kepada Oda Nobunaga. Sanada Jyushi, aku butuh beberapa orang dari kalian sebagai utusan. Siapa yang akan berangkat untuk misi ini?tanya Masayuki. Sebaiknya kirim saja orang yang terlihat paling lemah di antara kami Tuan, agar Oda percaya bahwa kita benar-benar berniat untuk berdamai dengan aliansi OdaTokugawa. ujar Uno Rokuro, sang ahli strategi dan bahan peledak. Siapa sebaiknya? tanya Masayuki. Maaf kalau hamba lancang. Boleh hamba memberi usul? tanya Miyoshi-dono. Seikai-chan, apa usulmu? Pilihannya hanya saya atau An-chan, sebab kami berdua terlihat seperti seniman yang lemah gemulai daripada seorang petarung. Ujarnya. Tidak Tuanku. Jangan kirimkan Seikai. Ia terlalu temperamental, hasrat membunuhnya pun tak terkendali. Ia malah akan mengacaukan diplomasi ini dengan pembunuhan yang tidak perlu. Ujar kembarannya. Apa maksudmu, ani-kun? Aku bisa mengontrol emosiku. Seikai membela diri dengan mimik kemayu. Bagaimana dengan pembunuhan penyusup tempo hari? Bukankah kau telah membunuh seseorang yang seharusnya bisa diinterogasi? Isa mengcounter perkataan si Banci. Banci kemayu itu pun langsung terdiam jengkel tak bisa lagi beralasan. An-chan, apa kau sanggup melaksanakan tugas ini? tanya Masayuki Sanada. Sungguh merupakan sebuah kehormatan bagi saya Tuan. An-chan menerima tugas beratnya. Baik, besok pagi Kosuke akan berangkat untuk mengantarkan Akamaru pada Oda Nobunaga. kata Masayuki sekali lagi. Maaf Tuanku, ijinkan saya pergi bersama Kosuke. Ia masih sangat hijau untuk melaksanakan tugas sepenting ini. Saya akan mendampingi dan mengawasinya dalam tugas ini. Saya mohon. Saizo membungkuk sangat dalam. Dahinya sampai menempel di tatami. Saya akan menyamar dan menyusup, kalau perlu saya akan bunuh diri jika tertangkap. Saizo berusaha meyakinkan tuannya.

Ya, kau boleh mengawasi Kosuke, Saizo. Tapi ada satu syarat, kembalilah kalian berdua dengan selamat. Ujar Masayuki bijak. Terimakasih banyak Tuanku. Saizo membungkuk dalam. Tuan Masayuki memang sangat bijaksana, itulah kenapa ia rela menjadi pengawalnya.

*** Pagi-pagi sekali Saizo dan An-chan berangkat dari Nagano ke Owari. Hari mulai gelap ketika mereka berada di kawasan Mino. Mereka berhenti di tepi sebuah danau untuk beristirahat. Akamaru pasti butuh makan dan istirahat. Jika kuda ini sakit, proses diplomasi ini bisa kacau. Langit cerah di awal bulan ke tujuh. Meskipun bulan menghilang, tapi bintang-bintang bersinar terang... Perayaan Tanabata harusnya jatuh pada hari ini. Hari ini semua orang di kastil Numata pastilah sedang menggantungkan si boneka penangkal hujan,teru teru bozu, menyematkan kertas berisi permintaan ke batang bambu, dan melabuhkan kapal-kapal dari daun bambu... Indah sekali... Tak terasa An chan pun bersenandung, Sasano wa sara sara Nokiba ni yureru Ohoshisama kira kira Kin gin sunago Goshiki no tanzaku Watashi ga kaita Ohoshisama kira kira Sora kara miteru (Perahu dari lipatan bambu berlayar cepat Ujungnya bergoyang-goyang Bintang berkelap-kelip Bertaburan bagai emas perak Warna-warni harapan dan doa Yang aku tulis Bintang berkelap-kelip Dilihat dari langit)

Wah, danaunya bersih sekali... aku jadi ingin sekali naik sebuah sampan dan mengelilinginya. kata An-chan riang. Benar, pemandangannya juga indah. Saizo setuju. Senpai, pernah membayangkan seperti ini tidak? Mengelilingi danau berdua dengan orang yang kita cintai... Menatap wajahnya lekat-lekat, menggenggam tangannya erat, dan menciumnya dengan mesra. Romantis kan Senpai?

Khayalan aneh, tidak bermutu. Celoteh Saizo. Ah, Senpai memang tidak romantis... Pantas saja sampai setua ini belum menikah juga. Cibir An-chan. Enak saja! Kesendirianku ini pilihan hidupku, tahu?! Bukannya karena aku nggak laku. Saizo sewot. Hehehehehe... Masa sih? Eh Senpai, aku lapar sekali. Kita tangkap beberapa ekor ikan untuk santap malam yuk. Ajak An-chan. Saizo acuh. Ia pura-pura cemberut. Masih marah ya? An-chan menghampiri Saizo. Ia duduk di hadapan pria itu dan menarik sudut bibir Saizo untuk membentuk paksa sebuah senyuman di raut wajah cemberut Saizo. Kau selalu berbuat begitu kan kalau aku ngambek waktu kecil? kedua mata beningnya menatap Saizo lugu. Saizo tersenyum dan mengangguk.

Huh... lapar... keluh An-chan. Raut muka Saizo langsung berubah jahil melihat mimik kelaparan An-chan. Bagaimana kalau kita bertanding? Yang kalah yang harus memasak ikannya? tantang Saizo. OK, siapa takut. Tapi ada syaratnya, tidak pakai jurus ninja! Hanya pakai bambu, benang, dan kail saja. tambah An-chan. Setuju. Kata Saizo. Mereka memancing menggunakan bambu, benang, dan jarum yang dibengkokkan menjadi kail. Setelah berjam-jam, tak ada seekor ikan pun yang mau menyantap umpan mereka. Saizo sudah tak bisa menahan lapar lebih lama lagi. Ia tarik bilah bambu yang ia pakai sebagai pancing. Tepat ketika ekor matanya menangkap bayangan seekor ikan yang berenang, ia lemparkan bambu tumpul itu sampai menembus tubuh si ikan. Ia tarik benangnya hingga bambu penusuk ikan itu mendekatinya, dan diangkatnya dengan bangga. Aku menang.soraknya. Apa?! Enak saja, kau curang Senpai. Kau pergunakan jurus ninjutsu.An protes. Mana bisa dibilang curang? Aku kan hanya memakai bambu, benang, dan kail seperti persyaratanmu tadi. Sangkal Saizo sambil mengerling jahil. Tidak bisa! Orang yang menang curang itu tetap seorang pecundang, orang yang

kalah! Kau harus memasaknya Senpai. Tidak mau. Baiklah, Senpai. An-chan tersenyum sambil mendekati Saizo. Kau menang, tapi... Rasakan ini! An-chan mendorong tubuh Saizo hingga terjatuh ke danau. Secepat kilat tangan Saizo menarik pergelangan tangan An-chan. An-chan ikut terjatuh bersamanya. Bibir An-chan mendarat tepat di bibir Saizo ketika tubuh mereka jatuh ke dalam air secara bersamaan. Setelah keluar dari air, An-chan menunduk malu dan berkata, maafkan aku Senpai. Aku benar-benar tidak sengaja. Saizo berpura-pura tak menggubris permintaan maaf An-chan. Ia ambil ikan yang tadi ditangkapnya, dan meninggalkan An-chan untuk membuat perapian tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

*** Malam itu An-chan tidur pulas di hadapan Saizo. Gadis impiannya itu memang sangat cantik, bahkan bintang-bintang gemerlapan di langit pun tak mampu menyamai kecemerlangan wajahnya. Bibir mungil merah jambu itulah yang tak sengaja ia kecup tadi sore... Andai saja ia berani meneruskan ciuman tak sengaja itu, pastilah malam ini ia tak akan menggigil kedinginan digigiti nyamuk seperti sekarang. Pastilah malam ini sudah jadi malam yang tak terlupakan,... Di samping bara api perapian yang menyalanyala, ia cumbui gadis impiannya dengan panasnya. Amboy, asyiknya kalau ia berhasil melampiaskan hasratnya yang belum sempat tersalurkan pada gadis cantik yang sedang terlelap di hadapannya. Kalau saja ia bisa nikmati lagi puting keras dan kenyal yang bertengger angkuh di atas bukit padat putih mulusnya. Gua kemerahan nan sempit yang baru ia jelajahi bagian luarnya saja... Ahhh... An-chan, membayangkannya saja bisa membuat si buyung milik Saizo mengacung. Sesuatu jatuh di pangkuan An-chan, membuyarkan khayalan erotis sang ninja mentalis (Peserta The Master kaliii :-P). An chan membuka matanya dan mengambil benda kecil itu. Ia amati sekilas dengan setengah mengantuk. Oh, laba-laba. Ia letakkan lagi benda itu di pangkuannya dan melanjutkan tidurnya. An-chan, kau sudah tak takut laba-laba ya? tanya Saizo heran. Oahhm... jangan sebut-sebut binatang menjijikkan itu, Senpai. Aku mau tidur. Tapi yang di pangkuanmu itu kan laba-laba. Tidak lucu Senpai haaahhhmm....

Coba buka matamu kalau kau tidak percaya. Tantang Saizo. Ah senpai, ini kan cuma laba-laba... eh,... laba-laba? An-chan mulai sadar. Ia bangun dan terbelalak waktu melihat seekor laba-laba besar merambat di pangkuannya. Gyaaaaa!!! Tolooong!!! Senpai jahat, kenapa tidak membuangnya?! ia lompatlompat kalang kabut karena jijik pada binatang itu. Saizo terbahak-bahak sampai sakit perut. An-chan pindah tempat ke sebelah Saizo untuk melanjutkan tidurnya. Kenapa pindah ke sini? tanya Saizo ketus. Supaya tidak diganggu laba-laba. Bukannya sudah tidak takut? ejek Saizo. Cerewet! Aku mau tidur. Potong An-chan. Baiklah, aku pindah ke tempatmu tadi ya? tanya Saizo. Jangan! Senpai di sini saja, berjaga-jaga kalau ada laba-laba lagi.cegah An-chan sambil menarik bahu Saizo dan merapatkan wajah cantiknya yang gemetaran ke balik punggung Saizo. Sejurus kemudian, An chan telah tertidur lelap. Kepalanya jatuh ke pundak Saizo. Saizo memperhatikan lagi wajah cantiknya, membelai rambut panjangnya, memeluknya erat, lalu ikut memejamkan mata.

*** Saizo dan An-chan akhirnya sampai ke basis pertahanan tentara Oda di Owari. Setelah melalui gerbang benteng dan melewati pemeriksaan yang ketat, kedua utusan Sanada itu dipersilahkan masuk. Kastil megah keluarga Oda menyambut mereka di pusat kota. Oda Nobunaga adalah seorang pria kokoh yang kekuatan militernya kondang ke seluruh penjuru Jepang. Di usianya yang sudah berkepala empat, sisa-sisa kegagahannya di masa muda masih jelas terlihat. Kumis hitamnya lebat menutup bagian atas mulutnya. Urat menyembul di bagian tertentu wajah, leher, dan tangannya. Tubuhnya cukup berotot untuk ukuran pria seusianya. Saizo dan An-chan diantar seorang pesuruh untuk menghadap Oda Nobunaga, sang penguasa hampir seluruh daratan Jepang. Keduanya membungkuk sangat rendah, menyadari posisi tak berarti mereka di hadapan sang dewa perang. Oda berdehem, apa yang membuat Sanada menyuruh utusan rendahan macam kalian kemari? tanyanya dengan suara yang melecehkan.

Maafkan kelancangan kami, Tuanku. Tuan Sanada menyuruh Kami mengirimkan Akamaru, kuda kesayangannya sebagai hadiah untuk Tuanku. Tuan Sanada tahu Anda sangat gemar berburu.jawab Saizo. Kuda? Oda memastikan. Benar, Tuanku. Kuda ini adalah peranakan kuda negeri seberang. Tubuhnya kuat dan kokoh. Kecepatan dan daya tahan tubuhnya jauh lebih baik dari kuda lokal. Akamaru adalah kuda terbaik Tuan Besar yang selalu mendampingi beliau dalam setiap medan pertempuran. Sebagai itikad baik, Tuan Besar Sanada mempersembahkan kuda kesayangannya ini kepada Tuanku. Saizo menerangkan panjang lebar. Hahahaha... Sanada akhirnya mengakui kalau dia hanya pecundang. Dia sama saja seperti kudanya, hanya pantas jadi tungganganku. Oda menyeringai menyebalkan. Kedua anggota Sanada Jyushi itu telinganya memerah mendengar majikan mereka direndahkan.

Baguslah. Memang tak ada seorang pun di dunia yang bisa melawan Oda Nobunaga. lanjut Oda sombong. Darah An-chan dan Saizo semakin menggelegak mendengar Tuan Besar mereka makin dilecehkan. Tapi, diplomasi ini tak boleh gagal karena trik pemancingan emosi yang dilakukan sang penguasa Owari. Ngomong-ngomong, kalian berdua sangat tak beruntung. Mengapa masih mau mengabdi pada keluarga pecundang seperti keluarga Sanada?... Kasihan. Oda memang sengaja terus memancing amarah mereka berdua. Mereka berdua tetap diam. Hahahaha... Kalau diberi kesempatan untuk memperbaiki nasib kalian, apakah kalian bersedia? Maksud Tuanku? tanya Saizo sopan. Aku akan membayar kalian dengan upah tinggi. Keluarga kalian pun pasti bangga pada kalian kalau kalian mau menjalankan tugas ringan dariku. Tugas? Saizo mengklarifikasi. Aku ingin kalian mengawasi keluarga Sanada untukku. Yah, paling tidak berikanlah sebuah peringatan keras pada keluarga itu kalau mereka coba-coba berkhianat padaku.desis pria separuh baya itu. Kurang ajar... Bedebah tua ini ingin An-chan dan aku mengkhianati Tuan Besar... batin Saizo. Meskipun dadanya terbakar, raut muka Saizo tetap tenang.

Tak perlu menjawab sekarang. Masih ada banyak waktu. Sekarang pergilah beristirahat. Aku akan berlatih berburu di hutan. Cari saja aku di sana kalau kalian berubah pikiran. Ia pergi berlalu meninggalkan kedua utusan Sanada itu.

*** An chan melompat dari sela-sela pepohonan ke hadapan Oda Nobunaga yang sedang mengendarai Akamaru. Akamaru terlonjak kaget, namun Oda dengan mudah berhasil menenangkannya. Sang gadis cantik berlutut memberi hormat. Tuanku, mohon percayakan tugas itu pada hamba. Kata An-chan. Mengapa kau berubah pikiran? Oda menyeringai penuh kemenangan. Hamba tidak bisa mengabdi terus-menerus pada keluarga lemah seperti keluarga Sanada.Tuanlah penguasa hampir seluruh daratan Jepang. Sudah sepatutnyalah hamba mengabdikan diri pada orang hebat seperti Tuanku. Jawab An-chan. Oda tertawa tergelak-gelak mendengar pujian An-chan. Gadis Kecil, kau tak hanya cantik... Bagus, bagus, ternyata kau cukup pintar juga... Hamba tidak pantas dipuji oleh seorang pria hebat seperti Tuanku... An-chan merendah. Hmmm... jadi kau mau melakukan pengawasan pada majikan, maksudku mantan majikanmu itu, Nona Cantik? An-chan membungkuk dalam. Tentu saja, maafkan kalau Hamba lancang, tapi ada satu syarat yang harus Tuan penuhi. Apa itu? Ijinkan Hamba melihat kehebatan Tuanku dalam bertarung. Tuan harus berhasil menangkap dan mengalahkan hamba. Hamba hanya mau mengabdi pada seorang majikan yang hebat. Ujar An-chan. Oh, maksudmu aku harus melakukan perburuan dan mangsanya adalah kau, Cantik? An-chan mengangguk, suatu kehormatan bagi Hamba jika Tuan bersedia memenuhi persyaratan yang Hamba ajukan. Permainan yang menarik. Kalau aku menang, apa imbalanku? tantang Oda. Apa saja yang Tuan inginkan dan bisa hamba penuhi. Jawabnya. Nyawamu sekalipun? tanya Oda.

Bahkan nyawa Hamba pun boleh Tuan ambil. Jawab An-chan. Boleh juga. Sekarang larilah! Aku akan mulai mengejarmu pada hitungan ke dua puluh.

Kunoichi cantik itu menghilang dari hadapan Oda. Sosok langsingnya berlari menembus rimbunnya dedaunan. ... delapan belas,.... Hitung Oda An-chan memanjat ranting kokoh sebuah pohon besar. ... sembilan belas,.. An-chan melompat ke dahan pohon yang lain dengan keseimbangan luar biasa. ... dua puluh. Oda menghentikan hitungannya. Waktunya beraksi. Ia pacu Akamaru yang ditungganginya untuk mengejar si kunoichi cantik itu. Kesempatan bagus, pikir An-chan, Oda tak akan menyadari kalau An-chan berniat membunuhnya dalam permainan ini. An-chan melemparkan sebuah shuriken ke leher Oda. Oda yang mempunyai refleks tubuh sangat bagus berhasil berkelit dari shuriken yang dilemparkan si ninja wanita itu. Trang! sebatang tombak dilemparkan pada An. Oda memergoki An-chan bersembunyi di sela-sela pepohonan. An-chan berkelit. Ia lemparkan lagi shuriken Iga-nya ke arah sang dewa perang. Pria kokoh itu dengan mudah menangkis shuriken An-chan. Ia berdiri di atas Akamaru dan membalas serangan An-chan dengan buluh berisi mata tombak. Ia menyusul An-chan naik ke atas pohon secepat kilat, ia sabetkan katananya ke tubuh mungil An-chan. Sabetan itu menggores bahunya dan mengoyakkan separo pakaiannya. Tato bergambar naga di punggung mulusnya tampak sebagian waktu ia melarikan diri. An-chan terus berlari. Mata tombak yang dilontarkan buluh pelontar milik Oda di belakangnya terus menghujaninya, salah satu mata tombak menembus kakinya dan memperlambat laju larinya. Ketika An-chan kurang waspada, sebuah jaring penjerat babi yang dipasang di hutan itu menjeratnya. Ia berusaha melepaskan diri dari perangkap itu, namun terlambat. Sebuah anak panah Oda menembus punggungnya dan mengakhiri perlawanannya. Lalu, semuanya gelap.

*** An chan siuman. Ia telah berada di atas punggung Akamaru. Tubuh Oda menopangnya sambil mengendalikan Akamaru. Sudah siuman? tanya Oda. Tuanku,... kita akan pergi ke mana? tanya An-chan.

Berkuda. Mengelilingi hutan ini... Oh ya, aku sudah bisa meminta imbalanku?tanya Oda. An-chan mengangguk lemah. Apa yang Tuan inginkan? Bagaimana kalau aku bunuh kau? bisik Oda sambil menghunus katananya ke leher An-chan. An-chan pasrah. Oda telah mengendus niatnya untuk menghabisi si penguasa Owari itu dalam permainan tadi. Ia pasrah. Ia pejamkan mata menyongsong kematiannya. Bukannya menghabisi An, pria tua itu malah menyarungkan kembali katana ke pinggangnya. Tanpa banyak bicara, salah satu tangan Oda menyelusup ke balik kimono An chan dan pelan-pelan meremas-remas sebuah payudara padat miliknya. An-chan langsung paham apa yang diinginkan oleh lelaki bangkotan itu. An chan menoleh dan tanpa ampun melumat bibir lelaki bangkotan itu. Ia semakin lihai membelit-belit dan menarik ulur lidah partnernya. Cumbuan An-chan makin ganas seiring makin intensnya Oda menarik-narik, memilin-milin, dan mencubiti pentil tegangnya. Ia memasukkan lidahnya dan menyapu langit-langit mulut Oda. Sang dewa perang mulai menyodok-nyodokkan senjatanya ke tubuh An-chan. Ia renggangkan paha mulus An-chan dan mulai mengobok-obok organ kewanitaannya dengan jemarinya. An-chan kewalahan menerima serangan bertubi-tubi di bibir atas, pentil, dan bibir bawahnya. Waktu guanya sudah basah dan becek, Oda mengangkat pinggul rampingnya dan mendudukkan An-chan di pangkuannya seraya menyarangkan senjatanya di lubang pertahanan sang kunoichi. An-chan membantu meregangkan lubang vaginanya dan memasukkan kejantanan Oda ke dalamnya. Ia merem melek nikmat waktu benda besar hitam itu masuk pelan-pelan ke organ intimnya.

Ketika sudah masuk seluruhnya, An-chan melakukan gerakan goyang ngebor yang wah. Barang milik Oda terjepit-jepit nikmat di rongga sempitnya. Sang dewa perang semakin membabi buta meremas-remas gundukan kenyal An-chan, menciumi bibir, punggung, tengkuk, dan ketiak gadis muda itu. An-chan yang terangsang berat bergerak naik turun menunggangi penis pria bangkotan yang perkasa itu. Makin lama gerakan An-chan makin liar dan cepat. An-chan melakukannya sampai tubuhnya menegang karena orgasme dan memuncratkan lava panas dari kawahnya. Ia lemas sekali setelah itu. Tapi permainan belum berakhir bagi sang dewa perang yang tangguh. Ia angkat tubuh mungil An-chan yang pakaiannya sudah tak lagi menutupi organ-organ intimnya itu. Ia balik badan An-chan hingga menghadap ke arahnya. Ia masukkan lagi kejantanannya ke liang senggama An-chan. Ia tepuk bokong gadis itu agar menunggangi penisnya seliar tadi. Tapi An-chan masih lemas, ia tak seberingas tadi. Ia hanya memeluk pria bangkotan itu, sambil melumat bibirnya ia naik-turunkan panggulnya pelan. Oda menepuk bokongnya agar An bergerak dengan lebih bertenaga lagi. An-chan yang telah berpeluh menuruti keinginannya. Ia naik-turunkan panggul aduhainya sampai tubuh sintalnya mengejang lagi.

Aaaahhhkkkk..... pekik An ketika ia orgasme untuk kedua kalinya. Meskipun An-chan sudah dua kali mencapai puncak kenikmatan, senjata pria itu masih saja mengacung tegak. Sudah satu setengah jam sang daimyo Owari bercinta dengannya di atas kuda jantan gagah pemberian Masayuki Sanada, Akamaru. Stamina sang dewa perang memang jreng... Agaknya benar rumor yang mengatakan bahwa ia tidak hanya perkasa di medan perang. Oda menghentikan Akamaru di daerah rerumputan. Ia bopong tubuh An-chan turun dan ia baringkan An-chan di atas rerumputan halus. Ia langsung menyucup rakus pentil-pentil ranum milik An-chan. Jari-jarinya bergerilya di lubang nikmat An-chan. Ia memainkan rino-tama di dalam vaginanya. Genta kecil bergemerincing yang diletakkan di organ pribadi para geisha itu memang mainan yang mengasyikkan bagi para lelaki. An-chan menceracau tak karuan. Ia lebih tak karuan lagi waktu lelaki tua itu memasukkan lidah bergeriginya untuk memainkan mainan kecil di lubang surganya. Tiga kali sudah tubuhnya menegang. Cairan cintanya muncrat ke wajah Oda. Oda munyucup habis love juice gadis cantik nan rupawan yang sedang menggelepar-gelepar terangsang di hadapannya.

Oda menepuk pantat sang ninja jelita. Ia ingin ber-doggy style kali ini. An-chan menungging menyodorkan lubang merah menganganya yang berdenyut-denyut pada si bandot tua. Ia langsung mencoblos dan menghajar An-chan dengan pompaanpompaan terdahsyatnya. Pompaan di miss V An- chan dan perahan gemasnya di kedua susu An-chan membuat An-chan kembali dilanda multiple orgasme. Setelah lava cintanya muncrat, si cantik sangat kelelahan. Saking lemahnya, An-chan tak sanggup lagi menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya. Oda mencabut lambang kelelakiannya yang masih kokoh berdiri dari Miss V kunoichi cantik itu. Apa kau benar-benar mau menuruti semua keinginanku? Oda berbisik di telinga kunoichi cantik itu. An-chan mengangguk pelan sambil mendesah-desah karena puting kakunya dipilinpilin dan ditarik-tarik lagi oleh pria tua itu. Bercintalah dengan Akamaru... sepertinya ia iri melihat kita. Seringai Oda licik. An-chan bergidik mendengar permintaan tak manusiawi penguasa klan Odawara itu. Tunjukkan bahwa kau setia padaku! perintahnya. An-chan tak punya pilihan lain. Kalau saja klan Sanada tidak terancam hancur karena pria berfantasi seksual mengerikan ini, ia pasti lebih memilih untuk mati menggigit lidahnya saja. An-chan mendekati Akamaru. Ia mengelus-elus kepala kuda jantan merah hitam berbadan besar itu. Pelan-pelan An-chan mengangkat ekornya. Kuda itu telah mengenal gadis cantik itu dengan baik jadi ia tidak menyepak sang kunoichi dengan kaki belakangnya waktu si kunoichi cantik itu mengangkat ekornya. Alat kelamin kuda jantan itu besar dan berwarna kemerahan. An chan meremas-remas dan memijat-mijatnya pelan. An menjilati dengan jijik dan menghisap-hisapnya sampai benda merah lonjong iu membengkak. Akamaru bersuara hiieeeehhheeehhheehhh... Mungkin pejantan itu terangsang. An-chan mengoles-oleskan benda mirip dildo itu ke

mulut guanya.

Gadis cantik itu lalu merenggangkan lubang sempitnya dan mendorong pelan-pelan organ intim bengkak binatang itu ke dalam area paling sensitifnya. An memasukkannya dengan susah payah karena ukurannya yang jauh lebih besar dari milik manusia. Kyaaaaa...!!! An-chan menjerit waktu binatang itu mendesakkan organ reproduksinya lebih dalam ke gua sempit milik gadis bermata coklat itu. Setelah An-chan diam beberapa saat --agar terbiasa dengan miss P jumbo Akamaru An-chan mulai memompa keluar-masuk dildo hidupnya dari dan ke dalam area kewanitaannya. Meskipun air matanya menitik, si cantik An-chan sangat menikmati masturbasi menggunakan dildo jumbo milik kuda jantan kesayangan Tuan Besar Sanada. Oda tidak bisa terus-terusan membiarkan kunoichi binalnya menikmati seks tanpa campur tangannya. Oda memeluk An-chan dari arah belakang. Ia elus-elus penis tegangnya sebentar. Kedua tangannya kemudian membelah bokong seksi Anchan sampai rongga sempit merah berdenyut-denyut di antara buah pantatnya menyambutnya. Ia tancapkan barang kebanggaannya ke lubang belakang An-chan yang jadi makin sempit karena lubang vagina An-chan didesak penis si kuda jantan dari depan. Ia menyodomi dubur An-chan yang masih perawan. Jangaaaannn... ngaaahhkkk... ngaaahhkkk... aaakkhhh... An-chan menangis dan memekik-mekik kesakitan. Oda tak peduli. Ia terus melanjutkan aksi sodominya. Penisnya terasa nyaman sekali karena terjepit-jepit di dalam sana. Dubur An-chan yang sempit dengan beringas dipompa olehnya. An-chan cuma bisa menangis ketika pria yang lebih kejam dari binatang itu memompa lubang pembuangannya sambil meremas-remas payudara indahnya tanpa belas kasihan. Bandot tua itu tahan lama juga. Hampir setengah jam ia menyodok-nyodok dubur An-chan. Akhirnya si bandot tua itu memekik dan menumpahkan semua muatan penisnya ke rongga dubur An-chan bersamaan dengan Akamaru yang juga menumpahkan benihnya ke liang rahim An-chan. Cairan kental menetes-netes dari bokong dan vagina An-chan. Cairan cinta itu meleleh melumuri kaki jenjang sang kunoichi. Si tua itupun akhirnya tumbang. Ia beristirahat dengan bersandar ke sebuah pohon. Bersihkan! perintahnya sambil mengangkang dan menunjuk benda hitam mengkerut penuh lelehan sperma di bawah perutnya. An-chan yang masih kelelahan merambat mendekatinya dan menjilati, menghisap-hisap, serta menelan seluruh lelehan spermanya. Lubang-lubang cinta An-chan sudah perih dan sakit karena digarap oleh seekor kuda jantan dan disodomi oleh seekor bandot tua. Setelah menerima oral service dari An chan, lelehan sperma di penis si bandot tua itu berhasil dibersihkan. Kabar buruknya, si buyung bangun lagi!!! Si tua itu menyeringai mesum pada gadis belia bugil di hadapannya. Ronde selanjutnya pasti tak kalah menyeramkan dari permainan 4 set tadi. Si bandot tua yang telah pulih staminanya pun bangkit dari duduknya dan menerkam An-chan dengan buas sekali lagi.

Aaaaaakkkkhhhhhsssss.....aaahhhkkkksss......aaahhhkkksss....!!!!!! rintihan An-chan yang malang tak terdengar oleh siapa pun.

*** Saizo menggendong An-chan di punggung bidangnya. Tugas mereka mengantarkan Akamaru telah selesai. Mereka telah pulang kembali ke Nagano Selatan, wilayah kekuasaan klan Sanada. Pasar kecil yang mereka lewati begitu ramai. Para pedagang menawarkan berbagai macam barang pada siapapun yang lewat. Senpai, maaf ya. Gara-gara kakiku terluka Senpai harus terus menggendongku sepanjang perjalanan. Kata An-chan. Iya, kumaafkan. Kamu ini berat sekali tahu. Ledek Saizo sang provokator. An-chan menjitak Saizo, Menyebalkan! katanya. Aduh, dasar wanita tak tahu balas budi! Kau balas air susu dengan air tuba. Seloroh si Gingsul menyebalkan itu. Baiklah,... kubalas budi baikmu dengan dango ya? Masa cuma dango? tawar Saizo. Baiklah, Senpai boleh bermalam bersamaku dan kita akan,... si geisha genit menggoda kakak seperguruannya. Saizo menelan air liur mendengar perkataan An-chan. Mimpinya akan jadi kenyataan... Apa yang akan kita lakukan? .... mmmhhh.... menghabiskan sekeranjang dango, Senpai-ku sayang.... Hehehehehe.... An-chan tergelak-gelak karena berhasil mengerjai si pria kurus bergingsul nan sukebei (mata keranjang) itu. Saizo shock, kalau di dalam manga Jepang langsung menangis deras, emoticon di bubble dialognya jadi seperti ini: T_T Mau tidak kubelikan dango Senpai? Mumpung aku sedang baik hati. Tawar Anchan sekali lagi. Ya sudah, daripada tidak dapat apa-apa. Jawab Saizo pasrah. An-chan membeli beberapa tusuk dango. Ia memakannya dengan lahap di gendongan Saizo. Enak Senpai. Ia mengunyah-ngunyah manisan itu dengan riang.

Wajah cantiknya menempel ke pipi Saizo, tangan kanannya menyodorkan tusuk dango yang baru ia makan satu potong ke depan bibir Saizo, ...mmm... nyam... nyammm... ia beri isyarat agar Saizo juga memakan dango itu bersamanya. Mulutnya terlalu penuh untuk bicara. Saizo menggigit dan mengunyah satu potongan dango. An dan Saizo bercanda sambil makan dango di sepanjang jalan yang dikelilingi persawahan itu. An-chan memeluk leher Saizo dan menyandarkan kepalanya ke punggung pria yang sudah seperti kakak laki-lakinya itu, Senpai baik sekali,... Kalau saja aku punya ayah seperti Senpai... bisiknya. Maaf ya jadi mengingatkanmu pada ayahmu, kata Saizo. Bagaimana mungkin bisa ingat. Aku belum pernah melihat ayah-ibuku sama sekali. Aku tak tahu di mana mereka berada. Aku bahkan tak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Sejak kecil aku hanya mengenal Rokuro-sensei sebagai pengganti ayahku dan Chihiro-dono sebagai pengganti ibuku. An-chan bercerita panjang lebar.

Berarti aku sedikit lebih beruntung darimu ya, timpal Saizo. Ayah dan ibu Senpai masih hidup? Saizo menggeleng. Mereka sudah lama meninggal. Meskipun begitu, aku masih sempat merasakan hidup bahagia bersama ayah dan ibuku. Ya, aku iri pada Senpai... Ummm... Kenapa mereka meninggal? tanya An-chan. Ayahku kalah bertarung dengan ninja Koga. Hattori Hanzo mengadu domba Iga dan Koga dengan sebuah pertarungan ambisius memperebutkan posisi sebagai pengawal pribadi Tokugawa. Setelah ayah meninggal, kami hidup terlunta-lunta. Kami dibuang dari Iga karena kemampuan mengerikan yang aku miliki menyerupai ilmu sesat aliran Koga. Sebenarnya cuma aku yang dibuang, tapi Ibuku pun ikut pergi meninggalkan desa Iga bersamaku. Ibu mati kelaparan dan kedinginan ketika kami berdua berlindung dari badai salju di sebuah kuil tua. Jenazah ibu melindungi dan menghangatkanku di malam berbadai salju itu. Sepeninggal ibu, aku mengemis dan mencuri untuk hidup di jalanan. Terkadang aku juga melakukan pertunjukan akrobat... Aku pada awalnya benci sekali dengan bakat alam mengerikan yang aku miliki, tapi belakangan ini aku baru menyadari bakat itu ada gunanya juga. Pikiran Saizo menerawang jauh ke masa lalunya. Senpai, aku tak punya masa kecil kelam semacam itu. Yang aku tahu, tiba-tiba saja aku sudah jadi bagian dari Sanada Jyushi. Masa kecilku begitu indah, biarpun aku tak punya orang tua... Tidak pahit seperti saat ini. An-chan menitikkan air mata. An-chan, dango nya manis ya. Aku boleh minta lagi? Saizo mengalihkan topik pembicaraan. Ia tak ingin bidadari mungil di gendongannya bersedih. Tidak boleh! Tinggal satu buah. Ini untuk Tuan Yukimura.

Yukimura?!... Saizo tersenyum sinis mendengar nama perebut kesucian gadis pujaannya itu disebut. Bagaimana kabar Tuan Yukimura ya? Aku rindu sekali padanya. Kata An-chan yang kembali riang. Ah, lagi-lagi Yukimura! Merusak suasana saja... batin Saizo perih.

*** Seorang gadis cantik berambut panjang dengan kimono sutra mahal berlapis-lapis sedang duduk menenun di taman milik keluarga Sanada. Musim panas telah berlalu. Pohon-pohon momiji berwarna cerah menyemarakkan suasana taman, pertanda musim gugur telah datang. An-chan dan Saizo heran, mereka belum pernah melihat gadis cantik itu sebelumnya. Tak lama, pertanyaan di hati keduanya terjawab. Sanada Yukimura, yang tak tahu akan kedatangan dua ninja itu, memeluk sang gadis cantik berkulit pualam dari belakang. Bibirnya menelusuri leher jenjang sang gadis di pelukannya. Gadis itu meraih rambut Yukimura dan mereka pun berpagutan mesra. Genggaman An-chan mengendor. Dango terakhir di tangannya meluncur jatuh ke tanah. Saizo menyadari apa yang telah terjadi. Ia menggendong An-chan pergi dari tempat itu secepat kilat.

*** An-chan yang patah hati bersandar lunglai sambil terisak-isak di bahu Saizo. Tangannya terkadang dipakai untuk menyeka air matanya. Ini, Saizo menyodorkan selembar sapu tangan kepadanya. An-chan mengambilnya. Ia menangis sekeras-kerasnya ditutupi sapu tangan itu. Saizo meraih kepala An-chan dan menepuk-nepuknya pelan. Sinar bulan yang keperakan menerangi atap tempat kedua ninja itu melewatkan malam. Daun-daun momiji berguguran tertiup angin. Desiran angin musim gugur yang dingin menusuk hingga ke lubuk hati An-chan. An chan menangis sampai akhirnya jatuh tertidur karena letih. Saizo membaringkan gadis mungil itu ke atas pangkuannya. Ia pergunakan jubah terluarnya untuk menyelimuti bidadari cantiknya yang sedang terluka itu. Jinpachi dan Yuri tiba-tiba sudah berada di sebelah Saizo. Senpai sudah pulang? Mengapa tidak lapor pada Tuan Masayuki Sanada? tanya Jinpachi. Ssstt... Jangan bicara keras-keras. Besok pagi saja aku melapor. Jawab Saizo.

Tadi Tuan Besar sudah menerima surat dari utusan Oda. Oda bilang ia sangat menyukai pemberian dari Tuan Besar. Syukurlah, tugas kalian berhasil. Tambah Yuri. Siapa gadis yang tadi bersama Yukimura? selidik Saizo. Oh ya, kami lupa. Ayah gadis itu seorang saudagar dari Kii. Ia ingin berdagang di sini. Untuk memperlancar diplomasi dengan Tuan Besar, ia mengirim putri keduanya untuk jadi pelayan keluarga Sanada. Ternyata Tuan Muda jatuh hati pada gadis itu dan ingin menikahinya. Tepat di malam perayaan tanabata, Tuan Muda Yukimura menikahi gadis itu. Pestanya meriah sekali, aku saja sampai repot sekali di dapur. kata Yuri bersemangat. Dia cantik ya Senpai... Tidak heran Yukimura begitu tergila-gila padanya. Tak lama lagi ia pasti sudah mengandung... Tuan Muda rajin sekali bermalam di kamarnya dan... Ujar Jinpachi dengan mimik mesum.

Apa dia lebih cantik dari An-chan? pancing Saizo. Hahahaha... Wanita itu jauh lebih dewasa dari An-chan... jawab Yuri. Benar, gadis kasar seperti An-chan... mana bisa dibandingkan dengannya. Jinpachi menambahi. Bagaimanapun An-chan lebih pantas untuk bersama Yukimura. Kata Saizo lirih. Senpai, kau salah makan ya? ledek Yuri. Ah, Senpai... Kenapa berkata begitu? Bukankah Senpai juga menyukai An-chan? kata Jinpachi lagi. Tapi An lebih banyak berkorban untuk keluarga Sanada... Ia lebih pantas mendapatkan hati Yukimura. Saizo berargumen. Tidak mungkin, An cuma kunoichi... keluarga Sanada memeliharanya hanya untuk menjadikannya seorang pembunuh dan pelacur yang bisa memanipulasi perasaan lawan. Kata Yuri. Benar, Senpai. An-chan tak boleh punya perasaan seperti kebanyakan wanita lemah. Ia dilahirkan hanya untuk membunuh dan memanipulasi.tambah Jinpachi. Aku tahu... tapi bukankah Sanada mencintai An-chan?kata Saizo lagi. Mana mungkin Senpai, kalau ia mencintai An pasti ia takkan mengirim An pada Oda Nobunaga. Kata Yuri. Iya, aku tak sengaja mencuri dengar waktu itu. Yukimura yang mengusulkan pada Rokuro-sensei agar An-chan memakai taktik psikologis dalam misi ini. Rokuro-sensei

setuju untuk memerintahkan agar An-chan memakai apapun, termasuk tubuhnya, untuk memperlancar negosiasi kita. kata Jinpachi. Saizo kaget mendengar keterangan Jinpachi. Kenapa tak kau katakan padaku?! Saizo dengan marah menarik kerah kimono Jinpachi. Ssseeenn... pai, jangan! cegah Yuri. Senpai, hentikan! Aku juga tak tahu... waktu itu kalian sudah pergi dan Rokurosensei mengirimkan pesan berisi tugas rahasia itu pada An dengan seekor merpati. Jinpachi membela diri.

An-chan yang ternyata menguping pembicaraan mereka membuka matanya, menyingkap jubah Saizo dari atas tubuhnya, dan lompat dari atap. Ia berlari ke kamar Yukimura dengan tertatih-tatih karena luka di kakinya. Ia memang telah menerima surat perintah itu. Tapi semua ini pasti tidak benar. Yukimura tak mungkin tega mengusulkan untuk menjadikannya pelayan nafsu si penguasa Owari! Yukimura tak mungkin melakukan itu padanya, karena Yukimura pun pastilah sangat mencintainya! Wanita busuk itu tak boleh memiliki Tuan Mudanya setelah begitu banyaknya An berkorban demi Tuan Mudanya. Malam ini juga, An-chan harus melenyapkan wanita busuk itu untuk selamanya. An yang terbakar amarah tak lagi peduli pada luka di kakinya. Ia berlari dan terus berlari. Saizo berhasil mengejar An dengan mudah dan menahannya sebelum sampai ke pintu geser kamar sang tuan muda. Apa yang kau lakukan? Saizo menahan tubuh An-chan yang kini telah memegang sebilah jutte (pisau). Biarkan aku membunuh wanita sialan itu. Ia meronta-ronta. Hentikan!perintah Saizo. Gara-gara dia Tuan Yukimura tak mempedulikanku... An-chan! Berhenti! perintah Saizo. Tidak! Aku... aku sudah lakukan semuanya untuk Tuan Yukimura... Mana bisa wanita itu merebut dia dariku.protes An-chan. An-chan, hentikan! Aku sudah berikan kesucianku pada Tuan Yukimura... aku sudah lakukan semua hal untuknya... aku sudah begitu kotor... aku tidur dengan Oda agar diplomasi kita berhasil... hiks hiks.... Pria bajingan itu bahkan memaksaku untuk bercinta dengan Akamaru... hiks hiks... An-chan menangis histeris. Apa yang baru saja kau katakan?! Saizo terbelalak mendengar pengakuan An-chan. An-chan menggeleng.

Katakan sekali lagi! ia goncang-goncangkan tubuh An-chan, memaksanya untuk bicara.

Akuuu... pura-pura mau jadi mata-mata Oda... pada awalnya aku berniat membunuhnya di hutan itu... tapi, tapi, aku kalah dan aku terpaksa melayani nafsu bejatnya... Itulah yang diperintahkan Rokuro-sensei padaku, bunuh Oda atau tidurlah dengannya, lakukan segala cara untuk membuat penguasa Owari itu percaya bahwa keluarga Sanada telah menyerah padanya... tangis An-chan tumpah seketika. Saizo memeluk An-chan yang menangis sejadi-jadinya. Jari-jarinya mengepal geram karena amarah. Betapa teganya Yukimura pada gadis mungil yang selalu dipujanya ini, Setelah puas menikmati kegadisannya, ia campakkan An-chan. Bajingan itu bahkan tega memperalat An-chan demi kekuasaan keluarganya. Tiba-tiba dari balik pintu geser berlapis kertas yang berjarak beberapa meter dari mereka terdengar lenguhan nikmat seorang wanita aaahhhhh..... nngaaahhhkkk..... aaahhhsshhh..... Bajingan itu bahkan masih sempat-sempatnya berasyik masyuk dengan mantan pelayannya, membiarkan perasaan seseorang yang sangat mencintainya hancur berkeping-keping. Mendengar lenguhan nknmat dari dalam bilik berjendela kertas itu, An-chan menangis semakin keras, badannya terguncang-guncang hebat. Kepalan tangannya meninju dada Saizo sekeras-kerasnya. Setelah puas melampiaskan amarahnya, An-chan pergi meninggalkan tempat itu. Ia tak tahan untuk berlama-lama di tempat itu. Saizo berlari mengejarnya. An-chan masih terus menangis. Jangan ikuti aku! bentaknya dengan suara terisakisak pada Saizo. Saizo membiarkan An-chan pergi sendiri untuk meneneangkan diri. Saizo memandang iba pada An-chan yang sedang berlari terseok-seok meninggalkan mansion keluarga Sanada. Ia biarkan bidadarinya yang terluka berlari meninggalkannya.

*** Pulang dari sebuah kedai minuman keras, An-chan terhuyung-huyung memasuki sebuah kamar. Ia benar-benar berada di bawah pengaruh minuman keras. Di kamar itu ada seorang lelaki yang sedang meringkuk di atas futonnya. An-chan tak memedulikan keberadaan lelaki itu. Tubuhnya jadi panas akibat terlalu banyak menenggak sake. An-chan tanggalkan seluruh kain yang ada di tubuhnya. An-chan yang telanjang bulat tanpa pikir panjang meringkuk masuk ke selimut pria itu karena rasa kantuk dan pusing yang menderanya. Ia peluk tubuh pria itu dari belakang. Pria itu berbalik dan terperangah melihat tubuh mulus An-chan tergolek lemah tanpa dilapisi sehelai benang pun. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Di bawah

selimut tebalnya dan remang-remang cahaya lilin, ia nikmati tubuh molek An-chan. Ia cumbui gadis cantik di hadapannya. Ia kulum-kulum bibir mungilnya. Ia permainkan lidah gadis cantik itu. Rasa manis sake terasa sekali olehnya. Sama seperti sake, kecantikan dara belia itu teramat memabukkan. Puas bermain-main dengan bibir gadis cantik itu, lidah sang pria menelusuri dagu, leher, terus ke belahan dada, perut, dan daerah terlarangnya. Geisha cantik itu pasrah waktu lawan mainnya menggelitiki tepian gua berbulu tipisnya dengan lidahnya. Lidah liarnya menelusup lebih dalam dan mengebor kawah merah merekah milik sang gadis. Ujung lidah itu memainkan kelentit An-chan yang dipasangi rino-tama. Cring... cring...cring... semakin cepat irama dentingan rino-tama yang tergesek-gesek lidah si pria, makin intens pula rasa geli-geli nikmat yang dirasakan An-chan. Pria itu mengangkat kaki mulus An-chan ke bahunya. Ia perdalam penetrasi lidahnya ke lubang rahasia milik gadis berkulit mulus itu. An-chan yang setengah sadar mendesah-desah geli. Cairan cinta melumasi kawah merekahnya. Bak kehausan lelaki itu menyeruput cairan asin beraroma khas yang dikeluarkan bidadari binal itu. Ia lebarkan celah-celah antara dua paha An-chan, meletakkan salah satu kaki An-chan ke atas futon, mendorong masuk seluruh kejantanannya ke vagina An-chan, dan menegakkan kaki kanannya sebagai tumpuan. Ia bor rongga peret gadis cantik yang merekah di hadapannya. Ia mainkan payudara berukuran 36 B milik si gadis berperut rata itu sambil mempercepat laju pompaannya.

Plokkk... plokkk... plokkk... plokk... lalu plokkk... plokkk... plokkk... plokkk.... kemudian plokk... plokk... ploookk... plokkk... dan plokk.... plokk... lokkk... plokk... hingga... plokkk... plokkk.... plokkk... plokkk... plokk... (lama banget sih ga selesai-selesai! Ditinggal tidur dulu ah sama yang ngetik :-P) Biarpun kawah An-chan sudah basah kuyup, pria itu masih saja terus memompanya. Bosan dengan posisi misionari yang dimodifikasi itu, ia cabut penis tegangnya. Ia kulum-kulum, jilat-jilat, hisap-hisap, dan gigit-gigit kedua puting berujung pink dan berareola kehitaman milik An-chan secara bergantian. Pria kekar berperawakan sedang itu menepuk bokong An-chan, memerintahkannya untuk tengkurap dan menumpukan kedua kaki dan tangannya ke lantai. Tubuh An-chan membentuk posisi yoga yang disebut cat position (mirip-mirip nunggingnya doggy style gitu deh). Pria itu ingin posisi bercinta yang lebih menantang. Sepasang payudara An-chan menjuntai indah tertarik gaya gravitasi (wkwkwk... kaya apelnya Newton, jatuh tertarik gaya gravitasi ^^`). Sang pria mengangkat kedua kaki An-chan dan membiarkan kunoichi cantik itu menahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya. Ia renggangkan paha mulus An-chan dan ia dorong kuat-kuat Mr. P nya hingga melesak seluruhnya ke dalam anus sang geisha yang sempit. Jadilah posisi... (tebak posisi apa coba?)... Ya, betul! Posisi becak-becakan (gyahahaha... nggak ding nama keren posisi ini sih wheelchair position). Pria itu lebih mudah mengontrol penetrasinya dengan posisi ini. Puyeng-puyeng dah tu si kunoichi! Gimana nggak pusing, aliran darahnya berbalik mengalir ke kepala! So, dont try this at home... Ia pompa terus, terus, dan terus, sampai... air maninya muncrat ke dubur An-chan. Ia jatuh terduduk karena kedua lututnya lemas, An-chan yang otot-otot tangannya jadi kaku pun terhempas ke atas futon. Keduanya terengah-engah. Pria itu menjilati sela-

sela paha An-chan yang tidur dalam posisi tengkurap, lidahnya naik menelusuri bokong padat An-chan, punggung, leher, lalu bibirnya. Kedua insan itu mempraktekkan French Kiss yang panas. Ia lalu menyuruh An-chan tidur telentang lagi dan keduanya ber-sashimi for two sampai cairan cinta mereka muncrat membasahi wajah dan bibir lawannya... Cukup dua ronde saja kali ini, jempol penulis bisa bengkak berdenyut-denyut nanti kalau mereka kelamaan ML-nya.

*** Selamat pagi, Sayang. Kata seseorang waktu pintu geser itu terbuka. Sinar matahari menyilaukan mata An chan. Ia terbangun dan melihat sosok kemayu Miyoshi Seikai di depannya. Apa yang kau lakukan di sini?! bentak Seikai. An chan baru menyadari kalau tubuhnya telanjang bulat. Ada cairan asin lengket di bibir, rambut, dubur, dan juga vaginanya. Seketika ia sadar kalau kemarin malam ia telah bercinta dalam keadaan mabuk dengan seseorang. Tapi siapa? An-chan sama sekali tak ingat siapa pria yang semalam membuang sperma berlebihnya ke dalam rongga rahimnya. Pria yang tidur di sebelahnya terbangun. Ia juga bangun dalam keadaan telanjang bulat seperti An-chan. Hanya secarik selimut yang menutupi tubuhtubuh polos kedua manusia nista itu. An-chan terbelalak kaget, ternyata Sarutobi Sasuke-lah yang telah menidurinya tadi malam! Ohay... ucapnya datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Kau lumayan juga tadi malam. Tambahnya. Miyoshi Seikai terbakar api cemburu karena kekasih gay-nya yang juga biseks itu tidur dengan kunoichi ingusan semacam An-chan. Parahnya lagi, Sasuke menyukai service plus plus si perempuan jalang nan dungu itu. Pelacur! Kubunuh kau! Miyoshi Seikai telah berancang-ancang untuk melontarkan jarum besinya pada An-chan. Bergeraklah dan kau akan mati! sebilah daisho sudah terhunus ke leher Miyoshi Seikai. Sarutobi Sasuke cuek. Ia ambil pakaiannya sendiri dan bangkit dari futon tempat ia menggauli An-chan semalam. Ia tak ambil pusing dengan pertikaian tiga ninja yang disebabkannya. Ia duduk tenang dan menonton drama satu babak yang sayang untuk dilewatkan di hadapannya. Senpai,...An-chan bahagia, dewa penyelamatnya telah datang menolongnya. Saizo memandang An-chan sekilas, memalingkan wajahnya, dan melempar jubah luarnya ke pangkuan An-chan.

An chan meraih jubah hitam Saizo dan memakainya dalam sekelebat mata. Ayo kita pergi dari sini! Ajak Saizo To be continued...

Once Upon a Time in Rome


15 Agustus 2007 Sore itu, di pusat kota Roma, sebuah tandu yang diusung empat orang budak pria berbadan tegap dan berkulit gelap diiringi dua orang budak wanita meninggalkan sebuah gedung pertunjukan teater. Sebenarnya mereka tidak sendirian, karena beberapa orang budak lain juga mengusung tandu-tandu yang sebagian besar berisikan petinggi Romawi meninggalkan gedung pertunjukan. Pada masa itu, pertunjukan teater menjadi hiburan yang umum dan digemari oleh masyarakat Romawi, khususnya kalangan atas dan terpandang. Namun di antara tandu yang meninggalkan gedung teater, tandu yang dengan kelambu biru langit transparan serta diusung empat orang budak itulah yang menjadi perhatian utama masyarakat sekitar. Beberapa orang memberikan jalan dan bahkan memberi salam pada sosok yang berada di atas tandu. Siapakah yang berada di dalam tandu itu?

Claudia Seorang gadis cantik menyembulkan kepala dari balik kelambu tandu sambil

mengayunkan kepala terhadap beberapa orang teman yang menyapanya. Wajah gadis berusia 17 tahun itu sangat cantik dan sedang mekar-mekarnya, rambutnya yang berwarna coklat panjang bergelombang menambah aksen keindahan tubuhnya yang tinggi langsing dan mata biru yang mempesona memancar penuh kehangatan. Nama gadis itu adalah Claudia Faustina. Tidak ada orang di Roma yang tidak kenal kepadanya, terlebih ia adalah putri jenderal kenamaan pasukan Romawi yang bernama Suetonius, pahlawan perang dan sosok yang amat disegani di kalangan petinggi Romawi. Claudia dikenal sebagai salah satu wanita tercantik di Roma saat itu, sampai-sampai sang kaisar Tiberius (42 SM-37 M) pun memuji kecantikannya ketika berkunjung ke rumah Suetonius. Sang kaisar membandingkannya dengan Hellen dari Troy, putri legendaris yang kecantikannya memicu Perang Troya yang terkenal itu. Tiberius sendiri memiliki kecenderungan seksual yang lebih menyukai anak-anak di bawah umur alias pedofil, sebenarnya hal ini bisa dikatakan suatu berkat bagi Claudia karena kalau Tiberius tertarik padanya pasti ia sudah dijadikan selir oleh sang penguasa yang lebih pantas jadi kakeknya itu, hidup sebagai selir seorang kaisar tentunya akan sangat berkecukupan dan bergelimang harta. Namun ayahanda Claudia, Suetonius telah mempertunangkan Claudia dengan Vitelius, putra salah seorang kolega. Menurut rencana, Suetonius akan menikahkan keduanya setelah ia dan pemuda itu kembali dari kampanye militer menumpas pemberontakan Yahudi yang baru-baru ini meletus di daerah pendudukan Romawi di Timur Tengah. Selang beberapa saat kemudian, tandu itu sampailah di depan gerbang kediaman keluarga Suetonius yang megah. Beberapa orang prajurit penjaga yang mengenali memberikan salam lalu segera membukakan gerbang. Claudia menjejakkan kaki ke tanah dan keluar dari tandu dibantu oleh salah seorang budak wanita yang mengiringi perjalanannya. Aku lelah sekali hari ini, ingin beristirahat sebentar. Pasti kalian juga begitu, pulang dan beristirahatlah ! kata Claudia pada para budak yang sedari tadi mengiringi. Setelah memberikan salam, keempat budak pria dan kedua budak wanita kembali ke tempat pemondokan mereka yang juga berada di komplek rumah dinas Suetonius. Claudia menyusuri koridor rumahnya yang besar dan megah, disisi-sisinya terdapat patung-patung antik bergaya Romawi, di beberapa sudut juga terdapat koleksi barangbarang yang didapat oleh Suetonius semasa perang di berbagai wilayah kerajaan Romawi, mulai dari wilayah suku Germanik di utara sampai ke timur tengah. Claudia ingin mengunjungi ibunya sebentar sebelum masuk ke kamar dan istirahat, namun di depan kamar ibunya ia mendengar sesuatu. Suara itu adalah desahan nafas penuh nafsu yang keluar dari mulut sang ibu! Dengan jantung berdetak kencang, Claudia menempelkan telinga ke pintu yang masih tertutup. Selain suara desahan ibunya, Claudia juga mendengar suara erangan pria. Siapa gerangan pria yang berada di kamar ibunya? Ayahanda Suetonius masih berada di medan perang Israel dan baru akan kembali kemungkinan akhir tahun ini, lalu siapa yang berada di dalam kamar sang ibu?

Pelan-pelan ia mencoba mendorong pintu itu tapi tidak bergerak, sepertinya dipalang dari dalam. Karena penasaran, maka gadis itupun memutar keluar dan mencoba melihat melalui jendela. Jendela kamar ibunya terletak di sudut yang agak terpencil dari rumah dinas yang megah ini, ia berharap menemukan celah untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Claudia begitu tercekat dan jantungnya serasa mau berhenti begitu melihat dari celah jendela bermozaik yang sedikit terbuka untuk keluar masuknya udara. Ia melihat dengan mata kepala sendiri, ibunya yang telanjang bulat tengah digumuli oleh dua orang budak Nubia (sekarang wilayah Afrika Utara) yang ia tahu bernama Kasha dan Pyankhi. Valeria, ibu Claudia dan istri Suetonius adalah seorang wanita berusia 34 tahun yang cantik, tubuhnya masih ramping dan seksi walaupun pernah melahirkan Claudia. Ia memiliki rambut hitam sedada yang lurus, biasanya disanggul seperti umumnya wanita-wanita Roma yang sudah menikah. Nampaknya mata biru Claudia yang indah itu adalah warisan dari ibunya karena mata mereka memang mirip, sama-sama biru dan menawan. Valeria saat itu sedang berada di tengah di antara kedua budak hitam. Ia nampak menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Kasha sementara dari belakang Pyankhi melesakkan penisnya ke dalam anus sang nyonya majikan. Kasha menikmati genjotan Valeria sambil dengan santai menyedoti payudara Valeria yang menggelayut. Rambut Valeria yang masih tersanggul sudah agak kusut, butir-butir keringat membasahi tubuh dan wajahnya membuat penampilannya makin menggairahkan. Claudia meletakkan tangan di mulutnya dan menahan nafas seakan tidak percaya pada pengelihatannya sendiri. Ia tak tahu harus marah, sedih, tegang, atau malah terangsang, semua perasaan itu bercampur menjadi satu sehingga membuatnya hanya bisa melongo mengintip sang ibunda yang sedang berselingkuh dengan budaknya. Akhirnya gadis itu menyudahi pengintipannya dan berlari ke kamar, disana ia menangis sambil tengkurap di atas ranjang. Sebagai anggota kelas elite masyarakat Roma saat itu, ia memang sudah sering mendengar kabar mengenai kegilaan hidup kelasnya baik di kalangan keluarga kaisar maupun kalangan senat dan bangsawan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa cucu Kaisar Tiberius, Gaius Germanicus (yang kelak menjadi Kaisar Caligula) memiliki hubungan incest dengan kakak perempuannya, sudah merupakan hal yang lumrah sebagian istri anggota senat mempunyai hubungan gelap dengan pria-pria muda, dan bukan hal baru lagi para senat dan bangsawan menyukai pesta-pesta pribadi yang biasa berujung pada pesta orgy. Namun yang diketahuinya selama ini keluarganya termasuk baik-baik saja, ayahnya selalu setia pada ibunya walaupun konon kabarnya ketika muda memiliki banyak kekasih. Demikian pula ibunya selama ini ia anggap sebagai wanita yang penyayang dan tulus, tipe wanita yang lebih menyukai pekerjaan rumahan dan tidak pernah terlibat hura-hura apalagi pesta orgy seperti yang lainnya, ternyata ibunya tidak beda dengan mereka dan ia berselingkuh dari ayahnya dengan golongan budak pula. Sikap Claudia terhadap sang ibunda berubah jadi dingin beberapa hari ini. Ketika Valeria mengajak bicara ia hanya menjawab seadanya saja dengan datar. Ia memilih lebih sering keluar rumah, seperti pergi ke pinggiran kota yang jauh dari hiruk-pikuk Roma atau bermain dadu bersama teman-temannya (permainan dadu merupakan salah

satu hiburan pada masa itu). Pernah ia menyampaikan keluh kesahnya sambil berdoa di depan patung Dewi Juno (istri Dewa Jupiter), dewi pelindung para istri yang juga merupakan simbol istri yang diselingkuhi. Tentu saja Valeria merasa sedih melihat perubahan sikap putri tunggalnya itu, apalagi ia tidak tahu alasan sebenarnya. Ia sudah merasa kesepian selama setengah tahun lebih ini. Apa sebenarnya yang merubah sifat setia Valeria? Dalam sebuah jamuan ia mendengar cerita seorang teman sesama istri komandan pasukan militer Romawi bercerita mengenai kehidupan seksnya yang wah. Selain pernah bercinta dengan pria muda yang tampan ia juga bercerita pernah bercinta dengan budaknya, itu semua hanya untuk memenuhi nafsu seksnya yang menggebu-gebu selama suaminya tidak ada dan tidak dengan cinta. Semua tertegun mendengarnya termasuk Valeria. Sejak saat itu, setiap kali melihat pria, terutama pria perkasa seperti budak, tentara, atau gladiator, ia selalu membayangakan dan bertanya dalam hati, apakah mereka begitu perkasa dan dapat membuatnya orgasme berkali-kali ? Mulanya ia selalu berusaha menepis fantasi liar itu dengan menyibukkan diri merajut, menonton teater, balap kuda, dan melakukan pekerjaan rumah lainya, namun syahwatnya yang telah dahaga selama berbulan-bulan terus menggelitiknya walau ia sering berdoa pada Dewi Juno agar tetap menjaganya dari perselingkuhan.

Valeria Namun akhirnya hubungan terlarang itu terjadi juga, Valeria makin terpengaruh katakata sang teman bahwa seks dan cinta itu jangan disamakan. Jantungnya berdegup kencang ketika pertama kali menyuruh kedua budaknya merangsangnya dengan menggerayangi tubuhnya dan melakukan oral seks. Birahi yang menuntut pemuasan itu terus mendorongnya berbuat lebih jauh hingga makin keterusan dari hari ke hari. Bahkan Valeria tidak malu-malu lagi memanggil kedua budak itu ke kamarnya untuk memuaskan nafsunya. Dalam urusan seks, ia makin tak memikirkan yang namanya harga diri atau martabatnya. Kedua budak itu memang terbukti mampu membuatnya menikmati seks sepenuhnya, apalagi sebelumnya ia belum pernah melakukannya secara threesome seperti ini. Bagaimanpun, dari luar ia tetap nampak seperti wanita

terhormat, istri seorang jenderal dan ibu yang baik bagi putrinya. ### Seminggu setelah mendapati ibundanya berselingkuh dengan dua budak Nubianya, ia mendapat kesempatan untuk menginterogasi mereka. Saat itu mamanya sedang berada di luar kota memantau keadaan rumah dan tanah pertanian keluarga mereka karena saat itu sedang musim panen anggur. Dipanggilnya Kasha dan Pyankhi menghadapnya di ruang tamu. Keduanya menghadap menemui nona majikan mereka yang telah menunggu di atas sebuah bangku berukir, tampak anggun sekali ia hari itu dengan gaun panjang warna ungu, warna yang menandakan kelas elit masyarakat Romawi karena bahan kain dengan warna itu adalah yang paling mahal. Claudia menyuruh dua budak wanita yang mendampinginya pergi dan siapapun tidak diijinkan masuk tanpa perintah darinya. Mata biru Claudia menatap tajam pada kedua budak hitam itu. Berlutut ! perintahnya dengan setengah membentak pada keduanya. Keduanya dengan raut wajah bingung dan takut menjatuhkan lutut ke atas lantai berlapis marmer itu. Mereka tahu ada sesuatu yang tidak beres dilihat dari tatapan mata dan gaya bicara gadis itu. Lancang sekali kalian berani main gila dengan mamaku, bagaimana bisa terjadi ? tanya Claudia dengan ketus. A-aapa maksud Nona ? kami, kami tidak mengerti ? Kasha mencoba berkelit dengan gugup. Budak hina ! masih berani bohong ! Claudia marah dan melemparkan bantal di dekatnya yang mengenai kepala Kasha. Mereka makin membungkukan badan tak berani menatap wajah nona majikannya karena memang bersalah. Claudia terus mendesak mereka untuk membeberkan segalanya dengan marah sehingga mereka pun akhirnya mengakuinya. Kami, kami diperintah oleh nyonya, kami juga tidak berani melawan ! ujar Pyankhi. Benaritu benar, nyonyalah yang meminta kami melakukan itu, kami cuma budak, apa yang bisa kami perbuat selain menurut ? timpal Kasha. Bohong ! kalian bohong ! mama itu wanita terhormat, mama gak mungkin seperti itu ! sahut Claudia setengah menjerit, hatinya sangat terpukul menerima kenyataan itu. Ampun nona, memang begitu kenyataannya, coba pikirkan, mana mungkin kami berani selancang itu kalau bukan nyonya yang memulai ! jawab Kasha lagi sambil menundukkan kepalanya hingga hampir menyentuh lantai. Kami tidak berani menolak, kami takut dihukum, mohon pengertian Nona, ini bukan salah kami ! Pyankhi juga terus mengiba dan menundukkan kepala. Sudah berapa lama kejadian ini berlangsung ? tanya Claudia lagi. Sebulaniya kira-kira sebulan, nyonya sering menyuruh kami melayaninya kalau sedang kesepian jawab Pyankhi terbata-bata. Iya, Nyonya sepertinya kesepian karena tuan lama belum pulang, sepertinya itu sebabnya dia minta kami berbuat begitu ! timpal Kasha. Cukupcukup saya bilang ! dasar budak hina ! bentak Claudia dengan nada bergetar, tangannya terkepal keras menahan marah dan sedih, kalian kira saya akan diam saja untuk semua ini hah ? kalian akan tau apa hukumannya ? Ampun Nona, jangan hukum kami, ini bukan salah kami ! mereka mengiba dan

membenturkan kepalanya ke lantai berlapis granit itu dengan penuh ketakutan. Baik, aku tidak akan membunuh kalian kata Claudia pelan yang membuat mereka sedikit tenang, tapi aku akan membuat kalian tidak bisa melakukan itu lagi selamanya ! lanjutnya dengan nada tinggi. Ooohhjangan Nona, ampuni kami, kami tidak bersalah ! sekali lagi mereka mengiba-iba sambil merangkak ke depan bermaksud menyembah dibawah kaki Claudia. Ia bangkit berdiri dan berjalan ke depan hendak memanggil prajurit untuk mengebiri kedua budak itu. Dengan wajah sinis ia mengacuhkan permohonan belas kasih keduanya. Ia melangkahkan kakinya hingga memunggungi keduanya. Pengammmhh !! sebelum sempat ia berteriak memanggil prajurit yang berjaga agak jauh di luar sana sebuah tangan kokoh sudah membekap mulutnya dari belakang. Claudia kaget sekali dengan sergapan mendadak itu, ia meronta sekuat-kuatnya berusaha melepaskan diri. Sia-sia, tenaga seorang gadis sepertinya bukanlah tandingan tenaga budak yang terbiasa melakukan kerja kasar. Pyankhi maju ke depan dan menyeringai mengerikan. Claudia yang matanya mulai berkaca-kaca menggeleng kepala seolah berkata, janganjangan mendekat, lepaskan aku ! Maaf Nona, anda tidak memberi kami pilihan sehingga kami terpaksa melakukan ini ! katanya sambil meraih bahu gadis itu. Bret ! dengan satu sentakkan kuat robeklah gaun itu pada sisi kanannya sehingga payudara kanannya terekspos seketika. Mata kedua budak itu seperti mau copot melihat keindahan payudara nona majikannya yang montok, kencang dan berputing kemerahan itu. Sementara air mata Claudia meleleh dari pelupuk matanya membasahi pipinya, ia tidak menyangka mereka berani melakukan hal ini padanya. Pyankhi memakai robekan baju Claudia untuk mengikat mulutnya, dengan demikian Kasha melepaskan bekapannya terhadap mulut Claudia dan dapat lebih erat menelikung lengannya sehingga membuat Claudia meringis kesakitan dan menjerit, namun jeritan itu teredam oleh sobekan baju yang mengikat mulutnya. Kami tahu hukumannya walau tidak mati tapi dikebiri yang lebih kejam dari kematian itu sendiri, maka kami lebih memilih dapat mencicipi tubuh Nona dulu sebelum dihukum, toh kalaupun harus mati kami tidak akan menyesal karena kami sudah tidak punya keluarga lagi kata Kasha dekat telinganya. Nyali Claudia kian ciut melihat tatapan penuh nafsu mereka yang akan segera memperkosanya. Rontaannya makin lemah apalagi semakin meronta justru semakin sakit akibat tangannya ditelikung oleh Kasha dari belakangnya. Pyankhi yang didepannya mulai menciumi pipi, leher dan telinganya membuatnya bergidik. Ia juga merasa roknya diangkat sehingga angin menerpa pahanya yang mulus, sebuah tangan kasar lalu membelai paha itu dari belakang. Belaian itu mau tidak mau membuat darahnya berdesir. Hhhmmbener-bener toked yang montok ! kata Pyankhi meremas payudara kanan Claudia yang tersingkap. Sementara itu tangan Kasha meraba makin dalam hingga menyentuh vagina Claudia yang masih tertutup celana dalamnya. Ia mendesah tertahan saat jari-jari tangan yang besar itu menggosok belahan kemaluannya dari luar. Pyankhi juga kini memeluk tubuhnya sambil tangannya terus menggerayangi payudaranya. Kedua budak itu telah mendekapnya dari depan dan belakang sehingga membuatnya merasa sesak dan dapat merasakan bau badan mereka yang maskulin. Diperlakukan demikian, perlahan Claudia mulai lemas, rasa nikmat pada vaginanya yang digesek-gesek dan

payudaranya yang diremasi membuatnya tak mampu berontak lagi. Ketika tangan Kasha menyusup ke dalam celana dalamnya, rasa nikmat itu makin membuatnya tak berdaya, tubuhnya bergetar menerima rangsangan-rangsangan itu. Meskipun kini Kasha telah melepaskan tangannya yang tadi ditelikung, Claudia tidak berontak seperti tadi lagi, ia hanya mendorong tanganya ke dada bidang Pyankhi yang mendekapnya dari depan dengan setengah hati. Melihat Claudia kian takluk, Pyankhi makin berani, ia menarik lepas simpul pada tali pinggangnya lalu menurunkan bagian gaun yang masih menggantung di bahu kirinya sehingga gaun itu melorot jatuh. Pakaian yang masih tersisa di tubuh gadis itu kini tinggal celana dalamnya saja, itupun sudah setengah melorot. Mata kedua budak itu melolot memandangi tubuh polos nona majikan mereka, sungguh putih dan mulus bak pualam, sepasang payudaranya yang tegak begitu kenyal dan lembut seperti kulit bayi. Valeria memang mewariskan kecantikannya itu pada putri semata wayangnya ini. Sentuhan-sentuhan erotis mereka mau tak mau membuat darah Claudia bergolak. Ia merasakan seperti ada getaran-getaran listrik ketika Pyankhi membungkuk sambil menyedoti payudaranya, terkadang gigi budak hitam itu menggigiti kecil putingnya sehingga meningkatkan rangsangannya. Mmmmmmpphhh ! terdengar erangan Claudia yang teredam sobekan pakaian yang mengikat mulutnya. Sementara di belakangnya, Kasha sedang menciumi leher dan pipinya, tangannya yang kekar itu mempermainkan payudara yang satunya dan tangan lainnya mengobok-obok celana dalamnya. Kasha merasakan vagina majikannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu sudah mulai basah akibat permainan jarinya. Mereka kemudian menyeret tubuh Claudia yang sudah pasrah dan lemas karena terangsang itu ke dipan terdekat, tempat biasa tamu membaringkan diri ketika sedang diadakan perjamuan. Kasha terlebih dulu naik ke dipan berlapis bantalan empuk itu lalu menaikkan tubuh Claudia ke atasnya. Pyankhi membuka pakaiannya yang terbuat dari kain kasar. Ketika terakhir ia membuka cawatnya, mata Claudia terbelakak melihat penis hitam yang sudah ereksi penuh itu. Badan budak hitam itu begitu kekar dan berotot seperti patung-patung Romawi yang menghiasi beberapa sudut ruangan itu, tapi yang lebih membuatnya terhenyak adalah penisnya yang kali ini dilihatnya dengan lebih jelas, ukurannya begitu besar dengan urat-uratnya yang menonjol seperti akar pohon. Mengerikan tapi juga membakar libidonya, pantas saja mamanya mendesah demikian nikmat dibuatnya. Setelah membuka pakaiannya ia menghampiri Claudia dan menarik lepas celana dalam gadis itu. Claudia sudah pasrah sehingga tanpa sadar bergerak secara refleks mempermudah budak itu meloloskan pakaian terakhirnya yang tersisa. Demi para dewa ! sungguh anugerah yang tak ternilai bisa menikmati yang seperti ini ! Pyankhi berdecak kagum mengagumi kepolosan tubuh Claudia. Walau harus mati setelah ini kami tak menyesal, sungguh maaf sekali Nona, kami sudah terlalu lancang kata Kasha, tapi kami tidak punya pilihan lain Pyankhi ikut naik ke dipan dan berlutut di antara kedua paha Claudia, ia lalu membungkuk dan mengarahkan wajahnya ke vagina gadis itu. Kasha yang lebih muda sepertinya mengerti sehingga ia menarik tangannya membiarkan Pyankhi mencicipi vagina Claudia. Pyankhi tertawa-tawa mengelusi paha mulus Claudia sambil sesekali menjilatinya. Pipi Claudia bersemu merah karena terangsang dan malu organ kewanitaannya dipelototi demikian, ia berusaha merapatkan pahanya tapi tidak bisa karena dipegangi oleh budak itu. Nafas pria itu yang mendengus-dengus makin terasa

membelai vaginanya. Eemmhh ! desahan tertahan keluar dari mulutnya ketika lidah Pyankhi menyentuh bibir vaginanya. Lidah budak hitam itu menjilati bibir vaginanya dan semenit kemudian menyusup masuk ke dalamnya untuk mencicipi lebih jauh. Tentu dengan rangsangan itu tubuh Claudia yang sedang didekap Kasha menggeliat liar. Claudia makin diamuk birahi, ia sudah memasrahkan dirinya pada kedua budak hitamnya itu. Tangannya mendorong-dorong kepala Pyankhi yang sedang asyik melumat vaginanya, namun itu bukanlah penolakan melainkan hanya melampiaskan kegelian nikmat yang diberikan Pyankhi, ia juga tidak berusaha mengatupkan paha walaupun pria itu sudah tidak memeganginya lagi. Yakin Claudia sudah takluk, Kasha memberanikan diri membuka ikatan mulut gadis itu. Sebenarnya saat itu bisa saja ia menjerit sekuat tenaga dan kabur, tapi entah mengapa ia enggan melakukannya, birahi telah menghanyutkannya ke tengah lautan nafsu sehingga untuk kembali tidak semudah itu. Selain itu kekecewaannya yang mendalam pada mamanya juga membawanya pada penyerahan diri, ia merasa kehilangan panutan dari orang tua yang selama ini dihormatinya sehingga tidak perlu lagi mempertahankan harga diri dan derajatnya, ia ingin melampiaskan kekesalannya dengan perbuatan yang sama dengan mamanya itu. Lagipula toh kegilaan seperti ini juga berlangsung di istana, pusat pemerintahan itu. Memang Kaisar Octavianus Agustus (63 SM-14 M), pendahulu dan ayah tiri Tiberius telah menetapkan undang-undang yang mengatur tentang kesusilaan dan ia juga memberi contoh dari keluarganya sendiri dengan mengasingkan putrinya, Julia, yang terlibat sejumlah skandal seks. Namun toh undang-undang itu hanya menyentuh rakyat jelata saja, sedangkan kebanyakan golongan atas masih tetap hidup dalam kebejatan moral. Remasan pada kedua payudaranya dan lidah Pyankhi yang mengais-ngais liang vaginanya membuat libido Claudia semakin naik. Aahhoohhjangan, lepaskan saya mmmhhaaahh ! desah gadis itu, mulutnya berkata jangan karena masih malu mengakui dirinya terbuai, namun tubuh dan hati kecilnya menginginkan semua itu berlanjut. Nona sekarang nikmati saja, setelah ini terserah anda kami mau diapakan kata Kasha dekat telinganya. Claudia dapat merasakan penis Kasha yang sudah mengeras itu menekan punggungnya, tangannya dari tadi meremas payudara sambil sesekali menjelajah lekuk tubuh lainnya. Bibir tebal pria itu menciumi pundak dan lehernya yang jenjang. Terkadang lidahnya bermain di telinga gadis itu membuatnya kegelian dan makin terbuai. Sementara di bawah sana, Pyankhi semakin liar menjilati vaginanya, ia menemukan klitorisnya dan memainkan lidahnya di area sensitif itu sehingga Claudia semakin tak sanggup menahan diri lagi. Tak lama kemudian ia merasakan tubuhnya menegang tak terkendali dan ia tak bisa menahan cairan yang keluar dari vaginanya yang langsung dihisap dengan bernafsu oleh Pyankhi. Perasaan nikmat itu berlangsung hingga beberapa detik lamanya sebelum tubuhnya lemas, nafasnya tersenggal-senggal, ia tak bisa menyangkal bahwa ia sangat menikmati orgasme pertamanya tadi, ia bingung apakah harus marah pada mereka yang berani selancang ini terhadapnya atau harus berterima kasih karena memberinya pengalaman sensasional ini. Ia sungguh bingung hingga tak sanggup berkata apapun selain menatap Pyankhi yang sedang menjilati sisa-sisa cairan orgasmenya dengan tatapan sendu, seolah ia ingin memintanya lagi tapi tidak berani mengutarakannya terang-

terangan. Hhmmsedap, terima kasih Nona, hamba yang hina ini akhirnya bisa merasakan memek terbaik di Roma kata Pyankhi setelah puas menjilati vagina Claudia. Tolong jangan kasar, saya baru pertama kali sahut Claudia. Kasha menyuruh Claudia bergeser dikit lalu ia turun dari pembaringan itu untuk melepas pakaiannya. Sekali lagi Claudia terhenyak ketika melihat penis Kasha, ukurannya mirip dengan temannya itu dan sama-sama hitam berurat. Ohgila besar sekali, inikah yang akan segera menjebol vaginaku ? kata Claudia dalam hati sambil menatap takjub. Sebaliknya mereka pun memandangi tubuh nona majikan mereka yang hanya tinggal memakai beberapa asesoris saja seperti tiara yang masih terpasang di atas kepalanya, seuntai kalung emas, dan gelang bersepuh emas yang melingkari lengan atas kirinya. Pyankhi meraih lengan Claudia yang masih bengong sambil duduk bersimpuh dan meletakkannya di penisnya. Coba Nona genggam punya saya ini, gerakkan tangan Nona naik turun supaya enak katanya seperti sedang mengajari. Claudia meskipun masih ragu mulai mengikuti pengarahan budaknya, ia mengocok pelan benda itu. Ia merasakan kerasnya benda itu dan urat-urat yang menonjol itu. Pyankhi mendesis nikmat menikmati kelembutan tangan Claudia yang memijati penisnya. Kasha kembali naik ke pembaringan ia mengambil tempat di sisi nona majikannya. Diraihnya dagu gadis itu seraya mendekatkan wajahnya. Bibir mungil Claudia pun bertemu dengan bibirnya yang tebal. Claudia membiarkan lidah budak itu masuk ke mulutnya serta menyapu rongga di dalamnya. Mulanya ia pasif saja, namun lama-lama lidahnya pun mulai ikut bermain dengan lidah pria itu. Seiring ciumannya yang makin panas, kocokannya terhadap penis Pyankhi pun makin cepat sehingga budak itu mengerang keenakan dibuatnya. Pyankhi yang tidak tahan lagi melepaskan kocokan Claudia pada penisnya, lalu ia menarik kedua pergelangan kaki Claudia dan dibentangkannya. Vaginanya yang merekah dan basah itu terlihat jelas olehnya. Kemudian budak itu menempelkan kepala penisnya ke liang itu. Aahhhaduh, pelan-pelan, sayaahhhsaya belum pernah ! Claudia merintih menahan perih, tubuhnya mengejang dan air mata keluar dari pelupuk matanya, ia mencengkram erat tangan Kasha yang sedang memijati payudaranya. Pyankhi tampaknya cukup pengertian, walau nafsunya sudah di ubun-ubun, ia tidak terlalu kasar memperlakukan nona majikannya ini. Agar tidak terlalu sakit, dengan sabar ia melakukan gerakan tarik dorong hingga penisnya sedikit demi sedikit tertancap makin dalam. Kepala penis itu menyentuh suatu lapisan dan terus menekan dan Aakkhh ! Claudia mendesah lebih panjang dan tubuhnya menggelinjang, rupanya Pyankhi baru saja merobek selaput daranya. Kasha kembali melumat bibir Claudia dan memain-mainkan putingnya sehingga disamping rasa sakit pada vaginanya, gadis itu juga merasakan kenikmatan yang lembut sehingga gairahnya tidak padam oleh rasa nyeri. Mengikuti naluri seksualnya, Claudia membalas pagutan Kasha, ia melingkarkan tangan kanannya melingkari leher budak itu. Sementara Pyankhi makin memperdalam tusukannya dan mulai menggenjotnya. Claudia dapat merasakan batang itu berdenyut-denyut dalam vaginanya, urat-uratnya juga terasa sekali bergesekan dengan dinding vaginanya. Demi Venus, inikah rasanya bercinta ?! katanya dalam hati. Claudia mengerang dan menggeliat merasakan sodokan penis hitam Pyankhi. Budak

hitam itupun merasakan betapa nikmat penisnya keluar masuk di antara himpitan vagina nona majikannya yang masih sempit dan baru diperawaninya itu. Ketika sedang enak-enaknya menikmati genjotan Pyankhi, tiba-tiba Kasha memutar wajahnya ke samping dimana penisnya telah menodong tepat di wajahnya. Tolong Nona jilat punya saya ini, saya ingin merasakannya di mulut Nona ! pintanya. Claudia yang sedang dilanda nafsu itu tanpa ragu-ragu menggenggam penis itu dan membuka mulut membiarkan penis itu masuk ke dalamnya. Uuuhhenak Nona, dikulum, iyah gitu, jangan kena giginyammm ! erang Kasha sambil sesekali memberi pengarahan. Claudia mengulum penis itu, walau aromanya tidak enak, tapi dalam kondisi high seperti itu ia tidak terlalu memikirkannya, bahkan mulai terbiasa. Penis itu begitu besar dan panjang sampai mulut Claudia yang mungil tak mampu menampung seluruhnya dan itupun sudah terasa sesak. Ia memaju-mundurkan kepalanya mengisapi penis itu, erangan tertahan terdengar dari mulutnya. Seiring dengan kenikmatan yang memuncak, Pyankhi semakin cepat menyodok-nyodokan penisnya sehingga tubuh Claudia terguncang-guncang. Budak hitam itu menggenjot sambil tangannya meremasi payudara gadis itu yang ikut bergoyang. Claudia tampak menggeliat keenakan sambil mengulum penis Kasha dengan nikmatnya. Oral seks ini adalah yang pertama baginya, tapi nampaknya dia sudah begitu ahli menjilati dan mengisap benda itu sampai pemiliknya melenguh nikmat. Itu dikarenakan sensasi nikmat yang menjalari tubuh Claudia yang menuntut pemuasan sehingga dengan sendirinya tubuhnya bereasi membalas kenikmatan yang diberikan kedua budaknya. Tak lama kemudian Claudia mencapai klimaksnya bersamaan dengan Pyankhi. Claudia melepaskan kulumannya pada penis Kasha karena tidak tahan menahan desah orgasmenya. Di ambang orgasme Pyankhi makin ganas menggenjoti Claudia, demikian pula Claudia yang ikut menggoyang pinggulnya untuk menyambut gelombang orgasme yang segera menerpa. Keduanya akhirnya mengeluarkan desahan panjang ketika tiba di puncak.Claudia merasakan ada cairan hangat yang banyak sekali tertumpah di dalam vaginanya, Pyankhi juga merasakan penisnya makin diremas-remas dan diselubungi cairan yang hangat. Tubuh Claudia melemas kembali setelah mengejang selama beberapa saat, nafasnya terputus-putus dan keringat mulai membasahi tubuh keduanya. Claudia menatap kosong ke langit-langit ruangan itu. Luar biasa, aku tidak bisa menahannya, perasaan apakah tadi itu ? tanyanya pada diri sendiri dalam hati. Secara jujur Claudia sangat menikmati sensasi bagaikan terbang tadi, yang kali ini rasanya jauh lebih nikmat dari yang pertama tadi, terutama karena semburan cairan hangat di dalam itu, ia masih ingin melanjutkan kenikmatan itu, tapi sekali lagi hatinya bergumul apakah pantas kenikmatan ini didapatnya dari golongan budak seperti mereka, padahal sebentar lagi ia akan segera menikah dengan Vitelius, perwira muda yang gagah itu. Ooohhsungguh bingung ia dibuatnya, namun ketika teringat lagi kelakuan mamanya itu, sisi liarnya mulai timbul lagi dengan maksud melampiaskan kekecewaan hatinya. Ia mulai berpikir toh orang-orang lain termasuk mamanya juga pernah melakukan kegilaan ini, kalau sudah telanjur basah begini untuk apa lagi sok suci. Setelah tenaganya dirasa cukup, Claudiapun pelan-pelan mengangkat tubuhnya hingga terduduk di pembaringan itu dengan kaki lurus. Matanya menatap pada Kasha yang sedang menunggu gilirannya, ia melingkarkan tangannya ke leher budak itu dan

wajahnya maju mencium bibir tebalnya. Tanpa melepas ciuman, Kasha menarik kaki Claudia dan membimbingnya naik ke pangkuannya. Uuhhhnngghh ! desah Claudia ketika penis Kasha melesak makin dalam di vaginanya. Sesak sekali penis itu dalam vaginanya yang sempit, berkat cairan kewanitaan yang telah membanjiri selangkangannya, ia tidak merasa seperih waktu diperawani Pyankhi tadi dan sekarang ini nikmatnya lebih terasa. Claudia menggeliat nikmat dan mendesah ketika Kasha menyentak pinggulnya ke atas sehingga penis itu masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya. Keduanya mulai bergoyang pelan sambil berpelukan. Kasha sedang mengenyoti puting kanan Claudia dan tangannya membelai punggungnya yang mulus. Desahan-desahan nikmat keluar dari mulut gadis itu tanpa tertahan, naluri seksualnya telah mengaburkan akal sehatnya. Kini bahkan goyangannya lebih agresif dari Kasha sehingga Kasha menghentikan sentakan pinggulnya membiarkan nona majikannya naik turun sendiri mencari kenikmatannya. Enak sekali Nona, memek Nona benar-benar sempit, lebih sempit dari punya Nyonya, uuhhhwalau saya mati setelah ini saya rela uuhh ! kata Kasha Claudia tidak menghiraukan celoteh Kasha selain terus menggoyang tubuhnya, sesekali mereka mulut mereka saling berpagutan. Pyankhi yang sedang beristirahat memandangi temannya sedang menggumuli nona majikannya sambil memijati penisnya, seringai puas muncul di wajahnya. Buah dada Claudia yang sejak tadi menjadi bulan-bulanan kini sudah basah oleh liur, beberapa bekas gigitan yang memerah juga nampak pada kulitnya yang putih. Helm penis Kasha bagaikan palu godam yang menghantam dan menghancurkan lubang sempit pada bibir vaginanya. Ohhhyahhterushhaahhnikmat! Claudia terus menceracau. Kasha yang semakin terbawa arus kenikmatan juga kini ikut menyentak-nyentak pinggulnya sehingga pembaringan itu ikut bergetar. Ketika mengayunkan pinggulnya otot-otot kekar pada lengan budak hitam itu keluar dan menampakkan keperkasaan tubuhnya, wajah budak hitam itu juga telah basah oleh keringat dan minyak wajah. Kasha dalam usianya yang ke 27 memang sedang dalam puncak kekuatannya. Oh seksi sekali ! kata Claudia dalam hati memandang padanya. Kasha masih belum menunjukkan kelelahan. Mulut, lidah, tangan dan pinggulnya semuanya aktif memberi rangsangan pada gadis itu. Sekitar lima belas menitan akhirnya pertahanan Claudia kembali jebol. Tubuhnya menggeliat hebat sehingga sepasang payudaranya semakin membusung indah di depan wajah Kasha. Vaginanya kembali banjir dan menimbulkan suara decakan setiap kemaluan mereka bertumbukan. Namun Kasha masih terus bersemangat menyentak-nyentak tubuh Claudia yang sudah lemas. Ia membiarkan tubuh Claudia yang telah lemas itu ambruk ke belakang, setelah sedikit merubah posisi menjadi berlutut ia lalu sambil meneruskan genjotannya pada gadis yang sudah terbaring lemas itu sambil memegangi kedua pahanya yang tertekuk. Tak lama kemudian Kasha membalik tubuh Claudia hingga menungging dan kembali menusukkan penisnya. Claudia yang masih kelelahan pasrah saja diperlakukan apapun oleh budaknya itu. Ketika tengah digenjoti oleh Kasha tiba-tiba sebuah tangan mengangkat kepalanya yang tertunduk lemas. Ia menggerakkan mata dan melihat Pyankhi telah berlutut di depannya dengan penis yang sudah tegak lagi menodong ke arah wajahnya. Isep Nonaayo diisep ! perintahnya.

Claudia menggeleng karena masih lelah, tapi Pyankhi terus mendesaknya. Ayolah Nona, saya udah gak tahan, isep aja, saya mau Nona melayani kontol saya ini, saya mau muncrat di mulut Nona, nanti Nona minum peju saya yah ! katanya sambil menahan kepala gadis itu dan tangan satunya menempelkan penis itu ke bibirnya. Gila lancang benar budak ini berani-beraninya memerintah seperti itu padanya, Claudia merasa seperti diinjak-injak harga dirinya oleh perintah Pyankhi. Namun herannya kata-kata melecehkan itu sepertinya mendatangkan sensasi tersendiri seperti sihir yang meluluhkannya, Claudia benar-benar takluk oleh budaknya sendiri. Ditambah genjotan Kasha dibelakangnya, birahi Claudia mulai menggeliat lagi, ia membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk ke mulutnya, hidungnya menghirup aroma sperma dan keringat dari kejantanan itu dan lidahnnya mulai merasakan asin ketika menyentuh ujung batang itu. Kini ia harus melayani dua penis sekaligus pada vagina dan mulutnya, ia tidak pernah membayangkan akan melakukan permainan seks seliar ini dalam pengalaman pertamanya. Betapapun campur-aduknya perasaan Claudia yang jelas saat itu ia sangat menikmati disetubuhi dari dua sisi seperti itu. Ketika Kasha menyodok ke depan penis Pyankhi semakin masuk ke mulutnya dan kadang menyentuh tenggorokannya, hal ini membuat budak Nubia itu makin mengerang keenakan. Erangan tertahan keluar dari mulutnya yang terganjal penis besar itu. Kasha sepertinya akan segera mencapai orgasme, ia semakin cepat menggenjoti Claudia dan semakin kasar meremas payudaranya. Kemudian ia menarik lepas penisnya dan membawanya ke mulut Claudia. Tolong isep yang ini dulu Nona, mau keluar ! pintanya terengah-engah. Claudia menurut saja ketika Kasha menarik kepalanya dan memasukkan penis itu ke mulutnya, ia tetap melayani Pyankhi dengan kocokan tangannya. Ia merasakan aroma cairan kewanitaannya sendiri yang membasahi penis itu. Tidak sampai semenit muncratlah sperma Kasha di mulutnya diiringi erangan panjang si budak hitam itu. Claudia agak kaget menerima semburan itu, baru pertama kali ia merasakan cairan hangat yang kental itu dalam mulutnya, ternyata aromanya lumayan tajam. Cairan itu muncrat begitu deras dan Claudia belum ahli menghisap cairan itu sehingga melelehleleh di pinggir mulutnya, bahkan sebagian muncrat membasahi wajahnya ketika ia melepaskannya dari mulut karena merasa mulutnya kepenuhan. Diminum yah Nona ! kata Kasha sambil menyeka lelehan spermanya pada dagu Claudia dan memasukkannya ke mulut gadis itu. Tak lama kemudian penis Pyankhi yang sedang dikocok Claudia juga menyemprotkan sperma mengenai pipi kanannya. Entah mengapa walau awalnya sempat merasa jijik dengan cairah kental itu, ia malah membuka mulutnya dan memasukkan penis Pyankhi ke mulutnya. Ia menyedot-nyedot penis Pyankhi yang masih mengucurkan spermanya, sementara tangannya mengocok milik Kasha yang semakin menyusut. Itu yang namanya sperma, Nona, itu yang bisa membuat hamil kalau masuk ke rahim ? Pyankhi menjelaskan. Hamil ? tiba-tiba Claudia terkesiap dan kesadarannya sedikit pulih, ia tidak rela hamil dari dari budak Nubia seperti mereka, sejauh inikah nafsu telah menyeretnya sampai ia begitu menikmati dan lupa akibatnya. hamil katamu ? jadi aku akan hamil karena ini ? tanyanya dengan wajah kuatir. Tergantung Nona, apakah sekarang Nona sedang dalam masa subur ? kalau ya kemungkinan besar ya, kalau tidak Nona akan aman Pyankhi melanjutkan penjelasannya.

Aku baru selesai datang bulan empat hari yang lalu, apakah aku akan hamil ? tanya dengan antusias. Kalau begitu Nona aman, selama cairan ini tidak keluar di dalam pada masa subur Nona tidak perlu kuatir semua itu Kasha menjawab. Lega hati Claudia mendengarnya, ia lalu bertanya lagi bagaimana bila cairan itu tertelan. Ditelan juga tidak apa-apa Nona, tidak akan hamil jawab Pyankhi. Claudia pun melanjutkan hisapannya pada kedua penis itu hingga bersih Kedua budak hitam itu sangat puas dan terkulai lemas di pembaringan itu. Claudia terbaring tak berdaya di tengah, buah dadanya naik turun, sperma membasahi sekujur dada dan wajahnya. Dengan jarinya Claudia menyeka sperma di wajah dan dadannya. Nafasnya berangsur-angsur mulai tenang dan teratur lagi. Kalian benar-benar kurang ajar ! ucapnya memecah keheningan dengan geram, kalian telah lancang berzinah dengan istri jenderal dan bahkan memperkosa putrinya. Ini kesalahan yang besar tau ! lanjutnya sambil menggeser tubuh hingga bersandar ke kepala pembaringan. Mereka tertunduk lesu mendengar omelan Claudia, mereka sadar saatnya telah tiba untuk menerima hukuman atas perbuatan mereka. Kami memang salah Nona, sekarang silakan Nona panggil pengawal, kami sudah siap kehilangan nyawa Kasha berkata dengan lesu. Claudia menghela nafas dan menatapi mereka bergantian dengan kesal. Dia sungguh bingung, ada rasa senang dapat melampiaskan kekecewaan hatinya dan karena kenikmatan pertama yang didapatnya dari mereka, namun rasa malu, kesal, dan dilecehkan pun juga dirasakannya. Kaliankalian, tskcepat pergi ! ucapnya dengan berat, pastikan jangan sampai ada yang tahu kejadian ini termasuk mamaku Kasha dan Pyankhi bengong dan saling pandang satu sama lain, Claudia memalingkan muka tidak mau melihat mereka karena rasa malunya. Nonamaksud Nona tanya Pyankhi masih belum jelas. Pergi !! aku bilang pergi ! Claudia setengah menjerit. Kedua budak Nubia itupun buru-buru memungut pakaian masing-masing dan memakainya. Mereka pamitan lalu meninggalkannya sendirian di ruang tamu itu, lega hati mereka karena Claudia ternyata tidak jadi menghukum mereka. Claudia pun dengan hati bimbang memakai kembali pakaiannya yang telah robek sebagian. Robekan itu ia tutupi dengan kain luar longgar seperti selendang yang disebut palla sambil berjalan secepatnya ke kamar untuk berganti pakaian. Untuk menuju ke kamarnya saja ia harus memutar ke koridor yang lebih sepi agar tidak berpapasan dengan budak yang sedang bekerja atau prajurit yang sedang patroli, ia tidak ingin mereka curiga melihat penampilannya yang agak kusut dan pemakaian pallanya yang agak aneh. Setelah mengganti bajunya, ia langsung menuju ke tempat pemandian yang terletak di bagian belakang kompleks rumah dinas itu. Sesampainya disana ia membuka pakaiannya dan turun ke dalam kolam untuk membersihkan diri. Hening sekali suasana di kamar mandi besar itu, yang terdengar hanya percikan air dari pancuran berbentuk kepala singa yang menghadap pintu masuk dan di seberangnya yang membelakangi pintu. Dua buah patung berdiri tegak di kedua sisi kolam yang saling berseberangan di antara beberapa pilar yang menyangga bangunan itu. Tidak banyak rumah-rumah di Roma yang memiliki tempat pemandian seperti ini,

hanya rumah-rumah golongan elite saja yang memiliki kamar mandi pribadi, sedangkan rakyat jelata biasa mandi di tempat pemandian umum atau di sungai. Di kolam itu Claudia merendam dirinya sampai sebatas leher sambil memejamkan mata dan merenungkan kejadian barusan. ### Lima hari berlalu setelah kejadian itu, selama itu Claudia menghindari Kasha dan Pyankhi, ia belum ke tempat pemondokan budak beberapa hari terakhir, padahal selama mamanya masih di luar kota ia seharusnya menginspeksi mereka di belakang, namun tugas itu hanya ia serahkan pada perwira paling senior yang menjaga rumahnya. Valeria telah kembali ke rumah dua hari yang lalu, namun kelihatannya sikap putrinya padanya masih saja dingin, ia selalu berkelit dan mencari-cari alasan ketika Valeria ingin berbicara secara pribadi padanya. Claudia, kamu ini kenapa ? belakangan ini kamu selalu bersikap dingin ke mama. Mama jadi khawatir kata Valeria membelai rambutnya dengan lembut ketika membangunkanya di pagi hari. kamu ada masalah dengan teman kamu ? atau ada orang yang mengecewakan kamu ? Sudahlah Ma, saya sudah besar, jangan perlakukan saya seperti anak-anak terus ! jawabnya agak ketus sambil turun dari ranjang lalu menuju ke baskom air dan membasuh wajahnya. Dengan hati gundah, Valeria masih mengatakan bahwa ia sudah mempersiapkan makanan untuk putrinya itu di ruang makan dengan menu buah-buahan dan keju segar yang dibawa dari kampung. Namun Claudia tidak terlalu menghiraukannya, ia hanya mengucapkan terima kasih dengan tawar dan keluar dari kamarnya meninggalkan Valeria yang menghela nafas panjang dan geleng-geleng kepala. Hari itu Claudia sengaja keluar rumah lagi dan kembali pada sore harinya. Baru saja masuk rumah, ia berpapasan dengan Lidia, budak Yunani berusia 26 tahun, yang biasa mendampingi mamanya. Claudia bertanya pada Lidia yang sepertinya baru saja mau pulang ke pemondokan mengenai keberadaan mamanya. Nyonyatadi dia bilang mau mandi sepertinya sekarang sudah di pemandian, tapi saya disuruhnya pulang saja karena sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi jawab Lidia sopan, Claudia mangut-mangut mendengarnya, eemmkalau tidak ada apaapa lagi saya permisi dulu Nona, saya masih harus mengurus anak saya Lidia memohon pamit dan Claudia mempersilakannya pulang. Claudia merasa ada yang tidak beres, firasatnya mengatakan perselingkuhan itu sedang terulang lagi karena Lidia biasa pulang agak malam dan seringkali ia membantu mamanya menggosok punggung bila sedang mandi. Buru-buru ia menuju ke tempat pemandian untuk memastikan dugaannya, semakin dekat ke tempat itu langkahnya semakin berat dan detak jantungnya makin kencang. Sekitar semeter dari gerbang pemandian yang ditutup itu sekonyong-konyong terdengar suara desahan dari dalam. Ia mengintip dari celah antara dua gerbang itu, ia menelan ludah, kesal sekaligus terangsang melihat mamanya sedang telanjang di dalam kolam bersama kedua budak Nubia itu. Di air yang merendam sebatas dada mereka Kasha sedang memeluk Valeria dari belakang sambil menggenjotnya, sementara Pyankhi sedang mengenyoti dan meremas payudaranya. Valeria nampak menikmati sekali perlakuan keduanya, sesekali ia mengangkat wajah Pyankhi dan berciuman dengannnya. Claudia mendorong gerbang bagian kiri itu hingga terbuka, ia menyeruak masuk

dengan tiba-tiba sehingga membuat mamanya dan kedua budak Nubia itu terkejut. Gak usah berkelit lagi Ma, saya sudah tau semuanya dari dua minggu lalu ! kata Claudia sambil menatap tajam pada mamanya yang refleks menutupi dada dengan tangan. Valeria tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun selain terperangah dengan wajah memerah., tidak ada apapun yang bisa diperbuatnya karena telah tertangkap basah. Kenapa diam ? Mama kaget atau merasa bersalah ? bukannya semua orang juga pernah begini Ma, bahkan di istana kaisar juga ? untuk apa lagi ditutup-tutupi ? suara Claudia meninggi dan bergetar, dan asal mama tau juga, saya pun pernah melakukannya ! tandasnya. Claudiakamuapa kamu bilang ? tanya Valeria dengan gagap dan tak percaya. Kenapa harus begitu kaget Ma? saya sudah besar, apa Mama masih berpikir saya masih hijau soal urusan begituan ? Claudia berkata dengan sinis, justru Mama lah yang terlalu naf, Mama bahkan tidak tahu kalau dua budak yang sedang bersama Mama itu juga pernah melakukannya bersama saya Valeria makin terkejut, kata-kata Claudia yang terakhir itu bagaikan melempar pisau berikutnya ke dadanya yang baru saja tertancap pisau. Ia menatap Pyankhi yang di depannya dengan mata melotot. Pyankhi hanya bisa tertunduk tidak berani menatap mata sang nyonya besar. Belum habis rasa terkejutnya, Claudia sudah memeloroti gaunnya dari kedua bahu hingga gaun itu jatuh ke lantai dan memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang tinggal tertutup celana dalam, lalu ia membungkuk untuk melepaskan celana dalamnya dan melemparnya ke belakang. Setelah tubuhnya polos, Claudia melangkah turun ke kolam dan mendekati mereka. Claudia, mau apa kamu ? tanya Valeria. Saya hanya mau meramaikan acara ini saja Ma, kenapa Mama begitu khawatir? Pyankhi sayang, ayo! katanya seraya meraih lengan kekar Pyankhi, diletakkannya telapak tangan budak itu pada payudaranya. Pyankhi meremas payudara itu dengan lembut, tangan satunya mengelus pipi mulus gadis itu, wajah mereka saling mendekat hingga bibir keduanya bertemu dan berpagutan dengan panas. PyankhiClaudiahentikan itu, aahhlepaskan, lepaskan aku Kasha ! kata Valeria sambil meronta ingin melepaskan diri dari pelukan Kasha. Namun Kasha yang melihat situasi mulai memanas lagi memeluk erat Valeria dan meneruskan genjotannya. Kashaaahhlepaskanaahhaahh ! desah Valeria menahan nikmat dari gesekan penis besar budak hitam itu dengan dinding vaginanya. Disetubuhi sambil melihat putrinya bercumbu dan digerayangi budaknya, birahi Valeria kembali membara bercampur dengan penyesalan dan rasa bersalah karena telah menyebabkan anaknya ikut terjerumus. Maaf Ma, bukankah Mama bilang seorang anak harus mencontoh orang tuanya, jadi yang saya lakukan ini hanya mengikuti teladan yang Mama berikan, mmhh ! kata Claudia lagi ketika mulut Pyankhi turun menjilati leher jenjangnya. Valeria semakin tidak bisa apa-apa lagi mendengar perkataan itu, toh dia juga yang awalnya menyulut api yang kini telah membesar sehingga jilatannya mengenai putrinya. Tidak perlu merasa bersalah Ma, Mama tidak salah, semua orang juga kan melakukan kegilaan seperti ini termasuk Kaisar, lagipula saya juga menikmatinya kok lanjut Claudia.

Claudia lalu mengajak Pyankhi ke tempat yang lebih dangkal yang hanya merendam sebatas lutut. Disana ia berlutut dan jari-jari lentiknya menggenggam penis hitam itu. Lidahnya mulai menjilati benda itu mulai dari pelirnya lalu terus naik hingga ke kepala penis. Jilatan dan kocokan tangannya membuat budak hitam itu melenguh nikmat. Sambil menjilat, Claudia menggerakkan bola matanya melihat ke arah mamanya yang menatapnya dengan mata sendu, ia juga sedang menikmati sodokansodokan Kasha sehingga pasrah saja. Kemudian ia membuka lebar-lebar mulutnya dan memasukkan penis itu ke dalamnya. Uuhhhenak sekali Nona, yahhhgitu terusshh ! erang Pyankhi sambil memegangi kepala nona majikannya. Claudia menyedoti penis itu dengan kuat sambil tangannya memijati pelirnya, hal itu membuat Pyankhi merem-melek menikmatinya. Sepintas ada rasa malu dalam hati Valeria karena melakukan perbuatan mesum di depan putrinya yang juga ikut dalam kegilaan ini. Namun seiring sodokan Kasha yang makin cepat, nafsunya makin melonjak dan ia merasakan orgasmenya sudah kian dekat. Sensasi kenikmatan itu pun membuatnya makin terhanyut, ia melingkarkan tangannya ke belakang memeluk leher budak itu, bibir mereka bertemu dan berpagutan, air di sekeliling mereka semakin beriak karena goncangan tubuh yang makin dahsyat. Ibu dan anak itu telah terbuai dalam kenikmatan terlarang. Sudah sekitar sepuluh menit Claudia mengoral penis Pyankhi, tapi benda itu masih kokoh tanpa menunjukkan tanda-tanda akan orgasme walaupun pemiliknya terus mengerang dan kadang menyodokkan penis itu hingga menyentuh tenggorokannya. Claudia pun melepaskan kulumannya karena mulut dan lidahnya sudah terasa pegal dijelali penis besar itu. Kemudian ia memutar badan dan bertumpu pada kedua lutut dan telapak tangan menghadapkan pantatnya ke arah budak itu. Ayo Pyankhi, entot aku sepuasmu, tunjukkan padaku keperkasaanmu ! pintanya tanpa malu-malu walau di depan ibunya. Ooohmmhhmmm ! lenguh Claudia ketika penis itu membelah bibir vaginanya. Penis itu akhirnya masuk seluruhnya dan membuat vagina Claudia yang masih sempit itu terasa sesak. Pyankhi dengan ganas mengocok penisnya di dalam vagina Claudia, tangannya yang kasar itu menggerayangi payudara dan pantat gadis itu. Mulut sang budak mengeluarkan erangan nikmat merasakan himpitan vagina itu. Ditariknya kedua lengan gadis itu ke belakang sehingga ia menungging hanya dengan bertumpu pada kedua lutut. Kedua payudara Claudia yang montok itu tergantung bebas dan berayun-ayun mengikuti goyangan badannya. Akhaahhterushhenakaahh! erang Claudia seolah ingin memperlihatkan pada ibunya bahwa ia juga bisa main gila dan kegilaan seperti ini bukan hanya terjadi di Capri, vila tempat Kaisar Tiberius biasa melampiaskan nafsunya, juga bukan hanya di rumah para senat dan bangsawan. Saat itu Valeria menggeliat dan melepaskan lenguhan panjang, rupanya ia telah dilanda orgasme yang dahsyat. Tubuhnya tersentak-sentak dalam dekapan Kasha sampai penis itu terdorong lepas. Kasha membalik tubuh nyonya majikannya lalu memagut bibirnya dengan mesra, Valeria serasa terbang melayang dibuatnya. Ia pun membalas pagutan itu dengan bernafsu, tidak peduli pada putrinya yang juga sedang di ruangan ini. Seiring dengan surutnya gelombang orgasme itu, berangsur-angsur ketegangan tubuhnya mulai berkurang, ia melepas ciumannya dengan budak itu dengan nafas terengah-engah. Kasha yang nafsunya masih membara, mengangkat tubuh Valeria lebih tinggi hingga dadanya tepat di depan wajahnya. Kemudian

dilumatnya payudara itu dengan ganas sambil tangannya meremasi pantatnya. Sambil menyusu Kasha membawa tubuh nyonya majikannya ke tepi kolam, setibanya disana didudukannya wanita itu pada bibir kolam sementara ia sendiri masih di air. Mulut Kasha turun menuju vagina wanita itu. MmmhhKashauuuhhh geli ! erangnya merasakan lidah budak hitam itu membelah kemaluannya dan menggeliat-geliat seperti ular di dalam. Permainan lidah itu menyebabkan libido Valeria kembali naik, apalagi di dekat situ ia juga melihat putrinya sedang disenggamai Pyankhi dalam gaya dogie. Ia memandang putrinya itu dengan mata sayu, Claudia juga mengangkat wajah memandang ibunya, mereka saling pandang di tengah sensasi nikmat seolah berkomunikasi melalui tatapan mata masing-masing. Batin Claudia seolah merasakan ibunya berkata maafkan aku, Valeria pun juga merasakan anaknya seperti berkata, maafkan aku juga Ma telah bersikap kasar belakangan ini. Tubuh Claudia menggelinjang dan erangannya semakin nikmat, ia merasakan otototot dinding vaginanya berkontraksi dengan cepat dan semakin lama semakin nikmat. Nggghhaaahhh !! sebuah lenguhan panjang mengiringinya ke puncak kenikmatan, tubuhnya mengejang selama kurang lebih dua menitan. Melihat putrinya mencapai orgasme dengan begitu nikmatnya, Valeria semakin horny, ia menekan wajah Kasha ke vaginanya dan mengatupkan kedua paha mulusnya mengapit kepalanya. Terusshh Kasha, mmmhhenakjilat aku sepuasmu ! wanita cantik itu mendesah keenakan. Lidah Kasha bergerak-gerak liar menjilati bagian dalam vagina nyonya majikannya, lidah itu juga telah menemukan bagian klitoris yang sensitif. Valeria seperti merasa ada sengatan listrik setiap Kasha memainkan daging kecil itu dengan lidahnya. Ia menggigit bibir dan mengepalkan tangan menahan sensasi luar biasa itu. Setelah sepuluh menit lebih menikmati lidah Kasha pada vaginanya, ia turun ke air dan memeluk budak itu. Kasha menatap wajah nyonya majikannya yang cantik, rambut hitam panjangnya basah terurai, belum lagi wajah cantik khas wanita Romawi dan mata birunya yang sensual itu. Bibirnya yang basah dan indah itu membuat Kasha tidak tahan untuk tidak melumatnya. Merekapun berciuman sambil berpelukan erat sekali. Masukan, aku gak tahan lagi perintah Valeria dengan suara mendesah. Kasha menuruti perintah itu, ia menekan kepala penisnya ke bibir vagina Valeria. Penis itu menerobos masuk membelah vaginanya di dalam air sana. Oohhbesarnya, terus Kashaaku menyukainya, aahh! Valeria semakin mengerang tak karuan dan mengeluarkan kata-kata erotis yang tidak pernah terucap dalam kesehariannya. Valeria mendesah merasakan penis besar Kasha menyodok-nyodok vaginanya. Budak hitam itu terus menggenjotnya dengan kedua tangan menopang kaki wanita itu sehingga tubuh Valeria melayang di air tanpa menyentuh bumi, hanya punggungnya yang bersandar ke dinding kolam. Erangan nikmatnya sesekali terhambat ketika mulut mereka saling berpagutan. Kasha melepaskan pegangannya pada kaki kanan Valeria, tangannya yang hitam kasar itu merayap di kulit putih mulus Valeria hingga sampai pada payudaranya. Ia meremas payudara wanita itu dengan gemas, jari-jarinya dengan nakal memain-mainkan putingnya hingga makin mengeras. Sementara itu, sekitar tiga meter dari mereka Pyankhi yang masih perkasa sedang asyik berlutut diantara kedua belah paha Claudia dan menusuk-nusuk vagina gadis itu dengan penisnya. Claudia

sedang dalam posisi duduk di kolam dengan menekuk lututnya dan bertumpu dengan telapak tangannya, alat kelamin keduanya beradu di bawah air dan menimbulkan riak di sekitarnya. Nona Claudiauugghhseretnya memek Nonaenaakkhh ! Pyankhi menceracau sambil terus menggenjot vagina gadis itu. Penis Pyankhi makin berkedut-kedut ketika di ambang klimaks, ia menggeram merasakan penisnya seperti diperas di dalam vagina Claudia. Demi dewa-dewaooohh, enak sekali Nona ! budak hitam itu begitu menikmati orgasmenya sampai matanya merem-melek. Kembali Claudia merasakan cairan hangat mengisi vaginanya seperti beberapa hari lalu. Lalu ia rasakan juga penis itu semakin mengecil di vaginanya hingga ditarik keluar oleh pemiliknya. Ceceran cairan putih kental nampak melayang-layang di air ketika Pyankhi mencabut penisnya. Sementara itu pergumulan antara Kasha dan Valeria juga semakin bergairah. Budak hitam itu menyetubuhinya sambil mulutnya menciumi, mulut, leher, dan telinganya. Kedua kaki Valeria melingkari pinggang Kasha seolah ingin ditusuk lebih dalam. Akhirnya Valeria pun tak tahan lagi, tubuhnya mengejang, kuku tangannya mencakar punggung Kasha sambil mengerang panjang, orgasme kali ini sungguh dahsyat apalagi saat itu Kasha terus menyodokan penisnya. Aaarrgghh ! Kasha melenguh kuat sambil menekan penisnya sedalam mungkin di vagina majikannya, penis itu mengeluarkan spermanya mengisi rahim Valeria. Selama beberapa detik lamanya, tubuh mereka mengejang hingga akhirnya melemas. Kaki Valeria terlepas dari pinggang budaknya dengan lemas, ia dapat mendengar suara nafas budak itu yang menderu-deru di dekat telinganya. Kasha memeluk erat majikannya sehingga ia pun dapat merasakan payudara wanita itu menekan-nekan dada bidangnya di tengah nafasnya yang memburu. Perlahan kesadaran Valeria berangsur pulih, ia mengamati sekeliling, putrinya yang sedang beristirahat bersandar di tembok kolam sedang memandanginya, saat itulah rasa malunya mulai timbul lagi, wajahnya memerah dan ia menunduk tidak berani menatap putrinya yang tersenyum kecil padanya. Pyankhi saat itu sedang menyalakan pelita yang menggantung di beberapa sudut ruangan itu berhubung langit di luar mulai gelap. Nyala api dari pelitapelita itu kini memberi penerangan di tempat pemandian itu menambah kesan eksotis pada suasananya. Valeria merasa tatapan mata kosong dari kedua patung yang berdiri tegak pada masing-masing sisi kolam itu sedang terarah padanya menyaksikan perbuatan terlarangnya. Tiba-tiba Kasha merasakan lengan kanannya dirangkul dan sebuah payudara lengan berotot itu. Nona majikannya, Claudia, telah berada di sampingnya dengan tersenyum menggoda padanya dan pada Valeria yang menatap bengong padanya. Ditariknya lengan budak itu yang satunya hingga memeluknya lalu ditariknya wajah kasar itu mendekat padanya, Kasha sendiri bengong melihat tingkah liar nona majikannya itu, hingga bibir mereka bertemu. Claudia memang sengaja melakukan hal itu untuk memanas-manasi ibunya. ClaudiaKasha!! kata Valeria terperangah memandangi putri dan budaknya bercumbu dalam jarak hanya sebahu di hadapannya, meskipun sehari-hari ia terbiasa tegas memerintah, namun kali ini ia tak kuasa melarang mereka, karena dirinya juga sudah kotor, mana mungkin ia melarang sementara dirinya sendiri berbuat yang sama. Berbagai perasaan semakin bercampur aduk dalam hati Valeria melihat keduanya semakin larut dalam gairah. Ia melihat bagaimana lidah mereka saling beradu dan

nafas mereka makin memburu. Tangan Kasha mengelusi punggung, paha dan pantat putrinya, dada mereka saling berhimpitan. Di bawah air sana Claudia meraih penis Pyankhi dan menggenggamnya dengan jari-jari lentiknya, penis itu ternyata sudah bangkit lagi. Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di bahunya, Valeria menoleh ke belakang dan melihat Pyankhi berjongkok di sana sambil nyengir. EmmNyonya mau sama saya ? tanyanya. Valeria tidak tahu harus menjawab bagaimana, matanya sesekali memandang penis Pyankhi yang menggantung dan sudah ereksi lagi, tubuh kekar budak itu memberi kesan seksi padanya. Tanpa berkata apa-apa ia menjulurkan tangan ke arah Pyankhi dan budak itu pun membantunya naik ke atas. Setelah naik ke bibir kolam, Valeria mengusap ke belakang rambut hitamnya dengan kedua tangan. Mata Pyankhi menatap kagum pada tubuh nyonya majikannya yang basah, sungguh ibu dan anak sama-sama memiliki kecantikan bagaikan dewi, wajah Valeria sekilas agak mirip dengan Monica Belluci, aktris Italia terkenal pada masa kini. Tubuh wanita ini walau pernah melahirkan tidak kalah indah dari putrinya, perutnya tetap rata dan tidak ada lipatan lemak, payudaranya yang sedikit lebih besar dari putrinya juga masih kencang dan menggiurkan, juga bulu-bulu hitam lebat yang tumbuh di kemaluannya. Valeria meraba dada bidang Pyankhi sambil perlahan-lahan tubuhnya turun hingga berlutut, lalu diraihnya penis yang telah menegang itu. Tanpa basa-basi lagi ia membuka mulut dan memasukan penis itu ke dalamnya. Budak Nubia itu mengerang nikmat ketika lidah majikannya menjilat kepala penisnya. Valeria yang mulai kembali dikuasai birahi mengemut-emut penis itu, lidahnya terkadang menggelitik lubang kencingnya sehingga tubuh budak itu bergetar dan mulutnya makin menceracau tak karuan. Saking nikmatnya Pyankhi ikut menggerakkan pinggulnya seakan menyetubuhi mulut wanita itu. Tidak sampai sepuluh menit Valeria mengoral penis Pyankhi, ia melepas penis itu dari mulutnya karena merasa penis besar itu membuat mulutnya pegal dan ingin minum. Ia menggandeng tangan Pyankhi dan berjalan menuju ke baki yang diatasnya terletak poci berisi anggur berkualitas. Ia duduk di pinggir kolam menuangkan isi poci ke dalam gelas anggur dan meminumnya. Kau juga haus Pyankhi ? tanyanya yang dijawab budak itu dengan anggukan, kalau begitu mari sini dan ambil bagianmu Pyankhi melongo melihat majikannya menumpahkan anggur itu ke tubuhnya, anggur merah itu mengalir turun dari bahu membasahi payudara, perut dan vaginanya. Valeria sengaja duduk dengan mengatupkan erat sepasang pahanya sehingga minuman itu tertampung di daerah pangkal pahanya. Ayo, kau tunggu apa lagi ? tanyanya dengan suara mendesah yang menggoda. Pyankhi segera merangkak maju menjilati anggur itu mulai dari dadanya, dengan bernafsu ia melumat kedua payudara yang berlumur anggur itu, mulutnya lalu turun ke perut dan menyeruput anggur yang tertampung di pusar, terus turun lagi dan ia benamkan wajahnya di selangkangan wanita itu dimana sebagian besar anggur tertampung. Ssluurpsssrrpp ! demikian bunyinya ketika Pyankhi menyedot anggur itu diantara lipatan paha Valeria. Oohhyah, mmmm ! desahnya merasakan lidah dan bibir budak itu bergerilya di bawah sana. Ketika anggur itu mulai habis, Pyankhi melebarkan paha majikannya dan menjilati sisa-sisanya di liang vagina dan bulu-bulu kemaluannya yang lebat. Sungguh sebuah

cara yang paling erotis dalam menikmati anggur. Habis menikmati lelehan anggur itu, Pyankhi membuka paha majikannya sambil satu tangan memegang penisnya yang terarah ke liang senggama. Valeria memejamkan mata, ia menahan nafas ketika ujung penis raksasa itu menyentuh bibir vaginanya. Eemmhhhuuhh ! desahnya merasakan sedikit demi sedikit penis itu memasuki vaginanya. Tangan Pyankhi mendarat di payudara kirinya dan memberikan remasan lembut, tapi Valeria tetap mengkonsentrasikan kenikmatannya pada penis yang mulai beraksi dengan pelan. Sebentar saja Pyankhi sudah membawanya hanyut dalam lautan birahi, nafasnya makin tidak teratur dan tubuhnya tersentak-sentak setiap pria itu menghujamkan penisnya. Di dekat situ putrinya, Claudia, juga sedang mengarungi lautan kenikmatan bersama Kasha. Claudia menyandarkan sikunya pada dinding kolam dengan pantat agak ke belakang dan Kasha menggenjotnya dari belakang dengan kecepatan cukup tinggi. Sambil menggenjot tangan Kasha bergerilya menjelajahi kemulusan tubuh Claudia, terutama payudaranya yang menggelantung dan pantatnya yang bulat padat. Ohhoohhhaku sudah mau keluarentot aku lebih kuat ! Claudia begitu tak dapat menahan diri sampai harus mengucapkan kata-kata seperti itu. Tak lama kemudian vaginanya berkontraksi dengan cepat mencengkram kuat penis Kasha. Claudia mendapat orgasme yang luar biasa sampai tidak ingat apa-apa lagi selain kenikmatan itu sendiri. Ia mengerang sekuat-kuatnya dengan tubuh mengejang, cairan kemaluannya seperti tertumpah semua dan tercampur dengan air kolam. Ternyata budak itu cukup pengertian juga, ia tahu Claudia sudah kepayahan sehingga ia berhenti menyetubuhinya. Nona mau istirahat dulu? tanyanya Claudia hanya mengangguk lemas, nafasnya sudah putus-putus dan tulang-tulangnya serasa mau copot usai bersetubuh dengan budaknya yang bertenaga kuda itu. Kasha pun membawanya ke daerah dangkal sehingga Claudia bisa duduk berselonjor dengan bersandar ke dinding kolam. Sementara Claudia beristirahat, Kasha yang masih ingin menuntaskan nafsunya menghampiri temannya yang sedang menyetubuhi nyonya majikan mereka. Ia berlutut di samping kepala Valeria, wanita yang nafsunya sudah diubun-ubun itu langsung meraih penis budaknya dan membawanya ke mulut. Sambil merasakan nikmatnya penis Pyankhi menyodoki vaginanya, ia mengulum penis Kasha, sesekali ia mengisapnya dengan kuat hingga benda itu bergetar dan pemiliknya mengerang. Kasha tidak membutuhkan waktu lama untuk menuntaskan hasratnya karena tadi ia sudah cukup lama menyetubuhi Claudia, sehingga sekitar lima menit saja dioral Valeria ia sudah mengejang dan menumpahkan spermanya yang kental di mulut nyonya majikannya. Valeria berusaha mengisap cairan itu namun karena tubuhnya bergoncang-goncang sebagian cairan itu keluar dari mulut membasahi daerah bibirnya. Ia juga sempat membersihkan penis budaknya hingga semprotan spermanya berhenti dan menyusut. Tak lama kemudian Valeria pun mencapai puncak bersama Pyankhi. Pyankhi mengerang sambil meremas payudara Valeria dengan keras sehingga menimbulkan rasa nyeri, namun rasa sakit itu merupakan bagian dari kenikmatan karena saat itu Valeria pun mencapai orgasme. Wanita itu melengkungkan punggungnya, kakinya mengejang dan jari-jarinya tertekuk. Keduanya mengerang dan larut dalam orgasme total, sungguh ini merupakan sebuah kenikmatan seks yang sempurna.

Pyankhi ambruk menindih Valeria yang juga sudah terkulai lemas, penisnya masih tertancap di vagina wanita itu. Dalam sisa-sisa orgasmenya, Valeria menggerakan lidah menjilati sekujur bibirnya yang belepotan sperma Kasha. Valeria baru teringat lagi pada putrinya, dengan sisa-sisa tenaga, ia mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling mencari Claudia. Dilihatnya putrinya ternyata sedang berenang di kolam itu, kini ia berenang mendekatinya. Ia berhenti di sampingnya sambil menatapnya tanpa berbicara. Sudah, kalian keluartinggalkan kami berdua disini ! katanya sambil menepuk punggung Pyankhi yang menindih tubuhnya. Kedua budak itu segera memakai kembali pakaian mereka dan mohon diri. Sebentar, tolong ditambah lagi anggurnya sebelum kalian pulang ! perintahnya lagi sambil menyodorkan poci anggur itu. Mereka pun keluar meninggalkan ibu dan anak itu berdua di sana. Valeria turun ke air, mereka berdiri berhadapan dan matanya saling berpandangan, namun tak satu kata pun terucap dari mulut mereka. Tiba-tiba Valeria maju dan memeluk putrinya itu, dari matanya mengalir sebutir air mata, dibelainya rambut putrinya yang basah itu dengan lembut. Maafkan Mama sayang, ini semua salah Mama sampai kamu terlibat katanya dengan nada bergetar. Saya juga minta maaf Ma, saya mengerti Mama khilaf karena kesepian, saya juga tidak seharusnya menambah susah Mama dengan sikap saya belakangan ini Claudia juga menangis dalam dekapan ibunya, ia tahu bagaimanapun ibunya sangat menyayanginya. Ketika sedang berpelukan dan mencurahkan isi hatinya selama ini, Pyankhi datang dan mengetuk pintu membawa poci yang sudah terisi anggur. Letakan disana dan pulanglah ! perintah Valeria. Setelah Pyakhi pergi mereka mulai saling terbuka mengenai masalah ini sambil berendam dan menikmati anggur. Di ruangan itu, selain suara percakapan mereka yang terdengar hanya percikan air dari pancuran kepala singa. Valeria geram sekali ketika putrinya menceritakan bagaimana mereka awalnya melakukan hal itu padanya dengan cara paksaan atau bisa dibilang pemerkosaan. Namun Claudia menenangkan mamanya, ia mengatakan toh semuanya sudah terjadi dan yang penting sekarang adalah mengambil hikmahnya. Claudia pun mulai mengerti perasaan mamanya yang telah lama ditinggal papanya yang pergi berperang, ia juga mengerti perbedaan antara cinta dan seks. Hubungan mereka yang sempat membeku selama beberapa waktu terakhir pun kembali menghangat. Mereka ngobrol di kolam hingga langit sudah memancarkan cahaya bintang dan bulan sabit menggantung di atas dengan cahayanya yang indah. Setelah membersihkan diri dan berpakaian, merekapun kembali ke kamar dan tidur. Malam itu Claudia tidur di kamar ibunya sambil ngobrol-ngobrol melepas rindu seakan mereka baru bertemu lagi setelah lama berpisah. Malam pun semakin larut hingga akhirnya ia tertidur kelelahan, Valeria mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sebelum ia sendiri tidur. Sejak itu Kasha dan Pyankhi semakin betah bekerja di rumah keluarga Suetonius. Mereka sering mendapat pelayanan seks gratis dari ibu dan anak itu selain makanan dan kebutuhan hidup sebagai budak. Baik Valeria maupun putrinya mulai tenggelam dalam hedonisme liar ala kelas atas Romawi pada saat itu. Hubungan terlarang itu bisa terjadi dimanapun dan kapanpun bila ada kesempatan, di kamar Valeria, kamar Claudia, kolam, ruang baca, bahkan pernah juga di ruang penyembahan yang suci

tempat berdoa dan menaruh persembahan pada dewa. Namun di depan umum ibu dan anak itu tetap menjaga kelakuannya sehingga dimata rakyat Roma mereka nampak tak bercela. ### Jenderal Suetonius kembali ke Roma sebulan lebih setelah pesta orgy di kolam malam itu. Ia, Vitelus, calon menantunya, para perwira lainnya dan juga pasukannya disambut meriah dan dielu-elukan sebagai pahlawan ketika memasuki kota Roma, Kaisar Tiberius menyambut mereka secara pribadi di depan gerbang istana kekaisaran. Kepulangan Suetonius ini memang lebih cepat dari yang dijadwalkan karena mereka telah berhasil meraih kemenangan yang cukup signifikan dari kaum pemberontak Yahudi ekstrim. Barnabas, salah satu bandit dan kepala pemberontak yang berpengaruh telah berhasil diringkus dan dijebloskan ke dalam penjara untuk menunggu hukuman mati. Penangkapan Barnabas ini berakibat jatuhnya moral para pemberontak lain, mereka ketar-ketir dan sebagian menyerahkan diri pada pemerintah pendudukan Romawi sehingga keadaan di Israel sana berangsur-angsur pulih. Pemerintah pusat pun memutuskan menarik sebagian besar pasukan dari sana dan menyisakan beberapa legiun kecil untuk berjaga-jaga, urusan selebihnya atas tanah jajahan itu diserahkan sepenuhnya pada Pontius Pilatus, gubernur jenderal Romawi untuk wilayah Israel dan sekitarnya. Pilatus sendiri masih mengemban tugas yang cukup berat, memang pemberontakan bersenjata relatif sudah berkurang, namun ia masih harus menangani urusan mengenai agama baru yang mulai tersebar di wilayahnya dari pengkhotbah keliling yang berasal dari keluarga tukang kayu. Namun kita tidak akan membahas masalah ini lebih jauh karena bukan itu inti cerita ini. Sejak kepulangan Suetonius, Valeria dan Claudia mengurangi hubungan gelap mereka dengan kedua budaknya, namun mereka masih sesekali melakukannya secara sembunyi-sembunyi atau melakukan hubungan badan secara kilat. Suatu hari Kasha dan Pyankhi dipanggil menghadap Claudia di kamarnya. Claudia sendiri yang membisikan ajakan ini ketika sedang lewat di depan Pyankhi yang ketika itu sedang mengangkut karung terigu ke dapur. Saat itu hari hampir sore dan Suetonis masih belum pulang, biasanya ia agak malam baru tiba di rumah karena kesibukannya. Toktokpintu diketuk saat Claudia sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Iya, sebentar ! sahutnya sambil berlari kecil ke pintu. Pintu dibuka dan kedua budak itu muncul sambil tersenyum-senyum. Nona memanggil kami ? tanya Kasha sambil cengengesan. Iya benar, tapi kalian harus tangkap aku dulu kalau mau menikmatiku ! jawab Claudia dengan senyum menggoda, lalu ia beringut ke belakang menghindari mereka. HeheNona ini tambah nakal aja yah ! kata Pyankhi merasa tertantang. Gadis itu berlari mengitari ranjang dan dengan lincah berkelit ke sisi lain sambil tertawa cekikikan. Tantangan itu membuat mereka semakin bernafsu ingin menangkapnya. Bantal di ranjang sampai berantakan dan kelambu ranjang itu tertarik hingga robek sedikit ketika mereka hendak menangkapnya. Hiyakena kamu, ayo sini hahaha ! Kasha berhasil menangkapnya ketika gadis itu naik ke ranjang ingin menghindar dari Pyankhi yang mengejar dari belakang. Aaaiihh ! jerit Claudia yang terkejut diterkam Kasha. Nona, tolong jaga suaranya, sekeras itu bisa-bisa terdengar kalau ada yang lewat ! budak itu agak kaget mendengar jeritan yang lumayan keras itu.

Hihihimaaf soalnya kamu ngagetin aja sih ! tawanya nakal, Oohhjangan, hentikan, kalian kurang ajar yah ! ia meronta ketika tangan-tangan mereka mulai menggerayanginya. Rontaan Claudia yang disertai penolakan-penolakan justru membakar nafsu mereka. Kasha berusaha mencium bibir Claudia, namun gadis itu terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka tertawa-tawa dan terus berusaha membuka pakaiannya, tangan Kasha berhasil menyingkap bagian roknya sehingga paha mulusnya tersingkap, Pyankhi yang berlutut di sampingnya berusaha menurunkan gaun itu lewat bahunya, namun tangan Claudia terus menghalanginya. HeheheNona ini mau sok malu-malu yah ayo, manis ayo sini ! Kasha baru saja berhasil memegang kedua pergelangan tangan Claudia dan menurunkan wajah hendak menciumnya ketika tiba-tiba brak pintu kamar itu didobrak dari luar. Dalam sekejap tiga orang prajurit menghambur masuk, salah seorang yang membawa tombak langsung menghujamkan senjatanya ke dada Kasha yang baru membalikkan badan dan belum hilang rasa kagetnya. Aaarrrghh ! teriaknya dengan mata melotot sambil memegangi gagang tombak yang menembus dadanya. Prajurit itu menarik kembali tombaknya dan Kasha tersungkur di lantai bersimbah darah. Claudia pun menjerit dan menutup wajah dengan telapak tangan. Claudiakurang ajar ! apa yang kalian lakukan pada putriku ?! jerit Valeria yang tiba-tiba masuk ke kamar dan menunding Pyankhi yang masih terkejut. A-apaapa-apaan ini ? tanya Pyankhi tergagap. Pengawal cepat tangkap dia ! perintah Valeria dengan penuh amarah. Ketiga prajurit itu segera mendekati Pyankhi hendak meringkusnya. Namun budak itu melempar bantal pada mereka dan berusaha kabur. Tidakini fitnah ! jerit Pyankhi seraya mendorong prajurit yang meraih lengannya, didorongnya prajurit itu hingga terdorong ke belakang menubruk temannya. Diambilnya sebuah vas dari meja dan dilemparnya pada mereka, benda itu hampir mengenai prajurit yang menombak Pyankhi tadi kalau saja ia tidak cukup gesit menghindarinya. Dengan panik ia membuka pintu balkon dan terjun ke bawah. Kamar itu terletak di tingkat dua, walaupun tidak terlalu tinggi dan dibawahnya tanah berumput, namun karena panik dan terburu-buru, budak itu terkilir pada jari kakinya ketika mendarat. Ia berusaha kabur dengan langkah agak tertatih-tatih. Prajurit yang berada di kamar meneriakinya dari balkon sehingga dalam waktu singkat ia sudah terkepung para prajurit yang patroli di sekitar taman. Pyankhi sempat melawan ketika hendak ditangkap, namun akhirnya mereka berhasil menangkapnya dan menghujaninya dengan bogem agar ia tidak melawan lagi. Para prajurit yang mendobrak kamar tiba di bawah, di belakang mereka juga nampak Valeria yang berjalan sambil mendekap putrinya yang menangis terisak-isak. Kalian memang bajingan, keluarga kami telah memperlakukan kalian dengan baik, tapi kalian malah membalas air susu dengan air tuba ! Valeria menundingnya dengan marah. Sekejap saja di taman itu telah berkerumun para prajurit dan budak yang sedang bekerja untuk melihat keributan apa yang terjadi. Nyonya kami juga temukan ini di tempat mereka seorang prajurit menyerahkan sebuah kantong kecil berisi perhiasan wanita pada Valeria. Benar-benar menyesal aku memelihara kalian, tidak akan ada ampun bagimu budak hina ! bentak Valeria.

Nyonyaapa maksud semua ini ? ini fitnahandamengapa anda menje aahhhh ! kata-kata itu tidak sempat terselesaikan, ia melihat ke bawah dengan mata terbelakak Semua orang juga kaget dan menahan nafas, termasuk dua prajurit yang menelikung tangannya ke belakang, mereka mundur dengan mulut terperangah, beberapa budak wanita bahkan tidak bisa menahan jeritannya melihat darah yang mengalir. Valeria bergerak cepat meraih gladius (pedang pendek senjata tentara Romawi) yang terselip di pinggang prajurit di dekatnya dan merangsek ke depan menikam budak itu sebelum ia bicara lebih banyak. Ini hukuman atas kelancangan pada putriku ! katanya dengan ekspresi dingin, maaf aku harus melakukan ini lanjutnya dengan berbisik de kat telinganya. Valeria mencabut gladius itu dari perut Pyankhi yang langsung ambruk di kakinya. Darah budak itu membasahi tangan, pakaian dan gladius yang dipegangnya. Valeria lalu mengumumkan dosa-dosa kedua budak itu pada semua yang hadir. Dikatakan bahwa mereka telah mencuri perhiasan dan berusaha memperkosa sebelum kabur. Ia berkata para budak yang menyaksikan agar hal ini dijadikan peringatan bagi siapapun yang mencoba berontak. Ketika Suetonius pulang dan mendengar kabar ini, murkalah ia, pengawasan pada para budaknya diperketat. Beberapa hari kemudian berita ini menyebar ke seluruh kota sehingga pada golongan elite pun memperketat pengawasan mereka terhadap budak-budaknya agar jangan sampai terjadi pemberontakan budak seperti Pemberontakan Spartacus (73-71 SM) pada masa lampau. Sebenarnya Kasha dan Pyankhi memang sengaja dijadikan tumbal oleh Valeria dan putrinya yang mulai merasa tidak nyaman setelah kepulangan Suetonius, mereka takut skandal ini terkuak dan akan menodai reputasi keluarga. Maka diputuskan agar kedua budak yang pernah menjadi mesin pemuas mereka itu harus dihabisi demi mengubur skandal ini. Jeritan Claudia ketika diterkam Kasha adalah sinyal bagi Valeria yang bersembunyi di dekat kamar itu untuk memanggil prajurit di bawah dan perhiasan yang ditemukan di kamar mereka sebenarnya adalah hadiah yang diberikan Valeria pada mereka sebagai upah lembur. Kedua budak itu tidak pernah menyangka hadiah dan ajakan terakhir itu akan menjadi bumerang bagi mereka. Valeria atas perbuatannya membunuh budaknya sempat diadili, namun atas pembelaan suaminya dan beberapa teman ia bebas atas dasar untuk membela diri dari budak yang berontak dan hendak menodai putrinya. Ia bahkan mendapat simpati publik karena telah bertindak sebagai seorang ibu yang membela putrinya yang hampir diperkosa. Skandal yang melibatkan ibu dan anak itu pun terkubur selama-lamanya. --------------------

Nyoblos Caleg ala Dukun Sarmadji


"Din, setelah dua orang ibu-anak itu, aku mau istirahat." kata Dukun Sarmadji dari dalam biliknya usai memberikan susuk pada seorang pasien. Udin bergegas keluar menghampiri dua pasien berikutnya dan mempersilahkan masuk ke ruang praktek Dukun Sarmadji. Dukun Sarmadji adalah dukun yang terkenal di daerah Jawa Timur. Keahliannya sangat tersohor, dari pelet sampai santet. Dari pengelaris sampai jabatan, dia tiada bandingannya. Ruang praktiknya dipenuhi oleh benda-benda pusaka, dan segenap wewangian kemenyan serta sesaji bagi iblis sesembahannya menambah keangkeran dukun berusia 60 tahun dengan jambang lebat

memenuhi wajahnya. Pasien berikutnya adalah Nyonya Dieta dan diantar oleh puterinya Lisa. Nyonya Dieta adalah wanita berumur 45 tahun yang sangat anggun. Dia sengaja datang ke Jawa Timur selain untuk menghadiri resepsi karibnya kemarin, juga mengunjungi Sang Dukun yang sakti mandraguna ini. Sengaja dia minta antar puterinya, karena kesibukan suaminya sebagai pengusaha yang mengharuskan melakukan perjalanan bisnis ke Eropa. Gaun malamnya menambah kecantikan yang tidak pernah pudar dari wanita berparas cantik ini. Di sampingnya adalah puteri sulungnya Lisa yang tercatat sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Menurun dari ibunya, Lisa yang masih 18 tahun ini juga memiliki kecantikan yang tidak kalah dengan Sang Ibu. Gadis ini tampil santai dengan kaos merek Zara yang ketat lengkap dengan jeans hitam yang lekat dengan pahanya yang masih ramping. "Silahkan duduk Nyonya Dieta dan Dik Lisa...." kata Dukun Sarmadji mempersilahkan dua pasien terakhirnya ini untuk duduk di karpet tepat di depan meja praktiknya. Mata sang dukun yang tadinya lelah sontak kembali berbinar. Amboi, cantik benar dua makhluk ini. Mulus, dada montok, dan ah....ternyata tidak cuma mata sang dukun yang berbinar, penis Dukun Sarmadji pun ikut memberikan sinyal soal santapan malam yang indah dari dua wanita cantik ini. Belum sempat dua pasiennya menyembunyikan kekagetan dengan kemampuan Sang Dukun menebak nama-nama mereka. Dukun Sarmadji kembali berkata, "Nyonya Dieta tidak usah kuatir. Nyonya pasti bisa jadi anggota dewan tahun ini....Bukankah begitu yang nyonya inginkan?" "Be..benar...Mbah Dukun. Darimana Mbah tahu maksud saya?" tanya Nyonya Dieta makin kaget sekaligus makin percaya pada kesaktian sang dukun. Nyonya Dieta memang salah satu caleg dari parpol pada pemilu tahun ini. Dan di saat peraturan bukan lagi pada nomor urut, melainkan suara terbanyak, membuat sang nyonya menjadi ketar-ketir. "Hahahaha...iblis, setan dan jin mengetahui semua maksud di hati." kata Dukun Sarmadji bangga. "Tapi, ini tidak gampang, Nyonya...." "Maksud Mbah Dukun? Bagaimana caranya? Apa saja akan saya lakukan untuk itu Mbah." kata Nyonya Dieta tidak sabar. "Aura kharisma Nyonya tertutupi oleh tabir gelap sehingga tidak keluar. Harus ada banyak pengorbanan, dan sesembahan agar itu semua keluar. Tapi itu ada ritualnya, bisa diakali, Nyonya tidak perlu kuatir." Kali ini Dukun Sarmadji mulai ngawur. Semua kalimatnya sengaja dirancang untuk mendapatkan keuntungan dari dua wanita cantik ini. "Kamu dan puterimu harus total mengikuti ritual yang akan saya siapkan. Sanggup?" "Sanggup,Mbah" "Dik Lisa sanggup membantu Mama?" tanya dukun yang sedang horny ini pada puterinya. "Sanggup,Mbah." Sahut Lisa demi sang mama tercintanya. Mulailah Dukun Sarmadji komat-kamit sambil melempar kemenyan pada pembakarannya. Matanya tiba-tiba melotot. Dan suaranya menjadi parau. "Kalian berdua ikut aku ke ruang sebelah....Sebelumnya Nyonya minum air dalam kendi ini. Air suci dari negeri jin Timur Tengah." Dukun Sarmadji menyodorkan kendi yang memang disiapkan khusus, dengan rerempahan yang mengandung unsur perangsang yang sangat kuat.

Niat kotornya sudah mulai dijalankan. Di ruang sebelah ruang praktik utama terdapat gentong besar berisi bunga-bunga aneka macam. Dan sebuah dipan kayu, serta meja kecil di dekatnya. Lebih mirip kamar mandi. Dukun Sarmadji menyuruh Nyonya Dieta masuk mendekati gentong. Dan memberi perintah agar Lisa melihat dari depan pintu ruangan. "Kita mulai dengan pembersihan seluruh tabir itu, Nyonya. Rapal terus mantra ini dalam hati sambil aku mengguyur badan Nyonya....Mojopahit agung, Ratu sesembahan jagad. Hong Silawe,Hong Silawe. " lanjut Sarmadji. Tangannya mengambil gayung di gentong dan mengguyur pada tubuh Nyonya Dieta. Air kembang pun dalam sekejap membasahi baju Nyonya Dieta. Semakin memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh Nyonya ini yang masih ramping dan terjaga. "Edan..ngaceng kontolku rek." batin Dukun Sarmadji. Tangannya yang satu bergerak menggosok tubuh yang sudah basah itu. Dari rambut, dahi, hidung, bibir, leher, dan merambat ke dua gundukan di dada Nyonya Dieta. Sempat Nyonya Dieta terkaget dengan sentuhan tangan kasar sang dukun, tapi buru-buru dia konsentrasi lagi dengan rapalannya. "Bagus terus konsentrasi Nyonya. Jangan sampai gagal, karena akan percuma ritual kita...Sekarang lepas baju Nyonya biar reramuan kembang ini meresap dalam kulit Nyonya." Perintah Dukun Sarmadji yang langsung dituruti oleh Nyonya yang sudah ngebet jadi anggota dewan ini. Nyonya Dieta benar-benar telanjang bulat sekarang. Tubuh putih mulus dengan kulit yang masih kencang. Melihat mangsanya dalam kendali, Dukun Sarmadji semakin berani. Badannya dirapatkan, agar penisnya menempel di belahan pantat Sang Nyonya yang montok. Jemarinya semakin nakal memainkan puting Nyonya Dieta. Terus turun ke sela-sela paha Nyonya Dieta, memainkan vagina Sang Nyonya. Setelah 5 menit, tampak tubuh Nyonya Dieta bergetar, tanda-tanda bahwa ramuan perangsang sudah mulai bekerja. Dukun Sarmadji menuntun Nyonya Dieta ke dipan kayu yang ada di ruangan itu dengan semua letupan birahi yang semakin tidak tertahankan. Perhitungannya, tak lama lagi, Sang Nyonya akan tidak mampu berdiri karena melayang di antara alam sadar dan bawah sadarnya.

Nyonya Dieta Setelah membaringkan mangsanya, Dukun Sarmadji meneruskan rangsangannya. Bibir tebalnya terus mencium seluruh tubuh Sang Nyonya. Wewangian kembang membuat nafsunya semakin tidak tertahankan lagi. Bibir dan lidahnya menyerbu bibir vagina Sang Nyonya. Edan, orang kaya emang beda. Jembutnya aja ditata. Wanginya juga beda, batin Dukun Sarmadji sesaat setelah melihat vagina Nyonya Dieta. Nyonya anggun ini mulai terangsang hebat. Tubuhnya menggeliat-geliat setiap sapuan lidah Sarmadji memutar-mutar klitorisnya. Pantatnya naik turun seakan ingin lidah Dukun Sarmadji tertancap lebih dalam. "Eeeemmm...."Desah Nyonya Dieta penuh kenikmatan. "Ini saatnya." Pikir Dukun Sarmadji membuka pakaian dan celananya dengan buruburu lalu naik ke atas dipan, mengambil posisi di sela paha Dieta. "Apa yang Mbah lakukan pada Mama?"Tiba-tiba semua perhatian Dukun Sarmadji terbelah oleh pertanyaan Lisa. Iya, ada anaknya yang nonton dari tadi. Beda ama ibunya, Lisa tentu saja masih sangat sadar. "Tenang cah ayu. Mamamu harus melakukan ritual tertinggi kharisma asmaradana. Aku harus menyatu lewat persenggamaan untuk membongkar tabir jahat pada Mamamu. Mamamu harus ditolong. Kamu mau pengorbanan Mamamu tidak sia-sia bukan,Nduk?" "Iya,Mbah." "Sekarang diam di situ. Dan bantu perjuangan Mbah dan Mama dengan rapalan tadi...." perintah Dukun Sarmadji sambil mengembalikan konsentrasinya pada penisnya yang sudah berdiri tegak. Urat-urat penisnya semakin membesar, pertanda sudah sangat siap untuk melakukan penetrasi. Kepala penis Dukun Sarmadji yang mirip jamur raksasa berwarna hitam itu kini sudah berada di bibir vagina Nyonya Dieta. Bibir vagina yang sudah basah karena cairan itu merekah saat kepala penis Sang Dukun mulai membelah masuk. Dukun Sarmadji mengatur napasnya. Perjuangannya untuk menembus vagina Nyonya satu ini ternyata cukup sulit. Diameter penisnya terlalu besar untuk vagina Nyonya Dieta. Baru kepala penisnya yang mampu masuk. "Aaaaah...seret juga milikmu,Dieta sayang. penis suamimu payah rupanya. Tahan sedikit ya. Mbah akan beri kenikmatan hebat..." bisik Sarmadji pada telinga Dieta. Di

lingkarkannya tangan gempal Sang Dukun pada pantat montok Nyonya Dieta. Dadanya bersandar pada dua payudara Dieta. Dan dengan hentakan keras, dibantu tekanan tangannya, penis Sarmadji melesak masuk. "Eeeeemmmphmm,...mm..mm."Desah Dieta sambil merem melek. Pengaruh ramuan perangsang plus hentakan tadi rupanya membuat sensasi luar biasa bagi Dieta. Sarmadji pun merasa nikmat luar biasa. Dibanding milik istri mudanya pun, milik Dieta masih lebih legit. Mungkin karena orang kota pandai merawat diri, pikir Sarmadji sambil menikmati pijatan vagina Dieta. "Plok...plok...plok...plak...plak...plak.." suara perut Dukun Sarmadji bertemu kulit putih Dieta. Sesekali Dukun Sarmadji menelan ludahnya sendiri melihat batang besarnya yang hitam pekat keluar masuk vagina Dieta yang putih mulus. Kontras, menimbulkan sensasi yang luar biasa. "Ooooh...Mbah." Dieta mengeluh panjang. Tubuhnya mengejang hebat. Orgasme melanda wanita molek ini rupanya, batin Sarmadji. Terasa cairan hangat mengalir deras membasahi batang penis Sarmadji. Sarmadji mengejamkan matanya menikmati sensasi hebat ini. Ia sengaja membiarkan Dieta menggelinjang dalam orgasmenya. "Sekarang saatnya,sayang. Jurus entotan mautku. 6 isteriku sendiri tidak ada yang bisa tahan..."Bisik Dukun Sarmadji sambil tersenyum setelah melihat orgasme Dieta sudah reda. Sarmadji mulai mempercepat genjotannya. Naik turun tanpa lelah. Pantat Dieta pun mengikuti irama genjotan Dukun Sarmadji. Sesekali sengaja dia tarik penisnya hingga hanya menyisakan kepalanya. Membuat pantat Nyonya Dieta terangkat seakan tidak rela barang besar itu keluar dari vaginanya. Dukun Sarmadji menarik tubuh Dieta hingga mengubah posisi menjadi duduk. Sambil memeluk pinggul Dieta, Sarmadji meneruskan sodokannya. Dieta pun mengimbangi dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Gerakan pantat Dieta membuat penis dukun tua itu seperti diremas-remas. Karena hasratnya yang sudah memuncak. Nyonya Dieta mendorong Sarmadji rebah. Dan kini Nyonya anggun itu mengambil kendali dengan liarnya. Rambut panjangnya terurai berkibar-kibar. Peluhnya membuat kulit putihnya seakan mengkilap. "Hong Silawe,...uuuggh...mmm..mmmph...Hong Silawe...aaaaahhh..." Dalam gerakan liarnya pun Dieta tidak lupa membaca manteranya. Dukun Sarmadji tersenyum dan menikmati itu sebagai pemandangan yang begitu erotis. Dua tangannya meraih dua payudara Dieta yang terayun turun naik. Meremasnya dengan gemas. Sesekali tubuhnya terangkat untuk memberi kesempatan bibirnya mengulum dua puting yang menggoda itu. Nyonya Dieta mengerang dengan hebatnya. Sebuah percumbuan yang hebat ini mungkin baru kali ini dia alami seumur hidupnya. "Ooooohh....ooohh...uuuggh.Hong....aaaaah...Silawe..Ratu...jagaaaad...aaaah" Dieta semakin meracau tak karuan. Tubuhnya mulai tak kuasa kembali menahan kent*tan dahsyat ini. Dieta terus meliuk di atas tubuh tua Sang Dukun. Pantatnya mengayun dengan irama yang semakin kacau. Dan, kedua tangannya memegang rambut panjangnya. "Bagus, sayang...terus rapal.rapal...aaah...rapal..kita sampai bareng, Dietaku....hhhhmmpphh.."Dukun Sarmadji pun merasakan penisnya mulai berkedut. Sambil mencengkram keras pinggul Nyonya Dieta. Dukun Sarmadji membantu mempercepat kocokan dari bawah. Tubuh Dukun Sarmadji mulai menegang. Dan

sambil bangkit mendekap Nyonya Dieta, Dukun Sarmadji mengeluh keras, "Aaaaaaaaagghhh...ghh...Dieta..." "aaaaagggh....mmmmph...mmmp...aaaaah."Nyonya Dieta pun menyambut pelukan Sang Dukun. Tubuhnya bergetar untuk kedua kalinya. Rupanya inilah kali kedua Dieta mendapat orgasme hebat di dipan kayu ini. Badan seksi Nyonya yang anggun ini pun ambruk didekapan Sarmadji yang masih merem melek menikmati sisa orgasmenya dari caleg cantik ini. Dua-tiga menit ia memeluk Dieta, membiarkan penisnya menikmati hangatnya liang peranakan Dieta. Setelah menidurkan Nyonya Dieta yang kelelahan di dipan, Sang Dukun melepaskan penisnya dari vagina Nyonya Dieta. Ia bangkit dari dipan dan menghampiri Lisa yang mandi keringat menyaksikan mamanya disetubuhi dengan hebat tadi. Kaos ketat Lisa yang basah keringat menampakan kemolekan gadis yang baru merekah ini.

Lisa "Hong Silawe...Silawe...mamamu sudah melakukan ritual paling beratnya, Cah Ayu. Biarkan dia istirahat dulu." kata Dukun Sarmadji sambil menggamit tangan Lisa yang masih terpaku dengan apa yang baru dia lihat tadi. Dukun Sarmadji menuju karpet besar di area meja praktiknya. Ia kemudian meneguk air teh dalam gelas seng yang besar di mejanya. Dipandanginya Lisa yang duduk di karpet. Benar-benar sangat cantik daun muda ini. Rambutnya yang dipotong pendek dengan tubuh yang langsing dan padat, memperlihatkan energi muda dari gadis yang sporty ini. Dengan masih telanjang, Dukun Sarmadji mendekati Lisa yang duduk memandangnya. Batang penisnya mulai menegang lagi, ingin merasakan nikmatnya vagina belia ini. "Lisa, dengarkan aku. Tinggal selangkah lagi. Dan semua ritual ini bergantung kamu sebagai puterinya. Kamu ikuti saja perintahku. Kita tuntaskan ritual agung ini.Siaap?" "I...i...ya..Iya Mbah..." Lisa menjawab, gadis ini agak tergagap karena pandangannya yang terfokus pada penis Mbah Dukun yang kembali perkasa. Kilatan bekas cairan

vagina mamanya masih nampak dari batang penis Dukun Sarmadji. "Hong Silawe...Silawe...kemari Nduk. Hisap kontol ini dengan mulutmu. Lakukan dengan benar ya Cah Ayu." perintah Dukun Sarmadji sambil menyodorkan penisnya di depan mulut mungil Lisa yang masih duduk bengong di karpet tebal ruang praktiknya. Lisa masih terdiam terpaku. Dadanya naik turun, dengan nafas masih memburu. Terasa vaginanya basah karena cairan. Ada perasaan aneh menyaksikan pergumulan Mama yang begitu dicintainya dengan lelaki tua itu. Pergumulan itu begitu membuat rasa keingintahuannya muncul, meskipun rasa takut begitu dominan saat ini. Pengalaman pertama yang justru didapatkannya dari mama dan lelaki tua yang lebih pantas menjadi kakeknya itu. "Nduk, ayo, keburu roh gaib yang mau membuka tirai penghalang cita-cita mamamu pergi.." kata Dukun Samardji mendekat. Penisnya yang berdiri begitu tegak dengan urat-urat besar dan warna hitam pekat, terlihat begitu menakutkan bagi sang dara. Bandot tua ini sudah tidak tahan untuk mencicipi tubuh anak kota yang begitu terawat. Begitu putih seperti mamanya. Begitu langsing dan terawat. "Lisa takut Mbah..." desah Lisa perlahan, sambil kedua telapak tangannya saling meremas. Dukun Sarmadji menghela nafasnya. Dia mengelus rambut hitam mangsanya dengan senyum manis. "Tidak usah takut Cah Ayu. Semua tidak menyakitkan. Kamu harus melakukannya sebelum pengorbanan mamamu dan Mbah percuma. Kamu sayang mamamu, bukan?" Sang Dukun pun menebar jebakan mautnya membuat Lisa tidak memiliki pilihan kecuali menganggukkan kepala. Dan dengan sigap, Dukun Sarmadji mendekatkan penisnya di depan bibir mungil itu. "Jangan sampai kena gigi ya Cah Ayu. Kulum, sedot dan pakai lidahmu...begitu ritualnya." Masih dengan ragu-ragu Lisa memegang penis yang hingga begitu besarnya tidak cukup dalam genggamannya. Dukun Sarmadji segera mendorong kepala Lisa maju mundur. "Hong Silawe...Silawe...setan belang, jangkrik monyong....terus Nduk." kata Sarmadji keenakan. Lisa terus mengulum batang penis Sarmadji. Setiap sedotan membuat lelaki bejat itu merem melek. Terkadang, saking tidak sabarnya Sarmadji mendorong terlalu keras hingga separoh batangnya menyodok masuk ke dalam tenggorokan Lisa. Air liur Lisa membasahi hangat penisnya, menggantikan sisa-sisa cairan kemaluan mamanya sendiri. "Hoooo oooh...bener gitu caranya Cah Ayu..." Sarmadji makin kelojotan, batang penisnya semakin membesar sehingga nyaris membuat Lisa kesulitan bernapas tiap kali dukun cabul itu memaksa batangnya memenuhi mulutnya. Tangan Sarmadji meremas-remas rambut pendek Lisa. "Ah, beruntungnya aku. Anak ini cantiiiiik banget. Mirip artis sinetron Agnes Monica. Mungil, namun seksi," pikir Sarmadji. "Sekarang jilati kantong bola kontol Mbah sayang....di situ tempat semua pengasih untuk membuka tirai penghalang Mama..." lanjut Sarmadji. Dan Lisa pun menurut. Dua buah zakar Sarmadji dikulumnya bergantian. Membuatnya tidak kuasa menahan semua kenikmatan ini. Dia pun menjadi semakin bergairah dan bernafsunya.

"Sekarang giliran Mbah...." tanpa ba-bi-bu karena diselimuti nafsunya. Tangan-tangan dan lidah Sarmadji berebutan menjamah tubuh gadis cantik yang baru tumbuhtumbuhnya ini. "Mbah, Lisa malu..." Ketika dua tangan Mbah Sarmadji berusaha melucuti kaos ketatnya. Tangan-tangan mungil Lisa berusaha menahannya. Namun, Sarmadji tidak peduli lagi. Diserangnya ketiak kiri-kanan sang gadis sambil menarik kaosnya. Breeet....terlihatlah dada putih mulus dengan dua gundukan yang indah bentuknya masih dalam perlindungan BH hitam berendanya. Tidak sebesar mamanya memang, tapi bentuknya begitu paripurna, pikir Sarmadji. Belum pernah dijamah laki-laki. Masih bentuk alami yang mengundang tangan-tangan kasarnya meremas dengan gemas. "Demi mamamu sayang....demi mamamu." Sarmadji membaringkan tubuh Lisa yang didera kebingungan dan rasa nikmat yang pertama kali dia rasakan itu ke karpet. Ciuman dukun tua itu memborbardir bibir mungil Lisa, dan seluruh bagian lehernya. Dan dua tangannya yang lebih kuat menarik lepas BH itu dari dua payudara yang ingin disentuhnya langsung. Kulit ketemu kulit. Sarmadji berhenti sejenak. Pemandangan yang luar biasa membuatnya tertegun. Bahkan ketika malam pertamanya saat mengambil kegadisan isteri pertamanya, tidak pernah dia menemukan sensasi sehebat ini. "Hong Silawe...Silawe. Kamu cantik sekali Nduk. Dua payudaramu ini harus disedot untuk mengeluarkan hawa penolong mamamu...." Seperti tak sabar, bibir tebal Sarmadji pun menyerbu dua puting payudara Lisa bergantian. Tangannya pun bergantian meremasnya. Kadang gerakan halus melingkar searah jarum jam di sekitar puting, kadang remasan terhadap semua bagian payudara Sarmadji. "Aaaahh...Mbah." Lisa mulai terhayut dalam permainan Mbah Sarmadji yang begitu membuat dirinya melambung. Dua putingnya sudah mancung karena rangsangan hebat Sang Dukun yang kaya pengalaman ini. Setelah hampir 30 menit dicumbu. Tubuh Lisa menggeliat namun dengan kaki masih terkatup. Sang Mbah pun menggelar serangan kilat tahap berikutnya. Salah satu tangannya mulai mengarah ke selangkangan Lisa. Dibelainya selangkangan gadis itu dari luar. Mulut dan tangan Sarmadji mulai bergeser posisi turun, ke perut dengan dua tangannya masih bergantian memutar-mutar puting Lisa. Lisa pun makin menggelinjang. vaginanya pun semakin basah. "Mbah, sudah jangan Mbah..."Lisa tiba-tiba tercekat dalam sadarnya. Tangannya memegang dua tangan Sarmadji yang sudah berhasil membuka kancing dan resliting celana jeans yang membungkus bagian bawah tubuhnya. Sial, hebat juga kesadaran bocah ini, pikir Sarmadji. Rupanya penaklukannya menjadi tidak mudah sekarang. "Kamu mengacaukan semuanya!!!!" bentak Sarmadji dengan membuat mimik wajah paling angkernya. "Roh marah dan pengorbanan mamamu sia-sia malam ini...Sudahlah, lenyap mimpi mamamu!!!" Lisa yang terduduk sambil meringkuk pada dua pahanya tertegun melihat akting top markotop sang dukun. Perasaan bersalahnya mulai muncul. Diliriknya tubuh mamanya di dipan yang masih mandi peluh karena percintaan hebatnya tadi. "Ah, mama sudah berjuang keras, dan tak pantas aku menghancurkannya," batin Lisa. Melihat lawannya bingung, Sarmadji pun semakin memasang akting cuek dan marah. Dan ia membalikkan badannya menuju meja persembahannya. Lisa pun terlihat mulai panik.

"Maaf,Mbah. Lisa cuma takut. Nggak pernah Lisa seperti ini...."Lisa pun menubruk tubuh Mbah Sarmadji dari belakang. Tak sengaja dua tangan mungil itu bersentuhan dengan penis Mbah yang sudah lapar ini. Sarmadji pun tersenyum..... "Masih bisa diatur asal Lisa benar-benar siap dalam upacara ini. Sekarang Mbah bersila di sini. Lisa berdiri tiga kaki dari posisi Mbah. Lakukan perintah Mbah...." kata Mbah Sarmadji dengan nada tinggi. Lisa menurut. "Apa perintah Mbah...?"Tanya Lisa setelah berada di jarak yang diinginkan Sarmadji. "Kamu bisa menari Nduk? Liukkan tubuhmu, menarilah untuk menggoda sang roh gaib datang lagi.....yak, terus raba badan neng sendiri. Yah, begitu....mulai lepas celana jeans itu!" Sarmadji menikmati ABG cantik ini menari begitu erotisnya, meliukkan pinggulnya yang ramping, dengan dua payudara yang bergantung bebas naik turun mengikuti gerakan Lisa. "Rebahkan tubuhmu di karpet itu,Nduk..." kata Sarmadji lirih sambil menahan nafsunya yang sudah melambung. Tubuh seksi Lisa yang mengkilap basah oleh keringat dan air liur Sarmadji rebah tidak jauh dari Sarmadji. Lelaki tua ini pun merangkak menghampiri ibu jari kaki Lisa. Dengan lembut dikulumnya jari-jari kaki Lisa, terus bibirnya menelusuri betis, dan terus menaiki paha sang dara jelita ini. "Uuuuugh..."Terdengar desisan tertahan dari Lisa. Sarmadji tidak menyia-nyiakan keadaan. Lidahnya pun menyodok-nyodok vagina Lisa yang terlindung dibalik CD hitam berenda itu. Lisa semakin kelojotan. Dan dengan cepat, tangan Sarmadji menarik turun CD Lisa dan melemparnya ke karpet. "Jangan takut Nduk. Semua akan lancar" bisik Sarmadji ketika Lisa menunjukkan keraguan. Selanjutnya, lidah Sarmadji menyibak rambut vagina Lisa yang tertata rapi ini. Menerobos masuk, menjilati klitoris Lisa. Lisa benar-benar melayang menikmati permainan lidah yang dahsyat dari Sang Dukun. Melihat Lisa mulai menggelinjang, Sarmadji terus melanjutkan serangannya. Lidah Sarmadji menusuk-nusuk liang vagina Lisa yang semakin banjir itu. Tanpa bisa mengontrol dirinya, tanpa terasa tangan Lisa sudah menjambak rambut panjang sang dukun. Dan semakin dekat dengan kenikmatan, semakin keras tangan Lisa menarik rambut Sarmadji. "Aaaaaahh...hhh..Mbah.." lenguh Lisa. Tubuhnya bergetar. Perasaan yang luar biasa. Dia mengalami orgasme pertamanya dalam hidupnya sebagai wanita. Sarmadji tersenyum. Dia membiarkan sekian detik Lisa menggelepar dalam kenikmatan. Sarmadji pun merangkak mendekati bibir Lisa, dan menciumnya lembut.

"Sekarang saatnya upacara utama,Nduk. Kamu siap?" Mangsanya terdiam, masih dalam kenikmatan luar biasa yang tidak pernah dirasakannya. Sarmadji pun mengarahkan kepala penisnya yang mirip jamur besar itu di bibir vagina Lisa. Lisa melenguh saat bibir vaginanya membuka perlahan, saat penis raksasa itu mulai menembus vaginanya. "Lisa takut,Mbah..." desis Lisa melihat penis besar yang terasa tidak mungkin bisa masuk ke dalam lubang vaginanya itu. "Sabar Cah Ayu. Sakit cuma di awal. Pengorbanan untuk mamamu..."Sarmadji begitu lihai memainkan perasaan sang dara ini. Dia pun mempersiapkan pergerakan

penisnya. Perlahan kepala penis Sarmadji mulai masuk. "Aaaah...sakiiiiittt...ttt..tt..,Mbah." teriak Lisa. Sarmadji sudah tidak begitu menggubrisnya. Dia dan senjata pamungkasnya sudah begitu sibuk menikmati sensasi menembus keperawanan gadis seksi ini. penis Sarmadji pun terus bergerak pelan namun pasti diiringi rintihan kesakitan Lisa. "Sabar,sayang.....Heeeeeehhh...hhhh..."Mbah Sarmadji pun menghentakkan pinggulnya dengan kekuatan penuh. "Aaaaaahhh.....Mbah...Sakiiiit." Bleeeeessss...seluruh batang penis Sarmadji yang besar itu tenggelam dalam vagina Lisa yang begitu terasa sangat sempit. Air mata Lisa mengalir di sela dua matanya merasakan perih selaput daranya dirobek benda besar yang tidak pernah dibayangkan bisa berada dalam liang vaginannya. Setelah sejenak membiarkan vagina Lisa beradaptasi, Mbah Sarmadji mulai menggoyangkan pantatnya naik turun. Tampak batang besar penis Sarmadji keluar masuk dengan kokohnya. Cairan vagina bercampur darah perawan Lisa. Rapatnya vagina Lisa membuat Dukun sableng ini merem melek menikmati semua kenikmatan yang mungkin sebelumnya hanya bisa didapatkan dalam mimpi. Lisa kelojotan menerima hantaman penis Sarmadji yang terus menerjang tanpa ampun seolah ingin membongkar rapatnya vagina perawan Lisa. Peluh membasahi dua insan yang berjauhan usia itu. "Uuuuugh...hh..eeeemph."Lisa melenguh ketika Mbah Sarmadji menarik tubuhnya dalam posisi duduk. Seperti insting alamiah, tubuh Lisa seakan paham untuk mengambil peran dalam pergumulan posisi ini. Pantat Lisa naik turun, pinggulnya meliuk memperkuat remasan vagina Lisa terhadap batang penis Sarmadji. Sarmadji pun menyambut dari bawah dengan sodokan terhebat penisnya. "Hong Silawe..Silawe...weee...wwweee...wenaaaakkk,Nduk." Sarmadji meracau penuh kenikmatan. 10 menit dalam deru nafas Lisa semakin ga karuan. Tangannya memeluk Sarmadji. "Aaaaahhh...hhh.....hhh..Mbaaaaah.." Lisa orgasme untuk kedua kalinya. Sarmadji menyambut pelukan Lisa dengan lembut. Mengurangi daya sodokan untuk memberikan kesempatan gadis ini menikmati pengalaman orgasme keduanya yang indah, Sarmadji memberi kecupan hangat di bibir gadis cantiknya. "Gimana,Nduk? Siiiiiiap dengan ritual kenikmatan berikutnya sayang?" bisik Sarmadji diiringi anggukan lemah Lisa. Dengan sigap Sarmadji menidurkan tubuh Lisa dengan tetap memegang pinggul gadis cantik itu dengan dua tangannya yang kuat. Lalu ia mengangkat dua kaki Lisa dan meletakkannya ke pundaknya dengan posisi penis masih di dalam liang Lisa. "Eeeeemmphh...phh..aaahh..." Lisa mendesah ketika dalam posisi barunya Mbah Sarmadji mempercepat genjotannya. Semakin cepat batang Sarmadji keluar masuk, diiringi naik turunnya payudara Lisa. Cairan vagina Lisa semakin memberi pelumas bagi rudal raksasa ini untuk mengaduk-aduknya, memaksimalkan kenimatan dua insan itu. "Aaaaaah...enak sekali vaginamu Cah Ayu." bisik Sarmadji sambil meraih puting Lisa dengan bibirnya di sela genjotan itu. Hampir 30 menit Sarmadji tanpa kenal lelah terus menyetubuhi gadis cantik itu. Peluhnya bahkan menetes jatuh di perut langsing Lisa, bercampur dengan keringat sang gadis. Kulit Lisa terlihat semakin mengkilap karena peluh yang membasahi semua bagian tubuhnya. Nafas keduanya saling bersahutan dengan sesekali diiringi erangan penuh kenikmatan.

Hingga entah sodokan yang ke berapa ratus kali, tubuh Lisa kembali mulai menunjukkan tanda-tanda orgasme bakal kembali melanda. "Eeeeergghh..aaaaahh...Mbah...Lisa ga tahan lagi." desah Lisa sambil mencengkram karpet dengan kuku-kuku tangannya. "Saaaabaar, sayang....aaaahh..aahh..Mbah juga mau sampai." Sarmadji mempercepat genjotannya. Urat-urat penisnya berkedut tak mampu dibendungnya. Dengan semua kekuatannya yang tersisa, dihentakkannya penisnya dalam-dalam hingga mentok ke dasar rahim Lisa. Diiringi teriakan orgasme yang dahsyat, "Aaaaaahhhhh......aaaahhh....Lisa....Silawe...Aaahhh..Hoong...Lisaaaa...." Lisa pun mengejang hebat, cairan vaginanya muncrat bertumbukan dengan tumpahan sperma Dukun Sarmadji yang sepertinya memenuhi liang kenikmatannya. Tubuh Sarmadji roboh di atas pelukan Lisa. Lemas, puas, dan nikmat. Sarmadji pelan-pelan mencabut penisnya dari vagina Lisa. Senyuman kemenangannya tersungging di pipinya saat melihat sisa-sisa spermanya menetes keluar dari vagina gadis cantik itu, berbaur dengan cairan vagina dan darah perawan. "Mandilah, di kamar mandi itu. Upacara kita sukses Nduk. Mamamu akan mendapatkan semua yang diinginkannya." kata Sarmadji sambil melemparkan kaos dan jeans pada Lisa yang masih terlentang di karpet. Gadis ini masih tak percaya dengan apa yang dialaminya. Dipungutnya pakaiannya, dan dengan langkah kaki yang masih lemas dia masuk ke bilik kamar mandi di mana sang mama masih lelap dalam kebugilannya. "Gua juga dah dapat yang gua inginkan. Nyoblos memang nikmat, daripada nyoblos di TPS mending nyoblos langsung calegnya hehehe!" kata Sarmadji dalam hatinya sambil ketawa kecil. By: A_Jaswadi

Pendatang Baru di Pulau Mentawai


Selama beberapa bulan setelah kejadian di desa Pak Nur, seakan tiada lagi penghalang akan hubungan terlarang antara Pak Nur dan Reisa.Bu Nur pun seakan merestui hubungan suaminya dan Reisa, malah ia ikut membantu menyiapkan segala sesuatu jika pak Nur akan menggauli Reisa.Hingga sampailah pada saat Reisa mengakhiri masa tugas PTT nya di pulau tersebut. Dengan berat hati dan rasa sedih yang mendalam mereka harus menerima pil pahit hubungan tersebut,apalagi sebelumnya orangtua Reisa telah mempersiapkan agar putrinya kembali menambah ilmunya di bidang medis dengan mengirimkannya ke luar negeri. Padahal pada awalnya Reisa sudah berencana untuk menetap dan bertugas di daerah penuh cinta dan kenangan tersebut,namun keinginan dari orangtuanya tak sanggup ia tolak. Apalagi ia juga kuatir hubungannya dengan pak Nur dan sebelumnya dengan Jonas akan diketahui keluarganya. Maka di akhir masa tugasnya itupun, Reisa tak menolak sekalipun untuk terus disebadani Pak Nur sebagai hadiah dan kenangan untuk perpisahan mereka. Di malam malam terakhir itu, Bu Nur sengaja menyiapkan makanan dan juga perlengkapan untuk membantu menjaga stamina pak Nur dan juga Reisa. Di kamar rumah Reisa, sepanjang siang dan malam hingga pagi hanya terdengar dengus nafas

berat dua anak manusia yang memadu kasih, mereka seakan menghabiskan energi yang tersisa di tubuhnya. Setelah berpisah dengan Reisa, otomatis kehidupan sex pak Nur kembali seperti sedia kala, iapun kembali kepangkuan istrinya dan tentu saja itu merupakan siksaan bagi Bu Nur yang sudah tak muda lagi. Bu Nur seakan tak mampu mengimbangi nafsu dan gairah Pak Nur. Makanya pak Nur sering kembali ke desanya apalagi untuk menyalurkan birahinya kepada gadis-gadis atau wanita bersuami yang ia inginkan. Sebab di desanya tak akan ada yang berani menolak atau menentang titah orang yang amat berpengaruh tersebut. Mengizinkan kepada anak atau istrinya ditiduri Pak Nur merupakan suatu bentuk pengabdian yang amat tinggi di desanya itu. Karena itulah Pak Nur dalam seminggu pasti berada di desanya kira-kira 2-3 hari. *************************

Vira Kenaikan karier merupakan suatu anugerah yang amat tinggi bagi seseorang pekerja keras seperti Haryadi.Sebab selama ini ia sudah berusaha sekuat tenaga mencurahkan segala daya upaya untuk menambah prestasi kerjanya.Haryadi adalah seorang manager operasional sebuah perusahaan perkebunan terkemuka di negeri ini.Di usianya yang masih muda 30 tahun ia telah menduduki posisi yang amat penting dalam bidangnya itu.Haryadi adalah lulusan luar negeri dan atas koneksi omnya makanya ia dapat masuk kedalam perusahaan besar tersebut.Dan juga karena bantuan keluarganya juga Haryadi pun di pertemukan dengan seorang gadis yang bernama Virania Stania yang saat itu masih menjalani masa PTT di sebuah puskesmas di Jakarta, jadi tiada penghalang dari hubungan mereka berdua. Saat itu Vira masih berusia 26 tahun dan juga merupakan dari keluarga berada di kota Jakarta. Vira adalah tipikal gadis kota yang berpendidikan dan hormat kepada semua orang yang ia kenal dan juga terkadang suka tantangan. Selain itu ia juga sangat mengusai adat Jawa yang selalu diajarkan orangtuanya, juga ilmu agama yang sangat kuat. Selain cantik dan berpenampilan menarik, Vira tidaklah terlalu berpikiran sempit dalam berpakaian,ia selalu mengikuti mode dan tren terbaru juga kesopanan berpakaian juga bisa menutup bagian bagian penting di tubuhnya. Sebab sesuai ajaran agamanya, bagian penting di

tubuhnya hanya untuk di lihat dan dinikmati suaminya.Tidak memakan waktu lama, maka resmilah kedua anak manusia ini menjalani kehidupan rumah tangga seutuhnya. Tidak sedikit yang memandang dingin melihat keserasian pasangan muda ini. Meskipun sudah resmi menjadi Nyonya Haryadi, namun Vira tetap menjalani masa PTT nya dengan senang hati. Kini pasangan muda itu resmi menempati rumah pemberian dari kedua orangtuanya untuk mereka tinggali dan membentuk keluarga baru. Hampir setiap malam di dalam kamarnya yang mewah dan luas selalu terdengar percengkramaan kedua anak manusia ini.Awalnya hanya tawa cekikikan lalu terdengar dengus nafas berat dan lirihan suara manusia bersebadan,hingga diakhiri dengusan jerit kepuasan keduanya.

Kedua anak manusia ini menjalani hari harinya dengan amat bahagia, hingga Haryadi pun di beri tanggung jawab untuk mengurus pembukaan perkebunan baru di Pulau Mentawai. Keputusan management tempatnya bekerja seolah membangunkannya dari keasikan menempuh hidup baru di Jakarta yang lancar tanpa hambatan. Demi mengejar karier dan apalagi nantinya posisinya akan naik, maka Haryadi pun menerima promosi dari pihak perusahaan. Apalah artinya berpisah sementara dengan istrinya tercinta untuk beberapa saat, apalagi saat ini sarana trasportasi sudah demikian lancar dan membuatnya tak mempermasalahkannya. Ia masih bisa pulang 2 kali sebulan ke Jakarta atau kalau bisa ia akan bawa istrinya ke pulau, apalagi ia disediakan rumah di pulau tersebut. Keputusan dari perusahaan suaminya itu didukung juga oleh istrinya Vira yang juga sedang menunggu penempatannya bertugas, apalagi Vira juga berkeinginan untuk dapat bertugas di daerah seperti pulau Sumatera karena melihat tingkat kesehatan masyarakat yang amat membutuhkan pelayanan dan juga ia merasa sudah merasa sumpek selama di ibukota Jakarta ini, terlebih lagi semua keluarganya juga sudah berada di Jakarta. Baginya tak masalah untuk sementara terpisah dengan suaminya tercinta, Haryadi. Pertama menginjakkan kakinya di pulau Mentawai, setelah menempuh perjalanan dengan kapal dari pelabuhan Padang, Haryadi mendapat kesan bahwa pulau ini amat indah dan eksotik. Haryadi di dampingi oleh staff cabang yang dari Padang. Selanjutnya ia menuju ke base camp nya yang berada di dalam pulau itu. Sesuai dengan intruksi yang ia peroleh ,bahwa ia harus bisa mendekati tokoh adat di pulau itu. Setelah beberapa hari mendampingi Haryadi, staff dari cabang Padang itu pun kembali ke Padang. Mulailah Haryadi menemui beberapa orang yang ia anggap amat berpengaruh di daerah itu. Salah satu tokoh adat dan yang ia temui adalah Pak Nurfea Sibanglanget. Tanpa menemui halangan mereka bertemu dan berdiskusi dengan cukup akrab dan diselingi canda. Sesuai dengan rencana maka Pak Nur pun bersedia membantu tugas tugas Haryadi untuk membuka lahan di pulau itu. Apalagi lahan tersebut berada di desa adat Pak Nur yang merupakan milik sah suku yang di ketuainya. Haryadipun menemui orang yang tepat untuk diajak kerja sama dan saling menguntungkan. Dengan tangan terbuka Pak Nur siap membantu apapun yang mungkin akan jadi penghalang nantinya.

Awal awal bertugas di pulau itu Haryadi sedikit merasa asing dan agak kesulitan melihat medan yang akan ia jalani, apalagi ia akan sering bepergian ke dalam desa dengan perahu nelayan.Di dampingi oleh Pak Nur, seakan halangan itu dapat berjalan

dengan lancar dan hubungan Haryadi dengan Pak Nur semakin dekat. Begitu juga dengan keluarga Pak Nur. Kini Haryadi biasa dipanggil sudah akrab dengan anak anak dan istri Pak Nur. Pak Nur pun sering mengajaknya makan dan berjalan jalan di pantai itu berkeliling. Melihat keindahan pantai dan alam mentawai membuat Haryadi menceritakannya lewat telepon kepada istrinya bahwa alamnya sangat asli dan masih bersih. Dan suatu saat ia ingin mengajak istrinya Vira untuk datang ke pulau ini. Dalam suatu kesempatan,Yadi diajak Pak Nur ke desanya, kebetulan ia sedang ada pekerjaan ke proyeknya yang juga berada dekat dari desa Pak Nur. Haryadi diajak Pak Nur tinggal di rumahnya seperti tamu tamu lain, Haryadi dilayani dengan sangat baik. Mereka makan makan dan juga minum minuman yang menghangatkan badan sebab di pedalaman itu hawanya sangat dingin sekali. Tak lama kemudian pak Nur pun memanggil seorang gadis dan duduk di sebelahnya. Saat itu Yadi merasa heran, bukankah Pak Nur sudah memiliki istri, lalu kenapa ia berpelukan mesra dengan gadis itu? Pak Nur lalu berkata, Mas Yadi jangan kaget ya, ini sudah biasa lahIstri saya sudah tahu dan tak keberatan katanya. Ia juga menawari Haryadi seorang wanita, namun ia menolak, karena ia masih ingat istrinya di Jakarta. Namun karena mabuk mulai memenuhi kepalanya, maka pikiran sehatpun sudah meninggalkannya. Ia tak menolak saat pak Nur memanggil seorang gadis untuk mendampinginya. Pak Nur juga bilang, Pak Haryadi jangan malu ya, saya maklum aja kan Pak, sudah sebulan ini pisah dengan istri kan?,lagian rahasia Mas Yadi aman koq.kata Pak Nur. Dengan sedikit malu Haryadi mengangguk.Dan dalam pikirannya,ia seakan menerima suguhan itu.Memang Haryadi bukanlah laki laki yang bersih bersih bersih amat, beberapa bulan setelah menikahi Vira ia masih sempat melakukan affair dengan teman kerjanya yang di dasari have fun saja.

Malam semakin larut dan Pak Nur sudah membawa wanita tadi ke kamarnya, begitu juga Haryadi sudah berada di kamar yang berbeda sambil berciuman dan meraba tubuh sang wanita yang bernama Dewi itu. Dewi adalah gadis di desa Pak Nur yang sebelumnya pernah disebadani Pak Nur, malam itu gadis yang berusia 20 tahun itu diminta untuk menemani Haryadi atas permintaan Pak Nur. Pak Nur tahu keinginan Haryadi yang lama tak bertemu istrinya. Dewi merupakan gadis cantik di pulau itu dan amat disayangi Pak Nur karena masih muda dan amat disukai pelayanannya. Selama ini hanya Pak Nur saja yang menggaulinya dan untuk menghormati Haryadi Pak Nur pun tak keberatan gadis kesayangannya dipakai Haryadi. Umpama seekor kucing, tak akan menolak di beri ikan, itulah yang di alami Haryadi. Sedangkan bagi Dewi, itu adalah kali pertama ia bersama laki laki lain setelah Pak Nur. Dewi adalah gadis desa itu amat cantik dan jauh dari polesan kosmetik seperti gadis kota pada umumnya. Haryadi tahu itu dan iapun tertantang untuk mencobanya. Di dalam kamar itu, mulailah Haryadi menggumuli tubuh mulus Dewi. Tampak tak mengalami kesulitan berarti, keduanya kini sudah sama sama bugil. Haryadi meremas remas payudara Dewi yang berukuran kecil itu. Dengus nafas keduanya seakan tak mampu mengalahkan gerakan tangan dan mulut Haryadi pada tubuh mulus Dewi. Sambil

mengulum bibir mungil Dewi, salah satu tangan Haryadi turun ke arah selangkangan Dewi yang masih tertutup celana dalamnya. Liangnya sudah mulai basah oleh lendir yang keluar dari celahnya. Dewi hanya diam dan menutupkan matanya, ia menyerah bulat bulat kepada Haryadi sesuai yang di perintahkan Pak Nur. Aktifitas Haryadi bersamanya pun semakin panas. Haryadi pun semakin intens merangsang setiap inci tubuh gadis itu.Dan kini ia pun telah melepaskan celana dalamnya.Tampak bulu bulu halus milik gadis itu,menutupi liang sanggamanya.Bulu itu amat halus dan rapi. Haryadi pun kini turun ke arah liang sempit milik Dewi lalu berusaha menjilatnya.Ada keinginan yang besar dalam dirinya untuk melakukan oral sex pada Dewi, padahal selama bersama istrinya ia selalu ditolak karena istrinya tidak suka oral sex.

Tanpa merasa jijik seditpun ia terus menjilat liang sempit itu dan menghisap air lendir dari celahnya. Dewi pun semakin terbakar dan hanya bisa memegang pinggiran ranjang kayu di kamar itu. Tak lama kemudian Dewi pun orgasme. Haryadi mengetahui Dewi sudah orgasme dan menjauh dari liang yang ia oral itu. Tubuh Dewi basah bersimbah keringat dan lemah. Haryadi kemudian naik kearah dada Dewi ingin kembali membangkitkan gairah Dewi yang mulai kendor tadi. Ia menyiapkan diri untuk memasuki tubuh Dewi namun saat itu gadis itu sudah orgasme. Belaian dan rabaan Haryadi membuahkan hasil. Dewi kembali bangkit gairahnya dan siap untuk menerima hujaman kemaluan Haryadi. Secara bertahap Haryadi mulai meretas jalan bagi kemaluannya untuk masuk ke liang sempit milik Dewi. Perlahan ia tahan kedua paha Dewi dengan kedua tangannya agar gampang masuknya. Tak sulit memang untuk masuk ke liang milik Dewi karena memang sebelumnya sudah tak perawan lagi dan sering digunakan Pak Nur yang memiliki kemaluan yang panjang dan besar, berbeda dengan milik Haryadi. Perlahan Haryadi memasuki dan memaju mundurkan kemaluannya. Hujaman perlahan dan penuh perasaan itu membuat Dewi seolah terbakar birahi. Dewi menatap kearah Haryadi yang sibuk maju mundurkan kelaminya. Persetubuhan itu berlangsung beberapa saat hingga akhirnya Haryadi pun muncrat di dalam kewanitaan Dewi. Ia tak sanggup untuk mengeluarkannya di luar rahim. Tubuhnya langsung lemas dan jatuh menimpa tubuh mulus Dewi. Kini hanya nafasnya yang terdengar begitu juga Dewi. Malam itu,Haryadi sudah melepaskan birahinya ke tubuh Dewi. Terbayarlah sudah nafsu yang ia tahan selama di pulau itu. Ia pun tertidur pagi harinya di saat terdengar kokok ayam jantan. Haryadi tak menemukan Dewi di sampingnya. Ia lalu keluar kamar dan bertemu pak Nur.Dengan senyum Pak Nur menanyakan bagaimana pelayanan Dewi. Dengan sedikit malu Haryadi menjawab bahwa ia sudah puas dan berterima kasih pada Pak Nur. Pak Nur pun menawarkan pada Haryadi jika mau, Dewi bisa saja ia bawa ke rumah dinasnya,namun Haryadi menolak dengan halus, takut nanti pergunjingan orang di base campnya itu.Namun Pak Nur menjamin bahwa selama di pulau itu ia yang akan jamin akan baik baik saja.namun hari itu, Haryadi belum memberikan jawabanya. Kemudian mereka berdua kembali dari desa itu.

Beberapa minggu kemudian Haryadi pun libur ke Jakarta selama seminggu untuk bertemu keluarganya. Selama di Jakarta, Haryadi dan Vira istrinya tak melewatkan kebersamaan di ranjang, namun sekembalinya dari pulau itu, Vira merasakan sikap

Haryadi yang berubah juga dengan dalam menunaikan kewajibannya sebagai suami istri. Biasanya Vira bisa mendapatkan kepuasan jika berhubungan badan dengan suaminya itu, namun kini ia tak mendapatkannya. Perubahan itu membuat Vira curiga dan ingin tahu lebih banyak tentang aktifitas suaminya di Mentawai. Memang sebenarnya Haryadi selalu menjalin hubungan dengan Dewi semenjak ia melakukan hubungan dengan Dewi di pulau itu hampir setiap ada kesempatan Haryadi selalu minta Pak Nur mengantarnya ke desa untuk bertemu Dewi. Haryadi seolah telah jatuh cinta dengan wanita pulau itu. Sebagai istri, Vira tahu benar apa yang berubah dari sikap suaminya dan kebiasaannya. Kebetulan saat ini Vira sedang menunggu penempatannya sebagai PNS makanya ia tak merasa keberatan ingin ikut suaminya ke Mentawai, apalagi saat pertama kali ke pulau Haryadi sudah menawari Vira ikut ke pulau untuk melihat pantai dan alamnya. Dengan alasan itu Vira ingin ikut suaminya. Awalnya Haryadi menolak keinginan istrinya itu, namun ia kuatir akan menambah penasaran hati Vira, maka ia pun mengijinkannya. Sesampai di Padang mereka istirahat sebentar di sebuah hotel karena kapal yang akan mengangkut mereka berangkat malam nanti. Kebetulan saat itu cuaca agak sedikit buruk. Sore itu mereka pun chek out dari hotel dan sudah berada di pelabuhan Muaro Padang. Suami istri ini pun bersiap siap menaiki kapal karena tiket sudah mereka dapatkan. Mereka berdua pun mendapatkan kelas bisnis dan menempati sebuah kamar di kapal motor itu menuju Mentawai. Selama di atas kapal tampak ketegangan di wajah Vira karena ke pulau itu tak serumit itu. Meski ia amat senang dengan perjalanan laut namun kondisi cuaca dan ombak yang menghempas kapal membuatnya cemas. Namun karena saat itu ia berada bersama suaminya kekuatiran itu bisa ia atasi.

Malam itu pun dimanfaatkan suami istri itu untuk memadu kasih di kamar kapal itu. Dimulai dengan mengulum bibir istrinya dan disambut Vira dengan amat bernafsu sebab sudah lama ia menginginkan saat saat seperti itu bersama suami tercinta. Kuluman demi kuluman dan rabaan tangan Haryadi di dada Vira istrinya terus ia lakukan. Vira pun akhirnya menuruti semua perbuatan suaminya itu. Goyangan kapal tak menghentikan perbuatan suami istri ini. Perlahan tapi pasti elusan rabaan tangan Haryadi mampu membuat Vira melepaskan busana atasnya hingga tersisa Bh nya dan masih memakai celana panjang. Tubuh putih mulusnya dan rambut sebahunya seolah menambah pembakaran birahi Haryadi suaminya. Cupangan dan kuluman Haryadi pun singgah di dada dan perut istrinya yang cantik itu. Begitupun Vira tak tinggal diam sebagai istri ia pun berusaha membalas dan memberikan pelayanan terbaik kepada suaminya. Kedua tubuh suami istri itu akhirnya sama sama bugil dan menampakkan wujud sebagai pasangan resmi yang akan menunaikan kebersamaan ragawi. Tanpa penolakan dan penghalang lagi, keduanya mulai saling memberikan peluang. Vira membuka kedua pahanya yang putih dan kakinya yang panjang itu agar suaminya mendapat akses yang mereka inginkan.Tanpa menunggu lama Haryadi mulai memasuki liang kewanitaan istrinya yang sempit dan belum pernah melahirkan itu. Saat saat itu amat memberi moment yang syahdu bagi keduanya. Apalagi goyangan kapal yang di hempas ombak mampu menambah percikan birahi mereka berdua. Di saat penis Haryadi sudah berada di dalam jepitan vagina Vira dan dalam gerakan maju mundur, Vira merasakan ada yang lain dari aktifitas suaminya itu. Haryadi tiba tiba bergerak melambat dan menumpahkan spermanya di dalam rahimnya.Vira merasa kecewa, sebab ia masih ingin merasakan persenggamaan itu berlangsung agak lama hingga ia mencapai orgasme seperti di saat awal awal mereka

menikah dulu. Vira merasakan perbedaan suaminya itu,semenjak bertugas di pulau itu. Dengan memendam kekecewaan yang dalam Vira tidak memberikan nada protes kepada suaminya itu. Ia hanya diam dan bangun dari tidurnya menuju kamar mandi di kamar itu.

Di kamar mandi Vira membersihkan tubuhnya dan kembali ke dalam kamar dan berpakaian. Ia langsung rebah di samping suaminya. Hingga paginya menjelang kapal bersandar di pelabuhan Tua Pejat, Vira masih memendam rasa penasarannya itu. Haryadi tidak merasakan perbedaan yang terjadi pada dirinya itu. Malah ia merasa senang kembali bisa sampai di pulau itu dan menyusun rencana untuk bertemu Dewi. Ia merasa kan Dewi amat bisa menentramkan dirinya. Di pelabuhan Tua Pejat, Haryadi dan Vira dengan dua buah ojek menuju ke rumahnya.Vira merasa kan memang alam Mentawai amat romantis dan cantik. Dalam perjalanan menuju rumah ia merasa sedikit asing sebab dari pelabuhan menuju rumahnya agak jauh dan menempuh jalan yang tidak mulus dan terbuat dari kerikil tak diaspal. Sesampai di rumahnya Haryadi,menghubungi Pak Nur. Saat dalam rumah, Vira merasakan agak rikuh sebab ia tak menduga sama sekali kehidupan di pulau itu,amat sederhana dan tidak seperti di kota besar seperti Jakarta. Sebagai istri dan nantinya ia juga akan bertugas di daerah, ia harus bisa menerima kondisi dan suasana seperti itu. Memang amat jauh jika di bandingkan dengan kehidupannya di Jakarta yang serba tersedia, baik itu rumah, mobil, atau perlatan dapur semua sudah tersedia. Selama perjalanan tadi Vira hanya menemukan satu salon kecantikan, itupun dia lihat tak layak. Rumah yang ditempati suaminya pun cukup sederhana dan dari beberapa rumah lain yang masih kosong dan tampaknya di sekitarnya hanya inilah yang berpenghuni,apalagi ditumbuhi pohon pohon kelapa.jadi rumah itu tidak panas kalau siang hari dan amat sejuk. Beberapa waktu kemudian,terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumahnya. Haryadi, suaminya bilang itu Pak Nur datang, Sambil membukakan pintu, Haryadi menyilahkan Pak Nur masuk.sambil bersalaman dan berbasa basi, Pak Nur pun duduk di ruang tamu rumahnya sambil berkata-kata Pak Haryadi kesini bersama Ibu..apa iya? Oya..sebentar istri saya sedang di kamar Pak jawab Haryadi.Sambil memanggil istrinya dan masuk ke kamar.

Tak lama kemudian mereka keluar kamar berdua. Tampak Vira keluar bersama Haryadi. Pak Nur terkejut saat Haryadi mengenalkan istrinya. Ini Pak Nur Vir! dengan sedikit senyum Vira mengulurkan tangannya pada Pak Nur. Vira sambil mengucapkan namanya, begitu juga Pak Nur juga mengenalkan dirinya. Pak Nur tak menyangka bahwa Haryadi memiliki seorang istri yang amat cantik, baik,

berpendidikan dan juga rendah hati. Di saat itu, Vira keluar kamar bersama suaminya mengenakan baju kaos putih dan celana pendek yang menampakkan kemulusan kulit dan betisnya yang sangat putih dan bercahaya karena terawat. Saat itu Pak Nur teringat akan kecantikan Dokter Reisa yang dulu pernah dekat dengannya. Apalagi saat itu sosok Vira amat porposional sekali dan mirip artis ibukota. Saat itu Vira mengenakan kaos putih dan membayang bhnya yang putih dan kulit mulusnya. Pak Nur terpancing untuk menghayalkan hal yang tak pantas bagi Vira saat itu. Namun khayalannya terputus di saat Haryadi bilang kepada Vira bahwa Pak Nur inilah orang yang di tuakan dan banyak membantunya selama di pulau ini. Dengan merendah Pak Nur pun bilang bahwa Pak Haryadi pun banyak membantunya dan meringankan beban masyarakat di pulau itu dengan adanya proyek yang di kerjakannya di desanya. Sambil beramah tamah keakraban di antara mereka semakin terjalin dan pada akhir pertemuan itu Pak Nur pun berjanji akan mengenalkan istrinya dan minta istrinya untuk menemani Vira disaat Haryadi bertugas ke proyek di pedalaman pulau. Tak sulit untuk beradaptasi dengan kehidupan barunya di pulau itu meski Vira berencana hanya untuk sementara menjelang Sk nya sebagai tenaga medis turun dan ditempatkan di suatu daerah. Keakraban Vira dan Bu Nur sedikit banyak mempengaruhi pikiran Vira bahwa tugas suaminya di pulau itu amat berat apalagi melihat medan yang amat sulit ditempuh dengan menggunakan perahu masuk ke pedalaman dan tinggal di base camp berhari hari.

Untuk mengisi kekosongan waktunya Vira sering bertandang ke rumah Pak Nur dan terkadang dengan sukarela membantu tugas Bu Nur di puskesmas,apalagi Vira juga seorang dokter.Jadi tidaklah sulit baginya menyesuaikan diri,meski awalnya berat dikarenakan Vira biasa hidup di kota besar dan segala sesuatunya serba berkecukupan.Bu Nur pun amat senang Vira dapat membantu tugas tugasnya yang terasa agak berat sejak di tinggalkan Reisa. Padahal Bu Nur amat berharap Reisa akan menetap di pulau itu.Namun sejak hadirnya Vira,Bu Nur tak kerepotan lagi meski hanya sementara. Di saat saat waktu senggangnya pas Haryadi sudah pulang dari base camp amat membuat Vira gembira sebab ia sering diajak Haryadi jalan ke pantai atau terkadang di bantu Pak Nur berjalan ke pedalaman dengan menggunakan perahu. Terkadang mereka menghabiskan waktu di pantai dan Bu Nur bersama Vira menyuguhkan hidangan barbeque kesukaan Haryadi. Itulah rutinitas Vira sejak di pulau bersama suaminya. Kini Vira sudah dapat menganggap keluarga Bu Nur sebagai keluarganya meski mereka berbeda suku dan keyakinan. Tak jarang Vira tidur di rumah Bu Nur saat suaminya ke base camp. Bu Nur pun amat concernt dengan keyakinan Vira yang juga taat dalam beribadah meski pun tak terlalu fanatik pandangannya, mungkin karena Vira terbiasa hidup di kota besar dan terpelajar. Tak jarang Bu Nur mengingatkan Vira di saat waktu untuk beribadah datang kepadanya. Terkadang Bu Nur sendiri yang tidur di rumah Vira untuk menemani ibu muda itu. Atau jika ada halangan Bu Nur pun minta anak atau Pak Nur yang menemani karena suasana rumah Vira yang agak jauh dan belum ada tetangga itu. Dan semua itu amat membahagiakan Vira selama di pulau itu. Haryadi sendiri tak lagi kuatir jika ia meninggalkan istrinya untuk beberapa hari karena sudah ada yang menjaga dan menemani. Lagipula selama ia ke base camp, Haryadi selalu mendatangi tempat tinggal Dewi untuk memadu kasih berdua dan akhirnya tanpa sepengetahuan Vira, diam diam Haryadi sudah menikah secara adat dengan Dewi dengan di saksikan Pak Nur karena hubungan mereka yang sudah semakin dekat.Mereka menikah secara adat

karena keyakinan mereka berdua berbeda, namun bagi Pak Nur dan orang tua Dewi tak mempermasalahkannya.Yang penting anak mereka sudah memiliki pendamping. Semua rahasia Haryadi di pegang Pak Nur dan Bu Nur agar Vira tak mengetahuinya.

Seringnya Vira tidur di rumah Bu Nur dan juga sebaliknya,membuat hubungan mereka semakin erat dan tak jarang mereka berbincang masalah keluarga mereka,baik mengenai keuangan,sex dan kebiasaan pasangannya. Sejauh ini Bu Nur masih bisa mengikuti dan mendengar keluh kesah Vira yang merasa sikap Haryadi yang agak berubah dan sudah jarang memberinya nafkah bathin. Vira berani bicara mengenai itu karena ia amat percaya pada Bu Nur. Dan dengan sikap keibuan Bu Nur pun memberikan nasehat dan saran agar Vira tak merasa curiga pada suaminya. Suatu malam saat Vira menginap di rumah Bu Nur, matanya tak bisa tidur karena adanya aktifitas di kamar Bu Nur. Malam itu Pak Nur sedang menunaikan tugasnya sebagai suami istri. Vira mendengar dengus dan lirihan nafas juga erangan Bu Nur disaat menanti orgasme juga saat Pak Nur menggumuli istrinya. Erangan dan dengusan suami istri itu seakan memancing Vira untuk mengingat suaminya. Sebagai wanita yang sudah menikah ia tahu persis makna suara suara itu dan saat Bu Nur orgasme. Ia terbayang jika Pak Nur memang masih perkasa,dan kuat. Ia tak menyangka jika dengan sosok yang agak kurus dan sudah paroh baya itu, Pak Nur masih mampu memberikan kepuasan pada Bu Nur. Berbeda dengan dirinya yang kini sudah mulai jarang mendapatkan siraman bathin dari suaminya. Padahal malam malam itu Vira amat butuh belaian dan gumulan suaminya. Pagi disaat bangun dan keluar kamar, ia bertemu Pak Nur yang juga keluar kamar. Sudah bangun ya Bu Vira?sapanya. Ia pak jawab Vira, Bu Nur mana Pak? tanya Vira lagi. Oibu lagi mandi terang Pak Nur yang saat itu terlihat amat cerah dan gembira. Bagaimanapun Pak Nur tahu Vira pasti mendengar dengan jelas kejadian ia dan istrinya malam itu. Namun seolah tak ada apa apa, Pak Nur berlalu dan keluar rumah. Tak lama Bu Nur masuk ke rumah dan dengan rambut yang basah sehabis mandi bertemu Vira. Dengan senyum ia menyapa Vira. Vira seakan merasa iri dengan kebahagiaan pasangan itu. Setelah makan dan mandi pagi itu, Vira pun berangkat ke puskesmas dengan Bu Nur.

Saat waktu agak longgar, Vira pun banyak bertanya tentang rumah tangga pada Bu Nur. Dengan lugas Bu Nur bercerita bahwa suaminya dari pertama kawin sudah begitu dan tak pernah bosan padanya, malah ia yang kewalahan memenuhi keinginan Pak Nur. Dalam hati Vira, berkata alangkah bahagianya Bu Nur ini, seandainya Haryadi seperti Pak Nur alangkah senangnya ia,gumannya dalam hati. Bu Nur tahu kegelisahan Vira dan malam tadi ia dan suami sengaja memancing Vira agar Vira mau membuka rahasianya.Semua itu dilakukan suami istri itu,karena Pak Nur menaruh minat juga pada istri Haryadi itu.Apalagi kini Haryadi juga memiliki seorang wanita di pedalaman.Pak Nur ingin Vira bisa lebih dekat lagi dengannya,dan dengan

bantuan Bu Nur istrinya semua itu bisa berjalan.Bagi Bu Nur jika Vira sudah dekat dengan suaminya, maka tugasnya beratnya di ranjang akan sedikit berkurang. Tanpa sepengetahuan Vira pun ketika Vira menginap di rumah Pak Nur, tak luput dari intaian dari mata Pak Nur, namun Pak Nur masih menahannya dan tak heran jika Pak Nur bersebadan dengan istrinya ia selalu membayangkan Vira yang ia gumuli. Wanita istri Haryadi itu amat membuat Pak Nur kembali bergairah sejak di tinggalkan dokter Reisa. Ia masih merasa segan dan menghormati Haryadi makanya ia hanya masih belum merealisasikannya. Padahal dengan sedikit ilmu sebagai ketua adat yang ia miliki bisa saja Vira bertekuk lutut padanya. Sejauh ini pak Nur belum memakainya. Semakin hari Haryadi semakin asik tinggal di base camp dan sering menginap di rumah Dewi. Ia seakan lupa istrinya ia titip di rumah dinasnya bersama keluarga Pak Nur. Ia percaya istrinya akan baik baik saja disana. Padahal Vira selama di pulau itu merasa amat tak tentram karena suaminya tak selalu berada di sampingnya. Haryadi hanya menemaninya jika akhir minggu dan waktu libur mereka habiskan untuk ke Padang dan membeli keperluan juga perawatan tubuhnya. Sedangkan untuk waktu berdua duaan dan berhubungan suami istri mereka lakukan namun tak membuat Vira puas, Haryadi hanya sebatas menunaikan kewajibannya saja. Bagi Vira kondisi itu masih dalam batas toleransinya apalagi dia seorang dokter tentu merasakan juga beban berat pekerjaan suaminya selama di pedalaman, padahal selama ini suaminya sudah mendapatkan pengganti dirinya di sana.

Haryadi seakan tak memperdulikan istrinya yang cantik dan masih membutuhkannya itu.Apalagi disaat saat malam menjelang tak ada kegiatan yang bisa Vira lakukan selain hanya mengutak atik notebooknya.Dan syukurlah selama itu,ia juga merasa terhibur oleh anak anak Pak Nur yang sering menemaninya di rumah terkadang jalan jalan di pantai atau kalau ada waktu ia juga ditemani Bu Nur.Namun akhir akhir ini Bu Nur tidak bisa lagi menemaninya jalan jalan sore karena anak anaknya butuh di asuh Bu Nur dan semakin rewel. Terkadang ia terpaksa minta bantuan Pak Nur untuk sekedar menemaninya ke pantai atau pulang ke rumah jika pulang dari rumah Bu Nur. Perlahan keakraban Vira dan Pak Nur semakin terjalin sesuai yang di rencanakan Bu Nur dan suaminya itu. Vira tak malu lagi minta dibonceng pulang atau jalan ke pasar untuk membeli kebutuhannya.Pak Nur semakin senang sebab rencananya mulai berjalan lancar,dan sedikit demi sedikit ia pun mulai menggunakan sedikit ilmu pemikatnya. Padahal awal awal dulu dikenalkan suaminya kepada Pak Nur,Vira amat takut dan sedikit kuatir melihat sosoknya yang seperti patung hidup. Sebab selain memang Pak Nur kurang begitu bersih, kulitnya juga dihiasi tatto yang menegaskan bahwa ia adalah seorang laki laki tetua dan di segani di lingkungan pulau itu. Namun karena kebaikan dan pendekatan oleh Haryadi dan penerimaan Vira terhadap sikap bersahabat keluarga itu membuatnya yakin jika Pak Nur amat baik apalagi ia juga sering bermalam di rumah kayu miliknya.Yah meski rumah itu hanya di sekat oleh bilik bilik kayu. Namun Vira merasakan nuansa alami yang belum pernah ia dapatkan di kota Jakarta. Selama ini ia tak merasakan adanya kesan di buat buat dari sikap keluarga Pak Nur ini. Ia dengan senang hati juga membantu keluarga Pak Nur jika kekurangan finansial. Kesan keakraban diantara merekalah yang membuat Vira kerasan di pulau itu, meski sering di tinggal suaminya. Sedangkan suaminya di pedalaman dengan seenakknya tidur dan bermesraan bersama Dewi. Haryadi tidak lagi mengingat Vira jika sudah bersama Dewi. Ia seakan terperangkap dan lupa pada statusnya yang sudah menikah dan memiliki seorang wanita yang sangat cantik dan

setia. Vira pun seakan larut dengan kegiatannya bersama Bu Nur dan sering bermain main dengan anak anak Bu Nur di rumah Bu Nur. Terkadang baru malamnya ia pulang ke rumahnya diantar Pak Nur.Dan setiap hari Pak Nur sudah punya tugas untuk menjemput dan mengantarnya pulang Vira terkadang diantar Bu Nur.

Bu Nur sering bercerita kepada Vira tentang keindahan alam di hutan bakau dan pedalaman pulau itu. Cerita cerita Bu Nur mampu menghilangkan kegelisahan Vira dan pernah diajak Bu Nur untuk ke desa Pak Nur. Sesuai rencana, maka mereka pun berangkat dengan menumpang perahu yang di dayung Pak Nur dengan di bantu pemuda kampung itu. 2 jam perjalanan menggunakan perahu akhirnya mereka sampai di desa itu. Pak Nur dan istrinya juga anak-anaknya berikut Vira menuju rumah panggung milik Pak Nur. Di sana mereka langsung naik ke rumah dan disambut beberapa orang wanita yang salah satunya adalah Dewi. Siang itu juga Pak Nur menyuruh sesorang memanggil Haryadi ke base camp yang tidak jauh dari desa itu. Sorenya, Haryadi sampai juga di rumah Pak Nur. Dengan sedikit kode dari Pak Nur bahwa semuanya aman, Haryadi pun menyambut Vira dengan mesra. Vira tak tahu bahwa di dekatnya ada Dewi wanita istri simpanan suaminya. Setelah mencicipi makanan yang di suguhkan keluarga Pak Nur, akhirnya Vira diajak jalan jalan keliling rumah oleh suaminya. Saat berjalan jalan itu,Vira melihat beberapa rumah panggung masyarakat desa itu banyak memelihara babi. Vira sempat kaget karena merasa kesehatan masyarakat desa itu bisa terganggu jika di bawah rumah mereka ada ternak babi. Namun Haryadi menerangkan bahwa bagi masyarakat di desa tersebut adalah wujud dari status sosialnya. Vira pun mengerti karena diberi tahu suaminya dan dengan hati hati Haryadi pun bilang bahwa daging yang mereka makan tadi adalah daging hewan tersebut. Saat itu Vira langsung kaget dan shock. Ia tak mengira makanan yang ia makan itu daging babi. Dengan masih shock ia ingin memuntahkan semuanya sambil berkata "itukan haram bagi kita mas" tak apa apa koq..kan bisa mendongkrak gairah nanti malam. Jawab Haryadi enteng sambil mengamit pinggang istrinya. Dengan sentakan sedikit Vira berusaha menjauh dan tampak sebel dengan kelakuan suaminya itu. Memang kerinduan Vira kepada belaian suaminya malam itu tersalurkan. Makanan sore tadi sedikit banyak membantu meningkatkan libido mereka berdua.Di dalam kamar rumah panggung milik Pak Nur itu.

Di ranjang kayu yang sama juga Haryadi kembali menggumuli istrinya, biasanya ranjang itu ia gunakan bersama Dewi. Namun Haryadi tampaknya tak mampu berhubungan secara optimal. Ia seakan tak mampu memuaskan istrinya karena bayangan Dewi selalu muncul dan mengganggu konsentrasinya, padahal Vira sudah siap juga karena pengaruh makanan yang ia makan. Kekecewaan kembali mendera Vira. Ia hanya mampu membalikkan tubuhnya yang telanjang ke arah dinding kayu kamar itu. Tubuh putih mulusnya masih dibasahi keringat yang seakan siap menjalankan kewajibannya malam itu bersama suaminya.Di balik kamar itu, tanpa

sepengetahuan Vira, Pak Nur intens menyaksikan kegiatan suami istri itu dengan antusias. Ia dapat menyaksikan secara keseluruhan anatomi tubuh Vira dengan bebas tanpa ada hambatan. Bu Nur saat itu sudah tertidur dengan lelap karena kecapaian siang tadi menyiapkan makanan untuk tamunya itu. Dengan seksama Pak Nur menyaksikan kehalusan dan kesintalan tubuh Vira. Sungguh amat cantik dan mulus kulit tubuhnya. Pak Nur semakin ingin juga merasakan kehangatan tubuh Vira. Dan dari kegiatan di kamar itu malam itu, ia yakin bisa mengisi kekosongan dalam diri Vira. Pagi harinya, merekapun bersiap siap pulang. Begitu juga Haryadi akan kembali ke base camp. Ia mengantar Vira ke atas perahu bersama Pak Nur sekeluarga dan berpesan untuk hati hati di jalan. Dalam hatinya Haryadi gembira sekali istrinya cepat cepat pulang. Ia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali mendatangi Dewi. Sesampai di rumahnya Virapun kembali kepada rutinitasnya bermain main dengan anak Bu Nur yang kecil dan lucu itu. Dalam keasikannya itu ia selalu dipantau Pak Nur. Pak Nur seakan merasa tak lama lagi Vira akan jatuh ke dalam pelukannya.tak sulit memang baginya. Pak Nur tahu kegundahan hati Vira saat itu yang ditutupinya dengan bermain main dengan anak anak Pak Nur. Bu Nur pun memanggil Vira dan mengajaknya makan di rumah itu karena baru saja masak. Tanpa sungkan lagi Vira pun memenuhi ajakan Bu Nur itu dan makan bersama. Di meja makan itu, Pak Nur berinisiatif membuka perbincangan. Ia ada rencana untuk ke daerah yang amat bagus pemandangan hutan bakaunya, tak hanya akan melihat pantai. Jika Vira berminat ia boleh ikut. Buru buru Bu Nur bilang bahwa ia tak bisa ikut karena ada petugas di puskesmas yang akan datang.

Tanpa berpikir panjang Vira menyetujui untuk ikut karena untuk mengisi kekosongan waktunya.Apalagi suaminya baru pulang 4 hari lagi. Pagi esoknya pak Nur bersiap siap dengan perahunya dan hanya Vira sendiri yang ikut karena Bu Nur tak bisa ikut. Mereka akan ke daerah yang dikatakan Pak Nur itu hanya berdua saja dan sorenya mereka kembali pulang. Virapun menyiapkan makanan kecil yang ia bawa dari rumahnya. Selama perjalanan dengan perahu itu, Vira amat antusias melihat hutan bakau dan sungai yang tenang. Tak ada hawa panas di sana, yang ada hanya bunyi hewan hewan seperti burung dan kera.cahaya matahari menembus sela sela pohon bakau. Ketenangan amat dirasakan Vira dengan segenap jiwanya untuk menghalau kegundahan hatinya. Ia amat bersyukur ada seseorang yang mau menemaninya jalan jalan seperti ini. Iapun mulai simpati kepada Pak Nur yang saat itu ada pekerjaan namun masih mau mengajaknya ke desa pedalaman. Vira merasa mendapatkan tempat untuk menghilangkan segala keluh kesahnya selama di pulau itu. Dalam keasikan dan ketenangan suasana air sungai di tengah hutan bakau itu, tiba tiba Vira terkaget kaget melihat 2 ekor buaya yang sedang berenang dan berdempet seolah sedang tiarap. Tubuh keduanya seolah menyatu seperti penunggang kuda. Dengan ketakutan yang amat mendalam Vira bergeser mendekat ke arah Pak Nur. Paaaaakkk.aaaddda buaaya sahutnya. Tenanglah Bu Vira jawab Pak Nur Jangan panik.kalau kita panik bisa mengganggu mereka, itu buaya yang sedang kawin koq Bu terang Pak Nur. Jadi kita tenang saja dan jangan mengangetkan mereka imbuh Pak Nur lagi. Yaaa ..Pak jawab Vira dengan mimik wajah ketakutan.

Dengan mengayuh perahu dengan perlahan lahan akhirnya menjauh dari buaya yang sedang kawin itu. Tak terasa akhirnya mereka sampailah di daerah yang yang dituju. Perahu dirapatkan Pak Nur ke pinggiran sungai dan mengikatkan talinya pada sebuah kayu yang biasa digunakan nelayan untuk menambatkan perahu mereka. Tempat itu mirip pelabuhan kecil namun terlihat sepi.

Pak Nur turun duluan dan dari atas tangga ia berusaha membimbing tangan Vira agar jangan sampai terpeleset ke dalam sungai. Dengan genggaman yang kokoh Pak Nur meraih tangan Vira yang lembut dan halus itu. Ups.akhirnya kaki Vira menginjak papan kayu di pinggir sungai itu. Vira menaiki anak tangga dan berjalan ke daratan, sedang Pak Nur mengemasi perbekalan yang berada di atas perahu. Sesampai di desa itu,memang penduduknya masih jarang dan Vira dapat menduga bahwa desa itu amat indah dan masih alami. Ia hirup udaranya sedalam dalamnya. Udaranya masih segar dan kicauan burung burung yang saling bersahutan. Kemudian mereka berdua memasuki desa dan bertemu warga desa yang sedang beraktifitas siang itu. Saat itu jam di tangan Vira menunjukkan pukul 12 lewat 15, namun ia tak melihat satu tempat yang bisa ia gunakan untuk beribadah. Ia hanya melihat beberapa pondok kayu yang atapnya bertanda salib. Tanpa bertanya ia tahu itu adalah tempat beribadah umat di daerah itu. Desa itu amat sederhana dan warganya juga tak banyak. Desa itu lebih tepatnya sering digunakan oleh misionaris untuk beristirahat. Namun sebahagian lagi warganya lebih banyak berdiam di hutan untuk berburu babi dan ikan. Jadi terlihat banyak gubuk gubuk yang memang ditinggalkan mereka. Pak Nur dan Vira terus memasuki desa, namun yang terlihat hanya hutan kecil dan tak terlihat warganya. Di suatu gubuk kosong mereka berhenti untuk beristirahat. Ini gubuk siapa Pak?tanya Vira. Pak Nur bilang dulu gubuk ini dibikin oleh seorang missionaris yang singgah di desa ini, namun karena sang missionaris sudah menetap di desa lain maka gubuk ini dibiarkan tinggal. Namun sering digunakan oleh para pendatang untuk beristirahat terang Pak Nur. Bapak sering kemari? tanya Vira lagi. Yah sering juga, paling mencari hewan buruan ..Pak haryadi juga pernah saya ajak ke sini Bu jawab Pak Nur, Malah Pak Haryadi juga bermalam di gubuk ini, selain bersih di gubuk ini cukup aman Bu terangnya lagi. Vira semakin faham akan keterangan pak Nur itu. Setelah meletakkan pebekalannya, ia berjalan keliling gubuk yang masih kuat dan bersih itu. Sementara pak Nur sibuk membersihkan isi dalam gubuk. Sambil mengamati hutan dan memotret burungburung Vira tampak asik dengan alamnya.

Merasa perutnya mulai keroncongan, Vira pun masuk ke gubuk dan mencari makananyang ia bawa. Namun tak ia duga Pak Nur sudah membawakannya buah

buahan juga makanan yang ia beli di dalam desa dari penduduk. Kemudian mereka berdua makan dengan lahapnya. Pak Nur dan Vira pun amat menikamati hidangan yang di beli Pak Nur. Apalagi saat itu hawa di tempat mereka berteduh amat sejuk dan semilir angin hutan. Enak ya pak di daerah sini,selain pemandangannya bagus juga udaranya masih segar kata Vira. Ya Bu, makanya kami sebagai pemuka daerah ini berusaha sebisa mungkin agar alam di pulau ini terpelihara terus. Kami tak ingin nanti hutan ini di rusak orang orang tak bertanggung jawab Bu jawab Pak Nur. Vira menganggukkan kepalanya mendengar dengan penuh antusias perkataan laki laki tua itu. Ia amat suka alam di desa ini dan di lubuk hatinya ingin berlama lama di daerah itu. Vira sudah bosan melihat kesemrawutan kehidupan di kota. Sejenak ia dapat melupakan kegundahan dan kekesalan pada suaminya Haryadi. Selain itu ia amat salut dan kagum akan sikap dan tanggung jawab Pak Nur yang merupakan putra daerah tersebut. Lambat laun ia merasakan Pak Nur amat berkharisma dan memiliki magnet yang enak diajak berbincang karena ia mengusai berbagai topik yang ditanyakannya. Kini Vira merasa mendapatkan orang yang tepat untuk diajak diskusi dan bertukar pendapat baik mengenai alam, pekerjaan dan juga masalah keluarga. Vira tak lagi memikirkan bahwa Pak Nur yang jorok, kampungan, dan juga berbeda suku juga agama dengannya akan mampu membuatnya betah bertanya tentang berbagai hal. Meski Pak Nur asli daerah itu dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan akan mampu mengusai berbagai hal. Sepertinya tak sebanding dengan pendidikannya yang mungkin jauh dari cukup ditunjang keadaan pulau yang boleh dibilang agak terbelakang itu. Mungkin orang kebanyakan akan merasa jijik, jorok dan takut jika berdekatan dengannya, namun bagi Vira semua itu bukan masalah yang penting baginya saat itu adalah pak Nur bisa memenuhi harapannya untuk menemaninya jalan jalan kepelosok pedalaman dengan sukarela dan melindungi dirinya.

Setelah makan dan perut mereka kenyang dengan makanan yang di beli Pak Nur,Vira kembali ke aktifitasnya memotret apa saja objek yang menarik hatinya dan ada nilai keindahan. Tak luput dari objek potretannya adalah Pak Nur. Pak Nur pun dengan senang hati menuruti apa yang di minta Vira sebab ia ingin Vira terlihat senang dan gembira, apalagi ia juga mulai merasakan adanya perhatian Vira padanya. Pak Nur pun menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkan Vira. Saat itu Vira sudah dekat secara personal dengannya. Dan itu tak lama lagi, bisik hati Pak Nur. Vira pun asik minta dipotret Pak Nur dan dengan terkadang mereka juga mengabadikan foto mereka berdua dengan memakai remote otomatis. Terkadang Vira lepas kontrol dengan berpelukan pada bahu pak Nur seolah itu suaminya. Terkadang mereka mengabadikan saat Vira di gendong Pak Nur bak pasangan yang sedang kasmaran. Pak Nur sadar itu adalah spontanitas Vira yang tak didapatnya dengan Haryadi yang masih berada di base camp. Sebagai laki laki Pak Nur juga amat suka di perlakukan seperti itu. Apalagi ia juga sempat memeluk tubuh sintal, putih,dan harum milik Vira. Ia menikmati saat keasikan itu dan bagi Vira itu adalah kali pertama ia dengan spontan melepas tawa, canda dan kemesraan dengan laki laki lain. Vira merasa Pak Nur bukanlah orang asing lagi. Tak jarang anak anak rambut Vira menyapu wajahnya.

Vira tak sungkan sungkan lagi memeluk tubuh kurus penuh tato dan bau itu. Sebagai wanita terpelajar dan dewasa ia tak mempermasahkannya lagi. Keasikan hari itu harus berakhir karena hari mulai sore dan awan hitam mulai tampak.pak Nur mengingatkan Vira untuk segera kembali agar tidak terlalu malam dan kehujanan di tengah hutan itu. Dengan sedikit kecewa Vira menyetujui saran Pak Nur untuk balik ke desa mereka. Namun belum sempat mereka mengemasi peralatan, tiba tiba petir menyambar dan angin kencang menyapu tempat mereka berada. Saking terkejutnya Vira saat itu ia menghambur memeluk. Awwww.Pak!,,,,,,aku takut Pak! Tenang Bu,,,tenang Jawab pak Nur yang saat itu di peluk dengan erat oleh Vira. Saat di peluk Vira pak Nur nyata sekali merasakan gundukan dada sekal milik wanita itu. Namun tak ingin dianggap kurang ajar Pak Nur pun berusaha sedikit merenggangkan pelukannya dan menarik tangan Vira. Dengan sedikit berlari pak Nur membimbing Vira masuk ke gubuk itu.

Tak lama hujan turun dengan deras dan angin kencang seolah ingin menghantam gubuk itu. Di dalam gubuk itu mereka berteduh dari guyuran hujan di luar halamannya. Untunglah mereka tidak sempat basah oleh air hujan, pada sebuah tempat duduk dari kayu panjang mereka duduk. Vira duduk di samping Pak Nur. Ia amat kaget mendengar petir tadi dan wajahnya pucat karena masih kaget. Lalu Pak Nur berdiri dan mengambil air minum yang telah ia sediakan siang tadi. Ia tuangkan air minum pada sebuah gelas yang telah ia sediakan.Air itu ia serahkan kepada Vira. minumlah dulu Bu katanya sambil menyerahkan gelas pada Vira. Buru buru Vira meraih gelas itu dengan gugup dan langsung meminumnya. Air di gelas itu ia minum hingga tandas dan menyerahkan kembali gelas kosong pada Pak Nur. terima kasih ya Pak, bapak baik sekali katanya. Sudahlah Bu,,,biasa saja lah,,,saya juga sama dengan ibu.manusia biasa jawab pak Nur. Lalu pak Nur meletakkan gelas pada sebuah meja. Sebelum kembali ke dekat Vira, pak Nur mengambilkan sebuah sweater yang tadi kenakan Vira saat berangkat. Masih tercium bau wangi parfum Vira yang melekat di sweater itu. Ia menyerahkan sweater itu pada Vira untuk dipakai karena udara semakin dingin. pak Nur kembali duduk di samping Vira karena hanya itu satu satunya tempat duduk yang ada di gubuk dan sebuah dipan kayu yang masih beralaskan tikar pandan yang masih bersih. Lumayan gubuknya sudah dibersihkan tadi terang Pak Nur. Vira hanya diam saja dan mengatupkan kedua tangannya ke dadanya, ia masih kuatir dan takut karena masih mendengar suara petir yang masih keras.

Pak gimana nih kita pulang? tanya Vira kuatir. Ya kita harus menunggu hujan reda dulu Bu, sebab tak mungkin kita pulang sekarang apalagi hujan deras begini, entah kapan redanya.jawab Pak Nur, apalagi jika saat ini pasang sedang naik, apa Ibu ndak takut jika nanti di sungai kita bertemu buaya atau perahu kita oleng? apalagi sudah senja seperti ini maka terpaksa kita bermalam di gubuk ini.terang Pak Nur. Hiiiiihhhsungut Vira, jangan Paksaya nggak mau ketemu buaya lagi ia nampak kuatir. Dengan terpaksa malam itu,mereka bermalam di gubuk itu.Tampak curah hujan amat deras dan membuat mereka tak bisa keluar gubuk

Nah ibu bisa berbaring di dipan kayu itu kata Pak Nur.Pak Nur berusaha menghidupkan lampu minyak yang ada di dinding gubuk itu. Dengan penerangan seadanya malampun beranjak. Biar saya di bangku ini saja terangnya lagipada Vira. Berarti malam itu Vira akan bermalam di dalam gubuk bersama laki laki selain suaminya di tengah hutan. Jauh di dasar hatinya ia merasa tak nyaman saat itu, namun karena sudah akrab dan dekat dengan keluarga Pak Nur rasa kekuatirannya itu pun hilang. Vira pun beranjak ke dipan yang di tunjukkan Pak Nur. Dipan kayu itu cukup bersih dan masih kuat. Jelas memang dipan itu dipakai untuk beristirahat bagi yang singgah di gubuk itu.Vira menghempaskan pantatnya di atas dipan sambil melipat tangan. Ia pun melipat sweaternya sebagai bantal untuk berbaring. Saat itu rasa kantuk dan dingin amat mendera pori pori kulitnya. Suasana dingin di hutan dan hembusan angin bercampur hujan membuat tubuhnya yang sintal kedinginan. Dari tempat duduk panjang itu Pak Nur memperhatikan tubuh istri Haryadi itu dengan seksama. Ada rasa kelegaan di dasar hatinya karena malam seperti saat ini ia bisa mewujudkan keinginannya. Saat Vira berjalan menuju dipan, Pak Nur memperhatikan tubuhnya yang dibalut kaos oblong biru bahan streck yang halus. Tampak tali bhnya yang halus membayang di kaosnya. Sedangkan celana jeans Vira amat serasi dengan pantatnya yang sekal. Vira pun merebahkan tubuhnya di dipan. Ia berusaha untuk menghilangkan rasa canggung yang menderanya. Vira pun menghadap ke arah pintu yang sudah ditutup Pak Nur dari tadi. Berbagai pikiran berkecamuk di dalam kepala Vira saat itu, baik mengenai suaminya juga keluarganya di Jakarta dan pak Nur. Vira tak pernah berpikir atau membayangkan akan sampai seperti ini. Meski dalam hatinya saat itu ada rasa bingung terhadap suaminya, namun ia bukanlah type wanita yang suka membuka masalah pada orang lain. Ia akan meilih milih orang yang tepat dan selama ini ia hanya pernah mengeluh pada Bu Nur. Dalam keasikan ia berpikir, tiba tiba Vira mendengar ada krasak krusuk di luar gubuk. Dinding gubuk seolah di dorong dorong dari luar. Sedangkan bunyinya semakin dekat. Ia bangun dari berbaring dan duduk. Tampak Pak Nur pun waspada dan memberi kode pada Vira untuk diam dengan melertakkan telunjuknya di bibirnya.

Dengan mengendap ngendap Pak Nur berjalan ke pintu dan memalang pintu dengan kayu balok yang ada. Ia lalu menuju ke arah tempat Vira duduk. Sambil berbisik Pak Nur bilang itu suara babi hutan yang mungkin kedinginan karena hujan, maklum di hutan, terang Pak Nur pada Vira. Saat itu Vira menjadi takut dan cemas. Tapi Pak Nur menyakinkannya bahwa tak apa apa, nanti juga pergi sendiri. Gubuk itu cukup aman dari banjir dan binantang buas terangnya lagi. Ada sedikit kelegaan di dada Vira saat itu. Namun kelegaannya tak berlangsung lama, dinding gubuk itu semakin kuat di gesek gesek babi hutan dan seperti di dorong dengan kuat.Vira semakin takut dan merapatkan diri ke arah Pak Nur. Ia takut sekali, Pak aku takut pak suara Vira halus. Lalu tanpa di suruh ia pun memeluk tubuh tua di sampingnya. Ia tak berpikir siapa laki laki itu. Toh saat itu ia amat ketakutan dan ia pikir biasa saja. Pelukan Vira di sambut Pak Nur dengan pelukan erat, seakan berusaha melindunginya. Di atas dipan itu kedua tubuh anak manusia berlainan usia itu berpelukan dengan sangat rapat. Pak Nur merasa lega karena dapat memeluk tubuh yang ia impikan selama ini dan sedang berusaha untuk menundukannya. Dengan perlahan Pak Nur membisiki Vira agar jangan terlalu takut, nanti juga pergiterang pak Nur di telinga Vira sambil menghembuskan nafasnya yang hangat. Vira merasa nyaman saat itu,karena sedikit rasa takutnya hilang juga hawa hangat dari nafas pak Nur membuatnya terbuai. Bagi Pak Nur pelukan itu membuatnya merasakan dengan nyata tonjolan buah dada Vira di dadanya. Saat itu Vira masih terbalut kaos oblong, tapi nyata sekali rasa hangatnya oleh Pak Nur. Apalagi di malam dingin saat itu.Vira tak berprasangka apa apa pada Pak Nur saat itu. Benar apa yang dikatakan Pak Nur itu, perlahan tak terdengar lagi suara krasak kresek di dinding kayu gubuk itu. Namun yang terdengar justru suara hujan yang semakin deras dan angin yang kembali bertiup kencang. Itu dirasakan Vira saat melihat bagian dalam gubuk yang dihempaskan angin. Lalu Pak Nur berusaha melepaskan pelukannya pada tubuh Vira dan duduk berdampingan. Namun tampak Vira sedikit enggan melepas pelukannya mungkin karena hawa dingin dan rasa nyaman yang tiba tiba hilang.

Dalam hati Vira berkhayal seandainya saat itu ia hanya berdua suaminya alangkah indahnya melewati malam dengan suasana menegangkan dan menakjubkan berdua.Namun khayalannya terputus saat Pak Nur menutupkan kain panjang yang ada di sebuah lemari kecil di gubuk itu pada Vira.Kain itu tampak bersih dan sengaja di tinggal di lemari itu. Vira menerima kain panjang itu dan menutupkan ke tubuhnya agar tak merasa dingin, sekali lagi ia simpati pada Pak Nur yang amat melindungnginya dari hawa dinginnya malam. Lalu dibalutkannya kain itu ke bahunya.Pak Nur kembali duduk di sampingnya. masih dingin ya Bu Vira? tanyanya. Sudah agak mendingan Pak jawab Vira, Terima kasih ya Pak? Bapak baik sekali pada saya imbuhnya lagi.

Nah jika ibu mau berbaring ya baring saja kata Pak Nur lagi. belum pak, masih belum ngantuk jawab Vira lagi. O,,begitu ya Bu jawab Pak Nur lagi. Pak Nur lalu memberanikan diri meraih bahu Vira yang terbalut kain panjang itu untuk rebah di bahunya. Vira pun menurut seolah tak mempermasahkannya. Ia merebahkan kepalanya di bahu pak Nur dan berusaha memejamkan matanya. Sebenarnya rasa ngantuk dan hawa dingin amat menyiksanya saat itu. Namun ia masih merasa jengah untuk mengakuinya pada Pak Nur. Saat Vira merebahkan kepalanya di bahu Pak Nur, tangan pak Nur berusaha membelai rambutnya yang sebahu dan harum itu. Aroma parfum mahal Vira masih kentara meski sudah bercampur dengan keringatnya siang tadi. Dari rambut belaian tangan Pak Nur turun ke pipi dan daun telinga Vira. Tampak pak Nur mulai merangsangi ibu muda ini dengan perlahan. Dari balik daun telinganya, elusan tangan Pak Nur terus turun ke tengkuk yang berbulu halus itu. Vira merasa geli dan terangsang. Dengan gelisah ia berusaha menurunkan kepalanya ke paha Pak Nur, tanpa berusaha melepaskan diri dari elusan itu.matanya masih tetap terpejam seolah tertidur, namun saat itu ia membayangkan suaminya yang melakukannya. Telah lama ia merasa gersang dan tak di sentuh suaminya dengan cara yang seromantis saat itu.

Pak Nur tahu apa yang harus ia perbuat untuk menaklukan ibu muda ini.Selain itu semua ini adalah sudah di rencanakannya dengan rapi dan di restui istrinya.Maka Pak Nur dengan sepenuh hati akan berusaha mewujudkan keinginannya malam itu.Dan selama ini segala rangsangannya tak di tolak Vira maka berarti tak menemui kendala.Merasa kurang lancar usahanya mengelus Vira ,lalu pak Nur membangunkan tubuh Vira dan menyuruhnya berbaring saja di dipan.Bu,,,berbaring saja ya?Ibu terlihat capai sekaliterang Pak Nur berbasa basi,padahal posisi Vira tadi tak membuatnya nyaman bekerja.Saat Vira sudah berbaring dan menghadap ke dinding membelakangi Pak Nur.Pak Nur pun berbaring di belakang Vira,dan dipan cukup untuk dua orang.Tangannya kembali membelai rambut hingga ke daun telinga Vira.Tampak Vira kegelian dan menangkap tangan Pak Nur untuk berhenti.Namun Pak Nur tetap berusaha membelai belai tengkuknya.Rasa geli dan gairah yang mulai timbul membuat Vira memegang jari tangan Pak Nur dengan erat.vira seakan ingin menghentikan elusan laki laki yang bukan suaminya itu.Saat di pegang oleh jari Vira,pak Nur membiarkan saja di genggaman tangan halus itu.Ia pun mengalirkan hawa hangat dengan membalas genggaman itu. Saat Vira mengenggam tangan Pak Nur,Vira pun membalikkan tubuhnya dan bangun dari baring.Ia lalu melepaskan tangan itu dengan hati hati takut menyinggung perasaan Pak Nur.Vira lalu duduk dan bersandar di dinding gubuk itu.Dalam temaram cahaya lampu,ia tak ingin tidur malam itu.Ia merasa kuatir nanti salah langkah dan berbuat yang terlarang dengan laki laki tua itu,bagaimanapun ia masih memiliki rasa cinta kepada suaminya.Namun hal tadi membuatnya sedikit bimbang. Rabaan jari pak Nur di tengkuknya mampu memercikan api gairah dalam dirinya. Sebagai seorang wanita terhormat dan berpendidikan ia merasa tak selayaknya membiarkan hal tadi terjadi. Namun semua rasa ego di dirinya berperang dengan rasa bathinnya yang kering kerontang. Di lain

pihak Vira amat menghormati Pak Nur juga istrinya, dan di pihak lain hatinya juga berkata mereka adalah orang lain dan bukan apa apanya. Di saat kebimbangan itu ,pak Nur pun bangun dari berbaring dan berada di sampingnya. ada apa Bu Vira? tanyanya Nggak ada apa apa koq Pak? jawab Vira, saya hanya merasa kan dingin dan ingat suami, jelas Vira menutupi kegugupannya.

Pak Nur bukanlah laki laki biasa.Ia dapat membaca apa yang dipikirkan istri Haryadi itu.Tangannya meraih jemari Vira yang masih melingkar cincin perkawinan itu. Sambil mengusap jari itu, Pak Nur menciuminya. Pak Nur ingin Vira sadar bahwa ia juga dicintai Pak Nur. Melihat Pak Nur menciumi jemarinya yang melingkar cincin berlian perkawinan itu, Vira berusaha menarik tangannya. Namun tak bisa karena kuatnya genggaman tangan Pak Nur. Ia hanya memicingkan mata tak kuat melihat moment itu. Vira adalah wanita dewasa dan mengerti arti dari perbuatan Pak Nur saat itu, bahwa Pak Nur menyukai dirinya. Tak ada suara yang terdengar di antara mereka saat itu,yang terdengar hanya suara hujan yang membasahi gubuk itu. Pak Nur lalu meraih wajah cantik Vira dan memandang matanya. Bu Vira,,,boleh saya menciumi ibu? tanyanya. Vira tak bisa menjawab sebab ia menjadi serba salah dan takut menyinggung perasaan orang tua yang amat berjasa padanya dan suaminya itu. Selain itu ia masih risih jika menyiyakan atau menolak. Sikap diam Vira ditanggapi Pak Nur sebagai persetujuan, pria itu lalu mendekatkan mulutnya yang bau dan agak dower itu ke bibir mungil Vira. Tak ada pemaksaan dari Pak Nur atau penolakan dari Vira saat itu. Saat bibir laki laki itu menyentuh kulit bibirnya, Vira hanya mampu memicingkan mata. Ia hanya diam pasrah menerima jejelan bibir tebal itu di mulutnya. Perlahan Pak Nur mulai mengulum dan mengecup bibir milik ibu muda itu. Vira seakan menikmatinya dengan menerima secara pasif kuluman itu. Perlahan lahan ia mulai terbakar gairah.Vira mulai membalas belitan lidah Pak Nur dan menerima hisapan lidah Pak Nur di mulutnya. Ia mulai tak peduli dengan bau busuk yang keluar dari mulut laki laki itu. Dalam keasikan kedua manusia berlainan jenis itu berciuman dan saling mengulum, tangan Pak Nur pun ambil kesempatan. Seakan tak mau kalah, jari jari pak Nur menyasar ke dada Vira dan memilinnya dari luar kaosnya. Saat itu Vira seperti tersiram air dingin ia sadar dan menolakkan tubuh Pak Nur. Sambil menepiskan tangan Pak Nur dari dadanya ia juga menghapus air ludah yang sudah belepotan di bibirnya.

Dengan mimik wajah sedikit malu dan kesal ia menatap mata Pak Nur. Ia tak menduga sama sekali Pak Nur akan seberani itu meraba dadanya. Padahal tadi ia mau menerima ciuman bibir Pak Nur hanya karena rasa terima kasih dan simpatinya atas segala bantuan Pak Nur kepadanya selama ini. Tindakan Pak Nur tadi membuatnya sadar bahwa ia masih punya suami.

maaf pakkita tak boleh melewati batas seperti tadi jelas Vira tegas. Maaf Bu jawab pak Nur. Pak Nur juga kaget atas penolakan Vira barusan padahal ia merasa yakin akan mendapatkan tubuh Vira saat tadi. Ia baru memulai dan selama ini ia tak pernah menemui masalah dan hambatan untuk menggauli wanita. Dengan Vira ia merasa menemui jalan buntu dan ia harus memutar otak lagi untuk menaklukkannya. Pak Nur turun dari dipan itu dan berjalan ke arah pintu. Pintu ia buka dan keluar gubuk sedangkan saat itu masih hujan. Vira hanya memperhatikan tingkah laki laki tua itu, ia merasa sedikit kekuatiran akan ditinggal di dalam gubuk sendirian malam itu. Dalam hati Vira bertanya apakah Pak Nur tesinggung dengan penolakannnya tadi. Vira lalu turun dari dipan dan keluar gubuk ingin tahu apa yang dikerjakan Pak Nur. Sesampai di pintu ia melihat Pak Nur berdiri sambil memegang kemaluannya dalam posisi membelakangi pintu. Rupanya Pak Nur selesai buang air kecil dan sedang mengancingi celana panjangnya. Saat ia membalik ke arah pintu ia mendapati Vira sedang berdiri di pintu. Vira sedikit gugup dan merasa malu karena ia sempat memperhatikan saat Pak Nur buang air kecil tadi. ada apa Bu? tanya pak Nur, apa ibu ingin buang air kecil juga? Ohtidak Pak..tadi saya kira bapak akan ke mana hujan hujan begini jawab Vira gugup. O..saya lagi pingin kencing keluar bu, di sini jambannya jauh apalagi hujan begini jadi nggak sempat ke sana, terang Pak Nur, Ayo bumasuk lagi di sini dingin sekali. Vira berjalan duluan ke dalam gubuk dan menghenyakkan pantatnya di dipan. Sementara pak Nur terlihat kembali menutup pintu gubuk dan memalangnya.

Malam itu masih hujan,hawa dingin di luaran tadi mampu membuat tulang seakan rontok. Temaram cahaya lampu minyak seakan menambah suasana lain di dalam gubuk kayu itu. Di atas dipan yang beralaskan busa tipis itu Vira duduk menyandar dan mengatupkan kedua tangannya karena dingin. pak Nur berjalan kearah Vira yang meringkuk karena dingin di dipan kayu itu. Dingin amat malam ini Bu kata Pak Nur membuka percakapan. ya pak jawab Vira, tapi di sini apa banjir Pak? tanya Vira tidak mungkin banjir Buselain tempat ini tinggi, di hutan ini tak pernah banjir, tapi ibu jangan kuatir, pondok ini cukup tinggi dan aman dari binatang buas kan lantainya dari kayu yang cukup aman dari tanah terang apak Nur. Pak Nur pun duduk berdampingan dengan Vira. Suara hujan yang membasahi pondok itu masih jelas terdengar. Melihat Vira yang semakin kedinginan pak Nur berusaha merapatkan tubuhnya ke tubuh ibu muda itu.

Agar ibu tak kedinginan ibu boleh ke pangkuan saya aja bu tawar pak Nur. Vira masih tak merasa enak sebab ia tak ingin kejadian tadi terulang,namun belum sempat ia menjawab, pak Nur sudah memeluk tubuhnya ke dalam pelukannya. Vira tak kuasa menolaknya sebab selain perasaan dingin yang mendera saat itu adalah saat tubuhnya istirahat. Apalagi hawa hangat yang terpancar dari tubuh pak Nur membuatnya nyaman dalam pelukan laki laki tua itu. Vira pasrah saja saat Pak Nur memeluknya erat sambil meraih kedua jemari tangannya. Vira hanya memejamkan matanya merasakan hawa hangat yang amat ia butuhkann saat itu. Perlahan ia merasakan pipinya di belai jemari kasar Pak Nur. Vira hanya membuka matanya sebentar kemudian ia mengatupkan matanya lagi seolah menginzinkan Pak Nur membelai pipinya yang putih mulus itu. Tak perlu membuka matanya lagi, Vira merasakan jari tangan Pak Nur membelai belai balik telinganya dan tengkuknya. Di sana ia rasakan hangat yang mampu menaikkan gairahnya.

Di telinganya Vira mendengar permintaan halus dari Pak Nur untuk menciumi bibirnya lagi. Buuu..Vira,,saya cium lagi boleh kan? itulah pertanyaan yang sayup terdengar di telinganya. Vira hanya melihat sebentar kearah Pak Nur namun tak menjawabnya. Bagaimanapun ia sebagai wanita tak mungkin menjawab suatu permintaan atau permohonan dari laki laki yang bukan suaminya itu. Perlahan tapi pasti, kembali bibir mungil Vira merasakan jelajahan bibir kasar milik Pak Nur. Awalnya perlahan dan hati hati, namun kemudian maju masuk ke dalam rongga mulutnya. Memang Vira sempat membaui bau yang tak sedap dan seakan mau muntah oleh aroma mulut Pak Nur, namun ia tak sempat menolak atau meludah. Vira hanya menerima olahan dan jelajahan lidah Pak Nur yang bermain di dalam rongga mulutnya. Ini kali kedua bibirnya di jelajahi bibir laki laki lain selain suaminya. Bibir Pak Nur adalah yang kedua kalinya setelah tadi sore. Lambat laun karena olahan dan ciuman bibir Pak Nur yang semakin panas mau tidak mau Vira pun membalasnya. Ia tak lagi memandang dengan siapa ia berciuman bibir saat itu. Vira pun membalas setiap belitan dan tarikan nafas dari mulut pak Nur. tak sadar Vira pun menghirup ludah pak Nur begitu juga sebaliknya. Aktifitas kedua kedua orang yang berlainan jenis itu mampu menghangatkan tubuh keduanya dan Vira tak merasa kedinginan lagi. Keasikan dua orang yang memiliki nafsu terpendam itu semakin menjadi jadi.Pak Nur pun seakan di beri lampu hijau untuk melakukan hal lain kepada tubuh ibu muda itu. tak perlu izin dariVira, tangan Pak Nur pun akhirnya aktif membelai buah dada yang masih tertutup kaos Vira. Tanpa izin dari pemiliknya jari tangan Pak Nur seolah punya mata terus membelai dan sedikit meremas agar tubuh Vira semakin terbakar birahi. Vira pun seakan tak peduli lagi area sensitif di tubuhnya dijamah tangan asing milik pak Nur, padahal selama ini ia hanya mengizinkan suaminya seorang. Tiada penolakan dan perlawanan dari Vira saat itu.pak Nur yakin tak lama lagi Vira akan merengek rengek minta di mesrai kepadanya.

Penerimaan tubuh Vira membantu memperlancar tindakan Pak Nur. Kaos tipis yang melekat di tubuh sintal dan mulus Vira ia angkat dan lepaskan. Vira pun seakan membantu melepaskan busana luarnya saat itu, tak sulit memang. Kaos luar Vira pun akhirnya lepas dan tersisa bra halus yang menutupi gundukan buah dadanya yang berukuran 34b. Vira sempat menutupkan kedua tangannya di dadanya. Ia seakan malu dan jengah dilihat Pak Nur dalam keadaan seperti itu. pak Nur tak ingin membuka kedua tangan yang menutupi dada Vira. Ia hanya merayap dan menciumi leher putih mulus yang teruntai kalung emas.Bibir kasar pak Nur melata di leher jenjang milik Vira.Vira merasa gelid an akhirnya hanya meraih kepala Pak Nur yang berada di lehernya saat itu.Ia lupa menutup buah dadanya dengan tangannya.Pak Nur lalu terus turun dan menciumi belahan dada yang masih tertutup bra putih itu.Tubuh putih mulus Vira semakin tak mampu menahan percikan yang di baker pak Nur.Tubuh Vira seolah menurut setiap gerakan dari jemari pak Nur. Jujur dalam hatinya Vira tak menerima perlakuan laki laki tua itu pada dirinya, namun rasa gersang dan haus belaian yang ia alami akhir-akhir ini membuatnya menurut saja. Pak Nur tak membuang waktu berlama lama, tangannya dengan cekatan berhasil melepas pengait bra milik Vira.Vira terlihat kaget dan malu. ah,,,paksaya malu jeritnya sambil menutup kembali payudaranya yang putih mulus bergelayut di dadanya saat itu. jangan malu Bu Vira,..kan hanya kita berdua di sini jawab Pak Nur menyakinkan Vira.ibu tak akan saya sakiti terangnya lagi. Vira tahu arah tujuan kata kata Pak Nur. Namun ia tak mencegah semuanya itu terjadi sebelum terlambat. Vira seolah telah tersihir oleh kata kata yang diyakinkan Pak Nur. Kini Vira malah semakin menyerahkan tubuhnya dibaringkan Pak Nur di dipan yang dilapisi busa itu. Ia hanya memicingkan matanya menanti yang akan dilakukan laki laki tua itu pada tubuhnya. pak Nur membaringkan tubuh Vira yang lemah dan telah menurut itu. Lalu pak Nur pun berusaha melepas celana panjang yang dikenakan Vira saat itu. Tak susah memang celana panjang itupun lepas dari tubuh pemiliknya.

Kini di atas dipan kayu itu tubuh Vira perlahan ditelanjangi Pak Nur. Vira tak tahu kenapa ia kini malah membiarkan tubuhnya ditelanjangi orang yang bukan suaminya itu. Padahal jauh di lubuk hatinya ia tak menginginkannya. Selepas dilucuti celana panjangnya kini, pak Nur menaiki dipan kayu itu. Vira kaget karena entah sejak kapan pak Nur sudah bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam saja. Di tubuh telanjang pak Nur terlihat penuh tattoo yang melambangkan bahwa ia adalah tetua di daerah itu. Di antara tattoo di tubuh Pak Nur ada sebuah tattoo salib yang berada tepat di bawah pusarnya. Vira tak sanggup lagi memandang tubuh Pak Nur lebih ke bawah lagi sebab ia merasa jengah melihat organ intim milik Pak Nur yang juga ditumbuhi bulu bulu lebat itu. Vira tadinya hanya merasakan tubuhnya dibuka satu persatu. Pak Nur sudah berada di atas dipan berdua dengan sosok mulus dan bugil tubuh Vira. Perlahan pak Nur kekmbali membelai dan menciumi bibir lalu turun ke arah buah dada Vira yang sudah terbuka seutuhnya itu. Benda putih salju itu seakan tak mampu menolak gigitan halus dan remasan tangan kasar penuh tato milik Pak Nur. Vira hanya menggelinjang kegelian dan sesekali melenguh karena gairah. Tangannya pun

meraih kepala Pak Nur yang hanya sedikit rambut itu. Bau tubuh pak Nur seolah menambah energi nafsu Vira saat itu. Lelehan keringat keduanya seakan membakar nafsu keduanya dan kedua tubuh itu basah bukan karena hujan di luar namun karena aktifitas keduanya di atas dipan kayu itu.Vira tak lagi berpikir dengan siapa ia bermesraan saat itu yang ada di kepalanya saat itu adalah Que sera sera (Terjadi terjadilah) Toh kini ia sudah hampir telanjang seutuhnya oleh Pak Nur padahal selama ini ia paling anti untuk menjalain hubungan dengan pria lain selain suaminya. Selama saat kuliah saja Vira tak pernah mengizinkan pacarnya saat itu menciuminya. Ia terlalu yakin nanti akan memberikan cinta dan tubuhnya seutuhnya pada suaminya seorang dan laki laki yang menjadi suaminya adalah Haryadi yang ia kenal melalui perjodohan oleh keluarganya. Kini ia tak mengetahui apa yang menyihirnya sehingga menerima semua perlakuan pak Nur pada dirinya yang tak lama lagi akan menghancurkan statusnya sebagai istri setia .Vira tak sanggup lagi berpikir yang sulit sulit saat itu.

Penerimaan Vira terhadap pak Nur menambah semangat pria itu untuk memperlakukannya dengan sebaik baiknya malam itu. Ciuman dan gigitan pak Nur di leher dan buah dada Vira seakan minyak yang membakar api birahinya saat itu. Vira seolah kembali menemukan dunianya yang hilang selama ini. Dengus dan rintihan seolah minta agar pak Nur menuntaskan gairahnya disadari pak Nur. Meski saat itu di mata Vir a terpejam dan ada lelehan air mata disudutnya. Namun pak Nur tahu itu adalah permintaan yang tulus dari seorang wanita matang dan dewasa itu. Ia akan memberikan apa yang diingini wanita cantik istri Haryadi. Apalagi Pak Nur juga beranggapan ia sudah memberikan seorang wanita pada Haryadi dan Haryadi juga harus membalasnya dengan merelakan Vira untuknya. Itulah yang ada di benak Pak Nur. Sejauh ini Vira tak mengetahui apa yang terjadi dengan suaminya yang telah terjerat gadis di pulau itu. Sedangkan dirinya saat ini benar benar tak mampu berpikir jernih lagi sebagai wanita terpelajar, terhormat dan memiliki seorang suami. Vira seolah menyerah bulat bulat pada Pak Nur yang seorang laki laki asli pulau itu dan memiliki kekuasaan dan pengaruh di pedalaman itu. Pada saat itu Pak Nur tetap sibuk membakar nafsu Vira agar dapat dengan mudah ia eksekusi. Pilinan dan remasan tangan Pak Nur perlahan di kedua buah dada ibu muda itu mampu membuat Vira semakin larut. Pilinan tangan dan jilatan berpengalaman laki laki tua itu mengalahkan pengalaman yang dimiliki Vira selama ini. Apalagi selama ini Vira hanya di perlakukan monoton oleh suaminya dalam berhubungan badan. Vira semakin terjerat oleh alunan gelombang yang di pancarkan jari tangan Pak Nur di sekujur tubuhnya. Pak Nur tahu dan mengerti Vira amat butuh bimbingannya saat itu. Tiba tiba pak Nur berhenti dan terlihat ia mengambil patung salib yang berada di dinding pondok itu. Patung itu ia turunkan dan letakkan di dinding sejajar dengan kepala Vira. Kemudian terlihat Pak Nur seolah berdoa dan berkomat kamit yang tak jelas di dengar Vira. Saat itu Vira hanya memejamkan mata dan hanya menunggu apa yang akan terjadi malam itu. Kemudian pak Nur mengambil air yang berada di sebuah bejana yang berada di dalam kotak kecil di dinding itu. Air itu di percikan ke tubuh Vira mulai dari atas kepala hingga ke kaki Vira. Mata Vira terbuka dan terkejut karena dinginnya air yang di percikan Pak Nur saat itu.

Dengan suara halus dan seolah menahan sesuatu Vira bertanya, air apa itu Pak Nur? dingin sekali kata Vira. Lalu dijawab pak Nur, itu air suci agar kamu bisa tenang pikiran dan tak diganggu oleh pikiran pikiran negatif terang pak Nur lagi. Mendengar keterangan pak Nur Vira pun diam dan kembali memejamkan matanya. Percikan air tadi adalah ritual yang biasa dilakukan Pak Nur pada setiap wanita yang akan ia gauli dan biasanya setelah ia percikan air itu, wanita itu akan menurut pada tutunan dan bimbingan laki laki yang akan menggaulinya saat itu. Selesai ritual itu, Pak Nur kembali menyapu bibir Vira dan disambut Vira dengan penuh nafsu. Bulu bulu di tangannya seolah berdiri setelah disiram air percikan tadi. Kuluman dan jelajahan lidah pak Nur di rongga mulut Vira mampu mkembali menggiringnya mengikutinya. Sedang tangan Pak Nur tak tinggal diam. Dengan intens jarinya kembali meremas dan memilin buah dada putih yang kini sudah di beri cupangan tanda oleh pak Nur.Vira pun menyorongkan dadanya ke arah bibir Pak Nur yang kini sudah di lehernya sambil mengigit kecil. Aduh pak.mmmm.Pakpak!! hanya itu yang terdengar dari mulut Vira. Vira lalu meraih kepala Pak Nur seolah tak mau ditinggalkan oleh gigitan dan jilatannya. Kini ia serasa amat membutuhkan Pak Nur dan rasa gatal di organ pusat kewanitaannya minta dibelai. Sejauh ini Pak Nur belum mau menganggu bagian intim Vira itu. Ia hanya bermain di sekitar dada dan leher belakang Vira yang putih bak pualam itu. Sesekali ia jilat juga liang telinga wanita cantik itu. Vira semakin tak sabar oleh langkah dan tindakan Pak Nur. Ia semakin merengek dan menghentakkan kakinya. Tak lama kemudian tangan Pak Nur turun kearah bawah pusar Vira yang masih tertutup cd putih itu. Sempat dilihat pak Nur selangkangan Vira itu mulai basah oleh cairan dari dalam tubuhnya padahal saat itu memang kedua tubuh mereka sudah amat basah dan licin oleh keringat. Tangan pak Nur masuk dari atas karet cd Vira, salah satu jari telunjuknya mencari celah yang terasa agak sempit itu. Terasa oleh Pak Nur ada cairan lengket yang mulai merembes keluar. Vira merasakan jari pak Nur masuk ke areal intimnya terkejut sdan kaget.

Dengan melepaskan tangannya dari kepala Pak Nur, tangan putih yang ditumbuhi bulu bulu halus dan melingkar gelang emas itu berusaha menarik keluar tangan Pak Nur dari organ kewanitaannya itu. Namun apalah daya Vira saat itu, selain ia sudah terbakar nafsu dari Pak Nur ia pun berada di posisi sulit saat itu. Kini tangannya hanya mampu memegang pergelangan tangan Pak Nur yang asik di dalam celana dalamnya. Tak hanya jari telunjuknya yang masuk ke celah vagina Vira, jari tengah pak Nur yang kokoh itu juga masuk. Vira hanya mampu menahan gairah yang tak lama lagi akan memuntahkan lahar dari liang sempitnya. Dan memang tak lama kedua jari Pak Nur asik memilin daging kecil di celah milik Vira itu. Tiba tiba Vira menjerit dan tubuhnya menegang.

Awww,,,,ughhh,Pak ampun.uhhhhhhhh,,,,uh.uh!! dengan putus putus suara itu keluar dari mulut Vira. dari jarinya pak Nur tahu Vira sudah orgasme dan di jari tangannya dibasahi lendir orgasme Vira. Tubuh ibu muda cantik itu kemudian melemah dan telentang di dipan dengan memejamkan mata menikmati orgasme yang baru saja ia dapatkan dari jari tangan Pak Nur. Pak Nur lalu menarik keluar jari tangannya dari liang vagina Vira. Tampak kedua jarinya basah oleh lendir kenikmatan Vira. Pak Nur lalu menjilat kedua jarinya hingga bersih, Vira sempat melihat perbuatan Pak Nur itum jauh di lubuk hatinya Vira amat merasa aneh dengan kelakuan laki laki tua itu, selama ia berhubungan dengan suaminya yang ia cintai belum pernah ia melihat kejadian yang seperti itu. Ia merasa Pak Nur amat menghargainya dan mampu memberinya kenikmatan sexual yang tak didapatnya dari suaminya, meski saat itu ia tak melakukan coitus. Pak Nur lalu sedikit menjauh dari tubuh Vira. Rupanya ia melepas celana dalamnya.dari temaram cahaya lampu dinding di pondok itu, tersembulah kelamin Pak Nur yang amat panjang dan besar seperti ular pyton itu. Kelamin Pak Nur seolah belum bangun saat itu. Vira tak menyadari bahaya yang akan ia alami malam itu. Bisa saja ia akan mengalami pingsan jika bersebadan dengan laki laki itu, namun sejauh itu ia masih terdiam dan tertidur menikmati saat orgasme yang jarang ia alami.

Pak Nur menuju kearah Vira dan menangkupkan kedua tangannya ke buah dada yang sudah sering ia pilin tadi. Pilinan dan remasan itu membuat Vira kembali terbangun dari mimpinya. Vira merasakan lidah pak Nur melata di sekujur tubuhnya. Mulai dari kakinya hingga ke pusar dan melewati vaginanya. Jilatan lidah pak Nur tanpa jijik sedikitpun terus beranjak hingga ke buah dada dan leher juga jidatnya yang sudah mengering.Vira merasakan jilatan pak Nur seperti api yang kembali membakar nafsunya. matanya kembali terbuka meski dengan pandangan sayu dan letih setelah orgasme tadi. Sejauh ini ia belum melihat senjata pamungkas milik pak Nur sedang mengancamnya. Pak Nur lalu berusaha melepas celana dalam putih Vira yang basah oleh keringatnya. Vira tampak agak keberatan karena saat itu kesadarannya seakan mulai kembali, namun Pak Nur dengan sedikit paksaan berhasil melepas benda terakhir di tubuh istri Haryadi itu. Kini Vira sudah tak tertutup apa apa lagi. Tubuh putih mulusnya sudah terbuka semuanya seperti bayi dewasa yang putih bak pualam itu. Tanpa terdengar oleh Vira karena hujan kembali deras malam itu, pak Nur berdecak kagum melihat kesempurnaan tubuh indah milik Vira itu. Ia amat mengagumi keindahan yang ada di tubuh yang kini tergolek di dipan kayu itu.Tubuh putih itu seolah minta dikasihi dan dilindungi dari gangguan udara dingin malam itu. Vira hanya berusaha merapatkan kedua kakinya. Meski tadi organ kewanitaannya telah dicabuli oleh jari Pak Nur. Namun hanya itu yang bisa ia lakukan untuk melindungi benda miliknya yang berharga itu. Pak Nur amat bersyukur dan sempat berdoa dengan karunia yang ia dapatkan itu. Ia amat berharap dapat membimbing Vira untuk bersama sama mengarungi malam itu berdua dengannya untuk melaksanakan persebadanan. Dari temaram cahaya Vira hanya mampu menunggu saat saat yang akan membawanya ke mana tujuan Pak Nur saat itu. Ia tak tahu lagi bagaimana untuk menggagalkan uasaha laki laki yang ia kenal di pulau itu, padahal saat itu ia amat membutuhkan pertolongan suaminya agar ritual malam itu gagal. Namun suami yang ia harapkan membantunya malam itu, tanpa sepengetahuannya

kini sedang berada di atas tubuh wanita lain.

Melihat Vira diam dan memejamkan mata, Pak Nur meraih tangan halus ibu muda itu.Ia membawa tangan Vira ke arah kemaluannya untuk dipegang Vira sebagai pengenalan terhadap benda miliknya. Saat Vira memegang benda yang mulai mengeras seperti tonggak kayu itu, ia tersadar itu adalah kelamin milik Pak Nur. Vira buru buru melepaskan pegangannya. Ia kaget tak mengira benda milik Pak Nur sepanjang dan sebesar itu. Amat asing baginya, selama ia praktek kedokteran dulu tak pernah ia menemui benda yang sekuat dan sepanjang itu. Diam diam dalam dadanya berperang rasa takut dan jijik jika benda itu memasuki dirinya. pak Nur sadar itu amat berat bagi Vira, apalagi kini ia menyadari kemaluannya amat panjang dan besar namun ia tetap akan melakukannya juga malam itu bersama Vira. Lalu Pak Nur pun tak lagi memaksa Vira memegang kemaluannya.Pak Nur lalu menciumi bibir Vira agar pikiran ibu muda itu rileks kembali.Rabaan dan pilinan didada Vira mampu mengembalikan nafsu gairah Vira kembali.Pak Nur lalu menuangkan kembali air dari bejana tadi ke kepala Vira hingga kakinya. Seolah mendapatkan pengaruh dari air itu, Vira kembali diam dan menurut apa yang dilakukan Pak Nur. Pak Nur menarik tangan Vira ke arah kemaluannya untuk di pegang. Aneh, kini Vira tak lagi ketakuatan dan kuatir.Tangannya memegang batang kemaluan Pak Nur dengan erat. pak Nur menikmati tangan halus milik ibu muda itu memegang kemaluannya.Pak Nur lalu mengulum bibir dan leher Vira, lalu di telinga putih yang bergiwang berlian itu, ia membisiki Vira Busekarang apa sudah siap untuk kawin? bisik Pak Nur. Seolah bisikan itu adalah permintaan dari suaminya,Vira hanya membuka sedikit matanya lalu terpejam kembali. pak Nur tahu itu adalah persetujuan Vira yang diucapkan dengan isyarat padanya. Persetujuan yang didapat Pak Nur dari Vira itu menggembirakan laki laki tua itu.Lalu ia angkat kedua kaki Vira hingga terkuak liang sempit yang pernah dipakai Haryadi, suaminya.

Dengan lidahnya ia jilati telapak kaki Vira berulang ulang hingga ke pangkal pahanyanya yang putih sulit di ungkap dengan kata kata itu. Liang kewanitaan Vira ditumbuhi bulu bulu halus tertata rapi dan indah. Tampak pemiliknya amat memelihara dan menjaga area kewanitaannya. Selain itu kulit tubuh Vira amat terawat tak sama dengan kulit wanita di pulau itu. Jilatan dan permainan lidah pak Nur diliang kewanitaan Vira membuatnya tak melihat dirinya lagi. hentakan kakinya di kepala pak Nur seakan menambah nafsu pria itu untuk memesuki celah itu. Aduh.pakampun.paksudahhhh pak! hanya itu yang keluar dari bibir mungil Vira. Liang itu kemudian mulai berlendir siap untuk dimasuki kemaluan pak Nur. pak Nur memposisikan dirinya sejajar dengan tubuh Vira. Kedua paha Vira dibukanya untuk memudahkan ia masuki. Sesaat sebelum memasuki liang itu Pak Nur kembali berdoa. Sebelum memasuki liang Vira, pak Nur membuka kulit yang menutupi topi bajanya.

Sebab kemaluannya memang tak disunat. Dan perlahan benda panjang miliknya mulai meretas jalan. Sedetik mulai berlalu, Pak Nur dengan kesabaran memasuki liang sempit itu. Agak sulit memasuki liang milik Vira. Kedua tangan Vira ia raih dan jari jarinya ia pegang dengan kedua tangannya dengan poisi membuak. Aw,,,,aw,,,aduhhhh..Pak.jangan pak jangan dipaksa pak!! jerit Vira saat pertemuan kelamin keduanya, padahal saat itu baru kepalanya saja yang masuk. Saat itu Pak Nur seperti memerawani seorang gadis. Jerit sakit dan pegangan Vira di tangannya ditahan Pak Nur dengan kuat. Dengan sedikit dorongan agak kuat pak Nur berusaha menembus liang sempit itu dan memang kemaluan pak Nur seperti merobek sesuatu, di dalam kemaluan Vira.Rupanya selama ini Vira tidak seutuhnya di perawani oleh suaminya. Selaput daranya termasuk agak tebal dan apalagi Haryadi juga tak intens menggauli istrinya itu. Jadi Vira masih sebagai gadis perawan hingga di masuki kemaluan Pak Nur. Jerit sakit dan dengus tertahan keluar dari mulutnya. Sekujur tubuhnya telah mandi keringat karena selain nafsunya yang telah terbakar juga ia melepas kegadisannya saat itu.

Pak Nur amat berpengalaman tentang itu dan mulut mugil yang menggairahkan itu ia sumbat dengan bibirnya. Vira hanya bisa meneteskan air mata karena berbagai sebab dan salah satunya karena saat itu ia tidur dan disebadani laki laki lain. Bagi Pak Nur itu wajar saja Vira menangisi dirinya saat itu. pak Nur belum menambah masuk kemaluannya ke liang Vira saat itu hanya sebagain saja. Ia ingin melihat ekspresi wajah cantik itu merasakan detik detik ia masuki. Kemudian tak terdengar lagi tangis sesegukan Vira. Kini Vira sudah menuruti kemauan Pak Nur. Pak Nur melanjutkan mendorong dan tak butuh waktu lama, dengan jerit tertahan di mulut Vira, semua batang kemaluan Pak Nur amblas. Pak Nur kembali mendiamkan poisinya saat itu. Ia lalu membisiki Vira Bu Vira, kini kita sudah kawin, apa ibu rela? tanya Pak Nur. Vira tak menjawab dan hanya memejamkan matanya saja saat itu. pak Nur tak membutuhkan jawaban bibir Vira saat itu. Penyerahan diri Vira malam itu saja sudah merupakan tanda baginya bahwa wanita itu tak lagi menolak keinginannya. pak Nur lalu melanjutkan dorongan maju mundur kemaluannya kedalam liang sempit milik Vira. Berulang ulang ia masuki dan keluarkan kemaluannya yang perkasa itu dari liang kewanitaan ibu muda itu. Yang terdengar hanya dengus Vira dan suara paha keduanya yang beradu hingga menambah semnagat Pak Nur menggagahinya. Vira akhirnya orgasme dengan mencengkram bahu Pak Nur dengan amat kuat hingga pria itu merasakan sedikit perih di bahunya. Namun pak Nur sadar Vira sudah melalui masa terence nya. Tubuh putih itu lunglai dan melemah pasrah kalah. pak Nur tetap saja memasukan kemaluannya ke dalam liang Vira hingga ia sempat minta berhenti. sudah pak.saya gak kuat lagiampun pak! suara permohonan Vira pada Pak Nur. Namun sebagai laki laki perkasa dan kuat Pak Nur tak begitu saja mau menuruti permintaan ibu muda cantik itu. Berulang ulang ia maju mundurkan kemaluannya di

dalam rahim Vira hingga Vira sempat menjerit sakit dan terdiam pingsan. Meski Vira saat itu pingsan Pak Nur masih terus memaksa masuk ke kelamin Vira hingga ia pun membasahi rahim ibu muda itu dengan cairan pembuat bayi miliknya. Pak Nur ingin mebuahi rahim Vira saat itu. Bagaimanapun ia ingin melihat bagaimana jadinya jika Vira hamil oleh benihnya. Dalam keadaan pingsan itu, Pak Nur sempat melihat ke batang kemaluannya ada sedikit noda darah. Ya noda itu adalah noda keperawanan Vira yang masih utuh dan Pak Nur yang mengambilnya. Pak Nur adalah laki laki kedua yang berhasil mengambil keperawanan Vira, dengan kemaluannya yang cukup besar dan panjang itu.Ada kebanggaan tersendiri di diri pak Nur saat itu.

Malam itu perkawinan kedua mahluk berlainan suku,dan usia juga agama itu terlaksana dengan lancar tanpa hambatan.Pak Nur amat berbahagia atas karunia yang ia dapat. Ia sangat bersyukur karena telah berhasil membimbing Vira dalam persetubuhan malam itu. Pak Nur pun berdoa agar Vira bisa jadi miliknya selama di pulau itu. Pak Nur pun akhirnya tertidur dengan berpelukan dengan tubuh telanjang Vira seperti suami istri yang baru saja menjalani malam pertamanya. Subuh harinya keduanya terbagun, masih membekas di mata Vira sisa sisa tangis dan penyesalan malam itu. Ia turun dari dipan namun dilarang Pak Nur. Bu Vira di sini saja dan jangan berjalan dulu, masih sakit kan?imbuhnya. Vira diam saja dan menag ia merasakan pangkal pahanya terasa nyilu dan sakit jika digerakan.Tiba tiba Vira sadar subuh itu ia tak berbusana. Dengan kedua tangannya ia tutup buah dadanya yang sudah merah merah itu. Pak Nur merasa iba pada Vira dan berusaha mencari kain di lemari. Rupanya dalam lemari masih ada kain batik dan diberikannya pada Vira. Kemudian ia mengumpulkan pakaian Vira yang tertumpuk di meja. Busana itu diserahkan pada Vira. Apa ibu mau mandi nanti? tanya Pak Nur. nggak usah Pak jawab Vira, hujan kan sudah berhenti, bagaimana jika kita pulang saja? sarannya lagi. Ya itu yang saya ingin bilang pada Ibu, namun apa ibu sudah kuat untuk berjalan? tanya Pak Nur lagi. ya, bisa Pak, tapi bapak bimbing ya? pinta Vira. Pak Nur dan Vira akhirnya meninggalkan pondok kenangan itu pagi harinya. Selama perjalanan di atas perahu keduanya hanya diam membisu sesekali Pak Nur memandang Vira yang malam tadi ia sebadani. Tampak mata Vira menyimpan kesedihan dan bekas air mata. pak Nur membuka percakapan. ibu marah pada saya? Vira menukas, marahpun sudah tak ada gunanya Pak, semua sudah terjadi jawabnya singkat.

pak Nur kembali diam dan tak ingin memancing ibu muda itu tersulut emosi lagi. Beberapa jam kemudian mereka sampai di kediaman Vira setelah di bonceng Pak Nur dengan sepeda motor yang ia titipkan. Sesampai di rumah Vira langsung masuk dan Pak Nur pun kembali pulang.

Selama di rumah Vira mandi dengan sebersih bersihnya seolah menghilangkan noda yang menempel di tubuhnya. Setelah mandi ia pun makan makanan karena lapar yang menyerang juga karena aktifitas bersama paka Nur. Berbeda dengan pak Nur selama perjalanan pulang ia bersiul siul senang sebab dapat mewujudkan keinginannya pada Vira yang cantik. Tak sia sia usahanya selama ini. Setiba di rumah pak Nur disambut Bu Nur. Melihat sikap Pak Nur yang gembira itu, Bu Nur tahu, suaminya berhasil mewujudkan keinginannya. bagaimana Pak?,berhasil? tanya Bu Nur. Ya, sukses Bu, apalagi Vira itu jarang digauli sumainya bu terang pak Nur pada Bu Nur. Tak sedikitpun wanita itu cemburu terhadap suaminya itu. Dengan demikian ia tak akan bekerja keras lagi melayani nafsu Pak Nur. Kini sudah ada Vira yang akan menggantikan posisinya. Bagi Bu Nur, merasa Pak Nur sudah kembali seperti sedia kala lagi dan berharap Vira bisa lama di pulau itu dan syukur syukur menetap. Itu adalah keinginan keluarga itu. Setelah kejadian ia dan pak Nur di pondok itu, Vira sedikit jadi pendiam, namun selama bersama suaminya ia tak mau memperlihatkan sikapnya. Ia biasa saja melayani suaminya, namun kini,ia merasakan hambar saja dan hanya menjalankan kewajibannya sebagai istri di tempat tidur. Vira tak merasakan puas lagi berhubungan bersama suaminya. Ia masih merasakan romantisme saat bersama Pak Nur. Meski saat itu ia melakukannya di sebuah pondok dan suasana pedalaman, namun kejadian itu mampu membuatnya utuh sebagai wanita dewasa. Begitu juga saat Haryadi pulang dari base camp dan mereka melakukan hubungan suami istri, hanya kehambaran yang dirasakan Vira saat bersama suaminya itu. Dalam hatinya Vira amat mengagumi keperkasaan Pak Nur dan cara pak Nur memperlakukannya amat mengesan di palung hatinya. Sekembalinya Haryadi ke base camp, Vira kembali kedalam rutinitasnya bersama Bu Nur di puskesmas. Sejauh ini Bu Nur tak mau bertanya atau menyinggung nyinggung kejadian Vira dengan suaminya. Vira pun sempat bertemu dengan pak Nur saat ia akan mengantar Vira ke rumahnya. Selama perjalanan dengan sepeda motor, Vira hanya diam tak mau membuka pembicaraan.Pak Nur tahu kejadian tempo hari amat memukul psikologis Vira yang memang wanita baik baik.

Sesampai di rumah Vira, pak Nur di tawari minum kopi. ngopi dulu pak? basa basi Vira menghilangkan kekakuannya sambil membuka kunci rumah.. boleh Bu, sudah lama saya gak minum kopi bikinan ibu jawab pak Nur.

Kemudian keduanya masuk ke dalam rumah dan tanpa disuruh Pak Nur langsung duduk di ruang tamu. Sementara Vira terus ke arah dapur membikinkan kopi buat pak Nur. Tak lama kemudian Vira keluar dengan membawa segelas kopi dan sepiring kue kecil diminum kopinya Pak dan kue hanya ini yang ada jelasnya Ah jadi merepotkan Bu, sahut Pak Nur. Vira tak menjawab lagi perkataan Pak Nur, ia hanya memperhatikan Pak Nur minum kopi bikinannya. Enak amat kopinya Bupuji Pak Nur. ah..biasa saja koq pak jawab Vira, ini kopi saya beli di Padang bulan kemaren bersama Mas Haryadi terang Vira, bulan ini mas Haryadi tak bisa mengantar saya ke Padang, apa bapak Bisa menemani saya ke Padang minggu depan? tanya Vira. Memang Haryadi tak bisa menemani istrinya itu ke Padang sebab ada kesibukan yang tak bisa ia tinggalkan di base camp, malah Haryadi meyarankan istrinya minta bantuan Pak Nur atau Bu Nur ke Padang dan itu diizinkan suaminya. Mendengar permintaan Vira saat itu, Pak Nur langsung menyetujui sebab mana mungkin ia akan membiarkan Vira yang cantik itu naik kapal sendirian ia ingin menemaninya apalagi sudah diizinkan suami wanita itu. Bagaimana Pak? tanya Vira. Baiklah Bu, saya bersedia ke Padang menemani ibu jawab pak Nur lagi. Di rumah Vira Pak Nur disuguhi kopi dan makanan kecil. Sambil menyuruh Pak Nur menghabiskan minumannya Vira minta diri untuk ke kamar sebentar. Pak Nur merasa itu adalah undangan Vira buatnya untuk ke kamar juga mengulangi kejadian beberapa hari yang lalu. Jika Vira marah padanya sejak kejadian itu,mana mungkin Vira akan mengajaknya menemani ke Padang.

Sambil menutup pintu luar, Pak Nur masuk ke kamar Vira. Saat itu Vira sedang akan mengganti pakaiannya. Ia tak menduga Pak Nur akan masuk kamarnya saat itu. Pakjangan masuk Pak.nanti ketahuan orang Pak! kata Vira. Bu Vira jangan takut, di pulau ini tak ada yang berani pada saya terang Pak Nur. Tapi.kan bisa lain waktu Pak Vira mencoba mengelak lagi Apa bedanya Bu? saya juga tahu ibu juga sedang kepingin kan? kata Pak Nur. Vira sudah tak mampu membalas argument laki laki tua tetua adat itu . Ia pun kini

diam dan pasrah akan apa yang akan dilakukan laki laki itu. Perlahan pak Nur mendekat ke arah Vira dan mengulum bibir wanita itu. Vira hanya memejamkan mata menikmati kuluman laki laki tua itu. Ia dengan suka rela mau saja menerima jejahan lidah Pak Nur di dalam rongga mulutnya. Begitu juga rabaan tangan Pak Nur pada buah dadanya tak ditepis Vira lagi justru ia ingin terus dirabai dan di pilin tangan tangan lincah Pak Nur. Tiba tiba ia terkejut karena Pak Nur menghentikan rabaan juga kuluman di bibirnya. "Bu Vira, siang ini saya ada perlu, malam nanti aja saya kembali ke sini ya Bu?" kata Pak Nur. Dalam hati Vira mendongkol karena ia merasa di permainkan laki laki tua itu.Padahal ia baru akan meningkat nafsunya saat itu,dan laki laki memang egois gerutu hatinya. Pak Nur keluar kamar dan menghabiskan kopi yang dibikinkan Vira. Sambil izin keluar rumah, Pak Nur sempat mencium bibir Vira sesaat dan meraba selangkangan ibu muda cantik itu dengan berkata, "sabar ya Bu, malam nanti kita selesaikan, bisiknya di telinga putih Vira. Muka Vira saat itu hanya memerah mendengar perkataan Pak Nur itu.Pak Nur pun berlalu dan pintu ditutup Vira. Sore harinya Vira sudah masak dan mandi dengan sebersih bersihnya sebab malam itu ia akan bersama Pak Nur. Kamarnya pun ia bersihkan dengan mengganti spreynya dengan yang baru dan menyemprotkan pewangi ruangan. Selama ini Vira jarang melakukannya jika suaminya pulang. Tempat tidurnyapun ia tata sedemikian rupa agar menimbulkan suasana romantis dan Ac pun ia hidupkan dengan suhu yang cukup sejuk. Tak lupa ia pun memakai parfum Bulgari kesukaannya.

Vira mengenakan pakaian kemeja tidur dan celana pendek sebetis. Siang tadi ia telah memasak makanan untuk makan malam bersama laki laki tua itu. Terlihat saat itu Vira amat membutuhkan kedatangan Pak Nur ke rumahnya dan ingin ia layani dengan baik seperti seorang istri menunggu suami tercinta datang. Namun sore itu tiba tiba cuaca berubah gelap dan hembusan angina yang semakin kencang. Tak lama kemudian hujanpun turun dengan derasnya. Sempat Vira merasa pesimis laki laki tua itu akan datang. Hujan turun tanpa henti dan senjapun menjelang. Suasana sekitar rumahnya semakin sepi dan Vira pun mengunci pintu ruang tamunya.harapannya seakan pupus saat itu melihat hujan yang tak kunjung reda. Virapun akhirnya hanya memainkan laptopnya, namun rasa gelisah dan harap harap cemas semakin ia rasakan. laptop tak mampu menghilangkan kegundahan hatinya saat itu. Akhirnya ia matikan laptopnya dan beranjak ke kamarnya. Di atas ranjang peraduan yang biasa ia tiduri bersama suaminya, ia rebahkan tubuh sintalnya, matanya tak juga mampu terpejam. Bunyi ketokan di pintu jendelanya membuat Vira bangun dari baringnya. siapa? tanyanya. saya bu terdengar suara Pak Nur. buka aja pintu belakang busaya akan masukkan motor di dapur saja terang suara

Pak Nur dari balik jendelanya. Vira pun keluar kamarnya dan membuka pintu dapur. Terlihat Pak Nur dengan mantel hujannya masuk sambil mendorong sepeda motornya. Hujannya deras Bu, dari tadi gak berhenti berhenti, apalagi mantel ini juga robek makanya pakaian basah semua, kata Pak Nur. Ya Pak jawab Vira lagi sambil memberikan sebuah handuk kepada Pak Nur. Pak Nur pun membuka mantel hujannya yang basah dan menghapus air hujan di tubuhnya. Mantel hujan tak begitu bisa melindunginya dari air hujan, pakaiannya basah, Vira pun berinisiatif memberikan pakaian ganti milik suaminya ke Pak Nur untuk ia pakai.

ini baju mas Har..Pak,,,saya rasa muat, kata Vira. Pak Nur lalu kekamar mandi dan mengenakan baju pinjaman itu. Tak lama kemudian ia keluar dengan memakai kaos Haryadi. Pak Nur lalu mengambil sebuah bungkusan dari sepeda motornya. Sambil mengeluarkan rantang dan memeberikannya pada Vira. Ini tadi ibu menitipkan lauk buat Bu Vira Duh koq repot amat pak basa basi Vira sambil menyambut rantang itu, apa isinya Pak? tanyanya. Itu ada sopyang dibikin tadi siang. terang Pak Nur, mungkin aja Bu Vira lapar kan bisa makan sop hari hujan begini kata pak Nur lagi. Vira pun meletakkan rantang sop itu di meja makannya. ia juga melihat Pak Nur mengeluarkan sebuah botol yang anggur dari bungkusan di sepeda motornya. Vira tak bertanya lagi sebab ia menduga mungkin saja Pak Nur sudah terbiasa minum anggur agar tubuhnya hangat karena cuaca amat dingin malam itu. Lalu Vira mengajak Pak Nur makan malam. Namun ternyata Pak Nur sudah kenyang karena sudah makan di rumahnya sebelum berangkat tadi. apa perlu saya buatkan kopi Pak? tanya Vira lagi. Ah nggak usah Bu, kan ada anggur ini, jawabnya lagi. Pak Nur mengambil gelas dan membawa botol anggur itu ke ruang tengah. Tadi ibu sudah tidur ya? tanya Pak Nur. Belum Pak, jawab Vira lagi. Ah ibu pasti lagi nunggu saya ya? Pak Nur bertanya lagi.

Ah siapa bilang? bantah Vira bersemu merah merasa malu ditanya demikian. Yahkalau begitu kita ke kamar aja ya Bu ajak Pak Nur sambil menarik tangan Vira mengikutinya ke kamar. Vira terpaksa menurut tarikan tangan Pak Nur itu. Pak Nur juga sempat mematikan lampu ruang tamu dan semua pintu telah dikunci Vira semenjak Pak Nur datang tadi. Sesampai di kamarnya,Vira didudukkan pak Nur di ranjang yang bersih dan wangi itu.

Botol dan gelas anggur ia letakkan di meja kecil yang berada di samping ranjang. Lalu lampu di stel meredup oleh Pak Nur. laki laki itu lalu mendekat ke arah Vira dan mengecup bibir yang ranum dan telah siap menunggu itu. Kuluman dan jelajahan lidah Pak Nur di mulut Vira dibalas wanita cantik itu dengan sepenuh hati. pak Nur lalu melepaskan satu demi satu kancing kemeja tidur Vira hingga terlihat bra hitam yang menutupi buah dada yang putih itu. Amat indah dilihat dan menimbulkan nafsu bagi laki laki yang melihatnya apalagi seuntai kalung berlian putih menambah kecantikan dan keindahan leher jenjang milik ibu muda itu. Perlahan bibir dan lidah Pak Nur turun ke leher jenjang yang mulai berkeringat itu. Vira seperti seorang pengantin wanita yang menunggu dibimbing suaminya. Ia menurut saja saat itu, kejadian di pondok pedalaman beberapa saat lalu membuatnya merindukan kembali saat bersama laki laki tua itu. Lidah Pak Nur melata di dinding dada Vira dan dengan tangannya Pak Nur melepas pengait bra hitam itu di punggung Vira. Bra itu ia letakkan di lantai dan mulai lah ia pilin dan remas dengan kedua telapak tangannya. Setiap sentuhan tangan Pak Nur di kulit Vira mampu membuat ibu muda itu memercikan nafsu beribu ribu perintah di syarafnya. Vira pasrah dan sesekali hanya menggerumas kepala pak Nur. Pak Nur terus dengan jilatan dan sedikit gigitan mesra di dada indah itu. Puas di dada Vira, tangan pak Nur lalu melepas celana tidur yang sebetis itu. tak sulit memang karena Vira juga membantu membuka celananya itu. Kini di tubuh Vira hanya tersisa secarik celana dalam putih yang mulai basah di celahnya. Baru awalnya saja di rangsang Pak Nur, wanita itu sudah menggelepar ingin bersama laki laki itu. Pak Nur turun dari ranjang dan melepas kaos yang ia pakai hingga celana dalamnya. Ia ingin bebas berbugil ria di kamar dan ranjang itu bersama Vira. Ia tak perlu malu atau kuatir lagi sebab Vira sudah pernah merasakan keperkasaan alat kelmainnya bermain di rahim wanita itu. Dengan harap cemas Vira terus memperhatikan benda keramat milik laki laki itu. Vira seolah tak malu lagi berduaan dalam keadaan berbugil ria dengan Pak Nur. Pak Nur lalu naik ke ranjang dan mendekat ke tubuh Vira yang sudah hampir bugil semuanya.

Laki laki itu kembali mengulum bibir Vira dan memilin payudara putih yang sudah ada cupangannya. Dengus dan rintihan Vira terdengar seolah cepat dilakukan persenggamaan. Pak Nur masih belum bertindak ke arah itu, ia masih tetap asik dengan buah dada dan leher Vira yang selama ini menarik perhatiannya. Tak lama kemudian ia pun melepas celana dalam wanita cantik itu. Cd Vira di kumpulkan bersama pakaiannnya yang lain yang telah terlepas dari tubuhnya. Kini Vira amat mempesona Pak Nur. Tak ada paksaan dan jengah dari keduanya. Liang kewanitaan

Vira tampak masih rapat dan bulu halus di sekitar bibir liang itu amat mempesona dan terawat. Perlahan nafsu kelakian Pak Nur bangkit melihat tubuh indah yang sulit diungkap dengan kata kata itu berada di dekatnya dengan pasrah. Apalagi wangi parfum Bulgari milik Vira mampu mendongkrak nafsu laki laki tua itu. Dengan nakal jari tangan pak Nur masuk ke liang sempit itu. Vira terkaget dan menggelinjang kegelian dan gelisah. rasa gatal akibat jari tangan Pak Nur di liang kemaluannya adalah rasa gatal ingin segera bersenggama. Gerakan memilin dan memutar klitoris Vira membuat ibu muda itu tambah terbakar dan berkeringat. Pak Nur menarik jarinya dan mengambil anggur di meja kecil itu. Anggur ia tuang ke gelas tak penuh memang. Ia minum sedikit dan sisanya ia basahi ke kening, leher, turun ke buah dada, perut, vagina, paha dan kedua kaki putih yang mengkilap itu. Kemudian gelas itu ia letakkan di meja kecil. Dari kaki Vira Pak Nur menjilat cairan anggur yang ia tuang itu dengan lidahnya. Vira kegelian dan merasa amat dihargai sebagai wanita. Ia hanya mampu memicingkan matanya menikmati bimbingan laki laki yang ia kenal di pulau itu. Jilatan demi jilatan lidah Pak Nur hingga lelehan anggur itu tandas, semua tanpa ada rasa jijik di diri laki laki itu. Saat melewati liang kemaluan Vira, lidah Pak Nur memainkan klitorisnya dan sesaat Vira akan orgasme, Pak Nur menghentikan jilatannya. Vira membuka matanya dengan rasa kecewa dan kesal. Namun melihat Pak Nur terus menjilat ke atas tubuh hingga jidatnya kembali rasa kagum dan simpatinya muncul. Semua cairan anggur telah berganti dengan lelehan air ludah Pak Nur. Kini tubuh Vira sudah di mandikan air mulut Pak Nur.

Vira terlihat sudah amat siap melakukan coitus sebab kedua buah dadanya telah tegak mengacung dan kedua pahanya tanpa diminta Pak Nur sudah membuka minta dimasuki oleh Pak Nur. Pak Nur tak membiarkan Vira berlama lama menunggu nya. Perlahan ia buka paha Vira semakin melebar hingga bibir kemaluannya optimal membuka dan tubuh merekapun sudah sejajar. Kedua tangan Pak Nur diraih Pak Nur lalu ia masukkan kemaluannya ke dalam liang Vira. Tak sulit karena liang itu sudah amat basah dan siap dimasukinya. Perlahan dan menimbulkan rasa sedikit nyilu pada Vira. Ada rasa penuh di dinding rahimnya karena pergerakan gesekan pertemuan kelamin keduanya. Dengan sabar dan perlahan akhirnya kemaluan Pak Nur masuk meski tak seluruhnya. Tiada rasa sakit dirasa Vira saat itu, namun bagi Pak Nur ia belum semuanya masuk. Bu.ditahan ya Bu, ini belum semuanya, bisik pak Nur di telinga Vira. Vira hanya mengangguk.Pas Pak Nur mendorong semua batang penisnya masuk, ia terlonjak menjerit. Aduh,,,,,sakit Pak, tahan dulu, mohonnya. Ini juga sudah masuk semua Bu, gak apa kan? tanya Pak Nur. Vira diam dan memejamkan mata saja. Lalu kedua kakinya diangkat Pak Nur ke arah bahunya. Vira merasa nyaman saat itu, karena tak sakit lagi, yang ada hanya rasa gatal dan penuh di dalam rahimnya. Pak Nur lalu menarik dan mendorong kemaluannya ke dalam liang milik Vira berulang ulang. Kini hanya terdengar dengus dan rintihan kenikmatan kedua anak manusia berlainan jenis dan usia itu berulang ulang. Beberapa

menit kemudian Vira menjerit karena orgasme telah ia dapatkan. Ia mencengkram kedua bahu laki laki itu dengan erat. Pak Nur masih terus maju mundur dan masuk sedalam dalamnya di liang sempit dan hangat milik wanita muda cantik itu. Vira telah mendapatkan orgasmenya. Tubuhnya melemah pasrah diam dan mengangkang. Pak Nur amat pengalaman dalam hal itu, Vira boleh saja terpelajar dan mapan secara kehidupan dan modern dalam kehidupannya, namun dalam hubungan sex ia masih hijau.

Kini Pak Nur masih membimbing wanita bersuami itu. Kedua buah dada Vira ikut bergoyang karena gerakan laki laki penuh tattoo itu. Vira hanya dapat melihat dan memperhatikan gerakan maju mundur pak Nur memasuki dirinya dan yang terlihat olehnya adalah tato salib bawah pusar Pak Nur antara kemaluan dan pusarnya itu seolah membuat laki laki itu amat percaya diri membimbingnya dalam hal itu. Kemudian gerakan Pak Nur semakin kuat dan cepat, Vira sudah tak kuat lagi mengikuti Pak Nur karena ia sudah 2 kali orgasme. Pak Nur menumpahkan air cintanya di rahim Vira dan membasahi liang itu. Gerakannya seolah tak ingin lepas dari liang itu dan organ intim keduanya terlihat menyambung dengan sangat eratnya. Tubuh tuanya yang sudah amat basah oleh keringat dan sebagian jatuh ke tubuh Vira. Tubuh laki laki itu ambruk memeluk tubuh telanjang di bawahnya. Tak lama kemudian keduanya tertidur dengan nyenyak. Tengah malam Vira terbangun karena merasakan hawa dingin mulai menusuk tulangnya. Ia memperhatikan tubuh telanjang laki laki yang telah berpindah di sampingnya. Tampak dengan nyata olehnya benda panjang milik Pak Nur. Rasa keingintahuannya menuntunnya untuk memegang benda itu. Benda itu memang tak disunat namun mampu membuatnya puas dan sulit untuk ia ungkapkan. Pegangan tangan mungil Vira membangunkan Pak Nur dari tidurnya. ibu mau dengan benda itu bu? bisik pak Nur di telinga Vira. Buru buru Vira melepaskan benda yang masih lengket oleh cairan cinta dari kemaluannya juga kemaluan Pak Nur Nggak apa koq Bu, jika ibu mau saya tak keberatan ,terang pak Nur lagi. Vira hanya memandang mata Pak Nur yang terlihat kuat dan memancarkan hawa maksiat amat kental itu. Vira lalu menutupkan tubuhnya dengan selimut dan berusaha untuk tidur dan membelakangi tubuh Pak Nur. Namun sia sia saja sebab tangan Pak Nur menahan gerakannya. Tubuh Vira kembali berhadap hadapan dengan Pak Nur. Bu..kita makan yuksaya lapar amat, ajak Pak Nur sambil turun dari ranjang. Laki laki itu mencari celana pendeknya dan mengenakannya.

Vira pun berusaha bangun dari baringnya dan mengumpulkan pakaiannya yang teronggok di samping ranjang. Ibu muda itu pun berpakaian tanpa mengenakan celana dalam sebab ia merasa tak nyaman sebab liang kewanitaanya masih terasa lengket dan basah oleh kegiatannya tadi bersama Pak Nur. Vira pun berjalan keluar kamar yang

pintunya sudah dibuka Pak Nur. Sesampai di meja makan di dapur itu, ia melihat Pak Nur sedang menghangatkan sop yang ia bawa dari rumahnya. Tanpa segan segan Pak Nur menghidangkan makanan di meja makan. Karena Vira juga merasa lapar karena begitu kerasnya aktifitasnya tadi, ia pun melahap sop dan nasi yang disuguhkan Pak Nur. Sop yang ia makan itu adalah sop yang dibikin Bu Nur dari daging buaya yang ada di pulau itu ditambah dengan bumbu untuk meningkatkan libido dan nafsu bagi yang memakannya. Saat itu Vira seakan merasakan khasiat dari sop yang dibawa Pak Nur. Tubuhnya merasa hangat dan nyaman dan segar. Tenaganya seolah pulih kembali. Pak Nur memandangi Vira yang melahap sop bikinan istrinya itu. Seperti sepasang suami istri, keduanya makan sambil senyum senyum dan kaki Pak Nur dengan nakal bermain di paha Vira.Vira membiarkan kelakuan Pak Nur itu. Selesai makan, mereka kembali masuk kamar. Setelah menutup dan mengunci pintu kamar, mereka pun kembali berpelukan dan saling mengulum. Seolah telah sejiwa, keduanya pun kembali saling membuka pakaiannya. Vira tak malu dan sungkan lagi tubuhnya dipandang Pak Nur dalam keadaan telanjang bulat. Sambil berbisik, pak Nur berkata pada Vira. Bu Vira pernah ngoral punya pak Haryadi? pertanyaan itu sempat membuat Vira kaget, namun karena saat itu ia sudah di pelukan Pak Nur dan tubuhnya panas minta di cumbui, Vira hanya menggeleng.Vira lalu menjawab dengan berbisik pula bahwa ia tak pernah mengoral suaminya, namun suaminya yang sering mengoralnya. Lalu Pak Nur bilang ia ingin mengajarkannya oral sex. Awalnya Vira agak rikuh dan takut. Namun dengan kesabaran dan di bombing Pak Nur dengan lembut, akhirnya Vira mau membuka kedua bibirnya untuk dimasuki kemaluan pak Nur yang panjang.

Awalnya ia merasa jijik dan mau muntah oleh bau khas kemaluan yang tak disunat itu. Vira secara perlahan mulai mengulum dan menjilat benda yang sudah 2 kali memasuki dirinya itu. Karena Vira masih termasuk pemula, maka ia tak mampu membuat Pak Nur klimaks. Pak Nur dengan sikap yang amat melindungi dan bijaksana membelai dan menjilati semua kulit tubuh Vira hingga licin oleh air ludahnya. Vira pun semakin merasakan ia amat beharga dan disanjung sebagai seorang wanita. Pikirannya pun kini terbuka untuk menerima Pak Nur dalam kehidupannya. Dengan rabaan dan pilinan di sekujur tubuhnya, akhirnya kedua anak manusia itu kembali melaksanakan ritual perkawinannya. Kedua tubuh itu semakin menyatu seolah tak terpisahkan oleh ruang dan waktu. Di tengah derasnya hujan dan petir yang menandakan terjadi penyerahan jiwa seorang wanita muda dan cantik itu untuk di bimbing oleh seorang laki laki tua penguasa pulau eksotis itu. Dengus dan rintihan kenikmatan tak henti keluar dari mulut Vira. Dengan sentakan kuat, akhirnya kedua manusia berlainan jenis itu saling mencapai titik tertinggi dalam hubungan badan malam tersebut. Semenjak malam perkawinannya itu, Vira semakin sulit melupakan pak Nur. Adakah ia mulai mencintai laki laki tanah Mentawai itu? Ia selalu bertanya dalam hatinya. Vira pun tak lagi mempermasahkan perbedaan yang ada di antara mereka. Jika Pak Nur berkeinginan untuk menikahinya secara apapun, ia tak akan menolaknya. Kini Vira sudah bulat mencintai Pak Nur. Haryadi suaminya seolah terlupa olehnya. Sewaktu mereka ke Padang, Vira tak malu mengajak Pak Nur untuk menemaninya ke sebuah pusat perbelanjaan. Di kota itu, ia membelikan

pakaian keperluan Pak Nur.dan seperti pasangan penganten baru, keduanya pun menginap di sebuah hotel berbintang dan sudah diduga keduanya pun menjalani hal seperti berbulan madu. Bagi Vira, pak Nur amat berarti bagi hidupnya kini. Pak Nur seolah tahu apa yang ia ingini dan suaminya sendiri sudah tak mau peduli dengan dirinya. Selama pak Nur berasik masyuk dengan Vira, Bu Nur tak sedikitpun merasa cemburu. Justru ia merasa senang sebab ia tak akan tersiksa lagi jika berhubungan dengan Pak Nur. Sementara Vira tak keberatan jika dari hubungannya itu mengakibatkan ia hamil.